Anda di halaman 1dari 31

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Dengan makan dan minum tubuh kita mendapat air, elektrolit, karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan lain-lainya. Dalam waktu 24 jam jumlah air dan
elektrolit yang masuk dan yang keluar lewat air kemih, tinja, keringat dan uap air
pernapasan. Terapi cairan dibutuhkan, kalau tubuh tidak dapat memasukkan air,
elektrolit dan zat-zat makanan secara oral misalnya pada keadaan pasien harus
puasa lama, karena pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak syok
hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah dan lain-lain. Dengan terapi cairan
kebutuhan akan air dan elektrolit dapat dipenuhi. Selain itu dalam keadaan
tertentu adanya terapi cairan dapat digunakan sebagai tambahan untuk
memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau dapat juga untuk menjaga
keseimbangan.asambasa.
Defisit cairan perioperatif timbul sebagai akibat puasa pra-bedah yang
kadangkadang dapat memanjang, kehilangan cairan yang sering menyertai
penyakit primernya, perdarahan, manipulasi bedah, dan lamanya pembedahan
yang mengakibatkan terjadinya sequestrasi atau translokasi cairan. Pada periode
pasca bedah kadang-kadang perdarahan dan atau kehilangan cairan (dehidrasi)
masih berlangsung, yang tentu saja memerlukan perhatian khusus. Puasa prabedah selama 12 jam atau lebih dapat menimbulkan defisit cairan (air dan
elektrolit) sebanyak 1 liter pada pasien orang dewasa.
Gejala dari defisit cairan ini belum dapat dideskripsikan, tetapi termasuk
di dalamnya adalah rasa haus, perasaan mengantuk, dan pusing kepala. Gejala
dehidrasi ringan ini dapat memberikan kontribusi terhadap memanjangnya waktu
perawatan di rumah sakit yang terlihat dari penelitian 17638 pasien dengan hasil
bahwa rasa mengantuk dan pusing kepala pasca bedah merupakan faktor prediktor
yang berdiri sendiri terhadap bertambah lamanya waktu perawatan pasca bedah.
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda

hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema


paru dan gagal nafas. Sampai saat ini terapi cairan dan elektrolit perioperatif
masih merupakan topik yang menarik untuk dibicarakan karena dalam prakteknya
banyak hal yang sulit ditentukan atau diukur secara objektif.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komposisi Cairan Tubuh
Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat
berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Air
juga berperan sebagai regulator suhu serta menjaga agar tubuh tetap dalam kondisi
homeostatis. Pada bayi usia < 1 tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat
badan dan pada bayi usia > 1 tahun mengandung air sebanyak 70-75 %. Seiring
dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan
berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa

50-60% berat badan,

sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan.


Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada
perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun
perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan
tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah,
maka resiko penderita menjadi lebih besar. Seluruh cairan tubuh didistribusikan
ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. Lebih jauh
kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairan intravaskular, intersisial dan
transeluler.

Gambar 2.1 komposisi cairan tubuh

A.Cairan intraselular
Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang
dewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular
(sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70
kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan
cairan intraselular.
B.Cairan ekstraselular
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan
ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah
dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah
cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini
sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.
Cairan ekstraselular dibagi menjadi
1. Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar
11- 12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume
interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2
kali
2. Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya
volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L
dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah
merah, sel darah putih dan platelet.
3. Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu
seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan
sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan

sewaktu, volume cairan

transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak


dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler.

Tabel 2.2 distribusi cairan tubuh


. Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan
non elektrolit yang sangat penting bagi tubuh. Elektrolit Merupakan zat yang
terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Non elektrolit
merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama. Kation utama
dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama
dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat
di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. Anion
utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat
(HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat
(PO43-). Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial
pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari
cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.
1. Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling
berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium
plasma:135-145mEq/liter.

Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:


-

Left atrial stretch reseptor

Central baroreseptor

Renal afferent baroreseptor

Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)

Atrial natriuretic factor

Sistem renin angiotensin

Sekresi ADH

Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)

Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB


dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces
35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15
gram NaCl). Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan
interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan
natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas

maka akan terjadi

keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium


dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila
kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila
volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.
2. Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler
berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.
Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubahubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan
protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap
hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan
konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces
72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.
3. Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90%
dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini
tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium

sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da


hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan
ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.
4. Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk
pertumbuhan +10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.
5. Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu
hasil akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit
sekali
bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paruparu dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa.
2.1.1 Proses Pergerakan Cairan Tubuh
Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan
mekanisme transpor pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak
membutuhkan energi sedangkan mekanisme transpor aktif membutuhkan energi.
Difusi dan osmosis adalah mekanisme transpor pasif. Sedangkan mekanisme
transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP. Proses
pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:
a. Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran
semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih

rendah

menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh


membran sel dan kapiler permeabel terhadap air, sehingga tekanan osmotik
cairan tubuh seluruh kompartemen sama. Membran semipermeabel ialah
membran yang dapat dilalui air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat
terlarut misalnya protein.
Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan
tekanan

osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer
laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik
(akuades), sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik.
b. Difusi
Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan
bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah.
Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi
melewati pori-pori tersebut.
c. Pompa Natrium Kalium
Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa
ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa
ion kalium dari luar ke dalam. Tujuan dari pompa natrium kalium adalah
untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel.
2.1.2 Asupan dan kehilangan cairan dan elektrolit pada keadaan normal
Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat
berubah oleh stres akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh
adanya cedera pada paru-paru, kulit atau traktus gastrointestinal.
Pada keadaan normal, seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500
ml per hari, dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan
cairan ratarata 250 ml dari feses, 800-1500 ml dari urin, dan hampir 600 ml
kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss) dari kulit dan paruparu.
Kepustakaan lain menyebutkan asupan cairan didapat dari metabolisme
oksidatif dari karbohidrat, protein dan lemak yaitu sekitar 250-300 ml per hari,
cairan yang diminum setiap hari sekitar 1100-1400 ml tiap hari, cairan dari
makanan padat sekitar 800-100 ml tiap hari, sedangkan kehilangan cairan terjadi
dari ekskresi urin (rata-rata 1500 ml tiap hari, 40-80 ml per jam untuk orang
dewasa dan 0,5 ml/kg untuk pediatrik), kulit (insensible loss sebanyak rata-rata 6
ml/kg/24 jam pada rata-rata orang dewasa yang mana volume kehilangan
bertambah pada keadaan demam yaitu 100-150 ml tiap kenaikan suhu tubuh 1
derajat celcius pada suhu tubuh di atas 37 derajat celcius dan sensible loss yang
banyaknya tergantung dari tingkatan dan jenis aktivitas yang dilakukan), paru-

paru (sekitar 400 ml tiap hari dari insensible loss), traktus gastointestinal (100-200
ml tiap hari yang dapat meningkat sampai 3-6 L tiap hari jika terdapat penyakit
di traktus gastrointestinal), third-space loses.
2.1.3 Perubahan cairan tubuh
Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu :
1.Perubahan volume
a. Defisit volume
Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh
yang paling umum terjadi pada pasien bedah. Penyebab paling umum
adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah, penyedot
nasogastrik, diare dan drainase fistula. Penyebab lainnya dapat berupa
kehilangan cairan pada . Keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat
akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan
jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi
sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi.
(Elssbury&George, 2006).

Dehidrasi isonatremik (130-150 mEq/L) Dehidrasi isonatremik


merupakan yang paling sering terjadi (80%). terjadi

ketika

kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium


terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif
sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen
ekstravaskular.

Dehidrasi hiponatremik (<139 mEq/L) atau dehidrasi hipotonis


(hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan

dengan

kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan


hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang
lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar
natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskular
berpindah

ke

kompartemen

ekstravaskular,

menyebabkan penurunan volume intravaskular.

sehingga

10

Dehidrasi hipernatremik (>150 mEq/L) terjadi ketika kehilangan


cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit

dari darah

(kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar terjadi


kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang
hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen
ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga
meminimalkan penurunan volume intravaskular. Terapi untuk
dehidrasi (rehidrasi) dilakukan dengan mempertimbangkan
kebutuhan cairan untuk rumatan, defisit cairan dan kehilangan
cairan yang sedang berlangsung.
Strategi untuk rehidrasi adalah dengan memperhitungkan defisit cairan,
cairan rumatan yang diperlukan dan kehilangan cairan yang sedang
berlangsung disesuaikan .

SKOR
Keadaan

1
Baik

2
Lesu/haus

umum

3
Gelisah, lemas,
mengantuk

Mata
Mulut
Pernapasan
Turgor
Nadi

Biasa
Biasa
< 30 x/menit
Baik
< 120 x/menit

Cekung
Kering
30-40 x/menit
Kurang
120-140

hingga syok
Sangat cekung
Sangat kering
> 40 x/menit
Jelek
> 140 x/menit

x/menit
Tabel 2.1 Skoring dehidrasi
Interpretasi:
- Skor 6

: tanpa dehidrasi

- Skor 7-12

: dehidrasi ringan-sedang

- Skor 13

: dehidrasi berat

Derajat Dehidrasi
Ringan
Sedang

Dewasa
4%
6%

Anak anak
4%-5%
5 % - 10 %

11

Berat

8%

10% 15 %

Tabel 2.2 Perkiraan Kehilangan cairan berdasarkan derajat dehidrasi


Cara rehidrasi:
1. Nilai status rehidrasi (sesuai tabel di atas). Jumlah cairan yang diberikan
derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 c.
2. Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan.
3. Pemberian cairan
a. 6 jam I : D + M atau 8 jam I D+ M
b. 18jam II : D+ M atau 16 jam II : D + M ml/jam
b. Kelebihan volume
Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat
iatrogenik (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan
kelebihan air dan Na, Ccedera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan,
peritonitis, obstruksi usus, dan luka bakarl ataupun pemberian cairan intravena
glukosa yang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat
insufisiensi renal (gangguan pada GFR), sirosis, ataupun gagal jantung
kongestif. Gejala overhidrasi:
- Nadi tak teratur, kesulitan bernafas, sakit kepala
- Edema ekstrmitas bawah
- Tekanan darah meningkat
- BB meningkat, weakness
- Edema di sekitar periorbital dan ekstremitas bawah
- Level kesadaran menurun, bingung karena kurangnya oksigenasi ke otak
- Peningkatan bising usus
2. Perubahan konsentrasi

Hiponatremia
Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan
mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika
kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Hiponatremia
ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik),
hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses,
diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Keadaan ini dapat diterapi

12

dengan restriksi cairan (Na+ 125 mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak


(140-X)xBBx0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg. Koreksi
hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahan
lahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk
menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus:

Hipernatremia
Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa
perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah. Hipernatremi dapat
disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes
insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium
berlebihan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5%
dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}: 14

Hipokalemia
Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut
kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan
kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan gejala hipokalemia dapat
berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST
segmen depresi, hipotensi postural, kelemahan otot skeletal, poliuria,
intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor
presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infus potasium
klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau
infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh
EKG (untuk hipokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG,
kelemahan otot yang hebat). Rumus untuk menghitung defisit kalium:

Hiperkalemia

13

Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L, sering terjadi karena insufisiensi
renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor,
siklosporin, diuretik).
3. Perubahan komposisi

Asidosis respiratorik (pH< 3,75 dan PaCO2> 45 mmHg).


Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk
menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah.

Kejadian akut

merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi


jalan nafas, atelektasis, pneumonia, efusi pleura, nyeri dari insisi abdomen
atas, distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan.
melibatkan susunan saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem
kardiovaskular (disritmik, perubahan EKG). Terapi untuk hiperkalemia.
Manajemennya melibatkan koreksi yangadekuat dari defek pulmonal,
intubasi endotrakeal, dan ventilasi mekanis bila perlu. Perhatian yang ketat
terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting.

Alkalosis respiratorik (pH> 7,45 dan PaCO2 < 35 mmHg)


Kondisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hipoksia, cedera SSP, dan
ventilasi yang dibantu. Pada fase akut, konsentrasi bikarbonat serum
normal, dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang
cepat. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari
termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, penggunaan yang tepat dari
ventilator mekanik, dan koreksi defisit potasium yang terjadi.

Asidosis metabolik (pH<7,35 dan bikarbonat <21 mEq/L)


Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau
kehilangan bikarbonat. Penyebab yang paling umum termasuk gagal
ginjal, diare, fistula usus kecil, diabetik ketoasidosis, dan asidosis laktat.
Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi
PaCO2. Penyebab paling umum adalah syok, diabetik ketoasidosis,
kelaparan,

aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. Terapi

sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. Terapi


bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya
setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan.

14

Alkalosis metabolik (pH>7,45 dan bikarbonat >27 mEq/L)


Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan
bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. Masalah yang umum terjadi
pada pasien bedah adalah hipokloremik, hipokalemik akibat

defisit

volume ekstraselular
2.2 Terapi Cairan
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema
paru dan gagal nafas. Defisit cairan perioperatif timbul sebagai akibat puasa prabedah yang kadangkadang dapat memanjang, kehilangan cairan yang sering
menyertai penyakit primernya, perdarahan, manipulasi bedah, dan lamanya
pembedahan yang mengakibatkan terjadinya sequestrasi atau translokasi cairan.
Pada periode pasca bedah kadang-kadang perdarahan dan atau kehilangan cairan
(dehidrasi) masih berlangsung, yang tentu saja memerlukan perhatian khusus.
Puasa pra-bedah selama 12 jam atau lebih dapat menimbulkan defisit cairan (air
dan elektrolit) sebanyak 1 liter pada pasien orang dewasa.
Terapi cairan operatif meliputi :
I. Pengganti defisit Pra bedah
Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi
(puasa, lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin
segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi. Setelah
dari sisa defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama
pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada jam kedua
berikutnya. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti
dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat
dan Dextrose. Pada penderita yang karena penyakitnya tidak
mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi
enteral atau parenteral lebih dini lagi. Penderita dewasa yang

15

dipuasakan karena akan mengalami pembedahan (elektif) harus


mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama
puasa.

Defisit

karena

perdarahan

atau

kehilangan

cairan

(hipovolemik, dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit


bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi
cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi.
II. Terapi cairan selama pembedahan
Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung
berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan
cairan akibat pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan
penguapan

atau

evaporasi).

Jenis

cairan

yang

diberikan

tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah


yang hilang.
a) Pembedahan

yang

tergolong

kecil

dan

tidak

terlalu

traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi, katarak) cukup


hanya diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan.
b) Pembedahan

dengan

appendektomi
ml/kgBB/jam

dapat
untuk

trauma

ringan

misalnya:

diberikan

cairan

sebanyak

kebutuhan

dasar

ditambah

ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan.


Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan
garam seimbang seperti Ringer Laktat atau Normosol-R.
c) Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan
sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah
8

ml/kgBB/jam

untuk

pembedahannya.

Total

10ml/kgBB/jam.
III. Terapi Cairan dan Elektrolit Pasca Bedah
Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal
di bawah ini:
1.

Pemenuhan

kebutuhan

dasar/harian

air,

elektrolit

dan

kalori/nutrisi. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis

16

dalam keadaan basal sekitar 50 ml/kgBB/24jam. Pada hari


pertama pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium
karena adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak,
proses

katabolisme

dan

transfusi

darah.

Akibat

stress

pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang


cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab
itu, pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium.
Penderita

dengan

pembedahan

keadaan

minimum,

umum

pemberian

baik

dan

karbohidrat

trauma
100-150

mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori


dan dapat menekan pemecahan protein sampai 50% kadar
albumin harus dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian
cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila
perlu larutan garam isotonis. Terapi cairan ini berlangsung
sampai penderita dapat minum dan makan.
2. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:
-

Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar


15% setiap kenaikan 1C suhu tubuh

Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde


lambung atau muntah.

Penderita

dengan

hiperventilasi

atau

pernapasan

melalui trakeostomi dan humidifikasi.


3.

Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan

selama pembedahan
yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr
%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki
daya angkut oksigen.
4. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan
terapi

cairan

tersebut.

Monitoring

organ-organ

vital

dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah, frekuensi


nadi, diuresis, tingkat kesadaran, diameter pupil, jalan nafas,
frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit.

17

2.2.1 Dasar-Dasar Terapi Cairan Elektrolit Perioperatif


Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan menjadi
pegangan dalam pemberiancairan perioperatif, yaitu :
1. Kebutuhan normal cairan dan elektrolit harian
Orang

dewasa

rata-rata

membutuhkan

cairan

30-35

ml/kgBB/hari dan elektrolit


utama

Na+=1-2

mmol/kgBB/haridan

K +=

1mmol/kgBB/hari.

Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang


akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat
(lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan
insensible water losses. Cairan yang hilang ini pada umumnya bersifat
hipotonus (air lebih banyak dibandingkan elektrolit).
2. Defisit cairan dan elektrolit pra bedah
Hal ini dapat timbul akibat dipuasakannya penderita terutama
pada penderita bedah elektif (sektar 6-12 jam), kehilangan cairan
abnormal

yang

(perdarahan,
cairan

pada

seringkali

muntah,

menyertai

diare,

penderita

diuresis

dengan

penyakit

bedahnya

berlebihan,translokasi

trauma),

kemungkinan

meningkatnya insensible water loss akibat hiperventilasi, demam dan


berkeringat banyak. Sebaiknya kehilangan cairan pra bedah ini
harus segera diganti sebelum dilakukan pembedahan.
3. Kehilangan cairan saat pembedahan
1. Perdarahan
Dalam praktek jumlah perdarahan selama pembedahan hanya bisa
ditentukan berdasarkan kepada taksiran (perlu pengalaman banyak) dan
keadaan klinis penderita yang kadang-kadang dibantu dengan
pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit berulang- ulang (serial).
Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit lebih menunjukkan
rasio plasma terhadap eritrosit daripada jumlah perdarahan. Kesulitan
penaksiran akan bertambah bila pada luka operasi digunakan cairan

18

pembilas (irigasi) dan banyaknya darah yang mengenai kain penutup,


meja operasi dan lantai kamar bedah.
2. Kehilangan Cairan Lainnya
Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih
menonjol dibandingkan perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi
dan translokasi cairan internal. Kehilangan cairan akibat penguapan
(evaporasi) akan lebih banyak pada pembedahan dengan luka
pembedahan yang luas dan lama. Sedangkan perpindahan cairan atau
lebih dikenal istilah perpindahan ke ruang ketiga atau sequestrasi secara
masif dapat berakibat terjadi defisit cairan intravaskuler. Jaringan yang
mengalami trauma, inflamasi atau infeksi dapat mengakibatkan
sequestrasi sejumlah cairan interstitial dan perpindahan cairan ke
ruangan serosa (ascites) atau ke lumen usus. Akibatnya jumlah cairan
ion fungsional dalam ruang ekstraseluler meningkat. Pergeseran cairan
yang terjadi tidak dapat dicegah dengan cara membatasi cairan dan
dapat merugikan secara fungsional cairan dalam kompartemen
ekstraseluler dan juga dapat merugikan fungsional cairan dalam ruang
ekstraseluler.
4. Gangguan fungsi ginjal
Pada organ ginjal pembedahan dan anestesia dapat mengakibatkan:
o

Laju Filtrasi Glomerular (GFR = Glomerular Filtration Rate)

menurun.
Reabsorbsi Na+ di tubulus meningkat yang sebagian disebabkan

oleh meningkatnya kadar aldosteron.


Meningkatnya kadar hormon anti diuretik (ADH) menyebabkan
terjadinya retensi air dan reabsorpsi Na+ di duktus koligentes

(collecting tubules) meningkat.


Ginjal tidak mampu mengekskresikan free water atau untuk
menghasilkan urin Hipotonis

2.2.2 Tujuan terapi cairan dan jenis cairan


1.Tujuan
a. Utk mengganti kekurangan air & elektrolit

19

b. Utk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada:


Px tidak mau makan
Px tdk bisa makan &
Px tidak boleh makan
c. Utk mengatasi shock :
hypovolemic, anaphylactic, cardiogenic & septic
d. Utk mengatasi kelainan yg ditimbulkan karena
terapi yg diberikan kurang adekuat
2. Jenis cairan
1. Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF).
Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia dengan mudah
di setiap pusat kesehatan, tidak perlu dilakukan cross match, tidak
menimbulkan alergi atau syok anafilaktik, penyimpanan sederhana dan
dapat disimpan lama. Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup
(3-4 kali cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan
koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan
kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.
a. Ringer laktat (RL)
Larutan RL secara teoritis merupakan larutan paling ideal. Larutan RL
adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler.
Rl dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien
dengan kondisi hipovolemia dengan asidosis metabolik, komustio, dan
sindroma syok. Laktat mengalami metabolisme di hepar dan berubah
menjadi bikarbonat lewat siklus trikarbosili atau depat lewat jalur
glukoneogenesis, membentuk glukosa dan bikarbonat. Pada keadaan
syok berat kadar laktat dalam darah sudah tinggi , srhingga beberapa
peneliti berhati-hati bila menggunakan laktat.
b. Ringer Asetat (RA)
RA memiliki profil serupa dengan RL. Tempat metabolisme laktat
terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat
di metabolisme pada hampir seluruh jarngan tubuh dengan otot sebagai

20

ttempat terpenting. Penggunaan RA sebagai cairan resusitasi diberikan


pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis dan
asidosis laktat. Asetat cepat dimetabolisme bahkan dalam kondisi syok
yang berat sekalipun.
c. NaCl isotonis
Larutan NaCL isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok
hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia, atau alkalosis
metabolik. Larutan ini cukup adekuat sebagai penggati cairan pada
hipovolemia berat dan dapat diberoan dalam jumlah yang besar tanpa
menybabkan efek samping selama fungsi ginjal normal. Krlrbihan
elektrolit biasanya dikeluarkan lewat ginjal. Pemberian NaCl isotonis
pada penderita dengan disfungsi tubulus renalis berat dapat
menyebabkan asidosis.
2. Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma
substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat
zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik
yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh
3-6 jam) dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering
digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok
hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia
berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar) . Kerugian
dari plasma expander yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi
anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan gangguan pada cross
match.
Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:
a. Koloid alami
1. Albumin endogen
Albumin adalah protein serum utama yang mempengaruhi 80% tekanan
onkotik koliod. Albumin berikatan dengan kation dan anion dan sebagai
oengangkut beberapa bahan seperti asam lemak, obat-obatan, bilirubin,
hormon, enzim, logam, dan radikal bebasnoksigen. Peran albumin dalam

21

sintesis albumin endogen ini lebih pada kontribusinya terhadap tekanan


onkotik. Karena itu adanya cairan onkotik lain dalam ruag intravaskular akan
menurunkan sintesis albumin.
1. Albumin Eksogen
Ada 3 jenis albumin eksogen yaitu larutan albuminserum manusia 5% dan 25%
serta fraksi protein yang dimurnikan (Purified Protein Fraction). Efek samping
pemberian albumin adalah resiko hepatitis dan AIDSm edema paru, penurunan
kadar CA++ dan reaksi anafilaksis. Indikasi pemakaian albumin antara lain: 1)
penurunan volume di intravaskuler akut seperti perdarahan, traua, vvasodilatasi
akut. 2) kehilangan cairan di rongga ketiga sepert peritonitis akut, mediastinitis
akut, dan pasca operasi besar, 3) luka bakar, 4) penyakt parasintesis, dialisis,
atau diuresis yang banyak, 5) sebagai larutan pump priming pada by pass
kardiopulmoner dan hemodialisis
b. Koloid sintesis yaitu:
1. Dextran:
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70
(Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri
Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Walaupun
Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan
Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi
mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. Selain itu
Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet
adhesiveness, menekan aktivitas faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan
melancarkan aliran darah. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat
mengganggu cross match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan
gagal ginjal. Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah
yaitu dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.
2. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 1.000.000, rata-rata
71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg.
Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46%

22

lewaturin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Larutan
koloid inijuga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat meningkatkan
kadar serumamilase ( walau jarang). Low molecullar weight Hydroxylethyl
starch (Penta-Starch) mirip Heta starch, mampu mengembangkan volume
plasma hingga 1,5 kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam.
Karena potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan
toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch
dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.
3. Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul ratarata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang.
Ada 3 macam gelatin, yaitu:
- modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell)
- Urea linked gelatin
- Oxypoly gelatin
Merupakan plasma expanders dan banyak digunakan pada penderita gawat.
Walaupun dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (jarang) terutama dari
golongan urea linked gelatin.

2.2.3 Terapi Cairan Perioperatif


A. Pengganti defisit pra bedah

23

Status cairan harus dinilai dan dikoreksi sebelum dilakukannya induksi


anestesi untuk mengurangi perubahan kardiovaskuler dekompensasi
akut. Penilaian status cairan ini didapat dari :

Anamnesa : Apakah ada perdarahan, muntah, diare, rasa haus.


Kencing terakhir, jumlah dan warnya.

Pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan fisik ini didapat tanda-tanda


obyektif dari status cairan, seperti tekanan darah, nadi, berat badan,
kulit, abdomen, mata dan mukosa.

Laboratorium meliputi pemeriksaan elektrolit, BUN, hematokrit,


hemoglobin dan protein.

Defisit cairan dapat diperkirakan dari berat-ringannya dehidrasi yang


terjadi.

Pada fase awal pasien yang sadar akan mengeluh haus, nadi
biasanya meningkat sedikit, belum ada gangguan cairan dan
komposisinya secara serius. Dehidrasi pada fase ini terjadi jika
kehilangan kira-kira 2% BB (1500 ml air).

Fase moderat, ditandai rasa haus. Mukosa kering otot lemah, nadi
cepat dan lemah. Terjadi pada kehilangan cairan 6% BB.

Fase

lanjut/dehidrasi

berat,

ditandai

adanya

tanda

shock

cardiosirkulasi, terjadi pada kehilangan cairan 7-15 % BB.


Kegagalan

penggantian

cairan

dan

elektrolit

biasanya

menyebabkan kematian jika kehilangan cairan 15 % BB atau lebih.


Cairan preoperatif diberikan dalam bentuk cairan pemeliharaan:
Dewasa: 2 ml/kgBB/jam. Atau 60 ml ditambah 1 ml/kgBB untuk
berat badan lebih dari 20 kg.
Anak-anak : 4 ml/kg pada 10 kg BB I, ditambah 2 ml/kg untuk 10
kgBB II, dan ditambah 1 ml/kg untuk berat badan sisanya.
Tanda rehidrasi tercapai ialah dengan adanya produksi urine 0,5-1
ml/kgBB.

24

B. Cairan selama pembedahan


Perdarahan yang banyak akan menyebabkan gangguan pada fungsi
kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena peprdarahan merupakan
akibat lanjut. Pada keadaan demikian, memperbaiki keadaan umum
dengan menfatasi syok yang terjadi dapat dilakukan dengan
pemberian cairan elektrolit, plasma atau darah. Untuk perbaikan
sirkulasi, langkah uatamanya adalah mengupayakan aliran vena yang
memadai. Dapat dimulai dengan memberikan infus saline atau ringer
laktat. Secara teoritis perdarahan yang terjadi selama pembedahan
dapat diukur dari :
Botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap
darah (suction pump)
Menimbang kasa yang digunakan sebelum dan setelah pembedahan.
Kasa yang penuh darah (ukuran 4x4 cm) mengandung 10 ml
darah, sedangkan tampon besar (laparatomy pads) dapat menyerap
darah 100-10 ml.
Jumlah

penggantian

cairan

selama

pembedahan

dihitung

berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat


pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau
evaporasi). Jenis cairan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan
jumlah darah yang hilang.
1. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya
bedah mata (ekstrasi, katarak) diberikan cairan rumatan saja selama
pembedahan.
2. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat
diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar
ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan.
3. Pembedahan dengan trauma sedang berat diberikan cairan sebanyak
2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk
pembedahannya.
Kebutuhan cairan tambahanan berdasar derajat trauma :
Perubahan

Contoh operasi

Rata rata

25

cairan
Kecil
Sedang
Besar

Perbaikan Tendon
Timpanoplasti
Histerektomi
hernia Inguinal
Peritonitis
Laparatomi dengan

( kristaloid )
2

4
4

ml/kg/hr

6
ml/kg/hr

memotong

ml/kg/hr
usus
Tabel 2.3 Tabel Kebutuhan cairan menurut derajat pembedahan
Kehilangan darah sampai sekitar 20% EBV (EBV = Estimated Blood
Volume = taksiran volume darah), akan menimbulkan gejala hipotensi, takikardi
dan penurunan tekanan vena sentral. Kompensasi tubuh ini akan menurun pada
seseorang yang akan mengalami pembiusan (anestesi) sehingga gejala-gejala
tersebut seringkali tidak begitu tampak karena depresi komponen vasoaktif.
Untuk koreksi perdarahan selama operasi pada pasien dewasa
dengan perdarahan >20% dari perkiraan volume darah perlu diberikan
tranfusi. Sedangkan jikaperdarahan <20% dari perkiraan volume darah, maka
diberikan cairan kristaloid sebanyak 2-3x jumlah perdarahan atau koloid yang
jumlahnya sama dengan perkiraan jumlah perdarahan. Pada pasien bayi dan
anak, jika perdarahan >10% dari volume darah, maka diperlukan pemberian
tranfusi, sedangkan jika perdarahan <10% dari perkiraan volume darah, dapat
diberikan terapi cairan yang sama dengan pasien dewasa. Walaupun volume
cairan intravaskuler dapat dipertahankan dengan larutan kristaloid, pemberian
transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan:
a.

Keadaan umum penderita ( kadar Hb dan hematokrit) sebelum


pembedahan.

b.

Jumlah/penaksiran perdarahan yang terjadi

c.

Sumber perdarahan yang telah teratasi atau belum.

d.

Keadaan hemodinamik (tensi dan nadi.

e.

Jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan

f.

Kalau mungkin hasil serial pemeriksaan kadar hemoglobin dan


hematokrit.

g.

Usia penderita

Sebagai patokan kasar dalam pemberian transfusi darah:

26

- 1 unit sel darah merah (PRC = Packed Red Cell) dapat menaikkan kadar
hemoglobin sebesar 1gr% dan hematokrit 2-3% pada dewasa.
- Transfusi 10 cc/kgBB sel darah merah dapat menaikkan kadar hemoglobin
3gr% Monitor organ-organ vital dan diuresis, berikan cairan secukupnya
sehingga diuresis 1 ml/kgBB/jam.
C. Terapi Cairan dan Elektrolit Pasca Bedah
Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini:
1. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.
2. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal
sekitar 50 ml/kgBB/24jam. Pada hari pertama pasca bedah tidak
dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari
sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah. Akibat
stress pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung
menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab itu, pada 2-3 hari pasca
bedah tidak perlu pemberian natrium. Penderita dengan keadaan umum
baik dan trauma pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150
mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat
menekan pemecahan protein sampai 50% kadar albumin harus
dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup
dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garam isotonis. Terapi
cairan ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan.
Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:
a. Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap
kenaikan 1C suhu tubuh.
b. Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung
atau muntah.
c. Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui
trakeostomi dan humidifikasi.
3. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama
pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang
dari 10 gr%, sebaiknya

diberikan transfusi darah untuk

memperbaiki daya angkut oksigen.

27

4. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi


cairan tersebut. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara
seksama meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat
kesadaran, diameter pupil, jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh
dan warna kulit.
D. Terapi Cairan pada Perdarahan
Penderita yang mengalami perdarahan menghadapi 2 masalah,
yaitu sisa volume yang beredar dan berapa sisa eritrosit untuk mengangkut
oksigen ke jaringan.
1. Volume darah
Bila volume darah hulang mencapai1/3 nya, penderita akan meninggal
dalam beberapa jam. Perubahan yang terjadi pada hipovolemik berupa:

Vasokonstriksi

organ

sekunder

(viscera,

otot,

kulit)

untuk

menyelamatkan organ ptimer (otak, jantung, dll) dengan aliran darah


yang tersisa.

Vasokonstriksi menyebabkan hipoksia jarinhan, terjadi metabolisme


anaerob yang memproduksi asam laktat sehinggga menyebabkan
asidosis laktat.

Pergeseran kompartemen cairan. Kehilangan darah dari intravakuler


sampai

EBV

(Estimated

Blood

Volume)

tidak

mengganggu

komopartemen lain. Tetapi jika kehilangan darah mencapai >25% atau


jika terjadi syok.hipotensi maka kompartemen intersitial dan intrasel
akan ikut terganggu. Jika dalam terapi hanya diberikan sejumlah
kehilangan volume intravaskuler (PV), penderita masih mengalami
defisit yang menyebabkan syoknya irreversible dan akan berakhir
dengan kematian
2.

Eritrosit untuk transportasi oksigen


Dalam keadaan normal jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan
adalah:

28

Co x P oksigen x 0,03 diabaikan karena kecil, sehingga jumlah


oksigen di jaringan tergantung pada cardiac output, saturasi, dan kadar Hb.
Jika eritrosit hilang, total Hb akan berkurang, maka COP harus dinaikkan
agar penyediaan oksigen jaringan tidka terganggu. Hipovolemi akan
mematahkan

COP.

Dengan

mengembalikan

volume

darah

sampai

normovolume, COP akan mampu berkompensasi. Jika Hb tidak turun sampai


1/3, COP dapat naik sampai 3x.
Perdarahan yang banyak (syok hemoragik) akan menyebabkan
gangguan pada fungsi kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena perdarahan
merupakan akibat lanjut. Pada keadaan demikian, memeprbaiki keadaan
umum dengan mengatasi syok yang terjaid dapat dilakuka dengan pemberian
cairan elektrolit, plasma atau darah. Untuk perbaikan sirkulasi, langkah
utamanya adalah mengupayakan aliran vena yang memadai. Dimulai dengan
memberikan infus Saline atau Ringer laktat isotonis. Sebelumnya, ambil
darah 20 ml untuk emeriksaan laboraturium rutin dan golongan darah.
Perdaragan berat adalah kasus gawat darurat yang membahayakan jiwa.
Untuk memperkirakan volume darah yang hilang dilakukan dengan kriteria
Giesecke.

Class
I

Lost EBV
<15 %

Tekanan darah
Masih normal
Hipotensi postural +
Sistolik + tetap

Nadi
< 100

Tanda lain
Agak gelisah
Nafas 14 20

II

15 30 %

III

30 40 %

Diastolik naik
Tekanan/ Nadi turun
Hipotensi postural

>120

Agak gelisah
Nafas 20 30

IV

> 40

Sistolik turun

> 140

Cap.refill lambat
Oliguria
Gelisah/ bingung
Nafas 30 40

>100

Sistolik sangat turun

Kulit dingin keabu-abuan


Anuria
Bingung/ lethargy
Tabel 2.4 Derajat Perdarahan Berdasarkan Giescke

29

Pada pasien dengan hemodinamik stabil yang termasuk pada grup A tidak
memerlukan tranfusi. Namun jika hemodinamik stabil namun hasil Hb <7 gr/%
dan Ht< 25%

maka tranfusi perlu diberikan. Namun jika telah dilakukan

resusitasi dan penggantian cairan hingga 4x EBL (Estimated Blood Loss) pasien
tidak mengalami perbaikan hemodinamik, maka tranfusi harus segera dilakukan
akibat perdarahan yang tidak terkontrol dan pasien mengalami syok.

BAB 3
KESIMPULAN
Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat
berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada
bayi usia < 1 tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada
bayi usia > 1 tahun mengandung air sebanyak 70-75 %. Seiring

dengan

pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsurangsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60% berat badan, sedangkan pada
wanita dewasa 50 % berat badan. Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh,
yang dapat terjadi pada perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan
puasa preoperatif maupun perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis
yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum
tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih besar.
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema

30

paru dan gagal nafas. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan
dan menjadi pegangan dalam pemberiancairan perioperatif,
yaitu : 1) Kebutuhan normal cairan dan elektrolit harian, 2)
Defisit cairan dan elektrolit pra bedah, 3) Kehilangan cairan saat
pembedahan, 4) Gangguan fungsi ginjal, 5) Penggantian darah
yang hilang.

DAFTAR PUSTAKA
29
1. Pandey CK, Singh RB. Fluid and electrolyte disorders. Indian
J.Anaesh. 2003;47(5):380-387.
2. Kaswiyan U. Terapi cairan perioperatif. Bagian Anestesiologi
dan Reanimasi. Fakultas KEdokteran Unpad/ RS. Hasan
Sadikin. 2000.
3. Holte K, Kehlet H. Compensatory fluid administration for
preoperative

dehydrationdoes it improve outcome? Acta

Anaesthesiol Scand. 2002; 46: 1089 93.


4. Heitz U, Horne MM. Fluid, electrolyte and acid base
balance. 5th ed. Missouri: Elsevier-mosby; 2005.p3-227
5. Guyton AC, Hall JE.Textbook of medical physiology. 9th ed.
Pennsylvania: W.B. saunders company; 1997: 375-393
6. Latief AS, dkk. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan
pada pembedahan. Ed. Kedua. Bagian anestesiologi dan
terapi intensif, FKUI. 2002

31

7. Silbernagl F, Lang F. Color atlas of pathophysiology.


Stuttgart: Thieme; 2000: 122-3.

30