Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL KEGIATAN PENYULUHAN

SEHAT JIWA DENGAN MANAJEMEN STRESS


PADA POSYANDU DESA BANTUR KEC. BANTU
KABUPATEN MALANG

Oleh:
Dwi Astika S
105070201111021

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
SEHAT JIWA DENGAN MANAJEMEN STRESS
PADA POSYANDU DESA BANTUR, KEC. BANTUR,
KABUPATEN MALANG
Disusun untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Jiwa
di Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang

Oleh :
Dwi Astika S
105070201111021

Telah diperiksa kelengkapannya pada :


Hari

Tanggal :
Dan dinyatakan memenuhi kompetensi

Perseptor Akademik

(Ns. Retno Lestari S.Kep, MN)


NIP. 198009142005022001

Perseptor Klinik

(Ns. Soebagijono, S.Kep, M.MKes)


NIP. 1968109 1999003 1003

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan

: Sehat Jiwa dengan Manajemen Stress

Sasaran

: Peserta Posyandu Desa Bantur

Tempat

: Posyandu Desa Bantur

Hari/Tanggal

: Senin/ 25 Mei 2015

Waktu

: 1 x 30 menit

Penyuluh

: Dwi Astika S

A. Latar Belakang
Penduduk lansia (lanjut usia) adalah kelompok yang berusia lebih dari 60 tahun.
Jumlah penduduk lansia senantiasa mengalami peningkatan seiring dengan makin
meningkatnya usia harapan hidup. Data terakhir pada tahun 2009 menunjukkan penduduk
lansia di Indonesia berjumlah 20.547.541 jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia di
Indonesia pada tahun 2020 akan mencapai 30,1 juta jiwa yang merupakan urutan ke-4 di
dunia sesudah Cina, India dan Amerika serikat. Menjelang tahun 2050jumlahnya
diperkirakan menjadi lebih dari 50 juta jiwa.
Mereka termasuk bagian dari masyarakat yang rentan masalah kesehatan
sehingga perlu senantiasa mendapat perhatian. Badan kesehatan sedunia /World Health
Organization (WHO) dan World Federatipn of mental Health (WFMH) menetapkan tema hari
kesehatan jiwa sedunia (HKJS) tahun 2013 sebagai Mental Health and older adults.
Menunjukkan besarnya perhatian akan masalah kesehatan jiwa pada penduduk lanjut usia.
Penurunan biopsikososial pada lanisa tersebut seringkali diikuti munculnya
berbagai konflik yang dialami pleh lansia. Neugarten (2007) menguraikan bahwa konflik
utama lansia adalah post power syndrome dimana lansia mengalami perubahan kedudukan,
pekerjaan atau pension dan penghargaan yang akan berdampak pada menurunya kondisi
fisik dan mental lansia.
Pada lansia seringkali mengalami gangguan mental yang berkaitan dengan
perasaa (mood) atau emosional yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang
berkelanjutan. Perubahan fisik pada lansia , penurunan kognitif, merasa terasing dan
berbeda, penurunan motivasi kurangnya self esteem dan rendahnya perasaan atau emosi
menjadi sumber-sumber stressor internal yang tidak di menajemen dengan baik akan
membuat lansia menjadi mudah depresi. Oleh karena itu dengan memanajemen stress
dengan cara yang tepat akan membuat lansia tetap sehat baik fisik maupun mental.

B. Tujuan Instruksional
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit diharapkan sasaran mampu
mengetahui tentang cara memanajemen stress dan menjadi sehat jiwa di usia senja
2. Tujuan khusus
Setelah mendapat penyuluhan tentang sehat jiwa di usia senja dengan manajemen
stress, diharapkan peserta mampu:
1. Mengetahui pengertian stress
2. Mengetahui macam-macam stress
3. Mengetahui sumber stress
4. Mengetahui tahap-tahap stress
5. Mengetahui tanda dan gejala stress
6. Mengetahui dampak akibat stress
7. Mengetahui pengertian manajemen stress
8. Mengetahui tips menjga kesehatan jiwa di usia lansia
9. Mampu melakukan praktik teknik manajemen stress
C. Materi Penyuluhan
1. Pengertian stress
2. Macam-macam stress
3. Sumber stress
4. Tahap-tahap stress
5. Tanda dan gejala stress
6. Dampak akibat stress
7. Pengertian manajemen stress
8. Tips menjaga kesehatan jiwa di usia senja
9. Praktik teknik manajmen stress
D. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah lansia Posyandu lansia Desa Bantur Kecamatan Bantur
E. Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah dan Tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan adalah leaflet
G. Pengorganisasian
Moderator
:
Penyuluh
:
Fasilitator
:
Operator
:
H. KegiatanPenyuluhan
Tahap

Waktu

Pembukaan 5
menit

Kegiatan Penyuluhan
- Membuka
dengan
salam

kegiatan
mengucapkan

Kegiatan Peserta

Metode

media

Menjawab

Ceramah

salam
Mendengarkan

Tanya

jawab

- Memperkenalkan diri
- Menjelaskan maksud dan

Memperhatikan
Menjawab

tujuan dari penyuluhan


- Kontrakwaktu
- Menggali
pengetahuan

pertanyaan pre

peserta
Penyajian

sebelum

diberi

kegiatan penyuluhan
Menjelaskan tentang:

15
menit

menit

pengetahuan

peserta setelah dilakukan


penyuluhan
- Meyimpulkan hasil kegiatan
penyuluhan
- Menutup dengan salam

I.

Ceramah,

Leaflet

Pengertian stress
Tanya
dan
Macam-macam stress
jawab
memperhatikan
Sumber stress

Memberikan
Tahap-tahap stress
Tanda dan gejala stress
tanggapan dan
Dampak akibat stress
pertanyaan
Pengertian manajemen
mengenai
hal
stress
8. Tips menjaga kesehatan
yang
kurang

stress
- Menggali

10

Mendengarkan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

jiwa di usia senja


9. Praktik teknik manajmen
Penutup

test

dimengerti

- Menjawab

Ceramah,

pertanyaan
- Memberikan

Tanya

Leaflet

jawab

tanggapan
balik

Kriteria Evaluasi
1. Struktur
a. Melakukan perizinan kepada kader desa dan bidan desa mengenai kegiatan
penyuluhan satu minggu sebelum acara
b. Persiapan penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum kegiatan penyuluhan
c. Persiapan materi penyuluhan dan pemateri oleh Dwi Astika S
d. Pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan yang dirumuskan di SAP
2. Proses :
a. Jumlah peserta penyuluhan minimal 5 peserta
b. Media yang digunakan adalah leaflet
c. Waktu penyuluhan adalah30 menit
d. Tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan penyuluhan saat kegiatan
penyuluhan berlangsung
e. Peserta aktif dan antusias dalam megikuti kegiatan penyuluhan
3. Hasil
a. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan peserta diharapkan mengerti dan
memahami tentang cara dan tips untuk melakukan manajemen stress
b. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan ada perubahan perilaku
kesehatan untuk melakukan manajemen stress

J. Materi Penyuluhan (lampiran 1)


K. Daftar pustaka (lampiran 2)
L. Pretest dan Post-test penyuluhan (lampiran 3)

Lampiran 1
MATERI PENYULUHAN
MANAJEMEN STRES
I.

Pengertian stress
Stres merupakan gangguan atau kekacauan mental dan emosional, stress juga

dapar diartikan tekanan. Secara teknis psikologik, stress didefinisikan sebagai suatu
respons penyesuaian seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau
mengancam kesejahteraan orang bersangkutan. Jadi stress merupakan suatu respon
fisiologik ataupun perilaku terhadap stressor hal yang dipandang sebagai menyebabkan
cekaman, gangguan keseimbangan (homeostasis), baik internal maupun eksternal Dalam
pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat subjektif sesuai perspsi orang yang
memandangnya. Dengan perkataan lain apa yang mencekam bagi seseorang belum tentu
dipersepsi mencekam bagi orang lain.
II.

Macam-Macam Stres
Apabila ditinjau dari penyebab stres, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), dapat
digolongkan sebagai berikut :
a. Stres fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau rendah,
suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
b. Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan pada kondisi kesehatan, atau
sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal .
c. Stres psikis/ emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal,
sosial, budaya, atau keagamaan.
Adapun menurut Grant Brecht (2000), stres ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu :
a. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti
kematian, perceraian, pensiun, luka batin, dan kebangkrutan.

b. Penyebab

mikro,

yaitu

menyangkut

peristiwa

kecil

sehari-hari,

seperti

pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan,
dan antri.
III.

Sumber Stres
Ada 3 sumber utama bagi stress, yaitu :
1. Lingkungan
Lingkungan kehidupan memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri, diantaranya:
a. Cuaca, kebisingan, kepadatan,
b. Tekanan waktu, standard prestasi, berbagai ancaman terhadap rasa
aman dan harga diri
c. Tuntutan hubungan antar pribadi, penyesuaian diri dengan teman,
pasangan, dan perubahan keluarga.
2. Fisiologik ~ dari tubuh kita seperti antara lain :
a. Perubahan kondisi tubuh: masa remaja, haid, hamil, meno/andropause,
proses menua, kecelakaan, kurang gizi, kurang tidur >tekanan terhadap
tubuh.
b. Reaksi tubuh : reaksi terhadap ancaman dan perubahan lingkungan
mengakibatkan perubahan pada tubuh kita, menimbulkan stress.
3. Pikiran kita ~ pemaknaan diri dan lingkungan.
Pikiran menginterpretasi dan menerjemahkan pengalaman perubahan dan
menentukan kapan menekan tombol panik. Bagaimana kita memberi makna atau
label pada pengalaman dan antisipasi ke depan, bisa membuat kita relax atau
stress.
Ada tujuh sumber stres dalam pekerjaan (Schermerhorn, 1996, 411-412), yaitu:
1) Pekerjaan - terlalu banyak atau terlalu sedikit.
2) Ambiguitas peran tidak tahu apa yang diharapkan dalam pekerjaan atau
tidak pernah tahu hasil evaluasinya.
3) Konflik Peran tidak mampu menjalankan tugas ganda yang diberikan
atasan.
4) Dilema etika diminta untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan
dengan etika.
5) Problem interpersonal kerjasama yang tidak cocok.
6) Perkembangan karir tidak lancar.
7) Setting fiisik bising, kurang privasi, polusi, atau kondisi lain yang tidak layak.

IV.

Tahapan Stress

Dr. Robert J. Van amberg (1979) dalam penelitiannya membagi tahapan-tahapan stres
sebagaimana berikut :
Stres Tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres paling ringan, dan biasanya disertai dengan
perasaan-perasaan sebagai berikut :
1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; Namun tanpa
disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang
berlebihan pula.
4) Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat,
Namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.
Stres Tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan sebagaimana
diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang
disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak
cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat antara lain dengan tidur yang cukup
bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami
deficit. Analogi dengan hal ini adalah misalnya handphone (HP) yang sudah lemah
harus kembali diisi ulang (di-charge) agar dapat digunakan lagi dengan baik.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres
tahap II adalah sebagai berikut :
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar.
2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang.
3) Lekas merasa capai menjelang sore hari.
4) Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort).
5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar).
6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.
7) Tidak bisa santai.
Stres tahap III
Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan
keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap II tersebut di atas, maka
yang bersangkutan akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan
mengganggu, yaitu :
1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan maag
(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare).
2) Ketegangan otot semakin terasa.

3) Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat.


4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk Mulai masuk tidur
(early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur
(middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/ dini hari dan tidak dapat kembali
tidur (late insomnia).
5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan).
Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk
memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh
memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang
mengalami defisit.
Stres Tahap IV
Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri ke dokter sehubungan
dengan keluhan-keluhan stres tahap III di atas, oleh dokter dinyatakan tidak sakit
karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Bila hal ini
terjadi dan yang bersangkutan terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal
istirahat, maka gejala stres tahap IV akan muncul :
1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit.
2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan
menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk
merespon secara memadai (adequate).
4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari.
5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan.
6) Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan
kegairahan.
7) Daya konsentrasi dan daya ingat menurun.
8) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa
penyebabnya.
StresTahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V yang
ditandai dengan hal-hal berikut :
1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and
psychological exhaustion).
2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan
dan sederhana.
3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder).

4) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah


bingung dan panik
Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik
(panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres
tahap VI ini berulang-kali dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ke ICCU, meskipun
pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh.
Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut :
1)

Debaran jantung teramat keras

2)

Susah bernafas (sesak dan mengap-mengap)

3)

Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran

4)

Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan

5)

Pingsan atau kolaps (collapse).

Reaksi Psikologis terhadap stress :


a. Kecemasan
Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan
suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan Adalah emosi yang tidak
menyenangkan istilah kuatir, tegang, prihatin, takutfisik jantung berdebar,
keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur
b. Kemarahan dan agresi Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap
kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain terhadap
situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan
yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang
tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha
membunuh orang
c. Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang
disertai rasa sedih
Indikasi/gejala stress
a. Gejala fisiologik
antara lain : denyut jantung bertambah cepat , banyak berkeringat (terutama keringat
dingin), pernafasan terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit
tidur, gangguan lambung, dst
b. Gejala psikologik
antara lain :resah, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil
keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted) dsb

c. Tingkah laku
antara lain : berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki,
ticks, gemetaran, berubah nafsu makan ( bertambah atau berkurang).

Dampak akibat stress


a. Dampak Fisiologik :
(a) Gangguan pada organ tubuh >>> hiperaktif dalam salah satu sistem ttt.

muscle myopathy >>> otot tertentu mengencang/melemah

tekanan darah naik >>> kerusakan jantung dan arteri

sistem pencernaan >>> mag, diarhea

(b) Gangguan pada sistem reproduksi

amenorhea >> tertahannya menstruasi

kegagalan ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang produksi


semen pada pria

kehilangan gairah sex

(c ) Gangguan pada sistem pernafasan

asthma, bronchitis

(d) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot, rasa bosan, dst
b. Dampak Psikologik:

Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini merupakan tanda pertama dan


punya peran sentral bagi terjadinya burn out

Terjadi depersonalisasi ; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring


dengan kewalahan /keletihan emosi, kita dapat melihat ada kecenderungan
yang bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai sesuatu ketimbang
sesorang

Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat pula


menurunnya rasa kompeten & rasa sukses

c. Dampak Perilaku

Manakala stress menjadi distress, prestasi belajar menurun dan sering terjadi
tingkah laku yang tidak berterima oleh masyarakat

Level stress yang cukup tinggi berdampak negative pada kemampuan


mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat.

Mahasiswa yang over-stressed ~ stress berat seringkali banyak membolos


atau tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.

V.

Pengertian Manajemen Stres


Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia)
secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang
muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah
untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik. Manajemen stres
adalah kecakapan menghadapi tantangan dengan cara mengendalikan tanggapan
secara proporsional.

Stres adalah reaksi dari tubuh (respon) terhadap lingkungan

yang dapat

memproteksi diri kita dan bagian dari sistem pertahahan yang membuat kita tetap
hidup.

Stres sudah ada sejak kita dalam kandungan dan tak pernah lepas dari kehidupan
kita

VI.

Tips Jaga Kesehatan jiwa pada lansia


Menjaga kesehatan jiwa pada lansia perlu dilakukan. Perubahan fisik, mental
dan sosial yang mempengaruhi kemampuan fungsional memang terjadi mengikuti
proses menua. Perlu dilakukan langkah - langkah untuk menjaga kondisi kesehatan
secara menyeluruh. Antara lain :
1. Tetap aktif secara fisik / olah raga Olah raga dapat menjaga kepadatan
tulang, keseimbangan tubuh dan mengurangi risiko terkena penyakit jantung,
stroke dan kanker. Dalam hal ini berolah raga bukan sebagai atlet mau mencari
prestasi/juara. Perlu konsultasi dengan dokter keluarga sebelum memulai dan
memilih jenis olah raganya.
2. Menjaga tekanan darah tidak tinggi. Apabila menderita tekanan darah
tinggi/hipertensi, harus terus dijaga supaya tekanan darah tetap dalam batas
normal. Hipertensi (tekanan darah 140/90 atau diatasnya) banyak dijumpai pada
lansia. Dua pertiga lansia di atas 65 tahun menderita hipertensi. Hipertensi
adalah faktor risiko kuat timbulnya penyakit jantung koroner dan stroke.
3. Menjaga kadar kolesterol/lemak darah tidak tinggi. Kolesterol tinggi dapat
merusak dinding pembuluh darah yang menjadi faktor risiko kuat terjadinya
penyakit jantung koroner dan stroke.
4. Makan banyak sayuran dan buah sebagai sumber vitamin, serat dan anti
oksidan. Karena lansia sering menderita berbagai penyakit bersamaan, perlu
diperhatikan obat Tetap Sehat di Usia Lanjut yang dikonsumsi. Kombinasi obat
yang diminum juga bisa menjadi penyebab timbulnya gangguan jiwa.
5. Batasi minuman keras dan berhenti merokok

6.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut, berdampak pada pencernaan makanan.

Infeksi gigi dan jaringan penunjangnya bisa menimbulkan komplikasi.


7. Menjaga kebugaran mental : Otak adalah pusat susunan syaraf yang berkaitan
dengan fungsi mental, pengaturan pikiran dan emosi. Otak harus terus dipacu
dengan berbagai aktivitas, umpama belajar sesuatu yang baru (musik,
computer), membaca buku, mengisi teka teki silang, mengikuti seminar/
ceramah, menulis cerita. Maka harus dijaga jangan sampai kepala/jaringan otak
terkena cedera.
8. Kurangi stress Stres tidak saja mempengaruhi fisik (umpama menaikkan
tekanan darah, asam lambung), juga mempengaruhi cara berpikir, respon
emosi, daya ingat. Kalau stress berlarut larut dapat menimbulkan gangguan
cemas, depresi mental.
9. Tetap melakukan interaksi social Dukungan sosial dari keluarga, family, teman
dapat menjaga kesehatan jiwa.
10. Aktivitas spiritual juga akan sangat bermanfaat. Memahami kesehatan jiwa
pada masa lansia tentunya akan mendorong kita semua melangkah maju
memasuki fase hidup manusia yang terakhir dengan tetap bergairah, menjadi
pribadi yang sehat, bermartabat dan berguna
VII.

Teknik manajemen stress

1. Nafas Dalam
Teknik relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang
dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam,
napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas
secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas.
Pernapasan dalam mempunyai peran yang sangat penting bagi tubuh kita,
diantaranya adalah:

Memperlambat denyut jantung

Mengatur tekanan darah,

Menghilangkan ketegangan otot dan

Mengembalikan keseimbangan mental dan emosional batin.

Tahap Persiapan :
1. Kaji dan berikan informasi terkait dengan pelaksanaan tindakan
2. Sediakan waktu selama 5-10 menit
3. Atur posisi duduk/berbaring yang nyaman
Tahap Pelaksanaan :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Putar music dengan suara pelan dan rileks


Redupkan cahaya
Tutup mata, letakkan satu tangan pada perut kanan atas
Tarik nafas dalam secara perlahan lewat hidung,rasakan gerakan pelan perut Anda
Hembuskan secara perlahan ,lewat mulut Anda
Fokuskan pada pernafasan Anda,dan rasakan pergerakan keluar masuknya udara

pada tubuh Anda


7. Ulangi tahap 4-5 beberapa kali sampai Anda merasakan rileks
8. Buka mata pelan-pelan
Tahap Terminasi :
1. Evaluasi perasaan klien setelah prosedur dilakukan
2. Evaluasi manfaat yang dirasakan
2.RELAKSASI OTOT PROGRESIF
Relaksasi otot progresif adalah teknik menegangkan dan merilekskan otototot.Peregangan dilakukan selama 5-7 detik , kemudian rileks selama 20-30 detik.Saat
inspirasi otot ditegangkan,lalu ekspirasi secara perlahan ketika relaksasi otot.Dengan
berkurangnya ketegangan otot dan emosi,merangsang pelepasan endorphin sehingga
menimbulkan relaksasi.

Indikasi :
a.Nyeri
b.Kecemasan
c.Insomnia

Tujuan yang diharapkan :


a.Berkurangnya kecemasan klien
b.Berkurangnya rasa nyeri
c.Berkurangnya mual
d.Berkurangnya insomnia
e.Meningkatnya control diri

Tahap Persiapan :
1.
2.
3.
4.

Lakukan pengkajian dan berikan informasi berkaitan dengan tindakan


Musik
Cuci tangan
Atur posisi klien pada tempat duduk atau di tempat tidur yang nyaman.Gunakan

bantal untuk menopang lengan , buat klien dalam kondisi nyaman.


5. Jaga pelaksanaan prosedur untuk tidak terputus selama 15-30 menit
Tahap Pelaksanaan:
1. Kurangi cahaya lampu dan putar music pelan-pelan
2. Instruksikan klien tutup mata pelan-pelan,anjurkan tarik nafas dalam dan hembuskan
secara perlahan (3-6 kali) dan rileks (saat menginstruksikan pertahankan suara
lemah lembut)

3. Mulai proses penegangan dan relaksasi diiringi tarik nafas dan hembuskan secara
perlahan
Wajah,rahang,mulut (kedipkan mata dan kerutkan wajah lalu rileks)
Leher (tarik dagu ke leher lalu rileks)
Tangan kanan (genggam lalu rileks)
Lengan kanan (tegangkan siku lalu rileks)
Tangan kiri (genggam lalu rileks)
Lengan kiri (tegangkan siku lalu rileks)
Punggung,bahu,dada (angkat bahu,lalu rileks)
Abdomen (angkat abdomen lalu rileks)
Tungkai atas kanan (tekan ke bawah dengan kuat lalu rileks)
Tungkai bawah kanan (cengkramkan jari-jari lalu rileks)
Tungkai atas kiri (tekan ke bawah dengan kuat lalu rileks)
Tungkai bawah kiri (cengkramkan jari-jari lalu rileks)
4. Tambah 3-6 kali nafas secara rileks lalu gerakkan kaki , tangan, lengan,tungkai,buka
mata kembali (orientasi diri)
Tahap Terminasi :
Evaluasi perasaan/ketegangan klien (untuk mengetahui efektivitas tindakan

DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, Harold I & Benjamin J. Sadock. 1994. Buku Saku Psikiatri Klinik. Jakarta: Binapura
Aksara.
Kusumawati, Farida & Yudi Hartono. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.

Damaiyanti, Mukhripah & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatn Jiwa. Bandung: Refika
Aditama.
Maramis, W.F. 1994. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Maryam, R. Siti. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.Jakarta: Salemba Medika.
Purwaningsih, Wahyu & Ina Karlina. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakartaa : Nuha
Medika
Priharjo, R. (2003). Perawatan Nyeri. Jakarta :EGC