Anda di halaman 1dari 3

Reverse Osmosis

Prinsip kerja proses ini merupakan kebalikan dari proses osmosis biasa. Pada proses osmosis
biasa terjadi perpindahan dengan sendirinya dari cairan yang murni atau cairan yang encer ke
cairan yang pekat melalui membran semi-permeable. Adanya perpindahan cairan murni atau
encer ke cairan yang pekat pada membran semi-permeable menandakan adanya perbedaan
tekanan yang disebut tekanan osmosis. Fenomena tersebut membuat para ahli berpipir
terbalik, bagaimana caranya agar dapat memisahkan cairan murni dari komponen lainnya
yang membuat cairan tersebut bersifat pekat. Dengan penambahan tekanan pada larutan yang
pekat, ternyata cairan murni dapat melalui membran semi-permeable yang nerupakan
kebalikan dari proses osmosis. Atas dasar tersebut teknologi ini disebut reverse osmosis
(osmosis terbalik).
Kriteria unjuk kerja membran bisa dilihat dari derajat impermeabilitas, yaitu seberapa baik
membran menolak aliran dari larutan pekat; dan dari derajat permeabilitasnya, yaitu berapa
mudahnya material murni melalui aliran menembus membran. Membran selulosa asetat
merupakan bahan membran yang baik dari segi impermeabilitas dan permeabilitasnya.
Bahan membrane lainnya yaitu etyl-cellulose, polyvinyl alcohol, methyl polymetharcylate
dan sebagainya.
Beberapa sistem reverse-osmosis yang sering dipergunakan, yaitu:
1. Tubular, dibuat dari keramik, karbon atau beberapa jenis plastik berpori. Bentuk
tubular ini mempunyai diameter bagian dalam (inside diameter) yang bervariasi
antara 1/8 (3,2mm) sampai dengan sekitar 1 (25,4mm).
2. Hollow fibre
3. Spiral wound
4. Plate and frame
Pada proses pemisahan menggunakan RO, membran akan mengalami perubahan karena
memampat dan menyumbat (fouling). Pemampatan atau fluks merosot itu serupa dengan
perayapan plastik/logam ketika terkena beban tegangan kompresi. Makin besar tekanan dan
suhu biasanya membran makin mampat dan menjadi tidak reversible. Normalnya membran
bekerja pada suhu 21-35 derajat Celcius. Fouling membran dapat diakibatkan oleh zat-zat
dalam air baku seperti kerak, pengendapan koloid, oksida logam, bahan organik dan silika.
Oleh sebab itu cairan yang masuk ke proses reverse-osmosis harus terbebas dari partikelpartikel besar agar tidak merusak membran. Pada prakteknya, cairan sebelum masuk ke
proses reverse-osmosis dilakukan serangkaian pengolahan terlebih dahulu, biasanya
dilakukan pretreatment dengan koagulasi dan flockulasi yang dilanjutkan dengan adsorbsi
karbon aktif dan mikrofiltrasi.
Pada suatu saat membran akan mengalami kotor, akibat dari adanya material-material yang
tidak bisa lewat. Hal ini yang menyebabkan tersumbatnya membran. Kotoran yang terbentuk
gumpalan kotoran, kerak atau hasil proses hidrolisa. Untuk mengembalikan kekondisi semula
dilakukan pembersihan dengan menggunakan larutan pembersih yang khusus. Bahan ini bisa
melarutkan kotoran tetapi tidak merusak membran yang biasanya terbuat dari enzim. Proses

pencucian dilakukan dengan meresirkulasi larutan pencuci ke membran selama kurang lebih
45 menit.
Keuntungan metode RO berdasarkan kajian ekonomi antara lain:

Untuk umpan dengan padatan terlarut total di bawah 400 ppm, RO merupakan
perlakuan yang murah.

Untuk umpan dengan padatan terlarut total di atas 400 ppm, dengan perlakuan awal
penurunan padatan terlarut total sebanyak 10% dari semula, RO lebih menguntungkan
dari proses deionisasi.

Untuk umpan dengan konsentrasi padatan terlarut total berapapun, disertai dengan
kandungan organik lebih dari 15 g/l, RO sangat baik untuk praperlakuan proses
deionisasi.

RO sedikit berhubungan dengan bahan kimia sehingga lebih praktis.

Nanofiltrasi
Proses nanofiltrasi merejeksi kesadahan, menghilangkan bakteri dan virus, menghilangkan
zat warna karena adanya bahan organik tanpa menghasilkan zat kimia berbahaya seperti
hidrokarbon terklorinasi. Nanofiltrasi cocok untuk pengiolahan air dengan padatan terlarut
total yang rendah, dimana bahan organiknya dilunakkan dan dihilangkan.
Sifat rejeksi nanofiltrasi khas terhadap tipe ion; ion dwivalen lebih cepat dihilangkan
daripada ion ekavalen, sesuai saat membran tersebut diproses, formulasi bak pembuat, suhu,
waktu annealing, dan lain-lain. Formulasi dasarnya mirip RO, namun mekanisme
operasionalnya mirip ultrafiltrasi. Jadi nanofiltrasi merupakan gabungan dari metode RO dan
ultrafiltrasi.
Ultrafiltrasi
Ultrafiltasi merupakan teknologi pemisahan menggunakan membran untuk memisahkan
berbagai zat terlarut dengan berat molekul tinggi, bermacam koloid, mikroba sampai padatan
tersuspensi dalam suatu larutan. Metode ini menggunakan membran semi permeable untuk
memisahkan makromolekul dari larutannya. Ukuran dan bentuk molekul merupakan faktor
penting dalam proses ultrafiltrasi.
Cara kerja proses ultrafiltrasi mirip dengan proses revesrse-osmosis, yaitu pemisahan partikel
berdasarkan ukurannya dengan menggunakan tekanan pada membran berpori. Ukuran pori
membran ultrafiltrasi lebih besar yaitu berdiameter sekitar 0.1 sampai 1 m. Yang
membedakan dengan reverse-osmosis adalah jenis membran dan lebih kecilnya tekanan yang
digunakan dalam pengoperasian. Membran ultrafiltrasi dibuat dengan mencetak polimer
selulosa asetat sebagai lembaran tipis. Fluks maksimum dapat dicapai bila membrannya
anisotropic, dimana terdapat kulit tipis rapat dan pengemban berpori. Membran selulossa
asetat mempunyai sifat pemisahan yang bagus, namun sayangnya dapat rusak oleh bakteri
dan zat kimia serta rentan terhadap pH. Selain selulosa asetat ada juga membran yang terbuat
dari polimer polisulfon, akrilik, polikarbonat, PVC, poliamidda, poliviniliden fluoride,

kopolimer AN-VC, poliasetal, poliakrilat, kompleks polielektrolit, PVA ikat silang, keramik,
aluminium oksida, zirkonium oksida, dan sebagainya. Kecepatan hasil permeate (permeation
flow) berkisar sekitar 1.0 sampai 10 m3/m2.jam.
Dalam teknologi pemurnian air, membran ultrafiltrasi dengan berat molekul membran
(MWC) 1.000 20.000lazim untuk penghilangan pirogen, sedangkan membran dengan
MWC 80.000 100.000 untuk penghilangan koloid. Tekanan dalam ultrafiltrasi biasanya
rendah, sekitar 10-100 psi (70-700 kPa), sehingga operasinya dapat menggunakan pompa
sentrifugal biasa.
Pada suatu saat proses ultrafiltrasipun akan menunjukan penurunan unjuk kerja. Hal ini
disebabkan adanya kotoran yang menyumbat pori-pori. Pembersihan membran dilakukan
dengan memasukan bahan pembersih yang terbuat dari larutan caustic soda, sodium
hypochlorite,asam belerang atau survace activator lainnya. Ciptakan aliran yang olakannya
kuat agar lebih memudahkan lepasnya kotoran yang menempel pada permukaan dan poripori. Atau bisa juga dengan dicelupkan kedalam larutan pembersih dan terakhir disemprot
dengan tekanan cukup tinggi untuk mengusir kotorannya.
Pada saat ini ultrafiltrasi lebih banyak dipakai di berbagai macam bidang karena mudah
digunakan sebagai mikrofiltrasi dan tidak sesensitif reverse-osmosis. Pemanfaataanya
mencakup pengolahan air limbah di industri pulp dan kertas, air limbah domestik, macammacam air limbah gedung-gedung, filtrasi MLSS di aeration tank proses biologi dan
diaplikasi lainnya.
Tabel 3. Perbandingan Kinerja Ultrafiltrasi dan Reverse-Osmosis
Uraian
Fraksi berat molekul
Tekanan osmosis
Tekanan operasi
Mekanisme fraksi
Material membrane

Ultrafiltrasi
1.000 min
Dapat diabaikan
1 sampai 7 kg/cm2
filtrasi
Tidak signifikan

Distribusi pori-pori halus


Permiation flow rate

signifikan
1.0 sampai 10 m3/m3.jam

Reverse-osmosis
500 max
Signinikan
20 sampai 140 kg/cm2
Diffusi
Mempengaruhi fraksi hasil
secara signifikan
Tidak nampak
0.1 sampai 1.0 m3/m2.jam