Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

LATAR BELAKANG
1.1. Pendahuluan
Pada awal tahun 2002, analis Pemasaran dan Penjualan yaitu Tom Baumann
berfikir perlu untuk mengusulkan penyewaan salah satu system canggih pabrik
otomatisasi perusahaannya untuk pelanggan utama, Avantjet Corporation,
perusahaan produsen pesawat jet. Dari sudut pandang lessor, hal ini untuk
merancang aliran anuitas yang menghasilkan nilai sekarang sama dengan atau
lebih besar dari nilai aset yang disewakan. Baumann dihadapkan dengan pilihan
yang berat diantara empat set alternatif untuk leasing. Pajak eksposur dan
peringkat utang dari pelanggan yang tidak pasti. Hal ini membuat dampak dari
masa sewa alternatif dibawah pajak dan suku bunga asumsi yang berbeda. CEO
Avantjet ini hanya memerintahkan sebuah moratorium pada setiap belanja modal
yang dapat mempengaruhi secara negatif laporan laba rugi dan neraca Avantjet.
Wall Street Journal telah mengkhususkan harga saham Avantjet yang menurun
dan memburuknya neraca sebagai contoh kondisi memburuk produsen 'selama
resesi ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi yang lambat, ditambah dengan meningkatnya
persaingan untuk pangsa pasar, telah diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, kebangkitan manufaktur AS baru-baru ini karena melemahnya nilai
Dolar, yang secara otomatis menaikkan ekspor AS dan membuat telah memacu
otomatisasi pabrik dengan tujuan meningkatkan persaingan industri.
Pelanggan

juga

mempertimbangkan

sewa

system

dari

persaingan

perusahaan di Jerman dan Jepang. Baumann dan Feldman telah memenangkan


kompetisi untuk Bisnis Avantjet atas pesaing terkemuka Primus, Faulhaber Gmbh
Jerman dan Honshu Industri berat Jepang. Baumann takut, Avantjet akan
memberikan kesempatan kepada pesaing untuk upaya dalam penjualannya.
Tujuan Otomasi Primus adalah untuk mempertahankan memimpin pasar,
meningkatkan penjualan sebesar 15 persen per tahun, dan mencapai target untuk

laba bersih dan perputaran modal kerja. Selain itu untuk memberikan layanan
kepada pelanggan yang responsif, mencapai posisi saham yang kuat di high
volume guna menumbuhkan segmen, dan menawarkan produk dengan teknologi
terkemuka berdasarkan standar industri.
Pendekatan aset-pembiayaan ini dibahas dengan eksekutif divisi Primus
dengan berbagai cara untuk kekuatan perusahaan dalam memperoleh penggunaan
Sistem Pabrik Primus yang Automated. Pelanggan bisa membeli dengan uang
tunai atau dengan dana pinjaman, baik tanpa jaminan atau dijamin dengan
peralatan. Serta, perusahaan bisa memperoleh peralatan melalui penjualan
bersyarat.
Dari pembahasan case ini dapat dipahami bahwa tujuan nya adalah untuk
merancang masa sewa dengan pajaknya dan suku bunga paparan lessee dalam
batasan yang ditetapkan oleh ketentuan yang kompetitif. Sehingga dapat
memberikan contoh yang komprehensif tentang pembiayaan sewa usaha. Karena
kasus ini juga menggambarkan sewa berlaku terhadap depresiasi pajak dari aset.
Sewa adalah alternatif untuk pembiayaan utang dan suku bunga yang berlaku.
Manfaat ekonomi dari leasing adalah substansi alhasil tawar menawar dan oleh
karena itu, sesuai pada strategi tawar menawar, taktik, dan positioning.
Pembiayaan

sewa

guna

usaha,

meliputi

peningkatan

volume

leasing,

pertimbangan akuntansi, dan perspektif umum dari titik lessor pandang.

1.2. RumusanMasalah
Berikut adalah rumusan masalah dari case ini:
1. Bagaimana kondisi internal Avantjet sebagai salah satu sasaran utama target
pelanggan Primus?
2. Bagaimana analisa opsi pembiayaan mesin automasi jika dihitung dengan
NPV dan internal rate of return (IRR) sebagai alternatif sewa dan meminjam
dan membeli?
3. Bagaimana perbandingan NPV dan IRR Primus dengan alternatif opsi
meminjam dan membeli serta dengan opsi dari Faulhaber dan Honshu Heavy
Industries?

4. Bagaimana rekomendsai terbaik untuk Baumann dalam penyusunan proposal


pengadaan sistem automasi?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

BAB III
PEMBAHASAN

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN