Anda di halaman 1dari 10

II.

PENDELEGASIAN

Saya lebih senang bantuan


b.
supervise dari manajer terus
1. PENGERTIAN
menerus.
Pendelegasian dapat
C. PENDELEGASIAN YANG TIDAK
c.
diartikan sebagai penyelesaian
TEPAT (Improper-delegation)
suatau pekerjaan melalui orang lain
Pendelegasian menjadi tidak
atau dapat juga diartikan sebagai
efektif bila diberikan kepada orang
d.
pelimpahan suatau tugas kepada
yang tidak tepat karena alasan faktir
seseorang atau kelompok dalam
suka/ tidak suka. Pendelegasian
e.
menyelesaikan tujuan organisasi
tersebuat tidak akan memperoleh
(Marquis dab Huston,1998)
hasil yang baik karena adanya
f.
Pendelegasian/ pelimpahan
kecenderungan manajer meniali
asuhan keperawatan kepada pasien
pekerjaan staf berdasarkan unsur
g.
oleh perawat tidak mudah dilakukan
subjektivitas.
kerena menyangkut pemberian suatu 3. KONSEP PENDELEGASIAN
3.
perintah kepada orang lain untuk
Pendelegasian yang baik
menyelesaikan tugas yang diemban.
bergantung pada keseimbangan
Para perawat menyakini bahwa
antara tiga komponen utama yaitu
mereka dapat memberikan
tanggung jawab, kemampuan, dan
pendelegesian dengan baik kepda
kewenangan. Tanggung jawab
staf dalam asuhan keperawatan,
(responsibility) adalah suatu rasa
tetapi sering tidak dilaksanakan
tanggung jawab terhadap
dengan baik. Hal ini menyebabkan
penerimaan suatu tugas.
a.
kurangnya rasa percaya kepada
Kemampuan (accountability) adalah
orang lain yang menerima
kemampuan seseorang dalam
b.
pendelegasian (delegasi).
melaksanankan tugas yang
2. KETIDAKEFEKTIFAN DALAM
didelegasikan. wewenang adalah
c.
PENDELEGASIAN
pemberian hak dan kekuasaan
d.
Pendelegasian dalam praktek
kepada delegasi untuk mengambil
4.
keperawatan professional sering
suatu keputusan terhadap tugas yang
ditemukan mengalami masalah, di
dilimpahkan.
mana proses pendelegasian tidak
4. KONSEP DASAR PENDELEGASIAN
dilaksanakan secara efektif atau
YANG EFEKTIF
kesalahan yang sering ditemukan
Lima konsep yang mendasari
dapat dibedakan menjadi tiga hal
efektivitas dalam pendelegasian.
yaitu under-delegation, overLima konsep tersebuat akan
delegation dan improper-delegation.
dijelaskan sebagai berikut.
A. PENDELEGASIAN YANG TERLALU 1. Pendelegasian bukan suatu system
SEDIKIT (UNDER-DELEGATION)
untuk mengurangi tanggung jawab.
Manajer keperawatan sering
Tetapi suatu cara untuk membuat
beramsumsi bahwa jika mereka
tanggung jawab menjadi bermakna.
melakukan sendiri maka akan
Manajer keperawatan sering
menjadi lebih baik dan lebih cepat
mendelegasikan tangung jawabnya
daripada didelegasikan kepada orang
kepada staf dalam melaksanakan
lain. misalnya manager selalu berfikir
asuhan terhadap pasien. Misalnya,
Saya bisa mengerjakan ini lebih
dalam penerapan model asuhan
baik, bila dia yang mengerjakan akan
keperawatan professional primer,
5.
memerlukan waktu yang lama .
seorang perawat primer (PP)
Keadaan ini berdampak terhadap
melimpahkan tanggung jawabnya
proses pendelegasian wewengan,
dalam memberikan asuhan
dimana orang yang menerima tugas
keperawatan kepada perawat
hanya diberukan wewengan yang
pendamping/ associate (PA). Perawat
sangat terbatas dan sering terjadi
primer memberikan tanggung jawab
ketidakjelasan wewengan yang harus
yang penuh dalam merawat pasien
dilakukan, sehingga tugas tersebut
yang didelegasikan.
tidak dapat diselesaikan dengan baik. 2. Tanggung jawab harus didelegasikan
B. PENDELEGASIAN YANG
secara seimbang. Perawat primer
BERLEBIHAN (Over-delegation)
menyusun tujuan tindakan
Pendelegasian yang berlebihan
keperawatan. Tanggung jawab untuk
kepada staf, akan berdampak
melaksanakan tujuan. rencana
terhadap penggunaan waktu yang
didelegasikan kepada staf yang
sia-sia. hal ini disebabkan
sesuai atau menguasai kasus yang
keterbatasan manajer untuk
dilimpahkan. Kemudian PP
1)
memonitori dan menghabiskan waktu
memberikan wewengan kepada PA
dalam tugas organisasi. Staf akan
untuk mengambil semua keputusan
merasa terbebani dan sering
menyangkut keadaan pasien dalm
ditemukan penyalahgunaan
mencapau tujuan yang telah
wewenang yang diberikan. Misalnya
ditetapkan. Proses tersebut harus
2)
staf sering bertanya Saya tidak tahu
meliputi.
apa yang manajer harapkan atau
a. pengkajian kebutuhan pasien

identifikasi tugas yang dapat


dilaksanankan dengan bantuan orang
lain
mendidik dan memberikan pelatihan
supaya tugas dapat dilaksanakan
dengan aman dan kompeten
proses menentukan kompetensi
dalam membantu seseorang
ketersediaan supervise yang cukup
oleh PP.
proses evaluasi yang terus menerus
dalam membantu seseorang
proses komunikasi tentang keadaan
pasien antara PP dan PA
Proses pelimpahan membuat
seseorang melaksanakan tanggung
jawabnya mengembangkan
wewenang yang dilimpahkan, dan
mengembangkan kemampuan dalam
mencapai tujuan organisasi.
Keberhasilan pelimpahan ditentukan
oleh:
intervensi keperawatan yang
diperlukan
siapa yang siap dan sesuai dalam
melaksanakan tugas tersebut
bantuan apa yang diperlukan
hasil apa yang diharapkan.
Konsep tentang dukungan perlu
diberikan kepada semua anggota.
Dukungan yang penting adalah
menciptakan suasana yang asertif.
Setelah PA melaksanakan tugas yang
dilimpahkan, maka PP harus
menunjukkan rasa percaya diri
kepada PA untuk melaksanankan
asuhan keperawatan secara mandiri.
Jika masalah timbul, maka PP harus
selalu menanyakan Apa yang bisa
kita lakukan? Empowering meliputi
pemberian wewengan seseorang
untuk melaksanakan tugas secara
kritis otonomi, menciptakan
kemudahan dalam melaksanakan
tugas, secara rasa kebersamaan dan
hubungan yang serasi.
Seorang delegasi harus terlibat aktif.
Ia harus dapat menganalisis otonomi
yang dilimpahkan untuk dapat
terlibat aktif. keterbukaan akan
mempermudah komunikasi antara PP
dan PA.
PEDOMAN PELIMPAHAN
WEWENANG YANG EFEKTIF
Proses pendelegasian harus didahului
dengan informasi yang jelas.
pendelegasian yang jelas harus
mengandung informasi mengenai
tujuan spesifik, target waktu, dan
pelaksanaan tindakan keperawatan.
Tujuan spesifik
tujuan yang spesifik dan jelas baik
secara fisik maupun psikis harus jelas
sebagai parameter kepada siapa
pendelegasian itu diberikan.
Target waktu

seorang PP atau Ners harus


memberikan target waktu dalam
memberikan pendelegasian kepada
PA. Pada perencanaan keperawatan
kepada pasien, PP harus menuliskan
target waktu yang jelas sebagai
indicator keberhasilan asuhan
keperawatan.
3) Pelaksanaan tindakan keperawatan
PP harus mengidentifikasi dan
memberikan petunjuk intervensi
a.
keperawatan yang sesuai terhadap
kebutuhan pasien. Tahap pengkajian
dan pengambilan keputusan harus
b)
didiskusikan sebelum tindakan
dilaksanakan
6. CARA PENDELEGASIAN
c)
a. Seleksi dan susun tugas
Sediakan waktu yang cukup
untuk menyusun daftar tugas-tugass
yang harus dilimpahkan secara
d)
rasional dan dapat dilaksanakan oleh
staf. Tahap berikutnya yan harus
dikerjakan secara otomatis adalah
menyiapkan laporan yang kontinu,
e)
menjawab setiap pertanyaan,
menyiapkan jadwal berurutan,
memesan alat-alat presentasi pada
komisi yang bertanggung jawab dan
melaksanakan asuhan keperawatan
dan tugas teknis lainnya. Menyusun
suatu daftar secara berurutan dangan
dua kriteria, yakni waktu yang
7.
diperlukan dan pentingnya bagi
institusi.
Hal yang terpenting dalam
mendelegasikan tugas adalah
menentukan suatu tugas
a)
pendelegasian dan wewenang secara
bertahap. Hal ini akan menghindari
terjadinya suatu penyalagunaan
wewenang.
b. Seleksi orang yang tepat
Pilih orang yang sesuai untuk b)
melaksanakan tugas tersebuat
berdasarkan kemampuan dan
persyaratan lainnya. Tepat tidaknya
Anda memilih staf bergantung dari
kemampuan manajer mengenal
kinerja staf, kelebihan, kelemahan,
dan perilaku.
Hati-hati terhadap
pendelegasian yang berlebihan atau c)
yang terlalu sedikit. Jika Anda
memberikan pendelegasian terlalu
berlebihan, maka staf tidak akan siap
untuk menerima keadaan tersebut
dan akan berdampak terhadap
kegagalan staf dalam melaksanakan
tanggung jawab untuk tugas yang
pertama kali diterimanya. Sebaliknya,
Pendelegasian yang terlalu sedikit
akan menjadi hal yang sangat buruk
efeknya terhadap staf maipun
institusi. Pendelegasian jenis ini akan d)
menghabiskan waktu dan sering
berakibat terhadap beban bagi staf.
c. Berikan arahan dan motivasi
kepada staf

Salah satu kesalahan dalam


pendelegasian adalah ketiadaan
arahan yang jelas. Lebih baik
e)
pendelegasian dilakukan secara
tertulis, dan ajarkan pula bagaimana
melaksanakan tugas tersebut. Jika
Anda sudah siap untuk memberikan
pendelegasian, maka Anda harus
mampu menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut?
1)
Apakah saya sudah menjelaskan
alasan pendelegasian dan mengapa
tugas ini penting dilakukan?
Apakah semua tugas sudah jelas
dalam ingatan kita? Haruskah saya
menuliskan secara rinci
2)
Jika jawabannya ya, dapatkah saya
memberikan instruksi dan prosedur
secara rinci terhadap tingkatan
pemahaman staf?
Apakah tugas yang dilimpahkan
dapat memberikan staf kesempatan
untuk berkembang dan memotivasi
staf secara tepat?
Apakah staf Anda sudah
mendapatkan latihan, pengalaman,
dan keterampilan yang diperlukan
dalam melaksanakan tugas tersebut? a.
Hal penting dalam pendelegasian b.
adalah kesepakatan antara manajer
keperawatan dan staf mengenal hasil c.
yang diharapkan.
d.
TEMPAT DAN WAKTU
PENDELEGASIAN
8.
Di bawah ini merupakan tempat dan
waktu pendelegasian dapat
a)
dilaksanankan
Tugas rutin
Tugas rutin seperti
wawancara lamaran pekerjaan,
b)
tanggung jawab terhadap masalahmasalah yang kecil, dan menyeleksi
surat merupakan tugas biasa dan
dapat didelegasikan kepada staf.
c)
Tugas yang tidak mencukupi
waktunya
Pendelegasian dapat 9.
dilaksanakan pada tugas-tugas
tertentu karena manajer tidak
mempunyai cukup waktu untuk
a)
mengerjakannya. Tugas-tugas
tersebut akan dilaksanankan oleh
manajer jika mempunyai waktu untuk
menyelesaikannya.
Penyelesaian masalah
Pendelegasian diberikan
dengan tujuan memberikan
b)
pengalaman/ tantangan kepada staf
untuk menyelesaikannya. Staf akan
termotivasi apabila mereka
menerimanya sebagai suatu
tantangan. Oleh karena itu, perlu
diperhatin dan bimbingan khusus
dalam membantu staf untuk
menyelesaikan tugas yang
dilimpahkan kepadanya.
Peningkatan kemampuan
c)
Pendelegasian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan staf dan
tim. Dengan pengelolaan yang
sesuai, pendelegasian akan

menjadikan suatu latihan bagi staf


untuk belajar.
Kapan pendelegasian tidak
diperlukan
Tidak semua jenis tugas dapat
didelegasikan. Seorang manajer
harus berhati-hati dalam
mendelegasikan jenis tugas tertentu,
yaitu:
Tugas yang terlalu teknis, misalnya
jadwal staf dan anggaran yang
merupakan tugas rutin manajer,
tetapi terlalu teknis dan perlu
keterampilan khusus untuk
dilaksanakan staf;
Tugas yang berhubungan dengan
kepercayaan dan kerahasiaan,
misalnya kerahasiaan suatu informasi
dari institusi berhubungan dengan
terjadinya perselingkuhan staf.
Pendelegasian dapat
mengakibatkan masalah jika tugas
yang tidak dilaksanakan sesuai
harapan. Untuk menghindari
kesalahan tersebut, maka manajer
mempunyai tangung jawab sebagai
berikut:
Disiplin dalam pemberian wewenang
bertangung kawab terhadap
pembinaan moral staf
Perlunya suatu control dan
Hindari kesalahan dalam
penyampaian pendelegasian.
KEGIATAN YANG TIDAK BOLEH
DIDELEGASIKAN
Aktifitas yang memerlukan
pengkajian dan keputusan selama
pelaksanaan
Pengkajian fisik, psikologis, social
yang memerlukan keputusan,
rujukan, dan intervensi atau tindak
lanjut.
penyusunan dan evaluasi rencana
keperawatan
KEBERHASILAN PENDELEGASIAN
Keberhasilan pendelegasian akan
ditentukan oleh factor-faktor berikut.
Komunikasi yang jelas dan lengkap
Kejelasan komunikasi
ditentukan oleh kelengkapan
informasi yang disampaikan, akurasi
terhadap pesan, dan penggunaan
istilah/ kata-kata yang mudah
dipahami oleh penerima pesan.
Ketersediaan sumber dan sarana
Jika PP atau Ners
menghendaki perkembangan pasien
dari PA, maka PP harus berada fi
tempat. Jika PP untuk jangka waktu
yang lama berada di tempat, maka
lapora harus dilimpahkan kepada staf
lainnya. Hal ini untuk menjaga agar
pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan
dengan baik.
Monitoring
PP harus memberikan
kebebasan kepada PA untuk berfikir
dan menganalisis tugas yang
diberikan. Jika terdapat permasalahan
dalam memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien yang


menjadi tanggung jawabnya, maka
PP harus mampu berperan sebagai
C.
konsultan dan membantu
memberikan solusinya.
d) Pelaporan kemajuan tugas limpah
Sebagai perawat yang
bertanggung jawab terhadap asuhan
keperawatan dalam praktik
keperawatan profesional kepada
pasien, maka PP harus selalu
1.
meminta laporan dari PA tentang
kemajuan pasien. Laporan PA harus
selau disampaikan secara regular dan
sesuai dengan waktu yang
ditentukan, kemudian PP harus
melakukan tindak lanjut atau
memberikan masukan tentang
laporan yang telah disampaikan.
III. KOMUNIKASI
A. PENGERTIAN KOMUNIKASI
Tappen (1995) mendefenisikan
komunikasi sebagai suatu
pertukaran pikiran, perasaan,
pendapat, dan pemberian nasihat
yang terjadi antara dua orang atau
lebih yang bekerja bersama.
a.
Komunikasi juga merupakan suatu
seni untuk dapat menyusun dan
mempertahankan suatu pesan
b.
dengan cara yang gampang sehingga
orang lain dapat mengerti dan
c.
menerima.
B. KOMPONEN KOMUNIKASI
d.
Terdapat 6 komponen komunikasi
sebagai berikut :
e.
Komunikator yaitu orang yang
menyampaikan/mengirim pesan.
Komunikan yaitu orang yang
menerima pesan.
f.
Pesan yaitu sesuatu yang di
sampaikan oleh pengirim kepada
seseorang yang di tuju (penerima)
yang di maksud dan tujuan tertentu.
g.
Pesan yang di sampaikan dapat
berupa, verbal, tertulis, ataupun
nonverbal.
h.
Lingkungan yaitu tempat di mana
i.
komunikasi di laksanakan.
Lingkungan ini dapat berupa
j.
lingkungan internal meliputi, nilainilai, kepercayaan, temperamen dan
2.
tingkat stres pengirim pesan dan
penerima pesan. Sedangkan
lingkungan eksternal meliputi
keadaan cuaca, suhu, faktor
kekuasaan, dan waktu.
Media pesan yaitu alat atau sarana
perantara yang di gunakan oleh
pengirim pesan dengan tujuan agar
pesan bisa sampai kepada penerima.
Misalnya pendengaran, penglihatan,
sentuhan, media cetak, ataupun
media elektronik.
Tingkat pesan yaitu tingkat
pentingnya pesan, yang dapat

berbentuk, informasi, kata, atau


simbol lain.
MODEL KOMUNIKASI
3.
Terdapat beberapa model yang dapat
di gunakan untuk menjelaskan
bagaimana organisasi dan orang
berkomunikasi. Komunikasi dalam hal
ini adalah sesuatu yang kompleks.
Model-model komunikasi di antaranya
adalah sebagai berikut :
Komunikasi tertulis
Komunikasi tertulis adalah bagian
yang terpenting dalam organisasi.
Dalam mencapai kebutuhan
individu/staf, setiap organisasi telah
mengembangkan metode penulisan
dalam mengomunikasikan
pelaksanaan dan pengelolaan,
misalnya publikasi perusahaan, suratmenyurat ke staf, pembayaran, dan
jurnal. Manajer harus terlibat dalam
komunikasi tertulis, khususnya pada
stafnya.
Asosiasi pendidikan
a.
kesehatan di Amerika (1988),
menyarankan untuk memperhatikan
hal-hal berikut komunikasi tertulis
dan memo pada suatu organisasi.
b.
Mengetahui apa yang ingin di
sampaikan sebelum memulai
menulis.
Menulis nama orang dalam tulisan
c.
perlu di pertimbangkan dampaknya.
Gunakan kata aktif, karena akan
mempunyai pengaruh yang baik.
d.
Gunakan kata yang sederhana,
familiar, spesifik, dan nyata.
Gunakan seminimal mungkin katakata yang tidak penting. Temukan
e.
cara yang baik untuk
menggambarkan inti tulisan sehingga
orang lain mudah mengerti.
Tulislah kalimat dengan kurang dari f.
20 kata dan masukkan satu ide dalam
setiap kalimat. Lalu tuliskan kalimat
yang penting dan jadikan isi utama.
Berikan pembaca sebuah petunjuk,
konsistensi penggunaan istilah, dan
pesan.
Aturlah isi tulisan secara sistematis.
Gunakan paragraf untuk
mempermudah pembaca,
4.
Fokus komunikasi harus di definisikan
secara jelas.
Komunikasi secara langsung/verbal
Tujuan komunikasi verbal adalah
assertiveness. Perilaku asertif
(assertiveness) adalah suatu cara
komunikasi yang memberikan
kesempatan bagi individu untuk
mengekspresikan perasaannya
secara langsung, jujur, dan dengan
cara yang sesuai tanpa menyinggung
perasaan lawan bicara.
Manajer selalu mengadakan
komunikasi verbal kepada atasan dan
bawahan baik secara formal ataupun
informal. Mereka juga melakukan
komunikasi secara formal, baik

kepada individu dalam kelompok atau


presentasi secara formal..
Komunikasi nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah
komunikasi dengan menggunakan
ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan
sikap tubuh atau body languange.
Menurut Arnold dan Boggs (1989),
komunikasi nonverbal meliputi
komponen emosi terhadap pesan
yang di terima atau di sampaikan.
Oleh sebab itu, komunikasi nonverbal
lebih mengandung arti yang
signifikan di bandingkan komunikasi
verbal. Akan tetapi, dapat menjadi
sesuatu yang membahayakan jika
komunikasi nonverbal diartikan salah
tanpa adanya penjelasan secara
verbal.
Ada beberapa hal kunci
dalam komuniaksi nonverbal yang
dapat terjadi tanpa atau dengan
komunikasi nonverbal, yaitu :
Lingkungan: tempat di mana
komunikasi di lakasanakan
merupakan bagian penting pada
proses komunikasi.
Penampilan: pemakaian pakaian,
kosmetik, dan sesuatu yang menarik
merupakan bagian dari komunikasi
nonverbal yang perlu diidentifikasi.
Kontak mata: kontak mata bermakna
kesediaan seseorang untuk
berkomunikasi.
Postur tubuh dan gerakan (gesture):
bobot suatu pesan bisa di tingkatkan
dengan orang yang menunjukkan
telunjuknya, berdiri atau duduk.
Ekspresi wajah: komunikasi yang
efektif memerlukan respons wajah
yang setuju terhadap pesan yang di
sampaikan.
Suara, intonasi, isi(volume), dan
refleksi: cara tersebut menandakan
bahwa pesan dapat ditransfer dengan
baik..
Manajer yang efektif akan melakukan
komunikasi verbal dan nonverbal,
supaya individu (atasan atau
bawahan) akan menerima pesan
dengan jelas.
Komunikasi via telepon
Pada era modern ini (bahkan sudah
pasmodern), media komunikasi
semakin berkembang pesat. Salah
satu diantaranya adalah media
telekomunikasi seperti telepon atau
handphon. Saat ini manajer sangat
bergantung pada komunikasi dengan
menggunakan telepon atau
handphone. Dengan kemudahan
dengan sarana komunikasi tersebut,
memungkinkan manajer untuk
merespons setiap perkembangan dan
masalah dalam organisasi. Oleh
sebab itu, untuk menjaga citra
organisasi, manajer dan semua staf
harus sopan dan menghargai lawan
bicara setiap berbicara, melalui
telepon. Jika ada orang lain yang

sedang menunggu untuk berbicara


dan menggunakan pesawat telepon
bersama, maka waktu yang di
gunakan harus singkat dan berbicara
seperlunya saja untuk menghindari
5.
kesan negatif.
D. APLIKASI KOMUNIKASI DALAM
ASUHAN KEPERAWATAN
Komunikasi dalam praktik
keperawatan profesional merupakan
unsur utama bagi perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan
untuk mencapai hasil yang optimal.
Kegiatan keperawatan yang
memerlukan komunikasi meliputi
timbang terima, interview/anamnesis,
komunikasi melalui komputer,
komunikasi rahasia klien, komunikasi
melalui sentuhan, komunikasi dalam
pendokumentasian, komunikasi
6.
antara perawat dengan profesional
lainnya, dan komunikasi antara
perawat dengan pasien.
1. Komunikasi Saat Timbang Terima
Pada saat timbang terima, di
perlukan suatu komunikasi yang jelas
tentang kebutuhan klien terhadap
apa yang sudah dan yang belum
diintervensi serta respons pasien
yang terjadi. Perawat melakukan
timbang terima dengan
menyampaikan kondisi pasien secara
akurat di depan pasien.
2. Interview/Anamnesis
Anamnesis merupakan kegiatan yang
selalu di lakukan oleh perawat
terhadap pasien pada saat
a.
pelaksanaan asuhan keperawatan
(proses keperawatan). Interview
b.
adalah suatu komunikasi dengan
tujuan tertentu untuk memperoleh
data tentang keadaan klien. Hal
tersebut di perlukan untuk
c.
mengetahui masalah yang di hadapi
pasien dan mentukan tindakan yang
tepat. Oleh karena interview bersifat 7.
terencana, maka data yang di
dapatkan harus akurat atau tanpa
bias.
3. Komunikasi Melalui Komputer
Komputer merupakan suatu alat
komunikasi yang cepat dan akurat
pada manajemen keperawatan saat
ini. Penulisan data-data klien dalam
komputer akan mempermudah
perawat lain dalam mengidentifikasi
masalah pasien dan memberikan
intervensi yang akurat. Melalui
komputer, informasi-informasi terbaru
dapat cepat di dapatkan dengan cara
mengakses informasi dan internet.
4. Komunikasi Tentang Kerahasiaan
E.
Pasien yang masuk dalam sistem
pelayanan kesehatan, menyerahkan
rahasia dan memiliki rasa percaya
kepada institusi. Perawat sering di
hadapkan pada suatu dilema dalam
menyimpan rahasia pasien. Di satu
sisi perawat membutuhkan informasi
dengan menghubungkan apa yang di

katakan klien dengan orang lain,


a.
namun di sisi lain harus memegang
janji untuk tidak menyampaikan
informasi tersebut kepada siapa pun.
Komunikasi Melalui Sentuhan
Komunikasi melalui sentuhan pada
pasien merupakan metode dalam

mendekatkan hubungan antara

pasien dengan perawat. Sentuhan


yang di berikan oleh perawat juga

dapat berperan sebagai terpai bagi


b.
pasien, khususnya pasien dengan
depresi, kecemasan dan
kebimbangan dalam mengambil
suatu keputusan. Terapi yang perlu di
catat dalam sentuhan adalah
perbedaan jenis kelamin antara

perawat dan pasien. Dalam situasi ini


perlu adanya suatu persetujuan.

Dokumentasi sebagai alat komunikasi


Dokumentasi adalah salah satu alat c.
yang sering di gunakan dalam
komunikasi keperawatan. Hal ini di
gunakan untuk memvalidasi asuhan
keperawatan, sarana komunikasi
antartim kesehatan, dan merupakan
dokumen pasien dalam pemberian
asuhan keperawatan. Keterampilan
dokumentasi yamg efektif

memungkinkan perawat untuk


d.
mengomunikasikan kepada tenaga
kesehatan lainnya dan menjelaskan
apa yang sudah, sedang dan yang
akan di kerjakan oleh perawat.

Manfaat komunikasi dalam


pendokumentasian adalah :
e.
Dapat di gunakan lagi untuk
keperluan yang bermanfaat.
Mengomunikasikan kepada tenaga

perawat dan tenaga kesehatan


lainnya tentang apa yang sudah dan
f.
yang akan di lakukan pada pasien.
Bermanfaat untuk pendataan pasien
yang akurat karena sebagai informasi
mengenai pasien telah di catat.
Komunikasi Perawat dan Tim
Kesehatan Lainnya

Komunikasi yang baik akan


meningkatkan hubungan profesional
g.
antara perawat dan tim kesehatan
lainnya, sepeti dokter, ahli gizi, dan
fisioterapi. Selain itu, komunikasi
h.
yang baaik juga bermanfaat bagi
pengembangan model keperawatan
profesional karena hal tersebut
merupakan antara peningkatan
komunikasi. Komunikasi yang di
maksud di sini adalah adanya suatu
kejelasan dalam pemberian informasi

dari masing-masing individu sesuai


F.
dengan kedudukannya.
HAMBATAN DALAM
BERKOMUNIKASI
Hambatan-hambatan yang dapat
terjadi dalam berkomunikasi antara
perawat dengan klien dapat teratasi
apabila perawat mengetahui
beberapa ucapan yang perlu dihindari
dalam kondisi seperti di bawah ini :

Memberi nasihat atau memberi tahu


cara pemecahan masalah
keperawatan yang menunjukkan
seakan-akan klien tidak mampu
melekukan sendiri.
Contoh :
Mengapa anda tidak melakukan .....
Bila saya adalah anda maka saya
akan ....
akan lebih baik bila anda .....
Berupaya untuk menenteramkan hati,
di mana perawat memberikan
informasi tidak berdasarkan fakta
tetapi lebih bertujuan untuk
memberikan perasaan senang.
Contoh :
tidak perlu cemas, tidak apa-apa
ko....
jangan bersedih, semua orang dapat
mengalami...
Mengalihkan pembicaraan mengenai
hal-hal yang mengancam kepada halhal yang kurang mengancam. Hal ini
dapat terjadi karena perawat tidak
bersedia atau tidak siap untuk
mendengarkan ungkapkan perasaan
menyakitkan yang dialami klien.
Contoh :
kita bicara soal ini lain kali saja.
Membuat penilaian terhadap perilaku
klien berdasarkan sistem nilai yang
dianut oleh perawat.
Contoh :
anda salah, anda malas untuk
berobat.
Menunjukkan perilaku yang berfokus
pada diri perawat.
Contoh :
dapatkah anda ulangi, saya tidak
mendengar.
Memberikan pengarahan atau
petunjuk yang harus diikuti dengan
mengabaikan kemampuan klien, dan
menganggap klien tidak mampu
untuk mengatasi masalahnya.
Contoh :
bukan begitu caranya, mestinya
anda melakukan...
Mengajukan pertanyaan yang
berlebihan tanpa memperhatikan
perasaan klien.
Memberikan komentar klise atau
stereotipe, yaitu memberi komentar
dengan kata-kata secara spontan
tanpa tujuan yang jelas.
Contoh :
hati-hati kalo tidak teratur
makan......!
di suntik ya, tidak sakit kok!
KOMUNIKASI ASERTIF
Komunikasi Asertif adalah
komunikasi yang menyatakan diri
secara langsung, jujur, tepat, dan
tidak melanggar hak dan tanggung
jawab orang lain.
Menurut Chenevert (1978),
komunikasi asertif di bedakan
menjadi dua bagian, yaitu hak dan
tanggung jawab individu.

Ada beberapa cara agar


3.
komunikasi asertif ini dapat berjalan
dengan baik, yaitu :
a. Merefleksikan apa yang di katakan.
b. Mengulangi pernyataan dengan tegas 4.
dan terus-menerus.
c. Menunjukkan asumsi selengkapnya
melalui komunikasi verbal/nonverbal.
d. Menyatakan kembali dengan bahasa
asertif, artinya bukan bahasa agresor. 5.
e. Mengajukan pertanyaan, yang
berguna untuk menyadarkan reaksi
yang agresif dari orang lain.
b.
G. KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI
komunikasi merupakan alat atau
sarana yang di gunakan dalam
menjalin hubungan. Tehnik
berkomunikasi yang di gunakan
secara tepat dalam menciptakan
hubungan terapeutik, dan apabila
tidak tepat akan menimbulkan
masalah bagi klien dan perawat.
Dalam teknik berkomunikasi ini, ada 2.
tiga keterampilan yang di perlukan
untuk membina hubungan terapeutik
antara perawat dan klien.
1. Kehadiran atau Keberadaan
Perawat
Kehadiran berarti kebersamaa fisik
a.
dan psikilogis dalam berkomunikasi
dengan klien. Hal itu antara lain
mencakup mendengarkan dan
mengamati, serta memberikan
b.
perhatian terhadap ucapan dan
perilaku klien. Kehadiran fisik adalah
perhatian yang di berikan melalui
penampakan tubuh dan kehadiran
c.
psikologis. Kehadiran psikologis di sini
berarti perhatian melalui pikiran dan
perasaan.
a. Kehadiran fisik mempunyai peran
yang penting dalam komunikasi
interpersonal karena tubuh dapat
3.
memperkuat pesan yang di
sampaikan dalam bentuk kata-kata.
Akan tetapi, keberadaan tubuh juga
dapat membingungkan bahkan
mengubah pesan yang sampai ke
penerima menjadi kebalikannya.
ada beberapa hal yang dapat di
lakukan perawat agar klien mengerti
atau merasakan bahwa perawat
secara fisik terlibat dalam interaksi
atau perawat benar-benar
memperhatikan klien.
1. Perawat menghadapi klien dengan
a.
jujur atau terbuka melalui sikap yang
menunjukkan perhatian. Misalnya
b.
perawat berkata, Saya bersedia
mendengarkan Anda atau membantu c.
Anda, dengan tubuh berhadapan
muka, menghadap ke arah klien.
2. Perawat menggunakan postur tubuh d.
terbuka, yaitu tangan dan kaki
terbuka, tidak menyilang, tidak
e.
melipat tangan atau meletakkan
tangan di belakang. Postur tubuh
terbuka menunjukkan seseorang siap f.
mendengarkan atau membantu klien.

Sikap condong perawat ke arah klien


merupakan tanda kehadiran,
kesediaan, dan ketertiban perawat
untuk berusaha memahami klien.
Perawat memandang klien atau
mengadakan kontak mata dengan
klien. Hal itu menunjukkan minat
perawat untuk mendengarkan dan
memperhatikan klien.
Perawat bersikap rileks, yaitu dengan
menciptakan lingkungan yang rileks
dan menjaga privacy.
Kehadiran psikologis, yaitu
mendengarkan secara aktif yang
berarti mendengarkan dengan
telinga, pikiran, dan perasaan, katakata yang di ciptakan klien dan
perilaku nonverbal klien. Selama
mendengar aktif, perawat mengikuti
apa yang di bicarakan klien dan
memperhatikan perilaku klien serta
memberi tanggapan dengan tepat.
Perilaku Nonverbal
Beberapa macam perilaku nonverbal
dapat memengaruhi hubungan
perawat dengan klien. Perilaku
nonverbal tersebut adalah sebagai
berikut :
Aktifitas fisik, meliputi gerakan
tubuh, ekspresi wajah, sikap atau
postur tubuh, kontak mata, dan
gerakan mata serta sentuhan.
Vokalisasi, meliputi bahasa yang di
gunakan dengan pengaturan tekanan
suara atau nada bicara dan
kecepatan bicara.
Jarak antarpembicaraan, jarak
antara perawat dan klien dalam
membina hubungan interpersonal
adalah 45-120 cm sehingga
memungkinkan kontak mata dan
sentuhan.
Keterampilan Memberi Respons
Keterampilan ini di gunakan oleh
perawat untuk menyampaikan
pengertian kepada klien, memberikan
umpan balik, dan memperjelas
pemahaman perawat tentang
pembicaraan dan perilaku klien.
Untuk dapat memberikan respons
yang tepat, di perlukan kemampuan
perawat yang mendasari hubungan
perawat dengan klien. Kemampuan
perawat tersebut meliputi hal-hal
sebagai berikut :
Empati, yaitu merasakan apa yang di
alami klien.
Kesetiaan, yaitu bersikap terbuka,
jujur dan tulus.
Kesiapan diri, yaitu peka dan mau
menyediakan diri untuk membantu
klien.
Bersikap objektif dan konkrek, yaitu
berdasarakan kenyataan
Menerima klien, dengan menghargai,
menghormati, dan
memperhatikannya.
Bersikap asertif, yaitu dapat
mengemukakan ketidaksesuaian
pendapat tanpa menyinggung

perasaan, menyakiti hati, atau


merugikan orang lain.
IV. SUPERVISI
A. Pengertian Supervisi
Banyak ahli
menggunakan tentang
pengertian supervisi, mulai dan
pengertian yang sangat luas
sampai pada defisini supervisi
yang lebih khusus. Supervisi
dalam arti yang luas memiliki
dimensi yang beragam.
Admosudiro (1982) dalam
Cahyati (2000) mendefinisikan
supervisi sebagai suatu
pengamatan atau pengawasan
secara langsung terhadap
pelaksanaan atau pengawasan
secara langsung terhadap
pelaksanaan pekerjaan yang
bersifat rutin. Swansburg (1990)
melihat dimensi supervisi
sebagai suatu proses
kemudahan sumber-sumber
yang diperlukan untuk
penyelesaian suatu tugas.
Sementara Knon dan Gray
(1987) mengartikan supervisi
sebagai kegiatan yang
merencanakan, mengarahkan,
membimbing, mengajar,
mengobservasi, mendorong,
memperbaiki, mempercayai dan
mengevaluasi secara
berkesinambungan anggota
secara menyeluruh sesuai
dengan kemampuan dan
keterbatasan yang dimiliki
anggota. Dalam arti khusus
supervisi dikaitkan dengan suatu
disiplin ilmu tertentu dalam hal
ini adalah keperawatan.
McFarland, Leonard, dan Morris
(1984) mengaitkan supervisi
dalam konteks keperawatan
sebagai suatu proses kegiatan
pemberian dukungan sumbersumber (resources) yang
dibutuhkan perawat dalam
rangka menyelesaikan tugas
untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Dari beberapa
pengertian tersebut, dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa
supervisi merupakan suatu
kegiatan yang mengandung dua
dimensi pelaku, yaitu pimpinan
dan anggota atau orang yang
disupervisi. Kedua dimensi
pelaku tersebut walaupun secara
administrative berbeda level dan
perannya, namun dalam
pelaksanaan kegiatan supervisi
keduanya memiliki andil yang
sama-sama penting. Pemimpin
mampu melakukan pengawasan

sekaligus menilai seluruh


kegiatan yang telah
direncanakan bersama, dan
anggota mampu menjalankan
tugas-tugas yang menjadi
tanggungjawab dengan sebaikbaiknya. Jadi, dalam kegiatan
supervisi semua orang yang
terlibat bukan sebagai pelaksana
pasif, namun secara bersama
sebagai mitra kerja yang
memiliki ide-ide, pendapat, dan
pengalaman yang perlu
didengar.
B. Prinsip Supervisi
Keperawatan
Agar seorang manajer
keperawatan mampu melakukan
kegiatan supervisi secara benar,
ia harus mengetahui dasar dan
prinsip-prinsip supervisi. Prinsip
tersebut harus memenuhi syarat,
antara lain disasarkan atas
hubungan professional dan
bukan hubungan pribadi,
kegiatan yang harus
direncanakan secara matang,
bersifat edukatif, memberikan
perasaan aman pada perawat
pelaksana, dan harus mampu
membentuk suasana kerja yang
demokratis. Prinsip lain yang
harius dipenuhi dalam kegiatan
supervisi adalah harus dilakukan
secara objektif dan mampu
memacu terjadinya penilaian diri
( self evaluation), bersifat
progresif, inovatif, progresif,
fleksibel dapat mengembangkan
potensi atau kelebihan masingmasing orang yang terlibat,
bersifat konstruktif dan kreatif
dalam mengembangkan diri
disesuaikan dengan kebituhan
dan supervisi harus dapat
meningkatkan kinerja bawahan
dalam upaya meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan.
Supervisi akan
senantiasa bersinggungan
dengan hubungan interpersonal
antara orang-orang yang
terlibat. Dalam konteks ini,
pimpinan atau manajer
keperawatan harus mampu
menempatkan dirinya secara
proporsional dan professional.
Hubungan yang lebih kearah
pribadi biasanya akan
memberikan dampak yang
kurang baik seperti hanya akan
berhubungan dengan orangorang tertentu, pengambilan
keputusan yang tidak tepat dan
kadang dapat memunculkan
perasaan ewuh pakewuh
pimpinan terhadap anggotanya.
Pimpinan kadang sulit untuk
mengatakan tidak pada kondisi
yang memang seharusnya

berkata tidak. Pada kondisi yang


sangat kritis sering terjadi
kegagalan pencapaian tujuan
sebagaimana yang telah
disepakati bersama orang-orang
yang terlibat.
Pada kondisi demikian,
keterampilan komunikasi
menjadi faktor yang sangat
menentukan. Dengan
keterampilan komunikasi yang
baik, akan tercipta kesepahaman
bukan kesalahpahaman
sehingga proses demokratisasi
supervisi pun juga akan dengan
mudah tercapai.
C. Kompetisi yang Dimiliki
Supervisor
Tidak mudah menjadi
seorang supervisor yang baik.
Oleh karena itu, supervisor harus
memiliki sejumlah kompetensi
yang sesuai. Kompetensi
pertama yang harus dikuasai
supervisor keperawatan adalah
kemampuan memberikan
pengarahan dan petunjuk yang
jelas sehingga dapat dimengerti
oleh staf dan pelaksana
keperawatan. Tidak setiap
pimpinan mampu memberikan
pengarahan dan petunjuk yang
baik. Pada satu kesempatan
mungkin mampu memberikan
pengarahan dengan baik, namun
gagal memberikan petunjuk
secara jelas, atau sebaliknya,
disuatu kesempatan mampu
mengidentifikasi petunjuk yang
baik, namun kesulitan dalam
memberikan pengarahan yang
dibutuhkan oleh staf dan
pelaksana keperawatan.
Kompetensi kedua
adalah bahwa supervisor harus
mampu memberikan saran,
nasihat, dan bantuan yang
benar-benar dibutuhkan oleh staf
dan pelaksana keperawatan.
Pemberian saran kadang
terkesan menggurui bagi
sebagian orang, terutama bila
yang memberikan saran usianya
lebih muda atau pimpinan yang
relatif baru berada di
lingkungannya. Oleh karena itu,
supervisor harus betul-betul
mampu melakukan pendekatan
yang asertif terhadap seluruh
anggotanya. Pada kondisi ini,
supervisor dapat menfaatkan
kesenioran anggotanya untuk
ikut berpartisipasi dalam
pemberian saran atau balakan
kritik tidak hanya bagi seluruh
anggota, namun juga bagi
supervisor ini sendiri. Pemilihan
waktu yang tepat dalam
pemberian saran, nasehat dan

bantuan juga perlu


dipertimbangkan oleh supervisor.
Kompetensi ketiga
adalah kemampuan dalam
memberikan motivasi untuk
meningkatkan semangat kerja
staf dan pelaksana keperawatan.
Beberapa pertanyaan perlu
dijawab oleh seorang supervisor,
antara lain kapan waktu yang
tepat untuk memotivasi
bawahan dan dengan cara apa
motivasi dilakukan. Pemberian
motivasi pada saat bawahan
mengalami stagnasi pekerjaan
atau stres mungkin akan lenih
sulit dibandingkan pada saat
bawahan sedang giat melakukan
suatu tugas. Demikian juga
pemberian motivasi melalui
pemberian sesuatu yang
terlihat dan terasakan langsung
mungkin lebih midah
dibandingkan dengan motivasi
akan dirasakan dalam waktu
yang relatif lama.
Kompetensi keempat
adalah kemampuan memberikan
latihan dan bimbingan yang
diperlukan oleh staf dan
pelaksana keperawatan. Pada
banyak keadaan, seorang
supervisor tidak mampu
mengambil hati staf dan
pelaksana keperawatan hanya
karena pada saat
berlangsungnya kegiatan
supervisi, dia tidak mampu
memperagakan kemampuan
untuk memberikan latihan dan
bimbingan secara benar.
Pimpinan yang berkonotasi
kearah kemampuan manajerial
tidak seharusnya melupakan
kemampuan praktis yang suatu
saat ditanyakan oleh
bawahannya. Bagaimana
mungkin seorang supervisor
mampu mengidentifikasi bahwa
tindakan yang dilakukan
bawahannya kurang tepat, jika ia
sendiri tidak tahu tentang prinsip
dasar dan tindakan tersebut
dilakukan.
Kompetensi kelima
bersingguangan dengan
kemampuan dalam melakukan
penilaian objektif dan benar
terhadap kinerja keperawatan.
Beberapa faktor kadang dapat
mempengaruhi dalam pemberian
penilaian secara objektif.
Misalnya, hubungan yang terlalu
dekat dengan bawahan tidak
lagi hubungan profesional,
namun lebih ke arah hubungan
pribadi. Kondisi ini dapat
memunculkan efek halo (hallo
efffect) karena supervisor tidak
tega memberi nilai kurang

pada seorang bawahan hanya


karena ia teman dekatnya. Untuk
itu, disanping supervisor harus
mampu mengeliminasi perasaan
pakewuh tersebut, ia harus juga
mampu membuat standar
penilaian yang digunakan untuk
penilaian kinerja perawat.
D. Tehnik Supervisi
Cara melakukan
supervisi dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak
langsung. Supervisi cara
langsung dilakukan pada
kegiatan yang sedang
berlangsung. Pada supervisi
kontemporer, seorang supervisor
dapat terlibat kegiatan secara
langsung agar proses
pengarahan dan pemberian
petunjuk tidak dirasakan suatu
perintah. Pada kondisi ini,
umpan balik dan perbaikan
dapat sekaligus dilakukan tanpa
bawahan merasakan sebagai
suatu beban. Proses supervisi
langsung, dapat dilakukan
dengan cara perawat melakukan
secara mandiri suatu tindakan
keperawatan didampingi
supervisor. Selama sprose
supervisi, supervisor dapat
memberikan dukungan,
reinforcement, dan petunjuk,
kemudian supervisor dan
perawat pelaksana melakukan
diskusi untuk menguatkan yang
telah sesuai dengan apa yang
direncanakan dan memperbaiki
segala sesuatunya yang
dianggap masih kurang. Agar
pengarahan, petunjuk, dan
reinfircement efektif maka harus
memenuhi syarat-syarat
tertentu, seperti pengarahan
harus lengkap tidak terputus dan
bersifat partial, mudah dipahami,
menggunakan kata-kata yang
tepat, mengguankan alur yang
logis, dan jangan terlalu
kompleks.
Supervisi juga dapat
dilakukan secara tidak langsung.
Cara ini biasanya dilakukan
melalui laporan baik tertulis
maupun lisan. Cara tidak
langsung ini memungkinkan
terjadinya salah pengertian
(misunderstanding) dan salah
persepsi (misperpection) karena
supervisor tidak melihat secara
langsung kegiatan-kegiatan yang
dilakukan.
E. Supervisi Individu
Supervisi individu paling
banyak dilaksanakan dalam
praktik keperawatan. Supervisi
dilakukan secara reguler dalam
praktik keperawatan dan
terjadwal berdasarkan topik-

F.

topik yang sudah disepakati pleh


supervisor dan supervisee.
Supervisi individual dilaksanakan
pada individu perawat, terutama
mereka yang memiliki sifat
introvert agar lebih senang
berinteraksi, mendapat
bimbingan dan dukungan face to
face daripada berkelompok.
Individu tersebut tidak hanya
merasa sangat nyaman ketika
berkomunikasi dengan
supervisornya (kepada
unit/kepala ruangan/ketua tim),
tetapi juga dapat menghilangkan
perasaan tidak mampu di
hadapan staf lainnya yang lebih
vokal dan pintar. Pelaksanaan
supervisi individu akan lebih
kondusif dalam meningkatkan
hubungan apabila didasarkan
keterbukaan, sikap saling
memahami, dan percaya. Selain
dilaksanakan secara reguler,
kegiatan supervisi individu dapat
pula dilaksanakan sewaktuwaktu apabila :
a. Individu perawat inginn
lebih meluangkan waktu
untuk melakukan refleksi
dan eksplorasi diri berkaitan
dengan kemampuan praktik
keperawatannya.
b. Individu perawat pernh
mengalami konflik hampir
dengan semua anggota tim
sehingga perlu menjalani
supervisi untuk
meningkatkan pemahaman
individu tersebut mengapa
konflik terjadi dan
memecahkan masalah serta
menyusun strategi koping.
c. Individu perawat ingin
menggali dan mencari
contoh praktik keperawatan
atau implementasi tindakan
keperawatan yang tepat
dan baik bagi pasiennya
serta meningkatkan
pemahaman tentang
contoh-contoh tersebut agar
bisa dilaksanakan.
d. Individu perawat mengalami
kesulitan dalam
memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien
dengan kondisi tertentu
atau memiliki tingkat
kesulitan adn risiko yang
tinggi. Individu tersebut
umumnya memelukan
supervisi untuk mencari
rasional atas tindakan
keperawatan tertentu dan
mengatasi tantangan yang
dijumpai dari pasien khusus
tersebut secara lebih efektif.
Supervisi Kelompok

Tujuan supervisi
kelompok adalah memberikan
kesempatan pada supervisee
untuk mempelajari keterampilan
yang diperlukan dalam kelompok
dan berbagi pengalaman serta
dukungan dari anggota tim
dalam memberikan asuhan
kjeperawatan yang lebih
kompleks. Supervisi kelompok
terutama difokuskan untuk
mengevaluasi fungsi tim
(bagaimana anggota kelompok
bekerja sama menggali berbagai
hambatan serta kekuatan tim
dalam mnyelesaikan tugas pada
sif pagi-sore-malam). Kelebihan
interaksi dalam supervisi
kelompok antara lain :
a. Memberikan kesempatan
belajar dari hasil interaksi
antara pasien dan supervisor
dalam mengembangkan
kapasitas kemampuan
supervisee.
b. Supervisee dapat
mempresentasikan
pengalaman dan
pengetahuannya serta
mengintegrasikan ilmu
keperawatan terbaru kepada
anggota tim perawat lainnya
selama memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien
(mengatasi masalah pasien
dan modifikasi atau
improvisasi yang dilakukan).
c. Memberikan kesempatan
refleksi dan diskusi. Proses
kognitif dalam supervisi
paling jelas dirasakan pada
saat refleksi (berpikir kembali
tentang pengalaman yang
didapatkan untuk dinilai dan
dipahami lebih dalam ).
Proses refleksi sangat
berkaitan dengan
pertumbuhan profesionalitas
perawat dalam penerapan
ilmu [engetahuan
keperawatan terkini pada
praktik keperawatan. Anggota
kelompok mendengarkan
refleksi dari hasil kerja
anggota kelompok lainnya
dan mendiskusikannya secara
bersama-sama.
d. Mengevaluasi kesenjangan
dan hubungan anara teori
dan praktik.
e. Membantu mempelajari
dinamika kelompok.
f. Memberikan kesempatan
untuk menerapkan perilaku
baru dalam praktik
keperawatan.
g. Mengembangkan evaluasi diri
yang lebih akurat.
h. Menjaga kekohesifan
kelompok dan memberikan

i.

a.
b.
c.
d.
e.

f.

pengalaman yang lebih


berharga.
Lebih mudah dilaksanakan di
unit perawatan yang memiliki
beban kinerja tinggi.
Beberapa hal yang
menyebabkan supervisi
kelompok tidak efektif antara
lain :
Supervisi kelompok berubah
jadi supervisi individu.
Supervisor tidak memberikan
umpan balik.
Supervisor merasa terlalu
banyak dikritik.
Komunikasi kurang terbuka.
Supervisor berbagi konflik
personal dengan staf,
pandangan-pandangan
negatif, dan keputusasaan
dalam memberikan layanan
keperawatan.
Terjadi konflik dalam anggota
tim yang sedang disupervisi.
V. KEPEMIMPINAN

A. PENGERTIAN
KEPEMIMPINAN

DASAR

Kepemimpinan
pada
dasarnya
bersifat subjektif, dalam arti sempit
tidak
dapat
di
ukur
secara
objektif,dan dalam arti yang sangat
luas tidak dapat dari atau diajarkan
di sekolah. Kepemimpinan adalah
kemampuan
member
inspirasi
kepada orang lain untuk bekerja
sama sebagian suatu kelompok, agar
dapat mencapai suatu tujuan umum.
Kemampuan memimpin diperoleh
melalui pengalaman hidup seharihari.
Pengertian
lain
tentang
kepemimpinan ialah segala hal yang
bersangkutan
dengan
pemimpin
dalam menggrakkan, membimbing,
dan mengarahkan orang lain agar
melaksanankan
tugas
dan
mewujudkan sasaran yang ditetapkan
(LAN RI, 1996).
Banyak pendapat, yang kadang
berbeda-beda, tentang apa yang
dimaksud dengan pemimpin yang
baik. Demikian juga tentang apa yang
menjadi kewajiban setiap pemimpin..
R.I,. Khan mengemukakan bahwa
seorang
pemimpin
menjalankan
pekerjaan dengan baik bila:
a.
b.
c.
d.

Memberikan
kepuasan
terhadap
kebutuhan
langsung
para
bawahannya;
Menyusun jalur pencapaian tujuan;
Menghilangkan hambatan-hambatan
pencapaian tujuan;
Mengubah tujuan karyawan sehingga
tujuan mereka bias berguna secara
organisatoris.

Robert
.C
Millus
menyebutkan
tanggung jawab para pemimpin
secara rinci, yaitu:
1.

Menentukan tujuan pelaksanaan kerja


yang realitas, dalam arti kuantitas,
kualitas,
keamanan,
dan
lain
sebagainya.
2. Melengkapi para karyawan/pegawai
dengan sumber-sumber dana yang
diperlukan
untuk
menjalankan
tugasnya;
a.
3. Mengomunikasikan
kepada
para
karyawan
tentang
apa
yang b.
diharapkan dari mereka;
4. Memberikan reward/insentif
yang
sepadan untuk mendorong prestasi; c.
5. Mendeklarisasikan wewenang apabila
diperlukan
dan
mengundang d.
partisipasi apabila memungkinkan;
6. Menghilangkan
hambatan
untuk D.
pelaksanaan pekerjaan yang efektif;
7. Menilai pelaksanaan pekerjaan dan
mengomunikasikan hasilnya;
8. Menujukkan perhatian kepada para
karyawan/karyawati.
B. WEWENANG KEPEMIMPINAN
Agar
seorang
pemimpin
bias
mencapai tujuan secara efektif, ia
harus mempunyai wewenang untuk
memimpin para staf/bawahan dalam
usaha mencapai tujuan tersebut.
Wewenang ini disebut wewenang
kepemimpinan, yaitu hak untuk
bertindak atau memengaruhi tingkah
laku
orang
yang
dipimpinnya.
Wewenang kepemimpinan itu.
Secara umum dua konsep pemberian
wewenang kepemimpinan dilihat dari
arahnya, yaitu dari atas dan dari
bawah.
Wewenang
dari
atas
umumnya berasal dari atasannya, 1.
misalnya seorang direktur rumah
sakit menujukkan seorang perawat
yang dinilai mampu untuk menjadi
kepala bagian perawat dan kemudian
diberi wewenang untuk memerintah.
Cara demikian ini disebut top-down
authority, atau dari kewenangan dari
atas ke bawah.
Konsep yang kedua adalah bottomup outhority, atau kewenangan dari
bawah ke atas, yang berdasarkan
pada teori penerimaan (receptance
theory). Pada konsep ini, pemimpin 2.
dipilih oleh mereka yang akan
menjadi
bawahannya.
Apabila
seseorang
diterimah
sebagai
pemimpin dan diberi wewenang
untuk
memimpin,
maka
para
bawahan
akan
menghargai
wewenang
tersebut.
Pemimpin
tersebut
bias
juga
merupakan
seorang wakil yang mewakili nilainilai yang meraka anggap penting.
C. KRITERIA PEMIMPIN

Dari daftar kewajiban yang harus


dilakukan oleh seorang pemimpin,
paling sedikit ia harus mampu untuk
memimpin para pegawai /bawahan
untuk mencapai tujuan insitusi dan
harus mampu untuk menangani
hubungan
antara
karyawan
(interpersonal relation). Pemimpin
yang berkualitas harus memenuhi
kriteria dan sebagai berikut:
Mempunyai
keinginan
untuk
menerima tanggu jawab;
Mempunyai
kemampuan
untuk
perceptive insight atau persepsi
introspektif;
Mempunyai
kemampuan
untuk
menentukan prioritas;
Mempunyai
kemampuan
untuk
berkomunikasi
GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya kepemimpinan adalah pola
tingkah laku yang dirancang untuk
mengiteraksikan tujuan organisasi
dengan
tujuan
idividu,
untuk
mencapai suatu tujuan. Dasar yang
sering
digunakan
untuk
mengelompokkkan
gaya
kepemimpinan adalah (1) tugas yang
harus dilakukan oleh pemimpin , (2)
kewajiban pemimpin, dan (3) falsafah
yang dianut oleh pemimpin.
Harris membagi gaya kepemimpinan
menjadi tiga bagian, yaitu (1)
kepemimpinan otoktarik (autoctaric
leadership),
(2)
kepemimpinan
participative leadership), dan (3)
kepemimpinan free reign ( free reign
leadership).
Berikut
ini
akan
dijelaskan satu per satu.
Kepemimpinan otorotik
Seorang pemimpin yang menerapkan
gaya kepemimpinan otorotik auoto
cratic) menganggap bahwa semua
kewajiban
untuk
mengambil
keputusan, menjalankan tindakan,
mengarahkan, memberikan motivasi,
dan
mengawasi
bawahannya
berpusat di tangannya. Pemimpin
seperti ini merasa bahwa hanya ia
berkompenen untuk memutuskan
yang
menganggap
bahwa
bawahannya tidak mampu untuk
mengarahkan diri merekan sendiri.
Kepemimpinan partisipatif
Seorang pemimpin yang menjalankan
kepemimpinannya secara konsultatif
adalah pemimpin yang menggunakan
gaya partisipatif artinya ini tidak
mendeklarasikan
wewenangnya
untuk membuat keputusan akhir dari
untuk
memberikan
pengarahan
tertentu kepada staf/bawahan. Akan
tetapi ia mencari berbagai pendapat
dan
pemikiran
para
bawahan
mengenali keputusan yang akan
diambil. Pemimpin dengan gaya

partisipasif
akan
secara
seris
mendengarkan
dan
memiliki
pemikiran mereka sejauh pemikiran
tersebut bias di praktikkan.
3. Kepemimpinan free reign
Dalam gaya kepemimpinan free
reign, mendegelesasikan wewenang 3.
untuk mengambil keputusan kepada
para bawahan dengan agak lengkap.
Pada perinsip nya pemimpin akan
mengatakan inilah pekerjaan yang
harus anda lakukan. Saya tidak peduli
bagaimana
anda
mengerjakan
tersebut dapat diselesaikan dengan
baik. Di sini pemimpin menyerahkan
tanggung jawab atas pelaksanaan
pekerjaan tersebut kepada para
staf/bawahan.
1.
E. FIGUR KEPEMIMPINAN

1.

2.

Figur kepemimpinan dalam hal ini


diistilahkan harus mempuyai karakter
rajapandita. Bila diartikan, raja
artinya memiliki ilmu dan wawasan
keagamaan/ moralitas.

Untuk menjadi rajapandita seorang


pemimpin harus mempuyai karakter
sebagai berikut.
Berpendidikan dan berpengalaman
dalam subtansi tugas dan tanggung
jawabnya. Hal ini dikuatkan dalam
sebuah hadist bahwa, Jika suatu

urusan yang diserahkan kepada yang


bukan ahliny, maka maka tungglah

kehancurannya.
Berbudi luhur.
Tidak sombong
Mampu membantu keadaan dan
mendengarkan aspirasi serta keluhan

kesah anggotanya,
Menjujung tinggi hokum dan konsitusi
Negara

Demokratis
Tegas
dalam
bertindak
san

menengakkan kebenaran,
Arif dan bijaksana,
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo

mangun karso, tut wuri handayani,


Gaya kepemimpinan menurut Liker
dalam
Nursalam
(2002) 2.
mengelompokkan
gaya
kepemimpinan dalam empat system.

1.

2.

Sistem otoriter- Eksploitatif.


Pemimpin
ini
sangat
otoriter,
mempunyai
kepercayaan
yang
rendah
terhadap
bawahannya,
memotivitasi
bawahan
melalui
ancaman atau hukuman. Komunikasi
yang dilakukan bersifat satu arah ke

bawah (top-down).
Sistem
BenevolentOtoritatif
(Authoritative).
Pemimpin mempercayai bawahan
sampai
pada
tingkat
tertentu,memotivasi
bawahan
dengan ancaman atau hukuman
tetapi tidak selalu, dan membolehkan

komunikasi
ke
atas.
Pemimpin
memperhatikan ide bawahan dan
mendelegasikan
wewenang,
meskipun
dalam
pengambilan
keputusan
masih
melakukan
pengawasan yang ketat.
Sistem konsultatif.
Pemimpin mempunyai kepercayaan
yang cukup besar terhadap bawahan.

Pemimpin
menggunakan
balasan
(insentif) untuk memotivasi bawahan.

Prakarsa dapat datang dari bawahan


Banyak kesempatan dari bawahan
untuk menyampaikan saran dan
pertimbangan
Tugas-tugas yang kepada bawahan
lebih bersifat permintaan dari pada
instruktif
Pujian dan kritik seimbang
Pimpinan
mendorong
prestasi
sempurna para bawahan dalam
batasan masing-masing
Pimpinan
meminta
kesetiaan
Gaya kepemimpinan menurut Lippts
bawahan
secara
wajar
dan K. White terdapat tiga gaya
Pimpinan memperhatikan perasaan
kepemimpinan
yaitu:
otoriter,
dalam bersikap dan bertindak
demokrasi, dan liberal yang mulai

Terdapat suasana saling percaya,


dikembangkan di Universitas Iowa.
saling menghormati, dandan saling
Otoriter
menghargai.
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciriciri antara lain:

Tanggung
jawab
keberhasilan
Wewenang mutlak berada pada
organisasi ditanggung bersama.
3. Liberal atau Laissez Faire.
pimpinan
Kepemimpinan gaya liberal atau
Keputusan
dibuat
selalu
oleh
Laissez Faire adalah kemampuan
pemimpinan
memengaruhi
orang
lain
agar
Kebijaksanaan selalu dibuat oleh
bersedia bekerja sama mencapai
pemimpinan
tujuan dengan cara lebih banyak
Komunikasi berlangsung satu arah
mencapai tujuan dengan cara lebih
dari pemimpin kepada bawahan
banyak menyerahkan pelaksanaan
Pengawasan terhadap sikap, tingkah
berbagai kegiatan kepada bawahan.
laku, perbuatan atau kegiatan para
Ciri gaya kepemimpinan ini antara
bawahan dilakukan secara ketat
lain:
Prakarsa harus selalu berasal dari

Pemimpin melimpahkan wewenang


pemimpinan
sepenuhnya kepada bawahan
Tidak ada kesempatan bagi bawahan

Keputusan lebih banyak dibuat oleh


untuk
memberikan
saran,
bawahan
pertimbangan atau pendapat.

Kebijaksanaan lebih banyak dibuat


Tugas-tugas
bawahan
diberikan
bawahan
secara instruktif

Pimpinan
hanya
berkomunikasi
Lebih banyak kritik dari pada pujian
apabila diperlukan oleh bawahan
Pimpinan
menuntut
prestasi

Hampir
tidak
ada
pengawasan
sempurna dari bawahan tanpa syarat
terhadap tingkah laku bawahan
Pimpinan menuntut kesetian tanpa

Prakarsa selalu berasal dari bawahan


syarat

Hampir tidak ada pengarahan dari


Cenderung
adanya
paksaan,
pimpinan
ancaman, dan hukuman

Peranan pimpinan sangat sedikit


Kasar dalam bersikap
dalam kegiatan kelompok
Tanggung
jawab
keberhasilan

Kepentingan pribadi lebih penting


organisasi
hanya
dipikul
oleh
dari kepentingan kelompok
pimpinan.

Tanggung
jawab
keberhasilan
Demokratis
organisasi dipikul oleh perorangan.
Kepemimpinan
gaya
demokratis
KONTEMPORER
adalah
kemampuan
dalam F. TEORI
(KEPEMIMPINAN
DAN
memengaruhi
orang
lain
agar
MANAJEMEN)
bersedia
bekerja
sama
untuk
Teori ini menekankan pada empat
mencapai
tujuan
yang
telah
komponen penting dalam suatu
ditetapkan. Berbagai kegiatan yang
pengelolaan,
yaitu
akan dilakukan ditentukan bersama
manajer/pemimpin,
staf
dan
atasan,
antara pimpinan dan bawahan.
pekerjaan, serta lingkungan. Dia
Gaya pimpinan ini memiliki cirri-ciri
menekankan dalam melaksanakan
antara lain:
suatu manajemen seorang pemimpin
Wewenang pimpinan tidak mutlak
harus
menginteraksikan keempat
Pimpinan
bersedia
melimpahkan
unsur tersebut untuk mencapai
sebagai wewenang kepada bawahan
tujuan organisasi . teori kontemporer
Keputusan dibuat bersama antara
tersebut juga perlu didukung oleh
pimpinan dan bawahan
teori motivasi, interaksi, dan teori
Komunikasi berlangsung timbal balik
transformasi.
Pengawasan dilakukan secara wajar G. TEORI MOTIVASI

1.

2.

3.

4.

Hierarki kebutuhan (Maslow)


H.
Fisiologis= gaji pokok
Aman = perencanaan yang regular
(gaji)
Kasih sayang = kerja sama secara
tim
Harga diri = pencegahan posisi
Aktualisasi
=
tantangan
dalam
bekerja
Teori ERG (clayton Aiderfer)
E = Extencentice (fisiologis)
R = Relondress (kasih sayang)
G = Grown (harga diri aktualisasi
Teori Dua Faktor Frederich Herzberg)
Motiorsurs = kepuasan kerja
Hygiene = lingkungan yang kondusif
I.
Teori belajar McClellend
Affilonson = bersahabat
Power = menerimah orang lain
Achivemeng
=
suka
tantangan
komposisi
dan
menyelesaikanmasalah secara detail.

TEORI Z
Teori Z dikemukakan oleh Ouchi
(1981).
Teori
ini
merupakan
pengembangan teori Y dari McGregor
(1460)
dan
mendukng
gaya
kemimpinan demokratis. Komponen
Teori
Z
meliputi
pengambilan
keputusan
dan
kesepakatan,
menempatkan
pegawai
sesuai
keahlianya,
menekankan
pada
keamanan pekerjaan, promosi yang
lambat dan pendekatan yang holistic
terhadap
staf.
Teori
ini
lebih
menekankan pada staf dibandingkan
dengan kualitas produksi, sehingga di
Amerika teori ini masih banyak yang
diperdebatkan.
TEORI INTERAKTIF
Schein (1970) menekankan bahwa
staf atau pegawai suatu sistem
terbuka yang selalu berinteraksi
dengan sekitarnya dan berkembang
secara dinamis, sistem tertentu

dianggap suatu sistem yang terbuka


jika terjadi adanya perubahan energy
dan informasi dengan lingkungan.
Asumsi teori ini sebagai berikut.
Manusia memilih karakteristik yang
sangat komleks, mereka mempunyai
motivasi yang berpariasi dalam
melakukan suatu pekerjaan
Motivasi seseorang tidak tetap, tetapi
berkembang
sesuai
perubahan
waktu.