Anda di halaman 1dari 20

Makalah PBL Blok 13

Tumbuh Kembang

Imunisasi Rutin pada Balita

Catherine Dorinda C
NIM 102011293 C-2
Fakultas Kedokteran Ukrida
Tahun Ajaran 2013/2014

Tumbuh Kembang

Imumisasi Rutin pada Balita


Catherine Dorinda C
NIM 102011293
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida

* Alamat korespondensi
Catherine Dorinda C
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
No. Telp 087889076189, e-mail : catherinedorindac@hotmail.com

Pendahuluan
Seorang bayi laki-laki berusia 2 bulan dibawa ibunya ke puskesmas untuk mendapatkan
imunisasi rutin. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu yang tidak memiliki komplikasi selama
kehamilan dan selama ini sehat serta aktif.
Peristiwa tumbuh kembang pada anak meliputi seluruh proses kejadian sejak terjadi
pembuahan sampai masa dewasa. Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa
yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Dalam memaksimalkan tumbah kembang diperluakan usaha untuk mengukur
tumbuh kembang salah satunya dengan antopometri dan melindungi anak dari penyakit
infeksi dengan imunisasi. Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas anamnesis, pemeriksaan
dan penetalaksanaan yang bertujuan untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak.

Pembahasan
1. Anamnesis

Anmnesis merupakan wawancara yang seksama terhadap pasien atau keluarga dekatnya
mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan kesehatan.
Perpaduan keahlian mewawancarai dan pengetahuan yang mendalam tentang gejala
(simptom) dan tada (sign) dari suatu penyakit akan memberikan hasil yang memuaskan
dalam menentikan diagnosis kemungkinan sehingga membantu dalam menentukan langkah
pemeriksaan selanjutnya. 1
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau
Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab
semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis
terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang
sesungguhnya dia rasakan, namun dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat
dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab
pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan
permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis
atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersamasama auto dan alloanamnesis. 1
Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluahan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit terdahulu, riwayat obstri dan ginekologi (khusus wanita). Riwayat penyakit
dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial
ekonomi, budaya, kebiasaaan, obat-obatan dan ingkungan). 1
Identitas anak meliputi nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua atau anggota keluarga
terdekat sebagai penanggung jawab, alamat, pendidikan orang tua , pekerjaan orang tua, suku
bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memeastikan bahwa pasien yang
dimaksud dan sebagai data penelitian. 1
Beberapa hal penting yang penting ditanyakan dalam anamnesis untuk anak (bayi dan balita
adalah sebagai berikut:2-4

a. Anamnesis faktor pranatal dan perinatal

Merupakan faktor yang penting untuk mengetahui perkembangan anak. Anamnesis harus
menyangkut faktor risiko untuk terjadinya gangguan perkembangan fisik dan mental
anak, termasuk faktor risiko untuk bota, tuli, palsi serebralis, dll. Anamnesis juga
menyangkut penyakit keturunan dan apakah ada perkawinan antar keluarga. 2-4
b. Kelahiran prematur
Harus dibedakan antara bayi prematur (SMK = Sesuai Masa Kehamilan) dan bayi dimatur
(KMK = Kecil Masa Kehamilan) dimana telah terjadi retradasi pertumbuhan intrauterin.
Pada bayi prematur, karena dia lahir lebih cepat dari kelahiran normal, maka harus
diperhitungakn pertumbuhan intrauterin yang tidak sempat dilalui tersebut. Contoh, bayi
ahir 3 bulan prematur (umur kehamilan 6 bulan), tidak dapat dibandingkan dengan bayi
usia 6 bulan, maka yang dilakuakn adalah pemeriksaan bayi berusia 3 bulan. 2-4
c. Anamnesis harus menyangkut faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan
anak.
Misalnya untuk meneliti perkembangan motorik pada anak, harus ditanyakan berat
badanya, karena erat hubungannya dengan perkembangan motorik tersebut. Untuk
menanyakan kemampuan menolong sendiri, misalnya makan, berpakaian dll. Harus pula
ditanyakan apakah ibunya memberikan kesempatan pada anak untuk belajar itu. 2-4
d. Anamnesis kecepatan pertumbuhan anak.
Merupakan informasi yang sangat penting yang harus ditanyakan pada ibunya pada saat
kali datang. Anamnesis yang teliti tentang milestone perkembangan anak, dapat
mengetahui tingkat perkembangan anak tersebut. 2-4
2. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan fisik bayi
Pemeriksaan fisik pada bayi, merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh bidan,
perawat, atau dokter untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir,
24 jam setelah lahir, dan pada waktu pulang dari rumah sakit. Dalam melakukan pemeriksaan
ini sebaiknya bayi dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang, sehingga bayi tidak
mudah kehilangan panas. Tujuan pemeriksaan fisik secara umum pada bayi adalah menilai
status adaptasi atau penyesuaian kehidupan intrauteri ke dalam kehidupan ekstrauteri serta

mencari kelainan pada bayi. Adapun petneriksaan fisik yang dapat dilakukan pada bayi antara
lain sebagai berikut:2-5
-

Hitung frekuensi napas. Pemeriksaan frekuensi napas ini dilakukan dengan menghitung
rata-rata pernapasan dalam satu menit. Pemeriksaan ini dikatakan normal pada bayi baru
lahir apabila frekuensinya antara 30-60 kali per menit, tanpa adanya retraksi dada dan
suara merintih saat ekspirasi, tetapi apabila bayi dalam keadaan lahir kurang dari 2.500
gram atau usia kehamilan kurang dari 37 minggu, kemungkinan terdapat adanya retraksi
dada ringan. Jika pernapasan berhenti beberapa detik secara periodik, maka masih

dikatakan dalam batas normal. 2-5


Hitung denyut jantung bayi dengan menggunakan stetoskop. Pemeriksaan denyut jantung
untuk menilai apakah bayi mengalami gangguan vang menyebabkan jantung dalam
keadaan tidak normal, seperti suhu tubuh yang tidak normal, perdarahan, atau gangguan
napas. Pemeriksaan denyut jantung ini dikatakan normal apabila frekuensinya antara 100160 kali per menit, dalam keadaan normal apabila di atas 60 kali per menit dalam jangka
waktu yang relatif pendek, beberapa kali per hari, dan terjadi selama beberapa hari

pertama jika bayi mengalami distres. 2-5


Ukur suhu aksila. Lakukan pemeriksaan suhu melalui aksila untuk menentukan apakah
bayi dalam keadaan hipo atau hipertermi. Dalam kondisi normal suhu bayi antara 36,5-

37,5 derajat celcius. 2-5


Kaji postur dan gerakan. Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya
epistotonus/hiperekstensi tubuh yang berlebihan dengan kepala dan tumit ke belakang,
tubuh melengkung ke depan, adanya kejang/ spasme, serta tremor. Pemeriksaan postur
dalam keadaan normal apabila dalam keadaan istirahat kepalan tangan longgar dengan
lengan panggul dan lutut semi fleksi. Selanjutnya pada bayi berat kurang dari 2.500 gram
atau usia kehamilan kurang dari 37 minggu ekstremitasnya dalam keadaan sedikit
ekstensi. Apabila bayi letak sungsang, di dalam kandungan bayi akan mengalami fleksi
penuh pada sendi panggul atau lutut/sendi lutut ekstensi penuh, sehingga kaki bisa
mencapai mulut. Selanjutnya gerakan ekstremitas bayi harusnya terjadi secara spontan
dan simetris disertai dengan gerakan sendi penuh dan pada bayi normal dapat sedikit

gemetar. 2-5
Periksa tonus atau kesadaran bayi. Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat adanya
letargi, yaitu penurunan kesadaran di mana bayi dapat bangun lagi dengan sedikit
kesulitan, ada tidaknya tones otot yang lemah, mudah terangsang, mengantuk, aktivitas
berkurang, dan sadar (tidur yang dalam tidak merespons terhadap rangsangan).

Pemeriksaan ini dalam keadaan normal dengan tingkat kesadaran mulai dari diam hingga
-

sadar penuh serta bayi dapat dibangunkan jika sedang tidur atau dalam keadaan diam. 2-5
Pemeriksaan ekstremitas. Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan
ekstremitas abnormal, asimetris, posisi dan gerakan yang abnormal (menghadap ke dalam
atau ke luar garis tangan), serta menilai kondisi jari kaki, yaitu jumlahnya berlebih atau

saling melekat. 2-5


Pemeriksaan kulit. Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya kemerahan
pada kulit atau pembengkakan, postula (kulit melepult), luka atau trauma, bercak atau
tanda abnormal pada kulit, elastisitas kulit, serta ada tidaknya main popok (bercak merah
terang dikulit daerah popok pada bokong). Pemeriksaan ini normal apabila tanda seperti
eritema toksikum(titik merah dan pusat putih kecil pada muka, tubuh, dan punggung)

pada hari kedua atau selanjutnya, kulit tubuh yang terkelupas pada hari pertama. 2-5
Pemeriksaan tali pusat. Pemeriksaan ini unluk melihat apakah ada kemerahan, bengkak,
bernanah, berbau, atau lainnya pada tali pusat. Pemeriksaan ini normal apabila warna tali
pusat putih kebiruan pada hari pertama dan mulai mengering atau mengecil dan lepas

pada hari ke-7 hingga ke-10. 2-5


Pemeriksaan kepala dan leher . Pemeriksaan bagian kepala yang dapat diperiksa antara
lain sebagai berikut: 2-5
Pemeriksaan rambut dengan menilai jumlah dan warna, adanya lanugo terutama pada

daerah bahu dan punggung.


Pemeriksaan wajah dan tengkorak, dapat dilihat adanya maulage, yaitu tulang
tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir untuk dilihat asimetris atau tidak.
Ada tidaknya caput succedaneum (edema pada kulit kepala, lunak dan tidak
berfluktuasi, batasnya tidak tegas, serta menyeberangi sutura dan akan hilang dalam
beberapa hari). Adanya cephal hematom terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tampak
pada hari pertama karena tertutup oleh caput succedaneum, konsistensinya lunak,
berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi hilang tengkorak, tidak menyeberangi sutura,dan
apabila menyeberangi sutura akan mengalami fraktur tulang tengkorak yang akan
hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan. Adanya perdarahan yang terjadi karena
pecahnya vena yang menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak,
batasnya tidak tegas, sehingga bentuk kepala tampak asimetris. Selanjutnya diraba
untuk menilai adanya fluktuasi dan edema. Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai
fontanella dengan cara melakukan palpasi menggunakan jari tangan, kemudian
fontanel posterior dapat dilihat proses penutupannya setelah usia 2 bulan, dan fontanel
anterior menutup saat usia 12-18 bulan.
6

Pemeriksaan mata untuk menilai adanya strabismus atau tidak, yaitu koordinasi
gerakan mata yang belum sempurna. Cara memeriksanya adalah dengan
menggoyangkan kepala secara perlahan-lahan, sehingga mata bayi akan terbuka,
kemudian baru diperiksa. Apabila ditemukan jarang berkedip atau sensitivitas
terhadap cahaya berkurang, maka kemungkinan mengalami kebutaan. Apabila
ditemukan adanya epicantus melebar, maka kemungkinan anak mengalami sindrom
down. Pada glaukoma kongenital, dapat terlihat pembesaran dan terjadi kekeruhan
pada kornea. Katarak kongenital dapat dideteksi apabila terlihat pupil yang berwarna
putih. Apabila ada trauma pada mata maka dapat terjadi edema palpebra, perdarahan

konjungtiva, retina, dan lain-lain.


Pemeriksaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan pendengaran.
Dilakukan dengan membunyikan bel atau suara jika terjadi refleks terkejut, apabila

tidak terjadi refleks, maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran.


Pemeriksaan hidung dapat dilakukan dengan cara melihat pola pernapasan, apabila
bayi bernapas melalui mulut, maka kemungkinan bayi mengalami obstruksi jalan
napas karena adanya atresia koana bilateral atau fraktur tulang hidung atau
ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Sedangkan pernapasan cuping hidung akan
menujukkan gangguan pada paru, lubang hidung kadang-kadang banyak mukosa.
Apabila sekret mukopurulen dan berdarah, perlu dipikirkan adanya penyakit sifilis

kongenital dan kemungkinan lain.


Pemeriksaan mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang ada pada
mukosa mulut. Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna dan kemampuan refleks
mengisap. Apabila ditemukan lidah yang menjulur keluar, dapat dilihat adanya
kemungkinan kecacatan kongenital. Adanya bercak pada mukosa mulut, palatum, dan
pipi bisanya disebut sebagai monilia albicans, gusi juga perlu diperiksa untuk menilai

adanya pigmen pada gigi, apakah terjadi penumpukan pigmen yang tidak sempurna.
Pemeriksaan leher dapat dilakukan dengan melihat pergerakan, apabila terjadi
keterbatasan dalam pergerakannya, maka kemungkinan terjadi kelainan pada tulang

leher, misalnya kelainan tiroid, hemangioma, dan lain-lain.


Pemeriksaan Abdomen dan Punggung. Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi
pemeriksaan secara inspeksi untuk melihat bentuk dari abdomen, apabila didapatkan
abdomen membuncit dapat diduga kemungkinan disebabkan hepatosplenomegali atau
cairan di dalam rongga perut. Pada perabaan, hati biasanya teraba 2 sampai 3 cm di
bawah arkus kosta kanan, limfa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri. Pada palpasi ginjal
dapat dilakukan dengan pengaturan posisi telentang dan tungkai bayi dilipat agar otot-otot
7

dinding perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal dapat diraba setinggi umbilikus
di antara garis tengah dan tepi perut. Bagian-bagian ginjal dapat diraba sekitar 2-3 cm.
Adanya pembesaran pada ginjal dapat disebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan, atau
trombosis vena renalis. Untuk menilai daerah punggung atau tulang belakang, cara
pemeriksaannya adalah dengan meletakkan bayi dalam posisi tengkurap. Raba sepanjang
tulang belakang untuk mencari ada atau tidaknya kelainan seperti spina bifida atau
mielomeningeal (defek tulang punggung, sehingga medula spinalis dan selaput otak
menonjol). 2-5
Pengukuran Antropometri
Pengukuran antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia
dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan normanorma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri dilakukan
pada anak-anak untuk menilai tumbuh kembang anak sehingga dapat ditentukan apakah
tumbuh kembang anak berjalan normal atau tidak. Ketepatan dan ketelitian pengukuran
sangat penting dalam menilai pertumbuhan secara benar. Kesalahan atau kelalaian dalam
cara pengukuran akan mempengaruhi hasil pengamatan. 2,3,5
Pada bayi baru lahir, perlu dilakukan pengukuran antropometri seperti berat badan,
dimana berat badan yang normal adalah sekitar 2.500-3.500 gram, apabila ditemukan
berat badan kurang Bari 2.500 gram, maka dapat dikatakan bayi memiliki berat badan
lahir rendah (BBLR). Akan tetapi, apabila ditemukan bavi dengan berat badan lahir lebih
dari 3.500 gram, maka bayi dimasukkan dalam kelompok makrosomia. Pengukuran
antropometri lainnya adalah pengukuran panjang badan secara normal, panjang badan
bayi baru lahir adalah 45-50 cm, pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm,
pengukuran lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm. Apabila ditemukan diameter kepala
lebih besar 3 cm dari lingkar dada, maka bayi mengalami hidrosefalus dan apabila
diameter kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar dada, maka bayi tersebut mengalami
mikrosefalus. 2-5
Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut :
Pengukuran Berat Badan
Berat badan merupakan indikator untuk keadaan gizi anak. Gangguan pada berat badan
biasanya menggambarkan gangguan yang bersifat perubahan akut/jangka pendek. 2,3,5
Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama: 2,3,5
8

Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena

perubahan konsumsi makanan dan kesehatan


Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan

gambaran pertumbuhan
Umum dan luas dipakai di Indonesia
Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur
Digunakan dalam KMS
BB/TB merupakan indeks yang tidak tergantung umur
Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi ( dacin )

Ada bebrapa macam cara pengukuran berat badan yaitu: 2,3,5


o Pengukuran berat badan menggunakan timbangan menggunakan timbangan bayi :

Untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun

Letakkan timbangan pada meja datar, tidak mudah bergoyang.

Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.

Bayi sebaiknya telanjang

Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan.

Lihat jarum timbangan sampai berhenti.

Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan.

Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca


angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri.
o Pengkuran berat badan menggunakan timbangan injak
: 2,3,5
Letakkan timbangan di lantai yang datar
Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke 0
Anak pakai baju sehari-hari yang tipis (tidak pakai alas kaki, jaket, topi, jam

tangan, kalung, dan tidak memegang sesuatu)


Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi
Lihat jarum timbangan sampai berhenti
Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
Bila anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

Pengukuran Tinggi Badan/Panjang Badan


Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan
skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif pada
masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap
tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama. 2,3,5
Untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri dapat menggunakan infantometer. Cara
mengukur dengan posisi berbaring yaitu
: 2,3,5
o Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang
o Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
o Kepala bayi menempel pada pembatas angka 0.
9

o Petugas 1 : ke2 tangan pegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas
angka 0 (pembatas kepala).
o Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi dengan lengan kiri bawah agar lurus,
sedangkan tangan menjaga agar posisi kaki tetap lurus (tidak fleksi ataupun
ekstensi). Tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki.
o Petugas 2 membaca angka di tepi di luar pengukur.
Untuk anak yang sudah dapat berdiri dapat menggunakan microtoise. Cara mengukur pada
posisi berdiri yaitu

: 2,3,5

Anak tidak pakai sandal atau sepatu.


Berdiri tegak menghadap ke depan, kedua mata kaki rapat.
Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur.
Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun.
Baca angka pada batas tersebut.

Pengukuran Lingkar Kepala

Pengukuran lingkar kepala bertujuan untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas
normal atau di luar batas normal. Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan
tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar
lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Interpretasi hasil nya
adalah 2,3,5

Normal : bila lingkar kepala anak antara P2 P98

Tidak normal :
Mikrosefalus bila LK < P2
Makrosefalus bila LK > P98

Cara mengukur lingkar kepala yaitu : 2,3,5

Pita ukur diletakkan pada oksiput melingkar ke arah supraorbita dan glabela.

Baca angka pada pertemuan dengan angka 0.

Hasil dicatat pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin.

Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang.
Pengukuran Lingkar Lengan Atas

Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi karena mudah, murah dan cepat.
Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran
10

tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas
mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan status KEP (Kurang Energi
Protein) pada balita. Namun kelemahannya adalah : 2,3,5

Baku lingkar lengan atas yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang
memadai untuk digunakan di Indonesia

Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada tinggi badan

Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk
golongan dewasa.
Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan genitalia ini untuk mengetahui keadaan labium minor yang tertutup oleh
labia mayor, lubang uretra dan lubang vagina seharusnya terpisah, namun apabila
ditemukan sstu lubang maka didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada sekret pada
lubang vagina, hal tersebut karena pengaruh hormon. Pada bayi laki-laki sering
didapatkan fimosis, secara normal panjang penis pada bayi adalah 3-4 cm dan 1-1,3 cm
untuk lebaruya, kelainan yang terdapat pada bayi adalah adanya hipospadia yang
merupakan defek di bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang penisnya. Epispadia
merupakan kelainan defek pada dorsinn penis. 2-5

b. Pemeriksaan fisik anak balita


Pemeriksaan umum meliputi status kesadaran,status gizi,tanda vital dan lain-lain, berikut
adalah pemeriksaan fisik untuk anak balita: 2-5

Pemeriksaan kesadaran

Tujuan pemeriksaan ini adalah menilai status kesadaran anak.nilai kesadaran meliputi dua
jenis yaitu kesadaran kualitatif dan kesadaran kuantitatif. Kesadaran kualitatif meliputi
beberapa tingkat kesadaran yaitu: komposmetis, apatis, somnolen, sopor, koma, delirium;
sedangkan untuk kesadaran kuantitatif penilaian diukur melalui penilaian skala koma
( glasgow )yang dinyatakan dengan gcs ( glasgow coma scale ).
11

Pemeriksaan status gizi

Pemeriksaan ini dilakukan degan cara seperti memeriksa atropometik, meliputi berat badan,
tinggi badan dan lingkar lengan atas.
-

Pemeriksaan nadi

Pemeriksaan denyut nadi dilakukan pada saat keadaan tidur/ istirahat, dengan menghitung
menggunakan arloji atau stopwatch dan dicatat.
-

Pemeriksaan tekanan darah

Tujuannya adalah menilai adanya kelainan pada gangguan sistem kardiovaskuler.


Pemeriksaan

dilakukan

dengan

prosedur

palpasi

dan

auskultasi

dengan

alat

sphygmomanometer dan stetoskop.

Pemeriksaan pernapasan

Tujuan pemerisaan pernafasan untuk menilai frekuensi pernafasan,irama,kedalam dan


tipe/polapernafasan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan arloji untuk menghitung
frekuensinya.
-

Pemeriksaan suhu

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan termometer suhu tubuh di beberapa tempat yaitu di
oral, rektal dan aksila.
-

Pemeriksaan kulit,kuku,rambut,kelenjar getah bening

Pemeriksaan kulit dilakukan untuk menilai warna, adanya sianosis, ikterus, ekzema, pucat,
purpura ,makula ,papula ,vesikula ,pustula ,ulkus ,turgor kulit. Pemeriksaan kuku dilakukan
dengan mengadakan inspeksi terhadap

warna, bentuk dan keadaan kuku. Pemeriksaan

rambut dilakukan untuk menilai adanya warna, kelebatan, distribusi dan karakteristik dari
rambut. Pemeriksaan kelenjar getah bening dilakukan dengan cara mempalpasi pada daerah
leher/inguinal dan daerah lain yang kelenjar getah beningnya dapat diraba.

12

Pemeriksaan kepala dan leher

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan kepala secara umum yaitu wajah, mata, telinga, hidung,
mulut, faring, laring dan leher.
,
-

Pemeriksaan dada

Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan payudarap, paru dan jantung


-

Pemeriksaan abdomen

pemeriksaan ini dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi


-

Pemeriksaan genetalia

Pemeriksaan pada laki-laki dengan cara memperhatikan ukuran, bentuk penis, testis serta
kelainan

yang

ada.

Sementara

pemeriksaan

pada

perempuan

dengan

cara

memperhatikan adanya epispadia, tanda-tanda seksual sekunder, payudara dan lainnya.

Pemeriksaan tulang belakang dan ekstremitas

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara inspeksi terhadap adanya kelainan tulang belakang
seperti lordosis, kifosis, skoliosis, serta perasaan nyeri tulang belakang
-

Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaaan ini meliputi inspeksi, pemeriksaan reflek , pemeriksaan tanda maningeal dan
pemeriksaan kekuatan dan tonus otot.

3. Penatalaksanaan
a. Non medikamentosa
Dalam melakukan penetalaksanaa untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak diperlukan
usaha-usaha dari berbagai pihak terutama lingkungan terdekat seperti keluarga. Diperlukan
usaha dari orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar anak anak.Kebutuhan dasar anak
untuk tumbuh kembang secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar. 6-8
-

Kebutuhan fisik-biomedis ( Asuh )


Meliputi: 6-8
13

Pangan atau gizi


Perawatan kesehatan dasar seperti imunisasi, pemberian ASI, penimbangan bayi atau

anak secara teratur, pengobatan jika sakit.


Papan atau pemukiman yang layak.
Higiene perorangan, sanitasi lingkungan.
Sandang.
Kesegaran jasmani, rekreasi.
Kebutuhan emosi/kasih sayang ( Asih )
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu
dengan anak merupakan sayarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras.
Kebutuhan ini diwujudkan dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin. Kasih sayang
dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan dsaar (basic
trust). Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai

dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun sosial emosi. 6-8
Kebutuhan akan stimulasi mental ( Asah )
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan)
pada anak. Stimulasi mental mengembangkan perkembangan mental psikososial seperti
kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika,
produktivitas. 6-8

b. Medikamentosa - Imunisasi
Pemerintah indonesia telah memiliki pendoman vaksinasi. Prinsipnya vaksinasi dapat
dibedakan menjadi dua yaitu vaksinasi wajib, terutama yang ditujukan bagi bayi dan anak
(vaksinasi tuberkolosis, hepatitis B, difteri, tetanus, pertusis, polio, dan campak) serta
vaksinasi yang dianjurkan (MMR, demam tifoid, varisela, hepatitis A, haemophilus influenza
tipe B, rabies, influenza, pneumokokus, meningokokus, rotavirus, kolera, yellow fever,
japanase encephalitis dan human papillomavirus), yang diperuntukan baik bagi anak maupun
dewasa.9
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan
kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit
tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain. 5, 9
Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2, yakni : 9
-

Kekebalan Tidak Spesifik (Non Specific Resistance), yang dimaksud dengan faktorfaktor

14

non khusus adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi
badan dari suatu penyakit. Misalnya kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang keluar dari
perut (usus), adanya refleks-refleks tertentu, misalnya batuk, bersin dan sebagainya.
-

Kekebalan Spesifik (Specific Resistance)


Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari 2 sumber, yakni : 5,9
a. Genetik

Kekebalan yang berasal dari sumber genetik ini biasanya berhubungan dengan ras (warna
kulit dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang kulit hitam (negro) cenderung lebih
resisten terhadap penyakit malaria jenis vivax. Contoh lain, orang yang mempunyai
hemoglobin S lebih resisten terhadap penyakit plasmodium falciparum daripada orang yang
mempunyai hemoglobin AA.
b. Kekebalan yang Diperoleh (Acquired Immunity)
Kekebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan dapat
bersifat aktif dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang sembuh
dari penyakit tertentu. Misalnya anak yang telah sembuh dari penyakit campak, ia akan kebal
terhadap penyakit campak. Kekebalan aktif juga dapat diperoleh melalui imunisasi yang
berarti ke dalam tubuhnya dimasukkan organisme patogen (bibit) penyakit. Kekebalan pasif
diperoleh dari ibunya melalui plasenta. Ibu yang telah memperoleh kekebalan terhadap
penyakit tertentu misalnya campak, malaria dan tetanus maka anaknya (bayi) akan
memperoleh kekebalan terhadap penyakit tersebut untuk beberapa bulan pertama. Kekebalan
pasif juga dapat diperoleh melalui serum antibodi dari manusia atau binatang. Kekebalan
pasif ini hanya bersifat sementara (dalam waktu pendek saja). Banyak faktor yang
mempengaruhi kekebalan antara lain umur, seks, kehamilan, gizi dan trauma.
-

Umur, untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita) dan orang tua lebih
mudah terserang. Dengan kata lain orang pada usia sangat muda atau usia tua lebih
rentan, kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tertentu. Hal ini mungkin

disebabkan karena kedua kelompok umur tersebut daya tahan tubuhnya rendah.
Seks, untuk penyakit-penyakit menular tertentu seperti polio dan difteria lebih parah
terjadi pada wanita daripada pria.

Kehamilan, wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap
penyakitpenyakit menular tertentu misalnya penyakit polio, pneumonia, malaria serta
amubiasis. Sebaliknya untuk penyakit tifoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita
hamil.

15

Gizi, gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap
penyakit-penyakit infeksi tetapi sebaliknya kekurangan gizi berakibat kerentanan

seseorang terhadap penyakit infeksi.


Trauma, stres salah satu bentuk trauma adalah merupakan penyebab kerentanan seseorang
terhadap suatu penyakit infeksi tententu.

Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi, yaitu : 5,9


-

Imunisasi Pasif (Pasive Immunization), imunisasi pasif ini adalah immunoglobulin. Jenis

imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak).


Imunisasi Aktif (Active Immunization), imunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin
adalah imunisasi tetanus toksoid. Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya tetanus pada
bayi yang dilahirkan. Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk
pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini
minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh.
Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu
TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya
adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian
TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan
setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).

Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut
anak balita (bawah lima tahun). Berikut ini adalah Jenis-jenis imunisasi pada balita : 5,9
-

Imunisasi BCG, vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit


tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali ketika anak berumur 2-3 bulan. Vaksin ini
mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak

50.000-1.000.000 partikel/dosis. 5,9


Imunisasi DPT, imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap
difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang
tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk
rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang
menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa
minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat
bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti
pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa
16

menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3
kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT
III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun
setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi
terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah
mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada
usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan
perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85%
anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan
memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun. 5,9
-

Imunisasi Campak, imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit


campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur

9 bulan atau lebih. Vaksin penguat diberikan pada umur 5-7 tahun. 5,9
Imunisasi MMR, imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan
dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Dapat diberikan pada umur 12
bulan, apabia beum mendapat vaksin pada umur 9 bulan. Selanjutnya MMR ulangan
dapat diberikan pada mur 5-7 tahun. Campak menyebabkan demam, ruam kulit batuk,
hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia.
Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak
dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan
pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa
menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan
pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah
zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam
ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa

menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. 5,9


Imunisasi Hib, imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza
tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan
berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum
tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi
manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab
terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda.
Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup
serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib
17

dan Pedvax. Diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dan vaksin ulangan pada umur 18
-

bulan dan 5 tahun. 5,9


Imunisasi Varisella, imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan
mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas. imunisasi varisela diberikan
pada saat anak masuk sekolah Taman Kanak-kanak umur 5 tahun, kecuali terjadi kejadian

luar biasa varisela, atau atas permintaan orang tua dapat diberikan pada umur 1 tahun.
Imunisasi HBV (hepatitis B), imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis
B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.
Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian
imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang
baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk
dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang
dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi
pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi
atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat
suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti
atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba,
imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan
tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang

baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster). 5,9
Imunisasi Pneumokokus Konjugata, imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak
terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat
menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi
darah). Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat digunakan
pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi

pneumokokus. 5,9
Tipa, imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid
(tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun.
Oleh karena itu perlu diulang kembali. Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin
suntikan (polisakarida) dan oral (bakteri hidup yang dilemahkan).

Vaksin capsular Vi

polysaccharide: diberikan pada umur lebih dari 2 tahun, ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
Kemasan dalam prefilled syringe 0,5 ml, pemberian secara intramuskular. Tifoid oral
Ty21a: diberikan pada umur lebih dari 6 tahun, dikemas dalam kapsul, diberikan 3 dosis
dengan interval selang sehari (hari 1,3 dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5
18

tahun. Vaksin oral pada umumnya diperlukan untuk turis yang akan berkunjung ke daerah
-

endemis tifoid. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping. 5,9
Polio, terdapat 2 jenis vaksin yang beredar dan yang umum diberikan di Indonesia adalah
vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya adalah melalui mulut.
Dibeberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Dapat
dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B dan DPT. Imunisasi ulangan
diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT. Imunisasi polio diberikan sebanyak
empat kali denga selang waktu kurang dari satu bulan. Imunisasi ulangan dapat diberikan
sebelum anak masuk sekolah (5-6tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12tahun).
Diberikan dengan cara meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam
mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis.
Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit
polimielitis. Imunisasi polio tidak boleh diberikan pada anak yang sedang menderita diare
berat. Efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-kejang, tetapi

kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi. 5,9


Influensa, vaksin Influenza dapat diberikan setahun sekali sejak umur 6 bulan. Vaksin ini

dapat terus diberikan hingga dewasa. 5,9


HPV (Human Papiloma Virus), imunisasi diperuntukkan untuk para remaja atau pra
remaja dan para wanita dewasa yang sudah menikah maupun yang beresiko tinggi terkena
penyakit ini. Imunisasi HPV cukup efektif untuk mencegah terjadinya kanker cervix
karena diberikan hanya satu kali seumur hidup, diberikan dalam 3 kali suntikan yaitu
bulan ke nol (mulai pertama disuntikkan) dilanjutkan bulan kedua dan terakhir bulan ke

enam. 5,9
Retrovirus, dilakukan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh retrovirus seperti
diare pada anak. Retrovirus diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan. 5,9

Kondisi Dimana Imunisasi Tidak Dapat Diberikan atau Imunisasi Boleh Ditunda
-

Sakit berat dan akut


Demam tinggi
Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi steroid Jangka

lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air).
Alergi terhadap telur hindari imunisasi influenza

19

Penutup
Sebelum imunisasi anak harus dalam keadaan sehat ( pertumbuhan dan perkembangan
normal). Diukur dengan antropometri dan Tes Denver. Jika pertumbuhan terhambat,
diberikan multivitamin dan mineral + diberikan penyuluhan pola makan yang baik.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam . Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h.25-76.
2. Schartz MW, editor. Pendoman klinis pediatri. Jakarta : EGC; 2004.h. 1-31.
3. Miall L, Rudolf M, Levene M. Paediatrics at a glance. 2nd ed. Victoria: Blackwell
Publishing Asia; 2007; p. 10-42.
4. Houghton RA, Gray D, editor. Chamberlains gejala dan tanda dalam kedokteran
klinis. Ed ke-13. Jakarta:PT Indeks; 2010.h.3-45, 459-98.
5. Meadow SR, Newell SJ. Lecture notes Pediatrika. Ed ke-7. Jakarta: Erlangga;
2005.h.1-233 .
6. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
1995.h.1-78.
7. Berhman E, Arvin AM, Kliegman RM. Ilmu kesehatan anak nelson. Ed ke-18.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.37-56.
8. Hidayat AA. Asuhan neonatus, bayi, dan balita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007.h.1-17.
9. Cahyono JBSB, Lusi RA, Verawati, Sitorus R, Utami RCB, Dameria K. Vaksinasi,
cara ampuh cegah penyakit infeksi. Jakarta: Kanisius; 2010.h.1-169 .

20