Anda di halaman 1dari 8

SISTEM USAHATANI PADI PADA LAHAN IRIGASI

DI PROVINSI JAMBI
Kesesuaian inovasi / karakteristik lokasi :
Desa Sri Agung merupakan sentra produksi padi sawah di Provinsi Jambi
yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung
Jabung Barat yang memiliki sawah irigasi dengan luas tanam 750 ha. Desa Sri
Agung dengan topografi datar terletak pada ketinggian 10 15 m dari permukaan laut
dengan curah hujan rata-rata 2600 mm/tahun dengan 7 bulan basah (Januari, Maret,
April, Agustus, September, Nopember dan Desember) dan 5 bulan kering (Mei, Juni,
Juli, Oktober dan Pebruari).
Jenis tanah di desa Sri Agung termasuk Podsolik Merah Kuning dengan
tekstur lempung, liat dan berpasir dan mempunyai pH antara 4,9 5. Berdasarkan
sifat dan ciri tanah yang optimal untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi adalah
: 1) pH antara 5,5 -6,5, 2) tekstur tanah lempung, berdrainase baik, 3) tipe mineral liat
1 : 1 dan bahan induk kaya akan hara dan basa, 4) kandungan bahan organik sedang,
5) ketersediaan hara makro dan mikro cukup.
Keunggulan / nilai tambah inovasi
Penerapan teknologi dengan pendekatan PTT untuk usahatani padi di lahan
irigasi mendapat respon yang cukup tinggi dari petani, dengan beberapa komponen
teknologi yang di anjurkan, diantaranya varietas unggul baru (VUB), sistim tanam
legowo, pemupukan organik (pupuk kandang) dan an organik (urea) dengan Bagan
Warna Daun (BWD).
Penerapan teknologi dengan pendekatan PTT menunjukkan peningkatan
produksi padi antara 1,5-2 ton GKP/ha dan juga dapat meningkatkan pendapatan
petani sekitar Rp. 2-3 juta atau sekitar 30 %.
Dari hasil analisis finansial usahatani padi varietas Ciherang dengan
pendekatan PTT memberikan keuntungan yang lebih besar dibanding non PTT.
Keuntungan per hektar yang diperoleh petani melalui pendekatan PTT sebesar Rp

5.189.340 dengan nilai R/C ratio 2,04. Sedangkan keuntungan melalui non PTT
sebesar Rp 2.755.000 dengan nilai R/C ratio 1,7.
Hasil analisis usahatani padi varietas Tukad Balian menunjukkan dengan
pendekatan PTT mampu memberikan keuntungan yang lebih besar dibanding dengan
non PTT. Keuntungan yang diperoleh melalui pendekatan PTT sebesar Rp 4.332.000
dengan nilai R/C ratio 1,87, sedangkan melalui non PTT keuntungan yang diperoleh
sebesar Rp 2.875.000 dengan nilai R/C ratio 1,80. Hal ini menunjukkan bahwa
pendekatan PTT dengan penambahan biaya produksi dapat meningkatkan produksi
padi baik varietas Ciherang maupun Tukad Balian.

Uraian inovasi
Tabel 1. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu di Desa Sri Agung
Kecamatan Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi
No

Komponen Teknologi

1
2
3
4
5
6
7

Varietas
Pesemaian
Jumlah benih
Umur bibit
Jumlah bibit/rumpun
Cara tanam
Pengelolaan air

Efisiensi pemupukan :
Urea
SP 36
KCl

Pendekatan PTT
VUB (Ciherang dan Tukad Balian)
Pesemaian basah, seed treatment
25-30 kg/ha
21 hari
1 3 batang
Legowo 4 : 1 atau 6 : 1
Pengaturan drainase pada musim
hujan
150 kg/ha (pemupukan
menggunakan Bagan Warna Daun
(BWD)
100 kg/ha,
100 kg/ha

Bahan Organik

1-2 t/ha kompos pupuk kandang

10

Pengendalian hama/
Penyakit

11

Pengendalian gulma

12

Panen

13

Pascapanen

Gunakan komponen PHT


(pengendalian hama/penyakit
terpadu) secara tepat sesuai
dengan jadwal tanam
Pemberian pestisida secara
bijaksana (pada situasi dimana
musuh alami rendah)
Dapat
menggunakan landak pada cara
tanam tegel atau legowo
Dapat
menggunakan racun rumput
(herbisida)
Cara potong
(Batang)
Perontokan
(Thresher)
Penjemuran
(Lantai jemur/Alat pengering)

Cara penggunaan inovasi


a. Pemilihan Varietas
Varietas padi yang digunakan adalah Varietas Unggul Baru (VUB) yang sudah
dilepas, berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit serta sesuai dengan
keinginan petani. Beberapa jenis varietas padi unggul untuk lahan irigasi adalah
VUB Ciherang, Tukad Petanu, Tukad Balian dan Tukad Unda.
b. Pesemaian
Lahan persemaian tidak boleh tergenang tetapi cukup basah. Persemaian
seharusnya terletak pada tempat yang aman dari serangan tikus, mudah dikontrol dan
jauh dari sumber cahaya di malam hari agar terhindar dari serangan hama.
c. Kebutuhan benih
Benih yang dibutuhkan 25 30 kg/ha.

Untuk daerah endemis hama

penggerek batang gunakan perlakuan benih (seed treatment) dengan menggunakan


insektisida.

Perlakuan benih bertujuan untuk mencegah hama pada stadia awal

perkecambahan, merangsang pertumbuhan akar, memperkecil resiko kehilangan


hasil, serta memelihara dan memperbaiki kualitas benih.
d. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan menggunakan traktor,
yaitu bajak satu kali kemudian digaru dan diratakan.
Pengolahan tanah diusahakan sampai berlumpur dan rata yang dimaksudkan
untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik bagi tanaman padi sekaligus
mengendalikan/mematikan gulma. Pengolahan tanah yang sempurna dicirikan oleh
perbandingan lumpur dan air 1 : 1.

Pembajakan tanah dilakukan dua kali, setelah

pembajakan pertama lahan sawah dibiarkan tergenang selama 7-15 hari, kemudian
dilakukan pembajakan kedua. Setelah pembajakan kedua dilakukan penggaruan/
penggelebekan untuk meratakan tanah dan pelumpuran. Untuk tanah yang lapisan

olahnya dalam, pengolahan cukup dilakukan dengan penggaruan/ penggelebekan


tanpa pembajakan, terutama pada musim kemarau (setelah panen MH).
e. Penanaman
Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur tidak lebih dari 21 hari setelah
semai. Penanaman dilakukan dengan sistem legowo 4:1, 6 :1 dan 8 : 1. Jarak tanam
dan baris terpinggir pada tiap unit legowo lebih rapat dari baris yang di tengah
(setengah jarak tanam baris yang ditengah), dengan maksud untuk mengkompensasi
populasi tanaman pada baris yang dikosongkan. Pada baris kosong, diantara unit
legowo, dapat dibuat parit dangkal.

Parit dapat berfungsi untuk mengumpulkan

keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi.


f. Pengairan
Pengelolaan air dilakukan secara terputus (Intermitten), yaitu lahan sawah
diari setinggi 3-5 cm mulai pada umur tiga hari setelah tanam, selanjutnya air dalam
sawah dibiarkan sampai habis dan lahan diairi kembali. Begitu seterusnya sampai
tanaman mencapai stadia primordia. Mulai pada saat primordia tanaman diairi terusmenerus setinggi 3-5 cm, kemudian lahan sawah dikeringkan sekitar 10 hari sebelum
panen untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.
g. Pemupukan
Pemupukan Urea dilakukan berdasarkan pengamatan dengan menggunakan
Bagan

Warna

Daun/Leaf

Colour

Chart

(BWD/LCC)

skala

empat

yang

pengamatannya dimulai pada umur 14 hst dengan interval 7-10 hari, sehingga dosis
Urea yang diberikan 150 kg/ha dengan dua kali aplikasi. Pupuk P dan K diberikan
umur 7-10 hari setelah tanam, masing-masing dosis 100 kg SP36 dan 100 kg KCl/ha.
Pada saat pemupukan dan pengendalian gulma dilakukan dalam keadaan
sawah macak-macak. Pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan herbisida
pratumbuh yang dikombinasikan dengan penyiangan secara manual.
h. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dilakukan berdasarkan konsep pengendalian hama


terpadu. Penggunaan pestisida harus didasarkan pada hasil pemantauan di lapangan,
agar dicapai efisiensi yang tinggi dan pencemaran lingkungan dapat diminimalisir.
Komponen pengendalian yang diterapkan sesuai dengan tahapan budidaya tanaman.
Panen Dan Pasca Panen

Penen pada waktu yang tepat :


- Perhatikan umur tanaman ; antara varietas yang satu dengan lainnya
kemungkinan berbeda
- Hitung sejak padi mulai berbunga, biasanya panen jatuh pada 30 35
hari setelah padi berbunga
- Jika 95 % malai menguning, segera panen

Panen dan perontokan :


- Gunakan alat sabit bergerigi atau mesin panen
- Panen sebaiknya dilakukan dengan cara potong tengah atau potong
atas bila gabah akan dirontok dengan power tresher. Bila gabah akan
dirontok dengan pedal tresher, panen dapat dilakukan dengan cara
potong bawah.
- Hasil panen dimasukkan ke dalam karung atau kalau ditumpuk perlu
diberi alas untuk mencegah gabah tercecer.
- Perontokan harus segera dilakukan, dihindari penumpukan padi sawah
sampai beberapa hari, untuk menjaga kualitas, menekan kehilangan
hasil dan kerusakan gabah.

Pengeringan :
- Jemur gabah di atas lantai jemur
- Ketebalan gabah 5 7 cm
- Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali
- Pada musim hujan gunakan pengering buatan
- Pertahankan suhu pengering 42 oC untuk mengeringkan benih
- Pertahankan suhu pengering 50 oC untuk gabah konsumsi

Penggilingan dan penyimpanan :


- Pengemasan dan pengangkutan pada waktu pemanenan, perontokan,
pembersihan, pengeringan, maupun penyimpanan, dianjurkan
menggunakan karung goni atau plastik yang baik, tidak bocor, bersih,
kuat, dan bebas hama.
- Untuk memperoleh beras dengan kualitas tinggi, perhatikan waktu
panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12-14 %)
- Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam
lumbung/gudang, bebas hama, dan memiliki sirkulasi udara yang baik
- Simpan gabah pada kadar air kurang dari 14 % untuk konsumsi dan
kurang dari 13 % untuk benih

Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling,


dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12 14 %
Sebelum digiling, gabah yang baru dikeringkan diangin-anginkan
terlebih dahulu untuk menghindari butir yang pecah

Informasi yang perlu ditonjolkan


Dalam pengelolaan usahatani padi di desa Sri Agung dengan pendekatan PTT
mendapat respon yang cukup tinggi dari petani. Hal ini terlihat dari keinginan petani
untuk menerapkan dan mengembangkan komponen PTT pada usahatani padi,
terutama penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi, cara tanam legowo,
pemupukan Urea dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) dan pemanfaatan
bahan organik (pupuk kandang).
Penanaman dengan sistem tanam legowo 4:1 atau 6:1 sudah dilaksanakan
petani, dimana dengan sistem legowo dapat meningkatkan produktivitas lahan dan
produktivitas tanaman padi sekitar 25 - 35 % dari produktivitas yang diperoleh petani
dengan sistem tanam tegel. Keuntungan dari sistim tanam legowo yang sudah
dirasakan petani adalah pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah,
serangan hama dan penyakit berkurang, menyediakan ruang kosong untuk pengaturan
air, saluran pengumpul keong mas dan penggunaan pupuk lebih efisien.
Sistem tanam legowo sudah menyebar ke petani non koperator walaupun
belum sempurna. Kendala pengembangan sistem tanam legowo adalah tenaga kerja,
dimana mereka

belum terbiasa menanam dengan sistem legowo dan biasanya

menanam dengan sistem tegel, selain itu menanam padi sistem legowo waktunya
lebih lama dibanding sistem tegel dan biaya tanam lebih tinggi dari sistem tanam
tegel.
Untuk komponen teknologi lainnya seperti pemberian pupuk organik/pupuk
kandang dapat memperbaiki kondisi tanah dan petani menyadari akan manfaat pupuk
tersebut dan penggunaan pupuk kandang sudah dilakukan oleh petani non koperator.
Namun permasalahan yang timbul adalah sulit mendapatkan pupuk kandang dalam
jumlah yang banyak/skala luas. Respon petani terhadap pemupukan berimbang sangat
baik, karena petani menyadari tanpa pemupukan terlihat pertumbuhan dan produksi
padi rendah. Kendalanya adalah ketersediaan pupuk Urea, SP 36 dan KCl terbatas,
pada saat petani harus memupuk tanamannya.