Anda di halaman 1dari 27

PROPOSAL PENELITIAN

EKSPLORASI BATUAN ANDESIT

OLEH:
NAMA

: PUJA FRANSISMIK CRENSONNI

NPM

: 133610470

MATA KULIAH

: METODOLOGI PENELITIAN

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal kerja praktek ini yang rencana
pengambilan data dilakukan di Kabupaten Baru Provinsi Sulawesi Selatan
Penyusunan proposal penelitian ini dimaksudkan untuk memenuhi salah
satu persyaratan kurikulum pada Jurusan Teknik Geologi Universitas Islam Riau,
Pekanbaru.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini, masih banyak
kekurangan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan penulis. oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
yang sifatnya membangun.

Pekanbaru, Januari 2016

Penulis

PUJA FRANSISMIK C
DAFTAR ISI
2

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.........................................................................................2
1.2 Maksud & Tujuan....................................................................................3
1.3 Metode Yang Diapakai............................................................................3
1.4 Jadwal Kegiatan Penelitian......................................................................4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lokasi Dan Kesampaian Daerah.............................................................5
2.2 Topografi................................................................................................ 6
2.3 Geologi Regional Donggal......................................................................6

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Geolistik................................................................................................16
3.2 Andesit..................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di beberapa daerah di Kabupaten Donggala, diperoleh informasi terdapatnya
endapan batuan andesit. Sehubungan dengan hal ini maka perlu dilakukan
penyelidikan mengenai penyebaran batuan andesit. Dengan adanya kegiatan
penyelidikan ini diharapkan akan terlihat sejauh mana penyebaran andesit yang
berada di bawah lapisan tanah yang terdapat di kabupaten Donggala agar di masa
mendatang data ini bisa mendukung kegiatan penambangan.
Metode geolistrik merupakan metode yang menginjeksi arus listrik kedalam
bumi kemudian sifar-sifat listriknya diamati di permukaan bumi, arus listrik
diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus. Kemudian beda potensial
yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan
beda potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan
variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur. Kedalaman
maksimum yang dapat dicapai dengan metode geolistrik tahanan jenis antara 100
meter sampai 300 meter, Oleh sebab itu metode ini lebih banyak dipakai untuk
kepentingan geologi terutama pencarian potensi lapisan penyebaran endapan bijih
mangan, tapi bisa juga digunakan untuk penyelidikan dangkal seperti penyelidikan
geologi

teknik,

misalnya

menentukan

kondisi

struktur

bawah

tanah,

mengidentifikasikan intrusi air laut, menentukan gowa bawah permukaan dan


sebagainya. Panjang maksimal bentangan arus yang diinjeksikan, serta konfigurasi

antara elektroda potensial dan elektroda arus disesuaikan dengan kebutuhan dalam
penyelidikan tersebut, yaitu obyek yang akan diidentifikasi.
1.2

Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah :

1.

Untuk mencari dan mengetahui penyebaran lapisan batuan andesit yaitu letak
dan kedalamannya.

2.
1.3

Mengetahui lithologi/stratigrafi batuan di lokasi penyelidikan


Metode Yang Dipakai
Geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu metode dalam eksplorasi bijih

mangan, pada metode geolistrik tahanan jenis dikenal berbagai macam konfigurasi
elektroda, diantaranya yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Konfigurasi
Wenner Schlumberger.
Dalam konfigurasi Wenner Schlumberger, jarak spasi elektroda arusnya (AB),
jauh lebih besar dari pada jarak spasi elektroda potensialnya (MN), adapun sebagai
acuannya adalah jarak MN 1/5 AB.
Konfigurasi Wenner Schlumberger biasanya diterapkan untuk pengukuran
sounding, yaitu mengetahui variasi tahanan jenis bawah permukaan secara vertikal.
Untuk keperluan sounding.
Hal ini disebabkan karena pada metoda Wenner Schlumberger yang dilakukan
hanya memperpanjang jarak spasi arusnya saja dalam rangka untuk mengetahui
tahanan jenis lapisan yang lebih dalam, sedangkan untuk beda potensial hanya
5

dilakukan beberapa perpindahan saja.Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis
menggunakan konfigurasi Wenner Schlumberger.

1.4 Jadwal Kegiatan Penelitian


No Jenis Kegiatan
1
2
3
4
5

Minggu
1 2 3

10 11 12

Studi Literatur
Observasi
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Pembuatan Laporan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH
Secara geografis kecamatan ini berada pada posisi 03834 - 04933 dan
1194824 - 1194225 BT, dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut:
6

Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Toli - toli;


Sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan;
Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong; dan,
Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar
Daerah penyelidikan dalam wilayah administrasi Desa Pattappa Kecamatan
Pujananting. Lokasi daerah penelitian dapat ditempuh dengan menggunakan
kendaraan roda empat ataupun roda dua dengan waktu sekitar 1 jam dari kota
Barru.

Gambar 2.1. Peta Daerah Penyelidikan


2.2 TOPOGRAFI
Berdasarkan Kemiringan lahan, dataran Sulawesi Tengah dirinci sebagai berikut:
- Kemiringan 0 - 3 derajat sekitar 11,8 persen;
- Kemiringan 3 - 15 derajat sekitar 8,9 persen;
- Kemiringan 15 - 40 derajat sekitar 19,9 persen;
- Kemiringan di atas 40 derajat sekitar 59,9 persen.
Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), dataran wilayah Sulawesi
Tengah terbagi atas:
- Ketinggian 0 m 100 m = 20,2 persen;
- Ketinggian 101 m 500 m = 27,2 persen;
- Ketinggian 501 m 1.000 m = 26,7 persen, dan
- Ketinggian 1.001 m ke atas = 25,9 persen.
2.3 GEOLOGI REGIONAL DONGGAL
2.3.1 GEOMORFOLOGI REGIONAL
Struktur dan Karakteristik geologi wilayah Sulawesi Tengah didominasi oleh
bentangan pegunungan dan dataran tinggi, yakni mulai dari wilayah Kabupaten Buol
dan Tolitoli, terdapat deretan pegunungan yang berangkai ke jajaran pegunungan di
Provinsi Sulawesi Utara. Di tengah wilayah Sulawesi Tengah yaitu Kabupaten
Donggala dan Parigi Moutong terdapat tanah genting yang diapit oleh Selat Makassar
dan Teluk Tomini, selain itu sebagian besar merupakan daerah pegunungan dan
perbukitan. Di selatan dan timur yang mencakup wilayah Kabupaten Poso, Tojo
Unauna, Morowali dan Banggai, berjejer deretan pegunungan yang sangat rapat
seperti Pegunungan Tokolekayu, Verbeek, Tineba, Pampangeo, Fennema, Balingara,
dan Batui. Sebagian besar dari daerah pegunungan itu mempunyai lereng yang terjal
dengan kemiringan di atas 45 derajat.

Proses Geomorfologi merupakan perubahan yang dialami oleh permukaan bumi


baik secara fisik secara fisik maupun kimia (THORNBURY 1954) penyebab dari
proses perubahan tersebut dapat dibagi atas 2 golongan yaitu :
1.
Tenaga Eksogen Tenaga ini bersifat merusak,dapat berupa angina,suhu,dan
air.Dengan adanya tenaga Eksogen dapat terjadi proses denudasi berupa
erosi,pelapukan,dan degradasi.
2. Tenaga Endogen. Tenaga ini cenderung membangun, dapat berupa gempa, gayagayapembentuk struktur dan vulkanisme akibat adanya gaya endongen maka dapat
terbentuk struktur gunung api dan agradasi.
Dengan adanya tenaga-tenaga tersebut diatas maka terbentuknya bentang alam
dengan kenampakan yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tenaga yang
mempengaruhi pembentukannya.
Geologi regional daerah penyelidikan diambil dari beberapa referensi diantaranya:
Menurut Bemmelen (1949) bahwa di daerah Sulawesi bagian tengah dijumpai 3 buah
struktur utama berarah utara-selatan. Daerah ini dapat dipisahkan kedalam 3 zona.

Zona timur dikenal Kolonodale zoneditandai oleh batuan beku basa dan
ultrabasa (ophiolit), batu gamping berumur Mesozoikum dan rijang yang

kaya radiolaria.
Zona Poso dicirikan oleh batuan malihan (metamorfik) jenis skis kaya mineral

muskovit.
Zona barat tersingkap batuan granodiorit masif, skis kristalin yang kaya
mineral biotit,

batuan vulkanik berumur Tersier, tufa berumur Plio-Plistosen dan endapan aluvium.
Menurut T.O. Simanjuntak dkk (1973), fisiografi daerah Palu terdiri dari pematang

timur dan pematang barat. Keduanya berarah utara - selatan dan dipisahkan oleh
Lembah Palu (Fossa Sarasina). Pematang barat di dekat Palu hingga lebih dari 2000
m tingginya, tetapi di Donggala menurun hingga mukalaut. Pematang timur dengan
tinggi puncak dari 400 - 1900 m dan menghubungkan pegunungan di Sulawesi
Tengah dengan lengan utara. Struktur daerah ini didominasi oleh lajur sesar Palu yang
berarah utara baratlaut. Bentuknya sekarang menyerupai terban yang dibatasi oleh
sesar-sesar aktif, diantaranya bermataair panas di sepanjang kenampakannya pada
permukaan. Sesar-sesar dan kelurusan lainnya yang setengah sejajar dengan arah lajur
Palu terdapat di pematang timur. Banyak sesar dan kelurusan lainnya yang kurang
penting lebih kurang tegak lurus pada arah ini, sebagaimana terlihat di seluruh
daerah. Sesar naik berkemiringan ke timur dalam kompleks batuan metamorf dan
dalam Formasi Tinombo menunjukkan akan sifat pemampatan pada beberapa sesar
yang lebih tua. Sesar termuda yang tercatat terjadi pada tahun 1968 di dekat Tambo,
timbul setelah ada gempabumi, berupa sesar normal berarah barat laut yang
permukaan tanahnya turun 5 m.
Pada bagian yang menurun, daerah pantai seluas kira-kira 5 kmmasuk ke dalam
laut. Batuan tertua di daerah yang dipetakan adalah metamorf (Kompleks Batuan
Metamorf) dan tersingkap hanya pada pematang timur yang merupakan intinya.
Kompleks itu terdiri dan sekis amfibiolit, sekis, genes dan pualam. Sekis terdapat
banyak di sisi barat, sedangkan genes dan pualam terdapat banyak di sisi timur.
Tubuh-tubuh intrusi tak terpetakan, umumnya selebar kurang dan 50 m, menerobos
kompleks batuan metamorf dengan batuan diorit hingga granodiorit. Umur diketahui
10

tetapi boleh jadipra - Tersier. Bouwer (1947, h.9) berpendapat, bahwa sekis yang
tersingkap di seantero Sulawesi sebagian berumur Paleozoikum.
Rangkaian Formasi Tinombo Ahlburg (1913) seperti yang dipakai oleh Brouwer
(1934) tersingkap luas baik di pematang timur maupun barat. Batuan ini menindih
Kompleks Batuan Metamorf secara tidak selaras. Di dalamnya terkandung rombakan
yang berasal dan batuan metamorf. Endapan ini terutama terdiri dari serpih, batupasir,
konglomerat, batugamping radiolaria dan batuan gunungapi yang diendapkan di
dalam lingkungan laut. Di dekat intrusi terdapat sabak dan batuan terkersikkan dan
lebih dekat pada persentuhan terbentuk filit dan kuarsit. Bagian barat pematang barat
mengandung lebih banyak batupasir rijang dari padadi tempat lain. Diabas, spilit dan
andesit di selatan Donggala dan di selatan Kasimbar dipetakan dengan endapan itu.
Rombakan batuan gunungapi biasa terdapat di dalam batupasirnya. Batugamping
diamati hanya sebagai lapis - lapis tipis dalam rangkaian sedimen tersebut. Kadar
(Dit. Geol) mengenali Discocyclina sp., Nummulites sp., Alveolina sp., Miliolidae,
Asterocyclina sp., Assilina sp., Operculina sp., Globorotaloid, Globigerin dan
ganggang gampingan yang menunjukkan umur Eosen. Pekerjaan oleh Socal
(Standard Oil Company of California) Batuanbatuan itu serupa dengan Formasi
Tinombo yang menyerupai flysch yang telah diperikan oleh Bouwer (1934), kira kira 55 km sebelah timur laut Labuanbajo. Intrusi-intrusi kecil Pemaparan Hasil
Kegiatan Lapangan Subdit Panas Bumi 2005

22-3yang diuraikan di atas juga

menerobos endapan ini. Batuan Molasa Celebes Sarasin dan Sarasin (1901) terdapat
pada ketinggian lebih rendah pada sisi - sisi kedua pematang, menindih secara tidak
11

selaras Formasi Tinombo dan Kompleks Batuan Metamorf. Molasa ini mengandung
rombakan yang berasal dari formasi-formasi lebih tua dan terdiri dari konglomerat,
batupasir, batulumpur, batugamping-koral serta napal yang semuanya hanya
mengeras lemah. Didekat Kompleks Batuan Metamorf pada bagian barat pematang
timur endapan itu terutama terdiri dari bongkah - bongkah kasar dan agaknya
diendapkan didekat sesar. Batuan-batuan itu ke arah laut beralih - alih jadi batuan
klastika berbutir lebih halus. Di dekat Donggala sebelah utara Enu dan sebelah barat
Labea batuannya terutama terdiri dari batugamping dan napal dan mengandung
Operculina sp., Cycloclypeus sp., Rotalia sp., Orbulina universa, Amphistegina sp.,
Miliolidae, Globigerina, foraminiferapasiran, ganggang gampingan, pelesipoda dan
gastoproda. Sebuah contoh dari tenggara Laebagoselain fosil - fosil tersebut juga
mengandung Miogypsina sp. dan Lepidocyclina sp, yang menunjukkan umur Miosen
(Kadar, Dit. Geol). Foram tambahan yang dikenali oleh Socal meliputi Planorbulina
sp., Solenomeris sp., Textularia sp., Acervulina sp., Spiroclypeus? sp., Reussella sp.,
Lethoporella, Lithophyllum dan Amphiroa. Socal mengirakan bahwa fauna - fauna
tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah dan pengendapan di dalam laut dangkal.
Pada kedua sisi Teluk Palu dan kemungkinan juga di tempat lain endapan sungai
Kuarter juga dimasukkan ke dalam satuan ini. Aluvium dan Endapan pantai terdiri
dari kerikil, pasir, lumpur dan batugamping koral terbentuk dalam lingkungan sungai,
delta dan laut dangkal merupakan sedimen termuda di daerah ini. Endapan itu boleh
jadi seluruhnya berumur Holosen. Di daerah dekat Labean dan Ombo terumbu koral
membentuk bukit-bukit rendah. Telah diamati telah terjadi beberapa generasi intrusi.
12

Yang tertua ialah intrusi andesit dan basalt kecil-kecil di semenanjung Donggala.
Intrusi-intrusi mi mungkin adalah saluran - saluran batuan vulkanik di dalam Formasi
Tinombo. Formasi Tinombo sendiri menindih kompleks batuan metamorf secara tidak
selaras. Di dalamnya terkandung rombakan yang berasal dari batuan metamorf.
Endapan itu terutama terdiri dari serpih, batupasir, konglomerat, batugamping
radiolaria dan batuan gunungapi yang diendapkan di lingkungan laut. Intrusi-intrusi
kecil selebar kurang dari 50 m yang umumnya terdiri dari diorit, porfiri diorit,
mikrodiorit dan granodiorit menerobos Formasi Tinombo, yakni sebelum endapan
molasa dan tersebar luas di seluruh daerah. Semuanya tak terpetakan. Granit dan
granodionit yang telah dipetakan tercirikan oleh fenokris felspar kalium sepanjang
hingga 8 cm. Penanggalan Kalium/Argon telah dilakukan oleh Gulf Oil
Companyterhadap dua contoh granodiorit di daerah ini. Intrusi yang tersingkap di
antara Palu dan Donggala memberikan penanggalan 31 juta tahun pada analisis K/An
dari felspar. Yang lainnya adalah suatu intrusi yang tidak dipetakan, terletak kira-kira
15 km timurlaut dari Donggala, tersingkap di bawah koral Kuanter, memberikan
penanggalan 8,6 juta tahun pada analisa K dari biotit.
2.3.2 STRATIGRAFI REGIONAL
Pulau Sulawesi terbentuk pada sepanjang zona tumbukan Neogen antara
Lempeng Benua Eurasia dan mikrokontinen dari Lempeng Australia-Hindia. Daerah
penyelidikan merupakan bagian leher dan lengan Utara Sulawesi, terletak di bagian

13

Timur Kraton Sunda yang merupakan inti dari pada lempeng Eurasia bagian Tenggara
yang mengalami pengangkatan kuat.
Satuan batuan yang tertua di daerah penyelidikan adalah Komplek Batuan
Malihan, terdiri dari sekis amfibolit, sekis genes, kuarsit dan pualam, diperkirakan
berumur Kapur. Pada beberapa tempat terdapat intrusi-intrusi kecil diorit, granodiorit
mengandung urat kuarsa yang kadang-kadang berpirit.
Formasi Tinombo menindih tidak selaras Komplek Batuan Malihan, terbentuk
dalam lingkungan laut dalam, berumur Oligosen hingga Miosen Awal. Formasi ini
merupakan perselingan antara batuan gunungapi (lava basalt, andesit, breksi) dengan
batuan sedimen (batupasir wake, batupasir, batugamping, rijang) dan batuan malihan.
Komplek Batuan Malihan ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Latimojong,
berumur Kapur-Paleosen, terbentuk pada lingkungan laut dalam. Formasi ini pada
umumnya termalihkan lemah, terdiri dari perselingan batusabak, filit, grewake,
batupasir kuarsa, batugamping, argilit dan batulanau dengan sisipan konglomerat,
rijang dan batuan gunungapi.
Batuan Gunungapi Lamasi yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf, batupasir
tufaan dan napal, berumur Oligosen-Miosen Awal menindih tidak selaras Formasi
Latimojong.
Batuan Gunungapi yang terdiri dari lava andesit horblenda, lava basalt, lava latit
kuarsa dan breksi yang juga berumur Oligosen-Miosen Awal.
Batuan Gunungapi Tineba dan Tuf Rampi. Batuan Gunungapi Tineba berumur
Miosen Tengah-Akhir, terdiri dari lava andesit hornblenda, lava basalt, lava latit
14

kuarsa dan breksi. Tuf Rampi umumnya batuan tufaan yang sudah terubah dan
berlapis baik yang terdiri dari tuf hablur, batupasir tufan dan tuf abu.
Satuan Batuan Sedimen Miosen, berupa lingkungan pengendapan delta, terdiri
dari batupasir kuarsa sampai litos, batulumpur, sedikit konglomerat, setempat lignit
dan batubara, batugamping koral ; di bagian atas lava, tufa, aglomerat,breksi
gunungapi bersusun asam sampai basa, kayu terkersikan.
Batuan intrusi juga berumur Miosen terdiri dari granit, diorit granodiorit dan
sienit, setempat mengalami ubahan terkersikan. Masih banyak terdapat intrusi-intrusi
kecil yang tak terpetakan terdiri dari andesit, basalt, diorit, diorit porfir dan
mikrodiorit. Mineralisasi di daerah penelitian diperkirakan berhubungan erat dengan
terobosan batuan ini.
Molasa Sulawesi Sarasin dan Sarasin, terdiri dari konglomerat, batupasir,
batulempung, batugamping koral dan napal, semuanya mengeras lemah, menindih
secara tidak selaras Formasi Tinombo dan komplek batuan malihan berumur Miosen
Akhir hingga Pliosen. Di bagian Selatan daerah penelitian formasi ini disebut
Formasi Lariang, terdapat sebagian kecil di daerah penelitian, penyebaran terbesar
berada di luar daerah penelitian.
Batuan Gunungapi andesitan, terdiri dari andesitan dasitan, breksi gunungapi,
aglomerat, tufa lapilli (batuapung), lava (andesit dasit), berumur Pliosen.
Batuan berumur Miosen-Plistosen menutupi tidak selaras batuan yang berada di
bawahnya terdiri dari Formasi Pasangkayu, Formasi Puna dan Formasi Napu.
Formasi Pasangkayu terdapat dalam lingkungan pengendapan laut dangkal hingga
15

agak dalam, terdiri dari perselingan batugamping dan batulempung, setempat


bersisipan konglomerat dan batugamping. Formasi Puna, berupa pengendapan laut
dangkal, terdiri dari batupasir, konglomerat, batulanau, serpih, batulempung
gampingan dan batu gamping. Formasi Napu, terdiri dari batupasir, konglomerat,
batulanau dengan sisipan lempung dan gambut, berada dalam lingkungan
pengendapan laut dangkal sampai payau.
Sedimen Plistosen, terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lempung hitam, sisipan
batupasir tufaan dan napal.
Batuan berumur Plistosen-Holosen terdiri dari Formasi Pakuli, batu gamping
koral, dan endapan danau. Formasi Pakuli terdiri dari konglomerat dan batupasir,
setempat batu lempung karbonatan, merupakan endapan darat pada lereng
pegunungan yang berbentuk kipas dan teras sungai. Batugamping koral terdiri dari
batugamping koral dan breksi koral dengan cangkang moluska dan napal, terdapat
pada lingkungan laut dangkal. Endapan danau terdiri dari pasir, lempung dan kerikil,
sebagian mengeras, terdapat pada cekungan-cekungan terpisah di atas dataran tinggi
daerah Sulawesi Tengah. Alluvium merupakan endapan termuda, berumur Holosen,
terdiri dari lempung, pasir, kerikil dan setempat-setempat terumbu koral, merupakan
endapan sungai, pantai dan rawa.

16

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Geolistik
Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang didasarkan pada

penerapan konsep kelistrikan pada masalah kebumian. Tujuannya adalah untuk


memperkirakan sifat kelistrikan medium atau formasi batuan bawah permukaan
terutama

kemampuaannya

untuk

menghantarkan

atau

menghambat

listrik

(konduktivitas atau resistivitas).


Aliran listrik pada suatu formasi batuan terjadi terutama karena adanya fluida
elektrolit pada pori-pori atau rekahan batuan. Oleh karena itu resistivitas suatu

17

formasi batuan tegantunga pada porositas batuan serta jenis fluida pengisi pori-pori
batuan tersebut. Batuan porous yang berisi air atau air asin tentu lebih konduktif
(resistivitasnya rendah) disbanding batuan yang sama yang pori-porinya hanya berisi
udara (kosong).
Temperature tinggi hanya akan menurunkan resistivitas batuan secara
keseluruhan karena meningkatkan mobilitas ion-ion penghantar muatan listrik pada
fluida yang bersifat elektrolit.

3.1.1. Rumus Dasar Listrik


Dalam metode geolistrik ini digunakan definisi-definisi :
Resistansi :

V
(ohm)
I

(pers. 3.1)

Resistivitas :

E
(m)
J

(pers. 3.2)

Konduktivitas :

1
(m)-1

(pers. 3.3)

Dengan:

V = potensial listrik (volt)


I = kuat arus (ampere)
E = medan listrik (N/C)

18

J = rapat arus listrik (A/m2)


Untuk sebuah silinder konduktor dengan resistivitas , panjang L dan luas
penampang A, maka hambatannya adalah:
R

L
(ohm)
A

(pers. 3.4)

Gambar 3.1. Penampang silinder konduktor

3.1.2 Sifat Kelistrikan Batuan


Aliran arus listrik didalam batuan atau mineral dapat digolongkan menjadi
tiga macam, yaitu konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik dan
konduksi secara dielektrik. Konduksi elektronik terjadi jika batuan atau mineral
mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan
tersebut oleh elektron-elektron bebas. Konduksi elektrolitik terjadi jika batuan atau
mineral bersifat porus dan pori-pori tersebut terisi oleh cairan-cairan elektrolitik. Pada
konduksi ini arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit. Sedang konduksi dielektrik
terjadi jika batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik yatiu
terjadi polarisasi saat bahan dialiri arus listrik.
19

Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan/mineral digolongkan menjadi


tiga macam, yaitu: konduktor baik (10-8 < < 1) m, konduktor pertengahan (1 <
< 107) m, dan isolator ( > 107) m.
3.1.3 Aliran Listrik dalam Bumi
Pembahasan mengenai aliran listrik di dalam bumi didasarkan pada asumsi
bahwa bumi merupakan medium homogen isotropik. Disini akan kita amati potensial
listrik disekitar titik arus di dalam bumi dan di permukaan bumi.
Tinjau suatu medium homogen isotropis. Jika medium tersebut dialiri arus
listrik searah I (karena diberi medan listrik E), maka elemen arus I yang melalui
elemen luas A dengan kerapatan arus J adalah :
I j A

Menurut hukum Ohm :

arus

yang

J E

mengalir

(V 0
J

maka

.................................. (pers. 3.5)


dan

V
E

, jika didalam medium tidak ada

J.dA J dV 0
S

sehingga

yang dikenal sebagai hukum kekekalan muatan atau dapat

ditulis menjadi 2 V 0 yang merupakan persamaan Laplace.


Dalam koordinat bola operator Laplacian berbentuk :
2V

1 2 V
1

V
1
2V
r

sin

0 (pers.
r

r 2 r
r 2 sin
r 2 sin 2 2

3.6)

20

Dengan asumsi bumi bersifat homogen isotropis, maka persamaan tersebut

dapat disederhanakan menjadi :

2V
2 V

0
2
r r
r

..
(pers. 3.7)

Sehingga penyelesaian dari persamaan Laplace ini adalah :


V(r)

C1
C2 .
r

.. (pers. 3.8)

Dengan C1 dan C2 konstanta sembarang. Nilai kedua konstanta tersebut ditentukan


dengan menerapkan syarat batas yang harus dipenuhi potensial V(r) yaitu pada r =

(jarak yang sangat jauh), V() = 0 sehingga C2 = 0 dan V(r)

C1
.
r

3.1.4 Distribusi Arus Listrik


A. Titik Arus di dalam Bumi
Arus listrik keluar secara radial dari titik arus dengan jumlah arus yang keluar
melalui permukaan bola dengan jari-jari r adalah :

J
I 4 r 2 r

2
atau I 4 r

V
4 C1
r

(pers. 3.9)

21

Sehingga
C1

I
I
V
, V(r) 4 r dan 4 r
(pers.3.10)
4
I

B. Titik arus di permukaan bumi


Untuk titik arus di permukaan maka besarnya arus I adalah sama dengan luas

setengah bola yaitu 2 r 2 sehingga :

V(r)

I
2 r

atau

2 r

V
.
I

(pers.3.11)

C. Dua titik arus yang berlawanan polaritasnya di permukaan bumi.


Beda potensial yang terjadi antara elektroda MN yang diakibatkan oleh injeksi
arus pada elektroda AB adalah :
V VM VN

I 1
1
1
1

2 AM BM
AN BN

1
1
1
1
2



AN BN
AM BM

atau

dengan

V
I

atau

V
I

................................................ (pers. 3.12)

1
1
1
1
K 2



AM
BM
AN
BN

yang merupakan koreksi konfigurasi elektroda potensial dan arus.


3.1.5 Konfigurasi Pengambilan Data
22

A. kongfigurasu elektroda Wenner-Schlumberger


Untuk konfigurasi wener-Schlumberger, pemasangan elektrodanya adalah :

Gambar 3.2
Gambar Metode Wenner-Schlumberger
Sehingga

S K S

dengan

KS

V
I

L2 l 2
2l

........ (pers. 3.13)

Berikut Gambar yang menunjukkan harga Tahanan Jenis (Resistivitas) dari Batuan,
Mineral dan Air dalam bumi (Gambar 2.3

Tabel 2.1
Harga Tahanan Jenis Dari Lapisan (Takeda K., 1985)
Lapisan
Air permukaan
Air tanah

(Ohm meter)
80-200
30-100
23

Aluvium-Diluvium
a. silt-lempung
b. pasir
c. pasir dan kerikil
Neo tersier
a. batu lumpur
b. batu pasir
c. konglomerat
d. tufa
Kelompok andesit
Kelompok granit
Kelompok hert,slate

10-200
100-600
100-1000
20-200
50-500
100-500
20-200
100-2000
1000-2000
200-2000

Tabel 2.2 Tahanan Jenis beberapa batuan, Mineral dan Air dalam Bumi (Loke, 2004)

24

3.2. ANDESIT
3.2.1. Proses Terbentuknya Andesit
Batuan andesit terbentuk dari batuan lelehan diorit karena terbentuknya oleh
lelehan diorit maka komposisi mineralnya seperti diorit. nama batuan anesit dikambil
dari nama pegunungn andes karena batuan ini banyak ditemukan dipegunungan
andes.
Andesit adalah abu-abu untuk batu vulkanik yang hitam dengan antara sekitar
52 dan berat 63 persen silika (SiO2). Andesites khas untuk kubah lava dan
stratovolcano.Andesit adalah batuan beku, gunung berapi, menengah komposisi,
mengandung

antara

sekitar

52

dan

berat

63%

silika

(SiO2).

Andesites berisi kristal yang terdiri terutama dari plagioclase feldspar dan satu atau
lebih dari piroksen mineral (clinopyroxene dan orthopyroxene) dan jumlah
hornblende. Di ujung bawah kisaran silika, andesit lava mungkin juga mengandung
olivin. Andesit magma sering meletus dari stratovolcano sebagai aliran lava tebal,
beberapa mencapai beberapa km panjang. Andesit magma juga dapat menghasilkan
letusan kuat untuk membentuk piroklastik dan lonjakan dan kolom letusan besar.
Andesites meletus pada suhu antara 900 dan 1100 C.
Andesit dapat dianggap sebagai ekuivalen ekstrusi diorite plutonik. Andesites
ini merupakan karakteristik dari subduksi tektonik lingkungan di margin Samudera
yang aktif, seperti pantai barat Amerika Selatan. Nama andesit berasal dari
Pegunungan Andes.

25

Andesit adalah batu yang khas di Semenanjung gunung berapi Methana dan di
pulau Nisyros. Kebanyakan kubah lava di Methana terdiri dari batu andesit. Menarik
adalah fenomena magma pencampuran-yang dianggap kekuatan pendorong dalam
banyak letusan di mana lava andesit relatif dingin terlibat: juga campur tangan dalam
seperti kamar magma memanaskan reaksi magma dan kimia mengaktifkan seperti
magma. Hasil mungkin sebuah kubah lava seperti Merapi (Indonesia) atau
Montserrat.

DAFTAR PUSTAKA
Flate H, Interpretation of Geotechnical Resistivity Measurement for Solving
Geological Problem. Proceedings Mining and Groundwater Geophysics, Ottawa,
Canada, 1967.
Heshmatbehzadi K., Shababpour J., 2010, Metalogeny of Manganese &
Ferromanganese Ore in Baft Ophiolitic Melange, Kerman- Iran,Australian Journal of
Basic and Applied Sciences, 4(2): 302-313.
Karyanto, & Dzakwan A. 2005. Pelatihan aplikasi metode geolistrik tahanan
jenis untuk pencarian air tanah di kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung
Selatan, Pengabdian masyarakat program IPTEKS, Jurusan Fisika Universitas
Lampung
Mac Donald, Great Yogyakarta Eksplortion of Groundwater, 1984.
Ngadimin & Handayani G. 2001. Aplikasi metode geolistrik. JMS, 6 (1): 43
53
Rustadi & Zaenudin A. 2003. Penerapan metode geolistrik tahanan jenis,
Laporan Penelitian Dosen Muda, Jurusan Fisika Universitas Lampung
Wells, E.H., 1918, Manganese in New Mexico, Bulletin no 2, The New

26

Mexico State School of Mines,Mineral Resources Survey, Saccoro, New Mexico, 85


pages.
Zubaidah T, Kanata B, & Arumdat I N. 2005. Pemanfaatan metode Geolistrik
untuk penentuan sumber anomali geomagnet di kota Mataram NTB. J Teknologi, 3:
230-237
Zubaidah T, Kanata, B. 2008. Pemodelan Fisika Aplikasi Metode Geolistrik
Konfigurasi Wenner Schlumberger Untuk Investigasi Keberadaan Air Tanah. J
Teknik Elektro, 7 (1): 20-24

27