Anda di halaman 1dari 32

ISSN 2086-793X

EDISI KEEMPATBELAS- 2013

ENTERIAN KESEHATAN R.I.

Menyanyikan lagu Indonesia Raya pada acara Pembukaan Peringatan Hari Rabies Sedunia ke 3 di Maumere, NTT dari kiri ke kanan, Kasubdit Zoonosis
(drh. Misriyah, M.Epid), Direktur Keswan (drh. Pudjiatmoko, Phd), Bupati Sikka (Drs. Sosimus Mitang), Wakil Bupati Sikka (dr. Wera Damiamus, MM)
Perwakilan WHO Indonesia (Dr. Graham Tallis)

Peringatan Hari Rabies Sedunia


2012 di Maumere, NTT hal 3

Mewaspadai Munculnya
Virus H7N9 dari China
hal 23

Pengenalan Zoonosa Pada


Kegiatan International Scout
Peace Camp
hal 27

2
SUSUNAN DEWAN REDAKSI
BULETIN PENYAKIT ZOONOSA
Diterbitkan oleh;
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Alamat Redaksi
Sub Direktorat Pengendalian Zoonosis
Gedung C Lantai IV, Direktorat Jenderal PP dan PL
Jln Percetakan Negara No 29
Jakarta Pusat 10560
Telp/fax 021-4266270
Telp 021-4201255
Telp 021-4247608 ext 151
e-mail: subditzoonosis@yahoo.com

Pelindung
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia

Pengantar Redaksi
Assallammualaikum Warahmathulahi Wabarhakatuh,
Atas kehendak dan izin Allah jua lah kita bisa bersemangat untuk menghidupkan Buletin
Zoonosis edisi ke 14 ini maka sepatutnyalah kita menghaturkan Segala Puji kita kehadirat
Allah Subhanawataala karena pada edisi ini kita masih diberikan kesempatan untuk bercerita
yang lain dari edisi sebelumnya dengan menyapa para pembaca Buletin Penyakit Zoonosa
tercinta melalui nuansa yang baru. Pada edisi ke 14 ini, bulletin Penyakit Zoonosis akan
bernuansakan RABIES. Disamping itu kita akan informasikan kegiatan Peringatan Hari
Rabies Sedunia pada tahun 2012 di Maumere, Sosialisasi Rabies di Manado, 6 Kriteria Untuk
Diagnosa Dini Rabies Pada Anjing Hidup, Pengembangan Virus Tantang Rabies dari Isolat
Lokal Bali, Pengendalian Antraks di DKI Jakarta dalam Rangka Penyediaan Pangan Hewani
yang Aman Sehat Utuh dan Halal, Mengenali Flu Burung Baru (H7N9) dari China, Pengenalan
Zoonosa pada Peserta Pramuka Tingkat Dunia International Scout Peace Camp 2013, Memidai
Jejak Flu Burung H5N1 dari Parung Panjang Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dll.
Besar harapan kami terus bersemangat berkarya dari pembaca setia, agar Buletin Penyakit
Zoonosa ini tetap dapat terus berkiprah untuk menerbitkan artikel yang lebih menarik dan
bermanfaat untuk masyarakat pembaca buletin ini.
Selamat membaca
Tim Pembahas Buletin Penyakit Zoonosa Edisi ke 14

Penasehat
Sekretaris Ditjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia

Penanggung Jawab
Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber
Binatang

Dewan Redaksi
Ketua : Ka. Subdit Pengendalian Zoonosis
Wakil Ketua : Kabag Hukum Organisasi dan
Hubungan Masyarakat
Anggota : Kasubdit ISPA, Kasubdit KLB, Kasubdit
Penyehatan Kawasan dan
Sanitasi Darurat, Kabag PI, Kabag Keuangan,
Kabag Umum dan Kepegawaian

Editor
dr. Sinurtina Sihombing, M.Kes
dr. Regina T Sidjabat, M.Epid
Eka Soni, SKM, MM
Agus Sugiarto, SKM, M.Kes
M Haris Subiyantoro, SKM
dr. Tety Setyawati
dr. Tri Setyanti
Johanes Eko Kristiyadi, SKM, MKM
dr. Romadona Triada
drh. Ike Yuherlina
dr. I Nyoman Kandun, MPH

Kesekretariatan
Tengku Fakhrul Razy, SE
Leny Marlina
Novie Ariani, AMKL
Hj. Sri Umiyati
Sujadi

Informasi
Redaksi menerima kiriman artikel yang relevan.
Artikel diketik dengan format MS.Word, 12
point 1, maksimal 5 halaman A4, artikel dapat
dikirim ke alamat redaksi, dengan melampirkan
foto kopi KTP yang masih berlaku, tim editor
berhak menyeleksi, menyunting, mengedit dan
menerbitkan artikel tanpa mengubah substansi

Dari kiri kekanan atas (drh. Gatot Mudiarto; drh. Ernawati; Ikha Purwandari, SKM; Eka Soni; Sri Sumartiningsih;
Leny Marlina; Johanes E.K, SKM, MKes) bawah (Rosmaniar, SKp, MKes; dr. Sinurtina Sihombing, MKes;
drh. Ima Nurisa Ibrahim; drh. Misriyah, M.Epid; Nurlina, SKM; drh. Dedeh Yulianti Rahayu)

Daftar Isi
3.

Peringatan Hari Rabies Sedunia 2012 Di Maumere

6.

Enam Kriteria Untuk Diagnosa Dini Rabies Pada Anjing Hidup

8.

Jalan Berliku Menuju Bebas Rabies.

11. Pengembangan Virus Tantang Rabies Dari Isolat Lokal Bali.


16. Sosialisasi Pengendalian Rabies Bagi Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sulut.
19. Pengendalian Antraks di DKI Jakarta Dalam Rangka Penyediaan
Pangan Hewani yang Aman Sehat Utuh Dan Halal (ASUH).
22. Mewaspadai Munculnya Virus H7N9 Dari China.
24. Memindai Jejak FB H5N1 Dari Parung Bogor Jawa Barat.
27. Pengenalan Zoonosa Pada Kegiatan International Scout Peace Camp
2013
29. Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini Dan Respon Di Indonesia.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Peringatan Hari Rabies Sedunia 2012


Di MAUMERE, SIKKA, NTT
Drh. Misriyah. M.Epid, dr. Sinurtina Sihombing. M.Kes,
dr. Regina T Sidjabat. M.Epid, Eka Soni, dkk
Subdit Pengendalian Zoonosis
Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang
Dirjen Pengendalian Penyakit dan penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI
subditzoonosis@yahoo.com

erawal dari laporan kasus gigitan hewan


penular rabies yang tidak pernah berhenti
dan Dinas Kesehatan di wilayah Indonesia
Timur diantaranya Sikka, yang sudah kewalahan
melakukan penantalaksanaan kasus rabies dengan
keterbatasan vaksin anti rabies untuk manusia
ini, akhirnya perjuangan untuk bebas dari kasus
anjing gila ini, mulai menjadi pemikiran para tokoh

agama dan tokoh masyarakat di Maumere. Seperti


dilaporkan petugas surveilans Kabupaten Sikka, ada
temuan kasus rabies atas nama D. 2 th/L, alamat Desa
Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores,
Nusa Tenggara Timur, akhirnya meninggal di Rumah
Sakit Umum Daerah TC Hillers, Maumere, 13 Agustus
2011, hal serupa terjadi terus setiap saat pada setiap
penduduk di Maumere itulah yang membuat ramai

Komitmen Tokoh Agama Peduli Rabies, untuk menciptakan Flores-Lembata menuju bebas Rabies tahun 2017,
yang di canangkan pada hari rabies sedunia di Maumere tanggal 8 Oktober 2012 di Gereja Nele, Sikka.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

4
di berbagi media massa, dan membuat gerah
pemerintah setempat dan pemerintah pusat, hal ini
membuat seorang dokter yang ingin bersama-sama
bergandengan tangan mengendalikan rabies di
Maumere dengan tokoh agama, tokoh masyarakat
dan semua unsur masyarakat yang peduli rabies.
Maumere menggelegar dengan dilaksanakannya
Peringatan Hari Rabies Sedunia yang dilaksanakan
secara Nasional di Kabupaten Sikka tanggal 8-9
Oktober 2012, dalam hal ini Direktur PPBB (dr. Rita
Kusriastuti, M.Sc) memberikan ucapan selamat
kepada para tokoh agama diantaranya Majelis Ulama
Islam Maumere, Keuskupan Maumere dan Lembaga
Swadaya Masyarakat serta pejuang yang peduli
rabies di Flores dengan bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak yang terlibat selama proses persiapan
penyelenggaraan ini.
Dasar pemilihan Provinsi Nusa Tenggara Timur
dijadikan tuan rumah hari rabies se-dunia adalah
pada tingkat keseriusan kejadian kasus yang
mencapai 92 orang meninggal dunia (Lyssa) sampai
tahun 2012 sedangkan data terakhir kematian akibat
rabies secara nasional mencapai 846 (dari tahun 20082012, sumber data Subdit Pengendalian Zoonosis),
pada acara peringatan Hari Rabies Sedunia 2012
ini dihadiri oleh hampir seribu undangan/peserta
dan masyarakat yang antusias ikut memeriahkan
pencanangan rabies se-dunia yang diramaikan di
Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Peserta acara ini diantaranya dihadiri oleh,
perwakilan WHO Indonesia (Dr. Graham Tallis), FAO
(Eric Blum), Bupati Sikka (Drs Sosimus Mitang) , Wakil
Bupati Sikka (dr. Wera Damiamus. MM, Pastor Paroki
Sikka (Romo Wilfrid), Majelis Ulama Sikka, Direktur
Keswan (drh. Pujiatmoko, PhD), Direktur PPBB (dr. Rita
Kusriastuti, M.Sc), Kasubdit Pengendaliaan Zoonosis
(drh. Misriyah.M.Epid), DPRD dan jajaran MUSPIDA
Sikka serta seluruh masyarakat Sikka.
WHO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia
(Office International des Epizooties/OIE) berkomitmen
mendukung upaya masyarakat internasional

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

memberantas penyakit anjing gila (rabies) di


seluruh dunia. Penyakit virus yang menular dari
hewan ke manusia tersebut telah menyebabkan
kematian hampir 55.000 orang per tahun di seluruh
dunia, termasuk di Indonesia, sehingga dirasakan
pentingnya untuk mensosialisasikan pentingnya
mengetahui bahaya penyakit rabies serta pentingnya
cuci luka pada gigitan hewan penular rabies dengan
sabun/deterjen pada air yang mengalir selama 10-15
menit dan pemberian vaksin anti rabies pada kasus
gigitan HPR sesuai indikasi.
Para korban, kebanyakan anak-anak, meninggal
setelah periode penderitaan yang mengerikan.
Setiap sepuluh menit satu orang meninggal
akibat rabies di suatu tempat di dunia termasuk
di Indonesia. Sembilan puluh sembilan persen
kasus manusia akibat gigitan oleh anjing yang
terinfeksi. Perwakilan WHO Indonesia (Dr. Graham
Talis) menyampaikan selamat atas terselenggaranya
peringatan hari rabies sedunia 2012 di Maumere ini
karena dimotori oleh pemuka agama setempat dan
tokoh masyarakat yang memberikan warna baru
dalam pengendalian dan penanggulangan rabies
di Maumere. Rabies menyebabkan kematian lebih
banyak di dunia dibandingkan penyakit menular
lainnya dan terutama memengaruhi anak-anak
di negara berkembang, kata Direktur Jenderal
OIE Bernard Vallat dalam editorialnya di situs OIE,
menyambut Konferensi Global Penanganan Rabies
7-9 September 2011, di Seoul, Korea Selatan.
Keterpaduan dalam melaksanakan pengendalian
rabies di Indonesia yang sudah lebih dahulu
melakukan integrasi oleh Kemenkes dan Kementan
serta pihak lain yang terkait mendapatkan ucapan
selamat oleh perwakilan FAO Indonesia dimana hal
tersebut juga disampaikan OIE sendiri yang berkantor
di Paris, Perancis. Konferensi Global Penanganan
Rabies tersebut diselenggarakan OIE bekerja sama
dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food
and Agricultural Organization/FAO) dan Organisasi
Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)

5
dan Pemerintah Korea Selatan. Konferensi tersebut
diperlukan untuk mempertemukan semua pihak
yang terlibat dalam mengendalikan rabies pada
sumber hewani dan membantu untuk menciptakan
sinergi antara usaha-usaha individual mereka.

kesempatan untuk menyoroti kisah sukses terbaru di


bidang diagnosis, vaksinasi, kontrol populasi hewan,
dan sistem pemerintahan yang melibatkan berbagai
pemangku kepentingan, dari sektor publik dan
swasta.

Melihat pelaksanaan pengendaliaan rabies di


NTT khususnya di Maumere sama dengan dibelahan
negara lainnya, yang menurut OIE, mayoritas sumber
daya yang tersedia di negara-negara endemik rabies
saat ini diarahkan untuk mengobati manusia yang
telah digigit (dalam banyak kasus oleh anjing).
Kebanyakan anjing-anjing tersebut tanpa pemilik
atau pemilik telah gagal bertanggung jawab atas
kesehatan hewan dan untuk menjaga hewan di
bawah kontrol yang masih lemah dalam hal ini dinas
terkait.

Penyakit anjing gila disebabkan oleh virus rabies


dari genus Lyssavirus. Virus rabies berada di air liur
anjing atau karnivora lain. Penularan ke manusia
terjadi karena penularan melalui air liur dari anjing
terinfeksi rabies yang menggigit manusia. Anjing
yang tertular virus rabies biasanya menunjukkan
gejala terlihat buas hendak menggigit, air liur keluar
berlebihan, dan takut air.

Seperti halnya di Indonesia pengendalian Hewan


Penular Rabies oleh Dinas Peternakan setempat
seperti depopulasi selektif dan pemberian vaksin
pada anjing telah dilakukan dan OIE juga mencatat
bahwa mengalokasikan bagian dari sumber daya
ini untuk pencegahan rabies pada hewan dan
pengendalian populasi anjing liar akan membantu
pengurangan jumlah kasus rabies pada manusia dan
hewan di seluruh dunia.
Kegiatan Pengendalian rabies di Indonesia pada
manusia bertumpu di Subdit Pengendalian Zoonosis
Kementerian Kesehatan dimana secara nasional
dikoordinasikan oleh Komnas Pengendalian Zoonosis
sebagai koordinator pengendaliaan penyakit zoonosa
tinggkat nasional yang mencoba menjembatani
semua unsur yang ada di Republik Indonesia ini untuk
berkontribusi membantu dan mengendalikan rabies,
hal ini seperti yang menginspirasi Konferensi di Seoul
tersebut yang memberi prioritas untuk keputusan
pemerintahan, baik pada distribusi sumber daya
publik atau swasta, lokal, nasional dan internasional
terhadap tindakan prioritas pada hewan yang sejalan
dengan konsep baru Satu Kesehatan (One Health),
yaitu konsep sinergi penanganan penyakit hewan
dan manusia. Konferensi tersebut juga akan memberi

Di Indonesia, ratusan orang telah meninggal


setelah digigit anjing yang terinfeksi virus rabies.
Kasus anjing gila, misalnya, bahkan telah menyerang
Pulau Bali, yang sejak zaman Belanda dianggap pulau
bebas anjing gila. Kematian terbanyak pasien akibat
anjing gila terjadi di Pulau Nias, Sumatera Utara, pada
Februari 2011.
Untuk meningkatkan kesadaran dunia atas
pentingnya penanganan rabies, OIE (World
Organization for Animal Health) dan WHO
menyelenggarakan Hari Rabies Sedunia yang jatuh
pada 28 September setiap tahunya.

Bersama-sama menyanyikan lagu Gulok (inovatif)

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Enam Kriteria Untuk


Diagnosa Dini Rabies
Pada

Anjing Hidup
drh. Gatot Mudiarto
(Tenaga Fungsional Dokter Hewan)
Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian

Gambar 2

asus gigitan hewan (anjing) di wilayah


endemis rabies atau wilayah baru
memerlukan tindakan
cepat dalam
memutuskan langkah-langkah apa saja yang
sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan standar
prosedur operasional pada penanggulangan wabah
penyakit zoonosis rabies. Kriteria-kriteria yang
dikembangkan tersebut sangat membantu petugas
lapangan sebelum dilakukan diagnose pada hewan/
anjing, secara laboratorium.
Dugaan dini apakah anjing menderita rabies atau
tidak terserang rabies telah dipelajari oleh beberapa
peneliti di Thailand dari Quen Saovabha Memorial
Institute, Thai red Cross Society. Identifikasi dan uji
retrosfektif dengan enam kriteria yang ditentukan
telah dilakukan pada 1.170 ekor hewan selama
periode 1988-1996, selama masa observasi 10 hari
setelah menggigit korban. Pada studi prosfektif
dengan enam kriteria yang dilakukan pada sejumlah
450 ekor anjing hidup yang diamati selama tahun
1997-2002. Hasil gabungan dua penelitian dan
pengamatan menghasilkan tingkat sensitivitas
90,2%, sfesifitas 96,2% dan akurasi 84,6%, keenam
kriteria kklinis yang dipelajari adalah :
1) Umur anjing?
a) Kurang dari 1 bulan anjing tidak rabies
b) Satu bulan atau lebih atau tidak diketahui

maka lanjut ke poin 2)

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

2) Keadaan kesehatan anjing?


a) normal (tidak sakit) atau sakit lebih dari 10
hari artinya tidak rabies
b) Sakit kurang dari 10 hari atau tidak diketahui
maka lanjut ke poin 3)

3) Bagaimana perkembangan penyakit?


a) jika onset/gejala penampakkan akut dari
kesehatan maka anjing normal atau tidak
rabies
b) onset gejala penampakkan secara bertahap
atau tidak jelas diketahui maka lanjut ke
poin 4)

7
5. Menjilati air secara abnormal.
6. Regurgitasi/muntah.
7. Perilaku berubah.
8. Menggigit dan makan benda-benda secara
abnormal.
9. Agresif.
10. Menggigit dengan tanpa provokasi.
4) Bagaimana kondisi klinis selama 3-5 hari
terakhir?

12. Kekakuan saat berlari atau berjalan.

a. stabil atau ada perbaikan (dengan tanpa


perlakuan) maka tidak rabies

13. Gelisah.

b. Gejala dan tanda-tanda progresif atau tidak


jelas diketahui maka lanjut ke poin 5)

15. Penampakan mengantuk.

5)
Apakah
anjing
Circling?

11. Berlari tanpa alasan yang jelas.

menunjukkan

tanda

14. Gigit selama masa karantina (Gambar 2).

16. Ketidakseimbangan langkah.


17. Sering mempertunjukkan posisi Anjing duduk.

(tersandung/terhuyung atau berjalan berputar


dalam lingkaran dan membentur kepalanya ke
dinding seolah-olah buta.)
a) Jika tidak rabies (kemungkinan distemper,
paramixovirus
yang
menyebabkan
ensefalitis)
b) Tidak atau tidak jelas diketahui maka lanjut
ke poin 6)

6) Apakah anjing menunjukkan tanda-tanda


atau gejala minimal 2 dari 17 gejala berikut
selama minggu terakhir kehidupannya?
a) Ya rabies
b) Tidak atau hanya menampilkan 1 tanda
bukan rabies
Gejala klinis sebagai berikut :

Referensi :
Six criteria for Rabies Diagnosis in Living Dogs.
Veera Tepsumethanon, DVM, Henry Wilde, MD, FACP ,
Francois X Meslin, DVM. J Med Assoc Thai Vol. 88 No.3
2005.

1. Rahang terkulai.
2. Suara menggonggong secara abnormal.
3. Lidah menjulur dan kering.
4. Menjilati air kencing sendiri.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

JALAN BERLIKU

MENUJU BEBAS

RABIES

Oleh:
drh. Ernawati
Medik Veteriner Pertama
Sub Direktorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan
Direktorat Kesehatan Hewan - Kementerian Pertanian

alah satu penyakit zoonosis di Indonesia


yang begitu menyita perhatian dan dana
dari banyak pihak adalah Rabies atau Anjing
Gila . Dikenal dengan nama anjing gila karena sekitar
98% kasus ditularkan melalui gigitan anjing dengan
salah satu gejala klinis anjing yang terinfeksi bisa
bertingkah sangat tidak biasa, menggigit apa saja
yang ada didekatnya. Penyakit yang disebabkan oleh
virus ini tersebar di sebagian besar wilayah di seluruh
penjuru dunia, memiliki sifat akut, zoonosis, dan
termasuk penyakit yang sulit diberantas. Hal ini bisa
dibuktikan dengan masih adanya kasus baik pada
hewan maupun pada manusia.

korban lyssa di Indonesia pada 3 tahun terakhir ratarata 168 kasus/tahun.

Anjing merupakan tersangka utama penyebab


penularan penyakit ini di sebagian besar wilayah
Asia dan Afrika, dengan rata-rata korban berumur
dibawah 15 tahun. Hal ini dapat dimaklumi,
mengingat biasanya anak-anak suka berinteraksi
dengan hewan, dan anjing merupakan salah satu
hewan peliharaan favorit.

2. Daerah Tertular

Menurut catatan sejarah rabies di Indonesia, kasus


pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1884 oleh
Esser, dimana menginfeksi seekor kerbau. Lalu Eilerts
de Haan melaporkan kasus pada anjing di tahun
1889 dan pada manusia di tahun 1894. Kasus-kasus
tersebut semuanya terjadi di daerah Jawa Barat.
Setelah itu rabies menyebar ke berbagai wilayah
Indonesia.
Hingga kini, sebagian besar wilayah Indonesia
merupakan daerah endemis rabies. Dari 34 provinsi
yang ada, hanya 9 provinsi yang berstatus bebas
dari rabies (Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI
Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, NTB, Papua,
Papua Barat). Ini artinya bahwa di mayoritas wilayah
negara Indonesia, rabies merupakan ancaman bagi
kita semua. Berdasarkan data dari Subdit Zoonosis
Direktorat P2B2 Kementerian Kesehatan, rata-rata

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Berdasarkan status rabies,


dibedakan menjadi 3 yaitu:

wilayah

dapat

1. Daerah Bebas

Secara historis belum ada laporan kejadian


kasus rabies
Untuk daerah yang dibebaskan, sudah tidak
ada kasus rabies baik di wilayah tersebut
selama 2 tahun terakhir dan didukung oleh
hasil surveilans

Wilayah yang masih memiliki kasus rabies


secara klinis dan laboratoris

3. Daerah Tersangka

Wilayah dengan kasus rabies secara klinis,


namun belum dibuktikan secara laboratoris
Wilayah yang berbatasan langsung dengan
daerah tertular tanpa ada barrier alam

Penyakit rabies ditularkan melalui gigitan atau


jilatan hewan penderita rabies karena virus yang
terkandung di dalam air liur hewan masuk melalui
luka gigitan/kulit yang terluka atau dapat juga
melalui mukosa. Apabila virus berhasil menginfeksi
dan menimbulkan gejala klinis pada korban hewan
ataupun manusia, dapat dipastikan bahwa penderita
akan mengalami kesakitan yang luar biasa dan
diakhiri dengan kematian.
Masa inkubasi (waktu yang diperlukan terhitung
sejak masuknya virus ke dalam tubuh sampai
menimbulkan gejala penyakit) pada anjing dan
kucing antara 10 hari sampai 6 bulan, namun pada
banyak kasus yang terjadi inkubasi antara 2 minggu
hingga 3 bulan. Sedangkan untuk kasus rabies

9
pada sapi, masa inkubasinya antara 25 hari - 5
bulan (sumber: OIE). Hal ini dipengaruhi oleh parah
tidaknya luka gigitan, jauh dekatnya luka dengan
susunan syaraf pusat, banyaknya syaraf pada luka
gigitan, serta jumlah virus yang masuk ke dalam luka
gigitan dan jumlah luka gigitan.
Virus rabies yang masuk ke dalam tubuh hewan
melalui gigitan hewan akan tetap tinggal di tempat
masuk dan atau di dekat tempat gigitan selama
sekitar 2 minggu. Selanjutnya virus akan bergerak
mencapai ujung-ujung serabut syaraf posterior tanpa
menunjukkan
perubahan
fungsinya.
Sepanjang
perjalanan
ke otak, virus
rabies
akan
berkembang
biak
hingga
sampai di otak
dengan jumlah
virus maksimal.
S e t e l a h
menyebar luas ke
semua bagian neuron, virus ini akan masuk ke selsel limbic, hipotalamus, dan batang otak. Kemudian
virus akan memperbanyak diri pada neuron-neuron
sentral dan selanjutnya bergerak ke seluruh organ
dan jaringan tubuh untuk berkembang biak seperti
pada adrenal, ginjal, paru-paru, hati dan jaringan
tubuh lainnya.
Gejala dan tanda rabies pada hewan ada 2 (dua)
tipe yaitu :
1. Tipe ganas (tambahkan gambar anjingnya)




Tidak mau menuruti perintah pemilik


Hipersalivasi (air liur berlebihan)
Hewan menjadi ganas, menyerang atau
menggigit apapun yang ditemui
Kejang yang diikuti paralisa
Setelah 4-7 hari sejak timbul gejala biasanya
mengalami kematian, atau paling lama 2
minggu.

2. Tipe Jinak

Bersembunyi di tempat yang gelap dan


sejuk

Terkadang mengalami kejang-kejang


Paralisa dan kematian dalam waktu singkat

Rabies memang belum dapat diberantas.


Indonesia
mempunyai
target untuk
dapat
bebas
pada
tahun
2020, seiring
d e n g a n
p r o g r a m
pembebasan
w i l a y a h
ASEAN (sesuai
kesepakatan yang telah dicapai Association of
Southeast Asian Nations (ASEAN) bersama-sama
dengan negara China, Jepang dan Korea pada
tanggal 23-25 April 2008 di Hanoi, Vietnam untuk
memberantas rabies dan membebaskan wilayah Asia
Tenggara pada tahun 2020).
Cara-cara yang telah dilaksanakan
melakukan pengendaliannya antara lain:

dalam

1. Sosialisasi kepada masyarakat


Dilakukan oleh petugas kesehatan hewan,
pemuka agama, guru menggunakan media
berupa poster, leaflet, komik, siaran radio
2. Melakukan vaksinasi rutin pada HPR baik yang
dipelihara maupun yang liar dan pemberian
tanda pasca vaksinasi (pemasangan colar).
Vaksinasi dapat dilaksanakan baik di wilayah
endemis maupun wilayah bebas yang terancam
sesuai rekomendasi Tim Komisi Ahli Kesehatan
Hewan pada tahun 2011.
3. Melakukan kontrol populasi HPR (eliminasi
selektif, sterilisasi)

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan coverage


vaksinasi mengingat jumlah populasi yang terus
meningkat dan terbatasnya vaksin dan tenaga
vaksinator yang tersedia.

4. Memperbaiki pola pemeliharaan dengan cara


mengikat atau mengandangkan HPR

yang diperkuat dengan keputusan dari masingmasing pimpinan dengan penetapan sanksi bagi
yang melanggar agar dilaksanakan masyarakat.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

10
5. Melakukan pengawasan lalu lintas HPR antar
wilayah
6. Adanya koordinasi dan kerjasama yang baik
antara masyarakat dan semua instansi terkait
7. Surveilans
8. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM
yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan
hal yang berkaitan dengan kesehatan hewan.
Contohnya dengan penempatan tenaga harian
lepas diberbagai wilayah, pelatihan penanganan
rantai dingin untuk mempertahankan kualitas
vaksin, penambahan puskeswan maupun sarana
laboratorium.

b. Belum adanya unsur kesehatan hewan pada


semua sebagian besar dinas di tingkat provinsi,
kabupaten/kota atau kecamatan sehingga
kegiatan penanggulangan belum merata
pelaksanaannya.
c. Pemeliharaan HPR yang diliarkan
d. Sebagian pemilik HPR tidak mau melakukan
vaksinasi pada HPR meraka
e. Kurangnya vaksin yang tersedia dengan populasi
yang semakin meningkat
f.

Kurangnya pendanaan yang dialokasikan untuk


program penanggulangan rabies

g. Kurangnya SDM baik dari kualitas maupun


kuantitas
Hal-hal yang harus dilakukan apabila terjadi kasus
gigitan HPR antara lain sebagai berikut:
1. Pada korban gigitan

Dilakukan pencucian luka menggunakan air


mengalir dan sabun selama 10 - 15 menit
Segera melakukan konsultasi ke pelayanan
kesehatan (puskesmas/rumah sakit/rabies
centre) untuk mendapatkan pengobatan
selanjutnya.

2. Pada HPR yang menggigit


HPR yang menggigit harus ditangkap


kemudian diikat atau dikandangkan, tetapi
tidak dibunuh
Dilakukan observasi selama 14 hari dibawah
pengawasan dokter hewan/petugas terkait.
Apabila anjing mati pada masa observasi
tersebut, dilakukan pengambilan sampel
berupa organ otak (hippocampus) yang
disimpan dalam larutan NaCl fisiologis, dan
segera dikirim ke laboratorium veteriner
terdekat.

Kendala yang sering dihadapi dalam pelaksanaan


penanggulangan:
a. Di beberapa wilayah masih ada masyarakat
maupun petugas yang kurang menyadari akan
bahaya rabies

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

h. Pertentangan dari berbagai pihak akan program


kontrol populasi
i.

Tingginya lalu lintas HPR yang bersifat ilegal

j. Belum tersedianya data populasi HPR yang


akurat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kiat Vetindo Rabies Kesiagaan Darurat Veteriner
Indonesia, Penyakit Rabies, Direktorat Jenderal
Peternakan, Direktorat Kesehatan Hewan, 2007;
2. Pedoman Pengendalian dan Penanggulangan
Penyakit Rabies, Direktorat Jenderal Peternakan
dan Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan
Hewan, 2012;
3. Rekomendasi Tim Komisi Ahli Kesehatan
Hewan mengenai Kebijakan Pengendalian dan
Pemberantasan Rabies Tahun 2011;
4. Terrestrial Animal Health Code, Chapter 8.10.,
OIE, Tahun 2012;
5. Rabies and Rabies-Related Lyssaviruses, The
Center food Security & Public Health, Iowa State
University, 2012.

11

PENGEMBANGAN VIRUS TANTANG RABIES


DARI ISOLAT LOKAL BALI
Ketut Karuni Nyanakumari Natih, Dodo Hermawan,
Neni Nuryani, Ferry Ardiawan, Enuh Rahardjo Djusa
Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan Gunungsindur, Bogor
Jl. Raya Pembangunan, Gunungsindur Bogor 16340
Telp.(021)7560489; Fax. (021)7560466 ; http://www.bbpmsoh.org

PENDAHULUAN

Secara nasional penyakit rabies merupakan


penyakit zoonosis yang menempati prioritas
utama dari 12 jenis Penyakit Hewan Menular (PHM)
berdasarkan Kepdirjen No:59/Kpts/PD.610/05/2007
tanggal 9 Mei 2007 (DIRKESWAN 2009).
Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi
Obat Hewan berperan penting mensukseskan
pembangunan dalam bidang kesehatan hewan
melalui tugas pokoknya dengan mengawasi dan
menguji mutu obat hewan yang beredar di Indonesia.
Tugas pokok BBPMSOH diantaranya melaksanakan
pengujian mutu, sertifikasi, pengkajian dan pemantuan
obat hewan (BBPMSOH 2006).
Bagaimana peran BBPMSOH dalam pemberantasan
rabies di Indonesia?. Perannya adalah dengan menguji,
mengkaji dan memantau vaksin rabies yang beredar di
Indonesia. Pengujian kualitas vaksin rabies dilakukan
terhadap vaksin rabies yang baru terdaftar ataupun
daftar ulang di Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Selain itu
juga menguji mutu vaksin rabies dari kiriman dinas
peternakan dan vaksin rabies yang diambil langsung
dari lapangan. Hanya vaksin yang memenuhi syarat
yang boleh diedarkan di Indonesia (Natih dkk 2011).
Salah satu pengujian kualitas vaksin rabies di
BBPMSOH adalah uji potensi dengan metode Habel
yang menggunakan virus tantang rabies standar
atau CVS (Challenge Virus Standard) (DITJENNAK 2007).
Bagaimana bila menggunakan virus tantang rabies
lokal?.
Saat ini sedang dikembangkan virus rabies
lokal yang berasal dari Propinsi Bali yang berpotensi
sebagai virus tantang. Pengembangan ini bertujuan
untuk mendapatkan satu virus tantang rabies lokal
yang akan digunakan pada uji kualitas vaksin rabies
sehingga diketahui potensi atau efikasi vaksin rabies

yang beredar di Indonesia terhadap virus rabies dari


lapangan.

MATERI DAN METODE


Virus

Beberapa isolat virus rabies lapang berasal dari


Propinsi Bali digunakan sebagai kandidat virus tantang
rabies lokal. Challenge Virus Standar digunakan
sebagai kontrol positif.

Isolasi dan Identifikasi Virus Rabies

Isolasi virus dilakukan dengan cara meng-inokulasi


suspensi otak mencit pada sel neuroblastoma (N2A)
((Djusa dkk 2011). Pengamatan terhadap cytophatic
effect (CPE), yaitu terjadinya kerusakan atau perubahan
pada sel dilakukan setiap hari selama 7 hari. Identifikasi
virus rabies dilakukan dengan uji Fluorescent Antibody
Technique (FAT) dan secara molekuler dengan Reverse
Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang
menggunakan primer untuk mengamplifikasi gen N
(RHN 17 (TTC AAA GTC AAT CAG GTG G ) dan RHN 18
(CCA TGT AGC ATC CAA CAA AGT))

Propagasi Virus Rabies

Propagasi dilakukan untuk memperbanyak virus.


Suspensi otak mencit diinokulasikan pada mencit
umur 3-4 minggu atau anak mencit yang masih
menyusu (suckling mice) umur 1-2 hari sebanyak 0.03
ml secara intracerebral (IC) (Gambar 1). Pengamatan
dilakukan dua kali sehari selama 2 sampai 4 minggu.
Mencit yang menunjukkan gejala klinis rabies diambil
dan disimpan pada suhu -80o C untuk selanjutnya
dilakukan panen virus rabies dari otak mencit.

Panen Virus Rabies

Mencit yang terinfeksi rabies yang disimpan pada


suhu -80oC dicairkan. Panen virus dilakukan dengan
cara mengambil bagian otak mencit kemudian
dihomogenkan dengan larutan faali yang yang
mengandung 2 % Horse Serum (HS), selanjutnya
disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 15

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

12
menit. Cairan bagian atas atau supernatannya diambil
dan disimpan pada suhu -80oC (Gambar 2).
Titrasi Virus Rabies
Titrasi virus dilakukan untuk mengetahui berapa
kandungan virusnya. Caranya adalah virus diencerkan
dengan kelipatan 10 kali dari 10-1 sampai 10-8 dan
diinokulasikan sebanyak 0.03 ml secara IC pada 10
ekor mencit umur 3-4
minggu pada masingmasing
pengenceran
(Gambar 3). Pengamatan
terhadap gejala rabies
dilakukan selama 2
sampai 4 minggu.

isolat tersebut menunjukkan masa inkubasi yang


berbeda. Masa inkubasi virus rabies lokal terlihat lebih
lama dibandingkan dengan CVS yang terjadi pada hari
ke-6 sampai hari ke-9.

Gejala klinis rabies pada mencit ada yang mati


tiba-tiba tanpa menunjukkan gejala atau diawali
dengan tremor, kejangkejang,
kelumpuhan
kaki belakang, mata
mengecil dan meredup,
dan mati (Gambar 4).

HASIL DAN
PEMBAHASAN

Masa inkubasi virus


rabies isolat lapang
setelah
mengalami
beberapa pasase terlihat
berkurang dari pasase
awal. Propagasi virus
rabies pada suckling
mice hanya dilakukan
sebanyak 3 kali karena
masa inkubasi yang
berkurang
sampai
hari ke-6 sehingga
sulit untuk memanen
virusnya.

Hasil positif pada


diagnosa isolat virus
rabies lapang dengan
uji FAT (gold standard)
akan dilanjutkan dengan
Gambar 1. Propagasi virus rabies pada mencit
isolasi virus rabies pada
A. Inokulasi virus rabies pada mencit secara IC
B. Inokulasi virus rabies pada suckling mice secara IC
biakan sel N2A. Hasil
positif pada sel N2A
terlihat dengan timbulnya CPE. Hasil isolasi virus pada
biakan jaringan menunjukkan bahwa sel N2A dapat
Dari beberapa isolat yang telah dipropagasi,
digunakan untuk isolasi virus lapang rabies dengan
dipilihlah satu untuk dijadikan kandidat virus tantang.
terlihat jelas adanya CPE setelah dilakukan passage 2 3
Gejala klinis pada virus rabies lapang kode CVB751
kali (Djusa dkk 2011).
setelah beberapakali dipropagasikan pada mencit
terlihat stabil timbul pada hari ke-6 post inokulasi.
Sebagaimana neurotropik virus, rabies dapat melekat
Hasil titrasi virus rabies CVB751 setelah dipasase 7
pada membran plasma dari jaringan syaraf sel N2A.
kali pada mencit terlihat makin meningkat dan telah
Sensitifitas paling tinggi pada sel N2A dibandingkan
mencapai nilai standar virus tantang rabies yang
dengan sel lestari lainnya telah banyak diteliti (Iwasaki
digunakan pada uji potensi vaksin rabies, yaitu 106.1
1977, Clark 1980, Umoh 1983, Tsiang 1985), sehingga
MLD50 (mice lethal dose) (Tabel 2).
dengan menggunakan sel N2A dapat digunakan untuk
pengganti uji biologis dengan menggunakan mencit (in
Masa inkubasi rabies adalah masa masuknya
vivo).
virus ke dalam tubuh hewan atau manusia sampai
menimbulkan gejala penyakit. Masa inkubasi virus
Spesimen virus rabies yang mengandung banyak
rabies pada spesies satu dengan lainnya bervariasi.
antigen dapat dengan mudah dideteksi dengan
Masa inkubasi pada hewan antara 3-8 minggu
uji impression smear FAT, dan uji biologis dengan
sedangkan pada manusia biasanya 2-8 minggu,
mencit. Tetapi sebaliknya spesimen virus rabies yang
kadang-kadang 10 hari sampai 2 tahun, tetapi rata-rata
mengandung sedikit antigen dibiakan terlebih dahulu
masa inkubasinya 2-18 minggu. Masa inkubasi virus
pada jaringan sel N2A (Griffim 1984).
pada anjing sebagai hewan penular rabies umumnya
selama 10-14 hari (Madigan 2009).
Identifikasi cepat dilakukan secara molekuler dengan

menggunakan RT-PCR menunjukkan hasil yang positif


pada band 947 (Djusa dkk 2011).
Pengamatan masa inkubasi rabies pada mencit
propagasi awal dapat dilihat pada Tabel 1. Beberapa

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Penyakit rabies pada tikus umumnya jarang terjadi


atau memang tidak ada laporannya. Rabies pada
hewan percobaan seperti mencit setelah terpapar virus
rabies lapangan biasanya masa inkubasinya selama

13

Gambar 2. Panen virus rabies dari otak mencit

beberapa bulan dan tidak menimbulkan gejala klinis


sampai timbul paralisis dan kematian (Cobalt 2011).
Dari hasil pengamatan masa inkubasi rabies lokal
pada mencit propagasi awal memang menunjukkan
masa inkubasi yang lebih lama dibandingkan dengan
CVS. Gejala klinis pada CVS biasanya muncul pada
atau setelah hari ke-5 pasca inokulasi. Uji potensi
rabies dianggap tidak layak bila lebih dari 2 mencit
pada setiap kelompok mati pada hari ke-1 sampai hari
ke- 4 setelah uji tantang. Pengamatan terhadap gejala
klinis rabies pada hari ke-5 sampai hari ke-14 setelah
uji tantang (European Pharmacopoeia 2012).
Pengamatan gejala klinis rabies CVB751 pada
mencit menunjukkan kematian yang tiba-tiba,
tremor, kejang-kejang, kelumpuhan kaki belakang,
takut cahaya, dan mati. Gejala rabies pada mencit
terdiri dari 3 stadium sama halnya seperti pada anjing
atau manusia, yaitu stadium prodromal, furious atau
ganas dan paralisis. Pada stadium prodromal, gejala
klinis terjadi karena virus rabies mulai bereplikasi
dan menyebar melalui sistem saraf. Pada tahap ini
mencit terlihat tidak beraktifitas, mata mengecil, bulu
berdiri dan tremor. Selanjutnya perilaku mencit akan
berubah dari diam menjadi agresif pada stadium
ganas. Umumnya mencit sebagai binatang malam
akan menjadi aktif setiap saat. Hal ini karena virus
rabies sudah menginfeksi sistem saraf sehingga timbul
gejala saraf seperti agresif, sensitif terhadap cahaya
dan sentuhan, dan menyerang. Lebih lanjut virus
rabies akan mempengaruhi otak yang berakibat pada
gejala tahap akhir yaitu paralisis. Mencit biasanya

Gambar 3. Titrasi virus rabies pada mencit

sulit berjalan atau tidak bisa bergerak, gejala lain


adalah tidak mampu menelan atau mengunyah yang
terlihat pada kondisi tubuh yang mengecil. Kematian
umumnya terjadi setelah munculnya paralisis.
Tetapi ada juga yang walaupun tidak menunjukkan
stadium prodoma atau ganas, mencit menunjukkan
gejala tahap akhir atau tiba-tiba sudah mati (Cobalt
2011), sehingga diperlukan pengamatan yang
cermat dilakukan minimal 2 kali sehari. Pada hasil
pengamatan walaupun telah dilakukan 2 kali sehari
yaitu pagi dan sore hari tetap ditemukan mencit yang
mati dengan tanpa gejala, hal ini kemungkinan juga
disebabkan oleh waktu pengamatan yang kurang
tepat.
Vaksin rabies merupakan salah satu cara tepat
agar mengurangi penyebaran virus rabies penyebab
rabies. Uji potensi vaksin rabies dilakukan untuk
mengetahui potensi atau efikasi suatu vaksin
setelah melalui suatu uji tantang. Uji potensi sangat
diperlukan untuk melihat apakah vaksin rabies
tersebut dapat menahan infeksi atau serangan dari
virus rabies strain ganas. Sampai saat ini uji potensi
vaksin rabies dilakukan di BBPMSOH dengan metode
Habel dan menggunakan virus tantang rabies
standar atau CVS. Vaksin dinyatakan memenuhi
syarat apabila mempunyai titer minimal 103 MLD50
(WHO 1996; DITJENNAK 2007).
Pengembangan virus rabies lokal dari propinsi
Bali yaitu CVB751 merupakan kandidat virus tantang
rabies lokal untuk menguji mutu vaksin rabies yang
beredar di Indonesia. Titer virus rabies CVB751 sampai

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

14
Gambar 3. Gejala klinis rabies pada mencit

A. Mencit umur 10 hari dengan tremor dan kejang-kejang

C. Mencit umur 21 hari dengan kematian tanpa gejala (tiba-tiba)

B. Mencit umur 23 hari dengan kelumpuhan kaki belakang dan mata


yang meredup

D. Mencit umur lebih dari 4 minggu dengan gejala tenang, ganas,


kelumpuhan kaki belakang dan kematian

NO.

Kode virus

TITER (MLD50/0.03ml)

Timbul Gejala Klinis Hari ke-

1.

CVB1266m1

4.1

2.

CVB751m1

4.0

3.

CVB322m1

3.1

13

4.

751 N2A

1.1

12

11

5.

CVB751sm3m1

3.9

6.

CVB751sm3m2

3.8

7.

CVB751sm3m3

3.8

8.

CVB1266sm1m1

4.1

9.

CVB751sm3m4

4.2

10.

CVB751sm3m5

4.9

11.

CVB751sm3m6

5.4

12.

CVB751sm3m7

6.1

Tabel 2. Hasil Titrasi Virus Rabies Bali (CVB) Pada Mencit

pasase 7 pada mencit telah mencapai 106.1 MLD50 sesuai


dengan standar titer virus tantang rabies yaitu 106 sampai
108 MLD50 (WHO 1996). Tetapi sampai saat ini masih
dilakukan propagasi dan titrasi virus untuk mengetahui
kestabilan virus rabies lokal ini sebelum digunakan
sebagai virus tantang.
Tersedianya virus tantang rabies lokal ini diharapkan
dapat digunakan untuk mengetahui potensi atau efikasi
vaksin rabies setelah melalui suatu uji tantang dengan
strain lokal. Kualitas atau mutu vaksin rabies ditentukan
apakah vaksin tersebut bisa memberikan kekebalan

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Tabel 1. Masa inkubasi propagasi awal beberapa virus rabies


lokal dari Propinsi Bali dibandingkan dengan CVS

Kode Virus Rabies

Masa Inkubasi

CVS

Hari ke- 6

1266sm1

Hari ke-13

1266m1

Hari ke-13

751sm1

Hari ke- 21

751m1

Hari ke- 20

322m1

Hari ke- 20

916sm1

Hari ke-23

916m1

Hari ke- 23

212m1

Hari ke- 23

Keterangan: sm= suckling mice; m= mice

terhadap virus lokal atau lapang, sehingga untuk


menguji vaksin yang mutu maka vaksin tersebut harus
ditantang dengan isolat lokal.

KESIMPULAN DAN SARAN


Pengembangan beberapa virus rabies dari isolat

15
lokal Bali menghasilkan satu kandidat virus tantang
rabies lokal yaitu CVB751.
Tersedianya virus rabies lokal CVB751 sebagai
virus tantang dapat digunakan untuk mengetahui
potensi atau efikasi vaksin rabies, sehingga mutu
vaksin yang beredar di Indonesia sesuai dengan kasus
yang ada di lapangan dan program vaksinasi bisa
berhasil meredakan atau menekan kasus di lapang dan
mendapatkan kekebalan yang sangat baik terhadap
virus lapang. Selain itu digunakan untuk mengetahui
titer antibodi dari virus vaksinasi atau lapang
dengan menggunakan uji serum netralisasi dengan
pembanding CVS.
Pemeliharaan virus rabies lokal CVB751 harus tetap
dilakukan agar titer virus CVB751 stabil sebagai virus
tantang.
Uji potensi vaksin rabies yang akan datang dapat
digunakan CVS dan CVB751 untuk membandingkan
protektifitas vaksin rabies terhadap kedua virus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
[BBPMSOH] Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi
Obat Hewan. 2006. Perjalanan panjang Balai
Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan
(BBPMSOH) 1984-2006. Jakarta: GITAPustaka.
Clark H F. 1980. Rabies serogroup viruses
in
neuroblastoma
cells:
propagation,
autointerference, and apparently random backmutation of attenuated viruses to the virulent state.
Infect. Immun. 27:1012-1022.
Cobalt D. 2011. Rabies symptoms in pet mice. http://
www.ehow.com/list_6678787_rabies-symptomspet-mice.html [21 Desember 2011].
[DIRKESWAN] Direktur Kesehatan Hewan.
2009.
Kebijakan nasional pemberantasan Rabies pada
hewan. Disampaikan pada: Rapat Koordinasi
Regional Rabies Se Sumatera Banda Aceh, 28 - 30
Oktober 2009. Direktorat Jenderal Peternakan.
Departemen Pertanian.

Djusa ER, Tenaya IWM, Natih KKN, Agustini NLP, Wirata


K, Yupiana Y, Hermawan D, Nuryani N. 2011. Isolasi
dan identifikasi isolat virus rabies lapang. Rapat
Teknis dan Pertemuan Ilmiah Kesehatan Hewan
Tahun 2011. Poster dan Prosiding.
European Pharmacopoeia 5.0. 2012. Rabies vaccine
(inactivated) for veterinary use.
http://lib.njutcm.edu.cn/yaodian/ep/EP5.0/09_
monographs_on_vaccines_for_veterinary_use/
Rabies%20vaccine%20%28inactivated%29%20
for%20veterinary%20use.pdf [21 Juni 2012]
Griffin C W. 1984. Performance evaluation critique.
Fluorescent rabies antibody test 1983-1984, p. 2-4.
Centers for Disease Control, Atlanta.
Iwasaki YI, HF Clark. 1977. Rabies virus infection in mouse
neuroblastoma cells. Lab. Invest. 36:578-584.
Madigan MT (2009). Brock Biology of Microorganisms
Twelfth Edition. hlm. 1003-1005.
Natih KKN, Yupiana Y, Hermawan D, Nuryani N, Djusa
ER. 2011. Kualitas vaksin rabies yang beredar di
Indonesia. Buletin Penyakit Zoonosis 11: 23-24.
Touihri L, Zaouia I, Elhili K, Dellagi K, Bahloul C. 2011.
Evaluation of mass vaccination campaign coverage
against rabies in dogs in Tunisia.Zoonoses and
Public Health, 58: 110-118.
Tsiang H. 1985. An in-vitro study of rabies virus
pathogenesis. Bull. Inst. Pasteur 83:41-56.
Umoh JU, DC Blenden. 1983. Comparison of primary
skunk brain and kidney and raccoon kidney
cells with established cell lines for isolation and
propagation of street rabies virus. Infect. Inimun.
41:1370-1372.
[WHO] World Health Organization. 1996. Laboratory
techniques in rabies. Fourth Edition. Edited by FX
Meslin, MM Kaplan and H Koprowski. WHO. Geneva.

[DITJENNAK] Direktorat Jendral Peternakan. 2007.


Farmakope Obat Hewan Indonesia. Jilid I (Sediaan
Biologik). Ed ke-3. Jakarta: Direktorat Jenderal
Peternakan Departemen Pertanian.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

16

SOSIALISASI PENGENDALIAN RABIES BAGI


TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI
SULAWESI UTARA
MANADO, 25 27 MARET 2013
drh. Misriyah M.Epid. dkk
dan hanya 9 provinsi masih bebas rabies. Daerahdaerah yang bebas rabies adalah Kepulauan Riau,
Pulau Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah,
Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat,
Papua dan Papua Barat. Selama 2010 2011 kasus
gigitan hewan penular rabies meningkat dari 78574
menjadi 84010 kasus, tetapi kematian akibat rabies
menurun dari 206 menjadi 184 kematian.

Pendahuluan

Rabies adalah penyakit infeksi sistem syaraf


pusat akut pada manusia dan hewan berdarah
panas yang disebabkan oleh virus rabies. Rabies
merupakan penyakit zoonosa penting (penyakit
yang ditularkan ke manusia melalui hewan), karena
hingga kini belum ditemukan obatnya, jika gejala
penyakit telah ditemukan, maka rabies akan selalu
menyebabkan kematian.
Rabies telah menyebar luas secara global,
dengan hanya beberapa negara (umumnya
kepulauan dan semenanjung) bebas rabies. Rabies
berkembang cepat di negara-negara berkembang
di America Selatan dan Tengah, Afrika dan Asia,
dimana terdapat angka kematian tinggi. Lebih
dari 90 % kasus kematian rabies pada manusia
disebabkan oleh anjing: banyak kematian terjadi
di Asia dan Afrika. Setiap tahun, lebih dari 15
milyar orang diseluruh dunia mendapatkan vaksin
pencegahan pasca gigitan saat ini diperkirakan
327.000 kematian rabies setiap tahunnya.
Di Indonesia, rabies selalu menyebar ke daerah
bebas rabies secara histori, seperti Provinsi Bali
yang telah terinfeksi akhir tahun 2008, Provinsi Riau
tertular tahun 2009 dan Pulau Nias juga tertular
awal tahun 2010, sejauh ini 24 provinsi telah tertular

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Di Provinsi Sulawesi Utara, selama 2010


2011 jumlah kasus gigitan hewan penular rabies
meningkat dari 1412 menjadi 2961 kasus. Jumlah
kematian akibat rabies meningkat dari 26 menjadi
35 kematian.
Mengingat jumlah kasus gigitan hewan penular
rabies dan kematian akibat rabies meningkat
dalam tiga tahun terakhir, khususnya di Provinsi
Sulawesi Utara dan tingginya rotasi tenaga
kesehatan, sehingga diperlukan untuk melakukan
pelatihan bagi pengelola pengendalian rabies
untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan
dalam aktivitas pengendalian rabies yang meliputi
tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies,
surveilans rabies, pelaporan dan respon kejadian
luar biasa di lapangan.

Tujuan Umum

Menguatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam


kegiatan pengendalian rabies di lapangan.

Tujuan Khusus

Setelah pelatihan seluruh


mengerti dan melaksanakan

peserta

dapat

1. Kebijakan dan strategi untuk pencegahan rabies


pada manusia
2. Kebijakan nasional dan strategi bagi eradikasi
rabies pada hewan
3. Peran dan fungsi Komisi Nasional Pengendalian
Zoonosis dalam pengendalian zoonosis di

17

Indonesia (Pusat, Kabupaten/Kota)


4. Situasi Provinsi dan strategi bagi pencegahan
rabies pada manusia
5. Situasi Provinsi dan strategi bagi eradikasi rabies
pada hewan
6. Epidemiologi rabies: definisi kasus, patofisiologi,
diagnosis dan tatalaksana kasus (lesson learned
Provinsi Bali)
7. Lesson learned Pemberdayaan Tokoh Agama
beserta masyarakat dalam pengendalian rabies
di Paroki Nelle Maumere
8. Epidemiologi rabies dan eliminasi efektif rabies
pada hewan dan manusia (masyarakat veteriner)
9. Strategi karantina hewan bagi pengendalian
rabies
10.
Pemeriksaan laboratorium dan
penanganan
spesimen
rabies
pengepakan dan pengiriman)

prosedur
(sampai

11.
Penyelidikan epidemiologi, pelaporan kasus
gigitan hewan penular rabies dan lyssa pada
manusia
12. Promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat
dan kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian
rabies
13. Monitoring dan evaluasi pengendalian rabies
14. Rencana tindak lanjut

Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Sosialisasi Pengendalian Rabies bagi


Tenaga Kesehatan di Provinsi Sulawesi Utara
dilaksanakan tanggal 25 27 Maret 2013 bertempat
di Arya Duta Hotel Manado dibuka oleh dr. Emil
Agustiono, M.Kes. selaku Sekretaris/Ketua Pelaksana
Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis didampingi
oleh dr. Maxi R. Rondonuwu, SHSM. selaku Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, drh.
Misriyah, M.Epid selaku Kasubdit Pengendalian
Zoonosis Kementerian Kesehatan dan dr. Selamet
Hidayat, MPH selaku Perwakilan WHO Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri sebanyak 43 peserta
yang berasal dari para pengelola program rabies,
petugas rabies center, petugas peternakan dan
kesehatan hewan dari Provinsi dan 15 Kabupaten/

Kota se-Provinsi Sulawesi Utara, RSUP dr. Kandou,


RSUD beberapa Kabupaten dan Kantor Kesehatan
Pelabuhan Manado.
Metode yang digunakan dalam sosialisasi ini
meliputi penyajian dari beberapa narasumber,
diskusi interaktif (Kartu Meta), diskusi kelompok
(Studi Kasus) dan penilaian (Pre dan Post Test).
Para narasumber yang menghadiri kegiatan
ini terdiri dari Direktur Pengendalian Penyakit
Bersumber Binatang PPBB), Kepala Balai Karantina
Hewan dan Keselamatan Biologik Kelas I Manado,
RSUP Sanglah Bali, Sekretaris/Ketua Pelaksana
Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Kepala
Subdit Pengendalian Zoonosis, Direktorat PPBB,
Kepala Subdit P3H, Direktorat Kesehatan Hewan,
Kepala Subdit Zoonosis dan Kesrawan, Direktorat
Kesejahteraan Masyarakat Veteriner dan Pasca
Panen Kementerian Pertanian, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Dinas
Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Bidang
PMK Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Kepala
laboratorium Peternakan Provinsi Sulawesi Utara,
WHO Perwakilan Indonesia, Rm. Wilfrid Valiance, Pr
(Pastor Paroki Nelle Maumere) dan difasilitasi oleh
WHO Perwakilan Indonesia, Subdit Pengendalian
Zoonosis, Direktorat PPBB Kementerian Kesehatan
dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.
Beberapa hal penting yang terangkum dari
beberapa narasumber sebagai berikut:
1. Komunikasi formal dan informal lintas sektor atau
lintas program sangat penting dalam menjalin
koordinasi program pengendalian rabies.
2. Pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian
rabies dapat dilakukan melalui pendekatan
Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan stakeholder
yang lain.
3. Sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan
Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan, Penyediaan
Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies
(SAR) wajib diselenggarakan oleh Provinsi,
Kabupaten/Kota dan Pusat.
4. Masyarakat jika mengalami kasus gigitan
hewan penular rabies (GHPR) segera mencuci
luka dengan sabun/deterjen menggunakan

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

18
18

18

air mengalir selama 10 15 menit, kemudian


dibawa ke pelayanan kesehatan (Rabies Center)
untuk mendapatkan VAR dan atau SAR sesuai
Standar Prosedur Operasional.
5.
Pengawasan lalu lintas hewan penular
rabies sangat penting untuk mengendalikan
penyebaran rabies.
6. Sampel kepala hewan penular rabies harap
dibawa ke Laboratorium Kesehatan Hewan
setempat.
7. Prinsip penanganan hewan penular rabies harus
mentaati prinsip kesejahteraan hewan (animal
welfare).

Hasil Evaluasi Kegiatan

Dari hasil pre test dan post test yang fasilitator


lakukan terhadap seluruh peserta didapatkan hasil
pada saat pre test, nilai terendah yang didapat
peserta sebesar 20 dan tertinggi sebesar 80 dengan
rerata sebesar 60. Sedangkan pada saat post test,
nilai terendah yang didapat peserta sebesar 40
dan tertinggi sebesar 100 dengan rerata sebesar
80. Prosentase kenaikan nilai pre test dan post test
sebesar 50 %.

Rencana Tindak Lanjut

Pada sesi akhir kegiatan para peserta membuat


Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan mereka
lakukan di tempat tugas masing-masing. Secara
garis besar RTL tersebut dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Melaporkan kepada pimpinan unit kerja masingmasing.
2. Sosialisasi kepada teman kerja di unit kerja dan
masyarakat di wilayah kerja masing-masing.

3. Advokasi kepada para stakeholder di tempat


tugas masing-masing.
4. Pembentukan Komda Pengendalian Zoonosis
Provinsi dan Kabupaten/Kota.
5. Koordinasi program pengendalian rabies antar
lintas sektor/lintas program.
6. Pembentukan Rabies Center.
7. Pengadaan Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk
manusia
8. Pengadaan Vaksin Rabies untuk hewan dan
penyediaan biaya operasionalnya.
9. Meningkatkan surveilans dalam rangka sistem
kewaspadaan dini rabies
10. Revitalisasi Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan)
11. Pembentukan desa Percontohan Pengendalian
Rabies.
Kegiatan ini ditutup pada tanggal 27 Maret 2013
oleh dr. Andi Muhadir, MPH Direktur Pengendalian
Penyakit Bersumber Binatang didampingi oleh drh.
Misriyah, M.Epid selaku Kasubdit Pengendalian
Zoonosis Kementerian Kesehatan, dr. Sysilia Deby
Pondaag selaku Kepala Seksi Bimdal P2 Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, dan dr. Selamet
Hidayat, MPH selaku Perwakilan WHO Indonesia.

Penutup

Bahwa program pengendalian rabies tidak bisa


diselesaikan oleh satu sektor saja namun harus
dilakukan secara terintegrasi sehingga pertemuan
sosialisasi pengendalian rabies yang melibatkan
sektor kesehatan dan sektor peternakan dan
kesehatan hewan seperti kegiatan sosialisasi kali ini
menjadi sangat penting guna menurunkan kasus
rabies di Provinsi Sulawesi Utara pada khususnya
dan mendukung visi Indonesia Bebas Rabies 2020.

Penutupan sosialisai pengendalian rabies bagi tenaga kesehatan di Propinsi Sulut

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

19
19

Pengendalian Anthrax di DKI Jakarta Dalam Rangka


Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan
Halal (ASUH)
Drh. Dedeh Yulianti Rahayu
Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta

Sapi Terkena Antraks

Baccilus Anthracis

PENDAHULUAN

angan merupakan kebutuhan dasar dari suatu


negara untuk mensejahterakan rakyatnya.
Kuantitas dan kualitas pangan sangat
menentukan nilai nutrisi dari asupan konsumsi yang
akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya
manusia negara tersebut. Sumber pangan dapat
berasal dari pangan nabati dan hewani. Ketersediaan
pangan hewani bersumber dari produk peternakan
yakni daging, susu dan telur.
Isu ketahanan pangan merupakan isu penting saat
ini sehingga dijadikan program prioritas pemerintah
pusat dan daerah. Salah satu program prioritas
Kementerian Pertanian dalam rangka mewujudkan
ketahanan pangan asal ternak berbasis sumberdaya
lokal adalah Program Swasembada Daging Sapi dan
KerbauTahun 2014 (PSDSK 2014). Berdasarkan Undangundang Nomor 18 Tahun 2012, definisi ketahanan
pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi
Negara sampai dengan perseorangan tercermin dari
tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan
terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat sehat,
aktif dan produktif secara berkelanjutan. Dari definisi
ini tercermin bahwa ketersediaan pangan saja tidak
cukup tapi harus disertai dengan mutu dan kualitas
yang baik atau dengan kata lain aman, sehat, utuh dan
halal (ASUH).

Anthraks Kulit

Pemerintah DKI Jakarta juga menempatkan Urusan


Ketahanan Pangan sebagai salah satu urusan wajib
yang tercantum dalam Rancangan Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013 2017
dimana salah satu programnya adalah Program
Peningkatan dan Pengawasan Mutu dan Kemanan
Pangan Produk Hewan (Kesmavet).
Salah satu prasyarat dalam upaya pencapaian
ketersediaan pangan hewani yang cukup dari segi
kuantitas serta terjamin mutu dan keamanannya
adalah status kesehatan hewan yang optimal. Status
kesehatan hewan yang dimaksud terkait dengan
penyakit hewan menular (PHM), penyakit hewan non
infeksi yang berdampak ekonomi tinggi, dan gangguan
reproduksi yang berdampak pada rendahnya service
per conception (S/C). Suatu hewan dapat mencapai
status kesehatan yang optimal apabila telah terbebas
dari penyakit penyakit seperti Rabies, Avian Influenza,
Brucellosis, Anthrax, Hog Cholera dan lainnya.

Anthrax Sebagai Penyakit Hewan Menular


yang penting
Penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang
menjadi prioritas pengendalian di DKI Jakarta antara
lain Rabies, Avian Influenza, Brucellosis, Anthrax dan
Septicemia Epizootica. Penyakit yang berkaitan dengan
penyediaan pangan hewani yang aman, sehat, utuh
dan halal adalah penyakit Anthrax. Hal ini dikarenakan
penyakit ini merupakan penyakit yang dapat menular
kepada manusia (zoonosis) serta lalu lintas ternak

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

20
besar maupun kecil dari daerah endemis Anthrax ke
DKI Jakarta masih sangat tinggi terutama menjelang
Hari Raya Idul Qurban. Selain itu, adanya faktor
penggunaan spora Anthrax sebagai senjata biologis
dalam bioterorisme juga dapat menjadi perhatian
penting.
Anthrax atau Radang Limpa merupakan salah satu
penyakit hewan yang berbahaya bagi hewan maupun
manusia. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Bacillus
anthracis dan umumnya menyerang hewan berdarah
panas dan pemakan rumput (herbivora) seperti sapi,
kerbau, kambing, domba, kuda dan babi.
Penyakit Anthrax bersifat universal karena secara
geografis tersebar di seluruh dunia, baik Negara yang
beriklim tropis maupun subtropis. Di Indonesia sendiri,
hampir semua provinsi dilaporkan pernah ada kasus
Anthrax kecuali Provinsi Aceh, Riau, Bangka Belitung,
Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua dan Papua
Barat.
Gejala klinis penyakit Anthrax pada hewan dapat
dibagi dalam tiga bentuk yaitu per akut, akut dan
kronis.
1. Bentuk per akut (sangat mendadak)
Anthrax per akut gejalanya sangat mendadak,
Hewan mendadak mati karena pendarahan otak.
Bentuk per akut sering terjadi pada domba dan
kambing dengan perubahan apopleksi serebral,
hewan berputar-putar, gigi gemeretak dan mati
hanya beberapa menit setelah darah keluar dari
lubang kumlah
2. Bentuk akut
Gejala penyakit bermula demam (40-42 0 C),
gelisah, depresi, sesak napas, detak jantung cepat
tapi lemah, hewan kejang kemudian mati. Pada
sapi gejala umum adalah pembengkakan sangat
cepat didaerah leher, dada, sisi perut, pinggang dan
kelamin luar. Dari lubang kumlah (telinga, hidung,
anus, kelamin) keluar cairan darah encer merah
kehitaman seperti ter (aspal cair). Kematian terjadi
antara 1-3 hari setelah tampak gejala klinis.
3. Bentuk kronis
Terlihat lesi/ luka lokal yang terbatas pada lidah dan
tenggorokan, biasanya menyerang ternak babi.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Dalam tubuh hewan, kuman akan berada dalam


bentuk vegetatif dan tumbuh secara cepat, apabila
kuman keluar dari tubuh hewan dan terbuka kena
udara, maka Anthrax akan membentuk spora. Spora
Anthrax ini dapat bertahan hidup sampai dengan 40
tahun lebih dan dapat menjadi sumber penularan
baik kepada manusia maupun hewan. Hal ini yang
menyebabkan Anthrax sangat sulit untuk diberantas
terutama didaerah endemis.
Manusia dengan lesi atau luka terbuka dapat
tertular penyakit Anthrax karena bersentuhan dengan
hewan tertular atau dengan bahan yang tercemar
bakteri Anthrax seperti darah, daging, kulit dan
semua bagian tubuh hewan yang mati dan diduga
positif Anthrax. Selain itu spora atau bakteri dapat
masuk ke dalam tubuh apabila mengonsumsi bagian
tubuh hewan tertular atau menghirup spora Anthrax
dalam jumlah besar sehingga dapat menimbulkan
infeksi. Penularan Anthrax dari manusia ke manusia
dapat terjadi namun sangat jarang (WHO
Berdasarkan gambaran klinis yang tampak,
dikenal empat bentuk anthrax pada manusia yaitu:
1. Anthrax Kulit
2. Anthrax Saluran pencernaan
3. Anthrax Paru-paru
4. Anthrax Meningitis
Anthrax kulit merupakan tipe yang paling banyak
ditemui yaitu lebih dari 90% dari keseluruhan kasus di
Indonesia. Anthrax saluran pencernaan dapat terjadi
karena infeksi melalui makanan yang mengandung
kuman/ spora Anthrax Tipe yang jarang ditemui
adalah Anthrax paru-paru dan Anthrax meningitis.

Pengendalian Anthrax di DKI Jakarta


Adanya peluang tertularnya manusia terhadap
Anthrax melalui makanan (food borne disease)
menyebabkan ketersediaan daging yang bebas
Anthrax sangat diperlukan. Daging yang aman dan
sehat berasal dari hewan yang sehat dan bebas dari
penyakit termasuk Anthrax Dalam kurun waktu
beberapa tahun terakhir, belum pernah dilaporkan
adanya kasus Anthrax pada hewan, hal ini didukung
dengan hasil surveillans oleh Balai Kesehatan Hewan
dan Ikan (BKHI) Dinas Kelautan dan Pertanian yang

21
dilakukan setiap tahun menunjukkan tidak adanya
kasus Anthrax di wilayah DKI Jakarta. Namun, tingginya
lalu lintas ternak besar dan kecil dari daerah endemis
Anthrax menempatkan DKI Jakarta sebagai daerah
yang berisiko tinggi dalam penularan.
Dinas Kelautan dan Pertanian merupakan Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta yang membidangi masalah peternakan,
kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner
selalu melakukan upaya dalam mengendalikan
penyakit hewan menular terutama yang zoonosis.
Usaha yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan
Pertanian dalam mengendalikan penyakit anthrax di
DKI Jakarta antara lain:
1. Vaksinasi Anthrax terhadap ternak besar dan kecil
yang dipelihara di wilayah DKI Jakarta
2. Pengawasan pemasukan ternak terutama dari
daerah endemis Anthrax dengan pemeriksaan
dokumen pendukung seperti Surat Keterangan
Kesehatan Hewan (SKKH) dan surat keterangan
vaksinasi
3. Pemeriksaan kesehatan hewan di tempat-tempat
penampungan hewan dan Rumah Potong Hewan
4. Sosialisasi dan public awareness kepada masyarakat
5. Pemeriksaan terhadap hewan dan daging qurban
pada hari raya Qurban
6. Surveillans Anthrax terhadap hewan ternak oleh
Balai Kesehatan Hewan dan Ikan (BKHI) setiap
tahun
Pengawasan pemasukan ternak tidak hanya sekedar
untuk memonitor jenis, jumlah dan harga jual ternak
yang berhubungan dengan ketersediaan dan kecukupan
ternak dalam memenuhi kebutuhan masyarakat DKI
Jakarta. Tetapi terutama sebagai usaha penyaringan
atau pencegahan masuknya penyakit hewan menular ke
wilayah DKI Jakarta. Hewan ternak seperti sapi, kerbau,
kambing dan domba yang masuk dari daerah pemasok
seringkali luput dari pengawasan secara keseluruhan
dan masuk ketempat penampungan tanpa pemeriksaan
kesehatan sehingga pelayanan pemeriksaan kesehatan
hewan di tempat penampungan dan Rumah Potong
Hewan (RPH) wajib dilakukan.

Pemeriksaan
kesehatan
diawali
dengan
mengecek dokumen surat keterangan kesehatan
hewan (SKKH) dan surat keterangan vaksinasi dari
daerah asal. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik
yang mencakup kondisi umum, temperatur dan
keadaan mukosa. Saat pemeriksaan perlu diperiksa
secara khusus kemungkinan ditemukannya gejala
anthrax dan penyakit hewan menular lainnya
seperti SE (Septicemia epizootica), Blue Tongue, IBR
(Infectious Bovine Rhinotracheitis). Apabila diperlukan
dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
penegakkan diagnosa. Jika ada ternak yang
terdiagnosa terinfeksi penyakit Anthrax maka
akan dilakukan tindakan sesuai dengan standar
operasional prosedur (SOP) yang berlaku seperti
penutupan wilayah, pengobatan hewan sakit,
penguburan hewan yang mati serta vaksinasi.
Hewan ternak yang dinyatakan sehat dapat
dipotong di Rumah Potong Hewan. Sesuai standar
maka setelah dipotong secara halal dan dikuliti, maka
karkas harus mendapat pemeriksaan post mortem
(setelah dipotong) oleh petugas berwenang. Hal ini
untuk menjamin bahwa karkas yang akan beredar
dimasyarakat adalah karkas yang aman, sehat, utuh
dan halal sebagai jaminan keamanan pangan (food
safety)

Daftar Pustaka:
Pedoman Pengendalian dan Pemberantasan
Penyakit Hewan Menular (PHM) Seri Penyakit
Anthrax, Departemen Pertanian Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan
Direktorat Kesehatan Hewan 2003
http://www.who.int/csr/disease/Anthrax/en/
http://www.nap.edu/openbook .php?record_
id=10733&page=7
http://development.mti-indonesia.com/Berita/
Kesehatan/2166
http://keswankesmavetsulut.blogspot.
com/2011/06/antraks-pada-manusia.html

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

22

MEWASPADAI MUNCULNYA

VIRUS H7N9

dari

China

Eka Soni
Subdit Pengendalian Zoonosis

Kasus flu burung H7N9 yang diisolasi di Rumah Sakit China dalam rangka antisipasi penyebaran yang
lebih luas (Sumber dari WHO).

wal tahun 2013, tepatnya mulai bulan Februari


2013 di kejutkan dengan berita munculnya virus
influenza jenis baru dari Negeri China yaitu tipe H7N9,
dikabarkan dengan memulai menginfeksi piaraan
babi dan unggas di pemukiman penduduk, total akhir
Maret 2013 sekitar 15.000 ekor babi dan unggas mati
mendadak,melihat masa lalu flu burung H5N1 yang
begitu mematikan dapat menginfeksi manusia, dengan
kemunculan flu burung H7N9 ini dikhawatirkan akan
lebih ganas dan mematikan jika menginfeksi kepada
manusia. Seperti yang disampaikan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia dr. Nafsiah Mboi, tanggal 7 April
2013 pada acara Peringatan Hari Kesehatan Dunia,
pemerintah Indonesia siap siaga mencegah beredarnya
virus flu burung baru H7N9 yang di perkirakan akan
lebih mematikan dibanding dengan jenis virus H5N1,
walaupun disinyalir belum ada indikasi mutasi virus ini
ke manusia.
Virus flu burung H7N9 ini sudah menimbulkan
kematian 13 orang, dari 60 kasus H7N9 di China,
sementara ribuan kasus lainnya dalam masa pengawasan
diantaranya di provinsi Shanghai, Jiangsu, Zhejiang
dan Ahui, kewaspadaan ini terus ditingkatkan dengan
menghentikan aktifitas perdangan babi dan unggas
untuk sementara waktu dan melakukan isolasi untuk
pasien yang terinfeksi virus H7N9, walaupun belum ada
tanda-tanda penularan dari manusia ke manusia.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Influenza subtype A H7 merupakan kelompok/


grup virus influenza, normalnya bersirkulasi di antara
avian/burung/unggas. Influenza H7N9 merupakan
salah satu sub grup diantara grup besar influenza H7.
Walaupun virus A H7 (H7N2,H7N3,H7N7) kadang
kadang ditemukan menginfeksi pada manusia, tetapi
sebelumnya tak pernah ada infeksi A H7N9 pada
manusia, kecuali yang terjadi saat ini (April) di China.
Deskripsi dari Skema Influenza A replikasi virus
(NCBI): Sebuah virion menempel pada membran
sel inang melalui HA dan memasuki sitoplasma oleh
reseptor-mediated endositosis (LANGKAH 1), sehingga
membentuk endosome A seluler tripsin - seperti
enzim memotong HA. menjadi produk HA1 dan
HA2 (tidak ditampilkan). HA2 mempromosikan fusi
amplop virus dan membran endosome sebuah virus
kecil tindakan protein amplop M2 sebagai saluran
ion sehingga membuat bagian dalam virion lebih
asam. Akibatnya, amplop besar protein berdisosiasi
M1 dari nukleokapsid dan vRNPs yang translokasi ke
dalam inti (STEP 2) melalui interaksi antara NP dan
mesin transportasi seluler Dalam nukleus, kompleks
polimerase virus menuliskan (3a STEP) dan mereplikasi
(LANGKAH 3b) yang vRNAs. baru disintesis mRNA
bermigrasi ke sitoplasma (LANGKAH 4) di mana mereka
diterjemahkan pengolahan pascatranslasinya HA,
NA, dan M2 termasuk transportasi melalui aparatus

23
Data WHO H7N9 pemutakhiran 14 Juni
2013:
Kumulatif terdapat 51 kasus terkonfirmasi lab,
diantaranya meninggal 11, angka fatalitas (CFR)
21,5%; Menurut WHO: Penyelidikan terhadap sumber
infeksi dan reservoir virus sedang dan terus dilakukan.
Lebih dari 1000 kontak dekat kasus di monitor. Belum
ada bukti penularan dari manusia ke manusia. Who
menganjurkan tidak ada skrining khusus di pintu
masuk, dan tak ada pembatasan perjalanan serta tak
ada pembatasan perdagangan.

Genetik Virus A(H7N9):


Skema H7N9

Golgi ke membran sel (5b STEP) NP, M1, NS1 (protein


nonstruktural peraturan - tidak ditampilkan). dan. NEP
(ekspor protein nuklir, komponen virion kecil - tidak
ditampilkan) pindah ke inti (5a STEP) di mana mengikat
baru salinan disintesis dari vRNAs The nukleokapsid baru
terbentuk bermigrasi ke dalam sitoplasma dalam proses
NEP-dependent dan akhirnya berinteraksi melalui M1
dengan. sebuah wilayah membran sel mana HA, NA dan
M2 telah dimasukkan (LANGKAH 6) Kemudian tunas
virion baru disintesis dari sel yang terinfeksi (LANGKAH
7). NA menghancurkan bagian asam sialat dari reseptor
seluler, sehingga melepaskan virion progeni.

Kasus H7N9 pertama di China:

Pasien, lelaki, 87 tahun, pekerjaan pensiunan,


tinggal di Distrik Minghan, Shanghai, mulai sakit (onset)
18 Februari 2013, gejala klinis demam tinggi dan sesak
nafas timbul seminggu kemudian sejak mulai sakit.
Faktor risiko: kontak dengan burung/unggas belum
diketahui, dirawat dirumah sakit Fifth Peoples Hospital
dan meninggal pada tgl 4 Maret 2013. Lama sakit sejak
onset meninggal: 14 hari. Kondisi medis penyakit
penyerta (risiko tinggi) PPOK/COPD dan hipertensi.
Dari 3 kasus pertama 2 kasus terjadi di Distrik
Minhang, Shanghai dan 1 kasus di Provinsi Anhui.
Faktor risiko: kasus 2 dan ke 3 mempunyai kontak
dengan unggas di Pasar 1 minggu sebelum sakit dan
1 kasus tak diketahui adanya kontak Semua 3 kasus
pertama gejala klinis berat, demam tinggi, batuk dan
sesak nafas. meninggal,3 kasus tersebut semuanya
merupakan risiko tinggi karena mempunya kondisi
medis penyerta pasie 1, PPOK/COPD dan hipertensi,
pasien ke 2. Hepatitis B dan pasien ke 3, riwayat depresi,
hepatitis B dan obesitas

(Sumber NEJM /New England Journal of Medicine publish 11 April


2013)

Analysis gen vrus H7N9 pada manusia


menunjukkan berasal dari virus avian/burung, yang
menunjukkan tanda adanya adaptasi pertumbuhan
pada jenis (spesies) mamalia. Adaptasi ini termasuk
kemampuan mengikat sel mamalia dan tumbuh
pada temperatur/suhu tubuh normal mamalia yang
lebih rendah daripada burung (WHO).
Menurut WHO dan NEJM pemeri), tetapi masih
sensitive terhadap golongan Neromidase inhibitor
yaitu oseltamivir dan zanamivir, bila diberikan secara
dini pada waktu sakit. Menurut publikasi NEJM
dalam analisis sekuesing genetik menunjukkan gen
virus avian. Tak ada bukti adanya gen manusia dan
gen babi (swine) pada ke 3 virus yang menjangkiti
3 kasus pertama di China; Ke 3 virus pada 3 kasus
pertama manusia di China menunjukkan genetik
yang sama identik 97,7 100% pada 8 segmen gen.
Pada burung merpati (pigeon) di pasar Shanghai
ditemukan postif A (H7N9)

Pencegahan:
PHBS, Cuci tangan dengan sabun. Hindari kontak
dengan unggas, unggas sakit dan unggas mati serta
lingkungan yang tercemar kotoran unggas/burung.
Hindari kontak dengan orang sakit panas, batuk dan
sesak Memakai, masker, tissue, sapu tangan, atau
dengan lengan atas pada saat batuk dan bersin
dan buang tissue pada tempatnnya pembuangan.
Bila sakit demam, batuk dan gangguan pernafasan
segera berobat ke pelayanan kesehatan dan berikan
keterangan sebenarnya kepada dokter bila 1 minggu
sebelumnya ada kontak dengan unggas. Vaksin
belum tersedia.
(Sumber: Center for Desiase Control and Prevention 1600 Clifton Pd. Atlanta<
GA 30333. USA - 800-CDC-INFO (800-232-4636))

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

24

MEMINDAI JEJAK FLU

BURUNG (H5N1)
DARI PARUNG PANJANG,
KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
DI PENGHUJUNG TAHUN 2012
dr. Romadona Triada
Subdit Pengendalian Zoonosis

I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada hari Jumat 6 Desember 2012 Subdit Zoonosis
mendapat laporan dari Badan Litbang bahwa
terdapat kasus Flu Burung (FB) di RSUD Tangerang,
Bogor, Jawa Barat. Hasil Laboratorium Pusat Biomedis
dan Teknologi Dasar Kesehatan (BTDK) kasus FB yang
dinyatakan positif H5N1 adalah hasil sampel pertama
yang dikirimkan oleh RSUD Tangerang, Banten pada
tanggal 6 Desember 2012.
Tim gabungan dari Subdit Zoonosis dan
BTDK, Kemenkes RI ditugaskan untuk melakukan
Penyelidikan Epidemiologi (PE). Penyelidikan
dilakukan di RSUD Tangerang, rumah dan lingkungan
kasus, petugas kesehatan serta kontak penderita.

II. TUJUAN
2.1. Umum
Mengetahui gambaran epidemiologis, virologis
dan klinis dari kasus konfirmasi Flu Burung yang
dapat digunakan untuk menanggulangi KLB di
Kampung Nagreg, Desa Gorowong, Kecamatan
Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

III. METODOLOGI
a. Wawancara dengan orangtua kasus,
keluarga, tetangga, teman dan petugas
kesehatan di Puskesmas dan RSUD
Tangerang.
b. Observasi terhadap kontak penderita seperti
orang tua, keluarga kasus dan kontak yang
lain seperti yang membantu merawat kasus
dirumah dan di rumah sakit.
c. Mendapatkan
informasi
dari
RSUD
Tangerang melalui Rekam Medis kasus.
d. Mengambil sampel darah dan swab
tenggorok hidung terhadap kontak
penderita yang mengalami keluhan demam,
batuk, pilek untuk diperiksakan di BTDK.

IV. HASIL PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGIS


4.1. Identitas Kasus:
a. Nama
:
b. Jenis Kelamin :
c. Umur
:
d. Pekerjaan
:
e. Alamat
:

2.2. Tujuan Khusus


a. Mengetahui secara kronologis gambaran
perjalanan penyakit.
b. Mendapatkan perjalanan epidemiologi Flu
Burung pada manusia.
c. Mengetahui secara dini risiko penularan Flu
Burung dari unggas ke manusia.
d. Mengetahui secara dini risiko penularan Flu
Burung dari manusia ke manusia.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

IT
Laki-laki
4 tahun
Kampung
Nagreg
Desa
Gorowong, Kecamatan Parung
Panjang, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat.

4.2. Riwayat Sakit:


Tanggal mulai sakit (demam): 30 November 2012
Gejala dan Tanda Sakit
Demam
: +
Batuk
: Pilek
: Sakit tenggorok : Sesak nafas : Mual
: -

25
4.5. Pengambilan spesimen:

4.3. Kronologis Penyakit:


1. Berdasarkan hasil wawancara hari Sabtu, 8
Desember 2012 dengan orang tua, kerabat,
tetangga kasus diketahui bahwa kasus
mulai demam pada hari Jumat, tanggal 30
November 2012.
2. Sabtu, tanggal 1/12/2012, pada pagi hari
kasus dibawa ke Pustu dengan keluhan
39,1C tanpa gejala lain.
3. Selasa, tanggal 4/12/2012, kasus tidak ada
perubahan dan berobat ke dokter swasta
4. Rabu, tanggal 5/12/2012, pagi hari kasus
dibawa ke Puskesmas dan dilakukan
pemeriksaan
laboratorium
dengan
hasil Leukosit 1.000, Trombosit 44.000,
Hematokrit 28, Widal (-). Sore hari kasus
dirujuk ke RSIA swasta untuk rawat inap
karena masih demam dan ditambah batuk
dan sedikit sesak. Di RSIA kasus diperiksa
laboratorium dengan hasil Leukosit 1.600,
Trombosit 184.000, Hematokrit 23. Kasus
didiagnosa dengan DHF.
5. Kamis, 6 Desember 2012, kasus dirujuk ke
RSUD Tangerang dengan kondisi kesadaran
berkurang (somnolen), demam, batuk,
sesak. Di RSUD Tangerang kasus didiagnosa
dengan Bronkopneumonia dengan DD/
suspek FB. Terapi diberikan oseltamivir. Hasil
Laboratorium Leukosit 1400, Trombosit
153.000. Kasus meninggal jam 23.40 WIB.

4.4. Perjalanan Penyakit


30/11/2012

4/12/2012

5/12/2012

6/12/2012

1/12/2012

Mulai
demam

Demam
39,1C,
dibawa
ke Pustu

Karena
tidak ada
perubahan,
kasus berobat
ke dokter
swasta.

Belum ada
perubahan lalu
pagi hari kasus
di bawa ke
Puskesmas dan
dirujuk ke RSIA
Swasta untuk
rawat inap.
Diagnosa RSIA
Swasta DHF

Kasus dirujuk ke RSUD


Tangerang dengan
keluhan somnolen,
demam, batuk, sesak.
Diagnosa BP, DD/
suspek FB. Oseltamivir
diberikan. Kasus
meninggal jam 23.40
WIB

Spesimen I diambil tanggal 6 Desember 2012


diperiksa di Pusat BTDK pada tanggal 7 Desember
2012 hasil positif (+) H5N1.

4.6. Foto Rontgen:


1. Tanggal 6/12/2012 kesan perselubungan
paru kanan.

1. Foto 6/12/2012

2. Foto 6/12/2012

4.7. Temuan Epidemiologi dan Faktor Risiko :


1. Pada unggas
a. Berdasarkan survei, tempat tinggal
korban
didaerah
perkampungan
dengan warga memelihara unggas di
perkarangan.
b. Sekitar 2 minggu yang lalu sekitar
tanggal 20 November 2012, terdapat
kematian unggas (entog 3 ekor, ayam 2
ekor).
2. Pada manusia
a. Kasus tinggal dengan orang tua dan
seorang adik.
b. Sebelum sakit kasus memegang
bangkai entog bersama 2 anak lainnya
yaitu Z (5 tahun) dan R (4 tahun). Saat
investigasi Z mengalami batuk, suhu
36,4C, R batuk dan pilek suhu 35C.
Keduanya telah diberikan oseltamivir
dan dilakukan pemantauan selama 2
kali masa inkubasi.
c.
Pemantauan
dilakukan
terhadap
kontak erat penderita baik di rumah
dan lingkungan maupun di RS. Semua
kontak erat dilakukan pemantauan
selama 2 kali masa inkubasi dan
pemberian oseltamivir. Selain itu kontak
erat kasus di rumah dan lingkungan
diambil spesimen oleh Pusat BTDK untuk

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

26

No

Nama

L/P

Umur (thn)

Hubungan

Kontak Akhir

Gejala

Sampel

Hasil

1.

35

Ayah

6/12/2012

Flu

nasofaring

negatif

2.

25

Ibu

6/12/2012

Tidak ada

nasofaring

negatif

3.

Adik

3/12/2012

Batuk

nasofaring

negatif

4.

45

Paman

6/12/2012

Tidak ada

nasofaring

negatif

5.

27

Paman

5/12/2012

Demam

nasofaring

negatif

6.

49

Paman

6/12/2012

Tidak ada

nasofaring

negatif

7.

30

Paman

6/12/2012

Tidak ada

nasofaring

negatif

8.

Teman

3/12/2012

Batuk

nasofaring

negatif

9.

Teman

3/12/2012

Batuk, pilek

nasofaring

negatif

dilakukan pemeriksaan. Di rumah sakit,


dokter dan perawat diambil spesimen
oleh pihak rumah sakit dan dilakukan
pemeriksaan oleh Pusat BTDK.

4.8. Pemantauan Kontak Kasus di Rumah


Sakit dan Lingkungan
Pemantauan kontak kasus sekitar 15 orang di
RSUD Tangerang terhadap dokter dan perawat telah
diberikan oseltamivir dan pengambilan sampel
untuk diperiksa lebih lanjut ke Pusat BTDK. Hasil dari
Pusat BTDK negatif H5N1.

V. DISKUSI DAN ANALISIS


1.
Dari hasil penyelidikan terlihat bahwa
kemungkinan kasus tertular H5N1 dari kontak
langsung dengan bangkai unggas (entog)
peliharaan warga setempat sekitar 2 minggu
sebelum sakit. Pada saat sakit kasus berkunjung ke
pustu dan praktek dokter swasta sebelum dirujuk
ke RS Swasta. Setelah itu kasus dirujuk ke RSUD
Tangerang dan diambil sampel.
2. Penanganan kasus dapat dikatakan terlambat
untuk dalam tatalaksana kasus flu burung. Kasus
baru didiagnosa suspek flu burung saat di RSUD
Tangerang. Pemberian oseltamivir dilakukan pada
saat kasus di RSUD Tangerang.
3. Hasil pemeriksaan oleh Pusat BTDK keluar sehari
setelah kasus meninggal dunia.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

VI. KEGIATAN YANG DILAKUKAN


1. Investigasi dilaksanakan oleh Tim Gerak Cepat
(TGC).
2. Pengambilan spesimen kontak kasus oleh
petugas Pusat BTDK, Kementerian Kesehatan RI.
3. Dilakukan pemantauan di sekitar rumah kasus
dan rumah sakit.
4. Pemantauan kontak selama 14 hari terhadap
keluarga, kerabat serta petugas RSUD Tangerang
selama dua kali masa inkubasi.

VII. SARAN DAN TINDAK LANJUT


1. Perlu dilakukan dan ditingkatkan surveilans
ketat ILI di semua tempat pelayanan kesehatan,
keluarga, kerabat serta lingkungan masyarakat
terkait dengan kasus diatas.
2. Lebih ditingkatkan kemampuan pendeteksian
dini terutama gejala ILI di pelayanan kesehatan
tingkat dasar dan rumah sakit agar terdeteksi
lebih cepat sehingga penanganan serta tindakan
yang dilakukan sesuai prosedur.
3. Perlu dilakukan pertemuan penyegaran
penatalaksanaan kasus H5N1 untuk kalangan
pelayanan kesehatan tingkat dasar dan rumah
sakit.
4. Dinas pertenakan melakukan pengambilan
sampel pada unggas untuk diperiksa lebih lanjut

27

Pengenalan ZOONOSA Pada Kegiatan

International Scout Peace Camp 2013


Tengku Fakhrul Razy, SE; Eka Soni.
Subdit Pengendalian Zoonosis
Direktorat PPBB, Ditjen PP dan PL , Kemenkes RI

egiatan Pramuka tingkat dunia, International


Scout Peace Camp yang dilaksanakan di Nagara
Republik Indonesia (Cibubur), adapun dukungan
Tim Ditjen PP dan PL Kemenkes RI dalam Hal ini adalah
Tim Kesehatan, Obat-obatan, Foging, hygiene dan
Sanitasi, Pameran Sakabakti Husada, pada kesempatan
ini tenda Kesehatan berkesempatan menjelaskan dan
memaparkan diataranya Penyakit Leptospirosis, Flu
Burung, Rabies, Antraks dll dalam hal gejala umum dan
pengendaliaan penyakit zoonosa yang bisa ditularkan
dari binatang kemanusia atau sebaliknya.
Sesuai dengan SK Kwarnas Gerakan Pramuka No.012
tahun 2013 tentang Panitia International Scout Peace
Camp 2013, Pinsaka Bakti Husada Tingkat Nasional
Sebagai Tim Kesehatan dalam Divisi sarana pendukung
kegiatan pramuka di sektor kesehatan.
Surat Kepala Kwarnas Gerakan Pramuka No.010700-b tanggal 7 februari 2013, perihal permohonan
Tim Kesehatan dan Obat-obatan kegiatan ISPC 2013.
Adapun kegiatan Peerkemahan Perdamaian Pramuka
Dunia ini yang dikuti sekitar 504 orang pramuka
penegak dan pandega dengan usia 18-25 tahun
dari 6 region WOSM (World Organization of the Scout
Movement) yaitu Asia Pasific, Africa, Arab, Eropa, Eurasia
dan Inter-America (sekitar 161 negara) dengan rincian
240 peserta luar negeri dan 264 peserta Indonesia

di Bumi Perkemahan Cibubur


dengan tema Scouting Builds Peace
Kehormatan besar untuk Negara Republik
Indonesia untuk menjadi tuan rumah dalam salah
satu event pramuka internasional. Kegiatan ini yang
sudah dilaksanakan pada 25 - 31 Maret 2013 di Bumi
Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Acara ini di kenal
sebagai Perkemahan Perdamaian Pramuka dunia atau
International Scout Peace Camp. Anggota Pramuka dari
berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat tersebut.
Sekitar 504 pramuka dunia terdiri dari penegak dan
pandega utusan dari 6 region yakni, Asia Pacific, Afrika,
Arab,Eropa, Eurasia dan Inter-Amerika. Mereka memiliki
visi menginspirasi dunia dengan kedamaian. Selain
kegiatan di Cibubur, para peserta juga akan hidup
bersama masyarakat selama 3 hari dalam pengenalan
situs budaya yang beragam di Indonesia diantaranya,
yaitu di Sub Camp Setu Babakan sebagai situs
cagar budaya Betawi, Sub Camp Kampung Domba,
Pandeglang, Banten sebagai situs budaya Baduy, dan
Sub Camp Desa Sukaratu, Cianjur, Jawa Barat sebagai
situs budya Sunda. Sejumlah pameran kerajinan dan
home industry juga meramaikan acara bumi perkemahan
Internasional tersebut di sejumlah lokasi perkemahan.
Pada upacara pembukaan yang diramu dengan
suasana kebudayaan yang kental dengan memadukan
unsur modern, Kak Azrul didampingi oleh Scott A. Teare

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

28

Suasana Workshop on Global Disease, pada saat diskusi penyakit


Pes, Leptospirosis dan Zoonosis lainnya.

(General Secretary of WOSM), Simon Rhee (Chairman


of The World Scout Commitee), Abdullah Rasheed
(Director Regional APR ) serta pengurus Nasional Scout
Organization dari sekitar 50 negara yang sebelumnya
telah mengikuti World Scout Conference di Jakarta.
Prosesi upacara diawali dengan penampilan Reog
Ponorogo yang mendapat sambutan yang meriah oleh
peserta upacara termasuk tamu undangan World Scout
Committee dan APR Scout Committee. Acara dikemas
tentu tidak seperti biasanya, dalam suasana santai
tapi hikmat mewarnai di Bumi Perkemahan Pramuka
Cibubur.

Team Camp Global Development Village, Workshop on Global Disease,


Ministry of Health Republic of Indonesia dari Kiri ke Kanan
(Ka. Nies Andekayani,Ka.Dyni Zakhyah, Ka. Kodrat, Ka.Soni, Ka.Ajie Mulia
Avisena , Ka.Gede).

Simon Rhee, mengatakan selama kegiatan pramuka


ini diharapkan dapat menjalin persaudaraan dan
perdamian dunia. Sehingga akhirnya dapat memahami
masing-masing kebudayaan setiap Negara dan
menghormati sesame umat manusia yang mempunyai
hak dan kewajiban yang sama yaitu menjaga
perdamaian dunia yang indah ini.
(Sumber : http://www.journalscoutpeacecamp.com/mainreport/95-main-report/157-meriahnya-acara-pembukaaninternational-scout-peace-camp-ispc-tahun-2013.)

Kemudian, perwakilan dari masing-masing


negara peserta masuk dalam arena lapangan dengan
membawa bendera negaranya masing - masing dan
mengucapkan janji pramuka yang dilakukan oleh salah
satu peserta dari Indonesia.
Sambutan pada upacara pembukaan ISPC
disampaikan oleh Simon Rhee selaku ketua komite
kepramukaan dunia dan Kak Azrul Azwar selaku Ketua
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.
Tim Kesehatan Ditjen PP dan PL di depan tenda Kemenkes RI

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,


Prof. Dr. dr. H. Azrul Azwar, M.P.H, Senin pagi (25/3) membuka kegiatan
secara resmi.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

Simon Rhee,chairman of the World Scout Comitee,


memberikan sambutan.

29

PENGUATAN SISTEM KEWASPADAAN DINI


DAN RESPONS
( SKDR/EWARS ) DI INDONESIA
MELALUI IMPLEMENTASI SKDR
Rosmaniar, SKp, MKes
Subdit Surveilans & Respon KLB
Ditjen PP dan PL, Kemenkes RI

PENDAHULUAN

HO telah menyatakan bahwa IHR 2005


mulai diimplementasikan pada 15 Juni
2007 tetapi kepada seluruh negara masih

diberikan waktu selama 5 tahun untuk dapat


melaksanakan secara penuh implementasi IHR 2005

iklim yang disebabkan oleh pemanasan global yang


semakin cepat. Kondisi ini juga akan mempengaruhi
pola dan jenis penyakit potensial wabah secara
langsung maupun tidak langsung misalnya seperti
malaria, DBD, maupun penyakit emerging seperti flu
burung.

ini. Indonesia sebagai anggota WHO menerima

Indonesia secara geografis memudahkan untuk

IHR (International Health Regulation) 2005 harus

penularan penyakit potensial KLB seperti malaria,

mengikuti dan menjalankan aturan tersebut. Suatu

DBD, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak,

Negara harus mengembangkan, memperkuat, dan

pertusis, maupun ancaman flu burung pada manusia.

memelihara kemampuan untuk mendeteksi, menilai,

Penyakit-penyakit tersebut apabila tidak dipantau

dan melaporkan kejadian sebagaimana ditetapkan

dan dikendalikan maka akan mengancam kesehatan

dalam Lampiran 1 IHR (Kapasitas Inti Bidang

masyarakat Indonesia dan menyebabkan KLB yang

Surveilans dan Respons yang harus dipenuhi),

lebih besar atau bahkan dapat menyebar ke negara

sedini mungkin dan paling lambat lima tahun sejak

tetangga lainnya.

diberlakukannya IHR 2005 seperti yang tercantum


dalam Bab II, Pasal 5, ayat 1.

Dengan latar belakang itu semua maka sangat


penting pelaksanaan sistem kewaspadaan dini dan

Dalam era globalisasi ini mobilisasi manusia

respon (SKDR) / early warning and response system

maupun barang sudah sangat tinggi dan sangat

(EWARS) ditingkatkan kembali di seluruh wilayah di

cepat. Tetapi kondisi ini juga dapat dilihat sebagai

Indonesia.

sebuah ancaman misalnya transmisi penyakit


menular dari suatu negara ke negara lain. Salah satu
contoh adalah KLB Polio di Indonesia tahun 2005
terjadi karena ada import virus polio dari negara lain
(Laporan KLB Polio Tahun 2005 Subdit Surveilans).
Selain itu saat ini dunia telah mengalami perubahan

Kelebihan dari sistem yang dibangun ini, pada


perangkat lunaknya adalah dapat menampilkan
sinyal alert adanya peningkatan kasus melebihi nilai
ambang batas di suatu wilayah baik wilayah kerja
puskesmas, kabupaten maupun propinsi. Output yang
dihasilkan dapat berupa tabel, grafik, maupun peta.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

30
Tujuan dari SKDR adalah sebagai berikut:
-

diamati, serta peta kasus maupun insidens penyakit

Memonitor kecenderungan penyakit menular.

- Menyelenggarakan Deteksi Dini KLB penyakit


-

dari tingkat kecamatan sampai dengan provinsi.


Salah satu kelebihan dari SKDR adalah setiap

menular.

minggu mampu menangkap sinyal peringatan dini

Memberikan peringatan dini kepada pengelola

sampai level kecamatan/ wilayah kerja puskesmas

program untuk melakukan respons cepat

menurut jenis penyakitnya. Untuk kabupaten

- Meminimalkan kesakitan atau kematian yang


berhubungan dengan KLB.

komputer maupun internet dimungkinkan untuk

- Menilai dampak intervensi program dalam


pengendalian

dan

penanggulangan

KLB

penyakit menular.
SKDR

merupakan

dapat menganalisis sampai tingkat desa sehingga


puskesmas juga mengetahui sinyal peringatan dini
sampai tingkat desa.

penguatan

dari

laporan

mingguan (W2) atau dalam Kepmen No. 1479/


MENKES/SK/X/2003

yang seluruh puskesmasnya memiliki fasilitas

berganti

menjadi

PWS

(Pemantauan Wilayah Setempat) penyakit potensial


KLB/ Wabah yang dilaporkan secara mingguan oleh
pustu maupun puskesmas. Penguatan dalam SKDR
adalah dalam aspek pelaporannya, pengolahan dan
analisa data, serta keterlibatan laboratorium dalam
menunjang kepastian diagnostik penyakit menular
tersebut.

Bila ada sinyal peringatan dini segera dilakukan


verifikasi oleh pihak yang pertama kali menemukan
sinyal tersebut. Jika dari hasil verifikasi menunjukan
ada indikasi KLB maka puskesmas segera melakukan
penyelidikan epidemiologi. Dalam hal puskesmas
tidak dapat melakukan penyelidikan epidemiologi
dapat meminta bantuan kabupaten/kota, provinsi
maupun pusat dapat turun melakukan penyelidikan
epidemiologi bila diperlukan. Selain itu bila
memerlukan konfirmasi laboratorium maka pihak

Dalam aspek pelaporan, unit pelapor (pustu

laboratorium dapat terlibat untuk mengambil dan

maupun puskesmas) mengirimkan laporan melalui

memeriksa spesimen tersebut. Penanggulangan KLB

SMS yang merupakan laporan resmi. Namun demikian

dilakukan oleh pemegang program terkait.

puskesmas maupun pustu harus mempunyai arsip


tercatat karena apabila ada sinyal peringatan dini
yang muncul pada software di Kabupaten, Propinsi

Adapun penyakit menular potensial KLB yang


diamati dalam sistem SKDR adalah sebagai berikut:

maupun Pusat maka sinyal tersebut akan diverifikasi

1. Diare Akut

dengan data dari unit pelapor. Sehingga data

2. Malaria Konfirmasi

tersebut akan sinkron.

3. Tersangka Demam Dengue

Dalam aspek pengolahan dan analisis data,


Kabupaten, Propinsi dan Pusat dibekali dengan
software yang dapat melakukan analisa secara cepat
setiap minggu seperti: sinyal peringatan dini (alert)
yang muncul dari tingkat wilayah kerja puskesmas
(kecamatan) sampai dengan provinsi, tren kasus,
insidens dan proporsi penyakit menular yang

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

4. Pneumonia
5. Diare Berdarah
6. Tersangka Demam Tifoid
7. Jaundice Akut
8. Tersangka DBD
9. Tersangka Flu Burung pada Manusia*)
10. Tersangka Campak*)
11. Tersangka Difteri*)

31
12. Tersangka Pertussis

yang terbesar proporsi morbiditas adalah; Diare

13. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak)*)

akut, diikuti

14. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)*)

tifoid, Diare Berdarah, Malaria konformasi,

15. Tersangka Antrax*)

Suspek Dengue, Suspek Campak dan GHPR.

berturut-turut,

suspek demam

16. Demam yg tdk diketahui sebabnya


17. Tersangka Kolera*)

DISTRIBUSI KASUS MENURUT JENIS PENYAKIT/

18. Kluster Penyakit yg tdk diketahui

GEJALA DALAM SISTEM SKD DAN RESPONS


DI KABUPATEN PESAWARAN MINGGU KE- 13

19. Tersangka Meningitis/Encephalitis


20. Tersangka Tetanus Neonatorum*)

3. Sinyal Peringatan Dini Minggu ke-13

21. Tersangka Tetanus

22. ILI (Influenza Like Illness)

Untuk sinyal Alert di minggu ke-13 ditingkat


Puskesmas dibandingkan minggu ke-12 terjadi
Penurunan Alert, yaitu dari 4 sinyal menjadi 2

Contoh Laporan Buletin Mingguan Kabupaten


Pasawaran Pada Minggu 13 Tahun 2013

sinyal di minggu ke-13 th 2013.


1. Ketepatan dan Kelengkapan Laporan


ke-13 dapat dilihat sbb :

Ketepatan dan kelengkapan laporan SKD dan


Respons Kabupaten Pesawaran pada minggu

Campak

pada

Puskesmas

Kedondong dengan 2 kasus.

system dapat menangkap sinyal adanya indikasi

2. Gigitan

KLB di wilayah Puskesmas sebanyak 100 %.

Hewan

Penuar

Rabies,

Pada

Puskesmas Kedondong dengan 1 kasus.

Ketepatan dan kelengkapan ini diharapkan dapat


dipertahankan di minggu-minggu selanjutnya
agar alert benar-benar dapat di antisipasi secara
dini sehingga KLB dimungkinkan dapat dicegah.

4.

Rencana Tindak Lanjut


-

Melacak dan menindak lanjuti kasus-kasus


yang ada sinyal untuk dilakukan tindakan
seperlunya sesuai dengan protap yang ada.

- Sosialisasi ke Masyarakat guna berupaya

2. Situasi Umum Penyakit Minggu ke-13


Dimana alert meliputi beberapa penyakit sbb :


1.
Suspek

ke- 13 tahun 2013 sudah mencapai 100%. Berarti

Distribusi alert penyakit perpuskesmas minggu

Situasi Umum penyakit pada Minggu ke-13

dalam rangka pencegahan penyakit dan

seperti minggu-minggu sebelumnya pertama

perilaku

Suspek Campak
Mingguan
2013-13

Tempat

Peringatan dini

Nilai

Ambang batas

Kriteria

Kasus

PKM KEDONDONG

Kasus

Bandingkan

Dibuat

2 2013-04-01

Gigitang Hewan Penular Rabies


Mingguan

Tempat

Peringatan dini

Nilai

Ambang batas

Kriteria

Kasus

2013-13

PKM KEDONDONG

Kasus

Bandingkan

Dibuat

1 2013-04-01

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v

32

N
O
O
SI
O

EM

ENKES

I
R

Subdit Pengendalian Zoonosis


Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
2013

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.

BULETIN PENYAKIT ZOONOSA v Edisi 14 v