Anda di halaman 1dari 11

KEKUATAN BUDAYA

Memahami perbedaan-perbedaan budaya sangat berperan penting bagi keberhasilan


perusahaan-perusahaan

yang

terlibat

dalam

bisnis

internasional.

Perusahaan-perusahaan dan para pelaku bisnis yang melakukan usaha di luar pasar
dalam negerinya mengakui bahwa kebiasaan bisnis, nilai dan definisi perilaku etis di
luar negeri sangat berbeda dari yang mereka miliki sendiri.
Kekuatan budaya tidak terlepas dari:
-

Karakteristik kebudayaan

Unsur-unsur kebudayaan

Melihat hutannya, bukan pohonnya

Manajemen internasional dan perbedaan budaya

Budaya bahkan dapat memberikan keunggulan atau kelemahan bersaing bagi


perusahaan-perusahaan, sebagaimana disiratkan E-World.

Karakteristik Kebudayaan

Kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, dan sikap yang
membedakan suatu masyarakat dari yang lainnya. Beberapa karakteristik kebudayaan
perlu diperhatikan karena mempunyai relevansi dengan bisnis internasional:
-

Kebudayaan mencerminkan perilaku yqng dipelajari (learned behavior) yang


ditularkan dari satu anggota masyarakat ke yang lain.

Unsur-unsur kebudayaan saling terkait (interrelated).

Karena

merupakan

perilaku

yang

dipelajari,

kebudayaan

sanggup

menyesuaikan diri (adaptive); artinya kebudayaan berubah sesuai dengan


kekuatan-kekuatan eksternal yang mempengaruhi masyarakat tersebut.
-

Kebudayaan

dimiliki

bersama

(shared)

oleh

anggota-anggota

masyarakattersebut dan tentu saja menentukan keanggotaan masyarakat itu.


1

Unsur-Unsur Kebudayaan

Kebudayaan

suatu

masyarakat

menentukan

bagaimana

anggota-anggotanya

berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Unsur-unsur kebudayaan adalah


struktur sosial, bahasa, komunikasi, agama dan nilai-nilai serta sikap. Interaksi
unsur-unsur ini mempengaruhi lingkungan lokal yang merupakan tempat bisnis
internasional dijalankan.
-

Struktur Sosial

Hal yang mendasar bagi masyarakat bagi setiap masyarakat adalah struktur
sosialnya, yaitu seluruh kerangka yang menentukan peran individu-individu dalam
masyarakat, stratifikasi masyarakat, dan mobilitas individu dalam masyarakat
tersebut.

Individu, Keluarga, dan Kelompok


Semua masyarakat manusia melibatkan induvidu-individu yang hidup dalam
satuan-satuan keluarga dan bekerja sama satu sama lain dalam kelompok-kelompok.
Namun, berbagai masyarakat memiliki perbedaan dalam caranya mendefinisikan
keluarga dan dalam seberapa penting peran individu yang diberikan dalam kelompok.
Sikap-sikap sosial yang berbeda ini tercemin dalam beberapa penting keluarga
tersebut dalam bisnis. Nilai-nilai seperti persatuan, kesetiaan, dan keharmonisan
sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat itu. Karakteristik-karakteristik ini sering
lebih berperan penting dalam keputusan perekrutan disebanding dengan pencapaian
atau kemampuan pribadi.

Stratifikasi Sosial
Berbagai masyarakat berbeda-beda dalam tingkat stratifikasi sosialnya. Semua
masyarakat mengelompokkan orang-orang dalam batas tertentu berdasarkan
kelahiran, pekerjaan, tingkat pendidikannya atau ciri-ciri lainnya.

Perusahaan-perusahaan multinasional yang menjalankan usaha dalam masyarakat


yang tinggi strata sosialnya sering harus menyesuaikan prosedur perekrutan dan
kenaikan jabatan dengan memperhitungkan perbedaan kelas atau marga di antara
pegawai dan atasannya. Dalam masyarakat yang stratifikasinya kurang kuat,
perusahaan-perusahaan akan lebih leluasa mencari karyawan yang paling memenuhi
syarat, tanpa peduli apakah orang tersebut pergi ke sekolah yang tepat, apakah rajin
beribadah, atau merupakan semua anggota klub yang terbaik. Dalam masyarakat yang
stratifikasinya tinggi, pengiklanan harus menyesuaikan pesan-pesannya dengan lebih
berhati-hati guna memastikan agar pesan itu hanya akan menjangkau pemirsa yang
dibidik dan tidak meluap ke pemirsa lainnya yang mungkin saja akan merasa dihina
dengan menerima pesan yang dimaksudkan untuk kelompok pertama tersebut.

Mobilitas Sosial
Mobilias sosial adalah kemampuan individu dari suatu strata masyrakat ke strata
lainnya. Mobilitas sosial cenderung akan lebih tinggi dalam masyarakat yang kurang
terstratifikasi.

Mobilitas

sosial

(atau

tidak

adanya

mobilitas

sosial)

sering

mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang terhadap faktor-faktor seperti hubungan


kerja, pembentukan modal manusia, pengambilan resiko, dan kewirausahaan.
-

Bahasa

Bahasa adalah cerminan utama kelompok-kelompok budaya karena bahasa


merupakan

saran

penting

yang

dipakai

anggota-anggota

masyarakat

untuk

berkomunikasi satu sama lainnya. Bahasa menata cara anggota-anggota masyarakat


berpikir tentang dunia ini. Bahasa menyaring pengamatan dan persepsi dan dengan
demikian tanpa terduga-duga mempengaruhi pesan- pesan yang disampaikan ketika
dua orang saling berkomunikasi.
Selain membentuk persepsi seseorang tentang dunia, bahasa memberikan petunjuk
pentingnya tentang nilai-nilai budaya masyarakat tersebut dan membentuk akulturasi.
Kehadiran lebih satu kelompok bahasa adalah sinyal penting tentang keragaman
3

penduduk suatu negara dan menyiratkan bahwa mungkin ada juga perbedaan
pendapat, etika kerja, dan tingkat pendidikan. Para pelaku bisnis yang cerdas yang
menjalankan

usahanya

dalam

masyarakat

yang

heterogen

menyesuaikan

praktik-praktik bisnis dan pemasarannya sesuai dengan jenis bahasa untuk


memperhitungkan perbedaan-perbedaan budaya di antara calon-calon konsumennya.

Bahasa sebagai senjata bersaing


Ikatan-ikatan bahasa sering menciptakan keunggulan bersaing yang penting karena
kemampuan berkomunikasi sangat berperan penting dalam menjalankan transaksi
bisnis. Misalnya ketika Giro Sport design, suatu produsen helm sepeda di California
memutuskan untuk membuat produk-produknya di Eropa alih-alih mengekspornya dari
AS, perusahaan itu meminta konsultan lokasinya mencari tempat pabrik di suatu
negara yang berbahasa Inggris. Presiden Giro William Hanneman mencatat, Dengan
segala masalah yang Anda hadapi dalam menjalankan bisnis di luar negeri, kami tidak
ingin diganggu bahasa.

Bahasa Perantara
Untuk

menjalankan

bisnis,

para

pelaku

bisnis

internasional

harus

mampu

berkomunkasi. Sebagai akibat dominasi ekonomi dan militer Inggris pada abad
Sembilan belas dan dominasi AS sejak Perang Dunia II, bahasa Inggris telah muncul
menjadi bahasa umum yang dominan, atau bahasa perantara (lingua franca), bisnis
internasional.
Karena bahasa berfungsi sebagai jendela menuju budaya suatu masyarakat, banyak
pakar bisnis internasional berpendapat bahwa mahasiswa seharusnya diperkenalkan
dengan bahasa-bahasa asing, sekalipun mereka tidak sanggup menguasainya.

Terjemahan
Beberapa perbedaan bahasa tentu dapat diatasi melalui penerjemahan. Namun,
proses tersebut memerlukan lebih daripada sekedar mengganti kata-kata suatu
4

bahasa dengan kata-kata bahasa lain. Penerjemah harus peka dengan hal-hal kecil
dalam konotasi kata-kata dan berfokus pada penerjemahan gagasan bukan kata-kata
itu sendiri. Sangat terlalu sering persoalan penerjemah menimbulkan bencana
pemasaran.
Perusahaan-perusahaan

dapat

mengurangi

resiko

peluangnya

mengirimkan

pesan-pesan yang salah kepada konsumennya dengan menggunakan teknik yang


dikenal sebagai terjemahan-balik (backtranslation). Terjemahan-balik, seseorang
menerjemahkan suatu dokumen, kemudian orang kedua menerjemahkan kembali versi
terjemahan itu ke bahasa aslinya.

Berkata Tidak
Kesulitan budaya lainnya yang dihadapi para pelaku bisnis internasional adalah bahwa
kata-kata mungkin memiliki makna yang berbeda bagi orang yang memiliki latar
belakang budaya yang berbeda. Sebagai contoh banyak penggunaan kata ya dan tidak
berbeda-beda dalam setiap budaya. Di jepang menggunakan kata ya untuk maksud
Ya, saya mengerti apa yang Anda katakan. Sedangkan negosiator asing berasumsi
bahwa rekannya dari Jepang menggunakan kata ya untuk maksud Ya saya setuju
dengan Anda. Sehingga kecewa ketika orang Jepang tersebut tidak menyetujui
ketentuan kontrak yang telah diasumsikan orang asing tersebut disetujui.
-

Komunikasi

Komunikasi di luar batas budaya, secara verbal maupun nonverbal, adalah suatu
keahlian yang sangat penting bagi para manajer internasional. Walaupun komunikasi
sering dapat berlangsung salah di antara orang-orang yang mempunyai kebudayaan
yang sama, peluang miskomunikasi akan sangat meningkat apabila orang-orang
tersebut berasal dari budaya yang berbeda.

Komunikasi Nonverbal
Anggota-anggota masyarakat berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan
5

lebih daripada sekedar kata-kata. Komunikasi nonverbal ini meliputi ekspresi wajah,
gerakan tangan, intonasi, kontak mata, posisi tubuh, dan postur tubuh.

Pemberian Hadiah dan Keramahtamahan


Pemberian hadiah dan keramahtamahan adalah alat komunikasi yang penting dalam
banyak budaya bisnis.
-

Agama

Agama adalah aspek penting dalam kebanyakan masyarakat dan bagaimana cara
anggota-anggota masyarakat berhubungan satu dengan yang lain dan dengan pihak
luar. Agama mempengaruhi sikap terhadap pekerjaan, investasi, konsumsi, dan
tanggung jawab atas perilaku seseorang. Agama juga mungkin juga mempengaruhi
perumusan hukum suatu negara.
Dampak agama terhadap bisnis internasional berbeda-beda dari negara ke negara
yang bergantung pada sistem hukum negara tersebut. Homogenitas keyakinan
agamanya, dan toleransinya terhadap pandangan-pandangan agama lain.
-

Nilai dan Sikap

Nilai adalah prinsip dan standar yang diterima anggota-anggota tersebut; sikap terdiri
atas tindakan, perasaan dan pemikiran yang dihasilkan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai
budaya sering berasal dari kepercayaan yang sangat mendalam tentang kedudukan
individu dalam hubungan dengan yang ilahi, keluarga, dan hierarki, sosial yang kita
bahas sebelumnya.

Waktu
Sikap tentang waktu sangat berbeda dari budaya ke budaya. Dalam budaya Anglo
Saxon, sikap umum yang ditemukan ialah waktu adalah uang. Waktu melambangkan
kesempatan utntuk memproduksi lebih banyak dan meningkatkan pendapatan
seseorang, sehingga waktu tersebut tidak boleh disia-siakan.
6

Umur
Perbedaan-perbedaan budaya yang penting terdapat dalam sikap terhadap umur.
Dalam budaya perusahaan Jepang, umur dan jabatan sangat berhubungan, tetapi
manajer-manajer senior (dan menurut definisinya yang lebih tua) tidak akan member
persetujuan atas suatu proyek sampai mereka mencapai suatu mufakat diantara para
manajer junior.

Pendidikan
Sistem pendidikan formal negeri dan swasta suatu negara adalah alat penyebarluasan
dan cerminan penting nilai-nilai budaya masyarakat. Misalnya, sekolah dasar dan
sekolah menengah di Amerika Serikat menekankan peran individu dan pengembangan
kepercayaan diri, kreativitas dan harga diri. Sebaliknya Inggris, yang mencerminkan
sistem kelas sosialnya pada jaman dulu, secara historis telah menyediakan
pendidikan elit bagi sejumlah mahasiswa yang relatif kecil.

Status
Alat untuk meraih status juga berbeda-beda dalam setiap budaya. Dalam beberapa
masyarakat, status diwariskan sebagai akibat dari kekayaan atau kelas sosial nenek
moyang seseorang. Dalam budaya lainnya, status diperoleh individu tersebut melalui
pencapaian pribadi atau keberhasilan profesional.

Melihat Hutannya, Bukan Pohonnya

Unsur-unsur kebudayaan nasional mempengaruhi perilaku dan harapan-harapan


manajer dan karyawan di tempat kerja. Pebisnis internasional, yang menghadapi
tantangan untuk mengelola dan memotivasi karyawan dari latar belakang budaya yang
berbeda-beda, perlu memahami unsure-unsur budaya ini jika mereka ingin menjadi
7

manajer yang efektif. Dalam bagian ini akan disajikan karya beberapa sarjana.

Pendekatan Konteks-Rendah-Konteks-Tinggi Hall

Salah satu cara untuk mencirikan perbedaan dalam berbagai budaya adalah
pendekatan

konteks-rendah-konteks-tinggi

(low-context-high-context)

yang

dikembangkan oleh Edward dan Mildred Hall.


Dalam budaya konteks-rendah (low-context culture), kata-kata yang dipakai pembicara
secara eksplisit menyampaikan pesan pembicara tersebut kepada pendengarnya.
Dalam budaya konteks-tinggi (high-context culture), konteks terjadinya pembicaraan
tersebut akan sama pentingnya dengan kata-kata yang benar-benar diucapkan, dan
petunjuk-petunjuk budaya berperan penting dalam memahami apa yang sedang
dikomunikasikan.
-

Pendekatan Kelompok Budaya

Pendekatan kelompok budaya adalah teknik lain dalam mengklasifikasi dan


memahami budaya-budaya nasional. Kesamaan-kesamaan terdapat dalam banyak
budaya,

dengan

demikian

mengurangi

sebagian

kebutuhan

menyesuaikan

praktik-praktik untuk memenuhi permintaan-permintaan budaya lokal. Suatu kelompok


budaya terdiri atas negara-negara yang memiliki banyak kesamaan budaya, walaupun
tetap ada perbedaan.
Banyak pebisnis internasional secara naluriah menggunakan pendekatan kelompok
budaya ini dalam merumuskan strategi-strategi internasionalisasi mereka. Kedekatan
budaya dapat mempengaruhi bentuk yang dipakai perusahaan untuk memasuki pasar
luar negeri.
-

Lima Dimensi Hofstede

Penelitian yang dirintis Geert Hofstede telah mengidentifikasi lima dimensi budaya
dasar yang mungkin membedakan orang-orang: orientasi sosial, orientasi kekuasaan,
orientasi ketidakpastian, orientasi tujuan, dan orientasi waktu. Perbedaan-perbedaan
ini mempengaruhi perilaku bisnis dalam banyak hal dan sering menimbulkan
kesalahpahaman lintas-budaya.

1. Orientasi Sosial
Orientasi sosial adalah keyakinan seseorang tentang relatif pentingnya individu dan
kelompok. Kedua titik ekstrem orientasi sosial adalah individualisme dan kolektivisme.
Individualisme adalah keyakinan budaya bahwa orang tersebut harus didahulukan.
Kolektivisme, lawan dari individualisme, adalah pandangan bahwa kelompok
didahulukan.

2. Orientasi Kekuasaan
Orientasi kekuasaan merujuk pada keyakinan bahwa orang dalam suatu budaya
memiliki pandangan tentang kewajaran kekuasaan dan perbedaan wewenang dalam
berbagai hierarki seperti organisasi bisnis.
Beberapa budaya bercirikan rasa hormat terhadap kekuasaan (power respect). Ini
berarti bahwa masyarakt dalam suatu budaya cenderung menerima kekuasaan dan
wewenang atasannya semata-mata berdasarkan kedudukan atasan tersebut dalam
hirarki itu.
Sebaliknya, orang-orang dalam budaya yang bercirikan toleransi kekuasaan (power
tolerance) memberikan peran penting yang jauh lebih kecil terhadap kedudukan
seseorang dalam hierarki tersebut. Orang-orang ini lebih bersedia mempertanyakan
suatu keputusan atau perintah dari seseorang dari tingkat yang lebih tinggi atau
barangkali bahkan tidak mau menerimanya.

3. Orientasi Ketidakpastian

Orientasi ketidakpastian adalah perasaan yang dimiliki seseorang tentang situasi yang
tidak pasti dan ambigu (mendua). Orang-orang dalam budaya yang bercirikan
penerimaan ketidakpastian (uncertainty acceptance) dirangsang oleh perubahan dan
berkembang dari peluang-peluang baru. Sebaliknya orang-orang dari budaya yang
bercirikan penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) tidak menyukai
ambiguitas dan sedapat mungkin akan menghindarinya.

4. Orientasi Sasaran
Orientasi sasaran adalah sikap di mana orang termotivasi untuk bekerja karena jenis
sasaran yang berbeda. Salah satu bentuk ekstrem orientasi sasaran tersebut adalah
perilaku sasaran agresif (aggressive goal behavior). Orang-orang yang menunjukkan
perilaku sasaran agresif cenderung memberikan nilai yang tinggi pada kepunyaan
materi, uang, dan ketegasan. Pada bentuk ekstrem lain, orang yang menganut perilaku
sasaran pasif (passive goal behaviour) memberikan nilai yang lebih tinggi pada
hubungan sosial, kualitas hidup, dan perhatian kepada orang lain.

5. Orientasi Waktu
Orientasi waktu adalah sejauh mana anggota-anggota suatu budaya menganut
pandangan jangka pendek versus jangka panjang terhadap pekerjaan, kehidupan, dan
aspek-aspek masyarakat lainnya.

Manajemen Internasional dan Perbedaan Budaya

Beberapa pakar percaya, bahwa budaya-budaya dunia ini akan makin memiliki
kesamaan karena sebagai akibat dari kemajuan komunikasi dan transportasi.
Perusahaan-perusahaan multinasional memudahkan proses konvergensi budaya ini,
mau tidak mau melalui iklan-iklannya yang mendefinisikan gaya hidup, sikap dan
tujuan yang patut dan dengan membawa teknik manajemen baru, teknologi, dan
nilai-nilai budaya ke negara-negara tempat mereka menjalankan usaha.
-

Memahami Budaya-budaya Baru


10

Ketika berhadapan dengan budaya baru, banyak pebisnis internasional melakukan


kesalahan dengan mengandalkan kriteria acuan pribadi (self-reference criterion), yaitu
penggunaan tanpa sadar budaya sendiri seseorang untuk membantu menilai
lingkungan-lingkungan baru.
Ada sejumlah cara untuk memperoleh pengetahuan tentang budaya-budaya lain guna
mencapai kecakapan lintas-budaya ( cross cultural literacy). Kecakapan lintas-budaya
adalah langkah pertama dalam akulturasi, yaitu proses di mana orang-orang bukan
hanya memahami budaya asing, namun juga mengubah dan menyesuaikan perilaku
mereka guna menjadikannya lebih sesuai dengan budaya tersebut.

11