Anda di halaman 1dari 2

3.

Sanksi
Berdasarkan keputusan nomor: SKEP/035/PB PDGI/V/2008 tentang
pedoman majelis kehormatan etik kedokteran gigi Indonesia, yang terdapat pada
pasal 32 yang berisi:
Sanksi dilaksanakan oleh pengurus PDGI sesuai keputusan sidang MKEKG
1. Sanksi tersebut berupa:
a. Peringatan lisan berlaku paling lama 6 bulan
b. Peringatan tertulis berlaku paling lama 6 bulan
c. Penarikan rekomendasi PDGI untuk mendapatkan SIP paling lama
12 bulan.
2. Sanksi peringatan lisan disampaikan langsung kepada teradu dalam sidang
MKEKG.
3. Sanksi peringatan tertulis disampaikan secara langsung kepada teradu
dalam sidang MKEKG, diikuti dengan peringatan tertulisnya.
4. Dalam hal peringatan lisan telah disampaikan tetapi tetap tidak ada
perbaikan paling lama 6 bulan, dilanjutkan dengan peringatan tertulis.
5. Peringatan tertulis dapat diberikan sebanyak 3 kali .
6. Dalam hal peringatan tertulis telah diberikan sebanyak 3 kali tetap belum
ada perbaikan, diusulkan pencabutan rekomendasi untuk memperoleh SIP.
7. Keputusan MKEKG yang telah diterima oleh teradu ditindaklanjuti oleh
PDGI .
2. Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi
Pasal 50
A. Hak dokter dan dokter gigi
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai hak :
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur operasional;

c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau


keluarganya; dan
d. menerima imbalan jasa. (UU no 29 tahun 2004, Paragraf 6, pasal 50)
B. Kewajiban dokter dan dokter gigi
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai kewajiban :
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian
atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi. (UU no 29 tahun 2004, Paragraf 6, pasal
51)