Anda di halaman 1dari 22

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl.Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS OBSTETRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF OBSTETRI
RUMAH SAKIT SIMPANGAN DEPOK

Nama Mahasiswa
Saphira
NIM

: Liza Amanda

: 112014289

Dr. Pembimbing

: dr. Adi Guritno, SpOG

Tanda Tangan :

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. EL
Tempat/tanggal lahir : Bogor, 28-12-1993

Jenis kelamin : Perempuan


Suku Bangsa : Sunda

(22 tahun)
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Cilangkap, Tapos, Depok

Agama : Islam
Pendidikan : SMP
G3
P0
A2

IDENTITAS SUAMI PASIEN


Nama Lengkap : Tn. A
Umur : 28 tahun

Pekerjaan : Pekerja Swasta


Alamat : Cilangkap, Tapos, Depok

Masuk RS pada tanggal 16 November 2015 pukul 05.30 WIB


1

A. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis

Tanggal : 17 November 2015

Jam:

09.00 WIB
Keluhan utama : Dikatakan bayi letak sungsang oleh dokter pada
pemeriksaan USG pada saat usia kehamilan 37 minggu

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang karena telah dijadwalkan untuk menjalani operasi seksio
sesarea

sebelumnya

oleh

dokter,

dikarenakan

bayi

letak

sungsang

berdasarkan hasil USG pada saat pemeriksaan rutin kehamilan. Sebelumnya


pasien melakukan pemeriksaan USG pada saat usia kehamilan 37 minggu
dan didapatkan janin dengan letak sungsang, dengan posisi kepala di atas
dan bokong di bagian bawah rahim. Pasien mengaku sering merasakan
gerakan kaki janin di bagian bawah perut. Pasien tidak merasakan adanya
mulas maupun nyeri pada perut. Adanya cairan yang keluar dari vagina juga
tidak dirasakan oleh pasien.
Selama kehamilan, pasien mengaku teratur kontrol ke dokter dan tidak ada
keluhan.

Ini

merupakan

kehamilan

yang

ketiga

dan

pasien

pernah

mengalami keguguran sebanyak 2 kali pada kehamilan sebelumnya dan


dilakukan kuretase. Keluhan demam dan perdarahan disangkal pasien
selama kehamilan. Riwayat hipertensi, diabetes, asma dan alergi makanan
maupun

obat-obatan

disangkal.

Riwayat

penggunaan

napza,

alkohol,

merokok dan minum jamu disangkal. Pasien mengaku riwayat BAB dan BAK
baik selama kehamilan.
Penyakit Dahulu.
(-) Cacar

(-) Malaria

(-)

Batu

kemih
(+) Cacar air
(-) Difteri
(-) Tifus abdominalis

(-) Disentri
(-) Hepatitis
(-) Wasir

(-) Burut
(-) Batuk rejan
(+) Campak

ginjal/saluran

(-) Diabetes
(-) Tonsilitis
(-) Hipertensi
(-) Asma
(-) Ulkus duodeni
(-) Neurosis
Lain-lain :

(-) Sifilis
(-) Gonore
(-) Penyakit pembuluh
(-) Perdarahan otak
(-) Psikosis
(-) Tuberkulosis
(+) Operasi (kuretase)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Alergi Ikan Laut


Tumor
Demam rematik akut
Pneumonia
Gastritis
Batu empedu
Miom

Riwayat Keluarga
Hubungan

Umur

Jenis

Keadaan

Penyebab

Kakek (dari

(Tahun)
Tidak tahu

Kelamin
Laki-laki

Kesehatan
Meninggal

Meninggal
Faktor usia

ayah)
Kakek (dari

Tidak tahu

Laki-laki

Meninggal

Faktor usia

ibu)
Nenek (dari

Tidak tahu

Perempuan

Meninggal

Faktor usia

ayah)
Nenek (dari

70 tahun

Perempuan

Sehat

ibu)
Ayah
Ibu
Pasien

57 tahun
53 tahun
22 tahun

Laki-laki
Perempuan
Perempuan

Sehat
Sehat
Sehat

Adakah kerabat yang menderita:


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberculosis
HIV
Hepatitis B
Hepatitis C
Hipertensi
Cacat bawaan
Lain-lain

Ya

Tidak

Hubungan

Nenek

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
(-) Bisul
(-) Kuku

(-) Rambut
(-) Kuning/ikterus

(-) Keringat malam


(-) Sianosis

(-) Lain-lain

Haid
Haid terakhir
Jumlah dan lamanya
Teratur/tidak
Nyeri/tidak
Menarche
Taksiran partus

: 21 Februari 2015
: Jumlahnya normal
: Teratur
: Tidak
: 11 Tahun
: 28 November 2015

lamanya :

7 hari

Riwayat Kehamilan
Trimester 1

: Ibu mengatakan pada awal kehamilannya sering mual

dan nafsu makan berkurang


Trimester 2
:
Trimester 3
: Ibu mengatakan cemas dengan kehamilannya
sekarang karena diketahui letaknya sungsang dan sering merasakan
gerakan kaki janin di bagian bawah perut.
Abortus

: 2 kali

1. Kehamilan 1 : Saat usia kehamilan 2 minggu


2. Kehamilan 2 : Saat usia kehamilan 1 bulan
Keduanya disebabkan oleh rahim ibu yang lemah dan dilakukan tindakan
kuretase
Persalinan
N

Waktu

Jenis

Cara

o
1

kelahiran
-

kelamin
-

persalinan
-

BBL

Panjang

Keadaan

badan
-

Riwayat Pernikahan
Menikah 1 x, dengan suami yang sekarang sudah 3 tahun
Kontrasepsi
(-) Pil KB

(-) Suntikan setiap 3 bulan (-) IUD

(-)

Susuk

KB

(+) Tidak KB

Saluran kemih / alat kelamin


(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Disuria
(-)
Kolik
(-)
Polakisuria
(-)
Retensi urin
(-)
Ngompol (tidak sadar)

Kencing nanah
Poliuria
Anuria
Kencing batu

(-)
(-)
(-)
(-)

Stranguri
Oliguria
Hematuria
Kencing menetes

Extremitas
(-)Bengkak

(-) Deformitas

(-) Nyeri

Berat Badan
Berat badan sebelum hamil
Berat tertinggi saat hamil

: 60 kg
: 65 kg

Pendidikan
( ) SD
( ) Sekolah kejuruan

( ) SLTP
( ) Akademi (D3)

( ) SLTA
() Universitas

B. PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan umum
Tinggi badan

: 157 cm
5

Berat badan
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
Keadaan gizi
Kesadaran
Sianosis
Edema umum
Cara berjalan
Mobilisasi (aktif/pasif)

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

65 kg
120/80 mmHg
80 x/menit
36,7oC
20x/menit
Baik
Compos mentis
tidak ada
tidak ada
Normal
Aktif

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku
: wajar
Alam perasaan : biasa
Proses pikir
: wajar
Kepala
Rambut

: bersih

Muka

: tidak pucat

Mata

: konjungtiva ananemis, sclera anikterik

Kelainan telinga, hidung, tenggorok

: tidak ada

Kulit
Warna

: sawo matang

Effloresensi

: tidak ada
Jaringan parut
: tidak ada
Pigmentasi
: normal
Pertumbuhan rambut
: lebat, distribusi merata Pembuluh
darah
Suhu raba
Keringat
Lapisan lemak
Lain-lain

:
:
:
:
:

tidak menonjol
normal
umum
normal
tidak ada

Lembab/kering
: lembab
Turgor
: normal
Ikterus
: tidak ada
Edema
: tidak ada

Kelenjar Getah Bening

Submandibula

: tidak teraba membesar

Leher

tidak

teraba

membesar
Supraklavikula

: tidak teraba membesar

Ketiak

tidak

teraba

membesar
Lipatpaha

: tidak teraba membesar

Dada
Bentuk

: simetris

Pembuluh darah : tidak tampak pelebaran pembuluh darah


Buah dada

: Puting menonjol, areola mamae menghitam, buah dada

membesar.
Jantung
Paru-paru

: BJ I-II regular, Murmur (-), Gallop (-)


: Normovesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Ekstremitas
Superior
Inferior

I.

: Edema (-/-)
: Edema (-/-), Varises (-/-)

STATUS OBSTETRIK
Pemeriksaan luar :
Inspeksi : tampak membesar, Linea nigra (+), Striae gravidarum (+)
Palpasi

Leopold I

: TFU = 35 cm, teraba massa bulat dan

keras (kepala)
Leopold II
: Tahanan
(punggung kiri)
Leopold III

terbesar

Teraba

di

massa

sebelah
bulat

dan

kiri

perut

kenyal,

ibu
tidak

melenting (bokong)
Leopold IV
: Konvergen, bagian terendah janin belum masuk PAP
HIS
: DJJ
: 140 x/menit, teratur, janin tunggal, hidup intrauterin
Pemeriksaan dalam :

Vulva / Urethra : tidak tampak kelainan

Inspekulo : tidak dilakukan pemeriksaan


7

VT : Dinding vagina licin, portio tebal dan lunak, belum ada


pembukaan, tidak terdapat penurunan bokong.

Taksiran berat janin : (35-13) x 155 = 3410 g

LABORATORIUM RUTIN
Darah
Hb

: 11,9 g%

Leukosit

: 9.100/ mm3

Hematokrit
Trombosit

: 36 %
: 247.000 mm3

Masa Perdarahan : 215 menit


Masa pembekuan : 756 menit

RINGKASAN (RESUME)
Anamnesis:
Pasien wanita berusia 22 tahun G3P0A2 datang dengan telah
dijadwalkan untuk menjalani operasi seksio sesarea sebelumnya oleh dokter,
dikarenakan

bayi

letak

sungsang

berdasarkan

hasil

USG

pada

saat

pemeriksaan rutin kehamilan. Pasien mengaku sering merasakan gerakan


kaki janin di bagian bawah perut.

Pemeriksaan Fisik:
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
Leopold I

:
:
:
:

: 120/80 mmHg
80 x/menit
36,7oC
20x/menit
TFU = 35 cm, teraba massa bulat dan keras

(kepala)

Leopold II

Tahanan

terbesar

di

sebelah

kiri

perut

ibu

(punggung kiri)
Leopold III

: Teraba massa bulat dan kenyal, tidak melenting

(bokong)
Leopold IV
DJJ

: Konvergen, bagian terendah janin belum masuk PAP


: 140 x/menit, teratur, janin tunggal, hidup

intrauterin

Pemeriksaan Penunjang
Hb

: 11,9 g%

Leukosit

: 9.100/ mm3

Hematokrit

: 36 %

Trombosit

: 247.000 mm3

Masa Perdarahan : 215 menit


Masa pembekuan : 756 menit
Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
1. Diagnosis kerja

: G3P0A2 hamil aterm 38 minggu belum inpartu,

janin tunggal hidup intrauterine letak sungsang dengan presentasi


bokong
Dasar diagnosis
a. Pada

saat

gerakan

anamnesis,

kaki

janin

di

Pasien

mengaku

bagian

bawah

sering

perut.

merasakan

Pasien

tidak

merasakan adanya mulas maupun nyeri pada perut. Adanya


cairan yang keluar dari vagina juga tidak dirasakan oleh pasien.
b. Pada saat pemeriksaan fisik Leopold I teraba massa bulat dan
keras (kepala), pada Leopold II teraba tahanan terbesar di
sebelah kiri perut ibu (punggung kiri), pada Leopold III teraba
massa bulat dan kenyal, tidak melenting (bokong), dan pada
Leopold IV teraba konvergen, yang berarti bagian terendah janin
belum masuk PAP.

Rencana pengelolaan
-

Monitoring input dan output cairan


o Pemasangan Foley catheter untuk mengukur pengeluaran urin
Terminasi kehamilan : Operasi seksio sesarea
o Informed consent
o Pemasangan infus RL 500cc, 20 tpm
o Pemeriksaan laboratorium : H2TL, CT, BT
o Profilaksis antibiotik Cefotaxim injeksi 1 gr IV

Pelaksanaan Operasi SC : dr. Enricko Hotma J. Siregar, Sp.OG


-

Pasien terlentang diatas meja operasi dalam keadaan spinal anestesi


Dilakukan antiseptik abdomen disekitarnya
Pasang duk steril kecuali daerah operasi
Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis
sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritonei

terbuka
Dibuat bladder flap, yaitu dengan menggunting peritonium kandung
kencing (plica vesico uterina) didepan segmen bawah rahim (SBR)
secara melintang. Plica vesiko uterina ini disisihkan secara tumpul
kearah samping dari bawah, kandung kencing yang telah disishkan ke
arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung

kencing.
Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm dibawah irisan plica
vesico uterina tadi secara tajam dengan pisau bedah 2 cm,
kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari

telunjuk operator.
Setelah cavum uteri terbuka, janin dilahirkan dengan bokong terlebih
dahulu. Kedua kaki di fleksikan pada lutut dan ditarik keluar. Posisi
tangan mencengkram bokong janin secara femuro-pelviks dan badan
janin ditarik dengan posisi punggung janin mendekati perut ibu sampai

seluruh kepala janin lahir.


Lahir bayi jam 08.25 tanggal 16 November 2015. Jenis kelamin
perempuan dengan BBL 2800 kg, PB 48 cm.
Tali pusat di klem pada dua tempat lalu digunting
Luka dinding rahim dijahit
o - Lapisan I : Dijahit jelujur pada endometrium dan miometrium
o - Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja
10

o - Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesico uterina


Setelah dinding rahim selesai dijahit kedua adneksa dieksplorasi
Rongga perut dibersihkan dari sisa darah
Peritonium dijahit dengan chromic secara simpul
Fascia dijahit dengan Asscryl secara jelujur
Subkutis dijahit dengan monisin secara simpul
Kulit dijahit dengan monosin secara subkutikuler
Luka operasi dibersihkan dengan alkohol 70 % ditutup dengan
Soffratule, ditutup dengan kasa, dan terakhir ditempel dengan

Hypavix.
Pasien diberi obat Ketoprofen 100 mg suppositoria
Operasi selesai jam 09.50
Observasi keadaan pasca operasi selama 2 jam

Edukasi pasien
1. Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi protein hewani
maupun nabati seperti telur, daging, dan susu.
2. Istirahat yang cukup.
3. Mengkonsumsi suplemen penambah darah.

Prognosis (Ibu) :
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad fungsional
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Prognosis (bayi)
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad fungsional
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

FOLLOW UP :
17 November 2015 jam 06.00
S : nyeri luka operasi
11

O:
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 96 x / menit

Suhu

: 36,6

Pernapasan

: 24 x / menit

Keadaan umum

: Baik

Abdomen
darah (-)

: TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi +, verband rembes

Perdarahan

: Minimal

Mobilisasi

: Bertahap

Urin

: 600cc

A : P1A2 post sectio caesar aterm dengan letak sungsang hari pertama
P : IVFD RL 20 tpm, Pronalges supp 3x1 (supp), cefadroxil 500 mg tab 2x1
(oral), asam mefenamat 500 mg tab 3x1 (oral), sangobion tab 1x1 (oral)

18 November 2015 jam 06.00


S : nyeri post operasi.
O:
Tekanan darah

: 120/90 mmHg

Nadi

: 96 x / menit

Suhu

: 36,5

Pernapasan

: 21x / menit

Keadaan umum

: Baik

Abdomen

: TFU 2 jari di bawah pusat

Perdarahan

: Minimal

Mobilisasi

: Bertahap

A : P1A2 post sectio caesar aterm dengan letak sungsang hari kedua

12

P : IVFD RL 20 tpm, Asam mefenamat 500mg 3x1 tab (oral), cefadroksil


500mg 2x1 tab (oral)
Rencana pulang

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian
terendahnya bokong, kaki atau kombinasi keduanya.
Prevalensi
Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari persalinan yang ada.
Terjadinya letak sungsang berkurang dengan bertambahnya umur
kehamilan. Letak sungsang terjadi pada 25% dari persalinan yang terjadi
sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang terjadi
pada minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada
kehamilan aterm.2,3 Sebagai contoh, 3,5 persen dari 136.256 persalinan
tunggal dari tahun 1990 sampai 1999 di Parkland Hospital merupakan letak
sungsang.
Patofisiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32
minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan
janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan
diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai
13

terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati
ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada ruangan
yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar
ditemukan dalam presentasi kepala.
Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada
dalam posisi sungsang.
Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni:
Presentasi bokong (frank breech) (50-70%). Pada presentasi bokong akibat
ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya
terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada
pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong.
Presentasi bokong kaki sempurna ( complete breech ) ( 5-10%). Pada
presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.
Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki ( incomplete or
footling ) ( 10-30%). Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya
terdapat satu kaki di samping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke
atas. Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu atau dua kaki.
Etiologi
Ada beberapa penyebab yang memegang peranan dalam terjadinya
letak sungsang diantaranya adalah:
1. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban
masih banyak dan kepala anak relatif besar
2. Hidramnion karena anak mudah bergerak.
3. Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas
panggul.
4. Panggul sempit
5. Kelainan bentuk kepala: hidrocephalus, anencephalus, karena kepala
kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.
Diagnosis

14

Diagnosis letak sungsang pada umumnya tidak sulit. Pada


pemeriksaan luar, di bagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang
keras dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba di fundus uteri. Kadangkadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah
kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Seringkali
wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada
kehamilannya yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan
gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah. Denyut jantung janin pada
umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilikus.
Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak dapat
dibuat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau
banyaknya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan
dalam.
Apabila
masih
ada
keragu-raguan,
harus
dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik.
Setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang
ditandai dengan adanya sakrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat
diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit,
sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar
dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang
telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema,
sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan bokong dengan muka.
Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan bokong dengan muka
karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus mengalami rintangan otot,
sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang rahang
dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna,
kedua kaki dapat diraba disamping bokong, sedangkan pada presentasi
bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu kaki di samping bokong.
Jenis pimpinan persalinan sungsang
1. Persalinan pervginam
a. Persalinan spontan (spontaneous breech). Janin dilahirkan
dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut
dengan cara Bracht.
b. Manual aid (partial breech extraction; assisted breech delivery).
Janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan
sebagian lagi dengan tenaga penolong.
c. Ekstraksi sungsang (total breech extraction). Janin dilahirkan
seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.
15

2. Persalinan per abdominam (seksio sesarea)


Prosedur persalinan sungsang per abdominal
1. Persalinan letak sungsang dengan seksio sesarea sudah tentu
merupakan

cara

yang

terbaik

ditinjau

dari

janin.

Banyak

ahli

melaporkan bahwa persalinan letak sungsang pervaginam, memberi


trauma yang sangat berarti bagi janin, yang gejala-gejalanya akan
tampak baik pada waktu persalinan maupun baru di kemudian hari.
2. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua letak sungsang harus
dilahirkan per abdominal. Untuk melakukan penilaian apakah letak
sungsang dapat melahirkan per vaginam atau harus per abdominam
kadang-kadang sukar.
3. Beberapa kriteria yang dapat dipakai pegangan bahwa letak
sungsang harus dilahirkan per abdominal, misalnya:
Primigravida tua.
Nilai sosial janin tinggi (high social value baby).
Riwayat persalinan yang buruk (bad obstetric history).
Janin besar, lebih dari 3,5 kg-4 kg.
Dicurigai adanya kesempitan panggul.
Prematuritas.
Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk
menilai lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan per vaginam
atau per abdominam.

0
Primi
>39 mg

1
Multi
38 mg

kehamilan
Taksiran berat >3630

3629-3176 g

<3176 g

janin
Riwayat

1 kali

>2 kali

Paritas
Umur

letak Tidak

<37 mg

sungsang
Pembukaan

<2 cm

3 cm

>4 cm

serviks
Station

<-3

-2

-1

atau

lebih

16

rendah

Arti nilai:
< 3 : persalinan per abdominam
4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin; bila
nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam.
>5 : dilahirkan pervaginam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mochtar, R. Sinopsis Obstetri . Jakarta : EGC.
2. Prawiroharjo S. Asuhan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP; 2010
3. Prawiroharjo S. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pendidikan
Sarwono Prawiroharjo; 2010

1. Pembagian Trimester
Trimester Pertama (Minggu 0 12)

Periode Germinal (Minggu 0 3)


o Pembuahan telur oleh sperma terjadi pada minggu ke-2 dari hari
pertama menstruasi terakhir.
o Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan
menempel ke dinding uterus (endometrium).

Periode Embrio (Minggu 3 8 )


o Sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi
mulai terbentuk.
o Mata, mulut dan lidah terbentuk. Hati mulai memproduksi sel
darah.
17

o Janin berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm


dengan kepala yang besar

Periode Fetus (Minggu 9 12)


o Semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling
berkait.
o Aktivitas otak sangat tinggi.

Trimester kedua (Minggu 12 24)

Pada minggu ke-18 ultrasongrafi sudah bisa dilakukan untuk mengecek


kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar.

Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada


minggu ke 20 21

Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak


mata sudah dapat membuka dan menutup.

Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30


cm.

Trimester ketiga (24 -40)

Semua organ tumbuh sempurna

Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi (nendang,


nonjok) serta periode tidur dan bangun. Masa tidurnya jauh lebih
lama dibandingkan masa bangun.

Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.

Pada bulan ke-9, janin mengambil posisi kepala di bawah, siap untuk
dilahirkan.

18

Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm.


2. Definisi dan Jenis Infertilitas

Infertilitas adalah tidak terjadinya kehamilan setelah menikah 1 tahun atau


lebih dengan catatan pasangan tersebut melakukan hubungan seksual
secara teratur tanpa adanya pemakaian kontrasepsi. Mengingat faktor usia
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pengobatan,
maka bagi perempuan berusia 35 tahun atau lebih tentu tidak perlu harus
menunggu selama 1 tahun. Minimal enam bulan sudah cukup bagi pasien
dengan masalah infertilitas untuk datang ke dokter untuk melakukan
pemeriksaan dasar.
WHO memberi batasan:
1. Infertilitas primer adalah belum pernah hamil pada wanita yang telah
berkeluarga meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa
perlindungan kontrasepsi untuk selang waktu paling kurang 12 bulan. :
2. Infertilitas sekunder adalah tidak terdapat kehamilan setelah berusaha
dalam waktu 1 tahun atau lebih pada seorang wanita yang telah berkeluarga
dengan hubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi,
tetapi sebelumnya pernah hamil
3.

Menghitung Taksiran Berat Janin pada Presentasi Bokong

Ultrasonografi merupakan pedoman yang akurat yang digunakan saat ini


untuk pengukuran TBJ pada presentasi bokong (Dammer et al., 2013).
Pengukuran TBJ berdasarkan TFU selama ini digunakan untuk kehamilan
dengan presentasi kepala, sementara untuk presentasi bokong belum
banyak digunakan. Ada 2 rumus yang bisa digunakan untuk mengukur TBJ
dengan TFU yaitu rumus Johnson dan rumus Risanto. Rumus Johnson yang
merupakan modifikasi rumus Mc Donald sudah umum digunakan untuk
memperkirakan berat janin (Shittu et al., 2007). Rumus Risanto yang
diformulasikan berdasarkan penelitian pada populasi Indonesia, sekarang
sudah mulai digunakan di RS Sardjito dan RS Jejaring.
Selain dengan metode USG diperlukan suatu metode lain sebagai alternative
untuk mengukur TBJ pada kehamilan presentasi bokong. Metode ini
19

diharapkan dapat digunakan pada tempat-tempat pelayanan kesehatan yang


belum mempunyai fasilitas USG atau pada kasus-kasus presentasi bokong
yang datang dengan pembukaan lengkap sehingga tidak cukup waktu
melakukan pemeriksaan USG. Metode tersebut harus sederhana, mudah
digunakan, murah dan akurat. Rumus Risanto dengan formula: Y (BBL dalam
gram) = 125 X (TFU dalam cm) 880, merupakan rumus untuk mengukur
TBJ pada kehamilan presentasi kepala. Rumus ini sudah digunakan di RS
Sardjito dan RS Jejaring (Siswosudarmo, 2012). Dalam penelitian ini, rumus
Risanto digunakan untuk mengukur TBJ khusus pada kehamilan presentasi
bokong, kemudian hasil perhitungan rumus ini dibandingkan dengan BBL.
Dari hasil penelitian ini diharapkan rumus Risanto selain digunakan untuk
mengukur TBJ pada kehamilan 3 presentasi kepala, dapat juga digunakan
sebagai alternatif mengukur TBJ pada presentasi bokong, oleh karena sampai
saat ini metode yang akurat untuknmengukur TBJ pada presentasi bokong
adalah metode USG.
Johnson dan Tosbach (1954) menggunakan suatu metode untuk menaksir
berat janin dengan pengukuran ( TFU ) tinggi fundus uteri, yaitu dengan
mengukur jarak antara tepi atas symfisis pubis sampai puncak fundus uteri
dengan mengikuti

lengkungan uterus,

memakai pita

pengukur

serta

melakukan pemeriksaan dalam ( vaginal toucher ) untuk mengetahui


penurunan bagian terendah (pengukuran Mc Donald) dikurangi dengan 13
yang kemudian dibagi dinyatakan dalam lbs atau pon. dikenal juga dengan
rumus Johnson-Thousack. Rumus terbagi tiga berdasarkan penurunan kepala
janin.
Berat janin = (Tinggi fundus uteri - 13) x 155, bila kepala janin masih
floating
Berat janin = (Tinggi fundus uteri 12) x 155, bila kepala janin sudah
memasuki pintu atas panggul / H II

20

Berat janin = (Tinggi fundus uteri 11) x 155, bila kepala janin sudah
melawati H III
Sebelum dilakukan pemeriksaan, terlebih dahulu dilakukan pengosongan
kandung kemih. Bila ketuban sudah pecah ditambah 10% dan tinggi fundus
diukur dalam sentimeter.
Penentuan berat badan janin dengan Ultrasonografi (USG) Penentuan berat
badan janin dengan USG menggunakan beberapa parameter, seperti;
Biparietal Diameter (BPD), Femur Length (FL), Abdominal Circumference
(AC), Cross sectional Area of Thigh (CSAT). Pengukuran BPD diambil dari tepi
luar tulang tengkorak janin proksimal ke tepi luar tulang distal. Diameter
transversal dan lingkar batang janin diukur dalam bidang melintang standar
pada tingkat perut dan pusat uratductus venosus kompleks. FL diukur dari
ujung proksimal lebih besar trokanter ke metaphysis distal. Untuk CSAT,
maka didefinisikan sebagai luas penampang otot dan tulang paha di bidang
sebelah kanan sudut terhadap sumbu panjang tulang paha, di mana
kawasan ini merupakan bagian terbesar.
Metode yang digunakan untuk mengukur CSAT adalah sebagai berikut. FL
pertama kali diukur, maka probe itu cenderung berada di sudut kanan ke
panjang sumbu femur dan bergerak cepat di sepanjang permukaan. Pada
titik di mana luas penampang otot-otot dan tulang paha mencapai nya
maksimum, gerak probe dihentikan. Daerah kemudian diukur dengan
menggunakan fungsi elips. Pengukuran lingkar paha janin elips. Pengukuran
lingkar paha janin tercatat di bidang melintang di persimpangan atas dan
tengah pertiga dari paha, di proksimal foramen nutrien dari femur.
Sehingga dari beberapa parameter di atas, didapatkan sebuah formula,
yaitu: (Aoki, 1990)
TBBJ = 13 (FL CSAT) + 39 (gm)
Keterangan :
21

TBBJ = Taksiran Berat badan janin


FL = Femur Length
CSAT = Cross sectional Area of Thigh

22