Anda di halaman 1dari 17

Menyingkap Makna I'tikaf dan Lailatul Qadar

Oleh. Jeje Zaenudin Abu Himam

Bagian I
SEPULUH MASALAH TENTANG LAILATUL QADR

Muqaddimah
Segala puji hanya milik Allah Subhnahu wa ta'la yang telah memberi karunia
kepada kaum muslimin berbagai keistimewaan yang besar. Di antara keistimewaan
yang besar itu adalah dengan diberikannya malam istimewa yang satu malam tersebut
melebihi seribu bulan, yaitu malam Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan.
Kelebihan serta keutamaan malam itu itu disebabkan keistimewaan peristiwa yang
terjadi padanya yang tidak terjadi pada malam yang lain. Karena itu, penyebutan
malam yang lebih mulia itu merupakan gaya bahasa Majaz mursal min ithlqil
musabbab 'ala sabb, artinya gaya bahasa kiyasan dengan cara disebutkan akibatnya
padahal yang dimaksud adalah yang menerangkan bahwa yang istimewa itu
sebenarnya adalah peristiwanya yang sangat agung pada malam tesebut. Sebab pada
dasarnya seluruh malam dan seluruh waktu antara yang satu dengan yang lain adalah
sama saja. Maka jika terjadi adanya pengistimewaan satu waktu atas yang lainnya
bukan karena waktu itu sendiri melainkan karena Allah menjadikan suatu
keistimewaan pada waktu tersebut yang mempunyai makna serta pengaruh yang besar
dalam kebaikan.

Hikmah Keistimewaan Sebagian Dari Ciptaan Allah


Karena itu, sebelum penulis menguraikan beberapa masalah penting seputar malam
Qadar, merasa perlu mengemukakan suatu bahasan sebagai kaidah berfikir sekaligus
kaidah 'aqidah dalam memahami kemuliaan serta keistimewaan (fadhilah-fadhilah)
tertentu menyangkut waktu maupun yang lainnya seperti tempat dan individu tertentu.
Sebab masalah ini sangatlah penting dalam membimbing pemahaman bagaimana
seharusnya kita mendudukan keistimewaan-keistimewaan tertentu dari makhlukmakhluk ciptaan Allah sehingga tidak terjerumus kepada cara-cara pengkultusan yang
menyeleweng seperti yang biasa terjadi pada sebagian kalangan umat beragama,
bahkan pada kalangan kaum muslimin sendiri.
Ketahuilah, bahwa di antara kaidah keyakinan kita terhadap kemahaesaan Allah
adalah mengimani bahwasanya Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Allah
memilih dari ciptaan-Nya sesuatu yang diistimewakan dengan menjadikan
keunggulan tertentu pada sebagian makhluk ciptaan-Nya tersebut. Maka Allah Ta'la
Mahamuthlaq dalam kekuasaan dan kehendak-Nya serta terbebas dari intervensi
siapapun dalam mencipta dan memilih. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya.

68

Dan Tuhanmu menciptkan apa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia memilih (apa saja
yang dikehendaki-Nya), tidak ada hak pilihan atas mereka (manusia). Mahasuci Allah
dan Mahatinggi dari segala apa yang mereka sekutukan. (Surat Al Qashash: 68)
Kekuasaan Allah dalam mencipta apa saja dan kekuasaan Allah dalam memilih apa
saja dari makhluk-Nya dengan mengistimewakan yang satu dari yang lainnya adalah
hak Tauhid rububiyah Allah yang seluruh makhluk wajib tunduk serta patuh tanpa
mempertanyakan mengapa? Sebab kebebasan Allah dalam mencipta dan memilih
tidaklah patut dipertanyakan oleh makhluk, melainkan makhluk yang akan
dipertanyakan oleh Allah mengapa mereka tidak memahami dan tidak
mengimaninya? Bukankah Allah berfirman, "Dia tidak dipertanyakan tentang apa
yang Dia perbuat justru merekalah (makhluk) yang akan diminta pertanggungjawaban
tentang apa yang mereka kerjakan" (Surat Al Anbiya: 23)
Oleh sebab itu Allah menciptakan segala sesuatu dan memilih sesuatu itu tidak dapat
ditanya mengapa oleh makhluk akan tetapi makhluk (manusia) dapat menyelidiki
hikmah dari ciptaan dan pilihan Allah itu serta dapat memahami ke-Mahabijaksanaan,
pengetahuan, serta keadilan Allah dalam segala ciptaan dan pilihan-Nya.
Atas dasar kaidah inilah kita memahami, Allah telah menciptakan puluhan milyar
planet, bintang, dan berbagai macam makhluk benda angkasa yang berseliweran di
jagat raya ini. Kemudian Allah memilih dari puluhan milyar benda angkasa dan planet
itu satu gugusan bintang (galaksi) yang di dalam Al-Qur'an disebut sebagai al Burj,
yaitu Galaksi Bima Sakti. Dari Galaksi Bima Sakti itu Allah memilih satu planet yang
istimewa sebagai tempat tinggal manusia yaitu palanet Bumi. Kenapa Allah pilih
planet Bumi bukan yang lainnya? Itulah kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah
dalam mencipta dan memilih dan kita dapat memahami hikmahnya bahwa hanya
dibumilah yang cocok untuk tempat tinggal manusia sebagai makhluk yang
membuthkan makan, minum, suhu udara dan cuaca yang stabil sehingga mereka dapat
hidup mencari nafkah serta bersenang-senang. Inilah di antara rahasia firman-Nya,

"Dan bagimu di bumi adalah tempat tinggal dan tempat bersenang-senang sampai
masa yang telah ditentukan" (Al-Baqarah: 36). Demikian juga firman-Nya,

"Dan sungguh Kami telah teguhkan tempat tinggal kamu di bumi dan Kami jadikan di
bumi itu tempat penghidupan kamu, sedikit sekali kamu bersyukur" (Al A'raf : 10)
Setelah Allah memilih bumi sebagi tempat tinggal manusia di antara milyaran palanet
yang lain, Allah juga telah memilih bagian permukaan bumi mana yang paling Dia
cintai dan Dia muliakan. Maka Dia memilih Mekah, Madinah, dan Yerusalem sebagai
permukaan bumi yang paling diberkahi. Karena itu dari semua Mesjid yang ada

dipermukaan bumi ini Allah istimewakan mesjid di tiga tempat tersebut dari semua
mesjid yang ada dipalnet bumi. Sehingga satu kali shalat di mesjid al Haram seperti
seratusribu kali shalat pada mesjid yang lain selain mesjidi Nabawi dan Mesjidil
Aqsha, satu kali shalat di mesjid Nabawi seperti shalat seribukali pada mesjid yang
lain selain mesjidil Haram dan Mesjidil Aqsha, dan satu kali shalat di mesjidil Aqsha
seperti seratus kali shalat pada mesjid yang lain selain mesjidil haram dan mesjid
Nabawi. Dalam kaidah ini pula kita memahami keistimewaan tempat tempat lain
dalam rangkaian ibadah haji seperti Shafa dan Marwah, Arafah, Mujdalifah dan Mina.
Ini sebagai contoh dari kemutlakan kuasa Allah dalam mencipta dan memilih tempat.
Allah Azza wa Jalla juga menciptakan waktu sebagai batasan masa bagi makhluknya.
Maka diciptakan-Nya dua belas bulan dalam satu tahun,

"Sesungguhnya hitungan bulan dalam satu tahun adalah duabelas bulan dalam
ketetapan Allah sejak diciptakannya langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan
yang haram/dimuliakan" (AT Taubah: 36).
Yang dimaksud dengan empat bulan "haram itu" adalah Dzul Qaidah, Dzul Hijjah,
Muharram dan Rajab, yang pada bulan-bulan terebut segala kekerasan dan
peperangan diharamkan dan dilipatgandakan dosa para pelanggarnya. Kemudian
dalam satu bulan itu Allah jadikan dua puluh sembilan hingga tiga puluh hari, tujuh
hari dalam satu pekan, duapuluh empat jam dalam sehari semalam, enampuluh detik
dalam satu jam, dan seterusnya. Dari duabelas bulan itu pula Allah pilih satu bulan
istimewa yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan sebagai bulan turunya Al-Qur'an
yang dabadikan dengan perintah melaksanakan ibadah paling istimewa yaitu shaum.
Dari bulan Ramadhan itu pula Allah memilih satu malam yang paling istimewa dan
tidak ada lagi bandingannya dengan yang lain, yaitu malam Qadar.
Dalam satu pekan tujuh hari Allah memilih hari Jum'at sebagai hari raya mingguan,
yang pada hari itu diciptakan Adam, di masukkannya ke surga, dan di keluarkannya
dari padanya ke bumi, dan pada hari itu pula akan terjadinya qiyamat kubra. Pada hari
itulah Allah jadikan satu waktu sangat mustajabnya do'a manusia yang beriman yang
dirahasiakan kepada mereka mengenai ketentuannya.
Dalam dua puluh empat jam sehari semalam, Allah memilih lima waktu yang terbaik
untuk beribadah kepadanya yaitu waktu-waktu shalat wajib.

"Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang telah ditetapkan waktunya kepada orangorang beriman" (An Nisaa: 103).
Dari lima waktu shalat wajib Allah memilih dua waktu yang paling utama yaitu shalat
Ashar dan shalat Shubuh.

"Peliharalah waktu-waktu shalatmu dan terutama shalat wustha (Ashar) dan tetaplah
beribadah kepadanya dengan tekun" (Al Baqarah: 238)
kemudian firman-Nya,

"Dirikanlah shalat sejak tergelincir matahari sampai larut malam dan dirikanlah shalat
fajar, sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan para malaikat" (Al Israa: 78).
Dalam sehari semalam juga Allah telah memilih waktu yang paling utama untuk
beribadah shalat sunnat, berdoa dan beristighfar pada waktu tersebut yaitu sepertiga
akhir malam, yaitu waktu sahur. Karena itulah makan di waktu sahurpun terbawa
berkah dengan keberkahan waktu tersebut. Nabi bersabda, "Bersahurlah kalian karena
pada sahur itu ada keberkahan".
Contoh lain tentang kekuasaan Allah dalam mencipta dan kebebasan kehendak-Nya
dalam memilih adalah Dia telah menciptakan berbagai makhluk hidup dan memilih
dari ciptaannya itu yang dikehendaki-Nya. Allah Tabraka wa Ta'la telah
menciptakan dua jenis makhluk hidup yang berbeda alam. Yaitu makhluk yang hidup
di alam ghaib seperti Malaikat, Jin dan Arwah. Serta makhluk hidup yang hidup di
alam syahadah atau alam fisik-materi yaitu tumbuhan, binatang dan manusia. Dari
makhluk ghaib Allah telah memilih malaikat sebagai makhluk yang terdekat kepadaNya. Dari seluruh Malaikat Allah memilih Malaikat Jibril sebagai pemimpin Malaikat
dan yang terdekat dari semuanya sehingga dijadikannya sebagai duta antara Allah
dengan manusia dalam menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi dan Rasul sehingga
digelarinya sebagai Rhul Qudus, Rhul Amin, atau Ar Rh.
Kemudian Allah memilih dari sekalian makhluk hidup yang berfisik manusia sebagai
makhluk yang paling mulia dan sempurna dari semua makhluk yang ada.
Dijadikannya manusia sebagai khalifah di muka bumi (Surat Al Baqarah: 30) yang
punya hak memimpin dan menguasai semua makhluk yang ada di alam raya dengan
seizin-Nya (Al Baqarah : 29). Ditundukannya kepada manusia segala yang di langit
dan di bumi, daratan, lautan, dan segala isinya. Kemudian dari seluruh manusia Allah
pilih pada setiap zaman para Nabi dan Rasul-Nya. Dari seluruh Nabi dan Rasul itu
Allah pilihkan duapuluh lima Rasul yang tercatat dalam Al-Qur'an. Dari semua Nabi
dan Rasul itu Allah istimewakan lima Rasul 'Ulul Azmi yaitu Nabi Nuh, Ibrahim,
Musa, Isa dan Muhammad shalawatullah wasalamuhu alaihim ajma'in. Dan dari lima
Rasul ulul azmi itu, Allah memilih Rasul yang paling mulia dan paling agung karena
kedudukannya sebagai penutup para Nabi, penyempurna segenap ajaran agama, dan
pembawa kitab suci terakhir, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alai wasallam.
Beliaulah pemilik maqmam mahmdan (tempat yang terpuji di sisi Allah), pemilik al
wasilah wal fadhilah (surga yang tertinggi), dan pemilik hak syafa'atul 'udhma (hak
memohon syafa'at pada hari peradilan) di padang mahsyar.

Cara Memuliakan Keistimewaan-Keistimewaan Yang Ditetapkan Allah


Telah ditegaskan di atas bahwa keistimewaan tempat, waktu, makhluk hidup tetentu
semua adalah bagian dari rahasia kemuthlakan kekuasaan Allah dam mencipta dan
memilih. Karena itu, di dalam memuliakan dan mengagungkan semua itupun harus
dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Allah. Maka Allah mensyariatkan melalui
Rasul-Nya bagaimana cara memuliakan makhluk-makhluk istimewa itu. Tidak ada
pilihan bagi manusia untuk sekehendaknya memuliakan dan mengagungkannya tanpa
petunjuk pembuat syariat. Oleh sebab itu dalam beberapa kasus Nabi Saw.
memperingatkan umatnya agar jangan terjerumus mengada-ada ritual pemuliaan atas
tempat, waktu, dan individu dengan cara-cara yang dibuat-buat tanpa dalil syariat.
Allah dan Rasulnya mengharamkan manuisa membuat-buat tempat suci selain tempat
suci yang telah ditetapkan Allah, menetapkan waktu-waktu istimewa selain waktu
yang telah dipilih Allah, dan mengistimewakan pribadi tertentu selain pribadi yang
telah diistimewakan Allah. Maka tidak ada kota suci selain Mekah, Madinah, dan
Yerusalem. Oleh sebab itu erupakan kebid'ahan yang besar bahkan dapat terjerumus
kepada syirik ketika manusia menjadikan tempat suci dengan sekehendaknya sendiri
seperi kaum Syiah-Rafidhah yang menjadikan pemakaman Husein Radhiyallahu anhu
di Karbala sebagai tempat dan kuburan suci sehingga kuburannya dijadikan tempat
ziarah dan thawaf laksana Ka'bah, lalu tanah dan batunya dianggap mengandung
berkah dan berkhasiat sehingga tanah dan batunya dibawa kemana-mana sebagai alas
bersujud diwaktu shalat. Demikian juga kaum Ahmadiyah yang menganggap suci
tempat kelahiran dan kuburan Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad di Qadian-India
sehingga mereka menziarahi dan beribadah padanya laksana berhaji dan menziarahi
makam Nabi Muhammad Saw di Madinah al Munawarah.
Atas dasar ini, meskipun umat Islam disuruh memuliakan Ka'bah dan menghormati
kota suci Mekah, Madinah, dan Yerusalem tetapi diharamkan memuliakannya dengan
cara menjadikan batu Ka'bah atau kiswahnya sebagai jimat yang dikeramatkan dan
diyakini memberi manfaat dan madharat terlebih-lebih batu dan tanah yang ada
disekitarnya.
Demikian juga diharamkan memuliakan kuburan Nabi dengan cara mensakralkan
tanah kuburannya atau meminta keberkahan dengan memanjatkan doa kepada ruhnya.
Bahkan Rasulullah melarang para shahabatnya memuliakan beliau seperti kaum
Nashrani memuliakan Isa bin Maryam sehingga terjerumus kepada mensekutukannya
di samping Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim beliau
mengingatkan umatnya, "Janganlah kalian menyanjung-nyanjungku seperti kaum
Nashrani menyanjung-nyanjung Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah hamba dan Rasul
Allah, maka panggilah aku hamba Allah dan Rasul-Nya".
Oleh sebab itulah para shahabat Nabi meskipun mereka sangat memuliakan dan
mencintai Nabi, tetapi kecintaan dan penghormatan mereka kepada Nabi tidak berani
melebihi apa yang diizinkan kepada mereka melainkan sesuai dengan batas yang
disyariatkan Allah dan Rasulnya kepada mereka yaitu mengimaninya, mencintainya
di atas segala sesuatu setelah Allah, membelanya dari setiap musuh yang mencela dan

memeranginya, mendakwahkan agamanya, serta melaksanakan tuntunan ajaran


sunnahnya secara konsisten dan konsekwen sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an,

"Katakanlah (olehmu Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Allah maka


ikutilah aku, niscaya Allah akan membalas kecintaan kalian dan akan mengampuni
dosa-dosa kalian, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang" (Ali Imran : 31)
Ketika Allah mengistimewakan suatu waktu tertentu, maka cara memuliakan dan
mengagungkan waktu tersebutpun harus dengan apa yang diperintahkan syariat. Tidak
dibenarkan dengan alasan bahwa Allah dan Rasulnya memuliakan suatu waktu
tertentu, atau tempat dan inidividu tertentu, kemudian seorang muslim menjadikan
waktu tersebut sebagai waktu beribadah dengan cara yang dibuatnya sendiri tanpa
adanya tutunan dari syariat. Bahkan Rasulullah melarang umatnya mengkhususkan
hari Jum'at yang mulia sebagai hari untuk berpuasa pada siang harinya dan
menjadikan malam harinya sebagai malam untuk melaksanakan shalat malam. Dalam
shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Huraerah Rasulullah bersabda, "Janganlah
kalian menkhususkan malam Jum'at untuk shalat (sunnah) tanpa malam-malam yang
lain, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jum'at untuk berpuasa tanpa hari hari
yang lainnya".
Kenapa Rasulullah melarang mengkhususkan shalat sunnah pada malam Jum'at dan
mengkhususkan shaum pada siang harinya, padahal malam dan hari Jum'at jelas
adalah waktu yang diistimewakan Allah dalam sepekan? Kemudian kenapa dilarang
shalat malam dan puasa sunah padahal kedua perkara itu merupakan ibadah yang
utama dari ibadah-ibadah yang lainnya? Ketahuilah, bahwa hari Jum'at adalah benar
hari yang paling mulia dalam sepekan dan bahwa shalat tahajud atau qiyamullail
adalah ibadah shalat sunnah yang paling mulia setelah yang wajib, demikian juga
shaum adalah ibadah yang paling besar pahalanya di sisi Allah, akan tetapi ketika
semuanya itu dilaksanakan keluar dari tujuan, niyat, tatacara, tempat dan waktunya
dari apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka pemuliaan itu justru
berubah menjadi pelanggaran terhadap yang membuat kemuliaan tersebut, yaitu Allah
dan Rasul-Nya. Inilah perkara yang seringkali terjadi kesyubhatan dalam pemikiran
sebagian kaum awam. Ketika mereka menetapkan kemuliaan surat tertentu dari AlQur'an dengan membacanya pada waktu tertentu, jumlah hitungan tertentu, tempat
dan niyat-niyat fadhilah tertentu yang tidak disyariatkan dengan alasan dengan dalildalil umum mengenai keistimewaan membaca Al-Qur'an, waktu atau tempat tertentu.
Untuk itu secara ringkas dapat ditegaskan bahwa Allah telah memilih waktu, tempat,
individu, amalan dan tatacara tertentu dalam beribadah kepada-Nya, maka seorang
muslim wajib mengimani dan menerimanya sebagai perwujudan iman atas keesaan
Allah dalam penciptaan dan kehendak-Nya dan sebagai manusia tidak ada yang diberi
kuasa untuk mengada-ada kemuliaan sesuatu apapun selain yang ditetapkan Allah,
tetapi dalam tatacara memuliakan apa yang diistimewkan Allah dari tempat, waktu,
individu, dan amalan-ritual tertentu itu semuanya harus sejalan pula dengan apa yang
diperintahkan serta diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

Sepuluh Masalah Lailatul Qadar

(5 1

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ia pada malam Qadar. Dan tahukah kamu
apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam
itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Masalah pertama
Apa yang diturunkan Allah pada Malam Qadar itu?
Imam Al-Qurthubi di dalam kitab Tafsirnya ketika menafsirkan surat di atas
menyatakan bahwa dhamir atau kata ganti penunjuk ia pada kata-kata, Kami telah
menurunkan ia pada malam qadar, maksudnya adalah Al Quran. Maka dengan
demikian arti yang lengkap dari ayat pertama surat Al Qadar di atas adalah, Kami
(Allah) telah menurunkan ia, yaitu al-Quran, pada malam qadar. Memang ada
beberapa anggapan bahwa mungkin saja yang turun itu selain al-Quran. Seperti
Taurat, Zabur, Injil, atau kitab suci lainnya. Akan tetapi pendapat itu tidak punya
landasan dalil yang jelas. Sedang dasar penafsiran bahwa yang turun pada malam
qadar itu adalah al-Quran telah diisyaratkan pada ayat yang lain. Seperti firman
Allah,

2
5

1
4

Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami
menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang
memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,
(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus
rasul-rasul. (Surat Ad Dukhn; 1-5)

Yang dimaksud dengan kitab yang menjelaskan adalah kitab suci al-Quran. Sedang
malam yang diberkahi adalah malam Qadar. Jadi al-Quran diturunkan pada malam
yang diberkahi yaitu malam qadar

Masalah kedua
Al-Quran mana yang diturunkan pada malam qadar itu? Bukankah Quran itu turun
kepada Nabi secara bertahap dan terkadang hanya beberapa ayat saja selama lebih
kurang dua puluh tiga tahun. Sementara malam qadar itu cuma satu malam.
Berkenaan dengan maksud al-Quran yang turun pada Malam Qadar itu ada dua
pendapat para ahli tafsir:
Pertama. Pendapat yang menyatakan al-Quran yang turun pada Malam Qadar itu
adalah al-Quran yang utuh secara keseluruhan dari awal hingga akhirnya. Yaitu alQuran diturunkan dari Allah ke Lauh al Mahfudh [lembaran terpelihara] atau dari
Lauh al Mahfudh ke langit dunia secara sekaligus sebelum diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw. secara bertahap.
Imam Al-Qurthubi dalam Kitab Tafsirnya mengutip riwayat dari Al Mawardi dengan
sanadnya dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata, Al-Quran diturunkan ke langit
dunia secara sekaligus, kemudian diturunkan ke bumi [kepada Nabi] secara beransuransur [nujuman] dan dipisah-pisahkan ayat-ayatnya lima ayat-lima ayat atau lebih
sedikit dari itu atau lebih banyak dari itu. Maka itulah maksud ayat {Aku bersumpah
dengan tempat beradarnya bintang-bintang}
Mereka yang berpendapat ini berdalil dengan ayat al-Quran,

80 75

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya


sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al
Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh
Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan
dari Tuhan semesta alam. (Al Waqiah [56] : 75-80)
Ibnu Abas menafsirkan "mawqi'innujm" itu adalah turunnya al-Qur'an dari langit
dunia secara bertahap kepada nabi Muhammad sesuai dengan peristiwa-peristiwa
yang melatarbelakanginya. Mereka juga beralasan bahwa kalau yang dimaksud
turunnya al-Quran pada Malam Qadar itu adalah turunnya kepada Nabi maka ini
tidak relevan, sebab turunnya al-Quran kepada Nabi itu bertahap sepanjang dua
puluh dua tahun lebih. Dan yang turun kepada Nabi pada pertama kali itupun hanya
beberapa ayat dari surat Al Alaq. Jadi bagaimana akan dikatakan sebagai turunnya
al-Quran.

Kedua. Pendapat yang menyatakan bahwa al-Quran yang turun pada Malam Qadar
itu adalah turunnya wahyu atau ayat al-Quran pertama kali turun kepada Nabi pada
bulan Ramadhan di Gua Hira. Mereka yang berpendapat demikian berargumen
dengan beberapa hal:
a.

Firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 185,

.
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Istilah diturunkan al-Quran kepada nabi meliputi pengertian turunnya beberapa ayat.
Artinya sudah biasa disebut seluruhnya padahal maksudnya sebagian. Sehingga kalau
dikatakan al-Quran turun pada bulan Ramadhan maksudnya adalah beberapa ayat alQuran turun pada bulan tersebut.
b.
Imam Asy-Syabi berpendapat bahwa yang dimaksud turun pada Malam Qadar
itu adalah turun permulaannya kepada Nabi Muhammad saw.
c.
Ibnu al Arabi mengatakan, Pendapat yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas
adalah bathil. Tidak ada batas perantara antara turunnya al-Quran dari Allah kepada
Malaikat Jibril dan dari Jibril kepada Nabi Muhammad.
d.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengambil jalan tengah dengan
mengkompromikan kedua pendapat diatas bahwa kedua pendapat tersebut tidaklah
saling bertentangan melainkan sangat mungkin dipadukan bahwa kedua peristwa itu
sama-sama terjadi pada malam Qadar, baik turunnya Al-Qur'an dari Lauh mahfudh ke
langit dunia maupun turunnya ayat pertama kepada Nabi Muhammad sama-sam
terjadi pada malam Qadar.

Mensikapi perbedaan pendapat sekitar pengertian turunnya al-Qur'an pada malam


Qadar ini, Syekh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan,
"Adapun makna turunnya al-Qur'an pada bulan Ramadhan --sementara sudah
diketahui secara yakin bahwa al-Qur'an turun secara beransur-ansur dan sebagiansebagian sepanjang masa kenabian-- maka maksudnya adalah permulaan turunnya
pada bulan Ramadhan, yaitu pada salahsatu malamnya yang dinamakan lailatul qadar
atau malam yang diberkahi menurut ayat yang lain. Makna ini sangat jelas tanpa ada
kemusykilan lagi, bahwa kata "al-Qur'an" digunakan secara umum kepada
keseluruhan al-Qur'an atau kepada sebagian ayatnya. Orang-orang yang menafsirkan
al-Qur'an sejak zaman periwayatan menyangka bahwa ayat ini musykilah,
mengandung kesulitan dalam memahaminya, sehingga untuk mengatasi kesulitan
pemahaman itu mereka meriwayatkan bahwa al-Qur'an diturunkan pada lailatul qadar

dari bulan Ramadhan itu kelangit dunia yang semula berada di lauhilmahfudz di atas
tujuh lapis langit, kemudian dari langit dunia diturunkan secara bertahap kepada nabi.
Lahiriyah pendapat mereka ini menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan belum ada
ayat yang diturunkan kepada Nabi saw., dan hal ini bertentangan dengan lahiriyah
beberapa ayat. Dengan pendapat mereka ini, dijadikannya bulan Ramadhan sebagai
bulan berpuasa jadi tidak memiliki makna nikmat dan hikmah, sebab keberadaan alQur'an di langit dunia sama saja dengan keberadaannya di langit yang tujuh atau di
lauhilmahfudz, yang mana al-Qur'an belum menjadi petunjuk bagi kita. Lagi pula cara
turun seperti itu dan pemberitaanya yang demikian tidak memberi faedah apapun"
(Tafsir Al Manr : II/161)
Masalah ketiga
Mengapa malam turunnya al-Quran pertama kali kepada Nabi disebut malam qadar?
Apa arti malam qadar itu?
Malam pertama kali turunnya al-Quran kepada Nabi dinamakana Lailat alQadr. [dengan dimatikannya bacaan huruf dal] yang sering diartikan sebagai
Malam Mulia, atau Malam Yang Agung. Menurut Imam Ar Raghib al Asbahany
dalam Mufradat fi Gharibil Qur'an, Al Qadr secara bahasa diambil dari kata qa-da-ra
yang mempunyai arti batasan atau kesempitan, ukuran, kualitas sesuatu, kemampuan,
dan ketetapan.
Imam Ibnu Hajar al-Ashqalany dalam Fathul Bry menyebutkan tiga
pengertian malam qadar. Pertama, malam qadar artinya malam kemuliaan atau malam
kehormatan. Seperti friman Allah,

Dan mereka tidak memuliakan Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala
mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". (Al Anam :
91)
Dinamakan malam kemuliaan karena malam itu dimuliakan di atas malam yang lain
dengan turunnya wahyu al-Quran pertama kali kepada Nabi Muhammad. Malam itu
juga amat istimewa karena pada malam itu turun para Malaikat membawa urusan dan
keputusan Allah bagi semua makhluk-Nya. Atau dinamakan malam mulia karena
pada malam itu turun rahmat, keberkahan dan ampunan Allah bagi hamba-Nya. Oleh
karena itu siapa saja yang beribadah pada malam tersebut akan mempunyai bobot
kemuliaan di sisi Allah.
Kedua, malam qadar artinya malam kesempitan. Seperti dalam firman Allah,

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang
yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan
Allah kepadanya (menurut kemampuannya juga). (Ath Thalaq : 7)
Malam Qadar dinamakan malam kesempitan karena kepastian malam itu disempitkan
yaitu dirahasiakan kepada makhluk-Nya. Malam itu juga bumi menjadi sempit dan
penuh sesak dengan turunnya semua para Malaikat Allah membawa rahmat dan
keberkahan bagi penghuni bumi yang beriman.
Ketiga, malam qadar artinya malam ditetapkan segala taqdir Allah kepada
makhluk-Nya. Sebagaimana ditegaskan oleh ayat di bawah ini,

Pada malam itu dipisah-pisahkan (dijelaskan) segala urusan yang penuh hikmah (Ad
Dukhan : 4)
Dinamakan malam ketetapan atau malam keputusan dan taqdir karena pada
malam itu para Malaikat turun membawa ketetapan rincian qadha Allah bagi
makhluk-Nya. Pada malam itulah ditetapkan taqdir segala urusan untuk satu tahun
kedepan. Inilah pendapat dari Ibnu Abbas dan Mujahid serta para mufasir lainnya.
Pendapat terakhir ini juga dikuatkan oleh mayoritas mufassirin karena sejalan dengan
ayat berikutnya, yaitu "Pada malam itu para Malaikat dan Jibril turun membawa
ketetapan segala urusan dengan izin Tuhan mereka".
(Fathul Bri, IV : 300-301)
Maka dengan demikian malam qadar mencakup pengertian malam yang penuh
kemuliaan karena padanya diturunkan Al-Quran dari lauh mahfudz ke langit dunia
lalu diturunkan kepada Nabi pertama kali di Gua Hira; pada malam itu pula segala
ketetapan takdir satu tahun diputuskan secara rinci; demikian melimpahnya segala
rahmat dan keberkahan Allah yang turun kebumi maka bumi seakan menjadi sempit,
sebagaimana sempitnya ilmu manusia yang tidak dapat menjangkau rahasia ketetapan
Allah tentang kepastian malam tersebut.

Masalah keempat
Dimana dan kapankah keberadaan malam qadar itu?
Telah dijelaskan di muka bahwa malam qadar itu malam turunnya al-Quran. Sedang
turunya al-Quran disebutkan oleh al-Quran itu sendiri yaitu pada bulan Ramadhan.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu semua ulama sepakat bahwa turunnya Al-Quran adalah malam qadar yang
ada di bulan Ramadhan. Hanya saja kepastian pada malam yang ke berapa dari malam
Ramadhan tersebut masih diperdebatkan oleh para ulama. Apakah sama malam
turunya Quran dengan lailatul qadar yang ada pada malam ganjil di sepuluh terakhir
Ramadhan? Sebagian ulama ada yang membedakan malam qadar dengan malam
nuzulul quran dan ada juga yang memandang ke dua hal tersebut sama saja.
Mereka yang berpendapat bahwa malam qadar itu lain dari malam nuzulul Quran
mengatakan bahwa malam nuzulul Quran adalah malam pertama turunnya quran
kepada nabi di gua Hira, sedang Lailtul qadar adalah malam turunnnya Quran secara
sekaligus dari Allah ke Lauh mahfudz atau dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia.
Turunnya al-Quran kepada nabi pada bulan Ramadhan bersesuaian tanggalnya
dengan tanggal terjadinya perang Badar, yaitu tanggal 17 Ramadhan, hanya berbeda
tahun kejadiaanya. Malam turunya Al-Quran tahun pertama nabi Muhammad
diangkat jadi Rasul pada usia 41 tahun, sedang kejadian perang Badar setelah nabi
Muhammad menjadi Rasul selama 15 tahun kemudian, yaitu tahun kedua dari hijrah
ke kota Madinah. Mereka berargumen dengan kesamaan nama bagi kedua peristiwa
tersebut, yaitu sama-sama disebut al-furqn. Al Quran disebut al Furqn, sebagaimana
tersebut dalam al-Baqarah ayat 185,

.
Demikian juga peristiwa perang Badar disebut yaum al Furqn pada surat al-Anfl
ayat 41,

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan
perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan
kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan,
yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maka dengan demikian turunnya al-Quran dengan peristiwa Badar sama-sama disebut
hari furqn, yaitu hari pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Karena kejadian
perang Badar itu 17 Ramadhan, maka kesimpulannya bahwa turunnya al-Qur'an untuk
pertama kali pun pada tanggal 17 Ramadhan juga, hanya saja tahunnya yang berbeda.
Sebagian ulama yang lain menyamakan malam turunnya al-Quran dengan malam
qadar. Karena turunnya al-Quran kepada Nabi di Gua Hira pertama kali itulah justru

dijadikan malam qadar yang penuh kemuliaan. Sedang pendapat yang menyebutkan
bahwa lailatul qadar itu adalah malam turunnya quran ke langit dunia tidak didukung
oleh dalil yang sahih, hanya riwayat dari Ibnu Abbas secara mauquf dan dhaif.
Walaupun malam turunnya Al-Quran dan terjadinya perang Badar sama-sama disebut
al-Furqn, tetapi di sana ada perbedaan yang jelas. Peristiwa Badar disebut sebagai
Yaum Furqn karena kemenangan kaum muslimin menjadi pembukti yang
membedakan golongan yang benar yaitu kaum beriman dari golongan yang sesat
yaitu kaum kafir musyrik Quraesy. Sedang al-Quran disebut dengan al Furqn
karena kandungannya yang menjelaskan antara jalan kebenaran dengan jalan
kebatilan. Kemudian dalam surat Al-Qadar disebutkan bahwa turunya Al-Quran
pertamakali kepada Nabi adalah pada malam hari, bukan siang hari, yaitu lailatul
qadar. Maka malam qadar itu tiada lain adalah malam pertamakali turunnya Quran
kepada Nabi. Sedang maksud ayat, Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa
yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari
bertemunya dua pasukan adalah kepada para Malaikat yang Allah turunkan
membantu kaum muslimin mengalahkan kaum kafir Quraesy. Atau maksudnya apa
yang Allah turunkan berupa ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hukum
pembagian ghanimah, rampasan perang.
Keberadaan malam qadar dengan tegas disebutkan oleh hadits-hadits Nabi yang
shahih dan banyak sekali, yaitu pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan
Ramadhan. Dimana pada malam-malam itulah Nabi dan para sahabatnya menyambut
datangnya lailatulqadar dengan beri'tikaf di mesjid.

Masalah kelima
Apa yang dimaksud dengan malam qadar itu lebih baik daripada seribu bulan?
Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan yang padanya tidak ada lailatul qadar.
Maksudnya bahwa segala ibadah yang dilaksanakan pada waktu tersebut mempunyai
nilai kebaikan dan pahala yang lebih utama meskipun dibanding dengan seribu bulan
yang lain. Mujhid berkata, "Amal-amal, puasa, dan shalat padanya lebih baik
daripada seribu bulan yang padanya tidak ada lailatulqadar". Pemahaman yang seperti
ini pula yang dipegang oleh Qatadah bin Di'amah, Imam Asy Syfi'iy, Ibnu Jarir At
Thabari, Ibnu Katsir, dan yang lainnya. Dikisahkan pada kitab-kitab tafsir yang
bersumber dari Mujhid --meskipun sumber berita ini masih diragukan
kesahihannya-- bahwa Nabi bercerita tentang umat terdahulu yang panjang usia
mereka melebihi umat Nabi Muhammad. Diantara mereka ada yang berjuang di Jalan
Allah selama delapan puluh tahun tanpa terputus. Banyak para sahabat yang kagum
atas umat terdahulu yang panjang usianya dan panjang ketaatan mereka. Maka Allah
memberi kepada umat Nabi Muhammad keistimewaan dengan beribadah pada
kemuliaan, malam qadar dapat menyamai pahala yang beribadah selama delapanpuluh
tahun dari umat yang lain. Ada juga riwayat-riwayat yang palsu bahwa yang
dimaksud satu malam Qadar lebih mulia daripada seribu bulan yaitu lebih mulai
daripada seribu bulan masa pemerintahan Daulat Bani Umayyah yang dzalim yang
menurut perhitungan pendapat ini bahwa kekuasaan Bani Umayah itu selama seribu
bulan atau kurang lebih 82 tahun. Riwayat ini jelas sangat tendensius terhadap

pemerintahan Banu Umayah, padahal surat Al-Qadar ini telah turun berpuluh-puluh
tahun sebelum adanya pemerintahan Bnu Umayah, (Tafsir Ibnu Katsir, IV:97)

Masalah keenam
Apakah malam qadar itu ada setiap tahun atau hanya satu kali saja di masa Nabi?
Adakah malam qadar selain di bulan Ramadhan?
Dalam masalah ini ada tiga pendapat: Pertama, mereka yang berpendapat bahwa
malam qadar itu hanya terjadi sekali di masa Nabi Muhammad. Sebab malam qadar
itu adalah peristiwa turunnya Qur'an sedang turunnya Qur'an hanya ada pada masa
Nabi dan tidak terulang lagi. Kedua, mereka yang berpendapat malam Qadar terjadi
setiap tahun di bulan apa saja. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud
bahwa beliau berpendirian jika seorang muslim menjaga qiyamullailnya secara
konsisten kapan saja dan di bulan apa saja ia akan mendapatkan malam Qadar.
Ketiga, mereka yang berpendapat malam qadar ada pada bulan Ramadhan setiap
tahun. Ini berdasarkan dalil bahwa Nabi memerintahkan umatnya untuk mencari
malam qadar tersebut dan beribadah padanya. Seandainya hanya terjadi satu kali saja
dan setelah itu tidak terjadi lagi niscaya tidak ada faidahnya Nabi menyuruh umatnya
untuk mencarinya setiap bulan Ramadhan. Karena itu pula para shahabat sepeninggal
Nabi mereka menggemarkan beribadah pada malam-malam ganjil dari sepuluh
terakhir Ramadhan. Inilah pendapat Jumhurul Ulama dari generasi shahabat sampai
generasi mutakahirin. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar hanya
terjadi sekali pada masa Nabi Muhammad bertentangan dengan keteranganketerangan di atas. Demikian pula pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar
berada pada setiap bulan di luar Ramadhan. (Tafsir Mafatihul Ghaib, xxxii: 29)

Masalah ketujuh
Apakah maksud para Malaikat dan ruh (malaikat Jibril) turun membawa segala urusan
Tuhan?
Imam Al Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya, "semua Malaikat turun dari langit dan
dari Sidratulmuntaha, posisi Jibril berada di tengah-tengah mereka. Mereka turun ke
bumi mengaminkan doa-doa manusia sampai terbitnya fajar". Al Hafidh Ibnu Katsir
berkata dalam Tafsirnya, "malam itu banyak sekali Malaikat yang turun karena
banyaknya keberkahan. Para Malaikat turun bersama turunnya berkah dan rahmat.
Sebagaimana para Malaikat turun ketika dibacakan al-Qur'an dan datang
mengerumuni orang-orang yang berdzikir serta menaungi para penuntut ilmu dengan
sayapnya".
Qatadah bin Diamah mengatakan bahwa pada malam tersebut segala ketentuan Allah
yaitu taqdir-taqdir kepada makhluk-Nya ditetapkan untuk satu tahun ke depan.
Sebagaimana diisyaratkan pada ayat yang lain, " Pada malam itu dijelaskan segala
urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya
Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. (Surat Ad Dukhn; 3-5)

Atas dasar ini para ulama Aqidah membedakan taqdir Allah kepada empat tahapan.
Pertama taqdir yang telah tertulis di Lauhil mahfudz sebelum segala sesuatu tercipta.
Kedua, taqdir yang dituliskan kepada setiap manusia di dalam rahim ibunya ketika ia
berusia empat bulan. Ketiga, taqdir yang dituliskan pada setiap malam qadar. Dan
keempat taqdir yang terjadi dalam rentetan waktu saat terjadinya secara aktual dalam
kehidupan makhluk di alam raya ini yang sejalan dengan hukum sebab-akibat yang
telah Allah tetapkan.
Apakah taqdir bisa berubah? Ini adalah masalah kontroversial dikalangan para ahli
teologi Islam (mutakallimun). Menurut sebagian ulama bahwa taqdir terbagi dua;
taqdir mubram dan taqdir muallaq. Taqdir mubram adalah taqdir yang tertulis di
lauhil mahfudz sebelum segala sesuatu tercipta dan tidak ada perubahan lagi atas
ketentuan tersebut. Adapun taqdir muallaq adalah taqdir yang Allah tetapkan dengan
keterkaitan sebab-akibat serta usaha dan doa manusia. Maka taqdir muallaq ini
ditetapkan Allah dengan adanya perubahan-perubahan. Sebab itulah manusia
diperintahkan berdoa dan berusaha sebelum sesuatu itu terjadi. Jika doa dan usaha
tidak ada pengaruhnya kepada taqdir tentulah sia-sia doa dan usaha manusia itu dan
perintahpun menjadi tidak ada maknanya. Usaha serta doa itu sendiri pada hakikatnya
bagian dari taqdir Allah, maka adanya taqdir yang berubah dan yang tetap tidak
berubah itupun merupakan taqdir juga. Sehingga pada dasarnya semua sesuatu itu,
baik yang tetap maupun yang berubah adalah taqdir dan hukum ketetapan serta
perubahnya juga adalah taqdir.

Masalah kedelapan
Apa maksud ayat bahwa malam itu damai sejahtera sampai terbit fajar?
Dalam hal ini ada riwayat dari Ibnu Abbas bahwa para Malaikat menyampaikan salam
dan doa kepada kaum mukmin yang sedang beribadah pada malam tersebut dari sejak
maghrib sampai terbit fajar shubuh. Pada malam tersebut bumi dipenuhi para malaikat
sehingga syaithan tidak dapat mencuri-curi berita ghaib dari langit untuk disampaikan
kepada para pemujanya dari bangsa manusia, seperti tukang sihir. Pada malam
tersebut bumi dipenuhi keberkahan, rahmat dan ampunan Allah bagi orang-orang
yang beribadah padanya sehingga terbit fajar.

Masalah kesembilan
Apakah yang harus dilakukan seorang mukmin menyambut malam qadar?
Imam Al Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Aisyah
bahwa Rasulullah saw., jika sudah memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan
beliau mengencangkan ikat pinggangnya, maksudnya menjauhi istrinya dari
bercumbu dan bercampur, menghidupkan malam dengan memperbanyak dzikir, do'a
dan tilawah al-Qur'an, serta membangunkan keluarganya agar menyedikitkan tidur
pada malam-malam tersebut.

Masih diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah menghabiskan malam-malam


sepuluh terakhir Ramadhan dengan beri'tikaf dimesjid. Beliau mengulangi bacaan alQur'an bersama Malak Jibril disetiap Ramadhan, dan pada tahun terakhir dari
hayatnya beliau beri'tikaf selama duapuluh hari untuk mengulang-ulang bacaan alQur'an bersama Jibril.
Aisyah juga bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam
qadar, apa yang harus aku katakana padanya?" Beliau menjawab, katakanlah, "Wahai
Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf, mencintai permaafan, maafkanlah akan
daku". (Hadits Sahih riwayat Tirmidzi no.3760, dan Ibnu Majah no.3850)
Demikian pula para sahabat, tabi'in, dan para ulama salafus shalih mereka semua
sangat merindukan kedatangan malam qadar dan menanti-nantikannya dengan
menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan melalui peninggkatan ibadah
seperti beri'tikaf, mentadarus al-Qur'an, memperbanyak dzikir dan istigfar kepada
Allah Ta'ala.
Diriwayatkan dari Sai'd bin Muasayyib, seorang ulama besar pada generasi Tabi'in,
bahwa siapa yang shalat maghrib berjamaah dan shalat isya berjamaah

Masalah kesepuluh
Apakah malam qadar itu dapat diketahui? Apakah ada tanda-tanda khusus untuk
mengenalinya?
Dari penelusuran terhadap sejumlah hadits yang sahih, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
Pertama, bahwa keberadaan malam qadar itu sudah pasti pada malam-malam ganjil di
sepuluh terakhir Ramadhan (Sahih Bukhari, no.2017-2018, Sahih Muslim, no.1167)
Kedua,Rasulullah dan para shahabatnya memastikan mendapatkan malam qadar pada
malam ke dua puluh satu. Ini berdasarkan riwayat Abu Said Al Khudry dalam Sahih
Bukhari dan Muslim pada nomor yang tersebut di atas.
Ketiga, menurut Riwayat Muslim dari Ubay bin Ka'ab bahwa malam qadar terjadi
pada malam ke duapuluh tujuh Ramadhan. Untuk kepastian ini Ubay berani
bersumpah dengan penuh keyakinan. (Sahih Muslim, no. 762, Tirmidzi, no.3351 )
Keempat, berdasar riwayat Abu Dawud dalam Sunannya no. 1172 dan Imam Malik
dalam Muwatha no.614, dengan sanad yang sahih, bahwa shahabat Unais datang
kepada Rasulullah ia mengadukan keadaannya sebagai seorang penggembala yang
hidup di baduy sedang ia ingin bergabung bersama Nabi dalam menghidupkan
malam-malam sepuluh terakhir. Maka Rasulullah menganjurkan kepada Unais Al
Juhany agar ikut datang ke mesjid beliau yaitu mesjid Nabawi untuk beri'tikaf
walaupun hanya semalam, yaitu malam ke dua puluh tiga Ramadhan. Pada sore hari
tanggal 22 malam 23 Ramadhan Unais datang ke mesjid Nabi dan ikut beri'tikaf

semalaman hingga ketika telah selesai shubuh ia berangkat lagi ke tempat


penggembalaan ternaknya di baduy.
Kelima, di antara ciri alamiyah malam qadar bahwa malam tersebut "terasa lapang,
ramah, tidak panas dan tidak dingin. Pada pagi harinya matahari terbit redup
memerah". (Hadits Hasan riwayat Imam At Thaylisi, no.349, Imam Ibnu
Khuzaimah, III: 231, dan Al Bazar, no. 1034 dari Ibnu Abas dari Rasulullah saw.)
Dalam riwayat Imam Muslim dari Ubay bin Ka'ab bahwa Rasulullah bersabda, "Pagi
hari malam qadar matahari terbit tidak panas menyengat, ia nampak seperti mangkok
besar sehingga ia meninggi". (Sahih Muslim, no.1174)
Keenam, seseorang yang mengalami malam qadar akan merasakan tenang, damai, dan
lapang hati serta merasakan lezatnya ibadah pada malam itu apa yang tidak
dirasakannya pada malam-malam yang lainnya.
Ketujuh, adakalanya seseorang dapat mengetahui malam qadar dengan mimpi atau
dengan dugaan yang kuat berdasarkan tanda-tanda dan firasat hatinya. Seperti yang
dikatakan Aisyah kepada Rasulullah. "Bagaimana sekiranya aku mengetahui malam
qadar?".
Kedelapan, bahwa para ulama berpendapat malam qadar itu dapat berganti pada setiap
tahun dari satu malam ganjil ke malam ganjil yang lainnya pada sepuluh Ramadhan
terakhir. (perhatikan Shahih Fiqhis Sunnah, II : 149-150; Tafsir Al Alsy, juz xxiii:
59-61)

Sumber : Persis.or.id