Anda di halaman 1dari 2

Osteomielitis kronik merupakan kelanjutan dari osteomielitis akut yang tidak terdiagnosis atau

tidak diterapi secara adekuat. Perkembangan osteomielitis adalah suatu proses kompleks yang
berhubungan dengan interaksi antara pejamu dan agen infeksi. Respon inflamasi pada pejamu
akibat suatu patogen dan predisposisi genetik yang mempengaruhi adanya perbedaan fungsi
kekebalan merupakan etiologi pada beberapa kasus osteomielitis. Faktor terkait seperti penyakit
yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh dan kelemahan vaskular serta
pemasangan prostesis sendi sering terkait dengan kejadian osteomielitis.8
Keluhan utama nyeri di tungkai bawah sebelah kanan yang dialami 6 bulan pada
pasien ini dikarenakan pasien mengalami suatu infeksi kronik yang merupakan kelanjutan dari
osteomielitis akut yang tidak terdiagnosis dan diterapi secara adekuat. Pasien juga mengalami
kemerahan, nyeri tekan, penurunan fungsi kruris dekstra dan timbulnya sinus drainase yang
membuka ke kulit diatasnya serta adanya fraktur patologik sehingga mengakibatkan pasien tidak
bisa menggerakkan kakinya untuk berjalan.
Pasien juga memiliki riwayat dermatitis atopik (+) yang sering residif. Hal ini membuat
pasien mudah mengalami suatu infeksi kulit berulang terutama oleh infeksi piogenik. Bengkak,
nyeri, kemerahan pada kaki yang dialami secara tiba-tiba 6 bulan lalu disertai demam dapat
dikarenakan pasien mengalami suatu selulitis. Selulitis sering di akibatkan oleh staphylococcus
aureus dan streptococcus.Akibat penanganan selulitis yang tidak terlambat dan tidak adekuat
menyebabkan terjadinya penyebaran infeksi melalui darah maupun secara langsung ke tulang.
Pasien juga memiliki riwayat trauma dengan low energy trauma, walaupun trauma ini tidak
menyebabkan suatu perlukaan yang tampak pada kulit namun bisa berpotensi menyebabkan
suatu peradangan yang bisa berkembang menjadi fokus infeksi pada tulang yang terkena.
Terjadinya anemia mikrositik normokromik dan pengingkatan LED pada pasien ini
menandakan suatu infeksi kronik. Anemia mikrositik normokromik pada pasien dengan
osteomielitis disebabkan karena adanya peradangan sistemik berkepanjangan sehingga terjadi
sekuestrasi zat besi di dalam sel sistem retikuloendotel akibat peradangan.
Pada pemeriksaan radiologi kruris dekstra tampak fraktur pada proksimal tibia dan 1/3
tengah tibia dekstra, tampak pembentukan tulang baru, destruksi dengan gambaran sklerotik dan
rarefaksi dengan gambaran radiolusen pada korteks dan medula. Terdapat sequestra dan abses
Brodie.Serta terdapat sequestra dan abses Brodie. Daerah metafisis menjadi daerah sasaran
infeksi karena daerah metafisis merupakan daerah pertumbuhan sehingga sel-sel mudanya rawan

terjangkit infeksi, metafisis kaya akan rongga darah sehingga risiko penyebaran secara
hematogen juga meningkat dan pembuluh darah di metafisis memiliki struktur yang unik dan
aliran darah di daerah ini melambat sehingga kuman akan berhenti disini dan berproliferasi.
Penatalaksanaan pada pasien ini berupa terapi pembedahan yaitu sekuestrektomi dengan
tujuan membuang tulang mati yang terinfeksi atau sekuestrum dan pemberian antibiotik baik
lokal maupun sistemik sesuai hasil kultur. Sisa rongga abses di dalam tulang pada umumnya
mengharuskan tindakan pembedahan untuk membuat lubang agar permukaan tulang terbuka
seperti saucer (saucerization). Darinase dan penyuntikkan antibiotik melalui rongga seharusnya
dilakukan 3-6 minggu.Terkadang operasi rekonstruktif seperti bone graf dan skin graft juga
dibutuhkan untuk mengurangi defek pada tulang dan jaringan lunak.9,10
Berdasarkan klasifikasi Cierny-Mader pasien ini tergolong stadium 4, sehingga
penanganan pada pasien ini meliputi debrideman diikuti stabilisasi menggunakan ekternal fiksasi
dan pemberian antibiotik berdasarkan hasil kultur darah. Pada hasil kultur didapatkan bakteri
gram negatif yaitu Pseudomonas Aeruginosa. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi khususnya
pasien dengan daya tahan tubuh yang lemah dan sering mnyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi
pseudomonas dapat terjadi pada traktus respiratorius, gastrointestinal, kulit,mata, telinga,
jantung, tulang dan sendi serta dapat menyebabkan bakteriemia.
Berdasarkan uji sensitivitas antibiotik yang sensitif ialah Meropenem, Amikacin,
Ciprofloxacin, Fosfomycin, Levofloxacin, Norfloxacin, Ofloxacin, Sulfonamides. Pada pasien
ini di berikan meropenem secara parenteral kemudian dilanjutkan dengan terapi oral
menggunakan cotrimoxazole.
Pada pasien ini terjadi suatu fraktur patologis pada daerah tibia dektra. Hal ini dapat
terjadi karena osteomielitis yang dialami pasien menyebabkan tulang tibia tidak sehat dan
mengalami suatu penipisan dan kerapuhan sehingga tulang pasien mudah mengalami fraktur
walau terkena trauma dengan energi yang kecil. Pada pasien ini tidak dilakukan pemasangan
eksternal fiksasi karena pertimbangan dari segi perawatan luka yang harus dijalani mengingat
pasien memiliki jarak rumah yang sangat jauh dari rumah sakit. Sehingga pada pasien ini hanya
dilakukan stabilisasi dengan pemasangan gips sebagai ekternal support.