Anda di halaman 1dari 20

VARICELLA

Oleh
dr. Rani agitah
Pembimbing ;
dr. Mirda Zulaicha, M.
Ked (ped), Sp.A
Dokter Pemdamping
dr. Tri Susanty
dr. Siti
Rusmawardiani A

Dokter intersnhip
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYUAGUNG
2015-2016
PORTOFOLIO
Kasus-4 dr. Rani Agitah
Topik: Varicella
Tanggal (Kasus) : 10 September 2016

Presenter : dr. Rani Agitah


Pendamping : dr. Tri Susanty
dr. Siti Rusmawardiani A

Tanggal Presentasi :

Pembimbing : dr. Mirda, Sp.A

Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Kayu Agung


Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Istimewa
Neon
atus
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan
Bahasan :
Cara
membahas

Penyegaran

Manajemen

Bayi

Anak

Tinjauan
Pustaka
Diskusi

Remaja

Masalah

Dewasa

Riset
Presentasi dan diskusi

Lansia

Kasus
Email

Bumil

Audit
Pos

Data

Nama :An.B/11 th/laki-laki No. Reg : 348841


Pasien :
Nama
RS:RSUD
Kayu
Terdaftar sejak : 10 September
Telp : Agung
2015
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: Varicella/ Lenting lenting kecil menyebar di seluruh

badan
2. Riwayat Kesehatan / Penyakit :

Lenting lenting kecil di badan, keluhan ini dialami sejak 3 hari yang lalu. Awalnya
timbul lenting kemerahan pada daerah dada yang kemudian keesokan harinya menyebar ke leher,
wajah, punggung, perut dan lengan. Lenting lenting merah kemudian berubah menjadi lepuh dan
berisi cairan. Penderita juga mengeluh ada rasa sangat gatal pada daerah yang terdapat
lepuh,sehingga pasien sulit tidur malam, rasa nyeri disangkal penderita. Selain itu pasien juga
mengeluh badan meriang sepanjang hari dialami pasien sejak 2 hari yang lalu, dan disertai
dengan rasa lemah badan,nyeri sendi sendi tangan dan kaki dan nyeri kepala. Menurut keterangan
pasien, adik pasien menderita penyakit yang sama 1 minggu yang lalu dan sekarang sudah
sembuh. Pasien belum pernah berobat ke dokter ataupun mendapat pengobatan, di rumah hanya
di beri bedak yang di beli di warung,tetapi keluhan tidak mereda.
5. Riwayat Penyakit Dahulu:
2

Pasien belum pernah mendapat sakit seperti ini.


Riwayat penyakit kulit yang parah di sangkal.
Riwayat penyakit hati, ginjal, jantung, diabetes melitus disangkal oleh pasien.
6. Riwayat Pekerjaan :
Pelajar
7. Lain-lain:Daftar Pustaka:

1. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Bab Varisela. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2007
2. Mehta, Parang. Varicella. Emedicine from WebMD. Sept 2007. Diambil dari
http://www.emedicine.com/ped/topic2385.htm. Diakses pada tanggal 7 Maret 2012.
3. Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta : 2005
4. Schachner, Lawrence. Pediatric Dermatology Third Edition. Mosby. 2003
5. Dewi

M.

Cacar

Air

(Varicella).

Diambil

dari

Medicastore.com

http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=38&idktg=&idobat=&UID=20071115181404219.83.83.58.

Diakses

pada

tanggal 7 Maret 2012.


Tujuan :
-

Mendiagnosis pasien varicella

Mengetahui klasifikasi varicella

Mengetahui etiologi varicella

Mengetahui patofisiologi varicella

Memahami komplikasi varicella

Mengetahui penatalaksanaan varicella

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:

I. Subjektif :
ANAMNESIS
Keluhan Utama:
3

Lenting lenting kecil menyebar di seluruh badan


Riwayat Perjalanan Penyakit:

Lenting lenting kecil di badan, keluhan ini dialami sejak 3 hari yang lalu. Awalnya
timbul lenting kemerahan pada daerah dada yang kemudian keesokan harinya menyebar ke
leher, wajah, punggung, perut dan lengan. Lenting lenting merah kemudian berubah menjadi
lepuh dan berisi cairan. Penderita juga mengeluh ada rasa sangat gatal pada daerah yang
terdapat lepuh,sehingga pasien sulit tidur malam, rasa nyeri disangkal penderita. Selain itu
pasien juga mengeluh badan meriang sepanjang hari dialami pasien sejak 2 hari yang lalu, dan
disertai dengan rasa lemah badan,nyeri sendi sendi tangan dan kaki dan nyeri kepala. Menurut
keterangan pasien, adik pasien menderita penyakit yang sama 1 minggu yang lalu dan sekarang
sudah sembuh. Pasien belum pernah berobat ke dokter ataupun mendapat pengobatan, di rumah
hanya di beri bedak yang di beli di warung,tetapi keluhan tidak mereda.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mendapat sakit seperti ini.


Riwayat penyakit kulit yang parah di sangkal.
Riwayat penyakit hati, ginjal, jantung, diabetes melitus disangkal oleh pasien.
II. Objektif :
Status Generalis

1. Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: compos mentis

3. Nadi

: 90 x/mnt

4. Tekanan Darah

: tidak dilakukan

5. Temperatur

: 37,50C

6. Pernafasan

: 22 x/mnt
4

7. Kepala

: Konjungtiva pucat (-), sklera ikterik (-), pupil isokor

diameter 3 mm,

Refleks cahaya (+/+). Alis terbakar (+/+) jelaga pada wajah (-/-), sputum
(-/-), rambut hidung (-/-)
8. Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, pembesaran kelenjar tiroid


tidak ada.

9. Thorax

: Bentuk thoraks normal simetris kanan dan kiri, sela iga tidak melebar,
ginekomastia tidak ada, tidak ditemukan venectasis dan spider nevi.

Paru-paru
Inspeksi

: Statis, dinamis simetris

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba

Perkusi

: Batas atas jantung ICS II, kanan linea sternalis dextra, kiri LMC sinistra

Auskultasi

: HR: 90x/m, reguler, murmur (-) gallop (-).

10. Abdomen

: Datar, lemas, NT (-), Hepar dan lien tidak teraba, timpani, bising Usus
(+) Normal

11. Ekstremitas

: Lihat status lokalis

Status dermatologis
Regio fasialis et coli et thorakalis et abdomen et skapularis: Papulae dengan dasar eritematous,
5

vesikulae, pustulae, erosi (+), krusta (+).


Regio brachii et antebrachii dextra et sinistra : papula dengan dasar eritematous.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

o Tzanck Test
III. Assessment :
Diagnosis varisela pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien adalah seorang An.laki - laki berumur 11 tahun.
Keluhan utama pada pasien ini adalah lenting lenting kecil di badan, keluhan ini dialami sejak
3 hari yang lalu. Awalnya timbul lenting kemerahan pada daerah dada yang kemudian keesokan
harinya menyebar ke leher, wajah, punggung, perut dan lengan. Lenting lenting merah
kemudian berubah menjadi lepuh dan berisi cairan. Dari anamnesis ini diketahui bahwa
penyebaran dari lesi terjadi dari sentral ke perifer, yaitu dari daerah badan menyebar ke wajah
dan lengan dan lesi berbentuk khas seperti tetesan embun. Hal ini sesuai kepustakaan dimana
disebutkan bahwa penyebaran lesi kulit dari varisela pada umumnya pertama kali di daerah
badan kemudian menyebar secara sentrifugal ke wajah dan ekstremitas, serta lesinya yang khas
seperti tetesan embun (tear drops). Lesi kulit dari varisela dapat juga menyerang selaput lendir
mata, mulut, dan saluran napas bagian atas.
Penderita juga mengeluh ada rasa sangat gatal pada daerah yang terdapat lepuh,sehingga
pasien sulit tidur malam, rasa nyeri disangkal penderita. Selain itu pasien juga mengeluh badan
meriang sepanjang hari dialami pasien sejak 2 hari yang lalu, dan disertai dengan rasa lemah
badan,nyeri sendi sendi tangan dan kaki dan nyeri kepala Berdasarkan kepustakaan disebutkan
bahwa gejala prodromal dari varisela biasanya berupa demam, nyeri kepala, dan malaise ringan,
yang umumnya muncul sebelum pasien menyadari bila telah timbul erupsi kulit. Masa
prodromal ini kemudian disusul oleh stadium erupsi.
Dari anamnesis diketahui adanya riwayat kontak dengan pasien varisela yang lain, yaitu
adik pasien kurang lebih 1 minggu yang lalu. Hal ini sesuai dengan kepustakaan dimana
dikatakan bahwa jalur penularan VVZ bisa secara aerogen, kontak langsung, dan transplasental.
Droplet lewat udara memegang peranan penting dalam mekanisme transmisi, tapi infeksi bisa
6

juga disebabkan melalui kontak langsung. Krusta varisela tidak infeksius, dan lamanya
infektifitas dari droplet berisi virus cukup terbatas. Manusia merupakan satu-satunya reservoir,
dan tidak ada vektor lain yang berperan dalam jalur penularan.
Pada pemeriksaan fisik didapati pada status generalis yang menunjukkan bahwa pasien
dalam keadaan sub febris kemudian dari status dermatologis yang didapati pada wajah, leher,
dada, perut, dan punggung pasien tampak vesikel yang seperti tetesan embun dan papul dengan
dasar kemerahan, pustul, erosi dan krusta. Pada lengan kiri dan kanan pasien tampak papul
dengan dasar kemerahan. Jadi terdapat gambaran lesi kulit yang bermacam-macam. Hal ini
sesuai kepustakaan dikatakan bahwa varisela mempunyai bentuk vesikel yang khas yaitu seperti
tetesan embun (tear drops) dan memiliki gambaran polimorf.
Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis varisela juga ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan kepustakaan pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan tzanck, yaitu dengan cara mengerok bagian dasar dari
vesikel yang diwarnai dengan giemsa kemudian dapat ditemukan sel datia berinti banyak, dan
serologi, misalnya flourescent antibody dan pemeriksaan antibodi dengan cara ELISA. Pada
kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan Tzanck.
Pasien ini tidak mengalami komplikasi. Ini dilihat dari hasil pemeriksaan fisik yang
meliputi keadaan umum, tanda vital dan pemeriksaan fisik lainnya yang masih dalam batas
normal. Pada orang yang immunocompromised (leukemia, pemberian kortikosteroid dengan
dosis tinggi dan lama, atau pasien AIDS) bila terinfeksi VVZ maka manifestasi varisela lebih
berat (lesi lebih lebar, lebih dalam, berlangsung lebih lama, dan sering terjadi komplikasi).
Varisela dapat didiagnosis banding dengan variola namun karena dari anamnesis pasien
belum pernah mengalami sakit yang sama seperti ini sebelumnya dan dari pemeriksaan fisik
pada status dermatologis ditemukan gambaran lesi kulit yang polimorf, tidak monomorf, dan
penyebaran dari akral tubuh,yakni telapak tangan dan telapak kaki serta kasus variola jarang
sekali di temukan kecuali pada daerah endemi, maka variola dapat dieliminasi sebagai diagnosis
banding varisela. Tujuan pengobatan pada pasien ini adalah untuk memperpendek perjalanan
penyakit dan mengurangi gejala klinis yang ada, yaitu dengan pemberian anti virus yaitu
asiklovir 5 x 800 mg/hari selama 7 hari, hal ini dimaksudkan untuk menekan atau menghambat
replikasi dari virus varisela zoster, roborantia berupa analgetik dan antipiretik parasetamol 3 x
500 mg/hari , topikal yaitu bedak salisil 2% diberikan dengan maksud untuk mempertahankan
7

vesikel agar tidak pecah dan salep Gentamisin 2 kali aplikasi/hari untuk lesi yang sudah pecah,
dan pemberian imunostimulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Pasien disarankan agar istirahat yang cukup, minum obat teratur,makan makanan yang
bergizi, menjaga kebersihan tubuh, dan tidak memecahan vesikel. Pasien kemudian dianjurkan
untuk kontrol dipoliklinik kulit dan kelamin 7 hari kemudian. Hal-hal diatas bertujuan untuk
memperbaiki daya tahan tubuh pasien, mencegah terjadinya infeksi sekunder, mencegah
terjadinya komplikasi dan munculnya jaringan parut serta untuk mengetahui perkembangan
penyakitnya.
Prognosis umumnya baik, bergantung pada kecepatan penanganan dan kemungkinan
komplikasi yang dapat terjadi. Pada pasien ini prognosis Quo ad vitam adalah ad bonam karena
penyakit ini tidak mengancam jiwa, sebab dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda
komplikasi. Prognosis Quo ad functionam adalah ad bonam karena fungsi bagian tubuh yang
terkena tidak terganggu. Prognosis Quo ad sanationam adalah ad bonam karena varisela
merupakan penyakit yang bersifat self-limiting disease dan tidak mengganggu kehidupan sosial
penderita, sebab penanganan yang cepat maka perjalanan penyakit dapat diperpendek.
IV. Plan :
Diagnosis : Varicella
Pengobatan :

1. Medikamentosa
Antivirus

: Asiklovir 5 x 800 mg/hari selama 7 hari

Roborantia

: Parasetamol 3 x 500 mg/hari, Interhistin tab 2x1

Salep antibiotika : Gentamisin Sulfat Cream 1%, oleskan 2x/hari pada bekas lenting yang
pecah.
Topikal

: Bedak salisil 2% pada lesi yang kering

Imunostimulan

: Imunos 1 x 1 tablet selama 7 hari

2. Nonmedikamentosa
8

a. Istirahat yang cukup.


b. Obat di minum teratur
c. Makan makanan yang bergizi
d. Menjaga kebersihan diri dengan tetap mandi walaupun masih banyak terlihat bintikbintik.
e. Tidak menggaruk dan memecahkan lepuh-lepuh tersebut karena dapat menimbulkan
bekas luka garukan dikulit.
f. Tujuh hari kemudian datang kontrol ke poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
untuk dilakukan kontrol terhadap perkembangan penyakitnya.
PROGNOSIS
o Quo ad vitam:

: ad bonam

o Quo ad fungsionam

: ad bonam

o Quo ad sanasionam

: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi pada
anak-anak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zoster. Varicella pada anak,
mempunyai tanda yang khas berupa masa prodromal yang pendek bahkan tidak ada dan dengan
adanya bercak gatal disertai dengan papul, vesikel, pustula, dan pada akhirnya, crusta, walaupun
banyak juga lesi kult yang tidak berkembang sampai vesikel.
Normalnya pada anak, gejala sistemik biasanya ringan. Komplikasi yang serius biasanya
terjadi pada dewasa dan pada anak dengan defisiensi imunitas seluler, dimana penyakit dapat
bermanifestasi klinis berupa, erupsi sangat luas, gejala konstitusional berat, dan pneumonia.
Terdapat kemungkinan fatal jika tidak ada terapi antivirus yang diberikan.
Vaksin Live Attenuated (Oka) mulai diberikan secara rutin pada anak yang sehat diatas
umur 1 tahun 1995. Setelah itu, insidensi varisella dan komplikasinya mulai menurun di Amerika
Serikat. Telah banyak negara bagian yang mewajibkan vaksin ini diberikan sebagai syarat masuk
sekolah.
Herpes Zooster disebabkan oleh reaktivasi dari Virus Varisela Zooster yang oleh
penderita varisela. Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi unilateral terlokalisasi yang mirip
dengan cacar air dan terdistribusi pada syaraf sensoris. Biasanya lebih dari satu syaraf yang
terkena dan pada beberapa pasien dengan penyebaran hematogen, terjadi lesi menyeluruh yang
timbul setelah erupsi lokal. Zoster biasanya terjadi pada pasien dengan immunocompromised,
penyakit ini juga umum pada orang dewasa daripada anak-anak. Pada dewasa lebih sering diikuti
nyeri pada kulit.
10

EPIDEMIOLOGI
Sebelum pengenalan vaksin pada tahun 1995, varisella merupakan penyakit infeksi
paling sering pada anak-anak di USA. Kebanyakan anak terinfeksi pada umur 15 tahun, dengan
persentasi dibawah 5% pada orang dewasa. Epidemik Varicella terjadi pada musim dingin dan
musim semi, tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian tiap tahunnya.
Varicella merupakan penyakit serius dengan persentasi komplikasi dan kematian tinggi pada
balita, dewasa, dan dengan orang imun yang terkompromi. Pada rumah tangga, persentasi
penularan dari virus ini berkisar 65%-86%.
Manusia merupakan host alami yang diketahui untuk VZV, dimana dikaitkan dengan dua
bentuk kesakitan- yang bentuk primer sebagai varisela (chickenpox) dan bentuk sekunder
sebagai herpes zoster. VZV merupakan infeksi yang sangat menular dan menyebar biasanya dari
oral udara atau sekresi respirasi atau terkadang melalui transfer langsung dari lesi kulit melalui
transmisi fetomaternal. Serangan sekunder meningkat pada kontak rumah yang rentan melebihi
85%.
Pada iklim temperatur, angka infeksi enunjukkan variasi musiman yang ditandai, dengan
epidemis pada musim dingin akhir dan awal musim semi. Sebaliknya, tidak ada variasi musiman
yang terlihat pada iklim tropis. Alasan untuk perbedaan penandaan ini tidaklah jelas, meskipun
telah didukung dengan pemanasan, dan kurangnya peningkatan paparan pada virus dalam bulan
musim hangat dapat menyebabkan beberapa perbedaan. Di india, disamping dekat dengan
perbataan, angka rendah yang tidak terduga melalui transmisi antar rumah telah
didokumentasikan sebesar 80%. Di Singapura, varicella timbul dalam dua epidemis besar yang
terpisah selama 23 tahun.
Meskipun infeksi primer asimptomatik adalah jarang, studi serologis mendukung bahwa
reinfeksi subklinis adalah sering. Jarangnya, pasien dengan imunokompeten dapat mengalami
episode kedua dari varicella. Varicella dalam iklim temperatur lebih sering timbul pada usia
sebelum sekolah dan anak usia sekolah kurang dari usia 10 tahun dengan insidensi tertinggi pada
kelompok usia 3-6 tahun. Disamping prevalensi varisela pada anak-anak, beberapa orang pada
iklim temperatur dapat menenai orang dewasa tanpa adanya paparan : sebuah studi rekrut militer
11

di United States pada era prevaksin menunjukkan bahwa 8% tentara yang direkrut adalah
seronegatif, dengan peningkatn angka seronegative pada non kulit putih dan lebih tinggi angka
seronegative pada tentara yang asalnya di luar United States.

ETIOLOGI
Varicella disebabkan oleh Varicella Zooster Virus (VZV) yang termasuk kelompok
Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150 200 nm. Inti virus disebut capsid yang berbentuk
icosahedral, terdiri dari protein dan DNA yang mempunyai rantai ganda yaitu rantai pendek (S)
dan rantai panjang (L) dan merupakan suatu garis dengan berat molekul 100 juta dan disusun
dari 162 capsomer. Lapisan ini bersifat infeksius.
Varicella Zoster Virus dapat menyebabkan varicella dan herpes zoster. Kontak pertama
dengan virus ini akan menyebabkan varicella, oleh karena itu varicella dikatakan infeksi akut
primer, sedangkan bila penderita varicella sembuh atau dalam bentuk laten dan kemudian terjadi
serangan kembali maka yang akan muncul adalah Herpes Zoster.

PATOGENESIS
Virus Varicella Zooster masuk dalam mukosa nafas atau orofaring, kemudian replikasi
virus menyebar melalui pembuluh darah dan limfe ( viremia pertama ) kemudian berkembang
biak di sel retikulo endhotellial setelah itu menyebar melalui pembuluh darah (viremia ke dua)
maka timbullah demam dan malaise.
Permulaan bentuk lesi pada kulit mungkin infeksi dari kapiler endothelial pada lapisan
papil dermis menyebar ke sel epitel pada epidermis, folikel kulit dan glandula sebacea dan terjadi
pembengkakan. Lesi pertama ditandai dengan adanya makula yang berkembang cepat menjadi
papula, vesikel da akhirnya menjadi crusta. Jarang lesi yang menetap dalam bentuk makula dan
papula saja. Vesikel ini akan berada pada lapisan sel dibawah kulit. Dan membentuk atap pada
stratum korneum dan lusidum, sedangkan dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam.

12

Degenarasi sel akan diikuti dengan terbentuknya sel raksasa berinti banyak, dimana
kebanyakan dari sel tersebut mengandung inclusion body intranuclear type A
Penularan secara airborne droplet. Virus dapat menetap dan laten pada sel syaraf. Lalu
dapat terjadi reaktivitas maka dapat terjadi herpes Zooster.
GEJALA KLINIS
Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi pada anak-anak yang
berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala demam sedang dan rasa tidak enak
badan, gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih musa. Pada
permulaannya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah.
Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri
sendi, sakit kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang
berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti
timbul di anggota gerak dan wajah.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis.
Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika
lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya
akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak ini
lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas
lagi.

Gambar 1. Gejala klinis


varicella zoster
Lain halnya jika
lenting cacar air tersebut
dipecahkan. Krusta akan
segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi ini memudahkan
infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi akan
13

menghilangkan bekas yang dalam. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda,
bekas cacar air akan lebih sulit menghilang.
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang sering
menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga dapat ditemukan di kelopak mata, saluran
pernapasan bagian atas, rectum dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernapasan atas kadang menyebabkan gangguan pada
pernapasan. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening dileher bagian samping. Cacar air
jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada hanya berupa lekukan kecil di
sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh
staphylococcus.
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa
maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal.
Pada anak sehat yang sebelumnya nirmal, penyakit ini secara umum dan biasanya jinak,
dengan komplikasi yang paling sering adalah infesi sekunder bakteri dari lesi kult. Jaringan parut
merupakan komplikasi lain yang sering. Komplikasi neurologis meliputi encephalitis dan ataxia
cerebellar akut. Varisela encephalitis dengan insiden 0,1% secara umum tampak mengalami nyeri
kepala, kejang, pola pemikiran yang terganggu, dan muntah, dengan angka mortalitas sebear 5
hingga 20%. Ataxia serebelar akut sedikit lebih jarang (0,025% insidensi) dibandingkan
ensefalitis dan secara umum tampak dalam 1 minggu ruam dengan ataxia, muntah, pembicaraan
yang terganggu, vertigo, dan atau tremor, dengan resolusi dalam 2 hingga 4 minggu.
Pada anak defisiensi imun atau kurang gizi yang tidak ditangani dengan asiklovir
intravena, angka kematian berkisar antara 15 hingga 18%. Kasus ini dikarakteristikan dengan
penyebaran, dengan pneumonia, miokarditis, artritis, hepatitis, perdarahan, dan ensefalopaty
(ataxia serebelar lebih sering). Super infeksi lesi kulit dengan Staphylococcus aureus atau
Streptococcus pyogenes dapat menyebabkan pioderma, impetigo, erysipelas, nephritis, gangrene,
atau sepsis. Pada tropis Amerika, varisella pada anak usia muda, anak kekurangan gizi dapat
berkomplikasi menjadi diare berat.

14

Orang dewasa tampak mempunyai penyakit yang lebih berat dibandingkan dengan anakanak. Dengan peningkatan 15 kali lipat pada mortalitasnya. Varisella onset dewasa lebih sering
berkomplikasi dengan pneumonitis dan ensefalitis, dengan secara klinis pneumonitis lebih dari
15 % kasus.
Orang dari area tropis yang pindah ke area temperatur berada dalam resiko untuk varisela
onset dewasa, terutama jika kontak dengan anak usia muda. Varisela ibu pada gestasi awal
menimbulkan secara jarang ke sindrom varisela kongenital yang ditandai dengan defek kulit,
atrofi ekstremitas, dan disfungsi sistem otonom. Maternal varisela pada gestasi akhir dapat
menimbulkan varisela neonatus, dengan angka mortalitas sama tingginya dengan 30% pada bayi
yang tidak diterapi.
Infeksi VZV rekuren bermanifestasi sebagai herpes zoster (shingles), sebuah penyakit
yang biasanya terlihat pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun. Data menunukkan
perbedaan rasial dalam resiko timbulnya zoster, dengan orang tua kulit putih lebih sering berada
dalam resiko dibandingkan dengan orang tua berkulit hitam. Zoster juga dapat timbul jarang
pada anak-anak. Zoster pada pasien imunnocompromise dapat menjadi lebih berat.
Peningkatan insidensi zoster pada usia sama halnya dengan pasien imunocompromised
dikarenakan penurunan anti-VZV cell-mediated immunity. Menariknya, ada bukti bahwa
paparan pada orang yang seropositive terhadap varisela terlindungi dari perkembangan zoster,
tertama dengan menambah respon imunnya. Setelah infeksi primer, VZV (seperti HSV) timbul
pada keadaan latent dengan ganglia saraf kranial dan spinal. Stimuli non spesifik seperti stress,
imunodefisiensi atau malignansi dapat mengaktivasi virus laten dengan keterlibatan distribusi
saraf yang disalurkan melalui ganglion yang terkena. Herpes zoster timbul setelah 3- to 4-day
gejala prodromal demam, lesu, dan gangguan gastrointestinal dan erupsi vesikular kutaneus yang
nyerei pada distribusi dermatomal. Ruam biasanya unilateral dan sepanjang hanya satu
dermatom. Pada kasus yang berat, erupsi dapat menjadi lebih umum dan variseliform. Vesikel
sembuh dalam 5 hari, tetapi postherpetic neuralgia dapat saja ada. Postherpetic neuralgia, terlihat
pada lebih dari 50% pasien diatas 50 tahun, didefinisikan sebagai nyeri konstan atau intermiten
lebih dari durasi satu bulan pada area yang melibatkan dermatom. Infeksi dari mata, Herpes
zoster ophthalmicusmerupakan kondisi yang serius karena dapat menyebabkan kebutaan.
Sindroma Ramsay Hunt didefinisikan sebagai keterlibatan trias dari meatus auditorius eksternal,
15

hilangnya rasa pada lidah dan palsy fasialis ipsilateral. Keterlibatan dari medula spinalis dapat
menyebabkan kelumpuhan atau palsy saraf kranial.
Resiko dari ensefalitis meningkat pada orang tua dengan keterlibatan saraf kranial dan
pada pasien AIDS. Postzoster ensefalitis dapat timbul dalam 3 bentuk : infark yang dikarenakan
vaskulitis pembuluh darah besar, leukoensefalopati multifokal dan ventrikulitis.

DIAGNOSIS
Diagnosis klinik varisela pada anak-anak, saat ini variola (smallpox) telah dieradikasi,
biasanya tidaklah sulit. Ruam mempunyai karakteristik dan jarangkali dibutuhkan untuk
dibedakan dari eksantem enterovral, infeksi S. aureus, rekasi obat, dermatitis kontak dan
penyebaran infeksi HSV-1. Diagnosis dengan kultur dari cairan vesikel kurang sensitif untuk
HSV atau CMV dan dapat membutuhkan waktu 7 hari.
Metode ini telah diganti dengan metode shellvial sensitive dan ebih cepat, dimana
hasilnya diberikan dalam waktu 1-3 hari. Deteksi yang lebih cepat, sensitif, dan spedifik dapat
membentu sistem dasar kultur dimasa depan sebagaimana pewarnaan PCR multiple menjadi
lebih sering untuk digunakan. Mengambil dasar vesikel mungkin dapat menunjukkan sel raksasa
multinukleasi,

dimana

tidak

dapat

jelas

dibedakan

dari

HSV.

Bagaimanapun,

immunofluorescence pada kultur atau mengambil dengan menggunakan antibodi spesifik dapat
membedakan antara HSV-1, HSV-2, dan VZV. Deteksi serologis IgM dan tingginya titer atau
empatkali peningkatan IgG anti VZV antibodi dapat berguna dalam beberapa kasus.
Deteksi dari IgM dapat meunjukkan infeksi primer (chicken pox), dimana baik tinggi
titernya atau empat kali peningkatan igG mengindikasikan rekurensi. Bagaimanapun,
peningkatan IgM juga dapat terlihat pada rekurensi. Diagnosis klinis herpes zoster virus pada
orang dewasa juga biasanya tidak sulit dalam memberikan karakteristik pola dermatom.

DIAGNOSIS BANDING
16

Differensial diagnosis dari infeksi varicella sendiri termasuk infeksi yang dapat
menimbulkan vesikular exanthema, seperti infeksi herpes secara umum, hand-foot-mouth
infection dan exanthema enteroviral lainnya. Dahulu, variola dan vaccinia merupakan
differensial diagnosis yang penting namun infeksi ini sudah sangat jarang ditemukan. Herpes
simpleks dapat dibedakan dari pengelompokan vesikelnya, lokasi, dan tes immunoflorescent atau
kultur, jika perlu. Tes Tzanck dapat membantu membedakan varicella dengan enteroviral
penyebab exanthem lainnya dengan memperlihatkan multinucleated giant cell pada infeksi
Herpes zoster.
Pemeriksaan Laboratorium
a. Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik.
b. Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan an
dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin, maka akan terlihat sel-sel raksasa (giant
cell) yang mempunyai inti banyak dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau
dapat juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen, sehingga terlihat
antigen virus intrasel.
c. Isolasi virus dapat dilakukan dengan menggunakan fibroblast pada embrio manusia.
Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel, kadang-kadang ada darah.
d. Antibodi terhadap varicella dapat dideteksi dengan pemeriksaan Complemen Fixation
Test, Neurailization Test, FAMA, IAHA, dan ELISA.

PENATALAKSANAAN
Meskipun vidarabine dan interferon- telah digunakan pada terapi infeksi VZV yang
berat, asiklovir tetaplah merupakan obat pilihan. Asiklovir lebih efektif pada infeksi VZV yang
berat jika diberikan secara intravena dalam 24 jam setelah timbul ruam. Terapi asiklovir oral dari
anak sehat dengan chickenpox sebaiknya dipertimbangkan , terutama pada remaja dan kontak
dengan orang rumah secara sekunder, meskipun keuntunggannya tetap ada. Dikarenakan strain
resisten asiklovor pada pasiein dengan AIDS, foscaranet harus dipertimbangkan untuk infeksi
berat dalam keadaan ini.
17

Untuk herpes zoster, obat pilihan adalah famciclovir dan valacyclovir. Terapi awal dari
zoster telah menunjukkan untuk memperpendek perjalan penyakit kutaneus dan menurunkan
durasi serta keparahan post herpetil neuralgia. Steorid topikal juga dapat berguna pada uveitis
herpetik dan keratitis. Zoster yang sangat nyeri dapat diterapi dengan kompres basah dan
analgesik yang menganduk kodein. Gabapentin, analog struktural neurotransmitter gammaaminobutyric acid, berguna dalam mengatasi postherpetic neuralgia. Antihistamin dapat berguna
untuk menyingkirkan rasa gatal varisella pada anak-anak.
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres
dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung
mentol atau fenol.
Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya: kulit dicuci sesering
mungkin dengan ait dan sabun, menjaga kebersihan tangan, kuku dipotong pendek, pakaian tetap
kering dan bersih.
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika terjadi infeksi bakteri,
diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir.
Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan aspirin. Karena
aspirin dapat memberikan efek samping yang buruk pada anak-anak Obat anti-virus boleh
diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada
remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit
jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama.

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah:
a. Pneumonia karena virus
b. Peradangan jantung
c. Peradangan sendi
18

d. Peradangan hati
e. Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)
f. Ensefalitis (infeksi otak).

PROGNOSIS
a. Dengan perawatan teliti dan memperhatikan higiene akan memberikan prognosis yang
baik dan jaringan parut yang timbul akan menjadi sedikit.
b. Angka kematian pada anak normal di Amerika 5,4 7,5 dari 10.000 kasus varicella.
c. Pada neonatus dan anak yang menderita leukimia, immunodefisiensi, sering
menimbulkan komplikasi dan angka kematian yang meningkat. 5
d. Angka kematian pada penderita yang mendapatkan pengobatan immunosupresif tanpa
mendapatkan vaksinasi dan pengobatan antivirus antar 7 27% dan sebagian besar
penyebab kematian adalah akibat komplikasi pneumonitis dan ensefalitis.

PENCEGAHAN
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang belum pernah
mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya
penderita

gangguan

sistem

kekebalan),

bisa

diberikan

immunoglobulin

zoster

atau

immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia
12-18 bulan.
DAFTAR PUSTAKA
3. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Bab Varisela. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2007

19

4. Mehta, Parang. Varicella. Emedicine from WebMD. Sept 2007. Diambil dari
http://www.emedicine.com/ped/topic2385.htm. Diakses pada tanggal 7 Maret 2012.
6. Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta : 2005
7. Schachner, Lawrence. Pediatric Dermatology Third Edition. Mosby. 2003
8. Dewi

M.

Cacar

Air

(Varicella).

Diambil

dari

Medicastore.com

http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=38&idktg=&idobat=&UID=20071115181404219.83.83.58.

Diakses

pada

tanggal 7 Maret 2012.

20