Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya

kepada

kami

sehingga

kami

berhasil

menyelesaikan

makalah

tentang

Mengembangkan Produk Baru.


Makalah ini berisikan tentang tantangan yang dihadapi permasalahan dalam mengembangkan
produk baru, struktur organisasi yang digunakan untuk mengelola pengembangan produk baru,
tahap-tahap utama dalam mengembangkan produk baru dan factor-faktor yang mempengaruhi
tingkat penyebaran dan penerimaan konsumen terhadap produk baru yang diinginkan.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing kami dan anggota
yang telah bekerja sama dalam menyelesaikan makalah ini.

Malang, 3 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................................

Daftar Isi ...........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .....3


1 Latar Belakang ..................................................................................................... 3
2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN..... 4
1 Tantangan dalam Pengembangan Produk .......................................................... 4
2 Pengaturan Organisasi yang Efektif ................................................................... 5
3 Mengelola Proses Pengembangan Produk Baru ................................................ 6
4 Proses Penerimaan Konsumen ....12
BAB III KESIMPULAN................14
Daftar Pustaka .................................................................................................................
15

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setelah suatu perusahaan melakukan segmentasi pasar secara seksama, memilih kelompok
pelanggan sasarannya, mengidentifikasi kebutuhan mereka, dan menentukan posisi pasar yang
diinginkan, perusahaan itu siap untuk mengembangkan dan meluncurkan produk baru yang tepat.
Manajemen pemasaran memainkan peran penting dalam proses pengembangan produk baru.
Daripada membiarkan departemen litbang mengembangkan produk baru sendiri, pemasaran
berpartisipasi secara aktif dengan departemen lain dalam tiap tahap pengembangan produk.
Tiap perusahaan harus meneruskan pengembangan produk baru. Produk pengganti harus
diciptakan untuk mempertahankan atau membangun penjualan. Selain itu, pelanggan
menginginkan produk baru, dan para pesaing akan berusaha keras memenuhinya.
Suatu perusahaan dapat menambah produk baru melalui akuisisi dan/atau pengembangan produk
baru. Akuisisi dapat dilakukan dengan tiga cara. Perusahaan dapat membeli perusahaan lain,
mendapatkan paten dari perusahaan lain, atau membeli lisensi atau waralaba dari perusahaan
lain.
Pengembangan Produk Baru dapat dilakukan dengan dua cara. Perusahaan dapat
mengembangkan produk baru di laboratoriumnya sendiri. Atau perusahaan dapat membuat
kontrak dengan peneliti independen atau perusahaan pengembangan produk baru untuk
mengembangkan produk khusus bagi perusahaan itu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1) Tantangan apa yang dihadapi perusahaan dalam mengembangkan produk baru?
2) Struktur organisasi apa yang digunakan untuk mengelola pengembangan produk baru?
3) Apa saja tahap-tahap utama dalam mengembangkan produk baru, dan bagaimana tahap-tahap
itu dapat dikelola dengan lebih baik?
4) Factor-faktor apa yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan penerimaan konsumen
terhadap produk yang baru diluncurkan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1TANTANGAN DALAM PENGEMBANGAN PRODUK BARU
Dengan adanya tingkat persaingan yang ketat,perusahaan yang gagal mengembangkan
produkbaru menghadapi resiko yang sangat besar. Pada saat yang sama, pengembangan produk
baru beresiko. Beberapa factor yang mungkin mempegaruhi gagalnya produk baru:

Seorang eksekutif tingkat tinggi mungkin memaksakan suatu gagasan favorit walau hasil

riset pasar negative,


Ide itu bagus, tetapi perkiraan ukuran pasarnya terlalu berlebihan,
Produk actual itu tidak dirancang dengan baik,
Produk baru itu diposisikan keliru dalam pasar, tidak diiklankan secara efektif, atau

terlalu mahal,
Biaya pengembangan lebih tinggi dari yang diperkirakan,
Pesaing membalas lebih gencar dari yang diperkirakan.

Selain itu, beberapa factor lain menghambat pengembangan produk baru:

Kekurangan gagasan produk baru yang penting di area tertentu: mungkin hanya tersisa
sedikit cara untuk memperbaiki beberapa produk dasar (seperti baja, deterjen dan

sebagainya)
Pasar yang terbagi-bagi: persaingan ketat menyebabkan pasar terbagi-bagi. Perusahaan
harus mengarahkan produk baru mereka pada segmen pasar yang lebih kecil, dan hal ini

berarti penjualan dan laba yang lebih rendah untuk tiap produk.
Kendala social dan pemerintah: produk baru harus memenuhi criteria seperti keamanan

konsumen dan keseimbangan lingkungan.


Mahalnya proses pengembangan produk baru: suatu perusahaan umumnya harus
menciptakan banyak gagasan produk baru untuk menemukan hanya satu yang layak

dikembangkan.
Kekurangan modal: beberapa perusahaan dengan gagasan-gagasan baik tidak dapat

mengumpulkan dana yang diperlukan untuk melakukan riset.


Waktu pengembangan yang lebih singkat: banyak yang mungkin mendapatkan gagasan
yang sama pada saat yang sama, dan kemenangan sering diraih oleh yang paling gesit.
4

Siklus hidup produk yang lebih singkat: ketika suatu produk baru berhasil, pesaing paling
cepat menirunya.

Cooper dan Kleinschmidt menemukan bahwa factor keberhasilan nomor satu adalah produk
unggul yang unik. Produk dengan keunggulan tinggi 98% berhasil, dibandingkan produk dengan
keunggulan sedang atau keunggulan minimal. Factor keberhasilan penting lainnya adalah
konsepproduk yang didefinisikan dengan baik sebelumnya pengembangan, yaitu perusahaan
secara cermat mendefinisikan dan menilai pasar.
2.2 PENGATURAN ORGANISASI YANG EFEKTIF
Pengembangan produk baru yang berhasil mengharuskan perusahaan menetapkan suatu
organisasi yang efektif untuk mengelola proses pengembangan produk baru. Suatu organisasi
yang efektif dimulai dengan manajemen puncaknya.
Manajemen puncak paling bertanggungjawab atas keberhasilan produk baru. Pengembangan
produk baru mengharuskan manajemen mendefenisikan wilayah usaha dan kategori produk yang
ingin ditekankan perusahaan. Jadi manajemen puncak harus menetapkan criteria khusus untuk
menerimagagasan-gagasan produk baru,terutama perusahaan besar multidivisi.
Suatu keputusan utama yang dihadapi manajemen puncak adalah berapa besar anggaran untuk
pengembangan produk baru. Hasil litbang sangat tidakpasti sehingga sulit untuk menggunakan
criteria investasi normal untuk penganggaran. Beberapa perusahaan memecahkan persoalan ini
dengan mendukung dan membiayai sebanyak mungkin proyek, dengan mengharapkan akan
mendapatkan beberapa pemenang.
Perusahaan menangani aspek organisasi dari pengembangan produk baru dalam beberapa cara,
cara paling umum adalah:

Manajer produk : banyak perusahaan menyerahkan masalah pengembangan produk baru


pada manajer produknya. Ternyata cara ini mengandung kelemahan. Kesibukan manajer
produk dalam mengelola lini produk yang sudah ada mengakibatkan kecilnya perhatian pada

pengembangan produk baru.


Manajer produk baru: dalam struktur organisasi General Foods dan Johson & Johson
terdapat jabatan manajer produk baru yang bertanggung jawab kepada manajer kelompok
5

produk. Manfaat besar dari jabatan ini adalah bahwa fungsi pengembangan produk

diletakkan pada tempat yang lebih professional.


Komite produk baru: kebanyakan perusahaan memiliki komite semacam ini dalam
organisasinya. Komite ini berada pada jenjang tinggi dan bertugas membahas usulan-usulan
mengenai produk baru serta bukannya berfungsi sebagai semacam koordinator, komite ini

akhirnya yang memutuskan diteruskan tidaknya suatu rencana produk baru.


Depatemen produk baru: Departemen seperti ini sering dibentuk oleh perusahaan yang
besar. Manajer dari departemen ini memiliki wewenang yang cukup besar dan bertanggung

jawab penuh serta langsung pada manajemen puncak.


Tim (venture team) produk baru: perusahaan-perusahaan seperti Dow dan General Mills
menyerahkan kegiatan pokok dalam pengembangan produk baru kepada satu tim. Tim ini
merupakan gabungan dari beberapa departemen operasional dan diserahi tugas menyiapkan
produk baru sampai jadi dan dipasarkan.

2.3 MENGELOLA PROSES PENGEMBANGAN PRODUK BARU


Proses pengembangan produk yang dilakukan oleh suatu perusahaan berbeda dengan
perusahaan lainnya. Oleh karena itu agar pengembangan produk yang dilaksakan dapat mencapai
tujuan, maka perlu diperhatikan tahap-tahap pengembangan produk. Kotler (2000 : 335 353)
mengemukakan 8 (delapan) tahap pengembangan produk yaitu :
1. Penciptaan Gagasan (idea ganeration)
1) Teknik Pemunculan Ide/Gagasan
a) Daftar Perincian Atribut
Teknik ini membutuhkan atribut utama dari produk yang sudah adadan kemudian
dimodifikasi atribut-atribut tersebut untuk mencari produk yang sempurna.
b) Hubungan yang Dipaksakan/Forced Relationship
Teknik ini mencari hubungan antara suatu barang dengan barang yang lain, untuk
dapat dijadikan gagasan sesuai produk baru berdasarkan hubungan tadi.
c) Analisis Morfologi
Teknik ini berusaha mengidentifikasikan dimensi struktural dari suatu masalah dan
membahas hubungan antara dimensi tersebut yang kemudian dipakai sebagai
gagasan sautu produk baru atau kombinasi yang baru.
d) Identifikasi Kebutuhan /Masalah
e) Teknik ini membutuhkan input dari konsumen untuk menghasilkan ide. Konsumen
ditanya mengenai kebutuhan, permasalahan dan gagasan mengenai suatu produk,
masukan dari konsumen inilah yang dipakai oleh perusahaan sebagai gagasan
produk baru.
f) Pencarian Ilham/Sumbang Saran/brainstorming
6

Teknik ini dilakukan dengan mengadakan diskusi kelompok untuk memunculkan


gagasan sebanyak mungkin kemudian dilakukan pengamatan secara kritis atas
gagasan-gagasan tersebut dan memilih gagasan mana yang lebih menjajikan.
g) Sinektika
Teknik ini serupa dengan sumbang saran tetapi dalam hal ini pihak manajemen juga
aktif memeandu diskusi dan mengarahkan sekelompok kepada masalah yang
spesifik.
2) Penyaringan gagasan
Tujuan pengumpulan gagasan adalah untuk menciptakan sejumlah
besar gagasan. Tujuan selanjutnya adalah mempersempit atau
mengurangi gagasan. Langkah pertama diambil ialah menyaring
gagasan. Penyaringan bertujuan mancari dan menghilangkan gagasan
buruk sedini mungkin.
Kadang kadang sebuah gagasan Nampak sangat bagus. Akan tetapi
sebagus apapun sebuah gagasan hendaknya disesuaikan dengan
pernyataan berikut : apakah gagasantersebut tepat untuk perusahaan
tertentu? Apakah gagasan tersebut cocok dengan tujuan, strategi
atau sumber daya manusia?
3) Pengembangan dan pengujian konsep
Gagasan yang lolos penyaringan harus dikembangkan menjani konsep
produk. Perlu dibedakan antara gagasan produk, konsep produk dan
citra produk.
Gagasan produk adalah gagasan bagi kemungkinan produk yang
oleh perusahaan dianggap bisa ditawarkan ke pasar, konsep
produk diartikan dengan versi terinci dari ide yang diungkapkan
dalam istilah konsumen yang punya arti sedangkan citra produk
adalah gambaran khusus yang diperoleh dari produk nyata
atau calon produk.
4) Pengembangan Konsep
Misalkan ada suatu perusahaan mobil menemukan cara merancang
mobil listrik yang bisa melaju 50km/jam, sejauh 100km tanpa
memerlukan penambahan bahan bakar. Biaya produksi mobilhanya
setengah dari mobil biasa. Ini semua masih merupakan gagasan
produk, menilai nilai relative daya tariknya terhadap konsumen dan
memlilih yang terbaik. Konsep yang lahir mungkin satu diantara
konsep konsep berikut :
- Konsep 1
Mobil sedan yang murah, dirancang sebagai mobil keluarga kedua
yang digunakan oleh ibu rumah tangga untuk berbelanja dan
perjalanan jarak dekat. Mobil ini sebaiknya bisa dimuati barang
barang belanja kebutuhan sehari hari dan sebagai alat transport
anak anak yang mudah dimasuki.
- Konsep 2
7

Berharga sedang, mobil berukuran menengah, dirancang untuk


semua keperluan keluarga.
Konsep 3
Mobil spot berharga sedang yang ditujukan untuk anak muda.
Konsep 4
Mobil berukuran sedang dan murah, ditujukan untuk orang yang
penuh perhitungan yang menginginkan transportasi penting, irit
bahan bakar dan polusi ekologi rendah.

Pengujian Konsep
Merupakan pengujian dengan kelompok konsumen sasaran yang
tepat. Konsumen dihadapkan pada versi terinci dari masing masing
konsep. Misalnya rincian konsep 1:
Mobil bertenaga listrik, efisien dan menyenangkan,
tergolong murah dan memiliki empat tempat duduk. Cukup
besar untuk berbelanja. Biaya pengoperasiannya hanya
setengah dari mobil bahan bakar mesin. Kecepatan 50km/jam
dan bisa melaju 100km tanpa menambah energi. Harga 6 juta.
Konsumen dimintai reaksinya atas mobil ini dengan dengan diberikan
pertanyaan :
1) Apakah konsep mobil listrik itu jelas bagi anda?
2) Mana yang anda anggap member manfaat penting antara mobil listrik
dan mobil biasa?
3) Apakah ada klaim atas penampilan mobil listrik yng bisa dipercaya?
4) Apakah mobil listrik mampu memenuhi kebutuhan anda?
5) Perubahan apa yang anda sarankan untuk berbagai bentuk mobil
listrik?
6) Siapa yang mungkin terlibat dalam memutuskan pembelian dan siapa
yang menggunakannya?
7) Menurut anda berapa kira kira harga mobil listrik ?
8) Mana yang anda pilih, mobil listrik atau mobil biasa ? digunakan untuk
apa ?
9) Apakah anda akan membeli mobil listrik ? ( pasti, mungkin, mungkin
tidak, sama sekali tidak )
Tanggapan yang di berikan konsumen dapat membantu perusahan
dalam memutuskan konsep mana yang paling menonjol. Jika tanggapan
konsumen pasti membeli maka produsen akan memperhitungkan angka
angka dengan jumlah populasi kelompok sasaran yang bersangkutan
untuk memperkirakan penjualan. Akan tetapi sebaiknya perusahaan
8

tidak menggunakan angka ini sebagai patokan yang pasti sebab bisa saja
konsumen beubah pikiran.
5) Pengembangan Strategi Pemasaran
Seandainya konsep satu untuk mobil listrik berhasil baik langkah
selanjutnya adalah melaksanakan pengembangan strategi pemasaran
pendahuluan untuk memperkenalkan mobil ini ke pasar. Pernyataan
strategi pemasaran terdiri dari tiga bagian. Pertama menjelaskan
ukuran, struktur dan tingkah laku pasar sasran, penempatan produk
yang telah direncanakan, penjualan, bagian pasar, serta sasaran
keuntungan yang akan dicari pada beberapa tahun pertama, sehingga
: Pasar sasaran ialah keluraga yang memerlukan mobil kedua
untuk belanja. Mobil ini harus ditempatkan sebagai mobil
yang
harga
serta
biaya
operasinya
ekonimis,
lebih
menyenangkan dibandingkan dengan mobil bisa yang ada
dipasar. Pada tahun pertama perusahan bermaksud menjual
500.000 unit dengan kerugian tidak lebih Rp 3.000.000. Tahun
kedua perusahaan bermaksud menjual 700.000 untit dengan
perolehan laba Rp 7.000.000.
Bagian kedua dari pernyataan strategi pemasaran menguraikan harga
produk yang direncanakan, strategi distribusi dan biaya pemasaran
selama tahun pertama yaitu :
Mobil listrik ini akan ditawarkan dalam tiga warna dan bisa
dipasang ac serta mempunyai keistimewaan persnelling
otomatis. Akan dijual dengan harga eceran Rp 6 juga/unit
dengan potongan 15% dari daftar harga untuk penyalur.
Penyalur yang mampu menjual lebih dari 10 unit 1 bulan akan
mendapat tambahan discolunt 5 % untuk setiap mobil yang
terjual bulan itu. Biaya iklan sebanyak Rp 6 juta akan dibagi
memjadi dua bagian antara iklan nasional dan iklan local.
Bunyi iklan itu akan menekankan segi ekonimis serta segi
kenikmatan. Selama tahun pertama akan dikeluarkan Rp
10.000 untuk riset pemasaran dan memantau siapa yang
membeli mobil itu dan tingkat kepuasan mereka.
Bagian ketiga dari pernyataan strategi pemasaran menjelaskan
penjualn jangka panjang yang direncanakan serta sasaran keuntungan
untuk strategi bauran pemasaran selama ini.
9

Perusahaan bermaksud meraih 6% dari keseluruhan pasaran


mobil dan memperoleh laba investasi 15% setelah dikurangi
pajak. Untuk mencapai itu semua kualitas produk harus tinggi
dan selanjutnya ditingkatkan dengan riset teknik. Pada tahun
kedua dan ketiga harga akan dinaikkan bila persaingan
memungkinkan. Jumlah biaya iklan akan ditambah 10% setiap
tahun. Setelah tahun pertama lewat, biaya pemasaran riset
akan dikurangi Rp 60.000 setiap tahunnya.
6) Analisis Bisnis
Untuk dapat mengevaluasi daya tarik bisnis dari proposal hasil pengembangan konsep
produk dan strategi pemasaran, maka manajemen perlu mempersiapkan proyeksi
penjualan, biaya, dan laba sehingga menentukan apakah semua itu memenuhi tujuan
perusahaan. Seiring masuknya informasi baru, analisis bisnis akan terus mengalami
perbaikan dan perluasan.
a. Memperkirakan Total Penjualan
Perkiraan total penjualan adalah penjumlahan perkiraan penjualan pertama
(estimated first-time sales), perkiraan penjualan pengganti (estimated replacement
sales), dan perkiraan penjualan berulang (estimated repeat sales). Perkiraan total
penjualan dilakukan guna mendapatkan gambaran apakah penjualan akan cukup
tinggi untuk menghasilkan laba yang memuaskan.
- Perkiraan Penjualan Pertama
Dalam memperkirakan penjualan suatu produk baru, tugas pertama manajer
adalah memperkirakan pembelian pertama dari produk baru itu pada tiap periode.
- Memperkirakan Penjualan Pengganti
Untuk memperkirakan penjualan pengganti, manajemen harus meneliti distribusi
umur hidup (survival-age distribution) produk itu, yaitu jumlah unit yang gagal
dalam tahun pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Ujung bawah dari distribusi
menunjukkan kapan penjualan pengganti pertama akan terjadi. Waktu
penggantian yang sebernarnya akan dipengaruhi oleh situasi ekonomi pelanggan,
arus kas, dan alternatif produk maupun harga, syarat pendanaan, dan usaha
penjualan perusahaan.
- Memperkirakan Penjualan Berulang
Untuk produk baru yang sering dibeli, penjual harus memperkirakan penjualan
berulang maupun penjualan pertama. Tingkat pembelian berulang yang tinggi
berarti bahwa pelanggan puas; penjualan kemungkinan tetap tinggi bahkan
setelah seluruh pembelian pertama terjadi. Penting untuk memeperkirakan
apakah rasio pembelian berulang kemungkinan akan naik atau turun, dan pada
tingkat berapa, untuk tiap keas pembelian berulang.
b. Memperkirakan Biaya dan Laba
Manajemen harus memperkirakan biaya dan laba yang diharapkan. Biaya
diperkirakan oleh departemen litbang, manufaktur, pemasaran, dan keuangan. Ada
10

berbagai cara untuk memperkirakan biaya dan laba. Diantaranya dengan


menggunakan ukuran-ukuran keuangan lain untuk mengevaluasi kelayakan suatu
proposal produk baru; menggunakan analisis pulang-pokok (break-even analysis);
dan menggunakan analisis resiko.
Metode perkiraan penjualan bergantung pada apakah produk itu merupakan produk
yang dibeli sekali (seperti cincin pertunangan atau rumah untuk pension), produk
yang jarang dibeli (seperti mobil, pemanggang roti, dan peralatan industri), atau
produk yang sering dibeli (seperti barang konsumsi dan industri yang habis dipakai).
Pada produk yang sekali dibeli, penjualan meningkat pada awalnya, mencapai
puncak, dan kemudian mendekati nol saat jumlah pembeli potensial sudah habis.
Pada produk yang jarang dibeli, menunjukkan siklus penggantian yang harus terjadi
baik karena keusangan fisik atau keusangan yang berkaitan dengan perubahan gaya,
keistimewaan, dan kinerja. Pada produk yang sering dibeli, memiliki siklus
penjualan dimana jumlah pembeli pertama awalnya meningkat dan kemudian
menurun ketika pembeli yang tersisa semakin sedikir. Pembelian berulang segera
terjadi, jika produk itu memuaskan sejumlah pembeli.

7) Pengembangan Produk
Jika konsep produk dapat melewati ujian bisnis, konsep itu berlanjut ke litbang
dan/rekayasa untuk dikembangkan menjadi suatu produk fisik. Pada tahap ini
perusahaanakan menentukan apakah gagasan produk dapat diterjemahkan menjadi suatu
produk yang layak secara teknis dan komersial. Jika tidak, akumulasi biaya proyek itu
merupakan kerugian bagi perusahaan kecuali ada informasi berguna yang diperoleh
dalam proses tersebut.
Departemen litbang akan mengembangkan satu atau beberapa versi fisik dari konsep
produk itu. Tujuamya adalah menemukan suatu prototipe yang diyakini konsumen
mengandung atribut-atribut penting yang dijelaskan dalam pernyataan konsep produk,
yang berkinerja dengan aman dalam penggunaan dan kondisi normal, dan dapat
diproduksi sesuai biaya manufaktur yang dianggarkan. Mengembangkan dan
mempabrikasi suatu prototipe yang berhasil mungkin memerlukan beberapa hari,
minggu, bulan atau bahkan tahunan.
11

8) Pengujian Pasar
Setelah manajemen puas dengan kinerja fungsional dan psikologis produk, produk itu
siap untuk didandani dengan merek, kemasan, dan program pemasaran awal. Tujuannya
untuk menguji produk baru itu dalam lingkungan konsumen yang nyata dan untuk
mempelajari seberapa besar pasar itu dan bagaimana konsumen dan penyalur bereaksi
untuk menangani, menggunakan dan membeli kembali produk aktual.
Jumlah pengujian pasar dipengaruhi oleh biaya dan resiko investasi di satu sisi, dan
tekanan waktu dan biaya riset di sisi lain. Produk investasi tinggi/resiko tinggi, yang
kemungkinan gagalnya besar, harus melalui pengujian pasar; biaya pengujian pasar akan
menjadi presentase yang tidak berarti dari total biaya proyek. Produk beresiko tinggi
(kategori produk baru atau memiliki keistimewaan baru) memerlukan lebih banyak
pengujian pasar daripada produk yang dimodifikasi. Tetapi jumlah pengujian pasar
dapat banyak berkurang jika perusahaan berada dalam tekanan waktu karena musim
baru saja mulai atau karena pesaing lain hampir meluncurkan merek mereka. Perusahaan
karena itu mungkin memillih resiko kegagalan produk daraipada resiko kehilangan
distribusi atau penetrasi pasar atas produk yang amat berhasil. Biaya pengujian juga
akan mempengaruhi berapa banyak dan berapa jenis yang akan dilakukan.
o Pengujian Pasar Barang Konsumsi
Dalam menguji produk konsumis, perusahaan berusaha memperkirakan empat
variabel: percobaan, pengulangan pertama, penerimaan, dan frekuensi pembelian.
Perusahaan berharap menemukan semua variabel ini pada tingkat tinggi. Dalam
pengujian pasar barang konsumsi, terdapat berbagai metode utama, dari yang paling
murah hingga paling mahal, diantaranya yaitu Penelitian gelombang penjualan, uji
pemasaran terkendali, dan uji pasar.
Uji pemasaran memberika beberapa manfaat, utamanya adalah dapat lebih
diandalkan tentang penjualan di masa depan.
o Pengujian Pasar Barang Bisnis
Barang bisnis juga dapat memperoleh manfaat dari pengujian pasar, pengujian itu
bervariasi sesuai jenis barang. Tempat pengujian itu juga mendapat beberapa
manfaat yaitu mereka dapat mempengaruhi rancangan produk penjual, mendapat
pengalaman dengan produk baru lebih dahulu daripada pesaing, menerima potongan
harga sebagai imbalan kerjasama mereka, dan meningkatkan reputasi mereka
sebagai pelopor teknologi.
Metode lain pengujian pasar barang bisnis yang umum adalah memperkenalkan
produk baru itu pada pameran perdagangan. Produk industri baru juga dapat diuji di
ruang pamer penyalur, dimana produk itu disandingkan dengan produk lain dari
perusahaan itu dan mungkin produk pesaing.
o Mengelola proses pengembangan produk baru

12

9) Komersialisasi
Tahap komersialisasi menyangkut perencanaan dan pelaksanaan strategi peluncuran
(launching strategy) produk baru ke pasar. Dalam melemparkan suatu produk,
perusahaan harus memutuskan : kapan, pada siapa, dan bagaimana.
o Proses penerimaan konsumen
Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang melibatkan
pembelian penggunaan barang dan jasa termasuk proses pengambilan keputusan
yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut sebagai pengalaman
dengan produk , pelayanan dari sumber lainnya.
Tahap-tahap dalam proses penerimaan
1. Sadar : Konsumen menjadi sadar akan produk baru, tetapi kekurangan
informasi mengenainya.
2. Tertarik : Konsumen akan menjadi tertarik untuk mencari informasi
mengenai produk baru
3. Evaluasi : Konsumen harus mempertimbangkan apakah produk bary
tersebut masuk akal atau tidak untuk dikonsumsi
4. Mencoba : Konsumen mencoba produk baru tersebut dalam skala kecil
untuk meningkatkan perkiraan nilai produk tersebut
5. Adopsi : Konsumen memutuskan secara penuh dan teratur menggunakan
produk baru tersebut.

Faktor-faktor yang memengaruhi proses penerimaan


1. Faktor kebudayaan meliputi :
a. Budaya : Faktor-faktor budaya memberikan pengaruhnya paling luas
pada keinginan dan perilaku konsumen. Budaya adalah penyebab paling
mendasar teori keinginan dan perilaku seseorang.
b. Subbudaya : Setiap kebudayaan mengandung sub kebudayaan yang lebih
kecil. Sub kebudayaan meliputi : kewarganegaraan, agama, ras, dan
daerah geografis.
c. Kelas sosial : Hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk
struktur kelas sosial. Kelas-kelas sosial adalah bagian masyarakat yang
relative permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya
mempunyai nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama.

13

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pengembangan produk adalah proses
menciptakan produk pengganti untuk mempertahankan atau membangun penjualan. Perusahaan
harus memadukan keputusan keputusan pemasarannya dengan fungsi pemasaran yang lain
diantaranya pengembangan produk baru. Biasanya bagian pemasaran mengkoordinasikan tugas
tugas pada bagian dalam perusahaan secara informal. Hal ini menyebabkan semakin pentingnya
strategi pengembangan produk bagi pemasaran suatu perusahaan.
Pengembangan produk baru yang berhasil mengharuskan perusahaan membentuk suatu
organisasi untuk mengelola proses pengembangan. Proses pengembangan produk sendiri terdiri
atas delapan tahap: pemunculan gagasan, penyaringan gagasan, pengembangan dan pengujian
konsep, pengembangan strategi pemasaran, analisis bisnis, pengembangan produk, pengujian
pasar, dan komersialisasi. Tujuan tiap tahap adalah untuk menentukan apakah gagasan produk
baru itu harus dihentikan atau gagasan buruk dikembangkan.

14

DAFTAR ISI
Manajemen Pemasaran. Kotler, Philip. 1993 Jakarta: PT. Prehallindo.

https://kasusmanajemen.wordpress.com/2011/09/02/proses-pengembangan-produk-baru/
(Diakses
pada 3 Maret 2016 pukul 20.00)

https://forumkuliah.wordpress.com/2009/02/02/perilaku-konsumen/ (Diakses pada 3 Maret


2016 pukul 20.00)

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_manajemen_pemasaran/bab
9_pengembangan_produk_baru.pdf (Diakses pada 3 Maret 2016 pukul 20.00)

15