Anda di halaman 1dari 13

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM

PUASA RAMADHAN
A. Sebagai Latihan Dan Pembiasaan.
Yang belum atau tidak terbiasa, sungguh berat melaksanakan shaum ramadhan.
Karena itulah, kita diajarkan untuk berlatih puasa (sunnah) pada bulan-bulan jelang
ramadhan. Agar ketika baligh siap berpuasa penuh, anak-anak pun sebaiknya dilatih shaum
pada Bulan Suci.

Dampak Positif Latihan Puasa Pada Anak-anak.

1. Lebih mengenal kewajibannya, berlatih sabar, kejujuran, serta kecerdasan emosional.


2. Meningkatkan kecerdasan sosial (empati, merasakan penderitaan orang lain dan berbuat
untuk orang lain).
3. Meningkatkan kecerdasan spiritual, meningkatkan kesehatan fisik serta meningkatkan
kedisiplinan melalui bangun pagi.
4. Mematuhi aturan yang berlaku dalam beribadah puasa.
Kebanyakan anak harus lebih dulu dikondisikan dan didorong untuk mencintai
puasa. Kalau perlu ada reward and punishment. Ini wajar, mengingat mereka berada di usia
perkembangan. Tidak ada batasan usia yang jelas kapan anak mampu berpuasa. Terkadang
ada yang berusia 5 tahun sudah mampu berpuasa sehari penuh, tapi ada yang berusia lebih
besar belum kuat untuk berpuasa.

Tahap Persiapan.
Tanamkanlah kecintaan pada Ramadhan, dengan cara membacakan cerita-cerita
Ramadhan dari buku atau pengalaman orang tua di masa kecil. Buat suasana rumah lebih
semarak untuk menyambut Ramadhan, semisal dengan hiasan karya sekeluarga. Sekolah
islam atau TPA, biasanya juga menyelenggarakan pawai marhaban ramadhan untuk
menyemarakkan suasana.

Tahap Pelaksanaan.

1. Sahur Seru : Untuk lebih bersemangat bila misalnya kita undang sepupu atau teman dekatnya
untuk bermalam di rumah dan sahur bersama. Juga menyediakan makanan istimewa yang
disukai anak.
2. Puasa Gembira : Alihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus pada jam-jam kritis
dengan bermain ringan, tidur, atau bersilaturrahmi kepada teman dan kerabat yang juga
berpuasa. Disamping itu lama waktu anak berpuasa dapat dibuat bergradasi, misalnya
diawali dengan puasa beberapa jam dan semakin hari semakin meningkat sehingga dapat
digenapkan hingga adzan maghrib. Sebenarnya secara lahiriah anak sudah diberikan
kekuatan oleh Allah untuk menahan lapar, untuk itu ayah bunda perlu lebih sabar dalam
memotivasi dan tidak mudah menyerah mendengar rengekan ananda meskipun tidak boleh
juga terlalu memaksa.
3. Berbuka Sehat : Pilihlah makanan yang sehat sesuai dengan anjuran ahli gizi. Saat berbuka
pilihlah makanan yang istimewa meskipun tidak harus mahal dan jadikan saat berbuka
sesuatu yang istimewa, syahdu dan harmonis di tengah keluarga.

Tahapan Penguatan.
Berapapun jumlah harinya anak harus dapat berpuasa, apakah dapat dilakukannya
sehari penuh atau tidak anak tetap harus di hargai. Hadiah yang diberikan tidak perlu selalu
dalam bentuk materi namun memang sebaiknya yang bermakna dan diharapkan oleh anak.
Perlu pula diceritakan betapa ruginya orang yang tidak berpuasa dan betapa berharganya
hari kemenangan di idul fitri sebagai hari kemenangan bagi orang yang berpuasa. Ayah
bunda hanyalah manusia yang sedang berusaha menjalankan amanah Allah dalam bentuk
melatih anak hingga akhirnya menjadi manusia yang dapat menjalankan ibadah puasa
dengan baik. Dengan motif yang lurus dan usaha memperlancar proses perkembangan anak
anda dan dilengkapi dengan doa kepada sang pencipta dan penentu segala, maka atas izinNya proses yang alamiah ini dapat terlaksana dengan mulus.
B. Menumbuh Kembangkan Kepekaan Sosial.
Setiap manusia pada dasarnya diberikan kecintaan terhadap harta benda sebagai
bagian dari naluri mempertahankan diri ( gharizah baqa' ). Kecintaan ini memicu lahirnya
sikap bakhil ( pelit dan kikir ) serta individualis, mementingkan diri sendiri dan enggan
berbagi. Salah satu diantara sekian hikmah dan rahasia puasa ialah memupuk solidaritas,

persamaan derajat, kasih sayang, tepa selira, kepeduliaan sesama dan kesetia kawanan
sosial. Tidak hanya dalam bentuk teori dan kata-kata belaka namun aksi dan praktik
langsung. Denagan hikmah dan rahasia ini, manusia dilatih untuk dapat meminimalisasi
sikap bakhil dan individualis dalam dirinya sehingga dia mau berbagia dengan orang lain,
walau kesukaan terhadap harta benda hakikatnya adalah naluri.
Seperti kita ketahui, sebagian masyarakat terdiri dari golongan dhuafa an
mustahd'afin. Meraka apakah yang lemah karena faktor kultural atau struktural mengalami
kesusahan da penderitaan hidup. Setiap hari mereka menahan lapar dan dahaga, sementara
bekal makanan tidak ada sama sekali kalau tidak menipis. Puasa baginya dalah halal yang
wajar yang dialami mereka sehari-hari. Ditambah lagi ketika berpuasa ia tidak bisa turut
bersuka cita saat berbuka kecuali sekedar syukur ditengah sebagian masyarakat merayakan
buka puasa dengan pesta, mereka kaum dhuafa dan mustadh'afin sangat membutuhkan
kasih sayang dan kepedulian.
Denagan puasa orang-orang kaya akan merasa betapa sakit dan perihnya menahan
lapar, padahal itu hanya sementara waktu. Perasaan ini akan mengingatkan mereka kepada
sebagian saudaranya yang dhuafa dan mustadh'afin yang senantiasa merasakan lapar dan
dahaga sepanjang waktu.
Banyak orang yang menyerukan solidarita sosial, namun banyak pula yang hanya
sebatas retorika, teori, aksesoris dan kata-kata belum pada tahapan aksi dan praktik
langsun. Disinlah nilai kelebihan dari puasa sebagai mana dibuktikan oleh Nabiyullah Yusuf
a.s. Rasul Saw sendiri jika berpuasa ramadhan kedermawanan beliau bertambah luar biasa.
Apalagi usai berjumpa dengan malaikat jibril untuk menerima wahyu. Para sahabat
menggambarkan kemurahan tangan beliau melebihi cepat dan indahna tiupan angin.
Aksi dan praktik langsung solidaritas sosial pada waktu puasa diantaranya adalah
sebagai berikut:
Memberikan makanan berbuka ( ifthar )kepada orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah Saw bersabda:

)
[1](
Artinya: "Barang siapa memberikan makan berbuka kepada orang yang berpuasa maka baginya
pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Hanya saja pahala orang yang
berpuasa tidak terkurangi sedikit pun." ( H.R. Turmuzi).

Memberikan zakat fitrah. Zakat yang diberikan kepada fakir miskin ada kaitannya
khusus dengan puasa, yaitu sebagai penambal berbagai kesalahan (dosa-dosa kecil) selama
menjalani puasa, sebagai mana hadits nabi Saw:


[2]( )
Artinya: "Rasulullah Saw, menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang yang berpuasa dari
perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin." (H.R. Abu
Daud).

Memperbanyak sedakah, yaitu memberikan bantuan. Bedanya dengan zakat,


sedakah tidak terikan oleh aturan tertentu. Sebagai mana sabda Nabi Saw:
[3](

Artinya: "Sebaik-baik sadakah di bulan ramadhan." ( H.R. At-Turmuzi)


Menyegerakan zakat maal. Zakat maal umumnya diberikan jika panen (menuai
hasil) ibarat bidang pertanian, gaji dan honorarium atau telah cukup hitunga setahun (haul)
ibarat bidang perdagangan. Dalam rangka meraih kemuliaan bulan ramadhan, pengeluaran
zakat maal ini bisa disegerakan,. Rasulullah Saw bersabda:


[4]

( )

Artinya: "Pelihara hartamudengan zakat. Obati orang-orang sakitmu dengan sadakah dan hadapi
datangnya gelombang bencana dengan do'a dan tadharru' (rendah diri)." (H.R. Abu Daud).

Ditetapkannya membayar fidyah bagi orang-orang yang tidak menjalan puasa


karena tidak mampu atauberat oleh karena suatu sebab yang tidak dapat dihilangkan.
Mereka boleh tidak berpuasa dan tidak usah mengganti pada hari yang lain namun cukup
membeyar fidyah, yaitu memberikan makan saru mud (6ons) setiap hari kepada orang
miskin. Allah Swt berfirman:


( : ) ...
Artinya: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar
fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin(Al-Baqarah: 184)

Kaum dhuafa dan mustadh'afin (proletar) sebenarnya memiliki jasa materil maupun non
materil yang besar bagi tata kehidupan didunia ini, khususnya bagi orang-orang kaya. "Orang kaya
membutuhkan karyawan dan buruh untuk membantunya yang umumnya terdiri dari orang-orang
lemah dan miskin. Mereka bisa kaya dan mampu atas sokongan dan jerih payah orang-orang lemah
itu."[5] Kaum dhuafa dan mustadh'afin juga memberikan jasa non materil kepada orang-orang kaya
yang justru lebih berharga dibandingkan jasa meteri . Atas dasar ini semestinya keberadaan kaum
dhuafa dan mustadh'afin yang penting ini perlu diperhatikan dengan menumbuhkan sikap peduli,
belas kasih solidaritas, setia kawanan dan semacamnya untuk mengangkat dan mengentaskan mereka
yang menjadi sendi kemakmuran dan keadilan. Dengan kepeduliaan rasanya tidak terjadi kesenjangan
atau gap yang kian hari makin terbuka melebar atar kaum borjunis dan kaum proletar yang memicu
lahirnya krisis dan keterbelakangan.
Bila terjalin hubungan yang serasi antara kaum dhuafa dan mustadh'afin, Allah Swt dan
Rasul saw memberikan jaminan bahwa masyarakat dengan itu akan kemajuaan, keadilan dan
kemakmuran, tidak akan terjadi krisis, keterbelakangan dan kemerosotan, berkah doa-doa makhluk di
langit, bila dimasyarakat terjadi krisis, keterbelakangan dan kemerosotan berkepanjangan, agaknya
ada sendi keadilan dan kemakmuranyang terabaikan yaitu kepeduliaan sosial. Rasulullah saw
bersabda:

)
[6](
Artinya: Orang-orang yang belas kasih akan dikasihi oleh Allah zat yang pengasih. Berlaku belas kasih kepada
makhluk di langit akan berlaku belas kepadamu." (H.R.Bukhari)
Kepeduliaan merupakan ajaran universal artinya masyarakat mana pun terlepas
apa agamanya kalau melakukan kepeduliaan, niscaya adil dan makmur. Sebaliknya
masyarakat sekalipun muslim kalau kepedulian tidak ditegakkan akan terjauh dari cita adil
dan makmur.
C. Membentuk Pendidikan Akhlak.

Keluarga memiliki sejumlah fungsi, yakni fungsi biologis, religius, edukatif, sosial
dan ekonomi. Dengan demikian, tugas orang tua sangat berat berkaitan dengan pencapaian
fungsi-fungsi tersebut. Kesejahteraan di bidang ekonomi yang merupakan cermin fungsi

ekonomi, tidak akan cukup untuk menjadikan putra-putri kita tumbuh menjadi manusia
taqwa yang melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-larangan Allah.
Taqwa yang merupakan derajat tertinggi dari keislaman seseorang, harus selalu
kita upayakan tercapai dalam keluarga. Selain memenuhi kebutuhan fisik dasar putra-putri,
pasangan suami istri atau orang tua harus mampu menciptakan keluarga sakinah,
mawaddah warahmah lewat pembinaan ketaqwaan kepada semua anggota keluarga.
Anak sebagai salah satu dari berbagai amanah yang dibebankan Allah Swt kepada
orang tua, harus kita besarkan lewat pendidikan dan pengarahan dengan landasan ajaran
Islam. Sebagai orang tua, kita harus selalu ingat firman Allah Swt.

: ) ...

Artinya: "Wahai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (bahaya) api neraka"
(Q.S. Attahrim; 6).

Ayat ini merupakan landasan untuk mengajari dan mendidik anggota keluarga,
menyuruh mereka kepada ketaatan dan amar ma'ruf nahi mungkar. Kepala rumah tangga
mempunyai kewajiban untuk mendidik dan membimbing istri dan anak-anaknya untuk
menuju pemahaman islam yang benar. Kepala rumah tangga harus dapat mendorong
semangat keluarganya bila didapatinya mereka malas dalam melakukan ketaatan kepada
Allah Swt. Janganlah seorang kepala rumah tangga membiarkan dirinya lemah, tidak berani
menegur anak-isteri ketika jatuh kedalam Lumpur maksiat.
Dalam hal ini, menata waktu dalam membina keluarga sangatlah penting. Dalam
bulan ramadhan pendidikan bisa dilakukan setelah makan sahur, buka puasa atau waktuwaktu lain. Namun satu hal yang penting, ilmu-ilmu yang semestinya kita sampaikan adalah
suatu yang sangat bermanfaat, sebagai bekal kehidupan.


(
: )
Artinya: Dan "Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan akan
keturunan lemah yang merasa khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karenanya,
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang benar (Q.S. An- Nisa': 9).

Dalam mendidik anak ada tiga macam sasaran pokok. Pertama, memberikan dasar
pegangan hidup. Kedua, mengisi dengan ilmu pengetahuan. Ketiga atau terakhir, membina
atau membentuk akhlakul karimah. Bulan ramadhan merupakan bulan suci penuh berkah
dan pengampunan. Karena itu, bulan suci ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk
mengintensifkan pemberian pegangan hidup dan pendidikan akhlak yang baik terhadap
seluruh anggota keluarga, termasuk pendidikan bagi anak-anak.
Pendidikan pada bulan puasa seyogyanya lebih dititikberatkan dalam bentuk
pemberian contoh-contoh tindakan aktual disertai penjelasan terhadap tiap perilaku orang
tua, tanpa nuansa yang bersifat indoktrinatif atau perintah bagi semua ibadah yang kita
kerjakan. Dasar-dasar pegangan hidup bisa diterjemahkan antara lain dalam bentuk
kegiatan shalat maghrib, isya, dan tarawih berjamaah seluruh anggota keluarga, pasca
berbuka. Selanjutnya, perlu disediakan waktu khusus bersama anak-anak membaca ayat suci
Al-quran diikuti penjelasan makna dan pahala.
Mendengarkan dan membaca ayat-ayat suci akan menumbuhkan perasaan cinta
yang terpatri kepada Alquran. Contoh lain adalah pembayaran zakat fitrah, sedekah, infak,
dan zakat mal. Anak bisa diminta membantu menghitung nilai zakat-zakat yang harus
dikeluarkan oleh keluarga. Kemudian anak-anak diminta untuk memilih calon penerima dan
mengirimkannya.
Dalam situasi ini, orang tua menyisipkan perintah Allah Swt terhadap semua
tindakan atau kewajiban yang digariskan agama dan harus dipenuhi atau dilakukan suatu
keluarga. Dalam tindakan ini, secara tidak terlihat orang tua menanamkan arti penting
pelaksanaan perintah Allah Swt, serta kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan untuk berbagi
rezeki dengan orang lain.
Anak dapat diberitahu bahwa pelaksanaan perintah Allah Swt ini mengajari pula
kejujuran karena kalau orang tua tidak, tidak ada orang yang tahu dan tidak ada hukuman
atau teguran yang akan diterima di dunia ini. Pahala atau hukuman Allah Swt akan kita
peroleh di akhirat nanti. Ketaatan kepada perintah Allah Swt akan diikuti dengan ketaatan
lain yang diperlukan dalam hidup.
Di bidang akhlak karimah, puasa menjadi tempat yang sangat relevan untuk
pendidikan disiplin, kesetiakawanan sosial, kasih sayang terhadap orang lain, dan sifat
santun serta murah senyum. Disiplin dalam menahan rasa lapar hingga beduk berbuka dan

melaksanakan shalat tepat waktu, merupakan contoh yang baik untuk berdisiplin di bidang
waktu.
Bila kedisplinan yang dimulai dari perilaku saat puasa dilakukan dari tahun ke
tahun, dia akan menjadi bagian dari perilaku anak untuk berdisiplin di bidang lain, misalnya
ketaatan terhadap peraturan lalu lintas atau perundang-undangan, disiplin waktu dalam
memenuhi perjanjian, dan disiplin melaksanakan tanggung jawab atau pekerjaan yang
diembannya.
Orang tua yang menunjukkan sifat santun dan mampu mengendalikan kemarahan
dalam kehidupan sehari-hari pada saat puasa, menjadi contoh baik bagi anak-anak. Tidak
ada seorang anak yang tumbuh di dalam keluarga santun dan penuh kasih sayang, akan
menjadi manusia dewasa egois, kasar, dan mau menang sendiri.
Lapar dan haus sebagai akibat puasa dimaksudkan melatih seorang anak untuk
turut merasakan nasib orang yang keadaan ekonominya tidak semujur keluarga. Dari rasa
haus dan lapar itu, tumbuh rasa setia kawan, sayang, peka terhadap penderitaan orang lain,
dan belas kasih kepada mereka yang kurang beruntung. Pada situasi demikian ini, sangat
tepat dan relevan bila orang tua menekankan makna yang terkandung dalam Surat Al
Ma'uun: 1-3 yang berbunyi:


( : )
Artinya: "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah meraka yang menghardik anakanak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin". ( Q. S. AlMa'un: 1-3).

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat adalah unsur utama suatu negara.
Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tempat anak-anak bangsa belajar. Apabila
keluarga-keluarga tumbuh menjadi satu unit yang taqwa kepada Allah dalam kehidupan
santun, penuh kasih sayang, dan toleransi, akan muncul suatu negara yang insya Allah
diridai dan diberkahi-Nya. Saat bangsa kita dilanda kekerasan, keberingasan, egoisme
individu maupun kelompok, dan pelebaran jurang kaya-miskin, muncul pertanyaan,
"Apakah semua ini merupakan gambaran kegagalan sebagian besar kita atau orang tua
dalam membentuk pribadi dengan akhlak yang mulia atau baik?"

Tujuan menghalalkan segala cara, pendewaan terhadap materi, dan kenikmatan


(hedonisme), gila kekuasaan, ingin menang, dan selalu merasa benar, berkembang dengan
subur di negeri tercinta. Maka pada bulan suci yang penuh berkah dan pengampunan, kita
perlu melakukan introspeksi terhadap keluarga masing-masing, dengan pertanyaan apakah
kita sudah membina anak-anak kita dengan memakai Alquran sebagai pedoman utama.
Walaupun pendidikan anak di dalam keluarga berlangsung sepanjang waktu hingga anak
menjadi dewasa dan meninggalkan orang tua, bulan puasa adalah bulan paling tepat untuk
intensifikasi pendidikan anak berbasis agama lewat contoh-contoh yang konkret.
Intensifikasi pendidikan berbasis agama di bulan ramadan yang dilaksanakan dengan
sepenuh hati, seyogyanya berlanjut ke bulan-bulan lain. Apabila semua keluarga
melaksanakannya, insya Allah negara tercinta ini dapat bangun menjadi bangsa yang
sejahtera, bermartabat, santun, dan diridai Allah Swt.

D. Mewujudkan Pendidikan Kesatuan Ummat


Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana
beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita
rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain
entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan
memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami
penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara
kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang
terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan
sebagainya.
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan
berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi
setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu
tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang
mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan
harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman:


(
: )

Artinya; Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan serta
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui
(Q.s.Attaubah; 103).

zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan
kepada harta benda, zakat itu juga menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka
serta memperkembangkan harta benda mereka.
E. Melahirkan Kesehatan.
Pada puasa itu terkandung kesehatan yang besar dengan semua maknanya, baik
kesehatan badan, perasaan, maupun rohani. Dengan demikian, puasa dapat memperbaharui
kehidupan seseorang dengan diperbaharuinya sel-sel dan dibuangnya sel-sel yang sudah tua
dan mati serta diistirahatkannya perut serta organ pencernaan. Puasa juga dapat
memberikan perlindungan terhadap tubuh, membersihkan perut dari sisa-sisa makanan
yang tidak dapat dicerna juga dari kelembaban yang ditinggalkan oleh makan dan minuman.
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan
memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan
oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan
dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa
pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses
makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam,
isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk
air dan sepertiga untuk udara.
Banyak para dokter menyebutkan berbagai manfaat puasa, diantaranya adalah
bahwa puasa dapat mempartahankan kelembaban insidentil sekaligus membersihkan
pencernaan dari racun yang ditimbulkan oleh makanan yang tidak sehat, serta mengurangi
lemak diperut yang sangat berbahaya bagi jantung, yang ia sama seperti pengasingan kuda
yang akan dapat menambah kekuatannya untuk bergerak dan Sedangkan kesehatan rohani
yang ditimbulkan oleh puasa adalah berupa bimbingan yang diberikan kepada orang-orang
yang berpuasa karena Allah, mengetahui tujuan dari penciptaan manusia, mempersiapkan
manusia untuk mengambil semua sarana taqwa yang akan melindunginya dari kehinaan,

kerendahan, kerugian dunia dan akhirat. Yang pada akhirnya hati mereka terhindar dari
penyakit shubhat dan sahwat yang menimpa banyak orang [7].
Manfaat puasa lainnya adalah membuat seorang hamba dapat memahami dirinya
sendiri dan juga kebutuhanya, kelemahan dan kebutuhan dirinya terhadap Rabb-nya. Juga
mengingatkan diri akan keagungan nikmat yang telah diberikan Allah, serta mengingat juga
akan kebutuhan saudara-saudaranya yang hidup miskin, sehingga mengharuskan dirinya
untuk bersyukur kepada Allah sekaligus memohon pertolongan agar dilimpahkan berbagai
nikmat untuk selalu mantaatinya serta mengasihi saudara-saudaranya yang hidup miskin
sekaligus dapat berbuat baik kepada mereka.
F. Puasa Sebagai Pendidikan Perubahan.
Puasa ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan
dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya
membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari
hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang
telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat
menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang mengatakan: "saya
lebih baik tidak makan daripada tidak merokok", padahal makan itu pokok dan merokok itu
tidak perlu.
Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah
dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, kehidupan ini akan
berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil,
bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak.
Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya
meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya
kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan
binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal, Allah berfirman:



(
: )

Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang
lalai. (Q. S. Al-A'raf: 179).

Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan
dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliyah
Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana
menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan
tahun yang akan datang
Diantara manfaat puasa adalah sebagai sarana menyiapkan seorang muslim
dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk melakukan perubahan pada dirinya
sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan
diri dari setiap yang dia sukai dan cintai. Dan dia akan katakan kepada penguasa nafsu dan
syahwat untuk tidak akan pernah mengikutinya. Sungguh jawaban yang hebat ini jika berada
dalam keridhaan Allah, berarti ia telah berhasil mewujudkan kehormatan dan kedudukan
yang tinggi atas syahwat serta ketamakannnya.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana pengemblengan kekuatan fisik
yang mengharuskan pelakunya harus menempuh satu manhaj (metode) tersendiri dalam
kehidupannya, dimana tiang penyangganya berupa ketegaran, larangan dan bersabar atas
pahit getirnya rasa lapar dan panasnya rasa kehausan, kelelahan fisik dalam mengendalikan
diri serta menahan hawa nafsu dan mengekang keinginannya, seakanakan seorang muslim
yang berpuasa itu seorang tentara yang siap mendengar dan mentaati serta menjalankan
perintah Rabb-nya tanpa penolakan dan pembangkangan.
Puasa

dapat

memperkuat

keinginan,

mendorong

kemauan,

mengajarkan

kesabaran, membantu menjernihkan pikiran, menghidupkan pemikiran, mengilhami


pendapat yang cerdas, jika seorang yang berpuasa akan dapat melangkah ke fase relaks,
serta melupakan berbagai rintangan yang muncul akibat waktu luang dan terkadang

keterputus asasaan. Sehingga dengan demikian itu dia telah menjadi seorang anggota
masyarakat yang dinamis, melakukan perbaikan dan tidak melakukan penghancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar, maka dia tidak akan
memperkenankan aggressor atau penjajah untuk menginjakkan kaki ketanahnya atau ikut
campur dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan kekuatan tersebut ia juga akan
mampu meraih kemenangan dimedan pertempuran melawan kebodohan, keterbelakangan,
melawan nafsu syahwat, serta sanggup menembus segala rintangan pembangunan dan
kemajuaan.
Syaikh Ad-Dausari ra mengatakan," membangun keinginan yang kuat di dalam diri
bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai kalangan, baik perkumpulan (organisasi) maupun
kalangan militer telah berusaha membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa
kini. Padahal, agama islam telah mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang
lalu.Cukup besar kebutuhan orang muslim, khususnya untuk memiliki keinginan kuat dan
kemauan yang keras. Oleh karena itu Allah Swt memerintahkan untuk berjuang melawan
sakit akibat rasa lapar dan haus dalam menjalankan puasa. [8]
Oleh kerana itu sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tidak
melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah berbuka, atau mengucilkan serta
menghinakannya sehingga pada malam harinya ia akan merusak kuatnya keinginan yang
telah ia bangun pada siang harinya.