Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

MEKANISME DAN PENATALAKSANAAN ALERGI OBAT

Oleh:
Vania Nur Amalina

G99142109

Bryan Pandu Permana

G99142110

Pembimbing

dr. Evi Nurhayatun, Sp.PD, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
S U R AK AR TA
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Referat Ilmu Penyakit Dalam dengan judul:
MEKANISME DAN PENATALAKSANAAN ALERGI OBAT

Oleh:
Vania Nur Amalina

G99142109

Bryan Pandu Permana

G99142110

Telah disetujui untuk dipresentasikan pada tanggal:


Pembimbing,

dr. Evi Nurhayatun, Sp.PD, M.Kes

DAFTAR ISI

Halaman Cover

............................................................................................................ 1

Lembar Pengesahan ....................................................................................................... 2


Daftar Isi ........................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 4


BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 5
A. Alergi Obat .......................................................................................................... 5
1. Definisi .......................................................................................................... 5
2. Etiologi ............................................................................................................ 5
3. Patofisiologi ..................................................................................................... 6
4. Mekanisme imunologis .................................................................................. 7
5. Mekanisme non imunologis ........................................................................... 10
6. Gejala dan tanda .............................................................................................. 10
7. Diagnosis ....................................................................................................... 11
8. Penatalaksanaan .............................................................................................. 13
9. Pencegahan ..................................................................................................... 13
B. Syok Anafilaktik ................................................................................................ 14
1. Definisi

.......................................................................................................... 14

2. Epidemiologi ................................................................................................... 14
3. Faktor predisposisi dan etiologi ...................................................................... 14
4. Patofisiologi ................................................................................................... 15
5. Diagnosis .......................................................................................................... 17
6. Penatalaksanaan .............................................................................................. 18
BAB III RINGKASAN ................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
Alergi obat timbul sebagai suatu reaksi akibat pemberian obat dengan cara sistemik
baik masuk melalui mulut, hidung, rektum, vagina, dan dengan suntikan atau infus.
Sedangkan reaksi alergi yang disebabkan oleh penggunaan obat dengan cara topikal, yaitu

obat yang digunakan pada permukaan tubuh mempunyai istilah sendiri yang disebut
dermatitis kontak alergi. Tidak semua obat dapat mengakibatkan reaksi alergi. Hanya
beberapa golongan obat saja yang dapat menimbulkan reaksi alergi itupun tidak terjadi pada
semua orang. Golongan obat yang dapat menimbulkan reaksi alergi adalah obat anti inflamasi
non steroid (OAINS), antibiotik; misalnya penisilin dan derivatnya, sulfonamid, dan obatobatan antikonvulsan (Purwanto, 2007).
Menurut WHO, sekitar 2% dari seluruh jenis alergi obat yang timbul tergolong
serius karena reaksi alergi obat yang timbul tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit
bahkan mengakibatkan kematian. Sindrom Steven-Johnson (SSJ) dan Nekrolisis Epidermal
Toksis (NET) adalah beberapa bentuk reaksi serius dari alergi obat (Lee dan Thompson,
2007).
Perlu ditegakkan diagnosa yang tepat dari gangguan ini memberikan manifestasi
yang serupa dengan gangguan kulit lain pada umumnya. Identifikasi dan anamnesa yang
tepat dari penyebab timbulnya reaksi obat adalah salah satu hal penting untuk memberikan
tatalaksana yang cepat dan tepat bagi penderita dengan tujuan membantu meningkatkan
prognosis serta menurunkan angka morbiditas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ALERGI OBAT
1. Definisi
Alergi adalah suatu reaksi abnormal jaringan terhadap berbagai substansi yang
secara normal tidak berbahaya bagi individu pada umumnya. Istilah alergi berasal dari
bahasa Yunani (Allos= yang lain, suatu penyimpangan dari cara biasa; ergon= kerja).
Sehingga semua keadaaan penderita yang menyimpang dari reaksi imun biasa
dinamakan alergi, seperti keadaan penderita yang mengalami reaksi terhadap toksin,
serbuk sari atau urtikaria yang disebabkan oleh makanan tertentu. (Purwanto, 2007)
2. Etiologi
Reaksi alergi disebabkan oleh adanya benda asing atau alergen yang masuk ke
dalam tubuh. Alergen bersifat antigenik, artinya menyebabkan pembentukan antibodi
atau mempunyai kemampuan untuk menginduksi respon imun. Jika jaringan orang
yang rentan berulang kali terpapar dengan alergen, seperti mukosa nasal terhadap
serbuk sari, maka dapat mengakibatkan jaringan ini tersensitisasi sehingga terjadi
pembentukan antibodi. Dan pada pemaparan berikutnya terjadi reaksi antigenantibodi. (Purwanto, 2007)
Faktor-faktor yang memperbesar risiko timbulnya erupsi obat adalah:
1. Jenis kelamin
Wanita mempunyai risiko untuk mengalami gangguan ini jauh lebih tinggi jika
dibandingkan dengan pria. Walaupun demikian, belum ada satupun ahli yang mampu
menjelaskan mekanisme ini.
2. Sistem imunitas
Erupsi alergi obat lebih mudah terjadi pada seseorang yang mengalami
penurunan sistem imun. Pada penderita AIDS misalnya, penggunaan obat
sulfametoksazol justru meningkatkan risiko timbulnya erupsi eksantematosa 10
sampai 50 kali dibandingkan dengan populasi normal.
3. Usia
Alergi obat dapat terjadi pada semua golongan umur terutama pada anak-anak
dan orang dewasa. Pada anak-anak mungkin disebabkan karena perkembangan sistim
immunologi yang belum sempurna. Sebaliknya, pada orang dewasa disebabkan

karena lebih seringnya orang dewasa berkontak dengan bahan antigenik. Umur yang
lebih tua akan memperlambat munculnya onset erupsi obat tetapi menimbulkan
mortalitas yang lebih tinggi bila terkena reaksi yang berat.
4. Dosis
Pemberian obat yang intermitten dengan dosis tinggi akan memudahkan
timbulnya sensitisasi. Tetapi jika sudah melalui fase induksi, dosis yang sangat kecil
sekalipun sudah dapat menimbulkan reaksi alergi. Semakin sering obat digunakan,
Semakin besar pula kemungkinan timbulnya reaksi alergi pada penderita yang peka.
5. Infeksi dan keganasan
Mortalitas tinggi lainnya juga ditemukan pada penderita erupsi obat berat yang
disertai dengan keganasan. Reaktivasi dari infeksi virus laten dengan human herpes
virus (HHV)- umumnya ditemukan pada mereka yang mengalami sindrom
hipersensitifitas obat (Lee dan Thompson, 2007).
3. Patofisiologi
Ada dua macam mekanisme yang dikenal dalam perjalanan terjadinya reaksi
alergi obat. Pertama adalah mekanisme imunologis dan kedua adalah mekanisme non
imunologis. Umumnya alergi obat timbul karena reaksi hipersensitivitas berdasarkan
mekanisme imunologis. Obat dan metabolit obat berfungsi sebagai hapten, yang
menginduksi antibodi humoral. Reaksi ini juga dapat terjadi melalui mekanisme non
imunologis yang disebabkan karena toksisitas obat, over dosis, interaksi antar obat
dan perubahan dalam metabolism tubuh. (Revus, 2003)

Tabel 1. Reaksi Obat Imunologis dan non-Imunologis (Riedl dan Casillas, 2007)

4. Mekanisme Imunologis
Berdasarkan mekanisme imunologis perjalanan terjadinya reaksi alergi obat dibagi
menjadi beberapa tipe:
1.

Hipersensitivitas Tipe I (Reaksi anafilaksis)


Mekanisme ini paling banyak ditemukan. Yang berperan ialah Ig E yang
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap mastosit dan basofil. Perjalanan pertama
dari obat dalam tubuh tidak menimbulkan reaksi. Tetapi bila dilakukan pemberian
kembali obat yang sama, maka obat tersebut akan dianggap sebagai antigen yang
akan merangsang pelepasan bermacam-macam mediator seperti histamin, serotonin,
bradikinin, heparin. Mediator yang dilepaskan ini akan menimbulkan bermacam-

macam efek, misalnya urtikaria. Reaksi anafilaksis yang paling ditakutkan adalah
timbulnya syok.
Berikut contoh beberapa manifestasi klinis yang dapat timbul akibat reaksi
obat hipersensitivitas tipe 1 :
a) Kejang bronkus gejalanya berupa sesak. Kadang-kadang kejang bronkus. disertai
kejang laring. Bila disertai edema laring keadaan ini bisa sangat gawat karena pasien
tidak dapat atau sangat sulit bernapas.Manifestasi klinis yang tejadi merupakan efek
mediator kimia akibat reaksi antigen dengan IgE yang telah terbentuk yang
menyebabkan kontraksi otot polos. meningkatnya permeabilitas kapiler serta
hipersekresi kelenjar mukus.
b) Urtikaria.
c) Angioedema.
d) Pingsan dan hipotensi. Renjatan anafilaktik dapat terjadi beberapa menit setelah
suntikan seperti penisilin. Manifestasi klinis renjatan anafilaktik dapat terjadi dalam
waktu 30 menit setelah pemberian obat. Karena hal tersebut mengenai beberapa
organ dan secara potensial membahayakan, reaksi ini sering disebut sebagai
anafilaksis. Penyebab yang tersering adalah penisilin.
Pada hipersensitivitas tipe I ini terjadi beberapa fase yaitu :
a) Fase sensitasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE.
b) Fase aktivasi, yaitu fase yang terjadi karena paparan ulang antigen spesifik.Akibat
aktivasi ini sel mast/basofil mengeluarkan kandungan yang berbentuk granul yang
dapat menimbulkan reaksi.
c) Fase efektor, yaitu fase terjadinya respons imun yang kompleks akibat penglepasan
mediator.
2.

Hipersensitivitas Tipe II (Reaksi Autotoksis)


Adanya ikatan antara Ig G dan Ig M dengan antigen yang melekat pada sel.
Aktivasi sistem komplemen ini akan memacu sejumlah reaksi yang berakhir dengan
lisis. Reaksi hipersensitivitas tipe II atau reaksi sitotaksik terjadi oleh karena
terbentuknya IgM / IgG oleh paparan antigen. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan
sel-sel yang memiliki reseptornya (FcgR). Ikatan antigen-antibodi juga dapat
mengaktifkan komplemen melalui reseptro komplemen.

Manifestasi klinis reaksi alergi tipe II umumnya berupa kelainan darah seperti
anemia hemolitik, trombositopenia, eosinofilia, dan granulositopenia. Nefritis
interstisial dapat juga merupakan reaksi alergi tipe ini.
3.

Hipersensitivitas Tipe III (Reaksi Kompleks Imun)


Antibodi yang berikatan dengan antigen akan membentuk kompleks antigen
antibodi. Kompleks antigen antibodi ini mengendap pada salah satu tempat dalam
jaringan tubuh mengakibatkan reaksi radang. Aktivasi sistem komplemen merangsang
pelepasan berbagai mediator oleh mastosit. Sebagai akibatnya, akan terjadi kerusakan
jaringan. Reaksi ini disebut juga reaksi kompleks imun dan akan terjadi bila kompleks
ini mengendap pada jaringan. Antibodi yang berperan disini ialah IgM dan IgG.
Kompleks ini akan mengaktifkan pertahanan tubuh yaitu dengan penglepasan
komplemen.
Manifestasi klinis reaksi alergi tipe III dapat berupa :
a) Urtikaria, angioedema, eritema. makulopapula, eritema multiforme, dan lain-Iaih.
Gejala tersebut sering disertai pruritus.
b) Demam.
c) Kelainan sendi, artralgia, dan efusi sendi.
d) Limfadenopati.
e) Lain-Iain : kejang perut, mual, neuritis optik, glomerulonefritis, sindrom lupus
eritematosus sistemik, gejala vaskulitis lain
Gejala tadi timbul 5-20 hari setelah pemberian obat, tetapi bila sebelumnya
pernah mendapat obat tersebut, gejala dapat timbul dalam waktu 1-5 hari.

4.

Hipersensitivitas Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe Lambat)


Reaksi ini melibatkan limfosit. Limfosit T yang tersensitasi mengadakan
reaksi dengan antigen. Reaksi ini disebut reaksi tipe lambat karena baru timbul 12-48
jam setelah perjalanan terhadap antigen. Reaksi tipe IV disebut Delayed Type
Hypersensitivity (DTH) juga dikenal sebagai Cell Mediated Immunity (reaksi imun
seluler). Pada reaksi ini tidak ada peranan antibodi. Reaksi terjadi karena respons sel
T yang telah disensitasi oleh antigen tertentu.
Berbagai jenis DTH (Delayed Type Hypersensitivity) :
a) Cutaneous Basophil Hypersensitivity
b) Hipersensitivitas kontak (contact Dermatitis)

c) Reaksi tuberkulin
d) Reaksi granuloma
Manifestasi klinis reaksi alergi tipe IV dapat berupa reaksi paru akut seperti
demam, sesak, batuk, infiltrat paru, dan efusi pleura. Obat yang tersering
menyebabkan reaksi ini yaitu nitrofurantoin, Nefritis interstisial, ensefalomielitis, dan
hepatitis juga dapat merupakan manifestasi reaksi alergi obat (Docrat, 2007).
5.

Mekanisme Non Imunologis


Reaksi "Pseudo-allergic" menstimulasi reaksi alergi yang bersifat antibodydependent. Salah satu obat yang dapat menimbulkannya adalah aspirin. Teori yang
ada menyatakan bahwa ada satu atau lebih mekanisme yang terlibat; pelepasan
mediator sel mast dengan cara langsung, aktivasi langsung dari sistem komplemen,
atau pengaruh langsung pada metabolisme enzim asam arachidonat sel. (Riedl dan
Casillas, 2007).

6.

Gejala dan Tanda


Manifestasi klinis alergi obat sangat bermacam-macam. Pengelompokan gejala
dan tanda yang terjadi pada pasien salah satunya dapat dilihat dari waktu timbulnya
alergi tersebut. Kita juga perlu memperhatikan adanya kelainan-kelainan yang timbul
pada pasien untuk menentukan jenis penyakit yang muncul akibat alergi obat.

Tabel 2. Pengelompokan Alergi Berdasarkan Waktu (Purwanto, 2007)


Segera
Urtikaria

Cepat
Urtikaria

Lambat
Urtikaria

Sangat lambat
Anemia hemolitik

Hipotensi

Erupsi morbiliform

Exanthema

Thrombositipenia

Asthma

Edema larynx

Serum siekness

Granulositopenia

Drug fever

Sindroma Steven Johnson

Edema larynx

Payah ginjal akut


Sindroma lupus
Cholestatica jaundice

10

Gambar 1. Tanda dan Gejala Klinis yang Mengarah pada Reaksi Sistemik
(Demoly, 2014)
7.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan cara mengevaluasi beberapa aspek pada pasien antara
lain didapatkan dengan cara anamnesis, uji kulit dan pemeriksaan laboratorium.
a. Anamnesis
Anamnesis merupakan poin penting untuk diagnosis alergi obat. Hal-hal yang
perlu dicatat dalam anamnesis pasien antara lain:
1) Obat-obatan apa saja yang dipakai selama ini, mulai kapan obat tersebut
dipakai, berapa dosisnya, bagaimana cara pemakaiannya apakah hingga saat
ini masih dipakai atau sudah dihentikan.
2) Manifestasi klinis yang muncul pada pasien apabila ia mengonsumsi obat
tersebut
3) Seberapa cepat timbulnya manifestasi alergi obat tersebut, apakah
menghilang bila pasien menghentikan obat dan muncul kembali bila pasien
meminum obat tersebut lagi.
4) Apakah pasien memiliki riwayat alergi yang lain

11

5) Riwayat penyakit pasien


(Demoly dkk., 2014)
b. Uji Kulit
Pemeriksaan uji kulit bermanfaat untuk mendeteksi alergi obat dengan
hipersensitifitas tipe I atau tipe cepat (anafilaksis). Uji kulit untuk tujuan lain
seperti melihat reaksi hipersensitivitas tipe lambat belum diketahui sebagai
prosedur yang berguna. Sedangkan uji patch test digunakan untuk melihat reaksi
alergi obat tipe lambat (hipersensitivitas tipe IV). Uji tempel bermanfaat hanya
untuk obat-obatan yang diberikan secara topikal (Demoly dkk., 2014).

Gambar 2. Algoritma diagnosis alergi obat


(Demoly dkk., 2014).

12

8.

Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan alergi obat adalah dengan menghentikan obat yang
kemungkinan membuat reaksi alergi tersebut. Apabila pasien meminum banyak obat,
bila memungkinkan sebaiknya seluruh obat dihentikan penggunaannya. Bila tidak
mungkin dihentikan semua, maka hanya berikan obat yang esensial saja serta yang
kemungkinan sangat kecil menimbulkan alergi. (Djauzi dkk., 2009).
Penatalaksanaan alergi obat disesuaikan dengan gejala-gejala yang muncul pada
pasien. Apabila pasien mengalami urtikaria, pemberian antihistamin untuk reseptor
H1, seperti klorfeniramin 4 mg 2-3 kali sehari atau difenhidramin 10-25 mg
merupakan pilihan pertama untuk menangani urtikaria. Apabila urtikaria menetap 2448 jam setelah pemberian AH1 tersebut, dapat pula dikombinasikan dengan
pemberian AH1 generasi 2 yang memiliki efek sedative minimal seperti cetirizine 1 x
10 mg (Djauzi dkk., 2009).
Gejala alergi obat yang lebih berat seperti sindrom Steven Johnson sebaiknya
diberikan kortikosteroid dosis tinggi dan harus dirawat di rumah sakit untuk
mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif. Selain itu apabila terjadi infeksi
sekunder dapat diberikan antibiotik yang aman bagi pasien (Djauzi dkk., 2009).

9.

Pencegahan
Pemberian obat kepada sebaiknya benar-benar memperhatikan diagnosis dan
hanya untuk indikasi-indikasi tertentu. Hal ini harus lebih diperhatikan terutama bagi
pasien yang memiliki riwayat alergi obat. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya alergi obat antara lain:
1) Anamnesis yang lebih mendalam mengenai faktor risiko yang ada pada pasien
terkait alergi obat
2) Lakukan tes prediktif bila memungkinkan
3) Memberikan resep yang tepat dan bijak, terutama untuk obat-obatan yang sering
menimbulkan alergi, seperti antibiotik,
4) Gunakan obat-obatan oral bila memungkinkan
5) Cantumkan riwayat alergi obat di catatan medis pasien.
Pada pasien dengan riwayat alergi obat, atau dicurigai alergi obat, sedangkan obat
atau tindakan alternatif tidak dapat diperoleh, maka dapat dilakukan uji kulit bila
fasilitas tersedia (Djauzi dkk., 2009).

13

B. SYOK ANAFILAKTIK
1.

Definisi
Secara harafiah, anafilaksis berasal dari kata ana yang berarti balik dan
phylaxis yang berarti perlindungan. Dalam hal ini respons imun yang seharusnya
melindungi (prophylaxis) justru merusak jaringan, dengan kata lain kebalikan dari
pada melindungi (anti-phylaxis atau anaphylaxis). (Longecker, 2008)
Syok anafilaktik adalah suatu respons hipersensitivitas yang diperantarai oleh
Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang ditandai dengan curah jantung dan
tekanan arteri yang menurun hebat. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi
antigen-antibodi yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif masuk dalam
sirkulasi. Syok anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari anafilaksis
yang merupakan syok distributif,ditandai oleh adanya hipotensi yang nyata akibat
vasodilatasi mendadak pada pembuluh darahdan disertai kolaps pada sirkulasi darah
yang dapat menyebabkan terjadinya kematian. (Sampson, 2006)

2.

Epidemiologi
Insiden anafilaksis sangat bervariasi, di Amerika Serikat disebutkan bahwa
angka kejadiananafilaksis berat antara 1-3 kasus/10.000 penduduk,paling banyak
akibat penggunaan antibiotik golongan penisilin dengan kematian terbanyak setelah
60 menit penggunaan obat. Sementara di Indonesia, khususnya di Bali, angka
kematian dari kasus anafilaksis dilaporkan 2 kasus/10.000 total pasien anafilaksis
pada tahun 2005 dan mengalami peningkatan prevalensi pada tahun 2006 sebesar 4
kasus/10.000 total pasien anafilaksis. (Emedicine, 2008)
Anafilaksis dapat terjadi pada semua ras di dunia. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa anafilaksis lebih sering terjadi pada perempuan, terutama
perempuan dewasa muda dengan insiden lebih tinggi sekitar 35% dan mempunyai
risiko kira-kira 20 kali lipat lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Berdasarkan umur,
anafilaksis lebih sering pada anak-anak dan dewasamuda, sedangkan pada orang tua
dan bayi anafilaksis jarang terjadi. (Emedicine, 2008)

3.

Faktor Predisposisi danEtiologi


Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko anafilaksis adalah
sifat alergen, jalur pemberian obat, riwayat atopi, dan kesinambungan paparan

14

alergen. Golongan alergen yang sering menimbulkan reaksi anafilaksis adalah


makanan, obat-obatan, sengatan serangga, dan lateks. Udang, kepiting, kerang, ikan
kacang-kacangan, biji-bijian, buah beri, putih telur, dan susu adalah makanan yang
biasanya menyebabkan suatu reaksi anafilaksis. Obat-obatan yangbisa menyebabkan
anafilaksis seperti antibiotik khususnya penisilin, obat anestesi intravena,relaksan
otot, aspirin, NSAID, opioid, vitamin B1, asam folat, dan lain-lain. Media
kontrasintravena, transfusi darah, latihan fisik, dan cuaca dingin juga bisa
menyebabkan anafilaksis. (Longecker, 2008); (Ewan, 1998).
Alergen Penyebab Anafilaksis
Makanan

Obat

Bisa
serangga
Lain-lain

Krustasea:Lobster, udang dan kepiting


Moluska : kerang
Ikan
Kacang-kacangan dan biji-bijian
Buah beri
Putih telur
Susu
Dan lain-lain
Hormon : Insulin, PTH, ACTH, Vaso-presin, Relaxin
Enzim : Tripsin,Chymotripsin, Penicillinase, As-paraginase
Vaksin dan Darah
Toxoid : ATS, ADS, SABUA
Ekstrak alergen untuk uji kulit
Dextran
Antibiotika:
Penicillin,Streptomisin,Cephalosporin,Tetrasiklin,Ciprofloxacin,Am
photericin B, Nitrofurantoin.
Agen diagnostik-kontras
Vitamin B1, Asam folat
Agent anestesi: Lidocain, Procain,
Lain-lain:
Barbiturat,
Diazepam,
Phenitoin,
Protamine,
Aminopyrine, Acetil cystein , Codein, Morfin, Asam salisilat dan
HCT
Lebah Madu, Jaket kuning, Semut api Tawon (Wasp)
Lateks, Karet, Glikoprotein seminal fluid

4. Patofisiologi
Coomb dan Gell (1963) mengelompokkan anafilaksis dalam hipersensitivitas
tipe I (Immediatetype reaction). Mekanisme anafilaksis melalui 2 fase, yaitu fase
sensitisasi dan aktivasi. Fasesensitisasi merupakan waktu yang dibutuhkan untuk
pembentukan Ig E sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan mastosit

15

dan basofil. Sedangkan fase aktivasi merupakan waktu selama terjadinya pemaparan
ulang dengan antigen yang sama sampai timbulnya gejala. (Longecker, 2008);
(Ewan, 1998).
Alergen yang masuk lewat kulit, mukosa, saluran nafas atau saluran makan
ditangkap oleh Makrofag. Makrofag segera mempresentasikan antigen tersebut
kepada Limfosit T, dimana ia akan mensekresikan sitokin (IL4, IL13) yang
menginduksi Limfosit B berproliferasi menjadi sel Plasma (Plasmosit). Sel plasma
memproduksi Ig E spesifik untuk antigen tersebut kemudian terikat pada reseptor
permukaan sel Mast (Mastosit) dan basofil. (Longecker, 2008); (Ewan, 1998).
Mastosit dan basofil melepaskan isinya yang berupa granula yang
menimbulkan reaksi pada paparan ulang. Pada kesempatan lain masuk alergen yang
sama ke dalam tubuh. Alergenyang sama tadi akan diikat oleh Ig E spesifik dan
memicu terjadinya reaksi segera yaitu pelepasan mediator vasoaktif antara lain
histamin, serotonin, bradikinin dan beberapa bahanvasoaktif lain dari granula yang
di sebut dengan istilahpreformed mediators. (Longecker, 2008); (Ewan, 1998).
Ikatan antigen-antibodi merangsang degradasi asam arakidonat dari membran
sel yang akan menghasilkan leukotrien (LT) dan prostaglandin (PG) yang terjadi
beberapa waktu setelah degranulasi yang disebut newly formed mediators. Fase
Efektor adalah waktu terjadinya respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator yang dilepas mastosit atau basofil dengan aktivitas farmakologik pada
organ organ tertentu. Histamin memberikan efek bronkokonstriksi, meningkatkan
permeabilitas kapiler yang nantinya menyebabkan edema, sekresi mucus,
danvasodilatasi. Serotonin meningkatkan permeabilitas vaskuler dan Bradikinin
menyebabkan kontraksi otot polos.
Platelet activating factor (PAF) berefek bronkospasme dan

meningkatkan

permeabilitas vaskuler, agregasi dan aktivasi trombosit. Beberapa faktor kemotaktik


menarik eosinofil

dan

neutrofil.

Prostaglandin

leukotrien

yang

dihasilkan

menyebabkan bronkokonstriksi. (Longecker, 2008); (Ewan, 1998).


Vasodilatasi pembuluh darah yang terjadi mendadak menyebabkan terjadinya
fenomena maldistribusi dari volume dan aliran darah. Hal ini menyebabkan
penurunan aliran darah balik sehingga curah jantung menurun yang diikuti dengan
penurunan tekanan darah. Kemudian terjadi penurunan tekanan perfusi yang

16

berlanjut pada hipoksia ataupun anoksia jaringan yang berimplikasi pada keaadan
syok yang membahayakan penderita. (Sampson, 2006).

Gambar 1. Patofisiologi syok anafilaktik


5.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinik sistematis yang
muncul beberapa detik atau menit setelah terpajan oleh allergen. Gejala yang

17

ditimbulkan dapat berupa reaksi ringan seperti pruritus atau urtikaria sampai dengan
gagal nafas atau syok anafilaktik.
Diagnosis syok anafilaktik dapat ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan
tanda yang muncul berdasarkan target organ yang terkena. Selain itu harus dipastikan
obat-obatan apa saja yang diberikan kepada pasien sebelum timbul gejala-gejala
tersebut sehingga pemberiannya dapat dihentikan sesegera mungkin (Rengganis dkk.,
2009).
Tabel 1. Gejala dan Tanda Syok Anafilaksis Berdasarkan Organ Sasaran
Sistem
Umum

Gejala dan tanda


Lesu, lemah rasa tak enak yang tidak dapat dilukiskan,

Prodromal

rasa tidak enak di daerah dada dan perut, rasa gatal di


hidung dan palatum

Pernapasan
Hidung

Hidung gatal, bersin dan tersumbat

Laring

Rasa tercekik, suara serak, sesak nafas, stridor, edema,


spasme

Lidah

Edema

Bronkus

Batuk, sesak, mengi, spasme

Kardiovaskuler

Pingsan, sinkop, palpitasi, takikardi, hipotensi sampai


syok, aritmia, kelainan EKG: gelombang T datar,
terbalik atau tanda-tanda infark myokard.

Gastrointestinal

Disfagia, mual, muntah, diare kadang-kadang disertai


darah, kolik, peristaltic usus meninggi

Kulit

Urtikaria, angioedema di muka, bibir atau ekstremitas

Mata

Gatal, lakrimasi

Susunan Saraf Pusat

Gelisah, kejang

6.

Penatalaksanaan
Tindakan pertama yang paling penting dilakukan adalah mengidentifikasi dan
menghentikan kontak dengan alergen yang diduga menyebabkan reaksi anafilaktik.
Segera baringkan penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat lebih tinggi dari
kepala untuk meningkatkan aliran darah balik vena, dalam usaha memperbaiki curah
jantung dan menaikkan tekanan darah (Nasser, 2015).

18

Tindakan selanjutnya adalah penilaian airway, breathing, dan circulation dari


tahapan resusitasi jantung paru untuk memberikan kebutuhan bantuan hidup dasar.
a. Airway.

Jalan napas harus dijaga tetap bebas agar tidak ada sumbatan sama sekali.
Untuk penderita yang tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah tidak
jatuh ke belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan triple airway
manuver yaitu ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut. (Ewan,
1998).
b. Breathing support
Segera memberikan bantuan napas buatan bila tidak ada tanda-tanda bernapas
spontan, baik melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pada syok anafilaktik
yang disertai udem laring, dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan napas
total atau parsial. Penderita yang mengalami sumbatan jalan napas parsial, selain
ditolong dengan obat-obatan, juga harus diberikan bantuan napas dan oksigen 4-6
liter/menit. (Ewan, 1998).
c.

Circulation support
Yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri carotis dan tidak ada nafas spontan dari
pasien, segera lakukan kompresi jantung luar. (Ewan, 1998).

d. Obat-obatan
Sampai sekarang adrenalin masih merupakan obat pilihan pertama untuk
mengobati syok anafilaktik. Obat ini berpengaruh untuk meningkatkan tekanan
darah, menyempitkan pembuluh darah, melebarkan bronkus, dan meningkatkan
aktivitas otot jantung. Adrenalin bekerja sebagai penghambat pelepasan histamin
dan mediator lain yang poten. Mekanisme kerja adrenalin adalah meningkatkan
cAMP dalam sel mast dan basofil sehingga menghambat terjadinya degranulasi
serta pelepasan histamine dan mediator lainnya. Adrenalin selalu akan dapat
menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah arteri dan memicu denyut dan
kontraksi jantung sehingga menimbulkan tekanan darah naik seketika dan berakhir
dalam waktu pendek (Nasser, 2015).
Pemberian adrenalin secara intramuskuler pada lengan atas, paha, ataupun
sekitar

lesi

pada

sengatan

serangga

merupakan

pilihan

pertama

pada

penatalaksanaan syok anafilaktik. Adrenalin memiliki onset yang cepat setelah

19

pemberian intramuskuler. Pada pasien dalam keadaan syok, absorbsi intramuskuler


lebih cepat dan lebih baik dari pada pemberian subkutan. Berikan 0,5 ml larutan
1:1000 (0,3-0,5 mg) untuk orang dewasa dan 0,01 ml/kg BB untuk anak. Dosis
diatas dapat diulang beberapa kali tiap 5-15 menit, sampai tekanan darah dan nadi
menunjukkan perbaikan (Nasser, 2015).
Pengobatan tambahan dapat diberikan pada penderita anafilaktik, obat-obat
yang sering dimanfaatkan adalah antihistamin, kortikosteroid, dan bronkodilator.
Pemberian antihistamin berguna untuk menghambat proses vasodilatasi dan
peningkatan peningkatan permeabilitas vaskular yang diakibatkan oleh pelepasan
mediator dengan cara menghambat pada tempat reseptor-mediator tetapi bukan
bukan merupakan obat pengganti adrenalin. Tergantung beratnya penyakit,
antihistamin dapat diberikan oral atau parenteral. Pada keadaan anafilaktik berat
antihistamin dapat diberikan intravena. Bila penderita mendapatkan terapi teofilin
pemakaian simetidin harus dihindari sebagai gantinya dipakai ranitidin.
Antihistamin yang juga dapat diberikan adalah dipenhidramin intravena 50 mg
secara pelan-pelan (5-10 menit), diulang tiap 6 jam selama 48 jam (Rengganis
dkk., 2009).
Kortikosteroid

digunakan

untuk

menurunkan

respon

keradangan,

kortikosteroid tidak banyak membantu pada tata laksana akut anafilaktik dan hanya
digunakan pada reaksi sedang hingga berat untuk memperpendek episode
anafilaktik atau mencegah anafilaktik berulang. Glukokortikoid intravena baru
diharapkan menjadi efektif setelah 4-6 jam pemberian. Metilprednisolon 125 mg
intravena dpt diberikan tiap 4-6 jam sampai kondisi pasien stabil (yang biasanya
tercapai setelah 12 jam), atau hidrokortison intravena 7-10 mg/Kg BB, dilanjutkan
dengan 5 mg/kgBB setiap 6 jam, atau deksametason 2-6 mg/kg BB (Rengganis
dkk., 2009).
Apabila terjadi bronkospasme yang menetap diberikan aminofilin intravena
4-7 mg/KgBB selama 10-20 menit, dapat diikuti dengan infus 0,6 mg/Kg BB/jam,
atau aminofilin 5-6mg/Kg BB yang diencerkan dalam 20 cc dextrosa 5% atau
NaCl 0,9% dan diberikan perlahan-lahan sekitar 15 menit. Pilihan yang lain adalah
bronkodilator aerosol (terbutalin, salbutamol). Larutan salbutamol atau agonis P2
yang lain sebanyak 0,25 cc-0,5 cc dalam 2-4 ml NaCl 0,99% diberikan melalui

20

nebulisasi (Rengganis dkk., 2009).


Apabila tekanan darah tidak naik dengan pemberian cairan, dapat diberikan
vasopresor melalui cairan infus intravena. Larutan 1 ml epineprin 1:1000 dalam
250 ml dextrose (konsentrasi 4 mg/ml) diberikan dengan infus 1-4 mg/menit atau
15-60 mikrodrip/menit (dengan infus mikrodrip), bila diperlukan dosis dapat
dinaikan sampai dosis maksimum 10 mg/ml (Rengganis dkk., 2009).
e. Terapi Cairan.
Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan pemasangan jalur intravena
untuk koreksi hipovolemia akibat kehilangan cairan ke ruang ekstravaskular
sebagai tujuan utama dalam mengatasi syok anafilaktik. Pemberian cairan akan
meningkatkan tekanan darah dan curah jantung serta mengatasi asidosis laktat.
Pemilihan jenis cairan antara larutan kristaloid dan koloid tetap merupakan
mengingat terjadinya peningkatan permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada
dasarnya, bila memberikan larutan kristaloid, maka diperlukan jumlah 3-4 kali dari
perkiraan kekurangan volume plasma. Biasanya, pada syok anafilaktik berat
diperkirakan terdapat kehilangan cairan 20-40% dari volume plasma. Sedangkan
bila diberikan larutan koloid, dapat diberikan dengan jumlah yang sama dengan
perkiraan kehilangan volume plasma. Pemberian cairan intravena pada orang
dewasa antara 500 sampai 1000 cc kristaloid (Nasser, 2015).
Cairan intravena seperti larutan isotonik kristaloid merupakan pilihan
pertama dalam melakukan resusitasi cairan untuk mengembalikan volume
intravaskuler, volume interstitial, dan intra sel. Cairan plasma atau pengganti
plasma berguna untuk meningkatkan tekanan onkotik intravaskuler.
o

f. Observasi
Dalam keadaan gawat, sangat tidak bijaksana bila penderita syok anafilaktik
dikirim ke rumah sakit, karena dapat meninggal dalam perjalanan. Kalau terpaksa
dilakukan, maka penanganan penderita di tempat kejadian harus seoptimal
mungkin sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan transportasi penderita harus
dikawal oleh dokter. Posisi waktu dibawa harus tetap dalam posisi telentang
dengan kaki lebih tinggi dari jantung. Kalau syok sudah teratasi, penderita jangan
cepat-cepat dipulangkan, tetapi harus diobservasi dulu selama selama 24 jam, 6

21

jam berturut-turut tiap 2 jam sampai keadaan fungsi membaik (Ewan, 1998).
Hal-hal yang perlu diobservasi adalah keluhan, klinis (keadaan umum,
kesadaran, vital sign, dan produksi urine), analisa gas darah, elektrokardiografi,
dan komplikasi karena edema laring, gagal nafas, syok dan cardiac arrest.
Kerusakan otak permanen karena syok dan gangguan cardiovaskuler. Urtikaria dan
angoioedema menetap sampai beberapa bulan, infark miokard, aborsi, dan gagal
ginjal juga pernah dilaporkan. Penderita yang telah mendapat adrenalin lebih dari
2-3 kali suntikan sebaiknya dirawat di rumah sakit (Ewan, 1998).
o

Gambar 2. Algoritma Penanganan Syok Anafilaktik (Nasser, 2015)


BAB III

22

RINGKASAN
Alergi obat merupakan reaksi abnormal jaringan terhadap berbagai substansi yang
secara normal tidak berbahaya bagi individu pada umumnya. Reaksi alergi obat ini dapat
timbul akibat reaksi imunologis dan non imunologis. Reaksi imunologis pada alergi obat
dapat berupa reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III maupun tipe IV. Suatu reaksi alergi obat
yang parah dapat menimbulkan syok anafilaktik, berupa respons hipersensitivitas yang
diperantarai oleh immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang ditandai dengan curah
jantung dan tekanan arteri yang menurun hebat.
Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang yang baik akan membantu dokter
dalam mendiagnosis alergi obat dan syok anafilaktik. Penatalaksanaan alergi obat disesuaikan
dengan manifestasi klinis yang muncul pada pasien. Namun apabila sudah terjadi syok
anfilaktik, penanganan harus dilakukan dengan cepat dan tepat mulai dari hentikan allergen
yang menyebabkan reaksi anafilaktik; baringkan penderita dengan kaki diangkat lebih tinggi
dari kepala; penilaian A, B, C dari tahapan resusitasi jantung paru; pemberian adrenalin dan
obat-obat yang lain sesuai dosis; monitoring keadaan hemodinamik penderita bila perlu
berikan terapi cairan secara intravena, observasi keadaan penderita bila perlu rujuk ke rumah
sakit. Pencegahan merupakan langkah terpenting dalam penatalaksanaan alergi obat dan syok
anafilaktik. Apabila ditangani secara cepat dan tepat sesuai dengan kaedah kegawatdaruratan,
alergi obat dan syok anafilaktik jarang menimbulkan kematian.
DAFTAR PUSTAKA

Demoly P, Adkinson N, Brockow K, Castells M, Chiriac A, Greenberger P, dkk., 2014.


International Consensus on Drug Allergy. European Journal of Allergy and Clinical
Immunology 69; 420-437.

23

Djauzi S, Sundaru H, Mahdi D, Nanang S. 2009. Alergi Obat, dalam: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Docrat ME. 2007. Fixed drug eruption:Current Allergy & Clinical Immunology. No.1.
Volume

18.

Wale

Street

Chambers.

Cape

Town.

www.allergysa.org/journals/2005/march/skin_focus.pdf

Emedicine.

2008.

Severe

allergic

reaction,

anaphylactic

shock.

http:.//emedicine.medscape.com (diakses 15 Mei 2016)

Ewan, PW. 1998. Anaphylaxis of allergies. BMJ 316:1442-14455.

Lee A, Thomson J. 2006. Drug-induced skin: Adverse Drug Reactions, 2nd ed.
Pharmaceutical Press. 2006.http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf

Longecker, DE. 2008. Anaphylactic reaction and anesthesia.Anesthesiologychapter 88:19481963

24

Nasser S. 2015. Greater accuracy in diagnosing drug allergy will improve outcomes.
https://www.guidelinesinpractice.co.uk/greater-accuracy-in-diagnosing-drug-allergywill-improve-outcomes (diakses 18 Mei 2016)

Purwanto SL. 2007. Alergi obat. Cermin Dunia Kedokteran. Volume 6:76.

Rengganis I, Sundaru H, Sukmana N, Mahdi D. 2009. Renjatan Anafilaktik., dalam: Buku


Ajar ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Revus J, Allanore AV. 2003.Drugs reaction: Bolognia Dermatology. Volume One. 2nd
edition. Elserve limited, Philadelphia, USA; p: 333-352

Riedl MA, Casillas AM. 2007.Adverse drug reactions; types and treatment options..American
Family Physician Vol 68:9

Sampson HA. 2006. Clinical Immunologist and Allergist. Pnincess Margaret and
FremantleHospitals, Western Australia.

25

26