Anda di halaman 1dari 32

Delayed Tooth

Replantation
after Traumatic
Avulsion
Resulting in
Complete Root
Resorption

Kallel Ines & Douki Nabiha (Faculty of Dental Medicine,


University of Monastir, Monastir, Tunisia)
Journal of Pediatric Dentistry / Jan-Apr 2016 / Vol 4 | Issue 1

Replantasi Gigi
Avulsi yang
Tertunda
Menyebabkan
Resorpsi Akar
Total

Presentan: Sabrina Intan Zoraya, Ade Irawan, April Andra Leka


Pembimbing: drg. Budi Asri Kawuryani

Latar Belakang
Cedera Traumatik
pada Rongga
Mulut

Avulsi Gigi

Replantasi
Gigi

Laporan
Kasus
Anak laki-laki berumur 9 tahun datang
dengan kondisi gigi insisivus sentral
atas avulsi setelah ia mengalami
kecelakaan mobil 24 jam sebelumnya.

*Gigi yang avulsi


sudah direndam
dalam susu selama
24 jam.

RIWAYAT KESEHATAN
Riwayat kesehatan anak tidak diketahui. Ia tidak sedang mengkonsumsi obat
apapun dan tidak sedang alergi obat. Ia juga tidak memiliki penyakit sistemik

Pem
eriks
aan
Pasie
n

PEMERIKSAAN EKSTRAORAL
Terdapat luka lecet pada dagu; bibir atas dan bibir bawah bengkak.
PEMERIKSAAN INTRAORAL
Gigi insisivus sentral kanan rahang atas mengalami avulsi. Apeks gigi belum
menutup sempurna. Gigi disimpan dalam susu setelah terjadi cedera. Pasien
dalam kondisi gigi bercampur dengan relasi klas I skeletal.
PEMERIKSAAN RADIOGRAFI
Tidak menunjukkan adanya bagian gigi yang tersisa di dalam soket. Namun,
diduga terdapat fraktur tulang alveolar pada soket tersebut.

Anestesi lokal.
Kuretase soket untuk membuang koagulan darah yang
terkontaminasi.

Penata
laksan
aan

Irigasi soket dengan larutan salin isotonik steril.


Pembuangan ligamen periodontal nekrotik dengan kassa yang
telah dibasahi dengan larutan salin steril.
Perendaman gigi dalam larutan klorheksidin 0.12% selama 20
menit.
Perawatan edodontik ekstraoral dengan pengisian saluran akar
menggunakan gutta percha yang dimampatkan dengan teknik
termoplastis.
Peletakan kembali gigi ke dalam soket dengan tekanan jari
secara perlahan.
Pemakaian splint rigid yang terbuat dari kawat ortodontik
selama 4 minggu dari M1 kanan atas hingga M1 kiri atas.
Pemberian medikasi: Amoxicillin 2 g/hari selama 7 hari dan
analgesik bila diperlukan.
Pemberian instruksi pada pasien: diet lunak; menjaga oral

2
3

Pasien kembali datang 14 hari


kemudian. Oral hygiene terlihat
buruk.
Pemeriksaan radiografi secara
retroalveolar tidak menujukkan
tanda patologis.
Pasien diminta untuk lebih
meningkatkan oral hygiene-nya dan
diminta datang kembali 2 minggu

Dua minggu kemudian pasien kembali dan


peralatan splint dilepaskan. Gingiva pada area
avulsi sudah lebih baik dibandingkan
sebelumnya.

Pasien diintruksikan untuk terus meningkatkan


oral hygiene-nya dan diminta datang kembali
satu bulan yang akan datang untuk kontrol.

Namun sangat disayangkan, pasien baru


kembali satu tahun kemudian dengan keluhan
utama yaitu penampilan yang tidak estetik pada
gigi insisivus sentral permanen atas yang
terlihat lebih pendek dibandingkan gigi
tetangganya. Gigi tesebut dicurigai mengalami

Pemeriksaan intraoral menunjukkan gigi


mengalami infraoklusi, terdapat suara
metalik pada saat diperkusi, dan goyang.

Pemeriksaan radiografi retroalveolar


menunjukkan fusi antara tulang alveolar
dengan permukaan akar gigi insisivus sentral
atas kanan tanpa suatu pemisah perlekatan
(dentoalveolar ankilosis).

Dilakukan pencabutan pada gigi tersebut


karena mengalami resorbsi pada seluruh
bagian akar. Pasien dibuatkan sebuah gigi
tiruan lepasan sebagian untuk

Avulsi
Keadaan gigi
yang terlepas
dari soketnya

Etiologi

Pertolong
an
Pertama

Avulsi

Perawata
n
Saluran
Akar

Media
Penyimpana
n

Etiolo
gi

Penyebab trauma gigi pada anak-anak yang paling sering:


jatuh saat bermain, baik di luar maupun di dalam rumah dan saat
berolahraga.
Prevalensi tertinggi trauma gigi anterior pada anak-anak terjadi
antara usia 13 tahun karena pada usia tersebut anak mempunyai
kebebasan serta ruang gerak yang cukup luas.

Pertolong
an
Pertama

Mencuci gigi dengan air dingin yang mengalir (10 detik).


Tidak menyentuh gigi secara langsung terutama di daerah akar
gigi.
Meletakkan gigi kembali ke dalam soketnya menggunakan jari
dengan yang tekanan ringan atau gigi disimpan dalam media
yang sesuai.
Segera mencari perawatan dokter gigi.

Terdapat tiga tipe penyimpanan untuk gigi yang avulsi:


Kering
Basah
Kombinasi keduanya

Media
Penyimpa
nan

Ketiganya memiliki efek bervariasi terhadap pulpa dan ligament periodontal. Penyimpanan basah
lebih baik daripada penyimpanan kering dan kombinasi.
Dua tipe penyimpanan basah:
Media nonfisiologis:
Air keran
Klorheksidin
Kloramin
Alkohol
Larutan sterilisasi lain

Media fisiologis:
Saliva
Salin
Susu
Media kultur

Medium penyimpanan yang ideal harus:


dapat menjaga vitalitas sel-sel jaringan, pulpa, dan ligamen periodontal
menjaga pH dan osmolalitas yang sama dengan jaringan sekitarnya
steril
berperan sebagai antioksidan yang baik
mudah dijangkau
murah

Perawat
an
Saluran
Akar

Hal-hal yang perlu dijadikan pertimbangan:


Perawatan saluran akar dapat dilakukan setelah 7-10
hari kemudian atau setelah splint dilepas.
Saluran akar
sementara.

diisi

pasta

kalsium

hidroksida

untuk

Pada gigi dengan foramen apikal yang masih terbuka


kemungkinan akan terjadi revaskularisasi pada pulpa
sehingga
perawatan
saluran
akar
hendaknya
ditangguhkan.

Replantasi
Menempatkan kembali
gigi ke dalam
soketnya

Indikas
i

Kontraindikasi
Faktor yang
Mempengar
uhi
Keberhasila
n

REPLANTASI

Kegagal
an

Teknik
Indikator
Keberhasil
an

Instruksi
Pascareplanta
si

Fiksasi

Indika
si

Tulang alveolar masih baik.


Soket alveolar dapat menyediakan tempat untuk gigi
avulsi.
tenggang waktu antara kejadian avulsi dengan replantasi
adalah 5-30 menit.

Gigi permanen dengan foramen apikal yang sudah menyempit.

Kontraindik
asi

Integritas yang tidak mendukung dari gigi avulsi atau jaringan


pendukung.
Resorpsi pada tulang alveolus.
Memiliki penyakit periodontal.
Adanya fraktur akar.
Kondisi sistemik yang tidak mendukung (gangguan imun, anomali
jantung kongenital berat, diabetes tidak terkontrol)
Gigi yang terlalu lama di luar soket.
Gigi sulung.

Faktor-Faktor
yang
Mempengaruh
i Keberhasilan

Keberhasilan replantasi gigi avulsi tergantung pada:


tenggang waktu antara kejadian avulsi dengan replantasi
media penyimpanan
luas kerusakan ligamen periodontal
derajat kerusakan alveolar
efektifitas fiksasi

Gigi diletakkan di dalam tempat berisi salin fisiologis atau


media penyimpanan lain yang ideal.

Tekni
k

Daerah cedera dilakukan pemeriksaan radiografis untuk


mencari tanda-tanda adanya fraktur alveolaris.
Daerah avulsi diperiksa secara teliti untuk melihat adanya
fragmen tulang; bukalah secara hati-hati dengan instrumen.
Soket secara hati-hati diirigasi dengan salin untuk
mengangkat bekuan darah yang terkontaminasi.
Gigi dari mangkuk yang berisi salin dipegang dengan tang
cabut agar tidak terkontaminasi dengan tangan.

Tekni
k

Gigi diperiksa. Gigi bersihkan dengan kassa yang dibasahi


dengan salin apabila terdapat debris.
Gigi dimasukkan kembali ke dalam soket dengan
menggunakan tang. Setelah masuk sebagian, pakailah tekanan
ringan dengan jari atau suruhlah pasien menggigit kassa
sampai gigi kembali pada kedudukannya.
Ketepatan letak gigi diperiksa dan hindari hiperoklusi.
Laserasi jaringan lunak dijahit rapat-rapat terutama pada
bagian servikal.

Fiksa
si

Untuk memfiksasi gigi yang telah direplantasi, dibutuhkan suatu alat


splinting.
Splinting merupakan suatu usaha untuk mempertahankan,
mengikat, atau memfiksasi gigi agar tetap pada posisi yang
diinginkan saat replantasi dan agar gigi dapat melekat pada
soketnya.
Gigi dipasang splint selama 1 sampai 2 minggu.

Instruksi
Pasca
replantasi

Pasien dianjurkan konsul ke dokter umum untuk penyuntikan


serum antitetanus jika ada indikasi.
Pasien diberikan resep antibiotik dan analgesik.
Pasien dianjurkan untuk makan makanan yang lunak sampai gigi
cekat kembali.
Pasien diinstruksikan untuk selalu kontrol.

Indikator
Keberhasil
an

Replantasi dapat dikatakan berhasil apabila dalam kontrol


berkala terlihat perbaikan yang nyata (setelah 2 minggu)
antara lain:
gigi tidak goyang
tidak ada keluhatan sakit spontan dari penderita
sensitivitas/nyeri gigi saat diperkusi cenderung berkurang
gingiva normal

Kegagalan

Resorpsi akar adalah faktor yang dominan pada kegagalan replantasi gigi. Terdapat
tiga tipe resorpsi, yaitu:
permukaan
inflamatorik
pengganti.
Resorbsi Permukaan
Terdapat lacuna resorpsi dalam sementum. Keadaan ini biasanya tidak terlihat oleh
radiografi.
Resorpsi Inflamatorik
Terjadi sebagai respon terhadap nekrosis pulpa dan cedera ligamen periodontal.
Resorpsi inflamatorik ditandai dengan hilangnya struktur gigi dan tulang alveolar di
sekitarnya.
Resorpsi Pengganti
Terjadi resorpsi pada gigi yang kemudian digantikan oleh tulang. Keadaan ini
mengakibatkan ankilosis yaitu tulang langsung melebur ke permukaan akar. Ketika
diperkusi, gigi yang mengalami ankilosis menimbulkan suara metalik.

Kegagalan

Selain resorpsi akar, kegagalan replantasi gigi dapat disebabkan


juga oleh:
Pasien yang kurang kooperatif dalam melakukan kontrol.

Than
ks!

Any questions?