Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL

PEMETAAN GEOLOGI
DESA BANJARPANEPEN DAN SEKITARNYA
KECAMATAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS
PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :

DIMAS ANGGARA
133610356
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal pemetaan geologi Desa
Banjarpanepen dan sekitarnya Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas
Provinsi Jawa Tengah.
Penyusunan proposal penelitian ini dimaksudkan untuk memenuhi salah
satu persyaratan kurikulum pada Jurusan Teknik Geologi Universitas Islam Riau,
Pekanbaru.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini, masih banyak
kekurangan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan penulis. oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca yang sifatnya membangun.
Pekanbaru, Januari 2016
Penulis

DIMAS ANGGARA

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang......................................................................................4
1.2 Batasan Masalah...................................................................................5
1.3 Rumusan Masalah................................................................................5
1.4 Maksud & Tujuan.................................................................................5
1.5 Manfaat Penelitian................................................................................6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Geomorfologi.......................................................................7


2.2 Kondisi Geologi....................................................................................8
2.3 Kondisi Stratigrafi................................................................................10
2.4 Kondisi Struktur Geologi.....................................................................10
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian..................................................................................12
3.2 Metodologi Penelitian...........................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata pelajaran Pemetaan Geologi merupakan salah satu mata pelajaran
wajib yang harus diambil oleh mahasiswa Teknik Geologi Universitas
Trisakti. Melalui mata pelajaran Pemetaan Geologi diharapkan mahasiswa
Teknik Geologi Universitas Trisakti dapat memahami betul tata cara kegiatan
lapangan seorang geologi dalam membuat Peta Geologi.
Pada persiapannya menjadi seorang ahli geologi, pelaksana harus
mengetahui dasar-dasar apa saja yang menjadi landsan pembuatan Peta
Geologi. Para ahli Geologi dalam melaksanakan tugasnya, hamper selalu
berhadapan dengan msalah-masalah lapangan. Oleh karena itu, kemahiran
untuk bekerja di lapangan merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai
sepenuhnya oleh mereka yang berniat untuk menjadi ahli geologi.

Berdasarkan atas sifatnya, geologi merupakan ilmu yang sifat dasarnya


adalah pengamatan (observation science). Sifat ini mengharuskan untuk
mengembangkan kemampuan obeservasi, yang sangat diperlukan untuk
memperoleh data yang lengkap dan menyeluruh, sehingga dapat dilakukan
penafsiran yang logis.
Latihan melakukan observasi harus dimulai sejak tingkat awal dari
proses pendidikan. Meskipun ada pelaksanaan praktikum di laboratorium,
peragaan yang ada umumnya menunjukan keadaan yang ideal atau mudah
dimengerti, namun sangat berbeda bila dilihat di alam. Oleh karena itu,
Pemetaan Geologi ini menjadi langkah awal pelaksana menjadi seorang ahli
geologi dalam menafsirkan kenampakan alam dalam pemahaman yang telah
dipelajari dala bangku perkuliahan.

1.2 Batasan Masalah


Pada kegiatan Pemetaan Geologi masalah yang di amati yaitu kondisi
daerah pemetaan geologi meliputi pengamatan Geomorfologi, Geologi
Struktur, Sedimentologi, Statigrafi, Mineralogi, dan Petrologi. Dari
pengamatan ini diharapkan pelaksana dapat memahami sejarah geologi
daerah pemetaan serta memberi hasil berupa manfaat serta kerugian dari
geologi untuk daerah pengamatan.
1.3 Rumusan Masalah
Permasalahan geologi daerah Pemetaan Geologi ini dirumuskan dalam
pendekatan aspek geologi meliputi penentuan titik pengataman, pengamatan
singkapan, pengambilan sampel, Tectonic Section, pengukuran struktur
bidang dan garis serta analisa laboratorium. Melalui data tersebut pelaksana
diharapkan dapat membantu mengatasi batasan masalah.
1.4 Maksud dan Tujuan
Maksud kegiatan Pemetaan

Geologi yaitu

untuk memenuhi

syarat

mendapatkan gelar sarjana, dimana para mahasiswa harus dapat melakukan


Kuliah/Kerja Lapangan yaitu Kuliah Lapangan (KL) dan Pemetaan Geologi yang
tercantum dalam kurikulum pendidikan S-1 Program Studi Teknik Geologi Fakultas
Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti.
Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk menyusun sejarah geologi daerah
pemetaan, dan menjelaskan potensi geologi, terutama yang berkaitan dengan sumber
daya alam dan bencana alam di daerah pemetaan. mengetahui kondisi suatu daerah
dengan melihat aspek stratigrafi, geomorfologi, struktur geologi dimana nantinya
dapat untuk membuat perencanaan survey geologi dan menghasilkan peta geologi
yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademik dan melakukan penelitian
lebih lanjut guna mempelajari proses geologi yang terjadi serta hasil dari proses
tersebut.

1.5 Manfaat Penelitian


Pemetaan Geologi yang dilakukan ini diharapkan memberi manfaat
berupa data tertulis geologi dan data fisik Geologi daerah diamati. Meliputi
daerah rawan bencana, potensi sumber daya serta kegunaan lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Geomorfologi

Gambar 2.1: Lokasi Daerah Kegiatan

Gambar 2.2: Peta Kontur Daerah Kegiatan Desa


Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh,
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Kondisi Geomorfologi Daerah Pemetaan Geologi ini berada di Desa


Banjarpanepen dan sekitarnya, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas
Provinsi Jawa Tengah. Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis
daerah Jawa Tengah dibagi menjadi 6 zona fisiografi, yaitu : Daratan Aluvial
Jawa Utara, Deperesi Jawa Tengah, Antiklinorium Bogor Serayu Utara
Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pengunungan Serayu Selatan dan
Pengunungan Selatan Jawa. Berdasarkan proses geologi bekerja termasuk ke
bentukan bentang alam asal endogen dan satuan geomorfologinya yaitu yang
bentuk asal struktural (A. Handaya dan Hindartan, 1992).
2.2 Kondisi Geologi

Gambar 2.3: Peta Geologi Daerah Kegiatan

Secara fisiografis, daerah Jawa Tengah oleh van Bemmelen, (1949)


dibagi menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: Dataran Aluvial Jawa Utara,
Gunungapi Kuarte, Antiklinorium Bogor Serayu Utara Kendeng, Depresi
Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan Jawa
(Gambar 2.1).
- Dataran Aluvial Jawa Utara, mempunyai lebar maksimum 40 km
kearah selatan. Semakin kea rah timur, lebarnya menyempit hingga
-

20 km.
Gunungapi Kuarter di Jawa Tengah antara lain G. Slamet, G.
Dieng, G. Sundoro, G. Sumbing, G. Ungaran, G. Merapi, G.

Merbabu dan G Muria.


Zona Serayu Utara memiliki lebar 30-50 km. Di selatan tegal, zona
ini tertutupi oleh produk gunungapi kwarter dari G. Slamet. Di
bagian tengah ditutupi okeh produk volkanik kwarter G.
Rogojembangan, G. Ungaran dan G. Dieng. Zona ini menerus ke
Jawa Barat menjadi Zona Bogor dengan antara keduannya terletak
di sekitar Prupuk, Bumiayu hingga Ajibarang, persis di sebelah
barat G. Slamet, sedangkan kea rah timur membentuk Zoa
Kendeng. Zona Antiklinorium Bogor terletak di selatan Dataran
Aluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan Neogen yang
8

terlipat kuat dan terintrusi. Zona kendeng meliputi daerah yang


terbatasantara Gunung Ungaran hingga daerah sekitar Purwodadi
dengan singkapan batuan tertua berumur Oligosen-Miosen Bawah
-

yang diwakili oleh Formasi Pelang.


Zona Depresi Jawa Tengah menempati bagian tengah hingga
selatan. Sebagian merupakan dataran pantai dengan lebar 10-25
km. morfologi panati ini mencakup kontras dengan pantai selatan

Jawa Barat dan Jawa Timur yang relative lebih terjal.


Pegunungan Selatan Jawa memamnjang di sepanjang pantai pantai
selatan Jawa membentuk morfologi pantai yang terjal. Namun di

Jawa Tengah, zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah.


Pegunungan Serayu Selatan terletak di antara Zona Depresi Jawa
Tengah yang membentuk kubah dan pegunungan. Di bagian barat
dari Pegunungan Serayu Selatan yang berarah barat-timur dicirikan
oleh bentuk anticlinorium yang berakhir di timur pada suatu
singkapan batuan tertua terbesar di Pulau Jawa, yaitu daerah Luk

Ulo, Kebumen.
Berdasarkan pembagian zona ini, daerah kegiatan Pemetaan Geologi
termasuk kedalam Pegunungan Serayu Selatan yang terletak di antara Zona
Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah dan Pegunungan.

2.3 Kondisi Statigrafi


Kondisi stratigrafi yang dipergunakan adalah stratigrafi regional yang
mengacu kepada (S. Asikin, A. Handoyo, B. Pristhisto, dan S. Gafoer 1992).
Statigrafi daerah pengamatan Banyumas menunjukkan bahwa runtunan
formasi batuan dari yang tertua hingga termuda, uraian selengkapnya
formasi-formasi tersebut, yaitu:
Formasi Penosogan
Formasi Penosogan terutama terdiri oleh perselingan
lapisan napal, tuff, batu pasir, batu lempung, dan kalkarenit,
berdasarkan distribusi besar butir, kandungan karbonat, jumlah
material tuffaan dan struktur

sedimen yang berasosiasi

dengannya dapat dikenal adanya tiga bagian dari formasi ini.

Batuan-batuan itu, umumnya di endapkan di lingkunag turbit

atas.
Formasi Halang
Formasi haling terutama tersusun oleh tuff berbutir halus
yang berselingan dengan napal. Dalam formasi ini juga
ditemukan lapisan-lapisan breksi volkanik yang berbutir kasar,
formasi haling dicirikan dengan kelimpahannya akan struktur
nebdat,

sebagian

diantaranya

berukuran

raksasa,

yang

mengindiksaikan bahwa formasi ini diendapkan dalam cekungan


yang menurun secara cepat dan dibatasi oleh berbagai jenis
sesar atau sesar tumbuh. Bidang-bidang erosi yang khas dengan
jelas tampak pada kontak antara breksi volkanik dengan batuan
lain yang berbutir lebih halus, hal mana mengindentifikasikan
bahwa breksi tersebut merupakan endapan channel dalam suatu
kipas bawah laut.
2.4 Kondisi Struktur Geologi
Pulau Jawa secara tektonik dipengaruhi oleh dua lempeng besar, yaitu
Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Indo-Australia dibagian
selatan. Pergerakan dinamis dari lempeng-lempeng ini menghasilkan
perubahan tatanan tektonik Jawa dari waktu ke waktu. Secara berurutan,
rejim tektonik Jawa mengalami perubahan yang dimulai dengan kompresi,
kemudian mengalami regangan dan kembali mengalami kompresi.
Pulunggono dan Martodjojo (1994) menjelaskan bahwa tektonik
kompresi terjadi pada Kapur Akhir-Eosen (80-52 juta tahun yang lalu), yang
diakibatkan oleh penunjaman berarah timurlaut-baratdaya dari Lempeng
Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Tektonik regangan terjadi pada
Kala Eosen-Oligosen Akhir akibat dari berkurangnya kecepatan gerak
Lempeng Indo-Australia. Tektonik Kompresi kembali terjadi pada kala
Oligosen-Miosen Awal, akibat terbentuknya jalur penunjaman baru di selatan
Jawa. Pada Eosen Akhir-Miosen Awal pusat kegiatan magma berada di
Pegunungan Serayu Selatan, Bayat, dan Parangtritis. Kegiatan magma yang
lebih muda yang berumur Miosen Akhir-Pliosen bergeser ke utara dengan
dijumpai singkapan batuan volkanik di daerah Karangkobar, Banjarnegara

10

(Asikin, 1992). Pada kala Miosen Tengah-Pliosen Awal, posisi tektonik


Cekungan Serayu Utara merupakan bagian dari cekungan belakang busur
(Kartanegara dkk., 1987).

BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

11

Gambar 3.1: Lokasi Daerah Kegiatan

Lokasi

penelitian

Pemetaan

Geologi

berada

di

daerah

Desa

Banjarpanepen, Desa Bogangin dan Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh,


Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis daerah
penelitian terletak pada: 07 32' 10.5"- 07 34' 53.5" LS dan 109 20' 55.9"109 24' 12.4" BT. Luas daerah kegiatan adalah 30 km 2 dengan ukuran 6 km
x 5 km.

3.2 Metedologi Penelitian


Pada kegiatan Pemetaan Geologi ini, Metedologi penelitian yang digunakan
yaitu 1) Tahap persiapan dan studi pustaka, 2) Tahap pengumpulan data primer
atau tahap Pemetaan Geologi, 3) Tahap analisa data dan 4) Tahap penyusunan
laporan dan kolokium.
3.2.1 Tahap persiapan dan studi pustaka
Tahap persiapan dan studi pustaka dilakukan untuk menunjang tahap
pengumpulan data primer atau tahap pemetaan. Tahap persiapan dan studi pustaka
berupa pengumpulan informasi yang dibutuhkan dalam mencari referensireferensi yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan. Mulai dari

12

membaca literatur yang berhubungan dengan daerah kegiatan, penentuan tempat


bermukim, penentuan lintas yang akan dilewati nantinya serta persiapan fisik.
3.2.2 Tahap pengumpulan data primer atau tahap pemetaan geologi
Tahap pengumpulan data primer atau Tahap pemetaan Geologi merupakan
inti dari kegiatan yang akan dilakukan di daerah kegiatan. Pada tahap ini kegiatan
yang dilakukan berupa pengumpulan data-data lapangan

dengan pendekatan

rumusamn masalah dan nantinya dapat memberikan hasil yang diharapkan untuk
menjawab batasan masalah.
3.2.3 Tahap analisa data
Tahap analisa data merupakan tahap lanjutan setelah Tahap pengumpulan
data primer telah dilakukan. Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap sampel
batuan, fosil, mikrofosi dan analisa struktur yang diambil saat pengumpulan data
primer. Analisa batuan dan fosil dilakukan dengan menggunakan mikroskop
analisis. Hasil dari pengataman dibawah mikroskop nantinya dapat memberi data
yang lebih akurat untuk mendukung data primer yang telah dikumpulkan.
3.2.3 Tahap penyusunan laporan dan kolokium
Setelah melakukan tahap analisa data selanjutnya dilakukan tahap
penyusunan laporan. Tahap ini merupakan tahap penulisan hasil data yang
diperoleh dilapangan serta analisa data yang telah dilakukan di laboratorium .
Penulisan data yang didapatkan berupa laporan geologi, nantinya setelah selesai
melakukan laporan geologi dilanjutkan dengan kegiatan kolokium

13