Anda di halaman 1dari 3

Kisah Bani Tamim

SAIFUL AMIN SHOLIHIN AL-ISHAQY


Pengasuh Pesantren Mambaul Hikmah, Suromulang Timur, Kota Mojokerto
Dalam sejarah Arab pra Islam, Bangsa Arab dikenal hidup tidak menetap dan
barbarian. Salah satu kebiasaan buruk orang-orang Arab yaitu membunuh setiap
anak kandung berjenis kelamin perempuan. Namun adat kebiasaan ini tidak berlaku
bagi bangsa Arab secara umum dan tidak pernah ada sebelumnya. Menurut Abul
Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad dalam Kitab Al-Kamil (Leipzig, 1874:
278), kebiasaan buruk itu berasal dari Bani Tamim, di masa yang tidak jauh dari
kedatangan Islam.
Di masa itu, Bani Tamim berada di bawah kekuasaan rezim Raja Numan dari
Kerajaan Khirah. Sejarawan Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah (1990, Vol. I: 35)
menyebut silsilah lengkap nama Raja Numan dengan silsilah Numan bin Mundzir
bin Amru bin Adiy bin Rabiah bin Nashr. Ayah dan leluhur Raja Numan merupakan
raja-raja di Kerajaan Khirah. Setiap tahun orang-orang dari Bani Tamim membayar
upeti pada Raja Numan sebagai tanda setia pada Raja Numan. Tapi suatu saat
orang-orang dari Bani Tamim tidak membayar upeti. Raja Numan marah dan
mengirim pasukan ke tempat tinggal Bani Tamim. Semua ternak dan harta mereka
dijarah, termasuk semua kaum hawa Bani Tamim: dari anak-anak, dewasa, hingga
yang renta.
Utusan Bani Tamim lalu mendatangi Raja Numan di Kerajaan Khirah. Mereka tidak
mempersoalkan ternak dan harta benda yang disita Raja Numan. Tetapi mereka
meminta para perempuan yang ditawan dibebaskan dan dikembalikan ke mereka.
Negosiasi berjalan dengan lancar. Raja Numan menyetujui dengan catatan Bani
Tamim kembali membayar upeti. Raja Numan memberi pilihan bagi perempuan
Bani Tamim: dipersilakan kembali ke Bani Tamim atau tetap tinggal di Khirah.
Semua perempuan asal Bani Tamim memilih kembali ke keluarga mereka, kecuali
seorang puteri Qais bin Ashim. Dia memilih tinggal di Kerajaan Khirah dan menikah
dengan penduduk Kerajaan Khirah, Amr bin Al-Musymaraj. Mendengar pengakuan
puterinya yang menolak kembali ke Bani Tamim, Qais marah dan bersumpah tidak
akan memiliki anak perempuan. Jika isteri-isteri mereka melahirkan anak
perempuan, maka akan dibunuh. Sumpah serapah itu lalu diikuti sebagian anggota
Bani Tamim hingga kedatangan risalah Nabi Muhammad. Terlebih anak perempuan
dianggap sebagai kelemahan, karena tak bisa bekerja atau berperang guna
meneguhkan eksistensi kesukuan mereka.
Karena hanya dilakukan sebagian Bani Tamim, tidak heran jika adat kebiasaan
buruk membunuh anak perempuan yang baru lahir itu, ditentang banyak pihak. Di
antaranya Sasaah bin Najiah, datuk Al-Farazdaq, seorang penyair Arab terkenal
dan Zaid bin Amar bin Nufail. Sasaah tercatat memerdekakan 360 anak
perempuan yang hendak dibunuh orang tuanya dan memelihara mereka hingga
dewasa (Al-Mujam Al-Kabir, VIII: 77).
Sementara Zaid bin Amar bin Nufail juga memerdekakan anak-anak perempuan
yang hendak dibunuh orang tuanya. Ketika anak-anak itu dewasa, Zaid bin Amar
membawa anak perempuan itu ke orang tuanya. Jika kamu sayang pada anak
perempuan kamu ini, maka ambillah. Kalau kamu tidak mau, biar anak-anak
perempuan ini bersama saya. Demikian disampaikan Zaid bin Amar (Shahih
Bukhari, I: 540).

Kisah lain tentang Bani Tamim dan dimuat dalam Alquran, yaitu kedatangan
delegasi bani tersebut ke Madinah menemui Nabi Muhammad. Delegasi Bani Tamim
terdiri dari Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udus At-Tamimi, Az-Zibriqan bin Badr
At-Tamimi, Nuaim bin Yazid, Qais bin Al-Harits, Qais bin Ashim, Al-Aqra bin Habis AtTamimi, dan Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr Al-Fazari. Ikut dalam
rombongan itu Amru bin Al-Ahtam dan Al-Habhab bin Yazid dari Bani Saad. Semua
orang masuk menemui Nabi Muhammad, kecuali Amru bin Al-Ahtam yang bertugas
menjadi onta-onta para delegasi Bani Tamim.
Sebagian besar delegasi Bani Tamim itu berteriak keras memanggil Nabi
Muhammad dari luar bilik rumah Nabi Muhammad. Teriakan keras orang-orang Bani
Tamim itu sangat tidak sopan. Menurut sejarawan Ibnu Ishaq, tingkah delegasi Bani
Tamim dengan memanggil Nabi Muhammad itu, yang melatari turunnya ayat 4
surat Al-Hujurat.
Inti kedatangan delegasi Bani Tamim yang diwakili Utharid bin Hajib, berupa
penegasan posisi sosial mereka: pangkat kedudukan, kekayaan, kekuatan
persenjataan dan pasukan. Penegasan Uthraid, lalu ditegaskan Az-Zibriqan bin Badr
At-Tamimi. Kami adalah orang-orang mulia dan tidak ada orang hidup yang setara
dengan kami. Raja-raja berasal dari kami dan gereja dibangun di tempat kami, kata
Az-Zibirqan.
Kecuali saat dipanggil dari luar bilik, hampir tak terjadi dialog antara delegasi Bani
Tamim dengan Nabi Muhammad. Setiap usai delegasi Bani Tamim berbicara dengan
nada bersyair, Nabi Muhammad memerintahkan sahabat yang sedang bersama
beliau, untuk menjawab syair-syair delegasi Bani Tamim itu. Syair Utharid bin Hajib
dijawab Tsabit bin Qais bin As-Syammas. Sedang syair Az-Zibirqan dijawab Hassan
bin Tsabit dengan syair pula. Setelah usai, delegasi Bani Tamim berikrar masuk
Islam. Nabi Muhammad lalu memberi mereka hadiah.
Di masa Khalifah Abu Bakar, salah seorang anggota delegasi Bani Tamim, Utharid
bin Hajib, ikut mendukung gerakan Sajah binti al-Harits bin Suwaid bin Aqfan atTamimiyah, seorang wanita yang mengaku sebagai nabi. Dengan keahlian meramal
apa yang belum terjadi, wanita keturunan Bani Yarbu (salah satu klan Bani Tamim)
ini mampu memobilisasi dukungan ribuan orang dari Bani Tamim, yang terpecah
menjadi dua bagian: mendukung Sajah dengan kelompok yang tetap beragama
Islam.
Semula Sajah bermusuhan dengan Musailamah bin Habib Al-Kadzdzab. Namun
keduanya bisa berdamai guna sama-sama memperluas wilayah pengakuan
kenabian mereka. Perdamaian di antara keduanya, ditandai dengan pernikahan
Sajah dengan Musailamah dengan mahar berupa penghapusan shalat Subuh dan
Isya oleh Musailamah pada Bani Tamim, serta penyerahan sebagian hasil kekayaan
penduduk Yamamah pada Bani Tamim.
Pasukan koalisi pendukung Sajah dan Musailamah itu dipimpin Malik bin Nuwairah
dari Bani Tamim. Koalisi pendukung dua nabi palsu ini bisa dikalahkan pasukan
Islam yang dipimpin Khalid bin Walid di kawasan Lembah Wadi Al-Buthah.
Sebenarnya, Bani Tamim merupakan salah satu kabilah yang dicintai Rasulullah
Muhammad. Banyak hadits Nabi yang menjelaskan tentang kecintaan Nabi
Muhammad pada Bani Tamim. Karena itu, menisbatkan semua hal negatif yang
pernah dilakukan beberapa orang dari Bani Tamim untuk semua orang dari Bani
Tamim, tentu tidak adil. Sebagaimana pendapat Syaikh Muhammad Ramadhan AlButhiy tentang ketidakadilan sebagian besar ahli sejarah terhadap sejarah Bangsa
Arab pra Islam. Oleh sebagian besar ahli sejarah, Bangsa Arab pra-Islam
diidentikkan dengan berbagai tindak amoral.

Padahal selain perilaku buruk, masyarakat Arab pra-Islam juga memiliki adatistiadat, sikap, perilaku yang baik dan masih tetap disyariatkan setelah agama Islam
datang. Dari Bani Tamim pula terlahir khalifah pertama Sayyid Abu Bakar, yang
terlahir dengan nama Abdullah Abi Quhafah (572-634 Masehi). Ayah dari Sayyidah
Aisyah, salah seorang isteri Nabi Muhammad itu bernasab Abdullah bin Utsman bin
Amir bi Amru bin Kaab bin Saad bin Tamim bin Murr bin Kaab bin Luay bin Ghalib
bin Fihr Al-Quraisyi. Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad pada
kakeknya, Murr bin Kaab bin Luay. Begitulah, watak dan kebaikan atau hal-hal
negatif seseorang, tak bisa dinilai dari suku bangsa mana dia berasal. []