Anda di halaman 1dari 2

Tugas dr. Muhardi Djabang, Sp.

p
Ranita Rusydina Daroh
1112103000029
STREPTOMISIN
I. DEFINISI
Streptomisin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida.
II. INDIKASI
Sebagai

kombinasi

pada

pengobatan

TB

bersama

Isoniazid,

Rifampisin, dan Pirazinamid, atau untuk penderita yang dikontra indikasi


dengan 2 atau lebih obat kombinasi tersebut. Streptomisin juga dapat
digunakan sebagai terapi untuk endokarditis streptococcal, tularemia, dan
bruselosis.
III.FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK
Aktivitas antibakteri streptomisin terutama tertuju pada basil Gram
negatif. Antibiotik streptomisin bekerja dengan cara menghambat sintesis
protein secara reversibel. Antibiotik ini berikatan pada subunit 30S
ribosom

bakteri,

beberapa

juga

pada

subunit

59S

ribosom

dan

menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke situs P, dan


menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA dan mengakibatkan bakteri
tidak mampu mensintesis protein vital untuk pertumbuhannya.
Absorpsi dan nasib streptomisn adalah kadar plasma dicapai
sesudah suntikan im 1-2 jam, sebanyak 520 mcg/ml pada dosis tunggal
500 mg, dan 2550

mcg/ml pada dosis 1.

Didistribusikan kedalam

jaringan tubuh dan cairan otak, dan akan dieliminasi dengan waktu paruh
23 jam kalau ginjal normal, namun 110 jam jika terdapat gangguan
ginjal.

Streptomisin diekskresikan dalam urine (sebanyak 90% sebagai

obat utuh), feses, saliva, keringat dan air mata (<1%).


Streptomisin melewati plasenta dengan cepat sampai ke sirkulasi
janin dan cairan

amnion serta mencapai kadar kurang dari 50%

dibandingkan kadar ibu. Pada negara berkembang dianjurkan tidak


menggunakan streptomisin selama kehamilan. Kategori untuk kehamilan
adalah D.

IV. DOSIS
Dosis streptomisin 0,75 - 1 g/hari selama 14-21 hari selanjutnya 1g
3 kali seminggu secara intramuskular.
V. INTERAKSI
Interaksi dari streptomisin adalah dengan kolistin, siklosporin,
sisplatin menaikkan risiko nefrotoksisitas, kapreomisin, dan vankomisin
menaikkan ototoksisitas dan

nefrotoksisitas, bifosfonat meningkatkan

risiko hipokalsemia, toksin botulinum


neuromuskuler,

diuretika

kuat

meningkatkan hambatan

meningkatkan

risiko

ototoksisitas,

meningkatkan efek relaksan otot 56 yang non depolarising, melawan efek


parasimpatomimetik dari neostigmen dan piridostigmin.
VI.

EFEK SAMPING
Efek samping akan meningkat setelah dosis kumulatif 100 g, yang

hanya boleh dilampaui dalam keadaan yang sangat khusus. Efek samping
yang dpat timbul antara lain hipotensi, neurotoksik, mengantuk, sakit
kepala, demam, parestesia, kemerahan pada kulit, nausea, muntah,
eosinofilia, anemia, atralgia, lemah, tremor, ototoksisitas (auditori dan
vestibuler), nefrotoksik, dan kesulitan bernapas. Efek samping yang
dilaporkan dari berbagai studi pada hewan yaitu ototoksisiti. Tuli
kongenital telah dilaporkan terjadi

pada

bayi

yang

dalam kandungan, walaupun tidak ada hubungan


mekanisme
penelitian

ototoksisiti
menggunakan

dengan

pajanan

audiogram

terpajan selama

yang pasti tentang

selama

menunjukkan

kehamilan.
50

anak

Hasil
tidak

mengalami gangguan, 2 dari 33 anak dengan kehilangan pendengaran,


sampai 4 dari 13 anak dengan tes kalorifik

tidak

normal.

Hal ini

merupakan kejadian ototoksisiti yang berasal dari pajanan selama dalam


kandungan.

Penelitian

lain

menyimpulkan

streptomisin

dapat

menyebabkan kerusakan sistem vestibular dan kerusakan nervus kranialis


ke-8.