Anda di halaman 1dari 6

I.

Hakikat dan Tujuan Pernikahan


Hakikat sebuah pernikahan adalah suatu ikrar janji kesetiaan dan
terciptanya pola hubungan yang harmonis saling jujur, percaya dan pengertian
antara suami dan istri dengan tujuan pencapaian ridha Allah Swt. Ikatan suatu
pernikahan yang diniatkan mencari ridha Allah jauh lebih mulia ketimbang
diniatkan yang lain. Sebab dalam pernikahan tersebut akan mendapatkan
keberkahan dan usia pernikahan akan langgeng serta terus berkesinambungan.
Tentunya suami dan istri akan mendapatkan pola hubungan yang bahagia bukan
hanya sesaat melainkan dunia akhirat kelak.
Adapun tujuan pernikahan menurut islam adalah :
1. Untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hidup (sakinah).
Ketentraman dan kebahagiaan adalah idaman setiap orang. Nikah
merupakan salah satu cara supaya hidup menjadi bahagia dan tentram.










Artinya : Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya.
[Q.S.Ar-Rum 21]
2. Membina rasa inta dan kasih sayang.nikah merupakan salah satu ara
untuk membina kasih sayang antara suami, istri dan anak.

Artinya : Dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah.


[Q.S.Ar-Rum 21]
3. Untuk memenuhi kebutuhan seksual yang sah dan di ridhai Allah swt.
4. Melaksanakan perintah Allah swt, karena menikah akan dicatat sebagai
ibadah.

Artinya : Maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kalian


senangi. [Q.S.An-Nisa 3]
5. Mengikuti sunnah Rasullullah saw, mencela orang yang hidup
membujang dan beliau menganjurkan umatnya untuk menikah.
Sebagaimana sabda beliau :
Artinya : Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan
golonganku !(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
6. Untuk memperoleh keturunan yang sah.







Artinya :Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.[Q.S.
Al-Kahfi 46]

II.

Prinsip memilih jodoh & UU perkawinan.


Adapun prinsip memilih jodoh yaitu :
1. Yakinlah bahwa jodoh itu di tangan Allah, tugas kita adalah ikhtiar untuk
menyingkap takdir Allah tentang jodoh sesuai dengan aturan yang Allah
tetapkan, sehingga kita tidak sombong karena banyak kelebihan atau putus
asa karena banyak kekurangan
2. Sesungguhnya memilih cara dan siapa yang dipilih adalah hak pribadi,
sehingga tidak ada paksaan atau keterpaksaan
3. Realistis dan objektif, tidak terjebak pada tuntutan kesempurnaan calon
karena justru akan menjebak pada saat menjalani rumah tangga
4. Yakinlah bahwa setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan, yang
penting hal prinsip tidak ada persoalan
5. Boleh meneliti calon lewat data dan diskusi untuk menguatkan rasa, tapi
keputusan akhir dengan meminta pertimbangan Allah
6. Jangan mempersulit diri hal yang mudah
7. Jangan persempit diri hal yang luas, misal: fokus pada seseorang
8. Pasangan kita adalah cermin dari diri kita, maka ikhtiar menjadi lebih baik
lebih urgent dalam mencari pasangan terbaik (QS. An Nur: 26)
Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara
memilih pasangan hidup yang tepat dan islami.
A. Beberapa kriteria memilih calon istri

1. Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan


pertama.
2. Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah
akan mampu menjadi ibu dan istri yang baik.
3. Memiliki dasar pendidikan Islam yang baik. Wanita yang memiliki
dasar pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi
wanita sholihah yang akan selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita
sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.
4. Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki
banyak sifat kebaikan.
5. Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban
rumah tangga dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang
baik.
6. Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah
generasi penerus yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah,
Rasulullah SAW menganjurkan agar memilih wanita yang mampu
melahirkan banyak anak.
7. Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda
yang belum pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara
keluarga yang baru terbentuk dari permasalahan lain.
B. Beberapa kriteria memilih calon suami
1. Beragama Islam (muslim). Suami adalah pembimbing istri dan
keluarga untuk dapat selamat di dunia dan akhirat, sehingga syarat ini
mutlak diharuskan.
2. Memiliki akhlak yang baik. Laki-laki yang berakhlak baik akan
mampu membimbing keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah SWT.

3. Sholih dan taat beribadah. Seorang suami adalah teladan dalam


keluarga, sehingga tindak tanduknya akan menular pada istri dan anakanaknya.
4. Memiliki ilmu agama Islam yang baik. Seorang suami yang memiliki
ilmu Islam yang baik akan menyadari tanggung jawabnya pada keluarga,
mengetahui cara memperlakukan istri, mendidik anak, menegakkan
kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara
halal dan baik.
Perkawinan menurut UU No: 1 Tahun 1974
1) Garis besar isi UU No: 1 Tahun 1974
UU No: 1 Tahun 1974 tentang perkawinan terdiri dari 14 bab dan 67
pasal.
2) Pencatatan Perkawinan
Dalam pasal 2 ayat 2 dinyatakan bahwa: Tiap-tiap perkawinan dicatat
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan
tentang pelaksaan pencatataan perkawinan ini tercantum dalam
PP No: 9 tahun 1975 Bab II pasal 2 sampai 8.
3) Syahnya Perkawinan
Dalam pasal 2 ayat 1 ditegaskan bahwa: Perkawinan adalah sah apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya
itu.
4) Tujuan Perkawinan
Dalam Bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
5) Talak
Dalam Bab VIII pasal 29 ayat 1 dijelaskan bahwa:Perceraian hanya
dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua pihak.

6) Batasan dalam Berpoligami


a. Dalam pasal 3 ayat 1 dijelaskan bahwa: Pada dasarnya dalam
suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang
istri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

b. Dalam pasal 4 dan 5 ditegaskan bahwa dalam hal seorang suami


akan beristri lebih dari seorang ia wajib mengajukan
permohonan kepada pengadilan didaerah tempat tinggalnya.
c. Pengadilan hanya memberi izin berpoligami apabila:
Istri tidak dapat menjalakan kewajibannya sabagai istri.
Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak bisa

disembuhkan.
Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Dalam pengajuaan berpoligami harus memenuhi syarat:
Adanya persetujuan dari istri.
Adanya kepastian bahwa suami mampu
menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak
mereka.
Adanya jaminan bahwa suami akan brlaku adil
terhadap istri dan anak-anaknya.

III.

Keluarga bahagia menurut Islam


syarat yang sekaligus menjadi ciri dari keluarga bahagia tersebut antara lain:
1. Kasih sayang antara suami dan istri. Syariat Islam melarang dengan tegas
pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Karena
pergaulan yang demikian lebih banyak membawa mudharat. Melalui
pergaulan bebas yang tidak diikat oleh ijab kabul (pernikahan) sudah tentu
akan melahirkan bentuk kasih sayang yang hanya bersandar kepada
pengaruh hawa nafsu semata. Hasil dari keadaan itulah yang akan
menjerumuskan ke arah perzinahan, hamil di luar nikah, pengguguran
kandungan serta pembuangan anak seperti yang kita dengar banyak terjadi
dalam masyarakat.
2. Kasih sayang antara ibu bapak dan anak-anak. Dari pernikahan antara
suami/istri alamiyahnya akan lahir keturunan, yang mana anak adalah
amanah dari Allah yang perlu dididik dengan sempurna seperti yang
diterangkan dalam dua hadist. Sabda Nabi saw: Wajib atas kamu memberi
nafkah kepada mereka dan pakaian mereka yang munasabah dan berlaku adil

kepada mereka dan seseorang itu akan berdosa dengan sebab dia menyianyiakan mereka yang menjadi tanggungannya.
3. Kasih sayang antara anak dengan ibu bapak. Sebagaimana ibu dan bapak
memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak, demikianlah juga Islam
menganjurkan supaya anak-anak ikut memberikan kasih sayang mereka
terhadap kedua ibu bapak mereka. Dari apa yang selalu kita dengar,
sesungguhnya syurga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.
4. Kasih sayang terhadap saudara dan tetangga. Islam senantiasa menganjurkan
supaya umatnya menjalin hubungan kasih sayang, silaturahmi dan saling
memberi satu sama lainnya. Kasih sayang itu bukan sekedar perlu dipupuk
antara suami dan istri, ibu bapak dan anak serta anak dan ibu bapak saja,
tetapi silaturahmi terhadap saudara yang lain termasuk tetangga juga sangat
digalakkan oleh Islam karena hasil dari ikatan kemesraan itu nanti akan
menumbuhkan kekuatan ummat yang padu.
5. Kasih sayang terhadap masyarakat dan lingkungan. Kasih sayang terhadap
masyarakat dan seluruh manusia juga digalakkan oleh Islam. Untuk
menjamin kerukunan hidup bermasyarakat, Islam juga mencegah kita
berbuat kerusakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Oleh
karena itu Islam melarang kita mengumpat, berkata-kata bohong, fitnah,
hasad dan dengki sesama manusia, menjatuhkan martabat orang lain,
mencuri, merampok, menganiaya sesama manusia serta membunuh.