Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

Teknik operasi menggunakan meshes sudah digunakan sejak tahun 1950


untuk memperbaiki hernia abdominalis dan kemudian pada tahun 1990 untuk
pengobatan Stress Urinary Incontinence (SUI) baik pada laki-laki maupun
perempuan, prolaps organ pelvic (POP) pada perempuan dan Colorectal
functional disorder (CFD).1
Penggunaan meshes dalam operasi telah terbukti berhubungan dengan
berbagai macam komplikasi yang merugikan seperti infeksi, penolakan jaringan,
pemisahan epitel vagina yang menyebabkan telihatnya mesh (terpaparnya mesh),
penyusutan mesh, dan komplikasi merugikan lainnya termasuk nyeri dan
disfungsi seksual. Komisi Eropa telah meminta SCENIHR untuk menilai resiko
kesehatan dari penggunaan mesh dalam operasi uroginekologi.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jala (meshes) bedah sintetis adalah alat medis yang ditanamkan untuk
meperkuat jaringan lunak untuk meperbaiki kelemahannya, yang mana termasuk
prolap dari dasar pelvis pada wanita dan kelemahan sfingter uretra pada wanita
dan pria.1
Jala bedah sudah digunakan sejak tahun 1950-an untuk memperbaiki
hernia abdominalis. Jala implan telah memainkan peran yang penting dalam
pengobatan hernia yang kompleks dan prosedur rekontruksi dinding abdomen
lainnya. Pada tahun 1990an, para ginekolog mulai menggunakan jala bedah yang
sama untuk pengobatan dari Stress Urinary Incontinence (SUI).1
Pertama dilaporkan antara tahun 1900-1909 oleh Witzel dan Goepel di
Jerman, Bartlett di Amerika dan Mc Gavin di Inggris. Mereka menggunakan
lembaran tipis perak yang dipaskan dan dijahitkan pada tepi-tepi defek. Pada
kebanyakan kasus logam tersebut mengalami korosi dan pecah-pecah serta ditolak
oleh tubuh sehingga terjadi sinus kronis dan hernia rekuren. Lembaran metal
tandalum dikenalkan oleh Burke (1940) dan balutan tandalum digunakan oleh
Throckmorton (1948). Tetapi hasilnya dilaporkan bahwa metal tersebut
mengalami kerusakan dan diikuti terjadinya hernia rekuren, bahkan kemudian
dilaporkan terjadi fistula enterokutan, sehingga bahan ini ditinggalkan. Sebagai
gantinya, ahli bedah lainnya mencoba lembaran dari jaringan alami. Mair (1945)

menggunakan flap fascia femoralis untuk menutup defek, tetapi metode ini
terbukti mengecewakan. Usher (1958) mempopulerkan penggunaan plastik
polimer sintetik dalam bentuk lembaran anyaman atau mesh polyamid dan yang
terbaru polypropylene. Material ini murah, tersedia universal, mudah dipotong
sesuai dengan bentuk yang diinginkan, fleksibel, dan mudah di-handle,
menimbulkan sedikit reaksi jaringan serta tidak direjeksi walaupun ada infeksi.2

1. Macam Mesh dengan Risiko Infeksinya2


Protesis yang dipergunakan untuk memperkuat dinding posterior kanalis
ingunalis pada hernioplasti tension-free hernia ingunalis berbentuk
lembaran jaring (mesh). Amid mengelompokkan berbagai mesh yang
digunakan pada operasi hernia, yaitu :
Tipe I : Protesis makropori monofilamen, seperti Atrium, Marlex, Prolene,
dan Trelex. Protesis ini mempunyai pori-pori yang berukuran lebih dari 75
mikron, dimana ukuran ini diperlukan untuk lewatnya makrofag, fibroblas,
pembuluh darah (angiogenesis), dan serat kolagen ke dalam pori-pori.
Tipe II : Protesis mikropori total, seperti expanded PTFE (Gortex),
Surgical Membrane, dan Dual mesh. Protesis ini mempunyai pori-pori
yang berukuran kurang dari 10 mikron.
Tipe III : Protesis makropori multifilamen dengan komponen mikropori,
seperti PTFE mesh (Teflon), braided Dacron mesh (Mersilene), braided
polypropylene mesh (Surgipro) dan Perfotrated PTFE (MycroMesh).
Tipe IV : biomaterial dengan ukuran pori submikron seperti silastic,
Cellguard (polypropylene sheeting), Preclude pericardial membrane dan

Preclude Durasubstitute. Untuk operasi hernia, tersedia dalam bentuk


kombinasi dengan biomaterial tipe I, bentuk ini adalah adhesion free untuk
implantasi intraperitoneal.
Mesh mikropori mempunyai pori berukuran kurang dari 10 mikron,
menyebabkan bakteri yang berukuran lebih-kurang 1 mikrin dapat masuk
kedalam mesh, tetapi makrofag dan leukosit PMN yang berukuran lebih
dari 10 mikron tidak dapat masuk, sehingga meningkatkan resiko infeksi.
Mesh multifilamen mempunyai permukaan yang lebih luas daripada mesh
monofilamen dan pada penelitian invivo dengan pemberian kuman
stafilokokus aureus terjadi peningkatan infeksi pada mesh multifilamen
bila dibandingkan dengan mesh monofilamen. Tetapi menurut Amid resiko
infeksi dapat dihindari dengan menggunakan protesis tipe III dan terutama
tipe I.
Prolene mesh biasanya digunakan untuk :
1. Herniorafi
Herniorafi adalah operasi yang terdiri dari operasi herniotomi dan
hernioplasti. Herniotomo adalah tindakan membuka kantong hernia,
memasukkan kembali isi kantong hernia ke rongga abdomen, serta
mengikat dan memotong kantong hernia. Sedangkan hernioplasti adalah
tindakan memperkuat daerah defek, misalnya pada hernia ingunalis,
tindakannya memperkuat cincin ingunalis internal dan memperkuat
dinding posterior kanalis ingunalis.2
Ada beberapa metoda heniorafi, seperti herniorafi dengan cara
Shouldice, dan herniorafi tension-free dengan pemasangan mesh (metoda
Lichtenstein). Kali ini yang akan kita bahas cara kedua :

Setelah funikulus spermatikus diangkat dari dinding posterior


kanalis ingunalis dan kantong hernia telah diikat dan dipotong, lembaran
polupropylene mesh dengan ukutan lebih kurang 8 x 6 cm dipasang dan
dipaskan pada daerah yang terbuka. Mesh dijahit dengan benang
polypropylene monofilamen 3.0 secara kontinyu. Sepanjang tepi bawah
mesh dijahit mulai dari tuberkulum pubikum, ligamentum lakunare,
ligamentum ingunalis. Tepi medial mesh dijahit ke sarung rektus. Tepi
superior dijahit ke aponeurosis atau muskulus obliqus internus dengan
jahitan satu-satu. Bagian lateral mesh dibelah menjadi dua bagian sehingga
mengelilingi funikulus spermatikus pada cincin internus, dan kedua bagian
mesh yang terbelah tadi disilangkan dan difiksasi ke ligamentum ingunalis
dengan jahitan. Jahit apo aponeurosis obliqus eksternus.2
2. Sakrokolpopeksi
3. Abdominal wall reconstuction
Bladder exstrophy adalah serius malforasi dari dinding bawah abdomen
dengan pubic diastasis dan lateralisasi musculus rectus yang menyebabkan
sulitnya penutupan dinding abdomen.32
Total pasien yang dikirim untuk perbaikan mesh adalah 5, dimana tiga
adalah classical bladder exstrophy dikirim untuk primary turn-in dan
masing-masing merupakan total rekontruksi dari classical bladder
exstrophy dan cloacal exstrophy. Dari 5 kasus yang dipelajari 4 merupakan
laki-laki dengan umur rata-rata 3 tahun. Dua pasien terlambat melakukan
exstrophy dibandingkan negara lain.
4.
5. Reconstruction of traumatic midfacial defects.

10 pasien dengan traumatic midfacial defects dilakukan open reduksi dan


fiksasi patahan dengan menyusunan menggunakan monofilament undyed
non-absorbable surgical mesh di bagian kami.
Hasilnya menunjukkan bahwa mananaman prolene mesh bisa sangat
berhasil digunakan untuk kerusakan yang kecil sampai sedang. Penanaman
prolenen mesh is biocompatible dan juga memberikan kesempatan yang
bagus dalam rekonstruksi dari traumatik midfacial defek.
Walaupun

6. Hernia
a. Traumatik diaphragmatic hernia
Pada laporan kasus Traumatic Diaphragmatic Hernia yang dibuat oleh
Arcot Rekha dan Ananthakrishnan Vikram, dilaporkan :
Seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke IGD dengan
keluhan utama sesak nafas saat berakrivitas maupun saat istirahat. OS
dikirim ke pusat pelayanan kesehatan tingkat ke empat karena kasus
bronkopnemonia. Ibu tersebut juga mengeluhkan distensi perut dan
sulit buang air besar lebih dari seminggu. Pada pemeriksaan dijumpai
peningkatan suara nafas pada paru kiri dan terdengar suara usus pada
paru kiri dan suara usus pada andomen. Ibu tersebut mengalami
asidosis resporatory pada analisis gas darah.30
Pada foto polos yang dilakukan di IGD menunjukkan bayangan
usus di dada. Ibu tersebut di stabilkan di IGD lalu dibawa untuk CT
scan thorax dan abdomen yang mana menunjukkan herniasi dari
lengkung usus lewat diafragman kiri. Disana tampak mediastinal
terdorong ke kanan dan tampak sedikit lapangan paru pada dada
sebelah kiri.30
Diagnosis dari hernia diafragmatica ditegakkan. Pada anamnesa
didapatkan riwayat terjatuh 10 hari sebelum masuk rumah sakit (terjadi

kecelakaan kecil ketika pasien terpeleset dan terjatuh ketika


menyeberang jalan). Dia tidak mengalami luka luar dan tidak diobati.
Pasien dibawa keruang operasi setelah inform contsent mengenai
resiko tinggi.30
Laparoskopi diagnostik dimasukkan dan menunjukkan defek yang
besar pada bagian kiri dan lengkungan kolon menonjol melewatinya.
Upaya untuk menguranginya dengan laparoskopi gagal dan dilakukan
laparotomi. Pada laparotomi adhesi berat dijumpai antara lengkungan
pada kolon transversum. Insisi diluaskan menjadi seperti torakotomi
kiri dan bagian dari abdomen telah di kembalikan ketempatnya.
Dijumpai defek yang luas sekitar 15 x 13 cm di diafragma kiri yang
mana diperbaiki dengan menggunakan prolene mesh. Dijumpai paru
yang tertekan tidak mengembang dengan sempurna bahkan setelah
reduksi dari hernia. Ditempatkan drain pada thoraks kiri dan luka
(pada thoraks dan abdomen) ditutup.30
b. Hiatus hernia
Komplikasi utama setelah fundoplikasi

laparoskopi

adalah

perpindahan dari bungkus fundus kedalam rongga dada, dengan atau


tanpa ruptur katup. Hal ini dapat terjadi karena tidak adekuatnya
penutupan dari hiatus diaphragmatica, bisa karena lepasnya jahitan
atau robeknya serat otot yang dimanipulasi.31
Lima belas pasien dioperasi dengan umur rata-rata 46 tahun
menggunakan laparoscopic antireflux surgery, dengan prolene atau
dacron mesh untuk menguatkan hiatal crura.31
Penggunaan kain yang tidak diabsorbsi sebagai penguat dari hiatal
crura bisa dianggap prosedur yang bagus untuk mencegah masuknya
bagian fundus ke dalam rongga dada, terbukanya hiatus esophageal

dan dibutuhkan operasi kembali. Walaupun, pindahnya lebaran mesh


kedalam esophageal lumen adalah komplikasi yang mungkin terjadi
jika menggunakan metode ini dan harus benar-benar di analisa indikasi
c.

penggunaan cara ini.31