Anda di halaman 1dari 88

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96


Jakarta 12790 Indonesia
Telp. +62 21 799 2325
Fax +62 21 799 5188

2007

Tim Penyusun:
Nur Salam AS (PMI Pusat)
Didi Suardi (PMI Pusat)
Gede Sudiartha (PMI Daerah Bali)
Mesdiono (PMI Daerah Kalimantan Timur)
Putu Suryawan (TSR PMI Pusat)
Dinihari Puspita (ICRC)
Fachry Singka (IFRC)

Kontributor:
Joni Mahmoedi
DR. Heru Ariyadi
Arifin MH (PMI Pusat)
Juliati Susilo (PMI Pusat)
Aswi Nugroho (PMI Pusat)
Andreanne Tampubolon (PMI Pusat)
Eka Wulan Cahyasari (PMI Pusat)
Fitriana Sidikah (PMI Pusat)
Fajar Sumirat (PMI Pusat)
Ummi Alfiah (PMI Pusat)
Benny O (PMI Pusat)
Akbar (PMI Pusat)
Asti (ICRC)
Estherina (ICRC)
Panjitresna (ICRC)
Ria Bratawinata (ICRC)
Annisa Marezqa (ICRC)
Dewi Siska (IFRC)

Diterbitkan atas kerjasama:

Daftar Isi:
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Umum
1.2 Maksud
1.3 Tujuan
1.4 Sasaran Pembaca

1
1
1
1
1

Bab 2
2.1
2.2
2.3

Dasar-Dasar Assessment
2
Siklus Proyek
2
Tujuan Assessment
2
Periode Assessment
2
2.3.1 Saat Pra Bencana/Konflik
3
3.3.1.1 Pengumpulan Data Awal
3
3.3.1.2 HVCA (Hazard Vulnerability and Capacity Assessment
3
3.3.1.3 Baseline Survey
4
2.3.2 Saat Situasi Tanggap Darurat Bencana/Konflik
6
3.3.2.1 Rapid Assessment
6
3.3.2.2Detail Assessment
7
3.3.2.3 Continual Assessment (Lanjutan)
7
2.3.3 Saat Paska Bencana/Konflik
8
3.3.3.1 Assessment Sektoral
8

Bab 3
3.1

Proses Assessment
9
Langkah 1: Sebelum ke Lapangan
10
3.1.1 Mengulas Informasi Sekunder
10
3.1.2 Apakah Asessment Dibutuhkan?
10
3.1.3 Persiapan Assessment
10
3.1.3.1 Tentukan Objektif dan Kerangka Acuan
11
3.1.3.2 Tentukan Jenis Assessment
11
3.1.3.3 Putuskan Apakah Perlu Melibatkan Mitra Luar Atau Tidak 11
3.1.3.4 Kesimpulan Berkenaan Data Sekunder
12
3.1.3.5 Daftar Informasi Yang Dibutuhkan
13
3.1.3.6 Identifikasi Area Yang Akan Dikunjungi & Populasi Target 13
3.1.3.7 Mengorganisir Data Yang Ada
16
3.1.3.8 Mengumpulkan Sumber Daya
16
Langkah 2: Saat Di Lapangan
19
3.2.1 Prinsip-Prinsip Kerja Di Lapangan
19
3.2.2 Bekerja Di Lapangan: Kegiatan
19
Langkah 3: Setelah Dari Lapangan
21
3.3.1 Analisa
21
3.3.2 Ketidaktepatan Informasi
21
3.3.3 Pelaporan
23
3.3.3.1 Laporan Assessment
23
3.3.3.2 Kerangka Kerja Laporan
23
3.3.3.3 Proposal Program
25

3.2

3.3

Bab 4
4.1
4.2

4.3

Tools Assessment
Pengamatan
Wawancara
4.2.1 Tentukan Dengan Siapa Ingin Bicara
4.2.2 Pilih Tipe Wawancara Yang Akan Dilakukan
4.2.3 Bagaimana Melakukan Wawancara
4.2.3.1 Wawancara Semi Struktur
4.2.3.2 Perilaku Selama Wawancara
4.2.3.3 Tips Wawancara
4.2.3.4 Seni Bertanya
4.2.3.5 Seni Mendengarkan
PRA (Participatory Rural Appraisal)
4.3.1 Alat Ukur Proporsional (Proportional Piling)
4.3.2 Penggolongan Berpasangan (Paired Ranking)
4.3.3 Spot Mapping
4.3.4 Transect Mapping
4.3.5 Jadwal Rutinitas Harian (Daily Routine Schedule)
4.3.6 Kalender Musiman (Seasonal Calendar)
4.3.7 Urutan Kronologis Peristiwa (Historical Timeline)
4.3.8 Pemetaan Kelembagaan (Institutional Mapping)

Bab 5
Pendekatan Ekonomi Keluarga (HEA)
5.1 Pengertian HEA
5.2 Kerangka HEA
5.3 Hasil Yang Diharapkan
5.4 Langkah-Langkah Pengumpulan Data HEA
5.4.1 Zona Ekonomi Pangan (Food Economy Zone/FEZ)
5.4.2 Kelompok Ekonomi/Kelompok Makmur
5.4.3 Akses Keluarga Terhadap Pangan, Pendapatan & Pola Pengeluaran
5.4.4 Dasar Pekerjaan Sosial/Jaringan Sosial
5.4.5 Efek Bencana/Guncangan
5.4.6 Mekanisme Penanggulangan (coping mechanism)
5.4.7 Identifikasi Kemungkinan Intervensi
Lampiran:
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran

1:
2:
3:
4:
5:
6:

Karakteristik bencana & bantuan


Code of Conduct
Safer Access
Checklist Sektoral
Format Assessment Cepat PMI (Rapid Assessment)
Format Detail Assessment PMI

27
27
27
27
28
30
30
30
31
31
32
33
34
35
35
36
37
37
38
39
40
40
40
40
41
41
41
42
46
46
46
46

Panduan Assessment PMI

Bab 1
Pendahuluan
1.1. Umum
Assessment merupakan elemen penting dalam proses penyusunan perencanaan
program yang berkaitan dengan pengembangan program Kesiapsiagaan bencana dan
Tanggap darurat bencana.
Assessment akan memberikan informasi informasi dasar dari sebuah keputusan yang
akan diambil. Kadangkala informasi yang baik belum tentu menghasilkan program yang
baik apalagi jika informasi yang tersedia sangat terbatas, hampir dipastikan akan
menghasilkan program yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan.
Jadi assessment adalah langkah-langkah strategis pertama yang harus dilakukan
sebelum mendisain sebuah program.
1.2. Maksud
Maksud disusunnya Panduan ini adalah untuk memberikan pengetahuan dibidang
Assesment bagi para staf dan relawan PMI yang akan melaksanakan kegiatan sesuai
dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan dalam melaksanakan manajemen.
Panduan ini banyak mengacu pada buku IFRC "Assessment Guidelines for Emergencies".
1.3. Tujuan
- Meningkatkan kapasitas staf dan relawan PMI dalam bidang assessment yang
terfokus pada pengembangan program Kesiapsiagaan Bencana dan operasi Tanggap
Darurat Bencana.
- Meningkatkan kualitas pelayanan Kepalangmerahan umumnya dan pelayanan pada
Tanggap Darurat Bencana
1.4. Sasaran pembaca
- Relawan PMI (KSR, TSR)
- Staff PMI
- Pengurus PMI
- Mitra kerja PMI

Panduan Assessment PMI

Bab 2
Dasar-dasar assesment
2.1.

Siklus Proyek
REVIEW /
EVALUASI

ASSESSMENT

MONITORING

PERENCANAAN

IMPLEMENTASI

2.2. Pengertian dan tujuan Assesment


Assessment adalah Identifikasi dan analisa atas sebuah situasi tertentu, yang menjadi
landasan bagi sebuah proyek, program, atau kegiatan.
Tujuan assessment adalah untuk mengidentifikasi dampak suatu bencana/konflik,
mengumpulkan informasi dasar, mengidentifikasi kelompok yang paling rentan di
antara para korban, upaya mengobservasi situasi sekarang (apa yang berubah dinamika situasi di lapangan), serta mengidentifikasi kemampuan respons
pemerintah/LSM/organisasi keagamaan/PMI.
Tujuan suatu assessment adalah tidak untuk mengidentifikasi intervensi tetapi untuk
mencari tahu apakah suatu intervensi diperlukan atau tidak.
2.3. Periode Assesment
Periode assessment di Palang Merah Indonesia terbagi 3, yaitu :

Pra-Bencana/
Konflik

Saat Bencana/
Konflik

Paska Bencana/
Konflik

Assessment

Assessment

Assessment

Situasi
Normal

Situasi
Bencana/Konflik

Situasi PaskaBencana/Konflik

Membandingkan & Menganalisa

Panduan Assessment PMI


2.3.1. Saat Pra bencana/Konflik
Assessment yang biasa dilaksanakan pada saat pra bencana/konflik atau pada saat
situasi normal merupakan langkah kesiapsiagaan PMI. Beberapa hal yang dapat
dilakukan adalah :
2.3.1.1. Pengumpulan data awal
Data awal ini adalah merupakan data yang diperoleh dari pihak atau lembaga terkait
diluar PMI seperti; dari Pemerintah, LSM atau organisasi lain, dari media massa, dll.
Data ini sangat penting sebagai informasi awal, karena itu perlu dikumpulkan untuk
selanjutnya diobservasi.
Mengumpulkan & mengobservasi DATA AWAL adalah mempelajari informasi sebanyak
mungkin tentang suatu wilayah rawan bencana/konflik sebelum turun ke lapangan,
mempelajari informasi yang relevan (data dari kota/desa, data tentang situasi
sebelum bencana/konflik, dan laporan-laporan relevan lainnya), serta data dari
media, dan lain-lain.
2.3.1.2. HVCA (Hazard Vulnerability and Capacity Assessment)
HVCA dilakukan untuk mengetahui potret dari sebuah wilayah atau daerah yang
meliputi kondisi bahaya/ancaman, kerentanan, dan kapasitas.
Assessment ancaman/Bahaya (Hazards Assessment) meliputi :
Jenis ancaman bencana / konflik
Indikator peringatan dini
Petanda-petanda alamiah yang mengawali suatu peristiwa bencana
Kecepatan terjadinya peristiwa bencana / konflik
Frekuensi kejadian serupa pada waktu-waktu yang lalu
Waktu kejadian peristiwa bencana/konflik yang pernah terjadi
Assessment kerentanan (Vulnerability Assessment) meliputi :
Lamanya suatu peristiwa bencana/konflik yang pernah melanda wilayah itu
Tingkat keparahan atau kerusakan yang diakibatkan
Elemen-elemen yang terancam langsung oleh dampak peristiwa bencana/konflik
Jumlah penduduk yang berdiam di wilayah itu yang paling terancam oleh dampak
peristiwa bencana/konflik
Lokasi wilayah rawan bencana/konflik tersebut
Assessment Kapasitas (Capacity Assessment) meliputi :
Jumlah penduduk di wilayah rawan bencana/konflik
Tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat setempat
Mata pencaharian dan tingkat penghasilan masyarakat setempat
Fasilitas umum dan sosial yang tersedia
Organisasi masyarakat
Sistem sosial budaya masyarakat
Jenis ancaman bencana
Indikator peringatan dini
Petanda awal bencana

Panduan Assessment PMI


Kecepatan terjadinya bencana
Frekwensi kejadian
Dugaan waktu kejadian
Berapa lama kejadian berlangsung
Tingkat kerugian/keparahan
Elemen yg paling terancam
Penduduk yg paling terancam
Lokasi
Sumber daya & kapasitas
2.3.1.3. Baseline Survei
Disebut Baseline Survey bila data yang dihasilkan merupakan data dasar yang
digunakan untuk bahan perencanaan program kegiatan maupun evaluasi terhadap
perkembangan program, hasil pelaksanaan program, dampak program terhadap
perubahan penbgetahuan sikap dan ketrampilan para penerima bantuan maupun
untuk keperluan penyusunan tindak lanjut program dimasa yang akan datang.
Salah satu pendekatan terbaik untuk mendapatkan informasi yang relevan dan tepat
adalah melalui pendekatan survey. Terdapat 3 alasan mengapa orang melakukan
survey :
Untuk mendiskripsikan suatu populasi : informasi yang dihasilkan digunakan untuk
menguraikan berbagai karakteristik populasi.
Untuk menjelaskan : informasi yang dihasilkan digunakan untuk menjelaskan
berbagai hubungan dalam suatu populasi.
Untuk sarana eksplorasi : umumnya digunakan pada awal-awal penelitian yakni
sebagai sarana untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang populasi.
Sebelum survey dilakukan, perencanaan survey harus memikirkan keseluruhan proses
survey, meliputi :
Apa tujuan melakukan survey ?
Apa yang ingin diketahui dalam survey tersebut ?
Bagaimana cara merencanakannya ?
Bagaimana melakukannya ?
Dan bila hasilnya sudah diperoleh, bagaimana cara menganalisisnya ?
Bila data telah dianalisis, bagaimana cara memanfaatkan data tersebut untuk
keperluan program?
Langkah-langkah proses survei mengacu pada Proses Assessment (lihat Bab 3.1.
Langkah 1: Sebelum Ke Lapangan).
Kapan melakukan survei ?
Survei akan menjadi pilihan yang terbaik saat :
Kita perlu cara pengumpulan informasi secara cepat dan efisien.

Panduan Assessment PMI

Kita perlu menjangkau jumlah orang yang cukup banyak jumlahnya.


Kita perlu informasi statistik yang valid.
Informasi yang kita perlukan tidak tersedia melalui cara-cara lainnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah:


Persiapkan kuesioner
Saat mempersiapkan kuesioner, pastikan apakah mereka dapat memahami
pertanyaan itu? Apakah mereka merasa nyaman atau tidak terganggu dengan
pertanyaan itu? Apakah pertanyaan terlalu sensitif? Apakah pertanyaan yang kita
gunakan cukup efektif untuk data/informasi yang memang kita inginkan?
Pertanyaan yang kita tanyakan sangat tergantung pada audien yang kita survei
maupun jenis dan kedalaman informasi yang ingin kita peroleh.
Lakukan pre-test terhadap instrument yang sudah dipersiapkan
Jika diperlukan, edit dan revisi kuesioner yang sudah dipersiapkan.
Apa itu Kuesioner ?
Kuesioner adalah alat pengumpulan data yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang
ingin ditanyakan kepada responden tentang hal-hal yang terkait dengan informasi
yang diperlukan. Kuesioner merupakan bagian utama dalam tahapan rencana
kegiatan survey. Kuesioner inilah
yang digunakan sebagai sarana untuk
pengumpulan data. Hasil data yang direfleksikan dalam kuesioner dapat berupa
angka, diskripsi, tabel, analisis statistik maupun kesimpulan survei.
2.3.2. Saat situasi Tanggap Darurat Bencana/Konflik
Normalnya, assessment pada saat tanggap darurat mengikuti setiap tahapan yang ada
(lihat gambar dibawah).

DARURAT
RAPID
ASSESSMENT
CONTINUAL
ASSESSMENT
DETAIL
ASSESSMENT

2.3.2.1. Rapid Assesment


Dilakukan setelah terjadi perubahan besar, seperti gempa bumi atau terjadi
pengungsian mendadak, assessment memberikan informasi tentang kebutuhan, jenis
intervensi/bantuan yang memungkinkan dan sumber daya yang dibutuhkan. Rapid

Panduan Assessment PMI


assessment biasanya hanya berlangsung satu minggu atau kurang, yang kemudian
dilanjutkan dengan dengan detail assessment.
Informasi yang dibutuhkan: Lokasi, jumlah penduduk sebelum bencana alam/konflik,
jumlah korban (yang mati, yang terluka, mengungsi), tingkat keparahan wilayah, pihak
terkait yang akan/sudah memberikan bantuan, situasi keamanan dan keselamatan,
kebutuhan yang paling mendesak per lokasi, Fasilitas yang tersedia (misal: air bersih,
pengadaaan pangan) dan lokasinya, Contact person. Contoh Format Rapid Assesment
lihat Lampiran.
2.3.2.2. Detail Assesment
Detail assessment dilakukan berdasarkan beberapa alasan, seperti berikut:
Rapid assessment telah dilaksanakan, tetapi detail informasi masih dibutuhkan.
PMI mempertimbangkan untuk memulai operasi pada sebuah wilayah dan
membutuhkan informasi yang detail untuk mengambil keputusan.
PMI memperkirakan situasi akan cenderung berubah dan membutuhkan informasi
tambahan lain (contohnya bencana kekeringan, banjir-curah hujan terus menerus).
Secara umum detail assessment berlangsung satu bulan atau kurang, tergantung
luas wilayah dan masalah yang dihadapi serta sumber daya yang tersedia.
Contoh Format Detail Assesment lihat Lampiran
2.3.2.3. Assesment lanjutan (Continual Assessment)
Hal ini dilakukan manakala PMI telah melakukan kegiatan detail assessment dan
sedang melakukan operasi. Assessment lanjutan merupakan sebuah proses dimana
informasi terbaru dibutuhkan.
Assessment lanjutan yang efektif membantu anda untuk mengidentifikasi perubahan
secara cepat. Ketika perubahan teridentifikasi, rapid atau detail assessment dapat
dilakukan kembali. Informasi dari assessment lanjutan digunakan sebagai informasi
sekunder selama rapid dan detail assessment berlangsung.
Tabel 1. Ringkasan dari pendekatan yang digunakan dalam setiap jenis assessment
Variabel

Rapid assessment

Detail assessment

Waktu

Kurang dari satu minggu

Kurang dari satu


bulan

Akses ke
sumber
informasi

Terbatas
Tidak cukup waktu untuk
mengunjungi seluruh
lokasi dan berbicara
dengan seluruh sumber
informasi
Atau
Keamanan dan

Memungkinkan untuk
mengunjungi seluruh
lokasi dan melakukan
wawancara seluruh
sumber informasi

Assessment
lanjutan
Informasi
dikumpulkan
secara reguler
melalui periode
operasi
Seluruh akses
dapat dilalui

Panduan Assessment PMI

Jenis dan
sumber
informasi

Asumsi yang
digunakan

Tim
assessment

keselamatan membatasi
gerakan dan akses ke
masyarakat
Data sekunder,
pelayanan lokal
(kesehatan, air dll) NGO,
pemerintah, masyarakat
yang terkena
dampak/kunjungan
keluarga (contoh kecil)
Tinggi.
Keterbatasan waktu
untuk mengumpulkan
informasi. Harus
menggunakan asumsi
berdasarkan pengalaman
sebelumnya
Generalis / non spesialis
yang
berpengalaman,
dengan
pengalaman
sebelumnya dari jenis
bencana yang sama

Data sekunder,
seluruh informasi

Data sekunder,
sumber informasi
tertentu, indikator,
relawan dan staff
Palang Merah Bulan
Sabit Merah

Rendah.
Waktu yang cukup
untuk wawancara
kepada seluruh
sumber informasi

Sedang.
Asumsi berdasarkan
indikator dan
sumber informasi,
tetapi dapat
diverifikasi dari
sumber lain
Generalis
/
non Staff Palang Merah
spesialis,
Bulan Sabit Merah
memungkinkan
(generalist) yang
didukung
dengan melaksanakan
spesialis
aktivitas normal.

2.3.3 Saat Paska Bencana/Konflik


2.3.3.1. Assessment sektoral
Setelah masa tanggap darurat selesai dapat dilakukan detail assessment yang
dilakukan per sektor untuk melihat pada masing-masing sumber daya yang masih bisa
atau perlu dikembangkan. Masa ini juga biasa disebut sebagai masa pemulihan
(Recovery). Apabila kapasitas masih kurang maka dapat diberikan intervensi dari luar.
Pada masa Recovery ini PMI biasanya lebih fokus kepada program capacity building
PMI.
Sektor-sektor dalam wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi teknis,
biasanya diberikan oleh sumber-sumber informasi utama yang bekerja di sektor yang
relevan dengan informasi yang dibutuhkan (misalnya, petugas klinik kesehatan).
Checklist untuk sektor-sektor dalam wawancara dan saran untuk menentukan sumber
informasi utama diberikan dalam bagian berikut. Seorang pelaku assessment tanpa
latar belakang teknis dapat menggali informasi yang ada, jika mereka dapat
menemukan sumber informasi yang tepat. Prosesnya sebagai berikut:
Carilah sumber informasi dari berbagai macam sektor sebanyak mungkin. Dalam
rapid assessment, carilah sektor-sektor yang relevan berkaitan dengan masalah
yang paling parah yang tengah dihadapi.
Tanyakan sumber informasi utama yang relevan dengan bidangnya. Jangan kuatir
jika mereka tidak dapat menjawab semua pertanyaan untuk semua sektor. Bantu
sumber informasi itu untuk memberikan informasi tambahan yang mereka anggap
penting.
Pada saat kembali dari lapangan, berikan informasi dari sektor-sektor yang ada
kepada orang yang memahaminya secara teknis di PMI. Jika spesialis tidak ada,
konsultasikan dengan Delegasi Regional IFRC atau Kantor Pusat IFRC di Jenewa.

Panduan Assessment PMI

Spesialis menggunakan informasi untuk menilai keburukan dari situasi dan menilai
apakah masih membutuhkan detail assesment dari sektor tersebut (dalam kondisi
yang ekstrim, memungkinkan untuk memulai program berdasarkan informasi dari
sektor yang berkaitan, tetapi hal ini seharusnya dibarengi dengan assessment
sektor secara keseluruhan).
Catatan pada checklist sektor
Checklist ini disusun oleh para spesialis yang memahami bidangnya, yang berasal
dari ICRC dan IFRC. Sebagian besar check list ini diperoleh dari buku panduan
Sphere. (Lihat Lampiran: Checklist Sektor)

Panduan Assessment PMI

Bab 3
Proses Assessment
---------------------- LANGKAH 1: SEBELUM KE LAPANGAN-----------------------1. Pengumpulan Informasi Awal
Lihat 3.1.1

2. Apakah assessment dibutuhkan?


Lihat 3.1.2.

Jika TIDAK:
Proses dihentikan

Jika YA: 3. Assessment dipersiapkan:


- Tentukan tujuan assessment/buat kerangka acuan jika diperlukan (lihat
3.1.3.1)

- Tentukan jenis assessment yang akan dilakukan (lihat 3.1.3.2)


- Putuskan apakah perlu melibatkan mitra dari luar atau tidak (lihat 3.1.3.3)
- Kesimpulan atas data sekunder (lihat 3.1.3.4)
- Daftar informasi yang dibutuhkan (lihat 3.1.3.5)
- Identifikasi area yang akan dikunjungi & populasi target (lihat 3.1.3.6)
- Mengorganisir data yang ada (lihat 3.1.3.7)
- Mengumpulkan sumber daya (HR, waktu, logistik, dll) (lihat 3.1.3.8)

---------------------- LANGKAH 2 : SAAT DI LAPANGAN------------------------Wawancara


- Wawancara dengan sumber
informasi atau tidak?
- Wawancara dengan individu
atau kelompok?
- Wawancara terstruktur,
semi-struktur atau tidak
terstruktur?

Observasi
(gunakan panca
indera)
Lihat 3.2.2

lihat 3.2.2

------------ LANGKAH

SETELAH

DARI LAPANGAN------------

- Analisa data/info & rekomendasi (lihat 3.3.1)


- Pelaporan

Panduan Assessment PMI


3.1.

LANGKAH 1: SEBELUM KE LAPANGAN

3.1.1. Mengulas informasi sekunder


Data Sekunder
Informasi yang telah dikumpulkan, baik itu dari Gerakan Palang Merah maupun
organisasi lain. Data sekunder dapat berupa informasi mengenai keadaan di waktu
yang telah lalu maupun keadaan saat ini. Data sekunder bisa dalam bentuk tulisan
(laporan, dll) ataupun lisan (diskusi, dll).
Buatlah ulasan dan analisa atas data sekunder yang ada untuk membantu anda
memutuskan apakah assessment perlu dilaksanakan atau tidak. Periksa laporan media;
hubungi agensi kemanusiaan lainnya dan pemerintah; tanyakan kepada orang-orang
yang baru saja kembali dari lokasi yang terkena dampak.
Kemudian rumuskan:
Kondisi alamiah dari bencana (atau cenderung akan terjadi bencana)
Keadaan yang mendesak
Ketidakjelasan informasi
3.1.2. Apakah assessment dibutuhkan?
Anda bisa memutuskan untuk melakukan assessment dengan beragam alasan sebagai
berikut:
Sebuah perubahan mendadak terjadi (contohnya gempa bumi, banjir
bandang/tanah longsor)
Anda rasakan kondisi darurat akan terjadi dimasa yang akan datang (contohnya
meningkatnya ketidakstabilan politik, kekeringan)
Anda membutuhkan informasi lengkap kondisi darurat yang ada.
Anda bahkan juga harus dapat memutuskan untuk tidak melaksanakan assessment
dengan beragam alasan seperti:
Akses tidak memungkinkan ke lokasi bencana
Informasi yang ada (berdasarkan laporan agensi lain dll) cukup memuaskan,
sehingga tidak perlu melaksanakan asessment lagi.
Banyak agensi sudah melaksanakan assessment dilokasi bencana dan adanya
kecenderungan kelelahan assessment ditengah-tengah komunitas.
KELELAHAN ASSESSMENT
Ini dapat terjadi ketika ada suatu area yang telah diassessment berulangkali oleh
berbagai macam agensi. Masyarakat merasa frustasi karena mereka diharapkan
menjawab pertanyaan yang sama, bahkan seringkali dengan hasil yang nihil.
Masyarakat kehilangan kesabaran dengan assessment kemanusiaan. Dalam kondisi
tersebut, sebuah assessment menghasilkan informasi yang tidak berguna.
3.1.3. Persiapan Assessment
Jika kebutuhan akan assessment telah diputuskan, ada beberapa hal yang perlu
dilakukan sebelum turun ke lapangan.

10

Panduan Assessment PMI


3.1.3.1. Tentukan objektif dan kerangka acuan
Mengapa anda ingin melaksanakan assessment? Uraikan objektif secara menyeluruh,
pertanyaan yang harus dijawab, dan aktivitas yang harus dilakukan. Uraikan, apabila
memungkinkan hal yang spesifik, output yang diharapkan. Harus realistis. Informasi
sekecil apakah yang dibutuhkan untuk meraih output yang diminta? Mengacu pada
orang yang akan menggunakan informasi tersebut dan kebutuhan informasi apa yang
diinginkan. Pengguna informasi tersebut -biasanya, seperti yang tertera dibawah ini:
Staff operasional dan program
Pencari dana
Departemen komunikasi dan media
Pengurus.
Jika diperlukan, buatlah kerangka acuan, jelaskan dengan tepat apa yang diharapkan
dari team assessment dalam melaksanakan tugasnya.
3.1.3.2. Tentukan jenis assessment
Tentukan tipe assessment yang akan digunakan (rapid, detailed atau continual). Lihat
bagian 2.3.2.
3.1.3.3 Putuskan apakah perlu melibatkan mitra dari luar atau tidak
Putuskan apakah assement akan dilakukan sendiri, atau melibatkan mitra dari Gerakan
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, atau dengan mitra dari luar (assessment
gabungan).
Memungkinkan terjadinya pelaksanaan assessment gabungan dengan organisasi lain
(pemerintah atau NGO). Kerjasama ini memiliki manfaat sebagai berikut:
Terciptanya kerjasama dan koordinasi dalam perencanaan dan implementasi
projek.
Efisiensi sumberdaya (pembagian tugas, seperti logistik dan jumlah orang yang
dibutuhkan dalam assessment).
Mengurangi kelelahan dalam assessment.
Ada berbagai cara dalam membagi tugas selama melakukan assessment gabungan. Dua
hal yang memungkinkan:
Agensi yang memiliki spesialisasi tertentu akan membagi tugasnya. Sebagai contoh,
assessment lapangan dan koordinasi tim (FACT) menilai persediaan air dan akses
kesehatan, sedangkan UNICEF menilai kebutuhan pendidikan dari pengungsi anakanak.
Agensi dengan spesialisasi yang sama membagi wilayah secara geografis. Sebagai
contoh, ICRC dan WFP membagi area assessment untuk ketahanan pangan.
Assessment gabungan akan sesuai seandainya:
Setiap organisasi yang berpartisipasi berbagi hal tentang nilai-nilai yang ada dan
prinsip operasional.
Setiap organisasi yang berpartisipasi menggunakan metodologi yang sama atau
sesuai.
Dalam kondisi bencana, beberapa hal akan menjadikan assessment gabungan tidak
berjalan dengan baik. Sebagai contohnya:
Assessment tersebut merupakan mandat khusus (contohnya kunjungan tahanan
ICRC).
Nilai-nilai organisasi dan prinsip operasi tidak sama.

11

Panduan Assessment PMI

Kolaborasi merusak prinsip-prinsip netralitas dan imparsial.


Setiap organisasi atau bahkan individu merasakan adanya kecurigaan.

Apabila memungkinkan, buatlah kesepakatan formal yang menyatakan secara spesifik


peran dan tanggungjawab setiap organisasi ketika melaksanakan assessment. Jika hasil
dari assessment gabungan tidak sesuai, sangatlah penting untuk mengetahui organisasi
lain yang melaksanakan assessment. Pengulangan assessment diwilayah yang sama
tidak efisien dan melelahkan dan berdampak negatif pada ketepatan dan keamanan.
Mengulas laporan assessment dari organisasi lain bisa menjadi bagian yang berharga
sebagai ulasan data sekunder.
3.1.3.4. Kesimpulan berkenaan dengan data sekunder
Salah satu tugas Ketua Tim adalah mempelajari laporan dari data sekunder; untuk
mencari informasi tentang:
Latarbelakang informasi dari area yang dikunjungi.
Informasi secara langsung berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan dalam
kerangka acuan.
Informasi tentang penyebab dan dampak dari bencana yang terjadi.
Data sekunder membantu untuk membuat ide awal atas dugaan permasalahan dan
juga berguna saat merencanakan wawancara untuk pertama kali di lapangan. Sebagai
contoh, jika lahan pertanian terkena dampak kekeringan, maka hendaknya anda juga
mendiskusikan kerugian tanam dengan petani.
Contoh data sekunder meliputi:
Laporan assessment lapangan dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau agensi
lain.
Laporan media.
Laporan tentang kondisi sosial, ekonomi, politik dan sejarah yang ada di
pemerintah, sivitas akademika atau sekelompok peneliti.
Survey teknis yang dikerjakan pihak kementrian, sivitas akademika, NGO, UN .
Hasil VCA Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Data sensus penduduk.
Data meterologi.
Peta.
Saksi mata (orang-orang yang baru kembali dari lapangan).
Komunikasi verbal dengan para ahli dilapangan atau isu teknis yang berkaitan.
Ada beberapa sumber lain yang memungkinkan bisa digunakan. Dalam setiap situasi,
perhatikan informasi apa yang akan berguna dan dimana diperoleh.
Menentukan keakuratan dan kegunaan data sekunder dapat dilakukan dengan
menanyakan beberapa hal seperti:
Bagaimana informasi diperoleh? Metodelogi yang digunakan?
Bagaimana kepastian sumber informasi yang diperoleh?
Dari segi apa yang memungkinkan informasi menjadi bias? (Mengacu pada
tujuan dalam memperoleh informasi)
Seberapa valid informasinya?
Apakah informasi berdasarkan kenyataan atau opini?

12

Panduan Assessment PMI

Kata kunci:
Bersiaplah selalu untuk menghadapi kenyataan yang berbeda dari apa yang telah
direncanakan dan waspadalah akan hal yang tidak terduga.
3.1.3.5. Daftar informasi yang dibutuhkan
Ini bergantung pada informasi yang telah ada (yang dapat dipercaya) dan obyektif dari
assessment
3.1.3.6. Identifikasi area yang akan dikunjungi & populasi target

Wilayah
Area

Lokasi

Sangat jarang kemungkinan untuk bisa mendatangi seluruh wilayah yang terkena
dampak bencana dalam kondisi darurat. Seharusnya memilih daerah yang bisa
mewakili dari lokasi yang terkena bencana. Metode statistik untuk melakukan ini
biasanya tidak layak karena alasan waktu dan akses. Selanjutnya gunakan data
sekunder untuk mengidentifikasi area dan poplulasi yang cocok dengan kriteria
dibawah.

Prioritas 1: Area dan Populasi yang terkena dampak langsung.


Sebagai contoh adalah sebuah lokasi gempa atau area konflik militer atau
bahkan populasi yang secara terpaksa meninggalkan rumahnya.
Prioritas 2: Area dan populasi yang secara tidak langsung terkena bencana.
Sebagai contoh, sebuah wilayah yang berdampak secara ekonomis dari konflik
yang ditimbulkan oleh wilayah sekitarnya.
Prioritas 3: Area dan populasi yang tidak terkena dampak atau berdampak
kecil. Dimana kondisi darurat yang terjadi tidak memiliki dampak nyata
terhadap masyarakat dan matapencaharian (sangat berguna sebagai
perbandingan dengan daerah yang terkena bencana).

Dalam rapid assessment, biasanya hanya memungkinkan untuk mengunjungi suatu


wilayah dan populasi dalam prioritas 1 sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.

13

Panduan Assessment PMI


Pada detail atau assessment lanjutan, ketiga kategori proritas tersebut seharusnya
dilakukan. Terkadang pada saat melaksanakan rapid assesment, tidak memungkinkan
memperoleh akses pada area di priroritas 1. Jika ini masalahnya, cobalah untuk
menggali informasi dan bertanyalah dengan orang-orang yang baru saja mengunjungi
daerah tersebut.
Kata Kunci:
Jelaskan alasan anda memilih suatu area dalam laporan assessment. Daftar area
yang akan dikunjungi mungkin berubah setelah kunjungan pertama kelapangan
Dengan melakukan kegiatan dan kunjungan ke lapangan, anda akan mendapatkan
gambaran tentang permasalahan penting yang dihadapi pada beberapa daerah yang
terkena dampak, mungkin bisa dilakukan kunjungan ke daerah lainnya. Apabila
anda telah memiliki kerangka waktu yang jelas, ini berarti beberapa area lain akan
diabaikan dari daftar kunjungan.
Metode Sampling
Jika daerah yang ditentukan sangat luas, berisi sejumlah desa-desa atau kotamadyakotamadya, mungkin perlu menggunakan cara dalam menentukan pilihannya ditingkat
berikutnya. Ada dua cara yang bisa dilakukan, yakni:
Sampling acak. Lakukanlah manakala area yang ditentukan relatif sama. Buatlah
daftar lokasi dan pilih secara acak daerah yang akan dikunjungi.
Sampling tujuan. Jika lokasi sangat berbeda, pilihlah daerah yang lebih memiliki
dampak / karakteristik (etnik, ekonomi, kota/desa dll)
Pada dasarnya, lebih baik mengunjungi lebih banyak lokasi dan kurangi wawancara
dengan masyarakat pada setiap tempat daripada sebaliknya.
Perhatikan!
Dibeberapa kondisi bencana, jaringan kemanusiaan muncul disekeliling kota
utama. Setiap organisasi berkumpul di lokasi-lokasi bencana dan memenuhi
kebutuhan yang diperlukan, mereka berada dalam jarak yang berdekatan.
Bagaimanapun, masalah dalam pemenuhan kebutuhan pada suatu wilayah sering
muncul antar organisasi kemanusiaan. Ketika menentukan area dan lokasi yang
dikunjungi, cobalah pertimbangkan masalah-masalah yang ada.
Berikut adalah contoh bagaimana memilih sampling saat berada di lapangan
(menggunakan logika yang sama dengan di atas) Gunakan sampling acak jika tidak
ada perbendaan yang mencolok diantara rumah tangga-rumah tangga di lokasi
tersebut.
Sampling acak
Gunakan sampling acak jika tidak ada perbedaan yang signifikan diantara rumah
tangga pada sebuah lokasi.
Langkah 1. Tentukan berapa banyak rumah tangga yang diwawancara.
Ini tergantung waktu yang tersedia dan besarnya sebuah komunitas. Ambillah
sekurang-kurangnya tiga rumah tangga pada setiap lokasi, tetapi bisa juga lebih jika
anda memiliki waktu yang cukup. Beri waktu 30 menit untuk setiap wawancara.

14

Panduan Assessment PMI


Langkah 2. Identifikasi rumah tangga yang diwawancara.
Ambillah posisi di tengah pada sebuah komunitas. Putarkan botol ditanah, perhatikan
arah kepala botolnya atau lemparkan pulpen ke udara dan perhatikan arah dimana
mendaratnya. Berjalanlah kearah yang telah ditentukan dari botol atau pulpen
tersebut, sampai anda berada di pinggir komunitas tersebut, hitunglah berapa jumlah
rumah yang dilalui. Bagilah jumlah rumah tersebut dengan jumlah rumah tangga yang
anda ingin wawancara; ini memberikan jarak diantara rumah-rumah. Gambar 6
memberikan sebuah contoh:
Anda ingin mengambil tiga sampel rumah tangga.
Anda berjalan ke arah yang ditentukan dan menghitung 15 rumah terlewati.
Jarak antara sampel rumah adalah 15/3 = 5 (15 rumah terhitung, dan 3 sample
rumah diminta).
Pilihlah nomor antara 1-5; ini akan menjadi rumah pertama yang anda kunjungi.
Setelah rumah pertama dikunjungi, berjalanlah dengan arah yang sama dan hitung
lima rumah lainnya; ini menjadi rumah tangga kedua yang diwawancara. Akhirnya,
lakukan hal yang sama untuk memilih rumah yang terakhir.

Gambar 6. Diagram Random


Arah jalan kaki

Keluarga 3

Rumah

Keluarga 2

Keluarga 1

Pusat lokasi

Pendekatan yang lain untuk sampling acak


Jika rumah berada di beberapa jalan, tentukan jalan yang ingin dijadikan sample,
kemudian hitung rumah-rumah seperti yang dijelaskan pada langkah 2 diatas.
Jika data populasi ada, rumah tangga dapat dipilih acak dari nama-nama yang ada
di list.
Sampling berdasarkan kebutuhan
Gunakan sampling ini jika ada perbedaan yang signifikan diantara rumah tangga-rumah
tangga. Sebagai contoh, anda ingin mewawancarai beberapa rumah tangga karena ada
yang berada di daerah pinggiran atau karena mereka memiliki matapencaharian yang
berbeda.

15

Panduan Assessment PMI


Ada dua cara untuk untuk mengambil contoh:
Kelompok-kelompok rumah tangga yang dituju berada pada daerah tertentu
dalam lingkungan pedesaan atau perkotaan. Lakukan sampling acak, seperti yang
dijelaskan sebelumnya.
Kelompok-kelompok rumah tangga yang dituju berada terpisah dengan desa
atau kota. Berdasarkan hasil sensus desa atau kota, dimana anda dapat
mengidentifikasi rumah tangga-rumah tangga yang dituju, lakukanlah sampling
acak dari data sensus tersebut. Jika data sensus tidak ada, tanyakan masyarakat
setempat untuk membantu anda untuk mengidentifikasi jumlah rumah tangga yang
ada berdasarkan kelompoknya.
3.1.3.7. Mengorganisir data yang ada
Tim assessment menyusun sebuah checklist informasi dan sumber daya yang
dibutuhkan sebelum pergi kelapangan. Ini merupakan bagian yang penting dari proses
sebuah assessment, yang berfungsi mengarahkan pada diskusi tim. Checklist berkaitan
dengan spesifik assessment. Sebuah checklist standar tidak dibutuhkan karena:
Setiap kondisi bencana berbeda.
Proses membuat checklist sangat penting.
Checklist diubah setiap hari selama assessment berlangsung. Perubahan dilakukan
berdasarkan informasi baru yang diterima dan analisa tim dari informasi tersebut.
Checklist persiapan seharusnya memasukkan informasi seperti berikut:
Pertanyaan yang diajukan.
Metode pengumpulan informasi.
Sumber (kelompok atau individu).
Lokasi kunjungan.
Tanggungjawab dari anggota tim (setiap anggota memiliki tanggungjawab untuk
sekian pertanyaan yang ada).
Kata Kunci
Checklist seharusnya tidak diperlakukan seperti kuesioner. Hanya digunakan
sebagai alat untuk menambah daya ingat. Selama wawancara, sesekali lihatlah
checklist untuk meyakinkan anda sudah memenuhi semuanya. Informasi baru akan
muncul pada saat wawancara. Semakin anda berpengalaman, semakin jarang anda
menggunakan checklist!
3.1.3.8. Mengumpulkan Sumber Daya
Formasi Tim
Tunjuk seseorang untuk menjadi ketua tim dan tentukan formasi tim. Ini bisa
mengikuti formasi berikut:
Generalis. Satu orang atau lebih yang berpengalaman tetapi tidak memiliki
spesialisasi teknis tertentu.
Spesialis. Satu orang atau lebih karena memiliki pengalaman yang spesifik dan
keahlian.
Multi-disiplin. Sekelompok spesialis yang mewakili seluruh sektor didalam tugas
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (insinyur, pekerja kesehatan dll)
Manfaat dan kelemahan dari tiga jenis formasi tim dipaparkan berikut ini.

16

Panduan Assessment PMI


SusunanTim
Generalis

Manfaat
Tim dapat berkumpul dengan
cepat (karena tidak
membutuhkan orang-orang yang
memiliki pengetahuan
khusus).Oleh karena itu sangat
berguna untuk rapid
assessment.
Memberikan gambaran analisis
umum situasi dengan baik.
Dapat dilakukan setiap orang,
sangat pas untuk asessment
lanjutan.

Spesialis

Dapat mengidentifikasi masalah


dengan cepat pada bidang yang
ditekuninya.

Multi-disiplin

Masalah teknis dapat diketahui


dengan detail, sehingga
kebutuhan akan tindakan
lanjutan bisa dihindari.
Pengalaman yang beragam
memberikan dasar yang luas
untuk sebuah analisa.

Kelemahan
Kekurangan orangorang yang
memiliki pengetahuan khusus
yang berarti membutuhkan
asessment lanjutan apabila ada
masalah teknis yang
terindentifikasi.
Masalah teknis mungkin diabaikan
Dalam situasi yang gawat, tim
assessment memungkinkan
memberikan bantuan pula
(seperti halnya dalam kondisi
konflik)
Bisa jadi hanya fokus pada isu
yang diketahuinya saja sehingga
mengabaikan hal lain secara
umum.
Sulit untuk mengumpulkan orangorangnya; sebab itu assessment
tidak sering dilakukan dengan
susunan tim ini.
Mungkin tidak membutuhkan
banyak spesialis.
Sulit untuk mengkoordinir tim
(penggunaan metodelogi yang
kurang sesuai, kebutuhan logisitik
yang sulit dll)
Tim yang besar dapat
menghadirkan ancaman dari segi
keamanan dan dapat
mengintimidasi komunitas kecil.

Pilihlah formasi tim yang sesuai berdasarkan situasi dan kondisi yang ada di lapangan,
terutama jenis informasi apa yang ingin dikumpulkan. Setelah itu, pikirkan hal berikut:
Jika memungkinkan, libatkan orang yang mampu berbahasa setempat. Libatkan satu
orang penterjemah untuk setiap anggota tim yang tidak dapat berbahasa setempat.
Usahakan untuk melibatkan pria dan wanita di dalam tim.
Teradang sangat berguna jika melibatkan wakil dari populasi yang berasal dari area
yang terkena dampak.
Semua orang bias; persepsi mereka berdasarkan latar belakang budaya, pengalaman,
pelatihan profesional dan banyak lagi faktor lainnya. Waspada akan hal ini dan cobalah
untuk meyakinkan perspektif tiap individu dalam tim untuk berimbang.
Apabila memungkinkan, sangatlah baik untuk melibatkan staf yang berasal dari kantor
setempat, di area yang akan diassessment. Ini berarti bahwa assessment dapat

17

Panduan Assessment PMI


dilakukan lebih sering, hemat biaya (biaya perjalanan, dll.), dan meningkatkan
hubungan dalam melakukan assessment, perencanaan proyek dan implementasi.
Mengorganisir Perjalanan
Sebelum turun ke lapangan, ketua tim harus memastikan bahwa semua anggota tim
telah diberikan pengarahan mengenai:
Kerangka acuan atau hal apa yang diharapkan dari assessment yang akan dilakukan.
Rencana kerja, termasuk metodologi yang akan digunakan serta kerangka waktunya.
Pembagian tugas masing-masing anggota tim, pelaporan, dll.
Pengaturan logistik untuk assessment (transportasi, akommodasi, dll.).
Keamanan: situasi terkini dan prosedur selama assessment.
Hal-hal lain yang berkaitan dengan assessment
Sangatlah penting bahwa semua orang (termasuk penterjemah!) yang akan
bergabung dalam kegiatan assessment ikut berpartisipasi pada phase perencanaan.
Sebelum turun ke lapangan, tim hendaknya memastikan:
- Waktu yang tersedia (misal: waktu efektif di lapangan) sesuai dengan objektif
assessment
- Periodenya tepat (periode dalam tahun)
- Semua hal mengenai logistik dan administrasi sudah diurus.

18

Panduan Assessment PMI


3.2.

LANGKAH 2: SAAT DI LAPANGAN

3.2.1. Prinsip-prinsip kerja di lapangan


Prinsip-prinsip ini seharusnya diikuti selama kerja di lapangan:
Konsultasi dengan masyarakat yang terkena bencana merupakan hal yang
penting.
Bangkitkan semangat masyarakat yang terkena bencana untuk menjelaskan situasi
dengan bahasa dan waktu yang mereka miliki. Bahkan pada kondisi bencana yang
terjadi dengat cepat masih selalu ada kemungkinan melibatkan pendapat masyarakat
lokal.
Perhatikan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dari kelompok dan individu
yang berbeda (laki-laki, perempuan, orangtua, anak-anak dll)
Perhatikan kejelasan informasi yang diterima. Informasi mungkin nyata (benar),
opini (tergantung dengan perspektif orang yang memberi informasi) atau rumor
(berdasarkan informasi yang belum jelas).
Bias. Setiap orang bias. Mengingat perspektif dari pemberi informasi dan mereka
yang melaksanakan assessment.
Carilah kelompok marjinal dan pastikan ketertarikan mereka. Siapa yang kuat dan
suara siapa yang diabaikan? Golongan marjinal berdasarkan jender, etnis, status sosial
dan karakteristik lainnya.
Carilah perubahan dan tren yang mempengaruhi masyarakat. Cobalah memahami
apa yang menyebabkan terjadinya perubahan.
Perhatikan hal yang terjadi diluar dugaan. Siapkanlah asumsi yang dibutuhkan.
Perhatikan dan temukan isu mana yang paling penting dalam masyarakat dan dengan
siapa anda berbicara.
Perhatikan dampak dari isu-isu dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan.
Sebagai contoh, HIV/AIDS bukanlah hanya sebuah isu kesehatan. Di sebagian besar
negara-negara dipermukaan bumi ini, menjadikan isu tersebut memiliki dampak yang
luas terhadap ekonomi dan sosial.
Melalui hasil assessment, pikirkanlah bagaimana informasi ini digunakan. Jenisjenis program apa saja yang sesuai? Hal ini berkenaan dengan efek positif dan negatif
dari program-program tersebut (Panduan Better Programming InitiativeBPI dapat
menjadi panduan yang baik).
Pikirkan waktu yang dibutuhkan dalam kunjungan lapangan. Cobalah hindari
waktu kunjungan dimana masyarakat sedang sibuk atau mereka sedang ada
acara/kegiatan. Perhatikan pula halnya dengan musim yang sedang berlangsung.
Beberapa orang dari masyarakat biasanya tidak ada dalam komunitas untuk suatu
musim tertentu dan aktivitas dan kerentanan cenderung berubah-ubah dari musim ke
musim.
3.2.2. Bekerja di lapangan: kegiatan
Setiap hari kondisi dilapangan berbeda dan harus direncanakan dengan baik.
Langkah-langkah yang telah ditentukan tidak selamanya harus sesuai seperti rencana.
Beberapa langkah bisa dilakukan pada saat yang bersamaan jika jumlah tim
assessment cukup banyak. Terkadang perlu untuk mengulang beberapa langkah
apabila terdapat hal yang bertentangan dan tidak konsisten.

19

Panduan Assessment PMI


Berikut adalah langkah-langkah yang biasa dilakukan:
Langkah 1. Rencana harian
Kegiatan dilapangan seharusnya direncanakan dengan hati-hati setiap harinya. Tim
assessment seharusnya membuat sebuah persiapan, seperti berikut (biasanya dilakukan
pada malam hari):
Menentukan lokasi yang dikunjungi
Membuat checklist informasi yang dibutuhkan
Sepakat menggunakan metode wawancara dan sumber informasi (dapat dilakukan
pada saat kegiatan berlangsung)
Membagi tanggungjawab (siapa yang melakukan wawancara)
Langkah 2. Bicara dengan pemerintah setempat.
Dapatkanlah informasi melalui pemerintah setempat (dan berapa orang penting) ketika
tiba dilokasi. Jelaskan siapa anda, alasan dari kunjungan dan metodelogi yang akan
dilakukan. Terkadang sangat berguna apabila anda memberikan kartu nama organisasi
kepada mereka. Ini memberikan bentuk transparansi dan pertanggungjawaban.
Langkah 3. Pengamatan
Lakukan pengamatan dilokasi bersama dengan masyarakat setempat. Ini akan
memberikan kesan awal kepada masyarakat. Melalui kunjungan lapangan kemudian
dilanjutkan dengan pengamatan (lihat bagian 5.1).
Langkah 4. Wawancara
Pilih individu (dari rumah tangga, sektor informan, dll) atau kelompok (umum,
matapencarian, sektor, dll), dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan (lihat bagian 5.2).
Langkah 5. Pertemuan tim
Tim assessment seharusnya bertemu secara reguler dilapangan selama melakukan
assessment (saat siang hari atau sore hari). Ini memberikan kesempatan untuk berbagi
pengalaman dan kesepakatan apabila terjadi perubahan jadwal assessment.
Langkah 6. Pertemuan dengan komunitas
Disaat memungkinkan, buatlah pertemuan dengan perwakilan dari masyarakat diakhir
kegiatan assessment. Jelaskan apa yang telah anda kerjakan dan kesimpulan yang
dibuat (tetapi jangan membuat komitmen atau janji berkaitan dengan pemberian
bantuan).

20

Panduan Assessment PMI


3.3.

LANGKAH 3: SETELAH DARI LAPANGAN

3.3.1. Analisa
Analisa merupakan sebuah proses dimana seluruh informasi yang diperoleh dari segala
sumber yang berbeda disatukan dan dipelajari, hal ini dilakukan untuk memungkinkan
anda menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam assessment:
Apa masalah utamanya?
Siapa yang terkena dampaknya?
Apa kapasitas dari masyarakat yang terkena dampaknya? Bagaimana mereka
mengatasi masalahnya?
Apakah ada bantuan yang tersedia?
Apakah memerlukan intervensi Palang Merah Bulan Sabit Merah? Jika ya, intervensi
seperti apa yang diminta?
Catatan Kunci
Anda harus menganalisa informasi secara terus menerus dari hasil assessment. Jangan
tinggalkan analisa sampai assessment selesai.
Satu pengecualian pada hal penting diatas, perhatikan analisa informasi pada sektorsektor tertentu. Jika sebuah tim assessment tidak memiliki seorang spesialis, informasi
yang ada dianalisa setelah assessment selesai oleh seorang spesialis. Generalis / Non
spesialis seharusnya tidak mencoba menganalisa informasi yang spesifik selama di
lapangan, karena akan berakibatkan kesalahan yang nyata dalam pemberian informasi.
Pada bagian ini memberikan saran pada:
Memperbaiki kesalahan pada informasi yang diperoleh.
Ringkasan dari informasi.
Menyatukan informasi dari berbagai sumber untuk mencapai suatu kesimpulan.
Membuat proposal untuk program.
3.3.2. Ketidaktepatan informasi
Dalam setiap assessment anda akan menghadapi permasalahan akan ketidaktepatan
informasi. Ini terjadi manakala pemberi informasi memberikan beragam jawaban
terhadap pertanyaan yang sama. Sebagai contoh:
Seseorang mengatakan kepada anda bahwa sumber air kering selama dua bulan
dalam tahun ini, sedangkan orang lain mengatakan tidak pernah kering.
Seseorang mengatakan kepada anda bahwa ternak di desa mati. Orang lain
mengatakan sebagian ternak masih hidup dan mencari rumput ditempat yang jauh.
Bagian ini memberikan langkah-langkah yang harus dilalui agar supaya dapat
mengurangi informasi yang tidak tepat.
Langkah pertama adalah pikirkanlah informasi yang anda peroleh. Ini akan
mengidentifikasi kesalahan. Tanyakan pada diri anda pertanyaan berikut:
Apakah informasi terbaru mendukung atau bertentangan dengan data sekunder?
Apakah informasi yang diperoleh dari sebuah sumber itu mendukung atau
bertentangan dengan yang lain?

21

Panduan Assessment PMI

Apakah informasi yang diperoleh dari anggota tim assessment yang berbeda?
Apakah informasi tersebut masuk akal? Sebagai contoh, jika seseorang
mengatakan kepada anda bahwa hasil panen gagal, sementara anda melihat
dengan jelas jagung hasil panen di desa, ini adalah kesalahan.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi menuntun anda untuk memikirkan pertanyaanpertanyaan baru untuk dijawab atau mencari sumber informasi yang lain untuk
mengklarifikasi situasi. Pengamatan seringkali sangat dibutuhkan (lihat bagian 5.1).
Kata Kunci
Sebagai panduan umum, cobalah memeriksa informasi yang penting dengan
membandingkan masukan dari sekurang-kurangnya tiga sumber yang berbeda.
Sumber-sumber ini seharusnya berbeda satu sama lain. Jika beberapa sumber yang
berbeda memberikan informasi yang sama, berarti informasi kemungkinan benar.
Langkah kedua adalah diskusikan temuan secara reguler dengan anggota tim:
Selama dilapangan. Bicarakanlah sekurang-kurangnya sekali selama ada di
lapangan (biasanya malam hari). Bandingkan informasi yang ada, diskusikan yang
salah dan sepakat merubah jadwal wawancara.
Setiap hari setelah kerja. Setelah kerja dilapangan, diskusikan informasi yang ada
dan berikan kesimpulan.
Setelah bekerja di lapangan. Tim bertemu untuk meyepakati kesimpulan akhir.
Langkah ketiga adalah memperhatikan alasan dari ketidaktepatan. Ada tiga hal yang
biasa yang memungkinan ini terjadi:
Persepsi. Selalu tidak ada jawaban yang benar. Interprestasi orang-orang pada
suatu kejadian tergantung pada kondisi yang dialaminya.
Akses mendapatkan informasi. Beberapa orang lebih paham tentang satu hal
ketimbang orang lain.
Kesalahpahaman. Terkadang orang sengaja memberikan informasi yang tidak
sesuai.
Tentukan apakah ketidaktepatan informasi akan berdampak pada kesimpulan
assessment dan proposal untuk program-program selanjutnya. Jika ketidaktepatan
bukan hal yang kritis untuk program-program selanjutnya, cobalah untuk
memperbaikinya tetapi jangan membuang waktu yang terlalu lama. Jika anda tidak
dapat memperbaikinya, anda seharusnya menempatkan sebuah catatan penjelasan
pada laporan akhir.
Jika ketidaktepatan informasi ini tidak berdampak yang signifikan terhadap kesimpulan
akhir, cobalah putuskan dengan:
Memutuskan dari tiga alasan yang ada ( atau kombinasikan alasan) yang berkaitan.
Memperhatikan kenapa terdapat perbedaan informasi.
Bandingkan keyakinan anda pada setiap sumber, mungkin salah satu sumber lebih
memiliki kredibilitas dari yang lainnya.
Cek informasi. Entah itu tanyakan lagi kepada sumber informasi dimana informasi
diterima atau identifikasi sumber yang baru yang mungkin bisa diklarifikasi.
Jika langkah-langkah tersebut tidak menyelesaikan perbedaan, anda harus membuat
sebuah keputusan. Dalam hal ini tim leader membuat keputusan, dengan

22

Panduan Assessment PMI


mendiskusikan anggota tim dan memperhatikan semua informasi yang tersedia.
Sangatlah penting bahwa:
Kesimpulan didasari oleh keputusan yang telah diidentifikasi dalam laporan
assessment, dan dengan asumsi yang jelas.
Membuat rekomendasi untuk kelanjutannya.
3.3.3. Pelaporan
Tim assessment tidak diharapkan membuat desain program yang lengkap.
Bagaimanapun ide dari tim sangatlah berguna untuk merencanakan program. Ada tiga
kemungkinan kesimpulan dari assessment:
Tidak ada kebutuhan untuk intervensi (kapasitas masyarakat yang terkena dampak
sanggup untuk mengatasinya).
Disana ada kebutuhan untuk intervensi, tetapi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
bukanlah organisasi yang tepat untuk melakukan intervensi.
Disana ada kebutuhan untuk intervensi dan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
merupakan organisasi yang tepat.
3.3.3.1. Laporan Assessment
Bagian ini menghadirkan sebuah format untuk rapid dan detail assessment. Untuk
setiap assessment, susunlah sebuah laporan berdasarkan dari
informasi yang
diberikan. Angka yang detail dari setiap informasi akan bergantung dari keadaan yang
ada dari setiap assessment.
Penting untuk menghadirkan kesimpulan dari sebuah assessment sejelas mungkin.
Penggunaan format standar membantu pembaca untuk mengetahui dengan cepat
informasi sebagaimana mereka terbiasa dengan tampilannya.
Catatan Kunci
Buatlah laporan assessment sesingkat mungkin, tetapi pastikan semua informasi
penting tidak terlewatkan.
Petunjuk diberikan pada bagian panjang narasi. Panjangnya narasi ini disesuaikan apa
itu dikurangi atau diperpanjang.
3.3.3.2. Kerangka kerja Laporan
Rapid dan detail assessment
Bagian I
1. Ringkasan
2. Tanggal Laporan:
3. Alasan melakukan assessment
4. Tanggal dan jenis bencana
5. Lokasi bencana
6. Jumlah orang yang terkena dampak bencana:
Ringkasan dari kesimpulan assessment: berikan penjelasan (1/2 halaman) ringkasan
dari permasalahan dan populasi yang terkena bencana. Apa kebutuhannya (jika ada)?
Apakah direkomendasikan Palang Merah Bulan Sabit Merah melakukan intervensi?
Jika ada, berikan garis besarnya.

23

Panduan Assessment PMI


Apakah direkomendasikan melakukan assessment lanjutan? Jika ada, berikan detail
dan waktunya.
Bagian 2.
1. Latarbelakang informasi
2. Tim assessment : Nama, Organisasi, Profesi/keahlian/jabatan setiap tim.
3. Lokasi yang dikunjungi: Nama daerah dan jelaskan kenapa dipilih.
4. Perjalanan yang dilakukan: Lokasi yang dikunjungi setiap harinya.
5. Sumber informasi: Masyarakat dan wawancara kelompok dalam setiap harinya.
6. Sumber data sekunder: Detail dokumen dan pemberi informasi yang
dikonsultasikan.
7. Hambatan. Apa hambatan yang dialami dalam melakukan assessment (waktu,
akses, keamanan dll.)?
Bagian 3. Detail
Narasi: Berikan penjelasan (1/2-1 halaman) dengan menjelaskan:
Penyebab bencana.
Prakiraan ke depan
Garis besar (1-2 halaman) situasi keseluruhan dan dampak bencana, berdasarkan
informasi yang diperoleh melalui wawancara kelompok umum (dan informasi yang
relevan lainnya):
Struktur sosial
Pergerakan masyarakat
Matapencaharian
Lingkungan
Pelayanan
Hal lain
Asumsi dan penilaian: Apa asumsi dan penilaian yang dihasilkan?
Ketidaktepatan: Apakah ada ketidaktepatan informasi pada saat melakukan
assessment?
Kerentanan dan kapasitas: Berikan ringkasan dari setiap permasalahan, kebutuhan dan
upaya penanganan dengan memasukan kedalam tabel berikut:
Masalah

Normal atau baru

Jika normal, berapa


sering masalah itu
terjadi?

Jika baru, kapan


masalah itu ada?

Penggolongan masalah: Apakah semua sumber informasi setuju dengan penggolongan


masalah? Jika tidak, berikan secara jelas (masalah yang mana yang paling penting dari
setiap kelompok pemberi informasi).
Pendapat lain dari informasi yang ada:

24

Panduan Assessment PMI


Kebutuhan, upaya penanganan dan bantuan
Masalah
Populasi yang
Kebutuhan
terkena dampak
(sebutkan angka)

Cara mengatasi

Bantuan

Lokasi-lokasi dari populasi yang terkena dampak.


Apakah ini tempat tinggal mereka? Jika tidak, kenapa mereka berpindah? Kapan
mereka pindah?
Bagaimana akses menuju lokasi? Berikan penjelasan yang berkaitan dengan musim,
infrastruktur (jalan, bandara dll), keamanan dan faktor politik.
Apakah upaya mengatasi masalah memiliki konsekwensi negatif terhadap
kesehjateraan masyarakat dan berdampak panjang terhadap mata pencaharian?
Apakah ada masyarakat yang tidak menerima bantuan? Jika ya kenapa?
Masyarakat
Kebutuhan
yang terkena
dampak

Apakah
upaya
dan
bantuan yang
dilakukan
memenuhi
kebutuhan

Persentase
kebutuhan
yang
diberikan
dengan
upaya yang
dilakukan?
(A)

Persentase
kebutuhan
yang
diberikan
dengan
bantuan?
(B)

Persentase
kekurang
yang
ada
dalam
memenuhi
kebutuhan?
(100-A-B)

Jelaskan bagaimana persentase dihitung.


Dimana kekurangan yang diidentifikasi dalam pemenuhan kebutuhan, jelaskan apakah
direkomendasikan intervensi Palang Merah Bulan Sabit Merah, berikan alasan.
Apa jenis intervensi yang direkomendasikan kepada Palang Merah Bulan Sabit Merah?
3.3.3.3. Proposal program
Berikan penjelasan (1/2 halaman) dari proposal yang diajukan tim assessment:
Detail program yang diajukan
Permasalahan
Jenis program (kesehatan, watsan, pangan dll)
Aktivitas utama

25

Panduan Assessment PMI


Durasi program
Populasi masyarakat yang terkena bencana
Jumlah penerima bantuan
Lokasi penerima bantuan
Kemungkinan konsekwensi negatif yang dihadapi
Siapa yang melaksanakan program (Kantor Pusat,
IFRC, ICRC)
Akankah Palang Merah Bulan Sabit Merah
membutuhkan mitra kerja? (masyarakat, pemerintah,
NGO dll)
Koordinasi dengan organisasi lain
Hambatan
Jumlah staff yang dibutuhkan
Budget yang dibutuhkan
Lampiran laporan assessment
Lampirkan dokumen-dokumen berikut:
1. Kerangka acuan untuk assessment.
2. Ringkasan wawancara kelompok mata pencaharian dan rumah tangga
3. Hasil checklist dari sektor-sektor yang diwawancara

26

Panduan Assessment PMI

Bab 4
Tools ASSESSMENT
4.1. Pengamatan
Pengamatan seringkali digolongkan hanya sebagai sumber informasi. Banyak informasi
yang dapat diperoleh dengan cepat melalui pengamatan. Pentingnya, ini memberikan
rasa dari sebuah situasi-suara dan aroma dan kesan yang dilihat. Hal-hal tersebut
yang menjadi alasan untuk turun ke lapangan.
Ide yang baik untuk memulai assessment adalah dengan berjalan di seputar lokasi.
Selama assessment, lakukanlah pengamatan sebanyak mungkin. Apabila anda
mendiskusikan air, lihatlah sumber air yang ada. Apabila masyarakat menjelaskan
makanan yang anda tidak tahu, tanyalah dan (cicipilah!). Anda dapat belajar
banyak dengan meluangkan waktu di tempat masyarakat berkumpul (warung,dll).
Lihat sekitar anda dan berbicaralah dengan masyarakat.
Pengamatan sangat berguna untuk pengecekan ulang. Sebagai contoh, anda
diberitahukan bahwa semua stok pangan telah hilang karena kemarau. Kemudian
anda melihat sekumpulan besar kambing. Hal ini tidak sepenuhnya berlawanan
dengan informasi sebelumnya - banyak penjelasan yang memungkinkan - tetapi ini
memberikan dasar untuk pertanyaan berikutnya: Siapa yang memiliki kambingkambing tersebut?, Bagaimana mereka bisa bertahan di masa kemarau? dan
selanjutnya.
Melakukan kunjungan ke lokasi bersama masyarakat setempat, memudahkan untuk
berdiskusi. Kondisinya tidak formal dan dapat segera bertanya manakala melihat
sesuatu. Hal ini lebih alamiah ketimbang menggunakan check list pertanyaan.
Sangatlah penting, berjalan serta melakukan pengamatan adalah cara terbaik
untuk mendapatkan informasi yang tidak terduga. (masalah tidak dapat diprediksi).
Pengamatan merupakan cara yang paling mudah dilakukan untuk menilai
infrastruktur dan logistik. Berkendara disepanjang jalan juga merupakan cara
untuk mendapatkan informasi apabila akses dapat dilalui (tetapi untuk daerah
konflik, berhati-hatilah dengan ranjau atau kondisi keamanan lainnya).
Akhirnya, satu pesan untuk mengetahui seluruh hal: Cari tahulah!
Kata kunci:
Pengamatan tidak hanya melibatkan indera penglihatan tapi juga melibatkan
indera pendengar, pencium, perasa dan peraba.
4.2. Wawancara
Wawancara adalah kegiatan menggali informasi dari seseorang atau sekelompok orang
melalui sebuah proses komunikasi dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Wawancara merupakan pendukung utama dalam melakukan assessment lapangan.
Setiap informasi yang ingin kita dapatkan hendaknya dilihat dari berbagai aspek:
Kepada siapa yang sebaiknya saya menanyakan informasi yang diinginkan?
Apakah saya harus bicara dengan perorangan atau dengan kelompok?
Bagaimana saya melakukankan wawancara?

27

Panduan Assessment PMI


4.2.1. Tentukan dengan siapa ingin berbicara
Sumber informasi utama merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan khusus
terhadap beragam aspek dalam komunitas. Mereka sangat berguna dalam melakukan
assessment darurat dimana waktu sangat terbatas. Sebagai contohnya petani, petugas
kesehatan, pegawai pemerintah, kelompok wanita, anak-anak dan pemuda, LSM lokal
dan pedagang. Tetapi untuk orang-orang yang memilik pandangan yang menarik dan
dapat menjelaskan permasalahan, juga dapat dimasukkan sebagai sumber informasi
utama. Perhatikanlah orang-orang yang memiliki pandangan yang menarik selama
assessment.
Wawancara sumber informasi utama didasari oleh pengetahuan yang khusus dan
pengalaman yang dimiliki. Jika yang diwawancarai seorang dokter, kemungkinan
perbincangan akan fokus pada isu kesehatan. Bagaimanapun, perhatikan hal-hal
berikut:
Misalnya bahwa sumber informasi utama adalah seorang dokter (atau insinyur atau
profesi yang lain) bukan berarti dia memahami banyak seluruh aspek dimana dia
bekerja pada bidangnya; seorang dokter bedah memiliki pengetahuan yang sedikit
tentang isu kesehatan yang utama pada daerah pedesaan.
Orang-orang profesional, dikarenakan oleh posisi sosial mereka dan hubungannya
dengan orang-orang profesional lainnya menyebabkan mereka memiliki pengetahuan
yang baik tentang kondisi sosial dan politik dan bahkan mungkin dapat memberikan
informasi lebih dari pekerjaan yang dilakoninya.
Penentuan sumber informasi dibutuhkan untuk memutuskan informasi apa yang dapat
diberikan dengan benar oleh sumber informasi. Mulailah wawancara dengan
permasalahan umum, kemudian pindah ke hal-hal yang spesifik.
4.2.2. Pilih tipe wawancara apa yang akan dilakukan
Wawancara dapat dilakukan secara berkelompok atau perorangan.
Wawancara kelompok memberikan interaksi diantara orang-orang. Dengan membuat
suasana diskusi yang bersifat membangun, anda dapat mengecek kembali informasi
dan masalah yang ada. Sebagai contoh, seseorang akan mengatakan hal yang serius
dalam permasalahan pelayanan kesehatan, tetapi mungkin saja orang lain tidak
setuju. Sebuah perdebatan akan terjadi, dan bahkan apabila tidak terselesaikan, akan
memberikan kesan dari beragam permasalahan yang berdampak terhadap masyarakat.
Wawancara kelompok dilakukan dengan dua cara:
Anda ingin mendapatkan informasi tentang topik-topik dalam hal yang luas
pendekatan ini digunakan dalam wawancara kelompok umum. Kumpulkan sekelompok
orang dari latarbelakang yang berbeda yang dapat secara bersama memberikan
penjelasan yang luas tentang situasi yang ada.
Anda ingin mendapatkan pengertian yang dalam dari isu tertentu (wawancara
kelompok matapencaharian). Dalam hal ini sekelompok orang dengan latarbelakang
yang sama sangat berguna.
Manakala melakukan wawacara kelompok, perhatikan bahwa:
Beberapa orang lebih terbuka daripada yang lainnya.

28

Panduan Assessment PMI


Beberapa orang lebih percaya diri dalam sebuah kelompok karena status mereka
dalam masyarakatnya. Sebaliknya, orang-orang dari kelompok marjinal kemungkinan
enggan berbicara terbuka, khususnya jika dianggap bertentangan.
!!! Apabila masyarakat setempat sangat memegang kuat hirarki, akan ada batasan
terhadap sejumlah perbedaan yang ditampilkan dalam sebuah kelompok. Jika tidak
ada kesempatan untuk berbicara bebas, atau apabila partisipasi mereka akan
menjadikan masalah buat diri mereka atau yang lainnya, akan lebih baik apabila
dihadirkan dalam kelompok yang terpisah dengan perbandingan yang imbang (atau
wawancara masyarakat secara terpisah).
Ciptakan suasana santai, tidak formal; carilah pendapat dari mereka yang enggan
berbicara. Kendalikan orang-orang yang cenderung berbicara sehingga tidak
mendominasi perbincangan.
Ada tiga cara dalam memilih masyarakat untuk melakukan wawancara:
Diajukan oleh pemimpin masyarakat. Hal ini kemungkinan dilakukan dalam
komunitas yang kecil atau tempat dimana ada dorongan kecil untuk memanipulasi
data. Bagaimanapun pendekatan ini seharusnya dihindari, yang mana bisa menjadi
bias berkenaan kekuasaan dari sekelompok orang.
Perwakilan. Diskusi terjadi dan masyarakat bergabung karena kemauan mereka.
Ini dapat efektif jika waktunya singkat dan dalam komunitas kecil, tetapi hatihatilah jumlah masyarakatnya tidak dapat diatur.
Diajukan oleh sumber informasi utama. Pendekatan yang bagus ini bisa terjadi
jika waktunya ada. Organisasi dalam masyakat setempat dan masyarakat lainnya
yang sangat mengetahui kondisi (mungkin guru, atau pemimpin agama) dapat
mengidentifikasikan. Bila memungkinkan libatkan masyarakat marjinal.
Mulailah dengan perbincangan umum tentang kehidupan masyarakat setempat,
beberapa hal disekitar anda dll. Jangan langsung bertanya pada pokok permasalahan
karena:
Akan bernada salah. Anda ingin mendengar hal-hal positif dan juga negatif dari
kehidupan sebuah masyarakat.
Konsentrasi pada permasalahan memberikan kesan tujuan anda hanya sebatas apa
yang dapat diberikan oleh Palang Merah Bulan Sabit Merah. Ini menyebabkan
masyarakat akan mengeluarkan sejumlah kebutuhan dari yang diinginkan.
Cermatilah permasalahannya dengan hati-hati dengan memberikan pertanyaan
dalam berbagai cara dan mencari hal yang saling melengkapi dan bertentangan dari
informasi yang anda miliki. Peka dengan situasi; jika masyarakat tidak nyaman
dengan pertanyaan, jangan dipaksa.
Wawancara perorangan (sumber informasi utama) dilakukan dengan tiga alasan:
Anda mencari informasi teknis yang dapat diberikan oleh orang-orang profesional;
seperti petugas kesehatan atau petugas PDAM.
Anda tertarik dalam isu yang sensitif dimana tidak sesuai dilakukan dalam diskusi
kelompok; (sebagai contoh, pelecehan sex diantara pengungsi).
Anda tidak memiliki waktu untuk melakukan wawancara kelompok.

29

Panduan Assessment PMI


Sebelum memulai wawancara perorangan, pastikan bahwa orang yang
diwawancarai tersebut tidak akan ditempatkan pada situasi yang menyulitkan.
Apabila memungkinkan, jelaskan kepada komunitas alasan mengapa anda ingin
mendiskusikan beberapa hal dan tentang apa.
4.2.3. Bagaimana melakukan wawancara
4.2.3.1. Wawancara Semi Struktur
Ada banyak cara untuk melakukan wawancara. Mulai dari yang terstruktur (dengan
pertanyaan yang telah disiapkan, kuesioner), semi sruktur (setengah terstruktur,
checklist), hingga tak terstruktur (tanpa mempersiapkan pertanyaan). Jenis
wawancara yang akan kita bahas lebih lanjut adalah wawancara semi struktur yang
mana dilakukan secara informal tapi pertanyaannya terstruktrur.

Rumuskan tujuan wawancara Anda


Tetapkan Narasumber
Wawancaranya tampak informal tapi terstruktur
Buatlah daftar 3 - 4 topik untuk ditanyakan tapi rincian pertanyaan tidak perlu
ditulis
Terangkan maksud dilakukannya wawancara kepada narasumber
Wawancara dengan beberapa sumber berbeda, memungkinkan penginterpretasian
data kuantitatif
Wawancara sebaiknya dilakukan tidak lebih dari 30 menit
Gunakan pertanyaan terbuka agar dapat menggali lebih dalam informasi
Buatlah catatan selama wawancara
Gunakan tools pendukung (PRA)
Triangulasi jawaban dari beberapa narasumber yang berbeda
Di akhir assessment, cobalah menentukan jawaban rata-rata agar diperoleh data yang
dapat digunakan
4.2.3.2. Perilaku selama Wawancara
Kenali diri sendiri dan kenali pihak lain
Sesuaikan sikap Anda dengan narasumber
Membangun keakraban
Komunikasi non-verbal
Sikap menghormati.
Lakukan
Sempatkan untuk memperkenalkan diri
dan menjelaskan maksud kedatangan
Mulailah bertanya mengenai seseorang
atau sesuatu yang nyata
Pancing topik pembicaraan dengan
menggunakan apa, kapan, di mana,
siapa, mengapa, bagaimana?Gunakan
kata selidik apa maksud Anda? Katakan
lebih lanjut tentang hal ini Ada yang
lain? Tapi kenapa?

Jangan Lakukan
Jangan membawa buku catatan yang
tebal atau map yang terlihat resmi
Jangan menyela narasumber, hindari
pertanyaan tertutup
Jangan menerima jawaban pertama
begitu saja
Jangan bantu menjawab jika
narasumber ragu-ragu. Bersabarlah
Jangan menghakimi atau
memperlihatkan ketidakpercayaan

30

Panduan Assessment PMI


Lakukan wawancara secara informal,
dengan diskusi, diselingi dengan
pertanyaan-pertanyaan
Santai, sabar dan dengarkan dengan
seksama
Perhatikan faktor non-verbal
Pilih narasumber dengan tepat, gunakan
"PRA tools"
Jika wawancara tidak berjalan
sebagaimana mestinya, hentikan
dengan sopan dan berterima kasihlah
pada narasumber

Jangan membuat narasumber merasa


di uji silang
Jangan mempengaruhi, bersikaplah seobjektif mungkin
Jangan menanyakan pertanyaan
sensitif di depan banyak orang

4.2.3.3. Tips Wawancara


Minta pendapat lokal tentang topik yang relevan dalam berdiskusi. Jangan
mendesak pembicaraan yang berkaitan dengan isu sensitive atau sesuatu yang
tidak layak.
Dalam melakukan kunjungan kemungkinan anda dapat terganggu. Anda sedang
berada dirumah seseorang. Terimalah tawaran dari keramahtamahan (seperti,
disajikan teh) Pekalah dengan cara anda bertanya. Hormati dan sopan sangatlah
penting. Jagalah percakapan seinformal mungikn. Tidak perlu terburu-buru.
Amati. Disekitar anda. Lihat makanan apa yang dihidangkan. Perhatikan barangbarang rumah tangga dan kondisi mereka dan apa yang terlihat tidak ada (seperti
lazimnya sebuah masyarakat).
Tanyakan pertanyaan yang umum tentang kehidupan dan perubahan yang terjadi.
Tanyakan pertanyaan dari yang anda lihat disekitar anda: Sayuran apa yang
tersedia?, Kapan anda menggunakannya? dan begitu selanjutnya.
Cobalah. Cicipilah makanan apabila anda disajikan. Ini akan membangun
kepercayaan dan merupakan hal yang baik untuk memulai sebuah diskusi tentang
makanan.
Jika anda berbicara dengan wanita, tanyakan apa memungkinkan untuk bertemu
dengan temannya, saudara atau tetangga. Jika ya, buatlah sebuah diskusi kecil
(tiga atau lima orang) di rumah.
Di beberapa budaya, tidak memungkinkan untuk orang asing mengunjungi wanita di
rumah. Jangan memaksa untuk tetap mengunjunginya. Apabila memungkinkan,
terkadang harus ada saudara laki-lakinya yang menemani, jelaskan dengan sopan
kepada saudara laki-lakinya tentang alasan anda melakukan wawancara dan
katakanlah sangat penting untuk mendengar pendapatan langsung dari wanita.
4.2.3.4. Seni Bertanya
Tipe pertanyaan yang direkomendasikan
DEFINISI
PERTANYAAN TERBUKA Membuat narasumber
(OPEN QUESTION)
berbicara. Dan juga
membuat narasumber
berpikir

CONTOH
Mengapa anda mengungsi
ke tempat ini?
Bagaimana Anda bisa
sampai kesini?
Apa ruang kelas itu cukup
menampung semua
pengungsi?

31

Panduan Assessment PMI


PERTANYAAN
TERTUTUP (CLOSED
QUESTION)

Meminta narasumber untuk


memberikan garis besar
fakta, opini.

PERTANYAAN CERMIN
(MIRROR QUESTION)

Mengembalikan sebuah
pernyataan kepada
narasumber.

PERTANYAAN TERKAIT
(RELATED QUESTION)

Pertanyaan ini untuk


memperdalam jawaban.

Tipe pertanyaan yang tidak direkomendasikan


DEFINISI
PERTANYAAN YANG
Pertanyaan yang meminta
SUGESTIF DAN
persetujuan..
BERSIFAT MENUNTUN
Berkesan sudah tahu
jawaban.
(GUIDED, SUGGESTIVE
QUESTION)
PERTANYAAN
Bertujuan untuk
PERANGKAP
memerangkap narasumber
supaya dia mengatakan
(PITFALLS QUESTION)
sesuatu tanpa
menyadarinya.
PERTANYAAN BALASAN Menjawab pertanyaan
(COUNTER QUESTION)
dengan mengajukan
pertanyaan lain.
PERTANYAAN
KONTROVERSIL
(CONTROVERSIAL
QUESTION)

Apakah Anda setuju tangki


air ini ditempatkan di sini?
Apakah Bapak bersedia jika
kita bergotong royong
membangun tenda darurat?
Siapa yang memberi
bantuan makanan?
Berapa banyak orang yang
mengungsi di sini?
( ini tentu dapat dilakukan)
tentu saja, tapi itu terlalu
singkat !
( Tangki air ini pasti bisa
dipindahkan)
tentu saja, tapi itu terlalu
beresiko pecah!
Untuk apa tenda ini
dibangun ?
(untuk kegiatan anak-anak)
Contohnya?
(untuk sekolah darurat,
bermain)
Apa itu cukup memadai?
( untuk sementara
demikian)
CONTOH
Tapi andakan masih punya
gaji bulanan, tidakkah
begitu?
Kemarin saya lihat anda di
tempat distribusi bantuan,
berarti anda sudah
mendapatkan bantuan kan?

( Sudahkah Anda menerima


pembayaran saya?)
Berapa banyak yang Anda
bayar ?
Bertujuan untuk melibatkan Apakah Anda tahu risikonya
narasumber.
bagi Anda?

32

Panduan Assessment PMI


4.2.3.5. Seni Mendengarkan
"Effective listening"
(mendengarkan secara efektif)
Keterbukaan pikiran yang berarti
keingintahuan, kemauan untuk
belajar, dan bertemu, berkenalan dan
memahami orang lain dan ide-ide
mereka
Keobyektifan, atau sadar akan adanya
sudut pandang lain. Hal ini dapat
membuat kita mampu melihat dunia
luar dengan cara yang lebih realistis,
dan bukannya hanya berdasar apa yang
baik atau tidak baik menurut kita.
Kematangan emosional memampukan
kita untuk mendengar segala sesuatu
secara netral tanpa
terbawa/terpengaruh dengan
pernyataan-pernyataan emosional

"Active listening"
(mendengarkan secara aktif)
Memberikan perhatian penuh pada
keseluruhan perilaku narasumber,
karena pesan sebenarnya yang
dikatakan oleh seseorang kadang
tersembunyi di balik kata-kata yang
diucapkan.
Memperlihatkan empati, tetapi tetap
berkepala dingin dan obyektif,
mampu memahami perasaan orang
lain tanpa terpengaruh oleh perasaan
yang sama.
Membiarkan narasumber
mengekspresikan dirinya dengan
bebas dan jangan mencap seseorang
atas apa yang dikatakannya.
Memperlihatkan minat Anda dengan
mendengarkan, membuat catatan,
mengulang kembali hal penting, dan
bertanya.

4.3. PRA (Participatory Rural Appraisal)


PRA adalah suatu metode yang digunakan untuk pengkajian / penilaian (keadaan) desa
secara partisipatif dengan penduduk desa yang bersangkutan.
Tujuannya adalah sebagai sarana dialog / komunikasi, mengumpulkan data dan
informasi, analisa situasi, alat dan metode untuk melakukan assessment kerentanan
dan kapasitas. Sasaran PRA adalah masyarakat.
Kelebihan dari pembelajaran partisipatif ini adalah:
1 Partisipatoris dan visual
2 Pembalikan dari model konvensional:
a. Dari tertutup menjadi terbuka
b. Dari ditentukan lebih dulu menjadi proses
c. Dari individu menjadi kelompok
d. Dari verbal menjadi visual
e. Dari perhitungan menjadi perbandingan
f. Dari penentu menjadi katalisator/motivator
g. Dari rasa bosan menjadi menyenangkan
Prinsip-prinsip PRA:
Pendekatan partisipatif
Masyarakat sebagai subyek, bukan obyek
Saling belajar dan menghargai perbedaan/berbagi pengalaman dan info
Mengkritisi kesadaran dan tanggung jawab diri sendiri
Pembelajaran informal
Belajar dari kesalahan
Pemberdayaan kapasitas masyarakat

33

Panduan Assessment PMI

Keberlanjutan

Berikut ini adalah tools yang digunakan dalam PRA:


4.3.1. Alat Ukur Proporsional (Proportional Piling)
Alat untuk memperkirakan jumlah dan proporsi, terutama jika kita bekerja dengan
orang yang tidak terbiasa menggunakan data kuantitas.
Seperti: menentukan distribusi, dalam persen, beberapa sumber daya yang berbeda,
atau barang-barang yang didistribusikan, dll. dalam suatu rumah tangga atau
komunitas.
Contoh:

Tanya

: Apa yang anda lakukan dengan hasil panen?

Jawab

: 1. Dimakan

2. Bibit

3. Dijual

4. Barter

Keluarga petani mungkin susah untuk memberikan jumlah yang tepat atas
keempat jawaban di atas.
Gambarlah lingkaran dan buatlah garis potongan sesuai dengan jumlah
jawaban. Kemudian tuliskan jawaban di atas bidang yang tersedia:

Dimakan

Bibit

Barter

Dijual

Kemudian ambil 100 biji-bijian dan mintalah si Petani untuk meletakkan bijibijian tersebut sesuai tempatnya. Kita mengibaratkan 100 biji-bijian tersebut
= jumlah 1 kali hasil panen.

45
Dimakan

5
Bibit

Barter
30

Dijual
20

34

Panduan Assessment PMI


Dari hasil di atas kita bisa melihat bahwa 45% hasil panen digunakan untuk
konsumsi keluarga, 30% digunakan untuk barter, 20% dijual dan 5% dijadikan
bibit untuk musim tanam berikut.
4.3.2. Penggolongan Berpasangan (Paired Ranking)
Seringkali penerima bantuan susah untuk menyebutkan apa kebutuhan mereka yang
paling utama. Dan saat mereka ditanyakan hal ini, mereka akan menjawab: "Semuanya
penting". Sebagai organisasi kemanusiaan sangatlah penting untuk mengetahui apa
sebenarnya kebutuhan yang paling mendesak yang dibutuhkan oleh penerima bantuan.
Paired Ranking adalah alat untuk menentukan peringkat beberapa jawaban berbeda,
menurut tingkat kepentingannya bagi suatu komunitas. Alat ini digunakan saat
melakukan assessment.
Contoh:

Tanya
Jawab

: Apa kebutuhan terbesar anda?


: Makanan, Pakaian, Obat-obatan, Hygiene

Makanan
Pakaian
Obat-obatan
Hygiene

Makanan

Pakaian
M

Obat-obatan
O
O

Hygiene
M
H
O

Kemudian hitunglah hasil atas jawaban yang diberikan.


Hasil:
1. Obat-obatan (O)
:3
2. Makanan (M)
:2
3. Hygiene (H)
:1
4. Pakaian (P)
:0
Jangan lupa bertanya kepada pria dan wanita karena bias saja prioritas mereka
berbeda.
4.3.3. Spot Mapping
Tujuan:
Untuk mengetahui situasi dan kondisi sebenarnya atas suatu komunitas
Untuk mengetahui area rawan konflik
Untuk mengidentifikasi sumber daya alam yang penting di suatu komunitas
Informasi apa yang perlu dituangkan ke dalam Spot Map? Gambar geografis dan
topografis; Infrastruktur (jalanan, jembatan, jaringan telepon, pipa air, dll); Tipe
fasilitas (fasilitas medis, sosial, sekolah, toko, perusahaan, dll); Penggunaan lahan;
Jumlah dan tipe rumah; Sumber daya alam; Ternak; dan Sumber air.
Contoh:

35

Panduan Assessment PMI

4.3.4. Transect Mapping


Bagian topografi peta (sisi vertikal) yang memperlihatkan struktur demografi dan
geografi suatu tempat
Tujuan:
Untuk menganalisa karakteristik geografis dan demografis suatu komunitas
berdasarkan spot mapping pada berbagai aspek dan variabel
Untuk memahami kerentanan dan kapasitas suatu komunitas dengan menggunakan
perspektif jender
Contoh:

36

Panduan Assessment PMI


4.3.5. Jadwal Rutinitas Harian (Daily Routine Schedule)
Suatu alat untuk mengumpulkan data waktu yang relevan yang menggambarkan pola
kerja harian dan berbagai aktivitas yang dilakukan orang-orang di suatu komunitas
secara rutin.
Tujuan:
a. Untuk mendiskusikan rencana kegiatan dan implikasinya terhadap penggunaan
waktu, yang berkaitan dengan jender dan tipe pekerjaan
b. Untuk memperlihatkan beban kerja harian berbagai kelompok dalam suatu
komunitas (mis. buruh pabrik, petani, nelayan, pelajar, dll)
Jadwal rutin harian dapat membantu tim assessment untuk memahami bagaimana
ragam anggota masyarakat menggunakan waktunya. Ini juga dapat membantu dalam
merancang suatu program. Sebagai contoh, jika orang menggunakan waktu 5 jam
untuk mengambil air maka sangat berarti jika mempertimbangkan untuk melakukan
sesuatu demi meningkatkan suplai air.
Dengan membandingkan jadwal harian saat ini dengan jadwal harian pada masa lalu
dapat membantu anda untuk mengidentifikasi trend. Sebagai contoh, jika saat ini
orang berjalan 2 jam untuk mencari kayu baker dimana sebelumnya kayu bakar dapat
ditemukan dalam jam, maka dapat anda disimpulkan bahwa telah terjadi masalah
penggundulan hutan dan sebuah proyek untuk penggunaan kompor irit minyak mungkin
akan berguna.
Akan menarik jika melakukan tools ini secara terpisah dengan anggota keluarga
yang berbeda (mis., anak-anak, pria dan wanita).
Minta nara sumber untuk menggambarkan sebanyak mungkin mengenai kegiatan
yang dilakukan dan jumlah waktu yang digunakan untuk setiap kegiatan.
Contoh:

37

Panduan Assessment PMI

4.3.6. Kalender Musiman (Seasonal Calender)


Alat untuk mencatat kegiatan-kegiatan pada suatu komunitas dalam satu tahun
(kondisi iklim, kegiatan sosial, kegiatan produksi, penyakit, bencana, dll.)
Kalender Musim dapat mengindikasikan apakah sesuatu yang terjadi adalah normal
(terjadi setiap tahun) ataukah baru.
Sebagai contoh, di beberapa daerah pertanian tiap tahun selalu terjadi masa paceklik
sebelum masa panen. Hal ini tentu saja merupakan masa yang sulit tetapi masyarakat
sudah mempunyai cara untuk mengatasi masalah tersebut. Ketersediaan bahan pangan
sangat terbatas pada saat paceklik dibandingkan dengan saat usai panen.
Kalender Musim juga berguna jika harus mengkoordinasikan suatu kegiatan dengan
masyarakat. Kita harus menyesesuaikan diri dengan jadwal masyarakat dan
kesibukannya.

Kalender dapat dilakukan saat wawancara kelompok maupun individual.


Minta nara sumber untuk mengidentifikasi kegiatan yang berlangsung rutin setiap
tahun normal, seperti iklim (musim hujan, musim kemarau), kegiatan ekonomi
(musim tanam, dll), acara adapt/budaya (acara keagamaan, festival, dll) dan
kegiatan lainnya
Tandai semua kegiatan yang tidak umum atau baru (pada kalender)

Contoh :

4.3.7. Urutan kronologis peristiwa (Historical Timeline)


Suatu alat untuk mengumpulkan data yang relevan dengan waktu/sejarah bencana/
konflik, dengan mengetahui dampak terhadap struktur sosial, perpindahan penduduk,
mata pencaharian dan lingkungan.

38

Panduan Assessment PMI


Contoh:
Tahun Peristiwa
1972
1980
2002

Kronologi
Terjadi penjarahan besar
besaran
Banjir
Pertikaian antar kampung A
&B

Dampak yang terjadi


20 KK mengungsi.
Masy. takut ke ladang.
Tdk ada pengungsian.
Banyak masy. terjangkit
penyakit (diare, kulit, dst.).
2 meninggal.
5 dirawat di RS.

4.3.8. Pemetaan Kelembagaan (Institutional Mapping)


1

Suatu alat untuk mengumpulkan data yang menjelaskan berbagai


institusi/stakeholder dalam suatu komunitas, peran-peran mereka, dan hubungan
di antara mereka.
Mengidentifikasi peran dan hubungan institusi/stakeholder dalam/dengan suatu
komunitas

Contoh:

39

Panduan Assessment PMI

Bab 5
Pendekatan Ekonomi Keluarga
(Household Economic Approach / HEA)
Bagian ini difokuskan pada isi dari assessment dan ditujukan untuk menyediakan lebih
banyak informasi tentang elemen-elemen yang harus diperhatikan sehingga agar dapat
lebih mengerti situasi. Hal ini berarti memahami bagaimana masyarakat bertahan
setelah krisis (atau guncangan), memahami krisisnya (atau guncangan), aktor-aktor
yang terlibat, masalah yang dihadapi oleh populasi baik secara langsung maupun tidak
langsung diakibatkan oleh krisis (atau guncangan) dan juga strategi yang mereka
jalankan dilapangan dalam merespon krisis.
5.1. Pengertian HEA
HEA adalah kumpulan cara-cara dimana keluarga berusaha untuk memenuhi
(mengakses/menguatkan/memelihara) kebutuhan pokoknya (makanan, pendapatan
dan aset seperti tabungan, ternak, tanah dll).
HEA dapat menggambarkan:
- Bagaimana kehidupan beragam keluarga
- Resiko apa yang dapat menyebabkan kerentanan
- Bagaimana mereka mengatasi "guncangan"
- Aset dan sumber daya apa yang dapat diakses oleh ragam keluarga,
- Bagaimana sumber daya itu dapat dimanfaatkan agar dapat memenuhi kebutuhan
harian, musiman dan jangka panjang.
5.2. Kerangka HEA
HEA terdiri dari 2 elemen: 1. Kerangka dasar untuk menjawab pertanyaan spesifik dan
2. metode kerja di lapangan untuk mendapatkan informasi secara cepat dengan sedikit
dokumentasi atau pengambilan informasi yang dikumpulkan dari mata pencaharian.
HEA dibuat berdasarkan perbandingan antara tahun normal (tahun yang
menggambarkan kondisi biasa / kondisi orang hidup secara normal dimana populasi
dapat memenuhi kebutuhan pokoknya) dengan tahun sekarang, terutama pada saat
setelah guncangan. Dengan membuat perbandingan seperti ini, kita dimungkinkan
untuk menentukan apakah keadaan suatu populasi saat ini lebih buruk/sama/lebih
baik dibanding masa lampau.
Agar dapat memahami strategi adaptasi yang telah dibentuk oleh suatu keluarga,
empat elemen harus dipelajari:
1. Akses terhadap pangan
2. Akes terhadap pendapatan
3. Pengeluaran/kewajiban
4. Aset
5.3. Hasil Yang Diharapkan
HEA menunjukkan pada kita apakah suatu populasi berada pada keadaan ekonomi
tidak aman dan saat ini membutuhkan bantuan. Hal ini juga dapat digunakan untuk
mereview hasil dari suatu intervensi terhadap ekonomi rumah tangga. Lebih jauh lagi,
dapat memberikan gambaran bagaimana ekonomi pedesaan/perkotaan berjalan.

40

Panduan Assessment PMI


5.4. Langkah-Langkah Pengumpulan Data HEA
Untuk mendapatkan gambaran penuh atas ekonomi keluarga, hendaknya mengikuti
serangkaian langkah pengumpulan data sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut di
bawah ini. Pengumpulan data menggunakan metode sebagaimana dijelaskan di bagian
awal yaitu PRA.
5.4.1. Zona Ekonomi Pangan (Food Economy Zone = FEZ)
Zona Ekonomi Pangan adalah area geografi dimana mayoritas rumah tangga
mendapatkan pangan dan pendapatan dengan kombinasi cara dan aktivitas yang mirip.
Zona Ekonomi Pangan memiliki batasan yang bisa jadi saling tumpang tindih satu dan
lainnya. (mis: sistem bank dan kehidupan/bisnis informal di kota dan aktivitas
pertanian di pedesaan)
Contoh:

5.4.2. Kelompok Ekonomi / Kelompok Makmur


Kelompok ekonomi atau kelompok
makmur adalah kelompok keluarga yang
mempunyai kapasitas yang sama untuk mendapatkan pangan dan pilihan pendapatan
yang berbeda dalam suatu Zona Ekonomi Pangan. Libatkan masyarakat untuk
memberikan gambaran mengenai kelompok ekonomi yang berbeda dalam komunitas
mereka. Informasi yang perlu dimasukkan pada kegiatan ini adalah distribusi
"kemakmuran" dan aset (terutama asset produksi). Faktor utama yang membedakan
antara satu tipe keluarga dengan yang lainnya adalah "kemakmuran". Di banyak
tempat, masyarakat dikelompokkan dalam 3 kelompok ekonomi yaitu: miskin, sedang,
kaya.

41

Panduan Assessment PMI


Karena adanya keterbatasan waktu di lapangan sehingga tidak memungkinkan untuk
mewawancarai semua keluarga. Oleh sebab itu usahakan untuk mencari kelompok
yang dapat mewakili mayoritas dari tiap kelompok ekonomi (misal: kaya, sedang,
miskin). Informasi ini bisa didapatkan dari nara sumber yang terpercaya misalnya
kepala desa, tetua adat atau guru. Kemudian kembangkan profilnya sesuai dengan
kemampuan ekonomi mereka.
KARAKTERISTIK

KAYA

SEDANG

MISKIN

PEKERJAAN

Pedagang, petani
skala-besar
Atap genteng,
dinding bata, lantai
keramik
3-5 hektar

Petani skala-kecil,
pembuat gula
Atap seng, dinding
papan, lantai semen

Buruh, penjual kayu


api
Atap rumbia, Dinding
papan, lantai papan

1.5 2 hektar

0.5 hektar, pinjam 1


hektar

3-5
4-6
4-6

1-3
2-4
2-4

Tidak ada
0-2
0-1

1-2
1
Kepala keluarga:
kasur pegas, lainnya:
kasur busa.
Kursi dan meja kayu
mahal.
2 wajan besar, 2
wajan kecil mutu
bagus, 2-3 panci
PAM & Sumur Bor
Nasi, Ayam, telur,
sayur
Kebanyakan: sampai
sekolah lanjutan

1
0-1
Kepala keluarga: kasur
busa, lainnya: kasur
kapuk.
Kursi dan meja kayu
murah
1 wajan besar, 1-2
wajan kecil mutu
jelek, 1-2 panci
PAM
Nasi, Ikan, tempe,
sayur
Kebanyakan: sekolah
dasar, sedikit: sekolah
lanjutan

0
0
Semua keluarga:
kasur kapuk.

RUMAH
AKSES LAHAN
TERNAK:
SAPI
KAMBING
UNGGAS
ASSET:
SEPEDA
KULKAS
TEMPAT TIDUR
PERABOTAN
ALAT MASAK
SUMBER AIR
MAKANAN:
PENDIDIKAN

Memakai tikar untuk


duduk
1 wajan mutu jelek,
1 panci tanah liat
Sumur timba
Nasi, Ikan asin,
tempe
Sedikit: sekolah dasar

5.4.3. Akses keluarga pada pangan, pendapatan dan pola pengeluaran


Dalam setiap Zona Ekonomi Pangan, kita harus memahami akses suatu keluarga
terhadap pangan dan pendapatan serta bagaimana beragamnya untuk setiap kelompok
ekonomi. Informasi ini bisa didapatkan dengan mewawancarai wakil dari tiap
kelompok ekonomi secara terpisah dan dengan melibatkan beberapa pria dan wanita.
Narasumber tersebut hendaknya dapat mengidentifikasi:
a. akses keluarga terhadap pangan: gambaran darimana suatu keluarga mendapatkan
bahan pangan (hasil tanam, hasil ternak, hasil tangkap, pemberian, beli, dll.).
b. akses keluarga terhadap pendapatan: gambaran darimana suatu keluarga
mendapatkan penghasilan/uang (gaji pegawai, penjualan ternak/hasil pertanian,
jasa, dll.), frekuensi kegiatan, anggota keluarga yang terlibat dalam kegiatan
tersebut, dan perkiraan mengenai berapa banyak pendapatan yang didapatkan dari
setiap kegiatan yang dimaksudkan untuk pendapatan rumah tangga

42

Panduan Assessment PMI


c. pengeluaran rumah tangga: gambaran bagaimana suatu rumah tangga mengelola
pendapatan/uang (belanja pangan, belanja pakaian, biaya kesehatan, biaya
pendidikan, PLN, BBM, pajak, dll.)
Informasi dari ketiga area ini (pangan, pendapatan & pengeluaran) dimasukkan ke
dalam diagram lingkaran seperti contoh di bawah:
AKSES PANGAN:

Sumber Pangan Keluarga Miskin


Beli

Hasil Tanam

Ternak Milik

5%

45%
50%

Sumber Pangan Keluarga Sedang


Beli

Hasil Tanam

25%

Ternak Milik

25%

50%

43

Panduan Assessment PMI


AKSES PENDAPATAN:

Pendapatan Keluarga Miskin


Jual Hasil Tanam
Buruh Tani
Tukang

Produk Ternak
Kayu Api

20%

50%

10%
5%
15%

Pendapatan Keluarga Sedang


Jual Hasil Tanam
Buruh Tani
Tukang

Produk Ternak
Kayu Api

25%
35%

5%
5%
30%

44

Panduan Assessment PMI

POLA PENGELUARAN:

Pengeluaran Keluarga Miskin


Makanan
Alat RT

Ternak
BBM

Kesehatan
Tabung

Sekolah

25%

30%

10%
10%
15%

5%
5%

Pengeluaran Keluarga Sedang


Makanan
Alat RT

Ternak
BBM

Kesehatan
Tabung

Sekolah

22%

44%

22%
1%
5%

5% 1%

45

Panduan Assessment PMI


5.4.4. Dasar layanan / jaringan sosial.
Perhatikan layanan sosial dan jaringan sosial yang ada pada suatu daerah. Area
geografi mana yang mendapat akses/keuntungan atas layanan sosial (kesehatan/ air/
pendidikan, dll) atau akses/keuntungan atas jaringan sosial yang ada (grup nelayan,
ibu-ibu PKK, dll). Buatlah Peta Kelembagaan.
5.4.5. Efek bencana / guncangan
Hal ini mengenai analisis bagaimana kemampuan suatu keluarga untuk mendapatkan
kebutuhan pokok pada saat krisis akibat bencana/guncangan, seperti ketidakamanan,
pengungsian, perpindahan penduduk dll.
Guncangan / Bencana:
- Kejadian dimana dapat mengakibatkan kerugian pada suatu keluarga.
- Diprediksi dan tidak dapat diprediksi.
- Bencana alam atau akibat manusia.
- Akibat dari bencana pada keluarga dimanapun tergantung pada kombinasi dari:
o Kekuatan bencana (skala, kekuatan, durasi)
o Ekonomi keluarga / Tingkat ketahanan
o Kemungkinan untuk mengganti kerugian yang terjadi
o Pilihan yang dapat dibuat oleh suatu keluarga
o Tingkat ketergantungan pasar
5.4.6. Mekanisme Penanggulangan (coping mecanism)
Mekanisme penanggulangan diambil dari adaptasi/aktivitas yang tidak umum yang
dipilih seseorang sebagai cara hidup saat melewati masa sulit agar dapat menjaga
kehidupan dan mata pencahariannya.
Strategi penanggulangan bisa dibagi menjadi:
- Strategi yang tidak merusak mata pencaharian (seperti perubahan makanan dalam
waktu singkat, mengumpulkan buah-buahan liar, penjualan barang yang tidak
penting, pindahnya seseorang untuk bekerja, penambahan waktu kerja,
penggunaan keahlian, solidaritas dll.) hal hal tersebut mudah dirubah.
- Strategi yang mungkin dapat merusak mata pencaharian (seperti penjualan barang
properti, penjualan aset produktif, pengundulan hutan besar-besaran, pekerja
anak, pelacuran, kejahatan) hal-hal tersebut agak susah berubah
Sangat penting untuk mengetahui berapa lama seseorang dapat bertahan dengan
mekanisme penanggulangan:
- Bahan pangan apa yang tersedia dan pilihan mata pencaharian yang dapat
dikembangkan dalam situasi sekarang?
- Tambahan pilihan apa yang dapat dikejar?
- dll
5.4.7. Identifikasi Kemungkinan Intervensi
Langkah terakhir adalah: mengidentifikasi kemungkinan intervensi. Informasi dari
keenam langkah di atas yang didapat dengan jalan diskusi dengan komunitas, akan
membantu untuk menentukan intervensi yang tepat.

46

Panduan Assessment PMI


Lampiran-lampiran:
1. Karakteristik bencana & bantuan
2. Code Of Conduct
3. Safer Access
4. Checklist Sektoral
5. Format Assessment Cepat PMI (Rapid assessment)
6. Format Detail Assessment

47

LAMPIRAN 1
Karakteristik Bencana
1. Bencana Alam
Bencana adalah kejadian luar biasa yang disebabkan oleh fenomena
alam atau ulah manusia, yang dampaknya melampaui "kemampuan mengatasi" dari
masyarakat yang terpengaruh.
Ditinjau dari aspek Geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak
pada pertemuan empat lempeng tektonik yakni lempeng benua Asia, Australia, Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Bagian selatan dan Timur Indonesia terbentang sabuk
vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi
yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian
didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi ini sangat berpotensi menimbulkan bencana gunung
meletus, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi
didunia, yakni lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan diAmerika Serikat.
Wilayah Indonesia juga terletak didaerah iklim tropis dengan dua musim yang berbeda
yakni musim panas dan hujan. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi
topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi,
menghasilkan tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa
akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana Hidrometeorologi seperti banjir
dan tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Bencana jenis Hidrometeorologi
juga dipacu oleh semakin meningkatnya aktivitas manusia serta kemajuan tekhnologi
moderen. Kerusakan hutan yang sengaja dibabat mengurangi serapan air secara alami
dan membuka struktur tanah lebih longgar akibatnya sangat mudah bergerak menjadi
labil.
Sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah terjadi 1.429 kali bencana alam yang
disebabkan oleh beberapa faktor dan faktor Hidrometeorologi menepati rangking
pertama yakni banjir dan tanah longsor sampai mencapai 53,3 persen.
Masing-masing wilayah di Indonesia juga memiliki risiko hazard yang berbeda-beda
namun ada beberapa emiliki ncaman yang sama seperti, Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara sampai Sulawesi sama-sama memeiliki hazard gunung berapi artinya daerah
tersebut juga terancam dengan gempa tektonik. Pesisir utara Sumatra dan selatan
adalah ancaman tsunami, demikian pula selatan Pulau Jawa dan selatan Bali. Banjir
dan Tanah longsor acapkali terjadi didaerah Sumatra dan Jawa. Sedangkan bagian
utara garis khatulistiwa masih sangat rawan terhadap gempa bumi sampai ke timur
Papua.
2. Konflik
Konflik adalah perseteruan antara dua pihak atau lebih dengan intensitas yang
bervariasi, yang dapat mengganggu aktivitas dan stabilitas kehidupan manusia.
Sebagai pengetahuan umum, berikut adalah beberapa tipe konflik menurut ICRC:
-

Konflik Bersenjata Internasional adalah ketika angkatan bersenjata dari 2 atau lebih
negara saling berhadapan, meskipun salah satu dari mereka mungkin tidak
mengakui adanya keadaan perang.

LAMPIRAN 1
Contoh: Konflik antara Irak - Amerika, Inggris, dan sekutu. Konflik antara Pakistan India. Perjuangan kemerdekaan RI melawan Belanda.
-

Konflik Bersenjata Non-Internasional adalah suatu konfrontasi yang terjadi di dalam


wilayah suatu negara antara angkatan bersenjata reguler negara itu dengan
kelompok bersenjata yang teridentifikasi, atau antara kelompok-kelompok bersenjata
yang terorganisir.
Contoh: Konflik antara Angkatan bersenjata RI melawan separatis GAM. Konflik
antara milisi merah putih melawan separatis fretilin (Timor Timur). Konflik antara
angkatan bersenjata Srilanka melawan separatis Macan Tamil.

Gangguan Internal adalah bentrokan kekerasan dalam intensitas dan priode tertentu
yang terjadi dalam satu negara akibat perseteruan antar kelompok. Pemerintah
terkait dapat meminta polisi atau bahkan tentara untuk memulihkan hukum dan
ketertiban. Gangguan internal dapat merupakan awal ataupun akibat dari konflik
bersenjata non-internasional.
Contoh: Konflik etnis Dayak - Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Konflik agama Islam - Kristen di Poso, Maluku & Maluku Utara. Konflik etnis Hutu Tutsi di Rwanda.

Ketegangan Internal dapat digambarkan sebagai situasi mencekam yang


disebabkan faktor politik, agama, ras, sosial, ekonomi, ataupun ideologi, yang
biasanya diikuti dengan penahanan, tapi tidak berkembang menjadi bentrokan
bersenjata. Negara menurunkan aparta keamanan sebagai suatu tindakan preventif
untuk mempertahankan hukum. Ketegangan internal dapat merupakan awal dari
gangguan internal.
Contoh: Demostrasi mahasiswa menolak kenaikan BBM, truk tangki Pertamina
disandera dan jalanan di blok selama 5 jam. Perkelahian antara supporter tim
sepakbola Persebaya Persib yang berakhir dengan huru hara selama 3 jam. Polisi
diturunkan untuk tindakan preventif.

Batas antara ketegangan internal dan gangguan internal tidaklah mudah ditentukan
karena perbedaannya berkaitan dengan tingkat keseriusannya.
Karakteristik bencana dan konflik dikaji dari aspek Lingkungan, Penerimaan bantuan,
Kebutuhan dan Respons bantuan, dapat dijelaskan dengan matrik sebagai berikut :
ASPEK KAJIAN
Lingkungan

PERSAMAAN

PERBEDAAN

Menimbulkan konsekuensi
humaniter yang parah dan
mengancam kehidupan

Hadirnya elemenelemen bersenjata


Dampak konflik pada
bersifat memecah-belah
Penyebab bencana
biasanya adalah alam,
sementara konflik selalu
bersifat "manusia lawan
manusia"
Dampak konflik dapat
lebih lama pengaruhnya

Dapat terjadi secara


perlahan ataupun secara
mendadak

LAMPIRAN 1
Penerimaan Bantuan

Orang yang rentan adalah


yang paling menderita
Terjadi pengungsian

Kebutuhan

Kebutuhannya akan
bantuan serupa
Kebutuhan akan dukungan
psikologi

Respon Palang Merah

Bantuan yang diberikan


sama
Sarana pendukung yang
dibutuhkan sama
Sama-sama membutuhkan:
negosiasi & koord. dengan
pemerintah, rencana
pelaksanaan bantuan &
SOP

Dalam konflik, penyebab


kerentanan melebar
hingga ke penyebab
konflik itu sendiri
Konflik menimbulkan
kelompok rentan baru
Konflik menimbulkan
kebutuhan akan
perlindungan keamanan
Penanganan untuk
konflik bisa berlangsung
lebih lama
Perlunya perlindungan
korban (dalam konflik)
Jika LSM yg hadir
sedikit, maka makin
besar tekanan bagi PMI
(dalam konflik).
Cara melakukan &
pelaku kegiatan
mungkin berbeda
karena masalah
keamanan (dalam hal
konflik)
Perhatian khusus
mengenai manajemen
personel dan operasi
dengan pendekatan
keamanan (dalam
konflik)

Sumber: safer access review, Jakarta 2004

LAMPIRAN 1
Bantuan
Bantuan adalah kegiatan yang bertujuan untuk membatasi dampak suatu konflik
pada populasi yang terkena pengaruh; memelihara atau memulihkan kehidupan
korban; dan memastikan agar korban dapat memperoleh kembali atau memelihara
akses terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi pokok.
Sumber bantuan bisa didapatkan dari berbagai kalangan seperti: Pemerintah,
Gerakan Palang Merah, LSM, PBB, Masyarakat, dll.
Ada banyak jenis bantuan yang bisa dilakukan untuk membantu korban akibat
konflik. Beberapa diantaranya adalah distribusi pangan, distribusi uang, proyek yang
memberikan penghasilan, food for work (proyek yang upahnya adalah makanan),
cash for work (proyek yang upahnya adalah uang). Palang Merah harus mencoba
memberikan bantuan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Jangan
memberikan bantuan semata-mata berdasarkan stok yang ada di dalam gudang kita.
1. Manajemen Bantuan
Manajemen bantuan memegang peranan yang sangat penting dalam suatu kegiatan
pemberian bantuan. PMI Pusat telah membuat suatu panduan Manajemen Bantuan
untuk memudahkan PMI melaksanakan kegiatan pemberian bantuan.
Pada prinsipnya, bantuan PMI harus didistribusikan secara langsung oleh petugas
PMI kepada korban konflik. Bantuan itu harus dilengkapi dengan logo PMI (pada
kemasan barang maupun pada lokasi distribusi).
Prosedur Distribusi Bantuan PMI:
Sebelum distribusi
Meregistrasi ulang para penerima
bantuan
Menyiapkan keperluan administrasi
(formulir logistik)
Mempersiapkan transportasi untuk
distribusi
Mengatur personil PMI di lokasi
distribusi
Menentukan tempat pendistribusian

Pada saat distribusi


Mengatur para
penerima bantuan
Memberikan
pengumuman
Mendistribusikan
bantuan

Setelah distribusi
Rekapitulasi/
review kegiatan
pendistribusian
Monitoring
dan evaluasi

Dalam pendistribusian bantuan, PANCA-T harus diperhatikan.


Tepat Waktu: distribusi dilakukan tepat pada waktunya dan sesuai dengan
kebutuhan pada saat itu. Untuk bantuan darurat, waktu pendistribusian harus
sesegera mungkin setelah assessment.
Tepat Tempat: distribusi dilaksanakan pada tempat yang tepat. Tempat tersebut
harus mudah di akses oleh penerima bantuan dan petugas distribusi, cukup luas
sehingga dapat menampung semua penerima bantuan, harus aman bagi penerima
bantuan, petugas distribusi dan barang bantuan dari gangguan hujan dan panas
demikian pula halnya dengan keamanan.

LAMPIRAN 1
Tepat Sasaran: barang bantuan diberikan kepada penerima bantuan sesuai dengan
kebutuhan berdasarkan hasil assessment. Prioritas diberikan kepada yang paling
rentan.
Tepat Jumlah: barang bantuan yang didistribusi harus sesuai dengan jumlah
penerima bantuan berdasarkan hasil assessment.
Tepat Kualitas: mutu barang bantuan yang didistribusi harus diperhatikan. Pastikan
bahwa barang tersebut dalam kondisi yang baik dan tidak kadaluarsa.
Sebelum memulai distribusi, hendaknya memilih tempat pendistribusian yang mudah
di akses, baik oleh penerima bantuan maupun oleh petugas distribusi dan logistik.
Tempat tersebut harus cukup luas sehingga dapat menampung semua penerima
bantuan. Barang bantuan harus aman dari gangguan hujan dan panas, demikian
pula halnya dengan petugas distribusi dan penerima bantuan.
2. Efek Samping Distribusi Pangan
Sangat penting untuk menentukan apakah risiko yang timbul akibat distribusi
seimbang dengan risiko tidak mendistribusikan bantuan. Berikut ini adalah beberapa
contoh resiko-resiko yang patut dipertimbangkan sebelum memutuskan pemberian
bantuan pangan:

Terkumpulnya penerima bantuan dalam jumlah yang besar di satu titik distribusi
dapat menimbulkan risiko penyakit epidemis (misal: TBC dan penyakit kulit).
Pihak logistik akan menjadi kewalahan dalam menyiapkan bantuan.
Penerima bantuan dan petugas distribusi dapat mengalami penjarahan
(penerima bantuan saat kembali dari titik distribusi, demikian pula halnya dengan
petugas distribusi saat menuju ke titik distribusi).
Distribusi pangan dapat menyebabkan ketergantungan korban akan bantuan dari
luar sehingga korban menjadi tertahan dalam situasi krisis.
Kelompok-kelompok bersenjata dan pendukungnya terdorong untuk tetap
meneruskan krisis yang ada (eksploitasi bantuan secara politik/finansial).
Pertanian lokal (produsen makanan) tersaingi dengan masuknya bahan pangan
dari luar.

3. Penerima Bantuan
Penerima bantuan adalah korban konflik (orang/rumah tangga/kelompok) yang
menderita secara mental/fisik dan tak mampu mengatasi keadaan tersebut, serta
membutuhkan dukungan/bantuan langsung maupun tak langsung.
Agar bantuan yang diberikan tepat sasaran, maka analisa penerima bantuan perlu
dilakukan. Analisa penerima bantuan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
menyeleksi orang-orang yang pantas menerima bantuan berdasarkan kriteria-kriteria
tertentu seperti:

Yang paling rentan dalam komunitas yang terkena dampak (ibu hamil, anakanak, lansia, janda, dll)
Yang kehilangan alat-alat produksi dan aset (alat pertanian, lahan pertanian,
peralatan nelayan, mesin jahit, warung, dll)
Orang-orang yang mengungsi
Yang kehilangan anggota keluarga

LAMPIRAN 2

PEDOMAN PERILAKU
bagi
GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT
MERAH INTERNASIONAL
dan
LEMBAGA-LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM)
dalam
Operasi Bantuan Bencana

Disponsori oleh Caritas Internasionalis, Catholic Relief Services, Federasi Internasional


Perhimpunan-perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Aliansi Save the Children
Internasional, Federasi Dunia Lutheran, Oxfam, dan Dewan Gereja Sedunia (yang
kesemuanya merupakan anggota the Steering Committee for Humanitarian Response/Panitia
Pengarah Respons Kemanusiaan), bersama dengan Komite Internasional Palang Merah
(ICRC)

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Tujuan
Pedoman Perilaku ini bermaksud menjaga standar perilaku kita. Pedoman ini bukan menyangkut
teknis operasi, misalnya bagaimana cara menghitung persediaan makanan atau cara mendirikan kamp
pengungsi. Namun, pedoman ini berusaha mempertahankan standar yang tinggi menyangkut
kemandirian, efektififitas, dan hasil yang ingin dicapai oleh LSM yang bergerak di bidang respons
bencana dan oleh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Pedoman ini adalah
pedoman suka rela, yang berarti bahwa pedoman ini dijalankan atas dasar keinginan organisasi yang
menerimanya dengan maksud mempertahankan standar-standar yang tercantum dalam pedoman ini.
Dalam kasus konflik bersenjata, Pedoman Perilaku ini perlu ditafsirkan dan diterapkan sesuai dengan
Hukum Humaniter Internasional.
Pedoman Perilaku ini akan disajikan terlebih dulu. Setelah itu ada tiga lampiran yang menggambarkan
lingkungan kerja yang kita inginkan akan diciptakan oleh Pemerintah Tuan Rumah, Pemerintah
Donor, dan organisasi antarpemerintah dalam rangka memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan
secara efektif.

Definisi
Ornop atau LSM: Ornop atau LSM (Organisasi Non-pemerintah atau Lembaga Swadaya
Masyarakat) di sini mengacu pada organisasi, baik nasional maupun internasional, yang dibentuk
terpisah dari pemerintah negara tempat organisasi itu didirikan.
NGHA (Non-Governmental Humanitarian Agencies): Dalam teks ini, istilah Non-Governmental
Humanitarian Agencies (Organisasi Kemanusiaan Non-pemerintah) mengacu pada komponenkomponen Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yaitu: Komite Internasional
Palang Merah (ICRC), Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dan
Perhimpunan-perhimpunan Nasional serta LSM-LSM seperti dimaksud di atas. Pedoman Perilaku
ini mengacu khusus pada NGHA yang bergerak di bidang respons bencana.
IGO: IGO (Inter-Governmental Organization/Organisasi Antarpemerintah) ialah organisasi yang
terdiri dari dua pemerintah atau lebih. Dengan demikian, termasuk di dalamnya adalah badan-badan
PBB dan organisasi-organisasi regional.
Bencana: Bencana adalah kejadian buruk yang menyebabkan kematian, penderitaan manusia yang
berat, dan kerugian materi dalam skala besar.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Pedoman Perilaku
Prinsip-prinsip Perilaku bagi Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional dan
LSM-LSM dalam Program Respons Bencana

1:

Kewajiban kemanusiaan adalah prioritas utama

Hak untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan dan untuk memberikan bantuan semacam itu
merupakan prinsip kemanusiaan dasar yang dimiliki semua warga negara di semua negara. Sebagai
bagian dari masyarakat internasional, kita mengakui kewajiban kita untuk memberikan bantuan
kemanusiaan di manapun diperlukan. Karena itulah kita memerlukan akses tanpa hambatan terhadap
populasi yang terkena bencana, yang merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk dapat
melaksanakan kewajiban tersebut.
Motivasi utama dari tindakan kita memberikan respons terhadap bencana adalah untuk mengurangi
penderitaan yang dialami oleh kelompok-kelompok yang paling tidak mampu mengatasi dampak
bencana.
Bilamana kita memberikan bantuan kemanusiaan, hal itu bukanlah suatu tindakan partisan atau
tindakan politis sehingga tidak boleh dipandang sebagai tindakan semacam itu.

2:
Bantuan diberikan tanpa mempertimbangkan ras, kepercayaan ataupun kebangsaan
penerima bantuan dan tanpa pembeda-bedaan yang merugikan dalam bentuk apapun. Prioritas
bantuan ditentukan semata-mata berdasarkan kebutuhan.
Bilamana mungkin, bentuk bantuan perlu kita tentukan berdasarkan hasil asesmen yang komprehensif
atas kebutuhan yang dihadapi korban bencana dan atas kemampuan yang sudah ada pada masyarakat
setempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Keseluruhan program kita perlu mencerminkan pertimbangan asas proporsionalitas. Penderitaan
manusia di manapun juga harus dikurangi; jiwa adalah hal yang sangat berharga di manapun juga.
Oleh karenanya, bantuan yang kita berikan perlu mencerminkan tingkat penderitaan yang akan diatasi.
Dalam melaksanakan pendekatan tersebut, kita mengakui sangat pentingnya peran kaum perempuan di
masyarakat-masyarakat yang rawan bencana, dan kita perlu memastikan agar peran ini didukung, tidak
dihilangkan, oleh program bantuan kita.
Pelaksanaan kebijakan yang bersifat semesta (universal), tidak memihak (impartial), dan mandiri
(independent) seperti itu hanya dapat berjalan efektif apabila kita dan mitra kita mempunyai akses
terhadap sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan bantuan yang pantas serta
mempunyai akses yang sama terhadap semua korban bencana.

3:

Bantuan tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik ataupun agama

Bantuan kemanusiaan harus diberikan berdasarkan kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
Walaupun NGHA mempunyai hak untuk memegang suatu opini keagamaan atau politik tertentu, kita
menegaskan bahwa pemberian bantuan sama sekali tidak boleh tergantung pada apakah si penerima
bantuan juga memegang opini keagamaan atau politik yang sama.
Kita tidak boleh mengaitkan janji, penyerahan, ataupun distribusi bantuan kita dengan apakah si
penerima bantuan menganut atau menerima suatu keyakinan politik atau keagamaan tertentu.
Translation ICRC Jakarta
08 April 2007

LAMPIRAN 2

4:

Kita hendaknya berusaha untuk tidak menjadi alat kebijakan luar negeri pemerintah

NGHA adalah lembaga yang bekerja secara mandiri dari pemerintah. Karena itulah kita merumuskan
kebijakan kita sendiri beserta strategi pelaksanaannya, dan kita tidak menjalankan kebijakan
pemerintah manapun juga, kecuali sejauh kebijakan pemerintah yang bersangkutan sejalan dengan
kebijakan kita sendiri.
Kita sekali-kali tidak boleh dengan sengaja ataupun karena kelalaian membiarkan diri kita atau staf
kita dimanfaatkan sebagai alat untuk mengumpulkan informasi yang sensitif dari segi politik, militer
ataupun ekonomi bagi pemerintah ataupun lembaga lain yang mungkin mempunyai tujuan di luar
kepentingan kemanusiaan. Demikian pula, kita tidak boleh bertindak sebagai alat kebijakan luar
negeri dari pemerintah donor.
Bantuan yang kita terima harus kita pergunakan untuk menanggapi kebutuhan korban, dan bantuan
yang kita terima itu tidak boleh diberikan kepada kita karena pihak donor perlu membuang kelebihan
komoditasnya atau karena pihak donor mempunyai kepentingan politik tertentu.
Kita menghargai dan mendorong pemberian bantuan tenaga dan keuangan secara sukarela oleh
perorangan demi mendukung kerja kita, dan kita mengakui kemandirian tindakan yang didorong oleh
motivasi suka rela semacam itu. Demi menjaga kemandirian kita, kita harus menghindari
ketergantungan terhadap satu sumber dana saja.

5:

Kita harus menghormati budaya dan adat istiadat setempat

Kita harus berusaha menghargai budaya, tatanan, dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat dan
negara tempat kita bekerja.

6:

Kita harus berusaha meningkatkan respons bencana dengan kapasitas setempat

Semua orang dan masyarakat memiliki kemampuan maupun kerentanan, pun pada saat bencana.
Bilamana mungkin, kita harus memperkuat kemampuan ini dengan cara mempekerjakan staf lokal,
membeli barang lokal, dan berhubungan bisnis dengan perusahaan setempat. Bilamana mungkin, kita
harus bekerja melalui NGHA lokal sebagai mitra dalam perencanaan dan pelaksanaan, dan bekerja
sama dengan badan-badan pemerintah lokal bilamana sesuai.
Koordinasi yang tepat atas respons bencana perlu kita beri prioritas yang tinggi. Hal ini dapat
dilakukan dengan sebaik-baiknya di negara yang bersangkutan oleh pihak-pihak yang paling terlibat
dalam operasi bantuan itu, dan seyogyanya wakil dari badan-badan PBB yang relevan perlu
dilibatkan.

7:
Perlu dicari cara untuk melibatkan para penerima bantuan dalam proses manajemen
bantuan
Bantuan bencana jangan sekali-kali dipaksakan pada penerima bantuan. Pemberian bantuan secara
efektif dan proses rehabilitasi yang berkesinambungan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya apabila
penerima bantuan turut dilibatkan dalam perancangan, manajemen, dan pelaksanaan program bantuan
yang bersangkutan. Kita harus berusaha agar masyarakat berpartisipasi sepenuhnya dalam programprogram bantuan dan rehabilitasi yang kita jalankan.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
8:
Pemberian bantuan harus bertujuan untuk mengurangi kerentanan terhadap bencana di
kemudian hari, selain untuk memenuhi kebutuhan pokok
Semua kegiatan bantuan berpengaruh terhadap prospek pembangunan jangka panjang, dan pengaruh
ini bisa positif atau negatif. Karena itu, kita perlu berusaha untuk menjalankan program bantuan yang
dapat secara aktif mengurangi kerentanan para penerima bantuan terhadap bencana di kemudian hari
sehingga membantu menciptakan gaya hidup yang sifatnya berkelanjutan. Perlu kita berikan perhatian
secara khusus terhadap masalah-masalah lingkungan dalam proses perencanaan dan manajemen
program bantuan. Kita juga harus berusaha untuk memperkecil dampak negatif dari bantuan
kemanusiaan yang kita berikan, yaitu dengan berupaya menghindari terciptanya ketergantungan
jangka panjang para penerima bantuan pada bantuan dari luar.

9:
Kita bertanggung jawab kepada pihak yang kita bantu maupun kepada pihak yang memberi
kita sumber daya
Kita sering bertindak sebagai institusi penghubung dalam kemitraan antara pihak yang ingin
membantu dan pihak yang membutuhkan bantuan di kala bencana. Karena itulah kita harus
bertanggung jawab kepada kedua belah pihak.
Semua transaksi kita dengan donor dan penerima bantuan harus mencerminkan sikap keterbukaan dan
transparansi.
Kita mengakui perlunya membuat laporan kegiatan, baik dari segi keuangan maupun dari segi
keefektifan.
Kita mengakui kewajiban untuk melakukan pemantauan secara semestinya atas pelaksanaan distribusi
bantuan dan untuk melakukan asesmen secara reguler atas dampak bantuan bencana.
Kita juga harus berusaha melaporkan, secara terbuka, dampak dari kegiatan kita dan faktor-faktor apa
yang memperkecil ataupun yang memperbesar dampak tersebut.
Program-program kita perlu didasarkan pada standar profesionalisme dan keahlian yang tinggi, dengan
tujuan memperkecil kemungkinan terbuangnya sumber daya yang berharga secara sia-sia.

10:
Dalam kegiatan informasi, publisitas, dan promosi yang kita lakukan, kita harus
memandang korban bencana sebagai manusia yang bermartabat, bukan sebagai objek belas
kasihan
Respek terhadap korban bencana sebagai mitra sejajar dalam bekerja tidak boleh hilang dari diri kita.
Dalam memberikan informasi kepada publik, kita harus menyajikan gambaran yang objektif tentang
situasi bencana yang bersangkutan, yaitu dengan menjelaskan pula kemampuan dan aspirasi yang
dimiliki para korban, bukan hanya kerentanan dan kekhawatiran yang ada pada mereka.
Walaupun kita perlu bekerja sama dengan media demi meningkatkan respons masyarakat, kita tidak
boleh membiarkan keinginan pihak-pihak luar ataupun pihak-pihak dalam akan publisitas menjadi hal
yang lebih penting daripada prinsip 'memaksimalkan keseluruhan bantuan bencana' itu sendiri.
Kita perlu menghindari kompetisi memperoleh liputan media dengan lembaga-lembaga bantuan
bencana lainnya pada situasi di mana liputan media bisa merugikan pelayanan yang kita berikan
kepada penerima bantuan atau merugikan keamanan staf kita sendiri atau merugikan keamanan para
penerima bantuan.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Lingkungan Kerja
Setelah secara unilateral setuju untuk berusaha mematuhi Pedoman Perilaku sebagaimana diuraikan di
atas, di bawah ini kami sajikan sejumlah petunjuk umum (rekomendasi) mengenai lingkungan kerja
seperti apa yang kita inginkan agar diciptakan oleh pemerintah donor, pemerintah tuan rumah, dan
organisasi-organisasi antarpemerintah khususnya badan-badan PBB dalam rangka memfasilitasi
partisipasi yang efektif dari NGHA dalam kegiatan respons bencana.
Petunjuk-petunjuk umum ini disajikan di sini sebagai pedoman. Petunjuk-petunjuk ini tidaklah
mengikat secara hukum, dan kami juga tidak mengharapkan agar pemerintah dan lembaga
antarpemerintah menyatakan persetujuan mereka atas pedoman ini dengan menandatangani suatu
dokumen tertentu, meskipun penandatanganan dokumen semacam itu mungkin bisa diupayakan di
masa mendatang. Petunjuk-petunjuk ini disajikan di sini dalam semangat keterbukaan dan kerja sama,
dengan tujuan agar para mitra kita mengetahui hubungan ideal seperti apakah yang ingin kita jalin
dengan mereka.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Lampiran I: Rekomendasi bagi pemerintah negara yang terkena bencana
1:
Pemerintah-pemerintah perlu mengakui dan menghormati kegiatan-kegiatan kemanusiaan
yang mandiri dan tidak memihak yang dilakukan oleh NGHA
NGHA adalah organisasi yang mandiri (independen). Kemandirian dan ketidakmemihakan ini perlu
dihormati oleh pemerintah tuan rumah.
2:
Pemerintah tuan rumah perlu memfasilitasi akses cepat terhadap korban bencana bagi
NGHA
Supaya organisasi-organisasi kemanusiaan non-pemerintah (NGHA) dapat bertindak secara
sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan mereka, mereka perlu memperoleh akses yang
cepat dan tidak memihak terhadap korban bencana dengan tujuan memberikan bantuan kemanusiaan.
Adalah kewajiban pemerintah tuan rumah, sebagai bagian dari pelaksanaan tanggung jawabnya secara
berdaulat, untuk tidak menghalangi pemberian bantuan kemanusiaan dan untuk menyetujui tindakan
tidak memihak serta tidak bersifat politis yang dilakukan oleh NGHA.
Pemerintah tuan rumah perlu memfasilitasi agar staf bantuan dapat masuk secara cepat, terutama
dengan mengecualikan mereka dari keharusan memperoleh visa jalan, visa masuk, dan visa keluar
atau dengan memberikan visa-visa tersebut secara cepat.
Pemerintah-pemerintah perlu memberikan izin lintas udara dan izin mendarat bagi pesawat terbang
yang mengangkut pasokan dan personil bantuan internasional selama tahap darurat bencana.

3:
Pemerintah-pemerintah perlu memfasilitasi agar barang-barang dan informasi bantuan
dapat masuk secara tepat waktu pada masa bencana
Pasokan dan perlengkapan bantuan dibawa masuk ke sebuah negara semata-mata untuk tujuan
meringankan penderitaan manusia, bukan untuk memperoleh keuntungan komersial. Pasokan
semacam itu lazimnya perlu diberi izin untuk melakukan perjalanan secara bebas dan tanpa hambatan
dan tidak boleh dikenai persyaratan mengenai dokumen asal-usul atau faktur dari konsulat,
persyaratan mengenai izin impor dan/atau ekspor, atau persyaratan-persyaratan lainnya ataupun
dikenai pajak impor, biaya mendarat, atau biaya pelabuhan.
Masuknya untuk sementara waktu perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan bagi pemberian
bantuan, termasuk kendaraan, pesawat terbang ringan, dan peralatan telekomunikasi, perlu difasilitasi
oleh pemerintah tuan rumah yang menerima bantuan tersebut, yaitu dengan cara untuk sementara
waktu tidak memberlakukan persyaratan menyangkut perijinan ataupun pendaftaran terhadap
perlengkapan-perlengkapan tersebut.
Demikian pula, pemerintah-pemerintah hendaknya tidak
memberlakukan pembatasan mengenai pengeluaran (re-ekspor) perlengkapan-perlengkapan bantuan
tersebut ketika operasi pemberian bantuan telah selesai.
Untuk memfasilitasi komunikasi di masa bencana, pemerintah tuan rumah perlu mengalokasikan
frekuensi radio tertentu yang boleh digunakan oleh organisasi-organisasi bantuan untuk melakukan
komunikasi di dalam wilayah negaranya maupun komunikasi internasional dalam rangka komuniksi
bencana dan perlu mengumumkan frekuensi radio tersebut kepada komunitas respons bencana
sebelum terjadinya bencana.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
4:
Pemerintah-pemerintah perlu berupaya menyediakan pelayanan informasi
perencanaan bencana (disaster information and planning service) secara terkoordinasi

dan

Pada akhirnya, tanggung jawab atas keseluruhan perencanaan dan koordinasi terhadap kegiatan
bantuan terletak di tangan pemerintah tuan rumah. Perencanaan dan koordinasi tersebut akan berjalan
dengan jauh lebih baik jika NGHA diberi informasi mengenai bantuan yang dibutuhkan, mengenai
instansi-instansi yang melakukan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan bantuan, dan mengenai risiko
keamanan yang mungkin dihadapi oleh NGHA. Pemerintah-pemerintah didorong untuk memberikan
informasi semacam itu kepada NGHA.
Agar kegiatan bantuan dapat terkoordinasi secara efektif dan terlaksana secara efisien, pemerintah
tuan rumah didorong untuk menunjuk sebuah pihak tertentu sebagai penghubung tunggal antara
NGHA-NGHA yang datang dan pihak berwenang nasional.

5:

Bantuan bencana di masa konflik bersenjata

Di masa konflik bersenjata, kegiatan bantuan diatur oleh ketentuan-ketentuan Hukum Humaniter
Internasional yang relevan.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Lampiran II: Rekomendasi bagi pemerintah donor
1:
Pemerintah donor perlu mengakui dan menghormati kegiatan kemanusiaan yang mandiri
(independen) dan tidak memihak yang dilakukan oleh NGHA
NGHA adalah organisasi mandiri yang kemandirian serta ketidakmemihakannya perlu dihormati oleh
pemerintah donor. Pemerintah donor tidak boleh memanfaatkan NGHA untuk mencapai tujuan politis
atau ideologis apapun.
2:

Pemerintah donor perlu memberikan bantuan dengan jaminan kemandirian operasi.

NGHA menerima bantuan dana dan materi dari pemerintah donor dengan semangat yang sama seperti
ketika memberikan bantuan kepada korban bencana: yaitu semangat kemanusiaan dan semangat
kemandirian bertindak. Pelaksanaan kegiatan bantuan pada akhirnya merupakan tanggung jawab
NGHA sehingga perlu berjalan sesuai dengan kebijakan NGHA.
3:
Pemerintah donor perlu menggunakan jasa baiknya untuk membantu NGHA memperoleh
akses terhadap korban bencana
Pemerintah donor perlu mengakui pentingnya menerima tanggung jawab sampai tingkat tertentu untuk
mengupayakan agar staf NGHA memperoleh akses yang aman dan bebas ke lokasi bencana.
Pemerintah donor hendaknya siap untuk melakukan diplomasi dengan pemerintah tuan rumah
mengenai permasalahan akses tersebut bilamana diperlukan.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Lampiran III: Rekomendasi bagi organisasi antarpemerintah
1:
Organisasi antarpemerintah perlu mengakui NGHA, baik yang nasional maupun yang
internasional, sebagai mitra yang berharga
NGHA bersedia bekerja dengan badan-badan PBB dan organisasi-organisasi antarpemerintah lainnya
demi meningkatkan respons bencana. NGHA melakukan hal itu dengan semangat kemitraan yang
menghormati integritas serta kemandirian semua mitra.
Organisasi antarpemerintah harus
menghormati kemandirian dan ketidakmemihakan NGHA. NGHA perlu diajak bicara oleh badanbadan PBB dalam penyusunan rencana bantuan.

2.
Organisasi antarpemerintah perlu membantu pemerintah tuan rumah dalam menyediakan
sebuah kerangka koordinasi yang menyeluruh bagi operasi bantuan bencana internasional
maupun nasional
NGHA pada umumnya tidak mempunyai mandat untuk menyediakan kerangka koordinasi yang
menyeluruh bagi bencana yang memerlukan respons internasional. Tanggung jawab tersebut jatuh ke
tangan pemerintah tuan rumah dan badan-badan PBB yang relevan. Karena itu, pemerintah tuan
rumah dan badan-badan PBB yang relevan didorong untuk menyediakan kerangka koordinasi
semacam itu secara tepat waktu dan efektif dalam rangka melayani negara yang terkena bencana dan
masyarakat respons bencana nasional maupun internasional. Akan tetapi, NGHA bagaimanapun juga
perlu melakukan segala upaya untuk memastikan koordinasi yang efektif atas kegiatan-kegiatan
mereka sendiri.

3.
Organisasi antarpemerintah perlu memberikan perlindungan keamanan kepada NGHA
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan bagi badan-badan PBB.
Bilamana pelayanan keamanan perlu disediakan oleh organisasi antarpemerintah sesuai ketentuan
yang ada, maka pelayanan tersebut perlu diberikan kepada NGHA sebagai mitra operasional mereka
bilamana NGHA memintanya.

4.
Organisasi antarpemerintah perlu memberi NGHA akses yang sama terhadap informasi
yang relevan seperti yang diberikan kepada badan-badan PBB
Organisasi antarpemerintah didorong untuk memberikan kepada NGHA yang menjadi mitra
operasional mereka seluruh informasi yang ada kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan bantuan
bencana yang efektif.

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

LAMPIRAN 2
Formulir Registrasi
Organisasi-organisasi antarpemerintah yang ingin mendaftarkan dukungan atas Pedoman Perilaku ini
serta kesediaan untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip dari Pedoman Perilaku ini ke dalam kegiatan
mereka perlu mengisi formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada:
Disaster Policy Management,
International Federation of Red Cross
and Red Crescent Societies,
PO Box 372
1211 Geneva 19
Switzerland.
Tel +41 (022) 7304222
Fax +41 (022) 7330395

Kami ingin mendaftarkan dukungan atas Pedoman Perilaku ini dan akan berusaha mengintegrasikan
prinsip-prinsip dari Pedoman Perilaku ini ke dalam kegiatan kami.
Nama
organisasi
Alamat

Telepon
Fax
Tanda tangan
Posisi dalam
organisasi
Tanggal

Translation ICRC Jakarta


08 April 2007

10

LAMPIRAN 3
Safer Access
Safer access (akses yang lebih aman) adalah suatu konsep / kerangka kerja yang disusun agar PMI
dapat:
memiliki akses yang lebih baik terhadap masyarakat yang terkena dampak konflik
melakukan operasinya dengan lebih aman dalam situasi konflik
Kerangka kerja ini berisi pedoman operasional bagi PMI sebagai organisasi maupun individu-individu
di dalamnya agar dapat melakukan aktifitasnya dengan lebih aman dalam situasi konflik.
Secara umum, pokok bahasan Safer Access ini dibagi ke dalam 3 topik, yaitu 1. Keamanan PMI
dalam konflik; 2. Dasar hukum dan kebijakan gerakan (palang merah); 3. 7 pilar.
1. Keamanan PMI dalam Konflik
Setiap petugas palang merah haruslah paham bahwa di daerah konflik ada resiko-resiko tertentu
yang tidak dapat dihilangkan maupun dikurangi lagi. Oleh karena itu:
keterlibatan seseorang dalam pekerjaan palang merah haruslah bersifat sukarela, dengan
menyadari segala resiko dan konsekuensinya. Orang itu berhak untuk menolak melakukan
suatu tugas apabila ia merasa takut bahwa keamanan dirinya terancam.
diperlukan pedoman langkah-langkah keamanan untuk membatasi resiko-resiko yang ada,
sampai ke tingkat yang tidak terhindarkan lagi (di luar kemampuan kita).
Di samping melakukan persiapan antisipasi konflik, secara spesifik PMI juga perlu untuk dapat
memahami situasi konflik yang sedang terjadi. Mengetahui tipe-tipe konflik & hubungannya
dengan tugas PMI, mengetahui dasar hukum yang dipakai oleh PMI untuk bertindak dalam situasi
konflik, pemahaman akan hak, kewajiban dan keterbatasan PMI di saat konflik dan relevansi
penerapan instrumen HPI / HAM sebagai dasar pemberian bantuan dan perlindungan.
Pemahaman akan situasi konflik tersebut, sekali lagi akan semakin meningkatkan keamanan PMI
dalam bertugas. Berikut adalah poin-poin penting yang harus dipahami dalam suatu konflik:
Aktor, pemicu, sumber, karakteristik, serta tahapan-tahapannya
Persamaan dan perbedaan dalam hal respon pada saat bencana non-konflik dan pada saat
konflik
Siapa yang terkena dampak konflik, dengan cara bagaimana, dan apa pengaruhnya bagi
bantuan kemanusiaan dan perlindungan yang diberikan PMI?
Identifikasi dan assessment terhadap resiko-resiko yang muncul dari situasi konflik itu dan
pentingnya mencegah, menghindari atau mengurangi resiko-resiko tersebut
Pentingnya suatu analisa konflik yang mendalam, analisa tentang dampaknya terhadap
komunitas, dan analisa tentang respon nasional maupun internasional terhadap konflik itu
Penerapan prinsip-prinsip Dasar Gerakan Palang Merah
Dengan demikian persiapan antisipasi konflik pada masa damai merupakan hal yang sangat
penting. Apabila persiapan ini tidak dilakukan PMI dengan baik dan langkah-langkah keamanan
tidak diperhatikan, maka pada masa konflik kemungkinan PMI tidak akan dapat melakukan segala
kegiatannya dengan lancar. Operasi bantuan tidak berjalan, bahkan bisa saja terjadi insideninsiden keamanan terhadap personil maupun properti PMI. Di berbagai belahan dunia, insideninsiden keamanan terhadap palang merah telah beberapa kali terjadi, misalnya:
Pada tahun 2002, 12 anggota Palang Merah Nepal terbunuh dalam jangka 4 bulan
Pada tahun 2003, 4 personil Palang Merah Pantai Gading terbunuh; personil Palang Merah
Kongo diserang dan terluka; 6 personil Palang Merah Uganda diserang dan terluka dalam
rangka melaksanakan tugas.
Di Indonesia, pada tahun 2001 kantor PMI Bieureun, Aceh menjadi sasaran penembakan dan
pada tahun 2003 ambulans PMI ditembak saat bertugas.
Secara umum, langkah-langkah keamanan disusun dengan maksud:
mencegah insiden besar dengan cara menghilangkan kemungkinannya untuk terjadi. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara menghilangkan targetnya, misalnya dengan cara
menghindarkan orang-orang dari daerah yang dianggap "berbahaya," ataupun dengan
membatalkan perjalanan darat jika ada bahaya ranjau, dsb. Pencegahan dilakukan pada saat
sebelum terjadi insiden.

LAMPIRAN 3

mengurangi risiko, baik dengan cara mengambil tindakan perlindungan yang mempunyai efek
penangkalan (misalnya dengan garis pelindung, alarm, penjaga, dsb.) ataupun dengan
langkah pencegahan yang mendukung penghormatan atas tindakan, staf, dan properti Palang
Merah. Pengurangan dilakukan pada saat sebelum atau pada saat terjadi insiden.
membatasi kerusakan yang telah terjadi, misalnya dengan asuransi, evakuasi medis, dsb.
Pembatasan dilakukan pada saat terjadi atau sesudah insiden.

Lalu apa yang harus dilakukan PMI agar siap merespon situasi konflik? Persiapan antisipasi
konflik merupakan kombinasi dari persiapan-persiapan di bidang-bidang berikut ini:
Pelayanan
Dalam masa damai PMI haruslah senantiasa berlatih untuk meningkatkan kemampuannya
dalam memberikan pelayanan-pelayanan kepada masyarakat di berbagai bidang, seperti:
o pertolongan pertama (PP) / evakuasi
o air / sanitasi / penampungan
o pencarian orang hilang (tracing)
o sosialisasi kepalangmerahan (diseminasi)
o manajemen bantuan darurat
Peralatan dan sumber daya manusia
Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia serta peralatan operasionalnya
Struktur manajemen bencana
Mematangkan struktur manajemen bencana sehingga dapat memberikan respon lebih cepat
dan akurat
Elemen-elemen safer access
Menerapkan prinsip-prinsip safer access, baik pada masa damai maupun konflik, untuk
memaksimalkan keamanan PMI saat bertugas
2. Dasar Hukum dan Kebijakan Gerakan (Palang Merah)
Dengan memahami dasar hukum dan kebijakan Gerakan Palang Merah, setiap anggota PMI
dapat mengerti berbagai hak, kewajiban, serta keterbatasan PMI di saat konflik agar dapat
bertindak sebaik-baiknya. Selain itu, anggota PMI pun akan dapat melakukan pendekatan
maupun negosiasi dengan berbagai pihak yang terkait, dengan mengacu pada hukum ataupun
kebijakan yang ada. Pada akhirnya, pemahaman akan hal ini juga akan membantu PMI untuk
meningkatkan keamanannya dalam menjalankan semua tugasnya.
Secara umum ada beberapa hukum dan kebijakan, baik internasional maupun nasional, yang
berkaitan dengan kegiatan kepalangmerahan, khususnya dalam hal konflik. Hukum dan kebijakan
itu antara lain adalah:
I.

Di tingkat internasional
A. Konvensi Jenewa tahun 1949
Perjanjian internasional ini secara umum mengatur tentang perlindungan bagi pihak-pihak
yang terlibat dalam konflik. Konvensi ini terbagi dalam 4 bagian:
- Bagian I melindungi anggota angkatan bersenjata yang luka dan sakit dalam
pertempuran di darat.
- Bagian II melindungi anggota angkatan bersenjata yang luka, sakit, dan mengalami
kapal karam dalam pertempuran di laut
- Bagian III melindungi para tawanan perang
- Bagian IV melindungi penduduk sipil
B. Protokol Tambahan 1977
Protokol ini terbagi dalam 2 bagian, yaitu:
- Protokol Tambahan 1, memperkuat perlindungan kepada para korban konflik
bersenjata internasional
- Protokol Tambahan 2, memperkuat perlindungan kepada para korban konflik
bersenjata non-internasional

LAMPIRAN 3
II. Di tingkat nasional
A. Undang-Undang No. 59 tahun 1958
Undang-Undang ini meresmikan keikutsertaan Indonesia dalam Konvensi-Konvensi
Jenewa tanggal 12 Agustus 1949
B. Keputusan Presiden RI No. 25 tahun 1950
Keppres ini berisi pengesahan dan pengakuan atas berdirinya Perhimpunan Nasional
Palang Merah Indonesia
C. Keputusan Presiden RI No. 246 tahun 1963
Keppres ini berisi tentang tugas pokok dan kegiatan PMI
D. Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Palang Merah Indonesia
E. Garis-Garis Kebijakan Palang Merah Indonesia
Kegiatan Pokok PMI sesuai visi dan misinya (AD/ART)
Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana
Pelayanan sosial dan kesehatan, termasuk Upaya Kesehatan Transfusi Darah
Penyebarluasan dan pengembangan aplikasi nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip-prinsip dasar
Gerakan PM/BSM Internasional serta HPI bagi seluruh masyarakat Indonesia
Pembinaan generasi muda dan relawan

3. 7 Pilar Safer Access


Konsep 7 pilar Safer Access ini diharapkan dapat menjadi alat yang efektif untuk menciptakan
kesadaran anggota PMI pada semua level tentang berbagai hal penting yang harus
dipertimbangkan pada saat akan memberikan perlindungan maupun bantuan bagi para korban
konflik. Adapun ke-7 pilar tersebut adalah:
1. Penerimaan Terhadap Organisasi
Sosialisasi & Diseminasi mengenai Gerakan Palang Merah & Bulan Sabit Merah
Internasional harus dilakukan secara terus menerus secara simultan baik pada saat
"sebelum", "saat terjadi" dan "setelah" kegiatan penanggulangan bencana dilakukan.
Sosialisasi dan Diseminasi dilakukan secara mandiri atau terintegrasi dengan kegiatan
PMI lainnya. Semua anggota PMI harus bisa diseminasi tentang PMI.
Koordinasi dengan pihak terkait (Pemerintah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
TNI/POLRI, dll). PMI dapat bekerja sama dengan unsur lainnya yang terkait dengan
penanggulangan bencana.
Menjaga Prinsip Dasar Gerakan. PMI berpedoman pada Ketujuh Prinsip Dasar Gerakan
dalam melakukan setiap kegiatan.
2. Penerimaan Terhadap Individu
Setiap Petugas PMI mampu mengenali kemampuan diri sendiri. Jangan memaksakan diri,
sabar dan tidak ceroboh dalam mengambil tindakan. Berlatihlah untuk meningkatkan
kemampuan diri.
Setiap Petugas PMI mampu beradaptasi terhadap lingkungan dimanapun dia bertugas.
Beradaptasi dengan adat budaya yang ada.
Setiap Petugas PMI mematuhi aturan hukum setempat. Misalnya hukum lokal (adat) atau
hukum pemerintah daerah.
Sebagai Petugas PMI menerapkan 7 Prinsip Dasar Gerakan dalam tingkah laku
pribadinya.
Setiap Petugas PMI harus mengedepankan etika dan moral serta menjaga gaya hidup
sehat. Tidak meminum-minuman keras, narkoba, asusila dan dapat mengendalikan stres.
Setiap Petugas PMI memiliki tanggung jawab dan solidaritas.
3. Identifikasi
Setiap Petugas PMI memahami dan dapat melakukan sosialisasi & diseminasi mengenai
penggunaan Lambang yang tepat.
Semua barang bantuan, kendaraan dan kantor PMI harus mempunyai identitas PMI
Setiap Petugas PMI yang bertugas harus menggunakan atribut PMI dan membawa kartu
identitas (KTA/KTP/SIM) serta surat tugas.
Setelah bertugas, atribut PMI harus dikembalikan ke Markas/Penanggung Jawab.

LAMPIRAN 3
4. Komunikasi Internal
Pengarahan mengenai situasi keamanan kepada petugas PMI yang akan bertugas oleh
Penanggung Jawab.
Penyelenggaraan rapat koordinasi rutin sesuai dengan kebutuhan oleh Penanggung
Jawab.
Pelaporan setiap insiden bencana yang dinilai dapat mempengaruhi keselamatan dan
keamanan yang terjadi saat bertugas kepada Penanggung Jawab. Laporan diberikan
secara akurat dengan melakukan cek ulang dan penilaian (assessment), bukan
berdasarkan informasi semata (mencegah beredarnya isu).
Menjaga kerahasiaan (siapa perlu tahu tentang apa hingga sejauh mana; untuk
mencegah kepanikan).
Menjaga komunikasi timbal balik antar tim dan posko.
Pembuatan laporan sesuai dengan jenjang penugasan.
Menggunakan alat komunikasi sesuai dengan standar komunikasi PMI, sesuai dengan
kebutuhan tugas dan menjaga alat komunikasi yang digunakan dengan baik.
Setelah bertugas, alat komunikasi PMI harus dikembalikan ke Markas/Penanggung
Jawab.
5. Komunikasi Eksternal
Informasi yang dapat disampaikan kepada media/publik hanya fakta yang bersifat umum
(apa yang kita kerjakan dan bukan yang disaksikan, didengar atau dirasakan).
Pembagian informasi yang bersifat kebijakan dilakukan oleh Pengurus. Sedangkan
pembagian informasi yang bersifat operasional dilakukan oleh humas atau unit pelaksana
yang ditunjuk oleh Pengurus. (Detail mengenai ketentuan akan dicakup dalam SoP
Komunikasi)
Rapat koordinasi antar lintas sektoral terkait dilakukan atas sepengetahuan
Pengurus/penanggung-jawab operasi yang ditunjuk.
6. Aturan Keamanan
Pengurus/penanggung-jawab operasional memastikan situasi keamanan di lapangan
Petugas PMI harus mengetahui dan mengikuti aturan-aturan yang dibuat oleh otoritas
setempat (satkorlak atau penguasa perang pada saat konflik).
Kendaraan yang digunakan harus dilengkapi dengan dokumen kendaraan (STNK, SIM),
lambang PMI dan perlengkapan standar (Kotak PP, Peralatan emergency kendaraan).
Sebelum menggunakan kendaraan PMI pastikan pemeriksaan penting seperti kondisi
bahan bakar, oli dan tekanan ban telah dilakukan. Pastikan penyimpanan kunci
kendaraan yang mudah diakses.
Kendaraan PMI hanya dapat digunakan oleh Petugas PMI dan hanya untuk kepentingan
kegiatan PMI.
Apabila melalui Pos Pemeriksaan kurangi kecepatan. Lampu dalam mobil dinyalakan
(apabila berkendaraan di malam hari) dan kontrol emosi.
Dilarang menggunakan pengawalan bersenjata, kecuali pada situasi khusus tertentu dan
harus mendapatkan izin dari Pengurus PMI.
Petugas PMI dilarang membawa senjata tajam/api. Senjata tajam dikecualikan untuk
mendukung penugasan (sebagai pelengkap peralatan tanggap darurat).
Petugas PMI dilarang mengangkut siapapun yang bersenjata termasuk personil
keamanan.
Apabila terjadi pemberhentian paksa/ancaman bersenjata, maka patuhilah instruksi dari
pihak yang memberhentikan/mengancam, bersikap tenang dan berusaha untuk
bernegosiasi. Tekankan sikap dan posisi anda pada netralitas.
Apabila terjadi perampokan barang, jangan pernah mengambil resiko untuk membela
barang atau uang, nyawa Anda lebih penting dibandingkan barang atau uang.
Apabila
terjadi
penculikan,
maka
patuhilah
instruksi
dari
pihak
yang
memberhentikan/mengancam, bersikap tenang dan berusaha untuk bernegosiasi, serta
tidak melakukan tindakan yang mengancam keselamatan diri. Mengamankan pelepasan
seorang tawanan adalah tanggung jawab pihak luar, bukan tawanan.
Buatlah rencana keamanan dalam beberapa alternatif resiko sesuai dengan kondisi
lapangan (jika ... maka ...).

LAMPIRAN 3

Pembatasan waktu kerja di lapangan dibuat sesuai dengan kondisi lapangan (misalnya
jam malam, pembatasan aktifitas malam hari, dsb.).

7. Tindakan Perlindungan
Setiap Petugas PMI memiliki rencana perlindungan/penyelamatan diri pribadi maupun tim
(misalnya rencana A, B, C ).
Pada keadaan darurat konflik, Petugas PMI memilih tempat berlindung yang bersifat
netral (tidak memilih tempat yang identik dengan salah satu pihak).
Pada keadaan darurat bencana alam, Petugas PMI memilih tempat berlindung yang tidak
beresiko.
Petugas PMI selalu menjaga keamanan barang-barang pribadi dan operasional tanggap
darurat.
Petugas PMI wajib diberikan jaminan asuransi saat bertugas.
Petugas PMI wajib mengenakan perlengkapan keamanan standar sesuai dengan
kebutuhan.
Keuntungan jika dalam masa damai mempersiapkan diri menghadapi konflik
Dengan akses yang lebih baik, PMI akan mendapatkan akses yang lebih aman pula ke
penerima bantuan
PMI menjadi lebih kuat sehingga dapat menjangkau lebih banyak orang dengan lebih efektif
Lebih meningkatkan kemampuan profesional PMI
JUMLAH SUKARELAWAN DAN STAF PMI YANG MENINGGAL DAN TERLUKA AKAN
BERKURANG !!!

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
Checklist ini disusun oleh para spesialis yang memahami bidangnya, yang berasal dari ICRC
dan IFRC. Sebagian besar check list ini diperoleh dari buku panduan Sphere.
1. Sumber informasi dari sektor kesehatan
Kementerian Kesehatan, klinik lokal, pekerja kesehatan dalam masyarakat, organisasi
kemanusiaan (lokal dan internasional), masyarakat (wanita).
Isu yang menarik
Apakah ada sebuah program pelayanan kesehatan dalam situasi bencana? Apa yang
biasa dilakukan? Bagaimana perkembangannya?
Apakah masalah utama berkaitan dengan kesehatan, fasilitas kesehatan atau akses
terhadap fasilitas kesehatan?
Apa kapasitas yang tersedia dalam melakukan respon? Siapa yang bertanggung jawab?
Apakah ada kekurangan dalam melakukan pelayanan kesehatan? Apakah ada
kebutuhan untuk melakukan intervensi?
Apakah ada kebutuhan khusus dalam kesehatan? (Emergency Response Unit, ahli
bedah dll)?
Informasi apa yang selanjutnya dibutuhkan?
Subjek

Informasi yang berkaitan

H1

Komposisi umur
(jika perbandingannya
sangat berbeda, temukan
alasannya)

Rata-rata negara berkembang:


0 - 4 tahun:12.4 %
5 9 tahun: 11.7 %
10 14 tahun: 10.5 %
15 19 tahun: 9.5 %
20 59 tahun: 48.6 %
Wanita hamil: 2.4 %

H2

Rata-rata angka kematian


kotor

Masalah jika melampaui:


1 per 10,000 per hari
Kritis jika melampaui:
2 per 10,000 per hari

H3

Angka kematian dibawah 5


tahun

Masalah jika melampaui:


2 per 10,000 per hari
Kritis jika melampaui:
4 per 10,000 per hari

H4

Saluran gangguan
pernapasan pada anakanak dibawah 5 tahun
Penyakit diare pada anakanak dibawah 5 tahun

Masalah jika melampaui:


10 % per bulan dalam kondisi dingin

Malaria pada populasi


yang rentan (dewasa yang
tidak besar didaerah
malaria dan pada anakanak dibawah 5 tahun

Masalah jika melampaui:


50 % yang terjadi setiap bulan

H5

H6

Masalah jika melampaui:


50 % yang terjadi setiap bulan

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
H7

Antisipasi penyakit campak

Masalah jika kurang dari:


90 % imunisasi yang diberikan untuk anak-anak
umur 6 bulan sampai 12 tahun

H8

Antisipasi program
peningkatan imunisasi
(EPI)

Masalah jika kurang dari:


85 % yang dicakup

H9

Pencegahan HIV

Data pencegahan yang ada saat ini

H10

TBC

Apakah ada kebijakan nasional?


Apakah ada program pengobatan secara
langsung atau kursus singkat?

H11

Infeksi penyakit menular

Apakah ada ketentuan pencegahan?

H12

Kesehatan dalam
reproduksi

Apakah ada akses yang luas terhadap


pelayanan kesehatan dalam reproduksi atau
pengetahuan?

H13

Apakah ada masalah


kesehatan lainnya yang
timbul?

Jelaskan

H14

Assessment kesehatan
pada kejiwaan: kronis dan
beberapa kasus

Struktur pendukung sosial, apa yang dilakukan


orang-orang terhadap orang yang mengalami
gangguan kejiwaan, siapa yang merawatnya?
Apakah fasilitasnya rusak? Jika ya, kemana
orang-orang pergi? Apakah ada sistem
perawatan alternatif lain?

H15

Assessment kesehatan
pada kejiwaan: dampak
dari bencana

Apakah sistem pendukung lengkap (keluarga,


jaringan sosial/keagamaan, pemerintah dll)?
Apakah masyarakat yang terkena bencana
mampu untuk memulai kehidupan lagi? Apakah
mereka saling membantu dalam setiap kegiatan?

H16

Tingkat kerusakan fasilitas


kesehatan

Kondisi pelayanan kesehatan: fasilitas,


peralatan, obat-obatan, barang-barang, vaksin,
pegawai.

H17

Akses terhadap pelayanan


kesehatan untuk
masyarakat yang terkena
bencana (sektor umum
dan swasta)

Perbandingan dari masyarakat yang memiliki


akses terhadap pengobatan, pembedahan,
dokter kandungan, perawatan kehamilan,
pelayanan kesehatan ibu dan anak; jarak
terdekat pelayanan kesehatan.
Kelompok / individu yang tidak memiliki akses.

H18

Bagaimana sistem
kesehatan nasional
dikelola?

Sistem ambulance? Apakah ada rumah sakit


rujukan atau berfungsi?

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
H19
H20

Pelaku kesehatan lainnya


Ketersediaan obat

Daftar
Apakah obat dijual secara reguler? Apakah obatobatan ada di pasar bebas? Apa hal-hal yang
berpengaruh untuk keselamatan?

2. Sumber informasi dari sektor nutrisi/gizi


Kementerian Kesehatan, survey nutrisi, survey kesehatan dalam penduduk, lokal klinik,
organisasi kemanusiaan, masyarakat (utamanya wanita).

N1

Subjek

Informasi yang berkaitan

Informasi nutrisi

< -2 Z berat badan terhadap tinggi (malnutrisi


keseluruhan): normal/meningkat/menurun
< -3 Z berat badan terhadap tinggi (malnutrisi
yang parah): normal/meningkat/menurun
Kekurangan yodium: lazimnya 5 -19.9 % pada
anak-anak usia 6 -12 tahun = masalah
kesehatan publik yang ringan
Kekurangan Vitamin A: lazimnya lebih dari 1 %
pada anak-anak dibawah umur 6 tahun =
masalah kesehatan umum

N2

Resiko malnutrisi terhadap


pelayanan kesehatan yang
buruk

Gangguan saluran pernapasan pada anak-anak


dibawah 5 tahun:
Masalah jika melampaui:
10 % yang terjadi setiap bulan pada musim
dingin
Penyakit diare pada anak-anak dibawah usia 5
tahun:
Masalah jika melampaui:
50 % yang terjadi setiap bulan
Antisipasi penyakit campak:
Masalah jika kurang dari:
90 % imunisasi yang diberikan untuk anak-anak
usia 6 bulan samapai 12 tahun
Pencegahan HIV : Data pencegahan yang ada

N3

N4

Resiko malnutrisi terhadap


fasilitas yang tidak cukup

Resiko malnutrisi terhadap


akses makanan yang
kurang

Perubahan pola kerja


Perubahan komposisi rumahtangga: jumlah yang
besar dari anak-anak yang terpisah atau yatim
piatu
Lihatlah matapencaharian, pertanian, pasar

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
N5

Intervensi nutrisi atau


ketersediaan dukungan
berbasis masyarakat
didaerah bencana

Mandat, kebijakan dan pengalaman dari


Gerakan Palang Merah
Kapasitas masyarakat lokal

3. Sumber informasi dari sektor air dan sanitasi


Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup, PDAM, klinik lokal, organisasi
kemanusiaan (lokal dan internasional), masyarakat, pengamatan.
Subjek

Informasi yang berkaitan

W1

Penyakit diare

Normal/meningkat/menurun

W2

Diare berdarah

Normal/meningkat/menurun
Jika meningkat, detail kelompok umur dan lokasi.
Bantu pemerintah untuk mengisolasikan
penderita.

W3

Jumlah dan kualitas air

Sekurang-kurangnya 15 liter air per orang per


hari
Pada kasus yang ekstrim: 5 liter per orang per
hari untuk minum dan masak
Detail sumber air (Apakah terkontaminasi?)
Apakah airnya dijernihkan?

W4

Pengiriman
penyimpanan

air

W5

Pembuangan kotoran

dan Cara membawa dan menyimpan (apakah air


dapat tercemar?); jarak dan waktu ke sumber air
(tidak lebih 500m berjalan); tempat penyimpanan
rumah tangga; tersedia pada sebuah lembaga
Apakah ada toilet atau jamban terbuka? Apakah
dekat antara tempat pembuangan kotoran
dengan rumah?
Tidak lebih dari 20 orang untuk satu latrine atau
toilet, tidak lebih 50 m dari rumah.

W6

Fasilitas untuk wanita

W7

Tempat cuci tangan atau Apakah fasilitas tersedia? Apakah mereka


fasilitas mandi
gunakan? Apakah ada sabun? Apakah
fasilitasnya aman dan terpisah untuk pria dan
wanita?

W8

Penyakit

bawaan

Aman atau dapat diterima secara budaya? Ya


atau tidak, jelaskan

dari Apakah ada alat pembasmi?

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
binatang (lalat,nyamuk dan Apakah ada benda-benda di tanah? (genangan
serangga lain)
air, kotoran sampah)
W9

Tingkat kerusakan air dan Kondisi fasilitas, peralatan, material, pegawai.


saluran pembuagan

4. Sumber informasi dari sektor penampungan dan barang-barang rumahtangga


Data metereologi, survey udara, pemerintah setempat, masyarakat, pengamatan.
Subjek

Informasi yang berkaitan

S1

Jenis penampungan

Berkaitan dengan faktor cuaca: tahan terhadap


hujan, angin, matahari, dingin

S2

Kondisi fisik penampungan


yang ada

Penjelasan, perbandingan yang tidak sesuai


menurut kolom S1, alasan kekurangan (karena
gempa, penampungan sementara dll.)

S3

Kebutuhan akan
penampungan

S4

Barang-barang
rumah Jumlah masyarakat yang kekurangan barangtangga yang dibutuhkan
barang
rumah tangga
yang
diperlukan
(disebabkan oleh bencana / masyarakat rentan)

S5

Bahan bakar

tempat Jumlah rumah tangga yang kekurangan tempat


penampungan

Apakah masyarakat memiliki akses bahan bakar


untuk memasak? Darimana bahan bakar itu
berasal? Apakah penampungan bahan bakar
merusak lingkungan?

5. Sumber informasi dari sektor Pertanian


Petani, Kementrian Pertanian, Organisasi Pertanian dan Makanan, pedagang, survey udara,
masyarakat, buruh harian.
Subjek

Informasi yang berkaitan

A1

Bagaimana produksi tahun Total produksi dari hasil panen utama


ini dibandingkan dengan dibandingkan pada produksi normal negara atau
kondisi normal?
propinsi, hasil panen perhektar dibandingkan
dengan kondisi normal

A2

Apakah
ada
masalah Kecenderungan harga produk pertanian utama.
produksi untuk beberapa Perbandingan antara produk (seperti biji-bijian
hal?
dan ternak), antara area (terkena dampak dan
yang tidak terkena) dan waktu (tahun ini dan
tahun sebelumnya)

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
A3

A4

Jumlah lahan pertanian Persentase lahan yang terkena dampak dan


yang
terkena
dampak yang tidak
(misalnya selama banjir)
Kesehatan ternak
Baik atau buruk, akses pelayanan kesehatan

A5

Ketersediaan dan akses Jumlah dan harga di pasar bandingkan dengan


mendapatkan benih
harga normal

A6

Penjualan aset produksi Lebih tinggi dari rata-rata penjualan normal


pertanian
Tidak memiliki akses lahan Jumlah lahan yang tidak bisa digunakan
karena
ketidakamanan
atau bahaya alam

A7

6. Sumber informasi dari sektor Pasar


Pedagang, petani, buruh harian, pegawai, perusahaan angkutan.
Subjek
Informasi yang berkaitan
M1

M2

M3

M4
M5

Apakah hasil utama dan


komoditi yang penting
tersedia?
Dampak dari krisis yang
terjadi pada ketersediaan
komoditi
Harga komoditi

Ya atau tidak, Jika tidak, yang mana yang tidak


ada? Apakah ada pengganti dari produk lain?
Apakah ada perubahan
cadangan kacau/

produksi?

Apakah

Kumpulkan harga yang sekarang; tahun lalu;


disaat sebelum dan sesudah bencana; disaat
sebelum dan sesudah panen terakhir; waktu
yang berkaitan lainnya.

Darimana komoditi itu Apakah ada perubahan? Kenapa?


berasal?
Upah
buruh
rata-rata Berapa gaji buruh? Apakah gajinya meningkat
perhari
atau menurun? Kenapa?

M6

Waktu kerja buruh harian

Berapa hari rata-rata waktu kerja buruh dalam


satu bulan? Apakah meningkat atau menurun?
Kenapa?

M7

Tersedia truk sewaan dan Jumlah perusahaan pengangkutan,


biayanya
jumlah truk yang ada, biaya sewa

M8

Barang-barang yang dijual Penjualan barang-barang rumahtangga (seperti


di pasar
baju)
dan
perhiasan
mengindikasikan
masyarakat menjadi miskin

kira-kira

Manakala waktu dan akses terbatas, pasar dapat menjadi sumber informasi yang baik
(orang-orang datang dari berbagai penjuru desa). Analisa pedesaan berguna dalam kondisi

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
urban dimana masyarakatnya bergantung pada pembelian kebutuhan barang-barang
rumahtangga. Pasar dapat dimonitor secara reguler.
Analisa pasar bersifat kompleks. Pendekatan yang ada bersifat sederhana. Tetapi ada halhal yang perlu diingat:
Pedagang mungkin segan memberikan infromasi untuk alasan komersil.
Pasar dapat dimanipulasi oleh pengusaha atau politikus.
Pedagang pada umumnya menaikkan harga jika ada pembeli yang kaya (seperti orang
asing). Karena itu, gunakan staff lokal untuk melakukan survey dan cross check harga
dengan masyarakat setempat (utamanya wanita).
Pedagang sangat sibuk. Bertanya langsung pada pokok permasalahan.
7. Sumber informasi dari sektor Perlindungan
Pemerintah setempat, organisasi kemanusiaan (lokal dan internasional), pemimpin agama,
pengacara, organisasi hak asasi manusia, pekerja sosial dan kesehatan, masyarakat
(utamanya wanita dan anak-anak).
Subjek

Informasi yang berkaitan

P1

Apakah hak asasi Idps,


pencari suaka, pengungsi
dan masyarakat setempat
dihargai?

Jika tidak, berikan secara detail hukum yang


berlaku dan penyalahgunaan wewenang
(misalnya Panduan Prinsip Idps dan Konvensi
Pengungsi)

P2

Apakah Idps, pencari


suaka atau
pengungsiberesiko untuk
kembali ke tempat
asalnya, relokasi atau
penempatan yang tidak
sesuai dengan
harapannya?

Jika ya, berikan secara detail (misalnya prinsip


....)

P3

Apakah ada keluarga yang


terpisah? Apakah ada
anggota keluarga yang
hilang?
Apakah ada registrasi
Idps?

Berikan jumlahnya, lokasi, detail proses


registrasi

Apakah ada
kecenderungan fisik yang
terjadi seperti diskriminasi
jender, pelecehan seksual,
intimidasi atau kondisi
yang tidak aman?
Apakah ada diskriminasi
terhadap beberapa orangorang atau kelompok?
Apakah ada masalah

Berikan detail jumlah masyarakat yang rentan

P4

P5

P6

P7

Jika ya, berikan prosedurnya

Berikan detail jumlah masyarakat yang rentan

Jika ya, berikan secara detail

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
dengan manajemen
jenasah? Apakah ada
resiko terhadap orangorang yang dimakamkan
tanpa diidentifikasi?

8. Sumber informasi dari sektor Keamanan


Pemerintah setempat, organisasi kemanusiaan (lokal dan internasional), masyarakat.
Subjek
SEC1
SEC2

Ancaman
keamanan
Keamanan
bepergian

Informasi yang berkaitan


potensi Sebgai contoh konflik, kriminalitas, ranjau
dalam Berikan secara detail ancaman keamanan dan
lokasi

SEC3

Komunikasi

Apakah telephone
berfungsi?

dan

radio

komunikasi

SEC4

Jaringan pendukung

Detail lokasi kantor dan kontak person per lokasi


RC/RC, UN, NGO

SEC5

Fasilitas kesehatan

Lokasi dan kontak detail rumah sakit untuk


kondisi darurat

SEC6

Rencana Darurat

Jelaskan sistem pendukung


perubahan operasional

apabila

terjadi

9. Sumber informasi dari sektor Pengadaan dan Logistik


Observasi, masyarakat, perusahaan pengangkutan.

LOG1

LOG2

LOG3

LOG4

Subjek

Informasi yang berkaitan

Bagaimana kondisi jalan


yang menghubungi antara
daerah
dan
tempat
persediaan
barangbarang?
Apakah ada daerah yang
tidak dapat dilalui dengan
jalan darat?
Dimana
bandara,
pelabuhan, stasiun kereta
terdekat?
Apakah ada gudang atau
tempat penyimpanan?

Jelaskan kondisi jalan, termasuk faktor-faktor


musiman, waktu tempuh dan jenis kendaraan
yang cocok

Sebutkan lokasinya dan saran alat transportasi

Sebutkan lokasi dan kondisinya

Sebutkan dengan detail ukuran, kondisi,


kepemilikan (milik Perhimpunan Nasional)?

LAMPIRAN 4
CHECKLIST SEKTORAL
LOG5

Siapa
yang
akan Sebutkan dengan detail kantor Perhimpunan
menerima
dan Nasional dll
bertanggungjawab untuk
pengiriman barang?

LOG6

Barang-barang
tersedia

LOG7

Kapasitas angkutan lokal

Sebutkan dengan detail ketersediaannya dan


harga sewa

LOG8

Harga

Lihat indikator pasar

yang Sebutkan dengan detail bahan bakar yang


tersedia, bahan bangunan, makanan (termasuk
perkiraan jumlah yang bisa dibeli)

PALANG MERAH INDONESIA


Format Assessment Cepat
1. UMUM
Jenis Kejadian

1
2
3
4

Bencana Alam
Konflik
Kecelakaan
Dan lain-lain

Tanggal
Waktu
Propinsi

Kabupaten / Kota
Kecamatan
Desa / Kelurahan

Petugas Assessment
2. INFORMASI UMUM
Jumlah korban

Pengungsi / IDP's

1
2
3
4

Meninggal dunia
Luka berat
Luka ringan
Hilang
Ada
Lokasi
Tidak Pengungsian

Jumlah
3. DAMPAK SARANA & PRASARANA
Rumah tinggal
Akses transportasi

Akses komunikasi
Sarana umum

Rusak berat

Rusak ringan

1 Jalan
2 Jembatan

Berfungsi
Berfungsi

Tidak berfungsi
Tidak berfungsi

3 Kendaraan umum
Telepon/Fax/Telex/Telegram
Telepon selular
1 RS/Fasilitas Kesehatan
2 Listrik
3 Air
4 Sekolah
5 Tempat ibadah

Berfungsi
Tidak berfungsi
Kantor Pos
Internet
Berfungsi
Tidak berfungsi
Berfungsi
Tidak berfungsi
Berfungsi
Tidak berfungsi
Berfungsi
Tidak berfungsi
Berfungsi
Tidak berfungsi

4. SITUASI KEAMANAN

5. TINDAKAN YANG SUDAH DILAKUKAN

6.

KEBUTUHAN MENDESAK ( KORBAN & PMI )

PMI

Pemerintah

NGO's / LSM

ORPOL / ORMAS

7. KONTAK PERSON

Format Detail Asesment PMI


1. Petugas Assessment
Tanggal Assessment :

Nama Petugas :

Tipe Lokasi :
Lokasi kejadian
Pengungsian/ IDPs
Tempat relokasi
Kembali ke daerah asal
Penduduk lokal

Tipe Asesment :
Awal
Lanjutan :

2. Umum
Propinsi

Kabupaten/ Kota :

Kecamatan

Desa

Dusun

Nama Lokasi

Titik GPS (Jika ada)


Jenis Kejadian :
Bencana alam
Kecelakaan

Lintang :

Bujur :
Sebab Kejadian :

3. Akses Transportasi
Akses menuju lokasi :
Darat
Air (Laut/ Sungai/ Danau)
Udara
4. Data Demografi
Populasi

Laki

Jenis Kendaraan :

Perempuan

Jumlah KK
Jumlah Jiwa
Balita 0-5 thn
Anak terpisah
dari keluarga

Tanggal/ Waktu
Kejadian :

Konflik
Lainnya: ........

Lansia >60

Catatan:

Sumber data :
Nama :
Instansi/Jabatan :
Kontak ( alamat & telepon ) :

Orang cacat fisik

Wanita Hamil

Ibu menyusui

Perempuan
sebagai KK

Catatan :

5. Penampungan
Jenis Penampungan

Jumlah

Jiwa

Sementara
Semi permanen
Permanen
6. Pangan
Sumber makanan pada saat ini :
Ya
1. Hasil Ternakan
2. Hasil Pertanian
3. Perikanan/ hasil tangkapan
4. Tumbuhan liar
5. Bantuan/ sumbangan

Tidak

Sarana
Tenda keluarga
Tenda pleton
Terpal
Atap daun
.

Tempat
Lapangan
Sekolah
Tempat ibadah
Perkantoran
.

Catatan:

Jenis pangan yang dikonsumsi saat Masalah umum pada akses


ini : terhadap pangan :
... .......................................................
... .......................................................
Frekwensi konsumsi makanan :
1 x sehari
2 x sehari
3 x sehari
lainnya ....................................

Format Detail Asesment PMI


6. Barter/ tukar
7. Beli
8. Lainnya

Catatan :

7. Non Pangan / Lainnya (jangan tanyakan, cukup diamati)


Dari pengamatan anda, apakah ada kebutuhan sbb:
Ya Tidak
1. Alat masak
2. Alas tidur
3. Selimut
4. Pakaian
5. Hygiene Kit
6. Jerigen/ember
7. Terpal
8. Kebutuhan bayi
9. Kebutuhan wanita
10. lainnya:

Catatan:
Ya

Tidak

8. Air dan Sanitasi


Air
Sumber air

Untuk Minum/Masak
Cukup
Tidak cukup

Mata air
Sumur
Air hujan
Sungai
Parit
PDAM (pipa/pasokan)
Lainnya: ...
Bagaimana perlakuan terhadap air sebelum
diminum:
Tidak ada
Direbus
Penyaringan
Memakai bahan kimia

Untuk Mandi/Cuci
Cukup
Tidak cukup

berwarna

Tempat penyimpanan air untuk minum di rumah


Ada
Tidak ada
Tempat penyimpanan:

Terbuka

Kualitas
berbau

berasa

Jarak sumber air


untuk minum: ..... km

Tertutup

Catatan:

Sanitasi
MCK
Tidak Ada
Temporer
Umum
Keluarga
Catatan:

Sampah
Sumber sampah :
Rumah tangga
Dapur umum
RS

Permanen
jumlah ....... unit
jumlah ....... unit

Pembagian MCK umum berdasar


jenis kelamin
Ya
Tidak

Jenis pengumpulan sampah


awal:
Bak sampah
Drum
Lainnya: .....
Tidak ada
Cukup

Alat pengangkut
sampah:
Tidak ada
Gerobak
Mobil
Lainnya: ....

Pembuangan air limbah


Septik tank
Lubang gali

Perlakuan terhadap
sampah :
Dikubur
Dibakar
Incinerator
Ke TPA
Lainnya:

Tempat pembuangan
sementara (TPS) :
Ada
Tidak

Tidak cukup

Apakah pengendalian vektor pembawa penyakit


diperlukan?
Ya
Tidak

Catatan:

Format Detail Asesment PMI


9. Kesehatan
Jumlah Korban :
Luka berat
:

Jiwa

Luka ringan

Jiwa

Meninggal

Jiwa

Tenaga Kesehatan :
Ada tidak jumlah
1. Dokter
______
2. Perawat
______
3. Bidan
______
4. Farmasi
______
5. Ahli Kesling
______

Masalah kesehatan terbanyak :


Ada tidak jumlah
1. Diare
______
2. ISPA
______
3. Penyakit Kulit
______
4. Malaria
______
5. Campak
______
6. Malnutrisi
______
7. Demam Berdarah
______
8. TBC
______
9. Lain-lain
______

Sarana kesehatan :
Rumah Sakit
Puskesmas
Pustu
Polindes
Klinik
RS. Lapangan
Klinik Keliling
Lainnya

Prasarana Pelayanan Kesehatan :


1. Ambulance
Ada
Tidak
Jika YA, jumlah _____ unit

Tingkat Fatalitas kasus :


Jumlah Kelahiran ______
Jumlah Kesakitan ______
Jumlah Kematian ______

2. Logistik obat-obatan
Cukup
Tidak cukup

Masalah kesehatan yang ditemukan :

Kebutuhan di sektor Kesehatan yg diperlukan :

Sumber informasi :

Catatan :

10. Pemulihan Hubungan Keluarga/ Restoring Family Links (RFL)


Adakah korban yg
kehilangan kontak
dengan keluarga :
Ya

Tidak

Orang hilang:
Ya Tidak Jumlah
______

Akses terhadap sarana komunikasi :


mudah
sulit
Jika sulit, apa masalahnya :
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................

Lokasi ditemukannya kelompok rentan yang terpisah dengan keluarga :


Ya
tidak
jumlah
1. Tempat Penampungan
_______
2. Panti Asuhan
________
3. Lain-lain :
Adakah penanggungjawab RFL :
Ada
Tidak
bila ada berikan informasi identitas yg bersangkutan :

kelompok rentan yang terpisah dengan


keluarga :
ada tidak
1. Anak-anak <18 th
2. Lansia
3. Orang Cacat
4. Ibu Hamil

Untuk korban yang meninggal :


Ya
tidak
1. Di evakuasi ke RS
2. Diambil keluarga
3. Lain-lain

Nama RS. rujukan untuk korban yang


meninggal :

Format Detail Asesment PMI


12. Informasi Umum Logistik
Apakah pasar masih berfungsi:
ya
tidak

Akses transportasi logistik


berfungsi
tidak berfungsi

12. Informasi Umum Telekomunikasi


Fasilitas
Berfungsi penuh
Telepon
HP
Radio komunikasi
Internet
Fax
Telex
Telegram
Pelayanan pos
14. Tindakan PMI dan lembaga lain
PMI / Gerakan:

Tidak setiap saat

Apakah ada tempat


penyimpanan/gudang:
ada
tidak
Tidak berfungsi

Catatan :

Tidak pernah ada

Catatan :

Pemerintah & Lembaga Lain:

15. Catatan umum, rekomendasi dan kebutuhan untuk ditindaklanjuti:

Tanda tangan petugas asesment: