Anda di halaman 1dari 39

DEKSRIPSI MORFOLOGI FORAMINIFERA

Nama

Nim

Kelompok

Pandangan Vetral

Pandangan Dosrsal

Pandangan Samping

No. Praga

Keterangan Gambar :

Filum

1.

Klas

2.

Ordo

3.

Sub. Famili

4.

Famili

Genus

Spesies

Deksripsi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Dinding
Bentuk Test
Bentuk Kamar
Susunan Kamar
Jumlah Kamar
Pertumbuhan Kamar
Arah Putaran Kamar
Aperture
Hiasan

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Umur

Jenis

BAB. II
DASAR TEORI

II.1 Mikropaleontologi.
II.1.1 Kegunaan Mikrofosil.
Fosil

foraminifera

sering

dipakai

untuk

memecahkan

masalah geologi terutama bagi perusahan perusahan minyak


walaupun akhir akhir ini peranannya sedikit tergeser oleh
teknologi yang lebih maju yaitu dengan ditemukannya fosil
nannoplankton yang ukurannya fantastik kecil (340 mikron).
Karena itu dalam pengamatan diperlukan mikroskop dengan
perbesaran minimum 5000 kali bahkan sampai 20000 kali.
Kegunaan fosil foraminifera adalah :
1. Untuk penentuan umur batuan yang mengandung fosil
foraminifera tersebut.
2. Membantu dalam studi lingkungan pengendapan atau
fasies.
3. Korelasi stratigrafi dari suatu daerah dengan daerah lain,
baik korelasi permukaan atau korelasi bawah permukaan.
4. Membantu menentukan batas batas suatu transgresi dan
regresi,

misalnya

dengan

menggunakan

foraminifera

benthos Rotalia beccarii (fosil penciri daerah transgresi),


Gyroidina soldanii (fosil penciri bathial atas) dan lain lain.
5. Bahan penyusun Biostratigrafi.
Berdasarkan kegunaannya, maka dikenal beberapa istilah yaitu :

Fosil Indeks / Fosil penunjuk / Fosil Pandu : fosil yang


digunakan sebagai penunjuk umur relatif. Pada umumnya
fosil jenis ini mempunyai penyebaran vertikal pendek dan
penyebaran lateral luas serta mudah dikenal.

Fosil Bathimetri / Fosil kedalaman : dapat digunakan untuk


menentukan

lingkungan

pengendapan.

Pada

umunya

adalah benthos yang hidup didasar. Contoh : Elphidium sp,

penciri lingkungan transisi ( Tipsword, 1966 ).


Fosil Horison / Fosil lapisan / Fosil diaognostik / Fosil
kedalaman : fosil yang mencirikan atau khas terdapat di
dalam lapisan yang bersangkutan. Contoh : Globorotalia

tumida ( penciri N 18 ).
Fosil lingkungan : dapat dipergunakan sebagai penunjuk
lingkungan

sedimentasi.

Contoh

Radiolaria

sebagai

penciri laut dalam.


Fosil iklim : dapat dipergunakan sebagai penunjuk iklim
pada saat itu. Contoh : Globigerina pachiderma sebagai
penciri iklim dingin ( 2-5 ).

II.1.2 Tahapan Penelitian Mikrofosil.

Untuk menghasilkan suatu penelitian mikrofosil yang baik,


harus melali empat tahapan, yaitu : sampling, preprarasi,
observasi, dan determinasi.
1. SAMPLING.
Sampling merupakan hal pertama yangprnting untuk
dilakukan dalam tahapan penelitian mikrofosil. Tanpa
sampel yang representatif maka hasil pengamatan atau
penelitian

mejadi

sia-sia.

Beberapa

hal

yang

harus

dilakukan dalam pengambilan sampel adalah :


Mikrofosil dapat dijumpai dihampir semua batuan

sedimen, terutama pada fraksi-fraksi yang halus.


Untuk keakuratan data harus menggunakan metode

sampling yang tepat.


Kualitas sampel harus menjadi perhatian.

1.1

Metode Sampling
Untuk dapat menghasilkan suatu data yang baik,

pengambilan sampel harus dilakukan dengan metode yang


tepat dan betul. Ada dua metode dalam pengambilan
sampel, yaitu : spot sampling, dan chanel sampling.
A. Spot Sampling
Pengambilan sampel dengan interval tertentu. Baik
untuk penampang yang tebal, dengan litologi yang
seragam. Semakin pendek interval semakin baik.
B. Chanel Sampling
Dapat dilakukan pada penampang lintasan pendek
(3-5 m). Biasanya dilakukan pada litologi yang seragam
atau pada perselingan yang cepat. Sampel diambil pada
setiap perubahan unit litologi.
1.2

Kualitas Sampel
Kualitas sampel harus menjadi perhatian juga. Jika

kualitas tidak terpenuhi dengan baik maka hasil sampel


menjadi kurang akurat.
Beberapa hal yang harus diperhatikan :
Bersih : harus terhindar dari lapisan pengotor,
terutama pollen atau serbuk sari tubuh-tumbuhan

sekarang.
Representatif dan komplit : harus jelas posisi
stratigrafinya, sebaagai sisipan atau perlapisan

batuan.
Pasti : catat beberapa hal yang penting mengenai
sampel, misal : nomor sampel, jenis batuan,
nomor

lokasi

pengamatan,

peruntukan

sampel.

1.3

Jenis Sampel
Ada dua jenis sampel, yaitu sampel permukaan

dan bawah permukaan (hasil pemboran).

Sampel permukaan adalah sampel yang diambil


pada suatu singkapan. Sampel yang baik adalah yang
diketahui posisi startigrafinya terhadap singkapan yang
lain, namun terkadang pada pengambilan sampel yang
acak baru diketahui sesudah dilakukan analisa umur.
Sampel pemboran diambil berdasarkan pemboran
coring. Pada sampel pemboran diperlukan kehati-hatian
dalam determinasi, karena dapat tercampur dapat

Evaporit

Dolomit
Batupasir

Batubara
Silt, Chert
dan
sedimen
silika

Batugampi
ng
Napal &
Lempung

Batuan
metamorf

: Melimpah

Spora&Pollen

Dinokista

Foraminifera

Conodonta

Ostracoda

Coccolith

Radiolaria

Chitinozoair

Calplonella

Mikrofosil

Diatomae

dengan fosil-fosil jatuhan dari atas.

: Jarang

: Kadang-kadang

Tabel 1. Jumlah rata-rata mikrofosil pada batuan (Bignot, 1982)

1.4

Langkah Kerja
Target acara ini adalah mengambil sampel untuk

dianalisa mikrofosil foraminifera. Jumlah sampel diambil


harus mewakili bagian bawah, tengah dan atas. Selain
itu variasi litologi juga terwakili. Untuk ada beberapa
tahapan yang harus dilakukan :
1. Metode sampling yang digunakan berganttung
pada kondisi satuan batuan yang akan disampling.
Untuk

pelaksanaan

yang

sekarang

adalah

menggunakan metode Spot Sampling.


2. Buatlah lintasan terukur pada singkapan batuan
yang anda jumpai. Awalilah pada lapisan batuan
terbawah (mewakili batuan tertua).
3. Deksripsi batuan secara detil dan baik. Catat
ketebalan

masing-masing

batuan.

Pembuatan

lintasan terukur harus memuat semua variasi


litologi dari bawah sampai atas.
4. Jika batuan mengandung unsur karbonat, ambilah
sampel secukupnya 1 kg.
5. Jika dalam setiap bagian (bawah, tengah dan atas)
terwakili oleh dua litologi ambilah sampel pada
kedua litologi tersebut.
6. Masukan sampel kedalam kantong sampel, dan
beri label meliputi : lokasi pengamatan, nomor
sampel,

tangal

pengambilan,

dan

initial

pengambilan sampel. Contoh : LP/1/Gjw/2009/AF.


7. Sketsalah lintasan anda dari bawah sampai atas.
2. ACARA PREPARASI
Proses mengubah

contoh

batuan

yang

diambil

menjadi bahan yang siap untuk dianalisa mikrofosilnya.


Tujuannya adalah memisahkan fosil dari material-meterial
yang mengikatnya. Setiap jenis mikrofosil mempunyai
teknik tersendiri.

Foraminifera Kecil dan Ostracoda


Menggunakan metode residu, digunakan pada batuan
sedimen

fraksi

halus

seperti

batulempung,

serpih,

batulanau, dan batu pasir gampingan.


Ambil 100 gram sedimen kering
Jika keras atau agak keras ditumbuk pelan-pelan

dengan palu/porselen.
Larutkan sedimen tersebut dengan H2O2 (10-15 %)

agar mikrofosil terpisah dari matrik pengikatnya.


Tunggu 2-5 jam sampai tidak ada reaksi lagi.
Cuci dengan air deras di atas saringan berukuran 40-

60-100 mesh.
Ambil dan keringkan residu yang tertinggal pada
saringan 60 dan 100 mesh menggunakan oven (

60C).
Setelah kering masukan kedalam kantong plastik dan

diberi label sesuai nomor sampel yang dipreparasi.


Sampel siap dideterminasi.

Foraminifera Besar
Biasanya dijumpai pada batugamping/batugamping
pasiran yang mempunyai kekerasan tinggi, sehingga perlu
dilakukan dengan sayatan tipis. Selain itu foraminifera
pengenalan

kamar-kamarnya

menjadi

penentu

dalam

penamaan. Dan hanya dapat diamati dengan metode


sayatan tipis.

Contoh

batuan

disayat

dahulu

dengan

mesin

penyayat/gerinda. Arah sayatan harus memotong

struktur tubuh foraminifera besar.


Setelah mendapatkan arah sayatan yang dimaksud,

contoh tersebut ditipiskan pada kedua sisinya.


Poleskan
salah
satu
sisi
tersebut
dengan
mempergunakan bahan abrasif (korondum) dan air.

Tempel sisi tersebut paa objektif gelas (standard


international 43 x 30 m) dengan mempergunakan

kanada balsem.
Tipiskan lagi sisi lainnya sehingga ketebalan contoh

tersebut antara 30-50 um.


Tutup sisi lainnya dengan cover gelas dan beri label.
Sampel siap dideterminasi.

3. OBSERVASI
Tahapan

observasi

adalah

mengamati

dan

mendikripsikan morfologi atau ciri fisik lainnya dari fosilfosil yang dijumpai dalam sampel. Dekriksi sangat penting,
karena merupakan dasar untuk mengambil keputusan
tentang penamaan mikrofosil. Pembuatan ilustrasi atau
gambar yang baik harus dapat menjelaskan sifat-sifat khas
tertentu, dan harus dilengkapi dengan skala atau jumlah
pembersarannya. Ilustrasi akan sangat baik jika di sertai
foto.

4. DETERMINASI
Tahap akhir dalam analisis fosil adalah memberikan nama.
Beberapa kesepakatan resmi yang harus digunakan dalam
penaamaan adalah :
1. Penamaan

menggunakan

penamaan

berganda/binomial, contoh : Globigerina bulloides


dorbigny, 1826
2. Jika mikrofosil sulit diketahui nama spesiesnya, maka
dapat dibantu dengan menggunakan beberapa istilah
seperti :
cf.

(confer),

membandingkan
spesies

yang

digunakan
/

mirip,

perbedaan (keraguan).

menyamakan
namun

ada

untuk
dengan
sedikit

aff. (affinis) digunakan bilamana fosil yang


diamati memiliki kemiripan dan hubungan yang

dekat dengan spesies tertentu.


sp. (species) dan spp. Digunakan untuk

spesies yang belum diketahui namanya.


n.sp. (nouvelle species), digunakan untuk
spesies

terberu,

dipublikasikan.
var. (varietas)

yang

untuk

pertama

kali

membedakan

satu

subspesies dengan subspesies dalam spesies


yang sama.

II.2 Foraminfera.

II.2.1 Ciri Fisik.


Secara umu tubuh tersusun oleh protoplasma yang terdiri
dari

endoplasma

dan

ectoplasma.

Alat

gerak

berupa

pseudopodia (kaki semu) yang berfungsi juga untuk menagkap


makanan.

II.2.2 Cangkang.
Dalam mempelajari fosil foraminifera biasanya dilakukan
dengan mengamati cangkangnya. Hal ini disebabkan bagian
lunaknya
Canggkang

(protoplasma)
foraminifera

sudah

tidak

tersusun

oleh

dapat
:

diketemukan.

dinding,

protoculum, septa, suture, dan aperture (gambar 1).

kamar,

Gambar 1. Bagian-bagian dari cangkang foraminifera.

II.2.2.1 Dinding.
Merupakan lapisan terluar dari cangkang, dapat tersusun
dari zat-zat organik maupun material asing. Dinding cangkang
foraminifera berdasarkan pada resen fauna adalah :

Dinding Chitin/Teklin : bentuk dinding paling primitif.


Berupa zat organik menyerupai zat tanduk, fleksibel dan
transparan, berwarna kuning dan tidak berpori. Contoh

golongan Milionidae.
Dinding Aglutin/Arenaceous : dinding yang disusun oleh
material asing. Jika penyusunnya hanya butir-butir pasir
disebut dengan Araneceous. Jika banyak material seperti

mika dsb., disebut Aglutin.


Dinding Silikaan : dinding ini jarang diketemukan, bisa

dari organisme itu sendiri atau dari mineral sekunder.


Dinding Gampingan : terdiri dari empat tipe dinding,
yaitu :
1. Dinding porselen, tidak berpori, berwarna opak
dan putih. Contoh Quinqueleculina.
2. Dinding hyalin, bersifat bening dan transparan
serta

berpori.

Contoh

Golongan

Globigerinidae,

Nodosaridae.
3. Dinding granular, terdiri kristal-kristal kalsit yang
granular, dalam sayatan tipis tampak gelap.

4. Dinding yang kompleks, terdapat pada Golongan


Fusulinidae.

II.2.2.2 Morfologi kamar.


Merupakan bagian dalam foraminifera dimana protoplasma
berada. Bentuk dari kamar dapat membulat sampai pipih. Antara
kamar dipisahkan oleh septa di bagian dalamnya, pada bagian
luar disebut suture. Suturenya sendiri dapat berbentuk lurus
(rectilinear), melengkung atau tertekan.
Kamar pertama pada cangakang foraminifera disebut
dengan protoculum. Protoculum dapat disusun hanya dengan
satu kamar atau dua atau sampai tiga kamar yang berukuran
sama. Dibedalan dengan kamar berikutnya adalah pertambahan
ukuranya yang lebih besar pada kamar berikutnya.
Bagian sisi luar dari cangkang atau kamar-kamar disebut
dengan peri-peri. Pada genus tertentu biasanya terdapat hiasan.

II.2.2.3 Susunan Kamar.


Berdasarkan jumlah kamar, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

Motothalamus, hanyaterdiri dari satu susunan kamar.


Polythalamus, tersusun oleh jumlah kamar yang banyak.

Monothalamus :

Berdasarkan bentuknya dibagi menjadi beberapa : bulat,botol,


tabung, kombinasi botol dan tabung, planispiral, dsb.

Terputar (Planispiral)
ornata

Planispiral kemudian lurusTerputar (Planispiral)


-. Ammodiscus sp -.Spiroloculina
-. Rectocornuspiral

Globular (bulat)
-. Orbulina universa

Flask (botol)
-. Lagena sp

Gamabar 2. bentuk cangkang monothalamus : bulat


(Saccamina), botol (Lagena), tabung (Bathysiphon), dan
panispiral (Ammodiscus).

Polythalamus :
Cangkang foraminifera disusun oleh lebih dari satu kamar.
Terdapat 3 jenis susunan kamar, yaitu :
1. Uniserial, berupa satu baris susunan kamar yang
seragam, contoh : Nodosaria, dan Siphonogenerina.
2. Biserial, berupa dua baris susunan kamar yang berselangseling, contoh :
Bolivina, dan Texturalia.
3. Triserial, berupa tiga baris susunan kamar yang
berselang-seling, contoh : Uvigerina, dan Bulimina.

Berdasarakan variasi susunan kamar dikelompokan menjadi :

1. Uniformed test : jika disusun oleh satu jenis susunan


kamar,misal uniserial saja atau biserial saja
2. Biformad test : jika di sussun oleh dua susunan kamar
yang berbeda, misal diawalnya triserial kemudian menjadi
biserial. Contoh : heterostomella.
3. Triformed test : terdiri tiga susunan kamar yang berbeda.
Contoh: valvulina

Gambar 3. skema cangkang foraminifera yang pholythalamus


( Culiver,1987 )
II.2.2.4 Aperture.
Lobang uttama pada cangkang foraminifera yang berfungsi
sebagai mulut atau juga jalan kelurnya protoplasma, biasanya
terdapat pada bagian kamar terakhir.

Tidak semua foraminifera mempunyai aperture terutam


foraminifera besar.
Aperture merupakan salah saatu kunci untuk mengenali
genus dari foraminifera. Dapat dibedakan berdasarkan :

Bentuk
Posisi
Sifat

II.2.2.4.1 Bentuk Aperture.


1. Bulat sederhana, terletak di ujung kamar terakhir. Contoh
: lagena, bathysiphon, dan cormuspira.
2. Memancar (radiate ), berupa lobang bulat dengan kanalkanal

yang

memancar

dari

pusat

lubang.

Contoh

Nodosaria, Dentalina, Sarcenaria dan Planolaria.


3. Phialine, berupa lobang bulat dengan bibir dan leher.
Contoh : Uvigerina, Amphychorina dan Marginulina.
4. Crescentic, berbentuk tapal kuda atau busur pana.
Contoh : Nodosarella, Pleurostomella dan Turilina.
5. Virgoline / Bulimine, berbentuk seperti koma (,) yang
melengkung. Contoh : Virgulina, bulimia dan kassidulina.
6. Slit like, berbentuk sempit memanjang. Contoh

sphaerodinella,spha erodinelopsis , puleniatina.


7. Ectosolenia, aperture yang mempunyai leher pendek.
Contoh : Ectosolenia, dan Oolina.
8. Entosolenia, aperture yang mempunyai leher dalam
(internal neck). Contoh : Fissurina, Entosolenia.
9. Multiple, beberapa lobang mulut, terkadang brbentuk
saringan

(cribrate)

atau

terderi

dari

beberapa lobang kecil (accessory).

lobang

dengan

Contoh : Elphidium,

Globigerinoides, Cribrohankenina.
10.
Dendritik, berbentuk seperti ranting pohon, terletak
pada Septal- face. Contoh : Dendritina

11.

Bergigi, berbentuk lobang melengkung dimana pada

bagian dalamnya terdapat sebuah tonjolan (single tooth).


Contoh: Quinqueloculina dan Pyrgo.
12.
Berhubungan dengan umbilicus

berbentuk

busur, ceruk ataupun persegi, kadang dilengkapi dengan


bibir, gigi-gigi, atau ditutupi selaput tipis (bula). Contoh :
Globigerina, Globoquadrina dan Globigerita.

Gambar 4. Jenis-jenis dan posisi aperture pada foraminifera kecil


(shrock & twenhofel, 1956).

II.2.2.4.2 Posisi Aperture.

Di tinjau dari posisinya pada cangkang foraminifera, maka


aperture dapat di bedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Aperture terminal , yaitu aperture yang terletak pada
ujung

kamar

yang

terakhir.

Nodosaria,Uvigerina.
2. Aperture on apertural

Contoh

face,

yaitu

Cornuspira,

aperture

yang

terdapat pada bagian kamar yang terakhir. Contoh :


Cribohantkenina, Dendritina.
3. Aperture Peripheral, yaitu aperture yang memanjang
pada bagian tepi (periphery). Contoh :

Globorotalia,

Cibicides.
4. Aperture interiormarginal umbilical, yaitu aperture
yang terdapat pada bagian umbilical. Contoh : Globerina .
jika memanjang kearah tepi (periphery) disebut umbilical
extra umbilical. Contoh : Globorotalia.
II.2.3 Hiasan/Ornamentasi.
Ornamentasi adalah struktur-struktur mikro yang
menghiasi bentuk fisik dari cangkang foraminifera. Ornamentasi
ini kadang-kadang sangat khas untuk cangkang foraminifera
tertentu, sehingga dapat di pergunakan sebagai salah satu
kriteria dalam klafikasi.
Beberapa bentuk hiasan yang dapat dijumpai :
1. Keel, selaput tipis yang mengelilingi bagian periphery.
Contoh : Globorotalia, Siphonina.
2. Costae, gelena vertikal yang dihubungkan oleh garis-garis
sutura yang halus. Contoh : Bulimina, Uvigerina.
3. Spine, duri-duri yang menonjol pada bagian tepi kamar.
Contoh : Hantkenina, Asterotalia.
4. Rentral processes, merupakan

garis

sutura

berkelok-kelok, bisa dijumpai pada Amphistegina.

yang

5. Bridged sutures, garis-garis suture yang terbentuk dari


septa

yang

terputus-putus.

Biasanya

dijumpai

pada

Elphidium.
6. Reticulate, dinding cangkang yang terbuat dari tempelan
material asing (arenaceous).
7. Punctate, bagian permukaan luar cangkang berpori bulat
dan kasar.
8. Smooth, permukaan cangkang yang halus tanpa hiasan.

Gambar 5. Bentuk macam-macam hiasan cangkang foraminifera


(jones,1956).

II.3 Foraminfera Plangtonik.


Jumlah spesies foraminifera plantonik sangat kecil jika
dibandingkan dengan ribuan spesies dari golongan benthos.
Meskipus

jumlah

spesiesnya

sangat

sedikit,

golongan

ini

mempunyai arti yang penting, terutama dalam penentuan umur


batuan. Golongan ini tidak peka terhadap perubahan lingkungan,
sehingga bagus untuk korelasi stratigrafi.
Secara umum cukup mudah untuk membedakan antara
foram kecil plangton dengan foram kecil benthos. Foraminifera
plangton memiliki ciri umum sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Test/cangkang : bulat, beberapa agak prismatik.


Susunan kamar : pada umumnya terputar trchospiral.
Komposisi test : gamping hyalin.
Hidup di laut dengan mengambang.

II.3.1 Morfologi Foraminifera Plangtonik.


Didalam mendiskripsi foraminifera plangtonik baik dalam
penentuan genus maupun spesies disini harus diperhatikan
antara lain :

II.3.1.1 susunan kamar.


A. Planispiral : terputar pada satu bidang, semua kamar
terlihat, pandangan dan jumlah kamar ventral dan dorsal
sama.
B. Trochospiral : terputar tidak pada satu bidang, tidak semua
kamar terlihat. Pandangan pada vetral dan dorsal berbeda.
Pandangan ventral : jumlah kamar yang terlihat
adalah

putaran

kamar

terakhir,

terlihat

adanya

aperture utama, terlihat adanya umbulicus.


Pandangan dorsal : biasanya seluruh kamar bisa
terlihat, terlihat adanya putaran, kamar awal terlihat.

II.3.1.2 bentuk.
Dibedakan menjadi dua yaitu bentuk kamar dan bentuk
test. Bentuk kamar dapat globular, rhomboid menyudut, atau
kerucut menyudut. Bentuk test dapat membulat, atau ellips.

II.3.1.3 suture.

Dalam

penetuan

genus

foraminifera,

suture

sangat

berguna. Suture dapat tertekan, atau tidak. Pendiskripsian


meliputi pandangan dorsal maupun ventral.

II.3.1.4 Jumlah kamar dan putaran.


Jumlah kamar sangat mempengaruhi penamaan, untuk itu
perlu dilakukan, terutama pada kamar terakhir. Selain itu perlu
diperhatikan

pula

pertambangan

ukuran

kamar,

apakah

berangsur atau berubah mendadak. Perlu diperhatikan pula arah


putaran apakah searah jarum jam (dextral) atau berlawanan arah
jarum jam (sinistral).

II.3.1.5 aperture.
A. Aperture primer :
1. Intermarginal umbulical : aperture yang terdapata
pada bagian umbulical atau pusat putaran.
2. Interiomarginal umbulical ekstra umbulical : aperture
yang memanjang dariumbulical sampai peri-peri
(tepi).
3. Interiormarginal ekuatorial : aperture yang terletak di
daerah ekuator, biasanya pada putaran planispiral.
Biasanya terlihat pada pandangan samping.
B. Aperture sekunder.
Adalah lobang yang lain dari eperture primer dan
lebih kecil, atau lobang tembahan dari aperture primer.
II.3.1.6 komposisi test.
Kebanyakan dari foraminifera plangton mempunyai dinding
test gamping hyalin.
II.3.1.7 hiasan atau ornamentasi.

Hiasan sangat penting karena sangat khas pada genus


tertentu. Misal psine khas pada Hantkenina, keel (Globorotalia).

II.3.2 Sistematika Foraminifera Plangtonik.


Terdapat tiga famili yang sering dijumpai pada foraminifera
plangtonik

(cushman,1950).

Ketiga

famili

tersebut

adalah

globigerinidae, globorotaliidae dan hantkenidae. Jumlah genus


sekitar 23.

II.3.2.1 Famili Globigerinidae.


A. Genus Globigerinoides Dorbigny 1826
Test terputar helicoid,kamar globular, komposisi test
gamping hyalin. Kadang dijumpai duri-duri halus, aperture
umbulica berbentuk koma.
B. Genus Globigerinoides Cushman, 1927
Secara umum hampir sama dengan

globigerina,

perbedaan terletak pada adanya aperture sekunder pada


Globigerinoides,

aperture

sekunder

terlihat

pada

pandangan dorsal.
C. Genus Hastegerina Wyville Thomson, 1876
Putaran awal trochoid kemudian berubah planispiral,
evolute,

test

gampingan.

Kamar

globular,

aperture

ineteriormarginal equatprial.
D. Genus Orbulina dOrbigny, 1839
Test terputar trochoid rendah, kamar terakhir menutup
seluruh kamar sebelumnya. Kamar globular, aperture
ineteriormarginal equatorial.
E. Genus Sphaeroidinella Cushman, 1927
Test terputar trochoid rendah dengan putaran terakhir
menutup putaran sebelumnya. Aperture ineteriormarginal
umbulical, berbentuk busur dengn bibir tebal.
F. Genus Pulleniatina Cushman, 1927

Test seperti Globigerina, dinding cancellated, kamar


terputar involute. Aperture sempit dan melengkung pada
kamar akhir.

II.3.2.2 Famili Globorotaliidae.


A. Genus Globorotalia Cushman, 1927
Test trochoid rendah, berbentuk bikonvek. Kadang
mempunyai hiasan keel pada peri-peri, kamar sub globular
- sub rhomboid. Aperture ineteriormarginal umbulical
ekstra umbulical.
B. Genus Globortruncana Cushman, 1927
Test trochoid pada awalnya, bentuk kamar membulat,
pandangan dorsal dan ventral datar atau cembung, hiasan
keel aperture umbulical.
II.3.2.3 Famili hantkeninidae
Genus Hantkenina Cushman, 1927
Test planispiral dengan putaran tertutup, secara umum
involute, dinding gampingan, hiasan berupa tanduk pada setiap
kamar.

Gambar

6.

Beberapa

contoh

spesies

pada

foraminifera

plangtonik.

II.4 Foraminfera Benthonik.


Jumlah
Golongan

ini

spesies

foraminifera

mempunyai

arti

benthik

penting,

sangat

terutama

besar.
daalam

penentuan lingkugan pengendapan. Golongan ini sangat peka


terhadap perubahan lingkungan, sehingga bagus untuk analisa
lingkungan pengendapan.
Secara umum cukup mudah untuk membedakan antara
foram kecil benthonik denan foram kecil palngton. Foraminifera
beenthonik mempunyai ciri umum sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Test/cangkang: bulat, beberapa agak prismatik


Susunan kamar: sangat bervariasi
Komposisi test: gamping hyalin, arenaceous,silikaan.
Hidup dilaut pada dasar substratum

II.4.1. Morfologi Foram Benthonik

Di dalam mendeskripsi foraminifera benthonik baik dalam


penentuan genus maupun spesies di sini harus di perhatikan
antara lain :
II.4.1.1. susunan kamar
Berdasrkan jumlah kamar disini harrus diperhatikan antara lain :

Monothalamus, hanya terdiri dari satu kamar


Polythalamus, tersusun oleh jumlah kamar yang banyak

A. Monothalamus
Tersususn oleh satu kamar,dapat dibedakan atas
bentuknya:
Bulat,contoh: saccamina
Botol: lagena
Tabung: bathysiphon
Terputar planispiral: ammodiscus

B. Polythalamus
Cangkang foraminifera disusun oleh lebih dari satu
kamar.terdapat 3 jenis susunan kamar yaitu:

Uniserial,berupa satubaris susunan kamar yang

seragam,contoh: nodosaria,dan siphonogenerina


Biserial,berupa dua baris susunan kamar yang

berselanag seling, contoh: bolivina,dan textularia


Triserial, berupa tiga susunan kamar yang berselang
seling, contoh:uvigerina dan bulimina.

Berdasarkan variasi susunan kamar dikelompokan menjadi :

Uniformed test: jika disusun oleh saatu jenis susunan


kamar,misal uniseial saja atau biserial saja

Biformed test: jika di susuna oleh dua macam jenis


susunan kamar yang berbeda,misal: diawalnya triserial

kemudian menjadi biserial.contoh: heterostomella


Triformed test: terdiri dari tiga susunan kamar yang
berbeda. Contoh; vallvulina

Susunan kamar uniserial dapat berkembang dalam bentuk test:

Planispiral : terputar pada satu bidang, semua kamar


terlihat, pandangan dan jumlah kamar ventral dan dorsal

sama.contoh : elphidium, amphistegina, dsb.


Lurus : tidak terputar, dapat mempunyai leher atau tidak.

Contoh: nodosaria, nodogerina dsb.


Melengkung : berbentuk kurva, contoh : dentalina

II.4.1.2. Bentuk
Di bedakan menjadi dua yaitu bentuk kamar dan bentuk
test. Betuk kamar dapa globular, rhomboid menyudut,atau
kerucut menyudut. Bentuk test dapat membulat atau ellips.

II.4.1.3 komposisi test


Kebanyakan dari foraminifera benthik mempunyai dinding
test gamping hyalin, porselen, dan arenaceous

II.4.1.4. hiasan atau ornamentasi


Hiasan sangat penting karena sangat khas pada genus
tertentu.misal

bridged

suture

processes pada amphistegina

khas

pada

elphidium,

retral

Gambar 7. beberapa genus pada foraminfera kecil benthik

II.5. Foraminifera Besar


Foraminifera besar secara fisik langsung dapat di bedakan
dengan ukuran tubuhnya yang lebih besar dari foraminifera kecil.

Foraminifera besar hidup secara benthik dilaut dangkal di zona


neritik dalam ( 30-80 m ), bersosiasi dengan koral membnetuk
batugamping terumbu. Walaupun berukuran besar, namun untuk
identifikasi foraminifera besar harus dilakukan dengan saytan
tipis,

karena

memiliki

srtuktur

yang

bagian

dalam

yang

rumit.kisran mumr dar foraminifera besar dalam skala waktu


geologi tergolong pendek, sehingga dapat dipergunakan dalam
penenteuan umur.

JENIS JENIS SAYATAN TIPIS


Untuk dapat mengidentifikasi foraminifera besar diperlukan
suatu

sayatan

tipis.

Sayatan

tipis

terbaik

adalah

melalui

proloculus yang pada beberapa genus terkadang tidakbeada di


tengah tengah. Berikut ini bebrapa jenis sayatan tipis :

Gambar 8. macam macam sayatan dan bagian bagian tubuh


foraminifera

1. Sayatan medial (ekuatorial, horizontal), merupakan


sayatan

pada

bagian

tengah

diambil

pada

posisi

horizonntal. Tegak lurus pada sumbu perputaran.bentuk


yang terlihat merupakan lingkaran
2. Sayatan vertikal/transversal, merupakan sayatan yang
melalui bagian tengah diambil pada posisi vertikal. Bentuk
yang terlihat berupa ellips yang cembung pada bagian
tengahnya
3. Sayatan oblique, merupakan sayatan sembarang tidak
melalui bagian tengah. Berbentuk ellips asimetri
4. Sayatan tangensial, merupakan sayatan yang sejajar
dengan sayatan medain, tetapi tidak

melalui bagian

tengahnya.berbentuk

lingkaran

yang

lebih

kecil

dari

sayatan medial.

II.5.1 MORFOLOGI FORAMINIFERA BESAR


Morfologi foraminifera besar
diperlukana

sayatan

tipis

untuk

sangat rumit, sehingga


dapat

mengenali

atau

mengidentifikasi taksnya. beberapa hal yang di perlukan dalam


pengamatan foraminifera besar adalah: kamar,bentuk test,jenis
putaran, dan ornamentasi struktur dalam.

II.5.1.1. Kamar
Jumlah kamar dari foramiifera besar sangat banyak dan
terptar,serta tumbuh secara bergradasi. Jenis kamar dapat di
bedakan

atas

kamar

embrional,

ekuatorial

dan

lateral.

Pengenalan yang baik terhadap jenis kamar sangan membantu


dalam taksonomi.

Gambar 9. Jenis-jenis dan posisi kamar dalam foraminifera besar.

II.5.1.1. Kamar Embrional


Merupakan kamar yang tumbuh pertama kali atau dikenal
sebagai Proloculus. Pada umumnya proloculus di jumpai di
bagian tengah, namun beberapa genus terdapat di bagian tepi
seperti Miogypsina . Kamar embrional dapat di bedakan menjadi

dua, yaitu protoconch dan deutroconch. Terkadang di antara


kamar embrionik dengan kamar ekuatorial terdapat kamar
nepionik, namun dalam pengamatan sulit untuk dikenali.

Gambar 10. Susunan kamar embrionik, a1) protoconch, a2)


deutroconch, b1-4) kamar-kamar nepionik.

II.5.1.2. Kamar Ekuatorial


Kamar ini terdapat pada bidang ekuatorial. Jumlah kamar
ekuatorial sangan membantu untuk mengetahui jumlah putaran
dari test foraminifera besar. Jumlah putaran pada beberapa
golongan menjadi pembeda diantara beberapa genus.

II.5.1.3. Kamar Lateral


Kamar lateral terdapat di atas dan di bawah dari kamarkamar ekuatorial. Identifikasi pada kamar ini ada pada tebal
tipisnya dinding kamar (septa filament), selain itu pada beberapa
genus sering di jumpai adanya stolon yang menghubungkan
rongga antar kamar. Jumlah kamar terkadang memberikan
pengaruh namun tidak terlalu signitifikan.

II.5.1.2. Bentuk Test


Bentuk test adalah identifikasi awal yang dapat di kenali.
Bentuk dasar test dibedakan menjadi beberapa : diskoid,
fusiform (cerutu ), bintang dan trigonal.

Bentuk diskoid dicirikan dengan sumbu perputaran pendek


dan sumbu ekuatorial panjang. Mudah di kenali dengan bentuk
relatif cembung atau bikonvek. Contoh genus : Nummulites,
Discocycina, Lepidocyclina dan Camerina.
Bentuk fusiform (cerutu) memiliki sumbu putaran yang
lebih panjang dari sumbu ekuatorial.Contoh genus adalah
Fussulina, Alveolina, dan Schwagerina.
Bentuk bintang dicirikan bertumbuhnya kamar ke berbagai
arah degan tidak teratur. Sangat sedikit genus yang mempunyai
bentuk test seperti ini, contohnya Asterocyclina .
Bentuk trigonal dicirikan dengan pertumbuhan kamar
annular

membentuk

segitiga.

Kamar

embrional

biasanya

terdapat di bagian tepi. Contoh : Miogypsina.

Gambar 11. Bentuk-bentuk dasar dari test foraminifera besar.

II.5.2 TAKSONOMI
II.5.2.1 Golongan Orbitoidae
Merupakan kelompok Lepidorbitoides, Orbitocyclina, dan
Lepidocyclina, ciri Fisik :
Test besar, lenticular/discoidal, biconcave
Berkamar banyak, dihubungkan dengan stolon (pori
pori berbentuk tabung)
Dinding lateralnya mempunyai pori pori dan tebal,
dimana terdapat kamar kamar lateral dan pilar-pilar.

Gambar 12. macam - macam bentuk kamar embrionik pada


Lepidocyclina sebagai penentu spesies.

Jenis-jenis kamar :
a. Kamar embrionik, merupakan kamar permulaan
b. Kamar nepionik, merupakan kamar-kamar yang
mengelilingi kamar embrionik.
c. Kamar post nepionik, kamar-kamar yang terbentuk
setelah kamar nepionik.
d. Kamar lateral, berupa rongga - rongga yang letaknya
teratur terletak di atas dan di bawah lapisan tengah.

Gambar 13. genus lepidocylina 1) bentuk test secara umum, 2)


sayatan axial, 3) sayatan equatorial.

II.5.2.2 Golongan Camerinidae


II.5.2.2.1. Sub Famili Camerininae
Merupakan

kelompok

dari

Nummulites,

Pellatispira,

Operculina, Operculinoides, dan Assilina. Bentuk test umumnya


besar, lenticular, discoidal, planispiral dan bilateral simetris. Test
tersusun oleh zat-zat gampingan.

Gambar 14. beberapa genus dari famili camerininae.

II.5.2.2.2. Sub famili Heterostegininae


Merupakan kelompok dari Heterostegina, Spiroclypeus, dan
Cycloclypeus.

Bentuk

test

umumnya

planispiral. Dinding licin, kadang-kadang

lenticular,

discoidal,

granulated. Genus

tertentu tidak mempunyai kamar-kamar leteral.

Gambar 15. genus hetesrostegina dari sebelah kiri sayatan


equatorial, axial dan bentuk test.

II.5.2.3. Golongan Miogypsinidae


Kelompok dari Miogypsinidae dan Miogypsinoides. Bentuk
test pipih, segitiga atau asimetris. Kamar embrinik terletak di
pinggir atau di puncak, dengan protoconch dan deuteroconch
yang hampir sama besar. Memiliki pilar pilar yang jelas.

Genus 16. contoh Genus Miogypsina a) sayatan ekuatorial, b)


sayatan axial.

II.5.2.4. Golongan Discocyclinidae


Merupakan

kelompok

dari

Discocyclina.

Golongan

ini

dicirikan dengan bentuk test discoid atau lenticular . Pada jenis


yang megalosfeer kamar embrionik biasanya biloculer terdiri atas
protoconch. Sedangkan pada jenis mikrofeer kamar embrionik
terputar secara planispiral. Pada kamar-kamar lateral di batasi
oleh septa-septa.

Gambar 17. Genus Discocylina, 1) bentuk luar, 2) sayatan


vertikal dari jenis microsfeer, 3) sayatan vertikal dari bentuk
megalosfeer, 4) sayatan horisontal.

Ii.5.2.5. Golongan Fusulina

Golongan ini umumnya sudah punah, muncul Pada Paleozik


Atas dan Mesozoik. Golongan ini dicirikan dengan brntuk putaran
yang fusiform.

II.6. Aplikasi Mikropalentologi.


Mikrofosil khususnya foraminifera memiliki nilai kegunaan
dibidang geologi yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh sifat
keterdapatannya yang dapat dijumpai dihampir semua batuan
sedimen yang mengandung karbonat. Penggunaan data yang
sering digunakan adalah untuk penentuan umur termaksud
penyusunan

biostratigrafi

dan

penentuan

lingkungan

pengendapan.

II.6.1 Penentuan Umur.


Penentuan

umur

batuan

dengan

foraminifera

mikrofosil yang lain memiliki beberapa keuntungan, yaitu :

Mudah, murah, dan cepat.


Didukung oleh publikasi yang banyak.
Banyak digunakan diberbagai eksplorasi minyak bumi.

dan

Keterdapataannya pada hampir semua batuan sedimen


yang mengandung unsur karbonat.

II.6.1.1 biozonasi
Terdapat beberapa satuan biostratigrafi seperti : zona
kumpulan (assemblage), zona interval, dan zona kelimpahan
(abudance/acme).
Zona

kumpulan,

yaitu

penentuan

biozonasi

yang

didasarkan atas sekumpulan beberapa takson yang muncul


bersamaan

(gambar

18).

pada

penarikan

ini

tidak

memperhatikan umur dari masing-masing takson. Kegunaan


zona kumpulan ini untuk penetuan lingkungan pengendapan.
Penamaan zona diambil dari satu atau lebih takson yang menjadi
penciri utamanya. Misal : zona amphistegina lesonii.
Zona inetrval, yaitu penentuan biozonasi berdasarkan
kisaran stratigrafi dari takson - takson tertentu. Penarikan batas
dilakukan dengan melihat kemunculan awal dan kemunculan
akhir dari satu atau lebih takson yang ada. Pada batas bawah
ditarik berdasarkan kemunculan awal dari suatu takson yang
muncul paling akhir, sedangkan batas atas ditarik berdasarkan
kemunculan akhir dari suatu takson yang lebih dahulu punah
(gambar 18).
Zona selang (barren interval), yaitu penetuan biozanisasi
yang didasarkan pada selang antara dua biohorison. Batas
bawah atau atas suatu zona selang ditentukan oleh horison
pemunculan awal atau akhir takson-takson penciri (gambar 18).

Gamabar 18. berbagai macam biozonasi (amstrong dan brasier,


2005).

Beberapa biozonasi yang sudah disusun di indonesia, yaitu :


1. Bozanisasi foraminifera besar
Biozanisasi ini mempunyai

kelemahan

berupa

keberlakuannya yang bersifat lokal. Hal ini disebabkan


distribusi foraminifera besar yang tidak kosmopolitan.
Biozanisasi ini membagi zaman tersier dalam beberapa
zona

yang

dinotasikan

foraminifera

plangtonik

menggunakan datum pemunculan awal/akhir.


2. Biozanisasi foraminifera kecil plangtonik
Banyak digunakan, karena sifat foraminifera kecil
plangtonik
regional

yang

jarak

kosmopolitan.

jauh.

Seluruh

Dapat

untuk

biozanisasi

korelasi

foraminifera

plangtonik menggunakan datum pemunculan awal/akhir.

II.6.2 Penentuan Lingkungan Pengendapan.


Salah

satu

kegunaan

dari

mikrofosil

khususnya

foraminifera adalah untuk penentuan lingkungan pengendapan


purba. Yang dimaksud dengan lingkungan pengendapan adalah
tempat dimana batuan sedimen tersebut terendapkan, dapat
diketahui dari aspek fisik, kimiawi dan biologis. Aspek biologis
inilah yang disebut dengan fosil.
Untuk dapat mengetahui lingkungan pengendapannya
dapat menggunakan fosil foraminifera kecil enthik. Beberapa fosil
penciri lingkungan pengendapan adalah :
1. Habitat air payau : mengandung foraminifera araneceous
seperti : Ammotium, Trochammina, dan Milliammina.
2. Habiat laguna : fauna air payau yang masih dijumpai
ditambah dengan Ammonia dan Elphidium.

3. Habitat pantai terbuka : lingkungan dengan energi yang


kuat. Didominasi oleh fauna berukuran besar seperti :
Elphidium spp, Ammonia becarii dan Amphistegina.
4. Zona Neritik Dalam (0-30m) : alphidium, eggerella advena
dan textulara.
5. Zaona Neritik Tengah (30-100 m) : eponides, cibicides,
robulus, dan cassidullina.
6. Zona Neritik Luar (100-200 m) : Bolivina, Marginulina,
Siphonina, dan Uvigerina.
7. Zona Bathyal Atas (200-500 m) : uvigerina spp, bulimina,
valvulineria, Bolivina, dan Gyroidina soldanii.
8. Zona Bathyal Tengah (500-1000 m) : Cyclammina,
Chilostomella, Cibicides wuellerstrof dan Cibicides rugosus.
9. Zona Bathyal Bawah (1000-2000 m) : Melonis barleeanus,
Uvigerina hispida, Uvigerina peregrina dan Oridorsalis
umbonatus.
10.
Zona Abyssal (2000-5000 m) : Melonis pompiloides,
Uvigerina

ampulacea,

Bulimina

rostrata,

Cibicides

mexicans, dan Epinoides tumidulus.


11.
Zona Hadal (>5000 m) : Bathysiphon, Recurvoides
turbinatus.