Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Syok Anafilaktik
Syok anafilaktik terbagi atas 2 kata yaitu syok dan anafilaktik. Syok
adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yng
menyebabkan ketidak cukupan perfusi jaringan dan oksigenasi. Berdasarkan
penelitian Moyer dan Mc cellend tentang fisiologi keadaan syok dan homeostasis,
syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Syok
merupakan respon tubuh terhadap gangguan pada sistem peredara darah yang
menghambat darah mengalir dalam jumlah cukup keseluruhan bagian tubuh,
terutama ke organ tuuh yang penting. Sedangkan anafilaktik trbaru dibuat oleh
World Allergy Organization (WAO) pada tahun 2004 mendefinsikan anafilktik
sebagai suatu reaksi hipersensitifitas yang berat dan mengancam jiwa.
Syok anafilaktik adalah suatu respon hipersensitivitas yang diperantarai
oleh imunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang dtandai dengan curah jantung
dan tekanan arteri yang menurun hebat. Hal ini disebabkan oleh adanya sutu
reaksi antigen-antibody yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif
masuk dalam sirkulasi. Syok anafilaktik merupakan manifestasi klinis dari
anafilaksis yang merupakan syok distriutif, ditandai oleh adanya hipotensi yang
nyata akibat vasodilatasi mendadak pada pembuluh darah dan disertai kolaps pada
sirkulasi darah yang dapat menyebabkan terjadinya kematian. Syok anafilaktik
merupakan kasus kegawatan, tetapi terlalu sempit untuk menggambarkan
anafilaktik secara keseluruhan, karena anafilaktik yang berat dapat terjadi tanpa
adanya hipertensi, seperti pada anafilaktik dengan gejala utama obstruksi saluran
napas.
2.2 ETIOLOGI
Atropi merupakan faktor resiko reaksi anafilaktik. Pada study berbasis
populasi di olmsted county, 53% dari pasien nafilaktik memiliki riwayat penyait
atropi. Cara dan waktu pemberian berpengaruh terhadap terjadinya reaksi
anafilaktik. Pemberian secara oral lebih sedikit kemungkinan menimbulkan reaksi

dan jka ada biasanya tidak berat. Selain itu, semakin lama interval pajanan
pertama dan kedua, semakin kecil kemungkinan reaksi anafilaktik akan muncul
kembali. Hal ini berhubungan dengan katabolisme dan penurunan sintesis dan Ig
E spesifik seiring waktu.
Faktor- faktor yang diduga apat meningkatkan rsiko terjadinya syok
anafilaksis adalah sifat aergan, jalur pemberian obat, dan keseimbangan paparan
alergan. Golongan alergan yang sering menimbulkan reaksi anafilaksis adalah
makanan, obat obatan, sengtan serangga, dan lateks, udang, kepiting, kerang, ikan,
kacang kacangan biji bijian, buah beri, putih telur, dan susu merupakan makanan
yang biasanya menyebabkan suatu reaksi anafilaksis. Obat obatan yang bisa
menyebabkan anafilaksis seperti antibiotik khususnya penisilin, obat anestesi iv,
relaksasi otot, aspirin, NSAID, opioid, vit B1, asam folat dll. Transfusi darah,
latihan fisik, cuaca dingin juga bisa menyebabkan anafilaksis.
3.1 PATOFISIOLOGI
Coomb

dan

Gell

(1963)

mengelompokkan

anafilaksis

dalam

hipersensitivitas tipe I (immediate type reaction). Mekanisme anafilaksis melalui


2 fase, yaitu fase sensitasi dan aktivasi.
Fase sensitisasi merupakan waktu yang dibutuhkan untuk pembentukkan
Ig E sampai iikatny oleh reseptor spesifik padaa permukaan mastosit dan basofil.
Sedagkan fase aktivasi merupakan waktu selama terjadinya pemaparan ulang
dengan antigen yang sama sampai timbulnya gejala.
Alergan yang masuk lewat kulit, mukosa, saluran nafas atau saluran
makan di tangkap oleh Makrofag. Makrafag segera mempresentasikan antigen
tersebut kepada Limfosit T, dimana ia akan mensekresikan sitokin (IL4, IL3) yang
menginduksi Limfosit B berploriferasi menjadi sel plasma. Sel plasma
memproduksi Ig E spesifik untuk antigen tersebut kemudian terikat pada reseptor
permukaan sel mast (mastosit) dan basofil.
Mastofit dan basofil melepaskan isinya yang berupa granula yang
menimbulkan reaksi pada paparan tulang. Pada kesempatan lain masuk alergan
yang sama kedalam tubuh. Alergan yang sama tersebut akan diikat oleh Ig E
spesifik dan memicu terjadinya reaksi segera, yaitu pelepasan mediator vasoaktif

antara lain histain, serotonin, bradikinin, dan beberapa bahan vasoaktif lain dari
granula yang disebut dengan istilah preformed mediators.
Ikatan antigen-