Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN PERIODONSIA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
Journal Reading
Rabu, 11 Mei 2016
PERBANDINGAN EVALUASI EFEK ANTIMIKROBA ANTARA PROPOLIS DENGAN
KLORHEKSIDIN TERHADAP PATOGEN ORAL : SEBUAH STUDI IN VITRO
The Comparative Evaluation of the Antimicrobial Effect of Propolis with Chlorhexidine against
Oral Pathogens: An In Vitro Study
A. Eralp Akca, Glin Akca, Fulya Toksoy Topu, Enis Macit, Levent Pikdken, I. erif zgen

OLEH :
Nama
Stambuk
Pembimbing
Sumber

: Ikramullah Mahmuddin
: J111 12 269
: Dr. drg. Asdar Gani, M.Kes
: BioMed Research International, 2016 :1-8

DIBAWAKAN SEBAGAI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN PERIODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
PERBANDINGAN EVALUASI EFEK ANTIMIKROBA ANTARA PROPOLIS DENGAN
KLORHEKSIDIN TERHADAP PATOGEN ORAL : SEBUAH STUDI IN VITRO

A. Eralp Akca1, Glin Akca2, Fulya Toksoy Topu3, Enis Macit4, Levent Pikdken5, I. erif zgen6
1

Fakultas Kedokteran Gigi, Departemen Periodontologi,Universitas Kemerburgaz Istanbul, Mahmutbey, 34217 Istanbul, Turkey
Universitas GaziFakultas Kedokteran Gigi, Departemen Mikrobiologi Kedokteran, Emek, 06510 Ankara, Turkey
3
Akademi Kedokteran Militer Gulhane, Pusat Dental Sciences, Departemen Kedokteran Gigi Restoratif, Etlik, 06010 Ankara, Turkey
4
Akademi Kedokteran Militer Gulhane, Departemen Toksikologi Analitikal, Etlik, 06010 Ankara, Turkey
5
Akademi Kedokteran Militer Gulhane, Rumah Sakit Pelatihan Haydarpasa, Departemen Kedokteran Gigi, Bagian Periodontologi, Haydarpasa,
34668 Istanbul, Turkey
6
Fakultas Kedokteran Gigi, Department Bedah Mulut, Universitas Kemerburgaz Istanbul, Mahmutbey, 34217 Istanbul, Turkey
2

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas antimikroba dari ekstrak etanol
propolis (EEP) terhadap klorheksidin glukonat (CHX) pada planktonik Streptococcus mutans,
Streptococcus sobrinus, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus salivarius subsp. salivarius,
Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Prevotella intermedia, Porphyromonas gingivalis,
Staphylococcus aureus, Enterococcus faecalis, Actinomyces israelii, Candida albicans, dan
biofilm dari spesies-tunggal mereka dengan metode uji dilusi padat dan mikrodilusi cair. Kedua
agen menghambat pertumbuhan dari semua spesies planktonik. Di sisi lain, CHX
memperlihatkan kadar bakterisid minimum yang lebih rendah daripada EEP terhadap biofilm
dari A. actinomycetemcomitans, S. aureus, dan E. Faecalis, sedangkan EEP menghasilkan hasil
yang lebih baik terhadap Lactobacilli dan P. intermedia. Kadar bakterisida dan fungisida antara
kedua agen ditemukan bernilai sama terhadap biofilm dari Streptococcus, P. gingivalis, A.
israelii, dan C. albicans. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa propolis lebih efektif dalam
menghambat bakteri Gram-positif dibandingkan dengan bakteri Gram-negatif dalam bentuk
planktonik dan disarankan bahwa EEP dapat seefektif CHX terhadap mikroorganisme rongga
mulut dalam bentuk biofilm.

1. PENDAHULUAN

Menyikat gigi dan flossing interdental masih menjadi metode dasar untuk menghilangkan
atau mengontrol plak bakteri, yang mengarah pada pembentukan karies dan penyakit
periodontal. Namun, mayoritas penduduk mungkin tidak memadai dalam melakukan
pembersihan plak secara mekanik.1 Dengan demikian, larutan kumur antimikroba dapat
memberikan cara yang efektif untuk mengontrol plak bakteri. Telah terbukti bahwa obat kumur
kemoteraputik merupakan tambahan yang efektif untuk menyikat gigi dan flossing secara
teratur.2
Para klinisi sering memberikan larutan kumur CHX untuk menghambat perkembangan
plak.3,4 Namun, karakteristik sitotoksik5 dan efek samping6 dari CHX merupakan kekurangan
mendasar yang membatasi administrasi dari farmasietika ini. Beberapa produsen berusaha untuk
memproduksi produk perawatan rongga mulut alami dari ekstrak tumbuhan untuk menghindari
efek samping dari produk-produk sintetis. Di antara produk-produk alami, propolis menjadi yang
terdepan karena aktivitas antimikroba terhadap berbagai mikroorganisme patogen Gram-positif
dan Gram-negatif.7-10 Meskipun demikian, dampaknya terhadap patogen oral jika dibandingkan
dengan antiseptik oral lainnya berada pada jumlah yang terbatas dalam sejumlah penelitian in
vitro.11-13
Propolis, yang juga disebut sebagai bee glue, merupakan nama generik untuk bahan resin
yang dikumpulkan dari berbagai sumber tumbuhan oleh lebah madu (Apis mellifera). Di alam
bebas, lebah madu menggunakan propolis untuk memperkuat struktur sarangnya. Meskipun
produk ini telah diterima sebagai obat tradisional selama ribuan tahun, tetapi hal tersebut
belakangan ini baru ditemukan kembali oleh para peneliti.14 Komposisi kimia propolis bervariasi
tergantung pada perubahan regional, musim, dan vegetasi pada sumber tumbuhan yang
dikumpulkan oleh lebah.8,15 Penggunaan propolis terhadap spektrum yang luas dari bakteri

rongga mulut mungkin bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan rongga mulut. Selain itu,
pendapat saat ini menyatakan bahwa penggunaan propolis yang telah distandardisasi aman dan
kurang beracun jika dibandingkan dengan banyak obat sintetis lainnya.16-20 Hasil penelitian
tersebut juga menunjukkan bahwa flavonoid merupakan konstituen biologis aktif yang utama
dari ekstrak propolis.
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efisiensi antimikroba secara in vitro antara
propolis dan CHX terhadap strain planktonik dan bentuk biofilm dari sepuluh jenis bakteri
rongga mulut yang berbeda dan ragi seperti jamur, yang sering terlihat pada mikroflora rongga
mulut.

2. BAHAN DAN METODE


Dalam penelitian ini, 0,2% dari larutan kumur oral CHX (Drogsan, Turki) dan ekstrak etanol
propolis (EEP) diaplikasikan pada strain Streptococcus mutans (S. mutans) ATCC#25175,
Streptococcus sobrinus (S. sobrinus) ATCC#33478, Lactobacillus acidophilus (L. acidophilus)
ATCC#4356, Lactobacillus salivarius subsp. salivarius (L. salivarius subsp. salivarius)
ATCC#11741, Enterococcus faecalis (E. faecalis) ATCC#29212, Staphylococcus aureus (S.
aureus) ATCC#25923, Aggregatibacter actinomycetemcomitans (A. actinomycetemcomitans)
ATCC#29523, Actinomyces israelii (A . israelii) ATCC#12102, Porphyromonas gingivalis (P.
gingivalis) ATCC#33277, Prevotella intermedia (P. intermedia) ATCC#25611, dan satu ragiseperti jamur: Candida albicans (C. albicans) ATCC#10231. Kadar Hambat Minimum (KHM)
dan Kadar Bakterisid Minimum (KBM) untuk kedua agen antimikroba ditentukan menggunakan
metode uji dilusi padat dan mikrodilusi cair.
2.1. Persiapan Ekstrak Propolis

Propolis mentah (Apis mellifera) diperoleh dari Kazan/Ankara/Turki. 20 gr propolis


mentah ditimbang secara akurat (Shimadzu EB-330 Uni Eropa, Jepang) dan dilarutkan
dalam 100 mL larutan etanol 80% (Sigma-Aldrich, USA) dengan menggunakan ultrasonic
bath pada suhu 40 C selama 2 jam. Larutan EEP disaring dengan menggunakan membran
nitroselulosa Whatman dan Protran (Sigma-Aldrich, USA). Supernatan diuapkan oleh
aliran nitrogen sampai kering. Sekitar 5g dari zat sisa dicampur dengan 75L piridin
kering dan 50L bis-trimethylsilyl trifluoroasetamida (BSTFA), yang kemudian dipanaskan
pada suhu 80 C selama 20 menit. Supernatan akhir kemudian dianalisis dengan
menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS).
2.2. Analisis GC-MS
Substrat propolis yang telah diekstrak dilarutkan dalam etanol dan dianalisis dalam
perangkat GC-MS (model 17A QP5050, Shimadzu, Jepang). GC dioperasikan dalam mode
injeksi pisah dengan memanfaatkan kolom kapiler DB-5 (panjang = 30 m, diameter = 0.2
mm, dan ketebalan film = 0.1 mm) dengan suhu port injeksi pada 250 C. Gas pembawa
adalah helium dengan laju aliran 50 mL/menit. Kolom temperatur diprogram sehingga
dimulai dari suhu 60 C dan meningkat hingga 250 C dalam 15 C/menit secara bertahap.
Periode waktu awal dan akhir masing masing yaitu 3 dan 30 menit. GC-MS dioperasikan
dalam mode full scan di bawah 70 eV dalam mode ionisasi elektron dari energi ionisasi.
Suhu sumber ion adalah 230 C dan kapiler langsung antarmuka dipanaskan hingga suhu
230 C. Puncak GC-MS diidentifikasi dengan membandingkan data dari pustaka Wiley 138
dan Nist 98 yang terdapat dalam program GC-MS, yang disediakan oleh produsen.
Komposisi kimia EEP diberikan pada Tabel 1.

Kelompok Senyawa Kimia


Aromatic alcohols

Tabel 1: Komposisi Kimia dari EEP


Senyawa Kimia
Phenylethyl alcohol
Z,Z-2,6-Dimethyl-3,5,7-octatriene-2-ol

%
0.15
0.12

Aromatic acids
Aromatic heterocyclic alkaloid

Cinnamic acid and its esters

Flavanone

Flavonones

Linear hydrocarbons and their acids

Naphthalene

Unnatural amino acid derivatives

2-Naphthalenemethanol
4-(1,1-Dimethylethyl)-benzenemethanol
Benzoic acid, ethyl ester
2-Hydroxy-6-heptadec-8Z,11Z,14Z-trienylbenzoic acid
6H-Benzofuro[3,2-c][1]benzopyran, 6a,11a-dihydro-3,4,8,9-tetramethoxy
2-Trifluoromethyl-imidazole
2-Trifluoromethyl-imidazole
Hydrocinnamic acid, ethyl ester
Cinnamic acid
3-Methoxycinnamic acid
Cinnamic acid, 3,4-dimethoxy methyl ester
3,4-Dimethoxycinnamic acid
Ferulic acid
3-Hydroxy-4-methoxycinnamic acid
m-Hydroxycinnamic acid
5,7-Dihydroxy-dihydroflavone
Tectochrysin
3,5,7-Trihydroxy-4 -methoxyflavone
Chrysin
4 ,5-Dihydroxy-7-methoxyflavanone
4H-1-Benzopyran-4-one
Pinostrobin chalcone
Galangin
Nonadecane
2-Heptadecanone
2-Nonadecanone
Octadecane
Nonadecane
Z-14-Nonacosane
9-Hexacosene
1H-Cycloprop[e]azulene, decahydro-1,1,7-trimethyl-4-methylene
3-Hydroxymyristic acid
Myristinic acid
cis-Oleic acid
Palmitic acid
Palmitic acid, ethyl ester
Z-7-Tetradecenoic acid
1,9-Tetradecadiene
Oleic acid
Ethyl oleate
Stearic acid
Linoleic acid
5-Aminovaleric acid
5-Phenyl-4-pentenoic acid

0.8
0.05
0.02
0.15
0.11
1.90
0.11
0.03
0.04
1.01
0.14
1.57
0.08
0.31
0.91
3.43
2.80
0.08
12.06
0.65
5.8
4.34
2.20
0.05
0.05
0.26
1.69
0.92
0.53
0.18
0.05
0.16
0.15
0.97
4.51
0.49
0.11
0.12
3.17
2.05
0.52
0.28
0.25
1.31

2.3. Persiapan Mikroorganisme


S. mutans dan S. sobrinus dikultur dalam 5 mL Brain Heart Infusion Broth (BHIB,
Oxoid, UK); L. acidophilus dan L. salivarius subsp. salivarius dikultur dalam 5 ml MRS

Broth (DeMan Rogosa dan Sharpe Medium, Merck, Jerman) pada suhu 37 C selama 48 jam
dalam atmosfer mikroaerofilik yang terdiri dari 5% CO 2. E. faecalis dan S. aureus dikultur
aerob dalam 5 mL Brain Heart Infusion Broth (BHIB, Oxoid, UK) pada suhu 37 C selama
48 jam. C. albicans dikultur dalam Sabouraud Dextrose Broth yang telah diautoklafdisterilkan (SDB, Oxoid, UK) pada suhu 37 C selama 48 jam di bawah kondisi aerob.
A.actinomycetemcomitans, A.israelii, P.intermedia, dan P.gingivalis dikultur dalam
Fastidious Anaerobe Broth yang telah diautoklaf-disterilkan (Lab M, UK) dilengkapi
dengan sheep blood (50 mL / L), vit. K (1g / mL), dan hemin (5g / mL) pada suhu 37 C
selama 6-7 hari dalam ruang anaerob (Electrotek, Inggris Raya) di atmosfer yang terdiri
dari 90% N2, 5% CO2, dan 5 % H2. Tiga bahan terakhir telah difilter-disterilkan oleh
0,22m Millipore sebelum ditambahkan ke medium utama. Semua bakteri yang baru
tumbuh disuspensi dalam 5 ml media broth spesifik yang telah disuspensi dalam 1,5 10 8
CFU (Coloni Forming Unit)/mL sesuai dengan kekeruhan dari standar uji 0,5 McFarland,
dan konsentrasi suspensi bakteri/jamur disesuaikan pada spektrofotometri dengan
menggunakan Elisa reader otomatis (ELx800, Biotek, USA) pada densitas optik sebesar
600 nm (OD600) untuk mencocokkan kekeruhan dari semua suspensi dengan menggunakan
standar uji 0,5 McFarland.

2.4. Penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM)


Metode dilusi padat digunakan untuk mengevaluasi efek penghambatan EEP dan CHX.
Nilai-nilai KHM ditentukan sesuai dengan pedoman Clinical Laboratory Standard Institute
(CLSI).21,22 Dilusi dua kali lipat secara berseri dari larutan EEP dan CHX disiapkan dalam
kondisi aseptik. Konsentrasi akhir dari dilusi masing-masing agen, yang berkisar 1024-0.5
mikrogram/mL, ditambahkan ke media agar khusus. Sekitar 20 mL media agar
7

ditambahkan ke plate steril (100 mm), yang disiapkan untuk masing-masing strain. Semua
suspensi bakteri dikultur dalam plate media agar khusus dan diuji untuk efisiensi
antimikroba dari dilusi EEP dan CHX.
S. mutans dan S. sobrinus diinkubasi dalam Trypticase Soy Agar (TSA, Difco, USA),
yang dilengkapi dengan 20% sukrosa (w/v), di atmosfer yang terdiri dari 5% CO 2 pada
suhu 37 C selama 48 jam. E. faecalis dan S. aureus diinkubasi aerob dalam 5% sheep blood
agar pada suhu 37 C selama 48 jam. L. acidophilus dan L. salivarius subsp. salivarius
diinkubasi dalam MRS agar (Rogosa, Merck, Jerman) di atmosfer yang terdiri dari 10%
CO2 pada suhu 37 C selama 72 jam. Dalam kondisi aerob, C. albicans diinkubasi dalam
Sabouraud Dextrose Agar (SDA, Oxoid, UK) pada suhu 37 C selama 48 jam. A.
actinomycetemcomitans, A. israelii, P. intermedia, dan P. gingivalis diinkubasi dalam
Colombia Agar (Merck, Jerman) (41,0 g/L), yang dilengkapi dengan sheep blood (50
mililiter/L), vit.K (1 g/mL), dan hemin (5 g/mL), pada suhu 37 C di ruang anaerob (90%
N2, 5% CO2, dan 5% H2) selama 4-5 hari. Nilai KHM untuk semua bakteri uji didefinisikan
sebagai konsentrasi terendah dari EEP dan CHX yang dapat menghambat penampakan
pertumbuhan mikroorganisme. Plat agar, yang tidak mengandung larutan EEP dan CHX
serta larutan etanol 80%, digunakan sebagai kontrol.
Dengan menggunakan konsentrasi EEP dan CHX yang sama (mulai dari 1024-0,5 g/mL),
semua mikroorganisme uji juga dianalisis dengan metode mikrodilusi cair. Tujuan dari
analisis ulang ini adalah untuk menguatkan hasil KHM yang diperoleh oleh kedua metode
dan untuk mengetahui persis nilai dari KBM/KFM. 96-mikroplate well digunakan dalam
metode mikrodilusi cair. Dalam metode ini, dilusi dari 0.1 ml EEP dan CHX, yang
disuspensi pada konsentrasi mulai dari 1024 hingga 0.5 g/mL, kemudian ditambahkan
dalam mikroplat wells. Selanjutnya, 0.1 mL suspense dari masing-masing mikroorganisme

dalam media spesifik broth, yang disiapkan untuk metode dilusi padat, ditambahkan ke
mikroplat wells yang mengandung 100L konsentrasi EEP dan CHX yang berbeda-beda.
Dalam rangka untuk menentukan nilai KHM, inkubasi dilakukan sesuai dengan kondisi
aerob, mikroaerofilik, dan anaerob serta interval waktu seperti yang telah disebutkan
sebelumnya.
2.5. Penentuan Kadar Bakterisid Minimum (KBM) dan Kadar Fungisid Minimum (KFM)
KBM dan KFM ditentukan dengan melakukan subkultur pada 50L dari aliquot dalam
media spesifik agar. Aliquots diperoleh dari masing-masing mikroplat wells yang tidak
terlihat pertumbuhan mikroorganisme. Plat diinkubasi dan dikultur dalam kondisi
mikrobiologis konvensional yang sama dan periode inkubasi seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya dan dievaluasi sesuai dengan pedoman dari CLSI.
80% dari etanol digunakan sebagai kontrol terhadap strain planktonik dan biofilm
mikroba. Hasilnya dinyatakan dalam nilai KHM maupun KBM. Semua tes dilakukan
dalam rangkap dua.
2.6. Persiapan Biofilm dari Mikroorganisme Uji
Biofilm spesies-tunggal dari mikroorganisme dihasilkan pada membran nitroselulosa
dengan ukuran pori 0.22m, diameter 13 mm (F7148, Sigma, USA), dan kemudian mereka
ditempatkan di flat-bottom 24-well tissue culture plat (3574, Corning Costar, USA).
Volume 100L dari masing-masing suspensi bakteri dan jamur, yang disuspensi menurut
kekeruhan dari standar 0,5 McFarland dengan konsentrasi dari 1,5 10 8 CFU/mL,
ditambahkan ke permukaan membran dan diinkubasi selama 30 menit. Kemudian 1 mL
media broth khusus mereka seperti yang telah disebutkan sebelumnya ditambahkan ke
wells. Plat ditutup dan mikroorganisme dikultur dalam media broth khusus mereka dan
pada kondisi atmosfer yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Plate
diletakkan di inkubator dengan 5% CO2 untuk Streptococcus dan Lactobacilli dan tanpa 5%
9

CO2

untuk

S.aureus,

E.faecalis,

dan

C.albicans

selama

minggu.

Untuk

A.actinomycetemcomitans, P.gingivalis, A.israelii, dan P.intermedia, plate kultur disiapkan


dalam ruang anaerob otomatis (Electrotek, UK) dan diinkubasi selama minimal 10 hari
dalam kondisi anaerob (10% H2, 10% CO2, dan 80% N2) pada suhu 37 C. Selama masa
inkubasi mereka, media broth secara cermat diganti dengan yang baru setiap dua hari sekali
dengan menghindari menyentuh bagian bawah dari wells. Tes dilakukan dalam rangkap
tiga untuk setiap agen dan mikroorganisme. Setelah inkubasi, pembentukan biofilm
dikontrol dengan pewarnaan salah satu membran dengan 1% dari safranin untuk masingmasing strain dan dievaluasi secara mikroskopis. Setelah pembentukan lapisan biofilm, 1
mL larutan dari kedua agen uji dimasukkan ke dalam wells termasuk didalamnya media
dengan konsentrasi 1/2 dari rentang dilusi seperti yang dijelaskan dan dipersiapkan
sebelumnya. Membran kemudian dibuang secara lembut dari plat wells dan dicuci dengan
PBS (pH:7) sebanyak 3 kali. Membran kemudian dibawa dan dimasukkan ke dalam tabung
lainnya termasuk didalamnya 1 mL PBS. Tabung kemudian divortex selama 1 menit.
Suspensi di dalam tabung diencerkan 10-4, 10-5, dan 10-6. Kemudian, 100L dari setiap
suspense pengenceran dimasukkan ke dalam plat termasuk di dalamnya media agar khusus
untuk setiap mikroorganisme. Setelah inkubasi pada kondisi tertentu yang sama untuk
setiap strain koloni yang layak dari mikroorganisme, kemudian ditentukan nilai KHM dan
KBM/KFM.
3. HASIL
Larutan EEP menghambat pertumbuhan semua spesies planktonik sebanyak CHX kecuali
P.gingivalis dan A.actinomycetemcomitans (Tabel 2). Pengaruh EEP tidak berelasi dengan 80%
etanol karena tidak berefek pada pertumbuhan bakteri dan jamur. Selain itu, EEP lebih efektif

10

terhadap bakteri Gram-positif dan C.albicans dibandingkan dengan bakteri gram negatif. Di
antara bakteri anaerob, EEP tampaknya lebih efektif pada P. intermedia dibandingkan dengan
CHX.
Analisis biofilm dari mikroorganisme yang diuji mengungkapkan bahwa kedua agen uji tidak
seefektif ketika mereka dalam bentuk spesies planktonik (Tabel 3). Namun, konsentrasi dari
kedua agen ditemukan cukup untuk mewujudkan efek bakterisida pada bakteri yang diuji dan
jamur kecuali S.mutans, S.sobrinus, dan A.israelii, yang dapat diterima sebagai mikroorganisme
pelopor dalam pembentukan plak gigi mikroba. Efek bakterisida dari EEP lebih baik
dibandingkan dengan CHX pada L.acidophilus, L.salivarius subsp. salivarius, dan P intermedia.
Efek terkuat dari EEP diamati terlihat pada C.albicans dan E.faecalis. Di sisi lain, CHX lebih
bakterisid dibandingkan dengan EEP terhadap S.aureus, A.actinomycetemcomitans, dan
E.faecalis.

Tabel 2: KHM dan nilai KBM/KFM dari EEP dan CHX pada planktonik mikroorganisme tes (g/mL).
Strains
S. mutans
S. sobrinus
L. acidophilus
L. salivarius subsp. salivarius
A. actinomycetemcomitans
P. intermedia
P. gingivalis
S. aureus
E. faecalis
A. israelii
C. albicans

Dilusi Padat
EEP (KHM/KBM)
4/8
8/8
4/4
2/4
64/128
8/8
32/64
16/16
8/8
16/16
16/16

Mikrodilusi cair
EEP (KHM/KBM)
4/8
4/8
4/8
2/4
64/128
8/8
32/64
8/16
4/8
8/16
8/16

Dilusi padat
CHX (KHM/KBM)
8/16
8/8
8/8
4/4
32/16
16/16
8/16
16/16
8/8
16/16
16/16

Mikrodilusi cair
CHX-KHM/KBM
16/16
8/16
4/8
2/4
16/32
16/16
16/32
16/32
8/16
8/16
16/32

Tabel 3: KHM dan nilai KBM/KFM dari EEP dan CHX pada biofilms dari mikroorganisme tes (g/mL).
Strains
S. mutans
S. sobrinus
L. acidophilus
L. salivarius subsp. salivarius
A. actinomycetemcomitans

EEP-KHM
1024
1024
512
512
128

EEP-KBM
1024
1024
512
512
256

CHX-KHM
1024
1024
512
512
64

CHX-KBM
1024
1024
1024
1024
128

11

P. intermedia
P. gingivalis
S. aureus
E. faecalis
A. israelii
C. albicans

128
128
128
64
512
64

256
256
256
128
1024
128

256
128
64
16
1024
64

512
256
128
32
1024
128

4. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara EEP dan CHX mempunyai berbagai efek
penghambatan pada spesies uji dalam bentuk biofilm dan planktonik. Selain itu, efek ini
tampaknya tidak berhubungan dengan etanol 80% di mana propolis dilarutkan
Efek antibakteri propolis terhadap mikroorganisme bisa menjadi kompleks, yang mengarah
ke disintegrasi sitoplasma, membran sitoplasma dan dinding sel, bacteriolisis sebagian, dan
penghambatan sintesis protein.23 Dalam studi sebelumnya, dinyatakan bahwa pH dan konsentrasi
propolis mungkin berubah disebabkan oleh pelarut, dan larutan propolis asam lebih efektif pada
bakteri.24 Selain itu, dinding sel bakteri dan sifat biofilm mereka disimpulkan sebagai faktor
tambahan, yang menentukan efek bakterisid dari propolis.25-27 Jadi, propolis dapat beraksi
terhadap masing-masing mikroorganisme dengan cara yang berbeda.
Sedikit perbedaan antara nilai KHM/KBM kami dan yang ditemukan dalam penelitian lain
yang mungkin karena perbedaan dalam strain dan/atau asal-usul yang beragam dari sampel
propolis, karena komposisi propolis tergantung pada vegetasi daerah.28 Sampel propolis
diperoleh dari tunas poplar, yang muncul untuk menjadi sumber propolis yang dominan, di
daerah beriklim (Asia, Eropa, Amerika Utara, dll) terutama mengandung senyawa fenolik,
termasuk beberapa flavonoid, asam aromatik, dan ester.29 Mekanisme aktivitas propolis terhadap
mikroorganisme masih belum dapat dipahami dengan baik. Beberapa komponen hadir dalam
ekstrak propolis seperti flavonoid (quercetin, galangin, dan pinocembrin) dan asam caffeic, asam
benzoat, dan asam sinamat mungkin beraksi di membrane sitoplasma atau pusat dinding sel
12

mikroba,

menyebabkan

kerusakan

fungsional

dan

struktural. 28,30

Beberapa

penulis

mengungkapkan bahwa aktivitas terhadap mikroorganisme lebih terkait dengan efek sinergis dari
flavonoid (dan fenolik lainnya) dibandingkan dengan senyawa individu.31 Meskipun hasil kami
menunjukkan bahwa kandungan flavonoid dari EEP yang digunakan dalam penelitian ini adalah
relatif kurang daripada yang dilaporkan oleh penelitian lain 7,32 pada propolis Turki, kandungan
asam sinamat sangat tinggi. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa terdapat efek sinergis antara
senyawa asam sinamat dan flavonoid.
Beberapa penulis menyatakan bahwa propolis hanya bisa aktif terhadap bakteri Grampositif33,34 dan beberapa jamur10 serta masih menurut penulis lain, propolis kurang efektif
terhadap bakteri Gram-negatif.15,17 Nilai KHM/KBM yang ditentukan dalam penelitian kami
sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa bakteri Gram-positif lebih rentan
terhadap propolis dibandingkan dengan bakteri Gram-negatif dalam bentuk planktonik mereka.
Namun, hasil analisis biofilm tidak menguatkan hasil yang menunjukkan bahwa propolis lebih
efektif pada bakteri Gram-positif.
Laporan sebelumnya telah dijelaskan bahwa biofilm bakteri kariogenik bertanggung jawab
untuk pembentukan exopolisakarida karena aktivitas enzim glukosiltransferase. Oleh karena itu,
dikatakan bahwa bakteri tersebut sangat toleran terhadap tekanan lingkungan.25-27 Studi tertentu
melaporkan bahwa propolis menyebabkan penurunan plak gigi yang signifikan 35 dan mencegah
pembentukan karies,18,36 sedangkan yang lain mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak
berpengaruh signifikan terhadap pembentukan kembali plak gigi. 37 Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa propolis mungkin sama efektifnya dengan CHX pada bakteri kariogenik.
Namun, hasil kami menunjukkan bahwa konsentrasi terkini EEP mungkin tidak cukup untuk
menunjukkan efek bakterisida pada bakteri kariogenik. Inkonsistensi antara hasil penelitian kami

13

dan orang lain mungkin berhubungan dengan faktor-faktor di atas yang menunjukkan bahwa
terdapat korelasi antara konstituen propolis, aktivitas mereka pada struktur dinding sel bakteri
yang berbeda, dan aktivitas selular dari bakteri kariogenik.
Studi yang meneliti efek propolis pada patogen periodontal menunjukkan hasil yang sama
dengan penelitian kami.8,38,39 Namun, penelitian sebelumnya berbeda dari kami karena mereka
bertujuan untuk mengetahui pengaruh propolis pada bakteri planktonik. Resistensi biofilm dari
periodontopathogens dipilih untuk penelitian ini yang telah dikaitkan pada Extra Polymeric
Substance (EPS) mereka dan tingkat Lipopolisakarida (LPS). Struktur dinding sel yang sama
dan EPS dari periodontopathogens ini, mungkin dapat menjelaskan mengapa EEP telah
menunjukkan nilai yang sama pada KHM/KBM dalam bentuk biofilm mereka.
Pembentukan biofilm C. albicans merupakan isu penting dalam pengobatan infeksi Candida
dan dapat menjadi tantangan besar untuk klinisi. Resistensi biofilm dari C.albicans tidak dapat
dijelaskan.40,41 Telah diajukan bahwa resistensi biofilm dari propolis tidak hanya berkorelasi
dengan EPS tetapi berkembang dari waktu ke waktu 42 dan terkait dengan permukaan yang
diinduksi ekspresi gen tertentu.43 Dalam penelitian kami, sesuai dengan hasil penelitian
sebelumnya, EEP menampilkan aktivitas antijamur yang kuat terhadap strain Candida. 33
Aktivitas yang kuat dari EEP pada C. albicans mungkin berhubungan dengan sifat biofilm, yang
dinyatakan dalam penelitian sebelumnya.
CHX, yang merupakan standar emas, terpilih sebagai tes antiseptik untuk penelitian ini
karena mempunyai efek yang berbagai macam pada beberapa mikroorganisme dan
kandungannya dikenal sebagai "substantivitas". Nilai KBM yang diamati untuk bakteri dan
jamur dalam bentuk biofilm mereka menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam
resistensi dari biofilm mikroorganisme terhadap CHX atau EPS. Hasil ini mungkin menunjukkan

14

bahwa biofilm dari mikroorganisme yang diuji dapat merespon dengan cara yang sama untuk
konsentrasi terhadap kedua agen. CHX tampaknya lebih efektif pada E.faecalis. Meskipun hasil
ini juga dikuatkan oleh penelitian lain, studi dilakukan pada bentuk planktonik dari E.
faecalis.44,45
Keterbatasan utama dari studi kami adalah pengerjaan dilakukan dengan metode KHM dan
KBM, yang dilakukan dengan menggunakan teknik mikrodilusi cair dan dilusi agar. Walaupun
metode ini rutin dilakukan, interaksi yang tidak terduga antara konstituen media, dengan salah
satu atau lebih dari agen uji, atau kemungkinan volatilitas unsur penting dari campuran tes,
seperti alkohol, dapat menghalangi interpretasi hasil. Meskipun demikian, KHM dan KBM
adalah metode yang paling dapat diandalkan dan mudah ditafsirkan untuk perbandingan
formulasi yang digunakan saat ini.46

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian kami, kami dapat menyimpulkan bahwa pemberian propolis
pada konsentrasi yang tepat mungkin efektif pada mikroorganisme oral. Meskipun CHX masih
menjadi salah satu yang paling umum sebagai produk dari obat kumur terhadap berbagai
mikroorganisme, EEP dapat berfungsi sebagai obat kumur antimikroba alami dan dapat
diandalkan sebagai alternatif dalam rangka untuk menghindari efek samping dari CHX.
Penelitian in vivo diperlukan untuk mengetahui mekanisme yang efektif dari propolis dan
pemberian dosis yang sesuai pada biofilm.

KONFLIK KEPENTINGAN
Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

15

REFERENSI
1. M. L. Barnett, The role of therapeutic antimicrobial mouthrinses in clinical practice:
control of supragingival plaque and gingivitis, Journal of the American Dental Association,
vol. 134, no. 6, pp. 699741, 2003.
2. N. Sharma, C. H. Charles, M. C. Lynch et al., Adjunctive benefit of an essential oilcontaining mouthrinse in reducing plaque and gingivitis in patients who brush and floss
regularly: a six-month study, Journal of the American Dental Association, vol. 135, no. 4,
pp. 496504, 2004.
3. C. D. Overholser, T. F. Meiller, L. G. DePaola, G. E. Minah, and C. Niehaus, Comparative
effects of 2 chemotherapeutic mouthrinses on the development of supragingival dental
plaque and gingivitis, Journal of Clinical Periodontology, vol. 17, no. 8, pp. 575579,
1990.
4. C. H. Charles, K. M. Mostler, L. L. Bartels, and S. M. Mankodi, Comparative antiplaque
and antigingivitis effectiveness of a chlorhexidine and an essential oil mouthrinse: 6-month
clinical trial, Journal of Clinical Periodontology, vol. 31, no. 10, pp. 878 884, 2004.
5. A. J. Mariotti and D. A. H. Rumpf, Chlorhexidine-induced changes to human gingival
fibroblast collagen and non-collagen protein production, Journal of Periodontology, vol.
70, no. 12, pp. 14431448, 1999.
6. C. A. Gurgan, E. Zaim, I. Bakirsoy, and E. Soykan, Short-term side effects of 0.2%
alcohol-free chlorhexidine mouthrinse used as an adjunct to non-surgical periodontal
treatment: a double-blind clinical study, Journal of Periodontology, vol. 77, no. 3, pp. 370
384, 2006.
7. O. Koru, F. Toksoy, C. H. Acikel et al., In vitro antimicrobial activity of propolis samples
16

from different geographical origins against certain oral pathogens, Anaerobe, vol. 13, no.
3-4, pp. 140145, 2007.
8. F. A. Santos, E. M. A. F. Bastos, A. B. R. A. Maia et al., Brazilian propolis:
physicochemical
properties,
plant
origin
and
antibac-terial
activity
on
periodontopathogens, Phytotherapy Research, vol. 17, no. 3, pp. 285289, 2003.
9. F. A. Santos, E. M. A. Bastos, M. Uzeda et al., Antibacte-rial activity of Brazilian propolis
and fractions against oral anaerobic bacteria, Journal of Ethnopharmacology, vol. 80, no.
1, pp. 17, 2002.
10. H. Koo, B. P. F. A. Gomes, P. L. Rosalen, G. M. B. Ambrosano, Y. K. Park, and J. A.
Cury, In vitro antimicrobial activity of propolis and Arnica montana against oral
pathogens, Archives of Oral Biology, vol. 45, no. 2, pp. 141148, 2000.
11. F. Ozan, Z. Sumer, Z. A. Polat et al., Effect of mouthrinse con-taining propolis on oral
microorganisms and human gingival fibroblasts, European Journal of Dentistry, vol.
1, pp. 195201, 2007.
12. J. R. Franca, M. P. De Luca, T. G. Ribeiro et al., Propolis based chitosan varnish:
drug delivery, controlled release and antimicrobial activity against oral pathogen
bacteria, BMC Complementary and Alternative Medicine, vol. 14, article 478, 2014.
13. N. Malhotra, S. P. Rao, S. Acharya, and B. Vasudev, Com-parative in vitro evaluation
of efficacy of mouthrinses against Streptococcus mutans, Lactobacilli and Candida
albicans, Oral Health & Preventive Dentistry, vol. 9, no. 3, pp. 261268, 2011.
14. G. A. Burdock, Review of the biological properties and toxicity of bee propolis
(propolis), Food and Chemical Toxicology, vol. 36, no. 4, pp. 347363, 1998.
15. J. M. Sforcin, A. Fernandes Jr., C. A. M. Lopes, V. Bankova, and S. R. C. Funari,
Seasonal effect on Brazilian propolis antibacterial activity, Journal of
Ethnopharmacology, vol. 73, no. 1-2, pp. 243249, 2000.
16. S. Sonmez, L. Kirilmaz, M. Yucesoy, B. Yucel, and B. Yilmaz, T he ef fect of bee propolis
on oral pathogens and human gingival fibroblasts, Journal of Ethnopharmacology, vol.
102, no. 3, pp. 371376, 2005.
17. J. W. Dobrowolski, S. B. Vohora, K. Sharma, S. A. Shah, S. A. H. Naqvi, and P. C.
Dandiya, Antibacterial, antifungal, antiamoe-bic, antiinflammatory and antipyretic
studies on propolis bee products, Journal of Ethnopharmacology, vol. 35, no. 1, pp.
77 82, 1991.
18. K. Ikeno, T. Ikeno, and C. Miyazawa, Effects of propolis on dental caries in rats,
Caries Research, vol. 25, no. 5, pp. 347351, 1991.

17

19. B. M. Hausen, E. Wollenweber, H. Senff, and B. Post, Propolis allergy. (I). Origin,
properties, usage and literature review, Contact Dermatitis, vol. 17, no. 3, pp. 163
170, 1987.
20. B. E. Bjorkner, Industrial airborne dermatoses, Dermatologic Clinics, vol. 12, no. 3,
pp. 501509, 1994.
21. Clinical and Laboratory Standards Institute, Methods for dilution antimicrobial
susceptibility tests for bacteria that grow aerobically, Approved Standard M7-A7,
CLSI, Wayne, Pa, USA, 2007.
22. Institute CaLS, Methods for antimicrobial susceptibility testing of anaerobic bacteria,
in Approved Standard M11-A7, CLSI, Wayne, Pa, USA, 2007.
23. N. B. Takaisi-Kikuni and H. Schilcher, Electron microscopic and microcalorimetric
investigations of the possible mecha-nism of the antibacterial action of a defined
propolis prove-nance, Planta Medica, vol. 60, no. 3, pp. 222227, 1994.
24. B. C. B. S. Mello and M. D. Hubinger, Antioxidant activity and polyphenol contents
in Brazilian green propolis extracts prepared with the use of ethanol and water as
solvents in different pH values, International Journal of Food Science and
Technology, vol. 47, no. 12, pp. 25102518, 2012.
25. S. Duarte, H. Koo, W. H. Bowen et al., Ef fect of a novel type of propolis and its
chemical fractions on glucosyltransferases and on growth and adherence of mutans
streptococci, Biological & Pharmaceutical Bulletin, vol. 26, no. 4, pp. 527531, 2003.
26. J. A. Lemos and R. A. Burne, A model of efficiency: stress tolerance by Streptococcus
mutans, Microbiology, vol. 154, no. 11, pp. 32473255, 2008.
27. R. G. Quivey Jr., W. L. Kuhnert, and K. Hahn, Adaptation of oral streptococci to low pH,
Advances in Microbial Physiology, vol. 42, pp. 239274, 2000.
28. M. C. Marcucci, Propolis: chemical composition, biological properties and therapeutic
activity, Apidologie, vol. 26, no. 2, pp. 8399, 1995.
29. F. A. Tomas-Barberan, C. Garca-Viguera, P. Vit-Olivier, F. Ferreres, and F. TomasLorente, Phytochemical evidence for the botanical origin of tropical propolis from
Venezuela, Phytochemistry, vol. 34, no. 1, pp. 191196, 1993.
30. O. K. Mirzoeva, R. N. Grishanin, and P. C. Calder, Antimi-crobial action of propolis and
some of its components: the effects on growth, membrane potential and motility of
bacteria, Microbiological Research, vol. 152, no. 3, pp. 239246, 1997.
31. M. Amoros, E. Lurton, J. Boustie, L. Girre, F. Sauvager, and M. Cormier, Comparison of
the anti-herpes simplex virus activities of propolis and 3-methyl-but-2-enyl caffeate,
18

Journal of Natural Products, vol. 57, no. 5, pp. 644647, 1994.


32. A. Uzel, K. Sorkun, O. Oncag, D. Cogulu, O. Gencay, dan B. Salih, Chemical
compositions and antimicrobial activities of four different Anatolian propolis samples,
Microbiological Research, vol. 160, no. 2, pp. 189195, 2005.
33. A. Kujumgiev, I. Tsvetkova, Y. Serkedjieva, V. Bankova, R. Christov, and S. Popov,
Antibacterial, antifungal and antiviral activity of propolis of different geographic origin,
Journal of Ethnopharmacology, vol. 64, no. 3, pp. 235240, 1999.
34. M. I. Nieva Moreno, M. I. Isla, N. G. Cudmani, M. A. Vattuone, and A. R. Sampietro,
Screening of antibacterial activity of Amaicha del Valle (Tucuman, Argentina) propolis,
Journal of Ethnopharmacology, vol. 68, no. 13, pp. 97102, 1999.
35. H. Koo, J. A. Cury, P. L. Rosalen, G. M. B. Ambrosano, M. Ikegaki, and Y. K. Park, Effect
of a mouthrinse containing selected propolis on 3-day dental plaque accumulation and
polysaccharide formation, Caries Research, vol. 36, no. 6, pp. 445448, 2002.
36. M. F. Hayacibara, H. Koo, P. L. Rosalen et al., In vitro and in vivo effects of isolated
fractions of Brazilian propolis on caries development, Journal of Ethnopharmacology, vol.
101, no. 13, pp. 110115, 2005.
37. M. C. Murray, H. V. Worthington, and A. S. Blinkhorn, A study to investigate the effect of
a propolis-containing mouthrinse on the inhibition of de novo plaque formation, Journal of
Clinical Periodontology, vol. 24, no. 11, pp. 796798, 1997.
38. G. Agarwal, G. Vemanaradhya, and D. Mehta, Evaluation of chemical composition and
efficacy of Chinese propolis extract on Porphyromonas gingivalis and Aggregatibacter actinomycetemcomitans: an in vitro study, Contemporary Clinical Dentistry, vol. 3, no. 3, pp.
256261, 2012.
39. F. A. Santos, E. M. A. Bastos, P. H. Rodrigues et al., Sus-ceptibility of Prevotella
intermedia/Prevotella nigrescens (and Porphyromonas gingivalis) to propolis (bee glue) and
other antimicrobial agents, Anaerobe, vol. 8, no. 1, pp. 915, 2002.
40. B. Adam, G. S. Baillie, and L. J. Douglas, Mixed species biofilms of Candida albicans and
Staphylococcus epidermidis, Journal of Medical Microbiology, vol. 51, no. 4, pp. 344349,
2002.
41. K. Lewis, Riddle of biofilm resistance, Antimicrobial Agents and Chemotherapy, vol. 45,
no. 4, pp. 9991007, 2001.
42. J. Chandra, D. M. Kuhn, P. K. Mukherjee, L. L. Hoyer, T. McCormick, and M. A.
Ghannoum, Biofilm formation by the fungal pathogen Candida albicans: development,
architecture, and drug resistance, Journal of Bacteriology, vol. 183, no. 18, pp. 53855394,
2001.

19

43. G. S. Baillie and L. J. Douglas, Matrix polymers of Candida biofilms and their possible
role in biofilm resistance to antifun-gal agents, Journal of Antimicrobial Chemotherapy,
vol. 46, no. 3, pp. 397403, 2000.
44. J. B. Carbajal Meja, Antimicrobial effects of calcium hydroxide, chlorhexidine, and
propolis on Enterococcus faecalis and Can-dida albicans, Journal of Investigative and
Clinical Dentistry, vol. 5, no. 3, pp. 194200, 2014.
45. G. Kayaoglu, H. Omurlu, G. Akca et al., Antibacterial activity of propolis versus
conventional endodontic disinfectants against Enterococcus faecalis in infected dentinal
tubules, Journal of Endodontics, vol. 37, no. 3, pp. 376381, 2011.
46. A. D. Haffajee, T. Yaskell, and S. S. Socransky, Antimicrobial effectiveness of an herbal
mouthrinse compared with an essen-tial oil and a chlorhexidine mouthrinse, Journal of the
American Dental Association, vol. 139, no. 5, pp. 606611, 2008.

20