Anda di halaman 1dari 22

1.1.

Latar Belakang

Obat merupakan zat yang digunakan untuk mendiagnosis, mengurangi rasa


sakit, serta mengobati ataupun mencegah penyakit pada manusia dan hewan (Ansel,
1985). Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 193/Kab/B.VII/71,
obat merupakan suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, atau kelainan badaniah dan rohaniah
pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau
bagian badan manusia.
Mayoritas obat bekerja secara spesifik terhadap suatu penyakit. Namun tidak
jarang juga obat yang bekerjanya secara menyeluruh. Berdasarkan efek obat yang
diberikan obat kepada tubuh, maka obat dibagi menjadi :
Obat yang berefek sistemik adalah obat yang memberi pengaruh pada tubuh yang
bersifat menyeluruh (sistemik) dan menggunakan sistem saraf sebagai perantara.
Obat ini akan bekerja jika senyawa obat yang ditentukan bertemu dengan reseptor
yang spesifik.
Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai pengaruh
pada tubuh bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini
adalah obat-obat yang bersifat anestesi lokal ataupun transdermal.
Berbagai produk obat yang bersifat lokal dibuat bertujuan untuk menghilangkan
segala sensasi yang tidak menyenangkan pada bagian yang spesifik di tubuh.
Beberapa contoh dari produk tersebut bersifat anastetik ataupun obat-obat yang
diberikan secara transdermal.
Anastetika lokal atau yang dikenal dengan zat penghilang rasa setempat adalah
obat yang pada penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf
ke SSP dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal,
rasa panas atau dingin.

1.2 Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana efek obat bekerja

Agar mahasiswa dapat mengetahui kerja efek obat pada membrane


dan kulit mukosa
Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana kerja efek obat
anestetika lokal
Agar mahasiswa dapat mengetahui metode-metode Anestetika lokal

Bab II
Tinjauan Pustaka
Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap
bagian susunan saraf. Sebagai contoh, bila anestetik lokal dikenakan pada korteks
motoris, impuls yang dialirkan dari daerah tersebut terhenti, dan bila disuntikkan ke
dalam kulit maka transmisi impuls sensorik dihambat. Pemberian anestetik lokal pada
batang saraf menyebabkan paralisis sensorik dan motorik di daerah yang
dipersarafinya. Banyak macam zat yang dapat mempengaruhi hantaran saraf, tetapi
umumnya tidak dapat dipakai karena menyebabkan kerusakan permanen pada sel
saraf. Paralisis saraf oleh anestetik lokal bersifat reversible, tanpa merusak serabut
atau sel saraf.
Anestetik lokal yang pertama ditemukan ialah kokain, suatu alkaloid yang
terdapat dalam daunErythroxylon coca, semacam tumbuhan belukar.
Anestetik lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara
permanen. Kebanyakan anetetik lokal memenuhi syarat ini. Batas keamanan harus
lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. Mula kerja harus
sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu
untuk

melakukan

tindakan

operasi,

tetapi

tidak

demikian

lama

sampai

memperpanjang masa pemulihan. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil
dalam larutan, dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. Secara kimia obat
Anestetika lokal secara kimia digolongkan sebagai berikut :

1. Senyawa ester
Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada
degradasi dan inaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan dihidrolisis.
Karena itu golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah mengalami
metabolisme dibandingkan golongan amida. Contohnya: tetrakain, benzokain,
kokain, prokain dengan prokain sebagai prototip.
2. Senyawa amida
Contohnya senyawa amida adalah dibukain, lidokain, mepivakain dan
prilokain.
3. Lainnya
Contohnya fenol, benzilalkohol, etilklorida, cryofluoran.

2.2. Macam-macam Teknik Anestetika Lokal


Anestesi permukaan. Anestetika local digunakan pada mukosa atau
permukaan luka dan dari sana berdifusi ke organ akhir sensorik dan ke
percabangan saraf terminal. Pada epidermis yang utuh (tidak terluka) maka
anestetika local hampir tidak bekhasiat karena tidak mampu menembus
lapisan tanduk.
Anestesi Infiltrasi.Anestetika local disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk
juga diisikan ke dalam jaringan. Dengan demikian selain organ ujung
sensorik, juga batang-batang saraf kecil dihambat.
Anestesi Konduksi . Anestetika local disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang
dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan. Bentuk khusus dari
anestesi konduksi ini adalah anestesi spinal, anestesi peridural, dan anestesi
paravertebral.

Anestesi Regional Intravena dalam daerah anggota badan Sebelum


penyuntikan anestetika local, aliran darah ke dalam dan ke luar dihentikan
dengan mengikat dengan ban pengukur tekanan darah dan selanjutnya
anestetika local yang disuntikkan berdifusi ke luar dari vena dan menuju ke
jaringan di sekitarnya dan dalam waktu 10-15 menit menimbulkan anestesi.

Bab III
Metodologi dan Hasil Pengamatan
3.1 Efek obat pada membran dan kulit mukosa
Bahan yang digunakan :
Menggugurkan bulu

: Kulit tikus

Korosif

: Usus dan kulit tikus

Fenol dalam berbagai pelarut

: Jari-jari tangan

Astringen

: Mukosa mulut

Alat yang digunakan:


Alat-alat bedah
Batang pengaduk
Kertas saring
Wadah kaca
Pipet tetes

1. Efek menggugurkan bulu


Tikus yang sudah dikorbankan, diambil kulitnya dan dipotongpotong, masing-masing berukuran 2,5 cm x 2,5 cm dan
letakkan di kertas saring.
Keatas potongan kulit tersebut, teteskan larutan-larutan obat
yang digunakan (Veet cream cukup dioleskan).
Setelah beberapa menit, dengan batang pengaduk dilihat
adakah bulu yang gugur.
Catatlah hasil yang diperoleh dari pengujian.

Hasil Pengamatan
Percobaan

Bahan

Larutan Obat
Bau awal

Percobaan

Efek diamati
Kaustik/gugur

Efek

Diberikan Pada Usus


Larutan NaOH 20%

Menyengat

bulu (...menit)
2 menit

lainnya
- penipisan pada kulit
- warna kulit menjadi

Gugur

Kulit
Larutan K2S 20%

Bulu

Menyengat

Sukar gugur

kuning
- kulitnya lembek

Tikus
- warna kulit menjadi

Veet Cream

menyengat

50 detik

pucat
- kulitnya lembek
- warna kulit tetap

2. Efek Korosif
Tikus yang sudah dikorbankan, usus tikus diambil dan
dipotong-potong 5 cm, letakkan diatas kertas saring yang
lembab dan diteteskan dengan cairan-cairan obat.
Setelah 15 menit, cairan yang berlebiha pada potongan usus
diserap dengan kertas saring
Potongan-potongan kulit tikus yang baru diambil, direndam
selama 15 menitdalam cairan-cairan obat
Potongan-potongan kulit tersebut, kemudian dibilas dengan air
dan cairan yang berlebihan diserap dengan kertas saring
Hasil Pengamatan

Percobaan

Bahan
Percobaan

Larutan Obat
Diberikan pada
Usus
Larutan Raksa (II)
klorida 5%
Larutan fenol 5%
Larutan natrium
hidroksida 10%
asam sulfat pekat

Korosif

usus tikus

asam klorida pekat


tingtura iod
Larutan perak nitrat
1

Pengamatan
Sifat Korosif

Kerusakan Pada jaringan

korosif

warna sangat pucat, sedikit


mengkerut

korosif

sedikit memucat dan


mengkerut

korosif

menipis, mengeras

sangat korosif

korosif

sangat rusak
mengkerut, mengeras,
memucat
warna seperti warna iod

korosif

warna menjadi hitam

sangat korosif

3. Efek lokal fenol dalam berbagai pelarut


Beaker glass telh disiapkan diisi dengan larutan-larutan fenol
Serentak dicelupkan empat jari tangan selama 5 menit
kedalam wadah kaca tersebut

Bila jari terasa nyeri sebelum 5 menit segera jari diangkat dan
dibilas dengan etanol.
Hasil Pengamatan
a. Rasakan sensasi yang dialami jari-jari tangan, misalnya: rasa tebal, dingin,
panas dan sebagainya
b. Tabelkan jenis sensasi yang terjadi dan saat terjadinya
Bahan
Percobaan

Jari tangan dicelupkan


pada

Percobaan

...menit (misalnya, rasa tebal, dingin,


beker gelas yang telah di isi
Larutan fenol 5% dalam air

Fenol

Jari

dalam

tangan

berbagai
pelarut

Pengamatan
Rasa sensasi jari tangan timbul
panas dan sebagainya)
- Menit ke 3.20 terasa agak
-

pedih
Menit ke 4.42 mulai mati rasa
Menit ke 5 mati rasa,

Larutan

fenol

5%

dalam

mengkerut, tebal
Menit ke 5 agak mengkerut,

etanol
Larutan

fenol

5%

dalam

tebal, terasa dingin dan kasar


Menit ke 1.30 mulai tebal
Menit ke 5 mengkerut, tebal,

5%

dalam

kasar
Menit ke 5 mengkerut dan

gliserin 25%
Larutan

fenol

minyak lemak

tebal

4. Efek astringen
Mulut dibilas atau dikumur dengan larutan tanin 1%
Hasil Pengamatan

Percobaan

Bahan Percobaan

Larutan Obat

Pengamatan

kumur pada mulut


Efek adstringen

Mulut untuk kumurTannin 1%

Kesat, pahit

Pembahasan
Tikus yang digunakan dalam praktikum dilakukan pengorbanan terlebih dahulu.
pengorbanan dapat dilakukan dengan cara anastesi lokal maupun dengan cara
dislokasi lokal. Anastesi lokal dilakukan dengan cara memasukkan tikus kedalam
toples yang telah dijenuhkan dengan larutan eter dan tertutup, tunggu hingga tikus
dalam keadaan mati. Selain anastesi lokal, dislokasi lokal juga dapat digunakan
dengan

cara

memisahkan/menghambat

pengaliran

darah

ke

otak

dengan

merenggangkan bagian-bagian tulang belakang dari tikus.


Tikus yang sudah dikorbankan kemudian dikuliti (ambil kulitnya) sesuai
dengan keperluan, baik dari segi jumlah maupun ukurannya. Selain kulit, bagian usus
dari tikus juga digunakan dengan cara membelah usus tikus dan membersihkan dari
sisa kotoran yang ada di usus.
Kulit dan usus yang sudah ada tadi di letakkan diatas kertas saring dan mulailah
dengan pengujian yang sudah ditentukan.
Pada pengujian efek menggugurkan bulu, semua kelompok menghasilkan hasil
yang sama yakni hasil uji menunjukkan adanya kerontokan bulu setelah diberikan
larutan. Efek gugur bulu yang tercepat adalah dengan pemberian Veet cream pada
detik ke 50 kulit menjadi lembek dan warna kulit menjadi pucat. Hal ini disebabkan
Pertanyaan :
1. Apakah ada perbedaan bau yang jelas dari obat-obat yang bersifat
menggugurkan bulu sebelum dan sesudah digunakan?
Jawab : Ada, bau pada obat-obat sebelum digunakan tidak terlalu menyengat
sedangkan setelah digunakan untuk menggugurkan bulu pada hewan percobaan
baunya terasa lebih menyengat.

10

2. Mungkinkah suatu obat bekerja korosif tanpa menghilangkan bulu dan


sebaliknya?
Jawab :
Hal itu mungkin saja terjadi, namun kemungkinannya hanya sedikit sekali. Obat yang
bekerja korosif akan mengendapkan protein kulit, sehingga kulit/ membran mukosa
akan menjadi rusak. Hal juga akan berpengaruh pada organ rambut. Rambut
merupakan struktur protein yang kompleks, yang terdiri dari bermacam-macam jenis.
3. Sebutkan obat-obat lain yang dapat menyebabkan gugur bulu? Senyawa kimia
lain yang dapat menyebabkan korosif.
Jawab : Sugarpot honey waxing (penghilang bulu) dan Depilatory cream (perontok
bulu). Asam sulfat, asam asetat, asam klorida, asam nitrat, fenol, natrium hidroksida,
asam sitrat, kalium hidroksida, amonium hidroksida dan klor.
Sebutkan menurut saudara beberapa persyaratan yang sebaiknya dipenuhi oleh
obat atau sediaan farmasi untuk dapat digunakan sebagai obat berefek lokal
agar menjamin pemakaiannya.
Jawab : Obat harus berkhasiat atau mempunyai efek, obat harus mempunyai mutu atau
karakter, obat harus aman ketika digunakan.

11

3.2 Efek Anestetika Lokal


3.31 Anestesi permukaan
Prosedur
1. Gunting bulu mata kelinci, agar tidak menggangu aplikator.
2. Teteskan kedalam kantong konyungtiva larutan anestetika local lodikain
0,5ml pada mata kanan dan Tetrakain 0,5ml pada mata kiri.
3. Tutup masing-masing kelopak mata selama 1 menit
4. Catat ada atau tidaknya reflek mata setiap 5 menit, dengan menggunakan
aplikator setiap kali pada permukaan kornea.
Hasil pengamatan
Hewan

Mata

Obat

Pengamatan pada reflek mata pada waktu

diteteskan ( menit )
0
5
Kelinc Kanan Lidokain +
+

10
+

15
+

20
-

30
+

45
+

60
+

i
Kiri
Tetrakain +
Ket : (+) = Berkedip, (-) = Tidak berkedip
Pembahasan :
Pada percobaan ini hewan yang di gunakan adalah kelinci, potong bulu
mata kelinci setelah itu di teteskan lidokain pada mata kanan dan pada mata
kiri di teteskan tetrakain. Setelah itu tutup mata selama 1 menit lihat reflek
yang tejadi dengan menggunakan aplikator.
Setelah melakukan percobaan dengan menggunakan hewan coba
kelinci dimana tujuannya adalah untuk mengetahui efek lokal obat yang
terjadi pada mata kelinci setelah pemberian lidokain dan tetrakain. Pada mata
kanan kelinci diberi lidokain pada menit pertama masih terjadi reflek,
kemudian juga menit-menit berikutnya masih terjadi reflek sampai pada menit
ke 60.

12

Sedangkan mata kiri kelinci di berikan tetrakain pada menit pertama


masih terjadi reflek, tetapi pada menit 5 sampai pada menit ke 30 sudah tidak
menimbulkan reflek. Kemudian reflek kembali timbula pada menit ke 45 dan
menit ke 50.
Hal ini disebabkan karena tetrakain mempunyai efek yang lebih cepat
dibandingkan lidokain dan mula kerjanya lebih lama.
Pertanyaan :
1. Jelaskan kokain sebagai anestetika local ? jawab : efek anestetika local yang
terpenting kemampuannya untuk memblokade konduksi saraf. Atas dasar efek
ini, pada suatu masa kokain pernah digunakan secara luas untuk tindakan
bidang oftamologi, tetapi kokain dapat menyebabkan terkelupasnya kornea.
Maka pengguaanya sangat dibatasi.
2. Jelaskan penggolongan kimia dari anestetika local? Jawab : Senyawa ester
( terdapatnya ikatan ester ). Contohnya : Kokain, Prokain, tetrakain dan
Benzokain. Senyawa amida ( terdapatnya ikatan

amida ). Contohnya :

Lidokain, Dibukain, Mepivakain dan Prilokain.


3. Sebutkan anestetika local yang digunakan sebagai anestetika permukaan?
Jawab : prokain, lidokain, buvipakain, benzokain, tetrakain
4. Keburukan apa yang terjadi bila permukaan kornea ditetesi anestesi untuk
periode waktu yang lama ? jawab : Pemberian anestesi merubah parameter
ini dan dapat menpengaruhi tekanan intraokuler seperti laryngoscopy,
intubasi, sumbatan jalan napas, batuk, posisi trendelenburg) Hal lain,
peningkatan ukuran bola mata yang tidak proporsional mengubah volume
isinya akan meningkatkan tekanan intraokuler. Penekanan pada mata

3.2.2 Metode Regnier


Prosedur

13

1. Kelinci ditempatkan kedalam kotaknya 1 jam sebelum percobaan dimulai,


gunting bulu matanya, kemudian periksa reflex normal dari kedua kornea
dengan sentuhan misai secara tegak lurus.
2. Pada waktu t=0, teteskan 0,1ml larutan obat yang akan diuji kedalam mata
kelinci. Percobaan ini diulangi setelah 1 menit ( gunakan stopwatch)
3. Pada menit ke 8, dengan bantuai misai diperiksa reflex mata, yaitu dengan
menyentuh misai tegak lurus dibagian tengah kornea sebanyak 100 kali
dengan kecepatan yang sama. Jangan terlalu keras menyentuhnya dengan
ritme terus diatur. Apabila sampai 100x tidak ada reflex ( kelopak mata
tertutup), maka dicatat angka 100 untuk respon negative. Tetapi jika sebelum
100x sudah ada reflex, maka yang dicatat adalah respon negative sebelum
mencapai angka 100.
4. Perlakuan yang sama diulang pada menit-menit ke 15; 20; 25; 30; 40; 45;
50; dan 60. Jika sebelum menit-menit yang ke 60 pada entuhan pertama sudah
ada reflex, maka menit-menit yang tersisa diberi angka satu.
5. Setelah percobaan diatas selesai, mata sebelahnya diperlakukan seperti ad
4, tetapi hanya diteteskan larutan fisiologis.
6. Jumlah respon negative dimuat dalam sebuah table dimulai dari menit ke 8.
Jumlah tersebut menunjukan angka regnier, dimana anestesi local mencapai
angka regnier 800, sedangkan angka regnier minimal angka 13.
7. Hitunglah/ jumlahkan untuk waktu-waktu tertentu semua respon negative.
Apabila pada sekali sentuhan terjadi reflex kornea, maka angka yang dicatat
adalah 1. Hitung angka rata-rata yang diberikan untuk masing-masing larutan
yang diperoleh pada 8 kali pemeriksaan reflex kornea.
Hasil pengamatan
Hewa

Mata

Obat

Pengamatan pada reflex mata

14

n
Kelinc
i

diteteskan
Kana

0
Lidokain Hcl -

5
-

10
-

15
-40

20
1

30
1

n
Kiri

Tetrakain

-55

45
1

60
1

Hcl

Pembahasan :
Pada percobaan ini digunakan kelinci sebagai hewan coba adalah
kelinci. Pertama kelinci di tempatkan dalam kotak 1 jam sebelum percobaan.
Gunting bulu mata kelinci kemudian periksa reflex normal dari ke dua kornea
dengan sentuhan misai secara tegak lurus. Pada tujuan metode ini adalah
untuk mengetahui reflex okuler yang timbul setelah beberapa kali kornea
disentuh yang sebanding dengan kekuatan kerja

anestetika dan besarnya

sentuhan yang diberikan. Apabila tidak adanya reflex okuler setelah kornea
disentuh 100 kali dianggap sebagai tanda anestetika lokal.
Pertanyaan
1. Apakah yang perlu diperhatikan pada persiapan larutan obat mata agar
dapat terjamin khasiatnya? Jawab : kelarutan, kesterillan, konsentrasi,
tempat penyimpanan
2. Pada percobaan, mata kelinci harus terlindung dari cahaya langsung.
Jelaskan! Jawab :
3. Sebutkan anestesika lokal mata yang digunakan, selain pada percobaan ini
! jawab

15

3.2.3

Metode Konduksi

Bahan dan alat


Hewan
: mencit jantan 20-30 gram bb
Obat : prokain HCl 0,2% dosis 0,5 mg/kg bb dilarutkan dalam NaCl
fisiologis
Alat : alat suntik 1ml, klem/ pinset ekor, silinder khusus untuk
mencit timbangan
untuk mencit
Prosedur dan pengamatan
1. Semua mencit dicoba dulu respon haffner (ekor mencit dijepit dan dilihat
angka ekor rau menit bersuara) dan hanya dipilih hewan-hewan yang
memberi respon haffner negatif, artinya hewan mengangkat ekor/
bersuara.
2. Hewan- hewan dikelompokan dan, timbang dan diberi tanda.
3. Mencit dimasukkan ke dalam silinder (kotak penahan mencit) dan hanya
ekornya yang dikeluarkan. Jumlah silinder disesuaikan dengan jumlah
mencit dari satu kelompok.
4. Ekor mencitnya kemudian dijepit pada jarak 0,5 cm dari pangkal
ekor.manifestasi rasa nyeri ditunjukan denga refleks gerakan tubuh mencit
atau dengan suara kesakitan. Respon demikian dicatat sebagai Haffner
negatif
5. Pada waktu t=0 masing masing mencit dari kelompok yang sama disuntik.
Prokain HCl di vena ekor; kelompok kontrol hanya disuntik larutan
pembawanya dengan cara penyuntikan yang sama.
6. Setelah waktu t=10 menit, masing-masing mencit diperiksa respon
haffner; dan selanjutnya dilakukan hal yang sama pada t=15 dan 20 menit.
7. Hasil pengamatan dicatat dalam sebuah tabel
A. Pengamatan
Hewan

Mencit

Obat/kelompok Cara
Respon Hafner pada waktu (t=menit)
pemberian
0

10

15

20

IV

Kontrol negatif IV

Lidokain

Prokain

IV

16

B. Pembahasan
Pada menit 20 terjadi respon haffner pada pemberian obat prokain sedangkan
pada pengontrol negatif dan lidokain pada menit 0 menit tidak terjadi respon
haffner.
C. Perhitungan dosis
Mencit I

Mencit II

Mencit III

: 23,5/20 x 0,0026
Dosis : 20 mg/2ml
V = 10 mg/ml x 0,003/v
: 26/20 x 0,0026
Dosis : 20 mg/2mg
V = 10 mg/ml x 0,003/v

= 0,003

:23/20 x 0,0026
Dosis 20 mg/2mg
V = 10mg/ml x 0,003/v

= 0,00299

= 0,0003
= 0,003
= 0,0003

= 0,000229 = 0,0003

Pengenceran : 1mg/10ml =0,0003/?


M = 0,0003 x 10 N
= 0,003 m

3.2.3 Anestesi Infiltrasi


Prosedur

17

1. Gunting bulu kelinci pada punggungnya dan cukur hingga bersih kulitnya
( hindari terjadinya luka)
2. Buat daerah penyuntikan dengan spidol dengan jarak minimal 3 cm
3. Uji getaran otot dengan memberikan sentuhan ringan pada daerah
penyuntikan dengan peniti setiap kali enam sentuhan
4. Suntikan larutan-larutan diatas daerah penyuntikan
5. Lakukan uji getaran setelah penyuntikan seperti poin ke 3
Hasil pengamatan
Hewan Bagian
percobaa

Obat di Cara
berikan

pemberia
n

Getaran punggung kelinci


0

10

15

20

25

45

5
X

0
X

Kelinc

Punggun

Tetraka

Intra

0
X

g kiri

in
Prokain

Subkutan
Intra

Subkutan

Adrenal
Punggun
g kanan

in
Lidokai
n
Lidokai
n

Intra
Subkutan

Adrenal
in

18

Pembahasan :
Pada percobaan ini hewan yang digunakan adalah kelinci, kelinci
harus terlebih dahulu digunting bulu pada bagian punggungnya cukur
hingga bersih. Suntikan larutan obat secara intra kutan, setelah disuntukan
uji getaran otot dengan menggunakan peniti.
Hasil dari percobaan ini adalah uji getaran otot hanya terjadi pada
menit ke 0, menit selanjutnya tidak ada reflex getaran otot. Sementara
penambahan larutan adrenalin pada lidokain dan prokain menyebabkan
rangsangan pada saraf adrenergic yang ada pada otot polos dan pembuluh
darah, dan dapat menyebabkan vasokoktriksi.
Pertanyaan :
1. Mengapa ada perbedaan antara efek anaestetika lokal dengan anaestetika lokal
dalam adrenalin? Jawab : karena penambahan adrenalin pada larutan
anaestetika lokal akan memberikan rangsangan pada saraf adrenergik yang
ada pada otot polos pembuluh darah kulit dan menyebabkan vasokontriksi
( penyempitan pembuluhdarah )sehingga berkurangnya kecepatan absorpsi
dalam darah.
2. Apakah

kokain sebagai anaestetika

lokal

perlu

ditambahkan adrenalin, jika iyakenapa, jika tidak jelaskan !Jawab : Tidak,


karena kokain sendiri dapat menyebabkan vasokontriksi, sehingga masa kerja
kokain lebih lama dibanding anaestesi lokal lainnya.
3. Berikan penerapan klinis dari pemakaian anaestesi permukaan dan

anaestes

iinfiltrasi?Jawab : Anaestesi permukaan, penghilang rasa oleh dokter gigi


untuk mencabutgeraham atau dokter keluarga untuk pembedahan kecil, seperti
menjahit luka dikulit. Juga di gunakan sebagai persiapan untuk prosedur
diagnostik sepertibronkoskopi, gastroskopi, dan sitoskopi. Anaestesi infiltrasi,
misalnya pada daerahkecil di kulit atau gusi ( pada pencabutan gigi ).
4. Bagaimana pengaruh pH daerah yang dianaestesi lokal terhadap potensianaest
etika lokal?Jawab : Anaestesi lokal yang biasa digunakan mempunyai pKa

19

antara 8-9,sehingga pada pH jaringan tubuh hanya didapati 5-20% dalam


bentuk basa bebas

20

Bab IV
Kesimpulan
4.1 Efek obat pada membran dan kulit mukosa
1. Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai
pengaruh pada tubuh bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat.
Contoh obat ini adalah obat-obat yang bersifat anestesi lokal ataupun
transdermal.
2. Beberapa efek dari obat lokal yang dapat ditemui adalah menggugurkan
bulu, korosif, dan astringen.
3.

Tingkat pengguguran bulu tergantung kepada kadar dan jenis dari larutan
yang digunakan

4. Semakin tinggi kadar suatu zat yang bersifat menggugurkan bulu, maka
akan semakin mendekati tingkat korosif.
5. Sama halnya dengan efek menggugurkan bulu. Larutan yang bersifat
korosif pun beraneka ragam, dan menghasilkan mekanisme efek yang
berbeda-beda, tergantung kepada kekuatan korosif yang dikandungnya.
6.

Astringen merupakan salah satu efek dari efek lokal obat yang
mekanisme kerjanya di mulut. Senyawa ini banyak ditemukan pada
gambir, teh, dan tumbuhan lain yang memiliki rasa kelat hingga
kepahitan..

4.2 Efek Anestetika Lokal


1.

21

4.3 Daftar pustaka


Anonim. 2004, Farmakologi Jilid II, Anestetika Lokal. Departemen Kesehatan RI (hal
:
Rochmawati,

120-121)
Anis.

2009.

Makalah

Tugas

Farmakologi

Sari, Irma P. S. 2009. Anestetika Lokal.


unaryo. Kokain dan Anestetik Lokal Sintetik. Dalam : ed. Ganiswarna SG.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru, 1995: 234-47.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : DEPKES RI
Guyton, A.C & Hall, J. E. Buku ajar fisiologi Kedokteran . Jakarta : EGC

22