Anda di halaman 1dari 13

1.

Komposisi Stain, Beda debris, kalkulus dan stain


Stain menurut Grossman adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi
yang merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan
pada gingiva
Penggunaan produk tembakau, teh, kopi, obat kumur tertentu,
memiliki pigmen didalam makanan menyebabkan terbentuknya stain.
Pigmen atau pewarnaan dari makanan inilah yang akan diseprap kedalam
plak atau acquired pellicle, sehingga akan menimbulkan pewarnaan, dan
dapat kepermukaan gigi dengan adanya ikatan ganda yang saling
berhubungan dengan permukaan gigi melalui pertukaran ion
Apabila tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan membentuk
karang gigi (calculus) yang dapat merambat ke akar gigi, akibatnya gusi
mudah berdarah, gigi gampang goyang, dan mudah tanggal
Keparahan stain diperngaruhi oleh seberapa banyak pigmen warna
yang menimbun gigi. Semakin banyak pigmen di gigi yang mengabsorbsi
cahaya maka akan semakin gelap gigi tersebut. Semakin sedikit pigmen di
gigi maka semakin sedikit cahaya yang diabsobsi menjadikan warna gigi
akan lebih terang.

2. Mekanisme perubahan warna pada gigi


3. Indikasi dan kontraindikasi bleching

Indikasi

Bleaching ekstra koronal biasa dilakukan terhadap gigi vital yang mengalami
perubahan warna (baik kongenital maupun perkembangan). Pemutihan pada gigi vital dapat
dilakukan pada keadaan :
pewarnaan tetrasiklin yang ringan pada gigi yang saluran akarnya telah menutup sempurna
fluorosis ringan
gigi dengan saluran akar yang telah menutup sempurna dengan tujuan fungsi estetis
(Heasman, 2003)
Dapat pula digunakan pada saat sebelum prosedur restorasi gigi (Paravina dan Powers,
2004).

Nonvital
Beberapa kasus pada perubahan warna yang disebabkan oleh:
- Perdarahan kerena trauma
- Preparasi kavitas ruang pulpa yang tidak baik
- Obat sterilisasi saluran akar
- Bahan pengisi saluran akar
- Bahan tumpatan amalgam

2. Kontraindikasi
Gigi vital yang tidak dapat dilakukan pemutihan adalah gigi vital dengan kondisi :
- Ruang pulpa besar dimana mengakibatkan gigi sensitif
- Saluran akar yang masih terbuka
- Adanya pengikisan email
- Restorasi yang luas
- Alergi peroksida (Goldstein, 1998)
- Gigi yang mengalami karies yang tidak direstorasi
- Restorasi yang rusak
- Sensitivitas gigi yang sudah dirasakan sebelumnya (Paravina dan Powers, 2004).
Nonvital:
- Gigi dengan karies yang besar
- Gigi dengan pengisian saluran akar yang tidak baik
- Gigi dengan pengisian Ag point
- rediscoloration
4. Macam macam teknik bleaching kelebihan dan kekurangan
Bleaching (pemutihan gigi) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
1. bleaching secara eksternal yang dilakukan pada gigi vital yang mengalami perubahan warna
2. bleaching secara internal yang dilakukan pada gigi non vital yang telah dirawat saluran akar dengan baik
(Walton dan Torabinejad, 1996).

1. Teknik Bleaching secara eksternal


Bleaching secara eksternal dilakukan pada gigi yang masih vital dan dapat dilakukan menggunakan
bleaching tray (Schmidseder, 2000).
Pewarnaan gigi vital biasanya disebabkan oleh karena pewarnaan tetrasiklin dan faktor ekstrinsik, misalnya
karena fluorosis atau defek superfisial. Jenis-jenisnya antara lain :

a. Teknik Bleaching pada gigi vital yang berubah warna karena tetrasiklin
b. Bleaching teknik Mouthguard
c. Teknik Bleaching pada gigi vital yang berubah warna karena fluorosis

2. Teknik Bleaching secara internal (intrakoronal)


Pemutihan gigi secara intrakoronal dilakukan pada gigi yang telah dirawat endodontik dengan baik.
Metode bleaching yang dapat dilakukan untuk gigi ini: teknik walking bleach, termokatalitik,kombinasi,modified
home bleaching technique atau biasa disebut inside/outside bleaching technique, foto oksidasi ultraviolet dan CP
irradiation method

A Teknik Bleaching secara Eksternal


Pewarnaan pada gigi vital biasanya disebabkan oleh karena pewarnaan
tetrasiklin dan faktor ekstrinsik, misalnya karena fluorosis atau defek superfisial.
Yang termasuk teknik bleaching secara Eksternal :
1 Teknik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warna karena
Tetrasiklin
Bleaching secara eksternal dilakukan pada gigi vital yang berubah warna
karena
tetrasiklin yang belum parah yaitu gigi berwarna kuning. Tekniknya
bleaching secara eksternal, sebagai berikut (Walton & Torabinejab, 1996) :
1

Bersihkan gigi, lindungi jaringan lunak dengan mengulaskan pasta


pelindung
mulut,pasang karet isolator (rubberdam), ikat dengan benang (dental
floss) pada gigi yang akan dirawat.

2.

Letakkan sepotong kapas yang telah dibasahi larutan hidrogen

peroksida pada
bagian labial dan palatinal gigi.
3. Pemanasan dilakukan dengan cara memakai lampu reostat controlled

Photoflood yang diletakan sekitar 30 cm dari gigi selama 10-30 menit


atau
dengan hand-held thermostatically controlled yaitu dengan
menempelkan
ujung alat ini pada permukaan gigi yang telah diberi gulungan kapas
yang
dibasahi dengan superoxol.
4.

Pemutihan gigi dilakukan selama 30-60 detik. Ulangi prosedur ini

sebanyak 3
kali.
5. Kapas dilepas, gigi dibilas dengan air hangat, buka ikatan dental floss,
lepaskan
Karet isolator, bersihkan sisa pasta pelindung mulut.
6. Suruh pasien menyikat gigi kemudian lakukan pemolesan.
7. Pasien disuruh datang 1 minggu kemudian, bila belum memuaskan
prosedur
bleaching diulang

2. Bleaching Teknik Mouthguard


Teknik ini biasanya dipakai pada perubahan yang ringan, dianjurkan
sebagai
teknik pemutihan di rumah, biasa disebut juga teknik pemutihan dengan
matriks. Teknik ini dapat dilakukan pada malam hari saat tidur disebut
nightguard

vital

bleaching

atau

dipakai

pada

siang

hari.Prosedur

mouthguard bleaching adalah sebagai berikut (Walton & Torabinejab,1996)


:
1. Pasien diberi penjelasan, lakukan profilaksis, dibuat foto permulaan dan
selama

perawatan.
2. Gigi dicetak, dibuat model lengkung rahang dari gips batu. Dua lapis
relief die
diulaskan pada bagian bukal cetakan gigi untuk membentuk reservoir
bagi bahan pemutih.
3. Matriks plastik lunak setebal 2 mm dibuat dan dirapikan dengan gunting
sampai 1mm melewati tepi ginggiva.
4. Mouthguard dicoba pada mulut, lalu diangkat dan bahan pemutih
dimasukkan
Ke dalam ruangan dari setiap gigi yang akan diputihkan. Kemudian
Mouthguard dipasang atas gigi dalam mulut dan kelebihan bahan
pemutih gigi
dibuang.
5. Pasien harus dibiasakan menggunakan prosedur ini, biasanya 3-4 jam
sehari
dan bahan pemutih diisi kembali setiap 30-60 menit.
6. Perawatan dilanjutkan selama 4-24 minggu, pasien diperiksa setiap 2
minggu.

3.

Teknik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warng karena

Fluorosis
Untuk memperbaiki pewarnaan karena fluorosis ini, cara yang lebih efektif
adalah
teknik asam hidroklorik-pumis yang terkontrol atau disebut teknik pumis
asam.
Sebetulnya cara ini bukan cara pemutihan gigi murni (oksidasi), melainkan
suatu teknik dekalsifikasi dan pembuangan selapis tipis email yang
berubah warna (Walton & Torabinejab, 1996).

B Teknik internal
Pemutihan gigi intra korona pada gigi non vital dipakai teknik
termokatalitik
atau walking bleach. Adanya oksigen yang bebas akan mendorong zat
warna keluar
dari tubulus dentin.
1 Teknik Walking Bleach
Teknik ini dilakukan dengan cara menempatkan pasta campuran superoxol
dan
sodium perborat dalam kamar pulpa. Prosedur meliputi pengontrolan
warna gigi,
pemolesan permukaan email, aplikasi petroleum jeli pada gingiva dan
pemasangan
rubberdam untuk isolasi dan untuk menghindari iritasi,

preparasi

akses kavitas,
perawatan saluran akar, keluarkan guttap point 2 mm dari orifice dan
tanduk pulpa
dibersihkan, beri basis 2 mm diatas guttap, menghilangkan
smearlayer dengan
menggunakan EDTA, pembilasan dengan sodium hipoklorit & air,
mengeringkan
kavitas, masukkan pasta dengan baik, letakkan butiran kapas yang
mengandung
superoxol, tutup orifice dengan ZnOP cement/ IRM, pasien kembali 3
sampai 7 hari.
2 Teknik termokatalitik
Teknik ini dilakukan dengan bantuan cahaya dan panas. Caranya
dengan

meletakkan bahan oksidator Hidrogen Peroksida dalam kamar pulpa dan


dipanaskan
dengan menggunakan lampu atau alat yang dipanaskan atau alat
pemanas listrik
hingga menghasilkan oksigen bebas yang aktif.
Prosedur yang dilakukan meliputi, persiapan sama dengan teknik
walking bleach,
sepotong kapas diletakkan pada labial dan lainnya pada kamar pulpa,
kapas dibasahi
superoxol, diberi pencahayaan hingga 6,5 menit, larutan ditambahkan
lagi kapas
dengan Superoxol / Sodium Perborat, ditumpat sampai kunjungan lagi
3

Teknik Pemutihan Intrakoronal dengan Karbamid Peroksida 10%


Cara pertama dengan menggunakan tray yang diisi karbamid peroksida
10%
tetapi akses orifice terbuka dan diisi karbamid peroksida. Pasien
tidur dengan
menggunakan tray. Pada pagi hari gigi diirigasi dan ditutup cotton
pellet. Proses ini
diulang sampai warna yang dikehendaki, tumpat sementara,
penumpatan dengan
komposit setelah 2 minggu. Cara kedua dengan Karbamid Peroksida
diinjeksikan setiap 2 jam
(Elvira Dwijayati)

isolasi gigi

cocokkan warna gigi dibawah sinar terang

Tray diisi dengan karbamid peroksida10%

Pasangkan pada gigi pasien Pasien tidur dengan menggunakan tray.


Pada pagi hari gigi diirigasi dan ditutup cotton pellet.

Proses ini diulang sampai warna yang dikehendaki.


Sumber Gambar : www.google.com ( Indah Tama Romauli)

4 Teknik Kombinasi

Teknik kombinasi ialah cara bleaching yang menggabungkan teknik


walking
bleach dengan teknik termokatalitik secara bergantian,sehingga hasilnya
lebih cepat dan memuaskan.
Prosedur teknik kombinasi adalah langkah pertama sama dengan teknik
termokatalitik, setelah dilakukan pemanasan, kapas yang telah dibasahi
hidrogen
peroksida dalam kamar pulpa dikeluarkan lalu gigi dikeringkan. Kemudian
pasta hasil pencampuran superoxol dengan bubuk natrium perborat
diletakkan dalam kamar pulpa.Tindakan selanjutnya seperti teknik walking
bleach (Walton & Torabinejab, 1996).

5 Teknik Foto Oksidasi Ultra Violet


Lampu ultraviolet diletakkan pada permukaan labial gigi yang akan
diputihkan.
Cairan hidrogen peroksida 30-35 % diletakkan di dalam kamar pulpa
dengan kapas, lalu disinari dengan lampu ultraviolet selama 2 menit.
Diduga hal ini mengakibatkan penglepasan oksigen sama dengan
pemutihan teknik termokatalitik. Cara ini kurang efektif dibandingkan
dengan teknik walking bleach serta memerlukan waktu yang lebih banyak
(Walton & Torabinejab, 1996).
(Ayu Jembar Sari)

Sumber Gambar : www.google.com


( Indah Tama Romauli)

5. Perawatan pre dan post bleaching


Pasien harus diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai penyebab perubahan warna, prosedur yang akan
dilakukan, hasil yang diharapkan, dan kemungkinan perubahan warna timbul kembali (regresi) untuk mecegah
kekecewaan dan salah pengertian. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif sebelum, selama, dan sesudah
perawatan mutlak diperlukan.
2) Radiograf dibuat untuk melihat keadaan jaringan periapeks dan kualitas perawatan saluran akar. Perawatan
yang gagal atau pengisian saluran akar yang meragukan harus dirawat ulang sebelum pemutihan dilakukan.
3) Pemeriksaan kualitas dan warna setiap tumpatan yang ada harus dilakukan terlebih dahulu. Bila tumpatan
rusak maka harus diganti. Perubahan warna gigi sering disebabkan oleh kebocoran dan perubahan warna
tumpatan. Selain itu, pasien harus diberi tahu bahwa prosedur pemutihan dapat mempengaruhi warna tumpatan
untuk sementara (atau permanen) sehingga restorasi harus diganti.
4) Evaluasi warna gigi dilakukan dengan contoh warna dan membuat foto pada saat awal kedatangan pasien dan
selama prosedur dilakukan. Foto ini sebagai acuan untuk pembanding.
5) Gigi diisolasi dengan isolator karet. Isolasi yang lebih baik dapat diperoleh dengan memakai baji (wedge)
interproksimal. Jika menggunakan Superoxol, krim (misalnya vaselin, orabase, atau cocoa butter) dipakai
sebelum isolator karet dipasang untuk melindungi jaringan gingiva. Prosedur ini tidak perlu dilakukan jika
menggunakan Na-perborat.

Makanan yang dianjurkan usai melakukan pemutihan gigi adalah:


1. Produk buah-buahan dan sayuran seperti apel, buncis, kembang kol, wortel dan seledri membantu menggosok
gigi saat dikunyah. Makanan seperti ini juga membantu meningkatkan aliran air liur yang menetralisir asam dan
melindungi gigi.
2. Produk susu yang kaya kalsium dan keju juga membantu menjaga gigi tetap putih. Asam laktat dalam produk
ini membantu mencegah kerusakan. Keju yang keras juga membantu menghilangkan partikel makanan yang
tersisa di gigi.

Makanan yang harus dipantang atau dibatasi usai melakukan pemutihan gigi adalah:
1. Tembakau
2. Kecap

3. Minuman ringan, kopi, teh


4. Anggur merah dan putih
5. Blueberry.
Makanan ini harus dibatasi sangat mudah meninggalkan berwarna pada gigi yang telah diputihkan.

6. Bagaimana mekanisme bleaching gigi dalam pemutihan


Mekanisme pemutihan gigi pada dasarnya adalah reaksi oksidasi dari
bahan pemutih dan reduksi. Bahan yang dipakai dalam bleaching adalah
peroksida.
A. Mekanisme Hidrogen peroksida
Hidrogen peroksida sendiri sebagai oksidator mempunyai radikal bebas
yang tidak mempunyai pasangan elektron yang akan lepas dan kemudian
akan diterima oleh email sehingga terjadi reaksi oksidasi.
Radikal bebas dari peroksida adalah Peridoksil (H02) dan
oksigenase (O+). Peroksida merupakan radikal bebas yang kuat dan
oksigenase merupakan radikal bebas lemah
Proses pemutihan gigi terjadi apabila peroksida diubah PH,suhu,
cahaya untuk mendapatkan oksigen bebas
Radikal bebas ini akan bereaksi dengan ikatan tidak jenuh dan
menyebabkan gangguan konjugasi elektron dan perubahan penyerapan
energi pada molekul organik dalam struktur gigi (email,dentin). Dengan
kata lain peroksida akan merusak ikatan dalam rantai protein yang
bergabung dengan stain dalam ikatan tunggal.
Molekul gigi berubah struktur kimianya dengan adanya
penambahan tersebut, dan akan membentuk molekul organik email yang
lebih kecil dengan warna yang terang sehingga menghasilkan efek
pemutih dan gigi menjadi lebih bercahaya
B. Mekanisme Karbamid peroksida
Karbamid peroksida merupakan turunan dari hidrogen peroksida
dengan komposisi sepertiga hidrogen peroksida dari konsentrasi
karbamid peroksida.
Karbamid peroksida akan terurai menjadi hidrogen peroksida dan urea
di dalam prisma email. Awalnya, karbamid peroksida akan terpecah
menjadi hidrogen peroksida, kemudian akan melakukan reaksi dengan
mekanisme hidrogen peroksida. Urea dalam karbamid peroksida akan
menstabilkan hidrogen peroksida yang terurai.
Adanya kontak yang lama dari bahan pemutih ini pada gigi akan
memberikan reaksi pemutihan yang lebih sempurna. Hal ini disebabkan
semakin banyaknya ikatan konjugasi yang dirusak ketika radikal bebas
bereaksi dengan molekul zat warna.

C. Mekanisme golongan borat (natrium borat)


Natrium perborat dengan rumus kimia NaBO3 . Natrium perborat terdiri
atas beberapa bentuk yaitu monohidrat NaBO3H2O, trihydrat
NaBO33H2O dan tetrahydrat NaBO34H2O.Bahan ini mengandung
kira-kira 95% perborat dalam 9,9% oksigen. Hidrogen peroksida
diuraidari natrium perborat dengan reaksi kimia berikut

Natrium perborat lebih mudah dikontrok dan lebih aman daripada


larutan hydrogen peroksida pekat. Oleh karena itu, material ini
merupakan material pilihan bagi pemutihan interna.
7. Efek samping bleaching gigi pada rongga mulut
Pdf lbm 2 10E00016
8. Pandangan Islam Soal bleaching
Sejatinya, Islam adalah dien yang mencintai kebersihan dan keindahan. Islam amat
menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan dan bersih dalam berbagai. Seperti sabda
Rasulullah SAW :
"Kebersihan sebagian dari iman" [HR. Muslim, At-Turmudzi dan Ahmad]
"Sesungguhnya ALLAH itu indah mencintai yang indah" [HR Muslim]

Terkait dengan anjuran membersihkan gigi, Rasulullah SAW bersabda:


"Siwak membersihkan mulut dan membuat ridha ALLAH" [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, An-Nasa'i,
Ibnu Majah, Al Hakim dan Al-Baihaqi]
"Kalau saja tidak memberatkan umatku akan aku suruh menggunakan siwak setiap akan
shalat" [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]

Jadi, salah satu bentuk upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah dengan
cara bersiwak, gosok gigi, dan lain-lain. Dalam hal ini, pemutihan gigi [bleaching]
bisa jadi merupakan salah satu cara untuk memelihara keindahan gigi.

Seperti telah dijelaskan pada sebelumnya, warna normal gigi permanen adalah
kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Derajat
perwarnaan gigi ini ditentukan oleh ketebalan dan translusensi email, ketebalan
dan warna dentin yang melapisi di bawahnya, dan warna pulpa. Dengan
bertambahnya usia, email dapat menjadi lebih tipis dan dentin dapat menjadi
lebih tebal karena adanya proses fisiologis yang terjadi di dalam gigi. Warna gigi
dapat berubah dikarenakan adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik
terkait dengan bleaching, maka pembahasan tak akan lepas dari domain proses
perubahan dalam diri manusia. ALLAH SWT telah menciptakan alam semesta
termasuk manusia dalam keadaan seimbang, baik, dan indah.
Oleh karenanya, Islam melarang [mengharamkan] merubah ciptaan ALLAH,
khususnya pada manusia, apalagi perubahan tersebut berdampak pada
kerusakan. Khusus pada manusia, berusaha merubah dirinya yang tidak ada
alasan yang kuat merupakan bentuk ketidakridhaan dia kepada ALLAH. Dan
merubah ciptaan ALLAH merupakan salah satu cara syetan untuk menyuruh
manusia agar mereka bermaksiat. Sehingga merubah ciptaan ALLAH adalah
kemaksiatan yang diharamkan ALLAH. Merunut dari penyebab perubahan warna
gigi itu sendiri, maka hal ini tidak termasuk merubah ciptaan ALLAH yang
diharamkanNya, karena gigi pada dasarnya berwarna putih, dan jika tindakan
memutihkan gigi tersebut tidak merusak kesehatan maka hukumnya boleh.