Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lahan rawa pasang surut memiliki potensi yang besar
dalam pemanfaatannya yaitu diantaranya lahan rawa pasang
surut sebagai pemanfaatan untuk pengembangan tanaman
perkebunan, pemanfaatan lahan rawa pasang surut sebagai
hutan tanaman industri, pemanfaatan lahan rawa pasang surut
untuk pengembangan perikanan, pemanfaatan

lahan rawa

pasang surut untuk peternakan, pemanfaatan dan pengelolaan


lahan rawa pasang surut untuk permukiman dan perkotaan.
Selain itu lahan rawa pasang surut juga berkontribusi terhadap
produksi pangan nasional. (Susanto, 2010).
Luas lahan rawa di wilayah pulau Sumatera totalnya
mencapai 3.927.000 hektar lahan potensial dan 2.784.000 hektar
lahan yang direklamasi. Di Sumatera Selatan lahan rawa pasang
surut membentang sepanjang kawasan pantai timur dengan luas
lahan yang telah direklamasi diperkirakan 301.780 hektar. Salah
satu daerah pengembangan lahan rawa pasang surut di provinsi
Sumatera Selatan terletak di Delta Telang II. (Alihamsyah, 2004).
Delta Telang II merupakan daerah yang terletak di
kabupaten Banyuasin, lahan pada umumnya adalah lahan rawa
pasang surut yang memiliki luas potensial areal reklamasi sekitar
13.800 hektar. Daerah ini pertama kali dibuka tahun 1979/1980
diperuntukan untuk perluasan (ekstensifikasi) tanaman pangan
dan hortikultura. Pada umumnya usaha tani yang dilakukan yaitu
menanam tanaman padi dan jagung. (Sulistiyani, et. all., 2014).
Potensi penggunaan lahan pertanian di Delta telang II
sangat beragam.

Diantaranya seperti dilokasi penelitian yang

bertempat di desa Bangun sari. Luas lahan pertanian di desa

Bangun sari adalah 1.431,85 hektar dengan jenis tanaman


semua padi. Menurut (Darmawi, et. all., 2012). Akan tetapi selain
tanaman padi petani juga menanam

tanaman tahunan dan

tanaman palawija.
Pengelolaan lahan rawa pasang surut memiliki beberapa
kendala permasalahan. Kondisi lahan pertanian dilahan rawa
pasang surut yang belum optimal karena kemasaman tanah,
ketergenangan, drainase yang tidak lancar, gulma, hama dan
penyakit tanaman, serta keterbatasan sarana produksi pertanian
membuat hasil produksi pertanian yang diperoleh rendah. Pada
umumnya lahan seperti ini baru ditanami satu kali dalam satu
tahun. Selain itu, permasalahan pengelolaan lahan dan air yang
tidak cukup mendukung untuk pertumbuhan tanaman pangan.
(Susanto, 2010).
Dalam melakukan suatu kegiatan usaha tani dilahan rawa
pasang surut ini memerlukan pengelolaan dalam menjaga
kondisi tanah agar tetap sesuai dengan jenis tanaman yang
ditanam, karena kondisi tanah yang sesuai akan mempengaruhi
produktivitas yang dihasilkan. Oleh karena itu, untuk menjaga
kondisi tanah dilahan rawa pasang surut perlu dilakukan
pengelolaan dalam sistem tata air.
Pengelolaan air dilahan rawa pasang surut merupakan
salah satu hal yang sangat penting dalam pengelolaan lahan
pertanian sehingga dalam pengelolaan lahan rawa pasang surut
ini perlu adanya rancangan sistem tata air, menurut (Saragih, et.
al., 1996). Pengelolaan air dilahan rawa pasang surut akan
mempengaruhi kondisi penggunaan lahan, kondisi kualitas tanah,
dan hasil produksi. Hal ini disebabkan, oleh keadaan sirkulasi air
dilahan rawa pasang surut yang tidak menentu.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam dilakukan penelitian ini


adalah:
1. Beragamnya penggunaan lahan pertanian di blok sekunder
P17-8S yang direncanakan untuk pengembangan tanaman
pangan dan hortikultura ada sebagian yang beralih fungsi
penggunaan lahan seperti penanaman tanaman tahunan.
2. Kondisi sistem tata air yang kurang baik diduga
mengakibatkan pola penggunaan lahan pertanian sebagaian
beralih fungsi dari yang direncanakan untuk pengembangan
tanaman pangan dan hortikultra.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui dan mempelajari pola penggunaan
pertanian beserta tahapan-tahapan kegiatannya

lahan
di blok

sekunder P17-8S desa Bangun sari.


2. Mengetahui dan menganalisis kondisi jaringan tata air di
desa Bangun sari blok sekunder P17-8S.
3. Melihat keterkaitan pola penggunaan lahan dengan kondisi
jaringan tata air di Desa Bangun Sari.
1.4 Manfaat
Penelitian ini memiliki manfaat yang diantaranya sebagai
berikut :
1. Penelitian ini mampu memberikan suatu pengalaman dan
pengetahuan bagi penulis serta sebagai pustaka bagi
akademik di dalam melakukan kegiatan usaha tani di lahan
pasang surut beserta tahapan-tahapan yang dilakukan
dalam kegiatan usaha tani .
2. Mengetahui permasalahan kondisi jaringan tata air dan
infrastrukturnya, sehingga kondisi jaringan tata air yang
tidak berjalan dengan baik dapat di rekomendasikan untuk
perbaikan di blok sekunder P17-8S desa Bangun sari.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Lahan Rawa Pasang Surut
Lahan rawa pasang surut adalah daerah rawa yang dalam
proses pembentukannya dipengaruhi oleh pasang surutnya air
laut, terletak dibagian muara sungai atau sepanjang pantai.
(Djafar, 1992). Lahan rawa pasang surut berada dibagian muara
sungai-sungai besar, berupa pulau-pulau delta berukuran relatif
kecil yang terpisah dari daratan, atau sebagai pulau-pulau delta
besar yang menyambung ke daratan, dan diapit oleh dua sungai
besar. Sebagai contoh yang pertama adalah Delta (pulau) Upang,
Delta Telang, dan Pulau Rimau pada muara sungai Musi di
kabupaten Banyuasin, provinsi Sumatera Selatan. Contoh yang
kedua adalah Delta Berbak pada sungai Batanghari di Jambi,
Delta Reteh antara sungai Reteh dan Inderagiri di Riau, dan Delta
Pulau Petak antara

sungai Kapuas murung dan Barito di

Kalimantan Selatan. ( Subagyo, 2006 ).


Pengembangan lahan rawa pasang surut untuk pertanian
tidak lepas dalam pengelolaan kualitas tanah dan jaringan tata

air dalam mendukung sistem pertanian. Lahan pasang surut


berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah
dikenal

masyarakat.

Perbedaannya

menyangkut

kesuburan

tanah, sumber air tersedia, dan teknik pengelolaanya. Lahan ini


tersedia sangat luas untuk usaha pertanian. (Supriadi, 2005).
Dalam pengembangan lahan pasang surut dilakukan
reklamasi lahan rawa. Reklamasi rawa atau sering disebut
dengan pengembangan daerah rawa merupakan suatu proses
kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi dan manfaat
rawa

sebagai

sumber

daya

alam

yang

potensial

untuk

kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. (Sugeng, 1992)


Reklamasi lahan rawa pasang surut dilakukan dengan
pembuatan saluran induk (primer), saluran sekunder dan saluran
tersier serta beberapa saluran pendukung pada petak lahan.
Reklamasi rawa pasang surut tidak hanya bertujuan untuk
memberikan

air

yang

cukup

bagi

tanaman,

tetapi

juga

dimaksudkan untuk memberikan air yang kualitasnya baik bagi


tanaman. Sehingga dalam reklamasi, di samping pemberian air
juga pencucian terhadap senyawa-senyawa beracun yang ada di
dalam tanah. (Ngudiantoro, 2009).
3.2 Hidrotopografi Lahan
Hidrotopografi lahan merupakan perbandingan relatif
antara elevasi lahan dengan ketinggian muka air di sungai atau
saluran

terdekat.

Kondisi

hidrotopografi

kawasan

menjadi

pertimbangan awal dalam membuat perencanaan pengelolaan


air dilahan rawa pasang surut. Pola tanam pada lahan rawa
pasang surut harus disesuaikan dengan kemampuan luapan air
pasang. Berdasarkan batas pengaruh air pasang surut dimusim
hujan dan pengaruh air salin (payau) dimusim kemarau, lahan
rawa dibedakan ke dalam tiga zone, yaitu: 1). Lahan rawa

pasang surut air payau (salin), 2). Lahan rawa pasang surut air
tawar, dan 3). Lahan rawa non pasang surut. (Suriadikarta, et.
all., 2007)
Pada pemetaan yang lebih detail, lahan rawa pasang
surut dibedakan ke dalam empat klasifikasi golongan menurut
tipe luapan air pasang, yaitu: A). Lahan terluapi oleh pasang
besar (pada waktu bulan purnama maupun bulan mati), maupun
oleh pasang kecil (pada waktu bulan separuh). B). Lahan terluapi
oleh pasang besar saja. C). Lahan tidak terluapi oleh air pasang
besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya
cukup dangkal, yaitu kurang dari 50 cm. D). Lahan tidak terluapi
oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan
air tanahnya dalam, lebih dari 50 cm.
Lahan Kategori A dan B dapat memenuhi untuk
pengembangan sumber daya secara optimum dengan tujuan
peningkatan

produksi

pengembangan

wilayah

pertanian,
dengan

khususnya

tujuan

pokok

padi,

dan

peningkatan

kesejahteraan petani. Lahan Kategori C dan D secara umum


dapat memenuhi pengembangan wilayah dengan tujuan pokok
peningkatan kesejahteraan petani dengan tanaman perkebunan
bernilai tinggi, dengan bantuan pompa. (Hardjoamidjo, et. all.,
2001).
Ketersediaan

air

di

lahan

rawa

pasang

surut

mempengaruhi pola tanam masing-masing karakteristik topografi


lahan. Musim tanam (MT) merupakan pola tanam yang dilakukan
pada lahan dalam jangka satu tahun. Pada umumnya di delta
telang II yang daerahnya lebih tinggi, pola tanam sama MT II
padi-bera atau padi-palawija. Hanya sebagian petani di Telang I
yang memanfaatkan air hingga pertanaman MT III dengan pola
tanam padi-padi atau padi-padi-palawija. Pola tanam untuk
petani di lahan pasang surut yang melakukan pengelolaan tata
airnya baik pada tipe luapan A, dapat ditingkatkan hingga ke MT

III. Penanaman pada MT III dapat berupa padi atau palawija.


Disarankan untuk menggunakan padi dengan varietas genjah.
(Suciantini, 2008).
3.3 Kegiatan Usaha Tani
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua
lahan

rawa

sesuai

untuk

sawah.

Kenyataan

dilapangan

menunjukkan bahwa komoditas yang diusahakan penduduk di


lahan rawa tidak terbatas pada tanaman pangan, tetapi juga
tanaman lain yang mempunyai keunggulan dalam produksi dan
harga

pasar

dikembangkan

yang
di

baik.

lahan

Jenis
rawa

komoditas
adalah

yang

tanaman

dapat
tahunan

perkebunan, buah-buahan dan sayuran tanaman pangan lahan


kering, peternakan, dan perikanan. (Suriadikarta, et. all., 2007).
Usaha tani adalah bagian inti dari pertanian karena
menyangkut

sekumpulan

kegiatan

yang

dilakukan

dalam

budidaya. Usaha tani padi atau palawija yang dilakukan dalam


setahun terbagi atas musim tanam pertama pada bulan OktoberNovember sampai Februari-Maret di lahan pasang surut. Untuk
periode musim tanam kedua bisa padi atau palawija tergantung
kondisi di setiap lokasi. Selain sangat memperhatikan kondisi air
yang ada pola tanam ini juga ditentukan oleh tersedianya sarana
produksi (Susanto, 2010).
Pada tanaman padi menurut (Suwarno, et. al., 2000),
sampai saat ini telah dilepas 11 varietas padi yang cocok dengan
lahan pasang surut. Dengan demikian prospek lahan pasang
surut dalam melakukan usaha tani tanaman padi sangat baik.
Akan tetapi didalam menunjang keberhasilan dalam melakukan
usaha

tani

tersebut

perlu

adanya

sarana

dan

prasarana

pendukung agar petani tidak memilih untuk berpindah propesi


dalam melakukan usaha tani. Di desa Bangun sari selain

melakukan usaha tani tanaman padi dan tanaman palawija para


petani menanam tanaman tahunan diantaranya penanaman
kelapa, buah-buahan, dan karet.
Jagung merupakan komoditas penting kedua setelah padi
di lahan pasang surut baik pada musim kemarau maupun musim
hujan. Pada musim hujan jagung banyak diusahakan pada lahan
pasang surut tipe luapan B dengan sistem surjan, sedang pada
musim kemarau diusahakan pada tipe luapan C atau D dengan
sistem drainase dangkal (Ananto, et. al., 2000). Pengembangan
lahan rawa dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya
pengembangan

sistem

usaha

tani

dan

agribisnis

jagung

menunjukkan perspektif yang baik karena beberapa keunggulan


dan peluang dari lahan rawa. Keunggulan lahan rawa antara
lain : 1) hamparan lahan yang cukup luas, 2) topografi relatif
datar, 3) ketersediaan air yang berlimpah, dan 4) kearifan lokal
dalam pengelolaannya.
3.4

Jaringan Tata Air di Lahan Rawa Pasang Surut


Sistem jaringan yang diterapkan didaerah reklamasi rawa pasang surut,

saluran-saluran yang dibuat untuk menunjang pertanian dilahan rawa pasang


surut. Menurut Pusat Penelitian Management Air dan Lahan (2006), jaringan tata
air untuk pengembangan pertanian lahan pasang surut di Sumatera Selatan
terdapat lima bentuk sistem jaringan tata air, yaitu 1) sisir tunggal, 2) sisir
berpasangan, 3) garpu, 4) kombinasi garpu dan sisir, dan 5) tangga.
Pada lokasi penelitian terbagi atas saluran yang digali
menghubungkan dua sungai besar lebih sering dikenal dengan
saluran navigasi/saluran primer (panjangnya dapat sampai 20-30
km). Tegak lurus terhadap saluran primer ini dibuatlah saluran
sekunder dengan jarak 800-1000 m dan panjang 1000-3500 m.
Blok sekunder (100-250 ha) yang dibatasi oleh saluran primer
dan sekunder ini dibagi lagi menjadi petak-petak tersier (seluas

16, 24, 32 ha) melalui pembangunan saluran-saluran tersier


(Susanto, 2010).
Saluran sekunder di lahan rawa pasang surut saluran
sekunder dibagi menjadi dua yaitu, saluran pemberi yang
melintasi perkampungan (SPD) dan saluran pembuangan (SDU)
yang berada dibatasan Lahan Usaha II. Aluran tersier dibangun
untuk mengalirkan atau membuang air dari dan ke saluran
sekunder. Sistem yang bekerja berdasarkan konsep satu arah
(one way flow system) air pasang masuk melalui saluran primer
dan terus ke sekunder pemberi, menuju tersier yang akhirnya
lahan usaha tani. Pada kondisi air berlebih, air dari lahan akan
keluar melalui tersier pembuang dan terus menuju sekunder
pembuang. Sistem ini akan berjalan dengan abik bila sistem tata
air dilengkapi dengan pintu pengendali (Imanuddin, 2002).
Sistem tata air juga terdapat sistem tata air mikro. Sistem
pengelolaan tata air mikro berfungsi untuk: 1) mencukupi
kebutuhan

evapotranspirasi

tanaman,

2)

mencegah

pertumbuhan gulma pada pertanaman padi sawah, 3) mencegah


terbentuknya

bahan

beracun

bagi

tanaman

melalui

penggelontoran dan pencucian, 4) mengatur tinggi muka air, dan


(5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan saluran. Untuk
memperlancar keluar masuknya air pada petakan lahan yang
sekaligus untuk mencuci bahan beracun (Suriadikarta, 2005).
3.5 Kondisi Sifat Fisik Tanah
Tanah merupakan media tumbuh tanaman. Kondisi tanah
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Tanah
tersusun atas bahan organik, bahan mineral, air dan udara. Di
lahan pasang surut akan selalu berhubungan dengan keberadaan
air. Permeabilitas merupakan kemampuan media porus dalam hal
ini adalah tanah untuk melolosan zat cair (air hujan) baik secara

lateral maupun vertikal. Tingkat permeabilitas tanah (cm/jam)


merupakan fungsi dari berbagai sifat fisik tanah.
2.4.1

Keterhantaran Hidrolik Tanah


Keterhantaran hidrolik tanah diartikan sebagai ukuran

kemampuan

tanah

untuk

mengalirkan

air

dalam

suatu

perbandingan potensial hidrolik (Susanto dan Purnomo, 1996).


Jumlah air yang dapat melewati suatu lapisan tanah sangat
ditentukan oleh konduktivitas hidrolik tanah. Tanah dengan
konduktivitas hidrolik tinggi akan mudah disusupi air, sehingga
cepat mengering. Dengan demikian, bahan terlarut yang di
kandung air tanah akan mudah bergerak di dalam tanah
bersama pergerakan air di dalam tanah. Sebaliknya, tanah
dengan

konduktivitas

hidrolik

rendah

akan

relatif

mudah

tergenang.
Berbagai metode telah dikembangkan untuk penentuan
konduktivitas hidrolik tanah di lapangan. Di antara metode
tersebut adalah: (1) metode untuk tanah dengan permukaan air
tanah dangkal, dan (2) metode untuk tanah dengan permukaan
air tanah dalam. (Fahmudin dan Husein, 2006).
Dalam Tabel 2.1 berikut ini merupakan kriteria dari
pengukuran keterhantaran hidrolik tanah di lapangan dalam
satuan cm/jam.
Tabel 2.1. Kriteria Keterhantaran Hidrolik Tanah
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Kriteria Keterhantaran Hidrolik Tanah


(cm/jam)
<0,54
0,54 - 2,08
2,08 - 8,33
8,33 - 26,45
26,45 - 53

Kelas
Lambat
Sangat Lambat
Lambat
Sedang
Agak Sedang
Sedang
Agak Cepat
Cepat

9
10

53 - 105,83
> 105,83

Cepat
Sangat Cepat

Sumber : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (2000)

Salah

satu

metode

yang

dapat

digunakan

untuk

pengamatan keterhantaran hidrolik di lapangan adalah metode


auger hole. Menurut Susanto (2004), metode auger hole adalah
metode yang cepat, sederhana dan dapat dipercaya untuk
pengukuran keterhantaran hidraulik lapisan tanah yang berada di
bawah muka air tanah.
Susanto (2004) juga menjelaskan bahwa metode auger
hole memberikan nilai permeabilitas rata-rata lapisan tanah dari
muka air tanah sampai beberapa sentimeter dibawah lubang
auger. Jika ada lapisan kedap pada dasar lubang auger maka nilai
K ditentukan oleh lapisan-lapisan di atas lapisan kedap ini. Nilai
keterhantaran

hidraulik

tanah

(K)

dapat

dihitung

dengan

persamaan :

K=

4000 r.dY
(H/r + 20) (2-Y/H) Y.dt

Dimana :
K= Keterhantaran Hidraulik
H= Dalam lubang di bawah muka air tanah
Y= Jarak antara muka air tanah dan ketinggian air rata-rata di
bawah lubang pada selang waktu dt
r = Jari-jari lubang auger
S= Kedalaman lapisan kedap dari bagian bawah/dasar lubang
auger yang mempunyai permeabilitas 10 kali lebih rendah dari
lapisan atasnya.
Persamaan

tersebut

diperoleh

dari

tanah

homogen

dengan lapisan kedap air pada kedalaman tertentu, S H, di

bawah bagian dasar dari lubang auger (Ernest, 1950 dalam


Susanto 2004).
2.4.2 Tekstur Tanah
Tekstur

tanah

diduga

merupakan

salah

satu

yang

berpengaruh terhadap keterhantaran hidrolik tanah. Tekstur


tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, debu, dan
liat, yaitu partikel tanah yang diameter efektifnya kurang lebih 2
mm. Didalam analisis tekstur, fraksi bahan organik tidak
diperhitungkan.

Bahan

organik

terlebih

dahulu

didektruksi

dengan hidrogen peroksida. Tekstur tanah dapat dinilai secara


kualitatif dan kuantitatif. Cara kualitatif biasa digunakan surveyor
tanah dalam menetapkan kelas tekstur tanah di lapangan
(Fahmuddin, et.al, 2006).
Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai
pori-pori makro, tanah yang didominasi debu akan banyak
mempunyai pori-pori meso, sedangkan yang didominasi liat akan
mempunyai

pori-pori

mikro.

Tanah

bertekstur

merupakan peralihan tanah pasir dan liat.

lempung

(Kesumaningwati,

2005).
Tekstur Iempung mempunyai kemampuan untuk menahan
air dan unsur hara, tekstur lempung juga tidak terlalu lekat dan
keras sehingga mudah diolah, khususnya pada lahan yang lebih
sering tergenang, sering dianggap sebagai tanah optimal bagi
pertumbuhan

tanaman

dan

produksi

pertanian

karena

kemampuan tanah untuk menahan air dan unsur hara lebih baik
dibandingkan dengan tanah pasir ( Naning, et.al, 2008).

BAB 3
PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan
pada bulan April 2015 sampai Oktober 2015. Pelaksanaan
kegiatan lapangan dilakukan di desa Bangun sari, kecamatan
Tanjung lago, Kabupaten Banyuasin. Untuk analisis kondisi tanah
yang diamati dilakukan di laboratorium fisika dan konservasi
tanah jurusan ilmu tanah fakultas pertanian universitas sriwijaya.
Letak geografis kabupaten Banyuasin berada pada posisi
antara 1,300 4,00 lintang selatan dan 1040 40' 1050 15' bujur
timur.

Batas

wilayah

kabupaten

Banyuasin

sebelah

utara,

kabupaten Tanjung jabung timur (Jambi) dan selat bangka.


Sebelah timur, kecamatan Pampangan dan kecamatan Air
sugihan (Ogan Komering Ilir). Sebelah selatan, kecamatan
Pemulutan (Ogan Ilir), kecamatan Jejawi (Ogan Komering Ilir),
kota

Palembang,

kecamatan

Sungai

rotan,

kecamatan

Gelumbang, kecamatan Muara belida (Muara Enim). Sebelah


barat, Kecamatan Sungai lilin, Lais dan kecamatan lalan (Musi
Banyuasin). Luas wilayah Kabupaten Banyuasin 11.832,99 km2
yang terdiri dari 19 Kecamatan. (Bamin, 2012).
Lokasi penelitian ini cukup dekat dengan kota Palembang
yaitu terletak di Delta telang II, hanya berjarak 45 km menuju
ke arah Tanjung Api- api, dan dapat ditempuh dengan kendaraan
roda empat maupun kendaraan roda dua. Kendaraan pribadi
dapat langsung menuju lokasi. Lokasi penelitian yaitu terletak
administratif di desa Bangun sari, termasuk ke dalam Kecamatan
Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin.

Pada

Gambar

3.1

merupakan

lokasi

penelitian

ini

dilaksanakan, Secara administratif desa Bangun sari berbatasan


dengan beberapa desa yang di antaranya yaitu :
1. Sebelah Utara dengan Desa Karang Baru
2. Sebelah Selatan dengan Desa Sukadamai dan Desa Tanjung
Lago
3. Sebelah Timur dengan Desa Banyu Urip
4. Sebelah Barat dengan Desa Mekar Mukti

Lokasi
Peneliti
an
Sumber http://www.bappeda.banyuasinkab.go.id/

Gambar 3.1. Lokasi Penelitian


3.2 Bahan dan Metoda
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1) bor belgie, 2) meteran, 3) kamera digital, 4) kuisioner, 5)
munsell soil color charts, 6) air, 7) tongkat dengan ukuran

meter, 8) GPS, 9) seperangkat alat inverse auger hole, 10)


aplikasi QGIS, 11) papan piscal, 12) tanah yang telah di kering
anginkan, 13) alat dan bahan penentuan tekstur di laboratorium
dengan metode hidrometer.

Pada umumnya penelitian ini menggunakan metode


survei deskriptif. Pola penggunaan lahan pertanian diamati
secara langsung di lapangan dari mulai tersier 1 hingga ke
tersier 8 dengan luas areal 120 Hektar. Pengamatan yang
dilakukan yaitu mengamati sebaran pola penggunaan lahan pada
MT I dan MT II yang dilakukan beserta tahapan kegiatannya pada
MT II di desa Bangun sari.
Penelitian jaringan tata air dilakukan di saluran pedesaan
(SPD), saluran drainase utama (SDU) dan saluran tersier (Tc).
Adapun parameter yang diamati yaitu diantaranya megamati
kondisi jaringan tata air yang ada, mengamati infrastruktur yang
ada di saluran dan melakukan pengukuran dimensi saluran di
saluran pedesaan (SPD), saluran drainase utama (SDU) dan
saluran tersier (Tc).
Pengambilan contoh tanah dilakukan untuk pengamatan
beberapa sifat fisik tanah. Adapun cara yang

dilakukan yaitu

pada

setiap masing-masing SPT. SPT diambil dari hasil pengamatan di Desa


Bangun Sari pada (Wahyu, 2015) dapat dilihat pada lampiran.

3.2.1 Persiapan Sebelum Kegiatan di Lapangan


Kegiatan pada tahap ini berupa konsultasi pendahuluan,
pengumpulan literatur, penyiapan alat-alat yang diperlukan pada
saat kegiatan lapangan serta persiapan administrasi yang
diperlukan.
3.2.2 Kegiatan di Lapangan
Pada tahan kegiatan di lapangan ini terbagi menjadi 3
(tiga) tahapan yang diantaranya yaitu :
1. Persiapan
Sebelum melakukan survai utama atau pengumpulan
data, dilakukan survei pendahuluan yang bertujuan untuk

mengetahui kondisi umum lokasi penelitian. Survei pendahuluan


meliputi kegiatan :
1. Melakukan

observasi

di

daerah

penelitian

untuk

mendapatkan informasi dan data tentang kondisi lokasi


penelitian
2. Menentukan titik pengamatan.
2. Pelaksanaaan di lapangan
Setelah survei pendahuluan telah selesai dilakukan maka
diteruskan dengan pengumpulan data. Pengumpulan data dibagi
kedalam

kelompok

data

primer

dari

lapangan

dan

pengumpulan data sekunder sebagai pendukung data primer.


Pengumpulan data primer diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Pengamatan kegiatan usaha tani
Pengamatan

kegiatan

usaha

tani

dilakukan

dengan

melihat secara langsung di lapangan, selain itu melakukan


wawancara dengan petani di blok sekunder P17-8S. Pengamatan
ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kegiatan yang
dilakukan pada MT I dan MT II serta permasalahan yang dihadapi
dalam melakukan kegiatan usaha tani. Selain itu, pengamatan ini
juga di lakukan untuk mengetahui tahapan-tahapan budidaya
yang dilakukan pada saat kegiatan usaha tani berlangsung.
2. Pengukuran dimensi saluran
Parameter

yang

diamati

dalam

pengukuran dimensi

saluran yaitu Pengukuran lebar atas saluran, lebar bawah saluran


dan kedalaman saluran dilakukan pada tiga titik pengamatan
yaitu di pangkal saluran, di tengah saluran, dan di ujung saluran
seperti pada gambar 2.3.
Pengukuran panjang saluran sekunder diukur sampai
dengan batas tersier 8 dari 14 saluran tersier yang ada dalam
satu blok sekunder P17-8S. Pengukuran panjang saluran tersier

dibatasi oleh dua saluran sekunder. Jumlah tersier yang diamati


berjumlah 8 tersier dari 14 tersier yang ada.

Titik pengamatan

Saluran

Gambar 3.2. Pengukuran dimensi saluran


3. Pengamatan keterhantaran hidrolik tanah di lapangan
Pengukuran keterhantaran hidraulik tanah diamati dengan
menggunakan

metode

invers

auger

hole.

Pengamatan

ini

dilakukan pada titik pengamatan sesuai dengan satuan petak


tanah yangtelah di buat. Pada

satuan petak tanah dilakukan

pengamamatan 1 sampel dengan di lakukan 3 kali ulangan.


Keterhantaran Hidrolik dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut ini :

K=

4000 r.dY
(H/r + 20) (2-Y/H) Y.dt

Dimana :
K= Keterhantaran Hidraulik
H= Dalam lubang di bawah muka air tanah
Y= Jarak antara muka air tanah dan ketinggian air rata-rata di
bawah lubang pada selang waktu dt
r=

Jari-jari lubang auger

S= Kedalaman lapisan kedap dari bagian bawah/dasar lubang


auger yang mempunyai permeabilitas 10 kali lebih rendah
dari lapisan atasnya.
4. Pengambilan contoh tanah

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalaman 20


cm dan 40 cm. Pengambilan contoh tanah sebanyak 1 kg untuk
dilakukan analisis tekstur tanah yang dilakukan di laboratorium
dengan metode hidrometer.
5. Pengumpulan data sekunder
Dilakukan

dengan

menghubungi

secara

langsung

instalansi yang terkait. Pada penelitian ini data sekunder yang


diperlukan yaitu data curah hujan. Data curah hujan diperoleh
dari badan meteorologi geofisika dan klimatologi (BMKG) kelas 1
kenten palembang untuk wilayah kecamatan Tanjung lago.
3.2.3 Kegiatan di Laboratorium
Kegiatan yang dilakukan di laboratorium yaitu penentuan
tekstur tanah. Penentuan tekstur tanah dilakukan dengan
metode hidrometer. Adapun cara kerja penentuan tekstur ini
adalah :
1. Kering anginkan tanah selama 2-3 hari tergantung cuaca,
lalu

haluskan

menggunakan

mortal

kemudian

ayak

menggunakan ayakan 1.4 mm.


2. Timbang tanah yang telah di kering angin kan sebanyak 50
gram, Siapkan gelas ukur 1000 ml lalu masukkan aquadest
sebanyak 500 ml, masukkan tanah yang telah di timbang
lalu tambahkan larutan calgon sebanyak 10 ml.
3. Aduk menggunakan Mixer atau magnetic stirrer selama 30
menit.
4. Masukkan kedalam tabung silinder 1000 ml, bersihkan tanah
yang tersisa menggunakan hand sprayer lalu tambahkan
aquadest sampai 1130 ml.
5. Aduk sebanyak 20x lalu masukkan hydrometer.
6. Pembacaan dilakukan pada 40 detik (R1) dan 120 menit
(R2).
3.2.4 Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati meliputi :

1.

Kondisi Saluran sekunder, tersier, kuarter dan cacing.

2.

Kondisi penggunaan lahan pertanian.

3.

Beberapa sifat fisik tanah

3.2.5 Pegolahan data


Data-data yang telah diperoleh dari hasil survei dan
pengamatan di lapangan kemudian diolah, disajikan dalam
bentuk tabel dan gambar kemudian disusun dalam bentuk
laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Alihamsyah, T., 2004. Potensi Dan Pendayagunaan Lahan Rawa
Untuk Peningkatan Produksi Padi. Ekonomi Padi Dan
Beras

Indonesia.

Dalam

Faisal

Kasrino,

Effendi

Pasandaran dan A.M. Fagi (Penyuting). Badan Litbang


Pertanian , Jakarta.
Ananto. E. E., dan Abdurachman. 2000. Konsep Pengembangan
Pertanian
Mendukung
Agribisnis.

Berkelanjutan

di

Ketahanan

Pangan

Seminar

Lahan
dan

Nasional

Rawa

untuk

Pengembangan

Penelitian

dan

Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa. Bogor, 2527


Juli 2000. 23 hlm.
Bamin, A. I., 2012, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Dan Penanaman Modal Pemerintah Kabupaten Banyuasin
Provinsi

Sumatera

Selatan

Tahun

2014,

www.bappeda.banyuasinkab.go.id, Diakses Tanggal 20


Mei 2015 Jam 20.00 Wib
Darmawi, R. Sipahutar, S. M. Bernas, dan M. S. Imanuddin. 2012.
Hambatan Dan Tantangan Pemanfaatan Aliran Air Pada
Saluran Irigasi Sekunder Untuk Memompakan Air Ke
Lahan Persawahan Sebagai Dukungan Bagi Pengelolaan
Lahan Sub Optimal. Di dalam

Pengelolaan Agribisnis

Pangan Pola Korporasi Pada lahan Sub Optimal. Prosiding


Seminar Nasional

Dan Rapat Tengah Tahun (PERHEPI).

ISBN: 978-979-8420-12-2.
Djafar, ZR. 1992. Potensi lahan rawa lebak untuk pencapaian dan
pelestarian

swasembada

pangan.

Makalah

Seminar

Nasional Teknologi Pemanfaatan Lahan Rawa untuk


Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan. UNSRI
Palembang.

Fahmuddin, A., Yusrizal, dan Sutono. 2006. Sifat Fisik Tanah Dan
Metode Analisisnya. Balai Besar Litbang Sumberdaya
Lahan Pertanian, Badan Penelitian Dan Pengembangan
Pertanian Departemen Pertanian. Hal : 43.
Hardjoamidjojo, S., dan B. I. Seriawan, 2001, Pengembangan Dan
Pengelolaan
Air Di Lahan Basah, Buletin Keteknikan Pertanian, Bogor,
Vol. 15, No. 1.
Ibrahim, B., 2013, Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJMD
Kabupaten Banyuasin 2014-1018, Badan Lingkungan
Hidup Selaku Ketua Pokja PL, Kabupaten Banyuasin.
Imanuddin, M. S. 2002. Laporan Survei Lapangan Bidang Iklim
Hidrologi, Jaringan Tata Air dan Sosial Infrastruktur,
Daerah Reklamasi RAwa Pasang Surut Telang I, Sumatera
Selatan. Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan.
Indralaya.
Kesumaningwati, R., 2005, Studi Beberepa Sifat Fisik Tanah dan
Perhitungan Debit Air pada Areal Persaawahan di Dusun
Margasari

Desa

Jembayan

Kecamatan

Loa

Kulu

Kabupaten Kutai Kartanegara, Laporan Penelitian pada


Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Samarinda.
Naning, M. I., S. M. Bernas, D. P. Sulistiyawati Dan S. Nurul. A. F.
2008. Evaluasi Lahan RawA Lebak Dalam Menentukan
Pola Irigasi Dan Kesesuaiannya Untuk Tanaman Padi
Sawah. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan
Ilmu Tanah Indonesia. Palembang.
Ngudiantoro. 2009. Kajian Penduga Muka Air Tanah Untuk
Mendukung Pengelolaan Air Pada Pertanian Lahan Rawa
Pasang Surut:Kasus Di Sumatera

Selatan. Disertasi

Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan


Lingkungan Institut Pertanian Bogor.Bogor

Saragih, S., Idiajanto Ar-Riza dan M. Noer. 1996.


Alternatif

Pola

Pemanfaatan

Tanam

Lahan

Mendukung

Pasang

Surut

Beberapa
Optimalisasi

untuk

Tanaman

Pangan. Prosiding Seminar Teknologi Sistem Usaha Tani


Lahan Rawa dan Lahan Kering. Balitra.
Subagyo. 2006. Lahan rawa pasang surut. Dalam Karakteristik
dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.
Suciantini, Impron, dan R. Boer, 2008, Penilaian Risiko Iklim Pada
Sisitem Pertanian Ekosistem Lahan Rawa Pasang Surut, J.
Agromet, Vol. 22, No. 2 : 118-131.
Sugeng, S. 1992. Pengembangan dan Pemanfaatan Rawa di
Indonesia. Prosiding: Seminar Nasional Pemanfaatan
Potensi Lahan Rawa untuk Pencapaian dan Pelestarian
Swasembada

Pangan.

Fakultas

Pertanian

Unsri.

Palembang.
Sulistiyani, D. P., A. Napoleon, Dan A.G. Putra, 2014, Penilaian
Kualitas Tanah Pada Lahan Rawa Pasang Surut Untuk
Tanaman Jagung (Zea mays L) Di Desa Banyu Urip
Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, ISBN :
979-587-529-9, Hal 814
Suriadikarta, D. A. 2005. Pengelolaan Lahan Sulfat Masam Untuk
Usaha Pertanian. Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Tanah dan Agroklimat, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor
16123. Jurnal Litbang Pertanian , 24-1.p
Suriadikarta, D. A., dan M. T. Sutriadi, 2007, Jenis-Jenis Lahan
Berpotensi Untuk Pengembangan Pertanian Di Lahan
Rawa, Balai Penelitian Tanah, Jurnal Litbang Pertanian,
Bogor, Vol. 26, No. 3.
Susanto,

R.

H.,

2010,

Strategi

Pengelolaan

Rawa

Untuk

Pembangunan Pertanian Berkelanjutan, Jurusan Tanah

Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Indralaya, Hal


21-31
Susanto,

R.H.

dan

Purnomo.1996.

Terjemahan

dari

Daniel

Pengantar

Hillel.

Fisika

Fakultas

Tanah.

Pertanian

Universitas Sriwijaya, Indralaya.


Susanto, R.H,.2004. METODA AUGER : Sebuah Pengukuran
Keterhantaran Hidraulik Tanah di Bawah Permukaan Air
Tanah (Sebuah Terjemahan dari : THE AUGER METHOD, a
field measurement of the hydraulic conductivity of soil
the water table W.F.J van beers, 1993. ILRI, The
Nedherland). Bahan Bacaan Irigasi dan Drainase Lahan
Fakultas Pertanian. UNSRI. 001-1998
Supriadi. 2005. Potensi dan Prospek Lahan Rawa Sebagai Sumber
Produksi Pertanian. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian.
Vol (3) : 141- 151. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Pertanian.

Badan

Penelitian

dan

Pengembangan

Pertanian. Departemen Pertanian.


Suwarno,

T.

Alihamsyah,

pemanfaatan

dan

lahan

I.G.

rawa

Ismail.

2000.

pasang

Optimasi

surut

dengan

penerapan teknologi sistem usaha tani terpadu. Dalam


E.E.

Ananto,

I.G.

Ismail,

Subagio,

Suwar

no,A.

Djajanegara, dan H. Supriadi (Ed.). Prosiding Seminar


Nasional Penelitian dan Pengembangan Pertanian di
Lahan Rawa. Cipayung, 2527 Juli 2000. Buku I. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

LAMPIRAN
1. Gambar Lokasi Delta Telang II

Lokasi
Penelitia
n

2. Gambar Blok Sekunder P17-8S

3. Gambar SPT

Beri Nilai