Anda di halaman 1dari 5

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui


permukaan tanah. Umumnya, infiltrasi yang dimaksud adalah infiltrasi vertikal,
yaitu gerakan ke bawah dari permukaan tanah (Jury dan Horton, 2004).
Mekanisme infiltrasi yaitu ketika hujan atau air jatuh pada tanah kering,
permukaan atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang bagian bawahnya relatif
masih kering. Dengan demikian terdapat perbedaan yang besar dari gaya kapiler
antara permukaan atas tanah dengan yang ada di bawahnya. Karena adanya
perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja bersama-sama dengan
gaya berat, sehingga terjadi infiltrasi (Arsyad, 1989; Harto, 1993). Jika intensitas
hujan lebih kecil daripada kecepatan infiltrasi, semua air hujan akan meresap
kedalam tanah. Sebaliknya apabila intensitas hujan lebih besar dari kecepatan
infiltrasi, maka akan menghasilkan aliran permukaan. (Nugroho, 2011). Setelah
lapisan bagian atas jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ketanah yang lebih
dalam sebagai gaya gravitasi bumi dikenal dengan proses perkolasi (Asdak,
2002).
Laju maksimal gerakan air masuk kedalam tanah dinamakan kapasitas
infiltrasi. Kapasitas infiltasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan
tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas hujan
lebih kecil daripada curah hujan, maka laju infiltrasi sama dengan laju curah
hujan.
Proses infiltrasi melibatkan tiga proses, yaitu:

1. Proses masuknya air hujan melalui pori-pori permukaan tanah.


2. Tertampungnya air hujan tersebut didalam tanah.
3. Proses mengalirnya air tersebut ke tempat lain (bawah, samping, dan atas).
Kurva kapasitas infiltrasi merupakan kurva hubungan antara kapasitas
infiltrasi dan waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah hujan. Kapasitas
infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadinya hujan, tetapi semakin
lama kapasitasnya akan menurun hingga mencapai konstan. Besarnya penurunan
ini dipengaruhi beberapa faktor, seperti kelembaban tanah, kompaksi,
penumpukan bahan liat dan lain-lain. Infiltration rate adalah kecepatan infiltrasi
aktual, yang besarnya selalu lebih kecil atau sama dengan kapasitas infiltrasi.
Menurut Knapp (1978), untu mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan
dengan tiga cara :
1. Inflow-outflow
2. Analisis data hujan dan hidrograf
3. Menggunakan double ring infiltrometer
(Tim Asisten Praktikum Hidrologi, 2015)
Kecepatan infiltrasi ditentukan oleh faktor-faktor yaitu karakteristik hujan,
kondisi permukaan tanah, kondisi penutup permukaan, karakteristik tanah, kadar
air dalam tanah, dan kondisi iklim. (Nugroho, 2011)
Model perhitungan infiltrasi yang sering digunakan yaitu infiltrasi model
Horton dan infiltrasi model Philip.
1. Infiltrasi model Horton
Horton (1940), mendeskripsikan infiltrasi tanah dengan pendekatan empiris
yang merupakan fungsi dari waktu.
f = fc + (fo-fc) e-Kt .
f : kapasitas infiltrasi pada waktu t (cm/jam)
fc : besarnya infiltrasi saat konstan (cm/jam)
fo : besarnya infiltrasi saat awal (cm/jam)
K : konstanta (-1/0,434 m)
t : waktu dari awal hujan

e : 2,718
Perbedaan struktur tanah mempengaruhi infiltrasi konstan (fc), yang pada
persamaan model infiltrasi Horton direfleksikan nilai konduktivitas hidraulik
jenuh tanah (K), semakin tinggi porositas efektif tanah maka nilai K akan semakin
meningkat. Dalam persamaan model infiltrasi Horton, nilai K merupakan faktor
pengontrol terhadap penurunan laju infiltrasi.
Wilson (1974) menyatakan bahwa nilai K merupakan fungsi pengelolaan
lahan. Tanah yang bervagetasi nilai K nya kecil, sedangkan tanah terbuka nilai K
akan semakin besar. Sedangkan nilai infiltrasi konstan (fc) merupkan fungsi jenis
tanah, vegetasi, kadar air tanah, lereng, dan intensitas hujan.
Pengujian model infiltrasi Horton ternyata mempunyai tingkat ketepatan
model terbaik bila dibandingkan dengan model infiltrasi lainnya, selain itu
modifikasi infiltrasi model Horton ini dapat dipergunakan untuk menggambarkan
hubungan antara infiltrasi dengan energi tetesan air hujan, yang selanjutnya
bermanfaat untuk memprediksi lempasan permukaan. (Nugroho, 2011)
2. Model infiltrasi Philip
Berdasarkan hukum Darcy dan konsep potensial kapiler telah menurunkan
persamaan diferensial parsial untuk menggambarkan pergerakan air tanah.
Persamaan tersebut kemudian ditulis kembalai sebagai suatu persamaan difusi non
linear yang tergantung pada kandungan lengas tanah dan difusitas air tanah, yang
didefinisikan sebagai hasil kali konduktivitas hidraulik dengan kapasitas lengas
tanah. Untuk perhitungan infiltrasi dihitung berdasarkan persamaan aliran vertikal
1 (satu) dimensi dalam tanah.

Selama proses infiltrasi kedalam tanah dengan kedalaman L, maka air


bergerak kedalam tanah melalui permukaan tanah pada laju yang ditentukan oleh
kondisi fisik awal dan batas jenuh air tanah.
Persamaan infiltrasi model Philip : I = S t1/2 + A t
S : sorptivitas (m/detik)
t : waktu (detik)
A : konstanta
Pengujian infiltrasi model Philip menunjukkan bahwa model tersebut
memiliki kesesuaian yang cukup baik dengan infiltrasi yang diukur. Infiltrasi
model Philip juga dapat digunakan untuk menduga besarnya limpasan permukaan
(runoff) di daerah berlereng dengan menggunakan waktu terjadinya genangan
(ponding time) dan menghasilkan kesesuaian yang cukup baik apabila
dibandingkan dengan data percobaan lapangan.
Pengukuran infiltrasi dilaksanaakan untuk mengetahui besarnya kecepatan
infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Berdasarkan tujuannya pengukuran infiltrasi
dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :
a. Infiltrometer
b. Test plot
c. Rain simulation
d. Analisis hidrograf
1. Infiltrometer
Metode infiltrometer dapat dibagi atas dua kategori yaitu infiltrometer
dengan tabung tunggal dan infiltrometer dengan double ring.
a. Infiltrometer dengan tabung tunggal
Pengukuran infiltrasi memakai infiltrometer tabung tunggal, digunakan pipa
besi berdiameter 30 cm dan panjang 60 cm. Pipa tersebut ditancapkan ke dalam
tanah 25-50 cm tergantung keadaan tekstur dan humus pada permukaan tanah.
b. Infiltrometer dengan double ring
Ukuran infiltrometer dengan double ring adalah ring dalam berdiameter 25
cm dan ring luar berdiameter 40 cm, dengan panjang masing-masing 30 cm.
Kemudian ring tersebut ditancapkan kedalam taanah 20 cm. Antara ring tersebut

diisi air yang tingginya harus dipertahankan tetap selama pengukuran. Besarnya
infiltrasi dihitung berdasarkan banyaknya air yang ditambahkan ke ring dalam,
hingga penurunan permukaan airnya mencapai konstan.
2. Test Plot
Test plot hanya untuk mendapatkan data pada area yang lebih luas. Test plot
dibuat pada sebidang tanah yang datar dan dikelilingi tanggul yang kedap air, agar
tidak terjadi rembesan ke samping. Besarnya infiltrasi juga berdasarkan jumlah air
yang ditambahkan pada waktu tertentu hingga penurunan permukaan airnya
mencapai konstan. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti dari gangguan air
hujan, ditepinya perlu dipasang alat pengukur hujan (rain gauge).
3. Rain simulator
Alat yang digunakan berupa sprinkler (semprotan) untuk membuat hujan
tiruan, dengan cara disemprotkan berputar ke udara di dalam model plot
berukuran 1,85 m x 3,66 m. Hujan tiruan tersebut disemprotkan merata ke dalam
model plot hingga kecepatan infiltrasinya mencapai konstan.
4. Analisis Hidrograf
Terjadinya variasi intensitas hujan lebat yang menghasilkan aliran pada
waktu yang bersamaan, dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik infiltrasi
pada daerah aliran sungai dapat dicakup. Ada beberapa cara yang digunakan untuk
menghitung infiltrasi pada daerah aliran sungai yaitu f-curve untuk basin kecil, fcurve untuk basin luas, dan indek infiltrasi. (Nugroho, 2011)