Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sarana transportasi laut seperti halnya kapal barang merupakan alat transportasi
yang sampai saat ini masih memegang peranan yang sangat penting dan sangat dominan, karena
sangat efisien dalam mengangkut muatan dengan jumlah yang banyak tetapi tetap harus
memperhatikan keselamatan para awak kapal. Keselamatan dan keamanan kerja adalah
suatu kegiatan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan cara
peningkatan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja baik jasmani, rohani dan sosial.
Keselamatan dan keamanan kerja secara khusus bertujuan untuk mencegah atau
mengurangi kecelakaan dan akibatnya, dan untuk mengamankan kapal, peralatan kerja,
dan muatan kapal.
Kapal Mesin (KM) Tonasa lines X adalah kapal cargo milik PT Pelayaran
Tonasa Lines merupakan kapal khusus yang membantu pekerjaan mendistribusikan
produk perusahaan berupa semen ke unit pengantongan yang tersebar di berbagai
wilayah. Jenis type KM Tonasa Lines X adalah Cement Carrier ( Cargo Ship ) dengan
IMO:7353846,Callsign:YGYH MMSI:666000001..
Di perlukan pelatihan keselamatan diatas kapal untuk mengantisipasi keadaan
darurat, keadaan yang lain dari keadaan normal yang mempunyai kecenderungan atau
potensi tingkat yang membahayakan baik bagi keselamatan manusia, harta benda
maupun lingkungan.
Salah satu keadaan darurat dalam pembahasan penelitian ini adalah mengenai
orang jatuh ke laut (Man Over Board) merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang
membuat situasi menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan. Pertolongan
yang diberikan tidak dengan mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada
keadaan cuaca saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun
fasilitas yang tersedia.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada KM Tonasa Lines X


bahwa ada sejumlah permasalahan berkaitan dengan Drill Man Over Board yaitu :
1. Minimnya kesadaran awak kapal dalam menaati peraturan-peraturan keselamatan
kerja di atas kapal
2. Kelayakan alat-alat keselamatan termasuk perawatan dan pemeliharaan terhadap
alat-alat untuk kejadian darurat (Man Over Board) kurang diperhatikan
3. Rute pelayaran jarak pendek yang meminimkan waktu latihan keselamatan Man
Over Board
4. Tidak continue atau terus menerus diadakan pada KM Tonasa Lines X mengenai
pelatihan Man Over Board
5. Sistem pelaksanaan tentang Drill Man Over Board minim praktek, hanya sebatas
teori saja.
Berdasar uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan
mengemukakan dalam bentuk tugas akhir dengan judul Pelaksanaan Drill Man
Over Board Untuk Penyelamatan Orang Jatuh Ke Laut
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana pelaksanaan Drill Man Over Board untuk penyelamatan orang jatuh
ke laut .

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Drill Man Over Board untuk
penyelamatan orang jatuh ke laut
2. Untuk mengetahui masalah dan hambatan pelaksanaan Drill Man Over Board
untuk penyelamatan orang jatuh ke laut.

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat

yang

berikut:
1. Manfaat Teoritis

dapat dikemukakan

dari penelitian ini,

yaitu

sebagai

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pemikiran dan pengetahuan


dalam bidang nautika bagi penyusun khususnya dan dunia keilmuan kemaritiman
pada umumnya
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat berupa gambaran
kepada pembaca mengenai pelaksanaan Drill Man Over Board untuk
penyelamatan orang jatuh ke laut
3. Manfaat Kebijakan
Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat berupa informasi
sekaligus masukan pada PT Pelayaran Tonasa Lines dalam peningkatan
pentingnya Man Over Board untuk penyelamatan orang jatuh ke laut dari atas
1.5

kapal KM Tonasa Lines X.


Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
Mengingat banyaknya jenis pelatihan keadaan darurat yang dibutuhkan oleh
crew kapal KM Tonasa Line X maka dalam penulisan ini penulis membatasi
pembahasan hanya pada permasalahan pelaksanaan Drill Man Over Board untuk
penyelamatan orang jatuh ke laut.

1.6

Sistematika Penulisan
Dalam penulisan tugas akhir ini penulis membagi dalam beberapa bagian
penulisan. Setiap bagian pada ini akan membantu dalam memahami maksud dari
penulisan tugas akhir ini.
BAB I
: PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, batasan dan rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka yang akan memaparkan tentang landasan teori
yang berhubungan dengan pengertian tentang keselamatan dan

kecelakaan kerja, keselaman pelayaran dan drill Man Over Board,


BAB III

Untuk Penyelamatan Orang Jatuh Ke Laut.


: METODE PENELITIAN
Dalam bab ini, berisi definisi operasional penelitian, Objek
Penelitian, Jenis Penelitian serta metode pengambilan data sampai
pada metode analisis data.

BAB IV

: PEMBAHASAN DAN ANALISA


Pada bab ini merupakan pembahasan mengenai pelaksanaan drill
man over board untuk penyelamatan orang jatuh ke laut yang
diawali sebelum pembahasan yaitu hasil dari pada penelitian.

BAB V

: KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini berisi kesimpulan-kesimpulan yang didapat dari hasil
penelitian dan berisi saran-saran yang sesuai dengan permasalahan
yang diteliti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Perlindungan tenaga kerja memiliki beberapa aspek dan salah satunya yaitu
perlindungan keselamtan, perlindungan tersebut bermaksud agar tenaga kerja secara
aman melakukan kerjanya secara aman melakukan kerjanya sehari-hari untuk
meningkatkan produktivitas.
Semua kegiatan kerja, baik yang didarat, dilaut, diudara ataupun disemua
tempat kerja itu dilakukan sangat memerlukan dukungan keselamatan, Hal tersebut
seperti telah diatur oleh Pemerintah dalam Undang-undang No. 1 Th. 1970. Menurut
Undang-undang No. 1 Th. 1970 pasal I menyebutkan tempat kerja yang memerlukan
keselamatan kerja adalah ditiap ruangan atau lapangan baik yang terbuka maupun yang
tertutup, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki oleh tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber bahaya

2.1.1

Pengertian Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja


Berikut adalah pengertian keselamatan dan kesehatan kerja menurut para ahli

adalah sebagai berikut:


Keselamatan menurut Notoatmodjo, (2007) adalah suatu kondisi yang bebas
dari risiko yang relatif sangat kecil di bawah tingakatan tertentu. Sedangkan resiko
adalah tingkat kemungkinan terjadinya suatu bahaya yang menyebabkan kecelakaan
dan intensitas bahaya tersebut
Suardi (2007) mendefiniskan keselamatan kerja adalah sarana utama untuk
pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja.
Keselamatan kerja yang baik adalah pintu gerbang bagi keamanan tenega kerja.
Kecelakaan selain menjadi sebab hambatan-hambatan langsung juga merupakan
kerugian secara tidak langsung yakni kerusakan mesin dan peralatan kerja, terhentinya
proses produksi untuk beberapa saat, kerusakan pada lingkungan kerja, dan lain-lain.
Menurut Wilson (2012:377) Keselamatan Kerja adalah perlindungan atas
keamanan kerja yang dialami pekerja baik fisik maupun mental dalam lingkungan
pekerjaan
Keselamatan kerja Ratna (2006:16) menunjukkan pada kondisi yang aman atau
selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja.
Menurut (Depnakes: 2005),Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah segala
daya upaya pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, menanggulangi dan
mengurangi terjadinya kecelakan dan dampak melalui langkah-langkah identifikasi,
analisis dan pengendalian bahaya dengan menerapkan pengendalian bahaya secara
tepat dan melaksanakan perundang- undangan tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
Menurut Sibarani Mutiara (2012:163), Keselamatan dan Kesehatan Kerja
adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan keselamatan dan kesehatan


kerja adalah suatu upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja
dan manusia pada umumnya.
2.1.2 Tujuan Pelaksananan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada dasarnya meminimalisir kemungkinan
yang akan menjadi kecelakaan atau berpotensi celaka. Tujuan pelaksananan
keselamatan dan kesehatan kerja dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
mengungkapkan sebab akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian
cermat dilakukan atau tidak.
Flippo, dalam (Sibarani Mutiara, 2012:114), berpendapat bahwa tujuan
keselamatan dan kesehatan kerja dapat dicapai, jika unsur- unsur yang mendukung,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Adanya dukungan dari pimpinan puncak


Ditunjuknya direktur keselamatan
Rekayasa pabrik dan kegiatan yang aman
Diberikannya pendidikan bagi semua karyawan untuk bertindak aman
Terpeliharanya cacatan-catatan tentang kecelakaan
Menganalisis penyebab kecelakaan
Kontes keselamatan
Melaksanakan peraturan
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993, tujuan

dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah mewujudkan masyarakat dan lingkungan
kerja yang aman, sehat dan sejahtera, sehingga akan tercapai ; suasana lingkungan kerja
yang aman, sehat, dan nyaman dengan keadaan tenaga kerja yang sehat fisik, mental,
2.2

sosial, dan bebas kecelakaan.


Kecelakaan kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor : 03 /MEN/1998 tentang
Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan bahwa yang dimaksud dengan
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula
yang dapat menimbulkan korban manusia dan harta benda.
Reese, (2009).Kecelakaan kerja merupakan hasil langsung dari tindakan tidak
aman dan kondisi tidak aman, yang keduanya dapat dikontrol oleh manajemen.

Tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman disebut sebagai penyebab langsung
(immediate / primary causes) kecelakaan karena keduanya adalah penyebab yang jelas
atau nyata dan secara langsung terlibat pada saat kecelakaan terjadi.
Menurut Sumamur, (2009).Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian atau
peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta
benda atau kerugian terhadap proses. Kecelakaan kerja juga dapat didefinisikan suatu
kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan
korban manusia dan atau harta benda. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa kecelakaan kerja merupakan perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat
mengakibatkan kecelakaan, kerusakan dan kerugian didalam pekerjaan
2.2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja yang terjadi menurut Sumamur (2009) disebabkan oleh dua
faktor, yaitu :
1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan meliputi aturan
kerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja/pengalaman, kurangnya kecakapan
dan lambatnya mengambil keputusan), disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang
mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental. Kesalahankesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang tidak wajar
seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan instruksi, kelalaian,
melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar. Kekurangan kecakapan
untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai pekerjaan.
Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit.
Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh faktor
manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak memenuhi
keselamatan seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan alat
pelindung, alat pelindung tidak pakai, alat-alat kerja yang telah rusak. Faktor
mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan dengan

suatu maksud tertentu. Misalnya di perusahaan penyebab kecelakaan dapat


disusun menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dab pengangkat,
terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian alat atau perkakas yang
dipegang dengan manual (tangan), menginjak atau terbentur barang, luka bakar
oleh benda pijar dan transportasi. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang
menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi
maupun di tempat datar. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral
pekerja. Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan
kerja terdiri dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini
terletak pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja
tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin. Ventilasi yang tidak sempurna
sehingga ruangan kerja terdapat debu, keadaan lembab yang tinggi sehingga
orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna misalnya
ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.
2.2.2 Pencegahan Kecelakaan Kerja
Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang penyebab kecelakaan.
Sebab-sebab kecelakaan pada suatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisis
setiap kecelakaan yang terjadi. Metode analisis penyebab kecelakaan harus benar-benar
diketahui dan diterapkan sebagaimana mestinya. Selain analisis mengenai penyebab
terjadinya suatu peristiwa kecelakaan, untuk pencegahan kecelakaan kerja sangat
penting artinya dilakukan identifikasi bahaya yang terdapat dan mungkin menimbulkan
insiden kecelakaan di perusahaan serta mengases besarnya risiko bahaya.
Pencegahan kecelakaan kerja menurut Sumamur (2009) ditujukan kepada
lingkungan, mesin, peralatan kerja, perlengkapan kerja dan terutama faktor manusia.
1. Lingkungan Syarat lingkungan kerja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Memenuhi syarat aman, meliputi higiene umum, sanitasi, ventilasi udara,
pencahayaan dan penerangan di tempat kerja dan pengaturan suhu udara ruang
kerja

b. Memenuhi syarat keselamatan, meliputi kondisi gedung dan tempat kerja yang
dapat menjamin keselamatan
c. Memenuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, meliputi pengaturan
penyimpanan barang, penempatan dan pemasangan mesin, penggunaan tempat
dan ruangan
2. Mesin dan peralatan kerja harus didasarkan pada perencanaan yang baik dengan
memperhatikan ketentuan yang berlaku. Perencanaan yang baik terlihat dari
baiknya pagar atau tutup pengaman pada bagian-bagian mesin atau perkakas yang
bergerak, antara lain bagian yang berputar. Bila pagar atau tutup pengaman telah
terpasang, harus diketahui dengan pasti efektif tidaknya pagar atau tutup
Universitas Sumatera Utara pengaman tersebut yang dilihat dari bentuk dan
ukurannya yang sesuai terhadap mesin atau alat serta perkakas yang terhadapnya
keselamatan pekerja dilindungi.
3. Perlengkapan kerja Alat pelindung diri merupakan perlengkapan kerja yang harus
terpenuhi bagi pekerja. Alat pelindung diri berupa pakaian kerja, kacamata,
sarung tangan, yang kesemuanya harus cocok ukurannya sehingga menimbulkan
kenyamanan dalam penggunaannya.
4. Faktor manusia Pencegahan kecelakaan terhadap faktor manusia meliputi
peraturan kerja, mempertimbangkan batas kemampuan dan ketrampilan pekerja,
meniadakan hal-hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan disiplin
kerja,

menghindari

perbuatan

yang

mendatangkan

kecelakaan

serta

menghilangkan adanya ketidakcocokan fisik dan mental.


2.3 Keselamatan Pelayaran
Pengaturan mengenai keselamatan dan pengawasan ini didasarkan pada
konvensi-konvensi yang dihasilkan oleh International Maritime Organization (IMO)
dan International Labour Organization (ILO). Penting pula semua pembaharuan dan
amandemen-amandemen konvensi-konvensi tersebut yang harus disesuaikan dalam
undang-undang dan peraturan pelaksanaan nasional.

10

Keselamatan dalam pelayaran baik yang sedang berlayar, berlabuh atau sedang
melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan /terminal meskipun sudah dilakukan
usaha/upaya yang kuat untuk menghindarinya. Keadaan darurat dikapal dapat
merugikan, Nahkoda dan ABK, pemilik kapal, lingkungan laut dan terganggunya
ekosistem dasar laut. Perlu pemahaman kondisi keadaan darurat, agar memiliki
kemampuan untuk dapat mengidentifikasi tanda-tanda keadaan darurat, sehingga situasi
tersebut dapat teratasi.
Untuk melindungi pelaut dan mencegah resiko dalam suatu kegiatan diatas
kapal, harus diperhatikan ketentuan dalam Health and Safety Work Act th. 1974.
Kapal laut yang bergerak dengan gaya dorong pada kecepatan yang bervariasi melintasi
berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu tertentu, dapat saja mengalami masalah
yang disebabkan oleh berbagai faktor yang tidak dapat diduga sebelumnya, yang pada
akhirnya akan mengganggu pelayaran. Gangguan tersebut dapat diatasi langsung, perlu
bantuan atau bahkan awak kapal harus meninggalkan kapal.
Dalam Undang-Undang No. 21 tahun 1992 yang masih berlaku hingga
sekarang, keselamatan pelayaran diatur dalam Bab VII pasal 35 hingga pasal 44 dan
pasal 55 hingga pasal 64 (tentang pengawakan kapal). Pengaturan telah disesuaikan
dengan situasi nasional waktu itu. Penyesuaian-penyesuaian dengan situasi setempat ini
dapat dianggap menimbulkan kontroversi terhadap situasi pelayaran internasional.
Kondisi penyelenggaraan transportasi laut saat ini dapat dijabarkan berdasarkan
kondisi 5 (lima) elemen yaitu angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan,
keamanan pelayaran, perlindungan lingkungan maritim, dan sumber daya manusia yang
saling berinteraksi guna mewujudkan penyelenggaraan transportasi laut yang efektif
dan efisien berkesinambungan yang yang bisa menjaga keutuhan para pekerja yang
berkaitan dengan transportasi laut.
2.4 Keselamatan Kerja diatas kapal

11

Keselamatan kerja adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan


lingkungan kerja yang aman dan mencegah semua bentuk kecelakaan.
Adapun keselamatan penerapan sistim manajemen keselamatan di laut
berdasarkan International Safety Management Code (ISM Code)

adalah sebagai

berikut :
Sistim manajemen keselamatan merupakan sistim yang dipersyaratkan sesuai
peraturan keselamatan International yaitu Safety Of Life At Sea (SOLAS) yang tertuang
didalam peraturan ISM Code, Sistim Manajemen Keselamatan harus diterapkan pada
seluruh perusahaan pelayaran yang memiliki armada kapal sesuai peraturan.
Perusahaan pelayaran secara berkala ditinjau ulang untuk memastikan agar suatu
manajemen yang efektif tersusun dan telah diterapkan dalam organisasi Perusahaan
maupun kapal-kapalnya.
Perusahaan Pelayaran atau industri perkapalan pada umumnya didirikan untuk
mendapatkan keuntungan dari para pelanggan pelanggannya. Untuk menjalankan
kegiatan didalam hal ini mengoperasikan kapal secara Aman dan mencegah
Pencemaran Lingkungan, perusahaan harus ada 4 faktor yang saling berkaitan erat
antara lain :
a. Karyawan/pelaut
b. Sistim
c. Kapal
d. Manajemen
2.4.1 Peraturan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja di
kapal antara lain sebagai berikut ini :
1. Undang-undang No. 1 Th. 1970 mengenai keselamatan kerja.
2. Peraturan Menteri No. 4 Tahun 1980 mengenai syarat-syarat pemasangan dan
pemeliharaan alat pemadam api ringan.
3. SOLAS 1974 beserta amandemen -amandemennya mengenai persyaratan
keselamatan kapal.
4. STCW 1978 Amandemen 1995 mengenai standar pelatihan bagi para pelaut.

12

5. ISM Code mengenai code manajemen internasional untuk keselamatan


pengoperasian kapal dan pencegahan pencemaran.
6. Occupational Health Th. 1950 mengenai usaha kesehatan kerja.
7. International Code of Practice mengenai petunjuk - petunjuk tentang prosedur /
keselamatan kerja pada suatu peralatan, pengoperasian kapal dan terminal.
2.4.2 Pengertian Keadaan Darurat Dilaut
Manajemen harus memperhatikan ketentuan yang diatur dalam, Healt and
Safety Work Act, 1974 untuk melindungi pelaut/pelayar dan mencegah resiko-resiko
dalam melakukan suatu aktivitas diatas kapal terutama menyangkut kesehatan dan
keselamatan kerja, baik dalam keadaan normal maupun darurat. Suatu keadaan darurat
biasanya terjadi sebagai akibat tidak bekerja normalnya suatu sistim secara prosedural
ataupun karena gangguan alam. Prosedur adalah suatu tata cara atau pedoman kerja
yang harus diikuti dalam melaksanakan suatu kegiatan agar mendapat hasil yang baik.
Keadaan darurat adalah keadaan yang lain dari keadaan normal yang mempunyai
kecenderungan atau potensi tingkat yang membahayakan baik bagi keselamatan
manusia, harta benda, maupun lingkungan.
Jadi Prosedur Keadaan Darurat adalah tata cara/pedoman kerja dalam
menanggulangi suatu keadaan darurat, dengan maksud untuk mencegah atau
mengurangi kerugian lebih lanjut atau semakin besar.
Menggunakan peralatan keselamatan kerja atas kapal sangat dibutuhkan agar
segala sesuatu kecelakaan tidak banyak korbannya, dan setiap orang yang bekerja
mengalami kondisi yang aman kalau terjadi kecelakaan prosentasenya sangat rendah.
Jenis-Jenis Keadaan Darurat di laut
Kapal laut sebagai bangunan terapung yang bergerak dengan daya dorong pada
kecepatan bervariasi melintasi berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu tertentu,
akan mengalami berbagai problematik yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor
seperti cuaca, keadaan alur pelayaran, manusia, kapal dan lain-lain yang belum dapat

13

diduga oleh kemampuan manusia dan akhirnya menimbulkan gangguan pelayaran dari
kapal.
Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung
diatasi, bahkan perlu mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan
yang mengakibatkan nakhoda dan seluruh anak buah kapal harus terlibat baik untuk
mengatasi gangguan tersebut serta harus meninggalkan kapal. Keadaan gangguan
pelayaran tersebut sesuai situasi dapat dikelompokan menjadi keadaan darurat yang di
didasarkan pada jenis kejadian itu sendiri, sehingga keadaan darurat ini dapat disusun
sebagai berikut :
1. Tubrukan
Keadaan darurat karena tubrukan kapal dengan kapal atau kapal dengan
dermaga maupun dengan benda tertentu akan mungkin dapat situasi kerusakan pada
kapal, korban manusia, tumpahan minyak ke laut (kapal tangki), pencemaran dan
kebakaran, situasi lainnya adalah kepanikan atau ketakutan petugas di kapal yang justru
memperlambat tindakan, pengamanan penyelamatan dan penanggulangan keadaan
darurat tersebut.
2. Kebakaran/ledakan
Kebakaran di kapal dapat terjadi di berbagai lokasi yang rawan terhadap
kebakaran, misalnya di kamar mesin, ruang muatan, gudang penyimpanan
perlengkapan kapal, instalasi listrik dan tempat akomodasi Nakhoda dan anak buah
kapal. Sedangkan ledakan dapat terjadi karena kebakaran atau sebaliknya kebakaran
terjadi karena ledakan, yang pasti kedua-duanya dapat menimbulkan situasi darurat
serta perlu untuk diatasi. Keadaan darurat pada situasi kebakaran dan ledakan tertentu
sangat berbeda dengan keadaan darurat karena tubrukan, sebab pada situasi yang

14

demikian terdapat kondisi yang panas dan ruang gerak terbatas dan kadang-kadang
kepanikan atau ketidaksiapan petugas untuk bertindak mengatasi keadaan maupun
peralatan yang digunakan sudah tidak layak atau tempat penyimpanan telah berubah.
3. Kandas
Kapal kandas pada umumnya didahului tanda-tanda putaran Baling-baling terasa
berat, asap di cerobong mendadak menghitam, badan kapal bergetar dan
kecepatan kapal berubah kemudian berhenti mendadak. Pada saat kapal kandas
tidak bergerak, posisi kapal akan sangat tergantung pada permukaan dasar laut
atau sungai dan situasi dalam kapal tertentu akan tergantung juga pada keadaan
kapal tersebut.
Pada kapal kandas kemungkinan kapal bocor dan menimbulkan pencemaran atau
bahaya tenggelam kalau air yang masuk ke dalam kapal tidak dapat diatasi,
sedangkan bahaya kebakaran tentu akan dapat saja terjadi apabila bahan bakar
atau minyak terkondisi dengan jaringan listrik yang rusak menimbulkan nyala api
dan tidak terdeteksi sehingga menimbulkan kebakaran. Kemungkinan kecelakaan
manusia akibat kapal kandas dapat saja terjadi karena situasi yang tidak terduga
atau terjatuh saat terjadi perubahan posisi kapal. Kapal kandas sifatnya dapat
permanen dan dapat pula bersifat sementara tergantung pada posisi permukaan
dasar laut atau sungai, ataupun cara mengatasinya sehingga keadaan darurat
seperti ini akan membuat situasi di lingkungan kapal akan terjadi rumit.
4. Kebocoran/tenggelam
Kebocoran pada kapal dapat terjadi karena kapal kandas, tetapi dapat juga terjadi
karena tubrukan maupun kebakaran serta kerusakan kulit plat kapal karena
korosi, sehingga kalau tidak segera diatasi kapal akan segera tenggelam. Air yang
masuk dengan cepat sementara kemampuan mengatasi kebocoran terbatas,
bahkan kapal menjadi miring membuat situasi sulit diatasi. Keadaan darurat ini
akan menjadi rumit apabila pengambilan keputusan dan pelaksanaannya tidak

15

didukung sepenuhnya oleh seluruh anak buah kapal, karena upaya untuk
mengatasi keadaan tidak didasarkan pada azas keselamatan dan kebersamaan.
Orang jatuh ke laut
Orang jatuh ke laut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat
situasi menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan. Pertolongan yang
diberikan tidak dengan mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada
keadaan cuaca saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan,
maupun fasilitas yang tersedia.
Pencemaran
Pencemaran laut dapat terjadi karena buangan limbah muatan kapal tangki,
buangan limbah kamar mesin yang melebihi ambang 15 ppm, dan karena muatan
kapal tengki yang tertumpah akibat tubrukan atau kebocoran.
Upaya untuk mengatasi pencemaran yang terjadi merupakan hal yang sulit karena
untuk mengatasi pencemaran yang terjadi memerlukan peralatan, tenaga manusia
yang terlatih dan kemungkinan-kemungkinan resiko yang harus ditanggung oleh
pihak yang melanggar ketentuan tentang pencegahan pencemaran.
Keadaan darurat di kapal dapat merugikan Nakhoda dan anak buah kapal serta
pemilik kapal maupun lingkungan laut bahkan juga dapat menyebabkan
terganggunya ekosistem dasar laut, sehingga perlu untuk memahami kondisi
keadaan darurat itu sebaik mungkin guna memiliki kemampuan dasar untuk
dapat mengidentifikasi tanda-tanda keadaan darurat agar situasi tersebut dapat
diatasi oleh Nakhoda dan anak buah kapal maupun kerja sama dengan pihak yang
terkait.
Dasar Penanggulangan Keadaan Darurat Yang Terjadi Diatas Kapal
Adalah Pola terpadu yang mampu mengintegrasikan seluruh kegiatan atau
upaya-upaya penanggulangan secara cepat, tepat aman terkendali atas dukungan dari
pihak-pihak luar, sumber daya manusia dan fasilitas-fasilitasnya.
2.4.3 Manfaat Adanya Pola Penanggulangan Keadaan Darurat
Manfaat adanya pola penanggulangan keadaan darurat adalah sebagai berikut
Ahmadi (2013) :

16

1. Mencegah/menghilangkan kemungkinan kerusakan akibat meluasnya keadaan


darurat.
2. Memperkecil kerusakan-kerusakan materi dan lingkungan.
3. Menguasai keadaan / under control.
2.4.4 Faktor-Faktor Yang Dapat Menyebabkan Keadaan Darurat
Adapun factor-faktor yang dapat menyebabkan keadaan darurat menurut
Ahmadi (2013) adalah sebagai berikut :
1. Faktor alam
Keadaan darurat yang disebabkan adanya cuaca buruk dan keadaan lainnya
yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya
2. Faktor manusia
Kelalaian manusia yang dapat mengakibatkan keadaan darurat (kebakaran,
tubrukan, dll)
3. Faktor teknis
Keadaan darurat akibat dari ketidakbaik laut-lautnya kapal sehingga kapal tidak
dapat meneruskan Pelayaran dengan aman (kapal bocor, mesin rusak, dll)
2.5 Pengertian Man Over Board
Orang jatuh kelaut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat situasi
menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan. Pertolongan yang diberikan
tidak mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada keadaan cuaca saat itu serta
kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun fasilitas yang tersedia. Dalam
pelayaran sebuah kapal dapat saja terjadi orang jatuh kelaut,
Sesuai dengan ketentuan peraturan keselamatan jiwa di laut maupun demi rasa
kemanusiaan, maka kapal yang melihat orang jatuh kelaut harus melakukan upaya
pertolongan semaksimal mungkin dengan tetap memperhatikan keselamatan kapal dan
awaknya sendiri. Berkaitan dengan itu ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam
memberi pertolongan terhadap orang yang jatuh ke laut yaitu :
2.6.1 Kewajiban ABK Yang Melihat Orang Jatuh Ke Laut
1. Bertteriak keras orang jatuh di laut, di sebelah kanan/kiri
2. Melemparkan pelampungm penolong yang terdekat pada orang tersebut
3. Mengawasi orang yang jatuh itu.
2.6.2 Menolong Orang Jatuh Di Laut Dalam Kondisi Cuaca Normal
1. Memberhentikan mesin dan kemudi cikar ke arah orang yang jatuh itu,
2. Kapal di putar keliling sampai sampai tiba ke tempat pelampung tersebut (putaran
tunggal),Sekoci di awaki dan di area sampai di dekat permukaan air

17

3. Tindakan untuk menolong orang tersebut secara cepat dan aman, tergantung dari
keadaan cuaca
Pada umumnya kapal di olah gerak sehingga segera duduk berhenti di atas
angin dan sedekat mungkin dengan orang yang jatuh tersebut dan kemudian
menurunkan sekoci di sisi olak
2.6.3 Menolong Orang Jatuh Ke Laut Dalam Kondisi Cuaca Tidak Normal
Apabilah keadaan tidak mengijinkan untuk menurunkan sekoci maka, orang
tersebut ditolong dengan tali yang di-ikatkan pada sebuah alat pengapung. Diperairan
sempit kapal tidak dapat diputar keliling. Disini kapal harus mundur dengan kekuatan
penuh untuk menuju ke tempat kecelakaan tersebut.
2.6.4 Tindakan Olah Gerak Menolong Man Over Board
Tindakan olah gerak menolong orang jatuh kelaut tergantung dan pada factorfactor sebagai berikut :
a. Sesuai dengan pengalaman dan kesiapan tim penolong dikapal.
b. Kemampuan olah gerak kapal.
c. Jenis mesin penggerak.
d. Disisi mana motor boat / sekoci yang dapat digunakan.
e. Jarak penglihatan pada saat itu.
f. Keadaan perairan.
g. Jarak dengan kapal lain yang ada disekitarnya.
h. Lokasi kejadian terhadap bahaya navigasi.
Adapun pertolongan dapat dilakukan dengan cara :
1. Double Turn
a. Jika korban telah bebas dari baling- baling, mesin maju penuh dan gunakan
kemudi kembali sehingga kapal dapat kembali pada posisi semula.
b. Jaga jarak secukupnya hingga korban dapat didekat dengan aman.
c. Tempatkan korban pada posisi dibawah angina, dan dekati korban tersebut,
usahakan berada pada lambung kapal jauh dari baling baling dan usahakan
dalam keadaan diam.
Apabila digambarkan dalam gambar tindakan Double Turn yang dapat di
gunakan dalam pertolongan dapat dilihat pada gambar 2.1. berikut ini :
Gambar 2.1.
Double Turn

18

Sumber : Maneuver used to bring a ship or boat under power back to a point it
previously passed through, often for the purpose of recovering a
man overboard" www.cruiseserver.net diakses tanggal 25 September
2015
2. Single Turn
Cara ini sangat cocok digunakan oleh kapal yang mempunyai kemampuan olah
gerak sangat baik khususnya lingkaran putar dan kekuatan mesin.
1. Sebelum memulai olah gerak terlebih dahulu mesin stop.
2. Kemudi putar kearah jatuhnya korban dengan mesin maju penuh.
3. Jika kapal sudah berputar kira-kira 2/3 lingkaran, kurangi kecepatan, maka
4.

kapal akan bergerak secara efektif mendekati korban.


Jika korban telah berada kira kira 15 derajat disamping haluan kapal, mesin
stop, atur kemudi dan kecepatan kapal agar dapat dihentikan tepat pada tempat
yang dikehendaki.
Adapun tindakan Single Turn dapat dilihat pada gambar 2.2. berikut ini :
Gambar 2.2
Single Turn

Sumber : Single turn (270 manoeuvre): Rudder hard over (in an "immediate
action" www.cruiseserver.net diakses tanggal 25 September 2015
3. Williamson Turn
Dipergunakan jika penglihatan kurang baik, karena cara ini akan membawa
kapal kembali pada posisi semula.
1. Putar kemudi kearah dimana korban jatuh dan stop mesin.
2. Jika diperkirakan korban telah bebas dari baling baling maka mesin maju
3.

penuh dengan kemudi masih tetap cikar kearah korban.


Jika haluan kapal telah berubah 60 derajat maka kemudi cikar kearah

19

sebaliknya, kapal akan kembali pada tempat semula dengan haluan yang
4.

berlawanan dari haluan semula.


Setelah korban terlihat tempatkan korban pada sisi bawah angin, usahakan
korban berada dilambung kapal.
Adapun tindakan Williamson Turn dapat dilihat pada gambar 2.3. berikut ini :
Gambar 2.3
Williamson Turn

Sumber : rudder hard over to the opposite side; when heading 20 short of
opposite course, rudder to midship position and ship to be turned to
opposite course. www.cruiseserver.net diakses tanggal 25 September
2015
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional Penelitian
Definisi operasional sangat diperlukan agar konsep yang digunakan dapat
diukur secara empiris serta untuk menghindari kesalah pahaman dan penafsiran yang
berbeda.
Latihan (drill) menurut Nana Sudjana (1991:86) , metode drill adalah satu
kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan
tujuan untuk menyempurnakan suatu keterampilan agar menjadi permanen. Ciri yang
khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu
hal yang sama.

20

Man Over Bord adalah sebuah situasi darurat dan sangat penting di mana
dalam anggota awak kapal jatuh di laut dari kapal, tidak peduli di mana kapal berlayar,
pada lautan yang terbuka atau masih perairan di pelabuhan
Keselamatan Kerja menurut Undang-undang No. 1 Th. 1970. Semua kegiatan
kerja, baik yang didarat, dilaut, diudara ataupun disemua tempat kerja itu dilakukan
sangat memerlukan dukungan keselamatan.
Keselamatan Pelayaran menurut Hananto Soewedo (majalah Figur, edisi
XIV/2007, hal 13) mengatakan bahwa : Keselamatan pelayaran merupakan faktor
yang sangat penting ketika seorang Nakhoda menjalankan tugasnya menahkodai kapal
pelayaran mengarungi samudera
Keadaan Darurat adalah Keadaan yang lain dari keadaan normal yang
mempunyai Kecenderungan atau potensi membahayakan, baik bagi keselamatan
manusia, harta benda maupun lingkungan. Prosedur Keadaan Darurat ialah Tata
cara/pedoman kerja dalam menanggulangi suatu keadaan darurat, dengan maksud
untuk mencegah atau mengurangi kerugian lebih lanjut atau semakin besar. Kecelakaan
pada kapal dapat terjadi setiap saat dalam pelayaran, baik sedang berlabuh maupun
sedang melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan meskipun sudah dilakukan
upaya untuk menghindarinya. Untuk melindungi para pelaut dan mencegah resiko
dalam suatu aktifitas di atas kapal, setiap pihak harus memperhatikan ketentuan yang
diatur dalam Health and Safety Work Act tahun 1974, terutama yang menyangkut
kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam keadaan normal maupun darurat.
3.2. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lokasi obyek penelitian yaitu pada Kapal KM Tonasa
Lines X Milik PT. Pelayaran Tonasa Lines
3.3. Jenis Penelitian
Berdasarkan pada masalah yang diangkat dalam penelitian ini maka jenis
penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif. Habertus (2002:110) Deskriptif
Kualitatif merupakan metode penelitian yang bertujuan mendiskripsikan secara
terperinci fenomena sosial tertentu.

21

Hadari (1995:31) Penelitian Deskriptif Kualitatif juga dapat diidentikkan


sebagai penelitian yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau
keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk
mengungkapkan fakta (fact finding). Kualitatif merupakan tata cara penelitian yang
menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang dinyatakan secara tertulis atau
lisan dan juga perilaku yang nyata, teliti dan dipelajari sebagai suasana yang utuh, jadi
penelitian deskriptif kualitatif studi kasusnya mengarah kepada pendeskripsian secara
rinci dan pendalaman mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi
menurut apa adanya di lapangan.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penggalian data melalui observasi ke
objek penelitian yaitu pelaksanaan drill man over board untuk penyelamatan orang
jatuh ke laut.
3.4. Metode Pengambilan Data
Teknik pengambilan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Penelitian lapangan (field work research)
Penelitian yang dilakukan langsung ke objek penelitian yang diteliti guna
memperoleh data yang diperlukan guna penelitian di Kapal KM Tonasa Lines X
sebagai data primer.
Data diperoleh dengan cara:
a. Wawancara (interview)
Cara ini dimaksudkan agar dapat mengumpulkan banyak data dan informasi
yang diperlukan dalam penelitian dengan cara mengadakan wawancara langsung
dengan seluruh Crew kapal KM. Tonasa Lines X
b. Dokumentasi
Metode ini melakukan suatu kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan
dokumentasi atau arsip kapal KM. Tonasa Lines X terutama dokumen yang berkaitan
dengan pelaksanaan drill man over board untuk penyelamatan orang jatuh ke laut
2. Penelitian kepustakaan (Library Research)
Yaitu studi kepustakaan yang dilakukan dengan cara mempelajari serta
menelaah literatur-literatur berupa buku, jurnal, maupun makalah yang berhubungan
dengan penelitian, sebagai data sekunder

22

3.5. Teknik Pengambilan Data


3.5.1. Sumber Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini maka penulis
menggunakan Sumber data sebagai berikut :
1. Data Primer, yaitu informasi mengenai pelaksanaan drill man over board untuk
penyelamatan orang jatuh ke laut
2. Data Sekunder mengutip buku literatur, jurnal, tulisan-tulisan serta dokumendokumen yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
3.6. Metode Analisis Data
Teknik analisis data tahap analisis data ini bertujuan untuk mengetahui seberapa
penting pelaksanaan drill man over board untuk penyelamatan orang jatuh ke laut.
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif yang
dilengkapi dengan data kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif merupakan teknik
analisis yang mentransformasikan data mentah kedalam bentuk data yang mudah
dimengerti dan diinterprestasikan, serta menyusun dan menyajikan data menjadi
informasi yang jelas.
Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu dengan
mendeskripsikan secara menyeluruh data yang didapat selama proses penelitian.
Menurut Iskandar (2009:142) analisis data dengan menggunakan 4 model tahapan
analisis data yaitu :
a. Pengumpulan data
b. Reduksi data
c. Display data
d. Penarikan kesimpulan serta verifikasi data.
1. Pengumpulan data
Proses pengumpulan data pada penelitian kualitatif telah dilakukan sebelum
penelitian, saat penelitian, dan pada akhir penelitian. Pada awal penelitian,
peneliti melakukan studi pre-eliminary untuk membuktikan bahwa femomena
yang akan diangkat dan diteliti benar-benar ada dan layak untuk diteliti. Setelah
data mencukupi untuk proses analisis dan membuang ha-hal yang tidak penting

23

dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian dapat dilakukan
kemudian dilakukan reduksi data.
2. Reduksi data
Inti dari reduksi data adalah proses penyeragaman dan penggabungan semua
bentuk data yang diperoleh menjadi satu bentuk tulisan yang akan dianalisis.
3. Display data
Display data adalah proses pengolahan semua data berbentuk tulisan menjadi
beberapa kategori sesuai dengan tema atau kelompok masing-masing dan
biasanya disajikan dalam bentuk tabel, diagram, matriks, ataupun grafik.
4. Kesimpulan/verifikasi
Setelah ketiga tahapan selesai, tahapan akhir adalah penarikan
kesimpulan/verifikasi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Obyek penelitian skripsi ini adalah pada KM Tonasa line X milik PT. Pelayaran
Tonasa Lines yang beralamat di TONASA Pangkep Sulawesi Selatan Telephone 62
410 310031, 310033 fax 62 410 310032, adapun data kapal yang menjadi obyek
penelitian adalah sebagai berikut :
Name Of Vessel
: KM. TL-X
Nationality
: Indonesia
Part Of Register
: Makassar
Owner
: PT. Tonasa Lines
Bahan Utama Kapal
: Baja
Call Sign
:YGYH
Tahun Pembuatan
: Tahun 1993 / 1973 Japan
Tanda Pendaftaran
: 2002 LIa No. 2433/ L
Tanda Selar
: 2266 No. 608 / LIa
GRT
: 2266 GT
NRT
: 1211 NT
DWT
: 3.994.090 Ton

24

LOA
LWL
LBP
Bread Moulded
Deep Moulded
Light Draft
Full Draft
List At Light
Light Ship
Bale Of Space
Speed
Main Engine

: 92.00 Meter
: 86.26 Meter
: 85.50 Meter
: 13.80 Meter
: 6.95 Meter
: 1.80 Meter
: 6.014 Meter
: 5.383.00 Ton/ M3
: 389.00 M3
: 3471.88 M3
: 14.92 Knot
: Diesel AKASAKA AHYOYTAK Tunggal
2700HP / RPM 290
Auxiliary engine
: (A/E) DAIHATSU bpkt 16 (2X184 KW)
A/E No. 1 : No. 2025-616078
A/E No. 2 : No. 2026-616079
Master
: Kunrad Saleh
ChiefEngineer
: Muchtar Razaff
Chief Officer
: Armansyah
Selain spesifikasi tentang objek penelitian yang tersebut diatas berikut juga di
cantumkan gambar objek penelitian ini yaitu KM Tonasa line X yang berhasil peneliti
dokumentasikan selama periode penelitian. Adapun gambar objek penelitian tersebut
dapat dilihat pada gambar 4.1 sebagai berikut :
Gambar 4.1
KM Tonasa line X

Sumber : KM. Tonasa Lines X Hasil Dokumentasi peneliti (2016)


5.2. Alat Keselamatan Man Over Board di Kapal KM Tonasa Lines X
Berdasarkan hasil penelitian berikut adalah jenis alat keselamatan yang ada di
dalam kapal KM Tonasa Line X yang berkaitan dengan Man Over Board adalah
sebagai berikut :
1. Pelampung penolong dan jaket/rompi penolong (Life Jacket): Gunanya untuk
mengapungkan orang yang menggunakannya diatas air
2. Survival suit dan Immersion suit: Gunanya sebagai pelindung/pencegah suhu
tubuh yang hilang akibat dinginnya air laut
3. Media pelindung panas (Thermal Protective Aid): Gunanya sebagai pelindung
tubuh, mengurangi hilangnya panas tubuh
4. Isyarat visual (Pyrotechnis): Gunanya sebagai isyarat tanda bahaya bilamana
penyelamat melihat ada kapal penolong, isyarat ini hanya dapat diliihat oleh mata

25

pada siang hari digunakan isyarat asap apung (bouyant smoke signal). Pada
malam hari dapat digunakan obor tangan (red hand flare) atau obor parasut
(parachute signal)
5. Pesawat luput maut (survival craft) : Gunanya untuk menolong/mempertahankan
jiwa orang-orang yang berada dalam bahaya dari sejak orang tersebut
meninggalkan kapal
6. Sekoci penyelamat (life boat) : Gunanya selain digunakan untuk menyelamatkan
orang-orang dalam keadaan bahaya juga digunakan untuk memimpin pesawat
luput maut
Gambar 4.2
Gambar Life boat Kapal KM Tonasa Lines X

Sumber : Kapal KM Tonas Lines X

Gambar 4.3
Gambar Life bouy Kapal KM Tonasa Lines X

Sumber : Kapal KM Tonas Lines X


7. Roket pelempar tali (line throwing appliances): Gunanya sebagai alat
penghubung pertama antara kapal yang ditolong dengan yang menolong yang
selanjutnya dipakai untuk keperluan lainnya.
8. Petunjuk cara pertolongan pertama apabila berhasil menolong orang yang jatuh
kelaut
Gambar 4.4
Petunjuk Mengeluarkan Benda Dari Mulut di kapal KM Tonasa Line X

26

Sumber : KM Tonasa Lines X


Gambar 4.5
Petunjuk Memberikan pernafasan bantuan dari mulut kemulut kapal KM Tonasa Lines
X

Sumber : KM Tonasa Lines X


Gambar 4.6
Petunjuk Pernafasan Bantuan Dan Pemompaan Pada Dada di kapal KM Tonasa Line X

Sumber : KM Tonasa Lines X


Gambar 4.7
Petunjuk Membantu korban lemas atau tenggelam di kapal KM Tonasa Line X

Sumber : KM Tonasa Lines X


5.3. Isyarat Bahaya Man Over Board Pada Kapal KM Tonasa Lines X
Adapun isyarat bahaya apabila ada orang jatuh kelaut pada Kapal KM Tonasa
Lines X adalah sebagai berikut :
_____ _____ _____ Berteriak dan katakan orang jatuh kelaut sebelah kiri /
kanan orang jatuh ke laut ke arah anjungan. (3 Tiup panjang pada terompet
kapal). Adapun gambar isyarat bahaya yang didapat dari KM Tonasa Lines X adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.2
Isyarat Kondisi Bahaya kapal KM Tonasa Line X

27

Sumber : kapal KM Tonasa Line X (2016)


5.4. Prosedur Pertolongan Man Over Board Pada Kapal KM Tonasa Lines X
Orang jatuh kelaut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat
situasi menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan. Pertolongan yang
diberikan tidak mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada keadaan cuaca
saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun fasilitas yang
tersedia. Dalam kapal KM Tonasa Lines X apabila seorang awak kapal melihat orang
jatuh kelaut, maka tindakan yang dilakukan adalah berteriak Orang Jatuh ke Laut
dan segera melapor ke Mualim Jaga. Tata cara khusus dalam prosedur Keadaan Darurat
yang harus dilakukan dalam Dalam kapal KM Tonasa Lines X antara lain :
1. Lemparkan pelampung yang sudah dilengkapi dengan lampu apung dan asap
sedekat orang yang jatuh
2. Usahakan orang yang jatuh terhindar dari benturan kapal dan baling- baling
3. Posisi dan letak pelampung diamati
4. Mengatur gerak tubuh menolong (bila tempat untuk mengatur gerak cukup
disarankan menggunakan metode WILLIAMSON TURN
5. Tugaskan seseorang untuk mengatasi orang yang jatuh agar tetap terlihat
6. Bunyikan 3 (tiga) suling panjang dan diulang sesuai kebutuhan
7. Regu penolong siap di sekoci
8. Nakhoda diberitahu
9. Kamar mesin diberi tahu
10. Letak atau posisi kapal relatif terhadap orang yang jatuh di plot
11. Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan
Dapat disimpulkan dari hasil pengamatan peneliti tentang prosedur man over
board yang dilakukan pada kapal KM Tonasa Lines X dilakukan secara benar dan
sesuai prosedur.
5.5. Pelaksanaan Drill Man Over Board untuk menyelamatkan orang jatuh ke laut
pada kapal KM Tonasa Lines X

28

Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan Drill Man Over Board untuk


menyelamatkan orang jatuh ke laut dari atas kapal KM Tonasa Lines X bertujuan untuk
:
1. Menjaga ketrampilan ABK
2. Menjaga kesiapan ABK
3. Membiasakan diri ABK dalam situasi darurat apabila ada orang jatuh kelaut
4. Memeriksa kondisi peralatan
5. Melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ada dalam SOLAS
5.5.1. Latihan Man Over Board pada kapal KM Tonasa Lines X
Untuk menjaga kewaspadaan dan kesiapan ABK KM Tonasa Lines X diadakan
latihan baik teori maupun praktek secara berkala dan teratur. Latihan bersama baik
mengenai jumlah maupun letak alat keselamatan guna menolong orang yang jatuh
kelaut dan guna memperlancar dalam pelaksanaan bila terjadi orang jatuh kelaut.
Adapun pelaksanaan pelatihan yang dilakukan di kapal KM Tonasa Lines X adalah
sebagai berikut :
1. Pelaksanaan Latihan-latihan darurat sesuai SOLAS
2. Diatas kapal latihan sekoci dilaksanakan 1 kali seminggu atau segera sesudah
meniggalkan pelabuhan terakhir
3. Diatas kapal latihan sekoci dan dilaksanakan 1 kali sebulan atau 24 jam sesudah
meninggalkan pelabuhan bila ada penggantian ABK lebih dari 25 %
4. Pelaksanaan latihan darurat harus dicatat dalam buku jurnal / log book
5. Setiap 3 bulan sekali sekoci penolong harus diturunkan keair / bergiliran
6. Semboyan bahaya terdiri dari 7 atau lebih tiupan pendek disusul dengan satu
tiupan panjang.
Berdasarkan keterangan para ABK KM Tonasa Lines X setiap ada kegiatan
pelatihan selalu di dokumentasikan namun karena yang berwenang memberikan
gambar serta catatan mengenai drill Man Over Board tidak berada di kapal maka
peneliti tetap berusaha mendapatkan informasi dari ABK yang lainnya. Berikut gambar
drill Man Over Board yang berhasil peneliti himpun :
Gambar 4.1
Drill Man Over Board KM Tonasa Lines X

29

Sumber : kapal KM Tonasa Line X (2016)


5.6. Masalah Dan Hambatan Pelaksanaan Drill Man Over Board Untuk Penyelamatan
Orang Jatuh Ke Laut
Dari pengamatan penulis selama peneltian terdapat masalah dan hambatan
pelaksanaan Drill Man Over Board untuk menyelamatkan orang jatuh ke laut dari atas
kapal KM Tonasa Lines X adalah sebagai berikut :
1. Sistem pelaksanaan tentang Drill Man Over Board kurang sistematis meskipun
ada jadwal pelatihan tetapi kurang kosistem dalam menjalankannya.
2. Materi pelatihan tidak terdokumentasi dengan baik Drill Man Over Board
3. Sistem pelaksanaan tentang Drill Man Over Board minim praktek, hanya sebatas
teori saja
4. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran awak kapal tentang pentingnya pelatihan
Man Over Board
5. Drill Man Over Board hanya sebagai selingan diantara beberapa keadaan darurat
diatas kapal, yang sering dilakukan pelatihan tentang bahaya kebaran dan
keadaan darurat lainnya
6. Rute pelayaran jarak pendek yang meminimkan waktu pelatihan keselamatan.
7. Kurangnya perawatan dan pemeliharaan terhadap alat-alat keselamatan.
5.7. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian tentang pelaksanaan drill man over board untuk
penyelamatan orang jatuh ke laut, pelatihan keadaan darurat khususnya drill man over
board kapal KM Tonasa Lines X masih pasif dan tidak bersifat aktiv seperti pelatihan
keadaan darurat yang lainnya yang sering terjadi diatas kapal, hingga penelitian ini
dilakukan tidak pernah terjadi keadaan darurat orang jatuh kelaut selama pelayaran
kapal KM Tonasa Lines X.
Sarana dan prasarana kapal KM Tonasa Lines X yang digunakan disesuaikan
dengan keadaan darurat yang paling mungkin akan terjadi di kapal KM Tonasa Lines X
seperti halnya kondisi darurat apabila kapal kandas, kondisi darurat apabila terjadi
bahaya kebakaran termasuk juga pencemaran. Sehingga pemahaman crew/ABK KM
Tonasa Lines X tentang segala keadaan darurat lebih memahami bahaya menghadapi

30

kebakaran, kandas, pencemaran dari pada kondisi darurat man over board atau orang
jatuh kelaut.
Berkaitan dengan hal diatas dalam pembahasan ini penulis mencoba
menyimpulkan dari hasil observasi langsung serta wawancara, pelatihan banyak
difokuskan pada antisipasi resiko besar apabila penanganan keadaan darurat

tidak

dilakukan oleh crew/ABK yang tidak terlatih di KM Tonasa Lines X seperti :


1. Tingkat kerusakan kapal
2. Gangguan keselamatan kapal (Stabilitas) apabila tenggelam
3. Kekhawatiran terhadap kondisi muatan
4. Pengaruh kerusakan pada lingkungan
5. Kemungkinan membahayakan terhadap dermaga atau kapal lain.
Pembahasan selanjutnya dalam mengantisipasi menghadapi setiap keadaan
darurat KM Tonasa Lines X tidak dilakukan pendataan sejauh mana keadaan darurat
tersebut dapat membahayakan Crew/ABK, kapal dan lingkungannya serta bagaimana
cara mengatasinya disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia di KM
Tonasa Lines X.
Pelatihan orang jatuh kelaut atau drill man over board masih belum dianggap
pengetahuan yang utama dari segala pelatihan daurat pelatihan orang jatuh kelaut
dilakukan tidak bersifat penerapan dari pada pengetahuan dan keahlian, jadi lebih
bersifat teoritis bukan praktis. Padahal tujuan dari semua pelatihan keselamatan kerja
haruslah berupa pendidikan teori maupun praktek, yang menuntut ketrampilan
individual untuk mewujudkan keadaan yang selamat, terbebas dari rasa takut, dari
berbagai ancaman, gangguan yang dapat mengancam keselamatan jiwa crew/ABK,
harta benda termasuk kapal dan lingkungan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

31

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pembahasan dan pemaparan pada bab-bab sebelumnya,
maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kurang maksimal dan terorganisir secara sistematis tentang bentuk drill man
over board baik berupa materi, waktu pelaksanaan di KM Tonasa Lines X.
2. Kurang terdokumentasikanya jenis pelatihan drill man over board KM Tonasa
Lines X.
3. Sistem pelaksanaan tentang Drill Man Over Board minim praktek, hanya sebatas
teori jarang dilakukan simulasi, hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara
sebagian besar para awak kapal dapat menjelaskan tentang bagaimana
pertolongan apabila ada orang jatuh kelaut, dan sebagian besar awak kapal bisa
menjawab secara teoritis. Dan lebih lanjut ditanyakan tentang rutinitas pelatihan
Man Over Board di KM Tonasa Lines X secara praktek sebagian besar banyak
yang lupa kapan terakhir kali dilakukan serta kapan jadwal selanjutnya untuk
dilakukan pelatihan Man Over Board

5.2. Saran
Selanjutnya untuk melengkapi penulisan ini, dan dari hasil kesimpulan yang
disampaikan diatas, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut;
1. Sebagai antisipasi dari keselamatan seluruh awak kapal agar dimaksimalkan Drill
Man Over Board melalui materi pelatihan yang lengkap serta waktu pelaksanaan
yang teratur
2. Setiap pelaksanaan seluruh pelatihan keadaan darurat agar selalu di
dokumentasikan dengan baik, hal ini juga merupakan bukti bahwa KM Tonasa
Lines X peduli terhadap keselamatn kerja

32

3. Agar setiap pelaksanaan pelatihan keadaan darurat di KM Tonasa Lines X di


perbanyak pada pelatihan praktek dari pada teori, hal ini bisa memudahkan
peserta latih mudah memahami materi yang sebenarnya karena praktek
merupakan kejadian yang sebenarnya namun tidak termasuk keadaan darurat
karena hanya berupa simulasi.

Anda mungkin juga menyukai