Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
Kacang pintoi (Arachis pintoi) adalah tanaman golongan legum yang tumbuh
merambat di atas permukaan tanah dan merupakan family dari kacang tanah (Arachis
hypogea). Leguminosa merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan
sebagai upaya perbaikan tanah pertanian. Tanaman Arachis pintoi dapat digunakan
sebagai tanaman hias, penutup tanah, memiliki potensi lain yaitu sebagai hijauan
pakan ternak dan pendukung kesuburan tanah. Arachis pintoi memiliki kandungan
protein tinggi sebagai pakan ternak. Kualitas pakan tidak lepas dari pertumbuhan dan
produktifitas tanaman legum. Pengelolaan pakan diharapkan dapat mengoptimalkan
pertumbuhan dan produksi hijauan. Pertumbuhan tanaman secara optimum
diharapkan mampu meningkatkan kulitas pakan ternak.
Tanah merupakan media tanam yang merupakan faktor pokok bagi
pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Unsur hara yang dibutuhkan
tanaman diperoleh dari tanah. Di daerah tropika umumnya tanah kekurangan unsur
hara, sehingga penggunaan pupuk dianjurkan dan diberikan saat penanaman atau
pengolahan lahan. Kecukupan unsur hara tanah dapat diperoleh dari penambahan
pupuk. Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah POC (Pupuk Organik Cair)
dan pupuk padat granule yang mengandung N, P, dan K. Pupuk organik cair
diberikan melalui penyemprotan pada daun sehingga lebih mudah dimanfaatkan

langsung oleh tanaman. Pupuk padat yang berupa granule diberikan setelah
pengolahan tanah, tepatnya sebelum penanaman tanaman Arachis pintoi. Pupuk
granule mengandung unsur hara yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Nitrogen
merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan, P dibutuhkan tanaman untuk
pembentukan warna hijaun pada daun, dan K berfungsi dalam memperkuat
pertumbuhan batang tanaman. Keunggulan pupuk granule adalah mampu
memperbanyak pori-pori tanah sehingga meningkatkan ketersediaan oksigen dalam
proses metabolism mikroba, bersifat lambat tersedia sehingga penyerapan bahan
organik secara bertahap, aplikasi granule dapat diaplikasikan pada semua jenis
tanaman dan mengandung nutrisi tanaman lengkap, mikroba dekomposer dan
Bioprotectant.
Bahan tanam yang diterapkan menggunakan stek sepanjang dua ruas dan tiga
ruas. Bahan tanam menggunakan stek dapat menghemat bahan tanam, selain itu
pertumbuhan lebih mudah dan cepat diamati dibandingkan menggunakan bahan
tanam dari biji. Pertumbuhan tanaman lebih optimal melalui pemberian pupuk. Pupuk
organik cair merupakan alternatif pupuk yang mudah tersedia dan lebih cepat
dimanfaatkan oleh tanaman di banding pupuk padat. Pupuk Organik Cair (POC) yang
digunakan berasal dari produksi pabrikan. Keunggulan penggunaan pupuk organik
cair diantaranya menggunakan bahan alami menggunakan bahan limbah jamu
tanaman rempah dan, mengandung unsur hara makro-mikro serta mikroba yang
berperan penting dalam penambatan maupun penyerapan unsur hara tanaman.

Penelitian bertujuan mengetahui pertumbuhan hijauan kacang pintoi (Arachis


pintoi) dengan panjang stek dan dosis pupuk organik cair (POC) yang berbeda.
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian adalah mengetahui penghematan bahan
tanam dengan menggunakan panjang stek dua dan tiga ruas, serta memberikan
informasi tentang pengaruh pemberian pupuk organik cair (POC) 0 ml/l, 5 ml/l, 10
ml/l dan 15 ml/l terhadap pertumbuhan hijauan kacang pintoi (Arachis pintoi) yang
ditanam pada lahan kering sehingga dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan
pakan dan meningkatkan produktivitas ternak. Hipotesis penelitian ini adalah adanya
interaksi panjang stek 2 ruas dan dosis pupuk organik cair 5 ml/l terhadap
pertumbuhan hijauan kacang pintoi (Arachis pintoi).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kacang Pintoi (Arachis pintoi)

Arachis pintoi merupakan jenis legum yang memiliki karakteristik tahan injakan
yang memungkinkan dalam pengembangan padang penggembalaan. Arachis pintoi
dapat digunakan sebagai tanaman hias, penutup tanah, dan pakan ternak. Penggunaan
kacang pintoi semakin populer dan banyak digunakan sebagai penutup tanah di
beberapa perkebunan, serta dimanfaatkan dalam lanskap pertanaman (Mazwar, 2004).
Arachis pintoi tumbuh dan berkembang dengan baik pada daerah sub tropika dan
tropika, curah hujan tahunan >1.000 mm. Arachis pintoi tahan terhadap kekeringan
(3-4 bulan), dan akan menggugurkan daunnya selama periode kering tersebut.
Manfaat kacang pintoi adalah untuk mencegah erosi tanah, mencegah pertumbuhan
gulma, dan sumber nitrogen bagi tanaman pokok (Asman, 2004). Klasifikasi Kacang
pintoi (Arachis pintoi) menurut Krapovickas & W.C Gregory (1994).
Kingdom
Subkingdom
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Plantae
Trakheobionta
Spermatophyta
Magnoliophyta
Magnoliopsida
Rosidae
Fabales
Fabaceae/Leguminosa
Arachis
Arachis pintoi

2.2

Bahan Tanam
Perbanyakan tanaman Arachis pintoi dapat dilakukan dengan menggunakan biji,

stek, dan stolon. Kacang pintoi memerlukan waktu 2-5 bulan untuk dapat tumbuh
seragam dan menutup permukaan tanah. Pertumbuhan Arachis pintoi dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan dan jarak tanam (Mazwar, 2004). Tanaman Arachis pintoi
dapat tumbuh dengan baik pada tanah subur dan dapat juga tumbuh pada tanah yang
kurang subur meskipun lebih lambat (Cook, 1992).
2.3

Penanaman
Arachis pintoi dapat ditanam menggunakan stek atau biji. Penanaman

menggunakan bahan tanam biji mampu mengembangkan sistem perakaran yang lebih
cepat (Cook, 1992). Perbanyakan stek dengan cara dipotong sepanjang 1020 cm.
Kacang pintoi ditanam di tanah dengan kedalaman 7,512,5 cm. Untuk mendapatkan
pertumbuhan/penutupan yang seragam dengan cepat, stek ditanam dengan jarak 25
40 cm. Akar mulai tumbuh pada 24 minggu setelah tanam. Stolon adalah cara
pembiakan vegetatif dari tanaman yang lengkap dengan akarnya. Stolon terbentuk
atau berkembang dari bagian batang yang masuk ke dalam tanah dan mengeluarkan
akar dari buku batangnya. Stolon ditanam dengan membenamkan akarnya ke dalam
tanah sedalam 2,5 cm dengan jarak tanam 25-30 cm (Mazwar, 2004).

2.4

Pupuk Organik Cair


Pupuk organik berfungsi sebagai perbaikan struktur tanah dan meningkatkan

pertumbuhan tanaman. Komposisi pupuk organik harus benar karena menyebabkan


penahanan sementara nutrient tanah jika berlebih sehingga mengurangi pertumbuhan
tanaman (Williams et al., 1993). Kandungan mikroba dalam POC Herbafarm
diantaranya Azotobacter sp, Azospirillum sp, bakteri pelarut fosfat, Lactobacillus sp,
Pseudomonas sp, dan bakteri selulolitik. Pemupukan merupakan penambahan zat
pada tanah untuk melengkapi unsur hara yang tidak cukup terkandung di dalam tanah
sehingga produksi meningkat (Mulyani, 1999). Kekurangan unsur hara dalam tanah
dapat diupayakan dengan menggunaan pupuk organik cair (Hardjoko, 2000).
Penggunaan pupuk diusahakan agar mempunyai efisiensi tinggi. Keefisienan pupuk
diartikan sebagai jumlah kenaikan hasil yang dapat dipanen atau parameter
pertumbuhan lainya yang dapat diukur sebagai akibat pemberian satu satuan
pupuk/hara. Pemupukan mempunyai dua tujuan utama, yaitu: memperbaiki atau
memelihara keutuhan kondisi tanah, dalam hal struktur, kondisi pH, potensi pengikat
terhadap zat makanan tanaman dan mengisi cadangan makanan bagi tanaman yang
cukup (Kastono, 1999).
Berdasarkan asalnya pupuk dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pupuk organik
dan anorganik. Pupuk Organik contohnya pupuk kandang, kompos, humus dan pupuk
hijau, sedangkan pupuk anorganik contohnya urea, TSP atau SP-36 dan KCl (Lingga
dan Sumarsono, 2000). Pemupukan tidak boleh terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah,

harus memenuhi kebutuhan tanaman. Pemupukan yang berlebihan akan membuat


larutan tanah menjadi pekat dan menghambat proses osmosis, sedangkan jika terlalu
sedikit tidak akan memberikan hasil yang signifikan (Setyamijaya, 1986).
2.5

Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan pertambahan protoplasma dalam bahan yang bersifat

kuantitatif. Secara kuantitatif ukuran yang diterima berupa Bahan Kering (BK),
sedangkan perkembangan merupakan perubahan kualitatif yang mengubah bentuk
atau keadaan tanaman daripada ukuranya (Goldworthy dan Fisher, 1992).
Pertumbuhan merupakan suatu proses bertahan hidup pada tanaman, yang
menyebabkan berubahnya hasil dan ukuran tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).
Susetyo et al. (1969), menambahkan bahwa pertumbuhan tanaman terbagi menjadi
tiga fase, yaitu fase germinatif, fase vegetatif dan fase generatif.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah faktor genetik dan
lingkungan. Faktor lingkungan terbagi dua yaitu faktor biotik terdiri hama, penyakit,
gulma, mikroorganisme tanah dan faktor abiotik meliputi cahaya matahari, kecepatan
angin, kelembaban udara, curah hujan, dan kesuburan tanah (Gardner et al., 1991).
Unsur hara makro dan mikro dalam tanah dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.
Enam unsur hara makro yang diperlukan dalam jumlah banyak ialah nitrogen, fosfor,
kalium, kalsium, magnesium, dan belerang. Pertumbuhan tanaman terhambat jika
unsur hara tersebut kurang dalam tanah, terlalu lambat tersedia dan tidak diimbangi

unsur lainnya. Nitrogen, fosfor, dan kalium merupakan tiga unsur yang bekerja
bersamaan, sehingga disebut unsur pupuk (Soepardi, 1983). Kristanto (1990),
menambahkan bahwa faktor genetik terdiri dari ketahanan tanaman terhadap hama
dan penyakit, bentuk dan ukuran daun, toleransi tanaman terhadap lingkungan, dan
perluasan sistem perakaran dan kedalamannya. Produksi bahan kering tanaman salah
satunya dipengaruhi oleh bintil akar, semakin banyak jumlah bintil akar tanaman
legum maka dapat meningkatkan Produksi bahan kering karena meningkatkan
serapan nitrogen tanaman (Sumarsono, 2004). Setyati, (1991) menambahkan
Ketersediaan unsur hara bagi tanaman merupakan salah satu faktor penting untuk
menunjang pertumbuhan
Arachis pintoi responsif terhadap pemupukan N, P, dan K yang ditunjukkan
meningkatnya bobot polong namun tidak memberikan pengaruh pada produksi
hijauan. Pemupukan tidak mempengaruhi panjang tanaman dan produksi hijauan
Arachis pintoi, unsur N berperan dalam pembentukan tunas (Fanindi et al., 2009).
Arachis pintoi dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis, serta memiliki
kemampuan presisten dibanding legum pakan lain pada daerah tropik (Ferguson dan
Loch, 1999). Kemampuan legum mengembangkan stolon, merupakan karakteristik
penting untuk tetap tumbuh serta bersaing dengan rumput (Sinclair et al., 2007).

2.6

Defoliasi
Pemotongan (defoliasi) merupakan pengambilan bagian tanaman yang ada di

atas permukaan tanah, baik dilakukan manusia maupun oleh renggutan ternak
sewaktu digembalakan (Sutrisno, 1983). Menurut Mcllroy (1976), semakin pendek
umur defoliasi, maka semakin sedikit kesempatan daun pada tanaman memanfaatkan
sinar matahari untuk pembentukan bahan kering tanaman. Umur defoliasi yang terlalu
pendek mengakibatkan hasil fotosintesis terbatas. Sebaliknya interval umur defoliasi
yang terlalu lama akan memproduksi bahan kering tinggi dengan kualitas hijauan
kurang baik. Interval waktu defoliasi terlalu dekat mengakibatkan kerusakan
tanaman. Kerusakan tanaman disebabkan bahan makanan cadangan yang ada
berkurang terus menerus untuk kebutuhan membentuk tunas-tunas yang selalu
dipotong. Cadangan makanan yang berkurang menyebabkan menurunnya produksi
tanaman bahkan mengakibatkan kematian tanaman (Smith et al., 2006). Defoliasi
dilakukan pada ketinggian 1015 cm setiap 8-10 minggu sekali. Defoliasi tanaman
terlalu panjang, menyebabkan tanah gersang, menghambat pertumbuhan kembali dan
batang menjadi lemah pada musim kemarau. Defoliasi batang setinggi 5-8 cm pada
tahun pertama dapat membantu mengurangi kompetisi gulma dan merangsang kacang
untuk menjalar secara lateral (Mazwar, 2004). Interval defoliasi tidak mempengaruhi
jumlah tunas pada suhu tinggi atau suhu rendah tanaman legum (Sinclair et al., 2007).

10

BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian tentang pengamatan pertumbuhan Kacang pintoi dengan pemberian
berbagai dosis pupuk cair pada media tanah kering akan dilaksanakan selama 16
minggu, tanggal 28 November 2011 - 12 April 2012 di lahan Ilmu Tanaman Makanan
Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1

Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah stek batang tanaman kacang

pintoi (Arachis pintoi) yang terdiri dari panjang dua ruas dan tiga ruas, pupuk organik
cair (Herbafarm) dengan dosis 0 ml, 5ml, 10ml, serta 15ml, tanah dan air sebanyak 1
liter/petak percobaan. Peralatan yang digunakan adalah, timbangan kapasitas 5 kg,
timbangan elektrik analitis kapasitas 100 g dengan ketelitian 0,001 g, sekop, cangkul,
ember, penggaris/meteran, alat tulis, isolasi, gunting, cutter, kertas label, dan plastik.
3.2

Metode

3.2.1 Rancangan Percobaan


Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan
Acak Lengkap berpola Faktorial 2 x 4 dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah panjang
stek dipotong sepanjang 2 ruas dan 3 ruas. Faktor kedua adalah dengan penggunaan

11

dosis pupuk organik cair, yaitu 0 ml, 5 ml, 10 ml, dan 15 ml. Hasil pengacakan
percobaan tertera pada Ilustrasi 1. Kombinasi perlakuan sebanyak 24 macam, yaitu:
S1P1U1, S1P1U2, S1P1U3, S1P2U1, S1P2U2, S1P2U3, S1P3U1, S1P3U2, S1P3U3,
S1P4U1, S1P4U2, S1P4U3, S2P1U1, S2P1U2, S2P1U3, S2P2U1, S2P2U2, S2P2U3,
S2P3U1, S2P3U2, S2P3U3, S2P4U1, S2P4U2, S2P4U3.
Faktor pertama panjang stek terdiri dari:
S1= Stek berukuran panjang 1 ruas
S2= Stek berukuran panjang 2 ruas
Faktor kedua, tingkat pemupukan terdiri dari:
P1= 0 ml POC/petak + 1 liter air/petak
P2= 5 ml POC/petak + 1 liter air/petak
P3= 10 ml POC/petak + 1 liter air/petak
P4= 15 ml POC/petak + 1 liter air/petak
S1P2U1

S1P4U2 S2P4U2 S1P2U3

S1P1U2 S1P3U3

S1P4U3
S2P3U2

S2P3U1 S2P4U3 S2P1U2


S2P1U1 S2P2U1 S2P4U1

S1P2U2 S2P2U2
S1P3U2 S1P1U3

S1P4U1

S2P1U3 S1P3U1 S1P1U1

S2P3U3 S2P2U3

Ilustrasi 1. Denah Hasil Pengacakan Perlakuan


3.2.2 Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian meliputi tahap persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian
dan pengambilan data penelitian.
Tahap persiapan meliputi persiapan lahan pengambilan sampel tanah untuk
analisis tanah, persiapan bibit kacang pintoi dengan stek, pemberian granul dengan

12

dosis 30 kg/ha dengan kandungan N, P2O5 dan K2O granul masing-masing sebesar
2,39%, 2,31% dan 2,52%, sehingga kandungan unsur N, P2O5 dan K2O dalam 1 petak
pelakuan masing-masing sebesar 0,172 g, 0,166 g, dan 0,181 g. Kebutuhan pupuk
granul disajikan dalam Lampiran 2. Persiapan lahan meliputi melakukan pencabutan
rumput dan gulma, dan pencangkulan.
Tahap pelaksanaan penyediaan stek kacang pintoi dimulai dari menempatkan
tanaman ke dalam tiap-tiap petak perlakuan, kemudian di tanam. Stek yang
digunakan adalah bagian stek yang dekat dengan akar. Tiap unit percobaan terdiri
dari 24 batang. Sebelum ditanam pada lahan dilakukan pengacakan. Penanaman stek
ke dalam tanah sepanjang satu ruas. Lahan penelitian terdiri dari 24 petak, setiap
petak terdapat 24 tanaman. Setiap petak berukuran 160 x 150 cm dan jarak antar
petak 50 cm. Untuk mendapatkan pertumbuhan/penutupan yang seragam dengan
cepat, stek ditanam dengan jarak lebar 25 cm dan panjang 40 cm dalam petak lahan.
Denah penanaman tanaman disajikan dalam Ilustrasi 2. Stek batang segera mungkin
ditanam, sebab bagian batangnya cepat mengering. Akar mulai tumbuh pada 24
minggu setelah tanam. Pemberian air selama pemeliharaan dilakukan bersamaan
dengan pemberian pupuk organik cair. Pemberian dilakukan sebanyak 1 liter x 24
petak lahan setiap satu minggu sekali, pemberian POC menyesuaikan perlakuan.
Total air yang digunakan dalam setiap pemupukan 24 liter/petak. Setiap pemberian
POC, 24 tanaman dalam petak disemprot sesuai perlakuan dosis pupuk secara merata.
Waktu pemberian pupuk dilakukan pada sore hari. Suhu dan kelembaban diukur tiap

13

hari dengan menempatkan termometer yang digantungkan sekitar lahan penanaman.


Rata-rata suhu harian dan kelembaban harian di lahan sebesar 24,44 0C dan 85,12.
Analisi tanah menunukkan sampel tanah mengandung total 0,28% N, 1,32% C
organik, 144,56 mg/100g P cadangan/HCL 25%, 52,2 mg/100g K cadangan/HCl
25%, P tersedia tt ppm, dan PH 8,28. Analisis tanah lengkap dan rata-rata suhu harian
serta kelembaban harian selama penelitian disajikan dalam Lampiran 1 dan 3.
Pengambilan data dilakukan mulai dari awal pemeliharaan hingga akhir
pemeliharaan. Tahap pengambilan data dimulai setelah stek ditanam 1 minggu di
lahan hingga 16 minggu. Data primer yang diambil meliputi panjang tanaman, jumlah
tunas, Produksi Segar dan Produksi Bahan Kering. Tinggi tanaman diukur dari
pangkal tanaman sampai pangkal tunas paling ujung pengukuran menggunakan
meteran. Jumlah tunas dihitung melalui pengamatan tunas yang tumbuh di batang
hijauan. Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah tunas diamati setiap 1 minggu sekali.
Defoliasi dilakukan pada saat hijauan kacang pintoi berumur 56 hari. Perhitungan
bahan kering dilakukan setelah sampel ditimbang dan dikeringkan dalam oven 1050 C
sampai beratnya konstan. Produksi bahan kering diperoleh dengan mengalikan
produksi segar hijauan dengan kadar bahan kering. Data sekunder yang diambil
meliputi data curah hujan, suhu dan kelembaban.

14

150 cm
25 cm

x x

160 cm

x x

x x

40 cm

12,5 cm x

} 20 cm

Ilustrasi 2. Jarak Penanaman Stek


3.3

Parameter yang Diamati

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan dan produksi.
Pengamatan yang dilakukan sebagai berikut:
3.3.1 Pertumbuhan
Pertumbuhan diukur dengan parameter panjang tanaman, dan jumlah tunas.
Panjang tanaman diperoleh dengan cara mengambil batang tunas terpanjang tanaman
sampai tegak lurus tanah kemudian dilakukan pengukuran secara horizontal dari

15

muncul batang di atas permukaan tanah sampai titik tumbuh tertinggi tanaman.
Jumlah tunas dihitung dengan menghitung masing-masing tunas pada setiap tanaman.
3.3.2 Produksi
Produksi yang diamati sebagai pengukuran parameter adalah Produksi Segar
dan Produksi BK (Bahan Kering) tanaman kacang pintoi.
3.4

Analisis Data
Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan RAL Faktorial. Data hasil

penelitian kemudian diolah dengan menggunakan analisis ragam (Anova) dan


dilanjutkan dengan uji Duncan (Yitnosumarto, 1991). Model matematikanya yang
menjelaskan hasil pengamatan adalah sebagai berikut:
Yijk = + i + j + ()ij + ijk
Keterangan:
Yijk

i
j
()ij
ijk

: Hasil pengamatan dari pertumbuhan hijauan kacang pintoi pada petak


percobaan ke-k, yang memperoleh kombinasi perlakuan ij (taraf
ke-i dari panjang stek dan taraf ke-j dari dosis pemupukan)
: Nilai tengah umum (rata-rata populasi) pertumbuhan hijauan kacang
pintoi (Arachis pintoi)
: Pengaruh aditif dari panjang stek ke-i
: Pengaruh aditif dari taraf pemupukan ke-j
: Pengaruh interaksi antara panjang stek ke-i dan taraf pemupukan
ke-j
: Pengaruh galat percobaan pada petak percobaan ke-k yang
memperoleh kombinasi perlakuan

16

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Pertumbuhan

4.1.1.Panjang Tanaman Arachis pintoi


Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata
(P>0,05) perlakuan panjang stek, dosis POC dan interaksi keduanya terhadap panjang
tanaman hijauan Arachis pintoi di sajikan dalam Lampiran 12 dan 13. Panjang
tanaman hijauan Arachis pintoi dapat dilihat pada Tabel 1 dan Ilusrasi 3.
Tabel 1. Panjang hijauan tanaman Arachis pintoi pada panjang stek dan dosis
POC yang berbeda
Perlakuan
Panjang Stek
2 Ruas
3 Ruas
Rataan

0
54,9
56,9
55,9

Dosis POC (ml)


5
10
54,71
53,58
57,8
59,62
56,26
56,6

15
50,8
55,68
53,24

Rataan
53,5
57,5

Hasil uji wilayah Ganda Duncan kombinasi perlakuan POC dan panjang stek
menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tidak berbeda nyata (P >0,05). Uji wilayah
Ganda Duncan terhadap perlakuan panjang stek dan dosis pupuk disajikan dalam
Lampiran 16.
Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa panjang stek 2 ruas dan 3 ruas
memiliki kemampuan yang sama dalam memanfaatkan unsur hara dan faktor

17

lingkungan. Pemanfaatan POC tidak memberikan peningkatan panjang hijauan


tanaman Arachis pintoi secara nyata (P >0,05). Pemanfaatan POC dalam pengamatan
panjang hijauan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut diduga karena
saat pemberian pupuk terjadi pencucian yang berasal dari air hujan. Zat dalam pupuk
terbawa oleh air hujan sehingga tidak banyak dimanfaatkan oleh kacang pintoi. Bulan
November April merupakan periode bulan basah dan sering terjadi hujan. Curah
hujan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Sesuai
dengan pendapat Gardner et al. (1991), yang menyatakan faktor abiotik yang terdiri
atas cahaya matahari, kecepatan angin, kelembaban udara, curah hujan, dan
kesuburan tanah merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hujan
yang terlalu sering kurang baik karena dapat menyebapkan unsur hara tanah dan
pupuk mudah larut terbawa air, juga sebaliknya jika cahaya matahari terlalu lama
dapat menyebapkan pemupukan pada tanaman cepat menguap. Hasil analisis tanah
yang disajikan dalam Lampiran 1 menunjukkan sampel tanah mengandung total
0,28% N, 1,32% C organik, 144,56 mg/100g P cadangan/HCL 25%, 52,2 mg/100g K
cadangan/HCl 25%, P tersedia tt ppm, dan PH 8,28. Diduga tanah tersebut memiliki
kandungan unsur hara kurang sehingga memerlukan pupuk untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara. Sesuai pendapat Mulyani (1999) yang menyatakan pemupukan
menambah zat pada tanah untuk melengkapi unsur hara yang tidak cukup terkandung
di dalam tanah. Curah hujan dan cahaya matahari tidak boleh berlebihan juga tidak
boleh kurang. Tanaman memerlukan cahaya matahari yang cukup untuk
pertumbuhan. Tanaman memerlukan cahaya matahari untuk melangsungkan

18

fotosintesis. Menurut Setyati (1991), pigmentasi daun dipengaruhi pleh pemupukan,


yang selanjutnya mempengaruhi jumlah energi yang diterima tanaman untuk proses
fotosintesis. Fotosintesis merupakan proses perubahan zat-zat anorganik diubah
menjadi zat- zat organik, yaitu perubahan CO2 dan H2O oleh zat hijau daun dengan
bantuan sinar matahari diubah menjadi karbohidrat dan oksigen (O2). Produk
fotosintesis selanjutnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi
tanaman, pernafasan dan untuk proses pertumbuhan. Sebagian karbohidrat yang
dihasilkan ditimbun sebagai penumpukkan biomassa dan sebagian lagi untuk
pertumbuhan tanaman yang ditunjukkan dengan penambahan panjang tanaman.
Karbohidrat yang dihasilkan dari proses fotosintesis tersebut digunakan tanaman
untuk pertumbuhan dan penyusunan jaringan tanaman, diantaranya adalah untuk
pertambahan panjang tanaman Arachis pintoi.

19

S1P1
S1P2
S1P3
S1P4
S2P1
S2P2
S2P3
S2P4

Ilustrasi 3. Kurva Panjang Tanaman Arachis pintoi Pada Panjang


Stek Dan Dosis POC Yang Berbeda

Gambar ilustrasi di atas menunjukkan kurva panjang tanaman berbentuk linear


berupa garis lurus. Gambar menunjukkan setiap minggu tanaman mengalami
pertambahan panjang. Tanaman kacang pintoi sama-sama memperlihatkan tidak ada
perbedaan terhadap peningkatan dosis POC terhadap panjang tanaman. Tidak
terdapat interaksi antara dosis POC dan panjang stek terhadap panjang tanaman.
4.1.2.Jumlah Tunas Tanaman Arachis pintoi
Hasil analisis ragam menunjukkan tidak terdapat pengaruh nyata (P>0,05)
perlakuan panjang stek, dosis POC dan interaksi keduanya terhadap jumlah tunas
hijauan Arachis pintoi. Hasil perhitungan analisis ragam jumlah tunas disajikan
dalam Lampiran 9, 10, dan 11. Pengamatan menggunakan Uji Duncan memperlihatkan

20

hasil berbeda nyata. Uji Duncan untuk pengamatan jumlah tunas disajikan dalam
Lampiran 15. Jumlah tunas hijauan Arachis pintoi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah Tunas hijauan Arachis pintoi pada panjang stek dan dosis POC
yang berbeda
Perlakuan
Panjang Stek
2 Ruas
3 Ruas
Rataan

P1
18,58
20,79
19,68

Dosis POC (ml)


P2
P3
17,5
19,08
20,63
21,67
19,06
20,38

P4
16,58
18,95
17,76

Rataan
17,94b
20,51a

Jumlah tunas hijauan Arachis pintoi menunjukkan tidak perpengaruh nyata.


Kondisi tersebut diduga kebutuhan unsur N pada tanaman tidak optimal karena
tercuci air hujan. N penting bagi tanaman legum untuk pembentukkan bagian
vegetatif tanaman, salah satunya tunas. Sesuai pendapat Fanindi et al. (2009) yang
menyatakan pembentukan tunas dipengaruhi oleh unsur N. Unsur N membantu
proses fotosintesis dengan menghasilkan klorofil yang diserap oleh tanaman, selain
itu berfungsi juga untuk proses pembentukan protein. Fotosintat yang dihasilkan
digunakan untuk pembentukan anakan/tunas. Ferguson et al. (1999) menambahkan
fungsi Nitrogen bagi tanaman adalah meningkatkan pertumbuhan tanaman, jumlah
daun dan tunas serta mikroorganisme dalam tanah. Hasil uji Duncan memperlihatkan
berbeda nyata. Jumlah tunas antara panjang stek 2 ruas dan 3 ruas perlakuan yang
terbaik terdapat pada panjang 3 ruas. Diduga panjang stek 3 ruas lebih cepat
beradaptasi pada tanah kering dibandingkan yang panjang 2 ruas. Menurut penelitian
Sinclair et al. 2007 semakin panjang tanaman memiliki kemampuan beradaptasi lebih
baik karena lebih cepat membentuk perakaran, stolon, dan daya tumbuh lebih baik.

21

4.2

Produksi Hijauan Segar dan Produksi Bahan Kering (BK)


Hasil analisis ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (P>0,05) perlakuan

panjang stek terhadap produksi hijauan segar Arachis pintoi, tapi tidak ada pengaruh
dosis POC dan interaksi POC terhadap perlakuan panjang stek terhadap Produksi
hijauan Segar. Produksi hijauan segar Arachis pintoi di sajikan dalam Lampiran 6 dan
7. Produksi Segar hijauan Arachis pintoi dapat dilihat pada Tabel 3 dan Ilustrasi 4.
Tabel 3. Berat Segar hijauan Arachis pintoi pada panjang stek dan dosis POC yang
berbeda
Perlakuan
Panjang Stek
2 Ruas
3 Ruas
Rataan

P1
1975
2527,67
2251,34

Dosis POC (ml)


P2
P3
2036,67
1899,67
2410,67
2866
2236,67
2382,84

P4
1654,33
2302,33
1978,33

Rataan
1891,42b
2526,66a

Hasil analisis ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata perlakuan panjang


stek terhadap produksi hijauan segar. Pemberian pupuk POC pada dosis 0 ml/l, 5
ml/l, 10 ml/l, dan 15 ml/l tidak dapat meningkatkan produksi bahan segar hijauan
kacang pintoi.

22

S1
S2

Ilustrasi 4. Diagram batang berat segar hijauan Arachis pintoi pada panjang stek
dan dosis POC yang berbeda

Pemberian dosis Pupuk Organik Cair pada perlakuan panjang stek 2 ruas (S1)
berturut-turut memiliki Berat Segar tertinggi pada P2, diikuti P1, P3, dan P4.
Sedangkan pada panjang stek 3 ruas (S2), terdapat pada P3, lalu diikuti P1, P2 dan
P4. Kandungan Berat Segar tertinggi terdapat pada perlakuan S2P3, sedangkan
kandungan terendah terdapat pada perlakuan S1P4. Semua level pemberian pupuk
tidak berpengaruh. Diduga pupuk POC tercuci air hujan sehingga penambahan unsur
N, P, dan K dalam tanah kurang optimum. Hasil analisis tanah memperlihatkan
cadangan unsur K sangat kurang, yakni sebesar 52,2 K cadangan / HCL 25%.
Pemberian pupuk memang mampu menambah ketersediaan unsur hara, namun jika
terjadi pencucian unsur hara tidak diserap oleh tanaman karena larut terbawa air. Hara
K bukan merupakan pembentuk senyawa organik namun penting dalam mekanisme
fotosintesis, transporstasi hara dari akar ke daun, serta translokasi asimilat dari daun

23

ke seluruh bagian jaringan tanaman. Sesuai pendapat Setyati, (1991) yang


menyatakan ketersediaan unsur hara bagi tanaman merupakan salah satu faktor
penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur hara
mempunyai peranan penting sebagai sumber energi dan penyusun struktural tanaman.
Tingkat kecukupan hara berperan dalam mempengaruhi berat segar dari suatu
tanaman. Tanpa tambahan suplai unsur hara dapat menyebabkan pertumbuhan
tanaman terganggu sehingga berat segar menjadi lebih rendah. Sitompul dan Guritno
(1995), menambahkan berat segar meliputi semua bagian tanaman yang berasal dari
hasil fotosintesis, serapan unsur hara dan air. Pemberian unsur hara dalam pupuk bagi
tanaman Arachis pintoi harus sesuai, jika kurang atau berlebih dapat menghambat
pertumbuhan. Sesuai pendapat Soepardi, (1983) bahwa pertumbuhan dan
perkembangan tanaman dapat terhambat jika unsur hara kurang dalam tanah, terlalu
lambat tersedia dan tidak diimbangi unsur lainnya.
Tabel 4.Produksi Bahan Kering hijauan Arachis pintoi pada panjang stek dan
dosis POC yang berbeda
Perlakuan
Panjang Stek
2 Ruas
3 Ruas
Rataan

P1
460,77
584,94
522,86

Dosis POC (ml)


P2
P3
307,9
481,17
447,47
640
377,69
560,59

P4
387,88
453,88
420,88

Rataan
409,43
531,57

Hasil analisis ragam menunjukkan tidak terdapat pengaruh nyata (P>0,05)


perlakuan panjang stek, dosis POC dan interaksi keduanya terhadap Bahan Kering
Arachis pintoi di sajikan dalam Lampiran 8 dan 14. Salah satu faktor yang berperan

24

dalam produksi berat kering adalah fotosintesis tanaman. Diduga pemupukan tercuci
air hujan sehingga serapan unsur hara untuk fotosintesis tanaman belum optimal.
Menurut Goldsworthy and Fisher (1992), menyatakan bahwa 90 % berat kering
tanaman adalah hasil fotosintesis. Proses fotosintesis yang terhambat akan
menyebabkan rendahnya berat kering tanaman. Dwijosepoetro (1981) menambahkan,
bahan kering tanaman sangat dipengaruhi oleh optimalnya proses fotosintesis. Berat
kering yang terbentuk mencerminkan. Banyaknya fotosintat sebagai hasil fotosintesis,
karena bahan kering sangat tergantung pada laju fotosintesis. Asimilat yang lebih
besar memungkinkan pembentukan biomassa tanaman yang lebih besar. Pencucian
pupuk oleh air hujan selain menghambat terserapnya unsur hara untuk fotosintesis
juga menghambat pembentukkan bintil akar. Sesuai pendapat Sumarsono (2004)
bahwa Produksi bahan kering tanaman salah satunya dipengaruhi oleh bintil akar,
semakin banyak jumlah bintil akar tanaman legum maka dapat meningkatkan
Produksi bahan kering karena meningkatkan serapan nitrogen tanaman.

25

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
panjang stek dan dosis Pupuk Organik Cair dan interaksi keduanya memberikan
respon yang sama terhadap panjang hijauan, dan produksi Berat Kering hijauan
Arachis pintoi. Perlakuan panjang stek yang berbeda memberikan pengaruh nyata
terhadap jumlah tunas dan Berat Segar Hijauan meskipun tidak ada pengaruh nyata
pada pemberian dosis POC dan kombinasi antar perlakuan. Panjang tanaman,
produksi segar dan produksi berat kering terbesar terdapat pada perlakuan S2P3,
sedangkan jumlah tunas terbanyak pada perlakuan S2P1. Panjang stek 3 ruas (S2)
dapat memberikan produksi hijauan yang lebih besar daripada perlakuan panjang stek
2 ruas (S1), dengan hasil masing-masing sebesar panjang tanaman 59,62 cm, jumlah
tunas 21,67 buah, berat segar 2866 g dan produksi berat kering sebesar 640 g.
5.2. Saran
Pemberian dosis unsur esensial bagi tanaman agar pertumbuhannya optimal
harus sesuai kebutuhan tanaman. Apabila kurang atau berlebih menimbulkan efek
negatif. Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis dan kebutuhan unsur
hara bagi Arachis pintoi.

26

DAFTAR PUSTAKA
Asman. A. 2004. Kacang Pintoi Melindungi Permukaan Tanah dari Tetesan Hujan.
Diakses: Hari Senin 11-07-2011, Pkl: 12.30 WIB.
Cook, B.G. (1992) Arachis pintoi Krap. & Greg., nom. nud. In: 't Mannetje, L.
and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages.
pp. 48-50. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).
Dwijosepoetro, D. 1981. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Fanindi A. Yohaeni S. Sutedi E. dan Oyo. 2009. Produksi Hijauan dan Biji Legiuminosa
Arachis pintoi Pada Berbagai Dosis Pemupukan. Balai Penelitian Tanah, Bogor.
Ferguson J.E and D.S Loch, 1999. Arachis pintoi In Australia and Latin America, In:
Forage Seed Production Tropical and Subtropical Species Vulume 2. LOCH,
D.S. and J.E. FERGUSON (Ed) Oxon UK. CABI Publishing. PP. 427-434.

Gardner, F. P., R. B. Pearce and R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi tanaman Budidaya.


Cetakan Pertama. Universitas Indonesia, Jakarta (diterjemahkan oleh : H.
Susilo, Subiyanto dan Handayani).
Goldsworty, P. R. dan N. M. Fisher. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tanaman
Tropik. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan Oleh
Tohari).
Hardjoko. 2000. Pengkajian Pupuk Organik Cair (POC) Biogreneex Pada Tanaman
Sawi di Kabupaten Boyolali. Fakultas Petanian Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Kastono, D. 1999. Budidaya Tanaman Semusim: Bagian Tembakau. Diktat Mata
Kuliah Budidaya Tanaman Semusim. Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
(Tidak Dipublikasikan).
Kristanto, B. A. 1990. Buku Pegangan Kuliah Mahasiswa. Mata Kuliah Ilmu
Kesuburan Tanah. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Krapovickas, A. and W. C. Gregory. (1994) Taxonoma del gnero Arachis
Leguminosae). (1994) Bonplandia, VIII, 81-83.
Lingga, P. dan Sumarsono. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya,
Jakarta.

27

Mazwar. 2004. Kacang Hias (Arachis pintoi) Pada Usaha Tani Ladang Kering. Balai
Penelitian Tanah. Bogor.
Mcllroy, R. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. PT Pradya
Paramitha, Jakarta (diterjemahkan oleh Susetyo, Sudarmadi, Kismono, dan
Harini).
Mulyani, M. S. 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Cetakan ke-3, Rineka Cipta,
Jakarta.
Setyamijaya, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV Simplek. Jakarta.
Setyati, H. S. 1991. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sinclair K. Lowe K. F and Pembleton K.G. 2007. Defoliation and Height an The
Growth and Quality of Arachis pintoi CV. Amarillo. Vol. 41, 260-268.
Sitompul, S. M. dan Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada
University Press.
Smith, D., J. B. Raymond and F. W. Richard. 2006. Forage management. Fifth Ed.,
Kendall/Hunt Publishing Company. Dubuque. Iowa.
Soepardi. G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Sumarsono. 2004. Ketahanan Legum Kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissa)
Terhadap Pemupukan Kadar Lengas Tanah dan Respon Perbaikan Melalui
Pemupukan Fosfat. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro, Semarang.
Sutrisno, D. 1983. Defoliasi and Harvesting dalam Pelaksanaan Latihan Hijauan
Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Williams, C. N. J.O. Uzo dan W. T. H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran Daerah
Tropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Yitnosumarto, S. 1991. Percobaan Perancangan Analisis dan Interpretasinya. Edisi
pertama. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.