Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Pemerintah Telah Bangkrut?
Birokrasi, selama ini dikenal sebagai suatu konsep yang sangat baik, efektif dan efisien,
serta tidak mungkin mengalami kebangkrutan. Sebab, birokrasi didukung oleh berbagai
sumber daya manajemen (7M IS) yang sangat kokoh dan besar. Namun kenyataannya,
dewasa ini banyak tuntutan masyarakat luas maupun kalangan akademik yang
menghendaki dilakukannya reformasi, revitalisasi atau restrukturisasi sektor publik,
sebagai indikasi terjadinya kebangkrutan birokrasi.
Berkaitan dengan potensi kebangkrutan birokrasi ini, pada tahun 1992 di Amerika Serikat
terbit suatu buku ilmiah populer karangan David Osborne dan Ted Gaebler yang berjudul
Reinventing Government. Buku yang kemudian banyak dijadikan sebagai referensi utama
dalam merumuskan strategi revitalisasi dan atau reformasi sektor publik di negara-negara
berkembang ini dilatarbelakangi oleh suatu keadaan dimana pemerintah berada dalam
kesulitan besar dan terancam kebangkrutan. Bahkan dalam kalimat pertama buku ini
tertulis pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu apakah pemerintah telah mati?Dan
ternyata, atas pertanyaan itu sebagian besar masyarakat AS memberikan jawaban ya.
Dalam konteks negara kita, tuntutan reformasi sistemik terhadap birokrasi bukanlah suatu
kelatahan semata dari adanya program serupa di luar negeri, tetapi memang merupakan
kebutuhan yang mutlak dalam rangka menghadapi persaingan global pada abad ke-21
nanti. Selain itu, dorongan melakukan reformasi juga diperkuat karena masih tingginya
fakta berupa inefisiensi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Dengan demikian, gagasan akan perlunya efisiensi sektor publik dan profesionalisme
aparatur ini, jelas didasari oleh pemikiran bahwa pada pada masa yang akan datang,
aparatur negara akan dihadapkan pada suatu kondisi obyektif yang menuntut daya saing
(competitiveness)

serta

kecepatan,

ketepatan

dan

keakuratan

(effectiveness)

penyelenggaraan tugas-tugas umum pemerintahan dan tugas pembangunan. Terlebih lagi


1

jika diingat bahwa sumber daya yang dimiliki oleh birokrasi tetap terbatas, sementara
tuntutan masyarakat terhadap jasa pelayanan umum (public service) semakin meningkat,
maka adanya kondisi semacam ini apabila terus berlanjut tidak menutup kemungkinan
akan membengkak menjadi gap atau kesenjangan, dan pada gilirannya akan menjauhkan
birokrasi dari masyarakat yang harus dilayaninya.
Berdasarkan kondisi empiris tersebut, sudah saatnya bagi birokrasi baik di negara maju
maupun berkembang untuk melakukan reorientasi, revitalisasi maupun reformasi dari
fungsi-fungsi kepemerintahan dan pelayanannya. Beberapa negara yang telah mencoba
melancarkan program reformasi ini antara lain Kanada dengan Public Service Reform
2000 (PS 2000), Malaysia dengan Visi 2020, atau juga negara kita yang pernah menyusun
konsep Nusantara 21 yang kelanjutannya hingga saat ini tidak terdengar lagi.
Keseluruhan program reformasi sektor publik tersebut diatas, menjadi lebih fenomenal
dengan lahirnya buku Reinventing Government (1992) karya Osborne dan Gaebler. Buku
ini ditulis dan ditujukan bagi para pencari (inventors), yaitu mereka yang mengetahui
ada ketidakberesan tetapi tidak yakin benar apa ketidakberesan tersebut; mereka yang telah
mengetahui cara yang lebih baik tetapi tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam
kehidupan; mereka yang telah mengalami banyak kesuksesan tetapi sadar bahwa penguasa
mengabaikan mereka; serta mereka yang punya pengertian kearah mana pemerintah harus
berjalan tetapi tidak tahu bagaimana sampai kesana.
Dengan demikian, bagi orang-orang yang alergi terhadap perubahan, menata ulang
pemerintahan merupakan gagasan yang sangat berani. Padahal seperti dikatakan oleh
Herodotus, tidak ada sesuatu di dunia yang abadi, kecuali perubahan. Demikian pula yang
berlaku bagi kelembagaan pemerintahan. Organisasi sektor publik selama ini biasa
digolongkan kedalam corak organisasi mekanik (mechanism paradigm) yang
menganggap organisasi sebagai suatu mesin yang bekerja dengan suatu keteraturan dan
keajegan tertentu yang menekankan adanya suatu tingkat produktivitas tertentu, yang
ingin mencapai taraf efisiensi tertentu, dan yang dikendalikan oleh suatu legitimasi
otoritas pimpinan.

Paradigma mekanik ini pada kenyataannya sudah kurang sesuai dengan tuntutan
kebutuhan di lapangan, sehingga perlu dikembangkan kearah corak organisasi organik
(organism paradigm) yang memandang organisasi sebagai suatu sistem yang menekankan
pada unsur manusia sebagai pelaku utama. Dalam model organisasi ini, efisiensi dan
efektivitas bukan merupakan aspek utama dalam pencapaian tujuan organisasi, sebab
produk (output) tidak dipandang sebagai hal yang utama. Aspek yang dianggap lebih
penting dalam organisasi model organik ini adalah adanya keseimbangan antara faktor
manusia dengan faktor lingkungannya.
Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi pemerintah atau organisasi
sektor publik ternyata juga mengalami suatu proses perubahan yang tidak bisa dielakkan.
Sebagai cotoh, dahulu tidak seorangpun berharap pemerintah menyantuni fakir miskin,
namun sekarang sebagian besar pemerintah tidak hanya menyantuni fakir miskin tetapi
juga mengeluarkan biaya pemeliharaan kesehatan dan pensiun bagi setiap warga
negaranya. Kemudian, jika dahulu tidak ada satu pihakpun yang berharap pemerintah
menanggulangi bencana kebakaran, maka dewasa ini tidak ada pemerintahan yang tanpa
jawatan pemadam kebakaran. Disamping itu, jika dahulu pemerintah selalu menyediakan
sarana investasi untuk kelancaran kegiatan ekonomi publik maupun swasta (misalnya
penyediaan tanah untuk jalan raya, jalan kereta api, dan sebagainya), maka saat ini tidak
seorangpun memimpikan hal itu.
Dengan dilandasi oleh keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang lebih efektif,
Osborne dan Gaebler menawarkan sepuluh prinsip sebagai upaya reengineering
pemerintahan, yaitu: pemerintahan katalis (catalytic government), pemerintahan milik
rakyat (community owned government), pemerintahan yang kompetitif (competitive
government), pemerintahan yang digerakkan oleh misi (mission driven government),
pemerintahan berorientasi hasil (result oriented government), pemerintahan yang
berorientasi pelanggan (customer driven government), pemerintahan wirausaha (enterprise
government),

pemerintahan

antisipatif

(anticipatory

government),

pemerintahan

desentralisasi (decentralized government), dan pemerintahan yang berorientasi pasar


(market oriented government).

Melalui 10 prinsip tersebut, Osborne dan Gaebler yakin bahwa suatu negara akan mampu
membangkitkan kembali semangat dan energi baru bagi birokrasinya. Secara singkat, inti
ajaran yang tertuang dalam 10 prinsip tersebut adalah bagaimana menginjeksikan jiwa
kewirausahaan (entrepreneurship) ke tubuh birokrasi.
Meskipun secara konsepsional para pakar diatas telah memberikan garis-garis besar
mengenai program reformasi sektor publik, namun perlu dipahami juga bahwa aparatur
pemerintah dimasing-masing negara memiliki nuansa-nuansa yang secara kontekstual
berbeda. Oleh karena itu, implementasi prinsip-prinsip kewirausahaan birokrasi perlu kita
sikapi secara bijaksana, dalam pengertian bahwa tujuan hakiki program reformasi
sesungguhnya adalah meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk
mewirausahakan birokrasi semata-mata.
Hal ini sesuai pula dengan kekhawatiran Osborne dan Plastrik dalam bukunya Banishing
Bureaucracy (1996) yang mengemukakan adanya mitos dalam program reformasi sektor
publik. Maksudnya, jangan sampai terjadi bahwa program reformasi yang sedang
diselenggarakan ternyata tidak atau kurang membawa hasil sebagaimana yang diinginkan.
Untuk itu, maka improvisasi sumber daya manusia sektor publik perlu diupayakan secara
terus menerus dan sistematis, sehingga akan mampu melaksanakan program reformasi
secara tepat guna dan berhasil guna. Terlebih lagi jika diingat bahwa kondisi lingkungan
strategis organisasi pemerintah telah demikian berkembang, maka eksistensi dari aparatur
yang bersih dan berwibawa, handal, bermental baik, serta efektif dan efisien, jelas
merupakan keniscayaan.
Asumsi dan Urgensi Pemerintahan Wirausaha
Meskipun demikian, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa perumusan sepuluh prinsip
diatas, serta perlunya implementasi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan,
menurut Osborne dan Gaebler, didasari oleh beberapa asumsi dasar sebagai berikut:
1. Bahwa pemerintah merupakan mekanisme koordinasi dan mekanisme pengambilan
keputusan secara kolektif (state mechanism). Sebagai contoh dapat ditunjukkan
4

misalnya dalam hal pembangunan jalan raya; penanganan masalah-masalah


pengangguran, kebodohan, kemiskinan, kejahatan; serta upaya-upaya perlindungan
lingkungan, perlindungan badan dan hak milik, perlindungan polisi dan jalan raya,
pertahanan nasional, dan sebagainya.
2. Bahwa mekanisme masyarakat dan mekanisme pasar (market mechanism) tidak
akan berfungsi secara efektif tanpa pemerintahan yang efektif pula.
3. Bahwa yang menjadi masalah pokoknya bukan terletak kepada orang atau manusia
yang bekerja pada pemerintahan, melainkan sistem tempat mereka bekerja.
4. Bahwa liberalisme tradisional maupun konservatisme tradisional tidak banyak
relevansinya dengan masalah yang dihadapi pemerintah saat ini. Artinya, upaya
menciptakan birokrasi pemerintahan yang baru atau upaya swastanisasi birokrasi,
bukan merupakan pilihan yang sifatnya hitam putih atau keharusan mutlak antara
ya dan tidak. Akan tetapi makna yang tersirat dalam berbagai upaya tadi adalah
bagaimana menata ulang pemerintah agar menjadi lebih efisien.
5. Bahwa keadilan adalah untuk semua orang. Artinya, dengan menciptakan
pemerintah yang kompetitif, keadilan (distributif) masyarakat untuk memperoleh
keadilan dalam hal pelayanan umum justru akan semakin meningkat, bukan
sebaliknya.
Gagasan Osborne dan Gaebler untuk menyuntikkan semangat kewirausahaan ke sektor
publik mengambil dasar konsepsional J.B. Say (1800), yang mengatakan bahwa
kewirausahaan (entrepreneur) adalah pemindahan berbagai sumber ekonomi dari suatu
wilayah dengan produktivitas rendah ke wilayah dengan produktivitas lebih tinggi dan
hasil yang lebih besar. Dengan kata lain, seorang wirausahawan menggunakan sumber
daya dengan cara baru untuk memaksikmalkan produktivitas dan efektivitas. Disamping
itu, perlu digarisbawahi bahwa wirausaha selalu identik dengan risk taker (pengambil
resiko). Seorang wirausahawan sesungguhnya bukan penanggung resiko, melainkan
akan mencoba mendefinisikan resiko yang harus dihadapi serta menimimalkan
sebanyak mungkin resiko tersebut.
Kembali kepada latar belakang penulisan buku Reinventing Government seperti telah
disinggung pada awal bab ini, Osborne dan Gaebler menemukan data bahwa tingkat
kepercayaan masyarakat Amerika Serikat terhadap pemerintah telah berada pada titik yang
kritis. Sebagai contoh, hanya 5 % orang Amerika yang akan memilih jabatan dalam
5

pemerintahan; 13 % pegawai tinggi federal yang merekomendasikan karier pegawai


negeri; hampir tiga perempat orang Amerika menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah
mengeluarkan nilai dollar yang lebih rendah dibanding 10 tahun sebelumnya. Disamping
itu, sekitar tahun 1990-an, banyak negara-negara bagian yang mengalami defisit anggaran
yang sangat parah, serta terjadi pemberhentian ribuan pekerja. Dengan kondisi seperti itu,
masyarakat yang telah geram melihat performansi pemerintah, berubah menjadi apatis.
Meskipun demikian, masih ada harapan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan
pemerintah diatas. Harapan ini adalah munculnya lembaga-lembaga kemasyarakatan baru
yang cukup ramping, terdesentralisasi dan inovatif. Lembaga baru ini juga memiliki sifat
fleksibel, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta cepat mempelajari cara-cara
baru bila keadaan berubah. Disamping itu, lembaga ini juga memanfaatkan kompetisi,
pilihan konsumen, dan mekanisme non birokratis lainnya untuk menjalankan segala
sesuatu dengan sekreatif dan seefektif mungkin. Inilah yang bagi Osborne dan Gaebler
merupakan harapan masa depan bentuk pemerintahan yang ideal.
Sebaliknya, bentuk pemerintahan dengan sistem birokrasi yang lamban dan terpusat,
pemenuhan terhadap ketentuan dan peraturan (bukannya berorientasi misi), serta
rantai hierarkhi komando yang rigid, tidak lagi berjalan dengan baik. Artinya, konsepsi
birokrasi yang dirumuskan oleh Weber telah berbalik 180 derajat dengan tuntutan dunia
kontemporer saat ini.
Untuk waktu kurang lebih 100 tahun yang lalu, memang makna birokrasi sangat positif,
dimana birokrasi bermakna sebagai suatu metode organisasi yang rasional dan efisien. Hal
ini mengandung pengertian bahwa dengan otoritas hierarkhis dan spesialisasi fungsional
yang melekat pada dirinya, birokrasi memiliki kemungkinan untuk melaksanakan tugastugas besar dan kompleks secara efisien. Bahkan Weber menegaskan keunggulan
organisasi birokrasi sebagai berikut:
Alasan yang jelas bagi kemajuan organisasi yang birokratis selalu berupa
keunggulan teknisnya atas bentuk organisasi lain manapun . Ketepatan,
kecepatan, kejelasan .. pengurangan friksi dan biaya material maupun personal
semua ini ditingkatkan sampai titik optimum dalam pemerintahan yang sangat
birokratis.
6

Dalam prakteknya, bentuk organisasi pemerintah birokratis ini masih dapat menciptakan
efektivitas dan efisiensi hanya pada fase-fase awal dari pembentukan negara modern,
khususnya pada fase-fase dimana terjadi perang antar negara (Perang Dunia I dan II) serta
dimana kondisi sosial ekonomi maupun politik negeri tersebut masih diributkan oleh
persaingan antar suku dan perburuan ambisi pribadi atau kelompok. Namun dalam
komunitas masyarakat maju saat ini, jika sistem maupun mekanisme pemerintahan
birokratis masih dipertahankan, dapat diyakini bahwa pemerintah akan mengalami
kebangkrutan.
Untuk itu, pemerintahan birokratis perlu digiring dan diarahkan kepada bentuk
pemerintahan wirausaha, yang menurut Osborne dan Gaebler memiliki sifat-sifat sebagai
berikut:
pemerintahan wirausaha mendorong kompetisi antar pemberi jasa. Mereka
memberi wewenang kepada warga dengan mendorong adanya kontrol dari
birokrasi kedalam masyarakat. Mereka mengukur kinerja perwakilannya dengan
memusatkan pada hasil, bukan masukan. Mereka digerakkan oleh tujuannya
missi mereka bukan oleh ketentuan dan peraturan. Mereka mendefinisikan
kembali klien mereka sebagai pelanggan dan menawarkan kepada mereka banyak
pilihan. Mereka lebih suka mencegah masalah sebelum muncul, ketimbang hanya
memberi servis sesudah masalah itu muncul. Mereka mencurahkan energinya
untuk memperoleh uang, tidak hanya membelanjakannya. Mereka
mendesentralisasikan wewenang dengan menjalankan manajemen partisipasi.
Mereka lebih menyukai mekanisme pasar ketimbang mekanisme birokratis. Dan
mereka tidak hanya memfokuskan pada pengadaan perusahaan negara, tetapi juga
pada mengkatalisasi semua sektor pemerintah, swasta, dan lembaga sukarela
kedalam tindakan untuk memecahkan masalah masyarakatnya.
Pelayanan Birokrasi dan Tantangan Kewirausahaan
Fungsi utama dari eksistensi pemerintah adalah penyelenggaraan pelayanan dan
kesejahteraan masyarakat. Ini merupakan ciri utama dari bentuk negara kesejahteraan
(welfare state) yang banyak dianut oleh negara-negara di dunia dewasa ini. Oleh karena
mengemban fungsi pelayanan dan kesejahteraan, pemerintah tabu untuk mencari
keuntungan atau profit di sela-sela tugasnya tersebut. Inilah sebabnya, dalam
penyelenggaraan

tugas-tugas

umum pemerintahan

maupun tugas

pembangunan,

pemerintah telah memiliki input-input atau sumber daya manajemen yang permanen
sifatnya. Sebagai contoh, ketersediaan anggaran yang ditetapkan setiap tahunnya, akan

dapat memenuhi kebutuhan untuk gaji pegawai negeri, belanja barang dan mesin-mesin,
serta biaya operasional dari kegiatan yang dilakukan.
Akan tetapi perlu diingat bahwa ketersediaan dan pertambahan sumber daya bagi
pemerintah sangatlah terbatas, dibandingkan dengan peningkatan tuntutan pelayanan
masyarakat yang makin variatif dan disertai dengan standar kualitatif. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan jika akhir-akhir ini banyak sekali berkembang pemikiran para
pakar yang menghendaki adanya perubahan orientasi pemerintahan yang lebih
menekankan

kepada

fungsi-fungsi

katalisasi,

antisipasi,

demokratisasi

maupun

desentralisasi. Hal ini didasarkan pada suatu fakta empiris bahwa disatu pihak proses
pembangunan selama ini telah berhasil meningkatkan tingkat kesejahteraan dan
pendidikan masyarakat; dan dipihak lain mendorong pula terbentuknya suatu masyarakat
modern yang berpandangan kritis dengan berbagai macam tuntutan baru yang
menyertainya. Kondisi seperti ini jelas merupakan kebanggaan nasional, sekaligus sebagai
bukti bahwa strategi pembangunan yang ditempuh selama ini telah mencapai sasarannya.
Meskipun demikian, kondisi tersebut juga menjadi tantangan yang sangat berat bagi
aparatur pemerintah untuk selalu mengimbangi kemajuan masyarakat yang begitu pesat.
Dengan demikian jelaslah bahwa adanya perubahan orientasi fungsi pemerintahan tadi,
pada dasarnya bertujuan untuk menekan sekecil mungkin terjadinya kesenjangan antara
tuntutan pelayanan masyarakat dengan kemampuan aparatur pemerintah untuk
memenuhinya. Atau dapat dikatakan pula bahwa program reformasi sektor publik pada
akhinya diharapkan dapat menghasilkan output akhir berupa peningkatan kinerja
pelayanan umum (public service).
Tuntutan adanya peran baru pemerintah diatas sesungguhnya merupakan gejala yang
wajar, mengingat bahwa sarana dan prasarana (sumber daya) yang dimiliki oleh
pemerintah sangat terbatas. Sementara itu, keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana
tidak dapat dijadikan sebagai alasan pembenar tentang rendahnya kualitas pelayanan
kepada masyarakat. Dalam konteks seperti inilah, maka setiap jajaran aparatur perlu
berpikir dan mencari alternatif terbaik bagaimana mengatasi kendala yang ada tanpa
mengurangi makna dan hakikat pelayanannya. Ini berarti juga bahwa pemerintah harus
mampu menciptakan nilai-nilai baru (value creating) dalam rangka pelayanan kepada
8

masyarakat, atau memberikan nilai tambah (added value) terhadap jasa pelayanan yang
telah ada sebelumnya. Strategi seperti inilah yang antara lain disarankan oleh Ikujiro
Nonaka dan Takeuchi (1996), yang disebut dengan Value Creation Management.
Disamping perkembangan dinamika kemasyarakatan, pemerintah juga dihadapkan kepada
tantangan pertumbuhan sektor swasta yang makin memiliki daya saing unggul.
Konsekuensinya, pemerintah perlu meningkatkan daya siangnya agar masyarakat tidak
berpaling kepada swasta dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan umumnya. Atau,
kemandirian dan kemampuan yang handal dari pemerintah merupakan syarat tetap
terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah untuk memenuhi segala
kebutuhan pelayanan umumnya. Jika hal ini terjadi, maka terbuktilah kekhawatiran kita
tentang kebangkrutan birokrasi.
Dalam rangka membentuk kemandirian pemerintah pada seluruh aspeknya, sekaligus
meningkatkan kualitas pelayanannya kepada masyarakat inilah, maka pemerintah perlu
memiliki semangat kewirausahaan (entrepreneurship). Jadi, jiwa wirausaha semula hanya
dimiliki oleh sekelompok pengusaha yang tidak memiliki fasilitas-fasilitas tertentu, tetapi
ingin memperoleh hasil maksimal dari usahanya. Oleh karenanya, logis jika aparatur
kurang memiliki semangat ini karena dalam penyelenggaraan tugas-tugasnya telah tersedia
berbagai fasilitas pendukung terutama dari segi anggaran atau budget. Mengingat
perbedaan yang cukup mendasar antara organisasi publik yang bersifat nirlaba dengan
organisasi privat yang mencari laba inilah, maka organisasi pemerintah perlu pula
menerapkan cara kerja atau manajemen seperti yang dianut oleh organisasi sektor privat.
Dengan kata lain, jiwa wirausaha ini sesungguhnya lebih banyak dipunyai oleh swasta dari
pada kalangan pemerintahan, sehingga transformasi semangat kewirausahaan dapat
dikatakan pula sebagai mengelola sektor publik sebagaimana halnya mengelola suatu
usaha swasta atau perusahaan.
Dalam hubungan ini, kasus penetapan suatu unit kerja pemerintah sebagai unit swadana
(berdasarkan Keppres Nomor 38/1991) dapat dikategorikan sebagai terobosan yang sangat
penting dalam perspektif ilmu administrasi negara. Artinya, prinsip pemerintahan
wirausaha diinjeksikan atau diinduksikan kepada unit swadana, sehingga unit kerja ini

akan memperoleh manfaat berupa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari kegitan
pelayanan yang diselenggarakannya.
Penetapan unit kerja pemerintah sebagai unit swadana dikatakan merupakan terobosan
penting, sebab dewasa ini pilihan jasa kepada masyarakat semakin beragam dan tidak lagi
dikuasai oleh unit-unit pelayanan jasa pemerintah secara monopolistik, melainkan telah
tumbuh organisasi pelayanan swasta sebagai pesaing atau kompetitor sektor publik. Iklim
persaingan ini tentu saja merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi unit swadana
untuk bertahan hidup. Dikatakan sebagai peluang karena unit swadana dengan berbagai
fasilitas yang ada padanya memiliki potensi untuk berkembang; sementara dikatakan
sebagai

tantangan

karena

apabila

unit

swadana

tidak

mampu

meningkatkan

profesionalisme kerjanya, maka ia akan ditinggalkan oleh para pelanggan atau pemakai
jasanya.

Pengertian, Ruang Lingkup, dan Karakteristik Kewirausahaan


Pengertian entrepreneur (kewirausahaan) menurut Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis dan
Manajemen (1992: 472 473) adalah pengusaha yang mampu melihat peluang, mencari
dana serta sumber daya lain yang diperlukan untuk menggarap peluang tersebut, dan
berani menanggung resiko yang berkaitan dengan pelaksanaannya. Istilah ini sendiri
berasal dari bahasa Perancis entreprende yang berarti mengejar peluang, mengisi
kebutuhan melalui inovasi dan menjalankan usaha.
Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Richard Cantillon dalam bukunya yang
berjudul Essai sur la Nature du Commerce en General (1755), yang menyatakan bahwa
entrepreneur / kewirausahaan adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli
barang dengan harga tertentu dan menjualnya dengan harga yang belum pasti. Dalam
pengertian Cantillon ini, karakteristik utama wirausaha adalah keberaniannya
mengambil resiko, perannya mengambil keputusan untuk mendapatkan dan
menggunakan sumber daya, kegiatannya mencari peluang yang terbaik untuk
menggunakan sumber daya agar memperoleh hasil yang terbesar.

10

Dalam bahasa Jerman, kata entrepreneur adalah unternehmer dan kata bahasa Inggris yang
paling mendekati maknanya dipandang dari sudut sejarah berasal dari kata projector
yang diartikan sebagai yang membuat proyek dimasa mendatang yang menanggung
resiko dalam pernyataannya.
Dengan demikian para pembuat teori ekonomi dan para penulis pada masa ini sepakat
bahwa entrepreneur ialah mereka yang memulai sebuah usaha baru dan yang berani
menanggung segala macam resiko, serta mereka yang mendapatkan keuntungannya. Pada
tahap selanjutnya, penggunaan istilah entrepreneur makin populer sekitar tahun 1800 yang
digunakan untuk menggambarkan pengusaha-pengusaha yang mampu memindahkan
sumber-sumber ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas yang
lebih tinggi, dan yang menghasilkan lebih banyak. Dalam hal ini, entrepreneur memiliki
fungsi dalam arti luas yang menekankan pada fungsi penggabungan faktor-faktor produksi
dan perlengkapan manajemen yang kontinyu disamping sebagai penanggung resiko.
Selanjutnya mengenai pengertian entrepreneur ini, Adam Smith (1776) berpendapat
bahwa wirausaha adalah pembangunan organisasi untuk kepentingan komersial. Dalam
pandangan dia, seorang wirausaha adalah seorang industrialis. Wirausaha adalah orang
yang luar biasa dalam hal penglihatannya ke masa depan, mampu mengenali
kebutuhan/permintaan atas barang atau jasa. Wirausaha bereaksi atas perubahan ekonomi,
seorang pelaku perubahan ekonomi yang mengadakan transpormasi permintaan menjadi
penawaran (penyediaan barang /jasa).
Dari berbagai definisi yang diungkapkan para pakar manajemen bisnis dan administrasi
negara, dapat disajikan mengenai wirausaha dan atau kewirausahaan sebagai berikut:

Wirausaha adalah seseorang yang memiliki seni dan ketrampilan untuk


menciptakan perusahaan, yang memiliki penglihatan atas kebutuhan masyarakat
dan mampu memenuhinya (Jean Baptiste Say, 1803).

Wirausaha adalah pencipta bisnis. Pengertian ini diperluas dengan aspek


kepemilikan bisnis tersebut diwaktu selanjutnya (John Stuart Mill, 1848).

11

Wirausaha

melakukan

perusakan

kreatif

(creative

destruction)

dengan

menciptakan cara yang baru dan lebih baik. Wirausaha adalah orang yang
menciptakan cara baru dalam mengorganisasikan proses produksi. Jadi Wirausaha
adalah seorang inovator produksi. Inovasi inilah yang menjadi inti dari ekonomi
modern. Wirausaha tidak harus seorang inventor (penemu). Wirausaha tidak harus
seorang kapitalis. Wirausaha tidak sama perannya dengan manajer. Kewirausahaan
adalah suatu proses. Kewirausahaan tidak dapat diwariskan seperti halnya harta
(Joseph Schumpeter, tulisan antara 1911 s.d. 1950).

Wirausaha adalah mereka yang gagal menempuh tangga peran atau jabatan yang
tradisional di masyarakat. Untuk itu ia menyalurkan kreativitasnya dengan
menciptakan perusahaan yang unik miliknya. Wirausaha mengorganisir bisnis baru
yang sebelumnya tidak ada (Orvis Collins dan David Moore, 1964).

Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki dorongan, ambisi, energi dan
motivasi untuk memberi suatu usaha kecil dobrakan kuat yang diperlukan untuk
berhasil (Robinson, 1966).

Wirausaha selalu mencari perubahan, menanggapinya, dan memanfaatkannya


sebagai suatu kesempatan. Para wirausaha melihat suatu perubahan sebagai suatu
norma hidup atau tingkah laku standard, dan suatu yang sehat. Kewirausahaan
tidak hanya di perusahaan swasta yang beroientasi mencari laba, melainkan di
lembaga

nirlaba

dan

pemerintahan.

Masih

banyak

lagi

upaya

untuk

mendeskripsikan siapa itu wirausaha, dimaman ada yang sangat semmpit


pengertiannya, misalnya hanya yang mendirikan usaha bisnis baru dan ada yang
sangat luas, misalnya siapa saja yang melakukan inovasi. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa dalam membicarakan wirausaha dan kewirausahaan, harus
lebih dahulu ditetapkan apa yang kita maksud dengan kata tersebut (Peter
Drucker, 1985).

Entrepreneurship adalah proses dinamik untuk menciptakan kekayaan inkremental


(incremental wealth), dimana kekayaan tersebut diciptakan oleh individu-individu
yang menghadapi resiko besar sehubungan dengan modal, waktu dan / atau

12

komitmen karir atau yang memberikan nilai bagi produk atau jasa tertentu
(Ronstandt, dalam Winardi, 1995: 4)

Entrepreneurship is the process of creating something different with value by


devoting the necessary time and effort assuming the accompanying financial,
physic and social risks, and receiving the resulting reward of monetary and
personal satisfaction (Winardi).

Dari pengertian-pengertian diatas, dapat ditemukan beberapa karakteristik utama


entrepreneur seperti dikemukakan oleh Burch (1986: 28-29) sebagai berikut:

Dorongan berprestasi, dalam arti bahwa semua entrepreneur yang berhasil,


memiliki keinginan besar untuk mencapai suatu prestasi.

Bekerja keras, dalam arti bahwa sebagian besar entrepreneur mabuk kera demi
mencapai sasaran yang ingin dicapai.

Memperhatikan kualitas, dalam arti bahwa entrepreneur manangani dan mengawasi


sendiri bisnisnya sampai mandiri, sebelum iamuali dengan usaha yang baru.

Sangat bertanggungjawab, dalam arti bahwa entrepreneur secara legal, moral


maupun mental sangat bertanggungjawab atas usaha mereka.

Berorientasi pada imbalan, dalam arti bahwa entrepreneur mau menunjukkan


prestasi, kera keras dan bertanggungjawab, dan mereka mengharapkan imbalan
yang sepadan dengan usahanya. Imbalan ini tidak hanya berupa uang, tetapi juga
pengakuan dan penghormatan.

Optimis, dalam arti bahwa entrepreneur hidup dengan doktrin semua waktu baik
untuk berbisnis, dan segala sesuatu adalah mungkin.

13

Berorientasi pada pada hasil karya yang baik (excellent oriented), dalam arti bahwa
entrepreneur seringkali ingin mencapai sukses yang menonjol dan menuntut segala
yang first class.

Mampu mengorganisasikan, dalam arti bahwa entrepreneur mampu memadukan


bagian-bagian dari usahanya dalam rangka mencapai hasil maksimal bagi
usahanya, mereka umumnya diakui sebagai komandan yang berhasil.

Berorientasi pada uang, dalam arti bahwa entrepreneur mengear uang tidak
semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan pengembangan usahanya
saja, tetapi juga dilihat sebagai ukuran prestasi kerja dan keberhasilan.

Dalam hal pembahasan mengenai karakteristik kewirausahaan ini, V. Winarto (1997)


menyebutkan bahwa sama nasibnya dengan mencari kesepakatan tentang pengertian
wirausaha, upaya mencari karakteristik wirausaha menghasilkan banyak variasi
karakteristik. Misalnya Rao menghasilkan daftar karakteristik pribadi wirausaha
(Personality Charecteristics of Entrepreneurs) sebanyak 57 karakteristik. Yang lebih
membuat sulit menemukan suatu kesepakatan karakteristik wirausaha adalah adanya
kenyataan sebagai berikut:

Wirausaha yang berhasil tidak selalu mempunyai semua karakteristik yang

disebutkan pelbagai ahli.


Karakteristik yang disebut sebagai karakteristik wirausaha juga dimiliki oleh bukan
wirausaha bisnis, misalnya dimiliki oleh seorang guru besar, peneliti ahli atau
wiraniaga (salesman) jagoan.

Salah satu pengupaya pencarian karakteristik pribadi wirausaha yang terkenal adalah
David McCleland. Disimpulkan bahwa ada korelasi yang positif antara tingkah laku
orang yang memiliki motuf prestasi (need for achievement) tinggi dan tingkah laku
wirausaha. Karakteristik orang dengan motif prestasi yang tinggi adalah:

14

Memilih resiko moderat, dalam arti bahwa dalam tindakannya dia memilih
melakukan sesuatu yang ada tantangannya, namun dengan kemungkinan

keberhasilan yang dianggapnya cukup tinggi.


Mau mengambil tanggung-jawab pribadi, dalam arti bahwa kegagalan yang

terjadi tidak dialihkan tanggung jawabnya pada kambing hitam.


Mencari dan mau menerima umpan balik.
Berusaha mencari cara-cara baru untuk melakukan sesuatu.

Upaya untuk mengungkapkan karakteristik utama wirausaha juga dilakukan oleh para ahli
dengan menggunakan teori letak kendali (locus of control) yang diketengahkan oleh J.B.
Rotter. Teori letak kendali menggambarkan bagaimana meletakkan sebab dari suatu
kejadiaan dalam hidupnya. Apakah sebab kejadiaan tersebut oleh faktor dalam dirinya dan
dalam lingkup kendalinya, atau faktor di luar kendalinya.
Rotter membuat dua kategori letak kendali, yaitu internal dan eksternal. Pada orang yang
letak kendalinya eksternal akan beranggapan keberhasilan tidak semata tergantung pada
usaha seseorang, melainkan juga oleh keberuntungan, nasib, atau ketergantungan pada
pihak lain, karena adanya kekuatan besar disekeliling seseorang. Pada orang internal, yang
bersangkutan beranggapan bahwa dirinya mempunyai kendali atas apa yang akan
dicapainya. Karakteristik tipe internal sejalan dengan karakteristik wirausaha, misalnya
lebih cepat mau menerima pembaharuan (inovasi).
Management Systems International menyebutkan karakteristik pribadi wirausaha
(personal entrepeneraurial charactheristics) sebagai berikut:

Mencari peluang (opportunity seeking)


Keuletan (persistence )
Tanggung Jawab terhadap pekerjaan (commitment to the work contract )
Tuntutan atas kualitas dan efisisensi (demand for quality and efficency )
Pengambilan resiko (risk taking )
Menetapkan sasaran (goal setting )
Mencari informasi (information seeking )
Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya (systematic planning and

monitoring )
Persuasi dan jejaring / koneksi (persuasion and networking).
Percaya diri (self confidence).
Kecenderungan untuk berkreasi (creativity).

15

Sementara itu Dalam praktek kehidupan bisnis, Danhof sebagaimana dikutip Winardi
menyajikan empat tipe entrepreneurship sebagai berikut:
1)

Innovating Entrepreneurship
Ia dicirikan oleh pengumpulan informasi secara agresif dan analisis hasil-hasil
yang diperoleh melalui kombinasi baru faktor-faktor produksi. Orang-orang dalam
kelompok ini seringkali bersifat agresif dalam aktivitas eksperimentasi dan mereka
sangat giat untuk mempraktekkan kemungkinan-kemungkinan yang atraktif.

2)

Imitative Entrepreneurship
Ia dicirikan oleh kesediaan untuk meniru inovasi-inovasi yang berhasil yang
dilaksanakan oleh para innovating entrepreneurs.

3)

Fabian Entrepreneurship
Ia dicirikan oleh sikap hati-hati berlebihan dan skeptisisme (mungkin tak lain dari
inersin) yang hanya akan melakukan imitasi apabila jelas sekali terlihat bahwa
apabila tindakan peniruan tersebut tidak dilakukan, hal itu akan menyebabkan
kerugian dalam posisi relatif perusahaan yang bersangkutan.

4)

Drone Entrepreneurship
Ia dicirikan oleh sikap menolak peluang-peluang untuk mengadakan perubahanperubahan dalam rumus produksi, sekalipun sikap demikian akan menyebabkan
hasil perusahaan yang bersangkutan merosot dibandingkan dengan hasil yang
diraih produsen-produsen lain.

Perilaku entrepreneur berkaitan erat dengan konsep kebutuhan untuk berprestasi


(achievement motive) yaitu bahwa manusia ingin mengembangkan dirinya sesuai dengan
potensi yang ada pada dirinya. Motif pengembangan diri ini muncul dalam bentuk
umpamanya kebutuhan untuk menjadi seseorang yang kompeten dan berhasil.
Dalam perspektif yang lebih sempit, seorang entrepreneur mengorganisasikan dan
mengoperasikan sebuah perusahaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia membayar
harga-harga yang berlaku untuk bahan-bahan yang dikonsumsi di dalam perusahaannya
untuk penggunaan tanah, jasa-jasa pribadi yang dimanfaatkannya dan untuk modal yang
digunakan olehnya. Selanjutnya pada pertengahan abad ke-20 muncul pandangan seorang
16

entrepreneur sebagai inovator sebagaimana dikatakan Schumpeter (dalam Winardi, 1995:


3) sebagai berikut:
fungsi para entrepreneur adalah mengubah atau merevolusionerkan pola
produksi dengan jalan memanfaatkan sebuah penemuan baru (invention) atau
secara lebih umum sebuah kemungkinan teknologikal untuk memproduksi sebuah
komoditi baru atau memproduksi sebuah komoditi lama dengan cara baru,
membuka sebuah sumber baru supali bahan-bahan atau suatu penyaluran baru
bagi produk-produk atau mereorganisasi sebuah industri baru ..
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa entrepreneur dan entrepreneurship sangat erat
kaitannya dengan proses inovasi dalam organisasi. Inovasi tersebut dapat berupa
penghematan modal (capital saving), penghematan tenaga kerja (labor saving) atau
bersifat netral yang dipandang dari kedua macam input tersebut. Oleh karena itu,
entrepreneurial tidak hanya dibutuhkan di organisasi-organisasi bisnis, tetapi juga di
organisasi pemerintah, khususnya lembaga-lembaga pelayan masyarakat. Termasuk
organisasi yang memerlukan semangat entrepreneurial adalah unit-unit kerja yang
memperoleh pelimpahan wewenang untuk menyelenggarakan pelayanan jasa tertentu. Hal
ini diperkuat oleh pernyataan Drucker (1988: 192) bahwa:
.. lembaga pelayanan masyarakat seperti kantor pemerintah, serikat buruh,
universitas, gereja, begitu juga sekolah, rumah sakit, organisasi masyarakat dan
soaial, asosiasi profesi dan perdagangan atau sejenisnya, perlu menjadi
wiraswasta dan inovatif, sebagaimana halnya lembaga bisnis. Tidak disangsikan
lagi, mereka mungkin bahkan lebih memerlukannya. Perubahan yang pesat dalam
masyarakat kita sekarang ini, dalam bidang teknologi ataupun dalam bidang
perekonomian merupakan ancaman yang semakin besar terhadap lembaga
tersebut, namun juga merupakan peluang yang semakin besar pula ".
Suatu pemerintahan yang menerapkan prinsip entrepreneurship merefleksikan adanya
manajemen pemerintah yang selalu mencari cara-cara yang efektif dan efisien, bersedia
meninggalkan program dan proyek yang sudah kadaluwarsa, bersifat inovatif, kreatif, serta
berani mengambil resiko meskipun tidak berarti harus selalu terdapat resiko. Namun
demikian, satu hal yang perlu ditekankan disini adalah, meskipun lembaga pelayanan
publik (pemerintah) lebih dibatasi oleh tugas-tugas suci untuk kepentingan umum, namun
semangat dan jiwa kewirausahaan tetap diperlukan guna mengoptimalkan produktivitas
kerja karyawan dan organisasi, sekaligus meminimalisir inefisiensi dalam organisasi.

17

Mitos Dalam Kewirausahaan


Kewirausahaan sebagai suatu konsep yang relatif baru masih sering dimengerti kurang
tepat di masyarakat. Berikut ini daftar mitos kewirausahaan yang dikumpulkan oleh
Michel Robert dan Alan Weiss, dan sejumlah bukti yang dikumpulkan dari pelbagai
sumber yang menentang mitos tersebut (Winarto, 1997). Mitos disini dimaksudkan bahwa
hal-hal tersebut sering dipersepsikan ada keterkaitan dengan kewirausahaan, padahal
sesungguhnya tidak seperti yang dipersepsikan tersebut. Beberapa mitos yang
berhubungan dengan masalah kewirausahaan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.

Wirausaha adalah pengambil resiko besar. Wirausaha bukan pengambil resiko


besar, melainkan seorang yang menghitung resiko yang akan diambilnya.
Tantangan ada namun dengan upaya akan dapat dicapai. Dan wirausaha bijaksana

2.

dalam memilih resiko, ia bukan pejudi.


Wirausaha adalah pemilik usaha, bukan pegawai. Yang mengubah restoran fastfood Mc.Donalds menjadi raja dibidang franchising adalah Ray Kroc, pimpinan
perusahaan, dan bukan pemiliknya yaitu McDonald bersaudara. Dan Intrepreneur

3.

di dalam perusahaan bukanlah pemilik.


Inovasi hanya di perusahaan kecil. Inovasi dilakukan dengan keterampilan atau
keahlian dan bukan pembawaan atau milik budaya tertentu ia dilakukan dimanamana. Dan Musuh inovasi adalah birokrasi yang terdapat di perusahaan besar dan

4.

kecil.
Inovasi adalah gagasan besar. Sebagaian keberhasilan besara dimulai dari gagasan
baru yang sederhana misalnya walkman muncul sebagai produk baru yang
sukses berasal dari keinginan tetap mendengar musik secara pribadi selagi main

5.

tenis.
Wirausaha adalah pencetus gagasan saja, dalam arti bahwa seorang inovator

6.

terjun langsung menerapan gagasannya.


Wirausaha menyediakan sarananya, termasuk modal sendiri. Ini berarti bahwa
wirausaha tida sama dengan kapitalis, dan bahwa wirausaha menggunakan sarana

7.

yang ada dengan cara baru.


Inovasi datang mencuat bagai kilat dari seorang genius. Ray Kroc
memperbaharui bisnis hamburer dengan mengadakan pengamatan terus menerus
atas restoran Mc.Donalds. Selain itu, Fred Smith menghasilkan undergraduate
thesis model distribusi barang kiriman kecil (parcel).

18

8.

Wirausaha dilahirkan dan kewirausahaan tidak dapat dilatihkan. Ini berarti bahwa
seperti keterampilan dokter atau pengacara, keterampilan kewirausahaan dapat
dilatihkan dan dikembangkan. Dalam konteks seperti inilah, maka diklat-diklat
kewirausahaan seperti yang sedang diselenggarakan ini menjadi sangat penting
sebagai wahana mencetak tenaga-tenaga profesional dan berorientasi kepada
pencapaian kinerja dan produktivitas organisasi.

Kewirausahaan dan Peran Manajer


Dari beberapa paparan yang telah disajikan diatas dapatlah disimpulkan bahwa tuntutan
kedepan untuk menghadapi globalisasi bagi organisasi adalah bagaimana menginjeksikan
semangat kewirausahaan kedalam dirinya. Otomatis hal ini mengandung implikasi bahwa
para pegawai yang tergabung dalam organisasi tersebut (terutama para manajernya), perlu
menguasai benar praktek-praktek kewirausahaan guna meningkatkan kinerja dan
produktivitas organisasi.
Sebagaimana dikatakan Winarto (1997), peran wirausaha pendiri adalah melahirkan suatu
organisasi baru, baik sendiri maupun bersama suatu kelompok. Setelah lahir maka
wirausaha pendiri melakukan upaya pengembangan organisasi hingga sampai suatu titik
dimana diharapkan organisasi tidak lagi tergantung pada si pendiri. Dalam perjalanan
organisasi diperlukan manajemen yang akan menguatkan organisasi dengan sistem
manajemen dan mengurangi, ketidak pastian dan ketergantungan pada faktor subjectivitas
manusia, khususnya subjektivitas pendiri. Ketergantungan pada orang diganti dengan
ketergantungan pada sistem dan prosedur yang berlaku bagi siapapun juga secara seragam.
Dalam era sekarang ini pelbagai upaya telah dilakukan, khususnya di perusahaan besar,
untuk mengembangkan sistem dan budaya organisasi yang dapat menampung: manajemen
yang baik dan juga adanya kewirausahaan. Hal ini tidak mudah, namun cukup penting
untuk diperhatikan. Salah satu pola yang ada untuk menampung kewirausahaan di dalam
organisasi mapan adalah adanya wirausaha-intra (intrapreneurs). Pengembangan
kewirausahaan di dalam perusahaan dapat terjadi pada tiga tingkatan, yaitu:

19

Individu (intrapreneurs / product champions)


Kelompok kerja (entrepreneurs team / skunkworkas)
Organisasi / Perusahaan (entrepreneurial organization)

Selanjutnya Winarto mengemukakan bahwa suatu organisasi yang mapan cenderung


mengikuti karakteristik suatu birokrasi yang baik, yaitu effisien dan kepastian. Untuk itu
menekankan adanya peran formal, peraturan, pembagian kerja, spesialisasi, dan hirarki.
Hal ini dapat dianalogikan bagai suatu kapal di lautan yang makin besar kapal tersebut
makin kompleks perannya, peraturannya, pembagian kerjanya, spesialisasinya dan
panjangnya tingkat hirarki. Kapal tersebut akan lamban dalam gerakan mengubah haluan
untuk menyesuaikan dengan situasi.
Organisasi besar yang berwirausahaan akan mengubah dirinya tidak lagi sebagai satu kapal
besar, melainkan sebagai suatu armada yang terdiri dari banyak kapal. Walaupun
mempunyai manajemen yang rapi, misalnya sasaran atau tujuan yang sama dan aturan
main yang disepakati, namun masing-masing kapal masih lincah menyesuaikan dengan
lingkungan masing-masing.
Menjadi wirausaha intra (intrapreneur) tidak dapat ditunjuk, atau ditugaskan pada
seseorang. Franck de Chambeau dan Shays menyatakan hindari menunjuk seseorang
menjadi intrapreneur atau melakukan inovasi? Dalam kaitan ini, muncul dan berperannya
wirausaha intra di suatu organisasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Kebijakan organisasi
untuk memberi kesempatan adanya sponsor di dalam organisasi. Sponsor adalah seseorang
yang mempunyai kekuasaan yang tugas utamanya adalah melindungi intrapreneur dari
cengkeraman birokrasi, adalah beberapa faktor yang dapat ditunjukkan sebagai contoh.
Kemudian dengan mengutip pendapat Pinchot, Winarto menggambarkan empat pemeran
utama dalam organisasi yang berwirausahaan sebagai berikut:
1. Inventor, mengembangkan gagasan baru; khususnya dalam bidang keteknikan
(engineering). Hasil invensinya dapat diwujudkan dalam bentuk paten.
2. Intrapreneur, mengembangkan gagasan baru yang layak untuk diterapkan menjadi
kesempatan usaha. Memastikan bahwa gagasan tersebut dimasyarakatkan.

20

3. Sponsor, yaitu seseorang yang mempunyai kedudukan di organisasi, yang


mendampingi proses inovasi. Salah satu peran utamanya adalah memastikan bahwa
hambatan birokrasi dapat dikurangi.
4. Protektor, yaitu seseorang yang mempunyai kedudukan di puncak organisasi. Tidak
sangat intim dengan intrapreneur, namun mau mendengar keluhan para
intrapreneur.
Apabila semangat kewirausahaan telah dimiliki oleh para karyawan dari suatu otganisasi
(terutama para manajernya), maka pada tahap berikutnya adalah menetapkan suatu agenda
bagaimana mengembangkan organisasi yang berkewirausahaan. Dengan kata lain, adanya
manajer yang memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi merupakan conditio sine qua
non bagi terbentuknya organisasi yang berkewirausahaan.
Adapun untuk mengembangkan organisasi yang berkewirausahaan ini, Winarto
memberikan beberapa ilustrasi dan kiat-kiat sebagai berikut.
Ia memulai dasar pemikirannya dari adanya fenomena tentang kesuksesan suatu
organisasi di masa lalu. Organisasi macam ini, biasanya akan mempunyai
struktur, sistem dan budaya yang cenderung mempertahankan kemapanan dan
formula suksesnya. Ungkapan yang dipakai bagi organisasi ini adalah bagai
seekor gajah yang sulit bergerak lincah. Mengembangkan organisasi mapan
menjadi organisasi yang lincah, mampu menangkap kesempatan usaha baru,
adalah seperti mengajar seekor gajah menari. Kesuksesan dapat mengikat
organisasi ke masa lalu. Komentar atau evaluasi dengan kata-kata: berdasarkan
pengalaman kita, telah menutup kemungkinan cara baru untuk menghadapi
konteks usaha baru.
Bagaimana

memulai

menumbuhkan

organisai

mapan

menjadi

organisasi

yang

berkewirausahaan? Langkah awal adalah memulainya dari pimpinan puncak. Dari


pengamatan atas organisasi yang sukses melepaskan ikatan masa lalunya, misalnya SAS,
American Express, Chrysler, IBM, Telkom, Tambang Timah, momentum perubahannya
dimulai dari atas.
Apa yang sebaiknya ditinjau ulang di organisasi yang ingin mengadopsi orientasi
kewirausahaan? Salah satu pendekatan adalah dengan mengaadopsi teori 7S Mc Kinsey,
yang terdiri dari Structure, System, Strategy, Staff, Skills, Style, Shared values. Manakah

21

dari ketujuh S tersebut yang perlu dibuat lebih mampu mendukung orientasi organisasi
untuk berinovasi?
Dalam hal ini perlu dipahami bahwa aspek System, meliputi suatu sistem kerja dan sistem
informasi dalam organisasi harus dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan hubungan
kerja, cepat dan benar. Kemudian Strategy, yaitu suatu rencana yang dipergunakan untuk
mencapai sasaran tertentu yang telah ditentukan. Rencana ini harus disusun secara
bertahap sedemikian rupa sehingga menunjang tercapainya tujuan organisasi. Structure,
yaitu bahwa untuk mencapai suatu tujuan organisasi, diperlukan adanya struktur organisasi
yang dapat diijabarkan kedalam tugas-tugas fungsionalnya. Staff, yaitu bahwa untuk
mencapai tujuan organisasi, perlu didukung oleh staf/personil yang benar-benar sesuai
dengan kebutuhan melalui rekrutasi (recrutment) yang baik. Style, yaitu tingkah laku atau
gaya dari pimpinan dalam menggerakkan personilnya guna mencapai sasaran dan tujuan
organisasi. Pimpinan harus dapat memberikan motivasi kepada bawahannya dengan
memberikan reward kepada yang berprestasi, dan memberikan punishment kepada yang
bersalah. Skill, bahwa dalam menjalankan organisasi perlu adanya kecakapan dan
kemampuan dari anggotanya. Adapun Share value / superordinate goals, artinya bahwa ke6 aspek diatas pada akhirnya difokuskan kepada superordinate goals, atau tujuan
organisasi yang lebih tinggi.
Selanjutnya Winarto juga menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkat inovatifnya suatu
organisasi dapat dilakukan audit: jumlah dari kategori produk barunya. Konsultan Bush,
Allen dan Hamilton mengkategorikan produk baru menjadi enam, mulai dari baru dengan
maksud untuk mengurangi biaya sampai dengan baru untuk dunia. Penelitian tentang
jumlah dan kategori inovasi produk baru perusahaan atau unit usaha dapat dibandingkan
dari tahun ke tahun maupun dengan tingkat inovasi di industri atau di suatu negara.
Dari pengamatan yang dilakukan oleh siswa program MM di Sekolah Tinggi Manajemen
PPM, umumnya perusahaan di Indonesia masih pada taraf low atau moderate dalam
tingkat inovasinya. Mengingat kondisi seperti ini, maka penerapan semangat
kewirausahaan bagi para manajer di Indonesia (sektor privat dan khususnya sektor publik),
serta pembentukan organisasi yang berkewirausahaan, hendaknya benar-benar dipikirkan
implementasinya untuk memacu kinerjanya masing-masing.
22

BAB II
PEMBAHASAN
STRATEGI BANISHING BUREAUCRACY DALAM PRINSIP REINVENTING
GOVERNMENT
Prinsip-prinsip reinventing government sebagaimana dikemukakan oleh Osborne dan
Gaebler pada hakekatnya masih merupakan suatu deskripsi yang belum begitu konkrit,
yang dirumuskan dari hasil-hasil pengamatan terhadap kinerja berbagai organisasi
pemerintahan. Oleh karena itu, reinventing government ini belum memberikan strategistrategi yang lebih praktis dan aplikatif. Sebagai kelanjutan dari gagasan reinventing
government

sekaligus

untuk

memberikan

langkah-langkah

atau

strategi

untuk

mengimplementasikannya, maka terbitlah buku berjudul Banishing Bureaucracy ini.


Strategi-strategi yang dirumuskan dalam buku tersebut sesungguhnya memiliki latar
belakang dari adanya kegagalan-kegagalan dari berbagai program reformasi atau
revitalisasi administrasi pemerintahan di berbagai negara. Kegagalan program reformasi
yang jauh dari harapan ini kemudian sering disebut sebagai mitos. Dalam kaitan ini,
terdapat lima mitos yang berhubungan dengan program reformasi sektor publik, yakni
mitos liberal, mitos konservatif, mitos bisnis, mitos pekerja, dan mitos masyarakat
(Osborne and Plastrik, 1997 : 13).
Mitos liberal (the liberal myth) beranggapan bahwa pemerintah dapat ditingkatkan kinerja
atau produktivitasnya dengan cara lebih banyak membelanjakan dan lebih banyak
mengerjakan (spending more and doing more). Dalam kenyataannya, pemakaian uang atau
anggaran yang lebih banyak tidak selalu membawa hasil yang lebih baik. Sedangkan mitos
konservatif (the conservative myth) merupakan kebalikan dari mitos liberal, yang
23

beranggapan bahwa pemerintah yang lebih baik adalah yang sedikit berbuat dan sedikit
mengeluarkan biaya (spending less and doing less). Namun dalam prakteknya, hal ini tidak
mampu meningkatkan performansi pemerintah, meskipun disisi lain dapat meningkatkan
tabungan.
Selanjutnya menurut mitos bisnis (the business myth), pemerintah dapat ditingkatkan
kemampuannya dengan cara mengelola pemerintah seperti perusahaan (running
government like a business). Realitasnya, meskipun metafora bisnis dan manajemen
teknologi memberi kontribusi positif, tetapi nyatanya terdapat perbedaann yang kritis
antara sektor privat dengan sektor publik. Kemudian menurut mitos pekerja (the
employee myth), para pekerja publik akan dapat memperbaiki kinerjanya jika memiliki
sumber keuangan yang memadai. Akan tetapi kita harus mencari sumber keuangan yang
lain jika kita menginginkan hasil yang berbeda. Dan terakhir, mitos masyarakat (the
people myth) berpandangan bahwa kinerja pemerintah dapat ditingkatkan dengan
memberikan kesempatan dan peluang yang lebih besar kepada masyarakat, atau
menciptakan keberdayaan dan kualitas masyarakat yang lebih baik (hiring better people).
Namun masalah sebenarnya bukan terletak pada masyarakat, melainkan sistemnya yang
menjebak masyarakat atau masyarakat yang terperangkap pada suatu sistem yang tidak
memberikan ruang gerak bagi inovasi dan inisiatif masyarakat.
Dengan adanya kelima mitos yang merupakan kritik terhadap program reformasi sektor
publik yang ada selama ini, maka reinventing diarahkan sebagai suatu transformasi
mendasar terhadap organisasi dan sistem kerja sektor publik untuk menciptakan kemajuan
yang dramatis guna mewujudkan efektivitas, efisiensi, adaptabilitas dan kemampuan
berinovasi. Transformasi ini dapat tercapai dengan merubah tujuan atau fungsinya,
insentif, akuntabilitas, struktur kekuasaan, serta kulturnya. Kutipan aslinya dari terjemahan
ini adalah sebagai berikut :
Reinvention mean the fundamental transformation of public systems and
organizations to create dramatic increases in their effectiveness, efficiency,
adaptability, and capacity to innovate. This transformation is accomplished by
changing their purpose, incentives, accountability, power structure, and culture
(Osborne and Plastrik, 1997 : 14).

24

Sehubungan dengan hal tersebut, Osborne and Plastrik mengajukan perlunya lima
strategi utama, yang diyakini dapat mengubah DNA pemerintah. Kelima strategi itu
terdiri dari strategi inti (core strategy), strategi konsekuensi (consequences strategy),
strategi pelanggan (customer strategy), strategi kontrol (control strategy), serta strategi
kultur atau budaya (culture strategy).
Strategi inti berisi program-program untuk memperjelas tujuan dan atau fungsi dari sistem
dan organisasi sektor publik (clarity of purpose). Sebab, suatu organisasi yang belum
memiliki tujuan atau fungsi yang jelas bahkan memiliki fungsi atau tujuan ganda dan
berlawanan satu sama lain jelas tidak akan bisa meningkatkkan kinerjanya. Strategi
memperjelas tujuan ini disebut sebagai strategi inti sebab hal ini berhubungan dengan
fungsi utama pemerintah yaitu pengarahan (the steering functions). Sementara empat
strategi

lainnya

lebih

memfokuskan

pada

upaya

untuk

meningkatkan

peran

penyelenggaraan (improving rowing), strategi inti ini justru menonjolkan peran pengarahan
atau pengaturan (improving steering). Dengan kata lain, perlu dipikirkan secara sungguhsungguh apakah tujuan tersebut lebih efektif dilaksanakan oleh badan usaha (privat atau
semi privat), atau oleh organisasi pemerintah murni.
Dalam kasus milik perusahaan-perusahaan daerah yang sebelumnya berasal dinas
misalnya, perlu ditetapkan secara jelas dan tegas tentang tujuan hakiki dari perubahan
dinas menjadi badan usaha, dalam arti apakah ada tujuan lain atau tujuan baru yang
diemban oleh organisiasi baru tersebut ataukah tidak. Jika tidak, mengapa kelembagaan
dinas harus harus diubah menjadi badan usaha ? Akan tetapi jika memang dibebani tujuan
baru, maka perlu dipastikan apakah tujuan tadi belum dilaksanakan oleh organisasi lain,
serta apakah tidak terjadi duplikasi dalam pencapaian tujuan.
Sementara itu, strategi konsekuensi mengkaji sekitar masalah insentif yang dibangun
dalam sistem atau sektor publik. Dalam hal ini, harus dibentuk suatu konsekuensi atau
akibat-akibat

tertentu

untuk

meningkatkan

kinerja

(creating

consequences

for

performance). Sebagai contoh, seorang karyawan hendaknya memperoleh imbalan atau


penghargaan sesuai dengan hasil yang dicapainya. Strategi ini menghendaki pula aplikasi
dari manajemen perusahaan di sektor publik. Jika berhasil, maka organisasi publik akan
ditempatkan dalam sistem atau mekanisme pasar dimana masyarakat sangat membutuhkan
25

dan tergantung kepadanya. Namun jika gagal, perlu dilakukan suatu kontrak untuk
menciptakan kompetisi antara pemerintah dengan swasta (atau antar organisiasi
pemerintah). Dari sini dapat disimpulkan bahwa pasar dan kompetisi akan memberikan
pengaruh terhadap besarnya sistem insentif, sekaligus kinerja yang lebih baik. Namun
demikian harus dipahami bahwa tidak semua aktivitas pemerintah dapat diintegrasikan
kedalam mekanisme pasar atau iklim persaingan.
Strategi ketiga yakni strategi pelanggan memfokuskan pada masalah akuntabilitas
sektor publik. Hanya saja yang dipertanyakan, kepada siapakah akuntabilitas tersebut
ditujukan ? Tentu saja dalam hal ini masyarakat atau pelanggan (customer) merupakan
pihak yang paling berkompeten untuk menilai kinerja pemerintah sekaligus sebagai pihak
yang menerima responsibilitas dan akuntabilitas pemerintah. Selama ini, akuntabilitas
secara legal formal ditujukan kepada aparatur pemerintah yang lebih tinggi, yang
menentukan tujuan organisasi serta yang membiayai penyelenggaraan kegiatan. Dan oleh
karena organisasi pemerintah seringkali berada dibawah tekanan untuk memenuhi
permintaan dari kelompok kepentingan tertentu, maka mereka lebih memikirkan kemana
sumber-sumber pembiayaan harus dibelanjakan (didistribusikan) dari pada memikirkan
kinerja dan manfaat yang dihasilkan. Dalam konteks seperti ini, birokrasi pemerintah
semestinya dibersihkan dari pengaruh-pengaruh politis. Strategi pelanggan menolak pola
demikian, dengan cara menyerahkan akuntabilitasnya kepada pelanggan. Ini berarti bahwa
pelanggan diberi kebebasan untuk memilih atas pelayanan dari organisasi publik, sekaligus
diberikan standar pelayanan yang memuaskan. Membentuk akuntabilitas kepada
pelanggan menuntut perbaikan kualitas hasil kerja, bukan semata-mata mengelola sumber
daya yang ada. Dan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa sasaran akhir dari strategi ini
adalah bagaimana kepuasan masyarakat (customer satisfaction) dapat terus ditingkatkan.
Strategi kontrol berkaitan erat dengan kekuasaan (power). Dalam sistem organisasi
birokratik, sebagian besar kekuasaan berada pada atau sekitar puncak hirarkhi, sedangkan
dalam organisasi yang demokratis, kekuasaan berasal dari rakyat yang diserahkan kepada
para pejabat pemerintah yang merupakan wakil dari rakyat. Kemudian dari para pejabat
pemerintah di tingkat Pusat ini, kekuasaan didelegasikan atau didesentralisasikan kepada
pejabat / manajer lini.

26

Akan tetapi biasanya, para pejabat di tingkat menengah atau yang mengisi kotak-kotak lini
ini memiliki kebebasan yang sangat terbatas dalam hal pengambilan keputusan, dan
fleksibilitasnya menghadapi kendala seperti instruksi anggaran yang baku dengan sistem
specific grant, aturan kepegawaian, penerapaan inspeksi auditif yang ketat, dan sejenisnya.
Strategi kontrol menganjurkan agar sebagian kewenangan pengambilan keputusan
diserahkan ketingkat organisasi yang lebih rendah melalui jenjang hirarkhi. Hal ini akan
membawa dua keuntungan, yakni

pertama memberdayakan organisasi dengan

berkurangnya pengawasan dari lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat ; dan kedua


memberdayakan karyawan / pegawai dengan dimilikinya kewenangan untuk mengambil
keputusan, menanggapi pelanggan, serta dalam hal pemecahan masalah.
Adapun strategi yang terakhir yakni strategi budaya menegaskan bahwa kinerja sektor
publik akan sangat ditentukan oleh kultur atau budaya yang melekat pada dirinya, seperti
nilai-nilai, norma, perilaku, dan harapan dari setiap pegawai. Budaya disini sangat
dipengaruhi oleh keempat strategi diatas, baik oleh tujuan organisasional, sistem insentif,
sistem akuntabilitas, dan oleh struktur kekuasaan. Artinya, jika salah satu dari empat
strategi ini berubah, maka budaya sektor publik juga akan mengikutinya. Akan tetapi
kadangkala, budaya juga sangat sulit berubah meskipun dikehendaki oleh pimpinan,
pelanggan maupun pembuat kebijakan sekalipun. Organisasi sektor publik biasanya
memiliki ciri-ciri khusus seperti banyaknya unit fungsional, tata cara prosedural, dan
penyusunan job description yang tegas, yang kesemuanya ini dimaksudkan untuk
menjamin bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai sudah sesuai dengan yang
seharusnya mereka lakukan. Jika para pegawai telah terbiasa dengan kondisi seperti ini,
maka mereka akan menjadi cenderung rentan terhadap budaya, dalam arti menjadi reaktif,
tergantung dan tidak memiliki keberanian untuk berinisiatif.
Dengan strategi budaya ini, kepada masyarakat akan dikembangkan suatu kebiasaan dan
perilaku baru yang lebih baik, dengan catatan bahwa budaya lama yang relevan masih
dapat dipertahankan. Kebiasaan atau perilaku baru ini dapat terwujud dengan cara
membantu masyarakat untuk meraih dorongan emosionalnya seperti harapan, ketakutan
dan cita-cita mereka. Selain itu, masyarakat perlu membangun visi masa depan serta sikap
mental tentang arah dan cara suatu organisasi mencapai tujuannya.
27

Penerapan kelima strategi diatas hendaknya dapat dilaksanakan secara bersamaan, sebab
penerapan satu atau dua strategi saja belum akan cukup mencapai maksud dan tujuan dari
program reformasi sektor publik, baik yang meliputi aspek tujuan (purpose), insentif
(incentive), akuntabilitas (accountability), kekuasaan (power) dan budaya (culture).
Namun jika kelima strategi tadi tidak dapat secara serentak diimplementasikan, maka
penerapannya dapat dilakukan secara inkremental, dalam arti penerapan salah satu strategi
perlu segera diikuti dengan strategi lainnya, sehingga akhirnya kelima strategi tersebut
akan menjadi strategi yang komprehensif dalam rangka meningkatkan kinerja sektor
publik. Akan tetapi perlu diperhatikan juga agar penerapan lima strategi tadi tidak
menimbulkan kebijakan yang tumpang tindih (overlapping).
A. IDENTIFY THE NEED (INDETIFIKASI KEBUTUHAN)
CATALYTIC GOVERNMENT (PEMERINTAHAN KATALIS)
Artinya adalah bahwa peranan baru bagi pemerintah hendaknya lebih diarahkan sebagai
pengatur dan pengendali daripada sebagai pelaksana langsung suatu urusan dan pemberi
layanan (steering rather than rowing). Secara implisit hal ini mengandung pemikiran
bahwa pemerintah lebih banyak memberikan peran dan tanggungjawab kepada swasta dan
masyarakat untuk menyelenggarakan urusannya, baik melalui privatisasi, lisensi, konsesi,
kerjasama operasional (BOO, BOT), dan sebagainya. Dengan kata lain, pemerintah lebih
banyak merangkul masyarakat dan swasta untuk bersama-sama memikul suatu
tanggungjawab atau urusan. Sebab, sebagaimana yang diingatkan oleh Drucker dalam
bukunya The Age of Discontinuity (1968), setiap upaya untuk menggabungkan
memerintah dengan melaksanakan dalam skala besar, akan melumpuhkan kemampuan
pengambilan keputusan.
Disamping itu, jika urusan-urusan yang sebenarnya bisa diserahkan kepada organisasi
swadaya masyarakat tetap dipegang / dilaksanakan oleh pemerintah, dikhawatirkan
menimbulkan gejala ketergantungan masyarakat kepada pemerintah, dimana setiap
permasalahan yang muncul, penyelesaiannya selalu dipasrahkan sepenuhnya kepada
pemerintah, sehingga kreativitas dan semangat inovasi individu menjadi melemah.

28

Adapun nilai-nilai baru yang disarankan bagi pemerintah melalui penerapan prinsip
katalistik ini secara lengkap dapat diringkaskan sebagai berikut.
Kata pemerintahan (government) berasal dari sebuah kata Yunani yang berarti
mengarahkan. Tugas pemerintah adalah mengarahkan bukan mengayuh perahu.
Memberikan pelayanan adalah mengayuh, sedang pemerintah tidaklah pandai mengayuh.
Definisi ulang peran pemerintah secara fundamental menurut Latimer dalam pidato resmi
tahun 1986 adalah:
Pemerintah kota harus melakukan beberapa penyesuaian dan dalam beberapa
hal mendefinisikan kembali peran tradisionalnya. Saya yakin kota akan lebih
sering mendefinisikan ulang perannya sebagai katalisator atau fasilitator. Kota
akan lebih seing berperan mendefinisikan berbagai masalah dan kemudian
menyusun berbagai sumber daya untuk digunakan oleh yang lain dalam
menghadapi masalah tersebut ... Pemerintah kota harus lebih bersedia menjalin
sumber daya pemerintah dan swasta yang langka untuk mencapai tujuan
masyarakat kita.
Visi ini berlawanan dengan cara kerja birokrasi / pemerintah tradisional. Tetapi anggotaanggota kelompok progresif percaya bahwa pemerintah semestinya memanfaatkan
pegawai negeri untuk menghasilkan sebagian besar pelayanan yang mereka terapkan.
Menjelang tahun 1970, sedikit sekali aparatur yang bisa menyusun cara lain, mereka hanya
terbelenggu dengan serentetan pajak pelayanan. Dan ketika pertumbuhan ekonomi
mengalami penurunan maka terjadi dua pilihan yakni menaikkan pajak atau tidak. Oleh
karena itu, di Washington muncul para pemimpin yang melepaskan diri dari dilema dengan
cara meminjam uang, dan mereka belajar untuk menyatukan berbagai kelompok
masyarakat untuk melaksanakan suatu pembangunan yang dapat memecahkan
permasalahan yang dihadapi dengan cara menggalang aksi seluruh masyarakat, bagaimana
mengarahkan ketimbang mengayuh.
Dalam kaitan ini, contoh emirik adalah hal yang dilakukan oleh Walikota Indianapolis,
Richard Lugar da Bill Hudnut yang bekerjasama dengan Greater Indianapolis Progress
Committee, untuk merevitalisasi kota. Dengan kerja sama tersebut mereka memutuskan
untuk menjadikan Indianapolis sebagai ibu kota olah raga amatir Amerika. Contoh lain, di
Lowell, Massachussetts, sebuah kota industri lain yang mengalami depresi membujuk para
bankir untuk menyisihkan seperdua puluh aset kolektif untuk memberikan pinjaman lunak
kepada bisnis-bisnis yang ingin berkembang atau melakukan relokasi di pusat kota Lowell.
29

Pembangunan dipercayakan kepada Wang Laboratories untuk membanguan tiga menara


kantor di kota, dan pemerintah bagian untuk membangun Urban Heritage Park (taman
pusat kota) yang pertama di Lowell. Langkah-langkah yang ditempuh di Indianapolis dan
Lowell ini akhirnya banyak diikuti kota-kota lain diantaranya:
1. Newark, New Jersey, meminta nasihat kepada beberapa organisasi masyarakat dan prakasa
sektor swasta untuk mengahdapi berbagai masalah dari mulai perumahan, AIDS,
sampai tunamisma.
2. Massachussetts menaikkan pendanaan berbagai organisasi no pemerintah untuk
memberikan pelayanan sosial.
3. San Fransisco, Boston, dan kota-kota lain memelopori program sambungan (linkage),
dimana setiap korporasi yang ingin membangun gedung harus menyediakan
konpensasi.
Dengan menonjolkan fungsi pengarahan daripada pelayanan langsung, diharapkan
akan tercipta organisasi birokrasi yang kecil tapi kuat. Sebagaimana dikatakan Gubernur
Lawton Chiles dari Florida, tujuan utama dari pemerintah adalah menjadi katalisator yang
membantu masyarakat dalam memperkuat infrastruktur warganya. Dengan cara ini
pemerintah memberikan wewenang kepada masyarakat untk memecahkan setiap masalah
sendiri. Dengan kata lain, pemerintah yang memfokuskan pada fungsi pengarahan,
secara aktif akan membuat lebih banyak keputusan / kebijakan yang menggerakan lebih
banyak lembaga sosial dam ekonomi, bahkan lebih banyak mengatur daripada merekrut
lebih banyak pegawai negeri.
Sebaliknya, pemerintah yang asyik dengan pemberian pelayanan sering melepaskan fungsi
mengarahkan ini, dan para pemimpin tradisional menjadi asyik mengauh sehingga mereka
lupa mengemudi. Kemampuan mengarahkan saat ini sangat penting dengan munculnya
suatu perekonomian global. Perekonoman global akan berhasil jika didukung oleh input
dengan kualitas teraik yang bisa diperoleh melalui pengetahuan, riset, modal dan lain-lain.
Dengan alasan demikian, Osborne dan Gaebler menghendaki agar tugas pemerintah
untuk mengayuh dan mengarahkan dipisahkan. Sebab, dimasa sekarang lembaga
pemerintah membutuhkan fleksibilitas untuk merespon setiap kondisi yang kompleks dan

30

berubah dengan cepat. Hal ini sulit jika para penentu kebijakan hanya mampu
menggunakan satu metode pelayanan yang dihasilkan oleh birokrasi mereka sendiri.
Menurut Drucker, organisasi yang berhasil memisahkan manajemen puncak dari
operasi, akan memungkinkan manajemen puncak konsentrasi pada pengambilan
keputusan dan pengarahan. Sedangkan operasi sebaiknya dijalankan oleh staf sendiri,
masing-masing memiliki misi, sasaran, ruang lingkup dan tindakan serta otonomi sendiri.
Jika tidak para manajer akan terkacaukan oleh tugas-tugas operasional dan tidak dapat
menghasilkan keputusan dasar yang bersifat mengarahkan.
Upaya mengarahkan memerlukan orang yang mampu melihat seluruh visi dan
kemungkinan serta mampu menyeimbangkan berbagai tuntutan yang saling bersaing untuk
mendapatkan sumber daya. Upaya mengayuh membutuhkan orang yang secara sungguhsungguh memfokuskan pada satu misi dan melakukannya dengan baik.
Pemerintahan entrepreneurial semakin menjauhkan upaya mengayuh dari upaya
mengarahkan. Cara ini membiarkan pemerintah beroperasi sebagai pembeli yang terampil,
mendongkrak berbagai produsen dengan cara yang dapat memcapai sasaran kebijakannya.
Manajer penentu kebijakan bebas melakukan peninjauan terhadap pemberi jasa paling
efektif dan efisien, sehingga diharapkan akan membantu untuk menghasilkan uang yang
lebih banyak. Cara ini dimaksudkan untuk mempertahankan fleksibilitas dalam merespon
lingkungan yang berubah dan memanfaatkan persaingan antara pembeli jasa.
Organisasi pengarah melakukan eksperimentasi dan belajar dari keberhasilan baik melalui
seleksi alam maupun persaingan sektor swasta yang dapat menguntungkan pemerintah
untuk memberikan pelayanan. dan akhirnya organisasi-organisasi pengarah melakukan
peninjauan yang dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif, denga memecahkan
akar permasalahannya.
Ketakutan besar dalam memanfaatkan lembaga non pemerintah untuk mengayuh, tentu
saja, adalah karena cara ini akan mengorbankan pekerjaaan dari banyak pegawai negeri.
Namun sesungguhnya, pegawai negeri tidak harus menjadi korban pemerintahan
entrepreneurial tetapi sebaliknya yakni yang dapat diuntungkan. Hal ini terjadi karena
31

adanya kebebasan untuk menggunakan pikiran dan untuk mendapatkan peluang untuk
bekerja.
Dalam kerangka ini, yang penting adalah bagaimana menciptakan organisasi pengarah?
Organisasi pengarah ini diharapkan melaksanakan fungsi penetapan kebijakan,
pemberian dana kepada badan-badan operasional (pemerintah dan swasta) dan menilai
kinerja. Adapun pada kenyataannya, anggota dari organisasi pengarah dapat diambil dari
sektor pemerintah maupun swasta, misalnya:

Dewan-dewan industri swasta yang ditetapkan UU Kemitraan Pelatih Kerja Pusat


menyatukan pemimpin rakyat dan swasta daerah untuk bersama-sama mengelola

kegiatan.
Ohio menggunakan dewan daerah untuk mengelola pelayanan kesehatan mental

pasien rawat jalan dan keterbelakangan mental.


Di Pittsburg, Komisi Penasihat tentang masalah tunawisma, yang terdari dari
pemerintah, universitas, masyarakat, para pemimpin agama, mengkoordinir respon

kota terhadap masalah tunawisma.


Oklahoma Futures, yang menyatakan diri sebagai Dewan Perencanaan Pembanguan
Ekonomi Pusat untuk Negara Bagian Oklahoma, mempunyai rencana strategis lima
tahun yang menguraikan berbagai tindakan yang diharapkannya lebih dari 25
organisasi terpisah dari AFL - CIO sampai Departemen Pendidikan negara bagian.

Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakekatnya antara sektor pemerintah dan swasta
mempunyai tujuan yang sama tetapi kedua sektor tersebut mempunyai dunia yang berbeda.
Karena keduanya mempunyai prinsip birokrasi yang berbeda, dimana urusan bisnis
semestinya tidak mempunyai kepentingan dengan pemerintah dan pemerintah tidak berhak
untuk ikut campur. Dalam perkembangan dunia yang terus berkembang secara pesat
muncul organisasi nirlaba atau sukarela untuk membantu kegiatan-kegiatan baik dari
sektor swasta maupun pemerintah. Maka para sukarelawan inilah yang di sebut sektor
ketiga. Sektor ketiga sebenarnya adalah mekanisme masyarakat yang lebih disukai untuk
menyediakan barang kolektif. Sektor ketiga sudah ada lama sebelum sebagian besar
pelayanan pemerintah ada. Ia mengatasi masalah-masalah sosial sebelum pemerintah
mengambil alihnya.

32

Untuk mempercpat terwujudnya pemerintahan katalis, upaya swastanisasi perlu


dikembangkan, namun tetap harus diingat bahwa hanya aspek pelayanan saa yang dapat
dikontrakkan ke sektor swasta, sedangkan kepemerintahan (governance) tidak. Kita
dapat menswastakan fungsi-fungsi pengarah yang terpisah, tetapi tidak keseluruhan proses
kepemerintahan. Swasta dapat melakukan beberapa hal lebih baik dari pemerintah, begitu
pula pemerintah dalam beberapa hal akan lebih baik dari swasta. Sektor pemerintah lebih
baik dari swasta misalnya dalam hal-hal: manajemen kebijakan, regulasi, menjamin
keadilan, mencegah diskriminasi atau Eksploitasi, serta menjamin kesinambunagn dan
stabilitas pelayanan. Sementara swasta biasanya lebih baik dalam menangani pelaksanaan
tugas-tugas ekonomi, inovasi, mengulangi pengalaman yang berhasil, mengadaptasi
perubahan yang pesat, menghentikan kegiatan-kegiatan yang tidak berhasil dan usang,
serta pelaksanakan tugas-tugas yang kompleks atau bersifat teknis. Adapun sektor ketiga
biasanya berhasil dalam hal menuntut belas kasih dan komitmen kepada individu,
mengharuskan kepercayaan yang besar pada pihak pelanggan dan klien, membutuhkan
perhatian pribadi secara bersama, serta melibatkan pelaksanaan peraturan moral serta
tanggung jawab individu atas perilaku.
Dengan demikian menyerahkan pelaksanaan layanan masyarakat ke tangan swasta, dapat
lebih efektif, efisien, adil maupun bertanggungjawab. Tetapi kita tidak boleh salah
menduga terhadap ideologi besar untuk menswastakan pemerintahan. Ketika pemerintah
menjalin kontrak dengan bisnis swasta, kalangan konservatif dan liberal sering berbicara
atau melontarkan kritik seolah-olah pemerintah mengalihkan tanggung jawab negara yang
fundamental ke sektor swasta.

COMMUNITY OWNED GOVERNMENT (PEMERINTAHAN MILIK RAKYAT)


Artinya adalah bahwa pemerintah secara normatif dimiliki oleh masyarakat, sehingga
pemerintah semestinya mendorong agar kontrol atas pelayanan dilepaskan dari birokrasi
dan diserahkan kepada masyarakat. Dengan memberikan wewenang kepada masyarakat
untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, masyarakat dapat membangkitkan
komitmen mereka yang lebih kuat, perhatian lebih baik dan lebih kreatif dalam
memecahkan masalah. Prinsip ini juga merupakan upaya untuk memberdayakan

33

masyarakat agar mampu melakukan usaha swadaya sehingga dapat mengurangi


ketergantungan kepada pemerintah.
Beberapa pokok pikiran mengenai pemerintahan milik rakyat ini dari penguraian
Osborne dan Gaebler dapat diringkaskan latar belakang sampai dengan implikasinya
sebagai berikut:
Pada tahun 1982, Lee Brown kepala kepolisian di Houston, ditimpa persoalan rasisme dan
kebrutalan. Brown, yang berkulit hitam, bermaksud mengubah keadaan itu dengan cara
penjagaan ketertiban lingkungan, yakni suatu konsep bahwa polisi semestinya tidak hanya
menanggapi peristiwa-peristiwa kriminal, tetapi juga membantu warga memecahkan
berbagai masalah yang menyebabkan timbulnya kejahatan.
Latimer senang mengutip ucapan Tom Dewar dari University of Minnesotas Humphrey
Institute, mengingatkan mengenai bahaya ketergantungan pada klien (clienthood)
dengan mengatakan bahwa:
Klien adalah orang-orang yang tergantung pada dan dikendalikan oleh penolong
dan pemimpin mereka. Klien adalah orang yang memahami diri mereka sendiri
dari segi segala kekurangannya,. Klien adalah orang yang menunggu orang lain
berbuat atas nama mereka. Dilain pihak, warga negara adalah orang yang
memahami masalahnya sendiri dari sudut pandang mereka sendiri. Warga negara
mengerti hubungan mereka satu sama lain dan mereka percaya kepada
kemampuan mereka untuk berbuat. Klien yang baik menjadi warga negara yang
buruk. warga negara yang baik menjadi masyarakat yang kuat.
Clienthood adalah sebuah masalah yang muncul hanya saat perekonomian industri sedang
tumbuh. Sebelum tahun 1900, sekecil apapun kontrol terhadap lingkungan, kesehatan,
pemdidikan, dan sebagaimana terletak teruma pada masyarakat setempat, karena begitu
banyak produk dan jasa, baik pemerintah maupun swasta, yang diproduksi atau dijual
secara lokal. Hanya karena munculnya sistem perekonomian industri dengan produksi
massal, maka mulai dipekerjakan tenaga profesional dan birokrat untuk melakukan apa
yang telah dilakukan oleh keluarga, lingkungan, gereja dan perkumpulan sukarela. Dengan
kata lain, proses pengalihan kepemilikan dari birokrasi ke masyarakat, mulai berlangsung.
Atau, telah terjadi pengalihan kekuasaan dari mereka yang mempunyai pengetahuan
profesional kepada orang-orang yang buta huruf dan kelas bawah, kata Don Moore, yang
34

organisasi pembelaannya, Design for Change, mempelopori usaha reformasi. Selanjutnya


Don Moore mengatakan bahwa:
Mereka mengatakan kami tidak akan mendapatkan orang untuk menjalankan
dewan tersebut. Namun ternyata 17.000 orang hadir, dan kami mempunyai tingkat
kehadiran yang lebih tinggi ketimbang mereka dalam setiap pemilihan dewan
sekolah di daerah pinggiran kota. Kami melihat dewan-dewan tersebut menjadi
unit demokrasi baru dalam masyarakat. Kami berharap bahwa orang yang
mengabdi kepada dewan-dewan itu juga mau terlibat dalam persoalan-persoalan
lain, seperti perumahan, pembangunan ekonomi, dan pendidikan orang dewasa.
Semua ini merupakan persemaian nyata untuk mengembangkan kepemimpinan.
Untuk memahami seberapa besar kemungkinan kekuatan hak kepemilikan masyarakat,
salah satu contoh dapat ditunjukkan misalnya transformasi dibidang perumahan, yakni
ketika para penyewa perumahan umum mengendalikan lingkungan mereka sendiri.
Perumahan umum mulanya adalah perumahan transisi untuk orang-orang bekerja yang
menemui masa-masa sulit selama Depresi. Perumahan tersebut merupakan lingkungan
yang murah, aman, dan stabil untuk keluarga sambil mereka kembali bekerja.
Pemberian wewenang kepada masyarakat tidak hanya mengubah harapan dan
membangkitkan kepercayaan-biasanya memberikan solusi-solusi yang jauh lebih baik
terhadap setiap masalah mereka ketimbang terhadap layanan umum biasa. Mc.Knight
memberikan serangkaian pertentangan yang memperjelas antara sistem penyampaian
pelayanan profesional dan apa yang diesbutnya Perkumpulan komunitas-keluarga,
lingkungan tempat tinggal, gereja, organisasi sukarela. Misalnya: 1) komunitas memiliki
komitmen yang lebih besar terhadap para anggotanya ketimbang sistem penyampaian
pelayanan klien; 2) komunitas lebih memahami masalahnya sendiri ketimbang tenaga
profesional di bidang pelayanan; 3) kalangan profesional dan birokrasi memberikan
pelayanan, sedangkan masyarakat memecahkan masalah; 4) komunitas lebih fleksibel dan
kreatif ketimbang birokrasi pelayanan yang besar; 5) komunitas lebih murah ketimbang
para profesional di bidang pelayanan; 6) komunitas menegakkan standar perilaku lebih
efektif ketimbang birokrasi atau profesional bidang pelayanan; dan 7) komunitas
memfokuskan pada kapasitas: sistem pelayanan memfokuskan pada kekurangan.
Jika kepemilikan mesyarakat adalah sasarannya, peran apa yang dapat dimainkan
pemerintah? Bagaimana kepemilikan dapat memberikan wewenang kepada stakeholder,
35

apakah kepemilikan hanya menyerahkan pelayanan yang diberikan oleh kaum birokrat dan
profesional?
Adalah salah memaksa orang yang telah lama tergantung untuk mendadak mengelola milik
mereka sindiri, tanpa ada semacam dukungan transisional. Anda tidak dapat membawa
para penghuni perumahan umum yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam
negara kolonial dan mengharapkan mereka berubah dan memiliki sikap wirausahawan
serta keterampilan seorang administrator sektor swasta.
Intinya adalah bahwa rakyat mempunyai kepentingan pribadi dalam jalannya sendiri,
mereka mempunyai hak suara demokratis langsung dalam manajemen, mereka didorong
dan dilibatkan dalam penentuan kebijakan mengenai hal-hal seperti struktur sewa dan
kewajiban penghuni. dan mereka memperoleh potongan finansial dalam hal keuntungan
pajak pribadi dan imbalan yang adil dari kerja pemeliharaan unit-unit mereka sendiri.
Selanjutnya, jika pengalihan kepemilikan tersebut telah berjalan, cagaimana strategi
pemberian wewenang kepada masyarakat ini? Dalam hal ini, mekanisme demokrasi
partisipatori perlu dilakukan, dalam pengertian bahwa masyarakat luas diberikan
peluang dan kesempatan sebanyak mungkin untuk ikut serta dalam urusan
pemerintahan.
Hal ini didasari oleh fakta empiris bahwa sedikit orang Amerika yang merasa bahwa
mereka memiliki atau mengontrol pemerintah. Menjelang tahun 1989, tiga dari empat
warga amerika yang disurvai setuju bahwa sebagian besar anggota kongres lebih peduli
kepada kepentingan-kepentingan khusus ketimbang pada kepentingan rakyat jelata.

PEMERINTAHAN YANG KOMPETITIF (KOMPETITIF GOVERNMENT)


Inti dari gagasan mengenai pemerintahan kompetitif ini adalah bahwa pemerintah
hendaknya mendorong adanya iklim kompetisi di dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Keuntungan dari adanya iklim kompetisi didalam organisasi pemerintah
adalah: munculnya efisiensi yang lebih besar sehingga mendatangkan keuntungan yang
lebih besar; memaksa monopoli pemerintah atau swasta untuk menanggapi segala
36

kebutuhan pelanggannya dengan memperbaiki sistem pelayanannya; mendorong adanya


inovasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan; serta membangkitkan rasa harga diri dan
semangat juang pegawai.
Adapun uraian selengkapnya mengenai pemerintahan kompetitif ini dapat diringkaskan
sebagai berikut.
Pada awalnya didahului oleh adanya gejala yang ditemui pada tahun 1978,
dimana masyarakat pada saat sedang ramai-ramainya melakukan penentangan
pajak. Phoenix memutuskan untuk mengontrakkan pengumpulan sampah kepada
sektor swasta, dan pada saat itu Phoenik telah menyelenggarakan kompetisi tidak
hanya dalam pengumpulan sampah tapi juga dalam operasi pengurungan tanah,
jasa pemeliharaan, pengelolaan tempat parkir, pengelolaan kursus golf,
penyapuan jalan, perbaikan jalan, konsensi makanan dan minuman, percetakan
dan keamanan.
Antara tahun 1981 dan 1984 kota itu bergerak dari 53 kontrak swasta utama
menjadi 179. Sebagian diantaranya terbukti lebih bagus dibanding pesaing
negerinya, sebagian lagi tidak.kota itu akhirnya memutuskan bahwa pelayanan
mobil ambulan, penyapuan jalan, dan pemeliharaan tanaman jalan jalur hijau
lebih baik ditangani oleh pegawai negeri. Tetapi secara keseluruhan auditor kota
memperkirakan dapat menghemat 20 juta dolar selama dasawarsa pertama, dan
jumlah ini adalah selisih antara penawaran-penawaran yang diterima kota itu dan
penawaran terendah berikutnya. Karena kompetisi memaksa seluruh tingkat
penawaran turun, maka kompetisi hanyalah sebagian dari cara penghematan yang
sesunggunhnya.
Era kompetisi dan semangat kompetisi akan selalu memberikan dorongan bagi seseorang
untuk menerapkan pemikiran bahwa dimana ada persaingan, pasti akan memperoleh hasil
yang lebih baik, sehingga pada gilirannya akan menumbuhkan kesadaran terhadap adanya
biaya yang lebih besar, dan pemberian pelayanan yang lebih unggul.

37

Kelompok progresif menganut sistem pemberian pelayanan oleh birokrasi pemerintahan,


biasanya mereka menganut monopoli. Dan sistem kompetisi dalam suatu pemerintahan
hanya dianggap sebagai pemborosan dan pengulangan kerja itu-itu saja. Kami
beranggapan bahwa setiap pemukiman seharusnya mempunyai satu sekolah, tiap kota
mempunyai satu angkatan kepolisian, tiap wilayah punya satu organisasi yang
menjalankan bis-bisnya dan mengoperasikannya, Namun kami tahu bahwa monopoli
dalam sektor swasta akan melindungi inefisiensi dan menghambat perubahan. Salah satu
paradok yang kekal dari idiologi amerika bahwa kami begitu gencar menyerang setiap
monopoli swasta tetapi begitu hangatnya memeluk monopoli negara.
Pemerintah yang menerapkan prinsip kompetitif terhadap organisasi dan sumber daya
manusia pendukungnya, akan memperoleh keuntungan paling nyata yakni efisiensi
organisasi yang lebih besar, sehingga akan mendatangkan lebih banyak uang atau
keuntungan ekonomis. Logika-logika yang menjelaskan mengapa semangat kompetisi
akan meningkatkan efisiensi organisasi serta memperbesar profit, dapat dikemukakan
sebagai berikut.
1.

Kompetisi memaksa monopoli pemerintah atau swasta untuk merespon segala


kebutuhan pelanggannya.
Secara empiris dapat diberikan contoh bahwa pelayanan pos di AS dengan 760.000
karyawan merupakan monopoli sipil yang terbesar. Semua pihak dalam struktur
pemerintah maupun masyarakat luas mengetahui bahwa pelayanan pos tidaklah
efisien: jika biaya pengiriman kelas satu yang selalu naik tidak cukup sebagai bukti,
maka pertimbangkanlah kenyataan pelayanan pos menghabiskan lebih dari 80%
anggarannya untuk karyawan, sementara United Parcel Service (UPS) menghabiskan
kurang dari 60%. Pelayanan pos juga tidak responsif. Dalam hal ini kompetisi telah
memaksa perbaikan drastis dalam beberapa bidang, seperti pos kilat. Tetapi dengan
monopoli pelayanan pos secara penuh pada antaran pos kelas satu dan kelas tiga,
kebiasaan lama sukar dihilangkan. Jadi sebaiknya monopoli pemerintah yang
didorong sepenuhnya kedalam kompetisi mempunyai sedikit pilihan selain
menyengakan pelanggannya.

2.
38

Kompetisi menghargai inovasi; monopoli melumpuhkannya.

Kompetisi dalam pemberian pelayanan akan mendukung kelangsungan hidup hal


yang bermanfaat, sebagaimana pernah dinyatakan oleh dua orang sosialis inggris
bahwa kompetisi merupakan suatu bentuk seleksi alam. Eksperimentasi alam yang
tak putus-putus pada mutasi memungkinkan berbagai spesies berevolusi, beradaptasi,
dan mempertahankan hidup meskipun terjadi perubahan lingkungan yang drastis.
Praktek pemerintahan yang normal mendorong adanya seleksi alam. Kami
menemukan kelangsungan hidup yang telah berurat berakar atau yang secara politis
kuat, dan ternyata lebih baik ketimbang kelangsungan hidup hal yang bermanfaat.
Setiap keputusan mengenai pelayanan dibuat berdasarkan pada apa yang dilakukan
tahun sebelumnya, organisasi pelayanan mana yang mempunyai pengaruh politik,
siapa yang memberi kontribusi pada kampanye dan tempat serikat-serikat pekerja
berada. Mereka yang memberikan pelayanan buruh dengan harga tinggi pelan-pelan
tersingkir, sementara mereka yang memberikan pelayanan yang bermutu dengan
harga wajar tumbuh semakin besar, dalam hal ini seleksi alam hampir dengan
sendirinya akan berhasil.
3.

Kompetisi membangkitkan rasa harga diri dan semangat juang pegawai negeri.
Sebagaian besar orang berasumsi bahwa pegawai negeri akan menderita bila harus
bersaing. Mereka pasti kehilangan tingkat keamanan, dan karena alasan inilah maka
serikat pekajanya sering menentang setiap ancaman terhadap status monopoli
mereka. Untuk memperkecil perasaan sakit hati maka adanya suatu kebijakan tanpa
pemecatan sangat penting. Pemerintah dapat dengan mudah menjamin ada pekerjaan
bagi karyawannya, tanpa menjamin pekerjaan yang sekarang mereka pegang.

Dalam merealisasikan prinsip kompetisi ini, pemerintah hendaknya tidak menghadapkan


dirinya kepada pihak swasta saja, melainkan juga pada kalangan internalnya. Disamping
itu pemerintah perlu pula menciptakan suasana yang kondusif untuk tumbuhnya
persaingan antar sektor swasta.
Dengan demikian, kompetisi sesungguhnya terdiri dari tiga jenis, yaitu kompetisi antara
publik dengan publik, publik dengan privat, serta privat dengan privat.
1. Kompetisi publik melawan swasta
39

Sebagian orang yakin bahwa pemerintah tidak bisa bersaing dengan bisnis tetapi
seperti kita lihat di Phoenix, pemerintah tidak hanya bersaing tapi juga bisa menang.
Seperti sistem kesehatan mental orang dewasa di Arizona, mengadu secara langsung
berbagai rumah sakit dan lembaga publik dengan memberi pelayanan yang
berorientasi laba maupun nirlaba untuk mendapatkan kontrak. Begitupun dalam hal
pelatihan kerja, persaingan antara lembaga-lembaga publik dengan berbagai
perusahaan swasta relatif sudah menjadi hal biasa.
2. Kompetisi swasta melawan swasta
Sejauh ini pendekatan yang paling umum pemerintah meminta perusahaan swasta
untuk bersaing menghasilkan suatu pelayanan umum. Load shedding (pelimpahan
beban) mungkin merupakan metode paling sederhana. Hanya dengan cara melanggar
ketentuan umum, pemerintah mengalihkan pelayanan swasta. Seperti pengumpulan
sampah, misalnya dengan menetapkan peraturan, pemerintah dapat membentuk
struktur pasar sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat. Tetapi karena lembagalembaga negeri menyerahkan pengawasan langsung kepada produksen pelayanan
swasta, load shedding mengurangi kemampuan pemerintah untuk menjaga agar
perusahaan tetap bertanggung jawab. Procurement (upaya mendapatkan) merupakan
cara umum lain yang digunakan pemerintah untuk mendorong perusahaan swasta
bersaing. Biasanya lembaga-lembaga negeri harus menjamin penawaran yang
kompetitif untuk setiap kontrak procurement. Contoh pemerintah menghabiskan
ratusan milyar dolar setiap tahun dengan cara ini untuk perawatan kesehatan,
pembagunan jalan raya dan pemeliharaan gedung. Contracting (pengontrakkan)
adalah metode umum lain untuk menyuntikkan persaingan kedalam pelayanan
umum. Pengontrakan merupakan salah satu metode paling sulit yang dapat dipilih
oleh organisasi pemerintahan, karena pekerjaan menulis dan memonitor kontrak
banyak sekali membutuhkan keterampilan. Banyak pemerintahan berlaku seolaholah pekerjaan tuntas begitu mereka menandatangani kontrak. Akibatnya, banyak
sekali kontraktor swasta yang gagal memenuhi janji dan lebih buruk lagi melakukan
kecurangan.
3. Kompetisi Publik melawan Publik

40

Pengontrakkan memang cukup sukar sehingga pemerintah kadang lebih suka


mengejar hasil yang sama dengan cara mendorong konpetisi antar organisasi sendiri.
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, organisasi-organisai publik dalam lingkungan
kompetisi sering menunjukan kinerja yang sama baiknya dengan organisasi swasta.
Beberapa tempat sekarang memanfaatkan kompetisi antar sekolah negeri dengan
suatu pokok bahasan yang akan kita ulang nanti. Phoenix secara konstan
membandingkan biaya, efisiensi, dan efektifitas dari banyak pelayanan kota dengan
pelayanan yang diberikan oleh kota-kota lain.
Permasalahan yang mendesak kemudian adalah, bagaimanakah cara atau strategi
menciptakan iklim dan semangat persaingan untuk pPelayanan dalam lingkup internal
pemerintah?
Untuk memberikan jawaban yang memuaskan atau pertanyaan tersebut, perlu dipahami
bahwa sebagian besar banyak lembaga pemerintah tidak melayani masyarakat, mereka
melayani lembaga pemerintah lainnya. Mereka mencangkup kantor percetakan, akunting
dan pembelian, pelayanan telekomunikasi dan pengolahan data, armada kendaraan, kerja
reparasi dsb, biasanya gagasan harus bersaing tidak pernah terlintas dibenak mereka.
Dalam hubungan itu, disini akan dikemukakan contoh-contoh sebagai studi kasus. Bagi
kebanyakan orang, kompetisi antar perusahaan pengumpulan sampah adalah wajar-wajar
saja. Dan mengapa orang lebih suka monopoli? Kompetisi dalam pembangunan jalan,
perawatan kesehatan, bahkan terminal umum, kelihatannya memang hanya penalaran
belaka. Dan kompetisi ini mendorong departemen tempat para birokrat pemerintahan
untuk bersaing mempertahankan hidup merupakan suatu gagasan yang menyegarkan!
Sekarang kita alihkan ke masalah pendidikan yang memang keadaannya lebih baik.
Kebanyakan orang belajar di sekolah negeri, dan mempunyai citra terhadap sekolah negeri
yang terpatri dalam jiwa, tak pernah terpikir oleh kita sekolah-sekolah negeri bisa berbeda.
Kita beranggapan bahwa sekolah sinonim dengan gedung, dan anak-anak diserahkan ke
gedung-gedung itu. Siswa tidak memilih orang tua murid, dalam hal ini sekolah negeri pun
jelas merupakan sebuah monopoli.

41

Dalam kaitan ini, masalah yang seringkali muncul adalah masalah yang berkenaan dengan
Isu Keadilan. Artinya, Mungkin keberatan paling besar terhadap kompetisi antar sekolah
didasarkan pada perhatian terhadap keadilan. Suatu pasar persaingan murni-sistem voucher
yang berlaku tak terbatas, misalnya - pasti akan mendatangkan hasil yang tidak adil,
karena orang-orang kaya akan menambahkan uang pada voucher mereka dan memberikan
pendidikan terbaik yang sanggup mereka beli. Sebagian besar lainnya tidak akan mampu
berbuat demikian, dan pasar pendidikan akan terpilah-pilah menurut kelompok
penghasilan.
Kami merasa ini suatu kesalahan. Keberadaan sekolah negeri kami selain untuk
memberikan pendidikan, juga untuk menyatukan anak-anak dari seluruh lapisan
masyarakat. Pemcampuran berbagai ras dan kelas sosial sangat penting dalam sebuah
negara demokrasi; kalau tidak, kita takkan mampu memahami dan bersimpati terhadap
mereka yang berbeda dari kita. Kalau itu terjadi, maka kejadiaannya tidaklah lama
sebelum masyarakat kehilangan kemampuan untuk memperdulikan mereka yang
membutuhkan bantuan.
Sistem pemilihan sekolah negeri pun harus disusun secara sesama guna menjamin
keadilan. Para orang tua membutuhkan informasi yang dapat dipercaya mengenai mutu
setiap sekolah dan harus dilakukan berbagai upaya tertentu agar informasi tersebut sampai
kepada orang tua yang kurang terdidik dan berpenghasilan rendah. Para siswa
membutuhkan trasportasi gratis. Integrasi harus dipertahankan supaya upaya yang telah
dilakukan oleh banyak distrik dengan cara menetapkan batas bawah jumlah siswa
minoritas di tiap-tiap sekolah.
Sebagian penentang sistem pemilihan sekolah negeri mengkhawatirkan siswa-siswa dari
golongan penghasilan rendah, yang orang tuanya mungkin kurang mengerti tentang
pemilihan atau peduli dengan pendidikan yang bermutu, akan tertinggal di sekolah-sekolah
dipusat kota yang kemudian menyusut dan gagal karena siswa-siswa yang baik pergi.
Tentu saja beginilah persisnya yang terjadi dibawah sistem lama, mereka yang punya dana
pergi ke sekolah-sekolah swasta atau ke daerah pinggiran kota, sementara yang tidak
punya akan tetap terperangkap. Kompetisi tersebut akan memaksakan sekolah-sekolah

42

yang gagal untuk melakukan perbaikan atau memaksa distrik bersangkutan untuk
mengubah manajemennya.
Dari tinjauan teoretis tentang kompetisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka dimensi
strategis dan dimensi praktis yang paling penting adalah bagaimana seorang manager atau
suatu organisasi dapat memanajemeni kompetisi. Dalam hubungan ini, kompetisi harus
disusun dan dimanajemeni secara cermat, jika ingin berhasil. Seperti dalam pendidikan,
maka pasar-pasar yang tidak diatur akan menimbulkan ketidakadilan. Organisasi yang
menjual jasa, baik itu pelatihan kerja, transportasi cenderung mengambil bisnis yang
paling menguntungkan yang menginginkan pelatihan yang paling sedikit, yang ruterutenya dapat dilalui.
Beginilah yang terjadi dalam pemeliharaan kesehatan sekarang ini. Rumah-rumah sakit
komersial menolak pasien yang tidak mempunyai asuransi, dengan mengirim mereka ke
rumah-rumah sakit umum yang penuh sesak. Konsekuensi ini dikenal dengan pembuangan
pasien. Dari hasil studi selama enam bulan terhadap sebuah rumah sakit umum di Dallas
mengungkapkan, sebanyak 77 persen pasien pindahan dari rumah-rumah sakit lain tidak
punya asuransi. Dengan kata lain rumah sakit swasta secara rutin menolak pasien tanpa
asuransi, dengan cara mengiriman mereka kerumah sakit negeri yang mampu
menampungnya.
Bentuk ketidakadilan lain dapat mengancam mereka yang bekerja untuk pemberi
pelayanan yang kompetitif. Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa upah yang dibayar
oleh pemerintah dan kontraktor swasta rata-rata cukup sebanding. Tetapi sebagian studi
memberi kesan bahwa para kontraktor memberikan tunjangan yang lebih sedikit, seperti
asuransi kesehatan. Pemerinteh-pemerinteh juga cenderung lebih agresif ketimbang
kontraktor swasta dalam memperkerjakan dan mempromosikan kaum minoritas dan
wanita.
Kompetisi yang disusun secara cermat dapat memberikan hasil yang lebih adil ketimbang
pemberian pelayanan oleh suatu monopoli pemerintah. Contohnya para kontraktor dapat
diwajibkan memberikan upah dan tunjangan sebanding dan mengusahakan tindakan yang

43

mendukung. Hal ini sangat penting sekali jika kita tidak ingim nilai - nilai yang kita anut
lewat pemerintah hilang saat pemerintah menggunakan kontrak-kontrak yang kompetitif.
Jika tidak disusun secara seksama, pasar yang kelihatan kompetitif dapat juga mengalah
pada kekuatan monopolistik baik dalam sistem kontrak (contracting) maupun pemerolehan
(procurement). Jika suatu perusahaan menginginkan sektor pemerintah, maka ia hanya
cukup menyetujui untuk menunda segala upaya mempengaruhi kebijakkan pemerintah
dalam bidang yang berkaitan. Konflik kepentingan merupakan hal yang nyata.
Ini tidak berarti bahwa monopoli pemerintah tidak mengakibatkan kesalahan yang sama.
Misalnya, beberapa contoh seperti: para kepala kantor pos mengirimkan banyak sekali
surat pos bea dalam upaya melobi kongres untuk mendapat suatu kenaikan tingkat di tahun
1990. Para kepala sekolah di chicago menuntut agar program pembaharuan yang
menghilangkan jaminan kerja seumur hidup mereka dihapuskan. Pilihan yang ada tidak
sekejam dalam sebuah pasar kompetitif: bersaing atau mati. Dalam era kompetisi yang
cukup kejam inilah, maka sektor pemerintah justru diharapkan makin dapat meningkatkan
kemampuan dan kualitas profesionalnya sehingga dapat belajar bersaing dan tidak tergilas
oleh kemajuan organisasi diluar dirinya.

44

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Apa yang diuraikan oleh Osborne dan Gaebler dalam buku Reinventing Government pada
hakekatnya merupakan suatu penawaran terhadap paradigma baru dan atau suatu
pergeseran dalam model dasar kepemerintahan (di Amerika). Yang menjadi persoalannya
adalah, bagaimana prinsip-prinsip yang secara teoritis sangat baik tadi dapat
diimplementasikan tanpa menimbulkan friksi-friksi yang dapat menghambat tercapainya
efisiensi dan efektivitas birokrasi dalam penyelenggaraan tugas-tugas pelayanannya. Atau
dengan kata lain, prinsip-prinsip pemerintahan wirausaha sebagaimana diuraikan diatas
baru mengena pada dimensi normatif atau das sollen, sementara pada dimensi empiris atau
das sein belum teruji dan belum dapat dibuktikan. Dengan demikian, tantangan yang harus
dijawab oleh segenap aparatur pemerintah dalam perspektif kedepan adalah, bagaimana
menemukan strategi-strategi praktis yang dapat diterapkan untuk mengadopsi prinsip
reinventing government kedalam sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan,
baik di Pusat maupun di Daerah.
Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa penerapan dan atau pengadopsian prinsip
reinventing government harus selalu mengingat karakteristik yang dimiliki oleh masingmasing daerah. Dapat dikatakan pula bahwa implementasi semangat reinventing
government sifatnya kontekstual, dan bukan universal.
Terlepas dari sifat kontekstualnya, gagasan untuk mereformulasikan atau merevitalisasikan
birokrasi modern sebagaimana yang ditulis oleh Osborne dan Gaebler perlu
45

diapresiasikan dan ditindaklanjuti. Sebab, prinsip-prinsip yang terkandung dalam semangat


reinventing government diyakini dapat menciptakan konsepsi baru mengenai birokrasi
modern, tidak seperti yang dipersepsikan oleh Weber. Dan terciptanya birokrasi modern
yang memiliki semangat kewirausahaan, pada gilirannya akan mampu meningkatkan
kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Daftar Pustaka
Gordon, Judith R., Organizational Behavior: A Diagnostic Approach, New Jersey:
Prentice Hall, 5th Edition, 1996
Nafziger, E. Wayne, The Economics of Developing Countries, New Jersey: Prentice Hall,
3rd Edition, 1997
Nonaka, I & Tekeuchi, (1995), The Knowledge-Creating Company, Hardvard Business
Scool Press, Boston.
Osborne, David, and Plastrik, Peter, Banishing Bureaucracy (The Five Strategies for
Reinventing Government), Addison-Wesley Publishing Company, Inc, 1996.
Osborne, David and Gaebler, Ted, Reinventing Government (How The Entrepreneurial
Spirit is Transforming The Public Sector), Addison-Wesley Publishing company,
Inc, 1992.
Savage, C., 1996, The Fifth Generation of Management, New York: Harper
Winardi, J., Entrepreneur and Entrepreneurship, Modul Pendidikan dan Pelatihan
Manajemen Unit Swadana, Bandung: LAN Perwakilan Jawa Barat, Januari 1995.
Lain-Lain:
Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 1992

Daftar Referensi
Osborne, David, and Plastrik, Peter, 1996, Banishing Bureaucracy (The Five Strategies for
Reinventing Government), Addison-Wesley Publishing Company, Inc.

46

Osborne, David and Ted Gaebler, 1992, Reinventing Government (How The
Entrepreneurial Spirit is Transforming The Public Sector), Addison-Wesley
Publishing company, Inc.

47