Anda di halaman 1dari 13

TUGAS III

PEMBIAYAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN


SISTEM PERPAJAKAN INDONESIA

SUSILAWATI
J1A1 14 113
KELAS C

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

Sistem Perpajakan Indonesia

SISTEM PERPAJAKAN DI INDONESIA


Sistem perpajakan adalah cara yang digunakan oleh pemerintah untuk
memungut atau menarik pajak dari rakyat dalam rangka membiayai pembangunan
dan pengeluaran pemerintah lainnya.
Ciri dari corak sistem perpajakan di Indonesia berdasarkan undang-undang
yang berlaku antara lain sebagai berikut :
a. Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan
peran serta masyarakat untuk pembiayaan negara dan pembangunan
nasional.
b. Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak berada
pada anggota masyarakat wajib pajak sendiri.
c. Anggota masyarakat wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
(self assessment).
Oleh karena itu, pemerintah mengatur sistem perpajakan yaitu UndangUndang Perpajakan yang baru, yang terdiri atas UU Nomor 16 tahun 2000, UU
Nomor 17 tahun 2000, UU Nomor 18 tahun 2000, dan UU Nomor 12 tahun 1994
tentang perubahan atas UU Nomor 9 tahun 1994, UU Nomor 10 tahun 1994, UU
Nomor 11 tahun 1994, dan UU Nomor 12 tahun 1994.
a. Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Undang-undang ini berisi dua bab, yaitu:
1) Bab I mengenai pengertian dasar yang berkaitan dengan pajak dan
perhitungan pajak.
Dalam UU ini berisi pengertian berikut.
a) Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan
untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungutan
pajak dan pemotongan pajak tertentu.
b) Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak

Sistem Perpajakan Indonesia

melakukan usaha yang meliputi perseroan lainnya, BUMN atau


BUMD dengan nama Pendapatan Kena Pajak (PKP) dan dalam
bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pension, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial politik,
atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan
bentuk badan lainnya.
c) Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun
yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan
barang. Mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan
perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar
daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari
luar daerah pabean.
d) Pengusaha kena pajak adalah pengusaha sebagaimana dimaksud
diatas yang melakukan penyerahan barang kena pajak dan atau
penyerahan jasa kena pajak yang dikenakan berdasarkan UU Pajak
Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk
dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak.
e) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan
kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan
yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib
pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
f) Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan 1
(satu) tahun takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan paling lama 3 (tiga) bulan takwim.
g) Tahun pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun takwim kecuali
bila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan
tahun takwim.
h) Bagian tahun pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) tahun
pajak.
i) Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu
saat, dalam masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun

Sistem Perpajakan Indonesia

pajak

menurut

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

perpajakan.
j) Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan
untuk melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak, objek
pajak dan atau bukan objek pajak, dan atau harta dan kewajiban,
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap
subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam
tahun pajak. Sementara itu, penghasilan adalah setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima, baik berasal dari Indonesia maupun
luar Indonesia, yang dapat menambah kekayaan wajib pajak yang
bersangkutan.
1) Subjek Pajak Penghasilan
Subjek pajak meliputi:
a) orang pribadi
warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan,
menggantikan yang berhak.
b) badan
c) bentuk usaha tetap, yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,
atau badan yang tidak didirikan dan bertempat kedudukan di
Indonesia, untuk menjalankan usaha dan melakukan kegiatan di
Indonesia Subjek pajak terdiri atas subjek pajak dalam negeri dan
subjek pajak luar negeri.
1. Subjek pajak dalam negeri adalah:
o orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang
pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan;
o badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;

Sistem Perpajakan Indonesia

o warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan


yang berhak.
2. Subjek pajak luar negeri adalah:
o orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan
dan badan yang menjalankan usaha;
o orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu
12 bulan, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
2) Objek Pajak Penghasilan
Objek pajak penghasilan adalah penghasilan yang setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib
pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri, yang
dpaat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib
pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam Bentuk apapun,
termasuk:
a.

penggantian atau imbahan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa


yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan,
honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan

b.
c.
d.
e.

dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam UU ini;


hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
laba usaha;
keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta;
penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan

f.

sebagai biaya;
bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan

g.

pengembalian utang;
dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen
dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian

h.

SHU koperasi;
royalti;

Sistem Perpajakan Indonesia

i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;


penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
keuntungan karena pembebasan utang;
keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
premi asuransi;
iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya
yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau

p.

pekerjaan bebas;
tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum
dikenakan pajak;
Pajak atas penghasilan berupa bunga deposito dan tabungantabungan lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas
lannya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah
dan atau tabungan serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan
pajaknya diatur dengan peraturan pemerintah.
3) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/
PMK.03/2005 ditetapkan tanggal 30 Desember 2005, tentang

a.

Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak.


Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak disesuaikan menjadi
sebagai berikut.
- Rp13.200.000,00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah) untuk
-

diri Wajib Pajak Orang Pribadi;


Rp1.200.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan

untuk Wajib Pajak yang kawin;


Rp13.200.00,00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah)
tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung

dengan penghasilan suami;


Rp1.200.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan
untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi
tanggungan sepenuhnya, paling banyak (3 (tiga) orang untuk
setiap keluarga.

Sistem Perpajakan Indonesia

b. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku sejak


tahun pajak 2006.
4) Tarif Pajak Penghasilan
Menurut UU Nomor 17 tahun 2000, tarif pajak yang ditetapkan
atas penghasilan wajib pajak perseorangan (orang pribadi) dengan
ketentuan sebagai berikut. Sementara itu, wajib pajak badan dalam
negeri dan bentuk usaha tetap ditentukan sebagai berikut.

Sementara itu, wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk


usaha tetap ditentukan sebagai berikut.

Contoh Perhitungan Pajak Penghasilan


1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp 120.000.000,00. Pajak
Penghasilan terutang dihitung:

Sistem Perpajakan Indonesia

2. Seorang wajib pajak mempunyai penghasilan neto setiap tiga bulan Rp


24.320.000,00 wajib pajak tersebut berstatus kawin dan mempunyai 3
orang anak, sedangkan istrinya tidak mempunyai usaha. Dengan
demikian perhitungan PPh sebagai berikut.

c. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan


Nilai Barang dan Jasa, serta Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
1. Objek Pajak
Menurut Pasal 4, yang menjadi objek Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) adalah:
a) penyerahan barang kena pajak di dalam daerah Pabean yang dilakukan
oleh pengusaha,
b) impor barang kena pajak,
c) penyerahan jasa kena pajak yang dilakukan di dalam daerah pabean
oleh pengusaha,
d) pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean
di dalam daerah pabean,
e) pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah
pabean,
f) ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak.

Sistem Perpajakan Indonesia

Menurut Pasal 5, di samping pengenaan PPN, dikenakan juga


Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM), yaitu:
a.) penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah yang dilakukan
oleh pengusaha yang menghasilkan barang kena pajak yang tergolong
mewah tersebut di dalam daerah pabean dalam lingkungan perusahaan
atau pekerjaannya,
b.) impor barang kena pajak yang tergolong mewah.
2. Tarif PPN dan PPn BM
Menurut Pasal 7 UU Nomor 11 Tahun 2000, tarif Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) adalah:
a) tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen).
b) tarif Pajak Pertambahan Nilai atas Ekspor Barang Kena Pajak adalah
0% (nol persen),
c) dengan peraturan pemerintah, tarif pajak dapat diubah serendahrendahnya 5% (lima persen) dan setinggi-tingginya 15% (lima belas
persen).
Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM), menurut
Pasal 8, adalah:
a) tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serendahrendahnya 10%
(sepuluh persen) dan setinggitingginya 75% (tujuh puluh lima persen),
b) atas ekspor barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan pajak
dengan tarif 0% (nol persen),
c) dengan peraturan pemerintah ditetapkan kelompok barang kena pajak
yang tergolong mewah yang dikenakan PPn BM,
d) macam dan jenis barang yang dikenakan PPn BM atas barang kena
pajak yang tergolong mewah ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
d. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak pusat yang hasil
pemungutannya diserahkan ke pemerintah daerah, untuk membiayai
pembangunan di wilayahnya.

Sistem Perpajakan Indonesia

1. Objek PBB
Objek pajak dalam Pajak Bumi dan Bangunan adalah bumi dan
atau bangunan. Sementara itu, objek pajak yang tidak dikenakan Pajak
Bumi dan Bangunan adalah:
a) Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di
bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan
nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan.
b) Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis
dengan itu.
c) Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah
negara yang belum dibebani hak.
d) Digunakan oleh perwakilan diplomat, konsulat berdasarkan asas
perlakuan timbal balik.
e) Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional
yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
2. Tarif PBB
Tarif PBB yang dikenakan pada objek pajak adalah 0,5% dari
Nilai Jual Objek Kena Pajak (NJOKP). Dan besarnya Nilai Jual Objek
Pajak

Tidak

Kena

Pajak

(NJOPTKP)

ditetapkan

sebesar

Rp8.000.000,00 untuk setiap wajib pajak.


Adapun dasar pengenaan PBB adalah sebagai berikut.
a) Dasarnya adalah nilai jual objek pajak.
b) Besarnya nilai jual objek pajak ditetapkan 3 tahun sekali oleh
Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap
tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya.
c) Dasar perhitungan pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak Kena Pajak
(NJOPKP) yang ditetapkan serendahrendahnya 20% dan setinggitingginya 100% dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
d) Besarnya nilai jual kena pajak ditetapkan dengan peraturan
pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional.

Sistem Perpajakan Indonesia

10

3. Pembagian Hasil Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan


Pembagian hasil penerimaan PBB diatur dalam Peraturan
Pemerintah, namun pada garis besarnya penerimaan tersebut dibagi
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ketentuan besarnya
persentase (%) dan urutan pembagian hasil penerimaan PBB antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah sebagai berikut.
a) Hasil penerimaan PBB merupakan penerimaan Negara (100%).
b) 10% dari hasil penerimaan PBB, untuk pemerintah pusat dan
disetor ke kas negara.
c) 90% dari hasil penerimaan PBB, untuk pemerintah daerah.
d) 90% untuk pemerintah daerah tersebut masih harus dikurangi
dengan 10% untuk biaya pemungutan. Sisanya: - Untuk
Pemerintah Daerah Tk I 20%
- Untuk Pemerintah Daerah Tk II 80%

Sistem Perpajakan Indonesia

11

e. Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2000 tentang Bea Meterai


Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, besarnya bea meterai
ditentukan sebagai berikut.
1. Surat perjanjian, akta notaris, akta PPAT, surat lamaran sebesar Rp
6.000,00.
2. Dokumen nominal Rp 250.000,00 Rp 1.000.000,00 sebesar Rp
3.000,00 lebih dari Rp 1.000.000,00 sebesar Rp 6.000,00.
3. Cek dan bilyet giro sebesar Rp 3.000,00.
Sebagai gambaran tentang besarnya penerimaan dari pajak negara,
berikut ini disajikan perkembangan penerimaan beberapa jenis pajak-pajak
negara dari tahun 20062007.

Sistem Perpajakan Indonesia

12

Sistem Perpajakan Indonesia

13