Anda di halaman 1dari 12

MASALAH KEMISKINAN

SOSIOLOGI
2014
Makalah ini disusun oleh:
- Kamelia Tokiawan / 143310010126
- Chaterine / 143310010127
- Andy Yang / 143310010129
- Catherine Meidany / 143310010134
- Gogo Raja Brandy Taringan / 143310010142

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kemiskinan.....................................................................................2
2.2 Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan...............................................................2
2.3 Dampak Kemiskinan........................................................................................3
2.4 Mengukur Kemiskinan.....................................................................................5
2.5 Langkah-Langkah Mengatasi Kemiskinan.......................................................6
2.6 Permasalahan yang Dihadapi Program Penanggulangan Kemiskinan.............7
BAB III
KESIMPULAN......................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman era globalisasi banyak terjadi masalah yang membuat masyarakat
semakin sulit menghadapinya terutama pada masalah kemiskinan yang semakin
bertambah dari tahun ketahun. Walaupun kemiskinan dapat dikategorikan sebagai
masalah klasik, tetapi sampai saat ini belum ditemukan cara yang tepat untuk
menanggulanginya.
Mengatasi kemiskinan pada hakekatnya merupakan upaya memberdayakan
orang miskin untuk dapat mandiri baik dalam pengertian ekonomi, budaya dan
politik. Penanggulangan kemiskinan tidak hanya dengan memberdayakan ekonomi,
akan tetapi juga dengan memberdayakan politik bagi lapisan miskin merupakan
sesuatu yang tidak dapat terelakkan jika pemerataan ekonomi dan terwujudnya
kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial seperti yang dikehendaki.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kemiskinan


Kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh
negara-negara berkembang melainkan negara maju. Sebagai warga negara Indonesia,
dalam menuntaskan masalah kemiskinan tidak hanya bertumpu pada bantuan
pemerintah namun di zaman globalisasi ini warga negara Indonesia dituntut untuk
mempunyai kualitas SDM yang unggul sehingga memungkinkan munculnya
keunggulan individual yang dapat memberikan kemakmuran individu dan
masyarakat.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan
kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan
dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
2.2 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
1. Individu
Kemiskinan terjadi diakibatan oleh perilaku atau pilihan dari diri manusia itu
sendiri yang tidak mau berusaha atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Pendidikan
Kemiskinan terjadi diakibatkan oleh tingkat pendidikan yang rendah sehingga
mengakibatkan individu itu tidak bisa mencari nafkah yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
3. Agensi
Kemiskinan terjadi diakibatan oleh aksi orang lain seperti perang, pemerintah
dan ekonomi.
4. Struktural
Kemiskinan itu terjadi sebagai akibat dari struktur sosial.
5. Alokasi dan kualitas SDA yang belum dimaksimalkan potensinya.
6. Ketersediaan fasilitas umum yang sedikit dan tidak merata diberbagai wilayah
menyebabkan masyarakat kurang mendapatkan hak atas dirinya sebagai masyarakat
Indonesia.

7. Penggunaan teknologi yang kurang dipahami oleh kebanyakan masyarakat yang


mengakibatkan sulitnya mendapat pekerjaan yang layak.
8. Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia.
9. Tidak meratanya pendapatan penduduk Indonesia.
10. Biaya kehidupan yang tinggi.
11. Kurangnya perhatian dari pemerintah.
12. Bencana alam
2.3 Dampak Kemiskinan
Dampak kemiskinan sangat bervariasi karena kondisi dan penyebab yang berbeda
memunculkan akibat-akibat yang berbeda. Beberapa dampak dari kemiskinan yang cukup
sering kita jumpai di masyarakat yaitu:
a.

Pengangguran

Pengangguran merupakan dampak dari kemiskinan, yang berhubungan dengan


pendidikan dan keterampilan yang sulit diraih oleh masyarakat. Oleh karena itu
masyarakat sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan yang layak untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Karena sulit untuk mencari pekerjaan, maka tidak ada pendapatan
untuk pemenuhan kebutuhannya.
Misalnya saja harga beras yang semakin meningkat, orang yang pengangguran
sulit untuk membeli beras, maka mereka makan seadanya. Seorang pengangguran yang
tak dapat memberikan makan kepada anaknya akan menjadi dampak yang buruk bagi
masa depan sehingga akan mendapat kesulitan untuk waktu yang lama.
b.

Kriminalitas

Kriminalitas merupakan dampak lain dari kemiskinan. Kesulitan mencari nafkah


mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan cepat tanpa memedulikan halal
atau haramnya uang sebagai alat tukar guna memenuhi kebutuhan.
Misalnya saja perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, pembegalan,
penjambretan dan masih banyak lagi contoh kriminalitas yang bersumber dari
kemiskinan. Mereka melakukan itu semua karena kondisi yang sulit mencari penghasilan
untuk keberlangsungan hidup dan lupa akan nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan.
Di era global dan materialisme seperti sekarang ini tak heran jika kriminalitas terjadi
dimanapun.

c.

Putus Sekolah

Putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan sudah pasti merupakan dampak


kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan rakyat miskin putus sekolah
karena tidak lagi mampu membiayai sekolah. Putus sekolah dan hilangnya kesempatan
pendidikan akan menjadi penghambat rakyat miskin dalam menambah keterampilan,
menjangkau cita-cita dan mimpi mereka. Hal inilah yang menyebabkan kemiskinan yang
dalam karena hilangnya kesempatan untuk bersaing dengan individu lainnya dan
hilangnya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
d.

Kesehatan

Kesehatan sulit untuk didapatkan karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari


akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya
pengobatan yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat
miskin. Hal ini yang menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar di
kalangan masyarakat miskin di indonesia.
e.

Generasi Muda/Penerus

Buruknya kualitas generasi muda adalah dampak yang berbahaya akibat


kemiskinan. Jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karena terpaksa, maka akan ada
gangguan pada anak-anak itu sendiri seperti gangguan pada perkembangan mental, fisik
dan cara berfikir mereka.
Contohnya adalah anak-anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal, tidur
dijalan, tidak sekolah, mengamen untuk mencari makan dan lain sebagainya. Dampak
kemiskinan pada generasi penerus merupakan dampak yang panjang dan buruk karena
anak-anak seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapat pendidikan,
mendapat nutrisi baik dan lain sebagainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam
kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi penerusnya.
f.

Konflik Sosial

Konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul
akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi masyarakat miskin yang terus
bertambah dan semakin sulit untuk ditanggulangi. Hal ini menjadi bukti lain dari
kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan
keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik
yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang
berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Keseluruhannya

menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di
setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.
g.

Bertambahnya tingkat kematian

Masyarakat Indonesia banyak yang meninggal akibat dari kelaparan atau


melakukan tindakan bunuh diri karena tidak sanggup dalam menjalani kemiskinan yang
di alaminya.
2.4 Mengukur Kemiskinan
Menurut Baswir dan Sumodiningrat, secara sosioekonomis, terdapat dua bentuk
kemiskinan yaitu :
1.

Kemiskinan absolute
Kemiskinan absolut adalah kemiskinan di mana orang-orang miskin memiliki
tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan, atau jumlah pendapatannya tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum. Kebutuhan hidup minimum
antara lain diukur dengan kebutuhuan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan
pendidikan, kalori, GNT per kapita, dan pengluaran konsumsi.
Kemiskinan absolut diukur dari satu set standar yang konsisten, tidak
terpengaruh oleh waktu dan tempat/ negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut
yaitu persentase dari populasi yang mengonsumsi makanan dibawah jumlah yang
cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira-kira 2000-2005 kalori per hari
untuk laki-laki dewasa).
Bank Dunia mendfinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan
dibawah USD $1 / hari dan kemiskinan menengah untuk pendapatan di bawah $2 per
hari. Dengan batasan ini maka diperkirakan pada 2001 1,1M orang di dunia
mengonsumsi kurang dari $1 / hari dan 2,7M orang di dunia mengonsumsi kurang
dari $2 per hari.

2.

Kemiskinan relatif
Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan
antara tingkat pendapatan dan tingkat pendapatan lainnya. Contoh, seseorang yang
tergolong kaya pada masyarakat desa tertentu bisa jadi yang termiskin pada
masyarakat desa yang lain. Di samping itu, terdapat bentuk-bentuk kemiskinan yang
sekaligus menjadi faktor penyebab kemiskinan (asal mula kemiskinan), yaitu :
1. Kemiskinan natural

Kemiskinan natural adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang


miskin. Kelompok masyarakat ini menjadi miskin karena tidak memiliki sumber
daya yang memadai baik SDA, SDM maupun pembangunan, atau kalaupun
penaikan ikut serta dalam pembangunan, mereka hanya mendapat imbalan
pendapatan yang rendah. Menurut Baswir, kemiskinan natural adalah
kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor alamiah seperti karena cacat,
sakit, usia lanjut dan bencana alam. Kondisi kemiskinan seperti ini menurut
Kartasasmita disebut sebagai persisten poverty, yaitu kemiskinan yang telah
kronis atau turun-temurun. Daerah seperti ini pada umumnya merupakan daerah
yang kritis SDAnya atau daerah yang terisolasi.
2. Kemiskinan kultural
Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok,
masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya
dimana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan.
Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah diajak untuk berpartisipasi dalam
pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki, dan mengubah tingkat
kehidupannya. Akibatnya, tingkat pendapatan mereka rendah menurut ukuran
yang dipakai secara umum. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Baswir
bahwa ia miskin karena faktor budaya seperti malas, tidak disiplin dan boros.
3. Kemiskinan struktural
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktorfaktor yang dibuat manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi
aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan konomi dunia
yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu. Selanjutnya
Sumodiningrat mengatakan bahwa munculnya kemiskinan struktural disebabkan
karena berupaya menanggulangi kemiskinan natural, yaitu dengan direncanakan
bermacam-macam program dan kebijakan. Namun karena pelaksanaannya tidak
seimbang, pemilikan sumber daya tidak merata, kesmpatan yang tidak sama
menyebabkan keikutsertaan masyarakat menjadi tidak merata pula, sehingga
menimbulkan struktur masyarakat yang timpang.
2.5 Langkah-langkah mengatasi masalah kemiskinan
Untuk mengatasi masalah kemiskinan pemerintah perlu membuat ketegasan dan
kebijakan yang lebih membumi dalam menyelesaikan masalah kemiskinan ini.
Beberapa langkah bisa dilakukan di antaranya :
1.Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja
sehingga mengurangi pengangguran.

2.Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok manusia,sehingga setiap


masyarakat bisa menikmati makanan berkualitas. Hal ini beerdampak pada
meningkatnya angka kesehatan masyarakat.
3.Menghapuskan korupsi. Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan
masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan masyarakat
tidak dapat menikmati hak mereka sebagai waga negara sebagaimana mestinya.
4.Menggalakkan program zakat. Program zakat diperkenalkan sebagai media
untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan antar masyarakat dan megurangi
kesenjangan kaya miskin. Apabila program zakat bisa dikelola dengan baik maka
akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
5.Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program in bertujuan
menjamin daya beli masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok. Program
yang berkaitan dengan fokus ini seperti :
- penyediaan cadangan beras pemerintah 1juta ton.
- stabilisasi/kepastian harga komuditas primer.
6. Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada layanan dasar. Fokus program
ini bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan
pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar.
7. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis
masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi
pemberdayaan masyarakat dikawasan perdesaan dan perkotaan serta
memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi
penduduk miskin.
2.6 Permasalahan yang dihadapi dalam program penanggulangan kemiskinan.
Untuk menekan jumlah penduduk miskin yang masih cukup besar dan mengatasi
kemiskinan yang kompleks dan luas dituntut penanganan yang komprehensif dan
berkelanjutan beberapa permasalahan yang masih menjadi beban dalam rangka
mengentaskan kemiskinan antara lain :
1. Tingginya tingkat inflasi akibat kenaikkan harga bahan bakar minyak.
Kenaikkan harga BBM sering kali menjadi pemicu inflasi, dengan dampak yang
paling terasa ialah dengan bertambahnya jumlah kemiskinan masyarakat perkotaan.
Artinya jika kenaikkan harga BBM memicu naikknya tingkat biaya produksi dan
distribusi barang serta jasa sedangkan tingkat pendapatan masyarakat tetap, hal ini
yang menjadi gejala penurunan pendapatan fluktuasi harga-harga kebutuhan

masyarakat bersamaan dengan turnunnya pendapatan akan memicu rendahnya daya


beli masyarakat yang berakibatkan penambahan jumlah warga miskin.
2. Belum meratanya program pembangunan khususnya di perdesaan, luar pulau
Jawa, daerah terpencil, dan daerah perbatasan. Sekitar 63,5% penduduk miskin hidup
didaerah perdesaan. Secara persentase terhadap jumlah penduduk di daerah ini,
kemiskinan di luar pulau Jawa termasuk Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua juga
lebih tinggi dibandingkan di pulau Jawa. Oleh karena itu, upaya penangganan
kemiskinan seharusnya lebih difokuskan daerah-daerah ini.
3. Masih terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, seperti
akses pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, dan terepenuhinya kebutuhan gizi
yang memadai untuk kesehatan, terpenuhinya kebutuhan tempat tinggal yang layak.
Terbatasnya masalah miskin dalam mengakses pelayanan dasar semata-mata dilatar
belakangi oleh ketidakberdayaannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Masih besarnya jumlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin, baik karena
bencana ekonomi, bencana alam, dan juga akibat kurangnya akses terhadap
pelayanan dasar sosial. Hal ini menjadi permasalahan krusial yang harus di hadapi
dalam penanganan kemiskinan. Saat ini masih terdapat banyak korban bencana alam,
anak terlantar, anak jalanan, penduduk lanjut usia, gelandangan dan pengemis, serta
tunasusila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial.
5. Kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Fluktuasi ini berdampak besar pada daya beli masyarakat miskin. Sehubungan
dengan ini, upaya penanggulangan kemiskinan melalui stabilitas harga kebutuhan
pokok harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Hal ini bertujuan agar
penanggulangan kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan dapat berjalan
lebih efektif dan efisien. Berbagai kebijakan dan upaya dan penanggulangan
kemiskinan senantiasa disempurnakan agar pengurangan angka kemiskinan dapat
tercapai secara efektif.

BAB III
KESIMPULAN
Dapat kita ketahui bahwa kemiskinan dapat di tanggulangi dengan adanya
kerjasama antara pemerintah dengan rakyatnya dimana pemerintah membuat dan
menjalankan program-program penanggulangan masalah kemiskinan dimana
lembaga-lembaga dan masyarakatnya ikut serta dalam membantu dan
menjalankan program yang diterapkan tersebut. Dimana program-program
tersebut dapat mensejahterahkan rakyat Indonesia sehingga rakyat Indonesia
mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak serta dapat menjamin
kelangsungan dan keamanan lingkungannya. Dengan syarat dimana lembaga
pemerintahan harus bersifat jujur, transparan, dan tidak memihak atau
mementingkan kelompok-kelompok tertentu dan rakyatnya ikut serta beroposisi
dalam menjaga stabilitas, kualitas, kuantitas lembaga-lembaga pemerintahan
tersebut.

Daftar Pustaka
Setiadi,Elly M.Kolip,Usman.2011.Pengantar Sosiologi.Bandung:Kencana.
Anneahira(2013).10 Arah Masalah Ekonomi.[online].Tersedia:
http://www.anneahira.com. [18 Mei 2013]
Arifin, K. (2011).Pengertian Kemiskinan.[online]. Tersedia:
http://khairilanwarsemsi.blogspot.com. [12 Mei 2013].
Masruroh, H. (2011). Keluarga Miskin. [online]. Tersedia:
http://www.voonq.com. [12 Mei 2013].
Pirwanto, Ngalim. (2004). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Pratiwi, S. (2012). Dampak Kemiskinan. [online]. Tersedia:
http://saefakipratiwi.wordpress.com. [12 Mei 2013].
Yusuf, Syamsu. (2007). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

10