Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. PENDAHULUAN
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Semoga
Shalawat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad
saw, keluarga dan para sahabatnya yang mulia.
Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di
dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa dari total 234.693.997 jiwa
penduduk. Walau Islam menjadi mayoritas, namun Indonesia bukanlah negara
yang berasaskan Islam.
Dengan mayoritas berpenduduk Muslim, politik di Indonesia tidak
terlepas dari pengaruh dan peranan ummat Islam. Walau demikian, Indonesia
bukanlah negara yang berasaskan Islam, namun ada beberapa daerah yang
diberikan keistimewaan untuk menerapkan syariat Islam, seperti Aceh. Seiring
dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian
bertambah. Bila sebelumnya hanya ada satu partai politik Islam, yakni Partai
Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan pemerintah yang membatasi
jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik yang
berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan
Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Amanat Nasional, Partai
Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang.
Perkembangan hukum Islam di Indonesia mengalami pasang surut.
Sejak masuknya Islam ke wilayah nusantara hingga masa reformasi sekarang
ini, hukum Islam mampu bertahan dan mewarnai sistem hukum yang berlaku
di Indonesia. Berdasarkan corak dan karakteristiknya, sejarah perkembangan
hukum Islam di Indonesia dapat dibagi dalam empat periode, yaitu :
periode akulturasi, represi dan eliminasi, formatisasi, serta aktualisasi.
Fase akulturasi terjadi sejak kedatangan Islam hingga menguatnya kekuasaan
kolonialisme Belanda di Indonesia. Pada masa ini hukum Islam berlaku
sepenuhnya bagi umat Islam.

Corak hukumnya akulturatif, yaitu perpaduan antara mazhab Syafii


dengan kebudayaan lokal. Bukti ini terlihat dalam hasil karya ulama yang
berupa kitab-kitab fiqh yang menjadi pegangan bagi kerajaan-kerajaan Islam
dan yang diajarkan di masyarakat. Fase represi dan eliminasi terjadi mulai
masa penjajahan Belanda hingga masa kemerdekaan. Pemerintah kolonial
menekan berlakunya hukum Islam dan mengeliminasi kekuasaan Pengadilan
Agama. Hukum Islam selalu dikontradiktifkan dan disubordinatkan dengan
hukum adat. Kondisi ini menjadikan hukum Islam terbatas cakupannya, yaitu
hanya berlaku dalam bidang hukum keluarga. Periode formatisasi terjadi
setelah Indonesia merdeka hingga masa orde baru. Pada masa ini muncul
upaya melegislasikan hukum Islam dalam perundang-undangan. Formatisasi
hukum Islam terjadi dalam dua bentuk, yaitu menjadi hukum nasional yang
berlaku umum dan menjadi hukum khusus yang hanya berlaku bagi umat
Islam. Fase terakhir adalah aktualisasi, yang terjadi sejak masa reformasi.
Aktualisasi hukum Islam berakar dari ditetapkannya Undang-undang Otonomi
Daerah. Sejak itu, umat Islam di berbagai wilayah mengaktualisasikan hukum
Islam, baik melalui otonomi khusus meupun melalui peraturan daerah.
Disini pemakalah akan sedikit banyak mengupas tentang corak, atau
ciri-ciri dari islam di indonesia itu sendiri, tentunya beserta ideologi yang di
usungya, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pembelajaran
penulis kedepanya, beberapa hal yang akan di bahas tersebut antara lain:

B. Perumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai :
a.

Ciri-ciri Umum Islam di Indonesia.

b.

dan Ideologi Politiknya.

C. Tujuan Kajian
a. Agar Mengerti tentang Ciri-ciri Umum Islam di Indonesia
b. Agar Memahami Ideologi Politiknya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Zakat
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari
zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. 1 Sesuatu itu zaka, berarti
tumbuh dan berkembang, dan seorang itu zaka, berarti orang itu baik.
Zakat dari istilah fiqih berarti Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan
Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak di samping berarti
mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri.2 Jumlah yang dikeluarkan dari
kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu menambah banyak,
membuat lebih berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan,
demikian Nawawi mengutip pendapat Wahidi.3
Kita semua mengetahui bahwa zakat adalah salah satu rukun islam yang
wajib dipenuhi oleh setiap muslim. Dan zakat ini sendiri memilki hikmah
yang sangat besar bagi orang yang melaksanakannnya dengan ikhlas. Dimana
dengan zakat kita telah banyak membantu orang-orang yang fakir, miskin, dan
lain sebagainya. Dengan

kita berzakat berarti kita telah membantu

mengurangi beban mereka. Disamping itu zakat juga menyucikan harta yang
kita miliki, dan menjauhkan kita dari sifat kikir, pelit, serakah, mementingkan
diri sendiri dan sifat buruk lainnya.
Direktur Utama Rumah Zakat, Nur Efendi, menjelaskan tujuan utama
zakat produktif mengarah pada pemberdayaan para penerima zakat. Ukuran
yang digunakan sangat sederhana, mustahik itu beralih menjadi muzaki. Pada
prinsipnya, zakat itu memberdayakan.4

Mujam Wasith, juz 1 hal. 398.


Zamakhsyari berkata dalam al-Faiq, jilid I: 536, cetakan pertama, Zakat seperti halnya sedekah,
berwazan faalah, dan merupakan kata benda bermakna ganda, dipakai untuk pengertian benda
tertentu yaitu sejumlah benda yang dizakatkan, atau untuk pengertian makna tertentu, yang berarti
perbuatan menzakatkan itu. Orang-orang bodoh menafsirkan semaunya firman Allah, orang-orang
yang mengerjakan zakat jadi mereka artikan benda yang dizakatkan, padahal yang dimaksud
pekerjaan menzakatkan itu sendiri.
3
Al-Majmu, jilid 5:324.
4
Sumber : republika.co.id
2

Filosofi zakat pada intinya ialah upaya menjembatani antara golongan


miskin dan kaya. Zakat produktif merupakan sebuah instrumen penting
mengurangi kesenjangan itu.
B. Pengertian Zakat Produktif
kata produktif berasal dari bahasa inggris produktive yang berarti
banyak menghasilkan, memberikan banyak hasil, banyak menghasilkan
barang-barang berharga, yang mempunyai hasil baik.productivity yang
beraati daya produksi.5
Secara umum produktif productive berarti banyak menghasilkan karya
atau barang. Produktif juga berarti banyak menghasilkan, memberikan
banyak hasil. 6
Pengertian produktif dalam hal ini adalah kata yang disifati yaitu kata
zakat. Sehingga zakat produktif yang artinya zakat dimana dalam
pendistribusiannya bersifat produktif yang merupakan lawan dari konsumtif.
lebih jelasnya zakat produktif adalah pendayagunaan zakat secara produktif,
yang pemahamnnya lebih kepada bagaimana cara atau metode menyampaikan
dana zakat kepada sasaran dalam pengertian lebih luas, sesuai dengan ruh dan
tujuan syara. Cara pemberian yang tepart guna, efektif manfaatnya dengan
sistem yang serba guna dan prosuktif, sesuai dengan pesan syariat dan peran
serta fungsi sosial ekonomis dari zakat.
Zakat produktif dengan demikian adalah pemberian zakat yang dapat
membuat para penerimanya menghasilkan sesuatu secara terus menerus,
dengan harta zakat yang telah diterimanya. Zakat produktif dengan demikian
adalah zakat diamana harta atau dana zakat yang diberikan kepada para
mustahik tidak dihabiskan, akan tetapi dikembangkan dan digunakan untuk
membantu usaha mereka, sehingga dengan usaha tersebut mereka dapat
memenuhi kebutuhan hidup secara terus menerus.7

Joyce M.Hawkins, Kamus Dwi Bahasa Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, hlm.267


Save M.Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, cetakan ke-2, hlm.893
7
Asnainu, zakat produktif dalam persfektif Hukum Islam, cetakan ke-1, hlm.64
6

Sehingga dapat disimpulkan bahwa zakat produktif adalah zakat yang


dikelola dengan cara produktif, yang dilakukan dengan cara pemberian modal
kepada para penerima zakat dan kemudian dikembangkan, untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka untuk masa yang akan datang.
C. Hukum Zakat Produktif
Beberapa ahli hukum islam menjelaskan bahwa negara berkewajiban dan
bertanggung jawab dalam mengelola zakat. Yusuf Qardhawi menjelaskan lima
alsan mengapa islam menyerahkan wewenang kepada negara untuk mengelola
zakat, atu pentingnya pihak ketiga dalam pengelolaan zakat (memungut zakat
dan membagikannya kepada yang berhak):
1. Banyak orang yang telah mati jiwanya, buta mata hatinya, tidak sadar akan
tanggung jawabnya terhadap orang kafir yang mempunyai hak milik yang
tersimpan dalam harta benda mereka.
2. Untuk memelihara hubungan baik antara muzakki dan mustahiq. Menjaga
kehormatan dan martabat para mustahiq. Dengan mengmbil haknya dari
pemerintah mereka terhindar dari perkataan menyakitkan dari pihak pemberi.
3. Agar pendistribusiannya tidak kacau, semraut dan salah atur.
4. Agar ada pemerataan dalam pendistribusiannya, bukan hanya terbatas pada
orang-orang miskin dan mereka yang sedang dalam perjalanan, namun pada
pihak lain yang berkaitan erat dengna kemaslahatan umum.
5. Zakat merupakan sumber dana terpenting dan permanen yang dapat
membantu

pemerintah

dalam

menjalankan

fungsi-fungsinya

dalam

mengayomi dan membawa rakyatnya dalam kemakmuran dan keadilan yang


beradab.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan zakat
produktif disini adalah pendayagunaan zakat dengan cara yang produktif.
Hukum zakat pada sub ini dipahami hukum mendistribusikan atau
memberikan dana zakat kepada mustahiq secara produktif. Dana zakat
diberikan dan dipinjamkan untuk dijadikan modal usaha bagi orang fakir,
miskin dan orang-orang yang lemah.

Al-Quran, Hadis dan ijma tidak menyebutkan secara tegas tentang cara
pemberian zakat apakah dengan cara konsumtif atau produktif. Dapat
dikatakan tidakada dalil naqli dan syarih yang mengatur tentang bagaimana
pemberian zakat itu diberikan kepada para mustahik. Ayat 60 suarat at-Taubah
(9), oleh sebagian besar ulama dijadikan dasar hukum dalam pendistribusian
zakat. Namun ayat ini hanya menyebutkan pos-pos dimana zakat harus
diberikan.



Artinya:sesungguhnya zkat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan)budak, orang-orang yang berhutang, untuk
jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu
ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha
bijaksana.(qs.at-Taubah(9):60)
Teori hukum islam menunjukkan bahwa dalam menghadapi masalahmasalah yang tidak jelas rinciannya dalam Al-Quran atau petunjuk yang
ditinggalkan nabi saw, penyelesaiannya adalah dengan metode ijtihad. Ijtihad
atau pemakaian akal dengan tetap berpedoman pada al-Quran dan Hadits.
Dengan demikian berarti bahwa tekhnik pelaksanaan pembagian zakat
bukan sesuatu yang mutlak, akan tetapi dinamis, sapat disesuaikan dengan
kebutuhan di suatu tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dalam cara
pembagian zakat tidaklah dilarang dalam islam karena tidak ada dasar hukum
yang secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.
Menunaikan zakat termasuk amal ibadah sosial dalam rangka membantu
orang-orang miskin dan golongan ekonomi lemah untuk menjunjung ekonomi
mereka sehingga mampu berdiri sendiri dimasa mendatang dan tabah dalam
mempertahankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.8
D. Pendayagunaan Zakat Komsumtif ke Produktif
8

Yusuf Qadhawi, Musykilah al-Faqr wakaifa Aalajaha al islam,(Beirut:1966), hlm.127

Ketua Komisi Fatwa, Hasanuddin AF, mengatakan melalui himpunan


fatwa zakat yang dikeluarkan MUI, publik bisa mengetahui varian bentuk
pendayagunaan zakat. Fatwa ini menjawab pertanyaan yang sering
bermunculan di tengah-tengah masyarakat terkait pemanfaatan zakat.9
Salah satunya ialah pengunaan dana zakat di sektor produktif. Sesuai
dengan fatwa MUI, dana zakat yang diberikan kepada fakir miskin dapat
bersifat produktif. Di bagian fatwa lainnya, salah satu bentuk zakat produktif
itu ialah yang diinvestasikan.
Syaratnya, investasi dana zakat disalurkan pada usaha yang dihalalkan
syariat dan peraturan yang berlaku, usaha itu di yakini memberi keuntungan
berdasarkan studi kelayakan, pembinaan dan pengawasan oleh pihak
berkompeten termasuk lembaga yang mengelola dana investasi itu.
Saefudin pun menyetujui cara pembagian zakat produktif, dengan
menciptakan pekerjaan berarti amil dalam hal ini pemerintah dapat
menciptaan lapangan pekerjaan dengan dana zakat,seperti perusahaan, modal
usaha atau beasiswa, agar mereka memiliki suatu usaha yang tetap dan
ketrampilan serta ilmu untuk menopang hidup kearah yang lebih baik dan
layak.10
Zakat Produktif diyakini dapat menjadi

alternatif

sumber

dana

pemberdayaan ekonomi kaum miskin. Masalahnya sangat tergantung pada


kemampuan baitul mal dalam menghimpun, mengelola dan mendayagunakan
dana zakat. Baitul mal dituntut memperkuat kelembagaan, meningkatkan
kualitas SDM pengelola (amil) dan melengkapi regulasi yang diperlukan.
Disini Prof Dr Ahmad Rofiq MA, selaku Direktur Lazisma Jawa Tengah
mengatakan ada empat fungsi amil yang perlu dipahami, yaitu:
1). Pertama, sebagai mediator antara muzakki dan mustahik. Muzakki dan
mustahik tidak harus bertemu secara langsung. Jika muzakki membagi sendiri
zakatnya secara langsung, sangat mungkin akan memengaruhi perasaannya,
bisa menjadi riya. Agar pembagian zakatnya tidak diketahui masyarakat,
muzakki membayar zakatnya dititipkan kepada amil.
9

Sumber : republika.co.id
Asnainu, zakat produktif dalam persfektif Hukum Islam, cetakan ke-1, hlm.93

10

Mustahik tidak perlu bertemu langsung dengan muzakki, karena dengan


datang meminta-minta, mereka pasti merasa malu, karena dia telah
menurunkan harga diri dan martabatnya.
Di dalam Alquran dikenal istilah al-sail, yaitu orang yang kekurangan
tetapi tidak malu untuk minta-minta, dan al-mahrum, yaitu orang yang
kekurangan tetapi bisa menahan diri dan tidak meminta-minta.
2). Kedua, amil sebagai lembaga/badan yang mengontrol atau mengingatkan
kepada para muzakki. Bukankah naluri manusia itu enggan dan ingin
menghindari pembayaran zakat. Dalam konteks inilah, Alquran, Surat AlTaubah (8):103 menyatakan ''khudz min amwaalihim ...'', artinya ''ambillah
dari harta mereka ...''.
Ayat ini dipahami para mufassir sebagai perintah sangat serius (baca
perintah paksa). Dalam aplikasinya, badan/lembaga amil zakat, harus proaktif
bersilaturrahmi kepada para muzakki, dan sekiranya diperlukan membantu
menghitung zakat yang harus dikeluarkannya.
3). Ketiga, mengawasi dan mengevaluasi agar jangan sampai mustahik
menerima zakat dari berbagai sumber, sehingga tumpang tindih. Selama ini,
yang terjadi para mustahik mendatangi langsung kepada para muzakki, dan
mereka menerima dari banyak muzakki dan tidak ada koordinasi.
4). Keempat, mengidentifikasi dan mengklasifikasi mustahik, apakah untuk
perorangan atau badan yang memang sangat memerlukan sesuai dengan skala
prioritas, apakah zakat itu dibagikan secara konsumtif atau produktif, sesuai
hasil identifikasi dan klasifikasi, sehingga tujuan zakat untuk memberdayakan
ekonomi umat da pat direalisasikan dengan baik dan efektif.11

BAB III
PENUTUP
11

http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/31/opi03.htm

A. Simpulan
Dari pembahasan tersebut, dapat dimpulkan, bahwa zakat produktif adalah
pendayagunaan zakat dengan cara yang produktif, dengan cara memberikan
modal usaha atau lapangan pekerjaan kepada penerima zakat, supaya mereka
bisa mengembangkan usaha yersebut untuk memenuhi kehidupan hidupnya di
masa datang.
Dalam hal zakat, pemerintah mempunyai peranan sebagai sarana untuk
melaksanakan zakat produktif ini, supaya zakat dengan cara ini bisa menjadi
terkelola dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup
rakyat, dan mengurangi angka pengangguran.
Dengan demikian berarti bahwa tekhnik pelaksanaan pembagian zakat
bukan sesuatu yang mutlak, akan tetapi dinamis, sapat disesuaikan dengan
kebutuhan di suatu tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dalam cara
pembagian zakat tidaklah dilarang dalam islam karena tidak ada dasar hukum
yang secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.
Menunaikan zakat termasuk amal ibadah sosial dalam rangka membantu
orang-orang miskin dan golongan ekonomi lemah untuk menjunjung ekonomi
mereka sehingga mampu berdiri sendiri dimasa mendatang dan tabah dalam
mempertahankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Qardawi, Yusuf. 2006. Hukum Zakat. Diterjemahkan oleh salman Harun, Didin
Hfiadhuddin, Hasanuddin. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa.
Sumber : republika.co.id
Joyce M.Hawkins, 1996. Kamus Dwi Bahasa Inggris-Indonesia, IndonesiaInggris. Jakarta: Exford-Erlangga
Save M.Dagun, 2000. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, cetakan ke-2, Jakarta
:LPKN
Asnainu,S.Ag,M.ag, 2008. zakat produktif dalam persfektif Hukum
Islam,Bengkulu:PUSTAKA PELAJAR
Yusuf Qadhawi, 1966. Musykilah al-Faqr wakaifa Aalajaha al islam,Beirut.
Sumber : republika.co.id
Asnainu,S.Ag,M.ag, 2008. zakat produktif dalam persfektif Hukum
Islam,Bengkulu:PUSTAKA PELAJAR
http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/31/opi03.htm-Prof Dr Ahmad Rofiq
MA, Direktur Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh Masjid Agung (Lazisma)
Jawa Tengah, Pengawas BAZ Provinsi Jawa Tengah.

10