Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Penyakit tanaman adalah gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh
mikroorganisme (virus, bakteri, protozoa, jamur, cacing nematoda). Penyakit
tanaman adalah suatu rangkaian proses fisiologis yang merugikan disebabkan oleh
rangsangan terus menerus pada tanaman oleh suatu penyebab primer. Hal ini
ditunjukkan lewat aktivitas sel sakit dan dinyatakan dalam keadaan morfologi dan
histologi yang disebut gejala.
Akibat serangan penyakit, tanaman menjadi tidak produktif sehingga dapat
menyebabkan gagal panen. Selain itu dampak lain dari serangan penyakit pada
tanaman adalah a) terganggunya proses fotosintesis tanaman. Hal ini terjadi
karena terjadinya kerusakan pada bagain penampang daun akibat penyakit.
Sehingga daun tidak dapat meyerap sinar matahari secara maksimal. Penyakit
yang menyerang daun antara lain karat daun oleh cendawan Phachyrizi
phakospora, penyakit bercak bakteri oleh Xanthomonas phaseoli, dan virus
mozaik yang menyerang daun muda dan tunas muda; b) terganggunya proses
absorbsi unsur hara dan mineral tanah menyebabkan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman menjadi terganggu. Penyakit ini biasanya menyerang
bagian akar tanaman seperti penyakit jamur akar merah, putih pada tanaman karet.
Penyakit ini juga menyebabkan tanaman menjadi layu dan mati akibat kekurangan
asupan nutrisi; serta c) penurunan nilai ekonomis seperti terjadi busuk, polong
yang tidak berisi pada tanaman legum dan lain-lain. Dengan dampak ini akan
semakin mempersulit kehidupan para petani.
Manfaat dalam mempelajari mengenal gejala penyakit pada tanaman adalah
dapat membedakan lebih jelas gejala atau ciri-ciri penyakit yang disebabkan oleh
cendawan, bakteri dan virus serta dapat diketahui cara yang tepat untuk
mengendalikan penyakit tersebut.

I.2. Tujuan Praktikum


Tujuan dari pelaksanaan Praktikum dengan materi Mengenal Gejala
Penyakit Tumbuhan adalah:
a. Agar mahasiswa dapat mengenal dan membedakan gejala penyakit tanaman.
b. Agar mahasiswa mengetahui penyebab penyakit berdasarkan gejala dan tanda
yang diamati khususnya yang disebabkan cendawan, bakteri dan virus.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Penyakit Tumbuhan dan Konsep Timbulnya Penyakit


Penyakit tumbuhan adalah gangguan pada tumbuhan/tanaman yang
disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, protozoa, jamur, cacing
nematoda). Penyakit tanaman adalah suatu rangkaian proses fisiologis yang
merugikan disebabkan oleh rangsangan terus menerus pada tanaman oleh suatu
penyebab primer. Hal ini ditunjukkan lewat aktivitas sel sakit dan dinyatakan
dalam keadaan morfologi dan histologi yang disebut gejala (Djaya, 2014).
Konsep timbulnya penyakit ada tiga (3) yaitu segitiga penyakit, segiempat
penyakit, dan limas penyakit. Segitiga penyakit (tanaman, patogen, serta
lingkungan) yaitu jika lingkungan mendukung tmbuhnya pest maka keberadaan
pest akan merugikan tumbuhan. Agar muncul penyakit pada tanaman, maka
ketiga faktor tersebut harus memenuhi syarat berupa tanaman harus peka,
penyebab penyakit harus ganas, dan lingkungan mendukung. Segiempat penyakit
(tanaman, patogen, lingkungan, serta manusia) yaitu konsep penyakit dimana
manusia juga berperan mencegah timbulnya mendukung lingkungan untuk
perkembangan patogen atau bahkan malah sebalik manusia secara tak sadar
mendukung lingkungan untuk berkembangnya patogen. Akibatnya tertuju pada
tumbuhan yang hidup pada lingkungan tersebut. Limas penyakit (tanaman,
patogen, lingkungan, manusia, serta waktu) yaitu konsep penyakit dengan
pertambahan faktor waktu. Waktu berpengaruh pada lingkungan tumbuhan
sebagai tempat tumbuh patogen. Waktu yang dimanfaatkan oleh manusia
contohnya dengan memperhitungkan waktu tanam yang tepat sehingga

menghindari

patogen

jamur

saat

musim

penghujan

(Debo,

2013).

Gambar 1. Segitiga

Gambar 2. Segi empat

Gambar 3. Limas

Penyakit

Penyakit

Penyakit

Sumber: Santi,2014

Sumber: Santi,2014

Sumber: Santi,2014

II.2. Gejala Penyakit Tumbuhan


Berdasarkan

bentuknya

gejala

penyakit

tanaman

dibagi

menjadi

gejala morfologi dan gejala histologi. Gejala morfologi adalah gejala luar
yang dapat dilihat dan dapat diketahui melalui bau, rasa dan raba. Biasanya gejala
morfologi dapat ditunjukkan oleh dapat ditunjukkan oleh seluruh tanaman atau
tiap organ dari dari tanaman. Gejala histologi adalah gejala yang hanya dapat
diketahui lewat pemeriksaan pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang sakit
jaringan yang sakit. Gejala histologi dapat dibedakan menjadi 3 tipe gejala yaitu
nekrosis, hipoplasia dan hiperplasia. Gejala nekrotik terjadi karena adanya
kerusakan pada sel atau bagian sel bahkan kematian sel. Gejala nekrotik dibagi
menjadi sepuluh (10) yaitu a) Nekrosis atau matinya bagian tanaman, sekumpulan
sel yang terbatas dalam jaringan tertentu mati dan pada alat tanaman terlihat
adanya bercak-bercak atau bintik-bintik hitam. Contoh nekrosis/leaf streak pada
padi akibat Xanthomonas compestris pv oryzae.; b) Hidrosis disebabkan karena
air sel keluar dari ruang sel masuk kedalam ruang sela-sela sel, bagian ini akan
tampak kebasah-basahan. Contohnya daun kedelai yang diserang bakteri
Pseudomonas syringae p.v. glycinea; c) Klorosis, yaitu rusaknya kloroplas yang
menyebabkan menguningnya bagian-bagian yang lazimnya berwarna hijau.

Contohnya tanaman yang kekurangan unsur hara seperti magnesium, nitrogen,


kalsium, kalium, phospor dan sulfur; d) Layu, yaitu gejala sekunder yang
disebabkan karena adanya gangguan dalam berkas pengangkutan atau adanya
kerusakan pada susunan akar yang menyebabkan tidak seimbangnya penguapan
dengan pengangkutan air. Contohnya tanaman tomat diserang cendawan
Fusarium oxysporum dan tanaman tomat yang diserang bakteri Pseudomonas sp.;
e) Gosong atau scorch yang sering disebut terbakar adalah mati dan mengeringnya
bagian tanaman tertentu hampir sama dengan gejala nekrosis. Contohnya tanaman
yang mengalami kekeringan, suhu terlalu tinggi atau senyawa-senyawa kimia
beracun; f) Mati ujung, biasanya terjadi pada ranting atau cabang yang dimulai
dari ujungnya baru meluas kepangkal. Contohnya tanaman jeruk diserang
cendawan Collethotrichum sp.; g) Busuk yang disebabkan karena rusaknya sel-sel
atau jaringan-jaringan. Busuk terbagi menjadi dua yaitu busuk basah dan busuk
kering. Busuk basah biasanya disertai bau yang tidak enak atau cairan-cairan yang
kental biasanya terjadi pada bagian tanaman yang berdaging. Contohnya umbi
wortel yang diserang bakteri Erwinia carotovora. Busuk kering biasanya jarang
berbau. Contohnya batang kedelai diserang jamur Sclerotium rolfsii; h) Rebah
semai jamur yang biasanya menyerang adalah jenis Rhizoctonia, Sclerotium,
Fusarium,

Phytium,

Phytophthora dan

menyebabkan

batang

membusuk

atau tanaman rebah; i) Kanker, gejala ini lazimnya terjadi pada bagian-bagian
yang berkayu pada batang, ranting ataupun akar. Contohnya kanker kulit batang
pada tanaman duku; j) Pendarahan atau eksudasi, gejala ini biasanya ditunjukkan
dengan adanya cairan-cairan yang keluar bagian tanaman. Contohnya batang jeruk
diserang cendawan Diplodia natalensis, busuk akar dan busuk batang. Gejala
hipoblastik adalah gejala yang disebabkan karena terhambat atau terhentinya
pertumbuhan sel, gejala ini terbagi menjadi lima (5) yaitu a) Kerdil atau tumbuh
terhambat, yaitu terhambatnya pertumbuhan bagian-bagian tanaman sehingga
ukurannya lebih kecil daripada biasanya. Contohnya tanaman padi diserang virus
tungro; b) Klorosis, yaitu rusaknya kloroplas menyebabkan menguningnya
bagian-bagian yang lazimnya berwarna hijau. Contohnya daun tembakau diserang
virus mosaik (TMV) dan gejala penyakit CVPD pada jeruk; c) Etiolasi, gejala ini

ditunjukkan dengan tanaman yang menjadi pucat, tumbuh memanjang dan


mempunyai daun-daun yang sempit. Contohnya tanaman kekurangan cahaya
matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuningkuningan (etiolasi); d) Perubahan simetri, contohnya batang tebu yang diserang
cendawan Fusarium moniliforme var. subglutinans; e) Roset terjadi perubahan
ruas menjadi pendek sehingga buku-buku saling bersinggungan sehingga
membentuk roset. Gejala hiperplastik ini disebabkan karena adanya pertumbuhan
sel yang lebih dari biasanya (overdevelopment). Gejala hiperplastik terbagi
menjadi sepuluh (10) yaitu a) Menggulung (leaf roll) atau mengeriting (curling),
disebabkan karena pertumbuhan yang tidak seimbang dari bagian-bagian daun.
Contohnya pada tanaman padi yang sedang kana apabila tanaman terkena virus
dan penyakit dapat kita lihat pada tanaman cabai; b) Rontok, peristiwa ini
dianggap sebagai gejala penyakit jika terjadi sebelum waktunya (premature) dan
dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Contohnya rontoknya daun,
bunga, atau buah yangterjadi sebelum waktunya; c) Perubahan warna yang bukan
klorosis misalnya daun yang sakit berubah warna menjadi kengu-unguan karena
membentuk antosianin; d) Erinosa yaitu terbentuknya banyak trichomata yang
luar biasa; e) Fasiasi, contohnya buah timun yang terjadi pembengkokan pada
buah; f) Intumesensia, contohnya buah apel yang membengkak seperti bisul,
dibentuk pada tanaman yang hidup; g) Prolepsis (tunas air), contohnya tanaman
jambu getas sering terjadi tunas air; h) Sapu (witches broom), contohnya terjadi
pembentukan ranting yang seharusnya ranting itu tidak berbentuk; i) Sesidia
(tumor), contohnya pada tanaman rambutan sering terjadi pembengkakan dan
ditandai dengan adanya serangan hama kutu kebul yang menghisap cairan pada
buah rambutan sehingga terjadi pembengkakan; j) pembentukan alat yang luar
biasa seperti antolisis dan enasi (Tim Penyusun Jurusan HPT, 2007).
II.3. Penggolongan Penyakit Tumbuhan
Penyakit tumbuhan terbagi atas dua (2) golongan, yaitu penyakit biotik dan
abiotik. Penyakit biotik adalah penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh penyakit
infeksius bukan binatang dan dapat menular dari tumbuhan satu ke tumbuhan

yang lain. Patogen biotik meliputi jamur, bakteri, virus, nematoda, tumbuhan
tingkat tinggi parasitik, serta mikoplasma (Hasna, 2013).
Penyakit abiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh penyakit non
infeksi/penyakit yang tidak dapat ditularkan dari tumbuhan satu ke tumbuhan
yang lain. Patogen penyakit abiotik meliputi suhu tinggi, suhu rendah, kadar
oksigen yang tidak sesuai, kelembaban udara yang tidak sesuai, keracunan
mineral, kekurangan mineral, senyawa kimia alamiah beracun, senyawa kimia
pestisida, polutan udara beracun, serta hujan es dan angin (Hasna, 2013).

III.1.

III.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu

Pelaksanaan praktikum Dasar Perlindungan Tanaman dengan materi


Mengenal Gejala Penyakit Tumbuhan dilaksanakan di Laboratorium Budidaya
Pertanian, Fakultas Pertanian, Prodi Agroteknologi pada hari Selasa, 28 April
2015 pukul 09.00 10.40 WIB.
III.2.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada saat praktikum Mengenal Gejala Penyakit


Tumbuhan antara lain jagung (Zea mays), wortel (Daucus carota L), tebu
(Saccharum officinarum), cabai (Capsicum annum L), umbi jalar (Ipomeae
batatas), terong pipit (Solanum torvum), tomat (Solanum lycopersicum), dan sawo
(Archas zapota L). Sedangkan alat yang digunakan yaitu alat tulis, kertas, kamera,
mikroskop, dan lup atau kaca pembesar.
III.3.

Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam pengenalan gejala penyakit tumbuhan yaitu :

a. Mengamati gejala penyakit kemudian menggambarkan, menyebutkan ciri-ciri


atau penampakan fisiologis dari gejala tersebut.
b. Mengamati secara mikroskop penyebab penyakit dengan berdasarkan tanda
yang tampak dan menggambar serta menyebutkan bagian-bagiannya.
c. Membuat herbarium dengan berdasarkan gejala spesifik dari penyakit
tumbuhan.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Jagung (Zea mays)

Gambar 4. Bentuk Makroskopis

Gambar 5. Bentuk Mikroskopis

Jagung (Zea mays)

Jagung (Zea mays)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Cals, 2001

Bagian yang diamati pada jagung (Zea mays) adalah daun dan batang.
Gejala yang diamati adalah daun berwarna hijau kekuningan dan batang pendek.
Tipe gejala penyakit ini termasuk hipoplastis dengan nama penyakit kerdil (atropi)
yang disebabkan oleh virus.
Pengendalian penyakit dengan melakukan sanitasi lahan, mencabut tanaman
yang terserang penyakit kerdil dengan mengunakan tangan ataupun alat alat
pertanian, kemudiana hasil cabutan dibakar dan hasil bakaran dibenamkan di
tanah.
4.2.2. Wortel (Daucus carota L)

Gambar 6. Bentuk Makroskopis

Gambar 7. Bentuk Mikroskopis

Wortel (Daucus carota L)

Wortel (Daucus carota L)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2014

Bagian yang diamati pada wortel (Daucus carota L) adalah buah wortel.
Gejala yang diamati adalah buah membusuk dan berair atau mengandung cairan.

Tipe gejala penyakit ini termasuk nekrosis dengan nama penyakit busuk basah
yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotavora.
Pengendalian yang dapat mencegah dari perkembangbiakan serangan
bakteri terhadap penyakit busuk basah wortel adalah a) Sanitasi, dengan menjaga
kebersihan area tanaman dari sisa-sisa tanaman yang sakit sebelum penanaman; b)
Melakukan penanaman dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat untuk
menghindari kelembaban yang tinggi, terutama pada musim hujan; c)
Menghindari pelukaan pada tanaman saat pemeliharaan; d) Pengendalian untuk
pasca panen dapat dilakukan dengan mencuci wortel dengan air yang
mengandung chlorine atau dapat menggunakan boraks, mengurangi terjadinya
luka pada waktu penyimpanan dan pengangkutan, menyimpan dalam ruangan
yang cukup kering dengan ventilasi yang sesuai atau cukup, sejuk dan
difumigasinya sebelumnya.
4.2.3. Tebu (Saccharum officinarum)

Gambar 8. Bentuk Makroskopis

Gambar 9. Bentuk Mikroskopis

Tebu (Saccharum officinarum)

Tebu (Saccharum officinarum)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2014

Bagian yang diamati pada tebu (Saccharum officinarum) adalah daun.


Gejala yang diamati adalah bercak dengan warna cokelat sampai hitam, biasanya
muncul kecil-kecil dan cendawan tidak meluas tetapi bertambah banyak. Tipe
gejala penyakit ini termasuk nekrosis dengan nama penyakit spot yang disebabkan
oleh cendawan Arthernaria porri.
Penyakit bercak daun cendawan Arthernaria porri dapat dikendalikan
secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa
digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau

tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah
klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk
pada kemasan.
4.2.4. Cabai (Capsicum annum L)

Gambar 10. Bentuk Makroskopis

Gambar 11. Bentuk Mikroskopis

Cabai (Capsicum annum L)

Cabai (Capsicum annum L)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2014

Bagian yang diamati pada cabai (Capsicum annum L) adalah buahnya.


Gejala yang diamati adalah buahnya busuk kering berwarna hitam kecokelatan.
Tipe gejala penyakit ini termasuk nekrosis dengan nama penyakit busuk yang
disebabkan oleh jamur/cendawan Colletotrichum capsici.
Pengendalian busuk basah dapat dilakukan dengan perlakuan sebagai
berikut: a) Pengendalian dengan cara benih yang akan disemai direndam terlebih
dahulu dengan air hangat (sekitar 55 oC) selama 30 menit atau perlakuan dengan
fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) dicampur
dengan DI Grow Green sebanyak 10 ml sebelum ditanam atau menggunakan agen
hayati dan dapat juga dicampur fungisida berbahan aktif tofanat, tebukanazol,
Thiram atau benomil selama 4 jam; b) Mengatur jarak tanam untuk musim
kemarau lebih rapat (50 cm x 70 cm), musim penghujan lebih lebar (60 cm x 70
cm).

Semua

dimusnahkan;

cabai

yang

terserang

dipanen

setiap

hari

kemudian

c) Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu

diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh


(sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh
tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga
kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat;

d) Pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae
(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya; e) Penggunaan fungisida
fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah
dan terutama saat curah hujan cukup tinggi. Fungisida diberikan secara bergilir
untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang
menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya;
f) Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam
perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun atau
tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi; g) Penyemprotan rutin pupuk
organik cair DI Grow Green dengan dosis 3 cc/liter air dengan interval semprot 10
hari atau bisa juga disemprotkan bersamaan dengan penyemprotan fungisida; h)
Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan; i) Tindakan akhir
Penanggulangan busuk basah cabai menggunakan fungisida Kasumin, Dithane
M-45, Difolatan, Phycosan, Daconil, Topsin, Delsen dan Antracol. Serta
pengendelian penyakit busuk basah pada buah cabai dapat menggunakan jenis
fungisida yang berbahan aktif tembaga hidroksida dan fungisida yang berbahan
aktif deveconazol.
4.2.5. Umbi jalar (Ipomeae batatas)

Gambar 12. Bentuk Makroskopis

Gambar 13. Bentuk Mikroskopis

Umbi jalar (Ipomeae batatas)

Umbi jalar (Ipomeae batatas)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2015

Bagian yang diamati pada umbi jalar (Ipomeae batatas) adalah umbinya.
Gejala yang diamati adalah umbi mengalami bercak-bercak/lubang-lubang kecil
pada spot tertentu dan terdapat bercak kering seperti kudis. Tipe gejala penyakit
ini termasuk hiperplastis dengan nama penyakit kudis (scab) yang disebabkan
oleh bakteri Streptomycetes scabies.

Pengendalian yang dilakukan dengan memperbaiki aerase tanah dan


pemusnahan bagian tanaman yang terserang.
4.2.6. Terong pipit (Solanum torvum)

Gambar 14. Bentuk Makroskopis

Gambar 15. Bentuk Mikroskopis

Terong pipit (Solanum torvum)

Terong pipit (Solanum torvum)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2015

Bagian yang diamati pada terong pipit (Solanum torvum) adalah daun.
Gejala yang diamati adalah daun menguning yang semula berwarna hijau serta
tepi daun berwarna kuning. Tipe gejala penyakit ini termasuk nekrosis dengan
nama penyakit klorosis yang disebabkan oleh virus.
Pengendalian yang dapat dilakukan dengan cara memberantas gulma
khususnya yang termasuk famili terung-terungan, menangani semai-semai dengan
hati-hati sebelumnya dicuci dengan sabun atau deterjen dan tanaman yang
bergejala segera dicabut.
4.2.7. Tomat (Solanum lycopersicum)

Gambar 16. Bentuk Makroskopis

Gambar 17. Bentuk Mikroskopis

Tomat (Solanum lycopersicum)

Tomat (Solanum lycopersicum)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2013

Bagian yang diamati pada tomat (Solanum lycopersicum) adalah daun.


Gejala yang diamati adalah bagian daun berombak dan berbentuk seperti kerupuk.
Tipe gejala penyakit ini termasuk hiperplastis dengan nama penyakit menggulung
atau mengeriting yang disebabkan oleh virus.
Pengendalian yang dilakukan adalah a) Menggunakan benih tanaman yang
sehat (tidak mengandung virus) atau tidak berasal dari daerah yang terserang; b)
Melaksanakan rotasi (pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus)
terutama bukan famili solanacearum seperti cabe, tomat, dan cucurbitaceae
seperti mentimun; c) Jika biaya memungkinkan, dilakukan pemasangan kelambu
di pembibitan sarapai, sehingga tanaman terhindar dari serangga vektor virus
(terutama saat populasi tinggi/musim kemarau); d) Menanam tanaman
barrier/pembatas disekeliling lahan tanaman seperti tanaman jagung atau serai; e)
Menanam lebih dari satu batang tanaman per lubang tanam (2-3 batang per lubang
tanam) untuk penyisipan apabila ada tanaman yang mati atau terserang virus
ketika tanaman masih fase vegetatif; f) Tidak menanam tanaman cabe dan tomat
secara monokultur, dianjurkan secara tumpang sari seperti dengan bawang daun;
g) Penggunaan agens hayati Beauvaria basiana dengan menyemprotkan pada
permukaan daun sebelah bawah yang dilakukan sebelum pukul 09.00 pagi baik
untuk tanaman cabe/tomat maupun pada tanaman barrier; serta h) Aplikasi agens
hayati Pseudomonas finorescens (Pf) + ekstrak gulma bunga pahit (Tithonia
diversifolia) sekali seminggu dan pupuk NPK dalam bentuk cair sekali per 10
hari.
4.2.8. Sawo (Archas zapota L)

Gambar 18. Bentuk Makroskopis

Gambar 19. Bentuk Mikroskopis

Sawo (Archas zapota L)

Sawo (Archas zapota L)

Sumber: Doc. Pribadi

Sumber: Google, 2013

Bagian yang diamati pada sawo (Archas zapota L) adalah batang. Gejala
yang diamati adalah pada batang terdapat benjolan yang diakibatkan karena
pertumbuhan sel yang berlebihan. Tipe gejala penyakit ini termasuk hiperplastis
dengan nama penyakit puru yang disebabkan oleh bakteri Agrobacterium
tumefaciens.
Pengendalian penyakit puru batang sawo dapat dilakukan dengan
menghilangkan atau membuang puru dengan metode mekanik dengan melakukan
pemotongan pada batang yang terserang penyakit puru, hasil potongan dibakar
kemudian sisa pembakaran dibenamkan ke dalam tanah, pada batang kemudian
ditaburi, dilabur atau disemprot dengan larutan kapur dan garam (10:1) yang dapat
menekan pertumbuhan puru sebesar 96,67.

V.

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal,
cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat dilihat, menurunkan kualitas atau
nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama. Tanaman sakit
adalah suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan
normal dan menimbulkan kerusakan. Gejala penyakit tumbuhan sangat perlu
diketahui untuk membedakan dengan gejala yang disebabkan oleh hama
tumbuhan. Gejala penyakit tanaman timbul sebagai akibat masuknya patogen ke
dalam jaringan tumbuhan dan menyebabkan terjadinya infeksi sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan pada sel atau jaringan tanaman. Gejala
penyakit tanaman dibagi menjadi tiga (3) tipe yaitu tipe nekrotis, tipe hipoplastis,
dan tipe hiperplastis.
Mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya penyakit pada tanaman
seperti jamur, bakteri, virus dan nematoda. Penyakit oleh cendawan menyebabkan
bagian tanaman yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika
menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak
bercak kecokelatan. Gejala penyakit pada layu bakteri umumnya menyerang di
daerah dataran rendah yang suhu dan kelembabannya tinggi, tanahnya becek,
airnya banyak tergenang, dan lahannya bekas digunakan inang yang terserang
penyakit layu. Gejala penyakit pada virus biasanya menyebabkan bercak kuning
pada daun tumbuhan, warna belang pencampuran lebih dari satu warna,
pertumbuhan yang terhambat, ukuran lebih kecil baik pada morfologi tanaman,
daun, cabang ataupun buah. Gejala serangan nematoda di atas permukaan tanah
menyebabkan pertumbuhan tidak normal yang diakibatkan oleh luka pada tunas,
titik tumbuh, dan primordial bunga, terjadinya luka pada bagian dalam batang dan
daun.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya sampaikan berkaitan dengan diadakannya praktikum


ini adalah supaya praktikan lebih memperhatikan, lebih fokus saat pengamatan di
laboratorium, dan lebih aktif untuk menanyakan bagaimana gejala penyakit pada
tumbuhan pada asisten yang bersangkutan sehingga praktikan mampu mengenal
dan melakukan pengendalian yang tepat untuk gejala penyakit tersebut.