Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN NEC

A. Pengertian
Necrotizing enterocolitis(NEC) atau enterokolitis nekrotikan adalah
suatu kondisiabdomen akut yang umum terlihat pada periode neonatal. "Necrotizing" berarti
kematian jaringan, "entero" mengacu pada usus kecil, "colo" ke usus besar, dan "itis" berarti
peradangan. Angka kejadian tinggi pada bayi prematur dan resiko tinggi . Paling sering dijumapi
pada bayi prematur dengan BB <2000 gram.
Proses inflamasi yang berlebihan yang dimulai di usus sangat immunoreaktif akibat NEC
memperluas dampak sistemik, yang berdampak kepada organ jauh seperti otak dan menyebabkan
meningkatkan resiko bayi mengalami keterlambatan perkembangan saraf. Bayi yang pulih dari
NEC 25% daripadanya bisa mengalami keterlambatan perkembangan saraf dan ukuran otak kecil
berbanding sehingga memerlukan perhatian yang lebih dibandingkan masalah di saluran
pencernaan
B. Etiologi
Penyakit ini paling sering muncul pada neonatus yang sakit dan merupakan kedaruratan bedah
yang paling sering terjadi di antara bayi baru lahir. Skala penyakitnya berbeda-beda, dari yang
rendah (dapat sembuh sendiri) sampai berat (inflamasi dan nekrosis menyebar pada lapisan
mukosa dan submukosa usus). Penyebab utama terjadinya necrotizing enterocolitis (NEC) yaitu:
1. Iskemi pada saluran intestinal
2. Kolonisasi bakteri pada intestine
3. Pemberian susu formula
4. Gangguan pertahanan pada host(sistem imun masih lemah)
Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC, faktor lainnya
seperti mediator inflamasi (sitokin), radikal bebas, produk fermentasi bakteri dan toksin, diduga
memperparah proses penyakit.
C. Patofisiologi
NEC adalah sekunder untuk interaksi yang kompleks dari beberapa faktor, terutamapada
bayi prematur, yang mengakibatkan kerusakan mukosa, akhirnya mengarah ke iskemia usus dan
nekrosis. Cedera mukosa mungkin karena infeksi, isi intraluminal,imunitas yang belum matang,
pelepasan vasokonstriktor, dan mediator inflamasi. Hilangnya integritas mukosa memungkinkan
bagian dari bakteri dan toksin masuk ke dinding usus dan kemudian ke sirkulasi sistemik,
sehingga terjadi respon inflamasi umum dan sepsis pada NEC berat .
NEC merupakan hasil akhir dari suatu rentetan interaksi yang terjadi bersamaan antara
perusakan mukosa usus oleh berbagai faktor (iskemi, infeksi) dan reaksi penjamu terhadap
perusakan tersebut (sirkulasi, imunologi, dan inflamasi)
D. Gambaran Klinis
Menurut WHO (2008), tanda-tanda umum pada NEC meliputi :
a.
Distensi perut atau adanya nyeri tekan
b. Toleransi minum yang buruk
c.
Muntah kehijauan atau cairan kehijauan keluar melalui pipa lambung
d. Darah pada feses
e.
Tanda-tanda umum gangguan sistemik :

E.
a.
1.
2.
3.
4.
5.

b.

Apneu
Terus mengantuk atau tidak sadar
Demam atau hipotermi
Tanda dan gejala klinis:
Gastrointestinal:
Makanan intoleransi
Perut kembung
Perut tegang
Emesis
Okultisme darah / kotor dalam tinja
Perut massa
Eritema dinding perut
Sistemik:
Kelesuan
Apnea distress / pernafasan
Suhu ketidakstabilan
Hipotensi
Asidosis
Glukosa ketidakstabilan
DIC
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium :
Darah lengkap dan hitung jenis
Hitung jenis leukosit bisa normal, tetapi biasanya meningkat, trombositopenia sering terlihat. 50
% kasus terbukti NEC, jumlah platelet < 50.000 uL
Kultur
Specimen darah, urin, feses, dan Cairan serebrospinal sebaiknya diperiksa untuk kemungkinan
adanya virus, bakteri, dan jamur yang patogen.
Elektrolit
Gangguan elektrolit seperti hiponatremia dan hipernatremia serta hiperkalemia sering terjadi.
Analisa gas darah
Asidosis metabolik, ataupun campuran asidosis metabolic dan respiratorik mungkin terlihat.
Sistem koagulasi
Jika dijumpai trombositopenia ataupun perdarahan screening koagulopati lebih lanjut harus
dilakukan. Prothrombin Time memanjang, Partial Thromboplastin time memanjang, penurunan
fibrinogen dan peningkatan produk pemecah fibrin, merupakan indikasi
terjadinya disseminatedintravascular coagulation (DIC).
Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen adalah modalitas pilihan saat ini untuk evaluasi neonatus diduga memiliki
NEC. Waktu tindak lanjut foto polos abdomen tergantung pada keparahan dari NEC dan dapat
bervariasi 6-24 jam. Namun, foto polos abdomen juga diperlukan pada setiap saat kemerosotan
klinis akut

F. Penatalaksanaan
Prinsip dasar tatalaksana NEC yaitu menatalaksananya ssebagai akut abdomen dengan
ancaman terjadi peritonitis septic. Tujuannya adalah untuk mencegah perburukan penyakit,

perporasi intestinal dan syok. Jika NEC terjadi pada kelompok epidemis, para penderita perlu
dipertimbangakan untuk isolasi.
1. Pengelolaan Dasar :

Dihentikannya minum oral

Pemberian cairan intravena

Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit hisapan nasogastrik

Memberi antibiotik sistemik

Waspadai adanya distensi (ukur lingkar perut, isi gaster sebelum memberi minum,
mendengarkan adanya bising usus)

Observasi TTV, jangan mengukur suhu rectal karena bahaya perforasi

Cegah nosokomial

Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi

Antibiotik

ASI

Waspadai komplikasi seperti septikemia, hipoglikemia


2. Pembedahan
Pneumoperitonium merupakan indikasi mutlak untuk dilakukan intervensi bedah.
Indikasi relatif pembedahan yaitu gas vena portal, selulitis dinding abdomen, dilatasi segmen
intestinal yang menetap dilihat dari radiaografi, massa abdomen yang nyeri dan perubahan
kondisi klinis yang refrakter terhadap tatalaksana medis.
G.
1.
2.
3.
4.
5.

Komplikasi
Nekrosis usus halus
Infeksi sekunder
Sepsis
Saluran usus dengan obstruksi
Sindrom usus pendek (setelah suatu reseksi usus yang luas)

PROSES KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Keluhan utama
Pasien dengan EKN biasanya mengeluh adanya distensi abdomen.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat dari keluhan utama, berisi tentang penyakit yang sedang dialami mencakup:
Provocatif/Paliatif : Pada pasien EKN biasanya keaadaan akan memburuk jika diberi makan.
Qualitas/Quantitas : Kualitas keluhan pasien EKN tergantung pada tingkat keparahan EKN.
Region/radiasi : Pasien EKN akan merasakan keluhan di daerah perut.
Skala : Pasien EKN terutama pasien bayi biasanya akan mudah rewel.
Timing : Biasanya keluhan dirasakan dalam waktu bertahap.
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Pasien dengan EKN biasanya ditemukan adanya riwayat gangguan pencernaan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
3. Pemeriksaan Fisik.
a. Penilaian keadaan umum

b.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
c.

Menilai keadaan umum pasien meliputi keadaan sakit pasien, tingkat kesadaran, tanda-tanda
vital dan hal umum yang mencolok. Pada pasien dengan EKN mungkin letargi dapat menjadi
tampilan awal.
Pemeriksaan Sistemik.
Sistem pernapasan
Pada pasien dengan EKN mungkin ditemukan adanya apnea
Sistem kardiovaskuler
Pada pasien dengan EKN mungkin akan ditemukan bradikardi, serta perfusi perifer yang buruk.
Sistem pencernaan
Pada pasien dengan EKN ditemukan adanya distensi abdomen, bunyi usus yang kemungkinan
tidak ada, edema di daerah abdomen dan darah di dalam feses
Sistem muskuloskeletal.
Pada pasien dengan EKN ditemukan adanya perubahan aktifitas, seperti mudah menangis
terutama pada pasien bayi.
Sistem integumen
Pada pasien dengan EKN mungkin ditemukan adanya eritema pada dinding abdomen serta suhu
badan yang tidak stabil.
Sistem neurosensori
Pada pasien dengan EKN mungkin ditemukan kondisi letargi.
Sistem endokrin
Pada pasien dengan EKN mungkin akan ditemukan adanya hipoglikemi.
Sistem genitourinarius
Pada pasien dengan EKN biasanya tidak ditemukan adanya gangguan dalam sistem ini.
Aktivitas sehari-hari.
Aktivitas sehari-hari yang perlu dikaji meliputi : nutrisi (pasien EKN biasanya mengalami
penurunan pola makan), eliminasi (mungkin akan ditemukan darah dalam feses pada pasien
EKN), pola istirahat/tidur, personal hygiene serta pola aktivitas sebelum dan selama sakit

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada pasien EKN
1. Resiko infeksi
2. Resiko defisiensi volume cairan
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan
5. Nyeri
C. Rencana Keperawatan
1. Resiko infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan infeksi
Kriteria hasil:
Tidak muncul tanda-tanda inflamasi
Suhu dalam batas normal
Tidak muncul kemerahan
Intervensi:
a. Gunakan sabun untuk cuci tangan
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan

c. Gunakan sarung tangan sebagai ala pelindung


d. Pertahankan lingkungan antiseptik selama pemasangan
2. Resiko defisiensi volume cairan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam, diharapkan keseimbangan
cairan klien terpenuhi
Kriteria hasil :
Tekanan darah dalam batas yang diharapkan
Intake dan output 24 jam seimbang
Berat badan stabil tidak ada asites
Tidak terdapat edema perifer
Membrane mukosa lembab
Intervensi:
a. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
b. Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik)
jika diperlukan
c. Monitor vital sign
d. Timbang popok/pembalut jika diperlukan
e. Pasang urin kateter jika diperlukan
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam,di harapkan klien dapat
terpenuhi kebutuhan nutrisi nya
Kriteria hasil :
Intake zat gizi (nutrient)
Intake makana dan cairan
Energi
Masa tubuh
Berat badan
Ukuran kebutuhan nutrisi secara biokimia
Intervensi:
a. Kaji adanya alergi makanan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang di butuhkan pasien
c. Berikan makanan yang terpilih (sudah di konsultasikan dengan ahli gizi)
d. Monitor jumlah nutrisi dan kandunga kalori
e. Monitor BB setiap hari jika memungkinkan
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan perfusi jaringan
cerebral efektif.
Kriteria hasil :
Heart rate dalam rentang yang duharapkan
Sura jantung abnormal tidak muncul
Angina tidak muncul
Gas darah dalam rentang yang diharapkan
Nadi dalam batas normal
Nadi perifer teraba kuat

a.
b.
c.
d.
e.
f.
5.

a.
b.
c.
d.
e.

Intervensi:
Monitor intake dan output cairan
Monitor TTV
Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab
Letakkan kepala pada posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis
Pertahankan keadaan arah tirah baring
Kolaborasi pemberian nutrisi sesuai
Nyeri
Tujuan: Setelah dilakukan keperawatan selama 3x 24 jam, nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil :
Sakal nyeri berkurang
Gelisah berkurang
Grimace berkurang
Intervensi:
Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, faktor presitipasi.
Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
Pilih dan lakukan penanganan nyeri ( farmakologi, non farmakologi )
Berikan analgetik untuk menghilangkan nyeri
DAFTAR RUJUKAN

Betz, Cecily Lynn; Sowden, Linda A. (2009). Buku saku keperawatan pediatri. Ed.5. Jakarta: EGC
(alih bahasa: Eny Meiliya).
Caplan, Michael S; Jilling, Tamas. The pathophysiology of necrotizing enterocolitis.
McMillan, Julia A; Feigin, Ralph D; DeAngelis, Catherine; Jones, M.Douglas. (2006). Oskis
pediatrics: principles and practice. Philadelphia: Lippincott Williams & Willkins.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Enterokolitis nekrotikan (NEC) mewujudkan/adalah penyakit kegawatan saluran cerna pada
neonatus baru lahir, ditandai dgn kematian jaringan luas yg terjadi pada dinding usus. Penyakit ini
menjadi salah satu kasus pada neonatus dgn berat badan lahir sangat rendah (BBLSR). Pada
umumnya NEC lebih kerap kali diketemukan pada neonatus prematur daripada neonatus cukup
bulan. Faktor risiko penyebab terjadinya NEC ialah; kelahiran prematur, pemberian makanan enteral
dini, perlukaan mukosa usus, & adanya bakteri pada usus.
Angka kejadian NEC menurut National Institute of Child Health and Human Development
Neonatal Research Network pada neonatus dgn berat badan lahir minus dari 1500 gram di seluruh
dunia mencapai 3-11% dari tahun 1997-2000 & berkembang/berubah naik 5-15% dari tahun 20032007.2 Beberapa penulis melaporkan angka kejadian berkisar antara 1,5-7,5% pada neonatus yg
dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).3 Neonatus dgn usia gestasi 28 minggu / minus jg
memiliki risiko lebih besar terjadi NEC. Tapi, sekitar 10% neonatus cukup bulan menderita NEC dgn
risiko utama dikarenakan karena penyakit jantung bawaan & faktor risiko lain meliputi pemberian
asfiksia perinatal, PDA, polisitemia, tekan darah rendah, menurunnya perfusi mesenterik, terapi
indometacin & ranitidine. Angka kejadian NEC berbeda dari satu rumah sakit dgn rumah sakit
lainnya. Salah satu faktor yg menyebabkan perbedaan angka kejadian penyakit ini ialah
kemampuan dlm mendiagnosis & mengenali gejala-gejala dini penyakit ini.
Di Indonesia, diagnosis NEC di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada tahun
60-an jarang sekali ditegakkan. Kewaspadaan terhadap penyakit ini baru berkembang/berubah naik
sesudah tahun 1972. Pada penelusuran catatan medik di sub bagian Perinatologi FKUI/RSCM,
sejak tahun 1982-1985 menunjukkan 1 kasus pada tahun 1980, kasus tahun 1982, kasus pada
tahun 1983, 4 kasus pada tahun 1984 & 3 kasus pada tahun 1985. Dari gambaran kejadian ini
terlihat bahwa penambahan kejadian justru pada saat diberdayakan alat canggih dlm penanganan
neonatus.
Angka kematian NEC cukup cukup tinggi berkisar antara 20% hingga 40% & cenderung
berkembang/berubah naik pada akhir dekade ini. Kematian berkembang/berubah naik menjadi 64%
jika perforasi sudah terjadi. Karena semakin tingginya angka kematian sesudah perforasi, deteksi
dini iskemik berat / jaringan nekrotik usus sebelum terjadi perforasi berpotensi menurunkan
morbiditas & mortalitas NEC. Pencitraan memainkan peranan penting dlm hal ini.

1.2 Rumusan Kasus


1. Apa pengertian dari Necrolitizing Enterocolitis ?
2. Bagaimana epidemiologi dari penyakit ini ?
3. Apa saja etiologi dari Necrolitizing Enterocoliis (NEC) ?
4. Bagaimana pathogenesis penyakit Necrolitizing Enterocoliis (NEC) ini?
5. Gejala & gejala-gejala apa saja yg muncul saat anak terserang penyakit Necrolitizing
Enterocoliis (NEC) ?
6. Pemeriksaan apa saja yg apat menunjang munculnya diagnosis penyakit NEC ini ?
7. Bagaimana penatalaksaan yg bisa dikerjakan buat anak dgn penyakit ini ?

8. Bagaimana cara pencegahan agar anak tak menderita NEC ?


9. Bagaimana konsep askep pada pasien dgn Necrolitizing Enterocoliis (NEC) ?
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat buat mencukupi tugas Keperawatan Anak. Selain 1tu diharapkan sesudah
dibuatnya makalah ini mahasiswa mampu memahami & mengaplikasikan ilmu keperawatan yg
dimilikinya buat menangani kasus keperawatan yg ditimbulkanoleh penyakit NEC ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Berikut ini ialah beberapa pengertian ari Necrolitizing Enterocolitis (NEC) :
1. Necrolitizing Enterocolitis ialah kelainan pada saluran pencernaan berupa bercak / nekrosis
difus pada mukosa / submukosa kolon yg didapat & amat kerap kali terjadi pada neonatus
prematur & dgn berat lahir sangat rendah.
2. NEC ialah salah satu penyakit yg bisa mengenai neonatus prematur dlm minggu-minggu
pertama kehidupan. Entero merujuk ke usus halus, colo merujuk kepada usus
besar, & itis berarti peradangan. NEC melibatkan infeksi & peradangan yg menyebabkan
kerusakan
usus
/
bagian
dari
usus
/
bagian
dari
usus.
(http://www.scibd.com/doc/41128509/enterokolitisnekrosis diunduh tanggal 08 April 2014)
3. Necrolitizing enterocolitis (NEC) ialah penyakit gastrointestinal didapat (akuisita) yg amat kerap
kali pada neonatus baru lahir. (Kitterman, 2006: 297)
4. NEC ialah suatu keadann yg terjadi terutama pada neonatus prematur / berat badan lahir rendah.
Kemungkinan dikarenakan karena hipoksia yg menyebabkan iskemia pada usus. Beberapa
bagian dari dinding usus mengalami nekrosis dgn terjadinya obstruksi & peritonitis. (Hinchliff,
1999:296)
5. NEC mewujudkan/adalah penyakit inflamator serius dari mukosa usus. Biasanya terjadi pada
neonatus prematur yg sakit & pada neonatus yg memiliki kateter deuer umbilikalis / transfusi
tukar. (Sacharin,1996: 468)
6. NEC mewujudkan/adalah penyakit saluran pencernaan yg terjadi pada neonatus baru lahir,
kejadiannya lebih berlimpah terjadi pada neonatus prematur. NEC yaitu entero ialah usus kecil;
colitis ialah infeksi & peradangan pada usus besar (kolon); nekrotisans ialah kerusakan &
kematian sel-sel.
(http://id.scribd.com/doc/54426675/ASUHAN-KEPERAWATAN-Necrotizingdiakses tanggal 08
April 2014)
7. NEC ialah kelainan pada saluran pencernaan berupa bercak / nekrosing difus pada mukosa /
submukosa kolon yg di bisa & amat kerap kali terjadi pada neonatus prematur & dgn berat lahir
sangat rendah. (http://www.emedicie.medscape.com/artikel/977956diakses tanggal 09 April
2014)

Foto 1 : Perbedaan usus normal & nekrosis


2.2 Epidemiologi
Angka kejadian NEC sangat bervariasi antar negara bagian di Amerika Serikat, berkisar
antara 328% dgn rata-rata 6 -10% terjadi pada neonatus dgn berat lahir minus dari 1500
gram. Berbanding terbalik antara usia kehamilan saat lahir / berat lahir dgn insiden NEC, yaitu
semakin cukup usia kehamilan / semakin cukup berat lahir, semakin rendah resiko terjadinya
NEC.
Necrolitizing Enterocolitis lebih kerap kali terjadi pada neonatus lakilaki, & beberapa
penulis melaporkan angka kejadian lebih berlimpah pada manusia afrika daripada manusia kulit
putih ataupun ras hispanik. Walaupun kebanyakan neonatus yg menderita NEC ialah neonatus yg
lahir pada usia kehamilan preterm, tapi 5-10% dari kasus yg dilaporkan, jg terjadi pada neonatus
yg lahir pada usia kehamilan lebih dari 36 minggu. Dlm tiga dekade terakhir angka mortalitas yg
dikarenakan karena NEC berkisar antara 10-30% dgn trend menurun seiring dgn semakin
berkembangnya advances neonatal car.
2.3 Etiologi
Penyakit ini amat kerap kali muncul pada neonatus yg sakit & mewujudkan/adalah
kedaruratan bedah yg amat kerap kali terjadi di antara neonatus baru lahir. Skala penyakitnya
berbeda-beda, dari yg rendah (bisa sembuh sendiri) hingga berat (inflamasi & nekrosis menyebar
pada lapisan mukosa & submukosa usus). Necrotizing enterocoliis mewujudkan/adalah penyakit
yg dominan terjadi pada neonatus premature. Pada neonatus prematur, terdapat penurun
immunokompeten, immaturitas saluran cerna, & abnormalitas peristaltik. Hal ini bisa
menyebabkan maldigesti & malabsorbsi nutrisi yg memacu pertumbuhan bakteri, kolonisasi, &
iskemi pada usus neonatus prematur. Selain 1tu, ketidakstabilan kardiorespirasi, homeostatik, &
miskinnya autoregulasi aliran darah, menyebabkan neonatus prematur lebih rentan terhadap
kejadian iskemik / hipoksia, & menempatkan mereka pada risiko NEC. Karena kejadian
remature inilah muncul beberapa penyebab terjadinya NEC, diantaranya :
1.

Iskemia Gastrointestinal

Sudah disebutkan diatas bahwa pada neonatus premature terjadi ketidakstabilan dlm
kardiorespiasim homeostatic & miskinnya autoregulasi. Dari keadann tersebutlah kian tubuh
seorang anak yg mengalami NEC memiliki keterbatasan dlm perfusi jaringan.
Saat mengalami keterbatasan perfusi, terjadi mekanisme pertahanan tubuh yg melindungi
otak & jantung dari kerusakan dampak iskemik, yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan buat
dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dgn memindahkan aliran darah dari mesentrika & renal.
Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yg sangat rendah saat terjadi hipoksia, sehingga
pada neonatus yg mengalami asfiksia, aliran darah ke abdomen, ileum, & koon menurun drastis
selama episode tersebut.
Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin, kian mau terjadi hipoksia
pada area organ tubuh yg mendapatkan aliran darah dari mesentrika yg mencetuskan terjadinya
injuri & disrupsi pada mukosa epitel intestinal. Saat hal tersebut terjadi, bakteri bisa dgn
gampang masuk pada area injuri & membuat dampak kerusakan jaringan, termasuk nekrosis &
ulserasi.

2. Imunitas Neonatus
Neonatus yg memiliki imunitas rendah & saluran GI yg belum matur, memiliki kemungkinan
buat terserang NEC. Pada saat lahir, mukosa usus neonatus belum memiliki antibodi
imunoprotektif utama di gastrointestinal, IgA. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik
& spesifik seperti sel imunokompeten, IgA, laktoferin, lisozim, & lactobacillus bifidus growth
factor, ASI bisa mengurangi insiden & keparahan NEC. Pada saluran gastrointestinal yg belum
matur, usus belum mampu mencerna makanan dgn baik, terutama makanan-makanan formula.
Ditambah lagi, barrier mukosa belum berkembang dgn baik, sehingga bisa terjadi translokasi
bakteri & antigen makanan yg tak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel
peradangan

3. Makanan enteral
Seperti yg disebutkan diatas tadi, neonatus premature memiliki saluraan cerna yg belum
sempurna sehingga jika diberi makanan berlebih bisa terjaadi malabsorbsi. Salah satu misalnya
makanan enteral ialah susu formula. Kebanyakan manusia tua belum menyadari betapa
pentingnya ASI bagi si neonatus & dgn keadann neonatus premature yg lemah manusia tua
menjadi berpikir jalan pintas buat mencukupi kebutuhan gizi anaknya dgn susu formula.
Susu formula mengandung karbohidrat & lemak yg mewujudkan/adalah cairan hypertonis
jika masuk kedalam tubuh manusia. Pada neonatus sehat jika cairan hypertonis tersebut masuk,
usus mau berfungsi dgn baik buat bisa mengabsorpsi kandungan susu tersebut. Tetapi tak pada
neonatus dgn NEC.
Pada neonatus dgn NEC, terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak & karbohidrat
pada susu dampak organ tubuh yg belum matur, bakteri-bakteri fermentasi membentuk asam
organik, karbon dioksida, & gas hidrogen hasil nutrient yg tersisa. Saat NEC berkembang,
neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yg besar pada intestine, membuat dampak
menurunnya substansi pada feses & hydrogen-filled cysts diantara mukosa usus.

4. Invasi Bakteri
Invasi bakteri ini masih sangat erat hubungannya dgn pemberian makan enteral. Karena
pencernaan & motilitas yg belum sempurna bisa meninggalkan makanan dlm lumen usus buat
waktu yg lama menyebabkan pertumbuhan yg berlebihan & translokasi bakteri.
Adanya media yg cocok berasal dari nutrisi enteral menyebabkan proliferasi bakteri diikuti
karena invasi terhadap mukosa usus & memunculkan kerusakan dampak produksi gas (metana &
hidrogen) yg dihasilkan organisme menyebabkan pneumatosis intestinalis yg

mewujudkan/adalah patognomonik NEC dampak gas fermentasi yg dihasilkan bakteri


terperangkap pada jaringan. Selanjutnya terjadi nekrosis / gangren transmural usus & berakhir
dgn perforasi & peritonitis.
5. Respon inflamasi
Pemicu proses inflamasi dimediasi karena faktor-faktor termasuk platelet-activating factor
(PAF), tromboksan, & beberapa sitokin. Alasan lain tingginya risiko NEC pada neonatus
prematur ialah barier mukosa usus imatur berpotensi menyebabkan translokasi bakteri / toksin ke
sirkulasi splanknikus mengaktifkan kaskade mediator-mediator inflamasi & vasokonstriktor yg
menyebabkan respon inflamasi luas bahkan sepsis pada beberapa wujud NEC. Kerusakan barier
mukosa yg terjadi lewat fenomena apoptosis / kematian sel terprogram yg semakin menurunkan
integritas barier mukosa.
Necrolitizing Enterocolitis bisa muncul sebagai kumpulan penyakit / penyakit dominan di Unit
Rawat Intensif Neonatus. Beberapa kumpulan tampaknya berhubungan dgn organisme spesifik
(misalnya Klebsiella, Escherichia coli, Staphylococcus koagulase-negatif), tetapi kerap kali kuman
patogen spesifik tak diketahui.

2.4 Faktor Predisposisi


1. Berat badan lahir rendah & minus bulan
2. Neonatus dgn asfiksia
3. Neonatus dgn sindroma gangguan pernafasan/apnu berulang
4. Neonatus lahir PRM / infeksi perinatal lain
5. Neonatus yg mendapat katerisasi vena umbilikalis
6. Penyakit jantung bawaan sianotik
7. Hipotermia, tekan darah rendah & gangguan keadann umum lainnya.
2.5 Patogenesis
Patogenesis NEC sulit buat dipahami & kontroversial, walaupun demikian, patogenesis NEC
ialah multifaktor. Ada tiga mekanisme patologis utama dlm proses terjadinya NEC: cedera
iskemik pada usus, kolonisasi bakteri usus, & adanya suatu substrat seperti formula.
Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. Hipoperfusi usus ini
selanjutnya merusak mukosa usus, & sel mukosa yg melapisi usus menghentikan sekresi enzim
protektif. Bakteri yg berproliferasi dibantu karena makanan enteral (substrat), menginvasi
mukosa usus yg rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri &
gas hidrogen. Gas mulanya membelah lapisan serosa & submukosa usus (pneumatosis
intestinalis). Gas tersebut jg bisa robek ke dlm bantalan vaskular mesentrika, yg mau
didistribusikan ke dlm sistem vena hepar. Tiksin bakterial yg berkombinasi dgn iskemia
membuat dampak nekrosis. Nekrosis usus yg sangat tebal membuat dampak perforasi dgn
pelepasan udara bebas ke dlm ronga peritoneal (pneumoperitoneum) & peritonitis.

Foto 2. Patogenesis Penyebab NEC


2.6 Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yg muncul pada NEC bisa terjadi tiba-tiba tetapi umumnya onset terjadi
pada 1-2minggu sesudah kelahiran & bisa terjadi hingga beberapa minggu.Onset NEC
berbanding terbalik dgn usia kehamilan dimana neonatus yg lahir pada 28 minggu cenderung
menderita NEC lebih besar dari pada neonatus usia yg lebih matang.
Berikut ini ialah beberapa gambaran klinis yg ditunjukkan karena neonatus :
1. Aspirat/muntah biliosa
2. Intoleransi makanan
3. Tinja berdarah
4. Distensi & nyeri abdomen yg bisa berlanjut ketahap perforasi dgn gambaran :
Nyeri abdomen bertambah
Dinding abdomen keras, terdapat tahanan & tampak pucat
Edema dinding abdomen
Suara usus yg menghilang
Terdapat massa abdomen
5. Terjadi sepsis dgn gambaran :
Instabilitas suhu
Ikterus
Apnea & bradikardi
Letargi
Hipoperfusi syok (Lissaueur Tom and Avroy Fanaroff : 86)
NEC pada neonatus matur berbeda dgn neonatus prematur. Tak seperti neonatus prematur yg
berkembang pada minggu kedua / ketiga kehidupan (rata-rata 12 hari), sebagian besar kasus
terlihat pada minggu pertama (rata-rata 2 hari). NEC pada neonatus matur biasanya dampak

1.
a.
b.
c.
2.
a.
b.
c.
3.
a.

b.
c.

penyakit sekunder, dari keadann seperti asfiksia saat lahir, polisitemia, penyakit jantung bawaan,
infeksi rotavirus, & hirschsprung disease. Prognosis umumnya lebih baik daripada prematur, dgn
tataran kematian 0% -13%
Sedangkan menurut Gomela, manifestasi klinis dari NEC bisa dikategorikan sesuai dgn
kriteria Bells, yaitu:
Stadium 1 (suspek NEC)
Kelainan sistemik : Tandanya tak spesifik, termasuk apneu, bradikardia, letargi & suhu tak
stabil.
Kelainan abdominal : Termasuk intoleransi makanan, rekuren residual lambung, & distensi
abdominal.
Kelainan radiologik : Gambaran radiologi bisa normal / tak spesifik.
Stadium 2 (terbukti NEC)
Kelainan sistemik : Seperti stadium 1 ditambah dgn nyeri tekan abdominal & trombositopenia.
Kelainan abdominal : Distensi abdominal yg menetap, nyeri tekan, edema dinding usus, bising
usus hilang & perdarahan per rektal.
Kelainan radiologik : Gambaran radiologi yg kerap kali ialah pneumatosis intestinal dgn / tiada
udara vena porta / asites.
Stadium 3 (NEC lanjut)
Kelainan sistemik : Termasuk asidosis respiratorik & asidosis metabolik, gagal nafas, tekan
darah rendah, menurunnya jumlah urin, neutropenia & disseminated intravascular coagulation
(DIC).
Kelainan abdominal : Distensi abdomen dgn edema, indurasi & diskolorasi.
Kelainan radiologic : Gambaran yg kerap kali diketemukan ialah pneumoperitoneum.
Klasifikasi staging NEC berlandaskan Modified Bell Staging Criteria for NEC
Stadium
Kelainan sistemik
Kelainan abdominal
Kelainan radiologik

IA.

Suhu tak stabil

Suspect NEC Apnu

Bradikardia

Residu
lambung Normal
berkembang/berubah
naik
Ileus ringan
Distensi
ringan

abdomen

Darah samar di dlm


feses

IB.

Suhu tak stabil

Residu
lambung Normal
berkembang/berubah

Suspect NEC

naik

Apnu

Distensi
ringan

abdomen Ileus ringan

Bradikardia
Darah
rectal

IIA.

Suhu tak stabil

NEC Mild

Apnu

Bradikardia

segar

per

Residu
lambung Ileus
berkembang/berubah
naik
Pneumatosis
intestinal
Distensi abdomen
ringan

Darah
rectal

segar

per

Peristaltik (-)

Nyeri tekan

IIB.

Suhu tak stabil

NEC
Moderate

Apnu

Bradikardia

Asidosis
ringan

Residu
lambung Ileus
berkembang/berubah
naik
Pneumatosis
intestinal
Distensi abdomen
ringan
Udara vena porta

metabolik Darah
rectal

segar

per
Asites

Trombositopenia
ringan

Peristaltik (-)

Nyeri tekan

Selulitis

Benjolan
kuadran
kanan bawah

IIIA.

Suhu tak stabil

Apnu
Advance
NEC-severebowel-intact
Bradikardia

Residu
lambung Pneumatosis
berkembang/berubah intestinal
naik
Udara vena porta
Distensi
ringan

abdomen
Asites

Trombositopenia
ringan

Darah
rectal

Tekan darah rendah

Peristaltik (-)

Asidosis respirasi

Nyeri tekan

Asidosis metabolic

Selulitis

Neutropenia

Benjolan
kuadran
kanan bawah

segar

Peritonitis

per

Distensi abdomen

IIIB.

Suhu tak stabil

Apnu
Advance
NEC-severebowel
perforated
Bradikardia

Residu
lambung Pneumatosis
berkembang/berubah intestinal
naik
Udara vena porta
Distensi
ringan

abdomen
Asites

Trombositopenia
ringan

Darah
rectal

Tekan darah rendah

Peristaltik (-)

Asidosis respirasi

Nyeri tekan

Asidosis metabolic

Selulitis

Neutropenia

segar

per
Pneumoperitoneum

Benjolan
kuadran
kanan bawah

Peritonitis

Distensi abdomen

Dikutip dari: Lavene MI, Tudehope DI, Sinha S.Essensial Neonatal Medicine Ed 4
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah lengkap & hitung jenis
Hitung jenis leukosit bisa normal, tetapi biasanya berkembang/berubah naik dgn shift to the
left, / rendah (leukopenia), trombositopenia kerap kali terlihat. 50 % kasus terbukti NEC, jumlah
platelet < 50.000 uL.
b. Kultur
.

Specimen darah, urin, feses, & Cairan serebrospinal sebaiknya diperiksa buat kemungkinan
adanya virus, bakteri, & jamur yg patogen.
c. Elektrolit
Gangguan elektrolit seperti hiponatremia & hipernatremia serta hiperkalemia kerap kali terjadi.
d. Analisa gas darah
Asidosis metabolik, ataupun campuran asidosis metabolic & respiratorik mungkin terlihat.
e. Sistem koagulasi
Jika diketemukan trombositopenia ataupun perdarahan screening koagulopati lebih lanjut wajib
dikerjakan. Prothrombin Time memanjang, Partial Thromboplastin time memanjang,
menurunnya fibrinogen & peningkatan produk pemecah fibrin, mewujudkan/adalah indikasi
terjadinya disseminated intravascular coagulation (DIC).
f. C-Reaktif protein
Mungkin tak berkembang/berubah naik / pada kasus NEC yg lanjut karena neonatus tak bisa
menghasilkan respon inflamasi yg efektif.
g. Biomarker
Dikerjakan buat mendiagnosis & memprediksi penyebab NEC seperti gas hydrogen, mediator
inflamasi didalam darah, urin / feses & genetic marker, tetapi semua kerugian membatasi
kegunaannya. Penelitian lebih lanjut tentang genomic & proteomic marker terus diteliti.
Selain dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologis mewujudkan/adalah
pemeriksaan rutin yg kerap kali dikerjakan karena klinisi buat mendeteksi adanya kelainan.
Pemeriksaan bisa dikerjakan secara polos ataupun dgn media kontras. Pada anak dgn NEC yg
umumnya menunjukkan gejala-gejala penyakit akut & berat, perut kembung, muntahmuntah,
menyerupai gejala-gejala ileus, kian tak dikerjakan dgn kontras, foto polos & tiada persiapan.
Foto dikerjakan pada posisi Anteroposterior, erek / semierek dgn diafragma terlihat, ataupun
left lateral dekubitus (LLD). Beberapa klinisi menyukai posisi LLD karena bisa menunjukkan
fenomena anak tangga pada ileus, distensi usus, & adanya udara di luar rongga usus.
2. Gambaran Radiografik
Dilatasi lingkar usus
Penebalan dinding usus
Tinja yg padat (bulat-bulat)
Udara intramural (pneumatosis intestinalis)
Udara dlm sistem vena porta
Perforasi usus :
Abdomen dgn sedikit gas/asites
Pneumoperitoneum
Udara dibawah diafragma/ di sekitar ligamentum falsiformis

Foto 3 : Patognomonik NEC dgn ditemukannya gambaran radiolusen gelembung udara /


pneumotosis intestinal (panah bawah) & gambaran udara pada vena porta (panah atas).
Sebagian besar akumulasi gas yg linear, menunjukkan lokasi submukosa.

Foto 4 : Udara dlm portal vena. Udara yg diamati dlm cabang vena portal pada bayi usia 3minggu.

Foto 5 : Sebuah foto dekubitus horizontal yg menunjukkan pneumoperitoneum(panah)


karena perforasi usus pada bayi prematur.
2.8 Penatalaksanaan
Prinsip dasar penatalaksanaan NEC yaitu merencanakan askep padaakut abdomen dgn
ancaman terjadi peritonitis septik. Tujuannya ialah buat mencegah perburukan penyakit,
perforasi intestinal, & syok. Jika NEC terjadi pada kelompok epidemis, para penderita butuh
dipertimbangkan buat isolasi.
1. Perawatan Umum
Neonatus dirawat dlm inkubator diruangan tersendiri dgn memperhatikan tindakan
aseptik/antiseptik. Pemantauan gejala-gejala vital dikerjakan terus-menerus, keseimbangan
cairan & elektrolit dicatat dgn baik & dikerjakan foto abdomen tiap 6-24 jam.
2. Istirahatkan Usus
Pemberian makanan per oral dihentikan, dikerjakan dekompresi lambung dgn memasang
pipa orogastrik (evidence level III, recommendation level B). Lavemen dgn gliserin diberikan
kalau/jika neonatus belum defekasi.
3. Nutrisi
a. Parenteral
Selama dipuasakan (istirahat usus) nutrisi diberikan secara parenteral sesegera mungkin.
Cairan yg diberikan dektrosa 10% ditambahkan NaCl & KCL masing-masing 100-150
ml/KgBB/hari. Nutrisi parenteral diberikan selama 1 bulan. Pemberian nurisi enteral dikerjakan
secara bertahap jika secara klinis terbukti membaik. Jumlah kalori yg diberikan 90-110
Kkal/KgBB/hari.
b. Enteral
Nutrisi enteral bisa diberikan sesudah fase akut lewat, yaitu kira-kira hari ke 3-5 pada stage I
& hari ke 10-14 pada stage II & stage III (evidence level III, recommendation level B). Nutrisi
enteral diberikan secara hati-hati, sedikit demi sedikit secara bertahap, dimulai dgn ASI / susu
formula diencerkan. Kalau/jika ada malabsorpsi karbohidrat diberikan susu formula bebas
laktosa.
4. Antibiotik
Mengingat manifestasi inisial NEC sama dgn sepsis, kian setiap neonatus tersangka NEC
diperlakukan seperti kasus sepsis. Pemeriksaan darah, tinja, cairan serebrospinal segera
dikerjakan termasuk jg kultur & sensitivitas.
Pemberian antibiotika disesuaikan dgn hasil biakan / kuman yg kerap kali diketemukan
ditempat perawatan. Bisa diberikan antibiotik broad spectrum ampisilin & gentamisin secara
parenteral & pemberian antibiotik buat kuman anaerob pada stage III (evidence level II-3,
recommendation level C). Jika terjadi perforasi usus bisa ditambahkan klindamisin. Antibiotika
golongan beta-laktamase seperti sefalosporin & sefamisin jg penting pada pengobatan NEC
karena bisa menangani kuman enterik gram negatif & toksisitasnya rendah. Tapi, pemberian
antibiotik tetap berlandaskan hasil uji sensitivitas jika hasil sudah didapatkan.
5. Asidosis

Yg kerap kali terjadi pada NEC ialah metabolik asidosis, biasanya pada NEC sedang &
berat.Diberikan Na-bikarbonat 2 mEq/KgBB intravena / dlm waktu 10-15 menit dgn kecepatan
tak lebih dari 1 mEq per menit. Asidosis memiliki efek inotropik negatif, membuat dampak
relaksasi otot jantung & kontraksinya menurun.
6. Koagulasi Intravaskuler Diseminata
Keadann ini bisa dicurigai kalau/jika:
a. Hematokrit rendah
b. Trombosit rendah
c. Masa protrombin memanjang
d. Masa tromboplastin memanjang
e. Fibrinogen menurun
Sambil menunggu darah & trombosit buat transfusi, bisa diberikan terlebih dahulu plasma
segar beku 15 ml/kgBB. Dgn pemberian plasma seringkali perdarahan berhenti & bahkan
transfusi tak dibutuhkan lagi. Transfusi trombosit diberikan kalau/jika jumlah trombosit <
50.000/mm3 / kalau/jika jelas terdapat perdarahan sistemik & gastrointestinal yg berat.
7. Pembedahan
Indikasi absolut tindakan pembedahan ialah jika terdapat perforasi (pneumoperitoneum) &
adanya nekrosis usus (evidence level I, recommendation level C). Sedangkan indikasi relatif
ialah klinik memburuk (asidosis metabolik, kegagalan pernafasan, oliguria, hipovolemia,
trombositopenia, leukopenia, leukosistosis, terdapat gas di dlm vena porta, eritema dinding
abdomen, masa dlm usus yg menetap & dilatasi usus yg menetap). Tindakan bedah pada
dasarnya sama dgn tindakan pada peritonitis, yaitu menghentikan sumber infeksi / sumber
kebocoran dgn reseksi usus yg nekrosis / perforasi. Rongga peritoneal lalu dicuci dgn larutan
NaCl 0,9% hangat & buat mengembalikan kontinuitas usus dikerjakan anastomosis primer pada
kedua ujung usus yg masih utuh
Berikut ini ialah penatalaksanaan sesuai stadium yaitu :
a. Stadium I
Puasa & pemberian minum bisa diberikan sesudah 3 hari perbaikan. Antibotik spektrum luas
selama 3 hari & selanjutnya sesuai hasil kultur
b. Stadium IIA & IIB
Puasa selama 2 minggu.
Pemberian minum : bisa dimulai sesudah 7-10 hari puasa jika pada pemeriksaan radiologi tak
tampak pneumatosis. Nutrisi parenteral 90-110 kal/kgBB/hari.
Pemberian oksigen : Pemberian antibotik spektrum luas selama7-10 hari.Natrium bikarbonat 2
meq/kgBB jika terjadi asidosis metabolik. Dopamin dgn dosis rendah buat memperbaiki sirkulasi
darah usus.
c. Stadium IIIA & IIIB
Dgn pengobatan stadium II, ventilasi mekanik jika dibutuhkan. Jika terdapat syok, segera
atasi dgn pemberian cairan. Pemberian plasma segar & dopamin buat mempertahankan tekanan
darah.
2.9 Pencegahan

Dgn memperhatikan patogenesis & faktor-faktor perinatal pada NEC, kian usaha yg terpenting
dlm upaya pencegahan ialah memutuskan mata rantai hubungan antara asfiksia hipoksia, iskemia
usus, & kerusakan mukosa usus. Disamping 1tu wajib pula dihilangkan faktor-faktor yg
memperberat terjadinya kerusakan mukosa usus seperti mencegah terjadinya proliferasi bakteri
usus.
Tindakan-tindakan yg wajib diperhatikan dlm mencegah / mengurangi dampak lanjutan NEC
ialah: .
1.

Peranan air susu ibu, (evidence level II-2, recommendation level A)


Terbukti NEC tak diketemukan / sangat jarang terdapat pada neonatus yg minum ASI. Peranan ASI

dlm mencegah NEC ialah :


a. ASI memiliki sifat iso-osmoler

b. Mengandung SIgA (Secretory immunoglobulin A) yg bermanfaat dlm menaikkan daya tahan


tubuh. SIgA ini dibentuk karena sel plasma dinding usus, tahan terhadap enzim usus & memiliki
fungsi antibakteri, anti virus, & antitoksin.
c. ASI memiliki daya anti bakteri, lewat cara-cara lain yaitu mengandung laktoferin yg memiliki
efek bakteriostatik terhadap E. coli.
2.

Cara pemberian makan, tak ada bukti yg menyatakan pemberian isi makanan dgn pelan

mengurangi risiko NEC, (evidence level I, recommendation level D)


3. Pemberian antibiotika per oral (evidence level I, recommendation level D). Pengobatan antibiotik
per oral mengurangi risiko NEC, tetapi menaikkan risiko resistensi mikrobiota intestinal sehingga tak
boleh diberikan rutin.
4.

Antenatal kortikosteroid, terdapat manfaat pemberian antenatal steroid mengurangi risiko NEC
(evidence level I, recommendation level A)

5.

Imunoglobulin oral, dari data beberapa percobaan menyebutkan buat tak memberikan
immunoglobulin oral buat mencegah NEC (evidence level I, recommendation level D)

6.

Suplemen asam amino, pemberian L-arginin / glutamine parenteral sebagai prekursor nitrit okiside
hanya menjanjikan sedikit bisa mengurangi risiko NEC (evidence level I, recommendation level C)

7.

Probiotik, menaikkan mekanisme pertahanan usus, termasuk sekresi IgA, proliferasi sel epitel usus,
menaikkan barir fungsi, mengurangi peradangan & sel epitel apoptosis. Probiotik bisa mengurangi
risiko mortalitas NEC berat, tetapi pilihan regimen & dosis belum diteliti (evidence level I,
recommendation level C)

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan ialah pemikiran dasar dari proses keperawatan yg bertujuan buat
mengumpulkan data tentang pasien agar bisa mengidentifikasi, mengenali kasus-kasus
kebutuhan kesehatan & keperawatan pasien baik fisik, mental & lingkungan. Pengkajian endiri
erdiri dari anamesa, pengkajian fisik & diagostik :
1. Anamnesa
a. Identitas pasien yg meliputi ; nama, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian & alamat.

b. Identitas penanggung jawab yg meliputi ; nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, hubungan dgn
pasien & alamat.
c. Keluhan utama
Pasien dgn NEC biasanya mengeluh adanya distensi abdomen.
d. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat dari keluhan utama, berisi tentang penyakit yg sedang dialami mencakup:
Provocatif/Paliatif
Pada pasien NEC biasanya keaadaan mau memburuk jika diberi makan.
Qualitas/Quantitas
Kualitas keluhan pasien NEC tergantung pada tataran keparahan NEC.
Region/radiasi
Pasien NEC mau merasakan keluhan di daerah perut.
Skala
Pasien NEC terutama pasien neonatus biasanya mau gampang rewel.
Timing
Biasanya keluhan dirasakan dlm waktu bertahap.
e. Riwayat kesehatan yg lalu.
Pasien dgn NEC biasanya diketemukan adanya riwayat gangguan pencernaan.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Ap4k4h anggota keluarga pasien ada yg memiliki penyakit menyebar.menular ataupun
penyakit keturunan .
g. Riwayat kehamilan & kelahiran
Prenatal
Menjelaskan tentang bagaimana, keadann ibu pasien selama hamil, kemana ibu pasien
memeriksakan kehamilan, ap4k4h mendapat suntikan TT & tablet Fe.
Natal
Menjelaskan saat ibu persalinan, jenis persalinan, siapa yg menolong, & dimana tempat
persalinan. Bagaimana letak neonatus waktu lahir & keadann neonatus saat lahir (APGAR
SKORE). Berat badan & panjang badan & terdapat kelainan / tak.
Post natal
Menjelaskan apa yg diberikan ibu pasien saat pasien masih neonatus, ap4k4h pasien diberi
ASI / tak, berapa bulan pasien mendapat ASI eksklusif, MPA (Makanan Pengganti ASI), apa &
siapa yg merawat tali pusat & hari keberapa tali pusat lepas.
h. Riwayat imunisasi
Menerangkan status imunisasi pasien, baik imunisasi dasar maupun imunisasi ulang
(booster).
i. Riwayat pertumbuhan & pertumbuhan
Pertumbuhan
Status pertumbuhan anak terutama pada usia balita bisa dilihat dari KMS, & pemeriksaan
lingkar kepala, TB, BB, LL.
Pertumbuhan

Status pertumbuhan pasien butuh diteliti secara rinci buat mengetahui ap4k4h semua tahapan
pertumbuhan dilalui dgn mulus / terdapat penyimpangan.
2. Pemeriksaan Fisik.
a. Penilaian keadann umum
Menilai keadann umum pasien meliputi keadann sakit pasien, tataran kesadaran, gejalagejala vital & hal umum yg mencolok. Pada pasien dgn NEC mungkin letargi bisa menjadi
tampilan awal.
b. Pemeriksaan Sistemik.
Sistem pernapasan
Pada pasien dgn NEC mungkin diketemukan adanya apnea
Sistem kardiovaskuler
Pada pasien dgn NEC mungkin mau diketemukan bradikardi, serta perfusi perifer yg buruk.
Sistem pencernaan
Pada pasien dgn NEC diketemukan adanya distensi abdomen, bunyi usus yg kemungkinan tak
ada, edema di daerah abdomen & darah di dlm feses.
Sistem musculoskeletal
Pada pasien dgn NEC diketemukan adanya perubahan aktifitas, seperti gampang menangis
terutama pada pasien neonatus.
Sistem integument
Pada pasien dgn NEC mungkin diketemukan adanya eritema pada dinding abdomen serta suhu
badan yg tak stabil.
Sistem neurosensori
Pada pasien dgn NEC mungkin diketemukan keadann letargi.
Sistem endokrin
Pada pasien dgn NEC mungkin mau diketemukan adanya hipoglikemi.
Sistem genitourinarius
Pada pasien dgn NEC biasanya tak diketemukan adanya gangguan dlm sistem ini.
c. Aktivitas sehari-hari
Aktivitas sehari-hari yg butuh dikaji meliputi : nutrisi (pasien NEC biasanya mengalami
menurunnya pola makan), eliminasi (mungkin mau diketemukan darah dlm feses pada pasien
NEC), pola istirahat/tidur, personal hygiene serta pola aktivitas sebelum & selama sakit.
d. Aspek psikologis
Butuh di ketahui dampak hospitalisasi anak terhadap manusia tua pasien.
e. Aspek sosial.
Butuh dikaji status pasien dlm keluarga, hubungan pasien dgn lingkungannya yg mau
dipengaruhi karena aspek psikologis sebagai dampak dari penyakit yg dideritanya.
3. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan Radiografik
Diketemukan adanya dilatasi nonspesifik fokal di usus, penebalan dinding abdomen karena
edema, & pneumatosis intestinalis (gelembung-gelembung gas kecil di dlm dinding usus).
b. Pemeriksaan laboratorium

Biasanya mau diketemukan leukopenia (hitung sel darah putih total <6000/mm3),
trombositopenia (hitung trombosit <5000/mm3 sebelum pembedahan) & asidosis metabolik.
3.2 Diagnosa Keperawatan & Intervensi Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi : minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn ketidakmampuan
buat mengabsorpsi nutrien.
Tujuan : Sesudah dikerjakan tindakan keperawatan selama 324 jam diharapkan pasien bebas dari gejalagejala malnutrisi dgn kriteria hasil :
a. BB berkembang/berubah naik
b. Asupan nutrisi terpenuhi
INTERVENSI
RASIONAL

Anjurkan ibu buat memberikan ASI ASI ialah makanan terbaik bagi
eksklusif kepada neonatusnya.
neonatus
dibandingkan
dgn
pemberian susu formula.

Bantu ibu membuat keluar ASI

Mencukupi kebutuhan gizi ,


menciptakan & mempertahankan
laktasi hingga neonatus bisa
menyusu ASI

Timbang berat badan setiap hari

Memberikan informasi tentang


keadann masukan diet / penentuan
kebutuhan nutrisi

Observasi & catat masukan makanan Mengawasi Jumlah kalori/ kualitas


pasien
kekurangan konsumsi makanan

Pantau hasil pemeriksaan Lab. Misal: menaikkan efektivitas program


Hb/Ht, BUN, Albumin, Protein & pengobatan termasuk sumber diet
elektrolit serum
nutrisi yg dibutuhkan

Kolaborasi,
Berikan
cairan
IV Mencukupi kebutuhan cairan /
hiperalimentasi & lemak sesuai indikasi nutrisi hingga masukan oral bisa
dimulai.

2. Nyeri akut berhubungan dgn agens cedera.

Tujuan : Sesudah dikerjakan tindakan keperawatan selama 124 jam diharapkan nyeri berkurang, dgn
criteria hasil :
a. Tataran Nyeri : Keparahan nyeri yg bisa diamati (tataran nyeri pada 2 / minus (dgn skala 0-10)) .
b. Tak Rewel
INTERVENSI
RASIONAL

Lakukan
pengkajian
nyeri
yg Data dibutuhkan dlm mengevaluasi
komprehensif
meliputi
lokasi, nyeri, menentukan pilihan intervensi
karakteristik,
awitan
&
durasi, & menentukan efektivitas terapi.
frekuensi,
kualitas,
intensitas
/
keparahan nyeri, & factor presipitasinya.

Ajarkan manusia tua klien tentang Teknik


nonfarmakologis
penggunaan teknik non farmakologis membantu mengurangi nyeri.
(misalnya dgn menggendong neonates

bisa

Kendalikan faktor lingkungan yg bisa Lingkungan yg nyaman


mempengaruhi respons pasien terhadap membantu relaksasi
ketidaknyamanan

bisa

Kolaborasi dgn tim medis


pemberian
obat
analgetik
dimungkinkan)

buat Agen
farmakologi
memiliki
(jika komposisi yg bisa mengurangi /
menghilangkan nyeri dgn menekan
system saraf simpatis.

3. Inefektif perfusi jaringan (Cerebral, gastrointestinal, kardiopulmonal, cerebral, periffer)


berhubungan dgn keadann organ yg belum sempurna
Tujuan : Sesudah dikerjakan tindakan keperawatan selama 324 jam, diharapkan terjadi peningkatan
perfusi jaringan, dgn criteria hasil :
a. TTV dlm keadann nomal (tak terjadi tekan darah rendah, terdapat peningkatan denyut nadi, nadi
teraba kuat, suhu normal, terjadi peningkatan pernafasan)
b. Tak ada suara jantung & nafas tambahan
c. Tekanan oksigen dlm rentang normal
INTERVENSI
RASIONAL

Monitor TTV

TTV bisa

menunjukkan

status

kesehatan klien secara umum

Monitor kesadaran neonates

Kaji
adanya
rigiditas,
kedutan, Mengetahui respon awal dari bayi
kegelisaan yg berkembang/berubah jika keadann perfusi jaringannya
naik, peka rangsang & serangan kejang
semakin memburuk

Kaji suara & irama jantung

Mengetahui kelainan pada jantung

4. Risiko Infeksi ditandai dgn pertahanan primer tak adekuat, kerusakan jaringan
Tujuan : Sesudah dikerjakan tindakan keperawatan selama 324 jam diharapkan pasien terbebas dari gejala
& gejala-gejala infeksi, dgn criteria hasil : tak terdapat gejala-gejala-gejala infeksi yg diawali
dgn instabilitas suhu tubuh
INTERVENSI
RASIONAL

Pantau gejala & gejala-gejala infeksi Gejala & gejala-gejala yg muncul


(misalnya, suhu tubuh)
bisa
memberikan
gambaran
terjadinya infeksi

Cuci tangan sebelum


tindakan keperawatan

&

sesudah Mencegah terjadinya infeksi silang

Kaji factor yg bisa menaikkan Data dibutuhkan buat menghindari


kerentanan terhadap infeksi.
resiko rentan terjadi infeksi.

Kolaborasi
pemberian
dibutuhkan

dgn tim medis dlm Terapi antibiotik bisa


antibiotik,
kalau/jika parasit penyebab infeksi

5. Ansietas berhubungan dgn perubahan dlm status kesehatan anak

melawan

Tujuan : Sesudah dikerjakan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan ansietas berkurang dgn
criteria hasil tataran ansietas ringan hingga sedang & mampu menunjukkan pengendalian diri
terhadap ansietas, konsentrasi, & koping.
INTERVENSI
RASIONAL

Kaji tataran kecemasaan

Mengetahui
manusia tua

kemampuan

koping

Berikan kesempatan kepada klien Membina hubungan saling percaya


(manusia tua) buat mengungkapkan
perasaan kecemasannya

Pada saat ansietas berat, dampingi klien Pendampingan yg diberikan bisa


(manusia tua), bicara dgn tenang & membantu
menguatkan
sisi
berikan ketenangan serta rasa nyaman
psikologis pasien buat mengurangi
ansietasnya

Berikan informasi tentang perawatan/ Informasi yg didapatkan bisa


keadann anaknya
membuat klien merasa lebih tenang

BAB IV
KESIMPULAN
Necrolitizing Enterocolitis ialah kelainan pada saluran pencernaan berupa bercak / nekrosis
difus pada mukosa / submukosa kolon yg didapat & amat kerap kali terjadi pada neonatus
prematur & dgn berat lahir sangat rendah. Skala penyakitnya berbeda-beda, dari yg rendah (bisa
sembuh sendiri) hingga berat (inflamasi & nekrosis menyebar pada lapisan mukosa &
submukosa usus). Necrotizing enterocoliis mewujudkan/adalah penyakit yg dominan terjadi pada
neonatus premature. Pada neonatus prematur, terdapat penurun immunokompeten, immaturitas
saluran cerna, & abnormalitas peristaltik. Hal ini bisa menyebabkan maldigesti & malabsorbsi
nutrisi yg memacu pertumbuhan bakteri, kolonisasi, & iskemi pada usus neonatus prematur.
Selain 1tu, ketidakstabilan kardiorespirasi, homeostatik, & miskinnya autoregulasi aliran darah,
menyebabkan neonatus prematur lebih rentan terhadap kejadian iskemik / hipoksia, &
menempatkan mereka pada risiko NEC.
Etiologi NEC sendiri ialah hipoksia-iskemik, pemberian nurisi parenteral, imunitas yg minus
dn terjadinya invasi bakteri. Semua etioogi tersuut akhirnya menjurus kepada terjadinya nekrosis
pada usus. Ada beberapa manifestasi klinis yg ditimbulkan dari NEC tapi yg menjadi gejala awal

ialah instabilitas suhu tubuh dikarenakan terjadinya proses infeksi.Terdapat beberapa stadium
dlm NEC yaitu stadium I (Suspect NEC), II(Terbukti NEC) & III (Stadium lanjutan).
Dgn memperhatikan patogenesis & faktor-faktor perinatal pada NEC, kian usaha yg
terpenting dlm upaya pencegahan ialah memutuskan mata rantai hubungan antara asfiksia
hipoksia, iskemia usus, & kerusakan mukosa usus. Selain 1tu ada beberapa faktor yg bisa
encegah NEC, & yg amat utama ialah memberikan ASI kepada si neonatus. Ini dikarenakan
kandungan ASI tersebut sangat membantu proses penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Betz, C. Lynn & Suwden, L.A. 2004. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Caplan, Michael S; Jilling, Tamas. The pathophysiology of necrotizing enterocolitis
Carpenito, Linda Juall. 1998. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Doengus, E. Marilynn et al.2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Hinchliff,Sue.1999. Kamus Keperawatan. Jakarta: EGC
http://id.scribd.com/doc/54426675/ASUHAN-KEPERAWATAN-Necrotizingdiakses tanggal 08
April 2014
http://mechamechakawaine.blogspot.com/2011/04/patofisiologi-necrotizingenterocolitis.htmldiunduh 11 April 2014
http://www.emedicie.medscape.com/artikel/977956 diakses tanggal 09April 2014
http://www.scibd.com/doc/41128509/enterokolitisakses tangga 09April 2014
Kitterman. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph Isi 1. Jakarta: EGC