Anda di halaman 1dari 17

POSITIONING & PRODUCT

DALAM PEMASARAN SOSIAL

OLEH :
KELOMPOK 9

SUDIRMAN (0029 10 03 2014)

PROGRAM MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT

PRODI PROMOSI KESEHATAN


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
Positioning merupakan hal penting yang dibutuhkan oleh perusahaan,
brand, atau produk agar dapat bersaing dengan kompetitornya. Berbagai cara
dilakukan oleh perusahaan, brand, atau produk agar dapat menciptakan
positioning yang diharapkan di

masyarakat.

Cara

komunikasi

yang

digunakan untuk menciptakan positioning tidak sembarangan. Menciptakan


positioning harus dikonsep dengan matang dari merumuskan
akan disampaikan,

pesan yang

siapa yang akan menyampaikannya, kepada siapa

akan disampaikan, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikannya, dan


bagaimana caranya.
Public Relations sebuah perusahaan memiliki tujuan, yang salah satunya
adalah membantu menciptakan positioning. Positioning yang berhasil berada
di benak masyarakat dapat menjadi pembeda sebuah perusahaan, brand, atau
produk dengan kompetitor yang serupa. Maka dari itu, perusahaan, brand, atau
produk yang sudah memiliki positioning yang kuat, secara tidak langsung akan
memengaruhi pemikiran masyarakat dalam memutuskan pembelian.
trategi perusahaan dari suatu organisasi mengendifikasikan cakupan
produk dan pasar yang akan dilayani oleh perusahaan secara umum. Tetapi
tidak memberikan gambaran terinci mengenai bagaimana perusahaan akan
mengendalikan sumber daya yang ada. Semua organisasi mempunyai sumber
dana yang terbatas, dan manajemen puncak harus mengolokasikan sumber
dana ini kepada para manajer menengah yang akan bertanggu jawab kapada
perusahaan yang ada.
Dengan mengembangkan strategi bauran produk, manajemen puncak dapat
merinci sasaran yang harus dicapai oleh masing - masing produk dalam
rangka melaksanakan strategi perusahaan.
Ada dua konsep pemasaran yang bermanfaat yang dapat digunakan oleh
manajemen puncak dalam mengembangkan strategi bauran produk :
1. Model portfolio produk para infektor yang serius biasanya mempunyai
porfolio (komposisi) dari berbagai macam investasi modal, masing
masing dengan karakteristik khusus dalam hal resiko, tingkat
pengembalian modal, dan apresiasi.

2. Siklus hidup produk


konsep siklus hidup produk memainkan peranan yang penting dalam
pengembangan strategi bauran. Konsep ini berguna untuk mengendali
artipersaingan dari kencenderumngan perjualan untuk produk yang
sudah ada dan untuk melihat lingkungan persaingan alternatif bagi
produk baru.

BAB II
PEMBAHASAN
Setelah mengadakan segmentasi pasar dan penentuan sasaran pasar,
perusahaan

perlu

melakukan

penentuan

posisi

penawarannya.

Untuk

mendapatkan keunggulan kompetitif, perusahaan perlu mengembangkan strategi


penentuan posisi produk ke pasar sasaran yang dituju. Adapun pengertian
penentuan posisi produk adalah sebagai berikut:
Positioning adalah tindakan perusahaan untuk merancang produk dan
bauran pemasaran agar dapat tercipta kesan tertentu diingatan konsumen.
Sehingga dengan demikian konsumen segmen memahami dan menghargai apa
yang dilakukan perusahaan dalam kaitannya dengan para pesaingnya. Bagi
perusahaan tindakan untuk meneliti atau mengindentifikasi posisi pesaing dan
memutuskan untuk mengambil posisi setaraf dengan posisi pesaing atau
mencari kesempatan dalam pasar. Jika posisi perusahaan itu sendiri dekat
dengan pesaing lainnya, perusahaan itu harus menyeleksi dan kemudian
mencari perbedaan lebih lanjut melalui perbedaan-perbedaan tersendiri.
Penentuan posisi adalah tindakan untuk merancang citra perusahaan serta
nilai yang ditawarkan sehingga pelanggan dalam suatu segmen memahami
dan menghargai kedudukan perusahaan dalam kaitannya dengan pesaing
(Kotler,1997).
Dengan demikian penentuan posisi produk lebih memfokuskan pada apa
produk itu, seperti apa produk itu, dan bagaimana pelanggan harus
mengevaluasinya. Perusahaan harus mengetahui persepsi dan preferensi
pembeli mengenai produk yang ditawarkan. Pemosisian produk menyangkut
posisi suatu merek dalam benak konsumen sedemikian rupa, sehingga
dipersepsikan unik dan unggul dibandingkanmerek pesaing dalam hal atribut dan
manfaat produk. Perusahaan harus berusaha membuat produknya lebih
menonjol dari produk pesaing dan membuatnya lebih menarik bagi pembeli.
Untuk melakukan strategi penentuan posisi pasar yang baik, perusahaan harus
memutuskan karakteristik dan keistimewaan khusus yang membedakan produk
yang ditawarkan dengan pesaing kepada pasar sasaran.

Product Positioning
Dalam proses positioning selalu dimulai product positioning. Pendapat ini
dikemukakan oleh Regis Mc Kenna (1985: 37), yang juga mengemukakan
definisi product positioning sebagai berikut:
The positioning process should begin with the product themselves. To gain a
strong product positioning, a company must differentiate its product from all other
products on the market. The goal is to give theproduct a unique position in the
market place.
Dari definisi diatas mengandung pengertian bahwa proses positioning harus
dimulai dengan produk itu sendiri. Untuk mencapai product positioning yang kuat
suatu perusahaan perlu melakukan diferensiasi dalam banyak faktor yaitu:
teknologi, harga, kualitas, saluran distribusi atau sasaran konsumennya.
Rumusan positioning yang dikemukakan Kenna(1985:37) menjelaskan
perusahaan

sewaktu

akan

melakukan

product

positioning

perlu

mempertimbangkan 4 (empat) hal kunci utama, disebut sebagai The Golden


Rules of Product. adapun uraiannya sebagai berikut:
1. Perusahaan perlu mengkutitrend dan dinamika pasar, seperti trend
teknologi, persaingan, sosial, dan ekonomi.
2. Perusahaan harus memfokuskan pada posisi teknologi dan kualitas.
3. Perusahaan harus mentargetkan produknya pada segmen pasar tertentu
misalnya pada segmen masyarakat atas, menengah atau bawah. Karena
lebih baik menjadi ikan besar dalam kolam kecil daripada menjadi ikan
kecil di kolam besar (it's better to big fish in a little pond,).
4. Perusahaan harus mau bereksperimen dengan tipe produk baru,
kemudian memperhatikan reaksi pasar. Jika pemakai menyarankan
perubahan maka perusahaan harus menyesuaikan strateginya.
Product Positioning Strategy
Product positioning sangat berhubungan dengan segmentasi pasar karena
penempatan produk tersebut ditujukan melayani target market tertentu. Oleh
karena itu, pengertian strategi product positioning sebagai suatu strategi yang
digunakan untuk menanamkan suatu citra produk di benak konsumen sehingga
produk tersebut terlihat menonjol dibandingkan dengan produk pesaing. Fokus
utamanya adalah bagaimana caranya sehingga konsumen mempunyai persepsi

yang sama dengan yang diharapkan produsen tentang produk yang ditawarkan.
Kembali Kotler (1997:265)menjelaskan beberapa cara product positioning yang
dapat dilakukan pemasar dalam memasarkan produk kepada konsumen yang
dituju, antara lain:
1. Penentuan posisi menurut atribut
Ini terjadi bila suatu perusahaan

memposisikan

dengan

menonjolkan atribut produk yang lebih unggul dibanding pesaingnya,


seperti

ukuran,

lama

keberadaannya,

dan

seterusnya.

Misalnya

Disneyland dapat mengiklankan din sebagai taman hiburan terbesar di


dunia.
1. Penentuan posisi menurut manfaat
Dalam pengertian ini produk diposisikan sebagai pemimpin dalam
suatu manfaat tertentu. Misalnya Knotts Berry Farm memposisikan diri
sebagai taman hiburan untuk orang-orang yang mencari pengalaman
fantasi, seperti hidup di jamankeemasan koboi Old West.
2. Penentuan posisi menurut penggunaan atau penerapan.
Seperangkat nilai-nilai penggunaan atau penerapan inilah yang
digunakan sebagai unsur yang ditonjolkan dibandingkan pesaingnya,
misal: Japanese Deer Park memposisikan diri untuk wisatawan yang
hanya ingin memperoleh hiburan singkat.
3. Penentuan posisi menurut pemakai
Ini berarti memposisikan produk sebagai yang terbaik untuk
sejumlah kelompok pemakai. Dengan kata lain pasar sasaran lebih
ditujukan pada sebuah atau lebih komunitas, baik dalam arti sempit
maupun dalam arti luas. Misalnya Magic Mountain dapat mengiklankan
diri sebagai taman hiburan untuk pencari tantangan.
Penentuan posisi menurut pesaing
Disini produk secara keseluruhan menonjolkan nama mereknya secara
utuh dan diposisiskan lebih baik daripada pesaing. Misalnya: Lion
Country Safari dapat beriklan memilk lebih banyak macam binatang jika
dibandingkan dengan Japanese Deer Park.
4. Penentuan posisi menurut kategori produk
Disini produk diposisikan sebagai pemimpin dalam suatu kategori produk.
Misalnya: Marineland of the Pacific dapat memposisikan diri bukan
sebagai taman rekreasi tapi sebagai lembaga pendidikan.
5. Penentuan posisi harga atau kualitas
Disini produk diposisikan sebagai menawarkan nilai terbaik. Misalnya
Busch Gardens dapat memposisikan din sebagai nilai terbaik untuk harga
(dibandingkan penentuan posisi seperti kualitas tinggi/harga tinggi atau
harga termurah.

6. Posisi berdasarkan perbedaan produk


Yaitu
dengan
menunjukkan
kepada

pasarnya

tentang

perbedaan/kekhasan produk (unique product feature). Misal untuk produk


paritas seperti tepung terigu, produsen dapat menyisipkan resep kue
bermutu ke dalam kemasannya. Kelemahan cara ini adalah mudah ditiru
pesaing.
7. Posisi melalui imajinasi
Imajinasi seperti tempat, orang, benda, situasi, menjadikan positioning ini
memiliki makna hubungan asosiatif. Misal, LA light diasosiasikan dengan
Los Angeles, Marlboro diasosiasikan dengan koboi, Amerika, sabun Lux
degan artis-artis/ bintang film muda dan sepatu Nike dengan bintang
olahraga terkenal.
8. Posisi berdasarkan masalah

REPOSITIONING
Menurut Lamb, Hair, McDaniel (2003: 205), repositioning adalah merubah
persepsi

konsumen

relasi

brand

menjadi

kompetisi

brand.

Terkadang

perusahaan melakukan repositioning untuk menyangga pertumbuhan permintaan


pada saat pasar sedang melemah atau untuk mengoreksi kesalahan positioning.
Perubahan demografi, menurunnya penjualan atau perubahan pada lingkungan
sosial seringkali memotivasi perusahaan untuk mereposisi penetapan brand.
Sasaran utama dari strategi reposisi suatu produk adalah membentuk citra
merek tertentu di benak konsumen.

Dari pernyataan ini dapat dikatakan bahwa image dan repositioning


mempunyai hubungan yang erat dalam mengambil keputusan pembelian,
konsumen dipengaruhi oleh citra badan usaha yang bersangkutan sedangkan
posisi produk yang ada di benak konsumen dapat membentuk suatu citra yang
khusus di benak konsumen. Memposisikan produk tidak hanya sekedar
konsumen mengetahui keberadaan produk tapi juga dapat memberikan
kepuasan yang berarti bagi konsumen.
Reposisi suatu produk (repositioning) yang dilakukan oleh badan usaha
terhadap produknya bertujuan untuk menempatkan suatu posisi yang unik di
benak konsumen, sehingga konsumen diharapkan akan memiliki suatu kesan
tertentu terhadap merek tertentu. Kesan ini adalah brand image. Demikian pula
sebaliknya, brand image yang tercipta pada suatu merek dibentuk, dan
dipengaruhi usaha-usaha repositioning yang dilakukan oleh badan usaha. Hasil
yang didapat dari kesuksesan strategi reposisi suatu produk (repositioning
strategy) adalah berupa suatu citra merek yang berbeda dan tertanam di dalam
benak konsumen dan dipercaya oleh konsumen di dalam melakukan aktivitas
pemilihan produk. Keberhasilan strategi reposisi suatu produk (repositioning
strategy) yang dijalankan badan usaha terhadap produknya adalah dengan
terbentuknya brand image yang unik dan tertanam kuat di benak konsumen,
tentu akan berpengaruh dalam aktivitas pemilihan produk. Secara psikologis
konsumen akan cenderung untuk mengadopsi suatu jenis produk yang
mempunyai citra merek yang kuat, dan unik karena menawarkan sesuatu yang
lain dengan yang ditawarkan pesaing. Reposisi suatu produk (repositioning) yang
ada di dalam benak konsumen dapat membentuk image di benak konsumen,
sehingga dalam melakukan aktifitas pemilihan produk, konsumen dipengaruhi
oleh image dari merek yang tertanam di benak konsumen seperti tersebut di
atas. Badan usaha melakukan repositioning terhadap produknya dengan
positioning tersebut dapat menciptakan suatu image, dengan repositioning yang
tepat dan sesuai dengan manfaat dari atribut yang diberikan oleh produk dan
jasa yang ditawarkan maka antara harapan dan keinginan konsumen dapat
dipenuhi, sehingga konsumen akan mengingat merek dari produk tersebut.
Badan usaha berusaha membentuk image yang positif tentang produknya pada
benak konsumennya. Merek akan sangat berperan penting agar konsumen
dapat mengingat produk badan usaha dengan produk badan usaha yang lain

untuk itu dengan menanamkan image yang positif pada benak konsumen,
konsumen akan lebih mudah untuk tertarik membeli produk badan usaha itu.
Dengan adanya repositioning yang baik, maka badan usaha mempunyai posisi
persaingan yang menarik dan akan didukung oleh asosiasi yang kuat pula. Pada
situasi persaingan yang semakin ketat perbedaan image suatu produk bisa
menjadi lebih kompleks dan pasar menjadi lebih ramai sehingga konsumen
menjadi lebih mempercayai citra merek suatu produk dan pada atribut aktual
suatu produk dalam keputusan pembeliannya. Asosiasi yang berbeda dapat
menjadi kunci persaingan yang menguntungkan, karena jika suatu merek
mempunyai posisi yang lebih baik, maka konsumen cenderung memilihnya
dalam keputusan pembeliannya, sehingga menjadi rintangan berat bagi
pesaingnya.
Alasan perlunya Repositioning
Menurut Kertajaya (2004:96105), Ada beberapa alasan mengapa perusahaan
perlu melakukan repositioning :
1. Reaksi atas posisi baru pesaing
Rasanya pasti tidak enak jika merek Anda terus diserang oleh pesaing.
Kalau anda tetap berdiam diri terhadap pergerakan pesaing, anda mungkin akan
dikesankan tidak mampu atau kalah bersaing. Repositioning dilakukan saat
positioning Anda menjadi tidak unik dan tidak menunjukkan kenapa harus
memilih merek anda dibanding pesaing.

2. Menggapai pasar baru


Sebuah merek seringkali telah memiliki pasar yang bagus, tetapi pasar yang
bagus tersebut justru sering memancing masuknya pesaing pesaing baru yang
ramai ramai menyerang pemain yang sudah ada. Atau bisa saja sebuah merek
merasa pasar yang selama ini dilayani sudah sulit berkembang, untuk itu perlu
dipikirkan untuk menyasar segmen baru. Jika ingin menyasar segmen baru,
apakah selalu harus menggunakan repositioning? Pertimbangannya sederhana,
setiap segmen tentu memiliki karakteristik yang berbeda, jika Anda tetap
menggunakan positioning lama untuk menyasar segmen baru, apakah cocok?

Dapat dikatakan tidak. Untuk itu, jika berniat masuk ke pasar baru, lakukanlah
repositioning.
3. Menangkap tren baru
Pasar tidak ada yang statis, selalu ada trend trend baru yang muncul.
Perkembangan ini tentu merubah preferensi dan perilaku konsumen. Hal ini tentu
saja sering memaksa kita memikirkan kembali positioning merek kita saat ini.
Analisa dengan baik apakah tren tersebut bertahan lama dan yang paling penting
adalah apakah trend tersebut akan merubah perilaku konsumen terhadap
keputusan pembeliannya. Jika ya, maka anda harus melakukan repositioning.
KEPUASAN KONSUMEN
Menurut Philip Kotler (1997:36) Kepuasan konsumen adalah perasaan senang
atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya
terhadap kinerja ( hasil) suatu produk dengan harapannya.
Macam-macam atau Jenis kepuasan konsumen
Kepuasan konsumen terbagi menjadi 2 :
a. Kepuasan Fungsional, merupakan kepuasan yang diperoleh dari fungsi atau
pemakaian suatu produk. Misal : karena makan membuat perut kita menjadi
kenyang.
b. Kepuasan Psikologikal, merupakan kepuasan yang diperoleh dari atribut yang
bersifat tidak berwujud. Misal : Perasaan bangga karena mendapat pelayanan
yang sangat istimewa dari sebuah rumah makan yang mewah .

Pengukuran Kepuasan Konsumen


Menurut Philip Kotler (1997:38) ada empat metode yang dilakukan oleh
perusahaan untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen yaitu :
a. Sistem keluhan dan saran
Untuk mengidentifikasikan masalah maka perusahaan harus mengumpulkan
informasi langsung dari konsumen dengan cara menyediakan kotak saran.
Informasi yang terkumpul untuk memberikan masukan bagi perusahaan.

b. Survei kepuasan konsumen


Survei kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan cara survei melalui pos
surat, telephone, maupun wawancara pribadi. Dengan metode ini perusahaan
dapat menciptakan komunikasi 2 arah dan menunjukkan perhatiannya kepada
konsumen.
c. Ghost Shopping
Metode ini digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
perusahaan pesaing dan membandingkannya dengan perusahaan yang
bersangkutan.
d. Analisis kehilangan konsumen
Tingkat kehilangan konsumen menunjukkan kegagalan perusahaan dalam
memuaskan

konsumennya.

Perusahaan

seharusnya

menganalisa

dan

memahami mengapa konsumen tersebut berhenti mengkonsumsi produk kita.


Menurut Fandy Tjiptono (1997:35),
KONSEP BRAN DAN IMAGE
BRAND
Brand (merek) merupakan salah salah satu bagian terpenting dari suatu produk.
Merek dapat menjadi suatu nilai tambah bagi produk baik itu produk yang berupa
barang maupun jasa. Sebagai contoh: Apabila terdapat 2 (dua) buah botol
parfum yang diisi dengan jenis parfum yang sama baik dalam hal kualitas
maupun kuantitas, maka parfum yang diberi merek akan lebih dianggap bernilai,
lebih bagus dan lebih berkualitas dibandingkan dengan parfum yang tidak diberi
merek.
Nilai tambah ini sangat menguntungkan bagi produsen atau perusahaan. Karena
itulah perusahaan berusaha terus memperkenalkan merek yang dimilikinya dari
waktu ke waktu, terutama konsumen yang menjadi target marketnya.
Pengertian tentang merek, Merek adalah istilah, tanda, simbol, desain atau
kombinasi dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan
produk atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual, yang membedakan

produk/jasa tersebut dengan produk lain terutama produk saingannya


(Kotler,1987, p. 440).
Positioning Dalam Strategi Pemasaran
Menurut Craven (1991:270)bahwa positioning memegang peran yang
sangat besar dalam strategi pemasaran, setelah melakukan analisis pasar dan
analisis pesaing dalam suatu analisis internal perusahaan(total situation
analysis).
Pelanggan merupakan aset terbesar bagi suatu perusahaan, tanpa
pelanggan maka suatu perusahaan tidak akan pernah ada. Pelayanan yang
berkualitas terhadap pelanggan merupakan kunci utama untuk meraih sukses
dalam jangka panjang. bila sebuah perusahaan ingin berhasil dalam jangka
panjang maka usaha-usaha untuk memelihara pelanggan melalui pelayanan
yang memuaskan harus memperoleh perhatian yang utama.
Ada kalanya muncul pertanyaan kenapa lebih difokuskan pada memelihara
atau mempertahankan, bukan menarik pelanggan?? bukankah pelanggan berarti
pangsa pasar yang besar? jawabanya akan menjadi jelas jika dipahami bahwa
usaha memperoleh pelanggan baru (offensive marketing) jauh lebih mahal
dibandingkan dengan usaha mempertahankan pelanggan (deffensive marketing).
hal ini terjadi karena diperlukan suatu usaha keras dan biaya yang banyak untuk
membujuk pelanggan yang selama ini setia pada merek pesaing agar bersedia
mencoba atau pindah pada merek yang ditawarkan perusahaan. tidak sedikit
dana yang diperlukan untuk menarik mereka menjadi pelanggan tetap. alangkah
efektifnya promosi yang dilaksanakan bila seandainya pelanggan yang diraih
akan menjadi pelanggan tetap atau pelanggan loyal. Lalu apakah perusahaan
tidak berarti menambah jumlah pelanggan? Jawabannya terletak pada seberapa
besar tambahan profit yang diperoleh dengan pertambahan jumlah pelanggan
baru. jangan sampai pelanggan yang baru merupakan pelanggan yang sifatnya
coba-coba atau pelanggan yang peka harga, yang hanya pindah ke produk kita
saat dilakukan promosi. bila hal ini terjadi perolehan tambahan pangsa pasar
sifatnya hanya sesaat yaitu pada periode promosi saja. Terlebih lagi pada masa
krisis seperti sekarang relatif sulit untuk menambah jumlah pelanggan baru.
Untuk sebagian besar produk, menurunnya daya beli menyebabkan konsumen
semakin bersikap rasional. Artinya, membeli produk karena benar-benar didasari

oleh manfaat inti (core benefit) yang diberikan oleh produk tersebut. Kesetiaan
pelanggan dapat diciptakan melalui customer relantionship marketing, yang
berarti menjaga hubungan dengan pelanggan dengan memberikan pelayanan
yang berkualitas merupakan kunci keberhasilan jangka panjang. Dalam
kaitannya ini ada lima tingkatan jalinan hubungan yang bisa dibina antara
produsen dengan pelanggan, yaitu sebagai berikut :
1. Basic, para penjual hanya menjual produk dan sama sekali tidak melakukan
kontak setelah pembelian terjadi.
2. Reactive, penjual menjual produk dan menyarankan agar mengontak mereka
bila ada yang perlu ditanyakan pelanggan . Disini pihak penjual memiliki
program pelayanan purnajual, hanya pelaksanaannya menunggu inisiatif
pembeli/pelanggan. Perlu disadari bahwa karena sesuatu hal, banyak di
antara pelanggan yang enggan menyampaikan keluhan-keluhannya. bagi
golongan konsumen ini lebih baik berganti penjual atau berganti merek dari
pada harus berurusan dengan complaint yang akan banyak menghabiskan
energi. Perlu disadari pula bahwa sebagian besar konsumen indonesia
termasuk golongan ini.
3. Accountable, penjual mengontak pelanggan beberapa saat setelah penjualan
terjadi untuk memastikan apakah produk ini sudah sesuai dengan harapan
mereka. Penjual juga mengumpulkan segala informasi dan keluhan pelanggan
sebagai bahan masukan untuk memperbaiki produk dan pelayanan di masa
yang akan datang.
4. Proactive, tenaga penjual melakukan kontak dengan pelanggan setiap saat
untuk memaastikan bahwa tidak terjadi gangguan dalam penggunaan
produknya serta menginformasikan adanya produk baru. sesuai dengan
namanya, pihak penjual tidak saja memperhatikan kinerja produk yang telah
dibeli pelanggan, tetapi secar aproaktif menawarkan produk-produk terbaru
yang dimiliki perusahaan yang kemungkinan besar dibutuhkan mereka.
misalnya

dengan

menginformasikan

bagaimana

menggunakan

produk

secaralebih aman, lebih baik, dan lebih efisien. atau bagaimana merawat
sehingga menjadi lebih awet dan sebagainya. Melalui langkah ini pihak
penjual telah membantu pelanggan untuk membantu proses konsumsi secara
lebih baik untuk menghasilakn out-put lebih baik pula.

5. Partnership, pihak penjual bekerja sama secara kantinyu dengan pelanggan


untuk menemukan suatu cara agar pelanggan bisa menjadi lebih baik. pada
tingkatanterkahir ini antara pihak penjual dengan pelanggan telah terjalin
komunikasi yang baik sehingga sampai pada suatu kesepahaman, yaitu
bagaimana caranya memuaskan pelanggan akhir dengan baik. mereka tidak
saja memusatkan perhatian pada kinerja produk yang digunakan saat ini
tetapi pada produk lain yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan
penggunaan produk tersebut. mau tidak mau mereka akan membentuk suatu
jaringan (mungkin tidak bekerja sama dengan pemasok) yang bisa
membentuk suatu mata rantai untuk memberi pelayanan lebih baik, lebih
cepat, dan lebih memuaskan pelanggan akhir. dalam kondisi demikian kedua
belah pihak sangat menydari bahwa persaingan telah bergeser dari
persaingan produk ke persaingan jaringan. hal ini terjadi karena pelanggan
mulai mengukur kualitas penawaran denan membandingkan nilai yang
mereka terima dari suatu produk (total customer value) dengan jumlah biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut (total customer cost).
produk mana yang memberikan selisih terbesar dari kedua komponen itu
(customer delivered value) itulah yang akan dibeli. Jangan pernah merasa
bahwa pelanggan akan bergantung kepada kita (terlebih pada kondisi
persaingan yang ketat), tetapi sebenarnya kitalah yang tergantung pada
mereka. bila hal ini dikaitkan dengan konsep pemasaran yang menyatakan
bahwa

laba

hanya

dicapai

melalui

kepuasan

pelanggan,

tidaklah

mengherankan bahwa sebenarnya eksistensi sebuah perusahaan sangat


ditentukan oleh pelanggan. Banyak pesaing yang berlaga dalam arena
persaingan dengan berbagai merek produk yang ditawarkan memberikan
banyak alternatif kepada konsumen. konsumen bebas menentukan pilihan
atas produk yang dirasakan memberikan kepuasan lebih tinggi. bagi
perusahaan

yang

selalu

berorientasi

kepada

kepuasan

pelanggan

denganmenitikberatkan pada customer value, kondisi tersebut (sampai saat


tertentu) mungkin belum begitu mengkhawatirkan. tidak ada yang bisa
menjamin bahwa pelanggan akan selalu tetap setia kepada produk ataupun
merek yang ditawarkan.
`Bauran pemasaran pada produk barang yang kita kenal selama ini
berbeda dengan bauran pemasaran untuk produk jasa. Hal ini terkait dengan
perbedaan karakteristik jasa dan barang. Seperti diungkapkan oleh Lupiyoadi

bahwa, Bauran pemasaran produk barang mencakup 4P: Product, Price, Place,
dan Promotion. Sedangkan untuk jasa keempat hal tersebut masih dirasa kurang
mencukupi. Para pakar pemasaran menambahkan tiga unsur lagi: People,
Process, dan Customer Service. (Lupiyoadi,2006:70)
Ketiga hal ini terkait dengan sifat jasa dimana tahapan operasi hingga konsumsi
merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan serta mengikutsertakan
konsumen dan pemberi jasa secara langsung, dengan kata lain terjadi interaksi
langsung antara keduanya (meski tidak untuk semua jenis jasa).
Dengan demikian, unsur bauran pemasaran jasa terdiri atas tujuh hal, yaitu :

Product (produk): jasa seperti apa yang ingin ditawarkan.

Price (harga): bagaimana strategi penentuan harga.

Promotion (promosi): bagaimana promosi yang harus


dilakukan.

Place (tempat): bagaimana sistem penyampaian jasa yang


akan diterapkan.

People (orang): jenis kualitas dan kuantitas orang yang akan


terlibat dalam pemberian jasa.

Process (proses): bagaimana proses dalam operasi jasa


tersebut.

Customer service (layanan konsumen): tingkat jasa yang


bagaimana yang akan diberikan kepada konsumen.

Sebagai suatu bauran, unsur-unsur tersebut saling memengaruhi satu sama lain
sehinggga bila salah satu tidak tepat pengorganisasiannya akan memengaruhi
strategi pemasaran secara keseluruhan.
Kemampuan

perusahaan

menghadapi

persaingan

makin

lama

makin

berkembang. Sehingga menghasilkan evolusi konsep sejalan dengan yang


dijelaskan oleh Buchari Alma dalam buku Manajemen Pemasaran dan
Pemasaran Jasa yaitu: Ada lima konsep yang berkembang, yaitu konsep
Produksi (production concept), konsep Produk (product concept), konsep

Penjualan (selling concept), konsep Pemasaran (marketing concept) dan konsep


Sosial (Societal concept). (Alma,2002:93)

Pada tingkat terakhir (social marketing concept) manajemen pemasaran harus


memusatkan kegiatannya pada bagaimana menciptakan dan menawarkan
barang atau jasa untuk perbaikan mutu kehidupan, bukan hanya sekedar
menawarkan barang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Perbedaan mendasar antara pemasaran komersil dan pemasaran sosial, adalah
pada prinsip 4P yang dikenal sebagai marketing mix. Di dunia bisnis 4 P adalah
Promotion (promosi), Price (harga), Product (produk), dan Place (tempat). Dalam
pemasaran sosial ada dua hal lain yang membuat berbeda, yaitu adanya
Partnership (kemitraan) dan Policy (kebijakan).
Pada dasarnya social marketing adalah strategi menjual gagasan untuk
mengubah pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat. prinsip pemasaran sosial
tidak ada artinya apabila kemitraan tidak dijadikan tujuan organisasi. Demikian
pula tidak ada artinya upaya mengubah perilaku melalui pemasaran sosial
apabila tidak diikuti atau dilanjutkan dengan upaya mendorong tersusunnya
sebuah kebijakan.

Referensi
http://mycopypast.blogspot.com/2009/07/stp-dan4p.html

http://sketchbam.blogspot.com/2012/09/teori-stpsegmentasi-targeting.html
http://pengetahuantentangsegmentasipasar.blogsp
ot.com/
Makalah Komunikasi Publik dan Pemasaran
Sosial
Effendi Ghazali, PhD.
Makalah Organisasi Nirlaba dan Social Marketing
Prof. Dr. Emil Salim
Makalah Peran Pemasaran Sosial dalam
Perubahan Sosial demi Keberlanjutan
Organisasi
Dr. Linda D. Ibrahim
Makalah Values Based Marketing
Hermawan Kertajaya
The Seven Doors Social Marketing Approach
(paper)
Les Robinson