Anda di halaman 1dari 35

KEBUTUHAN DASAR DAN ASUHAN

KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI, BALITA


DAN ANAK PRASEKOLAH
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus
Dosen : Devi Azriani, SST, M.Keb

Disusun oleh :
Dwi Putri C

P17124012008

Nely Apec C

P171240120

Muharrum Zulfa T

P171240120

Retno Budiyanti

P171240120

Rizka Fadhila H

P171240120

Tingkat II A

JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA I
Jalan RS. Fatmawati, Cilandak - Jakarta Selatan Telp/Fax. 021-7656536
0

TAHUN 2013
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus yang berjudul Rencana Asuhan
Kebidanan Pada Bayi 2-6 Hari.
Selain untuk menambah pengetahuan mengenai Rencana Asuhan Kebidanan Pada
Bayi 2-6 Hari , Makalah ini juga disusun guna memenuhi tugas salah satu mata kuliah
Asuhan Kebidanan Neonatus pada program studi DIII Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Jakarta I.
Selanjutnya
Azriani,SST,M.Keb

penulis
selaku

mengucapkan
dosen

terima

pembimbing

kasih
mata

yang
kuliah

kepada
Asuhan

Ibu

Devi

Kebidanan

Neonatus dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta
arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan
makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif
dari para pembaca demi kesempurnaan makalah selanjutnya.

Jakarta, 26 September 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
.........................................................................................................
............................... 1
DAFTAR
ISI .....................................................................................................
........................... 2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


........................................................................................................ 3
1.2. RUMUSAN MASALAH
.................................................................................................. 3
1.3. TUJUAN PENULISAN
.................................................................................................... 3
BAB II

KEBUTUHAN DASAR

NEONATUS ....................................................................................
2.1. DEFINISI
NEONATUS ................................................................................................... 4
2.2. KEBUTUHAN DASAR NEONATUS DAN
BAYI ................................................................
2.2.1. KEBUTUHAN FISIK PADA NEONATUS DAN BAYI
...............................................
2.2.2. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS PADA NEONATUS DAN BAYI
....................................
2.3. ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS DAN
BAYI.....................................................
BAB III KEBUTUHAN DASAR
BALITA .........................................................................................
3.1. DEFINISI BALITA
.........................................................................................................
3.2. KEBUTUHAN DASAR BALITA
.......................................................................................
3.2.1. KEBUTUHAN FISIK PADA BALITA
......................................................................
3.2.2. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS PADA
BALITA ...........................................................
2

3.3. ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA


...........................................................................
BAB IV KEBUTUHAN DASAR
PRASEKOLAH ...............................................................................
4.1. DEFINISI ANAK PRASEKOLAH
.....................................................................................
4.2. KEBUTUHAN DASAR ANAK PRASEKOLAH
...................................................................
4.2.1. KEBUTUHAN FISIK ANAK
PRASEKOLAH .............................................................
4.2.2. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS ANAK PRASEKOLAH
................................................
4.3. ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK PRASEKOLAH
.......................................................
BAB V
PENUTUP ..................................................................................................
....................
5.1

KESIMPULAN

..............................................................................................................
5.2

SARAN

.........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA ...................................................................................................
.................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap orang tua tentu berkeinginan agar anaknya dapat mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik
yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar
anak terpenuhi. Kebutuhan dasar ini mencakup asah, asih, dan asuh. Kebutuhan
dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam
kandungan.
Kebutuhan dasar yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh
seorang anak karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal
menyangkut keadaan ekonomi, sosial dan spiritual keluarga serta peran bidan.
Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat didalam diri anak yang
secara psikologis muncul sebagai problema pada anak.
Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya
pengetahuan ibu mengenai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan. Peran bidan dalam hal ini
adalah memberi informasi yang baik dan benar berkaitan dengan kebutuhan
dasar yang harus dipenuhi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1

Apa definisi dari neonatus, balita dan anak pra sekolah?

1.2.2

Apa sajakah kebutuhan dasar neonatus, balita dan anak pra sekolah?

1.2.3

Bagaimana asuhan kebidanan pada neonatus, balita dan anak

prasekolah?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1Mengetahui definisi dari neonatus.balita dan anak pra sekolah.
1.3.2Mengetahui dan memahami kebutuhan dasar neonatus, balita dan anak
pra sekolah

1.3.3Mengetahui dan memahami asuhan kebidanan pada neonatus, balita dan


anak prasekolah

BAB II
PEMBAHASAN
KEBUTUHAN DASAR NEONATUS DAN BAYI
2.1.

DEFINISI NEONATUS
Menurut kamus kedokteran Dorland (2003), djelaskan bahwa
neonatal
adalah jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu. Menurut Jumiarni
(1995)
neonatus
adalah
bayi
yang
baru
mengalami
proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterine ke
kehidupan ekstrauterin.
Bayi baru lahir adalah bagian dari neonatus yaitu suatu organisme yang
sedang bertumbuh yang baru mengalami trauma kelahiran dan harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin
(Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak III oleh Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Unifersitas Indonesia tahun 1985)
Menurut Ibrahim (1984) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan 2500 4000 gram.

2.2. KEBUTUHAN DASAR NEONATUS DAN BAYI


2.2.1. KEBUTUHAN FISIK PADA NEONATUS DAN BAYI
Kebutuhan Fisik-Biologis meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti:
nutrisi, imunisasi, kebersihan tubuh & lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan
kesehatan dan pengobatan, olahraga, bermain dan beristirahat.
Nutrisi : Harus dipenuhi sejak anak di dalam rahim. Ibu perlu memberikan nutrisi
seimbang melalui konsumsi makanan yang bergizi dan menu seimbang. Air
Susu Ibu (ASI) yang merupakan nutrisi yang paling lengkap dan seimbang bagi
bayi terutama pada 6 bulan pertama (ASI Eksklusif).
Imunisasi : anak perlu diberikan imunisasi dasar lengkap agar terlindung dari
penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Kebersihan : meliputi kebersihan makanan, minuman, udara, pakaian, rumah,
sekolah, tempat bermain dan transportasi.
Bermain, aktivitas fisik, tidur : anak perlu bermain, melakukan aktivitas fisik dan
tidur karena hal ini dapat merangsang hormon pertumbuhan, nafsu makan,
merangsang metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein merangsang
pertumbuhan otot dan tulang merangsang perkembangan.
Pelayanan Kesehatan : anak perlu dipantau / diperiksa kesehatannya secara
teratur. Penimbangan anak minimal 8 kali setahun dan dilakukan SDIDTK
minimal 2 kali setahun. Pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi setiap bulan
Februari dan bulan Agustus.

Tujuan pemantauan yang teratur untuk : mendeteksi secara dini dan


menanggulangi bila ada penyakit dan gangguan tumbuh-kembang, mencegah
penyakit serta memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
Memandikan Neonatus : Neonatus harus selalu dijaga agar tetap bersih, hangat,
dan kering. Beberapa cara untuk menjaga agar kulit neonatus bersih adalah
memandikan neonatus, mengganti popok atau pakaian neonatus sesuai
keperluan, pastikan bahwa neonatus tidak terlalu panas/dingin, dan menjaga
kebersihan pakaian dan hal hal yang bersentuhan dengan neonatus.
Memandikan neonatus sebaiknya ditunda sampai 6 jam kelahiran. Hal ini
dimaksudkan agar neonatus tidak hipotermi. Selain itu juga meminimalkan
resiko infeksi. Prinsip yang perlu diperhatikan pada saat memandikan neonatus
antara lain :
o Menjaga neonatus agar tetap hangat
o Menjaga neonatus agar tetap aman dan selamat
o Suhu air tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin.
Memandikan neonatus dianjurkan memakai sabun dengan pH netral dengan
sedikit bahkan tanpa parfum atau pewarna (jangan gunakan sabun mandi
dewasa). Permukaan kulit yang asam (acid mantle) memberi perlindungan
kepada neonatus terhadap infeksi, sedangkan pH kulit yang kurang dari 5,0
bersifat bakteriostatik. Pada saat lahir kulit neonatus tidak begitu asam (pH
6,34) kemudian menurun sampai 4,95 dalam 4 hari. Memandikan neonatus
dengan sabun alkalin (sabun dewasa) akan meningkatkan pH kulit sehingga
keasaman kulit menurun (dapat menimbulkan infeksi pada neonatus).
Memandikan neonatus juga memiliki beberapa maanfaat diantaranya yaitu
untuk menjaga kebersihan tubuh neonatus, tali pusat, dan memberikan rasa
nyaman pada neonatus.
Memberi Minum/Menyusui pada Neonatus : BBL normal dapat segera disusui
hanya dalam waktu 1-2 menit pada setiap payudara. Neonatus baru lahir segera
mungkin dilakukan IMD. Proses ini berlangsung minimal 1 jam pertama setelah
neonatus lahir. IMD sangatlah baik kegunaannya, selain sebagai pengerat
hubungan batin ibu dan anak IMD juga memiliki keuntungan lainnya, yaitu
mempercepat keluarnya kolostrum. Pada waktu IMD neonatus mendapat
kolostrum yang penting untuk kelangsungan hidupnya.
Kebutuhan minum pada neonatus yaitu :
o Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari
o Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari
o Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari
o Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari
Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 200 cc/kg BB/hari.
Dalam menyusui juga hrus diperhatikan tentang cara menyusui yang benar,
karena menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting
susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi
ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui
dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :
o Bayi tampak tenang.
o Badan bayi menempel pada perut ibu.
o Mulut bayi terbuka lebar.
o Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.
o Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang
o masuk.
6

o Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.


o Puting susu tidak terasa nyeri.
o Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
o Kepala bayi agak menengadah.
Menyendawakan Neonatus : Menyendawakan neonatus penting dilakukan dan
berfungsi untuk mengeluarkan udara yang ada di dalam perut neonatus atau
agar tidak kembung.Biasanya udara masuk ke perut neonatus bersamaan ketika
neonatus menyusu.Makin banyak udara yang masuk, semakin kembunglah
perut neonatus. Akibatnya neonatus merasa tidak nyaman dan akan
menyebabkan rewel. Berikut adalah teknik-teknik menyendawakan neonatus :
o Menaruh di Pundak
o Posisi Telungkup
Pijat Bayi : Manfaat memijat neonatus Yang terutama yaitu neonatus akan
merasakan kasih sayang dan kelembutan dari orang tua saat dipijat. Kasih
sayang merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan neonatus. Sentuhan
hangat dari tangan dan jari orang tua bisa membuat neonatus merasakan
pernyataan kasih sayang orang tua.
o Menguatkan otot
o Pijatan terhadap neonatus sangat bagus untuk menguatkan otot neonatus
o Membuat neonatus lebih sehat
o Memijat neonatus bisa memerlancar sistem peredaran darah, membantu
proses pencernaan neonatus, dan juga memerbaiki pernapasan neonatus.
Bahkan memijat neonatus bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh si
neonatus.
o Membantu pertumbuhan
o Menurut penelitian, pertumbuhan neonatus seperti berat badan akan lebih
baik dengan memijat neonatus. Bahkan untuk neonatus prematur, berat
badan bisa bertambah hingga 47 persen dibanding jika tidak dipijat.
o Meningkatkan kesanggupan belajar
o Dengan merangsang indra peraba, indra penglihatan dan pendengaran si
neonatus, akan meningkatkan daya ingat dan kesanggupan belajar sang
neonatus.
o Membuat neonatus tenang.
Hygiene diri dan lingkungan
Kebersihan badan dan lingkungan yang terjaga berarti sudah mengurangi resiko
tertularnya berbagai penyakit infeksi. Selain itu, lingkungan yang bersih akan
memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas bermain
secara aman. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kebersihan
balita oleh orang tua, adalah sebagai berikut :
o Mencuci tangan
o Memotong kuku
o Mandi teratur
o Bersihkan mainannya
Buang air besar ( BAB )
Kotoran yang dikeluarkan bayi baru lahir, pada hari-hari pertama disebut
mekonium. Mekonium adalah ekskresi gastrointestinal bayi yang diakumulasi
dalam usus sejak masa janin, yaitu pada usia kehamilan 16 minggu. Warna
mekonium adalah hijau kehitaman, lengket dan bertekstur lembut, terdiri atas
mulkus, sel epitel, cairan amnion yang tertelan, asam lemak dan pibmen
7

empedu. Mekonium dikeluarkan seluruhnya 2-3 hari setelah lahir. Kemudian


feses bayi yang diberi ASI akan berubah warnanya menjadi hijau-emas dan
terlihat seperti bibit. Bayi yang diberi susu formula memiliki feses yang
berwarna coklat gelap, seperti pasta atau padat. Bayi akan berdefekasi 5-6 kali
tiap hari dan akan berkurang pada minggu ke 2. Apabila bayi tidak defekasi
selama lebih dari dua hari segera hubungi tenaga kesehatan.
Buang air kecil ( BAK )
Bayi berkemih sebanyak 4-8 kali sehari. Pada awalnya volume urin sebanyak
20-30 ml/ hari, meningkat menjadi 100-200 ml/ hari pada akhir pertama. Warna
urin keruh/ merah muda dan berangsur-angsur jernih karena intake cairan
meningkat
Tidur
Memasuki bulan pertama kehidupan, bayi baru lahir menghabiskan waktunya
untuk tidur, sediakan lingkungan yang nyaman, atur posisi dan minimalkan
gangguan agar bayi dapat tidur saat ibu ingin tidur. Lama tidur BBL antara 1620 jam sehari dengan masing-masing periode antara 1,5 jam-5/ 6 jam
(Doenges, M, E, 2001 : 219).
Perawatan kulit
Kulit bayi masih sangat sensitive terhadap kemungkinan terjadinya infeksi.
Verniks kaseosa bermanfaat untuk melindungi kulit bayi sehingga jangan
dibersihkan saat memandikan bayi. Lanugo menutupi kulit terutama bahu,
lengan atas, paha. Pastikan semua alat yang digunakan oleh bayi selalu dalam
keadaan bersih dan kering.
Keamanan bayi
Hal-hal yang harus diperhatikan menjaga keamanan bayi adalah dengan tetap
menjaganya, jangan sekalipun meninggalkan tanpa ada yang menunggu. Selain
itu juga jangan memberikan apapun ke mulut bayi selain ASI, karena bayi bisa
tersedak dan jangan menggunakan alat penghangat di tempat tidur bayi.
Menjauhi orang-orang yang menderita infeksi, lingkungan yang banyak asap
dan orang merokok. Dan biasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah
menangani bayi. (Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO, 2003 : 23)
Perawatan tali pusat
Tali pusat merupakan tempat koloni bakteri, pintu masuk kuman, dan bisa
terjadi infeksi lokal, sehingga perlu adanya perawatan tali pusat yang baik. Sisa
tali pusat sebaiknya dipertahankan dalam keadaan terbuka dan ditutupi kain
bersih secara longgar. Pemakaian popok sebaiknya dilipat dibawah tali pusat.
Jika tali pusat terkena kotoran / feses maka harus segera dicuci dengan
menggunakan air bersih dan sabun kemudian dikeringkan. Biasanya tali pusat
akan terlepas sekitar 1-2 minggu.
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir
o Pernafasan sulit/ lebih dari 60 dan < 40 kali/ menit
o Suhu terlalu panas ( > 38ocelsius ) atau terlalu dingin ( < 36ocelsius )
o Isapan saat menyusu lemah, rewel, sering muntah, dan mengantuk
berlebihan,
o Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk, dan berdarah,
o Tidak BAB dalam 2 hari, tidak BAK dalam 24 jam, feses lembek atau cair,
sering berwarna hijau tua, dan terdapat lendir atau darah,
o Mengigil, rewel, lemas.mengantuk, kejang,tidak bisa tenang, dan menangis
terus-menerus
8

o Bayi kulit kering ( terutama 24 jam pertama ) berwarna biru , pucat atau
memar.
o Bagian putih mata menjadi kuning atau warna kulit tampak kuning, coklat
atau persik
Penyuluhan sebelum bayi pulang
Pelayanan kebidanan sebelum ibu dan bayi pulang mencakup upaya
pencegahan penyakit, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, penyembuhan
serta
pemulihan
kesehatan.
Kegiatan Penyuluhan
sebelum
bayi
pulang meliputi :
o Penyuluhan dan nasehat tentang kesehatan ibu dan anak selama perawatan
di rumah.
o Cara menyusui yang baaik dan benar.
o Perawatan tali pusat dan cara memandikan bayi.
o Pemelihaaan kesehatan ibu,bayi dan balita.
o Pengobatan sederhana bagi ibu bayi dan balita.
o Perbaikan gisi keluarga, ibu agar mengkomsumsi makanan yang mengandung
gizi tinggi seperti buah-buahan, sayur2 an yang hijau,
o Imunisasi bayi/ anak, pelaksanaan imunisasi agar dilakukan secara lengkap
o Kebersihan ibu dan bayi selalu dijaga sehingga infeksi tidak terjadi selama
perawatan di rumah
o Pelayanan KB, melakukan program KB dengan kontrasepsi yang sesuai
dengan kesehatan ibu
Peran Bidan Pada Bayi Sehat
Beberapa prinsip pedekatan asuhan terhadap anak (termasuk didalamnya bayi
dan balita) yang dipegang oleh bidan yaitu:
Anak bukanlah miniatur orang dewasa tetapi merupakan sosok individu yang unik
yang mempunyai kebutuhan khusus sesuai dengan tahapan perkembangan dan
pertumbuhannya.
Berdasarkan kepada pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga
permasalahan asuhan terhadap klien sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Asuhan kesehatan yang diberikan menggunakan pendekatan sistem.
Selain memenuhi keutuhan fisik, juga harus memperhatikan keutuhan psikologis
dan sosial.
Bulan pertama kehidupan bayi merupakan masa transisi dan penyesuaian baik
untuk orang tua maupun bayi, oleh karena itu bidan harus bisa memfasilitasi proses
tersebut. Semua bayi lahir harus menjalani minimal 2 kali pemeriksaan fisik sebelum
dipulangkan dari rumah bersalin atau rumah sakit. Pemeriksaan pertama adalah
pemeriksaan screening/ penapisan yang dilakukan saat kelahiran. Pemeriksaan
kedua lebih komprehensif. Tujuan kunjungan ulang bayi sehat adalah :
Mengidentifikasi gejala penyakit
Menawarkan tindakan screening metabolik
Memberikan KIE kepada orang tua
Bidan harus mempunyai perencanaan atau planing untuk melakukan kunjungan
meliputi :
Kaji riwayat maternal, persalinan, dan riwayat tindakan segera pada bayi baru
lahir.
Amati dan tanyakan kepada orangtua tentang penyesuaian keluarga
Kaji riwayat pemenuhan nutrisi bayi, perhatian, usaha menangis, BAB, BAK dan
masalah lainnya.
Lakukan pemeriksaan fisik
9

Beri penyuluhan dan anticipatry guidance pada orang tua


Buat jadwal kunjungan ulang dalam 6-8 minggu untuk imunisasi dan check

up.
2.2.2.

KEBUTUHAN PSIKOLOGIS PADA NEONATUS DAN BAYI


Asih (kebutuhan emosional) adalah kasih sayang dari orang tua akan
menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh
kembang yang selaras baik fisik maupun mental.
Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (bahkan sejak dalam
kandungan), anak mutlak memerlukan ikatan yang erat, serasi dan selaras
dengan ibunya untuk menjamin tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial
anak . Cara memenuhi kebutuhan psikologis neonatus dan bayi bisa dengan
melalui Bounding Attachment.

1. Pengertian Bounding Attachment


Bounding attachment berasal dari dua suku kata, yaitu bounding dan
attachment. Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment
(membangun ikatan). Jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan
hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
Adapun beberapa definisi para ahli:
o Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik,
emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi
setelah lahir.
o Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara
orang tua dan bayi segera setelah lahir,attachment: ikatan yang terjalin antara
individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik
yang akrab.
o Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk
mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera
setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik
sepanjang waktu.
o Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua
dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di
antara individu.
o Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang
seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.
2. Tahap-tahap Bounding Attachment
o Perkenalan, dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara dan
mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya
o Bounding (keterikatan)
o Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain
3.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Berhasil atau Tidaknya Proses


Bounding Attachment
o Kesehatan emosional orang tua
Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu
akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak
menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat
membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
10

Tingkat kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak


Dalam berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orang tua satu
dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang
dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya
maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.
o Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan
Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang
juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orangorang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif yang
kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya.
o Kedekatan orang tua dan anak
Dengan metode rooming in kedekatan antara orang tua dan anak dapat
terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud
diantara keduanya.
o Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin)
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika
keadaan anak sehat / normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang
diharapkan. Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat
dibanding dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati
sembilan bulan bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses
kelahiran membuat keduanya memiliki hubungan yang unik.
o

4. Cara Untuk Melakukan Bounding Attachment


o Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir,
secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang
menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh
semua manusia.
o Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara
ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat
sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi
perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu
merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang
merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri
dikemudian hari. Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh
orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks letdown bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui
dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa
adanya suatu kesatuan keluarga.
o Kontak mata (Eye to Eye Contact)
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa
lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih
banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan.
Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang
tuanya. Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan
segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan
11

dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam
hubungan manusia pada umumnya.
Suara (Voice)
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat
penting. orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.
Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat.
Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu
orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan
berpaling kearah mereka. Respon antara ibu dan bayi berupa suara masingmasing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan
itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja (hidup). Bayi
dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat
mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir,
meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari oleh cairan amniotik
dari rahim yang melekat dalam telinga.
Aroma /Odor (Bau Badan)
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk
mengenali aroma susu ibunya. Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah
berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk
mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang
ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu tertentu.
Gaya bahasa (Entrainment)
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak
sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan
tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment
terjadi pada saat anak mulai bicara. Bayi baru lahir menemukan perubahan
struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam
bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam
berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak
dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga
mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk
komunikasi yang efektif.
Bioritme (Biorhythmicity)
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme).
Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang
konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan
perilaku yang responsif. Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri
dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas
bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat
membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang
secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk
mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk
belajar.
Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan
merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat
melakukan reflek sucking dengan segera.

5. Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment


12

o Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).


o Sentuhan orang tua pertama kali.
o Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke
anak.
o Kesehatan emosional orang tua.
o Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
o Persiapan PNC sebelumnya.
o Adaptasi.
o Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
o Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa
nyaman.
o Fasilitas untuk kontak lebih lama.
o Penekanan pada hal-hal positif.
o Perawat maternitas khusus (bidan).
o Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga,
teman dan pasangan.
o Informasi bertahap mengenai bounding attachment.
6.

Manfaat Bounding Attachment


Adapun manfaat dari implementasi teori bounding attachment jika dilakukan
secara baik yaitu:
o Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap
sosial.
o Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
o Akan sangat berpengaruh positif pada pola perilaku dan kondisi psikologis
bayi kelak.

7.

Hambatan Bounding Attachment


Sesuatu yang prosesnya tidak sealur dengan tujuan dari bounding
attachment dan dapat dikatakan sebagai penghambat dalam bounding
attachment adalah:
o Prematuritas
Bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan prematur, kurang mendapat kasih
sayang dari ibunya karena kondisi belum cukup viabel(kelangsungan hidup
terus) dan belum cukup untuk menyesuaikan dengan extra uterine, bahkan
bayi diletakkan dalam inkubator sampai bayi dapat hidup sebagai individu
yang mandiri.
o Bayi atau ibu sakit
Pada keadaan ibu atau bayi salah satu menderita sakit dan harus mendapat
perawatan khusus, maka ikatan ibu dan bayi akan tertunda.
o Cacat Fisik
Bayi lahir cacat fisik atau cacat bawaan atau kelainan lainnya, dapat
menimbulkan stres pada keluarga, utamanya ibu. Ibu merasa malu dan
kurang menyukainya.
o Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan
Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang
juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari
orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif
yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada
bayinya.
13

o Kedekatan orang tua ke anak


Dengan metode rooming/rawat gabung kedekatan antara orang tua dan
anak dapat terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin
terwujud diantara keduanya.
o Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin)
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika
keadaan anak sehat/normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang
diharapkan.
8. Peran Bidan dalam Mendukung Terjadinya Bonding Attachment
o Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam
pertama pasca kelahiran.
o Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon
positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
o Sewaktu pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk
menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar
o Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi
o Bidan juga mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan
keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti
ibu tidak merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan
tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan
o
Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan
salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah
kelahiran, hendaknya Bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan bayi
melainkan Bidan mampu untuk mengundang rasa penasaran ibu untuk
mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya. Pada
kasus bayi atau ibu dengan risiko, ibu dapat tetap melakukan bonding
attachment ketika ibu member ASI bayinya atau ketika mengunjungi bayi
di ruang perinatal. ( Yetti Anggraini, Asuhan Kebidanan Masa Nifas, hal 6575)
KEBUTUHAN STIMULASI (ASAH)
Anak perlu distimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini mungkin
kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian,
kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak. Dasar perlunya stimulasi
dini. Milyaran sel otak dibentuk sejak anak di dalam kandungan usia 6 bulan dan
belum ada hubungan antar sel-sel otak (sinaps)orang tua perlu merangsang
hubungan antar sel-sel otak bila ada rangsangan akan terbentuk hubunganhubungan baru (sinaps).
Asah merupakan stimulasi mental yang akan menjadi cikal bakal proses
pendidikan di mana bertujuan untuk mengembangkan mental, kecerdasan,
ketrampilan, kemandirian, kreativitas, agama, moral, produktifitas, dan lain-lain.
Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi
dengan bayi misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, menjelang
tidur.
Stimulasi pada masa neonatus dilakukan dengan cara : mengusahakan
rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap
mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau
musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok
14

(lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, dirangsang


untuk meraih dan memegang mainan
Ketika bayi rewel, cari penyebabnya dan peluk ia dengan penuh kasih
sayang.
Gantung benda-benda yang berbunyi dan berwarna cerah di atas tempat
tidur bayi agar bayi dapat melihat benda tersebut bergerak-gerak dan
berusaha menendang/meraih benda tersebut.
Latih bayi mengangkat kepala dengan cara meletakkannya pada posisi
telungkup.
Ajak bayi tersenyum, terutama ketika ia tersenyum kepada anda.
Stimulasi pada masa bayi dilakukan dengan cara :
Bantu bayi duduk sendiri, mulai dengan mendudukan bayi di kursi yang
mempunyai sandaran.
Latih kedua tangan bayi masing-masing memegang benda dalam waktu
yang bersamaan.
Latih bayi menirukan kata-kata dengan cara menirukan suara bayi dan buat
agar bayi menirukan kembali.
Latih bayi bermain seperti melambaikan tangan
Angkat bayi dan bantu ia berdiri diatas permukaan yang datar dan kokoh.
Latih bayi memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadah.
Perlihatkan gambar benda dan bantu bayi menunjuk nama benda yang anda
sebutkan.
Ajak bayi bermain dengan permainan yang perlu dilakukan bersama.
Latih bayi berjalalan sendiri.
Latih bayi menggelindingkan bola.
Berikan kesempatan kepada bayi untuk menggambar,
Ajak bayi makan bersama
TABEL : Macam Stimulus yang Diperlukan pada Anak Berusia Kurang dari 1 Tahun
Umur

Stimulus
Visual

Stimulus
Auditif

Stimulus
Taktil

Stimulus
Kinetik

0-3 bulan

Objek warna
terang di
atas tempat
tidur

Mengajak
bisacara dan
mendengarka
n suara
lonceng

Membelai,
menyisir,
menyelimuti

Berjalan-jalan

4-6 bulan

Menonton TV
dan bermain
benda
terang yang
dapat
dipegang
Sama halnya
dengan usia
4-6 bulan di
tambah
bermain ci

Mengajak
bicara
Memanggil
nama

Bermain air

Berdisi pada
paha orang
tua, membantu
tengkurap,
duduk

Panggil nama
bayi, ajari
memanggil
nama orang
tua, memberi

Mengenai
berbagai
tekstur
Bermain air

Membantu
tengkurap,
latih berdiri,
bermain tarik
dorong

7-9 bulan

15

luk ba

10-12 bulan

2.3.

Ajak ke
tempat
ramai dan
kenalkan
gambar

tahu yang
sedang
dilakukan
Suara
binatang dan
menyebutkan
bagian tubuh

Merasakan
hangat atau
dingin dan
memegang
makan
sendiri

Bermain tarik
dorong,
bersepeda

ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS DAN BAYI


Untuk semua BBL, lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan:
Sebelum bayi lahir:

Apakah kehamilan cukup bulan?

Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?


Segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi di atas kain bersih dan
kering yang telah disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan penilaian
(selintas) berikut :

Apakah bayi menangis kuat dan/ atau bernafas tanpa kesulitan?

Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?


Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap lakukan resusitasi.
1. PENGKAJIAN AWAL
Ciri-ciri bayi baru lahir normal :
Berat badan 2500 - 4000 gram.
Panjang badan 48 - 52 cm.
Lingkar dada 30 - 38 cm.
Lingkar kepala 33 - 35 cm.
Frekuensi jantung 120 - 160 kali/menit.
Pernafasan 40 - 60 kali/menit.
Kulit kemerah - merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup.
Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
Kuku agak panjang dan lemas.
Genetalia
o Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora
o Laki - laki testis sudah turun, skrotum sudah ada
Reflek sucking (hisap) dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik.
Reflek graps atau menggenggam sudah baik.
Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan.

2. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR


Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi
tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Aspek-aspek penting dari
asuhan segera bayi baru lahir :
Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat
Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dan kulit ibunya sesegera
mungkin.
Segera setelah melahirkan badan bayi lakukan penilaian sepintas :

16

o Sambil secara cepat menilai pernapasannya (menangis kuat, bayi bergerak


aktif, warna kulit kemerahan) letakkan bayi dengan handuk diatas perut
ibu
o Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah/lendir dari wajah bayi
untuk mencegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang pernapasan bayi
(sebagian besar bayi akan menangis atau bernapas spontan dalam waktu
30 detik setelah lahir).
o Dan nilai APGAR SKORnya, jika bayi bernafas megap-megap atau lemah
maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.

PENILAIAN APGAR SKOR


Nilai
Tanda

Denyut jantung
(pulse)

Tidak
ada

Lambat <
100

>100

Usaha nafas
(respisration)

Tidak
ada

Lambat, tidak
teratur

Menangis dengan
keras

Tonus otot
(activity)

Lemah

Fleksi pada
ekstremitas

Gerakan aktif

Kepekaan reflek
(grimace)

Tidak
ada

Merintih

Menangis kuat

Warna
(apperence)

Biru
pucat

Tubuh merah
muda,
ekstremitas
biru

Seluruhnya
merah muda

Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR :


Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 menunjukkan bayi mengalami
depresi serius dan membutuhkan Resusitasi segera sampai Ventilasi.
Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6 menunjukkan bayi
mengalami depresi sedang dan membutuhkan tindakan Resusitasi.
Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
Bayi normal dengan nilai APGAR 10
a) Pemberian ASI dini
Memberikan ASI dini (dalam 1 jam pertama setelah bayi baru lahir) akan
memberikan keuntungan yaitu:
Merangsang produksi ASI : Rangsangan isapan bayi pada puting susu ibu
akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk
mengeluarkan hormon prolaktin (hormon ini yang memacu payudara
untuk menghasilkan ASI.
Memperkuat reflek menghisap
o Reflek rooting (reflek mencari putting susu)
o Reflek suckling (reflek menghisap)
17

o Reflek swallowing (reflek menelan)


Mempercepat hubungan batin ibu dan bayi (membina ikatan emosional
dan kehangatan ibu-bayi).
Memberikan kekebalan pasif yang segera kepada bayi melalui kolostrum.
Merangsang kontraksi uterus dan mencegah terjadi perdarahan pada ibu.
b) Perawatan mata
Memberikan eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% untuk mencegah penyakit
mata karena klamidia (penyakit menular seksual). Obat mata diberikan pada
1 jam pertama setelah persalinan.
c) Pemberian vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada
bayi baru lahir lakukan hal-hal berikut :
Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K
peroral 1mg/hari.
Bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg IM
dipaha kiri.
d) Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Pemberian imunisasi Hepatitis B ini untuk mencegah infeksi Hepatitis B di
berikan pada usia 0 (segera setelah lahir menggunakan uniject) di suntik, IM
dipaha kanan dan selanjutnya di berikan ulangan sesuai imunisasi dasar
lengkap.
e) Pemantauan lanjutan
Tujuan pemantauan bayi baru lahir yaitu untuk mengetahui aktifitas bayi
normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang
memerlukan perhatian dan tindak lanjut dari petugas kesehatan.
Dua jam pertama sesudah lahir
Hal-hal yang di nilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah
kelahiran yaitu:
Kemampuan menghisap kuat atau lemah
Bayi tampak aktif atau lunglai
Bayi tampak kemerahan atau biru

18

BAB III
KEBUTUHAN DASAR BALITA
3.1.

DEFINISI BALITA
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau
lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006).
Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah umum bagi
anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak
masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting,
seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah
bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita merupakan
periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan
pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan
perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini
merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena
itu sering disebut golden age atau masa keemasan.
3.2. KEBUTUHAN DASAR PADA BALITA
3.2.1 KEBUTUHAN FISIK PADA BALITA
Pemenuhan nutrisi pada balita
Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Zat gizi yang mencukupi
pada anak harus dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi
yang cukup memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI
secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai anak berumur 4-6 bulan. Sejak
berumur 6 bulan, sudah waktunya anak diberikan makanan tambahan atau makanan
pendamping ASI. Pemberian makanan tambahan ini penting untuk melatih kebiasaan
makan yang baik dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang mulai meningkat pada
masa balita dan prasekolah, karena pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan
yang terjadi adalah sangat pesat, terutama pertumbuhan otak.
Kebutuhan gizi yang harus dipenuhi pada masa balita diantaranya energi dan
protein. Kebutuhan energi sehari anak untuk tahun pertama kurang lebih 100-120
kkal/ kg berat badan. Untuk tiap 3 bulan pertambahan umur, kebutuhan energi turun
kurang lebih 10 kkal/ kg berat badan. Energi dalam tubuh diperoleh terutama dari zat
gizi karbohidrat, lemak dan juga protein. Protein dalam tubuh merupakan sumber
asam amino esensial yang diperlukan sebagai zat pembangun, yaitu untuk
pertumbuhan dan pembentukan protein dalam serum, mengganti sel-sel yang rusak,
memelihara keseimbangan asam basa cairan tubuh, serta sebagai sumber energi.
Lemak merupakan sumber kalori berkonsentrasi tinggi, selain itu lemak juga
mempunyai 3 fungsi, diantaranya sebagai sumber lemak esensial, sebagai zat
pelarut vitamin A, D, E, K, serta dapat memberi rasa sedap dalam makanan.
Kebutuhan karbohidrat yang dianjurkan adalah 60-70% dari total energi. Sumber
karbohidrat dapat diperoleh dari beras, jagung, singkong, tepung-tepungan, gula,
dan serat makanan. Serat makanan sangat penting untuk menjaga kesehatan alat
pencernaan. Vitamin dan mineral pada masa balita sangat diperlukan untuk
mengatur keseimbangan kerja tubuh dan kesehatan secara keseluruhan. Kebutuhan
akan vitamin dan mineral jauh lebih kecil dari pada protein, lemak, dan karbohidrat.
19

Ada beberapa hal yang perlu dihindari bagi anak agar makannya tidak
berkurang, seperti membatasi makanan yang kurang menguntungkan, seperti coklat,
permen, kue-kue manis karena dapat membuat kenyang sehingga nafsu makan
berkurang. Menghindari makanan yang merangsang seperti pedas dan terlalu panas,
menciptakan suasana makan yang tentram dan menyenangkan, memilih makanan
dengan nilai gizi tinggi, memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan, tidak
memaksa anak untuk makan serta tidak menghidangkan porsi makanan terlalu
banyak. Usia balita dapat kita bedakan menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Balita usia 1-3 tahun : Jenis makanan yang paling disukai anak balita di usia ini
biasanya adalah makanan yang manis-manis, seperti cokelat, permen, es krim,
dll. Pada anak usia ini sebaiknya makanan yang banyak mengandung gula
dibatasi, agar gigi susunya tidak rusak atau berlubang (caries). Pada usia ini,
biasanya anak sangat rentan terhadap gangguan gizi, seperti kekurangan
vitamin A, zat besi, kalori dan protein. Kekurangan vitamin A dapat
mengakibatkan gangguan fungsi pada mata, sedangkan kekurangan kalori dan
protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kecerdasan anak.
2. Anak usia 4-6 tahun : Pada usia ini, anak-anak masih rentan terhadap gangguan
penyakit gizi dan infeksi. Sehingga pemberian makanan yang bergizi tetap
menjadi perhatian orang tua, para pembimbing dan pendidik di sekolah.
Pendidikan tentang nilai gizi makanan, tidak ada salahnya mulai diajarkan pada
mereka. Dan ini saat yang tepat untuk menganjurkan yang baik-baik pada anak,
karena periode ini anak sudah dapat mengingat sesuatu yang dilihat dan
didengar dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Sehingga akhirnya anak
dapat memilih menyukai makanan yang bergizi.
Di bawah ini terdapat beberapa makanan yang dianjurkan untuk balita :
1. Makanan pendamping ASI untuk balita dapat berupa bubur tepung beras atau
beras merah yang dimasak dengan cairan, kaldu daging, susu formula atau air
2. Makanan pendamping lainnya selain bubur adalah buah-buahan yang
dihaluskan dengan blender, seperti buah papaya, pisang, apel, melon, dan
alpukat.
3. Sayur-sayuran dan kacang-kacangan juga dapat dijadikan makanan
pendamping balita dengan cara direbus dan dihaluskan dengan blender.
Sebaiknya, ketika diblender, bahan makanan pendamping balita ini ditambah
dengan kaldu atau air matang supaya lebih halus. Sayuran dan kacangkacangan tersebut adalah kacang polong, kacang merah, wortel, tomat,
kentang, labu kuning, dan kacang hijau.
4. Makanan pendamping balita pun dapat berupa daging pilihan yang tidak
mengandung lemak dan diblender.
5. Makanan pendamping lainnya juga bisa berupa ikan yang diblender, yaitu ikan
yang tidak berduri (ikan salmon, fillet ikan kakap, dan gindara).
Penyebab status nutrisi kurang pada anak :
1. Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
2. Hiperaktivitas fisik/ istirahat yang kurang
3. Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi
4. Stres emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau absorbsi
makanan tidak adekuat.
20

3.2.2
KEBUTUHAN PSIKOLOGIS
Untuk dapat menjalin ikatan emosi yang erat dengan anak kita, berikut ini ada
beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman bagi orangtua atau orang yang dekat
dengan anak dalam melakukan interaksi dengan balita :
Berikan rangsangan positif kepada balita. Misalnya dengan belaian/ sentuhan
/pijatanpijatan lembut, ucapan-ucapan lembut, kecupan, dan suara-suara yang
menenangkan
Tanggap terhadap kebutuhan balita.
Ajak anak bermain yang dapat membuatnya gembira atau tertawa. Misalnya
dengan main ciluk ba, menggelitikinya sesekali, memainkan boneka dengan
suara-suara lucu atau menunjukkan wajah-wajah ganjil (memasang ekspresi lucu),
membadut (bicara dengan cara yang dilebih-lebihkan), kemudian tertawalah
bersama anak. Pada umumnya, kita akan merasa lebih dekat dengan seseorang
yang tertawa bersama kita, demikian pula halnya dengan anak.
Sengaja meluangkan waktu bersama anak untuk dapat memberikan kualitas
pengasuhan yang baik. Jangan menghadapi anak dengan terpaksa atau hanya
hadir secara fisik saja. Usahakan menghadapi anak dengan menghadirkan hati
juga.
Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas, sekalipun ia cacat atau tidak
sesuai dengan harapan kita. Sebab penolakan terhadap anak, menyebabkan
hubungan orangtua-anak menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk
memberikan kasih sayangnya.
Jangan bersikap kasar, kesal dan menunjukkan kemarahan terhadap balita karena
balita juga bisa merasakan ketidaknyamanan ini dan merekamnya dalam
ingatannya sehingga membuat orangtua menjadi jauh terhadap anak.
Toleransi : Bertoleransi terhadap kesalahan anak, bukan kebalikan dari disiplin.
Kesalahan yang dilakukan anak sering kali hanya karena perbedaan pandang kita
sebagai orang tua atau orang dewasa dengan cara pandang anak. Menghargai
perbedaan perlu dikenalkan pada saat anak mulai dapat berbicara dan bermain
dengan teman sebayanya. Konflik yang sering terjadi karena kita tidak bisa
menghargai perbedaan. Hal terkecil tetapi penting untuk dilakukan orangtua
adalah mendengarkan dan menghargai pendapat anak.
Menjadi Motivator : Anak tidak sekedar mencontoh dan anak tidak hanya
membutuhkan keteladanan orangtua. Dorongan atau motivasi sering lebih penting
daripada ajakan. Terlebih pada usia setahun, saat anak memerlukan kemampuan
untuk mengontrol dirinya, motivasi berperan penting agar kelak tidak menjadi
anak yang pemalu atau peragu. Dorongan orang tua akan muncul dengan
sendirinya jika orangtua atau pengasuh sering mendampingi atau memfasilitasi
kegiatan bermain anak. Tentu saja dorongan untuk mendikte yang sering muncul
tanpa kita sadari harus benar-benar kita hindari.
Peran bidan dalam hal ini adalah :
Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama
pasca kelahiran.
Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif
tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
Sewaktu pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk menyentuh dan
meraba perutnya yang semakin membesar
Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi
21

Bidan juga mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan


keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti ibu tidak
merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan tidak memiliki
waktu yang seperti ibu inginkan
Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan salah satu
cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah kelahiran, hendaknya
Bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan bayi melainkan Bidan mampu untuk
mengundang rasa penasaran ibu untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin
segera memeluk bayinya. Pada kasus bayi atau ibu dengan risiko, ibu dapat tetap
melakukan bonding attachment ketika ibu member ASI bayinya atau ketika
mengunjungi bayi di ruang perinatal.

3.3 ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA


Bidan berperan dalam asuhan terhadap balita terutama dalam hal :
a) Melakukan pengkajian atau pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan
anak, meliputi:
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital
Penampilan umum
Perkembangan psikologis
b) Penyuluhan kesehatan kepada keluarga :
Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita
pemberian ASI
pola pemberian makanan balita
hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI
saat penggantian ASI dengan susu buatan
menghentikan pemberian ASI
mengatur makanan anak usia 1-5 tahun
Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita, imunisasi,
pencegahan kecelakaan, kesehatan gigi, peningkatan kesehatan pola
tidur, bermain

22

BAB IV
KEBUTUHAN DASAR ANAK PRASEKOLAH
4.1.

DEFINISI ANAK PRASEKOLAH


Menurut Joyce Engel (1999) Anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia
antara 3-6 tahun. Menurut Biechler dan Snowman (1993), mereka biasanya
mengikuti program prasekolah baik di taman kanak-kanak, kelompok bermain
maupun tempat penitipan anak dan menurut Elizabeth dalam buku psikologi
perkembangan, usia prasekolah adalah usia mainan, karena pada masa itu anak
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk untuk bermain dengan mainannya.
(Dalam Bambang, 2005)
Usia prasekolah adalah usia yang rentan bagi anak. Pada usia ini anak
mempunyai sifat imitasi atau meniru terhadap apapun yang telah dilihatnya. Orangorang dewasa yang paling dekat dengan anak adalah orang tua. Keluarga merupakan
lingkungan pertama dan utama bagi anak yang mempunyai pengaruh sangat besar.
Haryoko (1997) berpendapat bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya sebagai
stimulans dalam perkembangan anak. Pada usia prasekolah anak-anak akan
mengalami perkembangan sangat cepat dari segi fisik, kognitif, emosi maupun sosial.
Hal ini akan sangat berpengaruh pada masa depan anak kelak. Taman kanak-kanak
sebagai lembaga pendidikan formal pertama merupakan salah satu sarana untuk
membantu memberi rangsangan dan dukungan dalam masa pertumbuhan dan
perkembangn anak. Faktor-faktor yang berperan dalam menunjang perkembangan
anak di taman kanak-kanak adalah kulitas guru, program kegiatan dan lingkungan
fisik. (Sujiono, 2003)
Pada usia ini berkembang rasa inisiatif anak. prilaku yang nampak adalah anak
banyak bertanya, banyak meniru aktivitas orang lain dan mencoba melakukan tugas
tertentu. Anak mulai menunjukkan inisiatif misalnya mandi, membereskan
mainannya sendiri, membantu adiknya dan sebagainya. Pada usia ini anak juga mulai
melibatkan diri dalam aktivitas bersama. Anak pada usia ini juga mulai menghadapi
tuntutan oleh lingkungannya untuk berprilaku dalam batas tertentu. Ini dapat
menimbulkan krisis, sehingga anak dapat mengalami kekecewaan. Bersama
munculnya inisiatif, anak juga mulai merasakan rasa bersalah yang dapat
mengahambatnya untuk maju. Bila lingkungan tidak kondusif terhadap inisiatif anak
maka rasa bersalah akan menjadi lebih dominan dalam kehidupan anak selanjutnya.
(Sulistiawati, 2005)
Menurut Jean piaget, bahwa perkembangan intelektual anak usia 5-6 tahun
termasuk fase praoperasional, yaitu masa prasekolah. Pada masa ini anak belum bisa
membedakan dengan tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realita
dunia luar, sehingga pada taraf ini kemungkinan untuk menyampaikan konsepkonsep tertentu kepada anak masih terbatas ( Nasution dalam Nurlindah 2009)
Menurut Sulistiawati (2005) prilaku-prilaku yang kadang ditunjukkan anak pada
usia ini diantaranya :
Perilaku yang menunjukkan inisiatif :
o Berinisiatif memulai suatu tugas dengan keinginan yang benar.
o Banyak ingin tahu segala sesuatu.
Perilaku yang menunjukkan rasa bersalah :
o Lebih suka meniru orang lain daripada mengembangkan ide-idenya sendiri.
23

Meminta maaf secara berlebihan dan menjadi sangat malu hanya karena
kesalahan kecil dan takut memulai pekerjaan baru.
Untuk itu dalam mempersiapkan anak masuk sekolah orang tua diharapakan
mampu mengembangkan rasa percaya diri anak untuk menjalankan sesuatu,
memberikan minat dan motivasi pada anak, menumbuhkan kemauan anak untuk
berusaha dan bekerja, menumbuhkan rasa tanggung jawab, menumbuhkan inisiatif
dan ketekunan pada anak, sikap mau bekerjasama dan memperhatikan orang lain,
serta mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah dan mengambil
keputusan dengan baik. (Panduan BKB, 2001).
o

4.2.

KEBUTUHAN DASAR ANAK PRASEKOLAH

4.2.1
KEBUTUHAN FISIK PADA ANAK PRASEKOLAH
Pemenuhan nutrisi pada anak pra sekolah
Anak usia Pra Sekolah mengalami pertumbuhan sedikit lambat. Kebutuhan
kalorinya adalah 85 kkal/kgBB. Penurunan normal dalam nafsu makan di usia ini
sering menimbulkan kecemasan tentang nutrisi. Sebagian terbesar, orang tua dapat
diyakinkan bahwa jika pertumbuhan normal, masukan anak adalah cukup. Biasanya,
orang tua bertanggung jawab untuk memberi kesehatan, makanan pada usia yang
cocok dan penentuan waktu dan tempat; anak bertanggung jawab menentukan
jumlah masukan makanan. Anak anak biasanya mengatur jumlah makanannya
untuk menyesuaikan kebutuhan tubuhnya menurut rasa lapar atau kenyang.
Masukan setiap hari bervariasi, kadang kadan luas, akan tetapi masukan selama
periode 1 minggu relative stabil. Upaya orang tua untuk mengatur masukan anak
mengganggu mekanisme pengaturan diri ini karena anak harus menyetujui atau
berontak melawan tekanan. Akibatnya adalah kelebihan atau kekurangan makanan.
Karakteristik terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Gizi seimbang merupakan keadaan yang menjamin tubuh memperoleh
makanan
yang cukup mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang
dibutuhkan. Gizi
lengkap dan seimbang harus mengandung :
Bahan makanan sumber tenaga yang berfungsi untuk beraktifitas. Contoh : beras,
roti, kentang, mie.
Bahan makanan sumber zat pembangun, berfungsi untuk pembentukan,
pertumbuhan dan pemeliharaan sel tubuh. Contoh: daging, ikan, telur (protein
hewani) tempe, tahu (protein nabati)
Bahan makanan sumber zat pengatur berfungsi untuk mengatur proses
metabolisme. Contoh : sayuran: bayam, buncis, wortel, tomat, buah-buahan:
pisang, pepaya, jeruk, apel.
Pada anak usia prasekolah :
Nafsu makan berkurang
Anak lebih tertarik pada aktivitas bermain dengan teman atau lingkungannya
daripada makan
Anak mulai senang mencoba jenis makanan baru
Waktu makan merupakan kesempatan yang baik bagi anak untuk belajar dan
Bersosialisasi dengan keluarga
Cara mengatasi kesulitan makan :
Berikan makan pada saat anak tidak lelah
24

Porsi disesuaikan dengan kebutuhan anak, kecil tapi sering


Jadwal disesuaikan
Tunggu anak lapar
Beri kasih sayang
Variasikan makanan
Berikan bersama makanan kesukaannya
Ajak makan dengan keluarga
Berikan makan sambil bermain
Biarkan anak belajar makan sendiri
Tempatkan makanan pada wadah yang menarik
Beri pujian bila anak menghabiskan porsinya
Berikan sugesti bahwa makanan yang diberikan enak
Ibu harus rileks
Merayu anak untuk makan makanan yang sudah disediakan

Kebutuhan nutrisi anak bisa dipenuhi dengan memberikan makanan dari


keempat kelompok makanan penting, yaitu :
Nasi dan alternative.
Makanan ini memberikan energi yang baik, sedikit vitamin dan mineral. Pilihan lain
yang meliputi : bubur ayam, mie atau bubur kacang ijo.
Buah-buahan.
Buah-buahan adalah sumber serat yang baik, khususnya vitamin A, C dan mineral
seperti kalium. Lebih sering memberikan buah-buahan yang mengandung citrun
dan buah-buahan yang isinya berwarna kuning.
Sayur-sayuran.
Merupakan sumber serat dan mineral yang baik seperti kalium, juga memberikan
vitamin A, C dan asam folik. Berikan sayuran berwarna hijau atau sayuran
berwarna kuning kehijauan
Daging dan alternative
Kelompok ini meliputi tempe, tahu, ikan, susu, telur yang memberikan protein
penting, lemak, vitamin dan mineral. Berikan ikan paling sedikit 3 kali dalam
seminggu dan berikan sebanyak 5 telur dalam seminggu.
Tips Memberi Makan pada Anak Pra Sekolah
Tetap memberikan susu.
Anak perlu minum susu 2-3 cangkir susu sehari. Susu memberikan kalsium dan
pospor yang penting untuk menguatkan tulang dan gigi
Menciptakan makanan yang diinginkan.
Melibatkan anak dalam memilih makanan dan merencanakan menu. Ajaklah dia ke
pasar dan terangkan mengenai fungsi dari jenis makanan yang berbeda. Ceritakan
kepadanya bahwa makan telur bisa menjadikan otot kuat dan makan wortel bisa
menjadikan mata sehat untuk melihat, kesemuanya akan membantu anak untuk
memahami mengapa orang tua memberikan makanan ini.
Menyiapkan makanan yang menarik.
Di samping aneka dan sajian makanan, penting juga untuk menarik minat dan
perhatian anak. Memotong sayur-sayuran dalam bentuk yang menarik. Anak
diberikan sayuran dengan warna dan bentuk yang berbeda seperti wortel, buncis,
bayam, jagung. Selain itu atur buah-buahan dalam bentuk yang menarik karena
anak akan lebih berselera untuk menikmati rasa buah tersebut. Yang tidak kalah
25

penting adalah jangan mencampur makanan ke dalam satu mangkok. Pisahkan


jenis makanan yang berbeda dengan mempergunakan piring yang berbeda.
Menghindari anak makan yang berlebihan.
Kegemukan pada anak-anak merupakan suatu kekuatiran. Anak yang kegemukan
bisa mempunyai problema kesehatan dalam kehidupannya di kemudian hari.
Untuk mencegah anak kegemukan orang bisa membantu dengan membentuk
kebiasaan makan makanan yang baik ketika masih muda. Misalnya hindari
menggunakan makanan sebagai bentuk hadiah atau bujukan, memberi makanan
kecil yang menyehatkan serta jangan makan yang berlebihan.
Memberi makanan kecil yang sesuai
usia pra sekolah karena dengan ukuran tubuhnya dan seleranya kecil, sangat baik
dengan pemberian makanan yang tidak terlalu banyak, yang diberikan empat
enam kali dalam sehari. Oleh karena itu makanan kecil sama pentingnya dengan
makanan pokok dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak selama sehari. Makanan
kecil yang baik seperti sop kacang merah, kue yang berisi daging, buah-buahan
segar, susu, jus buah, susu kedelai, roti, singkong rebus, ubi rebus.
Kebersihan
Kebutuhan kebersihan meliputi kebersihan makanan, minuman, udara, pakaian,
rumah, sekolah, tempat bermain dan transportasi.
Bermain, aktivitas fisik, tidur
Anak perlu bermain, melakukan aktivitas fisik dan tidur karena hal ini dapat
merangsang hormon pertumbuhan, nafsu makan, merangsang metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein merangsang pertumbuhan otot dan tulang
merangsang perkembangan.
4.2.2 KEBUTUHAN PSIKOLOGIS PADA ANAK PRASEKOLAH
Ikatan emosi dan kaish sayang yang erat antara ibu/orangtua sangatlah
penting, karena berguna untuk menentukan prilaku anak di kemudian hari,
merangsang perkembangan otak anak, serta merangsang perhatian anak terhadap
dunia luar.Oleh karena itu, kebutuhan asih ini meliputi :
Kasih sayang orangtua
Orangtua yang harmonis akan mendidik dan membimbing anak dengan penuh
kasih sayang. Kasih sayang tidak berarti memanjakan atau tidak pernah
memarahi, tetapi bagaimana menciptakan hubungan yang hangat dengan anak,
sehingga anak merasa aman dan senang.
Rasa aman
Adanya interaksi yang harmonis antara orangtua dan anak akan memberikan rasa
aman bagi anak untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
Harga Diri
Setiap anak ingin diakui keberadaan dan keinginannya. Apabila anak diacuhkan,
maka hal ini akan menyebabkan frustasi
Dukungan/dorongan
Dalam melakukan aktivitas, anak perlu memperoleh dukungan dari lingkungannya.
Apabila orangtua sering melarang aktivitas yang akan dilakukan, maka hal
tersebut dapat menyebabkan anak ragu-ragu dalam melakukan setiap
aktivitasnya. Selain itu, orangtua perlu memberikan dukungan agar anak dapat
mengatasi stressor atau masalah yang dihadapi.
Mandiri
26

Agar anak menjadi pribadi yang mandiri, maka sejak awal anak harus dilatih untuk
tidak selalu tergantung pada lingkungannya. Dalam melatih anak untuk mandiri
tentunya harus menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan.
Rasa memiliki
Anak perlu dilatih untuk mempunyai rasa memiliki terhadap barang-barang yang
dimilikinya, sehingga anak tersebut akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk
memelihara barangnya.
Kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan, dan pengalaman
Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan
kemampuan dan sifat-sifat bawaannya. Tidak pada tempatnya jika orangtua
memaksakan keinginannya untuk dilakukan oleh anak tanpa memperhatikan
kemauan anak.
Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ikatan kasih sayang :
Berikan rangsangan positif. Misalnya dengan belaian/ sentuhan / pijatan pijatan
lembut, ucapan-ucapan lembut, kecupan, dan suara-suara yang menenangkan.
Tanggap terhadap kebutuhan anak. Misalnya bila anak menangis, segera cari tahu
apa yang menyebabkannya untuk kemudian segera mengatasinya.
Ajak anak bermain yang dapat membuatnya gembira atau tertawa. Misalnya
dengan main ciluk ba, menggelitikinya sesekali, memainkan boneka dengan
suara-suara lucu atau menunjukkan wajah-wajah ganjil (memasang ekspresi lucu),
membadut (bicara dengan cara yang di lebih-lebihkan), kemudian tertawalah
bersama anak. Pada umumnya, kita akan merasa lebih dekat dengan seseorang
yang tertawa bersama kita, demikian pula halnya dengan anak.
Sengaja meluangkan waktu bersama anak untuk dapat memberikan kualitas
pengasuhan yang baik. Jangan menghadapi anak dengan terpaksa atau hanya
hadir secara fisik saja. Usahakan menghadapi anak dengan menghadirkan hati
juga.
Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas, sekalipun ia cacat atau tidak
sesuai dengan harapan kita. Sebab penolakan terhadap anak, menyebabkan
hubungan orangtua-anak menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk
memberikan kasih sayangnya.
Jangan bersikap kasar, kesal dan menunjukkan kemarahan terhadap anak karena
anak bisa merasakan ketidaknyamanan ini dan merekamnya dalam ingatannya
sehingga membuat orangtua menjadi jauh terhadap anak.
4.2.3 ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK PRASEKOLAH
Deteksi
Deteksi dini tumbuh kembang adalah langkah antisipasi yang dilakukan
untuk menemukan kasus penyimpangan tumbuh kembang sejak dini dan
mengetahui serta mengenali faktor risiko penyimpangan tersebut. Penyimpangan
tumbuh kembang dapat bersifat positif, misalnya anak mempunyai tingkat
kecerdasan di atas rata-rata, atau negatif, misalnya balita yang mengalami
keterlambatan perkembangan.
Intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang adalah upaya intervensi
segera yang diberikan sesuai dengan keadaan anak untuk membantu anak
mencapai kemampuan yang optimal. Contohnya, pemberian sirup Fe pada balita
dengan anemia, pemberian suplementasi makan rutin dan makan tambahan pada
balita dengan KEP, stimulasi perkembangan pada balita dengan keterlambatan
27

perkembangan atau melakukan perujukan ke fasilitas layanan kesehatan yang


lebih mampu.
Tujuan umum deteksi dini tumbuh kembang bayi atau balita adalah
tercapainya tumbuh kembang bailita dan anak prasekolah yang optimal dalam
rangka menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tujuan khususnya
adalah mengupayakan terselenggaranya kegiatan deteksi dan intervensi tumbuh
kembang balita dan anak prasekolah di tingkat pelayanan dasar dan rujukan,
serta terlaksananya pembinaan keluarga, kader dan masyarakat dalam kegiatan
stimulasi, pemantauan, dan perujukan kasus penyimpangan tumbuh kembang
pada balita dan anak prasekolah.
Kegiatan deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang yang mencakup
pemeriksaan kesehatan, pemantauan berat badan sekaligus deteksi dan
intervensi dini tumbuh kembang di tingkat pelayanan dasar akan memerlukan
waktu lebih lama dibandingkan pemeriksaan kesehatan dan pemantauan berat
badan biasa. Dengan demikian, untuk memberikan pelayanan KIA yang
berkualitas dan komprehensif serta mempertimbangkan kemudahan petugas
puskesmas dan kenyamanan ibu anak, kegiatan deteksi tumbuh kembang balita
dapat dilakukan saat anak bertemu dengan petugas kesehatan baik di
puskesmas, posyandu, polindes maupun fasilitas layanan swasta seperti bidan
praktik.
Deteksi dini pada anak dilanjutkan secara terus menerus dengan melakukan
pemeriksaan fisik seperti penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan. Pemeriksaan gigi dan mulut, dan sebagainya.
Apabila ditemukan suatu penyimpangan, bidan sebagai tenaga kesehatan
dapat mendeteksi dini dan melakukan rujukan ke spesialis anak guna
mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih optimal.
KEBUTUHAN

IMUNISASI

PADA

NEONATUS,

BAYI,

BALITA,

DAN

ANAK

PRASEKOLAH
Imunisasi berasal dari kata Imun, kebal atau resistan. Imunisasi berarti
pemberian kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Tujuan dari pemberian
imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu, bila terjadi
penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat
menimbulkan cacat dan kematian. Macam macam imunisasi adalah sebagai
berikut :
1. Imunisasi BCG (bacille celmette guerin)
Vaksin ini agar tubuh bayi kebal terhadap bakteri tuberkulosis (TBC). BCG
diberikan sekali sebelum anak berumur dua bulan. Imunisasi polio diberikan
empat kali pada bayi usia 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu.
Imunisasi Campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Imunisasi
hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval
minimal empat minggu. Imunisasi ini bersifat wajib dan disubsidi pemerintah.
2. Imunisasi DPT
28

Imunisasi DPT adalah vaksin 3 in 1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis


(batuk rejan) dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang
tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi fatal. DPT diberikan tiga kali
pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi ini
juga diwajibkan pemerintah.
3. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh
kuman penyebab difteri dan tetanus. Imunisasi diberikan bagi anak dengan
kebutuhan khusus, misalnya sudah mendapat suntikan DPT.
4. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk
pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis
imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan
kekebalan penuh.
5. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan
campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan
demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Gondongan
menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu
maupun kedua kelenjar liur utama, meningitis, pembengkakan buah zakar yang
berakibat kemandulan.
6. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b.
Organisme

ini

bisa

menyebabkan

meningitis,

pneumonia

dan

infeksi

tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini,
imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup
mahal. Dua jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
7. Imunisasi Meningitis
Imunisasi ini belum diwajibkan pemerintah karena biayanya masih cukup besar.
Imunisasi dilakukan bagi bayi di bawah usia satu tahun hingga balita. Imunisasi
ini mencegah terjadinya infeksi meningitis atau lapisan otak yang banyak
terjadi pada bayi dan balita.
8. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
9. ImunisasiHBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah
infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu
29

imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian


imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua.
Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya
diulang sesuai petunjuk dokter.
10.Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri
yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan
penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah)
11.Imunisasi Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid
(tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama tiga-lima
tahun dan harus diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis:
imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali.
Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul.
12.Imunisasi Hepatitis A
Penyakit

ini

sebenarnya

tidak

berbahaya

dan

dapat

sembuh

dengan

sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan


waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal pemberian yang
dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A
diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan.

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI

Umur pemberian imunisasi


Bulan

Vaksin
Lah
ir

23

45

Tahun
69

1
15
2

18

2 3

56

1
0

12

Program Pengembangan Imunisasi (PPI, diwajibkan)


BCG
Hepatiti
sB

Polio

3
1

5
30

DTP

Campak

6 dT
atau TT

5
2

Program Pengembangan Imunisasi Non PPI (non PPI, dianjurkan)


Hib
MMR

3
1

Tifoid

Ulangan, tiap 3 tahun

Hepatiti
sA

diberikan 2x, interval 612 bulan

31

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Menurut kamus kedokteran Dorland (2003), djelaskan bahwa

neonatal

adalah

jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu. Kebutuhan Fisik-Biologis
neonatal meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi, imunisasi,
kebersihan tubuh & lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan, olahraga, bermain dan beristirahat.Kebutuhan psikologi neonatal
meliputi kebutuhan asih (kebutuhan emosional), kebutuhan asah (kebutuhan
stimulasi). Asuhan kebidanan pada neonatus segera lakukan penilaian (selintas)
berikut :
Apakah bayi menangis kuat dan/ atau bernafas tanpa kesulitan?
Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?
Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap lakukan resusitasi.
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun

atau

lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H,
2006).Kebutuhan Fisik pada balita meliputi kebutuhan nutrisi, imunisasi, kebersihan,
bermain, aktivitas fisik, tidur. Kebutuhan psikologi pada balita dengan memberikan
rangsangan positif kepada balita, Ajak anak bermain yang dapat membuatnya
gembira atau tertawa,tanggap terhadap kebutuhan balita, dan lain- lain. Asuhan
kebidanan pada balita meliputi:
Melakukan pengkajian atau pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan anak
Penyuluhan kesehatan kepada keluarga :Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi

dan balita, imunisasi, pencegahan kecelakaan, kesehatan gigi, peningkatan


kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan pendidikan seksual dimulai sejak
balita (sejak anak mengenal identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan)
Menurut Joyce Engel (1999) Anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia
antara 3-6 tahun.Kebutuhan fisik-biologis pada anak pra sekolah meliputi nutrisi,
imunisasi, kebersihan, bermain, aktivitas fisik, tidur.Kebutuhan psikologis anak pra
sekolah meliputi Kasih sayang orangtua, rasa aman, harga diri, dukungan/dorongan,
mandiri, rasa memiliki, kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan, dan
pengalaman. Asuhan kebidanan pada anak pra sekolah yaitu dengan mendeteksi
tumbuh kembang pada anak.
5.2 SARAN
Dengan ini diharapkan ibu dapat mengetahui kebutuhan dasar pada neonatus,
balita dan anak pra sekolah untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan.
Bidan harus dapat memberikan asuhan yang sesuai pada masing-masing tahap
32

perkembangan meliputi asuhan terhadap kebutuhan dasar neonatus, balita dan anak
pra sekolah.

33

DAFTAR PUSTAKA
MNH, JNPK-KR dan DepKes. 2002. Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta : DepKes.RI
DepKes. 2005. Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta : DepKes.RI
Saifuddin, abdul Bari. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan
Neonatal . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jumiarni, dkk 1995. Asuhan Perawatan Perinatal. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC) ( Ibrahim, Kristiana. 1984. Perawatan Kebidanan jilid II. Bandung : Bhratara )
(Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak III oleh Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Unifersitas Indonesia tahun 1985)
Mirriamstoppard, complete baby and child care, 1995
Varney, H. 1997. Varneys Midwifery 3th edition. Jones and Bartlett. New York. Hal.
623-625
Linda V. Walsh. 2003. Midwifery Chapter 23. W. B. Saunders. San Fransisco California.
Hal. 330-335
Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. 2003. Buku IV Asuhan Kebidanan pada Ibu Post Partum.
Hal. 30-37
Hidayat, Azis Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan.
Jakarta : Salemba MedikaHasni. (2012). asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita
imunisasi
.<http://www.
asuhan-kebidanan-neonatus-bayi-dan.html> [
24
Septembar 2013]
Prawirohardjo, Sarwono, 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Purnamasari, Dewi, 2011. Panduan Pijat Praktis Balita Anda agar Cerdas dan Sehat.
Yogyakarta: Pustaka Salomon
Putri, Alissa, 2009. Pijat dan Senam Untuk Bayi dan Balita Panduan Praktis Memijat
Bayi dan Balita. Yogyakarta: Brilliant Offset
Muaris.H. (2006). Sarapan Sehat Untuk Anak Balita. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama
Anggraini dan Sutomo. 2010. Menu Sehat Alami untuk Batita dan Balita. Jakarta:
Demedia

34