Anda di halaman 1dari 12

FISIKA RADIODIAGNOSTIK,

Distorsi dan Magnifikasi


Pada radiografi, kebanyakan distorsi dihasilkan dari variasi magnifikasi obyek yang berlainan
tempat dan arah dari obyek tersebut terhadap berkas sinar-x.
Penyebab Distorsi pada Radiografi

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa ukuran relative dan posisi dari obyek
mengalami distorsi oleh karena :

metode proyeksi pencitraan medik yang biasa digunakan pada prosedur radiografi dan
floroskopi.

variasi magnifikasi (pembesaran) obyek yang berlainan tempat dan arah dari obyek
tersebut terhadap berkas sinar-x.

jarak antara garis tengah struktur sejajar film yang tidak tegak lurus dengan pusat sinar-x
(Central Ray/CR).

disebabkan oleh jarak focus-film (FFD), film-objek (FOD).

Semakin dekat jarak film dengan obyek (FOD) semakin kecil bayangan penumbra yang
terbentuk pada film, semakin besar jarak film dengan obyek maka semakin besar
bayangan penumbra yang terbentuk pada film.

Semakin tinggi jarak fokus dengan film (FFD) semakin kecil bayangan penumbra yang
terbentuk pada film, begitu juga sebaliknya.

Magnifikasi Geometri pada Radiografi


Magnifikasi (pembesaran) obyek ditentukan oleh perbandingan jarak. Jarak dari focal spot ke
reseptor (FFD) yang sepanjang 150 cm biasanya digunakan untuk pemeriksaan thorax agar
menghasilkan magnifikasi yang sedikit dan juga untuk menghindari terjadinnya distorsi.
Cara Untuk Mengurangi Distorsi
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mengurani efek daripada distorsi ini, antara
lain :
1. Meminimalkan jarak film-obyek / FOD berarti mengurangi resiko ketidaktajaman dan
mengurangi perbesaran citra/bayangan yang dibentuk pada film.
2. Pastikan methode proyeksi penyinaran yang diterapkan pada pasien tidak mengakibatkan
(objek) dalam hal ini pasien merasa kurang nyaman sehinngga pasien cenderung bergerak

dan akan mengakibatkan ada jarak/celah antara fil dengan objek sehingga efek
magnifikasi (pembesaran) semakin besar
3. Sebelum melakukan eksposi, pastikan garis tengah struktur sejajar film tegak lurus
dengan pusat sinar-x (Central Ray/CR).
Pembentukan gambaran radiografi
Salah satu dari faktor penting sinar-x adalah bahwa sinar-x dapat menembus bahan. Tetapi hanya
yang benar-benar sinar-x saja yang mampu menembus objek yang dikenainya dan sebagian yang
lain akan diserap. Sinar-x yang menembus itulah yang mampu membentuk gambaran atau
bayangan. Besarnya penyerapan sinar-x oleh suatu bahan tergantung tiga faktor:
1. Panjang gelombang sinar-X.
2. Susunan objek yang terdapat pada alur berkas sinar-X.
3. Ketebalan dan kerapatan objek.
Setelah sinar-x yang keluar dari tabung mengenai dan menembus obyek yang akan difoto.
Bagian yang mudah ditembusi sinar x (seperti otot, lemak, dan jaringan lunak) meneruskan
banyak sinar x sehingga film menjadi hitam. Sedangkan bagian yang sulit ditembus sinar x
(seperti tulang) dapat menahan seluruh atau sebagian besar sinar x akibatnya tidak ada atau
sedikit sinar x yang keluar sehingga pada film berwarna putih. Bagian yang sulit ditembus sinar
x mengalami ateonasi yaitu berkurangnya energi yang menembus sinar x, yang tergantung pada
nomor atom, jenis obyek, dan ketebalan. Adapun bagian tubuh yang mudah ditembus sinar x
disebut Radio-lucen yang menyebabkan warna hitam pada film. Sedangkan bagian yang sulit
ditembus sinar x disebut Radio-opaque sehingga film berwarna putih. Telah diketahui bahwa
panjang gelombang yang besar yang dihasilkan oleh kV rendah akan mengakibatkan sinar-x nya
mudah diserap. Semakin pendek panjang gelombang sinar-x (yang dihasilkan oleh kV yang lebih
tinggi) akan membuat sinar-x mudah untuk menembus bahan (lihat pembahasan tentang
pengaruh kilovolt).
Bagaimana susunan objek ketika terjadi penyerapan sinar-x? Hal ini tergantung dari nomor atom
unsur tersebut. Sebagai contoh satu lempeng aluminium yang mempunyai nomor atom lebih
rendah dibanding tembaga, mempunyai jumlah daya serap lebih rendah terhadap sinar-x
dibanding satu lempeng tembaga pada berat dan daerah yang sama. Timah hitam (nomor
atomnya lebih besar) adalah penyerap terbaik sinar-x. Karena alasan inilah ia digunakan pada
wadah tabung yang juga bertujuan untuk proteksi, contoh yang lainnya adalah dinding ruangan
sinar-x dan pada sarung tangan khusus serta apron yang digunakan selama proses fluoroskopi.
Hubungan antara penyerapan sinar-x dengan ketebalan adalah sederhana yaitu unsur yang
mempunyai lempengan yang tebal dapat menyerap radiasi lebih banyak dibanding lempengan
yang tipis pada satu unsur yang sama. Kerapatan/kepadatan suatu unsur yang sama akan juga
mempunyai kesamaan efek, contoh 2,5 cm air akan menyerap sinar-x lebih banyak dibanding 2,5
cm es karena berat timbangan es akan berkurang 2,5 cm per kubik disbanding air.
Mengingat pemeriksaan kesehatan yang menggunakan sinar-x, satu hal yang harus dipahami
bahwa tubuh manusia mempunyai susunan yang kompleks yang tidak hanya mempunyai
perbedaan pada tingkat kepadatan saja tetapi juga mempunyai perbedaan unsur pembentuk. Hal

ini menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat penyerapan sinar-x. Yaitu, tulang lebih banyak
menyerap sinar-x dibanding otot/daging; dan otot/daging lebih banyak menyerap dibanding
udara (paru-paru). Lebih jauh lagi pada struktur organ yang sakit akan terjadi perbedaan
penyerapan sinar-x dibanding dengan penyerapan oleh daging dan tulang yang normal. Umur
pasien juga mempengaruhi penyerapan, contoh pada umur yang lebih tua tulang-tulang sudah
kekurangan kalsium dan akan mengurangi penyerapan sinar-x dibanding tulang-tulang di usia
yang lebih muda.
Hubungan diantara intensitas sinar-x pada daerah yang berbeda gambarannya didefinisikan
sebagai kontras subjek. Kontras subjek tergantung pada sifat subjek, kualitas radiasi yang
digunakan, intensitas dan penyebaran radiasi hambur, tetapi tidak tergantung terhadap waktu,
mA, jarak dan jenis film yang digunakan
Fluoroscopy
Fluoroskopi adalah cara pemeriksaan yang menggunakan sifat tembus sinar rotngen dan suatu tabir yang
bersifat luminisensi bila terkena sinar tersebut. Fluoroskopi terutama diperlukan untuk
menyelidiki fungsi serta pergerakan suatu organ atau sistem tubuh seperti dinamika alat
peredaran darah, misalnya jantung, dan pembuluh darah besar, serta pernafasan berupa
pergerakan diafragma dan aerasi paru-paru. (Sjahriar Rasad, 1998).
Fluoroskopi dapat memberikan diagnosa aktif selama jalannya pemeriksaan. Oleh karena itu
pemeriksaan fluoroskopi secara primer dilakukan oleh Dokter Radiologi. Peran Radiografer
sebagai mitra selama pemeriksaan, termasuk di dalam pengambilan gambar radiografi setelah
pemeriksaan fluoroskopi usai. Pemeriksaan fluoroskopi umumnya digunakan untuk
mengevaluasi dan mengobservasi fungsi fisiologis tubuh yang bergerak, seperti proses menelan,
jalannya barium didalam traktus digestivus, penyuntikan zat kontras pada sistem biliari, dan lainlain. (Richard R.C, dan Arlene M. 1992;553).

Adapun alat fluoroskopi modern sekarang ini terdiri dari tube sinar-X fluoroskopi dan
penerima gambar (Image Receptor) yang berada pada alat C-Arm (Alat yang berbentuk seperti
huruf C) agar tetap pada posisi yang tegak lurus walupun keduanya bergerak atau berotasi.
Ada dua jenis desain tube sinar-X fluoroskopi, yaitu yang berada dibawah meja pemeriksaan
dan yang berada diatas meja pemeriksaan tepatnya diatas tubuh pasien. Namun kebanyakan

pesawat fluoroskopi menggunakan desain under table unit (tube yang berada di bawah meja
pemeriksaan).

Tube sinar-X fluoroskopi sangat mirip desainnya dengan tube diagnostik konvensional
kecuali bahwa tube sinar-X fluoroskopi dirancang untuk dapat mengeluarkan sinar-X lebih lama
daripada tube diagnostik konvensional dengan mA yang jauh lebih kecil. Dimana tipe tube
diagnostik konvensional memiliki range mA antara 50-1200 mA sedangkan range mA pada tube
sinar-X fluoroskopi antara 0,5-5,0 mA.

2. Komponen Peralatan Fluoroskopi.


Ada tiga komponen utama yang merupakan bagian dari unit fluoroskopi yakni, X-ray tube beserta
generator, Image Intisifier, dan sistem monitoring video. Bagian utama unit fluoroskopi adalah :
a.

X-ray tube dan generator.


Tube sinar-X fluoroskopi sangat mirip desainnya dengan tube sinar-X diagnostik konvesional
kecuali bahwa tube sinar-X fluoroskopi dirancang untuk dapat mengeluarkan sinar-X lebih lama
dari pada tube diagnostik konvensional dengan mA yang jauh lebih kecil. Dimana tipe tube
diagnostik konvensional memiliki range mA antara 50-1200 mA sedangkan range mA pada tube
sinar-X fluoroskopi antara 0,5-5,0 mA. Sebuah Intensification Tube (talang penguat) dirancang
untuk menambah kecerahan gambar secara elektronik Pencerah gambar modern sekarang ini

mampu mencerahkan gambar hingga 500-8000 kali lipat. (Richard R.C, dan Arlene M.
1992;570).
Generator X-ray pada fluoroskopi unit menggunakan tiga phase atau high frequency units,
untuk efisiensi maksimum fluoroskopi unit dilengkapi dengan cine fluorography yang memiliki
waktu eksposi yang sangat cepat, berkisar antara 5/6 ms untuk pengambilan gambar sebanyak 48
gambar/detik. Maka dari itu generator X-ray tube biasanya merupakan tabung berkapasitas tinggi
(paling tidak 500.000 heat unit) dibandingkan dengan tabung X-ray radiografi biasa (300.000
heat units).
b.

Image Intisifier.
Semua sistem fluoroskopi menggunakan Image Intisifier yang menghasilkan gambar selama
fluoroskopi dengan mengkonversi low intensity full size image ke high-intensity minified image.
Image Intisifier adalah alat yang berupa detektor dan PMT (di dalamnya terdapat photocatoda,
focusing electroda, dinode, dan output phospor).

Sehingga memungkinkan untuk melakukan fluoroskopi dalam kamar dengan keadaan terang
dan tanpa perlu adaptasi gelap (Sjahriar Rasad, 1998). Image Intisifier terdiri dari:
1) Detektor

Terbuat dari crystals iodide (CsI) yang mempunyai sifat memendarkan cahaya apabila terkena
radiasi sinar-X. Absorpsi dari detektor sebesar 60% dari radiasi sinar-X (Robert A. Fosbinder dan
Charles A, Kelsey, 2000).
2) PMT (Photo Multiplier Tube).
Terdiri Dari :
a)

Photokatoda.
Terletak setelah input phospor. Memiliki fungsi untuk merubah cahaya tampak yang diserap
dari input phospor menjadi berkas elektron.
b) Focusing Electroda.
Elektroda dalam focus Image Intensifier meneruskan elektron-elektron negatif dari
photochatode ke output phospor.

c)

Anode dan Output Phospor.


Elektron dari photochatode diakselerasikan secara cepat ke anoda karena adanya beda
tegangan seta merubah berkas elektron tadi menjadi sinyal listrik.

3. Sistem Monitoring dan Video.


Beberapa sistem penampil gambar (viewing system) telah mampu mengirim gambar dari
output screen menuju alat penampil gambar (Viewer). Dikarenakan output phospor hanya
berdiameter 1 inch (2,54 cm), gambar yang dihasilkan relatif kecil, karena itu harus diperbesar
dan di monitor oleh sistem tambahan. Termasuk diantaranya Optical Mirror, Video, Cine, dan
sistem spot film. Beberapa dari sistem penampil gambar tersebut mampu menampilkan gambar

bergerak secara langsung (Real-Time Viewing) dan beberapa yang lainnya untuk gambar diam
(Static Image). Waktu melihat gambar, resolusi dan waktu processing bervariasi antar alat-alat
tersebut. Pada saat pemeriksaan fluoroskopi memungkinkan untuk dilakukan proses merekam
gambar bergerak maupun gambar yang tidak bergerak (statis). (Richard R.C, dan Arlene M.
1992;570).

3. Proses Terjadinya Gambaran Pada Fluoroskopi


Pada saat pemeriksaan fluoroskopi berlangsung, berkas cahaya sinar-x primer menembus
tubuh pasien menuju input screen yang berada dalam Image Intensifier Tube yaitu sebuah tabung
hampa udara yang terdiri dari sebuah katoda dan anoda. Input screen yang berada pada Image
Intensifier adalah layar yang menyerap foton sinar-x dan mengubahnya menjadi berkas cahaya
tampak, yang kemudian akan ditangkap oleh PMT (Photo Multiplier Tube). PMT terdiri dari
photokatoda, focusing elektroda, dan anoda dan output phospor. Cahaya tampak yang diserap
oleh photokatoda pada PMT akan dirubah menjadi elektron, kemudian dengan adanya focusing
elektroda elektron-elektron negatif dari photokatoda difokouskan dan dipercepat menuju dinoda
pertama. Kemudian elektron akan menumbuk dinoda pertama dan dalam proses tumbukan akan
menghasilkan elektron-elektron lain. Elektron-elektron yang telah diperbanyak jumlahnya yang
keluar dari dinoda pertama akan dipercepat menuju dinoda kedua sehingga akan menghasilkan
elektron yang lebih banyak lagi, demikian seterusnya sampai dinoda yang terakhir. Setelah itu
elektron-elektron tersebut diakselerasikan secara cepat ke anoda karena adanya beda potensial
yang kemudian nantinya elektron tersebut dirubah menjadi sinyal listrik.

Alat Ukur Proteksi Radiasi


Halaman
7

Dosimeter Saku
Dosimeter ini se
benarnya merupakan detektor kamar ionisasi sehingga
prinsip kerjanya sama dengan detektor isian gas akan tetapi tidak
menghasilkan tanggapan secara langsung karena muatan yang terkumpul
pada proses ionisasi akan disimpan seperti halnya suatu kapasitor.
Gambar 2:
Konstruksi dosimeter saku
Konstruksi dosimeter saku berupa tabung silinder berisi
gas sebagaimana
pada Gambar
2
di atas. Dinding silinder akan berfungsi sebagai katoda,
bermuatan negatif, sedangkan sumbu logam dengan jarum 'quartz' di bagian
baw
ahnya bermuatan positif. Mula
mula, sebelum digunakan, dosimeter ini
diberi muatan menggunakan charger yaitu suatu catu daya dengan tegangan
tertentu.
Jarum quartz pada sumbu detektor akan menyimpang karena
perbedaan potensial. Dengan mengatur nilai tegang
an pada waktu
melakukan 'charging' maka penyimpangan jarum tersebut dapat diatur agar
menunjukkan angka nol. Dalam pemakaian di tempat kerja, bila ada radiasi

yang memasuki detektor maka radiasi tersebut akan mengionisasi gas,


sehingga akan terbentuk ion
i
on positif dan negatif. Ion
ion ini akan
bergerak menuju anoda atau katoda sehingga mengurangi perbedaan
potensial antara jarum dan dinding detektor. Perubahan perbedaan potensial
ini menyebabkan penyimpangan jarum berkurang.
Jumlah ion
ion yang dihasilka
n di dalam detektor sebanding dengan
intensitas radiasi yang memasukinya, sehingga penyimpangan jarum juga
sebanding dengan intensitas radiasi yang telah memasuki detektor. Skala dari
penyimpangan jarum tersebut kemudian dikonversikan menjadi nilai dosis.
Keuntungan dosimeter saku ini adalah dapat dibaca secara langsung dan
tidak membutuhkan peralatan tambahan untuk pembacaannya. Peralatan
lain yang dibutuhkan adalah charger untuk me
reset (membuat nol) skala
jarum quartz. Kelemahannya, dosimeter ini tidak
dapat menyimpan
informasi dosis yang telah mengenainya dalam waktu yang lama (sifat
akumulasi kurang baik). Hal ini disebabkan oleh adanya kebocoran
elektrostatik pada detektor. Jadi, meskipun tidak sedang dikenai radiasi, nilai
yang ditunjukkan jarum akan
berubah.
Selain itu dosimeter ini kurang teliti
Alat Ukur Proteksi Radiasi
Halaman
8
dan mempunyai rentang energi pengukuran tertentu yang relatif lebih sempit
dibandingkan dengan film badge dan TLD.
Pada saat ini, sudah dibuat dan dipasarkan dosimeter saku yang
diintegrasikan dengan kompone
n elektronika maju (advanced components)
sehingga skala pembacaannya tidak lagi dengan melihat pergeseran jarum
(secara mekanik) melainkan dengan melihat display digital yang dapat
langsung menampilkan angka hasil pengukurannya. Dosimeter saku digital

ini
juga tidak membutuhkan peralatan charger terpisah karena sudah built in
di dalamnya.
Setiap kali diaktif
kan, secara otomatis dosimeter ini
menampilkan angka nol.

Film Badge
Film badge terdiri atas dua bagian yaitu detektor film dan holder.
Sebagaimana tel
ah dibahas sebelum ini, bahwa detektor film dapat
menyimpan dosis radiasi yang telah mengenainya secara akumulasi selama
film belum diproses. Semakin banyak dosis radiasi yang telah mengenainya

atau telah mengenai orang yang memakainya

maka tingkat keh


itaman film
setelah diproses akan se
makin pekat
.
Gambar 3: proses detektor film
Holder film selain berfungsi sebagai tempat film ketika digunakan juga
berfungsi sebagai penyaring (filter) energi radiasi. Dengan adanya beberapa
jenis filter pada holder,
maka dosimeter film badge ini dapat membedakan
jenis dan energi radiasi yang telah mengenainya.
Di pasar terdapat beberapa merk film maupun holder, tetapi BATAN selalu
menggunakan film dengan merk Kodak buatan USA dan holder merk
Chiyoda buatan Jepang sepe
rti pada Gambar IV.3. Hal ini dilakukan agar
mempunyai standar atau kalibrasi pembacaan yang tetap.
Alat Ukur Proteksi Radiasi
Halaman
9
Gamb
ar 4
:
k
onstruksi holder film merk Chiyoda

Dalam penggunaan film badge, perlu diperhatikan dua hal yaitu batas
saturasi tingkat kehitaman film dan mas
alah fadding. Sebagaimana telah
dibahas pada sub bab detektor film bahwa setelah mencapai nilai saturasi
nya
penambahan dosis radiasi tidak mempengaruhi tingkat kehitaman film. Oleh
karena itu, film badge harus sudah diproses sebelum dosis radiasi yang
meng
enainya mencapai nilai saturasi. Sedangkan masalah fadding adalah
peristiwa perubahan tingkat kehitaman film karena pengaruh temperatur dan
kelembaban. Khusus di Indonesia yang memiliki temperatur dan
kelembaban yang relatif sangat tinggi, masalah fadding
ini perlu
diperhatikan.
Dosimeter film badge ini mempunyai sifat akumulasi yang lebih baik
daripada dosimeter saku. Keuntungan lainnya film badge dapat
membedakan jenis radiasi yang mengenainya dan mempunyai rentang
pengukuran energi yang lebih besar darip
ada dosimeter saku. Selain itu, film
yang telah diproses dapat digunakan untuk perhitungan yang lebih teliti serta
dapat didokumentasikan. Kelemahannya, untuk mengetahui dosis yang telah
mengenainya harus diproses secara khusus dan membutuhkan peralatan
ta
mbahan untuk membaca tingkat kehitaman film, yaitu densitometer.

Dosimeter Termoluminisensi (TLD)


Dosimeter ini sangat menyerupai dosimeter film badge, hanya detektor yang
digunakan ini adalah kristal anorganik thermoluminisensi, misalnya bahan
LiF.
Proses
yang terjadi pada bahan ini bila dikenai radiasi adalah proses
termoluminisensi. Senyawa lain yang sering digunakan untuk TLD adalah
CaSO
4

.
Sebagaimana film badge, dosimeter ini digunakan selama jangka waktu
tertentu, misalnya satu bulan, baru kemudian di
proses untuk mengetahui
jumlah dosis radiasi yang telah diterimanya. Pemrosesan dilakukan dengan
memanaskan kristal TLD sampai temperatur tertentu, kemudian mendeteksi
percikan
-

percikan cahaya yang dipancarkannya.


Alat yang digunakan untuk
memproses dosime
ter ini adalah TLD reader.
Alat Ukur Proteksi Radiasi
Halaman
10
Keunggulan TLD dibandingkan dengan film badge adalah terletak pada
ketelitiannya. Selain itu, ukuran kristal TLD relatif lebih kecil dan setelah
diproses kristal TLD tersebut dapat digunakan lagi.
Dari tiga jenis dosimeter yang
telah dibahas di atas terlihat bahwa dosimeter
saku merupakan dosimeter yang dapat dibaca langsung sedang film badge
dan TLD memerlukan suatu proses sehingga hasil pengukurannya tidak
dapat diketahui secara langsung. Pekerja radiasi yang bekerja di daerah
radiasi tinggi dianjurkan untuk menggunakan dua jenis dosimeter yaitu
dosimeter saku dan film badge atau TLD. Dosimeter saku digunakan untuk
mengetahui dosis yang telah diterimanya secara langsung, misalnya setelah
menyelesaikan suatu pekerjaan. Sedang fi
lm badge atau TLD digunakan
untuk mencatat dosis yang telah diterimanya selama selang waktu yang
lebih panjang, misalnya selama satu bulan.