Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KEGIATAN

UPAYA PENGOBATAN DASAR (F6)


ASMA BRONKIAL PERSISTEN BERAT

Pendamping:
dr. Agustina Rusmawati

Disusun Oleh:
dr. Endang Murtini

PUSKESMAS KAJEN I
KABUPATEN PEKALONGAN
2014

No. ID dan Nama Peserta :dr. Endang martini


1

No. ID dan Nama Wahana : Puskesmas Kajen I


Tanggal (kasus) : November 2014
Nama Pasien : Ny. S
Tanggal Presentasi :
Nama Pendamping : dr. Agustina Rusmawati
Tempat Presentasi : Puskesmas Kajen I
Obyektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran
Tinjauan
Diagnostik Manajemen
Neonatus Bayi

Masalah
Anak

Pustaka
Istimewa
Remaja

Dewasa

Bumil

Lansia
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan

Tinjauan

Bahasan :
Cara

Riset

Kasus

Pustaka
Diskusi Presentasi dan E-mail

Audit
Pos

Membahas :
diskusi
Data Pasien :
Nama : Ny. S
Nomor Registrasi :
Nama Klinik: KIA
telp :Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / gambaran klinis :
Pasien datang ke PUSTU dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari karena kehujanan.
Sebelumnya pasien sering sesak nafas jika suasana dingin atau kelelahan.Pasien mengalami sesak
nafas sejak kecil,namun sejak usia 50 tahun,sesak nafas dirasakan lebih sering kambuh.Awalnya
sesak nafas hanya timbul satu bulan sekali tapi lama-lama frekuensi sesak semakin sering
terutama dua tahun terakhir ini.Dan sejak tiga bulan terakhir,sesak nafas datang setiap hari.Sesak
nafas dirasakan memberat pada malam hari atau saat suasana dingin atau jika pasien
kelelahan.Dan hampir setiap malam sesak nafas datang.Pasien juga mengeluh batuk berdahak
bersamaan dengan sesaknya.Selama tiga bulan terakhir ini pasien rutin meminum obat dari
pustu.Pasien mengaku tidak pernah periksa ke rumah sakit,

2. RPD :
Riwayat Asma diakui,Riwayat DM disangkal, Riwayat Hipertensi disangkal, Riwayat penyakit darah
disangkal.
3. Riwayat keluarga :
Riwayat Asma diakui(ibu pasien),Riwayat DM disangkal, Riwayat Hipertensi disangkal, Riwayat
penyakit darah disangkal.
4. Riwayat Sosial Ekonomi:
Pasien merupakan seorang nenek yang tinggal bersama cucu perempuannya yang berusia 3
2

tahun.Pasien tinggal disebuah rumah di desa Gejlig.Rumah pasien terlihat seperti tidak dirawat,lantai
rumah terlihat kotor,jendela tertutup.Suami pasien sudah meninggal dunia sekitar tiga tahun yang
lalu.Pasien berobat ke pustu dengan biaya sendiri.
Daftar Pustaka
Rick Hodder. Management Of Acute Asthma In Adultin The Emergency Department : Non
Ventylatory Management . 2010
DapusCorwin, Elizabeth J. 2009. Buku saku patofisiologi. Jakarta : EGC Tanjung, Dudut.
2003. Asuhan keperawatan Asma bronkial. UniversitasSumatra Utara
Hasil Pembelajaran :
1. Penegakan diagnosis dengan urutan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2. Menganalisis faktor yang mempengaruhi penyakit asma bronkial pada pasien.
3. Melakukan home visit untuk mengetahui kondisi lingkungan dan perkembangan penyakit pasien.
4. Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga.
1. Subyektif :
Pasien datang ke PUSTU dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari karena kehujanan.
Sebelumnya pasien sering sesak nafas jika suasana dingin atau kelelahan.Pasien mengalami sesak
nafas sejak kecil,namun sejak usia 50 tahun,sesak nafas dirasakan lebih sering kambuh.Awalnya
sesak nafas hanya timbul satu bulan sekali tapi lama-lama frekuensi sesak semakin sering
terutama dua tahun terakhir ini.Dan sejak tiga bulan terakhir,sesak nafas datang setiap hari.Sesak
nafas dirasakan memberat pada malam hari atau saat suasana dingin atau jika pasien
kelelahan.Dan hampir setiap malam sesak nafas datang.Pasien juga mengeluh batuk berdahak
bersamaan dengan sesaknya.Selama tiga bulan terakhir ini pasien rutin meminum obat dari
pustu.Pasien mengaku tidak pernah periksa ke rumah sakit.
2. Obyektif :
Hasil Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum/ Kesadaran
KU : Compos Mentis ( GCS 15 : E4 V5 M6 )
BB : 50 kg
2) Vital Sign
Tekanan darah

: 110/80

Nadi

: 89 x/menit

Pernafasan

: 29x/ menit

Suhu

: afebris

3) Pemeriksaan Fisik
3

a. Kepala:
konjungtiva anemis (-/-)
sklera ikterik tidak ditemukan
nafas cuping hidung tidak ditemukan.
b. Leher :
retraksi supra sternal tidak ditemukan,
deviasi tracheal tidak ditemukan,
peningkatan JVP tidak ditemukan,
pembesaran kelenjar limfe tidak ditemukan
c. Toraks
Pulmo : simetris, gerak dada kanan dan kiri sama, retraksi intercostals (+/+), SD
vesikuler, Wheezing : +/+ , Rhonki: -/Jantung : Bunyi jantung I-II regular, bising jantung tidak ditemukan.
d. Abdomen :
Inspeksi:perut tampak datar,simetris
Palpasi :nyeri tekan(-),lien dan hepar tidak teraba
Perkusi:timpani
Auskultasi:Bising usus(+)normal.
e. Ekstremitas :
Dari hasil pemeriksaan ekstremitas dalam batas normal.

a. Assessment :
Sesak nafas yang terjadi setiap hari serta hampir setiap malam merupakan gejala dari asma
bronkial persiten berat.Faktor pemicu diantaranya bisa dari faktor cuaca yang dingin ataupun
kondisi tubuh yang lelah,dua hal tersebut dialami pasien dimana saat cuaca dingin serta kondisi
tubuh yang sangat lelah seringkali asma yang diderita kambuh.Pasien mengalami sesak sudah sejak
kecil,namun saat usia 50 tahun sesak seringkali kambuh,dan awalnya sesak hanya kambuh tiap
bulan,namun sejak tiga bulan terakhir sesak dialami setiap hari serta setiap bulan.
Asma Bronkial ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap
benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara
seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen
4

spesifikasinya
Asma persisten berat memiliki gejala sesak nafas terus menerus terjadi,gejala asma malam hari
sering terjadi, aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%.
b. Plan :

Medikamentosa:
R/Salbutamol 2mg no.X
S3dd1
R/Ciprofloxacin 500mg no.VI
S2ddi
R/Ambroxol tab no.X
S3dd1
R/Dexamethasone no.X
S3dd1

Non medikamentosa:

Edukasi mengenai faktor pemicu kambuhnya asma yang dialami pasien,misalnya saat
cuaca dingin disarankan agar memakai jaket atau penghangat tubuh lainnya,serta jangan
duduk di teras saat menjelang malam hari apalagi saat hujan,serta menyarankan agar
istirahat yang cukup karena jika kelelahan asma sering kambuh.Mengingatkan juga pada
keluarga jika asma bisa terjadi oleh karena faktor genetik atau keturunan oleh karenanya
jika terdapat anak ataupun cucu yang tinggal satu rumah mengeluh sesak nafas segera

diajak berobat agar mendapat terapi penanganan asma.


Penatalaksanaan:
Tahapan penanganan asma
Pengobatan jangka panjang berdasarkan derajat berat asma,agar tercapai tujuan pengobatan dengan
menggunakan medikasi seminimal mungkin.Pendekatan dalam memulai pengobatan jangka panjang
harus melalui pemberian terapi maksimum pada awal pengobatan sesuai derajat asma termasuk
glukokortikosteroid oral dan atau glukokortikosteroid inhalasi dosis penuh ditambah dengan agonis beta2 kerja lama untuk segera mengontrol asma,setelah asma terkontrol dosis diturunkan bertahap sampai
seminimal mungkin dengan tetap mempertahankan kondisi asma terkontrol.Cara itu disebut stepdown
therapy.Pendekatan lain adalah step-up therapy yaitu memulai terapi sesuai berat asma dan
meningkatkan terapi secara bertahap jika dibutuhkan untuk mencapai asma terkontrol.Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyarankan stepdown therapy untuk penanganan asma yaitu memulai
pengobatan dengan upaya menekan inflamasi jalan napas dan mencapai keadaan asma terkontrol
5

sesegera mungkin, dan menurunkan terapi sampai seminimal mungkin dengan tetap mengontrol asma.
Bila terdapat keadaan asma yang tetap tidak terkontrol dengan terapi awal/maksimal tersebut (misalnya
setelah 1 bulan terapi), maka pertimbangkan untuk evaluasi kembali diagnosis sambil tetap memberikan
pengobata asma sesuai beratnya gejala.
Pengobatan berdasarkan derajat berat asma
Asma Intermiten
Termasuk pula dalam asma intermiten penderita alergi dengan pajanan alergen, asmanya kambuh tetapi
di luar itu bebas gejala dan faal paru normal. Demikian pula penderita exercise-induced asthma atau
kambuh hanya bila cuaca buruk, tetapi di luar pajanan pencetus tersebut gejala tidak ada dan faal paru
normal.Serangan berat umumnya jarang pada asma intermiten walaupun mungkin terjadi. Bila terjadi
serangan berat pada asma intermiten, selanjutnya penderita diobati sebagai asma persisten sedang
Pengobatan yang lazim adalah agonis beta-2 kerja singkat hanya jika dibutuhkan, atau sebelum exercise
pada exercise-induced asthma, dengan alternatif kromolin atau leukotriene modifiers atau setelah pajanan
alergen dengan alternatif kromolin.Bila terjadi serangan, obat pilihan agonis beta-2 kerja singkat
inhalasi,alternatif agonis beta-2 kerja singkat oral, kombinasi teofilin kerja singkat dan agonis beta-2
kerja singkat oral atau antikolinergik inhalasi.Jika dibutuhkan bronkodilator lebih dari sekali seminggu
selama 3 bulan, maka sebaiknya penderita diperlakukan sebagai asma persisten ringan.

Pengobatan sesuai berat asma


Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila
dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari.
Berat Asma
Medikasi
Alternatif / Pilihan lain
Alternatif lain
pengontrol harian
Asma
Tidak perlu
-------------Intermiten
Asma Persisten
Glukokortikosteroid
Teofilin lepas
-----Ringan
inhalasi
lambat
(200-400 ug BD/hari
atau ekivalennya)

Kromolin

Leukotriene
modifiers

Asma Persisten

Kombinasi inhalasi

Sedang

glukokortikosteroid

Glukokortikosteroid
inhalasi (400-800 ug BD
atau ekivalennya)
ditambah Teofilin lepas
lambat ,atau

(400-800 ug BD/hari
atau ekivalennya)
dan
agonis beta-2 kerja
lama

Ditambah agonis
beta-2 kerja lama
oral, atau

Ditambah teofilin
lepas lambat

Glukokortikosteroid
inhalasi (400-800 ug BD
atau ekivalennya)
ditambah agonis beta-2
kerja lama oral, atau

Glukokortikosteroid
inhalasi dosis tinggi
(>800 ug BD atau
ekivalennya) atau

Glukokortikosteroid
inhalasi (400-800 ug BD
atau ekivalennya)
ditambah leukotriene
modifiers
Asma Persisten
Berat

Kombinasi inhalasi
glukokortikosteroid
(> 800 ug BD atau
ekivalennya) dan
agonis beta-2 kerja
lama, ditambah 1 di
bawah ini:

Prednisolon/
metilprednisolon oral
selang sehari 10 mg
ditambah agonis beta-2
kerja lama oral, ditambah
teofilin lepas lambat

- teofilin lepas lambat


- leukotriene
modifiers
- glukokortikosteroid
Oral
7

Semua tahapan : Bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan,
kemudian turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan
kondisi asma tetap terkontrol

Kajen, November 2014


Dokter Internship

dr. Endang Murtini

Dokter Pendamping

dr. Agustina Rusmawati


NIP. 19771231 2008 01 2 018