Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH REPRODUKSI VERTEBRATA

REPRODUKSI PADA AYAM (AVES)

OLEH

RAHAYU NUR: 1214141001


NURFITRIANI: 1214141002

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2015

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr.wb
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat
kesehatan dan kekuatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Shalawat dan salam senantiasa kami hanturkan kepada baginda Rasulullah
Muhammad SAW sebagai suri telada yang paling sempurana.
Secara umum makalah ini berisi tentang hal-hal apa saja yang berkaitan dengan
reproduksi pada aves (ayam). Mulai dari alat reproduksi jantan dan betina. Mekanisme
reproduksi secara alami dalam hal ini adalah cara kawin, waktu kawin, perbandingan jantan
dan betina, lama bunting, jumlah anak yang dilahirkan, volume spermatozoa dan jumlah
sperma pada hewan jantan. Serta teknologi yang berkaitan dengan reproduksi tersebut.
Kami mengharapakan makalah ini dapat memberikan manfaat kepada semua orang
dan lebih khususnya kepada kelompok kami sendiri. Akhirnya tiada gading yang tak retak,
begitu pula dengan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran senantiasa kami harapkan
dari segenap para pembaca.

Wassalamu alaikum wr. wb

Makassar, Maret 2015

Penulis
Kelompok VII

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reproduksi merupakan suatu proses biologis yang terjadi pada makhluk hidup di
mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan
diri atau mempertahankan keturunan yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan. setiap
individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya.
Pada organisme tingkat tinggi umumnya proses reproduksi berlangsung secara seksual
yaitu membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda
yaitu jantan dan betina.
Sistem reproduksi pada masing-masing makhluk hidup berbeda-beda, begitupun
pada makhluk hidup tingkat tinggi. Alat reproduksi, mekanisme reproduksi (cara kawin,
waktu kawin, perbandingan ) dan tekhnologi pada masing-masing kelas hewan tingkat
tinggi berbeda-beda, mulai dari kelas pisces, amfibi, reptil, aves dan mamalia. Kelima
kelas ini masing-masing memiliki ciri khas dalam sistem reproduksinya. Selain itu dalam
cara kawin ada yang terjadi secara alami dan adapula yang membutuhkan bantuan
manusia atau dengan menggunkan tekhnologi.
Reproduksi pada kelas aves dalam hal ini adalah ayam, memiliki cara reproduksi
seksual. Proses reproduksi pada ayam memiliki kekhasan tersendiri. Ayam memiliki cara
kawin yang unik dengan memperlihatkan berbagai tanda-tanda bahwa ayam jantan dan
betina telah siap untuk kawin. Ayam adalah hewan poligami sehingga dengan satu
pejantan dapat mengawini lebih dari 6-10 ayam betina. Cara kawin terjadi secara alami
maupun secraa buatan denga bantuan manusia dan juga dengan menggunakan tekhnologi.
Secara alami seekor ayam betina akan mengalami masa bertelur ketika sudah
memasuki masa matangnya organ reproduksi ayam, walaupun tanpa membutuhkan seekor
pejantan. Hanya saja telur yang dihasilkan tidak akan dapat ditetaskan karena tidak adanya
pembuahan sel telur oleh sperma di dalam organ reproduksi ayam betina, telur tanpa
pembuahan tersebut dinamakan infertile. Agar menghasilkan sebutir telur yang dapat
ditetaskan, tentu diperlukan sebuah perkawinan oleh seekor ayam jantan sebagai penghasil
sperma, yang selanjutnya sperma tersebut akan dibuahi oleh indukan betina untuk
menghasilkan telur. Kemudian telur tersebut dierami sampai menetas selama 21 hari untuk
memperoleh DOC. 1.
Oleh karena untuk mengetahui bagaimana perbedaan reproduksi ayam jantan dan
betina, dan juga untuk mengetahui bagaimana meknaisme reproduksi ayam secara alami

serta tekhnologi reproduksi yang berkaitan dengan hewan tersebut sehingga dibuatlah
makalah ini.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perbedaan alat reproduksi jantan dan betina pada ayam
2. Untuk mengetahui mekanisme reproduksi secara alami (cara kawin, waktu kawin,
perbandingan jantan betina, lama masa bunting, jumlah sekelahiran, volume
spermatozoa, dan jumlah sperma)
3. Untuk mengetahui tekhnologi reproduksi yang digunakan pada ayam
C. Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan alat reproduksi jantan dan betina pada ayam
2. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme reproduksi secara alami (cara kawin, waktu
kawin, perbandingan jantan betina, lama masa bunting, jumlah sekelahiran, volume
spermatozoa, dan jumlah sperma)
3. Mahasiswa dapat mengetahui tekhnologi reproduksi yang digunakan pada ayam

BAB II
ISI
A. Pengertian Reproduksi Secara Umum

Reproduksi adalah

suatu

proses biologis

dimana

individu organisme baru

diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh
semua bentuk kehidupan, setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses
reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis
yaitu seksual dan aseksual. Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan
reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan
sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun
demikian,

reproduksi

aseksual

tidak

dibatasi

kepada

organisme

bersel

satu.

Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.


Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis
kelamin yang berbeda (Aries, 2012).
B. Reproduksi Pada Ayam
1. Perbandingan Alat Reproduksi Ayam Jantan Dan Ayam Betina
Ayam merupakan hewan tingkat tinggi yang bekembang secara seksual atau
dengan melakukan perkawinan. Ayam jantan berperan sebagai pejantan yang dalam
perkawinan bertugas menyampaikan sperma kedalam alat reproduksi betina, agar telur
yang dihasilkan oleh betina menjadi telur yang fertil sehingga dapat menghasilkan
keturunan baru apabila ditetaskan. Sedangkan ayam betina berperan sebagai induk yang
siap menerima sperma dari pejantan (Sutiyono, 2001).
Hirarki klasifikasi ayam menurut Rahayu (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Divisi : Carinathae
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Family : Phasianidae
Genus : Gallus
Spesies : Gallus gallus domestica sp
a. Alat reproduksi ayam jantan
Menurut Tri (2003), Alat reproduksi ayam jantan terdiri dari alat reproduksi
primer dan sekunder. Alat reproduksi primer merupakan alat reproduksi utama
karena tanpa adanya alat ini dengan cara apapun ayam tidak mungkin menghasilkan
keturunan. Alat tersebut dinamakan testis sedangkan alat reproduksi sekunder terdiri
dari epidedimis, vas deferens dan penis. Alat reproduksi ayam jantan dibagi dalam
tiga bagian utama, yaitu sepasang testis, sepasang saluran deferens, dan kloaka.
keterangan
1. Kloaka

2. Sepasang testes
3. Sepasang saluran deferens
4. Proctodeum
Alat tambahan:
1. Ginjal
2. Saluran urin

Gambar 1. Alat reproduksi ayam jantan


1) Testis
Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat
pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum
mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru
bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis
selalu 41o - 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi
pada temperatur tersebut. Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna
putih krem. Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin
yang lunak. Bagian dalam dari testid terdiri atas tubuli seminiferi (85% 95%
dari volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan
jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat
disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron. Besarnya testis
tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan.

Gambar 2. Penampang sebuah testis ayam (Sumber: Etches, 1996)


2) Epydidimis
Setiap testis memiliki satu epididimis yang menempel pada dinding bagian
luar testis, merupakan saluran yang berbelah-belah yang berfungsi untuk alat
transpor, penyerapan air, pendewassan dan penyimpanan sperma.
3) Saluran Deferens

Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang
merupakan muara sperma dari testis yang berfunsi menyalurkan sperma, serta
bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan
dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka
pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di
dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan
sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65%
bagian distal saluran deferens.
4) Alat Kopulasi
Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter,
kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga
diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya
kopulasi. Alat ini berfungsi menyemprotkan sperma kedalam alat reproduksi
betina pada saat terjadi perkawinan.
5) Kloaka
Pada ayam dewasa bagian yang berhubungan dengan vas deferens.
Diameternya membesar membentuk bulbus yang berfungsi untuk menampung
semen, bagian ini disebut bursa fabricius, kloaka sebetulnya tidak termasuk alat
kelamin tetapi merupakan lat yang melindungi alat reproduksi terutama penis dan
kloaka ini mempunyai otot spinter dan selalu terlutut rapat dan membuka pada
saat membuang kotoran dan kapalatis. Keistimewaan alat kelamin pada ayam
jantan adalah tidak mempunyai kelenjar vesicula seminalis, cowper dan prostat.
Cairan tambahan semen unggas berasal dari tubulus seminiferus dan epididimis.
Mekanisme Spermatogenesis
Menurut Tri (2003), spermatogenesis yaitu proses pembentukan sel sperma
yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon
gonadotropin dari hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri
dari sel Sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam 3 fase yaitu
spermatogonial, meiosis dan spermiogenesis dan butuh waktu 13-14 hari
Awal dari Spermatogenesis dengan pembelahan meiotik dari spermatosit I
menjadi spermatosit II (waktu 6 hari)
Pembelahan meiotik II(0,5 hari)
Spermatid bulat (2,5 hari)
Spermatid memanjang untuk menjalani pemasakan selama (waktu 8 hari)

Gambar 14. Diagram Spermatogenesis (Sumber: Etches, 1996)


Perkembangan kelamin dan spermatogenesisi. Testis tumbuh lambat
selama 8 10 minggu, tetapi sesudah itu pertumbuhannya sangat cepat. Pada
ayam leghorn atau bangsa petelur testes mencapai berat dewasa pada umur 24
26 minggu, sedangkan bangsa-bangsa yang besar memerlukan waktu 1 3
minggu lebih lama lagi. Spermatosit primer mulai muncul di dalam tubulus
semiferus pada umur sekitar 6 minggu dan berlangsung terus sampai 2-3 minggu.
Minggu ke 10, muncul spermatosit sekunder. Sedangkan spermatosit sekunder
membelah diri menjadi spermtid umur 12 miggu yang selanjutnya mengalami
metamorfosis menjadi spermatozoa. Spermatid dan spermatozoa terlihat dalam
tubulus seminiferus minggu ke 20 (Neilemz, 2015).
Walaupun spermatozoa di dalam semen dapat ditampung dari ayam
pejantan berumur 10 12 minggu, akan tetapi volume semen yang cukup dan
fertilitas yang memuaskan baru dapat dicapai pada umur 22 26 minggu. Dalam
hal ini banyak perbedaan untuk tiap individu. Semen dan spermatozoa,
mempunyai bentuk yang berbeda dengan sperma pada ternak yang lain.
Spermatozoa mempunyai kepala yang silindris lonjong dan acrosoma yang
runcing. Kepala bagian tengah dan ekor berukuran 15,4 mikron dan 80 mikron.
Diameter kepala dan bagian tengah kira-kira 0,5 mikron. Berbeda dengan
spermatozoa mamalia. Ayam jantan mulai dewasa setelah umur enam bulan, pada
masa itu sperma mulai terbentuk dan mulai mengejar dan mengawini ayam
betina. Pada ayam aduan proses pertumbuhan badan terhenti setelah sepuluh
bulan, ketika semua bulu yg ada di sekitar leher sudah tumbuh tuntas.

Semen segar biasanya bersifat agak basa. Rata-rata pH berkisar antara 7,0
7,6. Plasma semen ayam lebih banyak mengandung asam glutamik dan glycin
dan seidkit asam aspartik. Lebih ari 89% ejakulat menunjukkan motilitas sperma
yang progresif. Sperma unggas tetap mempunyai daya gerak dalam kisaran suhu
dari 2 sampai 43 C dan pergerakan meninggi dengan peninggian suhu.
Walaupun sperma ayam tetap motil in vitro pada suhu lemari es selama 3 5 hari
atau sampai 24 hari, tetapi motilitas tidak ada hubungannya dengan kesanggupan
membuahi, karena sperma akan kehilangan fertilitasnya dalam waktu hanya
beberapa jam. Pengaruh hormon, Androgen yang dihasilkan oleh testes
mempengaruhi sifat-sifat kelamin sekunder, seperti berkokok dan sifat mencumbu
dengan menari disekeliling ayam betina. Tingkatan sosial atau peck order pada
ayam adalah atas pengaruh sekresi androgen (Neilemz, 2015).
Faktor-faktor yang mempengruhi produksi semen, produksi sperma
meninggi distimulir oleh periode siang hari, sedangkan berkurangnya periode
siang hari mempunyai pengaruh yang berlawanan. Suhu lingkungan juga
mempengaruhi produksi semen. Suhu antara 30 C membahayakan produksi
sperma. Kekurangan makanan, kekurangan vitamin A dan vitamin E dapat
menghambat produksi semen.

b. Alat Reproduksi Ayam Betina


Menurut Tri (2003), sistem reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium &
oviduk dan yang berkembang hanya bagian sebelah kiri sedangkan yang kanan
rudimenter.
Bagian alat reproduksi:
4. Ovarium
5. Infundibulum
6. Magnum
7. Isthmus
8. Uterus
9. Kloaka
Alat tambahan:
1. Ginjal
2. Saluran urine

9. Oviduk rudimenter
Gambar 3. Alat reproduksi ayam betina (Sumber Say, 1987)
Ovarium yang mengandung sekitar 1000-3000 folikel dan di dalam folikel
terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar dari yang mikroskopik hingga
besarnya seperti yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk didalamnya. Setelah
sebuah yolk diovulasikan, kemudian ditangkap oleh infundibulum dan melewati
bagian-bagian lain seperti magnum, isthmus, uterus, vagina, lalu keluar dari kloaka
menjadi telur yang sempurna.
Menurut Tri (2003), alat reproduksi pada ayam betina terdiri dari yaitu sebagai
berikut:
1) Ovarium
Ovarium pada unggas dinamakan pula dengan folikel. Bentuk dari
ovarium ini seperti buah anggur (gambar 15) dan terletak pada rongga perat
berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium.
Besarnya ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5
cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga
minggu sebelum dewasa kelamin. Ovarium terbagi dalam dua bagian yaitu cortex
pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex ini mengandung folikel,
pada folikel (ovum) ini terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur ini dapat mencapai
lebih dari 12.000 buah namun yang mampu masak hanyalah beberapa buah saja
(pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah).
Folikel ini akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengamh
karoteiod pakan maupun karoteniod yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak
homogen maka penimbunan materi penyusun folikel tersebut menjadikan lapisan
konsentris yang tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni
(vitelogenesis) yang merupakan sintesa asam lemak di hati yang dikontrol oleh
hormon estrogen kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai folikel
atau ovum yang kemudian dinamakan yolk atau kuning telur. Dikenal dua fase
perkembangan yolk yaitu fase cepat antara 7-4 hari sebelum ovulasi dan fase
lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi serta pada 2-1 hari sebelum ovulasi.
Akibat prekembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris
pada kuning telur. Hal ini disebabkan perbedaan kadar xantopil dan karotenoid
pada pakan yang dibelah oleh latebra dimana latebra ini juga menghubungkan
antara inti yolk dengan diskus germinalis.

Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah kecuali pada bagian stigma.


Apabila ovum dirasa sudah masak maka stigma akan robek sehingga terjadi
ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah
ini ovarium mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang
diangkut melalui sistem vaskularisasi ke dalam ovarium harus melalui beberapa
lapisan antara lain theca layer merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel
sehingga memungkinkan cairan plasma dapat menembus ke jaringan di
sekelilingnya. Lapisan kedua berupa lamina basalts yang berfungsi sebagai filter
yang menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga
sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitettin yang berupa material
protein bersifat fibrous. Dalam membran plasma, oocyte kemudian berikatan
dengan sejumlah reseptor yang akan terbektuk endocitic sehingga terbentuklah
material penyusun kuning telur. Sebagian besar penyusun kuning telur adalah
material granuler berupa High Density Lipoprotein (HDL) dan lipovitellin.
Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk komplek
fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium dan ion besi.

Gambar 4. Penampang melintang sebuah ovum (Sumber: Bahr dan Johnson, 1991)
Pembentukan vitellogenin ini dinamakan vitellogenesis (viletogeni). Penyusun
utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral dan pigment. Protein
kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori:
Livetin merupakan protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan
disintesa di hati hampir 60% dari total kuning telur.
Phosvitin dan lipoprotein yang terdiri dari High Density Lipoprotein (HDL) dan
Low Density Lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dimana
kedua-nya disintesa dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari disintesa
2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesa ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil
sintesa ini bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc membentuk

molekul komplek yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning telur.
Pada saat dewasa kelamin panjang total oviduk 70 cm dan berat 40 g.
Keterangan:
1. Sistem kapiler
2. Yolk
3. Sel granulose
4. Membrana vitelina
5. Dasar membrane
6. Seltheca
Gambar 5. Struktur kuning telur (Sumber: Etches, 1996)
2) Oviduk
Secara anatomi alat reproduksi ayam (oviduk) terbagi ke dalam 3 bagian
(dari anterior ke posterior) yaitu sebagai berikut:
Infundibulum atau papilon, panjang dari bagian ini adalah 9 cm dan fungsi
utama dari mfundibulum ini hanyalah menangkap ovum yang masak. Bagian
ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi
membran vitelina. Kuning telur berada di bagian mi antara 15-30 menit.
Perbatasan antara infundibulum dan magnum yang dinamakan dengan sarang
spermatozoa merupakan terminal akhir dari lajulintas spermatozoa sebelum
terjadi pembuahan.
Magnum, merupakan bagian yang terpanjang dari oviduk yaitu 33 cm dan
magnum tersusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel dimana sintesa
dan sekresi putih telur terjadi di sini. Mukosa dari magnum tersususun dari
sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning
telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.
Isthmus yang mengsekresikan membran atau selaput telur. Panjang dari
saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini antara 1 jam 15 menit
sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum
berwarna putih sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak
pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.
3) Uterus
disebut pula glandula kerabang telur yang panjangnya 10 cm, pada
bagian mi terjadi dua phenomena yaitu hidratasi putih telur atau plumping
kemudian terbentuk karabang telur. Warna dari kerabang telur yang terdisi dari

sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir dari mineralisasi
kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20-21 jam.
4) Vagina
Bagian ini hampir dikatakan tidak terdapat sekresi di dalam
pembentukan telur. Telur melewati vagina dengan cepat yaitu sekitar 3 menit,
kemudian telur dike-luarkan (oviposttiori) dan 30 menit setelah peneluran
akan terjadi kembali ovulasi.
5) Kloaka
adalah bagian ujung luar dari oviduk tempat dikeluarkannya telur.
Total waktu yang diperlukan untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26
jam. Inilah salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur 2 lebih
dari satu butir/hari. Disamping itu saluran reproduksi ayam betina bersifat
tunggal, artinya hanya oviduk bagian kiri saja yang mampu berkembang.
Padahal ketika ada benda asing seperti yolk dan gumpalan darah menyebabkan
tidak terjadinya ovulasi. Proses pengeluaran telur ini diatur oleh hormon
oksitosin dari pituitaria bagian belakang (pituitaria pars posterior). Secara
garis besar mekanisme pembentukan telur dapat digambarkan pada tabel
berikut ini:
Anatomi reproduksi
Ovarium

Oviduk

Fungsi

Ukuran (cm)

Bagian

Folikel

Penghasil gamet
betina
Pembentukan
kuning telur
Menangkap ovum
(yolk) terjadinya
fertilisasi

Waktu

150hari
10hari

Infundibulum

33

Magnum

10

Isthmus

10

Uterus

Pembentukan
kerabang telur

16-21 jam

10

Vagina

Pembentukan
kulikula dan
pewarnaan kerabang

15 menit

Produksi putih
telur kental
bagian dalam
Pembentukan
kerabang tipis

20 menit

3 jam 30
menit
1 jam 15
menit

10

Kloaka

Peneluran (oviposisi)

Sesaat

Pada ayam Dewasa kelamin diantaranya dipengaruhi oleh faktor cahaya dan
pakan. Pengaruh pakan terhadap dewasa kelamin sangat ditentukan oleh kadar protein,
lemak, protein dan kalsium, karena akan menyebabkan peningkatan hormon estrogen
yang diperlukan untuk pembentukan sel telur, merangsang peregangan tulang pubis dan
pembesaran vent guna mempersiapkan ayam betina untuk bertelur. Umur menjelang
dewasa kelamin pada ayam menjadi kriteria penting yang mempengaruhi penampilan
reproduksi induk selanjutnya. Pola pemberian pakan dan nilai gizi yang terkandung di
dalamnya sangat menentukan kondisi menjelang dewasa kelamin terutama organ
reproduksi mulai dari ovarium sampai kloaka (Martha, 2012).
Organ reproduksi yang terdiri dari ovarium dan alat reproduksi yang meliputi
infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina merupakan tempat dimana sebutir
telur dibentuk. Infundibulum merupakan tempat untuk menangkap kuning telur atau
yolk yang telah mengalami ovulasi, magnum mensekresikan albumen atau putih telur,
isthmus yang mensekresikan membrane cangkang atau kerabang, uterus mensekresikan
cangkang dan vagina tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila
tercapai bentuk sempurna (Blakely & Bade, 1991). Pakan yang diberikan pada ayam
petelur harus sesuai dengan nutrien yang dibutuhkan, jika ayam kekurangan nutrien
yang diperlukan dalam tubuh akan memperlambat dan merusak organ reproduksi, yang
pada gilirannya akan berdampak terhadap produksi telur (Yu et al., 1992 dikutip Etches,
1996). Hunton (1995) mengatakan bahwa pada saat dewasa kelamin ayam memerlukan
nutrien yang cukup karena pada saat itu terjadi perkembangan ovarium dan oviduct,
perubahan fisiologi dan terjadi perubahan metabolisme
2. Mekanisme Reproduksi Secara Alami
Menurut Anonim (2015), tingkah laku reproduksi ayam termasuk tingkah laku
sosial, sebab menyangkut lebih dari satu ekor. Ayam adalah hewan poligami sehingga
dengan satu pejantan dapat mengawini 6-10 ayam betina. Tingkah laku reproduksi pada
ayam sangat di pengaruhi cara perkawinan. Perkawinan secara alami adalah
perkawinan ayam pejantan dengan induk betina dimana keduanya telah matang organ
reproduksinya. Perkawinan dilakukan dengan cara ayam akan menaiki tubuh induk
betina dan memasukkan spermanya ke dalam vagina induk betina. Perkawinan ini
dilakukan tanpa ada campur tangan manusia, karena biasanya saat induk betina sudah

mulai siap kawin akan menunjukkan tingkah laku yang dapat mengundang ayam jantan
untuk segera mengawininya.
a. Tingkah laku kawin
Menurut (Anonim, 2015), Ternak ayam secara alami pada saat perkawinan
melakukan tingkah laku yang unik, berikut tingkah laku dan gerakan ternak ayam
jantan dan betina saat libido dan birahi (melakukan tingkah laku reproduksi):
1) Jantan
Tarian WALTZ Pejantan akan melakukan tarian seperti: merendahkan sayap,
mendekati betina dan melangkah ke samping betina hingga dekat sekali. Ada 3
macam tarian WALTZ diperlihatkan kepada betina yaitu sebagai pinangan,
yang sudah siap kawin dan setelah selesai kawin.
Aktivitas pengganti mengalihkan dorongan seksual. Dilakukan bila pinangan
tidak ada tanggapan, jantan mematuk-matuk batu/mengais-ais sambil
memanggil betina. Jika tetap tidak ada tanggapan, betina akan dikejar.
Penegakkan bulu Leher Pejantan meninggikan bulu, bulu ditegakkan, bulu
seluruh badan bergetar dilakukan sebelum & sesudah kawin.
Gerakan ekor, ekor si jantan digerakkan dengan cepat dalam arah horizontal.
Gerakan Kepala, kepala dimiringkan, kemudian digerakkan membuat satu
lingkaran.
Penyisiran Bulu Menggosok-gosokkan kepala pada sayapnya.
Hentakan Kaki Jantan berlari dengan kaki dibengkokkan, sayapnya
direndahkan, sehingga menyentuh tanah, leher dipendekkan, biasanya
dilakukan sebelum jantan mengejar betina.
Gerakan Abnormal Pejantan mengitari betina sambil mengawasinya dengan
seksama lalu pejantan mendekati betina dari belakang lalu mematuk
kepala/leher betina sambil mengepakkan sayapnya dengan cepat.
2) Betina
Menolak dikawini Betina yang menolak dikawini akan cenderung menghindar
dan lari.
Menerima dikawini Ayam betina akan merapatkan dada dan ekor ke tanah,
sayap dikembangkan untuk menjaga keseimbangan.
Bersarang Ketika akan bertelur ayam merasa gelisah, proses bertelur
mempengaruhi jiwa ayam, cenderung tenang bila ada sarang yang ada
telurnya.
Mengeram Perilaku mengeram merupakan perilaku alami ayam betina untuk
menetaskan telurnya, namun perilaku ini dapat dihilangkan melalui seleksi.
Untuk mencegah ayam betina mengeram dapat dilakukan: kandang jangan
terlalu gelap, suhu jangan terlalu tinggi, litter jangan terlalu tebal dan

dikeluarkan dari kelompok. Selanjutnya menghentikan ayam betina mengeram


dengan cara: dilepas, dibiarkan jalan-jalan, kandang harus sejuk dan
dimandikan (suhu tubuhnya diturunkan).
Mengasuh Anak Induk ayam memiliki mathering ability yang besar umumnya
akan lebih agresif. Induk akan merawat dan melindungi anaknya. Penyapihan
terjadi pada umur anak 12 16 minggu, induk berahi lagi
Komunikasi Penglihatan untuk pengenalan dan ingatan seperti: bentuk dan
warna kepala (jengger dan pial) dan warna bulu sayap/tubuh.
Pendengaran Suara (kokok) sebagai alat komunikasi antara induk dengan
anak, atau betina memberi tanda pejantan.
Tingkah laku reproduksi dari ternak unggas keseluruhan hampir sama. Ternak
unggas jantan lebih menampakan kelebihan seperti kegagahanya, suaranya, bulunya
dan lain-lain. Ternak betina cenderung menerima ataupun menolak. Ternak betina
yang menerima akan diam dan memposisikan diri seperti rebah, menempelkan dada,
perut, paruh dan ekor ke tanah, apabila menolak maka akan lari. Ada beberapa
perbedaan dari tingkah laku reproduksi ternak unggas yang membuat ciri khas ternak
tertentu. Ayam jantan memiliki ciri khas lebih agresif dan mengejar betina, serta
betina yang mula-mula lebih suka menghindar atau lari (Anonim, 2015).

Gambar 6. sepasang ayam jantan dan betina melakukan perkawinan


3) Tingkah Laku Anak Ayam dan induknya
Menurut Adi (2007), Proses pembentukan telur berjalan selama 24 25 jam,
melalui saluran reproduksi yang terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus,
vagina dan cloaca. Dimana seluruh bagian tersebut disebut sebagai oviduct. Tandatanda menjelang bertelur adalah gelisah, mengeluarkan suara dan mencari sarang
atau tempat untuk bertelur. Anak ayam turun segera setelah 24 26 jam menetas.
Memiliki sifat meniru induk maupun ayam lainnya. Kesendirian dan rasa tercekam
ditandai dengan menciap-ciap. Pada saat dewasa: kanibal, saling bertengkar, patuk

mematuk, berebut pakan (saat seperti ini sering muncul peck order). Tingkah laku
dasar yang berkembang pada akhirnya meliputi: ingestif (makan minum),
eliminativ (ekskresi), parental (Maternal behavior), investigative (keingintahuan),
shelter seeking (mencari perlindungan), allelomimetik / mimicking (bertingkahlaku
sama), agonistic / combat (beradu, merupakan upaya untuk mempertahankan diri).
Pada sistem pemeliharaan beralas litter, tingkah laku sebelurm bertelur hampir
mirip dengan tingkah laku natural.
Didahului dengan fase mencari sarang yang nyaman untuk bertelur;
pemilihan bidang sarang untuk bertelur dan kemudian diikuti dengan pembuataan
nest hollow / cekungan untuk bertelur. Permasalahan yang terjadi tergantung pada
ukuran pen dan jumlah sarang yang tersedia. Keterbatasan sarang dan interaksi
aggressive merupakan faktor utama penyebab banyaknya floor eggs. Ayam lebih
menyukai bertelur di dekat tempat terjadi kopulasi dibandingkan dengan tempat
yang terisolasi, namun tetap membutuhkan suana yang nyaman dan tenang. Tingkah
laku pada saat oviposisi pada ayam. Ayam lebih menyukai bertelur dengan
menghadap serong kedepan dengan bidang miring kedepan. Inisiasi terjadinya
kanibalisme lebih banyak terjadi jika ayam menghadap ke dalam nest box. Jika
terjadi penundaan oviposisi akibat lighting inferior, ataupun keterbatasan nest box,
retensi telur pada uterus sering mengakibatkan deposisi ekstra calcium pada
permukaan kulit telur. Hal tsb mengakibatkan tampak lapisan seperti debu pada
permukaan kulit telur dan tentunya menambah ketebalan telur dan mereduksi
kemampuan pertukaran udara jika telur akan ditetaskan. Tingkah Laku Post Laying
Ayam.
Ayam menduduki telur yang telah dikeluarkannya selama + 0.5 jam.
Meningkatkan resiko pemendekan masa simpan telur konsumsi dengan mencegah
pendinginan telur secara cepat disamping peningkatan kontaminasi mikrobia. Pada
sistem roll way nest boxes hal ini dapat direduksi, karena telur akan segera
dikeluarkan dari sarang. Memberikan peluang untuk menduduki telur dapat
meningkatkan hasrat untuk mengeram, hal ini dapat terjadi meskpun pada jenis
ayam petelur yang sudah terseleksi secara genetis.

c
Gambar 7. a. Telur ayam, b. Induk ayam mengerami telurnya, c. Telur ayam yang menetas
Resiko lain yang muncul adalah munculnya peluang bagi ayam untuk
memakan telurnya sendiri. Pada awalnya dapat terjadi dengan mengkonsumsi telur
yang retak / pecah, namun ayam yang memiliki pengalaman memakan telur
biasanya akan terus berlanjut dengan memakan telur yang retak bahkan jika tidak
menemukan akan memecahkan telur yang utuh. Solusi perbaikan management,
pengurangan lighting.
Tingkah laku anak ayam Unggas. Ikatan induk anak terbentuk dengan
adanya panggilan / suara induk untuk menunjukkan makanan pada anak (maternal
feeding call), peran induk terbatas pada proteksi dan mengajarkan mengenal pakan
edible maupun inedible.

Gambar 8. a. ayam jantan dewasa dan ayam betina dewasa, b. induk ayam dan anaknya
Hubungan dalam kelompok. Agresi dilakukan dalam rangka membentuk
hierarkhi / pecking order yang stabil. Pecking order mulai muncul beberapa minggu
setelah menetas dan baru mulai stabil setelah berumur 6 8 minggu.
b. Waktu kawin
Ketika seekor ayam betina mencapai usia delapan belas hingga dua puluh
minggu, ia akan mulai bertelur. Pada umumnya, seekor ayam betina akan bertelur

satu butir setiap hari. Dalam lingkungan yang alami, ayam betina akan terus bertelur
di sarangnya hingga mencapai beberapa butir. Kemudian ia akan duduk di atas telurtelur itu hingga menetas.
Siklus reproduktif ayam biasanya berlangsung selama dua puluh empat jam
selama bulan-bulan di musim panas. Siklusnya ditentukan oleh lamanya siang hari.
Jika siang hari memendek, dan musim dingin mendekat, seekor ayam akan bertelur
lebih sedikit, sebab ada hari-hari yang dilaluinya tanpa bertelur. Beberapa jenis ayam
betina akan berhenti bertelur sama sekali hingga musim semi tiba. Alasannya adalah
karena musim dingin merupakan musim yang tidak baik untuk merawat anak-anak
ayam. Cuaca yang dingin akan memperkecil peluang bertahan hidup anak-anak
ayam itu.
Ayam betina, seperti semua jenis unggas lainnya, mengeluarkan telur-telurnya
melalui saluran keluar yang sama dengan saluran kotorannya. Karena ada kulit yang
melipat ke bawah, telur-telur tidak terkontaminasi oleh kotoran apapun yang
mungkin ada di dekat lubang pengeluaran. Seekor ayam betina tidak harus
dikawinkan agar dia bisa bertelur. Sebagian besar ayam betina di tempat
pemeliharaan ayam petelur bahkan tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayam
jantan.
Setelah ayam betina meletakkan telurnya, ia akan meninggalkan sarangnya.
Telur itu dengan cepat akan menjadi dingin dan bisa menjaga sebuah embrio hidup
terus hingga dua minggu. Setiap hari, ayam betina itu akan meletakkan telur lain
hingga kemudian ada beberapa telur di dalam sarangnya itu. Kemudian ia akan jadi
ayam pengeram. Seekor ayam pengeram akan duduk di sarangnya sepanjang siang
dan malam, sayapnya akan merungkup sedikit sehingga telur-telurnya tetap hangat.
Karena pertumbuhan embiro sempat terhenti saat telur-telur diletakkan, maka
mereka akan berkembang secara bersamaan.
Ayam yang sedang dalam masa mengerami akan meninggalkan sarangnya
sekali sehari untuk membuang kotoran, makan, dan minum. Siapapun yang
mendekati sarangnya akan dia patuk. Setelah tiga minggu mengerami telur, anakanak ayam akan menetas. Telur yang tidak menetas akan ditinggalkannya sebab ia
kemudian akan membawa anak-anaknya ke luar sarang untuk pertama kalinya.
Sarang itu kemudian akan ditinggalkan.
Di peternakan atau di tempat pemeliharaan ayam petelur, proses alami di atas
akan dihilangkan. Cahaya lampu bisa membuat ayam berpikir bahwa lamanya siang
hari tidak berubah. Hal ini menyebabkan jumlah telur yang dihasilkannya akan tetap.

Setelah sebutir telur diletakkan, telur itu diambil. Ayam betina itu akan mengira
bahwa telur di sarangnya itu selalu tidak cukup, dan dia akan terus bertelur lagi.
Ayam yang menolak meletakkan telur di sarangnya akan didorong dengan cara
meletakkan beberapa telur palsu di sarangnya. Ayam betina akan terus bertelur
hingga mencapai usia dua atau tiga tahun.
Selain cahaya yang terang dan usia tua, ada beberapa alasan lain mengapa
seekor ayam betina berhenti bertelur. Salah satunya adalah karena nutrisi pakannya
yang buruk. Ayam yang tidak mendapatkan jumlah pakan yang tepat tidak akan
mampu menghasilkan telur. Alasan lainnya adalah pergantian bulu. Setelah beberapa
bulan bertelur, seekor ayam bisa memasuki siklus pergantian bulu. Karena besarnya
energi yang dibutuhkan untuk berganti bulu, tubuh ayam tidak akan memiliki cukup
energi untuk bertelur. Ayam betina juga bisa tidak bertelur selama beberapa waktu
akibat stress atau penyakit. Seumur hidupnya, seekor ayam betina bisa menghasilkan
telur yang beratnya sebanyak tiga puluh kali bobot tubuhnya.jika satu telur sehari,
selama hampir dua setengah tahun, maka jumlah telur totalnya adalah sekitar
sembilan ratus telur. Untuk ayam yang ukurannya sekecil itu, itu adalah jumlah yang
luar biasa.
Menurut Sarwono B (2004), bahwa kemampuan bertelur ayam arab umur 7
bulan sebanyak 200 250 butir pertahun, sedangkan buras biasa (ayam kampung)
hanya mampu bertelur 100 150 butir dengan pemeliharaan insentif. Telur yang
dihasilkan induk ayam tidak semuanya berkualitas baik untuk ditetaskan. Oleh
karenanya, memilih telur yang akan ditetaskan merupakan hal yang sangat penting,
karena berpengaruh pada daya tetas dan anak ayam yang dihasilkan.
Telur yang dihasilkan induk ayam dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu telur
infertile dan telur fertile. Telur infertile disebut juga telur konsumsi yang merupakan
telur yang dihasilkan tanpa perkawinan. Telur ini tidak dapat menetas dan hanya
dipakai sebagai konsumsi rumah tangga. Sedangkan telur fertile yang disebut juga
dengan telur tetas adalah telur yang dihasilkan oleh induk ayam yang telah dikawini
oleh pejantannya. Jenis ini memiliki daya tetas yang cukup tinggi (Sudradjad, 1995
dalam Bachari, dkk. 2006).
Ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif sangat rendah produksi
telurnya (40 50 butir per tahun), telurnya kecil-kecil, ayam betina mempunyai sifat
mengeram yang agak lama/tinggi. Selama satu masa bertelur bisa menghasilkan
telur antara 1218 butir, berat per butir telur sekitar 45-50 g. Pertama kali bertelur
ketika berumur sekitar 250 hari. Induk betina yang kecil mampu mengerami 810

butir telur sedangkan induk betina besar dapat mengerami telur sebanyak 15 butir
(Sarwono, 1997).
c. Penyebab Telur Ayam tidak Menetas
Menurut

Anonim

(2015),

Beberapa

hal

yang

menjadi

penyebab telur ayam tidak menetas yaitu sebagai berikut:


1) Adanya ayam jantan
Usia ayam yang terlalu muda atau terlalu tua biasanya
kurang

subur

sehingga

mempengaruhi

daya

tetas

telur. Makanan ayam juga berpengaruh terhadap kesuburan


telurnya

sehingga

mempengaruhi

daya

tetas.

Untuk

meningkatkan daya tetas, berikan makanan yang mengandung


banyak

protein.

Untuk

mengetahui

apakah

telur

ayam

fertil/subur/ada benihnya atau tidak, setelah dierami kurang


lebih 4 hari terawang telur dengan lampu yang cukup terang.
Telur fertil akan ditemukan noda merah bulat di dalam telur,
lama kelamaan semakin besar membentuk semacam akar.
Sedangkan telur yang bening, bisa dipastikan tidak akan
menetas.
2) suhu pengeraman
Biasanya jika menetaskan pada mesin tetas suhu yang
fluktuatif karena salah set termostat atau banyak kebocoran
pada mesin tetas biasanya akan mengakibatkan telur tidak
menetas. Pada ayam yang mengeram, jika banyak terganggu
ayam lain atau manusia juga akan mempengaruhi kestabilan
suhu dan kelembaban sehingga telur menetas hanya sedikit.
Pada musim tertentu ada kutu yang sering hinggap pada ayam
mengeram, ini mengganggu konsentrasi ayam mengeram
sehingga daya tetas menurun.

3) Rasio ayam jantan dan betina


Idealnya rasio ayam jantan betina indukan 1 jantan dan
6 betina. Pada ayam arab bisa mencapai 1 jantan 8 betina.
Rasio yang terlalu besar , misalnya 1 jantan 15 betina akan
menurunkan daya tetas telur, karena ayam jantan tidak mampu
mengawini semua betina. Dalam rasio yang banyak , bisa jadi
ada ayam betina yang tidak dikawin oleh ayam jago.
4) Telur Ayam Terlalu Lama disimpan
Waktu penyimpanan telur juga akan berpengaruh pada
daya tetas telur. Semakin lama telur disimpan daya tetas telur
akan semakin menurun. Agar menetas dengan baik, sebaiknya
telur ayam segera dierami sebelum satu minggu.
3.

Teknologi Reproduksi yang Berkaitan dengan Reproduksi Ayam


Beberapa tekhnologi yang digunakan pada reproduksi ayam yaitu sebagai
berikut:
a. Kawin Semi Alami
Tidak semua indukan betina mau dikawini oleh ayam pejantan, sehingga ayam
pejantan yang telah siap kawin akan mengejar indukan betina yang lari ketakutan.
Kalaupun ayam pejantan dapat mengejar dan mengawini indukan betina, maka
sperma jantan tidak akan dapat masuk sempurna karena indukan betina akan terus
meronta dan ayam pejantan akan terburu buru mengeluarkan spermanya walaupun
posisinya belum tepat benar. Cara menyiasatinya adalah dengan cara kawin dodok
(diambil dari istilah duduk), yaitu perkawinan ayam yang dilakukan sama seperti
cara konvensional, tetapi dibantu tangan manusia. Caranya dengan memegangi
induk betina yang siap kawin dengan posisi didudukkan ke lantai agar tidak
meronta-ronta, sehingga ayam pejantan dapat mengawininya secara alami.
perkawinan ini hanya dapat dilakukan pada ayam yang sudah jinak dan terbiasa
(Admoko, 2013).
b. Kawin suntik (Inseminasi Buatan)
Untuk memperoleh DOC yang berkualitas dalam jumlah banyak dan seragam
dan dalam waktu yang singkat tentu sulit tercapai, mekipun menggunakan ayam
pejantan yang unggul dan betina yang baik. meskipun secara kualitas telur akan

baik, tetapi jumlah telur yang dihasilkan akan terbatas dan tingkat kegagalan tetas
telur juga cukup tinggi. Untuk mengatasi kendala tersebut, salah satu alternatif yang
dapat dilakukan yaitu dengan penerapan bioteknologi dalam bidang reproduksi
ternak dengan melakukan konservasi semen dan penerapan teknologi Inseminasi
Buatan (IB) pada ayam. Dengan cara ini semen dari seekor pejantan dapat
diencerkan untuk mengawini sekitar tujuh belas ekor betina (Bahr dan Bakst, 1987).
Inseminasi buatan pada unggas merupakan salah satu teknologi yang diharapkan
dapat memperbaiki produktivitas ayam, dan merupakan teknik yang berharga dalam
industri peternakan unggas maupun dalam riset penelitian. Dengan sistem ini dapat
diprogramkan upaya untuk mendapatkan bibit dan DOC (day old chick) dalam
jumlah banyak dengan umur sama dalam waktu pendek (Ridwan dan Rusdin, 2008).
Menurut Admoko (2013), Keuntungan inseminasi buatan:
1) Cukup menggunakan satu pejantan untuk banyak betina (satu pejantan bisa
untuk 20 ekor betina)
2) Dapat dipilih pejantan yang unggul dan induk betina yang baik
3) Masa produksi telur dapat bersamaan dengan betina lainnya
4) Dapat memperoleh telur yang berkualitas baik dengan jumlah yang banyak
dalam waktu yang singkat
5) Dimungkinkannya melakukan perkawinan silang dengan ayam jenis tertentu
6) Dapat dilakukan pada ayam, baik pejantan maupun induk betina yang kesulitan
melakukan kawin secara alami
Kekurangan inseminasi buatan:
1)

Diperlukan alat dan bahan untuk melakukan inseminasi buatan

2)

Diperlukan keahlian dan pengetahuan untuk melakukan inseminasi buatan

3)

Diperlukan waktu untuk pemisahan terlebih dahulu bagi pejantan dan betina
4) Diperlukan kandang terpisah untuk ayam jantan dan betina sebelum dilakukan
inseminasi buatan
5) Diperlukan kandang baterai untuk menempatkan betina yang sedang bertelur
6) Diperlukan mesin tetas dengan kapasitas tertentu, karena satu betina tidak mampu
mengerami telur secara alami dalam jumlah yang banyak.
c. Penetasan dengan Menggunakan Mesin Tetas
Cara ini lebih menguntungkan dibandingkan penetasan alami, karena DOC
yang dihasilkan dapat diperoleh secara massal pada saat yang bersamaan. Meskipun
demikian, penggunaan mesin tetas perlu mempertimbangkan hal-hal vital agar tidak
sampai gagal. Pertimbangan tersebut didasarkan seleksi mutu telur tetas (umur telur,

berat telur, dan indeks bentuk telur), stabilitas suhu dan kelembaban, sirkulasi udara
dan ventilasi, perlakuan pemutaran dan pendinginan telur dsb (Winarto, dkk. 2008).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan isi dari makalah ini, maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut:
1. Alat reproduksi ayam jantan yaitu dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu sepasang
testis, sepasang saluran deferens, dan kloaka. Sedangkan alat reproduksi ayam betina
terdiri dari ovarium & oviduk (yang terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus),
uterus, kloaka serta alat tambahan berupa ginjal dan saluran urine dan yang
berkembang hanya bagian sebelah kiri sedangkan yang kanan rudimenter.
2. Mekanisme reproduksi secara alami yaitu dimulai dari tingkah laku ayam jantan dan
betina, dimana keduanya masing-masing memperlihatkan perbedaan, unggas jantan
lebih menampakan kelebihan seperti kegagahanya, suaranya, bulunya dan lain-lain.
Ternak betina cenderung menerima ataupun menolak. Ayam adalah hewan poligami
sehingga dengan satu pejantan dapat mengawini 6-10 ayam betina. Proses pembentukan
telur berlangsung 24-25 jam, anak ayam turun segera setelah menetas selama 24-26
jam. Telur pada ayam betina dibedakan menjadi telur fertil dan infertil. Ayan betina
dapat mengerami telur 12-18 butir selama satu masa bertelur. ayam betina bertelur
setelah umur mencapai 18-20 minggu atau sekitar 250 hari. Jumlah telur yang
dihasilkan oleh betina berbeda-beda pada beberapa spesies ada yang 200-250 butir per
tahun, ada pula yang hanya 40-50 butir. Ayam jantan mulai dewasa setelah umur enam
bulan,pada masa itu sperma mulai terbentuk dan mulai mengejar dan mengawini ayam
betina. Pada ayam aduan proses pertumbuhan badan terhenti setelah sepuluh bulan,
ketika semua bulu yg ada di sekitar leher sudah tumbuh tuntas.
3. Tekhnologi yang berkaitan dengan reproduksi ayam yaitu kawin semi alami, inseminasi
buatan dan penetasan dengan menggunakan mesin tetas
B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu diharapkan dalam mempelajari
reproduksi vertebrata kiranya mahasiswa dapat mengamati secara langsung hewan-hewan
yang terdapat dilingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Adi. 2007. Diktat Tingkah Laku Ternak Sub Kajian: Tingkah Laku Induk Anak.
Http://Adisarjana.Blogspot.Com/2008/06/Diktat-Tlt-1-St-Revised-Tingkah-Laku.
Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2015: Makassar.
Admoko, 2013. Cara Perkawinan Ayam. Http://Yoyokadmoko.Blogspot.Com/2013/07/CaraPerkawinan-Ayam.Html. Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2015: Makassar.
Anonim,

2015.

Http://Ternakayampelung.Com/Perawatan-Ayam-Pelung/Mengapa-Telur-

Ayam-Tidak-Menetas. Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2015: Makassar.


Arie, Rahmat, 2012. Htmlhttp://Arisychology.Blogspot.Com/2012/01/Reproduksi-HewanAseksual-Dan-Seksual. Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2015: Makassar.
Bahr J.M Dan Bakst, M.R., 1987. Poultry. In E.S.E. Hafez, Ed Reproduction In Farm
Animal. 5 Th Ed. Lea And Febiger, Philadelphia Pp 379 388.
Blakely, J. & D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat.
Etches, R.J. 1996. Reproduction in Poultry. Univercity Press. Cambridge.
Irawati Bachari, Iskandar Sembiring, Dan Dedi Suranta Tarigan. 2006. Pengaruh Frekuensi
Pemutaran Telur Terhadap Daya Tetas Dan Bobot Badan Doc Ayam Kampung (The
Effect Of Egg Centrifugation Frequency On Hatchability And Body Weight Doc Of
Free-Range Chicken). Jurnal Agribisnis Perternakan, Vol. 2, No. 3,. Departemen
Perternakan Fakultas Pertanian Usu.
Neilamz, 2015. Emriologi Dan Reproduksi. Https://Neilamz.Wordpress.Com/EmbriologiDan-Reproduksi/. Diakses pada tangga 8 maret 2015: Makassar.
Rahayu, Iman, Sudaryani, Santosa, Hari. 2002. Panduan Lengkap Ayam. Penebar Swadaya
Halaman 22-40: Jakarta.
Ridwan Dan Rusdin. 2008. Konservasi Semen Ayam Buras Menggunakan Berbagai
Pengencer Terhadap Fertilitas Dan Periode Fertil Spermatozoa Pasca Inseminasi
Buatan. Jurnal Agroland 15 (1) : 63 - 67, Issn : 0854 641x.
Roni Pinau. 2012. Umur Dan Bobot Telur Terhadap Persentase Daya Tetas Telur Ayam Arab.
Smk Tapa Bone Bolango.
Sarwono, B. 2004. Ayam Arab Petelur Unggul. Penebar Swadaya: Depok.

Sutiyono. 2001. Pengenalan Reproduksi Ayam. Kerjasama antara PT Perhutani (PERSERO)


KPH Kendal dengan Forum Kelompok Sumber Daya Alam Jawa Tengah Pelestari:
Semarang.
Tri-Yuwanta, 2003. Dasar Ternak Unggas. Handout Fakultas Peternakan Ugm: Jogjakarta.
Wiesje Martha Horhoruw. 2012: Ukuran Saluran Reproduksi Ayam Petelur Fase Pulle T
Yang Diberi Pakan Dengan Campuran Rumput Laut (Gracilaria Edulis). Jurusan
Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura: Ambon.
Winarto, Dkk. 2008. Rancang Bangun Sistem Kendali Suhu Dan Kelembaban Udarapenetas
Ayam Berbasis Plc (Programmable Ligic Controller). Jurnal Rekayasa Dan Tekhnologi
Elektro. Vol 2 No 1. Jurusan Tekhnologi Pertanian Politekhnik Negeri Lampung:
Lampung.