Anda di halaman 1dari 14

DAMPAK NEGATIF PADA ANAK

AKIBAT BROKEN HOME


Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Anak I
Dosen Pembimbing : Sunarsih Rahayu M.Kep

Disusun oleh :
ROMADHONY CITRA SETIYANINGSIH
P27220014095

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah yang berjudul Dampak Negatif Pada Anak Akibat Broken Home telah disahkan dan
disetujui pada :
Hari

Tanggal

Disetujui oleh :

Pembimbing I

Pembimbing II

Sunarsih Rahayu.,Skep.,Ns.,Mkep.

Sri Mulyanti.,Skep.,Ns.,Mkep.

NIP.

NIP.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pengertian keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan hubungan
sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu kesatuan sosial yang
diikat oleh hubungan darah antara satu dengan lainnya. Dan dari dimensi darah dapat
dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga inti. Sedangkan dimensi hubungan sosial,
keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling berhubungan
atau interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya, walaupun diantara
mereka tidak terdapat hubungan darah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Keluarga adalah bagian dari masyarakat besar yang terdiri dari ibu bapak dan anakanaknya (KBBI, 2013).
Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa kanak-kanak
menuju kedewasaan. Pada masa ini adalah remaja mencari jati diri. Pencaharian jati diri
merupakan proses dari perkembangan pribadi anak. Menurut Erickson (dalam Kartini
kartono, 2003 ) Masa remaja merupakan masa pencaharian suatu identitas menuju
kedewasaan. Pada hakekatnya keluargalah wadah pembentukan masing-masing
anggotanya, terutama anak remaja yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab
orang tuanya, selain sebagai pembentukan masing-masing anggota terutama anak peranan
terpenting dalam keluarga memenuhi kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikis
pengalaman dalam keluarga. Jadi dari keluargalah semua itu berasal, kalau anak remaja
dibesarkan dari keluarga yang utuh / tidak broken home maka perkembangan anaknya
akan mengarah kearah yang baik atau sebaliknya.

Menurut Matinka (2011) Broken home adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi
keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan
dalam keluarga tersebut.
Yang dimaksud kasus broken home dapat dilihat dari dua aspek yaitu (1) keluarga
itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu
meninggal dunia atau telah bercerai, (2) orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur
keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak di rumah, atau tidak
memperlihatkan kasih sayang lagi. Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga
keluarga itu tidak sehat secara psikologis. Dari keluarga yang digambarkan di atas tadi,
akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian sehingga perilakunya sering
tidak sesuai. Mereka mengalami gangguan emosional bahkan neurotik. Kasus keluarga
broken home ini sering kita temui di sekolah dengan penyesuaian diri yang kurang baik,
seperti malas belajar, menyendiri, agresif, membolos, dan suka menentang guru.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui dampak negatif pada anak akibat broken home dan untuk
menyadarkan orang tua apa yang akan terjadi pada anaknya setelah mereka
berpisah.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui arti dari broken home
b. Untuk mengetahui dampak negatif apa saja yang terjadi pada anak akibat broken
home
c. Untuk mengetahui penyebab dari broken home
d. Untuk mengetahui cara meminimalisir terjadinya broken home
e. Untuk mengetahui peran perawat pada masalah broken home pada anak

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dampak buruk broken home pada anak


Dari gambar diatas terlihat jelas bahwa anak sekarang ada yang mengalami
perpecahan dari keluarganya. Tak luput dari realitas bahwa semakin hari, faktanya

semakin banyak keluarga yang mengalami broken home. Beberapa kasus diantaranya
mungkin disebabkan perbedaan prinsip hidup, dan diantara lainnya bisa disebabkan oleh
masalah-masalah pengaturan keluarga. Akan tetapi, yang jelas kasus-kasus broken home
itu sama halnya dengan kasus-kasus sosial lainnya, yaitu sifatnya multifaktoral. Satu hal
yang pasti, hubungan interpersonal diantara suami-istri dalam keluarga broken home
telah semakin memburuk. Kedekatan fisikal juga menjadi alasan bagi pasangan suami
istri dalam menyikapi masalah broken home, meskipun dalam beberapa sumber
disebutkan bahwa kedekatan fisik tidak mempengaruhi kedekatan personal antarindividu.
Inti dari semuanya adalah komunikasi yang baik antarpasangan. Dalam komunikasi ini,
berbagai faktor psikologis termuat di dalamnya, sehingga patut mendapat perhatian
utama.
Sebuah penelitian yang dilakukan di University of California, Los Angeles setelah
mempelajari masalah dalam (kurang lebih) 2000 keluarga, membuktikan bahwa anak
tetap menjadi korban empuk dalam pertikaian rumah tangga. Efek pertikaian ini,
biasanya akan membuat si anak cenderung melakukan hal-hal negatif diluar
kebiasaannya. Ketidakstabilan emosiyang disebabkan, akan membuat si anak mencoba
menggunakan obat-obatan terlarang, mengonsumsi alkohol hingga melakukan seks
bebas. Untuk itu, berdasarkan observasi yang telah dilakukan selama 30 tahun,
menyatakan bahwa kedua orangtua yang sudah tak lagi saling mencintai, sebaiknya
jangan pernah hidup bersama dalam satu atap. Hal ini hanya akan menyakiti hati dan
mental sang anak. Seorang anak yang terus-menerus melihat pertengkaran orangtuanya,
bisa menderita kelainan secara psikis dan gangguan perilaku, saat berhubungan dengan
orang lain. Penyebab utama terjadinya broken home, yaitu:

(a) perceraian, terjadi akibat disorientasi antara suami istri dalam membangun rumah
tangga
(b) kebudayaan bisu, ketika tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga;
(c) ketidakdewasaan sikap orangtua, karena orangtua hanya memikirkan diri mereka
daripada anak; dan
(d) orangtua yang kurang rasa tanggung jawab dengan alasan kesibukan bekerja. Mereka
hanya terfokus pada materi yang akan didapat dibandingkan dengan melaksanakan
tanggung jawab di dalam keluarga (Broto, 2009).
B. Dampak negatif pada anak dab remaja akibat broken home
1. Dampak psikologis
Setiap keluarga yang mengalami broken home biasanya akan berdampak anakanaknya. Orangtua tidak pernah memikirkan konskuensi dari tindakan yang mereka
lakukan. Dampak paling utama yang akan melekat sampai anak tersebut dewasa
adalah dampak psikologis. Seorang anak dapat berkembang dengan baik jika
kebutuhan psikologisnya juga baik. Secara umum anak yang mengalami broken
home memiliki :
(a) ketakutan yang berlebihan
(b) tidak mau berinteraksi dengan sesame
(c) menutup diri dari lingkungan
(d) emosional
(e) sensitive
(f) temperamen tinggi,
(g) labil.
Sebenarnya, dampak psikologis yang diterima seorang anak berbeda-beda tergantung
usia atau tingkatan perkembangan anak (Nurmalasari, 2008).
2. Dampak bagi prestasi anak
Akibat dari broken home juga mempengaruhi prestasi anak tersebut. Anak broken
home cenderung menjadi malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar.
Berdasarkan sampel penelitian pada siswa kelas dua SMP Negeri Baleendah 2
Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar

antara siswa berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari
keluarga utuh, motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah
daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh, keadaan keluarga broken home
memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap motivasi belajar siswa (Broto,
2009).
3. Dampak bagi perilaku remaja
Remaja broken home yang kurang perhatian membuat self esteem dan self
confident rendah sehingga anak cenderung mencari perhatian dari lingkungan.
Biasanya dengan memberontak, melakukan bullying, dan bersikap derduktif terhadap
lingkungan, seperti merokok, free sex, dan minum minuman keras (Nurmalasari,
2008).
C. Cara meminimalisir dampak negatif pada anak dan remaja akibat broken home
Tidak semua orang berpandangan bahwa broken home adalah hal yang negatif.
Ada yang berpikir bahwa broken home adalah jalan yang terbaik bagi keluarganya. Ada
beberapa cara untuk meminimalisir atau mengatasi broken home, antara lain :
1. mendekatkan diri kepada Tuhan
2. berpikir dan berperilaku positif
3. saling berbagi
4. mencari kegiatan positif
D. Peran perawat pada kasus dampak negatif pada anak akibat broken home
Peran perawat pada kasus ini yaitu sebagai counseling. Counseling adalah proses
membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial
untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan
perkembangan seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.
Peran perawat sebagai counseling adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi
klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Perubahan pola interaksi merupakan Dasar
dalam merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.

Pada kasus ini perawat dalam proses dalam konseling perlu di perhatikan pula
teknik-teknik konseling, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, teknik konseling ini
meliputi :

1.

Teknik yang bersifat lahir


Teknik yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang dapat dilihat dan dirasakan
oleh klien. Yaitu dengan menggunakan tangan dan lisan.

2.

Teknik yang bersifat batin


Teknik yang hanya dilakukan dalam hati dengan doa dan harapan.

Pendekatan konselor kepada kliennya diantaranya:


1.

Didasari kerelaan dari kedua belah pihak dari konselornya dan siorang tua itu
sendiri.

2.

Menyadari peran dari tanggung jawab konselor

3.

Menekankan keharusan konselor terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh.

4.

Memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitannya dengan apa yang dikatakan


oleh klien.

5.

Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak ditangan


klien.

Sebagai seorang perawat yang berperan sebagai counseling juga harus bisa
memberi saran kepada orang tua untuk memikirkan apa yang akan terjadi pada anak
mereka setelah mereka berpisah, ada beberapa saran yang harus disampaikan kepada
klien antara lain :

1. Dimusyawarahkan terlebih dahulu antara ibu dan ayah dengan baik dan penuh
hormat.
2. Selalu dukung anak Anda untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik yang
positif maupun negatif, mengenai apa yang sudah terjadi. Sangatlah penting bagi
orang tua yang akan bercerai ataupun yang sudah bercerai untuk memberi
dukungan

kepada

anak-anak

mereka

serta

mendukung

mereka

untuk

mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Seringkali terjadi,


perasaan akan kehilangan salah satu orang tua akibat perceraian menyebabkan
anak-anak menyalahkan salah satu dari kedua orang tuanya (atau kedua-duanya)
dan mereka merasa dikhianati. Jadi, anda harus betul-betul siap untuk menjawab
setiap pertanyaan yang akan diajukan anak anda atau keprihatinan yang mereka
miliki.
3. Beri kesempatan pada anak untuk membicarakan mengenai perceraian dan
bagaimana perceraian tersebut berpengaruh pada dirinya. Anak-anak yang usianya
lebih besar, tanpa terduga, bisa mengajukan pertanyaan dan keprihatinan yang
berbeda, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehnya. Meski mengejutkan
dan terasa menyudutkan, tetaplah bersikap terbuka.
4. Jangan menjelek-jelekan mantan pasangan di depan anak walaupun Anda masih
marah atau bermusuhan dengan bekas suami. Hal ini merupakan salah satu yang
sulit untuk dilakukan tapi Anda harus berusaha keras untuk mencobanya. Jika hal
itu terus saja Anda lakukan, anak akan merasa, ayah atau ibunya jahat,
pengkhianat, atau pembohong. Nah, pada anak tertentu, hal itu akan menyebabkan
ia jadi dendam dan bahkan bisa trauma untuk menikah karena takut diperlakukan
serupa.

5. Anak-anak tidak perlu merasa mereka harus bertindak sebagai "penyambung


lidah" bagi kedua orang tuanya. Misalnya, Anda berujar, "Bilang, tuh, sama
ayahmu, kamu sudah harus bayaran uang sekolah.
6. Bilamana mungkin, dukung anak-anak agar memiliki pandangan yang positif
terhadap kedua orang tuanya. Walaupun pada situasi yang baik, perpisahan dan
perceraian dapat sangat menyakitkan dan mengecewakan bagi kebanyakan anakanak. Dan tentu saja secara emosional juga sulit bagi para orang tua.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang
berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di
rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah,
sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat. Tanpa

disadari orangtua, broken home secara tidak langsung memberikan dampak yang
signifikan kepada anak-anaknya. Sangat jarang ada orangtua yang memikirkan
konsekuensi dari keputusan tersebut. Dari beberapa dampak yang ditimbulkan,
dampak psikologis adalah yang paling melekat. Walaupun begitu, sebenarnya tersedia
cara untuk mengatasi broken home. Cara tersebut akan efektif bagi setiap keluarga
yang mendambakan keluarga utuh dan harmonis.
B. Saran
1. Jangan menatap masa lalu, berorientasilah ke masa depan. Masalah perceraian
bukan milik Anda, melainkan milik orang tuan Anda.
2. Tetap berhubungan baik dengan kedua orang tua, meskipun mereka telah
berpisah. Harus tetap menghomati keduanya dengan segala kondisi yang ada,
sekalipun mereka telah gagal dam menjalankan sebuah rumah tangga
3. Harus pandai dan selektif memilih teman atau lingkungan pergaulan. Jangan
terjebak pada hal-hal yang memperburuk kondisi Anda sebagai seorang anak
broken home
DAFTAR PUSTAKA
Broto, A. 2009. Pengaruh Broken Home.
http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html.Diakses pada 2
maret 2016.
Lestari, S. 2012. Psikologis Keluarga : Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam
Keluarga (edisi ke-1). Jakarta. Kencana,
Mantika, D. 2011. Pengaruh Keluarga Brokrn Home Terhadap Pendidikan Remaja
Universitas Singaperbangsa, Karawang, INA.
http://www.slideshare.net/dianmantikha/makalah-filsafat-pendidikan-ian. Diakses 2
maret 2016.
Kumalasari, Y. 2008. Broken Home : Dampak dan Solusi.
http://ddistrictofnaya.blogspot.com/2010/11/brokenhome-dampak-dan-solusi.html.
Diakses 2 maret 2016
Pustaka Phoenix. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi-7). Jakarta : Penulis.