Anda di halaman 1dari 25

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

KASUS
1. Identitas pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Tgl. Lahir
Alamat
No. RM
Tgl. Dirawat
Tgl. Pemeriksaan
Dokter yang memeriksa
Dokter muda

: Nn. M
: 16 tahun, 2 bulan
: Perempuan
: 19-11-1999
: Kp. Sumur No. 31 RT/RW 07/17, Klender.
Duren Sawit
: 01017141
: 15 Januari 2016
: 18-1-2016
: dr. R.A.H.I. Ariestina, SpPD
: Putri Ayu Kesuma

2. Anamnesis
Dilakukan pada hari Senin, tanggal 18 Januari 2016 pukul 13.00 WIB secara
autoanamnesis dan alloanamnesis dengan orang tua pasien.
Keluhan Utama:
Demam

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan demam sejak 4

hari SMRS, demam naik turun, menggigil (+). Demam turun sebentar
dengan obat penurun panas kemudian naik lagi. Batuk (+), mual (+),
muntah (-), nyeri kepala (+), pusing (+), nyeri ulu hati (+), sesak (+), nafsu
makan menurun. Terdapat bintik-bintik merah pada daerah lengan bawah
sejak 1 hari SMRS yang tidak hilang dengan penekanan, perdarahan gusi
dan hidung tidak ada, muntah merah-kehitaman tidak ada, BAB warna
kehitaman tidak ada, BAK lancar berwarna kuning. Pasien sebelumnya
dibawa berobat ke dokter umum di Puskesmas, dilakukan tes rumple leed
dan hasilnya positif, diberi obat dan disarankan melakukan pemeriksaan
darah di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan

hasil Leukosit 1,5 ribu/L, Hb : 14,5 g/dL, Ht 44,4%, trombosit 30


ribu/L, pasien dirujuk ke RSUD Budhi Asih.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien pernah mengalami sakit DBD sebelumnya.
Riwayat sakit malaria disangkal
Riwayat bepergian ke luar daerah disangkal
Riwayat sakit tifoid disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien menyangkal adanya keluarga/tetangga yang menderita sakit yang
sama.
Riwayat pengobatan :
Sebelumnya pasien berobat ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD Budhi
Asih.

3. Pemeriksaan Fisik
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB : 40 kg
TB : 165 cm
BMI : 14,69
Status gizi : gizi kurang
Tanda vital : TD: 90/60mmHg
N: 108 x/mnt
RR: 24 x/mnt
S: 38,00C
Kepala : Normocephali
Rambut: lurus sukar di cabut
Mata : Konjungtiva: Anemis (+/+)
Sclera

: Ikterus (-/-)

Pupil: Isokor, 2,5 mm/ 2,5 mm


Telinga : Normotia, NT (-), NT (-)
Hidung : Perdarahan : (-)
Secret
: (-)
Mulut : Bibir: Kering (+)
Tonsil: T1/ T1, Hiperemis (-)
Faring: Hiperemis (-)
Lidah: Kotor (-)

Gigi-geligi: Caries (-)


Gusi: Perdarahan (-)
Leher : KGB: Tidak ada pembesaran
Tiroid: Tidak ada pembesaran
Kaku kuduk: (-)
Dada

: Inspeksi: Simetris kiri = kanan


Bentuk: Normochest
Sela iga: Simetris kiri = kanan, kesan melebar (-)
Paru : Palpasi: Fremitus raba (-)
Perkusi: Paru kiri = Paru kanan : Sonor
Auskultasi: Bunyi pernapasan: Vesikuler
Bunyi tambahan : Rh -/- Wh -/Jantung : Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak
Palpasi: Ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
Perkusi: Pekak, batas jantung kesan normal
Auskultasi: BJ I/II : Murni, regular
Bunyi tambahan : murmur (-), gallop (-)
Perut : Inspeksi: Datar. Mengembang saat inspirasi, mengempis saat ekspirasi
Auskultasi: BU (+)
Palpasi: Supel, NT (+) pada regio epigastrium.
Hati: Tidak ada pembesaran
Limpa: Tidak teraba
Ginjal: Tidak teraba
Perkusi : Timpani (+)
Alat kelamin
: Tidak ada kelainan
Anus dan rectum
: Tidak ada kelainan
Ekstremitas
:
Atas :
Edema (-/-)
Ptekie (+)
Akral dingin (+)
Bawah :
Edema (-/-)
Ptekie (-)
Akral dingin (+)

4. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 15/1/2016 (UGD)
Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
SGOT
SGPT
GDS
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)

Hasil
2,5 ribu/L
4,6 juta/L
14,5 g/dL
42 %
19 ribu/L
90,8 fL
31,3 pg
34,4 g/dL
12,0 %
93 mU/dl
49 mU/dl
103 mg/dL
137 mmol/L
3,6 mmol/L
107 mmol/L

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2
12,8-16,8
35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14
< 27
< 23
< 110
135-155
3,6-5,5
98-109

Tanggal 16/1/2016 (ICU)


Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
PT
APTT
Fibrinogen
D-dimer
Kalsium Ion
pH
PCO2
PO2
Bicarbonat
Total CO2

Hasil
2,8 ribu/L
4,7 juta/L
13,5 g/dL
38 %
28 ribu/L
80,9 fL
28,6 pg
35,3 g/dL
11,6 %
14,5 detik
45,7 detik
169 mg/dL
< 0,1 mg/L
1,09 mmol/L
7,47
25 mmHg
144 mmHg
18 mmol/L
19 mmol/L

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2
12,8-16,8
35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14
12-17
20-40
200-400
< 0,3
1,13-1,32
7,35-7,45
35-45
80-100
21-28
23-27

Saturasi O2
BE
Laktat darah
Protein total
Albumin
Globulin
Gula darah CITO
Ureum
Kreatinin
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Magnesium (Mg)
CRP kuantitatif
Procalcitonin
Urinalisis :
Warna
Kejernihan
Glukosa
Bilirubin
Keton
PH
Berat jenis
Albumin urine
Urobilinogen
Nitrit
Darah
Esterase lekosit
Sedimen urine :
Lekosit
Eritrosit
Epitel
Silinder
Kristal
Bakteri
Jamur

99 %
-3,3 mEq/L
1,9 mmol/L
4,8 g/dL
2,7 g/dL
2.1 g/dL
114 mg/dL
15 mg/dL
0,59 mg/dL
140 mmol/L
3,9 mmol/L
112 mmol/L
2,14 mg/dL
< 5 g/L
0,61 ng/mL

95-100
-2,5-2,5
0,5-2,2
6,0-8,0
3,2-4,5
1,8-3,5
< 110
11-39
< 1,0
135-145
3,6-5,5
98-109
1,6-2,6
<5
< 0,5

Kuning
Agak keruh
Negative
Negative
Negative
6,5
1.015
2+
0,2 E.U./dL
Negative
1+
Negative

Kuning
Jernih
Negative
Negative
Negative
4,6-8
1.005-1.030
Negative
0,1-1
Negative
Negative
Negative

2-4 /LBP
2-4 /LBP
Positif
Negative
Negative
Negative
Negative /LBP

<5
<2
Positif
Negative
Negative
Negative
Negative

Hasil
4,1
5,1

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2

Tanggal 17/1/2016 (ICU)


Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit

Hb
Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Kalsium ion
pH
PCO2
PO2
Bicarbonat
Total CO2
Saturasi O2
BE
Glukosa darah jam 06.00
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Anti Dengue IgG
Anti Dengue IgM
Berat jenis

14,3
42
37
81,2
27,9
34,4
11,7
1,25
7,44
32
200
22
23
99
-1,2
98
142
3,9
112
Positif
Positif
1025

12,8-16,8
35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14
1,13-1,32
7,35-7,45
35-45
80-100
21-28
23-27
95-100
-2,5-2,5
< 110
135-155
3,6-5,5
98-109
Negative
Negative
1.005-1.030

Hasil
3,8
5,1
13,7
41
72
81,9
27,1
33,1
11,7

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2
12,8-16,8
35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14

Hasil
3,4 ribu/L
4,7 juta/L
13,3

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2
12,8-16,8

Tanggal 17/1/2016 (Lantai 5 barat)


Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Tanggal 18/1/2016 (Lantai 5 barat)
Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hb

Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW

38
86
81,8
28,5
34,8
11,7

35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14

Tanggal 18/1/2016 (Lantai 5 barat)


SGPT

49 mU/dl

< 23

Tanggal 19/1/2016 (Lantai 5 barat)


Jenis pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW

Hasil
3,8 ribu/L
4,7 juta/L
13,5 g/dL
39 %
187 ribu/L
82,2 fL
28,5 pg
34,6 g/dL
11,7 %

Nilai normal
4,5-12,5
3,8-5,2
12,8-16,8
35-47
154-386
80-100
26-34
32-36
< 14

5. Ringkasan
Nn. M usia 16 tahun, masuk rumah sakit dengan keluahan demam sejak
4 hari SMRS, demam naik turun, menggigil (+). Demam turun sebentar dengan
obat penurun panas kemudian naik lagi. Batuk (+), mual (+), nyeri kepala (+),
pusing (+), nyeri ulu hati (+), sesak (+), ptekie (+) pada daerah tangan sejak 1
hari SMRS. Nafsu makan menurun, mimisan (-), gusi berdarah (-). BAK lancer
berwarna kuning, BAB hitam (-). Pemeriksaan fisik TD: 90/60mmHg, N: 108
x/mnt, RR: 24 x/mnt, S: 38,00C. Akral dingin (+), rumple leede (+). Dari
pemeriksaan laboratorium, Leukosit : 2,5 ribu/L, Trombosit 19 ribu/L,
SGOT : 93 mU/dl, SGPT : 49 mU/dl. APTT : 45,7 detik, Anti Dengue IgG/IgM
: positif/positif.

6. Daftar masalah
- DHF grade III dengan Dengue Shock Syndrome (DSS)
7. Analisis masalah
a. DHF grade III dengan Dengue Shock Syndrome (DSS)
Dari anamnesis didapatkan pasien demam sejak 4 hari SMRS, demam
naik turun, menggigil (+), mual (+), nyeri kepala (+), pusing (+), nyeri ulu
hati (+), sesak (+), ptekie (+) pada daerah tangan sejak 1 hari SMRS. Pada
pemeriksaan fisik, rumple leede (+). Dari pemeriksaan tersebut, terdapat
uji turniket positif berarti fragilitas kapiler meningkat. Dinyatakan positif
bila terdapat > 10 petekie dalam diameter 2,5 cm di lengan bawah bagian
volar termasuk fossa cubiti. Selain itu ditemukan tekanan darah 90/60
mmHg, yang menunjukkan tekanan darah menyempit (20 mmHg) dan
ekstremitas dingin. Pemeriksaan laboratorium, Leukosit : 2,5 ribu/L,
Trombosit 19 ribu/L, SGOT : 93 mU/dl, SGPT : 49 mU/dl. APTT : 45,7
detik. Dari pemeriksaan laboratorium tersebut, trobosit mengalami
penurunan dan pemeriksaan anti Dengue IgG/IgM : positif/positif. Jadi,
dari semua pemeriksaan yang telah dilakukan kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa pasien didiagnosis dengan Demam Berdarah Dengue
derajat 3 (Dengue Shock Syndrome) karena pada pasien terjadi demam
yang disertai perdarahan spontan di kulit, penurunan trombosit, dan
penyempitan tekanan nadi.
Rencana terapi
Sesuai dengan prinsip pengobatan pada Demam Dengue, pasien
diberikan terapi suportif dan terapi simptomatik. Penatalaksanaan demam
berdarah

disesuaikan

dengan

derajat

keparahan.

Penatalaksanaan

ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma


dan memberikan terapi substitusi komponendarah bilamana diperlukan.
Terapi cairan berupa IVFD RL/6 jam untuk membantu mengencerkan

kekentalan darah yang memekat sehingga oksigen dapat terus dialirkan ke


setiap sel tubuh dan sindrom syok dapat teratasi. Terapi simptomatik
berupa paracetamol diberikan untuk menurunkan demam, dan omeprazole
diberikan untuk mengurangi nyeri ulu hati.
8. Planning
Medikamentosa:
IVFD RL/6jam
Voluven / 12 jam
Norepinephrine 0,1 mcg atau dobutamin 0,5mcg
Cendantron 3x8mg
Oksigen 2 liter/menit
Transamin 3x1
Vit. K 3x1
Pumpicel 1x40mg
9. Prognosis
Ad functionem :Dubia et bonam
Ad sanationem :Dubia etBonam
Ad vitam
:Dubia etBonam

10. Follow up
HARI
PERAWATAN
TANDA VITAL

KU
KELUHAN
UTAMA

UGD
15-1-2016
T :80/50

17-1-2016
T : 90/60

Lantai 5 Barat
18-1-2016
19-1-2016
T : 90/60
T : 100/60

mmHg

mmHg

mmHg

mmHg

N : 78 x/i

N : 80 x/m

N : 94 x/m

N : 88 x/m

P : 18 x/i

P : 24 x/m

P : 16 x/m

P : 20x/m

S : 37,8 0C
SS/CM
Demam
(+)

S : 37 0C
SS/CM
Demam

S : 37,9 0C
S : 36,8 0C
SS/CM
SS/CM
(-). Demam (+) tadi Demam

sejak

Mual

(+), malam.

muntah

(-), (+), muntah (-), (+)

hari

SMRS.
Mimisan

(-).

ICU
16-1-2016

Nyeri

(-),

Mual sesak (+), batuk

Kepala pusing (+)


9

Mual

(+),

muntah

(-),

Nyeri

(-)

Kepala

KEPALA

(+)
ANEMIS : +/+

ANEMIS : -/-

ANEMIS : -/-

ANEMIS : +/+

THORAKS

IKTERUS : -/BP : vesikuler

IKTERUS :-/BP : vesikuler

IKTERUS : -/BP : vesikuler

IKTERUS :-/BP : vesikuler

RH : -/-

RH : -/-

RH : -/-

RH : -/-

Wh : -/BU : (+)

Wh : -/BU : (+)

Wh : -/BU : (+)

Wh : -/BU : (+)

NT : (-)
EDEMA : -/-

NT : (-)
EDEMA : -/-

NT : (-)
EDEMA : -/-

ABDOMEN

NT : (-)
EKSTREMITAS EDEMA : -/DIAGNOSA
DSS
UTAMA
TERAPI
Pro ICU
IVFD RL/6jam
Voluven / 12
jam
Norepinephrin
e 0,1 mcg
atau
dobutamin
0,5mcg
Cendantron
3x8mg
PCT 3x500mg
Oksigen 2
liter/menit
Transamin 3x1
Vit. K 3x1
Pumpicel

DSS
IVFD Kaen
MG3 : RF =
1:1
Ceftriaxone
2x1gr
Vit C 1x200
Omeprazole

DSS

DSS

IVFD asering/8 IVFD asering/8


jam
jam
Polisilane Syr. Polisilane Syr.
3x1
Ceftriaxone

2x1gr
Kalnex 3x1
Vit C 1x200
1x40mg
Ondancentron Omeprazole
1x40mg
3x1 amp
PCT 3x500mg Ondancentron
PINDAH
3x1 amp
DARI ICU PCT 3x500mg

3x1
Ceftriaxone
2x1gr
Kalnex 3x1
Vit C 1x200
Omeprazole
1x40mg
Ondancentron
3x1 amp
B comp 3x1
BLPL

1x40mg

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi
Infeksi virus dengue adalah suatu infeksi virus akut yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi demam, sakit kepala, nyeri otot atau persendian,
ruam dan trombositopenia. Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu
11

bentuk dari infeksi virus dengue disertai dengan perembesan plasma yang
ditandai dengan hemokonsentrasi. Perembesan plasma yang terjadi bisa saja
menyebabkan syok hipovolemik yang sering kita sebut sebagai dengue shock
syndrome .(1,2)

Gambar 1. Manifestasi dari infeksi virus dengue.(2)


II.

Etiologi dan cara penularan


Transmisi dari virus dengue tergantung terhadap 2 faktor, yaitu faktor biotik
dan abiotic. Faktor biotik meliputi virus, vektor, dan host. Sedangkan faktor
abiotic termasuk suhu, kelembaban, dan lokasi.(4)
II.1. Virus Dengue
Infeksi virus dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk
dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus adalah virus
dengan diameter 30-50 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal
dengan berat molekul 4x106. Virus dengue memiliki 3 protein struktural dan
7 protein non-struktural (NS). Diantara 7 protein struktural, envelope
glycoprotein atau yang sering kita kenal dengan NS-1 merupakan salah satu
protein yang sering dideteksi bagi pasien tersangka infeksi virus dengue.(1,4)
Terdapat 4 macam serotipe virus dengue yaitu DEN-1, DEN-2, DEN3, dan DEN-4 yang semuanaya bisa menyebabkan demam dengue. Ketika

12

seseorang terinfeksi degan serotipe manapun, maka orang tersebut akan


mendapatkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Seringkali
infeksi kedua kali dengan serotipe lainnya atau infeksi virus multiple
(terinfeksi lebih dari serotipe dalam satu waktu) menjadi peneybab
keparahan dari infeksi dengue yaitu dengue shock syndrome. (1,3,4)
II.2. Vektor
Virus dengue ditularkan ke manusia melalu gigitan nyamuk. Aedes
aegypti adalah vektor dengue yang tersering.(2,4)Aedes aegypti merupakan
nyamuk yang bisa ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Distribusi dari
nyamuk Ae. Aegypti pun dibatasi oleh ketinggian. Biasanya nyamuk ini
tidak ditemukan di ketinggi 1000m dari permukaan laut. Nyamuk ini
menjadi vektor paling efisien bagi virus karena bersifat antropofilik dan
tumbuh subur di dekat manusia serta seringkali hidup di dalam ruangan.(3)
Selain nyamuk Aedes agypti, terdapat pula nyamuk lain yang bisa
menjadi vektor bagi virus ini. Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan
beberapa dari Aedes scutellaris ditemukan bisa menjadi vektor bagi virus
dengue.(3)
II.3. Cara Penularan
Virus dengue dapat menular kemanusia dari gigitan nyamuk. Nyamuk
yang tidak terinfeksi mendapatkan virus ketika mereka menghisap darah
dari individu yang terinfeksi. Virus berkembang pada tubuh nyamuk selama
1-2 minggu dan ketika mencapai kelenjar ludah nyamuk, virus dapat
bertransmisi pada manusia saat nyamuk menghisap darah manusia. Setelah
nyamuk yang infeksius menggigit manusia, virus akan bereplikasi pembuluh
limfa dan selama 2-3 hari akan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah.
Virus bersirkulasi dalam darah selama 4-5 hari selama masa demam dan
akan hilang dalam waktu sehari ketika suhu tubuh menurun.(3)

13

Gambar 2. Nyamuk Aedes aegypti menggigit manusia dan mentransmisikan


virus dengue.(5)
III.

Epidemiologi
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan
Karibia. Di Asia Tenggara, angka kejadian DBD meningkat dari dibawah 100.000
kasus pada tahun 1950-1960an menjadi 200.000 kasus pada tahun 90an.
Peningkatan angka kejadian juga dilaporkan terjadi diluar dari area tropis dan
subtropis.(5)

Gambar 3. Distribusi Geografis Dengue. (5)


Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41
tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatanpersebaran jumlah
provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota,
menjadi 32 (97%) dan 382 (77%)kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi
Maluku, dari tahun 2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain
itu terjadijuga peningkatan jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus
menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009.(8)

14

Gambar 4. Angka Insiden DBD per 100.000 penduduk di Indonesia tahun


1968-2009. (8)

IV.

Gejala klinis
Menurut WHO 2009, Gambaran klinis dari penderita dengue dibagi atas 3
fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.(8)
A. Fase Febris
Pada fase ini biasanya demam mendadak tinggi 2-7 hari, suhu tubuh
biasanya mencapai 39-400 C, bersifat bifasik. Pada fase ini juga biasanya
disertai rash atau eritema kulit yang bisa ditemukan pada wajah, leher, atau
dada pada 2-3 hari pertama. Ruam berkembang berbentuk makopapular pada
hari ketiga hingga hari keempat.(4,8)
Selain itu dapat pula ditemukan nyeri seluruh tubuh, mialgia, atralgia
dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan pua nyeri pada tenggorokan,
injeksi farings dan konjugtiva, anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini
dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti uji turniket positif atau peteki
dan perdarahan mukosa.Walaupun jarang bisa juga ditemukan epistaksis
hebat, perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.(4,8)
B. Fase Kritis

15

Terjadi pada hari ke 3-7 dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh
disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang
biasanya berlangsung selama 24-48 jam. Kebocoran plasma sering didahului
dengan penuruna trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.(8)
C. Fase pemulihan
Bila fase kritis terlewati maka terjadilah pengembalian cairan dari
ekstravaskular ke intravaskular secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.
Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan kembali serta hemodinamik
membaik.(8)

Gambar 5. Perjalan penyakit pada infeksi virus dengue.(8)

V.

Patogenesis
Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa menkanisme imunopatologis
berperan terhadap terjadinya DBD dan bentuk yang lebih parah berupa DSS.
Adapun respon imun yang berperan adalah:(1)
a. Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang
dimediasi oleh antibody. Antibodi terhadap virus dengue berperan dalam
mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini
disebut antibody dependent enchanment.

16

b. Limfosit T berupa T-helper (CD4) dan T-Sitotoksik (CD8) berperdan dalam


respon imun seluler terhadap virus dengue
c. Monosit dan makrofag berperan pada fagositosis virus dengan opsonisasi
antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan replikasi virus
meningkat.
d. Aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan tebrentuknya C3a
dan C5a.

Gambar 6. Immunopatogenesis demam berdarah dengue.(1)


Selain teori diatas, pada tahun 1973 Halstead mengajukan sebuah hipotesis
tentang secondary heterologous infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi
bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi
menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi
kompleks imun yang tinggi.(1)

17

Gambar 7. secondary heterologous infection(1)


VI.

Diagnosis
Menurut WHO, kriteria yang harus dipenuhi untuk menegakkan diagnosis
DBD adalah sebagai berikut:(4)
A. Manifestasi Klinis
- Demam, perlangsungan akut, tinggi dan terus menerus, berlangsung
-

selama 2-7 hari pada kebanyakan kasus.


Adanya manifestasi perdarahan berupa perdarahan provokatif (uji turniket
positif) maupun perdarahan spontan (peteki, purpura, epistaksis,

perdarahan gusi, hematesis dan/atau melena)


Hepatomegali atau pembesaran hati
Syok, dengan manifestasi berupa takikardi, nadi melemah, tekanan nadi

menyempit, dan akral dingin.


B. Pemeriksaan Laboratorium
- Trombositopenia ( 100.00 sel per mm3)
- Hemokonsentrasi, yaitu peningkatan nilai hematokrit 20%
Dengan ditemukannya dua dari 4 gejala klinis yang ada disertai temuan
laboratorium berupa trombositopenia dan hemokonsentrasi, demam berdarah
dengue sudah dapat ditegakkan.(4)
Berdasarkan temuan klinis dan laboratorium tadi, Demam Berdarah Dengue
dapat diklasifikasikan berdadarkan derajat keparahan. DBD dibagi dalam 4
derajat yaitu:(1,3,4)
18

1. DBD Grade I
Memberikan gejala demam, sakit kepalam nyeri retro-orbital, mialgia dan
artralgia ditambah uji turniket memberikan hasil positif. Selain itu pada
hasil laboratorium ditemukan adanya trombositopenia dan peningkatan
hematokrit sebagai tanda terjadinya kebocoran plasma.
2. DBD Grade II
Memenuhi krtieria DBD grade I disertai tanda-tanda perdarahan spontan
seperti perdarahan gusi, epsitaksis, melena dan/atau hematesis.
3. DBD Grade III
Pasien dikategorikan kedalam DBD grade III jika memenuhi kriteria DBD
grade II disertai tanda-tanda adanya kegagalan sirkulasi.
4. DBD Grade IV
Pasien dikategorikan DBD grade IV jika memenuhi kriteria DBD grade III
disertai dengan tekanan darah dan nadi yang tidak terukur.
Pasien dikatakan mengalami Dengue Shock Syndrome jika mengalami DBD
grade III-IV. Kondisi pasien yang menjadi syok biasanya tiba-tiba memburuk
setelah demam selama 2-7 hari. Terdapat tanda khas dari kegagalan sirkulasi yaitu
kulit menjadi dingin dan nadi menjadi cepat dan lemah. Pasien mungkin awalnya
letargi, kemudian menjadi gelisah dan dengan cepat memasuki stadium kritis dari
syok Nyeri abdomen akut seringkali dikeluhkan sebelum terjadinya syok.(2)
Selain tanda tadi, DSS juga seringkali ditandai dengan menyempitnya tekanan
nadi (20 mmHg) dan disertai terjadinya hipotensi. Pasien dengan syok berada
dalam bahaya kematian jika tidak diatasi dengan baik. Pasien bisa saja masuk
kedalam stadium syok yang lebih dalam dengan tekanan darah dan nadi yang
tidak terukur.(1,8)
VII.

Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk screening infeksi dengue adalah
pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, angka trombosit dan apusan darah tepiuntuk
melihat adanya limfositosis relatif disertai dengan limfosit plasma biru. Diagnosis

19

pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue ataupun deteksi antigen virus RNA
dengue. Namun karena prosedur yang rumit maka tes serologis yang mendeteksi
antibodi spesifik terhadap dengue berupa antibodi total, IgMatau IgG lebih banyak
digunakan.Parameter laboratorium yang dimonitor antara lain:

Leukosit; dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemui


limfositosis relatif disertai adanya limfosit plasma biru.

Trombosit; umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke-3-8.

Hematokrit;

kebocoran

plasma

dibuktikan

dengan

adanya

peningkatanhematokrit >20% dari nilai awal, umumnya dimulai pada hari ke3 demam.

Hemostasis; dilakukan pemeriksaan PTT, APTT, fibrinogen, D-Dimer pada


keadaan yang dicurigai adanya perdarahan atau kelainan pembekuan darah.

Protein/albumin; dapat ditemukan hipoalbuminuria apabila terjadi kebocoran


plasma.

SGOT/SGPT; dapat ditemukan peningkatan.

Ureum/kreatinin; bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.

Elektrolit; sebagai parameter pemberian cairan.

Golongan darah; bila dibutuhkan tranfusi darah atau komponen darah.

Imunoserologi; IgM dideteksi mulai pada hari ke 3-5, meningkat pada minggu
ke 3 dan hilang setelah 60-90 hari. IgG pada infeksi primer mulai dideteksi
pada hari ke 14 sedangkan pada infeksi sekunder mulai dideteksi pada hari ke
2.

b. Radiologis
Pada foto dada bisa didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan.
Pemeriksaan foto rontgen sebaiknya dalam posisi dekubitus lateral kanan (RLD)
Ascites dan efusi pleura dapat dideteksi dengan pemeriksaan USG.(3,4)

20

c. Tes Diagnostik
Diagnosis infeksi dengue yang tepat dan efisien merupakan elemen yang
penting dalam penatalaksanaan infeksi dengue. Metode diagnosis laboratorium untuk
mengkonfirmasi infeksi dengue dapat dilakukan dengan mendeteksi adanya virus,
asam nukleat virus, antigen, maupun antibodi. Setelah onset penyakit, virus dapat
dideteksi pada serum, plasma, sel darah, dan jaringan lain selama 4-5 hari.Selama
fase awal penyakit, isolasi virus, deteksi asam nukleat atau antigen dapat dilakukan
untuk mendiagnosis infeksi dengue. Pada akhir fase akut infeksi,metode serologi
merupakan pilihan utama.(5)
Respon antibodi terhadap adanya infeksi sangat bervariasi antar individu.
Antibodi IgM merupakan imunoglobulin yang paling awal muncul. Antibodi ini dapat
dideteksi pada 50% pasien 3-5 hari setelah onset penyakit, meningkat menjadi 80%
pada hari ke 5 dan menjadi 99% pada hari ke 10. (5)
Puncak IgM adalah 2 minggu setelah onset penyakit kemudian menurun
sampai pada kadar yang tidak terdeteksi setelah 2-3 bulan. Anti dengue srum IgG
secara umum dapat dideteksi pada kadar kecil pada akhir minggu pertama kemudian
meningkat perlahan. Serum IgG dapat dideteksi setelah beberapa bulan bahkan
seumur hidup. Pada infeksi sekunder, titer antibodi akan meningkat lebih
cepat.Imunoglobulin yang dominan adalah IgG yang terdeteksi dalam kadar yang
tinggi bahkan dalam fase akut.(5)

21

Sebelum hari ke 5 dari onset penyakit atau selama fase demam, infeksi dengue
dapat didiagnosis dengan isolasi virus pada kultur sel, deteksi RNA virus dengan
nucleic acid amplification test (NAAT) atau dengan mendeteksi antigen virus dengan
ELISA atau rapid test. NS1 dan rapid dengue antigen detection test dapat digunakan
karena cepat dan terjangkau. Setelah hari ke 5 dari onset penyakit, virus dengue dan
antigen akan menghilang dari darah dan mulai muncul antibodi spesifik. Antigen NS1
mungkin masih dapat dideteksi pada sebagian kecil orang. Tes serologi, waktu
pengambilan spesimen lebih fleksibel daripada isolasi virus atau antigen.(5)

22

VIII.

Penatalaksanaan
Sampai hari ini, tidak ada terapi spesifik untuk demam dengue. Prinsip utama
pengobatan pada penyakit ini cuma berupa terapi suportif. Steroid, antiviral,
maupun karbazokrom tidak memiliki peran yang berarti. Dengan terapi suportif
yang adekuat angka kematian dapat diturunkan hingga 1%. Pemeliharaan cairan
sirkulasi adalah tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD.

23

Asupan cairan harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral
tidak bisa dipertahankan maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena
untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi.(1,5)
Selain terapi cairan, paracetamol bisa digunakan untuk sebagai obat penurun
panas dan analgesik. Aspirin dan dan NSAID lainnya sebaiknya dihindari karena
bisa meningkatkan resiko terjadinya Reyes syndrome dan hemoragik. Assesmen
dari kondisi pasien berupa pemeriksaan lab harus dievaluasi setiap 24 jam untuk
mengawasi tanda-tanda terjainya syok.(5)
Protokol pengobatan infeksi virus dengue yang digunakan di Indonesia
terbagi dalam 5 kategori yaitu:(1)

Protokol 1: Penanganan Tersangka DBD (probable) tanpa syok


Protokol 2: Pemberian cairan pada tersangka DBD di ruang rawat
Protokol3: Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan nilai
hematokrit>20%
Protokol 4: Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD
Protokol 5:Tatalaksana Dengue Syok Sindrome

DAFTAR PUSTAKA

24

1. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam berdarah dengue.


Dalam: Sudoyo,A. et.al. (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.
Edisi V. Jakarta:PusatPenerbitan IPD FKUI, 2009.p.1731-1735
2. World Health Organization. Dengue, dengue haemorrhagic fever and dengue
shocksyndrome in the context of the integrated management of childhood
illness. Departmentof Child and Adolescent Health and Development.
WHO/FCH/CAH/05.13. Geneva,2005
3. Gibbons RV, Vaughn DW. Dengue: An Escalating Problem. BMJ
2002;324:1563-6
4. Liolios A. Volume resuscitation: the crystalloid vs colloid debate revisited.
Medscape

2004.Available

from:

URL:http://www.medscape.com/viewarticle/480288
5. Wills BA, Nguyen MD, Ha TL, Dong TH, Tran TN, Le T, et al. Comparison

of three fluidsolutions for resuscitation in dengue shock syndrome. N Engl J


Med 2005; 353:87789

25