Anda di halaman 1dari 78

Rukun Islam Dalam Perspektif

Hakikat
(Hakikat Syahadat)
Oleh : Bocah Angon
Mercubuanaraya.com

Pembuka
Banyak dari umat islam pernah mendengar slogan " jadilah islam secara kaffah." Apakah
beragama itu harus "kaffah"? "Kaffah" itu artinya adalah menyeluruh. Jawaban yang harus
diberikan adalah Wajib. Kenapa?, satu alasan yang pasti adalah agar kita, yang mengaku
sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan sebagai manusia yang beragama
mampu dan bisa memahami orang lain. Kenapa demikian?, Karena setiap agama
memberikan tuntunan untuk menjadi manusia yang baik.
Dengan manusia menjadi kaffah tentunya dalam memahami ajaran yang dianutnya akan
menjadikannya menjadi manusia yang universal. Manusia yang tidak hanya memahami apa
yang dianut olehnya akan tetapi juga memahami apa yang di yakini oleh orang lain. Sehingga
orang tersebut tidak termasuk golongan orang-orang yang picik. Orang yang picik adalah
orang yang mengikuti keinginan dirinya sendiri tanpa memperhatikan apa yang diinginkan
orang lain.

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi
seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orangorang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus 10 : 99)

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan
kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. Yunus 10 : 100)
Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu Rukun Islam. Ibarat sebuah rumah, Rukun Islam
merupakan tiang-tiang atau penyangga bangunan keislaman seseorang. Di dalamnya tercakup
hukum-hukum Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Sesungguhnya Islam
itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan
puasa di buIan Ramadhan (HR. Bukhari Muslim).
Rukun Islam merupakan landasan operasional dari Rukun Iman. Belum cukup dikatakan
beriman hanya dengan mengerjakan Rukun Islam tanpa ada upaya untuk menegakkannya.
Menegakkannya adalah dengan cara menjalankan yang termaktub dalam rukun iman ataupun
rukun islam. Akan tetapi apabila menjalankan tanpa tahu esensi terkandungnya (makna
sebenarnya) tentunya apa yang dilakukan menjadi sebuah kesiasiaan.
Syahadat adalah persaksian manusia saat masih dialam RUH hingga DUNIA terhadap
eksistensi Tuhan

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami
menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al A'raaf 7 : 172 )
Seseorang yang telah menyatakan Laa ilaaha ilallaah berarti telah siap bertarung melawan
segala bentuk ilah di luar Allah di dalam kehidupannya. Allah menegaskan hal tersebut dalam
salah satu firman-NYA ;

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah
beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al 'Ankabuut 29 : 2)
Makna terkandung dengan melawan segala bentuk ilah diluar Allah adalah melawan
apapun yang membuat ilah kita berubah, baik yang secara kasat mata kelihatan ataupun
tidak. Secara kasat mata, seperti : Harta, Tahta, dan wanita. Secara tidak kelihatan seperti sifat
kesombongan, keangkuhan, dsb.
Banyak orang mengaku berTuhan, akan tetapi dalam tindakkannya sama sekali tidak
mencerminkan kalau orang tersebut berTuhan, seperti membikin keonaran atas nama agama,
Korupsi, kerusakan, dll.
Saat ditempa oleh Tuhan mengeluh bahkan menghujat Tuhan, sebagai contoh Kejam
sekali engkau Tuhan, telah memberikan ujian dan cobaan segini berat, bencana alam, hutang,
kesengsaraan, dll. Hal ini secara jelas menegaskan, bahwa Tuhan dari orang tersebut adalah
uang, harta, tahta, wanita, dll.
Selain itu, apabila kita melakukan kilas balik terhadap sejarah perkembangan agama dunia
hingga nama-nama besar pembawanya, tidak pernah beliau-beliau mengajarkan kekerasan.
Bahkan lebih jauh lagi apabila kita lihat didalam kitab-kitab suci masing-masing agama tidak
pernah memerintahkan untuk memusuhi dan bahkan menghancurkan orang yang berbeda
iman. Semuanya menganjurkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat terhadap sesama
dan alam semesta.
Tapi kenapa fakta yang terjadi sekarang ini adalah saat ada perbedaan khususnya tentang
keyakinan, dipastikan yang terjadi adalah penghancuran atau pengrusakan. Sehingga hal ini
akan menimbulkan pertanyaaan yang baru, antara lain adalah apakah agama yang di anut
oleh manusia yang melakukan penghancuran, pengrusakan adalah agama yang benar?,
apakah Tuhan dalam berfirman tidak jelas, sehingga dalam prakteknya manusia menjadi
salah kaprah?, apakah yang salah manusianya?, atau bahkan kesemua pertanyaan diatas
benar semua?
kadang kita terlalu cepat memagari diri dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada
dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat mengkafirkan. Bukan
mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini,
apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja
memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.

Padahal, dalam Quran pun Allah menjelaskan bahwa keberagaman adalah tanda dari-Nya
juga.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar Ruum 30 : 22)
Dengan beberapa bahasan diatas, dan dengan izin Tuhan kami beranikan diri untuk menulis
hal ini, dengan harapan kita memahami dan meyakini segala hal yang telah digariskan Tuhan
untuk manusia. Sehingga dalam menjalani hidup ini kita, manusia, sebagai Utusan-NYA
mampu menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab sebagai khalifah, sebagai manusia pilihan
guna merakhmati seluruh alam.
Walaupun bahasan tentang RUKUN ISLAM DALAM PERSPEKTIF DUNIA HAKIKAT
dikupas dalam kupasan islami, akan tetapi makna terkandung dari kupasan ini tidak hanya
untuk orang yang beragama islam saja, akan tetapi untuk semua umat manusia yang sedang
berjalan dalam memahami kebesaran Tuhan. Sekaligus untuk menjawab berbagai pertanyaan
tentang islam sendiri yang dilontarkan oleh rekan-rekan perjalanan , baik itu dari rekanrekan islam ataupun rekan-rekan yang mengambil jalan berbeda.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Sura An-Nahl 16 : 125)
[845]. Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang
hak dengan yang bathil.

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi
orang-orang yang beriman. (QS. Adz Dzaariyaat 51 : 55)

2. Derajat Orang Berilmu


Tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti daripada sholatnya orang yang tidak berilmu
Imam Syafii pernah berkata: menuntut ilmu lebih afdhol daripada shalat nafil (shalat
tahajjud)
Allah berfirman : Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak
berilmu ? Hanyalah orang yang berakal yang bisa mengambil pelajaran. (QS. Az-Zumar 39 :
9)
Imam Bukhari berkata: Ilmu itu sebelum berkata dan beramal
Tentu saja tidak akan pernah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu
sebagaimana tidak sama pula orang yang hidup dengan orang yang mati, yang mendengar
dengan yang tuli, dan orang yang melihat dengan orang yang buta.
Ilmu adalah cahaya yang bisa dijadikan petunjuk oleh manusia sehingga mereka bisa keluar
dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Ilmu menjadi penyebab diangkatnya derajat
orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan hamba-Nya.:Allah akan
mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu
beberapa derajat. (QS. Al Mujadalah 58 : 11).
Seorang hamba sejati adalah orang yang beribadah kepada Allah atas dasar ilmu dan telah
jelasnya kebenaran baginya.Katakanlah ! :Inilah jalanku yang lurus, aku mengajak manusia
kepada Allah atas dasar ilmu yang aku lakukan beserta pengikutku. Maha Suci Allah dan aku
bukanlah termasuk orang musyrik. (QS. Yusuf 12 : 108).

Seorang manusia yang bersuci dan dia tahu bahwa dia berada dia atas cara bersuci yang
sesuai dengan hukum syariat, apakah orang ini sama dengan orang yang bersuci hanya karena
dia melihat cara bersuci bapaknya atau ibunya ? Manakah yang lebih sempurna dalam
melakukan ibadah diantara keduanya ?
Dengan ilmu seseorang beribadah kepada Allah berdasarkan bashirah, maka hatinya akan
selalu terpaut dengan ibadah dan hatinyapun akan terterangi dengan ibadah itu sehingga dia
melakukannya berdasarkan hal itu dan menganggap bahwa hal itu sebagai ibadah dan bukan
hanya sebagai adat (kebiasaan).
Dan diantara keutamaan ilmu yang terpenting adalah sebagai berikut :

Pertama :

Ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar, yang
mereka wariskan hanya ilmu, maka barang siapa yang telah mengambil ilmu maka berarti dia
telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi.
Kedua :
Ilmu itu abadi sedangkan harta adalah fana (akan rusak). Contohnya adalah Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu, dia termasuk sahabat yang faqir sehingga dia sering terjatuh mirip
pingsan karena menahan lapar. Dan Demi Allah- saya bertanya kepada kalian apakah nama
Abu Hurairah selalu disebut di kalangan manusia pada zaman kita sekarang atau tidak ? Ya,
namanya banyak disebut sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan
hadis-hadisnya, karena ilmu akan abadi sedangkan harta akan rusak . Maka Engkau hai para
penuntut ilmu wajib memegang teguh ilmu. Di dalam suatu hadis Nabi Shalallahu Alaihi wa
Salam menyatakan : Apabila anak Adam mati maka putuslah segala amalnya kecuali tiga.
Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan otang tuanya.
Ketiga :
Pemilik ilmu tidak merasa lelah dalam penjaga ilmu. Apabila Allah memberi rizki
kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati yang tidak membutuhkan
peti, kunci, atau yang lainnya. Dia akan terpelihara di dalam hati dan terjaga di dalam jiwa
dan dalam waktu yang bersamaan diapun menjagamu karena dia akan memeliharamu dari
bahaya atas izin Allah. Maka ilmu itu akan menjagamu sedangkan harta engkaulah yang
harus menjaganya yang harus engkau simpan di peti-peti yang terkunci, sekalipun demikian
hatimu tetap tidak tenang.
Keempat :
Dengan ilmu manusia bisa menjadi para saksi atas kebenaran. Dalilnya adalah firman
Allah Subhanahu wa Taala :

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali 'Imran 3 : 18)
[188]. Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.
Engkau menjadi orang yang bersaksi bagi Allah bahwa tiada sesembahan yang sebenarnya
kecuali Dia beserta para malaikat yang menyaksikan keesaan Allah Subhanahu wa Taala.

Kelima :
Ahli ilmu termasuk salah seorang dari dua golongan ulil amri. yang wajib ditaati
berdasarkan perintah Allah. Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul
dan ulil amri diantara kalian..(QS. An Nisa 4 : 59).
Ulil amri disini mencakup ulil amri dari kalangan para penguasa dan para hakim, ulama dan
para penuntut ilmu. Maka wewenang ahli ilmu adalan menjelaskan syariat Allah dan
mengajak manusia untuk melaksanakannya sedangkan wewenang penguasa adalah
menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.
Keenam :
Ahli ilmu adalah orang yang melaksanakan perintah Allah Taala sampai hari kiamat.
Yang menjadi dalil tentang hal itu adalah hadis Muawiyah Radhiyallahu Anhu bahwa dia
berkata : Saya mendengar Rosul Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda : Barang siapa yang
dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuat orang itu faham tentang
agamanya. Saya hanyalah Qosim dan Allah Maha Pemberi. Dan di kalangan ummat ini akan
selalu ada sekelompok orang yang selalu tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan
dimadharatkan oleh orang-orang yang munyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah.
(HR. Bukhari).
Imam Ahmad telah berkata tentang kelompok ini : Bila mereka bukan ahli hadis maka saya
tidak tahu lagi siapa mereka itu.
Al Qadhi Iyyadh Rahimahullah berkata : Maksud Imam Ahmad adalah ahli sunnah dan
orang yang meyakini madzhab ahli hadis.
Ketujuh :
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam tidak pernah memotivasi seseorang agar iri
kepada orang lain tentang suatu nikmat yang Allah berikan kecuali dua macam nikmat :
1). Mencari ilmu dan mengamalkannya.
2). Pedagang yang menjadikan hartanya sebagai alat untuk memperjuangkan Islam.
Sebuah hadis dari Abdullah Bin Masud Radhiyallahu Anhu dia berkata bahwa Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda : Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal : seseorang
yang diberi harta oleh Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran. Dan
seseorang yang dibeli ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya.
Kedelapan :
Diterangkan dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Musa Al
Asyary Radhiyallahu Anhu dari nabi Shalallahu Alaihi wa Salam , beliau bersabda :

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah telah mengutus aku dengan membawa keduanya
adalah seperti hujan yang menimpa bumi,maka diantara bumi itu ada tanah yang baik
(gembur) yang menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rumput yang banyak. Ada
pula tanah yang keras yang bisa menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia
dari tanah itu,mereka minum dan bercocok tanam. Hujan pun menimpa tanah yang lain yaitu
Qiiaan yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput. Demikianlah
perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bisa memberi manfaat dari apa yang
Allah telah mengutusku dengan membawa ajaran ini , lalu dia mengetahui dan
mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya untuk hal
itu dan orang yang tidak mau menerima petunjuk dari Allah yang aku diutus dengan
membawa petunjuk itu.
Kesembilan :
Ilmu adalah jalan menuju surga. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Abu
Hurairoh Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda : Dan
barang siapa yang menelusuri jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan
baginya jalan menuju surga..
Kesepuluh :
Diterangkan dalam sebuah hadis Muawiyah Radhiyallahu Anhu, dia berkata : Telah
berkata Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam : Barang siapa yang dikehendaki
kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuat orang itu faham tentang agamanya.
Artinya Allah akan menjadikan orang itu faqih tentang agama Allah Azza Wajalla. Dan faqih
tentang agama Allah bukanlah maksudnya memahami hukum-hukum amaliyah tertentu
menurut ahli ilmu berdasarkan ilmu fiqih saja akan tetapi maksudnya adalah : ilmu tauhid dan
ushuluddin dan apa-apa yang berkaitan dengan syariat Allah Azza Wajalla. Seandainya tidak
ada keterangan dari kitab dan sunnah kecuali hadis ini saja tentang keutamaan ilmu, maka
inipun sudah sempurna dalan memberikan dorongan untuk mencari ilmu syariat dan
pemahaman terhadapnya.
Kesebelas :
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang hamba, maka diapun akan
mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabbnya dan bagaimana cara bergaul dengan
sesama hamba-Nya, maka jalan hidupnya akan selalu berada di atas ilmu dan bashirah.
Kedua belas :
Orang yang berilmu adalah cahaya yang menerangi manusia dalam urusan agama dan
dunia mereka. Tidaklah samar dalam ingatan kebanyakan manusia tentang orang yang telah
membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil lalu dia bertanya tentang orang yang paling
berilmu dimuka bumi lalu dia ditunjukkan kepada seorang abid (ahli ibadah) lalu dia bertanya
apakah dia bisa tobat ? Sio abid menganggap dosanya terlalu besar sehingga dia menjawab :

Tidak ! Lalu dibunuhnya si abid tadi sehingga genap 100 orang, lalu dia pergi ke seorang
alim (orang yang berilmu) lalu dia bertanya kepadanya maka si alim menjawab bahwa dia
bisa tobat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan tobatnya, lalu dia
menunjuki orang itu ke satu negeri yang penduduknya salih agar dia datang ke negeri itu, lalu
diapun pergi, tapi di tengah jalan maut menjemput. Kisah ini amat masyhur.
Perhatianlah perbedaan antara seorang alim dan seorang jahil.
Ketiga belas :
Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat ahli ilmu di akhirat dan di dunia. Adapun di
akhirat maka Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan dawah dan amal yang mereka
lakukan. Sedangkan di dunia Allah akan mengangkat mereka di kalangan hamba-Nya sesuai
pula dengan amal mereka. Allah berfirman : Allah akan mengangkat orang-orang yang
beriman diantara dan yang berilmu beberapa derajat. (QS. Al Mujadalah : 11).

3. Tahapan
Allah

Perjalanan

Menuju

Seperti yang telah diketahui dalam dunia spiritual islam terbagi dalam 4 (empat) tingkatan.
Tingkatan tersebut adalah Syariat, Tarikat, Hakekat dan Makrifat. (Baca : Bima dan
Dewaruci (Serat Dewa Ruci)). Dalam tiap tingkat tentunya mengandung arti dan makna
masing-masing.
Sebelum masuk dalam bahasan inti sesuai judul, maka kita kupas dulu makna tiap tingkat
tersebut dalam dunia hakikat atau makna. Hal ini dilakukan agar apa yang akan dibahas
selanjutnya mengalir sesuai makna hakekat (makna sebenarnya). Dalam dunia olah spiritual
khususnya perjalanan menuju Tuhan disimbolkan dengan buah kelapa ataupun jari tangan.
Hal ini menggambarkan segala sesuatu yang terhampar di alam semesta ini adalah sebuah
perlambang bagi manusia (hubungan makro kosmos dan mikro kosmos) dan alam semesta
dengan segala isinya adalah merupakan guru yang baik.

3.1 Syariat
Tingkat pertama adalah syariat. Dalam tingkat ini ibarat kulit luar kelapa (red jawa :
Sepet), tebal, banyak serat dan rapat. Syariat ketat dengan aturan-aturan dan hukum, seperti
aturan dan hukum dalam beribadah, aturan dan hukum perkawinan, dll. Disimbolkan juga
dengan jari kelingking.

Gambar 1. Kulit Kelapa (tebal dengan serat yang rapat) sebagai simbolisasi dari tingkat
pertama (syariat)

3.2 Tarikat
Tingkat kedua disebut dengan Tarikat. Tingkat ini keras laksana batok kelapa,
karena penuh dengan ritual, seperti shalat, mengaji, puasa, dzikir, dll. Pada tahap ini
disimbolkan dengan jari manis. Hal ini mengisyaratkan apabila seorang spiritualis meyakini
dengan salah satu metode (shalat, puasa, dzikir, bertapa, semedi, dll), maka dia akan
mendapatkan ketenangan.

Gambar 2. Batok Kelapa bertekstur Keras, sebagai perlambang tingkat pencapaian yang
penuh dengan ritual

2.3

Hakekat

Tingkat ketiga adalah Hakekat. Pada tingkat ini laksana daging kelapa, terlalu tua tidak
enak apabila dimakan, terlalu muda juga tidak enak. Pada tahap ini seorang spiritualis
dituntut untuk mampu dan bisa seimbang.

Gambar 3. "Enak dan tidaknya daging kelapa" sebagai perlambang tingkat Hakekat

Gambar 4. Simbol Keseimbangan

Seperti jari tengah, dari kelima jari dia paling tinggi dengan posisi ditengah-tengah. Apabila
pada tahap ini seorang spiritualis tidak bisa seimbang, maka manusia yang sampai pada
tahap ini akan merasa tinggi hati, sombong. Karena merasa paling pintar, paling sakti,
dll.Sehingga saat di posisi inilah penentuan bagi sang spiritualis, apakah dia bisa melanjut ke
tahap berikutnya atau berhenti pada tingkat tersebut atau bahkan akan jatuh kebawah.

Gambar 5. Simbolisasi Orang Yang Tinggi Hati, Sehingga Selalu Melecehkan sesama

3.4

Makrifat

Tingkat keempat adalah Makrifat. Pada Tahap ini disimbolkan dengan kesegaran air
kelapa. Setelah menginjak tahap ini, seorang spiritualis akan selalu merasakan kesegaran
dalam setiap gerak dan langkahnya. Laksana meminum air dari kelapa, kesegarannya
merasuk kedalam jiwa dan raga.

Gambar 6. Kesegaran air kelapa sebagai hasil dari sebuah pencapaian pada tingkat makrifat

"Pada tahap ini kebenaran sejati akan terkuat. Seperti jari telunjuk yang mampu menunjukkan
mana yang salah dan mana yang benar"

Gambar 7. Jari telunjuk sebagai simbol orang yang telah sampai pada maqam Makrifat, dia
mampu menunjukkan kebenaran sejati (salah satu makna dari gerakan-sholat)
Dikarenakan kebenaran yang disampaikannya adalah kebenaran sejati, maka sering orang
menanggapi kebenaran sejati itu dengan ketidak kepercayaan, bahkan orang yang telah
sampai pada tahap ini sering disebut sebagai orang gila, orang sesat bahkan kafir. Karena apa
yang disampaikannya banyak yang tidak diterima oleh pemikiran dan faham yang dianut oleh
khalayak ramai.
Sebagai contoh adalah perjalanan Musa untuk belajar kepada Khidir. Nabi khidir
menyampaikan pelajarannya dengan Rasa, sedangkan Nabi musa menerima pelajaran
tersebut dengan menggunakan Logika. Sehingga singkat cerita Nabi Musa selalu bertanya
dan komplaint dengan hal-hal yang dilakukan oleh Khidir. Sehingga gagalah musa dalam
belajar kepada Khidir. (baca : Perjalanan Nabi Musa&Kisah Nabi Khidir)

3.5 Manusia Sejati


Banyak kalangan yang meyakini setelah manusia sampai pada tingkat keempat berarti
selesai sudah tugasnya didunia. Apakah memang demikian? Jawabannya adalah Belum!!!!.
Merujuk pada tujuan Tuhan dengan menciptakan dan menurunkan manusia sebagai
khalifahnya adalah untuk merakhmati seluruh alam, sehingga tingkat keempat (Makrifat)
merupakan sebagai garis start/awal bagi manusia untuk menjalankan misi dari Tuhan,
Merahmati Seluruh Alam atau Hamemayu Hayuning Bawano dan bukan sebagai garis akhir /
garis finish.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(QS.Al-Anbiya21 : 107)
Agar diri pribadi mampu melaksanakan misi dari Tuhan seperti tersebut diatas, hal yang
mendasar adalah manusia tersebut harus benar-benar faham dan mengerti akan siapa yang
menciptakannya, dari mana kita berasal, kemudian memahami diri pribadi dengan tugas
yang diembannya hingga kemana akan kembali, ke surga atau neraka atau kembali pada
Tuhan. (baca : Sangkan Paraning Dumadi).
Untuk menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang faham dan mengerti akan maksud Tuhan
dengan menurunkan manusia ke muka bumi tentunya ada banyak hal yang harus ditempuh.
Salah satunya dengan cara olah spiritual seperti yang telah dilakukan oleh Para Nabi, Wali
serta kekasih Tuhan yang lain. (Sholat Daim)
Hal ini digambarkan seperti perjalanan Nabi Muhammad. Nabi mengenal Tuhannya dulu
baru bersyariat atau bermasyarakat (baca : Awal Beragama adalah Mengenal Tuhannya).
Di tanah jawa juga ada seorang wali yang melakukan proses spiritual seperti Nabi
Muhammad, beliau mendapatkan gelar sebagai wali glausul alam, yaitu Sunan Kalijaga.
Proses pencapaiannya sama, yaitu dengan mengenal Tuhannya dulu baru bermasyarakat.
(baca : Sangkan Paraning Dumadi).
Apakah kita mengakui bahwa Nabi Muhammad sebagai Panutan???!, kalau memang
jawabannya adalah YA!!!, kenapa kita tidak melakukan perjalanan seperti beliau?!!!!.
Laksana mengidolakan artis, apapun yang dipakai hingga tingkah polah dari artis tersebut

pasti diikuti oleh fansnya. Untuk itu tanyakan pada diri sendiri Apakah saya mengidolakan
nabi Muhammad apa tidak?
Karena tingkat keempat merupakan garis awal praktek lapangan maka harus naik lagi ke
peringkat kelima. Tingkat terakhir adalah tingkat kelima, dimana manusia telah melewati
tingkat pertama hingga tingkat keempat dan apabila mampu menggulungnya, maka dia
menjadi manusia sempurna yang disebut dengan insan kamil / Muhammad / Manusia
Sejati, yang disimbolkan dengan jempol tangan.

Gambar 8. Simbol bagi manusia yang mampu menggulung seluruh tahapan dalam proses
mengenal Tuhan

Setelah seorang manusia mencapai tingkat ini tugasnya adalah menyampaikan cahaya
kepada siapa saja, tanpa memandang agama, asal, suku, bangsa bahkan strata atau status
sosial. Namun apabila diri pribadi manusia yang sudah dalam tingkat ini, dan dia tidak
menjalankan hal tersebut, maka dia akan dihinakan, baik itu oleh manusia bahkan oleh
Tuhan dengan disimbolkan dengan jari jempol tangan yang dibalik. Maka, SEBENARNYA
PADA TINGKAT KELIMA INILAH TINGKATAN YANG PALING BERAT bagi manusia
dalam menjalankan TITAH Tuhan sebagai Khalifah didunia ini.

Gambar 9. Jari jempol terbalik sebagai Simbol dari seorang spiritualis yang jatuh

4. Rukun Islam Dalam Perspektif


Dunia Makna
Setelah para pembaca memahami hal diatas, marilah kita masuk pada pokok bahasan
utama,
yaitu
Rukun
Islam
dalam
Perspektif
Dunia
Makna.
Dalam memasuki suatu organisasi bahkan hal terkecil seperti komunitas tertentu kita sebagai
orang baru pasti akan dikenakan ketentuan-ketentuan khusus terkait kelompok itu. Hal
demikian berlaku karena ketentuan-ketentuan tersebut merupakan suatu identitas dari suatu
kelompok . Demikian juga dalam kehidupan bereligi.
Dalam agama Islam salah satu ketentuan yang dalam aplikasinya akan menjadi suatu
identitas dari pengikutnya disebut dengan Rukun Islam. Sehingga orang akan dikatakan
sempurna sebagai orang islam apabila telah dan mampu menjalankan Rukun Islam tersebut.
Rukun Islam tersebut adalah :
a. Syahadat
b. Sholat
c. Puasa
d. Zakat
e. Haji

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu. (QS. Al-Baqarah 2 : 208)
Dari ayat al baqarah diatas jelas sekali bahwa yang di panggil pertama kali adalah orangorang yang beriman, kemudian islam dan larangan mengikuti langkah-langkah setan.
Bukannya islam dulu, kemudian orang beriman. Apakah maksudnya???

Hal ini apabila kita fahami maksudnya adalah semua orang beriman adalah orang islam.
Jadi islam bukanlah justifikasi milik satu kelompok atau golongan saja. Akan tetapi islam
adalah kelompok yang universal bagi tempatnya orang-orang beriman. Untuk lebih jelasnya
baca : Hakekat Iman, Islam dan syetan.
Sehingga pemaknaan terkait rukun islam diatas haruslah pemaknaan yang universal,
pemaknaan yang lugas, tanpa tedeng aling-aling (red jawa : tanpa ditutup-tutupi) dengan
tanpa memihak satu golongan.

4.1 Syahadat
4.1.1 Definisi Syahadat
Kata syahadat dalam bahasa arab diambil dari kata musyahadah yang artinya
melihat dengan mata kepala. Syahadat adalah mengungkapkan isi hati. Oleh karena itu,
syahadat haruslah melihat dengan mata kepala sendiri sehingga diri pribadi mengandung
keyakinan hati yang kokoh dan diungkapkan secara batin dan lisan. Maka, orang yang
bersyahadat Asyahadu an Laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah
berarti ia mengakui dengan lisan dan hati secara yakin dan ia melihat dengan mata kepala.
(baca : Hakekat Iman)

4.1.2 Syahadat tauhid


Syahadat (persaksian) ini memiliki makna mengucapkan dengan lisan, membenarkan
dengan hati lalu mengamalkannya melalui perbuatan. Adapun orang yang mengucapkannya
secara lisan namun tidak mengetahui maknanya dan tidak mengamalkannya maka tidak ada
manfaat sama sekali (kesiasiaan) dengan syahadatnya.
Seperti burung beo yang pandai berkata-kata, saat ditanya akan maksud apa yang
dibunyikan, malah si burung akan mengulangi kata-katanya tersebut. Bahkan banyak dari
orang-orang perjalanan yang telah punya nama besar menyampaikan kebanyakan orang
islam seperti seorang pemanah burung, ribuan burung ada didepan mata, akan tetapi tidak
jelas sasarannya, yang penting memanah.
Sayangnya kata-kata mutiara tersebut sering diartikan menghina atau mencemooh islam.
Padahal apabila ditelaah mendalam, kata-kata tersebut memiliki makna yang sangat luar biasa
yaitu agar kita sebagai orang islam benar-benar tau, faham dan meyakini sepenuh hati dengan
apa yang dilakukan. Makna terkandung yang lain adalah KALAU USUL JANGAN ASAL,
KALAU ASAL JANGAN USUL.

Harapan tersembunyi dari pesan tersebut adalah diharapkan umat islam mengerti,
memahami apa yang dilakukan sehingga akan menjadi keyakinan 100% bulat penuh (Haqul
Yaqin).

Arti secara bahasa adalah "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah
Marilah kita kupas satu persatu kata demi kata dalam syahadat ketuhanan ini dengan tanpa
mengurangi makna syariat yang telah di yakini sebagaian besar pemeluk agama islam.

4.1.2.1 Bersaksi
Bersaksi, arti kata ini adalah melihat dengan kepala mata sendiri, baru setelahnya akan
bersaksi.

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih
buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. Al-Israa 17: 72)

Melihat dengan kepala mata sendiri, baru setelahnya akan bersaksi. Lantas kalau begitu,
bagaimanakah cara melihat Tuhan????, caranya hanya satu, yaitu POTONG LEHER.
Maksud dari potong leher adalah janganlah memakai logika, jangan selalu memakai kepala,
akan tetapi menggunakan RASA.
Bagaimana cara agar kita bisa menggunakan RASA?, caranya hanya satu, yaitu dengan
mempelajarinya dari seorang Pembimbing Spiritual yang mengerti dan memahami tata cara
dalam mempelajari Rasa ini. (Baca : Urgensi Mursyid Dalam Tarekat)
Alasan kita harus mencari Pembimbing adalah agar kita sebagai seorang perjalanan
spiritualtidak salah dalam melangkah. Karena Perjalanan menuju pulang atau Journey To
The West penuh dengan liku-liku. Laksana Gunung dari kejauhan indah, akan tetapi saat di
depanya penuh dengan semak berduri, jurang, hewan buas bahkan tebing yang tinggi dan
terjal.

Seperti Nabi Adam dibimbing langsung oleh Tuhan, seperti tertuang dalam surat al baqarah
ayat 31 berikut ini ;

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian


mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama
benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al Baqarah 2 : 31)
Nabi Adam pun menjadi guru untuk para malaikat. Tertuang dalam Al Baqarah ayat 33
berikut ini ;

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka
setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu," (QS. Al Baqarah 2 : 33)

Kenapa dalam perjalanan spiritual dibutuhkan seorang Pembimbing bukannya seorang


guru???, sebab apabila guru yang mengajarkan, maka seorang anak didik dalam perjalanan
spiritual tidak akan jadi!. Mengapa demikian?, karena seorang guru dalam pengajarannya
menggunakan metode Letter Leg, A adalah A.
Sedangkan seorang pembimbing laksana seorang Ibu yang sedang membimbing anaknya
dengan sabar untuk belajar berdiri dan berjalan. Sehingga hasilnya tergantung dari si Anak.
Kenapa demikian?, hal ini digambarkan oleh perjalanan dari istri nabi ibrahim (Hajar) dalam
mencarikan anaknya (ismail) air minum. Hajar berlari kecil dari bukit sofa ke marwah dan
dilakukan berulang. Pada ujung akhir perjalanan pencarian air, ternyata yang mendapatkan air
adalah ismail sendiri dengan menjejakkan tumitnya ke Tanah.
Nabi Muhammad pun membuktikan bahwa dia adalah seorang pembimbing spiritual, yaitu
terkait perintah sholat.

Allah berfirman Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka
sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk MENGINGAT-KU. (QS. At Thoha 20: 14)
Saat ditanya oleh kuamnya bagaimanakah tata cara sholat?, nabi menjawabnya Sholatlah
kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat ". (HR. Bukhari).
Kalau andaikan Nabi adalah seorang guru, pasti akan mengajari segala tata cara sholat, akan
tetapi nabi mengatakan Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. Nabi
memahami betul bahwa Menuju Tuhan adalah TIDAK ADA CARA, MAKSUDNYA
ADALAH SEGALA CARA BISA.
Sehingga dalam hadistnya nabi menyampaikan Tidak diperkenankan segala amal ibadah
dan perbuatan seseorang sebelum segala sesuatu yang dilihatnya adalah Tuhan. Itulah
bedanya seorang Pembimbing Spiritual dengan Guru Spiritual.

Selain tersebut diatas para nabi dan wali pun semuanya memiliki pembimbing spiritual,
seperti Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidir, Iskandar Zulkarnain belajar kepada Nabi
Khidir, Sunan kalijaga dan Syekh Siti Jenar belajar kepada Sunan Bonang, dan masih banyak
lagi yang bisa dijadikan contoh.
Hal tentang bersaksi pada Tuhan dan cara melihatnya tersirat pada Doa tawajjuh yang
dibaca saat melaksanakan sholat. Berikut bacaan doa tawajjuh tersebut ;
Wajjahtu waj-hiya lillazii fa-tharas samaawaati wal ar-dha haniifam
muslimaw wamaa ana minal musy-rikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa
mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil aalamiin. Laa syariika lahuu wa
bi-dzaalika umirtu wa ana minal mus-limiin. Allahumma antal maliku laa
ilaaha illa anta anta rabbii wa ana abduka zhalamtu nafsii wataraftu
bi-dzambii faghfir lii dzunuubii jamiiaa. Fa innahuu laa yahdii li
ahsanihaa illaa anta wash-rif annii sayyi-ahaa laa yash-rifu annii sayyiahaa illa anta, labaika wa sadaika wal khairu kulluhu fii yadaika, wasy
syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika tabaarakta wa taaalaita,
astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Saya hadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi, hal keadaanku
seorang yang condong benar kepada kebenaran lagi seorang yang menyerahkan diri, tunduk
dan patuh, dan sekali-kali aku bukan orang yang mempersekutukan sesuatu dengan
Allah.Bahwasanya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah , Tuhan yang
memelihara alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, demikianlah aku diperintahkan Allah, dan
adalah aku salah seorang dari orang-orang, yang mula-mula menyerahkan diri, jiwa dan raga
untuk Allah (untuk berjihad di jalan-Nya). Wahai Tuhan-ku! Engkaulah Raja yang
memerintah! berkuasa! Tidak ada tuahn selain Engkau, Engkau Tuhan-ku dan aku hambaMu. Aku telah menzalimkan diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah segala dosadosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat (sanggup) mengampuni dosa-dosaku selain
Engkau. Dan tunjukanlah daku kepada sebaik-baik perangai, tidak ada yang dapat (sanggup)

menunjukankan daku kepada sebaik-baik perangai, selain Engkau sendiri.Palingkanlah


(jauhkanlah) daripadaku pekerti-pekerti yang buruk, tidak ada yang dapat (sanggup)
memalingkan daku dari pekerti-pekerti yang buruk itu, selain Engkau sendiri.Aku penuhi
seruan Engkau, aku tunduk patuh di bawah perintah Engkau segala rupa kebajikan di tangan
Engkau, segala rupa kejahatan tidak ada pada Engkau, Aku dengan Engkau dan kepada
Engkau.(saya memperoleh taufiq dengan limpah kurnia Engkau dan memohon perlindungan
kepada Engkau.)Maha Berbahagia Engkau dan Maha Tinggi. Aku memohonkan ampun
kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. [HR Ahmad, Muslim, Ar-Tirmidzi, Abu
Daud dari Abu Hurairah ra. dari Nabi s.a.w. (dalam satu lafal: wa ana awwalul muslimin=
dan akulah orang yang mula-mula menyerahkan diri kepada Allah]

Untuk dapat BERSAKSIlangkah awal yang dilakukan adalah MELIHAT terlebih dahulu,
baru kemudian MENGENAL dan pada tingkat terakhir barulah manusia boleh
BERSAKSI.

a. Melihat Allah dengan Hati


Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan
fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan
hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup
dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah.
Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup
hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh
telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga
kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup.
Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan
mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu
ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang
metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak
mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.
Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan
kehadiran Allah SWT dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan
apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita.

Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia sehingga hatinya tertutup maka
mereka akan dibangkitkan oleh Allah SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Tuhan
berfirman dalam surat Thahaa :

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan


yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
(QS. Thahaa 20 : 124)
Dalam Hadist Nabi disebutkan : Hati manusia itu ibarat sehelai kain putih yang apabila
manusia itu berbuat dosa maka tercorenglah / ternodailah kain putih tersebut dengan satu titik
noda kemudian jika sering berbuat dosa lambat-laun sehelai kain putih itu berubah menjadi
kotor / hitam. Jika hati nurani sudah kotor maka terkunci nuraninya akan sulit menerima
petunjuk dari Allah.
Ada Empat Tahapan Untuk Menajamkan atau Membersihkan Mata Batin :
Pertama, Mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, benci, dan dari sifat
keduniawian.
Kedua, Membuang daya khayal yang mengganggu keyakinan hati kemudian berpikir
tentang hal-hal yang ghoib yang kita ketahui.
Ketiga, Mendawamkan ( continue ) sholat dan berzikir pada malam hari karena kesepian
malam dapat menambah kekhusuk-an hati.
Keempat, Meningkatkan Iman dan Kecintaan kepada Allah yaitu : mencintai Allah dari
segala-galanya selalu Munajad ( mohon pertolongan Allah ), dan Istikharoh ( meminta
petunjuk dari Allah SWT )
Orang Mukmin yang taat kepada Allah s.w.t, kuat melakukan ibadat, akan meningkatlah
kekuatan rohaninya. Dia akan kuat melakukan tajrid yaitu menyerahkan urusan kehidupannya
kepada Allah s.w.t. Dia tidak lagi khawatir terhadap sesuatu yang menimpanya, walaupun
bala yang besar. Dia tidak lagi meletakkan pergantungan kepada sesama makhluk.
Hatinya telah teguh dengan perasaan reda terhadap apa jua yang ditentukan Allah s.w.t
untuknya. Bala tidak lagi menggugat imannya dan nikmat tidak lagi menggelincirkannya.
Baginya bala dan nikmat adalah sama iaitu takdir yang Allah s.w.t tentukan untuknya.
Apa yang Allah s.w.t takdirkan itulah yang paling baik. Orang yang seperti ini sentiasa di
dalam penjagaan Allah s.w.t kerana dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t. Allah

s.w.t kurniakan kepadanya keupayaan untuk melihat dengan mata hati dan bertindak melalui
Petunjuk Laduni, tidak lagi melalui fikiran, kehendak diri sendiri atau angan-angan.
Pandangan mata hati kepada hal ketuhanan memberi kesan kepada hatinya (kalbu). Dia
mengalami suasana yang menyebabkan dia menafikan kewujudan dirinya dan diisbatkannya
kepada Wujud Allah s.w.t. Suasana ini timbul akibat hakikat ketuhanan yang dialami oleh
hati. Dia berasa benar-benar akan keesaan Allah s.w.t bukan sekadar mempercayainya.
Pengalaman tentang hakikat dikatakan memandang dengan mata hati. Mata hati melihat
atau menyaksikan keesaan Allah s.w.t dan hati merasakan akan keadaan keesaan itu. Mata
hati hanya melihat kepada Wujud Allah s.w.t, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya.
Orang yang di dalam suasana seperti ini telah berpisah dari sifat-sifat kemanusiaan. Dalam
berkeadaan demikian dia tidak lagi mengendahkan peraturan masyarakat. Dia hanya
mementingkan soal perhubungannya dengan Allah s.w.t. Soal duniawi seperti makan, minum,
pakaian dan pergaulan tidak lagi mendapat perhatiannya.
Kelakuannya boleh menyebabkan orang ramai menyangka dia sudah gila. Orang yang
mencapai peringkat ini dikatakan mencapai makam tauhid sifat. Hatinya jelas merasakan
bahawa tidak ada yang berkuasa melainkan Allah s.w.t dan segala sesuatu datangnya dari
Allah s.w.t.
Rohani manusia melalui beberapa peningkatan dalam proses mengenal Tuhan. Pada tahap
pertama terbuka mata hati dan Nur Kalbu memancar menerangi akalnya. Seorang Mukmin
yang akalnya diterangi Nur Kalbu akan melihat betapa hampirnya Allah s.w.t. Dia melihat
dengan ilmunya dan mendapat keyakinan yang dinamakan ilmul yaqin. Ilmu berhenti di situ.
Pada tahap keduanya mata hati yang terbuka sudah boleh melihat. Dia tidak lagi melihat
dengan mata ilmu tetapi melihat dengan mata hati. Keupayaan mata hati memandang itu
dinamakan kasyaf. Kasyaf melahirkan pengenalan atau makrifat. Seseorang yang berada di
dalam makam makrifat dan mendapat keyakinan melalui kasyaf dikatakan memperolehi
keyakinan yang dinamakan ainul yaqin.
Pada tahap ainul yaqin makrifatnya ghaib dan dia juga ghaib dari dirinya sendiri. Maksud
ghaib di sini adalah hilang perhatian dan kesedaran terhadap sesuatu perkara. Beginilah
hukum makrifat yang berlaku. Makrifat lebih tinggi nilainya dari ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan adalah pencapaian terhadap persoalan yang terpecah-pecah bidangnya. Makrifat
pula adalah hasil pencapaian terhadap hakikat-hakikat yang menyeluruh yaitu hakikat kepada
hakikat-hakikat. Tetapi, penyaksian mata hati jauh lebih tinggi dari ilmu dan makrifat kerana
penyaksian itu adalah hasil dari kemahuan keras dan perjuangan yang gigih disertai dengan
upaya hati dan pengalaman.
Penyaksian adalah setinggi-tinggi keyakinan. Penyaksian yang paling tinggi ialah
penyaksian hakiki oleh mata hati. Ia merupakan keyakinan yang paling tinggi dan dinamakan
haqqul yaqin. Pada tahap penyaksian hakiki mata hati, mata hati tidak lagi melihat kepada

ketiadaan dirinya atau kewujudan dirinya, tetapi Allah s.w.t dilihat dalam segala sesuatu,
segala kejadian, dalam diam dan dalam tutur-kata. Penyaksian hakiki mata hati melihat-Nya
tanpa dinding penutup antara kita dengan-Nya. Tiada lagi antara atau ruang antara kita
dengan Dia. Dia berfirman:

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada (QS. Al Hadiid 57 : 4)

Dia tidak terpisah dari kamu. Penyaksian yang hakiki ialah melihat Allah s.w.t dalam segala
sesuatu dan pada setiap waktu. Pandangannya terhadap makhluk tidak menutup
pandangannya terhadap Allah s.w.t. Inilah makam keteguhan yang dipenuhi oleh ketenangan
serta kedamaian yang sejati dan tidak berubah-ubah, bernaung di bawah payung Yang Maha
Agung dan Ketetapan Yang Teguh.
Pada penyaksian yang hakiki tiada lagi ucapan, tiada bahasa, tiada ibarat, tiada ilmu, tiada
makrifat, tiada pendengaran, tiada kesedaran, tiada hijab dan semuanya sudah tiada. Tabir
hijab telah tersingkap, maka Dia dipandang tanpa ibarat, tanpa huruf, tanpa abjad. Allah s.w.t
dipandang dengan mata keyakinan bukan dengan mata zahir atau mata ilmu atau kasyaf.
Yakin, semata-mata yakin bahawa Dia yang dipandang sekalipun tidak ada sesuatu
pengetahuan untuk diceritakan dan tidak ada sesuatu pengenalan untuk dipamerkan.
Orang yang memperolehi haqqul yaqin berada dalam suasana hatinya kekal bersama-sama
Allah s.w.t pada setiap ketika, setiap ruang dan setiap keadaan. Dia kembali kepada
kehidupan seperti manusia biasa dengan suasana hati yang demikian, di mana mata hatinya
sentiasa menyaksikan Yang Hakiki. Allah s.w.t dilihat dalam dua perkara yang berlawanan
dengan sekali pandang. Dia melihat Allah s.w.t pada orang yang membunuh dan orang yang
kena bunuh. Dia melihat Allah s.w.t yang menghidupkan dan mematikan, menaikkan dan
menjatuhkan, menggerakkan dan mendiamkan. Tiada lagi perkaitannya dengan kewujudan
atau ketidakwujudan dirinya. Wujud Allah Esa, Allah s.w.t meliputi segala sesuatu.

Diriwayatkan dari riwayat Abu Hurairah ra.:


Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, Wahai Rasulullah, apakah kami dapat
melihat Tuhan kami pada hari kiamat?
Rasulullah saw. bersabda, Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?
Para sahabat menjawab, Tidak, wahai Rasulullah.
Rasulullah saw. bersabda, Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup
awan?
Mereka menjawab, Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda, Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang
menyembah sesuatu, maka ia kelak mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah
matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang
menyembah berhala mengikuti berhala.
[H. R. Muslim no. 267]

b. Mengenal Allah
Nabi Muhammad dalam salah satu hadistnya menegaskan Awaluddin Makrifatullah,
awal beragama adalah mengenal Tuhannya. Bagaimana kita berdoa, bagaimana kita
memahami perintah-perintahnya apabila kita sama sekali tidak mengenal-NYA. Baru setelah
manusia Mengenal Tuhannya Barulah dia Bersaksi.
Seorang sufi Indonesia Al Fakir Hamzah Fansuri menulis tentang MAKRIFATULLAH
yang dituangkan dalam kitabnya yang diberi judul Al Muntahi (Peringatan: Kandungan
kitab ini amat berat bagi pemikiran yang tidak faham, jangan membuat kesimpulan sendiri,
mintalah kepada Tuhan untuk mendapatkan penjelasan atau pada utusannya, yaitu seorang
pembimbing spiritual.), Berikut ringkasannya :
1. Ketahui oleh mu hai Talib (pelajar) bahawa sabda Rasullulah saw : Barang siapa melihat
kepada suatu, jika tidak dilihatnya Allah dalamnya, maka ia itu sia-sia. Kata Ali (Saidina Ali):
Tiada ku lihat suatu melainkan kulihat Allah dalamnya. Sabda Nabi; Barangsiapa mengenal
dirinya, maka niscaya mengenal Tuhannya.
2. Arti mengenal Tuhan dan mengenal dirinya yakni: diri KUNTU KANZAN
MAKHFIYYAN itu dirinya, dan semesta sekalian alam Ilmu Allah. Seperti sebiji (benih) dan
pohon, pohonnya dalam sebiji itu, sungguhpun tidak kelihatan, tetapi hukumnya ada dalam
sebiji itu. Kata Seikh Junaid: Ada Allah dan tiada ada sertaNya suatu pun. Ia sekarang ini
seperti AdaNya dahulu itu jua. Karena itu Ali berkata; Tiada ku lihat sesuatu melainkan ku
lihat Allah dalamnya.
3. Tetapi jangan melihat seperti kain basah karena kain lain, airnya lain. Allah SWT maha
suci daripada demikian itu tamsilnya, tetapi jika ditamsilkan seperti laut dan ombak, harus
seperti kata syair;
Yang laut itu laut jua pada sedia pertamanya,
Maka yang baru itu ombaknya dan sungainya,
Jangan mendindingi di kau segala rupa yang menyerupai dirinya,
Karana dengan segala rupa itu dinding daripadanya.

Tetapi ombak beserta dengan laut Qadim, seperti kata; Laut itu Qadim, apabila berpalu, baru
ombak namanya dikata, tetapi pada hakikatnya laut jua, karena laut dan ombak esa tiada
dua. Seperti Firman Allah; Allah dengan segala sesuatu meliputi. Sabda Rasullulah saw;
Aku daripada Allah, sekalian alam daripada ku.
Seperti matahari dengan cahayanya dengan panasnya; namanya tiga hakikatnya satu jua.
Seperti isyarat Rasullulah saw; barangsiap mengenal dirinya niscaya mengenal Tuhannya.
4. Adapun dirinya itu, sungguhpun beroleh nama dan rupa jua, hakikatnya rupanya dan
namanya tiada. Seperti bayang-bayang dalam cermin; rupanya dan namanya ada hakikatnya
tiada. Seperti sabda Rasullulah saw; Yang Mukmin itu cermin sesamanya mukmin.
Artinya, Nama Allah Mukmin, maka hambanya yang khas pun namanya mukmin. Jika
demikian sama dengan Tuhannya, kerana hamba tidak bercerai dengan Tuhannya, dan Tuhan
pun tidak bercerai dengan hambaNya.
5. Seperti firman Allah SWT: DIA berada di mana kamu ada. Dan lagi Firman Allah SWT:
Jika orang tiga, melainkan IA jua keempatnya dengan mereka itu; dan jika ada lima (orang),
melainkan IA keenamnya dengan mereka itu; dan tiada lebih dan tiada kurang daripada
demikian itu malainkan IA jua beserta mereka itu. Seperti firman Allah SWT: Kami terlebih
hampir kepadanya daripada urat leher yang kedua.
6. Dengarkan hai Talib (pelajar) WA HUA MA AKUM (dan DIA beserta kamu), tiada di luar
dan tiada di dalam, dan tiada di atas dan tiada di bawah, dan tiada di kiri dan tiada di kanan,
seperti firman Allah SWT: IA jua yang Dahulu (Awal) dan IA jua yang Kemudian (Akhir)
dan IA jua yang Nyata (Zahir) dan IA jua yang Tersembunyi (Batin).
Lagi pun tamsil seperti pohon kayu sepohon. Namanya (pohon) limau atau atau lain daripada
(pohon) limau. Daunnya lain, dahannya lain, bunganya lain, buahnya lain, akarnya lain. Pada
hakikatnya sekalian itu (pohon) limau jua. Sungguhpun namanya dan rupanya dan warnanya
berbagai, hakikatnya esa jua.
Jikalau demikian hendalah segala Arif (orang) mengenal Allah SWT seperti isyarat
Rasullulah SAW: Barang siapa mengenal dirinya maka niscaya mengenal Tuhannya.
7. Diawali dari sabda Rasullulah SAW dengan diisyaratkan jua. Sungguhpun pada Syariat
rupanya berbagai-bagai pada Hakikat Esa jua, seperti kata syair;
Bahwa ada kekasihku, tubuh dan nyawa rupanya jua,
Apa tubuh? Apa nyawa?. sekalian alam pun rupanya jua;
Segala rupa yang baik dan erti yang suci itu pun rupanya jua,
Segala barang yang datang kepada penglihatanku itu pun rupanya jua.
Seperti firman Allah SWT : Ke mana saja mukamu kau hadapkan, maka di sana ada Dzat
Allah. Tamsil, seperti susu dan minyak sapi, namanya dua, hakikatnya satu jua.
Kesudahannya susu lenyap apabila ia diputar minyak jua kekal sendirinya.

8. Sesekali tidak bertukar seperti sabda Rasullulah SAW: Barangsiapa mengenal dirinya
dengan fananya, bahwa niscaya mengenal ia Tuhannya dan Baqalah ia dan serta Tuhannya.
Seperti mengetahui ruh dengan badan; Ruh muhit (hidup) pada badan pun tiada, dalam badan
pun tiada, di luar badan pun tiada. Demikian lagi Tuhan; pada sekalian alam pun tiada,
dalam alam pun tiada, di luar alam pun tiada. Seperti permata cincin dengan cahayanya,
dalam permata pun tiada cahayanya, di luar permata pun tiada cahayanya.
9. Karena itu kata Saidina Ali: Tiada ku lihat melainkan ku lihat Allah di dalamnya. Kata
Mansur Hallaj, pun berkata dengan sangat beraninya: Ana al Hak (Akulah yang
Sebenarnya. Maka kata sufi Yazid: Maha suci aku, siapa besar sebagai aku.
Maka kata syeikh Junaid: Tiada di dalam jubahku ini melainkan Allah. Maka kata Sayyid
Nasimi: Bahwa Akulah Allah. Maka kata Maksudi: Dzat Allah yang Qadim, itulah dzat ku
sekarang.
Dan kata Maulana Rumi: Alam ini belum, adaku adalah; Adam pun belum, adaku adalah;
Suatupun belum, adaku berahikan Qadim ku jua.
Dan kata Sultan Asyikin Syeikh Ali Abul Wafa: Segala wujud itu WujudNya jangan kau
sekutukan dengan yang lain; Apabila kau lihatNya bagiNya dengan dia, maka sujudlah
engkau sana tiada berdosa.
Maka kata kitab Gulshan:
Hai segala Islam, jika kau ketahui berhala apa,
Kau ketahui olehmu bahwa yang jalan itu pada menyembah berhala dikata.
Jika segala kafir daripada berhalanya itu dajalnya,
Mengapa maka pada agama itu jadi sesat.
10. Sebab demikian maka Syeikh Aynul Qudat menyembah anjing mengatakan: Hadha rabbi
( Inilah Tuhanku), kerana anjing itu tidak dilihatnya, hanya dilihatnya Tuhannya jua. Seperti
orang melihat kepada cermin, mukanya jua yang dilihatnya, cermin ghaib dari
penglihatannya, kerana alam ini pada penglihatannya seperti bayang-bayang jua,. rupanya
ada Hakikatnya tiada.
Nisbat kepada Hak Allah SWT tiada nisbat kepada kita, adalah kerana kita memandang
dengan hijab. Seperti Sabda Rasullulah SAW: Siapa mengenal dirinya sesungguhnya ia
mengenal Tuhannya; dengan isyaratkan jua, pada Hakikatnya dikenal pun Ia, mengenal
pun Ia.
11. Seperti Sabda Rasullulah SAW: Barangsiapa mengenal Allah lanjuti lidahnya. Pada
tatkala mulanya mengetahui siapa mengenal dirinya, setelah sampai kepada
sesungguhnya mengenal Tuhannya, maka Ia Sendiri NYA. Maka Sabda Rasullulah SAW:
Barangsiapa mengenal Allah maka kelulah lidahnya; artinya tempat berkata tiada lagi
lulus.

12.Seperti kata Syeikh Muhyil Din Arabi: Sesungguhnya Allah adalah Rahasiamu; . itupun
isyarat kepada: Barangsiapa mengenal dirinya sesungguhnya ia mengenal Tuhannya,..jua.
Syair Muhyil Din Arabi;
Jika ada engkau orang bermata, bermula hamba itu kenyataan Tuhan, jika ada engkau orang
berbudi maka barang segala engkau lihat ini keadaan NYA; Dan jika ada engkau orang
bermata dan berbudi, maka apakah yang engkau lihat?,.hanya segala sesuatu itu di dalam
NYA melainkan dengan segala rupa.
Seperti Firman Allah SWT: Ia itu serta kamu barang di mana ada kamu.
Dan lagi kata Syeikh Muhyil Din Arabi dalam bentuk syair: Kamilah huruf yang maha tinggi
tiada berpindah, Dan yang tergantung dengan istananya di atas puncak gunung. Aku engkau
di dalamnya, dan kami engkau dan engkau,.. Ia, maka sekelian dalam Itu Ia, .. maka
bertanyalah engkau kepada barangsiapa yang telah wasal (sampai kepada Allah).

13. Hai Pelajar mengetahui siapa mengenal diri mengenal Tuhannya.bukan mengenal
jantung atau paru-paru, bukan mengenal kaki dan tangan. Makna siapa mengenal diri
adanya dengan ada Tuhannya esa jua.
Seperti kata Syeikh Junaid:
Warna air itu warna bejananya
Seperti kata syair:
Sesungguhnya telah tersembunyilah engkau maka
tiada dapat dilihat oleh segala mata;
Maka betapa dilihat oleh segala mata
Kerana Ia terdinding oleh adaNya.
Kata Syeikh Muhyildin Arabi:
Jika pergilah aku menuntut Dia,
tiadalah berkesudahan tuntutku,
jika datang aku ke hadiratNya,
Ia liar daripadaku;
Tidak aku melihat Dia,
Ia tidak jauh daripada penglihatanku,
Bermula: Ia ada dalamku dan tiada aku bertemu pada seumurku.
Maka ini lagi kata Syeikh Junaid: Adamu ini dosa, tiada dosa sebagainya.
14. Barangkali engkau pun satu wujud, Hak SWT pun satu wujud, sharika lahu (engkau
mensyirikanNya)datang kerana Hak SWT:wahdahu la shararika lahu: (artinya:tiada sekutu
bagiNya), tiada wujud lain hanya wujud Hak SWT. Seperti laut dan ombak.

Seperti Firman Allah:


Kemana saja mukamu kau hadapkan, maka di sana ada Dzat Allah.
Kata Maulana Abdul Rahman Jami:
Sekampung sekedudukan, sekalian itu Ia jua;
Pada telekung segala minta makan dan pada atlas segala raja-raja itu pun Ia jua;
Pada segala perhimpunan dan perceraian dan rumah yang tersembunyi dan yang berhimpun
itu pun Ia jua;
Demi Allah sekaliannya ia jua.
Maka demi Allah sekaliannya Ia jua.
15. Misalkan seperti sebiji benih pokok, di dalamnya terdapat sepohon pokok kayu,yang
lengkap. Asalnya biji benih itu jua, setelah menjadi pokok kayu yang tumbuh besar, biji benih
itu pun ghaib (tidak kelihatan)- pokok kayu juga yang kelihatan. Warnanya pokok pun
berbagai-bagai, rasanya buah pun berbagai-bagai, tetapi asalnya adalah dari sebiji benih itu.
Seperti firman Allah: Kami tuangkan dengan suatu air dan Kami lebihkan setengah atas
sesetengahnya pada rasa makanan.
Perhatikan pula contoh berikut, seperti air hujan dalam tanam-tanaman. Air hujan itu jua yang
meresapi pada sekalian tanaman dan berbagai-bagai pula rasanya. Pada buah limau masam
rasanya, pada pokok tebu manis rasanya, pada mambau pahit rasanya, masing-masing
membawa rasanya. Tetapi pada hakikatnya air hujan itu jua pada sekalian tanaman itu.
Satu lagi contoh, seperti matahari dengan panas, jikalau panas kepada bunga atau kepada
cendana, tidak ia beroleh bau daripada bunga (maksudnya bau bunga itu tidak memberi bau
kepada panas). Jikalau najis pun demikian lagi. Jangan syak di sini karana syak itu adalah
hijab.
16. Karena atas bekas Jalal dan atas bekas mazhar Jamal tidak ia bercerai, maka Kamal
namanya. Nama Al Muiz tiada bercerai, nama Al Latif dan Al Qahar tiada bercerai. Dan
syirik pun bekasNYA jua:
Seperti kata Syekh Nikmatullah:
Kulihat Allah pada keadaanku dengan PenglihatanNYA;
Bermula: keadaanku itu KeadaanNYA,
maka tilik kepadaNYA dengan tilik daripadaNYA.
Kekasihku, pada segala lain daripadaku,
lain daripada adaku,
Bermula: padaku AdaNya itu dengan keadaanku satu ju.
Inilah sifat: Siapa yang mengenal diri maka mengenal Tuhannya, itupun permulaan jua.

17. Firman Allah SWT :

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. As Saffaat
37: 96)

Dan lagi Firman Allah SWT: QS Hud 11:56 ;

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu
binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya
Tuhanku di atas jalan yang lurus ." (QS. Huud 11 : 56)

Dan lagi sabda Rasullulah SAW:


Tiada daya dan upayaku kecuali dengan izin Allah
Tidak bergerak suatu zarah kecuali dengan izin Allah
Baik dan buruk itu daripada Allah SWT

18. Sekalian dalil dan hadis ini isyarat kepada : Siapa yang mengenal diri maka mengenal
Tuhannya, lain daripadanya tiada.
Dan kata Syeikh Muhyildin Arabi:
Telah haramlah atas segala yang berahi bahawa memandang lain daripadaNYA,
Apabila ada keadaan Allah dengan cahayaNYA giling gemilang.
Barang segala yang ku katakan dan bahawa Engkau jua Esa, tiada lain
Suatupun daripadaMu maka sekarang barang lain daripadaMu itu seperti haba adanya.

Seperti Firman Allah

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam
kesibukan. (QS. Ar Rahman 55 : 29)

19. Pada zahirNya berbagai-bagai, tetapi padaDzatNya tidak berbagai-bagai dan tiada
berubah kerana Ia, seperti Firman Allah QS Al Hadid 57 : 3.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin[1452]; dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Hadid 57 : 3)

AwalNya tidak ketahuan akhirNya tidak berkesudahan zahirNya amat tersembunyi dengan
batinNya tidak kedapatan. Memandang diriNya dengan diriNya, melihat diriNya dengan
DzatNya dengan SifatNya dengan AfaalNya dengan AtharNya (bekasnya). Sungguhpun
namaNya empat tetapi hakikatNya esa.
Seperti kata Syeikh Muhyildin Arabi: Menunjukkan AdaNya dengan AdaNya.
Sementara itu, Imam Muhammad Ghazzali berkata: Alam ini daripadaNya dengan Dialah
tetapi sesungguhnya Dia.
Kata Kimiyai Saadat:
Wujud kami daripadaNya dan kuasa kami dengan Dia,
Tiada bezanya antaraku dan Tuhanku melainkan dengan dua martabat. (martabat Tuhan dan
martabat hamba).
Inilah ibarat kata-kata: Siapa yang mengenal dirinya mengenal ia Tuhannya.

20. Allah SAW tidak bertempat dan tidak bermisal. Mana ada tempat jika lain daripadaNya
tiada? Mana tempat, mana misal, mana warna?
Hamba pun demikian lagi hendaknya jangan bertempat, jangan bermisal, jangan berjihat
enam, kerana sifat hamba (adalah sifat) Tuhannya, seperti kata-kata berikut:
Apabila sempurna Fakir, maka Ia itu Allah dan hidupNya dengan hidup Allah.
Maulana Abdul Rahman Jami berkata:
Kepada kekasih yang tidak berwarna itu (Allah) kau kehendak, hai hati
Jangan kau padamkan kepada warna mudah-mudahan, hai hati
Bahawa segala warna daripada tidak berwarna datangnya, hai hati
Barangsiapa mengambil warna daripada Allah itulah terlebih baik, hai hati !!!

21. Yakni yang asalnya tidak berwarna dan tidak berupa. Segala rupa yang dapat dilihat dan
dapat dibicarakan, sesungguhnya makhluk jua pada ibaratnya. Barangsiapa menyembah
makhluk, ia itu musyrik (menyekutukan Allah), seperti menyembah orang mati, jantung dan
paru-paru, sesungguhnya itu berhala jua hukumnya. Barangsiapa menyembah berhala, ia itu
kafir. kami berlindung dengan Allah daripadanya, Allah yang lebih mengetahui.

22. Jika demikian mengapa memandang seperti ombak dan laut? (padahal kedua-duanya esa
jua).
23. Seperti kata syair:
Bekas kaca dan hening air minuman
Maka serupa kedua-duanya dan sebagai pekerjaannya
Maka sanya minuman tiada dengan piala
Dan bahwa piala tiada dengan minuman.
Yakni warna kaca dan warna minuman esa jua, warna minuman dan kaca begitu jua, tiada
dapat dilainkan.
Seperti kata syair:
Asalnya satu jua warnanya berbagai-bagai
Rahasia ini bagi orang yang tahu jua dapat memakainya.
Dan lagi syair:
Berahi dan yang berahi dan yang diberahikan itu ketiga-tiganya esa jua
Sini apabila pertemuan tiada lulus, perceraian di mana kan ada?
24. Mengapa dikata bertemu dan bercerai itu dua? Hendaknya pada Alim (yang mengetahui)
hakikatnya tiada dua. Seperti ombak dan laut esa jua, pada zahirnya jua dua, tetapi bertemu
pun tidak bercerai pun tidak, di dalamnya tiada di luarnya pun tiada.
Seperti kata Ghawth:
Mana kebaktian terlebih kepadaMu ya Tuhanku?
Firman Allah SWT: Sembahyang yang di dalamnya tiada lain selain daripadaKu, dan yang
menyembah ghaib.
Nyatalah daripada ini bahwa yang disembah pun Ia jua, yang menyembah pun Hak.
Seperti kata Mashakikh:
Tiada mengenal Allah hanya Allah
Tiada mengetahui Allah hanya Allah
Tiada melihat Allah hanya Allah.
Dan lagi seperti kata Maulana Abdul Rahman Jami:

Orang yang wasal (sampai) itu seperti orang yang duduk kesal;
Taulannya diceritakannya daripada penceraiannya
Dan seru dan tangisnya, sehingga jadi harum daripada wasal; terhenti olehnya
Daripada penceraiannya dan daripada penuh dengan dukacitanya.
Dan seperti kata Shibli:
Aku seperti katak tinggal dalam laut
Jika kubukakan mulutku nescaya dipenuhi air;
Jika aku diam nescaya matilah aku dalam percintaanku.

25. Isyarat daripada Syeikh Sakdul Din: Jangan lagi dicari tidak akan diperolehi, jika lagi
dipandang tiada dilihat, kerana perbuatan kita itu seperti angin di laut. Jikalau berhenti angin
ombak pulang kepada asalnya.
Seperti Firman Allah :

Hai jiwa-jiwa nan tenang (mutmainah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan reda dan
diredai, maka masuklah ke dalam surga Ku. (QS. Al Fajr 89 : 27-28)

Artinya datangnya daripada laut (Dzat Allah), pulang pun kepada laut (Dzat Allah) jua.
Seperti kata-kata:
Syurga orang zahid (peribadah) bidadari dan mahligai,
Syurga orang berahi (kekasih) kepada perbendaharaan yang tersembunyi (Dzat Allah).
26. Di situlah tempat tinggal orang yang berahi kepada Allah, berahikan surga pun tidak,
dengan neraka pun dia tidak takut, kerana pada orang berahi yang wasal jannah (sampai
surga), itulah yang dikatakan dalam firman Allah QS Al Fajr 89:29,30:
Masuklah kamu dalam golongan hambaKu, dan masuklah kamu ke dalam surgaKu.
Pulang ia kepada tempat perbandaharaan yang tersembunyi (Dzat Allah).
Seperti kata ahli makrifatullah: Barang siapa mengenal Allah maka ia itu musyrik (kenapa
musyrik? Kerana ada dualiti).

Dan lagi kata ahli Allah: Yang fakir itu hitam (tiada) mukanya pada kedua negeri (Zahir dan
batin, yang ada hanya wajah Allah)
Dan Lagi: Aku telah karamlah pada laut yang tidak bersisi (Dzat Allah),
Maka lenyaplah aku di dalamnya,
Daripada ada dan tiada pun aku tiadalah tahu.
Kata syair: Kembalilah aku daripada menuntut dan yang dituntut.
Dan berhimpunlah aku antara yang memberi kurnia dan yang dikurniai,
Dan kembalilah daripada aku bagi adaMu.
Tiada engkau di dalamnya dan tiada aku.
Kata Syeikh Attar pula: Daripadanya kembalilah, setengah daripadanya melihat temasya
tepuk dan tari,
Nyawa pun diberi selesailah ia daripada tuntut.
Lagi kata: Kertas pun dibakar dan pensil pun dipatahkan dan dakwat pun ditumpahkan dan
nafas pun ditarik.
Inilah kisah ragam orang berahi bahwa dalam daftar tidak lulus (tidak dapat dikisahkan).
Lagi kata: Tuntut pun seteru dan kehendak pun sia-sia, dan wujud pun jadi dinding (hijab)
tidak dapat diperolehi menghendaki damping dan cita, yang hadir segala nafs pun
menjauhkan (menghijab).

27. Inilah kesudahan sekalian, inilah yang dikatakan Fana, inilah yang dikatakan alam Lahut,
pun dapat dan dikatakan wasal (sampai), dikatakan mabuk (berahi Allah) pun dapat.
Inilah kata Shah Ali Barizi: Kepada pintu negeri yang Fana (yang tinggal hanya Allah)
sujudlah aku.
Ku bukakan kepalaku, maka pertunjukanlah mukaMu kepadaku.
Kata orang Pasai: Jika tidak tertutup maka tidak bertemu (Dzat Allah). Arti pada itu tidak
lulus ia itu, menjadi seperti dahulu kala seperti di alam Lahut, tatkala dalam perbendaharaan
tersembunyi, serta dengan TuhanNya.
Seperti biji benih dalam pohon kayu, sungguhpun zahirnya tidak kelihatan, hakikatnya Esa
jua. Sebab itulah Mansur Al Halaj menyatakan: Ana al Hak (Akulah Hak), manakala setengah
sufi yang lain menyatakan: Anallah (Aku Allah), kerana adanya (dirinya) tidaklah dilihatnya
lagi (telah Fana, yang tinggal hanya Allah).

28. Inilah artinya: Yang fakir itu tiada suatu pun baginya. Maka firman Allah dalam Hadis
Qudsi:
Tidur fakir itu tidurKu,
Makan fakir itu makanKu,
Dan minum fakir itu minumKu.
Dan lagi firman Allah: Manusia itu adalah RahasiaKu dan Aku Rahasianya dan Sifatnya.
Berkata pula Uways Al Qarani:
Yang fakir itu hidup dengan hidup Allah, dan sukanya dengan Kesukaan Allah.
Seperti kata Mashaikh:
Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan menyengutukannya, dan barangsiapa
mengenal dirinya maka ia itu kafir.
Seperti kata Syeikh Muhyil Din Ibnu Arabi:
Yang makrifat itu dinding bagiNya, Bermula jikalau tiada wujud kedua (alam) nescaya
nyatalah AdaNya.

29. Karena belajar dan makrifat, rindu dan merindu, sekaliannya itu, pada iktibarnya adalah
sifat hamba juga, jikalau sekalian itu tiadalah padanya, maka lenyaplah ia. Karana dzatnya
dan sifatnya nisbat kepada Allah SWT jua, jikalau barangkala tiada ia, maka sifat hamba,
seperti sifat ombak, pulang ke laut (Dzat).
Inilah makna Firman Allah QS Fajr 89:28: Pulang kepada Tuhannya dengan reda dan
diredai. Dan makna QS Al Baqarah 2:156: Daripada Allah kami datang dan kepada Allah
kami kembali.
Dan Firman Allah: QS Al Qashash 28:88: Tiap-tiap sesuatu binasa kecuali wajah Allah. Dan
juga Firman Allah QS Ar Rahman 55:26,27: Segala sesuatu akan fana, dan yang kekal Dzat
Tuhanmu yang empunya Kebesaran dan Kemuliaan.

30. Jikalau masih ada lagi citanya, rasanya dan lazatnya itu bermakna sifatnya dua jua, seperti
musyahadah pun dua lagi hukumnya. Dan jika lagi syuhud pun masih ada dua kehendaknya:
Seperti rasa, yang dirasa dan merasa pun hendaknya, seperti mencinta dan dicinta hendaknya,
masih dua belum lagi esa.

Sekalian sifat itu pada iktibarnya dua juga, seperti ombak pada ombaknya laut pada lautnya,,
belum mana (kembali ke) laut.
Apabila ombak dan laut sudah menjadi satu, muqabalah pun tidaklah, musyahadah pun
tidaklah, makanya hanya fana dengan fana jua. Tetapi jika dengan fananya itupun, jika
diketahuinya, maka belum bertemu dengan fana, kerana ia lagi ingat akan fananya. Itu masih
lagi dua sifatnya.
31. Seperti kata Syeikh Attar:
Jalan orang berahi (kepada Allah) yang wasil (sampai) kepada kekasihnya itu,
Akan orang itu satupun tidaklah dilihatnya,
Segala orang yang melihat dia itu, dan alam itu pun tiadalah dilihatnya.

Lagi kata Syeikh Attar:


Jangan ada semata-mata, inilah jalan kamil,
Jangan bermuka dua, inilah sebenarnya wasil.

Karena arti wasil bukan dua (tetapi esa). Yakni barangkala syak dan yakin tidaklah ada
padanya, maka wasillah.
Namanya ilmu yakin, mengetahui dengan yakin, ainul yakin iaitu melihat dengan yakin, dan
haqqul yakin iaitu sebenar yakin,,.. yakin adanya dengan ada Tuhannya esa jua.
Maksudnya apabila sempurna fakirnya (fana) maka ia itu Allah, (hati-hati mesti dapat
maksud yang sebenar, jika tidak syirik dan kufur jua adanya).
AWALUDIN MARIFATULLAH
Artinya :Awal agama mengenal Allah.
LAYASUL SHALAT ILLA BIN MARIFAT
Artinya:Tidak sah shalat tanpa mengenal Allah.
MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU
Artinya:Barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya.
ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA SYAHIDNA
Artinya:Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.
(QS.AL-ARAF 7:172)
AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
Artinya:Manusia itu RahasiaKu dan akulah Rahasianya.

WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN


Artinya:AKU Di dalam dirimu mengapa kamu tidak melihat.
ANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
Artinya:AKU lebih dekat dari urat nadi lehermu.
LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH
Artinya:Aku tidak akan menyembah Allah apabila aku tidak melihatnya terlebih
dahulu

Dengan beberapa ayat Al Quran dan hadist diatas adalah sangat jelas bahwa seluruh umat
islam harus mengenal terlebih dahulu Tuhannya barulah bertindak. Langkah-langkah yang
dilakukan Nabi Muhammad adalah Makrifat-Hakikat-Tharikat-Syariat.Semetara kebanyakan
hampir dari seluruh umat islam dalam pendakian menuju Tuhan adalah Syariat-TharikatHakikat dan baru Makrifat.

c.

Sesembahan (ilah)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiyaa' 21 : 25)

Imam Al Baghawi rahimahullah menafsirkan makna perintah sembahlah Aku dengan


tauhidkanlah Aku (lihat Maalim at-Tanzil, hal. 834). Imam Ibnu Katsir rahimahullah
mengatakan, Setiap kitab suci yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus semuanya
menyuarakan bahwa tidak ada ilah [yang benar] selain Allah, akan tetapi kalian -wahai orangorang musyrik- tidak mau mengetahui kebenaran itu dan kalian justru berpaling darinya
Setiap nabi yang diutus oleh Allah mengajak untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Bahkan fitrah pun telah mempersaksikan
kebenaran hal itu. Adapun orang-orang musyrik sama sekali tidak memiliki hujjah/landasan
yang kuat atas perbuatannya. Hujjah mereka tertolak di sisi Rabb mereka. Mereka layak
mendapatkan murka Allah dan siksa yang amat keras dari-Nya. (lihat Tafsir al-Quran
al-Azhim [5/337-338] cet. Dar Thaibah)

Allah taala berfirman,


Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul [yang berseru]: Sembahlah
Allah dan jauhilah thaghut (QS. An-Nahl: 36)
Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku,
sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya (QS. Al-Araaf: 59).
Dan kepada kaum Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku,
sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya (QS. al-Araaf: 65).
Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai
kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya (QS. Al-Araaf: 73).
Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syuaib. Dia berkata; Wahai
kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya (QS. Al-Araaf: 85).
Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, Barangsiapa mentadabburi
Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan, niscaya dia akan mendapati
bahwasanya seluruh isi al-Quran; dari al-Fatihah sampai an-Naas, semuanya berisi dakwah
tauhid.
Ia bisa jadi berupa seruan untuk bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik.
Terkadang ia berupa penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan
orang-orang yang berbuat syirik. Hampir-hampir al-Quran tidak pernah keluar dari
pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah syariatkan dan
Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari ajaran tauhid (lihat
Transkrip Syarh al-Qawaid al-Arba, hal. 22)
Syaikh as-Sadi rahimahullah menjelaskan, Seluruh isi al-Quran berbicara tentang
penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat, Allah menetapkan
tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada
sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk
mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun.
Allah pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali supaya
mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab suci dan
para rasul, fitrah dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat terhadap pokok ini. Yang ia
merupakan pokok paling mendasar diantara segala pokok ajaran agama. (lihat al-Majmuah
al-Kamilah[8/23])

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada
Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri(QS. Ash
Shaaffaat 37 : 35 )
Rabbmu memerintahkan: Janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan kepada
kedua orang tua hendaklah kalian berbuat baik (QS. Al-Israa: 23)
Syaikh as-Sadi rahimahullah berkata, Perkara paling agung yang diperintahkan Allah
adalah tauhid, yang hakikat tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Tauhid itu
mengandung kebaikan bagi hati, memberikan kelapangan, cahaya, dan kelapangan dada. Dan
dengan tauhid itu pula akan lenyaplah berbagai kotoran yang menodainya.
Pada tauhid itu terkandung kemaslahatan bagi badan, serta bagi [kehidupan] dunia dan
akhirat. Adapun perkara paling besar yang dilarang Allah adalah syirik dalam beribadah
kepada-Nya. Yang hal itu menimbulkan kerusakan dan penyesalan bagi hati, bagi badan,
ketika di dunia maupun di akhirat. Maka segala kebaikan di dunia dan di akhirat itu semua
adalah buah dari tauhid. Demikian pula, semua keburukan di dunia dan di akhirat, maka itu
semua adalah buah dari syirik. (lihat al-Qawaid al-Fiqhiyah, hal. 18)
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang
lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menanyakan kepada beliau
tentang iman, islam, dan ihsan. Lelaki itu berkata, Wahai Rasulullah, apa itu Islam?. Beliau
menjawab, Islam adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun, kamu mendirikan sholat wajib, membayar zakat yang telah
diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling
utama adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan
dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallammenegaskan
bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ain atas setiap
orang, dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah/benar cabang-cabang iman yang lain
kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid). (lihat Syarh Muslim [2/88])
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallambersabda, Islam
dibangun di atas lima perkara; tauhid kepada Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat,
puasa Ramadhan, dan haji. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


bersabda, Sesungguhnya hak Allah atas hamba adalah mereka harus menyembah-Nya dan
tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba yang pasti

diberikan Allah azza wa jalla adalah Dia tidak akan menyiksa [kekal di neraka, pent] orang
yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah taala berfirman,

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan
kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembahpenyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu
tetap mempelajarinya. (QS. Ali 'Imran 3 : 79)
[208]. Rabbani ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai
tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut
agama) Islam? (QS. Ali 'Imran 3 : 80)
Ibnu Juraij dan sekelompok ulama tafsir yang lain menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini
adalah, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah memerintahkan kalian untuk
menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan, sebagaimana halnya yang dilakukan
oleh kaum Quraisy dan Shabiin yang berkeyakinan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah.
Tidak juga sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan tentang Isa al-Masih
dan Uzair seperti apa yang mereka ucapkan [bahwa mereka adalah anak Allah, pent]. (lihat
Maalim at-Tanzil, hal. 220 oleh Imam al-Baghawi)
Disebutkan dalam riwayat, bahwasanya suatu ketika orang-orang Yahudi datang kepada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian mereka berkata, Apakah kamu wahai
Muhammad ingin untuk kami jadikan sebagai rabb/sesembahan? Maka Allah pun
menurunkan ayat di atas sebagai tanggapan untuk mereka (lihatal-Jami li Ahkam al-Quran
[5/187] oleh Imam al-Qurthubi)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, Lalu Allah berfirman (yang artinya),
Dan dia tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai
sesembahan yaitu dia tidak memerintahkan kalian beribadah kepada siapapun selain Allah,
baik kepada nabi yang diutus ataupun malaikat yang dekat -dengan Allah-. Apakah dia akan
memerintahkan kalian kepada kekafiran setelah kalian memeluk Islam?. Artinya dia [rasul]
tidak melakukan hal itu. Karena barangsiapa yang mengajak kepada peribadatan kepada
selain Allah maka dia telah mengajak kepada kekafiran.
Padahal para nabi hanyalah memerintahkan kepada keimanan; yaitu beribadah kepada Allah
semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal itu sebagaimana firman Allahtaala (yang
artinya), Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau seorang rasul pun kecuali Kami
wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah
Aku [saja] (QS. Al-Anbiya: 25) dst. (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [2/67])
Allah taala berfirman,

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika
Ialah yang kamu hendak sembah. (QS.Fushshilat 41 : 37)
Berdoa kepada selain Allah bahkan termasuk perbuatan kekafiran yang mengeluarkan
pelakunya dari agama Islam. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari ayat,
Janganlah kalian sujud kepada matahari atau kepada bulan. Akan tetapi sujudlah kepada
Allah yang telah menciptakan itu semua. Beliau berkata, Janganlah kalian
mempersekutukan hal itu dengan-Nya. Karena tidaklah berguna ibadah kalian kepada-Nya
jika kalian juga beribadah kepada selain-Nya. Sebab Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik kepada-Nya. (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim[7/182] cet. Dar Thaibah)
Allah taala berfirman,

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu
dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. Al Mu'minuun 23 : 117)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al


Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maa'idah 5 :
72)

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu
menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al Jin 72 : 18)

Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullahmenjelaskan, Artinya janganlah kalian beribadah


kepada siapapun selain kepada-Nya. (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 15)
Tidak ada kesesatan yang lebih buruk daripada kesesatan orang yang berdoa dan bergantung
kepada selain Allah. Allah taala berfirman,

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain
Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
(memperhatikan) doa mereka? (QS. Al Ahqaaf 46 : 5)

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu
menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al Ahqaaf 46 :
6)
Begitu banyak ayat yang menjelaskan bahkan apabila kita menyembah selain Allah
maka kita masuk golongan sesat dan kafir. Apakah kita sudah menyembah Allah?
Artian menyembah ini tidak hanya dalam hal ibadah kepada Tuhan melalui Ritual, akan tetapi
lebih utamanya adalah mempraktekkan nilai terkandung dari ritual yang kita kerjakan dengan
mengaplikasikannya dalam kehidupan manusia (bermasyarakat).
Sehingga dengan memahami arti menyembah, diharapkan setiap diri manusia dituntut untuk
menjadi manusia yang sempurna, baik dalam perilaku, tutur kata hingga persangkaan.
Akan tetapi kebanyakan dari manusia tidak memahami makna dari menyembah ini, sehingga
dalam praktek hidupnya seenaknya sendiri, semena-mena terhadap sesama bahkan merusak
lingkungan.
Yang diberi kekayaan lupa akan Tuhan, karena telah Menjadikan kekayaannya sebagai
Tuhan. Yang miskin menuntut keadilan Tuhan, bahkan banyak yang menghujat. Yang diberi
ilmu , jadi sombong, angkuh, ngakali (red. jawa) orang lain. Menjadikan uang, kekuasaan,
keangkuhan sebagai Tuhan. Hal-hal kecil inilah sebagai salah satu contoh perbuatan yang
disebut dengan menyekutukan Tuhan (syirik). Hal ini terjadi karena mereka hanya TAU
Tuhan. Dan bagi yang telah KENAL Tuhan, hal ini tidak akan terjadi.
Tuhan hanya mereka ingat saat menjalankan ritual. Selesai menjalankan, Tuhannya
terlupakan.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisaa' 4 : 48)

d.

Sejatinya Tuhan

Tuhan,Good,Sang Maha Kuasa, Hyang Widhi dll merupakan kata ganti dari Dzat yang
Maha Luar Biasa yang disematkan oleh manusia. Karena keberadaan-NYA maka semua
menjadi ada. Manusia menyebutnya dengan berbagai nama, Adonai, El Shaddai, YHWH
(Yahweh), Ranying Hatala, Brahma . Bahkan agama islam menyebutnya dengan nama-nama
baik Tuhan (asmaul Husna) yang berjumlah 99.
Apakah beberapa nama yang telah tersebut diatas adalah nama sejati-NYA?
Untuk menemukan jawabannya marilah kita perhatikan kata-kata bijak berikut dibawah ini
NAMA-DIRI Tuhan hanya bisa dikenalkan oleh Tuhan sendiri kepada mahluk-Nya. NamaNya tidak bisa datang dari karya atau tradisi manusia, itu hanyalah nama Ilah, hasil sebuah
perolehan dari manusia yang terlanjur percaya bahwa itulah nama pribadi Tuhan-Nya.
Apabila kita menyimak makna terkandung dari kata-kata bijak diatas, akan kita temukan
kenyataan bahwa nama-nama Tuhan yang telah ada sekarang merupakan nama-nama Tuhan
hasil dari pemikiran manusia. Akan tetapi terkait SEJATINYA, Tuhan sendirilah yang akan
memperkenalkan diri-NYA kepada manusia-manusia pilihan, yaitu manusia yang kemana
saja melihat disitu yang dilihatnya selalu WAJAH TUHAN. Sehingga manusia wajib
mengenal dulu, baru kemudian meyakini dengan Haqul Yakin (baca : Hakekat Iman)

Sebagai contohnya adalah ada pertanyaan untuk pemeluk agama islam terkait Tuhan.
siapakan Allah?,
jawaban secara serentak adalah Tuhan seru sekalian Alam.
Pertanyaan kita lanjutan, Siapakah Tuhan seru sekalian Alam,
pasti akan menjawab kembali Allah.
Dengan contoh pertanyaan tersebut diatas, sebenarnya yang ingin disampaikan adalah
SEJATI-NYA DIA siapa?
Bagaimana apabila kita ulang lagi pertanyaan?, jawaban yang kita dapat akan berputar disitu
saja. Dan apabila kita kejar terus, yang muncul adalah jawaban dengan penuh hawa amarah,
dan ujung-ujungnya mengkafirkan orang lain.

Kenapa SEJATINYA wajib diketahui oleh setiap manusia?, jawabanya adalah


sederhana, agar tidak timbul aku-akuan terkait Tuhan . Sehingga semua menyadari dan
saling memahami bahwa Tuhan adalah univesal dan penyebutannya dengan nama-nama
tertentu hanya bermaksud memudahkan dalam pengajaran kehidupan tentang DIA dengan
segala Ciptaan-NYA.

Sebagai contoh nyata pembahasan tentang hal tersebut diatas adalah peristiwa yang
pernah terjadi di negara malaysia dan indonesia. Ditulis oleh saudara Ulil Abshar Abdalla,

berikut kutipannya ;
Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang
justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap
pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam
menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama islam, maka
langkah terbaik adalah memulai dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan
menghindari tindakan yang tak masuk akal.
SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia
dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald
Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama
perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari
Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab
dalam sampulnya terdapat kata Allah.
Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata Allah hanyalah milik umat Islam saja?
Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata Allah?
Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat
seperti itu muncul?
Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga
sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas
bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang
menuntut
pemerintah
mereka
untuk
memberlakukan
larangan
tersebut.
Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta
Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata Allah dalam terjemahan Alkitab versi bahasa
Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah Allah bukanlah istilah yang berasal dari tradisi
Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.
Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen,
tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang
dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan orang dalam,
tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.
Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali
tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab
sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka
sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana
disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui
Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata
Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di
tanah Arab.
Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya
memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga

memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup
sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin
sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Hairin (Petunjuk Bagi
Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah
selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.
Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang
terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-badi
khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in
Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi:
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan
oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada
presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi
bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali
memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di
Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan asli milik
umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam
saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.
Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari
tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena
asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam
antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di
jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga
tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang
besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca,
misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic
Literature, 2001).
Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah
yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam,
seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi kabah), ruku
(membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.
Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran
Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada
dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah asli
milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan,
pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya

kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika
internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita
lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh
mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang
kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara
kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.
Penegasan bahwa kata Allah hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari
manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat
sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik
makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa
tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan
terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang
dimanipulasi oleh kllik tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya
oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan
justifikasi pada perasaan terancam itu.
Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan beda jelas alamiah belaka dalam
semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehari-hari bisa
mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang
sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang
kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah
Allah adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di
muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu,
proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama
Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi
Israel sebelum Muhammad apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja
mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa
Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku
Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang lucu dan ekstrem seperti itu benarbenar terjadi.(Baca : Kemana Mencari Tuhan)
Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif
tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang
agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri
melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut
saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan
semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif
tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari dalam tubuh umat Islam
sendiri.
Yaitu
dengan
menghindari
tindakan
yang
tak
masuk
akal.
Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara
mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu
kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak
berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di
sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan
pemerintah Malaysia itu. Hal ini kami angkat semata-mata untuk membuka mata kita akan
kebesaran ISLAM.
Demikian sekelumit kisah dari aku-akuan yang sebenarnya pun Tuhan tidak menginginkan
hal ini terjadi.(Baca :Nama Sejati Tuhan)
Semua paham yang ada didunia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kenapa? Karena hakikat Tuhan itu tidak terbatas. Sedangkan manusia sangat terbatas.
Bagaimana suatu yang terbatas dapat mengetahui sepenuhnya Yang Tidak Terbatas. Definisidefinisi yang dibuat manusia tentang Tuhan, ibarat suatu usaha untuk mengukur alam semesta
dengan seutas tali yang panjangnya 2 meter. Definisi-definisi itu jauh dari sempurna. Misteri
Tuhan tidak akan pernah dapat disingkapkan oleh siapapun.
Maka secara hakiki Tuhan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kita manusia terpaksa
bergantung kepada imajinasi yang meluhurkan ataupun kadang-kadang merendahkan diri
kita. Sifat-sifat yang kita berikan kepada Tuhan dengan Prayojana semurni-murninya adalah
benar bagi kita tapi pada hakikatnya salah. Sebab setiap usaha untuk menggambarkan Tuhan
pasti akan menemukan kegagalan.
Setiap orang memang harus percaya bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan Tuhan,
dalam arti ia merasa dekat dengan Tuhan. Tapi ia sama sekali tidak boleh merasa atau
mengatakan bahwa ia atau mereka telah memonopoli Tuhan. Kedekatan kita dengan Tuhan
tidak memberi hak kepada kita untuk mengasingkan Tuhan dari orang lain. Tuhan tidak
pernah mengikatkan dirinya hanya pada satu kelompok orang, baik berdasarkan suku maupun
agama.
Demikian pula halnya dengan kelompok. Orang Yahudi merasa memiliki hubungan khusus
dengan Yahweh. Orang Kristen dengan Yesus. Orang Islam dengan Allah. Orang Budha
dengan Sang Budha. Orang Hindu dengan Sang Hyang Widhi. Tapi hubungan khusus dengan
Yahweh tidak boleh membuat orang Yahudi mengatakan Yesus atau Allah bukan Tuhan.
Hubungan khusus dengan Sang Hyang Widhi tidak memberi hak kepada orang Hindu untuk
mengatakan bahwa Allah dan Yesus tuhan palsu. Bagi orang Hindu nama-nama itu semua
merujuk kepada hakikat yang satu: Tuhan.
Yesus oleh orang Kristen disebut Terang Dunia, Allah disebut Nur. Dalam Upanishad Tuhan
diandaikan bagaikan angin yang mengambil bentuknya dalam setiap benda yang
dimasukinya, bagaikan api yang mengambil bentuk dalam setiap benda yang terbakar. Tuhan
juga disebut sebagai matahari pemberi kehidupan. Bahkan sinarNya melebihi terang cahaya
matahari: "Disana matahari tidak bersinar, bulan tidak bersinar, tidak juga bintang-bintang;
kilat tidak bercahaya apalagi bumi. Dari SinarNya semua (benda-benda angkasa) ini dapat

memantulkan cahaya, dan sinarNya menerangi seluruh ciptaan". (Baca : Tujuan Tuhan
Dengan Menciptakan Banyak Agama)
Berdasarkan pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaanNYA, maka masyarakat jawa
menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan simbolisasi guna memudahkan
pemahaman.
Pada sebuah kidung dhandhanggula digambarkan : Ana pandhita akarya wangsit (ada pendeta
yang mencari petunjuk), kaya kombang anggayuh tawang (seperti kumbang yang ingin
terbang kelangit), susuh angin (sarang burung) ngendi nggone, lawan galihing kangkung (inti
kangkung), watesane langit (batas cakrawala) jaladri, tapake kuntul mabur ( bekas telapak
burung kuntul yang terbang) nglayang lan gigiring panglu (pinggir dari bumi/globe).
Di sini jelaslah yang dicari merupakan sesuatu yang tidak tergambarkan atau tidak dapat
disepertikan (Tan kena Kinaya Ngapa), yang disebut orang kebanyakan sesungguhnya bukan.
Sehingga masyarakat jawa menyatakan bahwa hakikat Tuhan adalah sebuah kekosongan,
Suwung.
Logikanya, apabila hakikat Tuhan adalah kekosongan, maka untuk menyatukan diri dengan
sang maha kosong kitapun harus kosong. Dengan menghilangkan muatan-muatan yang
membebani jiwa, seperti nafsu dan keinginan.
Harapan dari kesemua konsep diatas adalah agar manusia memahami betul akan sangkan
paraning dumadi.
Dalam tembang dhandanggula di jelaskan
Kawruhana sejatining urip
Urip ono jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi Pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Njan-sinajan ora wurung bakal mulih
Umpama lunga sesanja
Mulih mulanira

Artinya ketahuilah sejatinya hidup, hidup didalam alam dunia ini, ibarat perumpamaan
mampir minum, ibarat burung terbang, pergi jauh dari kurungannya, dimana hinggapnya
besok, jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang, saling bertandang, yang pasti
bakal pulang, pulang ke asal muasalnya. (baca : Sangkan Paraning Dumadi )

Allah hanyalah salah satu nama Tuhan dari sekian juta nama-NYA. Dia ada di luar himpunan
apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan
berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah beragama Islam.

5. Syahadat Rasul

Arti secara bahasa tulisan adalah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah utusan Allah.

Makna syahadat Muhammad Rasulullah secara syariat adalah mengetahui dan meyakini
bahwa Muhammad utusan Allah kepada seluruh manusia, dia seorang hamba biasa yang tidak
boleh disembah, sekaligus rasul yang tidak boleh didustakan. Akan tetapi harus ditaati dan
diikuti.
Apakah Syahadat Rasul setelah dibahas dalam dunia makna (Hakikat) masih memiliki arti
dan makna yang sama seperti tersebut diatas?
Marilah kita kupas satu persatu, kata demi kata diatas dengan tanpa mengurangi makna
secara syariat yang telah ada.

5.1 Hakikat Aku


Siapakah aku didalam sahadat tauhid dan rasul ini?!!, Dalam budaya jawa, jauh
sebelum islam dan yang lain masuk, Aku bisa dijelaskan dengan konsep sedulur papat
limo Pancer. Yaitu manusia sebagai diri pribadi yang dikawal oleh 4 sahabat dalam
menjalani tugas-tugas didunia, Ketuban, ari-ari, tali pusar, dan darah. (Baca: Malaikat)
Setelah Islam masuk ke Nusantara, konsep sedulur papat berubah sesuai bahasa
induk agama islam dari jazirah arab, yaitu 4 malaikat utama. Jibril, mikail, isrofil dan izroil.
Oleh kelompok Sufi tertentu, sistem saudara empat ini disejajarkan dengan keempat sifat
nafsu, yaitu nafsu amarah, lawammah, sufiyah dan muthmainnah. Nabi Muhammad sendiri
memiliki 4 sahabat utama, umar, ustman, abu bakar serta ali. Apakah hal ini suatu
kebetulan?!, Yang pasti adalah Nabi ingin memberikan pelajaran secara wujud mengenai
sedulur papat, malaikat atau sistem saudara dalam perlindungan serta penjagaan.

Coba perhatikan dan bandingkan sifat dari empat sahabat itu dengan keempat sifat nafsu,
bandingkan juga dengan fungsi dari ketuban, ari-ari, tali pusar, dan darah. Sekaligus
bandingkan dengan ciri-ciri dari 4 malaikat utama.!!!!

5.2 Hakikat Bersaksi


Bersaksi, arti kata ini adalah melihat dengan kepala mata sendiri, percaya, baru setelahnya
akan
bersaksi.

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih
buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. Al-Israa 17: 72)

Setelah mengetahui arti dan makna dari bersaksi seperti tersebut diatas, apakah kita telah
bersaksi atau melihat langsung Muhammad Rasulullah? (tanyakan pada hati nurani yang
paling dalam)

5.3 Hakikat Muhammad

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar
gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya
Ahmad." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang
nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS. Ash Shaff 61 : 6)

dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Dari firman Tuhan yang tertuang dalam Ash Shaff ayat 61 sangatlah jelas bahwa Nabi umat
islam bernama Ahmad, tapi kenapa didalam syahadat rasul saat Muhammad diartikan
dengan Nabi Muhammad SAW? (Baca : GELAR MUHAMMAD)
Setelah membaca Isra' Mi'raj Dalam Pandangan Syariat\GELAR MUHAMMAD, barulah
kita pahami bahwa Muhammad adalah gelar bagi seorang yang bernama Ahmad. Gelar ini
pun didapatkannya setelah membuktikan diri dalam praktek kehidupan sehari-hari sebagai
manusia yang Rahmatan Lil alamin, Sehingga pemaknaan dari Muhammad pada
syahadat Rasul tidak serta merta dinisbatkan kepada satu sosok manusia yang bernama
Ahmad dengan gelarnya Muhammad. Kenapa demikian?, karena arti kata dan makna dari
Muhammad adalah Entitas dasar dari sifat terpuji yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk atau rupa kamu, juga tidak kepada
harta benda kamu. Akan tetapi, Allah swt memandang kepada hati dan amal perbuatanmu
semata. (HR. Ibn Majah).
Berikut dibawah ini terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa Muhammad yang
dimaksud adalah Entitas dasar dari sifat terpuji yang diberikan Tuhan kepada manusia.

5.3.1 Filosofi Wayang


Wayang dengan segala perangkatnya mengandung makna yang sangat luar biasa dalam
memahami sejati-NYA Tuhan dengan segala ciptaannya. Dalam Suluk Gatholoco tertuang
bahasan mengenai hal ini. Secara Heirarki atau urutan dari yang paling tua dantara Dalang
Wayang, Klir (Layar), dan Balencong (pelita yang dinyalakan pada jaman dulu selama
pertunjukan wayang kulit digelar) adalah sebagai berikut :

Pertama, Blencong.
Blencong menghasilkan Cahaya yang mampu menerangi. Dengan cahaya ini semua
akan bergulir, semua akan bergeliat untuk beraktifitas. Bagaimana kalau tidak ada cahaya?,
jawaban yang pasti adalah tidak akan ada aktifitas apapun.
Makna hakikat dari cahaya ini adalah cahaya terpujinya Tuhan, yaitu Tuhan sendiri yang
bertajali dengan sebutan Nur Muhammad. Dengan adanyanya Cahaya Terpuji ini semua
menjadi ada. Nur Muhammad ini bukanlah Nur nya Nabi Muhammad seperti yang diyakini
banyak pemeluk agama islam. Akan tetapi Nur bagi seluruh di alam semesta dengan segala
isinya.

Pada malam Ghaibul Ghaib yaitu dalam keadaan antah-berantah hanya Dzat semata.
Belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada bulan dan belum ada matahari, belum ada
bintang belum ada sesuatupun. Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam
keadaan ini, Diri yang punya Dzat tersebut telah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diriNya.
Lantas tajalilah Nur Allah dan kemudian tajali pula Nur Muhammad (Insan Kamil), yang
pada peringkat ini dinamakan Anta Ana, (Kamu, Aku) , (Aku,Kamu),Ana Anta. Maka yang
punya Dzat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan
kedudukan dan taraf hamba. Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini Tuhanmu?
Maka dijawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, YaEngkau Tuhanku.
Persaksian ini dijelaskan dalam firman-NYA berikut ini :

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi." (QS. Al-Araf 7 : 172)
Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu dilaksanakan, maka bermulalah era baru di
dalam perwujudan Allah SWT. Firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :Aku suka
mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku.
Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian
alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur
Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri.
Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian
yang bernama : Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau
Rohani.
Firman Allah dalam hadist qudsi : AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU,
Artinya : Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya. Jadi yang dinamakan
manusia itu ialah karena ia mengenal Rahasia. Dengan perkataan lain manusia itu
mengandung Rahasia Allah.
Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal
dirinya, dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhannya, sehingga
lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada Yang Punya Diri pada waktu dipanggil
oleh Allah SWT. Yaitu tatkala berpisah Roh dengan jasad. Kembali kepada Allah harus selalu
dilakukan semasa hidup, atau dalam istilah orang perjalanan spiritual dengan mati sebelum
mati / mati sajroning urip mati . (Baca : Mati Selagi Hidup )

Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang


berhak menerimanya. (Allah). (QS. An-Nisa 4:58)

Hal tersebut diatas dipertegas lagi oleh Allah dalam hadist qudsi : MAN ARAFA NAFSAHU,
FAQAT ARAFA RABAHU. Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan
mengenal Tuhannya.
Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada
Langit, Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh, (Al Ahzab 33 : 72)
Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab
manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga
hubungannya dengan yang punya Rahasia.
Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Batin/Roh) untuk tujuan inilah
maka Adam dilahirkan untuk memperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang
dari satu abad ke satu abad, diri satu generasi ke satu generasi yang lain sampai alam ini
mengalami KIAMAT DAN RAHASIA ITU KEMBALI KEPADA ALLAH. (Baca : Asal
Kejadian & Hakikat Nur Muhammad)
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN
Artinya : Kita berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah.

Kedua, Kelir (layar)


Kelir (layar) merupakan sifat dari WUJUD Tuhan. Manakala Balencong sudah
dinyalakan, menyala- nyala terlihat terang, Klir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah
dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri, serta bagaimana wujud dari setiap jenis
Wayang.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintangbintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A'raaf 7 :
54)

WUJUD artinya ada, bukti adanya nafas, ada nafas tentu saja ada hidup, setiap ada hidup
sudah pasti, ada Allah, sebab sifatnya hidup dari Dzat-Nya Sifat-Nya Allah Taala. Keimanan
seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa jagat kabir dan jagat
shagir ada, karena adanya Allah yang menciptakannya

Ketiga, Dalang Wayang


Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar
kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan
ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong
yang
menerangi,
oleh
karenanya
Balencong
yang
lebih
tua.
Sedangkan bunyi gamlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar
mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak
Dalang, berhentinya gamlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang
hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang
telah ditentukan.
Kisah yang digelar dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Spi,
kata Spi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng
tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi
ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.
Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik,
dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita
telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum
terlahirkan,
tetap
kosong
tidak
ada
apapun
juga.
Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang
sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang
Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan
dibawah,
Wujudmu
tak
lain
adalah
Wujud
Allah
Yang
Kuasa.
Jikalau pertunjukan Wayang telah selesai, Wayang beserta Klir (Layar), disimpan didalam

kotak, Balencong berpisah dengan Klir (Layar), Dalang berpisah dengan Wayang,
kemanakan perginya, sirnanya Balencong dan Wayang? Carilah hingga ketemu, apabila tidak
mengetahui hal itu hidupmu bagaikan arca batu semata. (Baca : Bima dan Dewaruci (Serat
Dewa Ruci))

5.3.2 Wirid Hidayat Jati


Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang di diajarkan adalah wejangan yang berasal dari
delapan wali dari tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Isinya bersumber dari
intisari firman Allah SWT yang dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW kepada
Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.
Yang disebut Muhammad itu, apakah Kakiki (Hakiki : Intisari Gaib) atau yang Majaji
(Maujudi : yang berwujud nyata), maka jawablah, yang dinamakan Muhammad itu adalah
seorang Nabi, tapi hakekatnya yang disebut Muhammad itu, tak lain adalah Dzatullah illapi
(Dzatullahullahi A- Idhofi : Dzat Allah Yang menambah kekuatan bagi semesta atau energi
illahi) Muhammad yang Hakiki dan Maujud, kedua- duanya adalah tunggal juga, semuanya
ada didiri kalian (seluruh makhluk)

6. Rasulullah (utusan Allah)


Muhammad itu sesungguhnya adalah nama dari cahaya Allah, yaitu Nur
Muhammad (Nur : Cahaya, Muhammad : Terpuji). Inilah inti sari setiap makhluk. Hakikat
setiap makhluk.
Secara hakikat dia melampaui segalanya, secara wujud nyata, berwujud seluruh material
semesta, termasuk jasad fisik manusia. Maka benarlah jika kita ini disebut perwujudan Nur
Muhammad.
Karena Nur Muhammad itu tak lain adalah Allah yang telah bertajali. Dan Ruh kita ini
disebut Rasul Muhammad (Rasul : Utusan, Muhammad : Terpuji), percikan / bagian dari
Tuhan (bukan Ruh yang diciptakan) Oleh karenanya Allah, (Nur) Muhammad dan Rasul
(Muhammad) adalah satu kesatuan tunggal, dalam Ajaran Syeh Siti Jenar maupun Sunan
Kalijaga, sering hanya disebut ALLAH, MUHAMMAD, RASUL saja. (Baca : Asal
Kejadian)

6.1
Riwayat Utusan (Nur
Muhammad)

"Sesungguhnya AKU (Allah) adalah Dzat yang maha kuasa menciptakan segala sesuatu,
jadi seketika, sempurna berasal karena kuasa-KU (Allah), menjadi nyata tanda perbuatanKU, yang sebagai pembuka (akan pengenalan) Dzat-KU. Yang pertama AKU menciptakan
Kayu (pohon) bernama Sajaratul yakin (pohon kehidupan) tumbuh di dalam alam Adam
Makdum (kosong hampa) Ajalai Abadi (alam yang sejak jaman azali /dahulu dan kekal
adanya). Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad (Cahaya Yang Terpuji), berikutnya
Cermin bernama Miratulhayai (Kaca Wirai), selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi
(nyawa yang jernih), lalu Lentera / Lampu / pelita bernama Kandil (lampu tanpa api), lalu
Permata bernama Da-rah / dzarrah , lalu dinding agung bernama Hijab (dinding jalal atau
penutup) yang merupakan wahana / sekat bagi penampakan Dzat-KU (Allah)."
Penjelasan
Pertama,
Dalam wejangan ini diterangkan kemaha-kuasaan Sang AKU (Allah). Sekaligus
diterangkan tingkat-tingkat 'pengungkapan / penyingkapan' Dzat-Nya supaya dikenali,
melalui af'al-Nya (sifat-NYA) dalam penciptaan. Pertama diciptakanNyalah Kayu Sajaratul
Yakin (pohon kehidupan) yang hidup dalam alam keabadian. Tumbuh dari benih Kaf dan
Nun. Hakekatnya ini adalah bukan penciptaan dalam arti harfiah namun lebih kepada
pengungkapan Dzat-Nya untuk dikenali sebagai Sang Hidup. Kayu atau Hayu adalah Hidup
atau Urip. Yaitu sebagai Dzat Yang Hidup Berdiri Sendiri. Sedang sifat-Nya belumlah bisa
disifati dengan segala macam (bahasa) sifat. Disinilah alam sonya-ruri, awang-uwung, tan
kinaya ngapa, laisa kamitslihi syai'un.
Kedua,
Diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad atau cahaya yang terpuji.Nur
muhammad ini merupakan 'bibit' (wiji) alam semesta. Tercipta dari hasil penyaringan benih
Kun sampai murni dan ditambah sinar Hidayah-NYA lalu ditenggelamkan dalam lautan arRahmah Nur. Muhammad berarti cahaya yang terpuji, yang hakekatnya adalah Cahaya
Keindahan-NYA sendiri.
(Hadis) seperti burung merak permata putih berada arah sajaratul yakin, hakikat cahaya, tajali
Zat berada dalam nukat gaib, merupakan sifat Atma (Wahdat).

Ketiga,
Allah menciptakan Cermin bernama Miratulkhayai (Cermin Kehidupan /Cermin Malu),
dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur
Muhammad akhirnya mengenali dirinya. Hakikatnya pramana yang diakui sebagai rahsanya
Dzat, sebagai nama Atma (Wahidiyat).
Keempat,

Diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi, artinya nyawa yang jernih. Hadist ; ia
berasal dari Nur Muhammad ; hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat, merupakan
perbuatan Atma (alam Arwah). Dalam satu riwayat setelah Nur Muhammad dilihat oleh
Tuhan, dia menjadi malu dan dari tiap bagian mengeluarkan keringat. Keringat inilah
yang dinamakan Roh Idhofi, dimana Roh ini akan bertugas didunia sesuai dengan tempat
keringat keluar.
Manusia malu saat dilihat Tuhan, apakah maknanya?. Setelah manusia menerima
amanat dari Tuhan, Manusia menjadi sadar sesungguhnya dirinya amat zalim (sombong)
dan amat bodoh menerima tugas itu

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh, (QS. Al Ahzab 33 : 72)
Sehingga timbullah pertanyaan apakah saat turun bertugas didunia nanti masih mampu
untuk mengenal Tuhan kembali, dan mengembalikan amanah tersebut pada DIA!?

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS. Al Baqarah 2 : 156)

Allah pun menyindir kita dengan pertanyaan,

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara mainmain (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al Mu'minuun
23 : 115)

Secara fakta didunia manusia diturunkan dalam berbagai suku, agama, ras dengan
berbagai bahasa. Karena manusia adalah makhluk yang tergesa-gesa, maka dalam mengambil
segala keputusan pun tergesa-gesa. Sehingga timbullah perselisihan, peperangan hanya
karena perbedaan buku panduan.
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. (QS. al-Anbiya' 21:37)

Perbedaan-perbedaan diantara manusia tampaknya sering merupakan sarana untuk saling


menghancurkan, saling menghujat penuh dendam kesumat, saling menyalahkan, merasa
dirinya paling benar dan mulia, yang seharusnya mampu menjadi rahmat bagi seluruh
manusia.
Padahal perbedaan-perbedaan itu merupakan sunatullah. Tujuan adanya perbedaan bukan
untuk saling menyakiti tapi untuk disikapi dan diselesaikan dengan cara-cara yang baik dan
berada dalam ridho Allah SWT.

Ada 10 perbedaan diantara manusia yang merupakan


sunnatullah (ketetapan Tuhan), yaitu :
a. Perbedaan jenis kelamin, bangsa dan suku yang diciptakan untuk saling
kenal mengenal

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.Al Hujuraat
49 : 13)
b. Perbedaan bahasa dan warna kulit yang merupakan bukti kebesaran
Allah yang terdapat pada alam semesta

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi


dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang
demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(QS. Ar Ruum 30: 22)
c. Perbedaan pendapat/pemikiran

Sungguh, kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat (QS.Adz


Dzaariyaat 51 : 8)

d. Perbedaan dalam usaha/perbuatan/kegiatan

Sungguh, usahamu memang beraneka macam (QS.Al Lail 92 : 4)

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami
ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang
berbeda-beda. (QS.Al Jin 72 :11)
Contoh: Setiap manusia di dalam masyarakat berbeda usaha: ada pedagang, ada
pelajar, ada mahasiswa, ada pegawai. Bahkan dalam rumah tangga pun berbeda
kegiatan: ada ibu rumah tangga yang sedang memasak, ada anak sedang belajar,
ada ayah sedang membaca koran. Sementara burung, semua sama sedang terbang
mencari makan. Ada kambing sedang merumput. Ada ikan sedang berenang.
Semua binatang dari masing-masing jenisnya melakukan kegiatan yang sama.
e. Perbedaan kemampuan dan kesanggupan

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[867] masing-masing."


Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS.Al Israa
17
:
84)
[867]. Termasuk dalam pengertian keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam
sekitarnya.

Contoh: Orang yang sudah tua renta, tidak dapat melakukan ritual sholat dengan
sempurna. Namun usahanya itu sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.
(Orang buta, orang tuli, orang bisu), semua melakukan ibadahnya kepada Allah
sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.
f. Perbedaan dalam tingkat perekonomian

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan
sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu)

berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah
kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang
orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?" (QS.Al Anaam 6 : 53)
g. Perbedaan syariat dan keyakinan

Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka
amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan dengan engkau dalam
urusan (syariat) ini, dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau
(Muhammad) berada di jalan yang lurus (QS. Al Hajj 22 : 67)
h. Perbedaan dalam ritual
Setiap mahluk punya cara doa, tasbih, sembahyang sendiri-sendiri

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang
di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masingmasing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS. An Nuur 24 : 41)

i. Perbedaan derajat/kedudukan di mata Allah


Allah menetapkan derajat berbeda-beda (agar supaya kita manusia lebih bijak)

Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia
mengangkat (derajat) sebagian kami di atas yang lain, untuk mengujimu atas
(karunia) yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat
memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS.
Al Anaam 6 : 165)
j. Perbedaan dalam paradigma/cara pandang/kiblat
Syariat : kiblat, Hakekat : cara pandang
Bagi tiap-tiap umat ada kiblat (dalam hal ini, hakekatnya: cara pandang) nya
sendiri-sendiri

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada
pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Bagarah 2 : 148)
Kelima,
Diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil, artinya lampu tanpa api. Hadist; berupa
permata, cahaya berkilauan tanpa kaitan. Itulah keadaan Nur Muhammad dan tempat
berkumpul semua roh, hakikat angan angan diakui sebagai bayangan Dzat, bingkai Atma
(alam Misal).
Keenam,
Diciptakan Permata diberi nama Darah, Hadis ; ia mempunyai sinar yang beraneka warna
satu tempat dengan malaikat, hakikat budi, sebagai perhiasan Dzat, pintu atma (alam Ajsam).
Ketujuh,
Diciptakan dinding agung yang disebut hijab. Hijab adalah pembatas / tabir yang agung.
Namun hakekatnya bukan pembatas tetapi 'penyambung' antara yang dihijab dan Yang
Menghijab. Diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang
kasar dan halus.

6.2
Utusan Tuhan Dalam Suluk
Gatholoco
Pujianmu tiada guna, menyusahkan diri sendiri, tak mengagungkan Rasul (Utusan) sendiri
( Rasul sendiri, maksudnya adalah Atma, Ruh, Percikan Tuhan yang merupakan
inti sari setiap makhluk! Ruh kita, Atma kita inilah UTUSAN YANG SESUNGGUHNYA),
menyia-nyiakan hidupmu, mengagungkan Rasul diluar diri, semua orang yang sepertimu,
tidak memahami yang sebenarnya.
Menyebut nama Allah dengan sia-sia, teriak-teriak membuat Allah tidak sempat tidur,
terganggu suara kalian yang sangat berisik (Ungkapan keprihatinan untuk mengkritik
kebiasaan mukmin awam yang suka beribadah disertai rasa pamer, riya. Ibadah tidak perlu
ditunjuk-tunjukkan. Lakukan diam-diam. Tidak usah berteriak-teriak! Itu maksud
Gatholoco!).
Rasulullah (atas nama manusia, Nabi Muhammad) telah meninggal seribu tahun yang lalu,
kamu teriaki dari rumahmu (dengan harapan ditemui oleh beliau), walaupun sampai melar
lehermu, tidak akan berkenan hadir menemuimu? Hanya melelahkan diri sendiri tiada guna
( maksud Gatholoco hanya melelahkan diri sendiri dan tiada guna jika memuji nama beliau
dengan harapan agar ditemui dan mendapat tuntunan. Al-Quran dan Hadist, itu sudah cukup
beliau berikan bagi acuan peningkatan Kesadaran para pengikut beliau!).

7. Makna Hakikat Syahadat


Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan
barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang Wali
Mursyd-pun (pemimpin agama) yang dapat memberi petunjuk kepadanya.. (QS. Al Kahfi 18
: 17)

Barangsiapa yang Allah sesatkan[587], maka baginya tak ada orang yang akan memberi
petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (QS. Al
A'raaf 7 : 186)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut
kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.
Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az
Zumar 39 : 23)
[1312]. Maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu
diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih
meresap. Sebahagian ahli Tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al
Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al
Faatihah.

Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang
Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka
selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka
mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka
jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka
nyalanya. (QS. Al Israa' 17 : 97)

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki
Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia
sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak
beriman. (QS. Al An'aam : 125)

7.1

Penunjuk Jalan

Dalam memahami makna hakikat persaksian manusia dengan Tuhan dibutuhkan


seorang penunjuk jalan atau yang disebut Wali Mursyid. Berkaitan dengan kata Wali
Mursyid yang terdapat dalam ayat [QS.Al-Kahfi 17] di atas, beberapa tafsir menerangkan,
antara lain dalam Tafsir Fathul Qadir yang ditulis oleh Imam Asy-Syaukani menerangkan
bahwa Wali Mursyid adalah penolong yang dapat memberikan hidayah pada yang haq
(kebenaran).
Selanjutnya dalam Tafsir Bahrul Ulum yang ditulis oleh Abu Laits As-Samarqandi
diterangkan bahwa Wali Mursyid adalah yang memberikan bimbingan/petunjuk kepada
tauhid (pengesaan Allah).
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Wali Mursyid itu adalah penolong
atau pembimbing yang mengajak kepada kebenaran tauhid, tanpa menyebutkan siapa dia
(nama), dari nasab atau keturunan siapa dan ia ada di mana. Selama ia dapat
mengajak/membimbing kepada kebenaran Al-Quran sebagai petunjuk, menyeru kepada
tauhid (mengesakan Allah), maka dialah Wali Mursyid.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yunus 10 : 62)

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.(Yunus 10 : 63)

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.
Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar. (QS.Yunus 10 : 64)
Rasulullah SAW. bersabda, Sesungguhnya dari kalangan para hamba Allah ada
segolongan orang yang bukan nabi dan bukan pula syuhada, namun para nabi dan para
syuhada berebut dengan mereka dalam kedudukannya terhadap Allah.
Orang pun bertanya, Wahai Rasulullah, ceritakan kepada kami siapa mereka itu dan apa
amal perbuatan mereka. Sebab kami senang kepada mereka karena yang demikian itu.
Nabi menjawab, Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan Ruh
Allah, tidak atas dasar pertalian keluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta
yang mereka saling beri. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya terang, dan mereka berada
di atas cahaya terang. Mereka tidak merasa takut ketika semua orang merasa takut, dan
mereka tidak merasa kuatir ketika semua orang merasa kuatir.
Dan kemudian Rosulullah membaca ayat ini : Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu
tiada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka merasa kuatir. (Kitab Fath al-Bari, Hadis
Sahih dirawikan Imam Bukhary)
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : telah bersabda Rasulullah SAW:
Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi Wali-Ku maka
sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hamba-Ku
mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah
Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku
dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah Aku
sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang
ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai
kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku
akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Aku akan
melindunginya (Hadits Qudsi diatas dirawikan Imam Bukhary dalam kitab shahihnya, hadits
no: 6137.)
Bila mengacu pada al-Quran (Yunus, ayat 62-64), kriteria kewalian itu adalah iman dan
taqwa. Dengan sudah terpenuhinya dua kriteria tersebut, berarti seseorang berhak
menyandang predikat Wali Allah. Apakah sesederhana itu?
Menurut Dr. H. Asep Usman Ismail, salah seorang dosen senior UIN Jakarta. kriteria
kewalian yang mengacu pada kadar keimanan dan ketaqwaan tersebut baru memenuhi
konsep kewalian secara umum. Agar tidak mengaburkan istilah Wali Allah yang demikian
Kudus, tentunya kita tidak bisa hanya berpatokan pada pemahaman harfiyah dari ayat di atas.
Kalau ditinjau dari sudut kadar keimanannya maka standar kewalian itu bagi seorang Wali
Allah tersebut haruslah sampai pada tataran mengenal Allah SWT melalui penyaksian mata
batinnya. Dan pada level ini pun masih bertingkat-tingkat kualitasnya.

Bagaimana pandangan Anda mengenai konsep kewalian?


Kalau kita kembalikan pada pengertian dasarnya, istilah Wali Allah itu kan maknanya bisa
berarti dekat, bisa juga kekasih, bisa berarti bimbingan, atau juga pemeliharaan.
Jadi pengertian Wali Allah itu adalah orang yang dekat dengan Allah, karena kedekatannya
itu pula maka ia layak menjadi kekasih Allah, karena telah dekat dan sekaligus menjadi
kekasih-Nya, maka ia pun layak mendapat bimbingan dan juga pemeliharaan dari Allah.
Karena itu konsep kewalian itu bisa dijelaskan dari sudut relasi, yaitu relasi antara seorang
hamba dengan Tuhannya.
Apakah dari sudut relasi itu juga dapat menjelaskan adanya tingkatan-tingkatan
diantara para Wali Allah itu?
Ya, kalau berbicara tentang relasi, kondisi dan intensitas setiap manusia itu kan berbeda-beda.
Ada yang baru mendekat, ada yang sudah relatif dekat, ada yang sudah dekat sekali, bahkan
ada yang sudah menyatu. Karena kondisinya berbeda-beda, maka kualitas kewaliannya pun
menjadi berbeda pula. Itulah sebabnya mengapa ada tingkatan-tingkatan Wali Allah.
Dengan adanya tingkatan-tingkatan tadi, apa saja kriterianya sehingga seseorang layak
dikategorikan sebagai Wali Allah pada tingkatannya yang paling dasar misalnya?
Dalam al-Quran Surah Yunus ayat 62 sampai 64 itu disebutkan, persyaratan untuk menjadi
wali itu hanya dua saja. Satu beriman, dua bertaqwa. Dari ayat inilah kemudian para ulama
menyimpulkan tentang konsep walaayatul-aammah atau kewalian secara umum, ada juga
yang mengistilahkannya dengan walaayatut-tauhiid.
Sejauh mana kadar iman dan taqwa harus dimiliki sehingga seseorang berhak menyandang
derajat kewalian dalam konteks kewalian secara umum ini?
Kalau menurut Ibnu Taimiyah, kewalian secara umum itu seseorang harus konsisten atau
istiqamah dalam menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang
Allah. Tapi belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum meninggalkan yang
dimakruhkan. Dan untuk kategori ini seseorang belum berhak menyandang derajat kewalian
dalam pengertiannya yang khusus.
Jika demikian, bila konsep kewalian secara umum ini ditonjolkan, mungkin akan berdampak
pada pendangkalan makna. Lebih-lebih istilah wali ini sudah sering dipergunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Padahal konsep kewalian dalam Islam itu kan begitu kudus. Jadi, apa
sebenarnya makna kewalian secara khusus?
Pandangan tentang konsep kewalian secara khusus itu cukup beragam. Misalnya ada yang
mengklasifikasikannya menjadi 8 tingkatan, yang masing-masing tingkatan itu menunjukkan
kualitas yang berbeda. Tapi ada juga yang membaginya menjadi lima tingkatan saja, misalnya
Hakim at-Tirmidzi.
Lalu, siapa saja yang sudah tergolong Wali Allah dalam pengertian yang khusus ini?

Agak sulit menjelaskan kalau berbicara secara personal. Lebih jelas kalau kita berbicara
tentang konsep. Secara konseptual, ada yang disebut Walayah Haqqullah. Istilah haq yang
disandarkan kepada Allah, ini mengandung beberapa pengertian.
Dalam istilah Haq Allah itu tercermin pengertian pesan, ajaran dan perintah Allah. Karenanya
haqullah bisa diartikan dengan syariat Allah. Jadi Auliya Wali Allah - pada tingkatan ini
adalah mereka yang sudah mampu menjalankan syariat Allah SWT secara kaffah, yaitu
secara komprehensif dan istiqamah.
Jadi tidak ada konsep kewalian yang justru mengabaikan aspek syariah. Kecuali itu,
istilah haqullah juga mengacu pada realitas wujud yang tertinggi. Jadi kewalian dalam
tingkatan ini adalah mereka yang sudah mampu berintegrasi dengan realitas yang
tertinggi, yaitu Allah SWT.
Pengertian berintegrasi ini tentunya harus mengacu pada apa yang dikonsepsikan oleh para
sufi itu sendiri. Ada yang mengkonsepsikannya dengan marifah, ada yang menyebutnya
dengan ittihad, hulul dan lainnya.
Tingkatan berikutnya?
Ada lagi yang disebut Waliyullah, tidak digandengkan dengan istilah haq lagi. Tingkatan
ini untuk menggambarkan bahwa sang wali itu, bukan berarti tidak lagi berpegang dan
menjalankan syariat. Tetapi perhatian dan orientasinya sudah pada substansi, bukan lagi
berkutat pada aspek formal dari syariat. Jadi dia sudah sampai pada tingkat merasakan inti
atau substansi dari syariat.
Dalam konteks ini, Imam Asy-Syathibi mengistilahkannya dengan hikmah syariah. Orang
pada level ini adalah mereka yang sudah mencapai Ghaayatush-shidqi fil-ibadah, puncak
kesungguhan dalam beribadah.
Dia sudah mencapai taraf optimal dalam kualitas ibadahnya. Ia sudah jauh melampaui batas
minimal.
Apa perbedaan yang spesifik di antara kedua tingkatan tadi?
Kalau Walaayah haqqullah disebut kaum shadiquun. Sedangkan Waliyullah disebutnya
sebagai shiddiiquun. Kalau mengacu pada pendapat Ibnu Taimiah sebagaimana tadi sudah
kita singgung, kewalian secara umum itu baru konsisten menjalankan segala yang
diperintahkan serta menjauhi segala larangan Allah. Belum sepenuhnya mengerjakan yang
disunatkan, belum meninggalkan yang dimakruhkan.
Nah, kalau kelompok shadiquun itu, secara lahiriyah, mereka sudah istiqamah menjalankan
yang disunatkan serta meninggalkan yang dimakruhkan. Adapun secara batiniyah, batinnya
itu sudah terhubungkan dengan Allah.
Dengan kata lain, kelompok shiddiiquun adalah mereka yang sudah mencapai esensi dari
syariah. Artinya sudah sampai pada penyerahan diri secara total kepada Allah. Dia sudah
tidak menganggap bahwa dirinya punya kemampuan. Bahkan kesadaran eksistensialnya
sudah sirna, sudah fana. Batinnya sudah muallqun billah, sudah terpaut erat dengan Allah
SWT.

Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah itu kan umumnya karena mereka menganggap bahwa
dirinya punya kemampuan, menganggap dirinya punya eksistensi yang mandiri di luar
Tuhannya.
Lalu tingkatan berikutnya?
Tingkatan berikutnya, ada yang disebut Al-muniibuun, yaitu orang-orang yang sudah
senantiasa mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Dia sudah berhasil menekan
egonya, sudah dapat menekan kepentingan-kepentingan pribadinya, persepsinya tentang halhal duniawi sudah jernih. Orang seperti ini sudah mendekati karakter para malaikat.
Ada lagi yang disebut Al-muqarrabuun, yaitu orang yang sudah benar-benar dekat dengan
Allah SWT. Bedanya dengan kita, misalkan kita ini betul memahami bahwa Allah itu dekat.
Tetapi kita baru sampai pada taraf kognitif, tarap pemahaman.
Memang betul kita tidak pernah mengubah pendirian kita bahwa Allah itu dekat. Kita yakin
akan betul hal itu. Tetapi kita belum bisa merasakan kedekatannya. Nah Wali alMuqarrabuun ini selalu dapat merasakan kedekatannya kepada Allah, dalam seluruh
waktunya dan dalam sepanjang hidupnya.
Ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari yang tadi Anda sebutkan?
Yang lebih tinggi lagi adalah tingkatan Al-munfariduun. Pada level ini berarti sang wali
sudah mencapai taraf menyendiri bersama Tuhannya. Untuk dapat memahami tingkatan ini
mungkin kita perlu analogi. Misalnya ada yang hendak bertamu kepada seseorang yang sudah
dikenalnya.
Kalau yang masih tergolong awam, kedekatannya itu kan baru pada taraf minimal. Saya kenal
seseorang, saya tahu siapa namanya, saya tahu apa pekerjaannya, saya tahu bagaimana
karakternya, saya tahu di mana rumahnya. Baru sebatas ini.
Kalau pada level berikutnya, misalnya, oh ya saya sudah sampai ke pekarangan rumahnya,
bahkan saya sudah dipersilahkan masuk.
Tapi kalau pada tingkat Al-muqarrabuun, oh saya bukan saja sudah dipersilahkan masuk,
tapi saya sudah diajak ke ruang tengah. Saya sudah diajak berbicara. Hanya saja saya belum
bertemu langsung dengannya. Sebab dia masih berada dibalik hijab (pembatas).
Nah, kalau tingkatan Al-munfariduun, pemilik rumah sudah menampakkan diri. Bukan
sekedar dekat bersamanya, tapi sudah berduaan dengannya.
Lalu apa puncak dari tingkatan kewalian itu?
Puncak dari tingkatan kewalian itu adalah Khatmul Walaayah. Ini juga yang disebut
Khutubul Auliya Wali Kutub, poros tertinggi dari derajat kewalian.
Kalau pada tingkatan ini bukan sekedar berduaan. Kalau berduaan kan masih bisa dibedakan
antara dirinya dengan Tuhannya. Jadi masih ada pemisah antara aku dan Dia, atau aku dan
Engkau.

Sementara pada tingkatan ini getaran rasa yang ada di dalam Qolbunya Wali Allah tersebut
sudah benar-benar menyatu dengan rasa Tuhan, tidak ada lagi hijab (pembatas) dan tak ada
lagi rasa yang terpisahkan dengan Allah SWT di setiap detik yang dilewati sepanjang
hidupnya.
Siapa saja yang berada pada puncak kewalian ini?
Kalau berbicara tentang person, lagi-lagi sedikit sulit untuk menjelaskan. Tapi umumnya
ulama berpandangan bahwa pada setiap zaman itu ada wali kutubnya. Pengertian zaman di
sini kurang lebih satu abad lamanya.
Pada masanya Syekh Abdul Qadir Jaelani, beliau ini yang dipandang sebagai Kutubul
Auliya. Ada yang berpandangan bahwa pada masa Ibnu Arabi, beliaulah Wali Kutubnya.
Pada masa Abu Hasan As-Sazili, beliaulah Wali Kutubnya. Jadi kalau berbicara tentang
konsep umumnya bisa sepakat. Tapi tentang siapa yang memenuhi kriteria-kriteria pada
setiap tingkatannya itu yang kadang tidak sepakat.
Pertanyaan yang terakhir, Derajat kewalian itu kan pada hakikatnya merupakan kualitas
hubungan personal antara hamba dengan Tuhannya. Lantas, mengapa kemudian ada
identifikasi bahwa si A itu adalah Wali Allah dan si B itu bukan Wali Allah atau mungkin
malah Wali Syetan. Bagaimana kita dapat mengetahuinya?
Ya, betul, derajat kewalian itu menyangkut essensi keberagamaan yang bersifat pribadi dan
berdimensi batiniyah. Karena itu ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa La
yalamul-waliyya illal-waliyyu.
Artinya, tidak ada yang dapat mengetahui dan memproklamirkan bahwa seseorang atau
dirinya itu adalah Wali Allah, kecuali dari Wali Allah yang lain.

TIDAK ADA YANG TAHU BAHWA DIA ITU WALI KECUALI


DENGAN WALI
Sehingga bagi kita sebenarnya tinggal mengikuti saja, karena antara Wali Allah yang satu
dengan Wali Allah yang lainnya itu sesungguhnya saling berhubungan terutama secara
Batiniyahnya, mereka terus saling sambung menyambung dan tidak akan pernah teputus
sampai kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

La Hawla Wala Quwwata Ilabillah


Tiada Daya Kekuatan Kecuali Dari Allah
Laa mabuda illa allah
Tiada yang disembah kecuali Allah
Laa masuda illa allah
Tiada yang dituju kecuali Allah

Laa maujuda illa allah


Tiada yang maujud (berwujud) kecuali Allah
Ilahi, anta maksudi
Tuhanku, hanya engkau tujuanku,
Waridhokamathlubi
Dan hanya ridloMulah yang kucari,
Atini mahabbataka wamarifataka
Limpahkan Cinta dan MarifatMu kepadaku
Laa ilaha illa allah
Tiada Tuhan kecuali Allah
Allahu Allah
Allahu Allah

Para wali Allah datang kepadamu demi manfaat bagimu, bukan untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Karena sungguh mereka tidak membutuhkan kalian atau siapapun dari mahluk ini
(Terjemahan bebas dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

7.2 YANG MENGETAHUI WALI


ADALAH WALI
Berkata Syekhuna Al-Imam Abu Hasan Ali Bin Abdulloh Assyazili (Abu Hasan
Syazili) :Laa Tasyummu Roo_ihatal Wilaayah Wa Anta Ghoiru Zaahidin fiddun_ya Wa
Ahliha.
Artinya :
Kamu tidak akan dapat mencium aroma kewalian selagi kamu tidak ZUHUD daripada dunia
dan ahli dunia.Jika kamu belum mengerti atau belum memahaminya, Maka alangkah
bijaknya dan bersikaplah hati2 dalam stiap tindakan dan perkataan trutama yang ada
didalaman hatimu atau lebih baik diam saja (Wallohu'alam).
Karena ada keterangan Sebagaimana dalam kitab Tafridul Khothir hal 3 : Idzaa sami'ta
kalimaatin...il aa akhir.
Artinya :Apabila kamu mendengar akan beberapa perkataan ahli tashowwuf (Al'arif Billah)
dan kesempurnaan zhohirnya tidak cocok bagi syariatnya Nabi SAW yang memberi petunjuk
dari segala kesesatan, Maka bertawaqquflah (Diamlah kamu) padanya dan Mohonlah kepada
Alloh Yang Maha Mengetahuinya, Dan janganlah kau condong (cendrung) kepada

mengingkarinya yang membawa kepada suatu akibat yang tidak diinginkan. Karena sebagian
daripada kalimat-kalimat mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah untuk
dipahami.Padahal haqiqotnya (kebenarannya) itu sesuai dengan batinnya daripada isi
ALQUR'ANIL KARIM dan Haditsnya Nabi SAW Yang penyayang. Maka inilah jalan yang
lebih sejahtera dan jalan yang lurus.
Sedangkan didalam Kitab Nataa_ijul Afkaar dijelaskan :Wali itu adalah tidak membuka jalan
kemasyushran dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliyannya, bahkan kalau bisa ia
akan terus menyembunyikannya, karena itu orang yang ingin Masyhur (terkenal) dalam hal
tersebut, Maka Bukanlah ia seorang Ahli golongan Thoriqot, Bahkan sebaliknya (tidak
termasuk dalam golongan ahli thoriqot).
Adapun Thoriqot (jalan menuju sampai kepada Alloh) itu bukanlah mesti dengan Bertapa
seperti Rahib dan tidak juga mesti makan gandum dan makanan murahan, Hanya saja
jalannya adalah Ia harus dengan SABAR, TABAH, Dan YAQIN Didalam petunjuk ALLOH
(Yaitu Alqur'an dan Assunnah), Dalilnya firman ALLOH TA'AALA : Dan kami angkat dari
kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang membimbing kepada hukum agama Kami,
selama mereka terus bersikab sabar, tabah serta mereka tetap meyaqini ayat-ayat Kami.
(Assajadah 41).
Dan di dalam Khikayatun Nafisah (Hikayat yang Indah) ada di ceritakan Assyekh Abul
Qosim Bin Umair Almazuiyy salah seorang ulama sholihin, Beliau pernah bermimpi disuatu
malam melihat bendera yang banyak sekali dan mendengar suara musik yang ramai, Syekh
abu Qosim berkata : Aku heran dan bertanya ada apakah ini ? Mengapa ada keramaian yang
luar biasa ?
Lalu ada seseorang yang menjawab : Karena malam ini terjadi ada pengangkatan Imam
AnNawawi menjadi Wali Quthb.
Maka tiba-tiba aku terbangun dan aku sendiri belum pernah tau akan siapa itu Imam
Annawawi dan juga belum pernah mendengar kabar atau cerita beliau sebelum impian ini
datang. Suatu ketika aku pergi ke Damsyiq (Syam) karena ada suatu keperluan, Akupun
bertanya-tanya tentang Imam AnNawawi dan Mendapatkan Jawaban Bahwa Beliau adalah
Syekh Daarul Hadits Al-Asyrofiiyah dan Kini beliau ada disana, Lalu aku minta diantarkan
menuju kesana (Darul hadits).
Ketika aku sampai disana masuk di darul hadits, Imam Nawawi sedang duduk dan dikanan
kiri beliau banyak orang, ketika beliau melihat aku datang, beliaupun langsung berdiri
menyosongku dngan tergesa-gesa dan berkata :
'Impian Tuan janganlah tuan ceritakan kepada siapapun juga selagi saya masih hidup'...!!!

7.3
Makna Hakikat
Syahadat Tauhid
Asyahadualla ilaaha illallah ini merupakan syahadat tauhid atau hakekat ketuhanan
yaitu diri bathin manusia (Rohani). Makna ini dikuatkan dengan firman Tuhan sebagai
berikut :

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr 15 : 29)

Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan
bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (QS.
As Sajdah 32 : 9)

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya . (QS. Shaad 38 : 72)

Dari ketiga ayat tersebut diatas sangat jelas bahwa yang dimaksud diri bathin manusia adalah
RUH. Ruh adalah ENERGI bagi manusia dan merupakan Energi Tuhan yang mewakili atas
diri manusia. Di dalamnya terkandung sifat-sifat Tuhan, sehingga manusia dikatakan sebagai
makhluk Ruhani.

Akan timbul pertanyaan kenapa manusia harus bersyahadat tauhid (persaksian) lagi didunia,
padahal saat dialam ruh telah melakukan persaksian?!.

Bukan aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi. (QS. Al-Araf
7:172)
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah :
Saat manusia dilahirkan sebagai bayi (baru lahir kedunia) tidak memahami akan dirinya,
ketika beranjak remaja menganggap diri sebatas fisik (jasmaniah) banyak sekali dari manusia
sampai usia tua menganggap dirinya fisik (jasmaniah). Kondisi ini terjadi ketika manusia
terjebak oleh hawa nafsunya, karena cintanya pada dunia yang demikian besar menyebabkan
tertutup kesadarannya akan jati dirinya yang sesungguhnya, dalam kehidupannya didunia
akal dan fikirannya hanya tertuju pada gemerlapnya dunia. Sehingga secara sadar ataupun

tidak Illahnya sudah bukan lagi Allah (sebutan orang islam untuk Tuhan), akan tetapi illahnya
adalah Dunia.

Cerita Singkat Persaksian


Manusia dengan Tuhan
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH Pada malam Ghaibul Ghaib yaitu dalam
keadaan antah-berantah hanya Dzat semata. Belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada
bulan dan belum ada matahari, belum ada bintang belum ada sesuatu pun. Malahan belum
ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, Diri yang punya Dzat tersebut telah
mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya. Lantas tajalilah Nur Allah dan kemudian tajali
pula Nur Muhammad (Insan Kamil), yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana, (Kamu,
Aku) , (Aku,Kamu), Ana Anta.
Maka yang punya Dzat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk
menentukan kedudukan dan taraf hamba. Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini
Tuhanmu ? Maka dijawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, YaEngkau
Tuhanku. Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Quran surat Al-Araf 7 : 172 :
ALASTU BIRAB BIKUM, QOOLU BALA SYAHIDNA. Artinya : Bukan aku ini Tuhanmu?
Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi.
Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu dilaksanakan, maka bermulalah era baru di
dalam perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya:Aku
suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku. Apa yang
dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini
dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur Muhammad
adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri. Maka diri
Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama :
Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau Rohani.
Firman Allah dalam hadis Qudsi: AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU Artinya :
Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya.
Jadi yang dinamakan manusia itu ialah karena ia mengenal Rahasia. Dengan perkataan lain
manusia itu mengandung Rahasia Allah. Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka
manusia harus berusaha mengenal dirinya, dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat
mengenal Tuhannya, sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada Yang
Punya Diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT.

Kapan Proses Kembalinya


manusia pada Tuhan Dimulai?

kembali kepada Allah harus selalu dilakukan semasa hidup, masih berjasad, karena
manusia dikatakan sempurna sebagai khalifah didunia ini disebabkan memiliki raga, sukma,
jiwa dan ruh. Kenapa harus berjasad?, hal ini dijelaskan dalam satu riwayat, bahwa setelah
ruh meninggalkan raga yang tersambung hanya 3 hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan doa anak yang sholeh. Jadi dengan kematian, manusia sudah tidak bisa
menanam lagi. Terdapat pepatah yang berbunyi Siapa menanam kebaikan didunia, niscaya
dia akan menuai di akhirat, Siapa yang buta didunia maka dia akan buta di akhirat. Dari
hal diatas dapatlah kita garis bawah bahwa hanya dengan jasadlah manusia bisa dan
mampu untuk bercocok tanam didunia ini.

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang


berhak menerimanya (Allah). (QS. An-Nisa 4:58)
Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Tuhan dalam Hadits Qudsi : MAN ARAFA
NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU, artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia
akan mengenal Tuhannya.
Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-NYA itu kepada
Langit, Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gununggunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh. (QS. Al Ahzab 33 : 72)
Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab
manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga
hubungannya dengan yang punya Rahasia. Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh
manusia (diri Batin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk memperbanyak diri,
diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu abad ke satu abad, diri satu generasi ke
satu generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT DAN RAHASIA ITU
KEMBALI KEPADA ALLAH. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN. Artinya :
Kita berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah.

Ruh manusia adalah Sebagian


dari Ruh Tuhan

Hampir sebagaian para alim ulama ataupun terjemahan Al Quran yang menjelaskan
bahwa RUH yang ada di manusia adalah RUH ciptaan Tuhan dan bukan RUH sebagai bagian
dari Tuhan. Apakah memang demikian?, untuk mencari kebenaran akan hal tersebut marilah
kita adakan pendekatan secara empiris dengan memperhatikan beberapa cerita berikut ini ;
JAWAB
Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan
kamil) terdapat secuil unsur yang sangat mulia, yaitu yang dibahasakan dalam Al Quran
sebagai Ruhul Quds. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s., Jibril disebut sebagai Ruhul
Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau
Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari
nasrani, disebut Roh Kudus.
Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan(ruh
hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya
hidup dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya hidup. Karena itu
pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai
perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat
tertingginya seperti Ruh Al-Quds.
Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia denganRuh AlQuds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun
juga.
Sebagai ayat pembanding untuk analisa ayat tentang Ruh berikut ini adalah :

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr
15 : 27)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr 15 : 29)

Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan
bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (QS.
As Sajdah 32 : 9)

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya . (QS. Shaad 38 : 72)
Dalam 3 (tiga) ayat diatas dikatakan
1. dan telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku
2. Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya
3 Kutiupkan kepadanya ruh-Ku
Pada surat 15 (Al-Hijr) ayat 27 dikatakan bahwa jin itu dijadikan, sementara Ruh ditiupkan
jelas disini bahwa jin itu dicipta (dibuat) oleh Allah sementara Ruh itu bukan ciptaan tapi
bagian dari Ruh Tuhan, itu sebabnya Ruh itu kekal sebagaimana Allah. Begitupun jasad
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan alam semesta semua ciptaan Allah, hanya Ruh manusia
saja yang bukan ciptaan melainkan bagian dari Ruh Allah, itu sebabnya pada diri manusia
terkandung sifat keTuhanan.

7.4
Makna Hakikat Syahadat
Rasul
Diri bathin (rohani) adalah sebenar-benarnya diri yang menyatakan : ..Rahasia Allah....,
Untuk menyatakan diri Rahasia Allah Adalah diri zahir manusia. Sedangkan .. Kata
Muhammad pada syahadat Rasul mengandung arti yaitu diri zahir manusia yang menanggung
rahasia Allah.
a. Manusia diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya.

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS. At


Tiin 95 : 4)
b. Kemulyaan manusia karena manusialah yang sanggup menanggung rahasia Allah
..dan dipikullah amanat itu oleh manusia.. (QS. Al Ahzab 33 : 72)
Sehingga dan karena firman Allah dalam surat Al-Ahzab 72 inilah kita, manusia sempurna
mengucapkan :
'Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah, Yang berarti :

"Kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita sendiri hanya
Allah semata dengan tubuh zahir kita sebagai tempat menanggung rahasia Allah dan akan
menjaganya buat selama-lamanya."

7.5

Intisari Hakikat Syahadat

Dalam khasanah makrifat :


Aku menyaksikan (dengan mata hatiku) bahwa tidak ada apa apa (hampa) selain hanya
(wujud) Allah saja. Dan Aku menyaksikan (dengan mata kepalaku) bahwa sesungguhnya
alam semesta ini (yang diciptakan dari Nur Muhammad) hakikatnya adalah utusan (yang
bertugas memperlihatkan sifat, nama, afal) Allah.

Dalam Wirid Hidayat Jati :


"AKU bersaksi dalam Diri-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan
menyaksikan AKU sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU. Sesungguhnya yang bernama
Allah itu badan-KU, rasul itu rahsa-KU, Muhammad itu cahaya-KU. AKU lah Yang Hidup
tidak bisa mati, AKU lah yang Ingat tidak bisa lupa, AKU lah Yang Kekal tidak bisa berubah
dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKU lah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu
pun. AKU lah yang Berkuasa Berkehendak, Yang Kuasa Bijaksana tidak kurang dalam
tindakan, Terang Sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun,
kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)- KU."
Penjelasan
a. Wejangan ini adalah wejangan penutup, yang merupakan Penyaksian Dzat (Allah)
terhadap Diri-Nya sendiri dan terhadap Muhammad, utusan-nya, rahasia-Nya, Cahaya-Nya
dan juga terhadap sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
b. Mengawinkan badan dan nyawa; Allah yang mengawinkan, Rasul sebagai walinya,
Muhammad penghulunya, dan saksi empat orang malaikat. Yakni Aku yang mengawini
badanKu sendiri, sepertemuan dengan suksmaKu, dengan rahsaKu, sebagai wali, disyatikan
oleh cahayaKu, disaksikan malaikat empat; Jibril ialah pengucapKu, Mikail penciumanKu.
Israfil penglihatanKu, dan Izrail pendengaranKu, serta mas kawinnya sempurna karena
kodratKu.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan
apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah
turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran
yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan
jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat
(saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu
diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al Maa'idah 5 :
48)

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan
Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap
mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan
Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia
adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maa'idah 5 : 49)

......................................