Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN
INKONTINENSIA URINE
KELOMPOK
BAIQ TRIKA PUSTANIKA AHADYA
ZIADATUN HIKMAH
VICTORIA MILA NOVITASARI
SUSI YULI HANDAYANI

Definisi
Inkontinensia urin adalah suatu kondisi
medis yang ditandai dengan hilangnya
kendali pada kandung kemih yang
berakibat pada kebocoran urin atau
mengompol.
Kondisi
ini
biasanaya
merupakan gejala dari penyakit yang
mendasari atau masalah fisik, seperti
infeksi
saluran
kemih,
konstipasi,
diabetes, infeksi prostat, dan penyakit
neurologi.

Etiologi

dorongan
tekanan
aliran berlebih
fungsional

KLASIFIKASI
Menurut Brunner &
Suddart :

Inkontinensia
Inkontinensia
Inkontinensia
Inkontinensia
Inkontinensia

stress
urgensi
overflow
fungsional
reflex

Patofisologi
Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh
karena komplikasi dari penyakit infeksi
saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter
atau
terjadinya
perubahan
tekanan
abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia
bisa bersifat permanen misalnya pada
spinal cord trauma atau bersifat temporer
pada wanita hamil dengan struktur dasar
panggul yang lemah dapat berakibat
terjadinya inkontinensia urine

Manifestasi Klinis
1. Inkontinensia stres: keluarnya urin selama batuk,
mengedan, dan sebagainya. Gejala-gejala ini sangat
spesifik untuk inkontinensia stres.
2. Inkontinensia
urgensi:
ketidakmampuan
menahan
keluarnya urin dengan gambaran seringnya terburu-buru
untuk berkemih.
3. Enuresis nokturnal: 10% anak usia 5 tahun dan 5% anak
usia 10 tahun mengompol selama tidur. Mengompol pada
anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang abnormal
dan menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak
stabil.
4. Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi
(pancara
lemah,
menetes),
trauma
(termasuk
pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal), fistula
(menetes terus-menerus), penyakit neurologis (disfungsi
seksual atau usus besar) atau penyakit sistemik (misalnya
diabetes) dapat menunjukkan penyakit yang mendasari.

Pemeriksaan Diagnostik

Postvoid Residual Volume Urine


Cystometry
Uroflowmetry
Cystoscopy
Electromyography
Video Urodynamic Tests

Penatalaksanaan

Modifikasi Lingkungan
Terapi non farmakologi
Terapi farmakologi
Terapi pembedahan
Terapi Modalitas lain

Komplikasi
Dampak Emosional
Pengaruh spesifik
Gangguan Rasa nyaman

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Data Demografi klien
Menanyakan Identitas klien seperti : nama, usia,
jenis kelamin, suku / bangsa
, alamat, agama,
tanggal MRS, jam MRS, diagnosa

Keluhan Utama
Keluhan utama yang dikeluhkan oleh sebagian
besar klien dengan inkontinensia urin berupa
nokturia, urgency, disuria, dan oliguri.

Riwayat Penyakit Sekarang


Riwayat Penyakit sebelumnya
Riwayat Kesehatan Keluarga
Pemeriksaan Fisik

Diagnosa Keperawatan
menurut Lynda Jual Carpenito (2009) :
1. Inkontinensia fungsional berhubungan dengan
penurunan isyarat untuk berkemih dan hambatan
kemampuan untuk mengenali isyarat kandung
kemih.
2. Inkontinensia
refleks
berhubungan
dengan
kerusakan konduksi impuls di atas level arkus
refleks.
3. Inkontinensia stress berhubungan dengan saluran
keluar kandung kemih yang inkompeten
4. Inkontinensia total berhubungan dengan obstruksi
aliran keluar kandung kemih.
5. Inkontinensia urgency berhubungan penurunan
kapasitas kandung kemih, sekunder akibat
berkemih sering.

INTERVENSI
dx.1
1. Kaji faktor penyebab atau faktor penunjang
inkontinensia antara lain : hambatan menuju
toilet,
defisit
sensori/kognitif,
defisit
motorik/mobilitas.
2. Kurangi atau hilangkan faktor penunjang jika
memungkinkan,
antara
lain
:
hambatan
lingkungan, defisit sensori/ kognitif, defisit
motorik/mobilitas.
3. Berikan faktor yang meningkatkan kontinensia:
4. a. tingkatkan asupan cairan yang teratur 20003000mL/hari.
5. b. Kurangi konsumsi kopi, teh, kola, alkohol, dan
jus buah anggur karna efek diuretiknya.
6. Ajarkan cara pencegahan infeksi saluran kemih.

INTERVENSI
dx.2
1. Kaji
kondisi
penyebab
dan
penunjang pasien.
2. Ajarkan tehnik untuk merangsang
reflek berkemih seperti mekanisme
pemicu kutan.
3. Lakukan
penyuluhan
kesehatan
sesuai indikasi.

TERIMAKASIH