Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ALAM PERASAAN : DEPRESI

A. Pengertian Depresi
Depresi adalah perasaan sedih yang bessifat psikopatologis , yang disertai dengan
perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, keadaan mudah lelah walaupun
hanya bekerja sedikit saja yang disebabkan oleh berkurangnya energy dan berkurangnya
aktivitas (Tarigan, 2003; Untari, 2005).
B. Klasifikasi Depresi
Gangguan depresi terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
1. Gangguan depresi mayor
Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu makan
dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi, perasaan
bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya 2 minggu
(Kaplan, et al, 2010).
2. Gangguan dysthmic
Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejalagejala dysthmia
berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih.
Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi mayor, tetapi
individu dengan gangguan ini masi dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya
(National Institute of Mental Health, 2010).
3. Gangguan depresi minor
Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi mayor dan
dysthmia, tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau berlangsung lebih singkat
(National Institute of Mental Health, 2010).
4. Gangguan depresi psikotik
Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala, seperti: halusinasi
dan delusi (National Institute of Mental Health, 2010).
5. Gangguan depresi musiman
Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan menghilang pada
musi semi dan musim panas (National Institute of Mental Health, 2010).
C. Tanda dan Gejala Depresi
1. Gejala emosi

ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk menikmati kesenangan,


kehilangan minat, kegiatan, hobi yang biasa dikerjakan, tampak sedih, pesimis, tidak
ada rasa percaya diri, merasa tidak berharga, perasaan cemas yang berlebihan, merasa
bersalah yang tidak realistis, dan berhalusinasi (Teter et al.,2007).
2. Gejala fisik
yang biasa muncul adalah kelelahan, nyeri ( terutama sakit kepala ), gangguan
tidur ( sulit tidur, terbangun di malam hari), ganguan nafsu makan, keluhan pada
sistem pencernaan, keluhan pada sistem kardiovaskular (terutama palpitasi) dan
hilangnya gairah seksual (Teter et al.,2007)
3. Gejala intelektual atau kognitif,
meliputi: penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi, ingatan yang lemah
terhadap kejadian yang baru terjadi, kebingungan dan ketidakyakinan. Gejala
psikomotorik yang biasanya muncul yaitu, retardasi psikomotorik ( perlambatan
gerakan fisik, proses berpikir, dan bicara) atau agitasi psikomotor ( Sukandar dkk.,
2008).
D. Etiologi Depresi (Davidson dan Naela, 2001 dalam Fausiah dan Widury 2005)
1. Psikologi
Potensi depresi ditimbulkan sejak masa kanak kanak. Proses terjadinya
depresi berawal setelah anak kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai karena
meninggal, perpisahan atau penarikan afeksi. Kemudian anak menggabungkan orang
yang hilang tersebut , dan mengidentifikasi diri denganya . Pada periode ini diikuti
dengan fase berduka , anak akan mengingat kenangan dari orang yang hilang
tersebut , dan menganggap bahwa orang tersebut telah meninggalkan dan melepaskan
ikatannya dengan anak tersebut.

Periode berduka ini akan menjadi periode

berkrlanjutan untuk menyiksa diri, menyalahkan diri, dan berakhir pada kondisi
depresi.

2. Sudut pandang kognitif


Menurut sudut pandang kognitif , terdapat empat pendekatan untuk menjelasakn
tentang depresi yaitu :
a. Teori depresi Beck

Menurut teori ini depresi terjadi karena pemikiran

yang terinterpretasi

negative terhadap diri sendiri. Misalnya merasa pesimis terhadap diri sendiri ,
dunia dan masa depan. Keyakinan negative ini disebabkan oleh peristiwaperistiwa hidup yang negative , seperti pendapat bahwa individu harus
menjadi sempurna.
b. Teori Learned Helplessness
Menurut teori ini depresi terjadi karena peristiwa yang menyakitkan yang
dialami oleh individu dan tidak dapat dikontrol. Peristiwa yang menyakitka
tersebut disebabkan karena adanya pengalaman hidupa yang tidak
menyenangkan dan tarauma yang tidak dapat dikontrol oleh individu. Dan
kondisi ini dapat menyebabkan ketidakberdayyaan dan memicu terjadinya
depresi.
c. Teori atribusi
Teori ini menyebutkan bahwa orang akan mengalami depresi karena individu
bercerita tentang semua peristiwa negative atau tentang semua kegagalan dan
menimbulkan perasaan tidak berdaya, sehingga menyebabkan individu tidak
mempunyai respon yang memungkinkan untuk mengatasi masalah yang ada.
d. Teori hopelesessness
Menurut teori ini depresi terjadi karena individu mengalami peristiwa yang
meyakitkan, kemudian individu merasa tidak ada harapan dan tidak ada
respon untuk mengatasi situasi yang terjadi.

Individu merasa tidak akan

mendapatkan hasil yang uingin dicapainya. Maka terjadilah depresi


E. Komplikasi Depresi
Bila dibiarkan tidak diobati, penyakit depresi bisa menimbulkan berbagai komplikasi
seperti (Tirto Jiwa, 2012)
1. Kecanduan alkohol
2. Kecanduan narkoba
3. Anxiety (kecemasan)
4. Maslah di kantor atau di sekolah
5. Konflik keluarga
6. Kesulitan bergaul
7. Isolasi social
8. Bunuh diri
9. Menganiaya diri sendiri
10. Mati muda karena penyakit lain
F. Patofisiologi Depresi

Depresi dan gangguan mood melibatkan berbagai faktor yang saling


mempengaruhi. Konsisten dengan model diatesis-stres, depresi dapat merefleksikan
antara faktor-faktor biologis (seperti faktor genetis, ketidakteraturan neurotransmitter,
atau abnormalitas otak), faktor psikologis (seperti distorsi kognitif atau ketidakberdayaan
yang dipelajari), serta stressor sosial dan lingkungan (sepreti perceraian atau kehilangan
pekerjaan).
Faktor Potensial Pelindung
Sumber sumber daya Coping Dukungan sosial Diatesis (+) Faktor Resiko
Kerentanan psikologis Kerentanan biologis Gambar 2.1.5. Model diatesis-stres dari
depresi (Nevid et al, 2005).

G. Penatalaksanaan Depresi
1. Pengobatan secara psikologikal
a. Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited yang
berfokus pada penanganan struktur mental seorang pasien. Struktur mental
tersebut terdiri ; cognitive triad, cognitive schemas, dan cognitive errors (C.
Daley, 2001).
b. Terapi Perilaku
Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan
gangguan depresi dengan cara membantu pasien untuk mengubah cara pikir
dalam berinteraksi denga lingkungan sekitar dan orang-orang sekitar. Terapi
perilaku dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, sekitar 12 minggu (Reus,
V.I., 2004).
c. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan
interpersonal seorang individu, yang dapat memicu terjadinya gangguan mood
(Barnett & Gotlib, 1998: Coyne, 1976). Terapi ini berfungsi untuk mengetahui
stressor pada pasien yang mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling
bekerja sama untuk menangani masalah interpersonal tersebut (Barlow, 1995).
Universitas

2. Secara Farmakologis
a. Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati kondisi serius yang
dikarenakan depresi berat. Kadar NT (nontransmiter) terutama NE (norepinefrin)
dan serotonin dalam otak sangat berpengaruh terhadap depresi dan gangguan SSP.
Rendahnya kadar NE dan serotonin di dalam otak inilah yang menyebabkan
gangguan depresi, dan apabila kadarnya terlalu tinggi menyebabkan mania. Oleh
karena itu antidepresan adalah obat yang mampu meningkatkan kadar NE dan
serotonin di dalam otak ( Prayitno,2008 ).
b. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor adalah obat antidepresan yang
mekanisme kerjanya menghambat pengambilan serotonin yang telah disekresikan
dalam sinap (gap antar neuron), sehingga kadar serotonin dalam otak meningkat.
Peningkatan kadar serotonin dalam sinap diyakini bermanfaat sebagai
antidepresan (Prayitno, 2008).
Obat antidepresan yang termasuk dalam golongan SSRI seperti
Citalopram, Escitalopram, Fluoxetine, Fluvoxamine, Paroxetine, dan Sertraline
(Teter et al.,2007). Efek samping yang ditimbulkan Antidepresan SSRI yaitu
gejala gastrointestinal ( mual, muntah, dan diare), disfungsi sexsual pada pria dan
wanita, pusing, dan gangguan tidur. Efek samping ini hanya bersifat sementara
(Teter et al., 2007).
c. Antidepresan trisiklik (TCA)
Antidepresan trisiklik (TCA) merupakan antidepresan yang mekanisme
kerjanya menghambat pengambilan kembali amin biogenik seperti norepinerin
(NE), Serotonin ( 5 HT) dan dopamin didalam otak, karena menghambat
ambilan kembali neurotransmitter yang tidak selektif,sehingga menyebabkan efek
samping yang besar ( Prayitno, 2008). Efek samping yang sering ditimbulkan
TCA yaitu efek 9 kolinergik seperti mulut kering, sembelit, penglihatan kabur,
pusing, takikardi, ingatan menurun, dan retensi urin. Obat obat yang termasuk
golongan TCA antara lain Amitripilin, Clomipramine, Doxepin, Imipramine,
Desipiramine, Nortriptyline (Teter et al., 2007).
d. Serotonin /Norepinephrin Reuptake Inhibitor (SNRI)
Antidepresan golongan Serotonin /Norepinephrin Reuptake Inhibitor
(SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok monoamin dengan lebih selektif daripada
antidepresan trisiklik, serta tidak menimbulkan efek yang tidak ditimbulkan

antidepresan trisiklik ( Mann, 2005). Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu
Venlafaxine dan Duloxetine. Efek samping yang biasa muncul pada obat
Venlafaxine yaitu mual, disfungsi sexual. Efek samping yang muncul dari
Duloxetine yaitu mual, mulut kering, konstipasi, dan insomnia (Teter et al., 2007).
e. Terapi Elektrokonvulsan
Terapi ini merupakan terapi yang paling kontroversial dari pengobatan
biologis. ECT bekerja dengan aktivitas listrik yang akan dialirkan pada otak.
Elektroda-elektroda metal akan ditempelkan pada bagian kepala, dan diberikan
tegangan sekitar 70 sampai 130 volt dan dialirkan pada otak sekitarsatu setengah
menit. ECT paling sering digunakan pada pasien dengan gangguan depresi yang
tidak dapat sembuh dengan obat-obatan, dan ECT ini mengobati gangguan depresi
sekitar 50%-60% individu yang mengalami gangguan depresi (Reus, V.I., 2004).

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan
Perilaku

Psikiatri Klinis. Jilid Satu. Editor : Dr. I. Made Wiguna S. Jakarta : Bina Rupa

Aksara : 113-129, 149-183 Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., 2010. Sinopsis
Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Dua. Editor : Dr. I. Made
Wiguna S. Jakarta : Bina Rupa Aksara .
National Institute of Mental Health, 2010, Depression and College Students, NIMH,
Jiwa, Tirto. 2012. Depresi : Panduan bagi Pasien, Keluarga, dan Teman Dekat. Jawa Tengah :
Tirto Jiwo .
Prayitno dan Amti, Erman. 2008. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.